[3rd] MY STORY – I WANNA BE A SUPERSTAR (Special love)

Tittle : [3rd] MY STORY −  I WANNA BE A SUPERSTAR

Author : Park Hye Ri a.k.a hyeri

Main Cast : (cast akan berubah di setiap story)

  • Ah Jung Ra (OC / YOU)
  • Oh Se Hun EXO-K
  • Lee Tae Min as Choi Tae Min

Other Cast : you can find by ur self :p

Genre : Romance, Friendship, Family.

Rating : PG15

Length : Series

Cover by : Camila Zahra Alrazi a.k.a Park Yeon Mi~

Disclaimer : Kesamaan nama tokoh atau apapun yang menyakut fanfic ini. Bukanlah suatu kesengajaan. Cast milik Tuhan. Plot/alur/cerita hanya milik ku seorang. Ini semua adalah rangkaian imajinasi yang ku tuangkan melalui kata per kata dalam tulisan.  DON’T BE PLAGIATOR!

Note : Annyeong! Akhirnya 3rd story-nya datang juga. Selamat membaca ya ^^ mian kalo masih ditemukan typo. Readers yang baik adalah readers yang RCL ! No Silent readers ._.v

(part sebelumnya)

STORY : 1st | 2nd [Part A] 2nd [Part B] | …

Preview :

“Bagaimana bisa aku mengijinkan anak ku untuk terjun ke dunia Entertainment!”

DEG

“Eomma.. apa benar? Appa tidak mengijinkan ku?  Apa selama ini yang Eomma katakan itu bohong kalau sebenarnya Appa menyetujui? Padahal tidak!”

Jung Ra merasa ada suatu perasaan yang aneh ketika ia melihat Sehun bersama wanita lain. Apakah dia masih menyukai Sehun? Pertanyaan itulah yang masih menjadi kebingungan di Jung Ra.

“Sadarlah, Jung Ra,” gumam Jung Ra.

 

~~ RCL (Read+Comment+Like) ~~

:=: Happy Reading :=:

Author’s POV :

 

“Handphone ku! TIDAK ADA!” teriak Jung Ra dengan panik.

“HAH??” teriak Ji Eun dan Min Jung yang tak kalah panik

“Naneun Ottokhae!! Bagaimana ini!!” Jung Ra menjadi semakin panik. Bagaimana kalau handphone-nya benar-benar hilang? Matilah dia.

“Kya! Coba ingat-ingat terlebih dahulu! Siapa tau kau lupa menaruhnya,” jelas Ji Eun sambil menenangkan sahabatnya. Jung Ra masih saja panik, “Aku bingung.. Kenapa bisa tasku dari tadi terbuka? Padahal aku tidak membukanya−” Jung Ra berpikir ada yang salah dengan itu, lalu ia menambahkan, “Oh iya! Aku yakin! Pasti terjatuh di suatu tempat, dan aku tak sadar! Apa jatuh di Cafe tadi? Aish, bagaimana aku ini! Ceroboh sekali.”

“Lalu, kita kembali ke cafe nya? Dan tanya pada pelayannya.. ‘Apakah kalian melihat handphone teman saya?’ aku rasa jawaban mereka adalah tidak.” jelas Min Jung ke arah Jung Ra dengan spesimis, Ji Eun yang mendengar itu langsung menyikut lengan sahabatnya yang satu ini.

Jung Ra hanya bisa menghelakan napasnya berat. Ia takut, jika handphone miliknya benar-benar jatuh ke tangan orang yang salah. Sekelibat pertanyaan jatuh ke otaknnya,

‘Bagaimana jika orang itu menjual handphone milikku?’

‘Bagaimana jika orang itu adalah orang yang jahat?’

‘Bagaiman jika ia menghapus semua kontak yang ada di handphone-ku?’

Jung Ra berdecak kesal sambil mengacak kasar rambutnya, dan kini bisa terlihat−rambutnya menjadi tak karuan. Ia mencoba menenangkan dirinya, ia menarik napas dalam.

“Ya sudah, kajja! Kita lanjutkan jalan-jalan kita. Tak usah memikirkan handphone ku itu, hiks~ Ji Eun! Min Jung! Let’s go!” ajak Jung Ra sambil menarik tangan para sahabatnya walau dengan wajah yang murung.

“Yak! Kami tau kau bisa berbahasa Inggris dengan lancar.. keke,” jawab Ji Eun dengan nada candaan.

Mereka pun mengelilingi mall COEX dengan ceria, seakan beban ‘hilang handphone’ Jung Ra terasa hilang. Sampai tujuan, mereka memasuki sebuah cafe lagi yang tak jauh dari pintu masuk utama Mall. Jung Ra duduk di samping Min Jung dan begitu pula Ji Eun yang duduk di samping Jung Ra.

“Hmm.. sepertinya aku tidak akan memesan makanan,” kata Jung Ra sambil memegangi tas kecilnya.

“Wae? Ya sudah, kalau begitu aku juga! Aku hanya memesan minuman saja,” balas Min Jung dengan nada imutnya.

“Aish, anak dua ini. Jung Ra, kau ingin menabung? Ha ha ha, untuk membeli handphone baru ya? Keke,” tanya Ji Eun sambil menyikut lengan sahabatnya itu. Jung Ra hanya bisa menggigit bibir bawahnya malu.

Tak lama kemudian, pelayan cafe datang untuk mencatat pesanan mereka.

“Hmmm.. sebenarnya ada apa kalian menyuruhku untuk datang? Hm, maksudku menemui kalian? Apa ada masalah yang harus dibicarakan?” tanya Jung Ra. Keheningan pun datang pada Ji Eun dan Min Jung. Mereka terlihat bingung harus menjawab apa,

“Jung Ra, kami ingin menanyakan tentang training mu,” akhirnya Ji Eun lah yang memecah keheningan dengan membuka suaranya.

“Eugh? Apanya yang perlu ditanyakan?” jawab Jung Ra dengan sedikit sedih, mengingat kejadian kemarin malam saat mengetahui bahwa Appa nya tidak setuju padanya. Bayangannya kini ke arah ‘bagaimana bisa ia mewujudkan impiannya?’

“Kau.. akan benar-benar masuk di SM? Dan training di sana? Kami hanya takut, jika nilai kau menurun dan … melupakan kami,” lanjut Min Jung dengan nada sedih.

Jung Ra yang mendengar itu hanya menghelakan napasnya sejenak dan tersenyum simpul ke arah para sahabatnya, lalu menepuk pundak Min Jung, “Sepertinya aku tidak jadi masuk ke SM, dan menjadi trainee di sana. Aku harus mengubur dalam-dalam mimpi ku,” jelas Jung Ra dengan murung. Serentak saja, para sahabatnya kaget dan terbelak mendengar ucapan Jung Ra tadi. Mereka mencoba untuk membenarkan ucapan Jung Ra.

“Mwo?! Tidak jadi? Wae? Ada masalah? Ceritkan pada kami..” pinta Ji Eun dengan penasaran. Jung Ra hanya tersenyum tabah ke arah mereka.

“Appa ku, ternyata tidak setuju jika aku masuk di dunia Entertainment. Aku pun kaget mendengar pernyataan seperti itu langsung dari mulut Appa. Sebelumnya yang aku tahu, jika Eomma selalu berbicara Appa setuju dengan ini. Namun, kebenarannya? Terbalik. Appa tidak menyetujuinya secara terang-terangan, Appa bilang dunia artis itu kejam dan sebagainya.. Lalu, aku harus berbuat apa? Untuk menjadi trainee yang telah dipersiapkan untuk debut di SM itu, harus mempunya ijin dari kedua orangtua.” jelas Jung Ra panjang lebar. Ji Eun dan Min Jung pun menggenggam tangan Jung Ra pelan seraya menguatkan batin Jung Ra.

