ANONYMOUS (Chapter Seven)

Title : Anonymous

Author : Lathifah Sinarwulan a.k.a Summer Cho (@chosm96)

Casts :

  • Lee Yoonji a.k.a YOU *remember! It’s YOU/READER*
  • Kim Sunghee a.k.a Author *or YOU if you’re baekhyun biased/shinners/BAEKons*
  • All EXO members
  • Jill/Choi Minji a.k.a ShawolMinji the Phoenix firebird or Jack’s twin sister or Choi Minji (ShawolMinji)

Genre : Supernatural, fantasy, school live, family, friendship, little bit romance, AU

Rating : PG15~

Length : Series

Disclaimer : all casts isn’t mine, the plot inspired by MAMA MV and the story before the MV. I just own the fanfic, but you must ask my permission if you want to publish in other web. Don’t PLAGIRISM my fanfic too.

Last Chapter : TEASER | CHAPTER ONE | CHAPTER TWO | CHAPTER THREE | CHAPTER FOUR | CHAPTER FIVE | BEHIND THE FF (CUAP2 AUTHOR) | CHAPTER SIX |

ANONYMOUS IS BACK!

–Previous

“Kita akan melihat bulan.” Kami semua mendongak ke arah bulan purnama yang terlihat besar dan terang dari atas sini.

“Whoaaa, terang sekali!” seru Chanyeol kegirangan. Yang lain hanya menanggapinya dengan senyuman.

“Mataku tertuju pada bayangan hitam berbentuk bulat yang berada beberapa meter dari bulan. Bentuk dan besarnya sama persis dengan bulan, hanya saja bayangan ini berwarna hitam.

“Apa itu?” tanyaku sembari menunjuk bayangan tersebut.

# # # # #

CHAPTER SEVEN – Between Friendship, Family, Love, and Destiny

“Apa itu?” sebelas pasang mata itu mengikuti arah tunjuk Jongdae.

“Itu, planet tempat kita berasal.” Ujar Kris singkat dengan suara besarnya. “Gerhana yang dimaksud adalah, ketika bayangan planet EXO menutupi sinar matahari disiang hari dan menutupi sinar bulan dimalam harinya. Dan, selama sehari itu, bumi akan hancur perlahan.”

“Planet EXO mempunyai kekuatan yang sangat hebat, planet itu mampu membuat bumi hancur hanya dengan lewat disamping bumi.”

“Planet EXO tidak mempunyai lintasan, ia selalu berpindah-pindah tanpa menabrak planet lainnya. Dan sekarang planet itu semakin dekat.” Jelas Joonmyun sambil terus memandang bulan.

“Apa hyung bisa lihat? Bayangannya bergerak dengan sangaat pelan.” Seru Kai yang nampak senang dengan kehebatan bayangan itu.

“Apa semua orang dibumi bisa melihatnya?” tanya Minseok pada Baekhyun yang duduk disampingnya.

“Tidak. Hanya kita yang bisa, dan hanya dari atas sini kita bisa melihatnya.”

“Dulu waktu kita menemukannya pertama kali, bayangannya masih berada disana.” Chanyeol menunjuk ke arah belakang, sejajar dengan bulan.

“Lalu apa yang akan kita lakukan? Mati sia-sia dengan manusia-manusia bodoh itu?” tanya Sehun dengan nada ketus. Sifatnya memang seperti itu.

“Aku juga tidak tau.” Jawab Kris santai. “Apapun yang kita pilih, hasilnya sama saja.”

“Sebaiknya kita cepat-cepat selamatkan pohon itu lalu hidup di planet EXO, atau kita dilahirkan kembali disini. Daripada mati sia-sia.”

“Terlalu banyak hal yang berkesan disini, Sehun-ah. Kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja.”

“Apalagi aku dan Jongdae punya dongsaeng. Rasanya berat kalau herus melupakan Sunghee.”

“Cih! Berkesan? Kalian semua benar-benar orang yang melankolis, hyungdeul! Payah!” lalu dalam kecepatan yang diluar akal sehat, Sehun ditarik ke belakang lalu mendapatkan bogem mentah dipipi kirinya.

