[Su Ho’s] Secret behind Her Eyes

untitled-1

Title            : 8th part (Su Ho’s) Secret behind Her Eyes

Credit Poster : Thanks to Andinarima

Author       : fransiskanoorilfirdhausi /@fhayfransiska /soo ra park

Genre         : Romance, Friendship, Angst, Action

Length       : Chaptered

                   1st part [Chan Yeol’s] Girl inside the Window

                   2nd part [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

                   3rd part [Kris’] Wedding Pain

                   4th part [Xiu Min’s] Oblivious Summer

                   5th part [D.O’s] Goodbye Tiramisu

                   6th part [Kai’s] Hum on Rainy Day

                   7th part [Chen’s] A Silent Love Song

Cast            :

  • Kim Joon Myun a.k.a Su Ho
  • Choi Seo Rin (OC)
  • Cho Sung Hee (OC)
  • Lee Jin Ri (OC)
  • Park Chan Yeol
  • Choi Soo Young
  • Do Kyung Soo a.k.a D.O
  • Kim Jong In a.k.a Kai
  • and another support casts

Allo readerdeul, author is comeback \(^^)/ Sebelumnya author bener-bener minta maaf karena udah kelamaan ngilang, udah sebulah yah sejak author terakhir ngepost^^v dan terus kali ini kalo fanfic saya geje segeje gejenya ff geje, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya juga manusia -___- #abaikan

Author balik sama ff ber-cast Suho, bias author >,< nyahahaha. Dan sebagai balasan karena udah nunggu lama banget, author bikin ff yang panjaaaaang banget nih^^, biar puas deh ya.

This plot dan OC are mine, and EXO is God’s but Su Ho is mine #plak. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good reader please, don’t forget to give me oksigen (Read-Comment-Like)^^

________

            “Appa memanggilku?”

Pria paruh baya dengan cerutu besar di tangannya itu langsung memutar kursinya cepat ke arah seseorang yang barusaja memasuki ruang kerjanya. Pria itu lantas tersenyum begitu melihat seorang yang sangat dikenalnya—dan ditunggunya sedari tadi—kini telah berdiri tepat di hadapannya.

“Ada perlu apa?”tanya seseorang itu lagi.

Choi Jae Min—nama pria paruh baya itu—tersenyum. “Seo Rin, Appa hanya ingin kau melakukan sesuatu.”

Yeoja yang dipanggil Seo Rin itu lantas menaikkan kedua alisnya, berusaha menerka-nerka apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh appa-nya. “Appa ingin aku melakukan apa?”tanyanya kemudian.

Pria paruh baya yang ternyata adalah appa Seo Rin itu langsung menyodorkan selembar foto pada yeoja itu. Seo Rin menerimanya dengan alis mengernyit. Ia menatap lekat-lekat selembar foto yang kini berada di tangannya. Seorang namja berkulit putih pucat yang tengah tersenyum cerah terlihat di sana. Namja itu mengenakan kemeja putih dan membawa sebuah nampan, ia terlihat sedang berada di sebuah restoran. Pandangan si namja tidak terfokus pada kamera, selain itu orang-orang di sekeliling si namja juga terlihat kabur, jelas sekali bahwa foto itu diambil diam-diam.

            “Appa ingin aku melakukan apa pada namja pelayan restoran ini?”

Choi Jae Min menjauhkan cerutunya, ia lantas tersenyum licik. “Namanya Kim Joon Myun, dia seorang pelayan di Baguette Restaurant. Appa hanya ingin kau membereskannya.”

Seo Rin memiringkan kepalanya, alisnya berkerut samar. “Maksud Appa, Appa ingin aku ….. membunuhnya?”ujarnya dengan nada tak percaya.

Choi Jae Min mengangkat kedua tangannya di udara lalu bertepuk tangan keras, “Bingo! Anak appa memang pintar!”ucapnya dengan nada bangga.

Seo Rin membulatkan kedua matanya, namun sedetik kemudian ia tersenyum tipis, sedikit tersanjung dengan pujian appanya. Yeoja itu lantas menimang-nimang foto di tangannya.“Kalau boleh aku tahu, apa alasannya?”

Jae Min beranjak dari tempatnya duduk, ia berjalan menuju jendela besar di ruang kerjanya. Tatapan matanya mengarah pada jalanan ramai kota Seoul yang terlihat dari kaca jendela. Ia tampak merenung sejenak, “Dia bisa menghancurkan perusahaan appa.”

“Maksud Appa?”

“Dia adalah putra dari Kim Joon Sang, seseorang yang seharusnya memiliki perusahaan ini.” Choi Jae Min tampak menelan ludah, “Appa telah membunuh dia dan istrinya dua belas tahun lalu, dan menghapus semua bukti yang mengarah pada appa sehingga appa tidak pernah dicurigai. Semua orang mengira bahwa kejadian itu murni kecelakaan. Berkat kematian Joon Sang, perusahaan ini kini berada di tangan appa.”

Seo Rin terdiam, ia lantas menatap lekat-lekat foto di tangannya dan termenung. Ia tidak kaget lagi mendengar kata ‘membunuh’ dari appanya, karena ia sudah terlalu mengenal appanya. Choi Jae Min akan melakukan apapun untuk mendapatkan apapun yang ia inginkan, bagaimanapun caranya.

“Bodohnya, appa tidak pernah tahu kalau mereka memiliki seorang anak laki-laki. Itu diluar perhitungan appa. Selain itu, nampaknya Joon Sang dan istrinya telah memperkirakan semuanya, mereka berdua menyembunyikan anak laki-laki mereka entah di mana.”lanjut Choi Jae Min.

“Appa selalu mencari anak laki-laki itu selama sepuluh tahun ini, hingga akhirnya appa menemukannya. Dia adalah namja yang kau lihat di foto itu.” Choi Jae Min membalikkan tubuhnya dan menatap Seo Rin tajam. “Kim Joon Myun, kau harus melenyapkannya.”

Seo Rin menatap lagi selembar foto di tangannya, tiba-tiba matanya memanas dan jantungnya berpacu cepat. Yeoja itu lantas mendesah hebat, “Kenapa…. kenapa harus aku?”

“Karena appa hanya percaya padamu.”

________

            Baguette Restaurant

Lagi, untuk kesekian kali Kim Joon Myun menghela napas keras. Ditatapnya lekat-lekat sebuah undangan berbentuk persegi panjang dengan warna pink pucat yang kini berada di tangannya itu. Dengan berat hati, ia membuka undangan itu perlahan. Joon Myun berusaha mengontrol dirinya ketika membaca setiap kata yang tertulis di sana.

Upacara pertunangan, Byun Baek Hyun & Cho Sung Hee.

Dalam hitungan detik, undangan itu telah tertutup kembali. Joon Myun menutup pelan kedua matanya, meskipun ia tahu hal itu tidak akan sanggup membuatnya melupakan apa yang barusaja ia lihat. Joon Myun menempelkan sebelah tangannya di dada ketika ia merasakan sesuatu yang menyakitkan di sana, seperti ditusuk ribuan jarum. Sakit sekali.

Joon Myun membuka kedua matanya ketika sekelebat kenangan masa lalunya mengalir deras di kepalanya. Namja itu masih mengingat dengan jelas pertemuan pertamanya dengan seorang yeoja, yeoja yang hingga kini masih singgah di hatinya.

Saat itu adalah hari yang panas, ia dan Jin Ri, sahabatnya memutuskan untuk pergi ke perpustakaan kota—tempat favorit Jin Ri—untuk sekedar menghilangkan kebosanan. Joon Myun yang pada dasarnya kurang suka membaca hanya melihat sekeliling ruang perpustakaan dengan bosan. Saat itulah pandangannya bertemu, ia dan yeoja itu. Yeoja berambut ikal yang mengikat rambutnya tinggi dan terlihat angkuh. Si yeoja tampaknya sama saja dengan Joon Myun, kebosanan setengah mati dengan suasana perpustakaan yang lengang dan pengap.

Tidak ada yang tahu bagaimana takdir berkata, mereka kembali bertemu, ya, Joon Myun dan yeoja berambut ikal itu. Di waktu yang berbeda, namun di tempat yang sama. Joon Myun tidak menyia-nyiakan kesempatan—ketika ia melihat yeoja itu sedang memilih-milih buku—untuk mengajaknya berkenalan. Cho Sung Hee, itulah nama si yeoja berambut ikal itu.

Hari-hari terus berjalan dan mereka berdua menjadi semakin sering bertemu. Setelahnya Joon Myun menyadari sebuah perhatian besar yang ia terima dari Sung Hee, hal itu membuatnya senang, tentu saja. Dan tak jarang pula ia mendapati Sung Hee dan Jin Ri saling mencemooh satu sama lain, ia sendiri tidak habis pikir kenapa kedua yeoja itu tidak pernah terlihat akur. Padahal Joon Myun merasa tidak terjadi suatu hal yang bisa membuat mereka saling bermusuhan seperti itu.

Cho Sung Hee, anak tunggal dari seorang pengusaha ternama. Begitu mendengar kenyataan itu, Joon Myun langsung memutuskan untuk mundur. Ia tahu, ia sadar diri, ia tidak ada apa-apanya dibandingkan Sung Hee. Sung Hee seorang yeoja kaya raya yang bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan, sedangkan Joon Myun hanyalah seorang namja miskin yang bahkan tidak punya orang tua, tidak berkuliah dan hanya bekerja paruh waktu di sebuah restoran.

Ia paham, namja itu benar-benar paham kalau Sung Hee juga memiliki perasaan yang sama dengannya, terlihat dari banyaknya perhatian yang Sung Hee berikan padanya. Namun ia sendiri juga tahu, ia tidak akan bisa membahagiakan yeoja itu. Apa yang bisa ia banggakan? Joon Myun hanyalah seorang pelayan restoran yang bahkan sering ditegur atasan karena kelalaiannya.

Oleh karena itu, ia memutuskan untuk membunuh perasaannya. Joon Myun berusaha terlihat menyukai Jin Ri di mata Sung Hee, ia berusaha untuk membuat dirinya memasang wajah ‘baik-baik saja’ ketika mendengar Sung Hee akan bertunangan dengan orang lain. Ya, Sung Hee tidak boleh menyukai namja payah seperti dirinya.