“Sabar Jung Ra.. Aku yakin, pasti Appa mu akan menyetujui mimpi anaknya. Kau mempunyai bakat! Appa mu pasti bangga. Ayah macam apa sih, yang tidak bangga dengan anaknya jika mempunyai bakat emas sepertimu?” kata Min Jung sambil memeluk sahabatnya itu. Jung Ra pun tersenyum karena di saat seperti ini, ia masih mempunyai sahabat yang baik dan pengertian. Sahabat yang selama ini selalu senatiasa menjadi bahu saat ia menangis, menjadi tempat saat ia ingin mengerluarkan curhatannya, menjadi sahabat yang selama ini menemaninya.

“Aku pasti tidak akan melupakan kalian.. Kalian adalah sahabat ku yang terbaik! Keke,” kata Jung Ra sambil membalas pelukan sahabatnya, seakan tak peduli dengan tatapan orang-orang di cafe yang melihat Jung Ra dan teman-teman nya seperti berada di sebuah drama. Ji Eun lalu melepaskan pelukan mereka, “Ah! Kau bilang tadi kau mau menjadi trainee yang telah dipersiapkan untuk debut di SM? Kau mau debut?? Kyaa~! Sahabatku adalah artis!”

Ttakk

Jitakan keras jatuh tepat pada kepala Ji Eun, yang dilakukan oleh Min Jung. Jung Ra yang melihat itu hanya tertawa kecil, lalu membuka suaranya untuk menjawab.

“Ha ha ha, sudah ku bilang aku tidak akan debut.” jawab Jung Ra sambil mengukir senyumannya untuk menutupi kepedihannya.

Ji Eun hanya bisa memanyunkan mulutnya ke depan seperti mulut ikan (?) karena jawaban Jung Ra. Ia pun menambahkan, “ya sudah, kau belum menceritakan kepada kami semuanya.. ceritakan lah! Kalau kau tidak mau, ya sudah, tidak apa-apa.”

“Cerita apa?”

“Ceritakan pada kami saat kamu ke SM yang lalu,” jawab Ji Eun. Jung Ra pun mengangguk jelas.

“Mula-mulanya, aku dan kelima yeoja lainnya masuk ke dalam ruang kantor Lee Soo Man ahjussi! Tak lama kemudian, kami mulai mendatangani sebuah berkas, lalu kami masuk kembali ke sebuah ruangan dan bertemu dengan boss oppa.. Ah! Aniyo. Maksud ku, Lee Joon Ki oppa, sepertinya dia yang akan mengawasi kami selama menjalani training. Kami berbincang-bincang dan semakin dekat. Sampai akhirnya kami tahu jika kami semua dipersiapkan untuk debut. Dan pada akhirnya kami diberi sebuah berkas lagi khusus untuk para orangtua kami. Dan−” jelas panjang lebar Jung Ra. Namun, omongan nya tak ia teruskan karena mengingat kejadian tadi malam dan tadi pagi bahwa ia melihat berkas itu tertumpuk di buku-buku bekas yang tak mungkin akan dibaca lagi. Ia lesu kembali.

“Dan? Aahh! Tidak usah dibicarakan lebih lanjut, keke.. kami mengerti,” kata Ji Eun sambil menepuk pundak Jung Ra.

“Sudahlah, jangan bersedih terus.. tapi mian, aku ingin bertanya lagi hehe, ada lima yeoja? Apa mereka akan satu grup denganmu? Grrr.. maksudku− “ tanya Min Jung lagi,

“Iya. Sepertinya mereka akan satu grup, mungkin tanpa aku,” omongan Min Jung terpotong karena jawaban langsung dari Jung Ra.

“Aaahh.. Ji Eun! Kita mempunyai saingan! Bisa-bisa saja Jung Ra lupa pada kita karena teman-temannya yang baru.” kata Min Jung sambil menatap ke sorot mata Ji Eun. Tak tahan dengan mulut Min Jung yang mulai keluar batas (?) Ji Eun menjitak kepala Min Jung sebagai balasan.

“Tidak akan.. kalian adalah sahabat terbaik ku! Aku tidak akan melupakan kalian~!” kata Jung Ra sambil memeluk sahabatnya erat. Ji Eun pun mengacak-acak rambut Jung Ra.

Mereka tertawa bersama di cafe tersebut sambil menunggu pesanan mereka datang. Sesekali terlihat Jung Ra murung dan lesu, namun para sahabatnya mengerti dan mencoba menghiburnya kembali.

***

Sementara itu di dorm EXO, Sehun yang bersender di pinggir ranjang, sedari tadi hanya menatap handphone milik Jung Ra yang tidak sengaja ia temukan saat di cafe lalu. Ia menatap lekat casing handphone putih milik Jung Ra. Ada rasa penasaran yang berkecambuk di hatinya, ingin sekali dirinya melihat ataupun sekedar mengecek isi dari handphone ‘mantan pacarnya’ itu. Sedang asyiknya ia menatap (?) handphone milik Jung Ra, tiba tiba…..

“Sehun-ah!! Apa yang sedang kau lakukan di dalam kamar sendirian?! Tak biasanya,” ceplos Kai tanpa mengetuk pintu kamar terdahulu. Lantas saja, Sehun kaget dan berusaha membunyikan handphone milik Jung Ra di bawah bantalnya.

“Hmm.. Aku hanya sedang merenungkan sesuatu. Hanya persiapan mental, keke.” jawab Sehun dengan sembarang.

“Merenungkan sesuatu? Apa? Jung Ra, ya? Ha ha ha, persiapan mental untuk apa? Kembali kepadanya?” ledek Kai, yang justru membuat Sehun geram.

Serentak saja muka Sehun berubah menjadi masam karena hyung nya ini. Bahkan memanggil sebutan ‘hyung’ saja enggan, keke..

“Aku hanya bercanda.. Kau tidak mau bergabung dengan kami? Uri Eomma (D.O. −read) sedang masak sesuatu, kau tidak mau?” tanya Kai dari pinggir pintu.

“Kau makan saja, aku sedang tidak ada selera..” jawab Sehun tenang. Kai pun paham dan menutup pintunya kembali.

Sesaat kemudian…….

“YAK! Aku ini lebih tua darimu! Seharusnya kau memanggil ku dengan sebutan HYUNG!” teriak Kai dan kembali membuka pintunya kepada Sehun. Sontak Sehun pun kaget, dan mengeluarkan aegyo-nya kepada Kai. Hyung nya ini yang tidak tahan dengan aegyo Sehun pun langsung menutup kembali pintu kamar dan beroceh sendirian. Sehun merasa bahwa tak perlu memanggil Kai dengan sebutan hyung. Toh, mereka hanya berbeda beberapa bulan saja. Walaupun Kai telah lulus.

Setelah Kai benar-benar sudah tidak ada di depan pintu. Sehun kembali mengambil handphone Jung Ra dari balik bantalnya, dan menatapnya lagi.

“Handphone~ bolehkan aku melihat isi mu?” kata Sehun sambil menatap handphone milik Jung Ra. Ia seperti orang yang tidak waras, karena berbicara pada benda mati -,_,- Dengan ragu-ragu, ia membuka lock −handphone Jung Ra.