“Do Kyungsoo!” seru Kris sembari melerai keduanya. Ia menarik Kyungsoo sedangkan Chanyeol merangkul Sehun yang hendak membalas.

“Tutup mulutmu, bocah!” seru Kyungsoo yang amat kesal itu. “Hidupmu itu datar-datar saja, makanya tidak berkesan! Kau hanya lengket dengan Luhan hyung, menghabiskan waktu ditempat-tempat sepi, bermalas-malasan, tidak mau bergaul, kaulah yang akan mati sia-sia!” semprot Kyungsoo emosi. Yang dimarahi hanya bisa menatapnya dengan datar.

“Cukup! Jangan ada pertengkaran lagi atau kalian berdua kubuat mati sia-sia!” seru Kris tegas membuat semuanya tegang. “Terutama kau, Oh Sehun, jaga ucapanmu!”

“Ck!” Sehun melepaskan rangkulan Chanyeol dengan kasar lalu terjun ke bawah dan mendarat dengan mulus ditrotoar.

“Kuharap tidak ada lagi yang bersikap kekanak-kanakkan seperti Sehun.” Ujar Luhan seraya bangkit dari duduknya. “Aku pergi dulu.” Ia menggerakkan tangannya lalu pintu atap tiba-tiba terbuka lebar, iapun turun melalui jalur dalam gedung.

“Ah, hyung! Kalian belum mengenal Kyungsoo hyung, Tao hyung, Lay hyung, dan Kris hyung kan?” tanya Kai pada Minseok dan Jongdae untuk memperbaiki suasana.

# # # # #

“Mau apa kau kemari?” Yoonji menatapku tajam. Ia datang dalam keadaan masih berbalut seragam sekolah dan menggendong tas berwarna merah.

“Aku mau minta satu hal padamu.” Jawabnya dengan nada dingin. Aku menaikkan sebelah alisku heran, kenapa ia jadi dingin sekali?

“Kalau kau meminta aku menyembuhkan pohon itu, jangan harap.”

“Bisa antarkan aku ke tempat Xi Luhan berada sekarang?” aku terkesiap. Untuk apa dia menanyakan Luhan hyung?

“Kau mengenalnya?” tanyaku.

“Kuharap begitu, tapi sayangnya, tidak.”

“Lalu untuk apa kau mencarinya?” tanyaku cepat. Entah kenapa aku sedikit kesal ketika ia berkata mencari Luhan hyung.

“Aku hanya ingin berkenalan dengannya, itu saja.” Yeoja itu masih ngotot dengan sikap dinginnya.

“Kau mau tau Luhan hyung dimana?” Yoonji mengangguk mantap. Akupun menyambar kunci mobil dimeja kasir dan menggandeng tangannya keluar cafe. Iapun tidak menolak. Kudorong ia masuk ke mobilku, lalu aku menyusul masuk.

Baru saja aku hendak menginjak gas, seseorang mengetuk-ngetuk jendela disamping Yoonji duduk. Kaca pun terpaksa kuturunkan. “Ya! Mau kemaa kalian berdua? Kalian sudah berbaikan?” rupanya Chanyeol. Cih, apa-apaan namja itu?

“Aku mau membawanya ke suatu tempat dan itu bukan urusanmu.” Jawabku tanpa menatap wajahnya.

“Aku ikut!” aku tersentak mendengar seruan Chanyeol.

“Tapi, oppa–“

“Pokoknya aku harus ikut!” aku menghela nafas lalu mengisyaratkannya untuk duduk dijok belakang. Setelah ia masuk ke mobil, akupun melajukan mobilku perlahan.

Sepanjang perjalanan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami. Aku melirik Chanyeol dari spion, ia nampak melamun dengan tatapan mengarah pada Yoonji.

“Chanyeol-ah.”

“Wae, hyung?” ia terlihat kaget.

“Kalian ada hubungan apa?” tanyaku membuat keduanya tersentak.

“M–mwo? Apa maksudmu, hyung?” tanya Chanyeol gelagapan.

