Heart of Possession – Final Part

Altrisesilver and Chorionstar’s Storyline

Main Cast: Lee Sungmin, Ahn Hyemi (OC), Go Namhee (OC) | Genre: Horror, Romance | Rating: NC 15 | Length: Two Shots

Disclaimer: Lee Sungmin bukan milik kami. Plot sepenuhnya dikembangkan oleh kami dan poster adalah hasil kerja Altrisesilver. Ahn Hyemi, Go Namhee, dan keseluruhan cerita ini adalah fiksional.Perhatian: Tidak ada toleransi untuk plagiatisme. Dilarang keras memposting ulang fic ini dimana pun tanpa izin dari author. Hargai author sebagai pemilik cerita.

Read more Chorionstar stories here pw: starchorion and Altrisesilver stories here.

First Possession

Second Possession

“Bukakan pintunya! Demi apapun, buka!” teriak Sungmin, semakin dikuasai oleh panik dan takut

Hyemi mencoba menenangkan dirinya saat menatap tulisan penuh darah bernada ancaman itu. Dia tahu betul satu-satunya orang yang mungkin melakukan ini padanya. Go Namhee. Micha menatap Hyemi prihatin dan mencoba menenangkan gadis itu.

“Aku akan melaporkan hal ini pada pembimbing,” ujar Micha sambil beranjak dari tempatnya. Namun belum sempat langkah Micha bergeser, Hyemi menahan lengan Micha dan menatap seniornya dengan tatapan memohon.

“Jangan Unnie, aku tidak mau kampus menjadi heboh karena hal sepele ini,” cegah Hyemi.

Micha memandang Hyemi tidak mengerti.

“Ini bukan masalah sepele Hyemi-ya, aku akan tetap melaporkannya,” ujar Micha keberatan dengan permintaan Hyemi.

“Tidak – tolonglah, kali ini saja unnie… jangan,” Hyemi menarik nafasnya sebelum melanjutkan, “Aku hanya mau tulisan ini dihapus secepatnya sebelum ada orang lain yang tahu.”

Hyemi mengeluarkan dompetnya lalu menyerahkan beberapa lembar uang kepada Micha.

“Cat ulang saja unnie, tolonglah… aku harus ke kelas sekarang,” ujar Hyemi dengan suara bergetar. Micha tidak sempat menghentikan Hyemi saat gadis itu memaksakan lembaran uang itu ke tangannya dan bergegas pergi.

***

Hyemi berulang kali memusatkan perhatiannya pada mata kuliah yang sedang dilakukannya namun tulisan bernada ancaman tadi masih terus berputar diotaknya. Sepanjang mata kuliah kepala Hyemi hanya bisa tertunduk. Kalimat-kalimat penjelasan dari dosen pun tidak membuatnya menghentikan pikirannya dari bayangan Sungmin dan Namhee.

“Apa kau baik-baik saja Hyemi-ya?” tanya seorang teman sekelasnya saat mata kuliah mereka usai. Hyemi hanya tersenyum sekilas lalu menganggukkan kepalanya sebelum meninggalkan kelasnya.

Hyemi tahu persis perubahan pada dirinya disadari semua orang. Dia bukan tipe gadis pendiam, dia cenderung bawel dan ceria, dan masalah Namhee inilah yang membuat gadis itu mengalami perubahan. Langkah gontai gadis itu kemudian berhenti di depan pintu auditorium. Di dorongnya pintu auditorium hingga terbuka lalu berjalan menuju meja tempatnya biasa mengerjakan kegiatannya sambil menghiraukan tatapan beberapa staff belakang panggung yang memandangnya prihatin. Hyemi akhirnya bisa larut dalam tugasnya hingga tidak menyadari seseorang tengah berjalan menuju kearahnya sambil memegang sebuah kardus besar.

“Hyemi, ini untukmu.”

Kepala Hyemi akhirnya berpindah dari layar laptop dan memandang seseorang yang ternyata adalah teman satu team-nya.

“Apa ini, Yoo?” tanya Hyemi penasaran sambil menatap kardus besar di tangan temannya.