Sakit, tentu saja. Menyakitkan sekali, memaksakan diri untuk berhenti menyukai seseorang karena alasan klasik, memaksakan diri untuk terlihat menyukai orang lain, memaksakan diri untuk tersenyum ketika melihat orang yang dicintai bersanding dengan orang lain.

Bodoh, itulah yang ada dalam pikiran Joon Myun saat ini. Bodoh..

“Joon Myun ssi, tolong antarkan pesanan ini ke meja nomor 17.”

Joon Myun tersentak dari lamunannya, ia langsung meraih nampan yang disodorkan oleh seorang koki restoran padanya. “Ah, nee Kyung Soo ssi.”

Namja bermata bulat yang dipanggil Kyung Soo itu tersenyum, “Gwenchasimida. Lain kali pilih-pilih tempat dong kalau melamun. Kalau bos tahu bisa gawat.”

Joon Myun mengangguk pelan sembari tersenyum kikuk, ia segera beranjak dari tempatnya dan berjalan mengantarkan pesanan ke meja 17.

________

Still in Baguette Restaurant

“Kelihatannya yang ini enak. Aku pesan yang ini saja.”

“Kalau begitu aku juga.”

Jin Ri berdecak, lalu menyilangkan kedua tangannya di dada dan menatap Chan Yeol intens. “Ya, Chan Yeol ah. Berhenti mengikutiku terus, tadi kau pilih muffler dan juga sarung tangan yang sama denganku untuk musim dingin nanti. Sekarang makanan juga. Sebentar lagi jangan-jangan kau akan memilih dalaman yang sama denganku?”cerocos Jin Ri dengan memasang tatapan ‘awas’.

Chan Yeol meringis, memperlihatkan sederet gigi putihnya yang rapi. “Habisnya seleramu bagus….dan pakaian dalam? Aigoo, tentu saja tidak…” Chan Yeol terdiam sejenak, bepikir “…Chagiya.”katanya kemudian sembari tersenyum jahil.

Detik itu juga wajah Jin Ri merah padam, Chan Yeol terkikik. “Apa? Chagiya? Ya, ya, sejak kapan kau memanggilku begitu?”

Chan Yeol tidak bisa menahan tawanya melihat kekikukan Jin Ri. Sedangkan Jin Ri, masih dengan wajah merah padamnya langsung mengalihkan pandangannya pada salah seorang pelayan restoran kemudian memanggilnya, setidaknya ia berharap hal tersebut bisa membuat rasa malunya hilang. Namun sayangnya, Chan Yeol malah tertawa semakin keras.

Jin Ri akan membekap mulut Chan Yeol ketika namja itu dengan cepat mengeluarkan sesuatu dari saku celana jinsnya. Dalam waktu singkat ia mengarahkan benda itu pada Jin Ri. Ya, namja itu memotret Jin Ri—dengan kamera digitalnya yang mungil—saat yeoja itu tengah memasang wajah marah padanya. Jin Ri sontak melotot melihat apa yang baru saja dilakukan Chan Yeol.

“Ya! Apa-apaan kau, kenapa memotretku!? Cepat hapus, Chan Yeol ah!”

Chan Yeol terbahak keras, ia melihat lagi hasilnya memotret, kemudian tertawa lagi. “Hahaha, tenang saja. Kau tetap cantik, Chagiya. Hahaha.”

“Berhenti membohongiku, kemarikan kameramu!” Jin Ri berusaha merebut kamera yang berada di tangan Chan Yeol. Chan Yeol beranjak dari tempatnya duduk dan mengangkat kamera itu tinggi-tinggi agar Jin Ri—yang lebih pendek darinya—tidak dapat meraihnya.

“Kemarikan Chan Yeol ah!”

Chan Yeol tertawa-tawa lagi melihat tingkah konyol Jin Ri, ia melambai-lambaikan tangannya yang panjang seakan mengejek Jin Ri yang tidak mampu meraihnya. “Tidak akan kuberikan sebelum kau memanggilku chagi..”

PRAAANGGG!!

_________

            Joon Myun seakan baru tersadar dari lamunannya ketika melihat sepiring spaghetti yang dibawanya untuk meja nomor 17 kini tergeletak di lantai, ya, dia telah menjatuhkannya, tanpa sengaja tentu saja.

“Ya, Joon Myun ah, gwenchana?!”

Joon Myun mengangkat kepalanya yang tertunduk, ia melihat Jin Ri, sahabatnya. Yeoja itu langsung berjongkok memunguti pecahan piring yang berserakan di lantai. Entah kenapa, reflek Joon Myun benar-benar lambat kali ini, ia baru mulai berjongkok dan turut membantu Jin Ri setelah beberapa saat berlalu—ketika perhatian orang-orang di restoran mulai terpusat padanya.

“Jin Ri ya? Kenapa bisa ada di sini? Oh, biar aku saja yang membereskannya.”

“Kau bilang apa, sih? Cepat ambilkan saja sapu dan tempat sampah, biar aku membantu membereskannya.”

Joon Myun hanya mengangguk kemudian segera melakukan apa yang Jin Ri minta. Ia merasa benar-benar bodoh kali ini.

________

            “Nee, sudah beres, Appa. Aku yakin ia akan segera dipecat dari restoran itu. Yah, meskipun tanpa aku harus melakukan banyak hal, nampaknya namja itu akan segera dipecat. Ia terlihat benar-benar payah.”

Seo Rin memindahkan ponselnya ke telinga kiri setelah mendengar suara appanya di seberang, “Nee, aku hanya membuatnya tersandung, dan begitulah. Ia menjatuhkan semua yang ada di nampannya. Dan beruntung sekali karena nampaknya ia tidak menyadari kalau ada yang menyandung kakinya. Benar-benar bodoh, bukan?”

Seulas senyum terbentuk di wajah Seo Rin, “Tidak usah terlalu memujiku, Appa. Ini hanya permulaan.”

Seo Rin menutup flip ponselnya, mengakhiri pembicaraannya dengan appanya. Sedetik kemudian ia mendesah hebat dan mengacak rambutnya yang rapi. Pandangan Seo Rin kembali terpaku pada sebuah restoran yang kini berada di seberang tempatnya berpijak, restoran yang sempat ia singgahi beberapa jam lalu untuk melaksanakan aksinya yang pertama kali.

Seorang namja keluar dari restoran itu dengan ekspresi murung di wajahnya. Seo Rin hanya tersenyum sinis melihatnya, ia lantas beranjak kemudian mengikuti dari kejauhan kemana namja itu pergi. Ia menatap lekat-lekat namja yang tengah melangkah dengan gontai itu, namja itu—Kim Joon Myun—selalu menundukkan kepalanya sepanjang perjalanan sembari memasukkan kedua tangannya ke saku mantelnya.

Langkah Joon Myun terhenti di depan sebuah toko, Seo Rin sedikit memperdekat jaraknya dengan namja itu untuk melihat apa yang dilakukan Joon Myun. Joon Myun tampak merogoh saku celana panjangnya kemudian mengeluarkan beberapa uang receh, ia kemudian memberikannya pada seorang pengemis tua yang duduk di jalanan depan toko. Sebuah senyum tulus terukir di wajah putih nan pucat Joon Myun.

Seo Rin terpekur menatap pemandangan yang barusaja ia lihat. Hatinya tiba-tiba berdesir hebat. Perlahan sebulir air mata turun membasahi pipinya, ia lantas meletakkan sebelah tangannya di dada, entah kenapa, apakah ia terharu? Kasihan? Bukankah itu hal biasa—dan orang lain juga sering melakukannya—namun kenapa terasa begitu menyentuh jikalau namja itu yang melakukannya? Seo Rin menggeleng cepat, ia langsung menghapus air matanya.

“Sok sekali, padahal dia sama miskinnya dengan pengemis tua itu.”remeh Seo Rin.

Seo Rin mengambil ponselnya dan langsung menghubungi seseorang. Selagi menunggu telepon tersambung, pandangan Seo Rin tak berpaling dari punggung Joon Myun yang menjauh. Dan lagi-lagi hatinya terasa sesak, Seo Rin memejamkan mata, tangannya terkepal erat. Ya Tuhan, ada apa dengannya?

Seo Rin tersentak begitu telepon tersambung, setelah mendengar jawaban di seberang ia tersenyum puas. “Nee, segera lakukan rencana selanjutnya.”

_________

            Joon Myun melangkahkan kakinya gontai menyusuri jalanan sepi di hadapannya. Ia tetap menundukkan kepalanya, seakan menyesali semua yang barusaja terjadi. Hari ini benar-benar hari yang buruk baginya. Bagaimana tidak, sebuah undangan pertunangan tiba di tangannya hari ini, sebuah undangan yang berisi bahwa yeoja yang selama ini dicintainya akan segera bertunangan. Itu saja sudah cukup membuatnya sakit kepala. Ditambah lagi dengan ancaman dari atasannya untuk segera memecatnya kalau ia masih saja melakukan kesalahan.

Ya, seminggu yang lalu ia ketahuan melamun saat pengunjung restoran sedang banyak-banyaknya. Kemarin lusa, ia juga ketahuan ketiduran sebelum membersihkan restoran yang jadi tugas lemburnya hari itu. Dan hari ini, seakan belum puas, ia memecahkan piring restoran dan membuat sahabatnya—Jin Ri—harus ikut berurusan dengan atasannya karena berusaha membelanya.

Joon Myun mengacak rambutnya kasar, ia merasa dirinya benar-benar payah. Ia sudah dewasa, namun tidak banyak hal berguna yang bisa ia lakukan, begitu yang ada di pikirannya. Joon Myun mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk, ia baru menyadari kalau jalanan yang tengah ia lewati saat ini begitu sepi, tidak seperti biasanya. Namun Joon Myun tidak ingin buang-buang waktu memikirkannya, ia memutuskan untuk kembali berjalan.

            Langkah Joon Myun terhenti begitu melihat beberapa orang namja dengan tampang garang berjalan cepat ke arahnya. Joon Myun berdecak kesal, namja itu berusaha menghiraukan apa yang ada di hadapannya dengan berjalan semakin cepat melewati namja-namja yang masih juga menatapnya garang itu, ia menundukkan kepalanya. Bukannya takut, ia hanya tidak ingin berurusan dengan namja-namja berandalan itu. Balas menatap mereka hanya akan membuat masalah, begitu pikirnya.