“Jujur saja, kalian ada hubungan kan? Kalau tidak, untuk apa kau memaksa ikut dengan kami?”

“I –itu, aku takut terjadi masalah baru diantara kalian!” elak Chanyeol berusaha menyembunyikan ke gugupannya. Kena kau, Park Chanyeol.

“Kami tidak ada hubungan apa-apa! Iya kan, oppa?” seru Yoonji meminta persetujuan. Aku hanya tersenyum sinis melihat kegugupan mereka.

“Hmm, kalau begitu, aku ada peluang kan?”

“Mwo?”

“Aku menyukaimu, Lee Yoonji.” Ujarku dengan nada seramah mungkin. Bisa kulihat dari kaca spion, Chanyeol membulatkan matanya kaget.

“A–ap–“

“Sudah sampai!” aku menghentikan mobilku dipinggir jalan.

# # # # #

Yoonji memandang gedung apartemen dihadapannya dengan kening berkerut. Perasaannya campur aduk karena pernyataan Joonmyun tadi.

“Untuk apa kita ke apartemenmu, hyung?” tanya Chanyeol yang bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa tadi.

“Luhan hyung kan ada di apartemenku. Ayo masuk.” Mereka bertiga memasuki gedung apartemen tersebut dan naik ke lantai 3.

“Lho, tidak ada?” seru Joonmyun ketika mereka sudah berada didalam kamar apartemen Joonmyun. Apartemen itu bersih dan kosong, tidak ada siapa-siapa.

“Memangnya untuk apa kau ingin menemui Luhan hyung?”

“Aku hanya ingin berkenalan, itu saja. Tidak boleh?”

“Luhan hyung susah ditemui, kau tau? Mungkin sekarang sedang jalan-jalan dengan Sehun.” Ujar Chanyeol membuat Yoonji langsung tidak bersemangat. Padahal dia ingin sekali bertemu dengan Luhan.

“Mencariku?” mereka bertiga berbalik dan mendapati Luhan berdiri di ambang pintu dengan Sehun dibelakangnya yang sedang meminum Bubble Tea. Mulut Sehun terbuka ketika melihat Yoonji dihadapannya.

“Neo? Sedang apa kau disini?” tanyanya dengan wajah polos.

“Luhan-ssi?” tanya gadis itu tanpa memedulikan pertanyaan Sehun. Luhan mengangguk ragu disampingnya. “Annyeong haseyo, naneun Lee Yoonji imnida.”

“Kau pasti gadis yang diceritakan oleh yang lain. Salam kenal. Xi Luhan imnida.” Luhan mengulurkan tangannya dan menjabat tangan gadis itu. Joonmyun dan Chanyeol hanya memerhatikan mereka tanpa ekspresi.

“Sekarang sudah kenal kan?” tanya Joonmyun membuat gadis itu tersentak.

“Memangnya ada keperluan apa dia mencariku, Joonmyun-ah?”

“Dia hanya ingin berkenalan denganmu.”

“Anni, tidak hanya berkenalan!” elak Yoonji dengan lantang membuat semuanya terperajat. “Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu, Luhan-ssi.”

“Jika mengenai hal itu lagi aku tidak akan mengizinkanmu, Lee Yoonji.” Seru Joonmyun tajam.

“Mengenai apa? Kau galak sekali pada yeoja, Joonmyun-ah. Pantas saja kau belum menggandeng seorang pun saat ini.” Gerutu Luhan membuat Sehun dan Chanyeol tidak bisa menahan tawa mereka.

Luhan menoleh pada Yoonji lalu tersenyum ramah. “Ayo kita ke atap apartemen ini, lebih leluasa berbicara disana daripada disini.” Yoonji mengangguk lalu mengikuti langkah Luhan keluar apartemen Joonmyun.

Sesampainya di atap gedung apartemen Joonmyun, Yoonji langsung menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Udara di atas memang lebih enak daripada dibawah. Gadis itu menoleh ke arah Luhan yang mendudukkan dirinya dipinggir atap. Rambutnya yang tertiup angin membuat pria itu nampak memukau dimata Yoonji.

