SEASONS OF THE LUCIFER [ END ]

Seasons of The Lucifer

Title: Seasons of The Lucifer

Author: LucifeRain / Ayya

Genre: FAMILY – FRIENDSHIP – ROMANCE – HURT

Leght: Chaptered

Ratting: G

Main Cast:

Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

Lee Taemin a.k.a Taemin

Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

Lee Jinki a.k.a Onew

Season of The Lucifer [TRAILER] : Click Here

Previous Chapter: Click Here

WARNING:

Aku akan mengutuk  siapa saja yang memplagiat FANFICTION INI, bahkan mencuri idenya sekecil apapun itu. Aku tidak sudi, dan akan meneror siapa saja orangnya dengan cara saya sendiri. Tolong hargai setiap jerihpayah penulis untuk menciptakan ide sebuah FF sejelek apapun itu, insprirasi boleh tapi kalau bedanya hanya sedikit, tentu itu adalah pelaku tindak plagiat. #backsound Bang Napi – Waspadalah Waspadalah! –LUCIFER-

Okay SoLers, Siap-siap say good bye sama Seasons of The Lucifer *nangis* hahaha

NB: ini adalah chapter terpanjang selama sejarah SoL hehehe =D

 

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

~*~*~*~

Tiga pertunjukan setelahnya sama mengagumkanya sehingga membuat waktu seolah cepat berlalu. Seseorang masuk untuk meletakan dua buah Mic stand dan tak lama kemudian Lee Hyukjae masuk bersama Choi Sooyoung.

Hyukjae membenarkan posisi mic tepat di depan mulutnya lalu tersenyum kepada penonton.

Ladies and Gentleman, tadi kita telah menyaksikan pertunjukan yang sangat spektakuler dari siswa-siswi Shineshall dan Shinesedna. Kita patut berterima kasih karena mereka telah berlatih keras untuk mempersembahkan pertunjukan yang pastinya sangat berkesan terutama untuk murid tahun ketiga yang akan meninggalkan sekolah ini.” Sooyoung mengangkat sedikit mic agar pas dengan posisinya, ia menatap penonton yang terlihat antusias seakan tahu apa yang akan dibahasnya setelah ini.

“Baiklah, tiba saatnya kita mengumumkan siapa yang menjadi The Lord dan Juliette tahun ini.”

Orang yang terpilih untuk menyandang gelar itu bukan dilihat dari penampilanya di OxyGEn, tetapi melalui survey kepada murid secara kasat mata juga dengan penilaian guru yang mencakup kepopuleran, bakat, potensi dan aspek lainya. Pemberian gelar sendiri dimaksudkan sebagai penghargaan sekaligus motivasi kepada setiap murid.

Hyukjae dan Sooyoung saling tatap kemudian melemparkan senyum ke seluruh murid.

“Yang menjadi The Lord dan Juliette tahun ini adalah…”

Tiba-tiba seluruh lampu padam, atmosfir hening mengambil alih. Nyaris tak ada yang bergerak karena ketegangan yang dipacu dari rasa penasaran, sejurus kemudian dua lampu sorot menyala secepat kejapan mata kemudian meredup.

Bunyi tak tenang mulai menyeruak, namun langsung teredam karena dua lampu sorot tadi kembali menyala dan menyinari satu titik di area tribun SShall dan titik lain di area SSedna.

The Lord is Lee Jinki from ShineShall and Juliette is Choi Jun Hee from ShineSedna.  Congratulation!” Suara Hyukjae memenuhi Hall. Riuh tepuk tangan terdengar meriah setelahnya, diikuti dengan kedua nama tadi yang terus di elu-elukan dan ucapan selamat yang bersahut-sahutan.

Onew masih diam dalam posisinya, ia tetap bergeming meski Jonghyun mengguncang-guncang bahunya dan ucapan selamat yang terus berdatangan.

Seolah berlangsung sangat cepat, Onew malah tenggelam dalam pemikiranya sendiri. Benarkah? Tapi kenapa?

“Ini pasti mimpi…” guman Onew ditengah elu-eluan namanya.

“Hyung, If you want your dreams come true, wake up!”

Kalimat itu seakan menarik dirinya dari ambang mimpi, membuka penglihatanya, dan semua ucapan selamat, riuh tepuk tangan, nama yang dielu-elukan… terdengar begitu nyata.

“Hyung! hadapilah!”

Minho mendorong pelan punggung Onew, mengisyaratkan supaya Onew segera turun karena Hyukjae telah memintanya untuk berdiri di lantai pertunjukan agar penyerahan gelar bisa langsung dilaksanakan.

Dengan langkah mantap Onew berjalan diikuti lampu sorot yang mengikutinya. Setelah berdiri bersama Choi Jun Hee di antara Hyukjae dan Sooyoung, seluruh lampu menyala dan terlihatlah kegembiraan yang menyambut munculnya penerima gelar visual yang merangkap sebagai duta para siswa.

Dua orang gadis melangkah memasuki lantai pertunjukan, masing-masing membawa baki dengan kotak kaca yang tergeletak diatasnya. Mereka langsung mengambil posisi di sebelah Sooyoung dan Hyukjae.

Sooyoung meraih kotak kaca di sampingnya kemudian mengarahkan tepat dihadapan Choi Jun Hee.

“Choi Jun Hee, kau berhak menerima gelar Juliette. Sulit dipercaya, gadis muda sepertimu sudah mempunyai nama di negara-negara pusat musik klasik seperti di Wina atau Praha. kecintaanmu terhadap musik membuat setiap orang sadar bahwa bakat, kedisiplinan dan kegemaran jika berada dalam satu jalur lurus menuju cita-cita akan mendatangkan keajaiban.”

Riuh tepuk tangan menyambut penyerahan kotak kaca ketangan Choi Jun Hee, Sooyoung membuka kotak itu dan tampaklah dengan jelas rupa topeng berwana emas dengan warna hitam disetiap lekukanya dan dihiasi dengan ukiran vector pattern.

Sooyoung melepas topeng yang dikenakan Choi Jun Hee kemudian menyematkan topeng khusus yang selalu melekati gelar Juliette. Gadis itu tidak mengenakan gaun merah dalam pertunjukan musik klasik tadi, ia mengenakan gaun berwarna sandy brown dengan aksen ruffles yang membuat topengnya terlihat senada.

Hyukjae mengambil kotak kaca yang dibawa gadis disampingnya lalu menjulurkan kehadapan Onew.

“Lee Jinki, Kau berhasil membuat pemilihan Captain student of the month tidak dilaksanakan selama enam bulan berturut-turut karena kau aktif di setiap kegiatan dan keputusan-keputusanmu dikenal tidak mengekang…”

Onew tertegun mendengar kalimat barusan, benarkah seperti itu? bukankah diawal masanya menjadi captain student beberapa orang mencemoohnya sebagai captain student terapayah? Sesaat kemudian Onew merasa disini benar-benar bodoh karena menyadari bahwa selama enam bulan ini pemilihan captain sudent tak pernah dilaksanakan, dan ia tak pernah menanyakan alasanya.

“… dan berkat idemu perayaan OxyGEn kali ini lebih unik dan berwarna, tidak monoton seperti konsep-konsep tahun sebelumnya yang hanya diubah sedikit. Tak hanya itu, kau juga berhasil mengumpulkan orang-orang yang sangat berbakat memainkan alat musik seperti tadi, semua orang mengira club music classic telah ‘mati’, dan kau telah menggali potensi yang sudah terkubur dalam. You’re The Leader, Highness, The Lord!”

Hyukjae menyerahkan kotak kaca itu ketangan Onew, kemudian membukanya dan tampaklah topeng berwarna hitam bercorak menyerupai vector tribal dengan garis emas di setiap lekukanya. Hyukjae melepas topeng yang dikenakan Onew kemudian memasangkan topeng yang melambangkan gelar The Lord kepada Onew.

“Inilah The Lord and Juliette tahun ini!” Seru Hyukjae dan Sooyoung bersamaan.

Bertepatan dengan berakhirnya kalimat itu, siutan keras terdengar disusur dengan bunyi ledakan yang bersahut-sahutan. Sontak semua orang manatap keatas, atap Hall yang transparan menyuguhi pemandangan langit yang dihiasi taburan kembang api, percikan api warna-warni beredar membentuk lingkaran bunga yang langsung hilang kemudian terganti dengan fire works baru lagi.