Yoo mengangkat bahunya, “Aku menemukan itu di depan pintu. Ada namamu di atasnya jadi aku rasa itu memang untukmu,” ucapnya sambil menunjuk kertas bertuliskan nama Hyemi diatasnya.

Hyemi menatap sekilas kertas putih bertuliskan namanya diatas kardus besar itu. Walaupun ragu Hyemi tetap mengambilnya dari tangan Yoo. Hyemi menaruh kardus besar itu di atas mejanya. Entah seberapa lama dia pandangi benda tersebut sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka dan melihat isinya. Hyemi mendesah ringan dan mengumpulkan semua keberaniannya untuk membuka lakban yang menutup erat pada tutupnya.

Bau yang menyengat tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam hidungnya saat salah satu penutupnya terbuka. Kali ini Hyemi menahan napas, karena tidak ingin mencium bau menusuk yang keluar dari kardus itu dan karena perasaannya tidak tenang. Hyemi merasa keberaniannya yang dikumpulkannya tadi tiba-tiba lari entah kemana. Hyemi memejamkan kedua matanya saat membuka tutup yang belum terbuka. Bau menyengat semakin tercium dihidungnya. Perlahan gadis itu membuka kedua matanya dan mengintip benda yang ada didalam kardus tersebut.

“Ah!” Hyemi memekik dan jatuh terduduk ke belakang menjauhi kardus tersebut. Butuh waktu beberapa saat sampai gadis itu bisa mengontrol kembali deru napasnya. Beberapa staff menghampiri gadis itu dengan panik.

“Ada apa Hyemi-ya?” tanya Micha yang berjongkok di hadapan Hyemi sambil mencoba menenangkan Hyemi. Namun gadis yang mendapatkan pertanyaan hanya bisa menggeleng ketakutan.

“Micha-ssi, lihat ini,” ucap salah seorang staff sambil mengangkat kardus dari atas meja Hyemi dan menunjukkan isinya kepada Micha yang sudah berdiri.

Micha menutup hidungnya saat bau menyengat tercium dari dalam kardus tersebut. “Apa-apaan ini!” pekiknya saat melihat bangkai tikus dengan sebilah pisau masih tertancap di perut binatang tak berdosa itu terbujur kaku di dalam kardus.

“Cepat buang,” perintah Micha pada salah satu temannya kemudian kembali menghampiri Hyemi. Wajah gadis itu berubah semakin pucat. Micha mengelus rambut Hyemi lembut seakan tahu apa yang dirasakan Hyemi saat ini. Mendapatkan dua teror dalam satu hari pasti membuat gadis itu shock.

“Lebih baik kau beristirahat di rumah saja,” ujar Micha prihatin.

Hyemi menatap Micha dengan ragu, sepertinya ia merasa tidak enak meninggalkan pekerjaannya.

“Tidak apa-apa, kau di sini pun tidak akan bisa berkonsentrasi. Pulanglah, aku akan mengatakan kau sakit pada pembimbing,” bujuk Micha lagi seakan tahu yang dipikirkan gadis di hadapannya itu.

Hyemi menganggukkan kepalanya lemah kemudian berdiri dan mengemasi barang-barangnya.

“Hati-hati di jalan,” ujar Micha lagi sebelum Hyemi meninggalkan auditorium.

“Apa yang sedang terjadi padanya?” gumam Micha sebelum kembali memutuskan meninggalkan tempat Hyemi.

***

Sungmin menguap lebar sepanjang koridor menuju ruang auditorium, akan ada latihan satu kali lagi sebelum dia diperbolehkan pulang. Hari ini mungkin menjadi hari yang paling melelahkan, apalagi ia belum bertemu Hyemi sepanjang hari ini. Senyumnya yang terkembang tadi kemudian hilang saat melihat meja Hyemi kosong dan rapi. Dia kemudian mencari gadisnya itu di belakang panggung dan di beberapa tempat kemungkinan Hyemi akan mengunjunginya. Namun di semua tempat tersebut Sungmin tidak dapat menemukan kekasihnya.

“Yoo, kau melihat Hyemi?” tanya Sungmin akhirnya pada salah satu staff yang berjalan melewatinya. Yoo yang membawa beberapa properti menghentikan langkahnya dan menatap Sungmin dengan wajah takut.