“Jangan menatapku dengan tampang seperti itu, aku tau aku tampan.” Serunya narsis membuat Yoonji ingin melempar sepatunya saat itu juga. “Duduklah disini.” Ia menepuk tempat disebelahnya. Gadis itupun duduk.

“Bahasa Korea-mu sangat bagus, Luhan-ssi.”

“Tidak usah basa-basi, jadi apa yang mau kau bicarakan?” Yoonji merasa mulutnya terkunci rapat. Pria disampingnya ini memang to the point.

“Err, itu…”

“Pasti kau ingin membujukku terlebih dahulu kan?” benar-benar to the point.

“A–anniyo! Aku ingin menanyakan hal lain!” seru Yoonji tiba-tiba membuat Luhan menoleh padanya. “Apa aku boleh tau, alasan kalian tidak ingin menyelamatkan Pohon Kehidupan?”

Luhan tersenyum tipis. “Alasan kami?”

Luhan terdiam sesaat membuat Yoonji menatapnya penuh dengan rasa penasaran. “Jika kami menyelamatkan Pohon Kehidupan, maka kami akan lenyap dari ingatan kalian dan dunia ini.” Yoonji membungkam mulutnya kaget. Ia tidak menyangka kalau menyelamatkan Pohon Kehidupan pun butuh pengorbanan.

“Luhan-ssi…”

“Kami ingin, kami sangat ingin menyelamatkan kalian, tapi apa yang bisa kami lakukan?”

# # # # #

Aku mendekati sosok yeoja itu perlahan, berusaha untuk tidak menyadarkannya. “Dor!” ia terlonjak kaget ketika aku berseru sambil menepuk kedua bahunya. Iapun refleks menoleh.

“Oppa! Kenapa mengagetkanku?” aku hanya tertawa lalu duduk disampingnya.

“Salah sendiri melamun!” Sunghee memukul bahuku dengan sekuat tenaga membuat tawaku berubah menjadi ringisan.

“Ah, mianhae.” Serunya sembari ikut mengusap-ngusap lenganku. Ekspresinya yang nampak bodoh membuatku ingin mencubit pipinya saat itu juga.

“Sedang melamunkan apa sih?” tanyaku penasaran. Bukannya menjawab ia malah menghela nafas lalu menggeleng.

“Anniyo, hanya…sedang memikirkan sesuatu.”

“Mwoya?”

“Anniyo, bukan hal yang penting! Haha! Oppa belum pulang?” ia mengalihkan pembicaraan. Baiklah, sepertinya itu privasi baginya.

“Kau sendiri belum pulang bagaimana aku bisa pulang?” godaku membuat ia tertunduk malu. Ia memukul lenganku pelan membuatku tertawa. “Wae? Kenapa menunduk?” godaku lagi.

“Oppa!” kali ini ia menampar bahuku keras membuat tawaku makin keras. Ketika ia hendak memukulku lagi, aku menahan tangannya.

“Ayo pulang bersama!” tanpa menunggu persetujuan darinya aku langsung menariknya keluar area sekolah.

Baru kusadari langit berubah mendung. Sangat mendung seperti akan terjadi hujan besar. Matahari sudah terhalang oleh awan. “Oppa, kenapa jalanmu melambat?”

Aku menoleh pada Sunghee yang berada beberapa langkah didepanku. Aku tidak merasa memperlambat langkahku? Ada apa denganku?

“M–mianhae, kajja! Sepertinya sebentar lagi turun hujan.” Aku berlari menyusul Sunghee lalu menggandeng tangannya. Aku bukan berjalan lagi, aku berlari. Seperti ada yang kutakutkan disini.

“Oppa, apa kita harus berlari?” tanya Sunghee yang berusaha mensejajarkan langkahnya denganku. Aku tidak memedulikannya dan terus berlari sambil menggandeng tangannya.

Tidak terasa kami sudah cukup lama berlari. Rintik-rintik hujan pun mulai turun walaupun kecil. Aku merasa diriku capek sekali, padahal baru berlari segitu saja.

“Oppa gwaenchana?!” aku tersentak melihat Sunghee yang sudah berlari disampingku. “Wajahmu pucat.”