Ketika jarak Joon Myun dengan namja-namja itu mulai jauh, salah seorang dari mereka langsung berlari ke arah Joon Myun dan berusaha merebut ransel yang berada di punggung Joon Myun. Joon Myun tersentak.

“Serahkan seluruh uang yang kau punya kalau tidak ingin nyawamu terancam!”ancam namja itu sementara teman-temannya yang lain mulai ikut berlarian mendekati Joon Myun.

Joon Myun masih berusaha mempertahankan ranselnya. “Tidak akan!”

Para berandalan itu tersenyum lebar melihat kegigihan Joon Myun. Mereka melirik satu sama lain, saling memberi kode. Joon Myun melihat celah kecil untuk kabur, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Berteriak minta tolong tidak akan berguna karena jalanan itu kini benar-benar sepi, yang bisa ia lakukan hanyalah melarikan diri.

Namun sebelum Joon Myun sempat melancarkan rencananya, salah seorang dari berandalan itu tiba-tiba meninju perutnya keras. Joon Myun langsung jatuh tersungkur, ia meringis begitu merasakan sakit luar biasa di perutnya. Namun ia masih berusaha untuk berdiri dengan susah payah.

“Payah sekali! Masa begini saja sudah K.O, dasar payah!”ujar salah seorang berandalan yang berambut merah, ia menarik keras ransel Joon Myun. Namun ternyata Joon Myun masih berusaha mempertahankannya. Ia menaruh dompet serta ponselnya di dalam ransel itu, tentu saja ia tidak akan semudah itu memberikannya. Berandalan itu terkikik melihat kegigihan Joon Myun.

Joon Myun berusaha berdiri, masih dengan tangannya yang memegang erat lengan ranselnya. “Aku tidak ak…”

JLEB!

Mata Joon Myun terbelalak sempurna sementara para berandalan itu mulai tertawa keras. Joon Myun merasakan sesuatu yang dingin dan tajam menghujam perutnya, menyakitkan. Joon Myun menatap bagian perutnya, dan benar saja, para berandalan itu telah menusuknya.

“Arrgghh!!”teriak Joon Myun bergitu para berandalan itu menarik pisau yang tertancap di perutnya, dan kali ini rasanya lebih menyakitkan. Joon Myun jatuh terduduk dengan darah mengalir deras dari perutnya, ia berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terluka dengan tangannya, napasnya terengah-engah. Bajunya pun segera basah oleh darah.

Para berandalan itu membawa kabur ransel Joon Myun sementara Joon Myun hanya bisa memandangi mereka dengan tatapan nanar. Dia memegangi perutnya yang terasa semakin sakit, ia menekannya keras, berharap agar darah tak semakin banyak keluar, namun tentu saja itu sia-sia. Perih. Joon Myun menggigit keras bibir bawahnya.

Pandangan Joon Myun menjadi semakin kabur, ia tidak kuat lagi menopang tubuhnya, tubuhnya jatuh ke tanah dengan keras. Joon Myun mengerang sambil terus memegangi perutnya yang terluka. Dalam hitungan menit, dunianya menggelap seketika.

________

            Hospital

Joon Myun membuka kedua matanya yang terasa berat, aroma obat-obatan langsung menusuk hidung namja itu begitu kesadarannya telah sepenuhnya pulih. Joon Myun mengerang pelan begitu ia merasakan sakit luar biasa di perut sebelah kanannya.

“Oppa, kau sudah sadar?”

Joon Myun menolehkan kepalanya ke sumber suara, didapatinya seorang yeoja dengan mata sembab kini tengah menatapnya lekat-lekat. Sorot mata yeoja itu kini menggambarkan kelegaan yang mendalam. “Sung.. Sung Hee?”

Yeoja berambut ikal yang bernama Sung Hee itu langsung menghambur ke pelukan Joon Myun. “Syukurlah, syukurlah Oppa segera sadar. Aku tidak tahu harus bagaimana kalau Oppa sampai kenapa-kenapa.”ujar Sung Hee dengan suara parau.

Joon Myun menelan ludah menahan rasa sakit di perutnya karena Sung Hee memeluknya begitu erat, namun lebih dari itu ia merasa bahagia, karena ini adalah sekian lama sejak Sung Hee terakhir kali memeluknya. Joon Myun hendak membalas pelukan Sung Hee ketika seseorang membuka pintu ruang rawatnya, membuat Sung Hee tersentak dan langsung melepaskan pelukannya.

Jin Ri, seseorang yang baru saja memasuki ruang rawat Joon Myun itu hanya memandangi dua orang di hadapannya bergantian, heran. Sesaat kemudian wajahnya berubah cemas begitu melihat Joon Myun, ia berjalan mendekati namja itu, “Joon Myun ah, gwenchanayo?”

Mendengar pertanyaan Jin Ri, Joon Myun hanya mengangguk pelan sembari tersenyum.

Jin Ri mendesah, “Kenapa hal itu bisa terjadi?”

Joon Myun menundukkan kepalanya, ia kembali teringat pada kejadian yang membuatnya terluka seperti sekarang. Jin Ri menangkap kesan tidak-ingin-menceritakan-apapun dalam diri Joon Myun, ia lantas mengalihkan pembicaraan. “Oh iya, polisi juga sedang mencari pelakunya sekarang, kau tidak perlu khawatir. Ranselmu itu mungkin juga bisa kembali. Lebih baik kau banyak beristirahat sekarang.”

Joon Myun tersenyum, ia bersyukur Jin Ri mengerti keadaannya sekarang. Meskipun ia tahu kata-kata yeoja itu hanya sekedar untuk membuatnya merasa senang, karena nyatanya ia tidak banyak berharap ranselnya akan kembali.“Gomawo, Jin Ri ya.”

Jin Ri menggeleng, ia melebarkan kedua matanya, “Kenapa berterima kasih padaku? Seharusnya kau berterima kasih pada Sung Hee yang telah menjagamu seharian penuh.”ujarnya sembari melirik jahil ke arah Sung Hee.

Sung Hee tersenyum salah tingkah, “Aniyo. Bukankah kau juga menjaganya seharian penuh, Eonni.”

“Tapi kau juga sampai tidak makan malam karena menjaganya, Sung Hee ya!”

“Kau juga rela seharian di rumah sakit yang sangat kau benci ini karena menjaga Joon Myun oppa, Jin Ri eonni!”

“Aniyo, kau akan bertunangan setelah ini. Kau pasti sibuk sekali, dan kau masih saja menjaganya seharian penuh. Lihat, kantung matamu sampai hitam begitu!”

“Tapi Jin Ri Eonni..”

“Ya! Cukup!”

Jin Ri dan Sung Hee menoleh bersamaan ke arah Joon Myun yang barusaja berteriak kesal, “Kalian ini, sudah tahu ini rumah sakit masih saja adu mulut seperti itu.”

Mendengar itu, Jin Ri dan Sung Hee lantas terdiam, seakan baru menyadari bahwa mereka beradu mulut di tempat yang salah. Keduanya lantas menggaruk kepala mereka yang tidak gatal sembari meringis jahil.

Melihat tingkah Jin Ri dan Sung Hee, Joon Myun hanya tersenyum singkat, ia sudah terlalu sering melihat cekcok di antara keduanya, ia sudah terbiasa. “Oh, iya. Aku benar-benar berterima kasih pada kalian karena menjagaku. Selain itu, kalau kalian tidak menolongku saat itu, mungkin aku ….. akan benar-benar bertemu dengan appa dan umma.”

Jin Ri terpekur, ia terlihat salah tingkah, kemudian ia berkata, “Kami berdua memang menjagamu seharian penuh, tapi …” Jin Ri terdiam sesaat, “Kami bukanlah orang yang menolongmu saat itu. Aku dan Sung Hee hanya mengetahui kalau kau masuk rumah sakit dan segera kemari.”

Joon Myun menaikkan kedua alisnya, ia melirik ke arah Sung Hee, yeoja itu tampak menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Jin Ri.

“Jinjja? Lalu siapa yang menolongku saat itu?”

Mendengar pertanyaan Joon Myun, Jin Ri dan Sung Hee hanya mengedikkan bahu. Mereka tidak tahu apa-apa soal siapa sebenarnya yang menolong Joon Myun.

“Kata salah seorang perawat di sini, orang itu juga mendonorkan darahnya—yang kebetulan sama denganmu—begitu mengetahui kalau kau membutuhkan banyak darah. Dan juga, dia membiayai seluruh biaya pengobatanmu, Joon Myun ah.”

Mata Joon Myun membulat sempurna, “Mwo!?”

_______

            Three days later

Seo Rin membanting tubuhnya ke kasur empuknya, ia lantas memijit pelipisnya yang berdenyut-denyut. Pikirannya kembali melayang pada peristiwa tiga hari lalu, peristiwa yang terjadi diluar akal sehatnya hingga ia sendiri enggan untuk mengingatnya. Seo Rin mendesah hebat. “Kenapa aku menolongnya saat itu? Kenapa?” tanyanya pada diri.

“Bukankah aku yang menyuruh berandalan-berandalan itu untuk menusuknya, tapi … tapi kenapa setelah itu aku menolongnya? Dan bahkan mendonorkan darahku untuknya? Lalu membayar seluruh biaya pengobatannya?” Seo Rin menepuk dahinya keras, “Oh Tuhan, ada apa denganku?!”

Seo Rin membenamkan wajahnya ke bantal bulu kesayangannya, ia memukul-mukul kasurnya karena kesal. Dan lagi-lagi ketika ia memejamkan matanya, seluruh kejadian tiga hari lalu kembali terulang, seperti film yang memaksa untuk diputar di dalam kepalanya.

Namja itu—Kim Joon Myun—tergeletak tak berdaya di jalanan dengan darah mengucur deras dari perutnya. Tidak lama lagi, mungkin ia akan mati kehabisan darah. Jalanan di gang itu sungguh sepi dan Seo Rin yakin tidak akan ada yang menyadari kalau seseorang tengah sekarat di tempat itu. Seo Rin tersenyum penuh kemenangan, ia merasa usahanya kali ini berhasil.