“Bahkan, tema handphone nya saja telah berubah,” gumam Sehun saat melihat tema handphone Jung Ra.

“Haruskah, aku melihat pesannya juga?”

Sehun pun berpikir sejenak dan meyakinkan dirinya. Akhirnya, ia buka kotak pesan milik Jung Ra. Ia mulai meng-scroll  ke bawah layar handphone Jung Ra. Pesan yang terdapat di sana, kebanyakan berasal dari Ji Eun dan Min Jung. Namun, ada beberapa pesan yang Sehun penasaran sedari tadi. Pesan dari nomor yang tidak dikenal juga cukup banyak, dengan penasaran, ia pun membuka satu persatu pesan tersebut. Ia buka pesan pertama yang masuk di kotak masuk.

Annyeong Jung Ra-yaa~ ^O^ Masih mengingatku?

….

Aku sahabat mu! >_< kau lupa? Aisshh~ Amerika? Ingat kah?

….

Finally! Jangan bilang, kau melupakan namaku ᄏᄏᄏ

….

Hmm.. Jung Ra~ sudah lama kita tidak bertemu, berapa tahun ya? 3 tahun? Atau 5 tahun?

….

Tentu saja, aku rindu padamu ❤  :*

….

 

DUGG

Sehun merasa geram saat membaca pesan-pesan singkat tersebut. Sehun pun memukul telapak tangannya bersamaan. Ia mengerucutkan bibirnya seketika saat membaca pesan dari orang yang ‘tidak kenal’ itu. Ia sama sekali tidak mengetahui, siapa sebenarnya pengirim pesan ini.

“Kenapa Jung Ra, tidak menamai kontak nya saja! Apa dia sengaja? Biar orang-orang tidak mengetahuinya, huh?!” kata Sehun kesal, ia seperti anak kecil yang sedang merengek meminta balon kepada ibunya.

“Aisshhh!” ia pun mengacak-acak rambutnya tak karuan.

Kembali ia buka pesan ‘orang yang tidak dikenal’ itu. Ia mencoba menahan kesal nya.

Really? Kamu tidak rindu pada aku? :p~ Jung Ra.. apa kau sudah mempunyai kekasih?

….

Belum?! Jinjja? Waaa.. berarti aku bisa daftar, ya? ᄏᄏᄏ

 

BRAAKKK (ok, efek sound gagal -_-v)

Bantal tidur Sehun pun berhasil melayang ke arah pintu saat ia membaca pesan itu. Ia merasa kesal, marah, sekaligus … cemburu? Ia langsung membuka ‘Sent Items’ atau pesan terkirim pada handphone Jung Ra. Ia penasaran dengan balasan Jung Ra untuk pesan dari orang yang tidak dikenal ini. Sehun beranggapan bahwa orang itu adalah seorang namja.

Ia baca secara perlahan…

…..

Annyeong~ hmm.. Nuguya? Maaf, aku lupa ‘_’

…..

Amerika? Hah! Aku ingat!

….

Aku tidak akan lupa namamu~~  ᄏᄏᄏ

….

Hmm.. 5 tahun mungkin? Sejak SMP, kita sudah tidak bertemu lagiᅲ.ᅲ Kau rindu pada ku ya~?

…..

Kalau begitu, aku tidak akan rindu pada mu ᄏᄏ

…..

Kekasih? …. belum.

 

DEG.

Tubuh Sehun lemas seketika saat membaca pesan balasan dari Jung Ra. Ia mengepalkan tangannya dengan kesal. Ia tidak menduga balasan pesan dari Jung Ra malah membuat hatinya tambah hancur.

“Belum…? Apakah kau benar-benar ingin melupakanku … atau sudah melupakanku? Ck.” kata Sehun dengan lemas. Kembali, ia menguatkan dirinya dan melanjutkan membaca. Namun malah, matanya terbelak saat melihat tidak adanya lagi pesan terkirim dari Jung Ra.

“Tidak ada?! Apa sudah ia hapus? Atau tidak dibalas?” Sehun bingung sendiri dan penasaran akan kelanjutan dari ‘cerita pesan’ milik Jung Ra dan yang ia sebut ‘teman’. Ia cek lagi pesan-pesan Jung Ra hanya sekedar mengecek sesuatu, ya.. ia mencari pesan-pesan yang ia kirimkan khusus untuk Jung Ra. Tapi, tidak ada satupun pesan darinya yang disimpan oleh Jung Ra. Padahal, Sehun juga sering mengirimi beberapa pesan singkat padanya, kan?

“Mungkin, ia menghapusnya,” kata Sehun lesu. Tanpa sadar, ia menghapus semua pesan dari orang yang tidak dikenal itu sampai tidak ada sisa satupun, begitu pula dengan pesan terkirim Jung Ra untuk orang itu. Ia menghapusnya tanpa sadar karena terbawa oleh emosinya.

“YAAAKK! Kenapa aku hapus?! BABO!” teriak Sehun frustasi.

Dreett Dreett

Sehun merasakan getaran pada handphone Jung Ra kali ini, pertanda ada pesan masuk.

From : Ji Eun~^^

Siapa pun yang tengah memegang atau menemukan handphone ini, tolong jujur dan kembalikan pada pemiliknya >_< Janjian kepada ku terdahulu untuk mengembalikannya!!! Jangan mengambil/menjual handphone nya!! Terima kasih.

Ternyata dari Ji Eun −teman Jung Ra− yang mengirimnya. Sehun hanya tersenyum tipis lalu meng-klik ‘reply’

Aku Sehun. Oh Sehun, Jangan kaget, aku tidak akan mengambil handphone ini. Handphone-nya aman bersama ku~ Dan jika kau bersama Jung Ra sekarang, jangan katakan padanya bahwa akulah yang memegang handphone nya sekarang. Bersikap biasa saja. Janji? ^^

Sehun membalas pesan singkat dari Ji Eun, dan langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang yang terasa berat. Ia menutupi kepalanya dengan kedua lengannya. Ia masih berpikir, apa yang sebenarnya dipikirkan Jung Ra saat ini. Apakah dia benar-benar melupakan Sehun?

Ia tersenyum renyah, “Seandainya kau tahu alasan sebenarnya, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita, Jung Ra~ya, tapi kau terlanjur pergi dan menghilang..” gumam Sehun dan mencoba mengingat-ingat kembali masa-masa nya bersama Jung Ra.

***

Jung Ra beserta Ji Eun dan Min Jung tengah bersantai di cafe mall. Namun masih terlihat raut wajah Jung Ra yang masih belum berubah. Sahabatnya pun berpikir mencarikan solusi untuk Jung Ra,

“Bagaimana jika aku mengirimkan pesan ke handphone mu? Siapa tahu, ada yang membalas. Jika ada, berarti handphone mu aman!” kata Ji Eun kepada Jung Ra−yang tengah mengaduk-aduk jus di depannya dengan malas.

“Eugh? Apakah berhasil? Mungkin sekarang handphoneku telah dijual~” jawab Jung Ra dengan lesu.

“Yak! Jangan begitu! Aku yakin~ tenang saja, akan ku ancam orang itu jika sampai-sampai menjual handphone mu atau mengambilnya!” lanjut Ji Eun sambil mengambil handphone nya dan memulai untuk mengetik sesuatu.

Siapa pun yang tengah memegang/menemukan handphone ini, tolong jujur dan kembalikan pada pemiliknya >_< Janjian kepada ku terdahulu untuk mengembalikannya!!! Jangan mengambil/menjual handphone nya!! Terima kasih.