“Jinjjayeo?” tanyaku panik. Aku merasakan tubuhku lemas. Aigoo, apa yang terjadi padaku?

“Sebaiknya kita berteduh dulu.” Sunghee menarikku masuk ke sebuah cafe bernuasa kayu lalu duduk disalah satu bangku. Ia menatap wajahku cemas sementara aku merasa tubuhku semakin melemah. “Oppa, wajahmu semakin pucat.”

Aigoo, aku baru ingat sekarang!

Jika sumber cahaya utama menghilang dari pandanganku, aku akan melemah. Karena sumber cahaya itulah yang memberiku energi. Cahaya matahari dan cahaya bulan.

Aku butuh api. Aku butuh Chanyeol. Setidaknya dengan melihat cahaya api aku bisa mendapatkan sedikit.

Jika energiku makin menipis, aku akan buta terhadap orang-orang disekitarku. Aku akan hanya mengenal 12 orang itu. Aku harus mencari Chanyeol!

“S–Sunghee-ah…” aku menaruh kepalaku ke meja membuat Sunghee semakin cemas. “B–bisa tolong…hub–bungi Chan–Chanyeol?”

“Chanyeol oppa? Jamkkanman, oppa. Aku akan segera menghubunginya.” Bisa kulihat Sunghee merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel, lalu menelepon Chanyeol. “Chanyeol oppa?….Bisakah kau kemari? Baekhyun oppa terlihat sangat pucat……di cafe…….”

Setelah itu aku tidak dapat mendengar Sunghee lagi, namun aku masih sadar. Bisa kulihat hujan semakin deras. Haha, jika ini adalah anugrah untuk Joonmyun hyung, maka ini adalah bencana bagiku. Menyedihkan…

# # # # #

Aku menatap cemas ke arah Baekhyun oppa yang tatapannya kosong, dan sesekali melirik pintu cafe. Apa yang terjadi dengan Baekhyun oppa? Aku tidak mengerti.

Klining~

Aku menoleh dan melihat Chanyeol oppa dengan keadaan basah kuyup. Ia langsung menghampiri mejaku dan mengguncang-guncang tubuh Baekhyun. “Baekhyunie, bertahanlah!”

Klining~

Aku menoleh lagi dan mendapati Kris masuk ke cafe lalu menghampiri kami. “Bawa dia ke mobil Joonmyun, jangan kau lakukan disini Park Chanyeol.” Ujar Kris lirih namun tajam. Chanyeol memandangnya sejenak lalu mengangguk mantap. Iapun menggotong tubuh Baekhyun oppa–yang entah masih sadar atau tidak–keluar cafe.

Kris menoleh padaku lalu tersenyum. “Kajja! Kau juga harus ikut.” Aku mengangguk lalu mengikuti langkahnya keluar cafe. Tidak lama kemudian kami sudah berada didalam mobil. Aku duduk dijok belakang dengan Baekhyun oppa, Chanyeol oppa duduk disebelah Kris yang mengemudi.

“Maaf membuatmu panik, Sunghee-ya.” Seru Chanyeol oppa memecah keheningan.

“Sebenarnya apa yang terjadi pada Baekhyun oppa?” akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari mulutku. Mereka terdiam sejenak, seperti enggan menjawab pertanyaanku. “Kumohon beritahu aku.” Ujarku lirih.

“Dia hanya mengalami kehabisan energi akibat kehilangan sumber cahaya. Aku menjelaskannya pun kau tidak akan mengerti. Jadi jangan khawatir, Baekhyun akan baik-baik saja.” Ujar Kris tanpa melepas konsentrasinya mengemudi.

Aku menunduk menatap wajah Baekhyun oppa dipangkuanku. Ia terlihat seperti mayat hidup sekarang. Tubuhnya menggigil kedinginan membuatku ingin menangis.

Sebenarnya apa yang terjadi?

# # # # #

“Baekhyunie…”

“Byun Baekhyun ireona.”

“Baekki-ya, buka matamu dan lihat ini.”

Dengan susah payah aku membuka kedua mataku. Samar-samar aku melihat sebuah cahaya berwarna oranye yang berkobar. Api, itu api. Chanyeol.