            Seo Rin melangkahkan kaki jenjangnya meninggalkan jalanan sepi itu, senyum tak sedikitpun hilang dari wajahnya. Yeoja itu berpikir betapa mudahnya menghabisi seorang Kim Joon Myun. Ia pun mulai membayangkan bagaimana ekspresi senang ayahnya ketika mendengar keberhasilannya dalam menyingkirkan namja itu. Seo Rin merogoh saku celana panjangnya, mengambil ponsel, ia hendak menelepon ayahnya.

             Sembari menunggu telepon tersambung, Seo Rin menatap jalanan di sekelilingnya. Jalanan itu ramai, banyak sekali orang dan kendaraan yang berlalu lalang, sangat kontras dengan jalanan yang Seo Rin lewati sebelumnya—jalanan di mana Joon Myun tergeletak. Tatapan Seo Rin tiba-tiba terhenti pada seorang pengemis tua yang duduk di depan sebuah toko, pengemis tua yang sempat diberi uang oleh Joon Myun tadi.

            Seo Rin menatap lekat-lekat pengemis tua yang sedang menghitung keping demi keping uang yang ada di tangannya, pengemis tua itu tampak puas dengan hasil yang ia dapatkan. Kedua tangan si pengemis tua itu lantas menengadah, pandangannya menatap langit, seakan mensyukuri apa yang ia dapat hari ini.

            Tangan Seo Rin menyentuh dadanya yang tiba-tiba terasa sesak, air mata perlahan muncul di pelupuk matanya yang indah. Entah kenapa, melihat pemandangan di hadapannya itu sanggup membuat hatinya teriris. Selama ini ia selalu hidup di tengah kemewahan, jujur saja, tujuannya membantu ayahnya melenyapkan Kim Joon Myun juga tidak lain agar ia tetap merasakan kemewahan.

Seo Rin sering melihat pengemis sebelumnya—dan tentu saja ia tidak pernah peduli— namun entah kenapa kali ini berbeda, ia menangkap kesan yang begitu kuat saat melihat pengemis itu, apa itu semua karena Kim Joon Myun? Apa ia terpesona dengan cara namja itu tersenyum dan berbagi? Entahlah, Seo Rin sendiri tidak mengerti.

            Seo Rin memutuskan sambungan telepon ketika ia merasakan matanya kini penuh dengan air mata. Yeoja itu berjalan mendekati si pengemis tua, mengeluarkan dompetnya lalu memberikan seluruh uang yang ada di dalamnya. Pengemis tua itu takjub, namun sebelum Seo Rin menerima ucapan terima kasih darinya, yeoja itu telah beranjak pergi.

Setelah cukup jauh melangkah Seo Rin kembali membuka flip ponselnya, ia melepon rumah sakit, “Nee. Tolong ambulans, ada seseorang yang terluka di sini.”

            Seo Rin membuka matanya, ia membalikkan tubuhnya sehingga kini pandangannya mengarah pada langit-langit kamarnya. Yeoja bermata indah itu mendesah hebat, ia pun bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju meja rias. Ia tersenyum sinis melihat pantulan dirinya di cermin, “Aku tidak boleh gagal lagi setelah ini, aku tidak boleh mengecewakan Appa. Bagaimanapun juga, membahagiakan Appa adalah salah satu tujuan hidupku.”

Yeoja berambut sebahu itu tersentak begitu seseorang mengetuk pintu kamarnya, dengan malas yeoja itu membukakan pintu kamarnya. Seo Rin menaikkan kedua alisnya begitu melihat seseorang yang baru saja mengetuk pintu kamarnya adalah kakak sepupunya sendiri. “Soo Young eonni?”

“Boleh aku masuk? Sudah lama aku tidak melihat kamar adik sepupuku karena terlalu lama berada di London.”ujar Soo Young dengan senyum khasnya.

Seo Rin terkekeh, “Sombong sekali.”

Choi Soo Young adalah seorang model yang bekerja di London, tubuh tinggi dan wajah cantik adalah kesan yang Seo Rin tangkap begitu pertama kali ia melihat Soo Young, Soo Young adalah kakak sepupu Seo Rin. Keluarga Soo Young semuanya berada di London, yeoja itu mengaku ia kembali ke Seoul untuk memastikan sesuatu. Seo Rin sendiri tidak ingin bertanya lebih jauh soal hal itu, ia bukanlah orang yang suka bertanya tentang privasi orang.

Soo Young membaringkan tubuhnya ke kasur empuk Seo Rin, “Wah, kamarmu nyaman sekali, Seo Rin.”ujar Soo Young sambil memeluk erat bantal bulu berwarna pink.

Seo Rin tersenyum melihat tingkah kakak sepupu yang telah lama tidak ia temui itu. “Oh, iya bagaimana pekerjaan kakak di sana? Sepertinya menyenangkan.”

Soo Young terkekeh, “Tidak selalu, hehe. Oh iya bagaimana dengan kuliahmu?”

“Aku menikmatinya.”

Keduanya lantas terdiam, tidak tahu apa yang harus dibicarakan. Terlalu lama tidak bertemu tidak membuat seseorang lantas mempunyai banyak stok pertanyaan untuk ditanyakan ketika bertemu nanti, bahkan dikatakan canggung mungkin lebih tepat, setidaknya begitulah yang ada di pikiran Seo Rin.

“Oh iya Seo Rin, boleh aku menanyakan pendapatmu soal suatu hal?”

Seo Rin melirik ke arah Soo Young yang barusaja memecah keheningan di antara mereka. “Nee.”balas Seo Rin singkat.

Soo Young menghela napas keras, ia meniup-niup poninya pelan. “Bagaimana perasaanmu bila tiba-tiba teman yang sangat kau sayangi tiba-tiba melupakanmu?”

“Aku? Aku akan balas melupakannya.”

Soo Young terkekeh, sedikit sangsi dengan jawaban Seo Rin yang singkat dan terkesan tidak peduli itu. “Kau tidak banyak berubah ya, selalu cuek seperti biasanya. Namun itu tak semudah mengatakannya Seo Rin, setidaknya pasti ada rasa sakit yang terasa di sini.”ujar Soo Young sembari meletakkan sebelah tangannya di atas dada.

“Apakah hal itu memang terjadi pada eonni sekarang? Untuk itukah eonni kembali ke Seoul?”

“Otakmu memang tajam sekali Seo Rin, ya, itu memang benar. Teman yang aku sayangi melupakanku, setelah sebelumnya ia sempat mengatakan bahwa ia tak akan pernah melepasku, kau bisa membayangkan betapa menyakitkannya itu. Dan jujur saja, dia lebih daripada sekedar teman.”

Seo Rin mengedikkan bahunya, sebuah senyum tipis terbentuk di bibir mungilnya. Dalam hati, Seo Rin bertanya-tanya siapakah gerangan seseorang yang mampu membuat kakak sepupunya itu rela jauh-jauh datang ke Seoul.

“Besok, aku akan pergi ke Busan.”

Kedua alis Seo Rin terangkat, “Mwo? Memangnya ada apa?”

Soo Young bangun lalu menegakkan badannya, ia menunduk dengan tatapan menerawang, “Temanku melupakan semua yang terjadi padanya semasa kecil karena ada seseorang yang membuatnya begitu.”

Soo Young tersenyum sendu, “Aku sudah menemui neneknya yang berada di Seoul, beliau bilang, sesuatu terjadi padanya beberapa hari setelah aku pergi ke London—12 tahun lalu—seseorang sengaja mencelakainya dan kecelakaan itu membuatnya melupakan semuanya. Dan menurut informasi, orang yang diduga melukai temanku itu kini berada Busan.”

Seo Rin mendengarkan Soo Young dengan seksama, ia lantas menimpali, “Di Busan?”

Soo Young menggigit bibirnya, kemudian mengangguk lemah. “Kejadian itu terjadi dua belas tahun lalu, saat itu umurku dan temanku itu masih sepuluh tahun. Dan orang yang melukai temanku itu …. ternyata berumur tidak jauh berbeda dengan kami. Selain itu …”

“Selain itu?”tanya Seo Rin.

“Orang yang melukai temanku itu ternyata adalah seseorang yang juga aku kenal. Dengan kata lain, seseorang itu juga temanku.”

Kedua alis Seo Rin terangkat, “Mwo!?”

________

            One week later

            Seo Rin menempelkan ponselnya di telinga kiri sembari membenarkan letak kacamata hitamnya. Kini ia tengah berada di depan Baguette Restaurant, menunggu seseorang keluar dari restoran itu dan kemudian segera melancarkan aksinya. Ya, siapa lagi yang ia tunggu kalau bukan Kim Joon Myun. Namja itu telah kembali bekerja dua hari yang lalu, dan nampaknya lukanya juga sudah sembuh. Kali ini Seo Rin tidak ingin gagal lagi, bagaimanapun ia tidak ingin membuat appanya kecewa untuk yang kedua kalinya.

Yeoja berambut sebahu itu tersentak begitu mendengar suara dentingan bel pintu restoran, Seo Rin langsung mengalihkan pandangannya begitu mendapati bahwa seseorang yang barusaja membuka pintu adalah namja yang ia tunggu-tunggu—Kim Joon Myun. Seo Rin menarik ujung topinya agar wajahnya tidak terlihat jelas, ia juga kembali membenarkan letak kacamata hitamnya.

Kim Joon Myun, seakan tidak menyadari keberadaan Seo Rin yang ganjil hanya berlalu di hadapan yeoja itu. Seo Rin tersenyum, ia pikir dengan keadaan seperti itu akan mudah baginya untuk membuntuti Joon Myun. Dengan segera ia menelepon seseorang lewat ponselnya sembari tetap mengikuti Joon Myun dari kejauhan. “Nee, dia mengenakan mantel cokelat panjang, hmm… dia mengenakan celana panjang berwarna hitam. Bagaimana, sudah cukup jelas kan aku menggambarkan sosoknya?”

Seo Rin tersenyum lagi begitu mendengar jawaban di seberang telepon, “Nee, aku yakin kau bisa melakukannya. Aku hanya akan melihat aksimu dari kejauhan saja. Ok, gomawoyo.”