“Kirim~” kata Ji Eun dengan tersenyum.

Dreett Dreett

Tak lama kemudian, handphone Ji Eun bergetar.

“Eugh?” ia pun kaget, karena ada balasan dari nomor Jung Ra! Ia buka dan membacanya.

Aku Sehun. Oh Sehun, Jangan kaget, aku tidak akan mengambil handphone ini. Handphone-nya aman bersama ku~ Dan jika kau bersama Jung Ra sekarang, jangan katakan padanya bahwa akulah yang memegang handphone nya sekarang. Bersikap biasa saja. Janji? ^^

Mata Ji Eun terbelak saat membaca pesan balasan itu. Ia tidak bisa membendung rasa kagetnya, sehingga wajahnya memang benar-benar aneh. Jung Ra dan Min Jung pun bingung dengan ekspresi Ji Eun yang aneh.

“Apa ada balasan? Waeyo?” tanya Min Jung. Ji Eun pun bingung harus menjawab apa.

“Hmm.. aniyo~ ini dari Eomma ku, keke.” jawab Ji Eun bohong. Ia pun membalas pesan Sehun itu.

Oh.. maafkan aku sunbae >_< aku tidak mengetahuinya.

Sehun pun kembali membaca pesan balasan dari Ji Eun, dan segera membalasnya.

Ye, gwenchana.. Besok jika kau ingin mengambil handphone ini, temui saya di ruang musik saat istirahat, besok~ Kau besok sekolah kan? Ruang musik yang lama. Jangan bilang pada Jung Ra, jika aku yang menemukan ponselnya, ok? Sudah ya, aku takut pulsa jung Ra akan habis,ᄏᄏ

Ji Eun pun membaca pesan balasan dari Sehun. Lalu, ia pun mengangguk jelas dan menatap Jung Ra sejenak,“Oh Tuhan.. biarkan aku membohongi sahabat ku sendiri untuk kebaikan nya,”  ujar Ji Eun dalam hatinya.

***

Jung Ra dan sahabatnya pun pulang. Jung Ra yang masih bingung dan kesal karena kejadian tadi di cafe pertama dan juga kehilangan handphone kesayangannya. Ada rasa ragu-ragu dari Jung Ra saat ingin masuk ke dalam rumahnya, karena ia melihat ada sepasang sepatu yang asing baginya. Tak lama kemudian, terdengar suara tawa orangtuanya dengan seseorang yang ia tidak tahu siapa. Ia pun membuka pintu masuk rumahnya dengan perlahan. Ia kaget, matanya terbelak seketika saat melihat seorang namja berperawakan tinggi, putih, dan juga warna rambutnya yang khas, tak luput juga paras cantik namun malah membuat pesona namja itu meningkat. Jung Ra semakin menyipitkan kedua matanya. Ia mencoba mengingat-ingat siapa namja itu sebenarnya.

Namja yang tengah duduk bersama orang tua Jung Ra merasakan keberadaan Jung Ra dan segera tersenyum lega, namun bingung dengan tatapan Jung Ra. Hey, apa Jung Ra melupakannya?

“Yak! Berhenti menatap ku seperti itu! Apakah aku ini tampan, huh? Sampai-sampai kau menatapku seperti itu? Keke,” kata namja asing itu. Sontak saja Jung Ra mengalihkan pandangannya. Tak lama kemudian, alisnya berkerut sepertinya ia mengingat sesuatu dari tatapan namja cantik tersebut.

“Kau… Choi Tae Min?” tanya Jung Ra sambil menunjuk ke arah namja itu untuk memastikannya.

Namja itu pun berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Jung Ra. Tingginya yang melebihi Jung Ra itu, membuat ia harus menunduk sedikit ke arah Jung Ra. Ia pun mengacak-acak rambut Jung Ra.

“Yak! Kau lupa dengan ku, huh? Benari sekali kau!” kata namja yang bernama Taemin itu. Jung Ra pun tertawa sejenak dan memberanikan diri mengacak balik rambut Taemin.

“Yakk! Aishh~ anak ini!” kata Taemin sambil beradu mengacak rambut Jung Ra. Orangtua Jung Ra yang masih terduduk di sofa pun hanya bisa tertawa geli melihat anaknya dan Taemin bercanda. Tak lama kemudian, mereka duduk kembali bersama di ruang tamu. Jung Ra duduk di sebelah Taemin dan tak henti-hentinya mereka saling mengejek ataupun melakukan ‘mehrong’ satu sama lain.

“Jung Ra-yaa~ kenapa sekarang kau bertambah tinggi, huh? Dan juga, kulitmu semakin putih saja!” kata Taemin sambil menunjuk kulit tangan Jung Ra.

“Yak! Jadi kau kira, aku tidak bisa tumbuh ke atas, huh? Anak ini! Jelas saja, aku tambah putih.. matahari di Korea ini bersahabat keke.. tidak seperti kau! Kau tambah … coklat? Keke,” jawab Jung Ra dengan candaannya.

“Eh! Aku tidak bertambah grrrr coklat! Setidaknya walaupun hanya sedikit, tapi aku masih tetap tampan kan..” jawab Taemin dengan percaya dirinya, yang malah membuat Jung Ra tersenyum geli.

“Sudah, sudah.. kalian ini, Taemin.. apa kabar orangtua mu? Apa mereka di sini juga?” tanya Eomma Jung Ra kepada Taemin sambil mengukirkan senyuman khasnya.

“Hmm.. kabar mereka baik, Eommonim~ mereka masih di Amerika, mengurus kerjaan di sana,” jawab Taemin dengan santai.

Langsung saja, Jung Ra terbelak dan menatap tajam Taemin, “Yak! Sejak kapan kau memanggil Eomma ku dengan sebutan Eommonim juga, huh?” tanya Jung Ra sambil menyikut lengan Taemin. Taemin pun memegangi lengan nya yang sakit karena sikutan Jung Ra tadi.

“Terserah aku dong~ :p” jawab Taemin kembali mehrong ke arah Jung Ra.

“Sudah.. tidak apa hehe. Kalian ini sudah SMA, namun kelakuan masih seperti anak kecil.. hmm, Taemin, kenapa kau kembali ke Korea sementara orangtua mua di Amerika? Dan juga kau tinggal bersama siapa di sini? Di mana?” tanya Eomma Jung Ra yang bertubi-tubi.

“Aku memutuskan untuk lulus di Korea saja. Karena aku ingin kuliah di sini.. Aku tinggal sendiri di apartement, namun aku akan sering mengunjungi rumah bibi Jung Rin dan juga pasti rumah Eommonim,”  jawab Taemin dengan sedikit mengeluarkan aegyo-nya.

Jung Ra terlihat paham, karena sedari tadi ia mengangguk jelas atas pembicaraan Eomma nya dan Taemin −sahabatnya.

“Taemin.. anggap saja kalau kamu sering ke rumah kami, sebagai rumah sendiri, ye?” bilang Appa Jung Ra sambil tersenyum ke arah Taemin. Taemin pun tersenyum paham.

“Kalau begitu, Ahjussi tinggal dulu ya.. Ada masalah kerja di kantor. Kalau masih lama di sini, Jung Ra bisa menemani mu mengelilingi rumah ini,” kata Appa Jung Ra dan langsung pamit untuk pergi ke kantor. Jung Ra, Taemin, dan Eomma pun berdiri mengantarkan Appa Jung Ra sampai di depan pintu.