Onew tak mampu menahan senyumnya, ia sadar selama ini pandangan negatif terhadap diri sendiri selalu mengambil alih pemikirannya dan menghanguskan seluruh kepercayaan dirinya hingga mengerak. Namun tanpa disadari hal itu malah mendorongnya untuk melakukan yang terbaik dan tak terhempas kuat bila ia terjatuh dari harapan yang tak sampai, karena lebih dulu siap dengan resikonya.

Sedikit banyak ia harus merubah sifat buruknya dan menyeimbangkan kedua sisi yang bertolak belakang menjadi relevan. Menjadi diri sendiri dan bangga karenanya, itulah pondasi dasar untuk membangun kepercayaan diri dan menggali kepribadian yang tersembunyi.

Onew sadar dari lamunanya ketika ia merasa jemari seseorang bertaut disela jari-jarinya, lalu menggenggamnya.

“Jinki Sunbae, terima kasih…”

Onew menatap Jun Hee yang sedang memandang opera langit dengan kedua bola mata yang memantulkan percikan api warna-warni seolah fire works itu juga berlangsung disana. “Sama-sama” balasnya lalu tersenyum dan kembali menikmati Euforia.

~

Setelah pertunjukan kembang api selesai, Onew dan Jun Hee dipersilahkan kembali ke tempatnya. Hyukjae dan Sooyoung masih dalam posisi di depan mic masing-masing.

“Seperti yang kita ketahui, acara selanjutnya adalah pesta dansa.” Ucapan Sooyoung disambut kegembiraan karena acara terakhir itulah yang paling ditunggu-tunggu.

“Tapi sebelumnya kami ingin memberitahu sesuatu kepada kalian dan mungkin ini akan menimbulkan pro dan kontra.”

“Hidup adalah sebuah perjuangan, dengan pengorbanan yang menggenang dalam naungan asa. Perjuangan dan pengorbanan bagaikan kutub magnet yang berlawanan, sedangkan asa seperti kutub magnet yang sama. Tetapi disetiap perjuangan dan pengorbanan selalu ada harapan yang sama, meskipun tidak sesuai tetapi penyelesaianlah yang dituainya.”

“Seseorang diantara kita selalu melakukan hal itu, tetapi baru sekarang dia mendapat penyelesaianya.”

“Dia adalah Cho Minhye yang selama ini menjadi Cho Minhyun. Situasi memaksanya untuk meninggalkan ‘diri sendiri’, selama ini dia menyemar sebagai namja…tetapi kini dia bisa menjadi dirinya sendiri karena telah menemukan kembarannya yang hilang, yaitu Choi Minho. Menyamarkan diri seumur hidup pasti sangat berat, tetapi dia berhasil melaluinya.”

Minhye menegang mendengar rentetan kalimat Sooyoung, ia menunduk lalu memejamkan matanya rapat-rapat, tidak siap untuk menerima cemoohan. Sudah cukup banyak ia mendapat penolakan dan sekarang rahasianya terbongkar, entah hinaan macam apalagi yang harus diterimanya.

“Mwo? Minho dan Minhyun kembar?”

“Jadi selama ini kau membohongi kami?!”

“Aku tidak menyangka ternyata diantara kita ada seorang gadis!”

Minhye menutup telinganya, suara ribut lama kelamaan semakin gaduh. Tapi bagi Minhye itu seperti hujatan keji yang memekkan telinganya. Selama ini, inilah yang paling ditakutkanya, situasi dimana semua orang tahu bahwa orang yang mereka kenal ternyata bukan dirinya, bahwa ia membohongi mereka. Semua orang pasti menatapnya sinis dan menyudutkanya…

Minho bertukar tempat duduk dengan Jonghyun agar bisa disebelah Minhye, ia mencoba membuka telapak tangan yang menutup telinga Minhye tetapi gadis itu menahan dengan sangat kuat. Frustrasi karena Minhye tak kunjung melepas tanganya, akhirnya Minho menangkup kedua pipi Minhye dan memaksanya supaya mereka dapat berhadapan.

Minho terhenyak, ia membuka topeng yang dikenakan Minhye lalu mengusap pelan sisa air mata di pipi Minhye dengan ibu jarinya. “semua tidak seburuk yang kau bayangkan.” Meski tak dapat mendengar, tapi Minhye bisa mengerti kaliat yang dilontarkan Minho dari gerakan bibirnya.

Perlahan Minho menurunkan tangan Minhye, meski sempat menolak tetapi gadis itu luruh juga.

“A~ah, jadi selama ini kau seorang yeoja? Pantas saja kau terbilang cantik untuk seukuran namja…”

Minhye menoleh kebelakang dan mendapati teman-teman sekelasnya sudah berkumpul disana, teman-teman ajaibnya itu heboh tertawa dan nyeletuk sana-sini, seperti menggelar pasar dadakan saja.

“jadi ini alasan kenapa kau tidak mau ikut bermain jepitan jemuran yang harus buka baju itu?! hahaha”

“Dan kau sangat pendek untuk ukuran namja, padahal Jong… orang itu langsung menghentikan ucapanya ketika Jonghyun menatap horor yang artinya, jangan-bawa-bawa-namaku-atau-kau-akan-penyet!

Air mata Minhye kembali turun, namun dengan segera disekanya lalu tersenyum kecil. “Kalian tidak marah padaku?” tanyanya dengan suara serak.

Lengkingan koor tawa dadakan melambung dari teman –ajaib- sekelas Minhye. “Waktu kita di ShineShall tinggal hitungan jam saja, jadi untuk apa marah apalagi menyimpan dendam? Yeoja atau namja sekalipun, yang penting kau adalah bagian dari kelas kita.”

Minhye kembali tersenyum. Kelas itu… kelas yang sangat berarti baginya, dipenuhi dengan manusia aneh bin ajaib dimana mereka menjadi patung tak berseni saat pertama kali Minhye masuk, apalagi insiden superman kehilangan kolor-nya Taemin. Entah sudah berapa banyak suasana pasar cabai atau loak yang tercipta, benar-benar kelas yang penuh kenangan.

“Tapi aku telah membohongi kalian…”

“Yang terpenting kau mau jujur dengan kami. Pasti berat harus menyamar…” Teman sekelasnya mengangguk kompak.

“Jangan pedulikan omongan orang yang tidak suka denganmu, ingatlah kau masih punya sahabat-sahabatmu.” Taemin ikut ambil bicara.

“Tapi aku masih tidak percaya kalau kau dan Minho kembar! Tapi kalau dilihat-lihat mirip juga sih.” Dan topik setelahnya yang dibahas mahluk-mahluk itu adalah perbedaan dan kemiripan antara Minhye dan Minho, yang ternyata lebih banyak bertolak belakangnya.

“… Ibaratnya Minho itu es batu, Minhyun itu jeruk purut muahahaha!”

Minhye hanya bisa mesem-mesem diolok teman-temanya, tapi setidaknya ini lebih baik. Tingkah-tingkah abnormal mereka memang mood boster yang paling ampuh.

Tiba-tiba Minho menarik tangan Minhye dan menuntunya turun dari tribun kemudian berjalan menuju tempat Sooyoung dan Hyukjae berada. Sepanjang perjalan banyak yang mengumpat Minhye, karena itulah Minho tak pernah mengendurkan genggaman erat tangannya untuk menunjukan bahwa dirinya selalu ada disamping Minhyun.

Hyukjae bergeser kesamping dan mempersilahkan Minhyun berdiri di depan mic.

Minhyun menatap ragu para murid yang menduduki tribun dihadapanya, ia terlalu takut membayangkan ekspresi dibalik topeng-topeng itu. “Ini adalah awal untuk menjadi dirimu sendiri.” Minhye menatap Minho sendu, ia tertunduk lalu menarik nafas panjang.

Menjadi diri sendiri… jalan untuk mewujudkanya harapan sederhana yang sangat sukar diwujudkan itu kini sudah terbuka lebar…

Minhye kembali menatap lurus kedepan, ia mencoba menyunggingkan seulas senyum meski rasa sesak masih mengganjal harinya.

“Mungkin sebagian dari kalian tidak mengenalku, tapi aku benar-benar meminta maaf karena telah membohongi kalian. Percayalah, ini semua bukan kemauanku. Aku minta maaf.” Minhye membungkukkan badan cukup lama, ia tersenyum kemudian melepas genggaman tangan Minho secara perlahan.

Kamsahamnida.” Setelah mengucapkan itu, Minhye berbalik kemudian melangkah menuju pintu keluar. Percuma dia ada disana, tidak mungkin ia bisa mengikuti acara selanjutnya. Kini semua orang tahu siapa dia sebenarnya.