“Hmm Hyemi ya?” gumamnya.

Sungmin yang menangkap keanehan dari nada bicara Yoo menghampiri gadis itu.

“Ada apa? Dimana dia? Apa yang terjadi padanya?” Sungmin memberondong pertanyaan pada Yoo membuat gadis itu menjadi semakin kikuk.

“Dia tadi pulang duluan,” jawab Yoo.

Sungmin menatap Yoo heran, “Apa yang terjadi dengannya?”

“Ming,” suara Micha menyelamatkan Yoo dari pertanyaan Sungmin. Gadis itu kemudian meninggalkan Sungmin dan Micha.

“Apa yang terjadi dengan Hyemi?” Sungmin langsung mengintrogasi Micha. Sungmin merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada kekasihnya.

“Aku justru ingin menanyakan hal tersebut padamu. Tadi pagi… ada tulisan berdarah berisi ancaman untuknya. Dan entah bagaimana, seseorang mengirimkan kardus berisi bangkai tikus untuknya tadi siang –“

“Apa maksudmu?” Sungmin memotong kalimat Micha.

“Hyemi belum menceritakannya padamu?” tanya Micha balik.

Sungmin menggeleng, “Kalau aku tahu aku tak mungkin bertanya padamu.”

Micha menatap Sungmin kemudian menceritakan semua yang terjadi pada Hyemi hari itu. Tangan Sungmin mengepal menahan rasa emosi. Kalau saja tidak ada latihan lagi setelah ini, dia mungkin sudah pergi ke rumah Hyemi dan menenangkan gadis itu.

“Ming sudah waktunya kita latihan,” suara pelatih membuyarkan lamunan Sungmin. Namja itu kemudian dengan berat hati memasukkan ponselnya ke dalam tas karena pelatih tak pernah mengijinkan pemainnya untuk menyimpan ponsel di saku mereka. Dari kejauhan tampak sosok Namhee tersenyum sinis melihat Sungmin yang mulai meninggalkan tasnya dan bergabung dengan teman-temannya.

Dengan cepat gadis itu berjalan mendekati tempat di mana Sungmin meninggalkan tasnya. Namhee membuka resletingnya perlahan dan mulai mencari ponsel Sungmin di dalamnya. Setelah menemukannya, Namhee tersenyum licik dan mulai mengetikkan sesuatu.

“Kau pembangkang Hyemi,” gumamnya seraya menaruh kembali ponsel Sungmin ke dalam tasnya.

***

 

Hyemi yang mendekap wajahnya pada bantal besar miliknya mengangkat kepala saat mendengar ponselnya berbunyi. Sejak pulang dari kampus, Hyemi mengurung diri kamar dan mendekap wajahnya seperti itu. Ia terlihat stress setelah mendapat dua teror dari Namhee. Gadis itu mengambil ponselnya dari dalam tas yang dia letakkan disamping tubuhnya.

Hyemi, aku merindukanmu.. kenapa kau tidak terlihat di kampus? Oh ya temui aku di auditorium lama usai aku selesai latihan.. awas kalau kau sampai tidak datang^^

Begitu isi pesan yang Sungmin kirimkan untuk Hyemi. Gadis itu mengerutkan keningnya dan membaca seksama sekali lagi isi pesan tersebut, auditorium lama? Hyemi membatin di hatinya. Auditorium lama di kampusnya sudah tak pernah di pakai untuk kegiatan apapun. Apakah mungkin persiapan mereka sebegitu mendesaknya sampai tim musikal terpaksa menggunakan ruangan itu lagi? Dilihatnya jam di dinding kamarnya, pukul 6 sore, satu jam lagi Sungmin akan selesai latihan. Walau hatinya ragu Hyemi tetap memutuskan untuk menemui Sungmin, dia akui kalau keinginannya untuk bertemu dengan Sungmin jauh lebih besar dari keraguannya.

“Dan sikap manjamu kambuh di saat yang sangat tidak tepat Ming,” gumam Hyemi pada dirinya sendiri.