Saat menuju ke depan pintu, Taemin merasa tertarik oleh buku-buku bekas yang tersusun di dekat pintu. Ada perasaan penasaran saat melihat tumpukan buku-buku itu.

“Hwaa~ buku-buku ini masih bagus, tapi kenapa sepertinya sudah tidak dibaca lagi?” tanya Taemin sambil meniup debu-debu yang menutupi atas sampul buku itu.

“Mungkin, sampulnya saja bagus. Tapi di bagian tengah dan terakhirnya, banyak tulisan nya tidak bisa di baca,” jelas Appa Jung Ra.

Taemin pun mengangguk jelas dan mengedarkan matanya sejenak, ada sesuatu yang membuat rasa ingin tahunya terpenuhi, “Eughh? Apa ini?” decak nya. Taemin pun menemukan sebuah berkas yang terlihat masih baru di tumpukan buku itu. Berkas itu tidak lain dan tidak bukan adalah berkas dari SM yang Jung Ra kasih kepada orangtuanya kemarin.

“Hwaa~ S.M. Entertainment? Apa ini kertas kontrak untuk menjadi … artis di bawah asuhannya?” tanya Taemin dengan decak kagum saat membaca berkas itu. Jung Ra pun tiba-tiba melihat ke arah Appa dan Eomma nya dengan murung. Mereka saling bertatap lama dengan pebuh arti, seakan pikiran mereka menyauti satu sama lain.

“Kenapa pada diam?” tanya Taemin kembali sambil menatap ke arah mereka.

“Sudahlah Taemin-ah, kau tidak sopan.” kata Jung Ra sambil mengambil berkas itu dan mengembalikannya ke tumpukan buku-buku bekas, dengan tatapannya yang masih ke arah lantai. Appa dan Eomma Jung Ra pun menghelakan napas mereka bersamaan.

“Ya sudahlah, saya pergi dulu ya..” kata Appa Jung Ra, sementara itu Taemin yang tidak tahu apa-apa hanya bisa bingung dan bungkuk salam ke arah Appa Jung Ra.

Selang beberapa detik setelah Appa Jung Ra pergi, Jung Ra hanya bisa menatap Taemin dengan tajam. Taemin tidak tahu kenapa, Jung Ra menatapnya seperti itu. Seandainya Taemin tahu permasalahan yang sebenarnya, Jung Ra pasti tidak akan merasa marah, yah.. walau sedikit−karena ia tidak tahan dengan wajah Taemin yang terlihat polos saat ini.

“Sudahlah, lupakan. Apa sekarang ada yang mau kue beras? Eomma  membelinya. Kajja! Ayo, makanlah selagi masih hangat.” ajak Eomma Jung Ra untuk memecah keheningan.

Di tengah perjalanan menuju dapur, Jung Ra dengan sengaja menginjak kaki kiri Taemin sebagai balasan tadi. “Yak! Appo…” desah sakit Taemin sambil menahan sakit. Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju dapur. Walau ada rasa sakit yang dirasakan Taemin di kakinya namun, ia masih saja tetap tersenyum jika melihat tingkah laku Jung Ra, ia memang sangat merindukan sahabatnya ini.

Sesampainya mereka di dapur, tepatnya meja makan milik keluarga Ah yang terletak dekat dengan dapurnya. Taemin dengan seenaknya saja duduk dengan santai tanpa mempersilahkan pemilik rumahnya terlebih dahulu untuk duduk.

“Yak! Apakah karena kau terlalu lama di Amerika, maka tingkah lakumu itu berubah, huh?” teriak Jung Ra sambil menginjak kembali kaki Taemin.

Jelas saja, Taemin tidak terlalu mempermasalahkan hal ini, ia sudah terbiasa dengan budaya baratnya. Mungkin sepertinya Taemin harus lebih mengingat−dimana sekarang ia tinggal, kelakuannya ini bisa saja membuat Jung Ra menegur beberapa kali ke arah Taemin.

“Sudah, tidak apa-apa−”

Eomma Jung Ra pun merogoh saku kecilnya dan mengambil ponselnya yang bergetar karena ada sebuah penggilan masuk.

“Hmm, sebentar ya.  Eomma angkat telepon dahulu. Jung Ra! Tolong taruh kue berasnya di piring baru ya?” kata Eomma Jung Ra dan cepat-cepat menjauh dari dapur untuk mengangkat teleponnya. Jung Ra pun mengangguk dan mengambil piring bersih untuk kue berasnya nanti.

“Rasanya… seperti kau sedang mempersiapkan makanan untuk suamimu, yaitu … aku! hehe..” kata Taemin dengan blak-blakan. Walau begitu, entah kenapa jantungnya seperti meronta saat ia melontarkan kata itu. Jung Ra pun kaget dan kesal, cepat-cepat ia ambil pisau dapur dan mengarahkan pisaunya ke Taemin. Mungkin lebih tepatnya ke arah leher Taemin?

“Bicara apa kau tadi, huh!” bentak Jung Ra sambil mengarahkan pisau ke leher Taemin. Taemin pun kaget, sampai-sampai ia terjatuh dari kursinya dan menatap Jung Ra dengan tatapan ngeri.

Berbeda dengan tanggapan sikap Taemin,  Ah Jung Ra malah tertawa, “Ha ha ha ha~ Ekspresi mu lucu Taemin-ah! Aku tidak bisa berhenti tertawa! Ha ha ha! Lagipula aku hanya bercanda,” kata Jung Ra sambil tertawa. Taemin pun berdecak kesal dan segera berdiri untuk duduk kembali. Ia mengerutkan bibirnya kesal, melipatkan kedua tangannya di depan dada.

“Aishh!” kata Taemin dengan kesal.

Tak lama kemudian Eomma Jung Ra pun datang yang nampak tergesa-gesa,

“Jung Ra, Taemin.. Maafkan Eomma! Eomma harus segera pergi sekarang, teman Eomma minta bertemu sekarang, penting! Jika Eomma tingalkan kalian di rumah, tidak apa-apa kan?” katanya. Jung Ra dan Taemin pun mengangguk pelan pertanda mengiyakan perkataan beliau.

“Ya sudah, Jung Ra dan Taemin. Eomma tinggal ya, jika kalian lapar, ada makanan di dalam kulkas. Bisa makan sepuasnya, ok? Eomma tinggal dulu.. Kalian berdua di sini saja ya? Annyeong! lanjut omongan Eomma Jung Ra dan pergi dengan terburu-buru.

Taemin bergumam dan langsung mengedipkan matanya pada Jung Ra dengan seduktif. Tak mau kalah, Jung Ra pun mengacungkan pisau dapur yang sedari tadi ia masih pegang ke arah Taemin dan melalukan mehrong khas nya. Taemin terkekeh dengan kelakuan Jung Ra ini dan tertawa kecil.

***

Jung Ra’s POV :

Aku tidak menyangka! Sahabat terbaik ku! Taemin! Akhirnya datang ke Korea lagi! Sahabat ku yang satu ini memang sangat dekat dengan ku.. bagaimana tidak, aku dan dia sudah berteman sejak umur 4 tahun! Keke.. sudah berapa tahunkah itu jika dihitung sampai sekarang? Namun sayang, saat-saat remaja, kita dipisahkan. Dia harus ikut dengan orang tuanya ke Amerika dan sekolah di sana.