Seo Rin menutup flip ponselnya, tatapannya kembali fokus pada namja yang berjalan tidak jauh di depannya. Namja dengan badan tegap, tubuh tidak terlalu tinggi, dan masih saja menundukkan kepalanya. Seo Rin menatap punggung namja itu, sesaat ia menangkap kesan misterius, namun kemudian kesan misterius itu berubah menjadi suatu hal yang sulit diungkapkan—seperti sebuah kesedihan yang berusaha dikubur dalam-dalam, tak terlihat dan abstrak. Seo Rin sendiri tidak mengerti kenapa ia bisa sampai pada kesimpulan itu, ia lantas menggeleng, berusaha menghapus pikirannya yang tidak-tidak. Yeoja itu hanya tidak ingin terlalu terbawa perasaan seperti sebelumnya.

Langkah Joon Myun terhenti di sudut jalan, menunggu lampu lalu lintas berubah merah. Seo Rin tersenyum puas karena semuanya sesuai dengan rencana. Dan benar-benar kebetulan yang membahagiakan karena Joon Myun menyeberang sendiri—tanpa ada orang lain yang juga menyeberang—kalau tidak akan sulit bagi orang suruhan Seo Rin untuk melakukan aksinya mengingat sasarannya hanyalah Joon Myun. Tak lama lagi lampu lalu lintas akan berubah merah, hati Seo Rin berdebar menunggu apakah yang akan terjadi benar-benar sesuai dengan rencananya.

Ting!

Lampu lalu lintas kini telah berubah warna, dengan yakin Joon Myun melangkahkan kakinya untuk menyeberang jalan. Seo Rin menatap namja itu lekat-lekat dari kejauhan, menunggu apa yang terjadi. Sebentar lagi akan ada sebuah mobil bercat hitam yang akan menerobos lampu merah, kemudian menabrak Joon Myun, pikir Seo Rin.

Seo Rin menolehkan kepalanya, tampak di sudut matanya sebuah mobil mewah bercat hitam metalik sedang melaju kencang dari kejauhan, yeoja itu tersenyum. Sebentar lagi, rencananya akan segera berhasil, sebentar lagi namja bernama Kim Joon Myun itu akan segera mati, ya, tidak perlu diragukan lagi.

Tatapan Seo Rin kembali mengarah pada Joon Myun dengan cepat. Namun detik itu juga, entah karena apa, air matanya tiba-tiba jatuh dengan sendirinya. Seo Rin tersentak. Ia menatap punggung Joon Myun yang berjalan menjauhinya, tiba-tiba segala yang berada di sekeliling namja itu terlihat kabur, dan hanya namja itu saja yang terlihat jelas di mata Seo Rin. Dari sudut pandang Seo Rin dunia di hadapannya juga berjalan begitu lambat. Hatinya tiba-tiba terasa begitu sesak. Ya Tuhan, apa yang sedang terjadi padanya?

Seo Rin, yeoja itu seperti dirasuki sesuatu. Tiba-tiba ia berlari mendekati Joon Myun, kemudian dengan cepat menarik lengan namja itu, membuat tubuh Joon Myun lantas tertarik ke belakang, tepat sebelum mobil suruhannya hendak menabrak namja itu. Seo Rin terkesiap, apa yang dilakukannya barusan ? Apa ia barusaja menggagalkan rencananya sendiri? Lagi?

_______

“Namaku Kim Joon Myun.”

Seo Rin mengalihkan pandangannya dari namja yang duduk di hadapannya, ia masih mengutuk dirinya sendiri dalam hati karena gagal untuk kedua kalinya. Yeoja itu sungguh tidak percaya dengan apa yang tadi dilakukannya, seakan-akan alam bawah sadarnyalah yang melakukan hal itu. Oh, Tuhan kenapa hal seperti itu terulang lagi, batin Seo Rin.

“Cho .. chogiyo…”

Kali ini Seo Rin mengangkat kepalanya, yeoja itu lantas menatap tajam ke arah Joon Myun. Namja itu hanya tersenyum, Seo Rin mendengus. “Jangan salah sangka, aku tidak benar-benar bermaksud menyelamatkanmu.”

Joon Myun tetap tersenyum, “Seandainya benar begitu, aku tetap akan berterima kasih. Aku berhutang nyawa padamu, Nona.”

Seo Rin berdecak, “Cukup, aku akan pergi sekarang.” Seo Rin bangkit dari kursinya, namun sebelum ia berjalan lebih jauh, Joon Myun telah meraih lengannya, menahannya pergi. “Setidaknya biarlah aku mengetahui namamu, dan… mungkin mentraktirmu sebagai ucapan terima kasih.”

Sok sekali, padahal dia orang miskin, pikir Seo Rin. Yeoja itu langsung menepis tangan Joon Myun. “Tidak usah sok baik.” Seo Rin membalikkan tubuhnya lagi, berjalan meninggalkan Joon Myun. Namun sesaat kemudian ia kembali menoleh pada Joon Myun dengan muka kesal, “Choi Seo Rin, itu namaku.”

_______

Pertunangan, sesuatu yang seharusnya membahagiakan, baik bagi yang sedang bertunangan maupun orang-orang di sekitarnya. Yah, setidaknya kali ini lebih banyak pihak yang berbahagia daripada yang tidak. Tidak bahagia? Oh, Kim Joon Myun tentu merasa bersalah apabila kini ia mengatakan bahwa ia tidak bahagia. Tapi sayangnya kata ‘bahagia’ juga tidak tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini, lalu apa? Campur aduk? Ya, mungkin itu lebih tepat.

Joon Myun membenarkan letak jasnya yang sederhana sesekali, atau terkadang merapikan rambutnya—yang sebenarnya tidak perlu karena rambutnya tidak berantakan sama sekali. Semua itu ia lakukan untuk mengalihkan perhatiannya pada apa yang sedang terjadi saat ini, ya, upacara pertunangan antara Sung Hee dengan namja bermata sipit bernama Baek Hyun. Saat ini keduanya tengah bertukar cincin pertunangan, senyum Sung Hee pun tak pernah sedikitpun lepas dari wajahnya, yeoja itu tampak benar-benar bahagia. Joon Myun meringis, sejenak ia merasa dirinya begitu jahat karena tidak mengikuti upacara pertunangan itu dengan baik.

Namja berkulit putih pucat itu melirik sekilas ke arah seseorang yang duduk di sampingnya, Jin Ri. Jin Ri tampak mengikuti upacara dengan cukup baik—setidaknya lebih baik daripada Joon Myun—namun yeoja itu tak jarang pula bercanda dengan namja yang duduk di samping kirinya, Park Chan Yeol, namjachingu-nya.

Joon Myun mendesah pelan begitu melihat keduanya tampak begitu mesra, ya, Jin Ri dan Chan Yeol tampak sibuk sendiri, seakan dunia hanya miliki mereka berdua, tanpa sekalipun memerhatikan atau menganggap Joon Myun ada. Joon Myun lantas bergumam dalam hati, Ya Tuhan, apakah suatu kesalahan pergi ke upacara pertunangan sendiri saja?

Pandangan Joon Myun lantas beralih pada sekelilingnya, ia kini berada di dalam sebuah aula raksasa—aula pribadi milik keluarga Cho. Banyak sekali orang yang datang dan tentu saja jarang sekali orang yang Joon Myun kenal. Sebenarnya, ia agak risih kalau harus datang ke acara seperti ini—acara di mana akan banyak sekali orang kaya yang datang dan Joon Myun akan merasa dirinya begitu kecil, begitu tidak terlihat di antara orang-orang kaya yang tampak angkuh dan menyilaukan itu. Namun demi yeoja yang ia sayangi, sekalipun itu berkali-kali lipat menyakitkannya, Joon Myun tetap berusaha datang. Setidaknya ada satu hal yang membuatnya senang, ya, melihat senyum Sung Hee adalah salah satu kebahagiaan tersendiri baginya.

Joon Myun beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan lambat menuju ke meja minuman, ia bermaksud mengambil gelas berisikan sampanye. Namun sebelum ia sempat meraihnya, ternyata ada orang lain yang juga menginginkan hal yang sama, membuat tangan keduanya lantas bertemu. Joon Myun mengangkat kepalanya, saat itulah pandangannya sontak membeku begitu melihat seseorang dengan sepasang mata indah yang pernah ditemuinya beberapa hari lalu.

“Choi… Seo Rin?”

Nampaknya yeoja bernama Seo Rin itu juga sama terkejutnya dengan Joon Myun. Alisnya berkerut samar, “Kim Joon Myun… tunggu, kenapa kau bisa ada di sini? Maksudku.. kenapa bisa orang seperti.. ah, sudahlah!”

“Yang bertunangan adalah Cho Sung Hee, dia… temanku.”ucap Joon Myun kaku. “Kalau kau?”katanya kemudian.

“Appa-ku dan appa Cho Sung Hee saling mengenal, kebetulan appa tidak bisa datang jadi aku yang datang mewakilinya.” Seo Rin terdiam, “Tunggu, apa perlu aku mengatakannya padamu?”

Joon Myun hanya tersenyum getir, namja itu mengedikkan kedua bahunya. Seo Rin yang melihat itu lantas memasang wajah kesal, entah kenapa setiap kali melihat Joon Myun ia selalu terbayang dengan kegagalannya dalam melenyapkan namja itu—dan tentu saja hal itu selalu bisa membuat moodnya memburuk. Yeoja itu pun beranjak dari tempatnya berdiri, bermaksud meninggalkan Joon Myun, namun niat itu tidak jadi terlaksana karena Joon Myun meraih tangannya, dan lagi-lagi menahannya pergi.

“Kau datang sendiri?”

Seo Rin mendelik kesal, “Memangnya itu urusanmu?”

Seakan sudah terbiasa dengan kata-kata pedas seorang Choi Seo Rin, Joon Myun hanya tersenyum. “Aniya, kalau memang sendirian, bagaimana kalau bersamaku saja?”

Entah kenapa, saat itu jantung Seo Rin seakan berhenti berdetak dan wajahnya memerah seketika. Ia lantas hanya bisa menurut ketika Joon Myun menarik pelan lengannya , mengajaknya keluar dari aula itu.

________

Di luar aula pribadi keluarga Cho

“Jeongmal kamsahamnida.”