Minhye meninggalkan tempat itu, dia benar-benar membutuhkan space untuk menenangkan diri.

~*~*~*~

Minhye berlari kecil meninggalkan gedung tempat diselenggarakanya OxyGEn, ia memasuki gedung asrama kemudian menaikui lift menuju dorm-nya. Rasa sesak di hati Minhye berkurang ketika ia berada disana, entah langsung kenapa dia merasa tenang.

Minhye mati-matian mencoba menepis inggatan tentang kejadian tadi, dia tidak mau memikirkanya dulu. Tapi mencoba sekeras apapun, tetap saja selalu ada pikiran –yang tanpa sadar- selalu menjurus kesana meski hanya setipis garis.

Sehabis minum dari mini bar, Minhye berjalan linglung menuju kamarnya. Namun ketika sampai di ujung tangga kamarnya, Minhye membeku saat itu juga. Matanya membulat menatap barang-barang di atas tempat tidurnya, tidak mungkin…

Disana tergeletak sebuah kotak kaca yang berkilau diterpa sinar lampu, di dalam kotak itu tergeletak sebuah topeng putih yang terbuat dari kelopak bungan edelweis.

Minhye mendekat, “Topeng ini…”

Ia menyentuh permukaan kaca itu, lalu menutup mulutnya dengan telapak tangan yang satunya. “Bukanya waktu itu… aku…”

Minhye mengedarkan pandang kesekeliling dan berhenti ketika menatap sebuah gaun yang tergantung di depan cermin besar seukuran dirinya. Gaun putih sepanjang lutut itu terbuat dari bahan Taffeta sehingga memberi efek gelombang pada roknya dan dihiasi model side draped pada bagian pinggang. Meski simple tapi terlihat elegant, dan Minhye sangat menyukainya.

Pandangan minhye beralih keatas meja belajar yang terletak tak jauh dari cermin tadi, disana tergeletak sebuah tiara mungil serta rambut palsu berwa hitam panjang yang yang bergelobang dipangkalnya, dan sepasang sepatu putih berhak yang tidak terlalu tinggi.

Tanpa berfikir panjang, Minhye langsung memeriksa seluruh ruangan di dalam dorm, dan hasilnya tak ada seorang pun kecuali dirinya.

Siapa yang memberi itu semua?

Tiba-tiba ingatanya menyorot kisah dua tahun silam.

Tidak mungkin?! apa namja waktu itu benar-benar menemukan topeng yang sengaja ku jatuhhkan?

 

~*~*~*~

 

Seorang gadis dengan tiara mungil yang menghiasi rambut panjangnya, melangkah memasuki hall yang sedang menyelenggarakan pesta dansa. Topeng kelopak bunga edelweis yang dikenakannya menyembunyikan semburat merah yang bersemu dipipinya ketika menyadari banyak pasang mata yang menatap kearahnya ketika ia melangkah.

Kini dia tidak perlu menyamar lagi…

Warna serba putih yang melingkupi gadis itu membuatnya terlihat bersinar meski pada gaunnya tak ada satupun kristal yang berkilauan saat diterpa cahaya lampu, karena pancaran aura sebenarnya lebih terang dari diamond manapun didunia.

Seseorang hanya boleh memiliki satu pasangan dansa karena akhir dari OxyGEn adalah momen yang paling mendebarkan, dimana setiap orang yang sudah memilih akan memberikan topeng yang dikenakanya selama Oxyferic Grand Event. Itulah kenapa semua orang mempersiapkan topengnya seistimewa mungkin.

Minhye terkesiap pelan ketika seseorang menggenggam tanganya, ia menoleh kesamping dan mendapati Taemin tersenyum untuknya.

“Mau berdansa denganku, Cho Minhye?”

Minhye terkekeh pelan. “Bukankah setiap orang hanya boleh memiliki satu pasangan dansa?”

“Dan bukankah sejak awal SHINee itu istimewa?”

Minhye tertawa kecil. Taemin benar, sejak awal SHINee berbeda dengan murid lainya. Ia pun membiarkan tangan Taemin menuntunnya kelantai dansa.

Ada banyak pasangan yang menikmati berdansa dengan diiringi lantunan piano berirama romantis, namun tak sampai membuat lantai dansa penuh karena selain tempatnya yang besar, ada banyak orang yang hanya menjadi penonton sehingga setiap pasangan yang berdansa disana diketegorikan sangat beruntung.

Alasanya karena orang itu tidak mempunyai pasangan, atau orang itu tidak dapat menemukan pasanganya. Wajah setiap orang tertutupi topeng sehingga sulit menemukan orang yang dicari, terlebih karena ada peraturan ‘tidak boleh memberitahu identitas diri pada rang lain kecuali teman dekat’.

“Tidak buruk…” komentar Taemin akan Minhye. Meski tidak bisa menari, tapi Minhye bisa mengikuti tempo dansa yang dipandu Taemin sehingga tidak ada insiden injak-injakan kaki.

“Kau ingat pertama kali kita bertemu?”

Minhye menatap ke arah lain, menerawang. “Superman kehilangan kolor?”

Taemin tertawa lebar, “Kau masih mengingatnya?” mendadak pikiran Taemin melayang peristiwa dimana ia menepuk bagian keramat Minhye saat pertama kali gadis itu masuk. Tidak, tidak! Jauhkan pikiran yadong itu!!!!!!

“Tentu saja! Itu kejadian paling memalukan sekaligus menyebalkan.” Minhye misuh-misuh dan dibalas Taemin dengan cengiran khasnya.

Minhye sadar akan suatu hal saat mengamati senyum lebar yang melekat di wajah Tamin. sulit dipercaya, ternyatadibalik tingkah kekanak-kanakan namja secantik seimut Taemin,  tersimpan sebuah tanggung jawab yang besar. Bukan hanya terhada satu atau dua orang, karena itu mencakup pertanggung jawabannya terhadap Taehyun demi Donghae dan Jia, janjinya pada Chaerin dan perasaannya dengan Sungrin, juga harus relakehilangan banyak waktu tidur karena bekerja.

Tetapi Taemin selalu menunjukkan ekspresi ceria seolah tanpa beban, ia tidak pernah mau teman-temanya khawatir terhadapnya. Minhye belajar banyak dari kehidupan Taemin.

Ketulusan pengorbanan dan tanggung jawab seperti tanaman pahit, begitu pula buahnya terasa sepat ketika berkembang tetapi jika matang telah tiba maka buah itu akan menjadi primadona karena rasa manisnya. Itulah buah sesungguhnya dari Ketulusan pengorbanan dan tanggung jawab.

“Minhye, Terima kasih karena kau salah satu orang yang berperan penting dalam hidupku.”

Taemin mengangkat genggaman tangan mereka kemudian memutar tubuh Minhye. Belum sempat berputar penuh, tiba-tiba Taemin melepas genggamanya begitu saja tetapi seseorang langsung memegang tangannya.

Minhye terkejut karena Onew mengganti posisi Taemin secara mendadak.

“A~ Onew-ssi selamat kau berhasil menjadi The Lord.”

“Gomawoyo.” Onew membalas ucapan selamat Minhye dengan senyum teduh khasnya. “Minhye, sampai kapan kau mau memanggilku dan Jonghyun dengan embel-embel ssi? Ah, aku jadi mengerti kenapa kau tidak mau memanggil kami hyung.”

Minhye sedikit terkejut dengan ucapan Onew. Ia menautkan alis, “Lalu aku harus emanggil apa?”

“Hmm… karena peraturan tetap peraturan, jadi kau harus memanggilku Oppa. Onew Oppa, hahaha.”

Mwo? Bararti Taemin juga harus memanggilku Noona?”

Mereka berdua tertawa lebar setelahnya. Saat Onew tersenyum matanya hanya tampak segaris, tapi disitulah daya tarik Onew sesungguhnya dan banyak hal lain yang membuatnya semakin memikat. Meskipun tak pernah disadarinya.

“Minhye, Terima kasih. Kau salah satu orang yang membantuku selama ini.”

Onew mengangkat genggaman tangan mereka, sebelum Minhye berputar penuh dia langsung melepasnya dan saat itu juga seseorang menggenggam tangan Minhye, menyeimbangkan tubuhnya yang sedikit limbung.

“Minhye, aku tidak percaya kau sangat cantik.”

Minhye tersenyum lebar mendapat pujian Jonghyun. “Gomawo.”