Perlahan-lahan keadaanku membaik, Chanyeol berusaha menyalakan api yang cukup besar untukku agar aku bisa menyerap energinya. “Setelah kau bisa berjalan, kau bisa keluar. Bulan malam ini akan terang sekali.”

Itu Chanyeol yang berbicara. Dia benar-benar perhatian padaku. Aku tersenyum tipis menandakan aku sudah cukup baikan.

“Oppa!” aku melirikkan mataku dan mendapati Sunghee berjalan mendekatiku dengan sebuah nampan. “Kau sudah sadar?”

Aku hanya tersenyum tipis, aku harus menghemat energi sebelum mendapatkan energi dari cahaya bulan.

“Syukurlah. Wajahmu pucat sekali tadi.” Seru Sunghee sembari bernafas lega. Akupun tersenyum jahil.

“Kau mengkhawatirkanku?”

Sunghee hanya bisa tertunduk malu mendengar pertanyaanku. Aku terkekeh pelan lalu berusaha untuk duduk. Chanyeol yang menyadarinya pun langsung membantuku.

“Mmm, apa itu untukku?” tanyaku sambil melirik nampan yang ada dipangkuan Sunghee. Diatas nampan itu terdapat semangkuk bubur yang kelihatannya sangat lezat. Atau mungkin aku yang lapar? Molla.

“Ne. Oppa makan dulu sebelum keluar, ne?”

“Aku keluar.” Ucap Chanyeol datar sembari berjalan ke arah pintu. Haha, aku tau kau iri Park Chanyeol.

“Igeo.” Aku mengerucutkan bibirku ketika Sunghee menyodorkan mangkuk tersebut padaku. “Wae?” tanyanya bingung.

“Kau tega menyuruhku makan sendiri dengan kondisi seperti ini?” tanyaku dengan wajah memelas. Sunghee menghela nafas lalu meraih sendok.

“Baiklah, aku suapi.”

# # # # #

“Sebaiknya aku pulang saja, sudah malam.”

“Aku antar.”

“Andwae. Oppa belum pulih, aku bisa naik bus.”

“Andwae, pokoknya aku antar!” aku tersentak ketika Baekhyun oppa sedikit membentakku. Baekhyun oppa menyadarinya dan terlihat salah tingkah. “Aku… aku hanya ingin memastikan dirimu selamat sampai rumah.”

“Tidak apa-apa, Sunghee-ya. Lagipula Baekhyun bisa sekalian mengambil energi dari bulan selagi mengantarmu.” Seru Chanyeol oppa dari dapur. Aku menghela nafas lalu mengangguk.

“Kajja!” Baekhyun oppa menarik tanganku keluar dari apartemennya dan Chanyeol. Ia langsung terlihat sangat segar begitu berada di udara terbuka. Hhh, syukurlah.

Sesekali ia tersenyum padaku sambil terus menggandeng tanganku membuatku salah tingkah. Aigoo, oppa, apa kau tidak menyadari bahwa senyummu itu bisa membuatku pingsan?

“Bulannya terang sekali.” Gumam Baekhyun oppa sembari memandang bulan dari halte bus. Akupun ikut memandang benda bulat itu, sangat cantik.

“Opp–“ mataku terpaku melihat pemandangan yang sangat indah. Ketika aku menoleh, aku mendapati Baekhyun oppa sedang menatap lembut ke arah bulan tersebut, dan lama kelamaan tubuhnya terlihat bercahaya. Ada yang salah dengan mataku atau ini memang kenyataan?

Tanpa sadar aku terlarut ke dalamnya. Ia masih menatap ke arah bulan dan tubuhnya semakin bersinar. Aigoo, dia benar-benar pantas mendapatkan kemampuan itu, sangat-sangat cocok dengan parasnya.

Akupun tersadar dari lamunanku. Ketika aku menoleh ke arah bulan, aku langsung dihadapkan dengan cahaya yang sangat menyakitkan. Terlalu terang, dan tanpa sadar aku berteriak.

“KYAAAAAAAAAAAA!!!!” lalu semuanya, gelap.