“Waktu itu kau sudah mengucapkannya, tidak perlu lagi. Kalau seandainya setiap kau mengucapkannya uang di dompetku bertambah, baru aku akan membiarkanmu mengatakannya, berapa kalipun!”

Mendengar itu, Joon Myun lantas terkekeh. “Kadang ucapan terima kasih lebih berharga dari pada puluhan lembar uang di dompetmu.”

“Tidak usah menceramahiku. Memangnya kau siapaku?”balas Seo Rin cepat.

Joon Myun mendesah, namun anehnya ia tetap tersenyum. Dasar namja bodoh, pikir Seo Rin. Selama beberapa waktu keduanya hanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Suasana di sekeliling mereka juga tidak begitu ramai, hanya tampak segelintir orang karena acara memang belum benar-benar selesai.

Seo Rin terpekur, entah kenapa hatinya tiba-tiba menghangat. Tunggu, apa yang terjadi dengannya? Kenapa ia merasa nyaman berada di samping namja payah bernama Kim Joon Myun itu? Ayolah, Kim Joon Myun bahkan tidak selevel dengannya.

Tiba-tiba muncul lampu terang di kepala Seo Rin—khas orang yang baru mendapat ide cemerlang. Dengan segera ia menepuk keras lengan Joon Myun, membuat namja—yang sepertinya tengah melamun itu—tersentak kaget. Wajah Seo Rin berbinar, “Kau mau aku ambilkan sampanye? Bukankah tadi kau tidak jadi meminumnya? Aku akan mengambilkan untukumu, ya?”

Tanpa menunggu jawaban Joon Myun, Seo Rin langsung berlari kembali ke dalam aula sementara Joon Myun hanya memandangi yeoja itu dengan takjub. Ia benar-benar heran dengan tingkah Seo Rin yang cepat sekali berubah.

________

Mengambil sampanye itu hanyalah alibi, tentu saja. Seo Rin memang mengambil sampanye untuk Joon Myun, tapi dengan membubuhkan sesuatu di dalamnya. Yeoja itu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, diam-diam ia membubuhkan bubuk Kalium Sianida yang berwujud menyerupai gula di atas sampanye itu. Kalium Sianida sendiri adalah senyawa anorganik paling beracun yang bisa membuat seseorang mati lemas. Seo Rin tertawa, tidak salah ia membawa racun kemanapun ia pergi, setidaknya hal itu bisa digunakan di saat-saat seperti ini.

Seo Rin berjalan riang sambil memegangi gaun panjangnya, ia bermaksud kembali menemui Joon Myun. Namun ia tidak menemukan namja itu di tempat tadi. Seo Rin berdecak, ia melangkahkan kakinya ke taman keluarga Cho yang sangat luas, yeoja itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari Joon Myun. Pencariannya terhenti begitu ia melihat Joon Myun, namja itu tengah tertidur di ayunan yang berada di taman itu.

Yeoja yang memakai gaun berwarna gelap itu  melangkahkan kakinya dengan kesal ke arah Joon Myun, ia tidak habis pikir dengan namja itu, bisa-bisanya ia tertidur di tempat seperti ini. Seo Rin hendak menepuk lengan Joon Myun—bermaksud membangunkannya—namun hal tersebut diurungkannya ketika ia melihat namja itu tampak begitu pulas, begitu tenang dalam tidurnya. Seo Rin lantas memandangi setiap inci wajah Joon Myun, tanpa disadari ia menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya, “Kenapa wajahmu tampak begitu letih?”

Seo Rin memutuskan untuk duduk di samping Joon Myun yang masih juga tertidur. Yeoja itu menatap lekat-lekat wajah Joon Myun, dan tanpa bisa ia cegah tangannya mengusap pelan pipi Joon Myun, “Kenapa kulitmu begitu pucat?” Seulas senyum terbentuk di bibir mungil Seo Rin, ia berkata lirih, nyaris tak terdengar, “Kau … tampan.”

Pandangan Seo Rin beralih pada bibir Joon Myun, pipinya langsung bersemu merah. Seo Rin terkesiap, ia seakan menyadari bahwa sesuatu itu tidak seharusnya terjadi. Dengan segera ia memukul keras lengan Joon Myun, dan dalam hitungan detik Joon Myun sontak membuka matanya, lalu mengerjapkannya beberapa kali. “Ah, mianhae. Nampaknya aku ketiduran.”

Seo Rin berdecak, ia memasang wajah kesal dan meletakkan sebelah tangannya di pinggang, lalu menyodorkan sampanye yang ia pegang pada Joon Myun. “Ah, kamsahamnida. Maaf merepotkanmu.”ujar Joon Myun sembari tersenyum.

Joon Myun mengucek matanya, nampaknya ia benar-benar tidur pulas tadi. Setelahnya Joon Myun mulai mendekatkan tepi gelas berisi sampanye itu ke bibirnya. Seo Rin melihat pemandangan di depannya dengan hati bimbang. Terjadi pergolakan di hatinya secara tiba-tiba, sisi yang lain menginginkan dia untuk membiarkan Joon Myun meminum sampanye itu, namun sisi yang lain lagi menginginkannya untuk menghentikan apa yang akan dilakukan Joon Myun.

Tinggal sedikit lagi dan sampanye itu akan menyentuh bibir Joon Myun, pikir Seo Rin. Yeoja itu masih saja menatap lekat-lekat Joon Myun yang hendak meminum sampanye-nya. Namun mata indahnya tiba-tiba berair, ia terkesiap dan selanjutnya sama seperti sebelum-sebelumnya—lagi-lagi ia menghancurkan rencananya sendiri. Perasaan sesak itu muncul lagi. Seo Rin menarik cepat gelas sampanye itu dari tangan Joon Myun, yeoja itu lalu membantingnya ke tanah dengan sangat keras, membuat gelas itu pecah berkeping-keping. Joon Myun hanya bisa terpana melihat apa yang barusaja dilakukan Seo Rin.

“A… aa. Seo Rin ssi, kau baik-baik saja?”

Seo Rin tidak berani menatap Joon Myun, ia tidak ingin namja itu melihat matanya yang berair. Dengan segera yeoja itu berlari meninggalkan Joon Myun. Seo Rin menutup kedua telinganya dengan tangan ketika ia mendengar Joon Myun memanggil-manggil namanya, ia lantas bertanya-tanya dalam hati.

Ya Tuhan, tolong beritahu kenapa aku tidak pernah bisa membunuhnya?  

_______

Masih seperti biasa, dengan earphone yang menempel di telinganya, Jong In menari kecil mengikuti irama lagu beat yang ia dengar. Sesekali ia juga mengangguk-anggukkan kepalanya atau bersenandung pelan, Jong In terlihat menikmati lagu beat yang sedang ia dengarkan. Dengan senyum tipisnya, ia melangkahkan kakinya masuk ke sebuah toko bunga. Namja itu langsung kebingungan ketika memasuki dunia yang tidak pernah ia masuki sebelumnya, dunia tanaman. Ia benar-benar tidak tahu menahu tetek bengek atau segala yang berhubungan dengan tanaman. Namun kali ini ia tetap memaksakan diri memasuki tempat itu karena suatu hal, ya, membeli bunga tentu saja.

“Kau mencari sesuatu, Jong In ah?”

Jong In reflek menolehkan kepalanya ke arah seseorang yang barusaja menyapanya, ia sedikit terkejut begitu melihat seseorang itu, ia lantas membungkukkan badannya. “Ah, Chan Yeol hyung.”

Chan Yeol mengangguk, “Kau ingin mencari bunga? Untuk siapa?”

Jong In meringis, ia terlihat salah tingkah. Kemudian pandangan namja itu beralih pada dua buket bunga yang dibawa Chan Yeol, matanya sontak melebar. “Hyung sendiri?”

Chan Yeol tersenyum malu, “Ah, ini untuk yeojachingu-ku.”

“Dua-duanya?”

“Ah, tentu saja tidak, yang mawar untuk kekasihku, dan yang baby blue untuk Soo Ra.”

Jong In terpekur, namun sedetik kemudian dia berujar, masih dengan senyum tipisnya, “Mereka pasti senang, bunga-bunga itu sangat indah.” Jong In melanjutkan, “Oh, iya. Hyung aku benar-benar minta maaf karena waktu itu tidak menjenguk. Aku hanya mendengarnya dari Soo Ra kalau hyung sudah keluar dari rumah sakit. Kelihatannya hyung sudah benar-benar sehat sekarang, aku ikut senang.”

Chan Yeol tersenyum singkat. Entah kenapa ia merasa sedikit kikuk berbicara dengan Jong In karena tiba-tiba Jong In menggunakan bahasa yang formal, tidak seperti sebelum-sebelumnya. “Tidak juga, donor sumsum tentu saja berefek pada tubuhku. Baru-baru ini tak jarang aku mengalami pendarahan, tapi dokter bilang itu hal yang biasa terjadi setelah operasi transplantasi. Tapi lebih daripada itu aku benar-benar merasa sehat sekarang, lihat, bukankah aku sudah mulai bebas berkeliaran seperti dulu?”

Keduanya lantas terkekeh bersamaan. “Oh iya, aku belum bilang. Gomawoyo, Jong In ah, kau sudah banyak membantuku dan Soo Ra. Aku benar-benar berterima kasih.”

“Aniya, hyung. Aku tidak melakukan apa-apa, kok.”ujar Jong In sembari tersenyum.

Chan Yeol menggelengkan kepalanya, “Tidak usah merendah begitu. Oh iya boleh aku menanyakan sesuatu?”

Jong In menaikkan kedua alisnya, ia lantas mengangguk. “Kau… sudah putus dengan Soo Ra?”

Pertanyaan Chan Yeol seakan menghantam hati Jong In, ia heran, apakah Soo Ra belum menceritakan perihal putusnya dia dengan Jong In? Dan ayolah, haruskah ia menceritakan soal itu pada Chan Yeol?

Jong In menghela napas, ia lantas tersenyum dipaksakan. “Nee, hyung. Kami sudah putus.”