“Aku benar-benar minta maaf karena pernah memukulmu…”

Melihat raut menyesal di wajah Jonghyun, Minhye langsung menggeleng gelengkan kepala. “Tidak apa-apa.”

“Tapi tetap saja aku merasa tidak nyaman, aku tidak mau memukul seorang gadis lagi. Awalnya buku itu tak pernah lagi ku baca, tetapi setelah kau membacanya aku selalu teringat akan buku itu. Sekarang aku menjadikanya motivasi untuk berubah.” Ekspresi Jonghyun tampak tulus kala mengatakanya.

Buku itu memang menyimpan bukti bagaimana cintanya terhadap Naomi, dan dia tidak akan membiarkan perjuangan dan pengorbanan itu semakin pudar dalam memori. Karena semua kejadian yang tertulis disana adalah basic yang membuatnya terlampaui menyayangi Naomi.

Jonghyun bertekad akan memudarkan ketakutan dan setiap kata maaf yang terlontar dari mulutnya tidak sekedar angin lalu. Dia tidak akan ingkar dan membersihkan semua luka kemudian menggantinya dengan corak ceria.

“Minhye, Arigatou”

Jonghyun mengecup punggung tangan Minhye layaknya pria gentle. Setelah memberikan senyumannya, ia melepas tangan Minhye dan berjalan menjauh dari sana. Minhye mengira acara dansanya sudah berakhir tetapi tiba-tiba seseorang meraih tanganya dari samping, ia terkesiap pelan kemudian langsung tersenyum melihat Minho yang juga tersenyum padanya.

“Bensa denganku?” tawar Minho dan Minhhye pun langsung mengiyakan.

Minhhye menatap Minho tepat di kedua bola mata hitam pekatnya, rasanya benar-benar berbeda dibanding saat menatap Minho dulu. Minhye tidak pernah berhenti mengagumi dan menyukai Minho, namun kini perasaan itu lebih condong ke rasa sayang yang menenangkan. Karena Minho adalah peredamnya… peredam yang mampu mendamaikan emosi liar melebihi kekuatan heroin.

“Merasa tenang sekarang?”

Minhye mengangguk. “Sangat tenang dan sangat bahagia.”

Minho mengangkat genggaman tangan mereka keatas dan memutar tubuh Minhye. “Aku sangat menyayangimu, Minhye-ah. Aku bersyukur bisa menjadi saudaramu, seseorang bilang padaku kalau status itu selamanya akan abadi dan takkan pernah terceraikan.”

“Aku juga sangat menyayangimu… o… Oppa…” Minhye terkekeh pelan di akhir kalimat, panggilan itu terasa asing sewaktu ia mengucapkanya tetapi ada perasaan gembira sekaligus nyaman.

Mendadak Minhye teringat kejadian dimana ia pertama kali bertemu Minho, namja yang waktu itu duduk di samping jendela terkesan sangat dingin dan tanpa ekspresi tetapi karisma putih menyala bersemayam pada mutiara hitam pekat dalam matanya, seperti fenomena Aurora yang menggemparkan langit musim dingin.

Namun sesungguhnya dialah yang paling hangat dan pengertian, terutama terhadap Key dan Minhye. Lama kelamaan sifat yang selama ini ditutupinya itu menyusup dari cela-cela kecil yang dibukanya tanpa sadar.

“Minhye, terima kasih. Kau membawa perubahan terbesar dalam hidupku.”

Saat Minhye memutar tubuh Minhye, gadis itu sangat berdebar-debar. Pasalnya hanya ada dua kemungkinan yang terjadi jika Minho melepas tanganya yaitu, ia berhenti berdansa atau seseorang akan menggenggam tanganya kemudian berdansa bersamanya.

Benar saja, Minho melepas tanganya dan seseorang langsung menggenggam tangan Minhye. Tekstur tangan ini begitu familiar…

Nafas Minhye tertahan setelah ia selesai berputar, raut kekagetan terpeta jelas di wajahnya ketika melihat seseorang dengan setelan waistcoat berwarna champagne yang dilapisi tuxedo berwarna putih. Rambutnya terbilang sangat pendek untuk model shaggy tetapi tidak sampai spike, dan dia mengenakan topeng berwarna senada dengan pakaianya.

Ia berdansa dengan Key.

Nama itu seolah tercekat di kerongkonganya, ia mengekelu..

Namun lama kelamaan irama dansa mereka melambat lalu berhenti secara perlahan. Mereka terdiam dan berdiri tepat ditengah-tengah pasangan yang berdansa, hal itu membuat mereka menjadi sorotan namun tak ada satupun kalimat protes yang ditujukan untuk mereka karena setiap orang merasa tertarik dengan apa yang akan dilakukan Key dan Minhye.

Minhye menatap Key dengan tatapan yang sulit diartikan. Bagaimana mungkin seseorang yang mengidap Venustraphobia bisa berada disini? Berada ditengah banyaknya wanita? Tidak mungkin!

Minhye tahu betul bagaimana parahnya phobia Key, dan sekarang ia sama sekali tak melihat gejala phobia Venustraphobia itu kambuh. Key terlihat sangat tenang. Minhye merutuk dirinya sendiri karena semua kata seakan tertahan di ujung tenggorokanya, ia hanya bisa menatap kedua bola mata coklat bening yang sedang memantulkan bayangannya dengan sempurna. Seolah disanalah tempatnya.

“Temui aku di tempat pertama kali kita bertemu.”

Saat Key mengangkat genggaman tangan mereka dan memutar tubuh Minhye, gejolak dalam diri Minhye menyeruak. Ia masih sangat ingin berada dalam posisi ini.

Minhye memejamkan mata, menghayati datik-detik terakhir jamahan tangan Key ketika melepas genggamanya. Saat matanya terbuka, hanya ada dirinya yang berdiri ditengah-tengah pasangan yang berdansa. Sendirian.

Tubuhnya berputar demi mengamati setiap sudut hall, namun tak menemukan seorang pun yang mengenakan pakaian full white seperti Key.

Sebelum semua terlambat, Minhye langsung berlari menerobos pasangan yang sedang berdansa, tak peduli dengan pasang mata yang menatapnya kesal ataupun heran. Ia terus berlari menuju gedung asrama, tepatnya ke lantai lima tempat SHINee berdomisili.

Dia ingat, pertemuan pertamanya dengan Key terjadi sewaktu insiden electric kiss dan tempat itu adalah toilet kamarnya. Minhye mendobrak pintu tetapi hasilnya nihil, ia tak menemukan Key di setiap sisi kamarnya, bahkan di setiap tempat dorm SHINee. Terlambatkah?

Ujungnya, ia hanya terduduk lesu di ruang tamu, menyadarkan punggung ke sandaran sofa lalu membuka topeng untuk menghilangkan rasa mengganjal. Sesaat Minhye mengamati topeng edelweis di telapak tanganya, ia masih belum tahu siapa yang mengembalikan topeng ini. Atau jangan-jangan orang itu berada didekatnya?

“Temui aku di tempat pertama kali kita bertemu.”

Mata Minhye melebar ketika ucapan Key tiba-tiba terlintas dalam benaknya, ia tahu harus kemana…

Minhye berlari melewati pilar-pilar putih yang menopang tepi atap asrama, siluetnya terpantul pada jendela-jendela besar berkaca gelap yang menghiasi setiap sisi gedung. Gaung langkahnya tak mampu menyembunyikan bunyi debaran jantungnya yang semakin meliar.

Disana, tempat pertama kali mereka bertemu. Minhye melihat Key berdiri menghadapnya seraya tersenyum. Perasaan haru sekaligus bahagia kini melingkupi perasaanya. Key sedang menunggunya…

Bias cahaya bulan menerpa langsung wajah Key tanpa topeng yang melekat, berefek pada pesonanya yang berpendar keluar bagaikan aura putih yang memancar dari dalam tubuhnya. Kini Minhye dapat melihat wajah itu dengan sangat jelas, wajah yang dulunya samar karena membelakangi cahaya bulan kini telah mendapatkan sinarnya.

Minhye berlari dan langsung memeluk Key dengan sangat erat, jantungnya seolah akan terbakar karena berpacu begitu cepat.

“Akhirnya aku menemukanmu…”

Menemukan orang yang kuberikan topeng Juliette.

Key melepas pelukanya dengan lembut, ia membuka topeng edelweis Minhye kemudian meletakkanya di bawah pilar samping mereka. Mata mereka berpaut, seperti berbicara dalam bahasa nurani yang sangat sukar terlepas di bibir.