Kembali aku mempersiapkan kue beras untuk kami makan.. sekedar untuk kudapan kecil atau kah bisa dibilang makan siang? Keheningan menyelimuti aku dan Taemin, kami jarang bicara saat Eomma dan Appa tidak ada di rumah, seakan kehabisan topik pembicaraan. Ingin sekali aku membuka suaraku untuk sekedar basa-basi.. namun, yak! Aku ini perempuan! Mana mungkin aku yang harus memulai? Seharusnya dia dulu dong! Aku pun memberanikan membalikkan tubuhku untuk sekedar mengambil kain lap yang memang berada di samping meja, untuk membersihkan beberapa noda di piring.

Belum sempat aku berbalik, ekor mataku  bisa melihat Taemin yang sedang asyik menatapku? Entahlah ada rasa yang berbeda saat Taemin menatapku seperti ini, walau tidak sepenuhnya jelas aku menangkap pandangan matanya, namun.. aku bisa merasakannya. Beberapa saat aku terpaku di hadapan Taemin dengan posisi membelakangi dia. Entahlah, jantungku terasa lebih aktif berdetak saat melihat tatapan mata Taemin sekarang, berbeda pada saat kami kecil dulu, sebenarnya perasaan apa ini?

Aku bingung harus berbuat apa, sampai pada akhirnya Taemin mulai memecah keheningan di antara kami. Syukurlah.

“Jung Ra..” panggilnya. Benarkah ini suara Taemin? Sekian lama kami tidak bertemu, dan kali ini panggilannya terdengar sangat lembut. Sampai-sampai aku seperti terbang, namun sayang−jantung ini lagi-lagi tidak bisa diajak kompromi! Selalu saja berdetak lebih cepat dan alhasil membuat tubuhku terlihat sedikit terkena dampak getarannya, keke. Berlebihan kah aku?

“…..”

Ada apa ini! Aku tidak bisa menjawab panggilan Taemin! Seakan bibirku kelu untuk sekedar berucap sepatah kata.

“Cepatlah~ aku lapar!” lanjutnya. Aku pun mendengus kesal dan berbalik seraya memberikan kue beras ke arah nya dengan kesal.

Tapi kenapa aku kesal? Ada perasaan yang disatu sisi, aku menginginkan perkataannya yang lebih. Bukan hanya sekedar menindasku seperti ini, ck. Hey!

Apa ada yang salah dengan ku?

***

Tae Min’s POV :

“Cepatlah~ aku lapar!” teriak ku pada Jung Ra. Sungguh, aku benar-benar tidak berniat berteriak. Tapi mungkin sedikit teriakan bisa memecah suasana hening yang terjadi saat ini, kan? Inilah kata-kata atau kalimat? Yang bisa ku lontarkan. Mungkin aku lebih baik berkata dengan lembut, seperti memanggilnya tadi.

Jung Ra.. nama lengkapnya Ah Jung Ra. Sahabatku sejak kecil atau mungkin sejak lahir? Keke, aku terlalu berlebihan. Sekarang aku berada di Korea Selatan, tepatnya kota Seoul.. Kota di mana aku bisa hidup dengan tenang dan salah satunya karena adanya Jung Ra sekarang. Hidup ku menjadi lebih berwarna! Sungguh, di Amerika, aku hanya bisa merasakan kesepian. Tak ada candaan tawa yang biasa aku dan Jung Ra lakukan.. Aku rindu pada masa-masa itu~!

Pada saat bertemu dengan Jung Ra kembali.. Saat-saat dia menunjukku, mengacak rambutku, meledekku, aku merasa ada rasa yang timbul lagi dari hati ini. Iya.. rasa sukaku atau bisa dibilang rasa cinta?  Ttimbul lagi atau mungkin bertambah? Saat aku berdiri di hadapannya lagi, rasanya sangat senang! Namun aku berusaha menutupi rasa senang ini dengan tetap stay cool~ keke. Detak jantung ini menjadi tidak karuan saat mataku bertemu dengan kedua bola mata nan cantik dan indah milik Juing Ra.. berlebihan kah aku? Tidak. Itulah yang ku rasakan sekarang, sungguh. Setiap detiknya aku tidak mau ketinggalan untuk melihat senyumnya..

Saat ia tengah asyik mempersiapkan kue beras untuk kami, aku sengaja terus-menerus menatapnya dari belakang. Bahkan, aku sering tersenyum malu sendiri saat melihat kelakuan Jung Ra yang sepertinya menyadari jika memang aku tengah memperhatikannya. Aku bisa melihat pipinya yang merah, keke.  Apa dia malu?

Ia pun langsung berbalik dengan mimik wajah yang kesal sambil meletakkan kue berasnya tepat di hadapanku. Hey! Kenapa dia kesal? Aku pun menegakkan posisi duduk ku dan menatapnya sejenak. Cantik. Itulah kata-kata yang berada di benakku saat menatap kedua bola matanya. Mata yang kurindukan saat berada jauh di Amerika.

Ia pun duduk tepat di hadapanku dan memakan beberapa kue beras tanpa berani menatap ke arahku. Ada apa dengan yeoja ini, huh?

“Yak! Makan lah! Kau bilang, kau lapar?!” gerutunya sambil menguyah makanan. Keke, sikapnya masih seperti anak-anak−tidak berubah. Aku pun tersenyum dan memakan kue beras itu yang masih hangat.

“Kau masih bisa dance?” tanyaku. Sekarang kami berada di halaman belakang rumah Jung Ra yang yahh.. bisa ku bilang cukup luas.

“Kenapa? Kau ingin menantangku?” jawabnya dengan ketus. Aku menaikkan ujung alis kananku ke atas saat melihat Jung Ra tiba-tiba menaruh I-Pod nya ke atas kursi.

“Lawan aku,” katanya sambil mendekat ke arahku.

Oh−tolonglah aku, berharap suara detak jantungku ini tidak bisa terdengar olehnya!

***

Author’s POV :

Taemin dan Jung Ra yang kelelahan karena ‘dance battle’ mereka pun terduduk di halaman belakang dengan lemas. Tak segan-segan mereka mencuri minuman milik keluarga Jung Ra yang terletak di kulkas.

Jung Ra dan Taemin memang jago dalam hal dancing. Mereka memiliki beberapa kesamaan, itulah mengapa sampai sekarang mereka tidak saling melupakan tali persahabatan mereka walau Taemin pernah meninggalkan Jung Ra saat pergi ke Amerika. Jung Ra langsung terpuruk saat mendengar berita itu, ia seperti tidak ada arah tujuan−mau sama siapa nanti dia mencurahkan semua isi hatinya disaat sedih? Sama siapa dia akan melewati hari-hari indahnya? Sama siapa dia akan melewati setiap candaan dan gurauan? Kalau bukan bersama Taemin, ia merasa berbeda.

“Jun Ra-yaa~” panggil Taemin sambil menengok ke arah Jung Ra −yang berada di sampingnya− penasaran.

“Wae?” jawab Jung Ra singkat sambil membalas tatapan Taemin. Buru-buru Taemin mengalihkan tatapannya karena detak jantungnya semakin tidak karuan lagi dengan tatapan sahabatnya itu.

“Hmm… sebenarnya berkas apa yang ada di… tumpukan buku bekas tadi?” tanya Taemin dengan ragu.

Wajah Jung Ra seketika menjadi murung, “Oh, itu−”

“Apa cita-citamu telah tercapai? Menjadi penyanyi ataupun artis?” timpal Taemin.

Jung Ra menghelakan napasnya panjang, “Itu… sebenarnya aku sudah diterima di sebuah agensi. Kau tau S.M Entertainment, kan? Namun, Appa tidak menyetujuinya, miris kan?” jawab Jung Ra dengan nada sedih.