Keheningan langsung menyelimuti keduanya, Chan Yeol hanya membulatkan matanya lebar-lebar sementara Jong In mulai salah tingkah. Chan Yeol yang menyadari ketidaknyamanan Jong In lantas berusaha tersenyum meskipun rasa heran dan kecewa masih memenuhi hatinya, “Ah, nee. Aku benar-benar tidak menyangka, karena sebelumnya aku rasa tidak ada masalah di antara kalian. Jadi… ah, tapi itu memang keputusan kalian. Mianhae kalau membuatmu merasa tidak enak.”

Jong In mengangkat wajahnya yang sempat tertunduk beberapa saat lalu, kemudian ia menatap namja yang lebih tinggi darinya itu. “Gwenchana, Hyung. Aku dan Soo Ra putus baik-baik kok.”

Chan Yeol menganggukkan kepalanya beberapa kali, ia tersenyum, memperlihatkan sederet gigi putihnya yang rapi. “Ya sudah, aku pergi dulu ya. Silakan pilih bunga yang bagus untuk….” Chan Yeol tampak berpikir, sesaat kemudian ia mengerling jahil, “Untuk yeojamu.”

Jong In menaikkan kedua alisnya. “Aniya, hyung bisa saja.”katanya salah tingkah.

Chan Yeol terkekeh, kemudian mengalihkan pandangannya ke sekeliling toko. Pandangannya terhenti di sudut toko, “Sepertinya bunga itu akan cocok.”ujarnya sambil menunjuk ke arah bunga lily berwarna putih yang terletak di pojok toko. “Banyak yeoja yang menyukai bunga semacam itu. Karena kurasa kau butuh masukan, jadinya aku menyarankan bunga itu untuk kau berikan pada yeojamu.”

Jong In menatap lekat-lekat bunga lily putih yang ditunjukkan Chan Yeol. Bunga dengan warna yang tidak terlalu mencolok dibandingkan dengan bunga-bunga yang juga bermekaran di sampingnya, bunga yang sederhana namun menyimpan keindahannya sendiri. Jong In tersenyum, bunga itu mirip sekali dengan seseorang. Seseorang yang selama ini tidak terlalu terlihat, namun begitu terlihat ia akan memancarkan cahayanya sekuat mungkin, membuatmu takjub. Lee Sung Yeon, dialah seseorang itu.

Jong In tersenyum, kini ia telah menetapkan pilihannya.

________

   “Appa dan Umma akan pergi? Lalu aku bagaimana?Apa aku akan ditinggal sendiri di sini?”ujar namja mungil itu sambil mengusap pelan matanya yang berair. Namun yang ia dengar kemudian bukanlah jawaban, melainkan isak tangis yang keluar dari mulut umma-nya.

“Kami tidak akan pergi lama, Joon Myun sayang. Kami akan segera kembali, kami berjanji.”ucap seorang pria berkaca mata tebal sembari mengusap pelan puncak kepala namja kecil itu—Kim Joon Myun.

Kim Joon Myun berhenti menangis, ia menatap lekat-lekat ke arah appa dan umma-nya. Sedetik kemudian sebuah senyum tipis terlukis di wajah putih pucatnya, ia lantas mengacungkan kelingkingnya ke arah appa-nya. “Janji?”

Appa Joon Myun tersenyum teduh kemudian mengaitkan kelingkingnya, “Appa janji.”

Joon Myun membuka kelopak matanya dan mendapati matanya kini berair. Ia segera bangkit dari tempat tidurnya setelah sebelumnya sempat menyeka air matanya agar tidak jatuh di pipinya. Namja itu keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur, ia membuka tudung di meja makan dan tidak mendapati apapun di sana. Joon Myun lantas menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia merogoh kantung celananya, berharap menemukan sesuatu di sana. Dan hasilnya, nihil.

Namja itu lantas mengambil buku-buku yang tertata rapi di meja, membukanya satu persatu, berharap menemukan uang yang mungkin saja terselip di antara lembar demi lembar buku itu. Dan kali ini ia menemukannya, selembar uang bernilai sepuluh ribu won. Joon Myun tersenyum, setidaknya uang itu cukup untuk memenuhi kebutuhannya selama tiga hari ke depan. Joon Myun masih belum sepenuhnya merelakan uangnya yang saat itu dirampok oleh berandalan, karena hanya itulah yang ia punya. Gajinya akan diberikan tiga hari lagi, sehingga bagaimanapun uang sepuluh ribu won itu harus ia pergunakan sebaik-baiknya.

Joon Myun hendak beranjak ketika merasa lengannya menyenggol sesuatu, menyebabkan sebuah pigura terjatuh dari tempatnya. Joon Myun berjongkok mengambil pigura tanpa kaca itu, ia tercenung melihat seseorang di dalam foto itu.

“Halmonni.”ujar Joon Myun sambil mengusap pelan foto di dalam pigura itu.

Joon Myun meletakkan pigura itu kembali ke tempatnya semula, namja itu tersenyum. Nenek yang ada di dalam foto itu adalah orang yang selama ini merawatnya sejak kedua orang tua Joon Myun pergi meninggalkannya. Nenek itu bernama Park Shin Young, ya, nenek itu bahkan sama sekali tidak punya hubungan darah dengan Joon Myun. Ia sendiri tidak berhenti merasa heran karena kedua orangtuanya malah menitipkannya—saat ia berumur enam tahun—pada seorang nenek yang sama sekali tidak pernah ia kenal sebelumnya.

  Namun nenek itu tidak seperti yang Joon Myun bayangkan, nenek yang tampak lemah awalnya itu ternyata adalah seorang wanita yang kuat. Nenek hanya tinggal sendiri di rumahnya yang sederhana, ia bekerja ke sana ke mari sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Joon Myun masih mengingat dengan jelas ketika nenek masih hidup, saat itu ia berumur delapan tahun dan merengek meminta mainan yang terpajang di etalase toko, nenek sampai harus bekerja lebih ekstra untuk memenuhi keinginan Joon Myun. Begitu mengingatnya, Joon Myun langsung merasa bersalah.

Joon Myun kecil sering bertanya pada nenek, kemana orang tuanya pergi, namun nenek selalu menjawab bahwa mereka baik-baik saja dan pasti kembali. Awalnya Joon Myun selalu percaya pada apa yang dikatakan nenek hingga akhirnya ia melihat sendiri bahwa kecelakaan itu benar-benar terjadi. Melalui siaran di televisi, Joon Myun kecil melihatnya. Kecelakaan mobil yang merenggut nyawa seorang pengusaha dan istrinya—yang tidak lain adalah appa dan umma Joon Myun.

Saat itu umur Joon Myun baru sepuluh tahun, tentu sulit sekali baginya untuk menerima kenyataan yang terlalu mengejutkan itu, Joon Myun kecil menangis setiap hari tiada henti. Saat itu ia juga tidak bisa menghadiri pemakaman kedua orang tuanya karena nenek bersikeras melarangnya. Ia sendiri tidak tahu kenapa.

Tahun-tahun sesudahnya, Joon Myun tumbuh besar dan mulai melupakan apa yang telah terjadi. Ia menjadi namja yang berkepribadian kuat, tentu saja semua pengaruh nenek. Nenek yang senantiasa memeluknya di saat ia bersedih, yang mengusap pelan puncak kepalanya untuk memberinya semangat, nenek yang mengajarkannya untuk selalu kuat menghadapi keras dan terjalnya hidup.

Namun nenek meninggal dua tahun yang lalu, kali itu Joon Myun menjadi benar-benar kacau dan frustasi, ia merasa kehilangan seseorang yang menjadi panutannya. Namun saat itu Jin Ri muncul, seorang yeoja yang tidak pernah merendahkan Joon Myun seperti yang dilakukan orang lain pada orang miskin sepertinya. Setelah bertemu Jin Ri, Joon Myun merasa dirinya mampu untuk mengatur hidupnya kembali. Jin Ri adalah sahabat Joon Myun yang paling penting.

Kini Joon Myun hanya tinggal sendirian di rumah sederhana peninggalan nenek. Rumah sederhana dengan cat yang sudah mengelupas di sana sini, ubin yang mulai kecoklatan, serta perabotan yang apa adanya. Namun tentu saja, rumah itu adalah tempat yang paling nyaman bagi Joon Myun, tidak ada duanya.

Joon Myun beranjak dari tempatnya berdiri, ia kembali menatap foto Park Shin Young lama, “Nenek, aku akan berusaha, doakan aku.”

_________

At Baguette Restaurant

Joon Myun meletakkan piring-piring kotor di bak cuci, ia menarik lengan kemejanya hingga ke siku agar tidak mengganggunya bekerja. Namja itu mulai memutar keran air ketika telinganya menangkap sesuatu.

“…..diduga karena kasus pembunuhan yang ia lakukan sepuluh tahun lalu pada pengusaha ternama Kim Joon Sang dan istrinya. Saat ini Choi Jae Min masih akan dimintai keterangan lebih lanjut.”

Joon Myun terkesiap. Kim Joon Sang? Bukankah itu nama ayahnya?

Joon Myun langsung menghentikan kegiatan mencucinya, ia terdiam. Ditatapnya televisi yang kini berganti berita. Tiba-tiba napas Joon Myun menderu, tidak beraturan. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya, tubuhnya menegang seketika. Tangannya terkepal erat.

Choi Jae Min? Appa dan Umma dibunuh olehnya?

Namja itu menggeram, ia langsung berjalan keluar restoran tanpa menghiraukan rekan-rekan kerjanya yang memanggil-manggil namanya. Pikirannya kini hanya fokus pada satu hal, ia harus menemui seseorang bernama Choi Jae Min, harus!

Langkah Joon Myun terhenti begitu seseorang menahan lengannya, ia berbalik. “Seo Rin ssi?”

Seo Rin melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan kantung matanya yang hitam dan mata indahnya yang sembab. Yeoja itu menatap Joon Myun sendu. “Aku ingin berbicara denganmu, sekarang.”

________

Seo Rin membawa Joon Myun ke atap sebuah gedung yang menjulang tinggi. Joon Myun tak hentinya terheran-heran dengan sikap Seo Rin yang tiba-tiba aneh, ia mulai menerka-nerka apa yang sebenarnya ingin yeoja itu bicarakan dengannya karena seingatnya ia tidak membuat masalah dengan yeoja itu. Terakhir kalinya mereka bertemu adalah saat acara pertuangan Sung Hee, setelahnya tidak pernah lagi. Dan lebih daripada itu saat ini Joon Myun ingin segera mencari informasi mengenai Choi Jae Min, ia tidak bisa berlama-lama dengan yeoja itu.