# # # # #

Yoonji berjalan gontai ke arah rumahnya. Sejak dari apartemen Joonmyun, ia merasa kehilangan semangat.

“Kehilangan mereka? Kehilangan Joonmyun, Chanyeol…” gumamnya lesu. Tiba-tiba tubuhnya menegak. “Tunggu, kenapa aku memikirkan mereka? Aish, kau sudah gila, Yoonji-ya.”

“Lee Yoonji!” ia berbalik dan mendapati Jill tengah tersenyum padanya.

“Nuguya?” tanya Yoonji dengan bodohnya.

“Ya! Kau tidak mengingatku? Keterlaluan!” Jill menjitak kepala Yoonji membuat gadis itu mengaduh. “Aku Jill! Tidak ingat?!”

“Aaaah, Jill! Annyeong haseyo!” Yoonji tiba-tiba ingat membuat Jill hanya bisa menghela nafas.

“Kau sudah menemui Luhan?”

“Sudah.”

“Lalu?”

“Molla.”

“Molla?” Yoonji menghela nafas lalu melanjutkan langkahnya. Jill pun mengikutinya dari belakang. “Kenapa kau tidak bilang kalau mereka harus berkorban demi keselamatan manusia?” tanya Yoonji lesu.

“Semua butuh pengorbanan, Lee Yoonji.”

“Tapi kasihan mereka, lenyap dari muka bumi bukankah itu hal yang sangat menyakitkan?”

“Itu sudah ketentuannya.”

“Apa tidak bisa menghapus ketentuan itu?”

“Mereka dilahirkan dari Pohon Kehidupan. Mereka hidup untuk Pohon Kehidupan. Jika Pohon Kehidupan membutuhkan mereka, maka mereka harus datang untuk Pohon Kehidupan. Karena mereka sebenarnya telah meminjam nyawa dari Pohon Kehidupan, jika meminjam harus dikembalikan bukan?”

“Me–meminjam?”

“Pohon Kehidupan memiliki nyawa simpanan didalamnya. Jumlah nyawa simpanan itu aku tidak mengetahui jumlahnya. Daripada dianggurkan, lebih baik dipinjamkan. Dengan syarat mereka harus mengembalikannya ketika sang Pohon memintanya kembali. Istilah meminjam dan dipinjamkan itu menjadi istilah Pelindung atau Penyelamat Pohon Kehidupan. Pada dasarnya mereka hanya meminjam nyawa Pohon Kehidupan.”

“Jika akan memintanya kembali, untuk apa dipinjamkan? Itu terlalu kejam!” seru Yoonji mulai emosi. Jill hanya tersenyum simpul dan mendongak ke arah bulan.

“Para pendahulu mereka tidak mempermasalahkan pengembalian nyawa, sudah beberapa kali bumi terlihat akan hancur, namun semua kembali menjadi normal karena para pendahulu mereka dengan senang hati mengembalikan nyawanya. Tapi, generasi sekarang, mereka berduabelas itu, sangat-sangat ajaib dan menyusahkan.” Gerutu Jill kesal tanpa sadar. Yoonji mengerutkan keningnya bingung.

“Apa maksudmu?”

“Para penyelamat sang Pohon tidak hanya mereka, sebelum mereka, ada generasi-generasi penyelamat lainnya. Dan generasi-generasi terdahulu tidak susah untuk diminta mengembalikan nyawanya. Jika sang Pohon ingin memulihkan dirinya, ia harus melengkapi semua nyawanya, termasuk nyawa-nyawa simpanannya. Jika tidak lengkap, ia tidak akan pulih.”

“Aaaaaaaaaa!!! Aku tidak mengerti! Cukup penjelasannya aku mengantuk!” seru Yoonji frustasi lalu berjalan masuk ke pekarangan rumahnya. Jill hanya memerhatikannya dari balik pagar.

“Kau akan mengerti Yoonji-ya. Kau harus mengerti.”

# # # # #

Aku menekan-nekan bel apatemen Kyungsoo dengan kasar tanpa menurunkan Sunghee dari punggungku.