Dalam jarak yang semakin minim Minhye berjinjit, menelengkan kepala berusaha merapat. Ia menyentuhkan bibirnya pada bibir Key kamudian menciumnya bagaikan menghirup udara yang akan mati jika sekali saja nafas tak terhela. Pelan dan lambut.

Bulir-bulir air jatuh membasahi bumi, menimbulkan bunyi gemericik dalam setiap hentakanya dengan tanah. Tetes air yang tadi hanya berupa gerimis, lama kelamaan datang dalam skala banyak dan telah sampai pada sebutan hujan.

Key dan Minhye sama sekali tak terusik, mereka menikmati melodi rintikan hujan yang menggetarkan bulu roma namun memikat. Mereka tidak memerlukan dentingan piano ataupun gesekan biola, karena nada alam yang tercipta terdengar lebih merdu.

“Berdansa denganku?”

Minhye menyambut uluran tangan Key dengan meletakkan telapak tanganya di atas tangan Key, mereka berdansa dengan ditemani gemericik air dan sinar bulan yang meskipun hujan namun tetap setia menemani.

Warna putih yang mendominasi pakaian mereka, membuat mereka seakan bersinar karena kadar cahaya bulan semakin temaram. Bagi Key, Minhye masih sama seperti dua tahun lalu. Gadis itu terlihat cantik dengan pesona naturalnya.

“Maaf telah membuatmu shock, sebenarnya aku yang meminta Choi Sooyoung bercerita tentang dirimu yang sebenarnya.”

Aku tidak ingin dirimu semakin terpuruk karena memikirkan bagaimana cara untuk mengaku, untuk melepas topeng hidup yang selama ini kau kenakan. Ini adalah langkah awal untukmu.

Minhye sedikit terkejut dengan kata-kata Key barusan. “Tidak apa-apa. Mungkin kalau peristiwa tadi tidak terjadi, aku pasti terus bersalah dengan semua orang karena tela membohongi mereka.”

Terima kasih karena telah mengawali hal besar yang tak berani ku awali.

Minhye menyandarkan kepalanya ke bahu Key, menikmati aroma maskulin yang memikat. “Aku senang kau sudah lepas dari Venustraphobia.”

Kau telah bangun dari mimpi burukmu.

“Banyak keraguan dan butuh keberanian besar untuk bisa masuk ke dalam hall.”

Aku belum sepenuhnya sembuh, karena aku masih menjaga jarak dengan mereka. setidaknya aku tidak lagi menganggap mereka mahluk terkutuk, apalagi sewaktu menyadari keinginanmu untuk menjadi ‘dirimu’. Mereka semua berharga.

“Kim Kibum…”

“hmm…?”

“Jadi kau benar-benar pemuda yang kutemui disini dua tahun lalu?”

Key tersenyum seperti bongkahan es yang baru saja mencair. “Dan kau seorang gadis yang membisikanku Lucifer dua tahun lalu. Kau sangat cantik, Minhye-ah”

Minhye tak dapat menyembunyikan senyumnya. Mendapat pujian itu saat menjadi dirinya sendiri, barulah ia merasa benar. Seolah ada ledakan euforia di dalam hatinya, ia merasa sangat senang sekaligus lega luar biasa.

“Aku senang karena orang yang menemukan topengku waktu itu adalah orang yang tepat.”

“Jadi topeng itu tidak terjatuh?”

Dansa mereka terhenti, Minhye mengangkat kepalanya lalu menatap Key dalam. “Tidak pernah.”

__FLASHBACK__

Minhye tersenyum, Jinhya memang sangat baik padanya. Gadis itu tidak keberatan meminjamkan topeng Juliette-nya, bahkan dialah yang merubah Minhyun menjadi Minhye. “Jinhya-ah, Jeongmal Gomawo.” ucapnya setelah menerima kotak itu.

Tiba-tiba Jinhya mendekatkan wajahnya, berbisik pada Minhye.

“Min-ah, di akhir acara OxyGEN, setiap pasangan saling menukar topeng. Jadi, kau harus memberikan topengmu pada orang yang tepat ya.”

Minhye menyernyit mendengar perkataan Jinhya. “Tapi topeng ini milikmu.”

“Sudahlah… setidaknya kau punya kenangan dengan orang yang kusukai.”

Akhirnya terjadi perdebatan kecil diantara mereka. “Itu tidak mungkin! Pertama, topeng ini punyamu, dan yang kedua tidak ada orang yang kusukai disini.”

Jinhya meberengut. “Berani taruhan! Kau pasti menemukan cinta pertamamu disini! Inggat ya, harus dengan orang yang tepat!”

~

Tepat disaat Minhye pergi meninggalkan Key, lonceng pertanda perayaan OxyGEn selesai berbunyi. Refleks Minhye berbalik, ia memang tidak melihat Key tapi saat menyadari ada siluet seseorang yang terpantul di kaca jendela, Minhye tahu jika Key mencarinya.

Ucapan Jinhya memenuhi pikiranya. Ia sempat ragu namun Jinhya benar, harus ada kesan yang manis untuk dikenang. Namja tadi… meskipun wajahnya tak terlihat karena membelakangi cahaya bulan, tapi nalurinya berkata suatu saat ia pasti akan menemukan namja itu tanpa penghalang apapun.

Minhye membuka topengnya lalu meletakkan di balik pilar diiringi dengan sebongkah harapan.

__FLASHBACK END__

Key tak dapat menyembunyikan senyumnya, akhirnya dia menemukan gadis yang selama ini dicarinya bahkan sempat dianggapnya hanya sebuah ilusi atau fatamorgana. Pada akhirnya, gadis itu pulalah yang menjembataninya untuk terlepas dari phobia.

Kali ini dia tidak akan membiarkan perasaanya bertolak belakang dengan apa yang ia tunjukan maupun ia katakan. Tidak sekarang, maupun selamanya.

“Itu artinya kau menyukaiku dan semua adalah tepat. Minhye, apa rasa suka itu berubah? Apa kau mencintaiku?”

Key menatap Minhye intens, membuat gadis itu bersemu sekaligus tersenyum malu.

Apa aku harus menjawabnya?

Key menggenggam tangan Minhye lalu mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya, ia menarik Minhye dalam dekapanya. Memeluknya dengan erat seolah enggan untuk dilepas.

You don’t have to say it, because I know the answer.

~*~*~*~

“Berdansa denganku?”

Seorang gadis dengan gaun berwarna Peach mematung saat seorang namja menjulurkan tangan dengan sedikit membungkuk di hadapanya. Ia menatap namja itu lekat-lekat seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Ya! Shin Sungrin! Kau membuatku pegal” gerutu Taemin yang tidak betah berlama-lama dengan posisi seperti itu.

Sungrin menujuk hidungnya dengan telunjuk. “Kau mengajakku berdansa?” tanyanya retoris.

“Bukan, memancing!” balas Taemin kesal.

“Tapi bukannya kau tadi berdansa dengan seorang gadis?”

Taemin tersenyum geli. “Gadis itu Minhyun, ah tidak, maksudku Minhye.”

Gemas karena Sungrin tak kunjung menerima ajakanya, Taemin pun menarik tangan Sungrin dan menyeretknya ke lantai dansa. Taemin mengerti, gadis itu tidak akan menurut jika tidak dipaksa meski ia menginginkannya sekalipun.

Dia mengerti karena sebenarnya mereka sama… menyembunyikan kepiluan dalam kecerian dan selalu berhasil karena tempat persembunyian itu tak bercela.

Taemin mengangkat genggaman tangan mereka lalu memutar tubuh Sungrin. Ketika gadis itu setengah berputar, Taemin langsung memelingkatkan tanganya di pinggang dileher Sungrin, mendekapnya dari belakang.

“Shin Sungrin, Saranghae…”

~

Sejak tadi Onew sibuk memandang jam di pergelangan tanganya lalu menatap sekeliling seperti mencari sesuatu. Beberapa menit lagi tengah malam akan berakhir namun dia tak juga menemukan Jinhya. Gadis itu entah terselip dimana, ia sudah berputa-putar mencarinya. Memang sulit mencari seseorang yang dimaksud karena setiap wajah tertutupi topeng.

Onew mengacak-acak rambutnya frustrasi, ia mengembuskan nafas berat. OxyGEn kali ini adalah yang terakhir, seharusnya keistimewaan itu semakin sempurna jika ia menemukan Jinhya.