“Sudahlah, aku yakin impianmu itu akan segera terwujud dan Appamu bisa menyetujuinya..” kata Taemin sambil menepuk pundak kiri Jung Ra.

Tak lama setelah itu, Taemin pergi meninggalkan Jung Ra tanpa sebab. Jung Ra pun bingung dan melirik ke arah Taemin yang sepertinya pergi ke arah ruang tamu. Selang beberapa detik, suara derap langkah kaki Taemin datang.

“Cha! Menarilah!” kata Taemin sambil membawa handycam nya. Jung Ra yang sedari tadi duduk santai, kini pun bangkit dari duduknya dan menatap aneh ke arah Taemin.

“Yak! Untuk apa?! Kau mau battle lagi, huh?” bentak Jung Ra. Taemin pun tersenyum tipis mendengar bentakan Jung Ra yang malah terdengar lucu?

“Ani. Kau saja yang menari, aku akan merekamnya..” kata Taemin lembut sambil mengarahkan handycam nya ke Jung Ra.

“Untuk apa! Aku lelah sekarang! Aku tidak mau!” balas Jung Ra dengan sedikit merajuk. Taemin mendecak kesal mendengar perkataan Jung Ra.

“Kalau begitu, kau kalah.. Aku menang. Ok?” Jung Ra pun menaikkan ujung alisnya bingung

“Mwo?! Kalah? Cih~ aku tidak akan kalah darimu, Taemin-ssi!” Taemin pun tersenyum.

“Kalau begitu, menarilah! Jika kau tidak menari, kau kalah.. Setidaknya biarkan aku menang sekali saja dari mu, Jung Ra-ssi,” ejek balik Taemin.

“Aku tidak akan membiarkanmu menang! Selama ini, aku lah yang akan menjadi pemenang! Ok! Kau menyuruhku untuk menari apa? Cih, kau pasti kalah,” kata Jung Ra dengan percaya dirinya yang tak kalah dengan bocah usia 5 tahun, keke.

“Kau sendirian..” jawab Taemin sambil memilih lagu dari I-pod milik Jung Ra.

“Mulailah!” teriak Taemin saat sebuah lagu hip hop dari I-pod Jung Ra dimainkan. Jung Ra pun hanya pasrah dan mulai menggerakkan tubuhnya mengikuti lagunya.

Taemin pun merekam Jung Ra yang sedang menari dengan gaya free style. Tak henti-hentinya ia tersenyum namun tak luput juga membuat jantungnya semakin tak karuan, ia mencoba menutupi suara detak jantungnya sambil berpura-pura tersenyum. Lambat laun, Jung Ra semakin menikmati gerakan dan lagunya, ia seperti sedang menghilangkan stressnya.

***

Malam hari di dorm EXO-K.

Sehun kembali termenung di kamarnya dan tidak berkumpul bersama para hyungnya yang tengah asyik bermain di ruang tengah. Seperti Baekhyun dan Chanyeol yang selalu bermain games di ruang tengah. Berbeda dengan maknae yang satu ini, ia sedang berada di dalam kamar sambil menatap ke arah cincin hitam legam yang berada di telunjuk kirinya. Ia masih ingat masa-masa ia membeli cincin ini untuk dirinya dan Jung Ra. Sampai saat ini, cincin kenangan itu selalu melingkar di jari telunjuk kiri Sehun terkecuali saat di panggung, ia harus melepasnya.

Ia kembali menghelakan napasnya berat.

Dreett Dreett

Tak lama kemudian, handphone Jung Ra −yang masih ia pegang− bergetar. Sehun pun langsung membuka sebuah pesan singkat itu.

From : 01114***

Jung Ra~yaaa!! Ding Dong~~ kau sudah tidur?  ^^

Seketika Sehun terbelak kaget membaca pesan dari ‘orang yang tidak dikenal’ itu lagi.

“Tidak salah lagi, orang ini pasti yang sering mengirimkan pesannya kepada Jung Ra itu!” runtuk Sehun sendirinya. Ia pun tidak membalas pesan singkat itu dan mengembalikan handphone Jung Ra ke dalam laci.

Dreett Dreett

Kembali, Sehun tersadar dari lamunannya dan segera  mengambil handphone Jung Ra. Ia berdecak kesal saat kembali membaca sebuah pesan dari orang yang sama.

From : 01114***

Jung Ra-yaaaa~~ kenapa tidak membalas pesan ku? ᄒᄉᄒ

Dreett Dreett

Sudahlah~ mungkin kau sudah tidur ᄏᄏ mungkin kau lelelahan tadi… dan juga, gumawo~ gumawo untuk menemaniku di Seoul ini ^^

 

Kali ini, Sehun merasa terganggu sekaligus penasaran, “Haisshhh! Dia sedang apa bersama Jung Ra tadi, hah!”

***

Jung Ra’s POV :

Pagi ini aku merasa sangat aneh. Ani, Lebih tepatnya mulai kemarin sore saat Taemin−sahabatku datang ke rumah. Aku menjadi lebih canggung jika mengingat kejadian-kejadian yang kami lewati kemarin. Aahh! Pipiku merah lagi! Saat dia hendak pulang! Iya, saat ia hendak pulang… hal pertama yang membuatku malu di hadapannya. Mungkin, aku terlalu belebihan.

Tapi aku tidak mengerti perasaan apa ini.

Aku terduduk di depan meja belajarku dan mulai mengingat-ingat perlakuan−ani, apa mungkin bisa aku bilang dengan ‘kejadian’? Pipiku merah kembali, sepertinya aku gila sekarang. Jinjja~

_Flashback_

Jung Ra mengantarkan Taemin hingga depan rumahnya. Banyak keheningan yang terjadi, mereka jarang berbicara.. Membuka mulut masing-masing pun enggan.

“Taemin~ah, kapan-kapan berkunjung lagi, ne?” kata Jung Ra yang tanpa melihat manik mata lawan bicaranya.

Taemin menoleh cepat ke arah Jung Ra, lalu tersenyum. “Baiklah, jika di rumahmu banyak makanan mungkin aku akan sering-sering ke sini,” balas Taemin yang sekarang berani menatap kedua mata Jung Ra sambil menunjukkan senyum manisnya.

… Tak ada percakapan setelahnya, mereka masih betah diam berdiri tanpa sepatah omongan pun. Jung Ra yang bosan selalu mengayunkan kedua tangannya seperti anak kecil. Ayunan tangan Jung Ra terhenti saat ia merasa seseorang menggenggam tangan kanannya, Taemin−sahabatnya.

Jung Ra terkejut saat Taemin menggenggam erat dan hangat tangan kanannya. Taemin pun tersenyum dan meraih dagu Jung Ra, hingga kini ia bisa menatap dengan jelas sahabatnya. Terutama kedua bola matanya. Perlahan ia menyentuh pipi putih Jung Ra dan mengelusnya dengan lembut seraya ulasan senyum yang ia tautkan di bibirnya semakin jelas terlihat. Kedua tangannya kini memegang kedua pipi Jung Ra yang terlihat merah, karena malu?

“Aku harus pergi sekarang, mau sampai kapan kita hanya terus diam di sini? Lagipula, ini hampir menjelang sore…” kata Taemin dengan lembutnya sambil terus menatap mata Jung Ra. Sedetik kemudian, ia mendekatkan wajahnya, mungkin jarak wajah mereka sekarang sekitar sejengkal. Taemin pun menambahkan, “… Aku pasti akan kembali.”