Angin berhembus begitu kencang dan mampu membuat telinga Joon Myun terasa sakit. Ia menatap Seo Rin, yeoja itu sedang memandangi langit luas yang menggantung di atasnya dengan muka masam, rambutnya yang terurai melambai-lambai terkena angin.

“Menurutmu kenapa aku mengajakmu bicara di tempat ini?”kata yeoja itu memecah keheningan di antara mereka.

Joon Myun hanya menggeleng pelan menanggapinya. Seo Rin mendesah, “Kalau seandainya aku mengatakan hal ini, apakah kau akan marah?”

Alis Joon Myun mengernyit, tidak mengerti.

Seo Rin tersenyum sinis, kemudian berkata lirih, “Choi … Jae … Min?”

Joon Myun terdiam lama, hidungnya kembang kempis. Mendengar nama itu saja cukup membuatnya frustasi karena amarahnya serasa tak tertahan lagi, emosinya seketika meluap. Namja itu lantas memalingkan mukanya.

“Choi Jae Min.” Seo Rin menghirup udara di sekitarnya dengan berat, “Dia appa-ku.”

Belum selesai keterkejutan Joon Myun akan kenyataan yang barusaja di dengarnya di televisi, kini ia harus mendengar kenyataan lain yang ternyata tak kalah mengejutkan. Detik itu juga, hati Joon Myun serasa ditusuk ribuan jarum, sakit sekali. Saking sakitnya hingga lidahnya turut kelu, membuat ia tak sanggup mengucapkan apapun.

Seo Rin, yeoja itu tersenyum sendu sembari menatap Joon Myun dalam-dalam. “Kau pasti sudah mendengar beritanya, ya, itu memang benar, appa-kulah yang membunuh kedua orang tuamu. Choi Jae Min lah yang telah membunuh Kim Joon Sang dan istrinya.”

Napas Joon Myun tercekat, ia masih belum sanggup menerima apa yang barusaja Seo Rin ucapkan.

“Aku tidak tahu cerita detailnya, yang aku tahu hanyalah saat aku pulang dari pesta pertunangan di kediaman keluarga Cho, appa-ku sudah tidak ada di rumah. Dan beberapa hari kemudian aku mengetahui keberadaan beliau, ya, beliau berurusan dengan polisi. Kedoknya selama ini sudah ketahuan, dan beliau ditahan atas tuduhan pembunuhan.”

Seo Rin menggigit bibir bawahnya, yeoja itu terlihat berusaha menahan tangis. “Entah terlalu pintar atau bahkan terlalu licik, appa-ku sanggup menutupi kebenaran hingga sepuluh tahun lamanya. Merebut paksa perusahaan appa-mu dan menjadikannya miliknya.”

Udara di sekeliling Joon Myun tiba-tiba terasa begitu berat, membuatnya merasa sulit bernapas. Setiap kata yang keluar dari mulut Seo Rin menghantam keras hatinya, menghancurkannya hingga terasa tak bersisa sama sekali.

Joon Myun tersentak begitu Seo Rin tiba-tiba menodongkan sesuatu padanya, ia mendelik begitu mendapati sebuah pistol tengah teracung tepat di depan wajahnya.

Seo Rin, yeoja itu hanya tersenyum sinis melihat keterkejutan Joon Myun. “Kini kau sudah tahu semuanya. Dan kau sudah seharusnya mati.”

“Se.. Seo Rin ssi, aku masih tidak mengerti. Aku…aku..”

“Oh iya, asal kau tahu saja.”potong Seo Rin, “Aku sudah berniat membunuhmu dari awal. Membunuh anak lelaki satu-satunya Kim Joon Sang atas permintaan langsung dari appa-ku.”

Lagi-lagi Joon Myun tersentak, matanya membulat sempurna. Masih dengan mengacungkan pistol di tangannya, Seo Rin melanjutkan, “Kejadian di gang sepi itu bukanlah kebetulan semata, aku memang menyuruh berandalan-berandalan itu menusukmu. Kemudian di hari yang lain, mobil yang hampir menabrakmu itu juga ulahku. Dan yang terakhir, aku membubuhkan racun di atas sampanye-mu. Ya, semua itu aku yang melakukannya.”

Joon Myun hanya ternganga mendengarnya, ia lantas menundukkan kepalanya, namun tak lama kemudian ia kembali menatap Seo Rin, tatapannya yang awalnya sendu kini berubah tajam dan penuh selidik. “Kalau memang benar begitu, kenapa sekarang aku masih hidup?”tanyanya kemudian.

Kali ini Seo Rin lah yang tersentak, “Itulah.. itulah yang ingin aku tanyakan padamu.”

Alis Joon Myun mengernyit sempurna, masih tidak mengerti.

“Itulah yang ingin aku tanyakan, kenapa aku tidak bisa membunuhmu!?”bentak Seo Rin membuat Joon Myun terperajat. Air mata bergulir turun dari mata indah milik yeoja itu, ia terlihat kesulitan mengontrol air matanya yang terus-terusan mengalir. “Kenapa perasaan itu selalu muncul di saat aku ingin membunuhmu, kenapa perasaan sakit dan sesak itu muncul ketika aku membayangkan kau mati, kenapa!? Tolong jawab aku kenapa aku tidak pernah tega untuk membunuhmu!?”

Seo Rin menurunkan pistolnya, ia kemudian mengguncang pelan lengan Joon Myun agar namja itu sesegera mungkin menjawab pertanyaannya. Namun sayangnya, Joon Myun hanya diam. Seo Rin menyerah, ia lalu menempelkan kepalanya ke dada Joon Myun, yeoja itu masih juga terisak.

“Setiap aku berniat membunuhmu, hatiku terasa begitu bimbang, begitu sakit, air mataku juga selalu tak bisa dihentikan. Aku takut jika aku membunuhmu, aku tidak akan pernah melihatmu lagi, aku tidak tahu kenapa perasaan seperti itu muncul, padahal aku belum lama mengenalmu. Sekalipun aku mencoba untuk membunuh perasaan itu, aku tetap tidak bisa.”

Isak tangis Seo Rin semakin menjadi-jadi, “Tolong jelaskan kepadaku disebut perasaan apa ini!?”

Joon Myun tak bergeming, ia terlalu terkejut dengan berbagai kenyataan menyakitkan yang ia dengar hari ini. Ia lantas menatap Seo Rin yang tengah menangis, dalam sekejap muncul keinginan untuk memeluk yeoja itu, menenangkan Seo Rin dalam pelukannya. Namun sayangnya rasa kecewanya ternyata lebih hebat, rasa kecewa Joon Myun pada yeoja di hadapannya membuatnya memutuskan untuk hanya diam dan menunduk.

“Kau harus mati sekarang, aku tidak peduli lagi pada perasaanku. Aku harus mewujudkan keinginan appa untuk membunuhmu, kau harus mati di tanganku!”ucap Seo Rin dengan suara meninggi sembari mengacungkan pistol hitamnya lagi kepada Joon Myun.

Joon Myun mendelik tak percaya, “Seo Rin ssi, kita masih bisa membicarakan ini. Aku…”

“Diam!”bentak Seo Rin kasar, namun tak dapat dipungkiri kalau air matanya tetap tak berhenti mengalir. Tubuh Joon Myun menegang seketika, namja itu menelan ludahnya, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya. Oh Tuhan, apakah ini memang akhirnya?

Seo Rin tersenyum penuh kemenangan, namun entah kenapa Joon Myun justru merasa bahwa senyuman itu lebih terlihat seperti senyuman yang menyimpan banyak kepedihan dan keputusasaan yang dalam. Joon Myun menutup matanya pelan, ia pasrah dengan apa akan yang terjadi. Namun samar-samar ia mendengar Seo Rin mengatakan sesuatu, lirih dan dalam.

“Mianhae, Joon Myun ssi. Mungkin …  mungkin aku mencintaimu…”

Joon Myun sontak membuka matanya, “M..mwo..?”

DOR!!

__________

Cinta itu tidak mengenal seberapa lama aku mencintaimu, cinta juga tidak melihat bahwa kau adalah seorang pria yang tidak seharusnya aku cintai. Namun seberapapun aku berusaha menggali dan mencari arti lain dari perasaan ini, semuanya selalu bermuara pada satu kata, ya, cinta. Hingga kini, sampai akhirpun aku berharap kau tidak menyadari perasaanku, biarlah hanya aku dan Tuhan yang tahu, biarlah rahasia ini tetap tersimpan rapi, di balik sepasang mata milikku — Choi Seo Rin.

___TBC___

Akhirnya ya readerdeul, apakah mata kalian semua sakit karena kelamaan baca, hehe ^^V gimana menurutmu ceritanya? Tambah aneh atau tambah keren? #pede. Tambah aneh iya banget -_____- Oh, ya sebenernya ide ff ini udah ada dari luama sekali, tapi baru mulai bergerak buat ngerjainnya habis lebaran ^^v sekalian deh author fransiska postnya pas tanggal 6 ini, tanggal ulang tahun author, biar gimana gitu #apaan.

Di usia author yang genap 17thn ini mohon doanya ya, yang terbaik buat author, terus biar entar ngepost ff lanjutannya gak lama-lama #hahahaha. Doain juga author dapet duit dari langit buat nonton SMtown #aihmasihgalau, mau liat suho T.T ahahaha, bercanda. Oh iya, exo comeback tgl 9 ini, who is excited? Ayo euforia sama author, ekekeke. Oh iya, kalo saya kelamaan, jangan segan” mention saya di @fhayfransiska ya ^^

Akhir kata, keep RCL ya, chingudeul, readerdeul semuanya. Gausah bagi angpao, bagi comment ma like aja author juga seneng. Kan satu komen darimu sangat menggenjot author buat bikin next partnya, biar semangat #apaan ^^V okeh, jeongmal kamsa semuanya #hug :* Digidigideom digidigideom ~~

Read my another fanfic :

147 responses to “[Su Ho’s] Secret behind Her Eyes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s