“Onew”

Suara itu…

Refleks Onew berbalik dan mendapati Jinhya sedang tersenyum padanya. Akhirnya ia menemukan pelengkap keistimewaan itu…

Onew menatap jam tanganya, tinggal beberapa detik lagi atau dia akan kembali tenggelam bersama mimpi-mimpinya.

“Jinhya, maukah kau menjadi pasanganku?”

Lonceng bergema di setiap sudut hall sebanyak tiga kali, dan itu pertanda bahwa hari telah berganti dan perayaan OxyGEn selesai. Menyisakan perpisahan yang harus diselesaikan.

Jinhya melepas topeng yang dikenakanya, gadis itu tetap terlihat cantik apalagi setiap seyumanya dihiasi lesung pipi. “Aku mau menjadi pasanganmu”

Ucapan Jinhya membuat Onew sadar bahwa kalimat yang diucapkanya tadi bukan untuk mengajak Jinhya berdansa, tetapi meminta gadis itu menjadi pasanganya. Onew melepas topeng The Lord yang dikenakanya lalu menerima topeng yang diulurkan Jinhya kepadanya.

Diiringi senyum khasnya, Onew meletakkan topeng miliknya dalam genggaman Jinhya. Tanpa ada keraguan sedikitpun, Onew sedikit menundukkan wajahnya dan mendekatkan dengan wajah Jinhya. Ia mengecup kening gadis itu dengan sangat lembut.

“Jinhya-ah, terima kasih karena telah merubah dan menyadarkan arti diriku sebenarnya”

Mungkin kalau Jinhya tidak menyadarkanya, Onew pasti masih terjerat dalam ilusi dan angannya. Terutama tentang bakat terpendamnya, juga Eunki. Kini dia bisa melepaskan Eunki sepenuhnya, meski tak dipungkiri jika ia sangat menginginkan melihat dengan gadis itu walaupun untuk yang terakhir.

“Saranghae…”

Akhirnya kata yang selama ini tertahan mampu terucap. Onew memeluk Jinhya secara perlaha, menyandarkan kepala gadis itu di bahunhya kemudian menumpukan dagunya di puncak kepala gadis itu.

Ia memejamkan mata sesaat dan bayangan Eunki yang sedang tersenyum terlintas dalam benaknya, ketika Onew membuka mata ia melihat seseorang berjubah putih sedang berdiri di tribun. Gadis itu tampak bersinar di antara orang-orang banyak.

Eunki tersenyum kepadanya.

~*~*~*~

Teng… Teng… Teng…

Bertepatan ketika lonceng berbunyi, seluruh pasangan yang berdansa melepas topeng mereka dan menukarkan dengan milik pasanganya.

Seorang pemuda meletakkan gelas kosong di atas meja, sejak tadi ia hanya berdiri di sudut hall sembari mentapa orang-orang yang berdansa. Banyak gadis mendekatinya namun tak ada seorangpun yang menarik perhatianya.

Di OxyGEn yang ketiga pun dia tak memiliki pasangan.

Minho melepas topeng yang ia kenakan kemudian menatapnya sendu, topeng ini masih topeng yang sama dengan perayaan OxyGEn yang sebelumnya dan mungkin setelah ini akan ia museumkan saja.

Tiba-tiba sebuah topeng dengan taburan kristal berwarna Aquamarine terjulur kearahnya, Minho menengadah dan mendapati Shin Maeri berdiri di hadapanya masih dengan senyum yang sama seperti bertahun-tahun lalu, senyum yang sama sewaktu pertama kali mereka bertemu karena saat itulah mereka menyukai satu sama lain.

“Masih berlum terlambat, kan?”

~*~*~*~

Tiga hari berlalu sejak perayaan OxyGEn, kini tak ada lagi murid tahun ketika yang modar-mandir diantero sekolah. Keesokan hari setelah perayaan OxyGEn adalah acara graduation, kemudian mereka resmi meninggalkan sekolah yang selama tiga tahun menjadi rumah mereka.

Saat Graduation Minhye masih menjadi Minhyun, mungkin banyak yang memandang miring terhadapnya namun tetap saja teman sekelasnya masih menganggap Minhye adalah Minhyun, temannya –seperjuangan pasar cabai.

Sebagaimana diketahui publik bahwa Minhyun adalah pewaris tunggal Chohagle group, perusahaan yang sangat terkenal di korea, maka berita pengakuan Minhye dan terungkapnya Minho sebagai saudara kembarnya sempat membuat heboh.

~

Minhye menyeret kopernya keluar dari llift. Ia melirik jam tangannya, masih tiga jam lagi sebelum keberangkatannya ke Los Angeles. Dia akan meninggalkan meninggalkan Cho Minhyun dan belajar menjadi seorang gadis –bukan gadis jadi-jadian seperti selama ini.

Tak ada yang berubah dari Dorm SHINee, semua perabotan masih rapi pada tempatnya. Minhye sengaja kesini, ia ingin merekan dorm ini dalam ingatannya untuk yang terakhir kalinya. Dia pasti akan sangat merindukan tempat ini.

Minhye tersenyum kecil, ingatanya tiba-tiba melayang saat pertama kali menginjakkan kaki disini. Suara alarm bunyi kokok ayam dan teriakan protes Jonghyun terhadap Onew, ah… dia juga ingat bagaimana sinisnya Taemin dulu.

Minhye melangkah menuju meja makan, sangat banyak kenangan yang terjadi disana. Rebutan ayam antara Onew, Jonghyun, Taemin dan dirinya, dan dia juga sempat disuruh tinggal di kolong meja karena Taemin tak mau sekamar denganya.

Minhye membuka pintu kamar yang berada di samping ruang makan. Berbeda dengan ruangan depan Dorm, kamar yang biasa ditempati Jonghyun-Onew itu kosong melompong. Hanya ada lemari dan meja belajar kosong, juga tempat tidur. Jendelanya pun sudah tertutupi gorden.

Ia pun melangkah ke lorong di seberang ruang tamu, menghadap ke kanan kemudian membuka pintu kamar Minho-Key. Keadaan serupa dengkan kamar OnJong menyapu penglihatanya, banyak kenangan yang terjadi di kamar ini, terutama dengan Key.

Seulas senyum tersungging di bibir Minhye saat ia menutup pintu, gadis itu berbalik kemudian membuka pintu kamarnya dan Taemin. Ah, dia ingat pertama kali datang ke kamar ini. Waktu itu kopernya jatuh dari tangga dan hampir saja barang ‘keramatnya’ ketahuan oleh Taemin, namun sialnya Taemin malah menganggapnya teroris ._.

Minhye tertawa kecil sambil menatap kamar mandi di belakang tangga, sampai sekarang kamar mandi itu tak memiliki kunci, padahal berapa sih harga kunci? Tapi sudahlah, lagi pula tak ada yang meminjam sabun, sampo atau segayung air saat ia sedang mandi –tidak seperti yang diceritakan Taemin dulu. Atau mungkin karena member SHINee sudah tahu bahwa dia seorang gadis…?

“Sudah ku duga kau pasti ada disini.”

Suara rendah Minho membuat Minhye sedikit terkesiap, ia berbalik kemudian melayangkan senyuman ke arah saudara kembarnya itu.

“Kau sudah melihatnya?”

“Apa?”

“Ah, sudah kuduga…” Minho menarik tangan Minhye. “ikut aku.”

Minho menuntunya ke arah ruang makan, awalnya dia tidak mengerti maksud namja itu. Namun setelah matanya menangkap sesuatu di dinding belakang ruang makan, Minhye langsung menggeleng-gelengkan kepala sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Takjub.

“Kau resmi menjadi Sub member SHINee.”

Perjanjian waktu itu…

Dinding di belakang ruang makan, terdapat gambar wajah yang telukis abstrak dari cat pilox. Di bawah wajah itu terletak nama masing masing yang terukir menjadi graffiti dan di atas semua lukisan rupa itu terdapat graffiti berukuran jumbo yang bertuliskan ‘SHINee’. Kini, lukisan graffiti wajah Minhye telah menghiasi dinding itu dengan nama ‘Cho Minhyun’. Meskipun dia meninggalkan nama itu, namun tetap saja tersimpan banyak kenangan dibaliknya.

Minho kembali menarik tangan Minhye, melewati ruang tamu dan berjalan menuju ruang televisi. Di atas meja depan sofa terdapat selembar kertas berisikan coretan dengan tinta warna-warni.