“YA, KYUNGSOO-YA! CEPAT KELUAR!” seruku sambil menggedor-gedor pintu. Pintu pun terbuka dan muncul Kyungsoo dengan wajah gusarnya.

“Wae?! Ini sudah malam!”

“SIAPA PEDULI, KAU TEGA MEMBIARKAN SUNGHEE SEKARAT?? LAY HYUNG MANA?!” aku menerobos masuk sambil membenarkan posisi Sunghee digendonganku. Aku mendapati Lay hyung sedang menikmati secangkir teh di pantry.

“Wae?” tanyanya santai.

“Hyuuung, tolong aku, jebal…” ucapku dengan nada memelas. Aku masih belum menurunkan Sunghee yang bersandar lemah dipunggungku.

“Untuk apa aku menolong orang bodoh sepertimu. Bukankah sudah kuperingatkan seribu kali kalau sedang mentransfer energi jangan bersama siapapun!” seru Lay hyung kesal. Aku tau, ini salahku.

Dengan gerakan cepat Lay hyung merebut Sunghee dan membaringkannya di sofa. “Aku menolongnya bukan karena permintaanmu, tapi karena kesalahanmu, ppabo.”

Iya, aku bodoh. Sangat-sangat bodoh.

Ketika sedang menunggu bus, aku tergiur akan kecerahan bulan. Ingin sekali meresap energinya saat itu juga. Sampai-sampai aku lupa kalau aku masih bersama Sunghee.

Ketika bulan sedang mentransfer energi ia akan terlihat sangat menyilaukan dan bisa membuat manusia biasa buta.

Aku memerhatikan Lay hyung yang sedang mengayun-ayunkan tangannya didepan wajah Sunghee, lalu terlihat seperti menarik sesuatu dan keluarlah dua buah bola cahaya dari kedua mata Sunghee. Iapun memusnahkan bola itu dan berbalik menghadapku.

“Kau menangis?” seru Lay terkejut. Aku baru sadar air mataku mengalir sejak tadi. Akupun menghapusnya. “Kau sudah bertindak terlalu jauh, Baekhyunie. Hentikan.”

“Aku menyayanginya, hyung.”

“Kalau kau menyayanginya jauhi dia.” Seru Lay hyung tajam.

“Hajiman –“

“Kita harus tetap mengembalikan nyawa ini pada pemiliknya, Byun Baekhyun.”

# To Be Continued #

AAAAAAAAAAAA!!!!! JEONGMAL JEONGMAL MIANHAE BUAT SEMUA READERS SETIA ANONYMOUS YANG PASTI KECEWA BERAT SAMA AKU T.T

Tipong terlalu sering nge-RP jadi males ngetik FF padahal kalian udah nungguin T.T

Dan sekarang ceritanya jadi melenceng gini karena file yg di hape lama ilang gara2 hape rusak -,-

Otte? Terlalu pendek yaaa? Ini otak juga dipaksa mikir biar ga harkosin (?) reader L

TOLONG KOMEN TENTANG ‘PENANTIAN KALIAN’ TERHADAP FF INI YA, JEONGMAL MIANHAE SEKALI LAGI *bow u,u

Advertisements

48 responses to “ANONYMOUS (Chapter Seven)

  1. duhh eonn aku ngebut loh baca ff ini soalnya aku baru tau ff ini terus pas baca teasernya kayaknya seru akhirnya bacanya cepet dehh, dan ternyata daebakk! ya walaupun agak bingung lagi pake pov siapa tapi gak masalah kok.
    lanjutannya cepet ya eonni!^^

  2. Pingback: Anonymous [Chapter Nine] | FFindo·

  3. Pingback: Anonymous [Chapter Ten] | FFindo·

  4. author, mian ya saya comment nya bacanya di tempat yg beda terus. jujur saya juga baru sadar hehe. pokonya ini ff daebak. dan ‘heat’ nya makin kerasa banget nih.. tegang, sedih, semuanya lah author.. keren!! jjang author jjang!

  5. Pingback: EXO Fanfiction Recommendation | ByunBaek98Hyun (๑╹っ╹๑)·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s