_Flashback end_

Kyaaa! Kenapa jantungku berdetak lebih cepat sekarang dan lama-kelamaan menjadi lebih meronta-ronta ingin keluar? Tubuhku seakan bergetar karena efek detak jantung ini. Semakin tidak terkontrol! Setiap kali aku mengingat kejadian atau perlakuan Taemin kemarin, rasanya… tidak biasa! Sungguh, perasaan yang berbeda namun pernah aku rasakan terdahulu, aku tidak mau mengingatnya lebih jelas, karena aku muak. Tapi jujur, tatapannya saat itu sangat teduh. Senyumnya, tatapannya, sentuhannya sangat berbeda saat terakhir kali aku melihatnya.

Sebenarnya, perasaan apa ini? Ku pegang dada kiriku yang kini, bisa kurasakan jantungku belum bisa kembali menjadi normal atau stabil. Ku pejamkan mataku perlahan, mencoba mengosongkan pikiranku dan menghilangkan memori yang kemarin. Aku tidak mau, seperti ini lagi.. Jinjja, aku tersiksa.

“Jung Ra!!!! Kau tidak berangkat sekolah, huh!!! Cepatlah!!” aku pun membuka kedua mataku tanpa aba-aba dan melihat ke arah jam waker di samping ku.

“Aaaaahhh! Aku hampir terlambat!”

***

Aku pun sampai di kelasku. Kelas dengan beberapa muridnya yang tengah sibuk sendiri-sendiri, ada yang tengah asyik mendengarkan musik, mengerjakan beberapa tugas, membaca novel, bergosip ataupun melatih kelenturan tubuh mereka dengan menari. Pemandangan yang biasa aku lihat, tidak ada yang menarik. Huft, kemana dua bocah yang biasanya mengganggu pagi-pagi bosan ku ini, huh? Sebut saja Lee Ji Eun dan Park Min Jung, keke.. mereka kan sahabatku.

Aku pun duduk dengan lesu di kursi kesayanganku ini. Ku tundukkan sejenak kepalaku yang terasa berat karena beban ingatan kemarin, ck. Tersiksa lah aku.

“Jung Ra~ya!!” aku pun mendongakkan kepalaku lalu tersenyum lega karena Ji Eun dan Min Jung akhirnya datang juga, keke.

“Kalian dari mana saja!” kata ku dengan kesal.

“Mian, Jung Ra.. kami tadi ada urusan keke jangan marah ya,” kali ini aku mendengus kesal sambil menatap ke arah mereka. Apa mereka sedang menyembunyikan sesuatu? Tidak biasanya mereka berpelakuan aneh seperti ini.. ya, mungkin orang lain tidak menyadarinya namun, aku adalah sahabat mereka yang memang benar-benar tau perubahan sikap mereka, “Kalian kenapa? Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan? Apa itu?” tanyaku kali ini. Aku bisa melihat mimik wajah mereka berubah saat aku bertanya. Hey! Sebenarnya ada apa?!

***

Author’s POV :

Bel istirahat pun berbunyi. Para murid sekolah SOPA kini membanjiri sebuah tempat dimana mereka biasa menghabiskan uang jajan mereka−kantin.

Seorang gadis dengan rambut panjang yang tergurai bebas ke belakang dan wajahnya yang terlihat kecut tengah berjalan gontai melewati beberapa kerumunan siswa. Sesekali ia mendongakkan kepala seraya menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi jarak pandang gadis itu. Jung Ra kini terduduk di pojokan kantin dengan wajahnya yang kusut. Dahinya mengerut dan mulutnya yang tak berhenti berdecak. Ia sendirian sekarang, pantas ia merasa kesal−Ji Eun dan Min Jung yang merupakan sahabatnya tidak menemani ia di kantin sekarang, perubahan sikap mereka yang malah membuat Jung Ra semakin kesal.

Sebenarnya, kemana kedua sahabatnya itu?

“Ji Eun~ah.. apa tidak sebaiknya kita memberitahu Jung Ra? Aku merasa kita ini kejam,” kata seorang yeoja yang tengah menggandeng lengan sahabatnya−Ji Eun, “Apa kau yakin, sunbae benar-benar menunggu kita?” sambungnya. Ji Eun pun hanya berdecak kesal mendengar pertanyaan yang dilontarkan Min Jung saat ini.

“Sudahlah, ini demi kebaikan Jung Ra dan aku yakin Sehun sunbae pasti tengah menunggu kita saat ini,” jawab Ji Eun yang terlihat tenang. Kedua gadis ini pun melanjutkan perjalanan mereka ke arah ruang musik lama yang terletak di pojok lantai atas gedung sekolah ini. Sudah lama tidak dipakai, namun masih ada beberapa siswa yang menggunakannya untuk sekedar melatih olah vokal mereka sendiri atau sekedar memainkan beberapa alat musik di sana.

Dengan perlahan Ji Eun membuka pintu ruang musik itu, sedikit berdebu memang−karena ruang ini tidak rutin digunakan lagi. Ji Eun dan Min Jung mengedarkan pandangannya ke setiap inchi ruangan tersebut termasuk alat-alat musik yang mungkin masih terbilang bagus, hanya beberapa memang−namun terlihat masih bisa digunakan seperti piano, drum, gitar dan semacam alat musik instrumental lainnya. Kini, pandangannya terhenti pada seorang namja dengan tubuh tegap tengah menghadap ke arah luar jendela ruangan lebih tepatnya melihat ke arah lapangan sekolah. Ji Eun memberikan aba-aba kepada Min Jung dengan menaruh telunjuknya ke bibir−menyuruh Min Jung untuk lebih tenang dan diam. Merasa lamunannya terusik oleh derap langkah kaki orang, Sehun pun menoleh dan membalikkan tubuhnya yang kini bisa melihat Ji Eun dan Min Jung di hadapannya seraya memamerkan senyum innocent-nya.

“Annyeong haseyo, sunbae.” salam Ji Eun sambil membungkuk dan diikuti oleh Min Jung.

Sehun tersenyum dan membalas salam kedua orang gadis di hadapannya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong seragam celana yang ia kenakan kini, “Terima kasih sudah datang. Daripada terlalu lama dan membuang waktu−” Sehun mengambil sebuah handphone dengan casing putih darik sak celana kanannya dan memberikannya ke Ji Eun. Ia pun melanjutkan perkataannya, “Ku kembalikan handphone milik … Jung Ra.” Tenggorokannya terasa kering dan tercekat.

Ji Eun pun mengangguk paham dan berjalan pergi diikuti oleh Min Jung. Sehun termenung sesaat dan mendongakkan kepalanya, “Ji Eun.. Min Jung,” panggil Sehun. Sontak saja, Ji Eun dan Min Jung membalikkan tubuh mereka dan terheran karena Sehun memanggil mereka.

“Tolong sampaikan kepada Jung Ra−” ia mengambil napasnya dengan berat dan menambahkan,

“Aku tidak akan muncul di kehidupannya lagi.”

~TBC~

Wait For [4th Story] ^^

Gumawo buat readers yang masih setia nungguin ini fanfic. Mian juga ternyata saya gak nepatin janji *tepok jidat* buat publish part 3 nya cepet XD
Jangan lupa RCL~ Read, Comment, Like =B *unjuk gigi*  Sampai jumpa di next Story~!! /lempar bias/

23 responses to “[3rd] MY STORY – I WANNA BE A SUPERSTAR (Special love)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s