“Minhye… selamat telah menjadi Sub member.” –Key.

“Maaf kami tidak bisa datang langsung.” –Jonghyun.

“Kau berhutang traktiran di restoran ayam pada kami!” –Onew.

“Semoga kau mendapat suami yang tampan seperti aku~^^.” –Taemin.

Minhye tersenyum geli membaca kertas itu, apalagi pesan dari Taemin -__- apapula itu, tidak nyambung!

Minho menjulurkan sebuah alat tulis menyerupai spidol berukuran besar kehadapan Minhye, lalu mengerling ke arah dinding berwarna aqua green yang dipenuhi corak warna-warni.

Sekilas tampak abstrak, namun itu merupakan tandatangan SHINee. Yang berwarna Hijau muda dibawahnya bertuliskan “Spring Taemin“, lalu yang berwarna merah bertuliskan “Summer Jonghyun”, berwarna jingga bertuliskan “Autumn Onew”, berwarna perak bertuliskan “Winter Minho” dan di tengah semua tanda tangan itu terdapat goresan tangan berwarna golden yang bertuliskan “Almighty KEY”

Minhye meju beberapa langkah, kemudian mencari tempat yang tepat untuk membubuhkan tanda tanganya. Pilihannya tertuju pada posisi di bawah tanda tangan Key, karena hanya disitu tempat yang tidak terkena pias tanda tangan lain. Seolah memang disanalah tempatnya.

Minhye menggoreskan penanya ke dinding, membentuk lika-liku garis yang merupakan tanda tangannya kemudian menuliskan namanya di bawah tanda tangan tadi. Ia mematung sesaat kemudian meraba permukaan scarf­-nya, warna yang sama dengan tanda tanganya. Fuchsia.

“Kau siap?”

Masih dalam posisi membelakangi Minho, Minhye mengangguk. Saat ia memejamkan matanya, setetes air bening menetes dari sudut matanya. Minhye pun langsung mengusap dengan punggung tanganya, tapi air mata itu masih saja keluar.

Rasanya waktu cepat sekali berlalu, semua bagaikan baru kemarin. SDhari esok tak akan ada lagi canda tawa dan petualangan mendebarkan seperti hari-hari sebelumnya. Semua telah terkemas rapi di dalam kotak memori dan hanya bisa dibuka untuk dikenang, bukan untuk diulang.

“Aku siap.”

~*~*~*~

Taemin meletakkan koper yang dibawanya ke atas kursi ruang tunggu, ia memendang layar yang menunjukan daftar dari jadwal keberangkatan pesawat dengan tatapan sayu.

“Appa!” panggilan itu menyadarkannya. Ia berbalik ke belakang dan mendapati Taehyun mengangangkat kedua tanganya –minta digendong- di dalam pelukan Chaerin.

“Tinggal 15 menit lagi, Chaerin-ah.” Ucap Taemin setelah ia memindahkan Taehyun ke dalam gendonganya.

Chaerin menatap Taemin ragu, “Sebenarnya ini tidak perlu…”

“Ssttt… aku tidak ingin mendengar itu. Jangan bebebankan pikiranmu tentang aku dan Taehyun, kami akan baik-baik saja.”

Mereka memang sempat bertengkar karena hal ini, tapi ujung-ujungnya Taemin yang memenangkan perdebatan karena ini semua demi kebaikan Chaerin juga.

“A~ah, padahal dulu aku ingin melamarmu setelah tamat sekolah.”

Chaerin tersenyum geli melihat Taemin memanyunkan bibirnya, jiwa kekanakan namja itu kumat lagi. Taemin lalu menurunkan Taehyun dari gendonganya, ia mendudukan Taehyun di atas koper Chaerin lalu berbisik di telinga namja kecil itu.

“Taehyun-ah, tutup matamu! Nanti Appa belikan 5 kotak Koala no machi.” Bisik Taemin pelan.

“Aku mau sepuluh, Appa!” tukas Taehyun.

“Tujuh saja ya?!”

“Sepuluh!” Taehyun bersih keras.

“Baiklah, delapan saja!”

Taehyun memanyunkan bibirnya seraya melipat tangan di depan dada. “Pokoknya aku mau tiga kotak!”

Doeng~ Taemin pun pingsan lalu bangkit lagi. “Oke, tiga kotak!” Taehyun pun menutup matanya dengan telapak tangan setelah Taemin bangkit berdiri.

Chaerin mengernyitkan dahi melihat tingkah laku dua orang itu, saat ia hendak berbicara tiba-tiba Taemin langsung mendekapnya dan mengusap pelan rambutnya.

“Chaerin-ah, aku berjanji akan selalu menunggumu.” Tutur Taemin pelan. Ia melepas pelukanya kemudian melayangkan kecupan lembut di bibir Chaerin.

nan jeongmal saranghae”

Taemin sangat menyadari apa yang dikatakanya barusan, dan dia juga sadar apa yang diucapkanya kepada Sungrin sewaktu malam OxyGEn. Mungkin dia akan terus seperti ini, bingung dengan perasaanya sendiri. Karena perasaanya terhadap Chaerin dan Sungrin sama-sama memiliki pondasi yang kuat.

Tapi hidup tidak akan berakhir sampai disini, seiring bergulirnya waktu semua problema pasti berujung. Meskipun masih belum tahu pilihanya, namun Taemin yakin orang itu pasti orang yang tepat.

“Kkkkk~”

Mendengar kikikan itu Taemin langsung menoleh ke sumber suara dan mendapati Taehyun tertawa lebar, ia memang menempelkan telapak tangan dimatanya tapi namja kecil itu malah mengintip di sela-sela jarinya.

“YA!! LEE TAEHYUN!!!!!!”

Taehyun pun berlari suapaya menghindar dari kejaran Taemin, tak jauh dari sana terlihat Hyukjae, Sooyoung dan Eunmi yang berjalan ke arah mereka.

“Lee Harabeoji! Choi Halmeoni! Eunmi Noona!” seru Taehyun seraya berlari ke arah Sooyoung.

“Taehyunnie, kenapa kau memanggil Eunmi noona tapi memanggilku Harabeoji?” Hyukjae mesem-mesem karena tak terima dengan panggilan yang condong dengan predikat tua itu. “Seharusnya kau memanggiku Hyung!”

Pletak! “Ya! Lee Hyukjae! Seharusnya kau sadar diri kalau kau sudah tua! Taehyun kan anaknya Taemin, dan Taemin berteman dengan Minho. Berarti Taemin sama saja anak kita.” sembur Sooyoung penuh penekanan.

Hyukjae mengacak-acak rambut Taehyun gemas, mereka memang semakin dekat karena tempo hari Taehyun dititipkan di rumah Hyukjae sekaligus menjadi teman bermain untuk Eunmi.

“Lee Hyukjae-ssi, Choi Sooyoung-ssi, terima kasih sudah mau menjaga Taehyun.” Ucap Chaerin lalu membungkuk singkat.

“Sama-sama. Taehyun anak yang baik.”

Mendengar itu, Chaerin pun tersenyum. Ia berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Taehyun. “Taehyun-ah, Janggan nakal selama eomma pergi.” Pinta Chaerin dan Taehyun pun mengangguk patuh.

Selang beberapa menit, panggilan yang ditujukan untuk penumpang pesawat yang akan dinaiki Chaerin terdengar. Setelah mengucapkan salam perpisahan akhirnya Chaerin pergi sambil melambaikan tanganya ke arah Taemin dan Taehyun, juga Hyukjae, Sooyoung dan Eunmi. Dia pasti akan merindukan mereka.

~*~*~*~

Minhyun termenung di kursi tunggu bersama Minho, 15 menit lagi pesawatnya akan terbang. Serasa ada yang kurang dalam hati Minhye, ia memang sudah berpamitan dengan orang tuanya namun ia belum mengucapkan salam perpisahan dengan sahabat-sahabatnya.

“Minhye!” seruan itu membuat Minhye terlonjak.

Ia menoleh ke sumber suara dan mendapati Taemin, Jonghyun, Onew, melambai kearahnya. Minhye pun beranjak dari kursinya kemudian mengampiri mereka, akhirnya teman-temanya datang juga.

“Ku kira kalian tidak akan datang.” Sahut Minhye girang.

“Awalnya seperti itu karena kami punya urusan masing-masing.” Terang Jonghyun.

“Tapi seseorang mengancam kami…” Onew menyapukan pandangannya ke sekeliling. “tapi malah orang itu yang tidak ada disini.”

Minhye mengikuti kegiatan yang dilakukan Onew, akhirnya ia sadar sesuatu yang kurang diantara mereka. “Key…” desisnya. Padahal ia sangat berharap Key bisa datang dan mengucapkan salam perpisahan kepadanya.

“Kalian punya rencana apa kedepannya?”

“Sepertinya aku akan menetap di Praha.” Onew menatap Taemin, mengisyaratkan bahwa itu adalah giliranya. “Aku tetap disini dan mengurusi Kαρπούζι Manssion.” Taemin menatap ke arah Jonghyun. “Aku akan kuliah di Australia.”

Minhye mengangguk pelan, semua tujuan mereka berbeda dan semuanya berada dalam belahan benua yang berbeda pula.

Tiba-tiba panggilan kepada penumpang pesawat yang akan ditumpangi Minhyun telah terdengar. Minhyun berjalan mendekat lalu memeluk Minho, Onew, Taemin, dan Jonghyun secara bergantian.

“Jangan lupakan aku ya!” ucapnya dengan senyum haru. “suatu hari nanti kita pasti bisa berkumpul lagi.”

“Itu pasti.” timpal Taemin.

Untuk yang terkhir kalinya Minhye mengedarkan pandang ke sekeliling, namun orang yang dicarinya tak kunjung menampakkan diri. Ia tersenyum meskipun perasaan kecewa menyusup dalam hatinya. “Terima kasih atas semuanya.”

Minhye meraih kopernya lalu melambai-lambaikan tangan seraya tersenyum haru. Bertepatan ketika ia berbalik, seseorang mendekapnya erat.

Aroma maskulin ini…

“Key…”

Minhye tidak mengerti kenapa sudut matanya meneteskan air mata disaat seperti ini, kedua ujung bibirnya tertarik keatas membentuk senyum bulan sabit. Rasa kecewa itu pudar dan terganti dengan rasa bahagia yang mendamaikan.

“Minhye… terima kasih. Kau sangat berarti dalam hidupku.” Tutur Key sembari mengelus lembut puncak kepala Minhye.

Panggilan kedua untuk penumpang pesawat terdengar, dan itu berarti moment ini harus berakhir. Meski berat, mereka harus melepas dekapan masing-masing.

“Aku pergi ya…” Minhye melambai kepada Key, juga kepada Minho, Taemin, Jonghyun, dan Onew, sambil melangkah mundur. Ia melepas senyum terbaiknya lalu menurunkan lambaian tanganya kemudian berbalik dan berjalan menjauh meninggalkan SHINee.

Suatu saat mereka pasti akan berkumpul lagi.

Hidup akan terus bergulir, selama jantung masih memompa darah dan udara masih bersiklus di paru paru, maka tidak akan ada happy ending maupun sad ending. Segala suka duka akan datang silih berganti, dan pengalaman akan semakin mendewasakan diri.

Mungkin masalah kemarin telah selesai sampai disini, namun tak menutup kemungkinan akan datangnya problema kehidupan yang baru. Hidup itu seperti musim, terkadang membahagiakan seperti musim semi, menegangkan seperti musim panas, memilukan seperti musim gugur, dan penuh misteri layaknya musim dingin.

Setiap orang pasti memiliki dua sisi, malaikat dan iblis seperti Lucifer. Gejolak batin, perasaan yang dasarnya tidak diketahui, menjadi momok bagi Lucifer. Namun Lucifer adalah keberanian, dan setiap orang pasti mendapatkan cahaya keberanian itu untuk melewati setiap musimnya meskipun jalan yang dilewati penuh lika-liku, tetapi disitulah keistimewaanya.

__THE END__

Fanfiction chaptered pertama yang nyampe kata The End *letusin kembang api* awalnya sempat yakin bakal berhenti di tengah jalan, tapi karena dukungan para readers akhirnya cerita yang rada aneh + norak ini selesai juga. Nggak pernah kebayang partnya akan sepanjang ini huaaaaaa….

Aaf ya kalo part ini typo masih nyempil hehe

Tak terasa sudah 10 bulan Seasons of The Lucifer menemani hari-hariku #tsaahhh… dan melalui ff ini aku dapat banyak teman sesama kpopers dan yang terutama pengetahuan tentang menulis. Wah… ini memang fanfict kesayanganku haha…

Makasih banyak buat Choi Jinhya a.k.a Thya eonni yang udah bantuin aku + udah repot repot bikinin trailer ff gaje ini. juga buat indi eonni yang rela2in baca pas mau ulangan, nandits eonni yang jadi beta readers, deankey yang udah bikinin poster, dheetaemin yang kalo komen udah kayak buat drabble haha, taeminiesha, mekeyworld, chevelleanne, Ipen, Jin Jinhye, Hwang Ri Young, leesongkira96, Park Min Mi, ayasque, park hee rin, SinDee40786, Hyora Kim, ksaena, lucia tiara,  Liitaeminst, aiiaiifa, vita_MVP, myElfBestfriend, krisna, superddulz7, dyah_kim (@chiekey_bunny), atika, KyuNaSifany, Yoochullie, rerest, leechaerasoneelf, larasss1199, Ayunakey, hanakey23, G.Sabiila, Lockets, dekeydekai, rerez, leeminhee2,sjnrl22…pokoknya masih buuaanyak lagi deh, semua readers maupun silent readers yang nggak bisa aku sebutin datu satu *capek muehehe

Yang nggak kesebut jangan ngambek ya, nama itu ku ambil Cuma di salah satu chapter aja. Mungkin kalian komenya di chapter yang lain, yang jelas terima kasih banyak karena komen kalian dukungan buatku. Jeongmal kamsahamnida…

Satu lagi nih, SoL belum tamat tapi udah banyak aja yang minta after storynya -__- hahaha…

Sebenernya aku udah punya ide kasar soal after story ff ini, tapi aku udah kelas 3 dan waktu buat nulis itu semakin dikit banget padahal kalo aku nulis satu paragraf aja lamanya minta ampun karna kebanyakan mikir -__-.

Jadi after story-nya nggak bisa kujanjiin bakalan cepet, bisa satu bulan baru kelar. Yang jelas aku nggak janji bakalan ada after story tapi bakalan aku usahain, jangan ada yang nagih ya hihihi, kalo nanya aja boleh :p

Dan kalo ada after Story-nya aku bakalan bikin judul dengan nama musim, dan nama musimnya itu di caps lock. Mis: AUTUMN brekele, SUMMER botak, SPRING bulu dada roma irama ._. pokoknya judul dengan nama musim yang di caps itu berarti after story SOL.

Last but not least, please buat yang baca ff ini tinggalkan jejak kalian berupa kesan atau apapun entah itu sepatah kata atau sampai buat drabble juga gapapa. Udah END nih ceritanya…

Makasih banyak ya, apalagi yang udah ngikutin dari awal Teaser –selama sepuluh bulan. Kamsahamnida.

NB: jawaban buat pertanyaan kemarin.

  1. Onew-gadis violin
  2. Berdansa.

Dan nggak ada yang bener semua yaahhhh… nomor satu yang bener Cuma WidyaJ, dan yang nomor dua yang bener Cuma chevelleanne. Jadi nggak ada yang masuk pairing deh u,u makasih ya yang udah berpartisipasi *bow

Advertisements

175 responses to “SEASONS OF THE LUCIFER [ END ]

  1. Huaaah jjang.#nangisterharu
    happy ending,,aq brhrp msh ad sequel/epilog’a coz sdkit krg puas sm ksah couple2’a trutma minkey.
    But,sukses truz buat krya slnjut’a.hehe
    mf komen’a g di tiap chapter.

  2. Walaupun gantung, aku tetap merasa ini happy ending karena masing” orang sdh menemukan kebahagiaannya masing-masing.
    Gumawo Author-ssi… sudah memberikan cerita yang menarik dan berkesan. Aku sampai menangis terharu juga sekaligus kagum.
    Afterstory nya yang SOL Special Edition itukan ? Aku benar-benar penasaran. Chapter 2 juga aku belum baca soalnya diprotect. Boleh minta PW nya ? Bisa kirimkan ke email y.raida@yahoo.com
    Jeongmal kamsahamnida… *letusin kembang api…**

  3. ending nya agak ngegantung deh thor.. ahh, masih penasaran taemin sama chaerin apa sungrin ahh… sequel dong thor.. btuh bgt sequel nih ff bagus banget cerita nya😭😭🙏

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s