Akhirnya Hyemi beranjak dari tempat tidurnya kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

***

Sungmin sama sekali tidak mendengarkan ucapan pelatih sepanjang briefing yang diberikan usai latihan. Pikirannya melayang pada Hyemi, yang dia inginkan hanya pergi ke rumah Hyemi saat ini juga.

“Sungmin-ah, apa kau mendengarkan ucapanku?” suara pelatih membuyarkan lamunan Sungmin.

“T-Tentu saja,” sahut Sungmin.

Sang pelatih hanya menghela nafasnya lalu mengangguk samar mendengar jawaban Sungmin, “Baiklah. Aku sudahi saja latihan hari ini. Terimakasih semuanya,” ucapnya kemudian kerumunan aktor dan aktris di panggung membubarkan dirinya termasuk Sungmin.

Saat langkah kakinya menuju bangku penonton untuk mengambil tas, perhatiannya tertuju pada tembok besar di belakangnya. Perlahan Sungmin memfokuskan matanya ke arah tembok. Sebagian cat tembok itu terlihat tidak rata. Tulisan darah. Hanya itu yang terpikirkan oleh Sungmin begitu melihat bayang-bayang merah marun yang tidak tertutup sepenuhnya oleh cat.

“Sungmin-ah, kami pulang dulu,” ucap beberapa orang sebelum keluar dari auditorium. Sungmin hanya tersenyum kemudian berjalan mendekati tembok berisi tulisan yang di maksud Micha tadi. Tangannya meraba dinding kemudian mencium aroma dari tulisan tersebut. Bau amis darah… masih bisa tercium.

Sungmin menggelengkan kepalanya lemah. Pikirannya semakin tertuju pada Hyemi, dia kemudian kembali menuju kursi penonton dan mengambil tasnya. Dia mencari ponselnya untuk memberi kabar pada Hyemi namun suatu hal di outbox-nya mengejutkan Sungmin.

“Kapan aku mengirim pesan seperti ini pada Hyemi?” gumamnya lalu tiba-tiba pintu auditorium tertutup dengan bantingan keras dan membuat Sungmin terkejut. Awalnya Sungmin hanya mengira teman-temannya tidak sengaja membanting pintu, tapi saat dia mendengar suara ‘klik’ dari kunci pintu, Sungmin tahu dia dalam masalah besar. Secepat kilat dia berlari dan mencoba membuka pintu yang tertutup tersebut.

“Hey! Masih ada orang disini!” seru Sungmin berharap seseorang yang menguncinya mendengar suaranya dan segera membuka pintu.

“Hey!” teriaknya lagi masih terus berusaha membuka pintu setelah beberapa detik tak ada sahutan pasti dari luar.

“Bisa kau buka pintunya!” teriak Sungmin lagi tak putus asa. Dia kembali melihat isi pesan di outbox-nya, dia tidak mungkin terjebak semalaman sementara Hyemi berada di auditorium lama kampusnya. Sungmin menggerutu sambil tetap mencoba membuka pintu auditorium.

“Sial!” maki Sungmin sambil berkali-kali meninju pintu yang sama sekali tidak bergeser.

***

Hyemi muncul di kampusnya yang terlihat sepi dengan wajah setengah ketakutan. Beberapa ruangan terlihat gelap terutama ruangan di lantai atas tempat auditorium lama kampus mereka berada. Hyemi menghela nafasnya sekilas sebelum menaiki tangga.

Suasana di kampus begitu sepi hingga membuat langkah pelan Hyemi terdengar sepanjang dia menaiki tangga. Lantai 1 sudah dia lewati, masih ada 4 lantai lagi hingga ia bisa sampai diruang auditorium. Astaga kenapa Sungmin memintaku untuk bertemu disana, Hyemi membatin sambil terus menaiki tangga menuju lantai berikutnya.

Dia tak ingin berhenti melangkah sebelum mencapai lantai 5. Dia tidak ingin dicekam keheningan dan ketakutan yang berlebihan. Akhirnya suara langkah kaki Hyemi terhenti di depan pintu auditorium, sekali lagi Hyemi menghela nafasnya pelan seakan-akan keberaniannya akan terkumpul sebanyak udara yang di hirupnya.

Tangannya kemudian memegang penal pintu dan mendorong pintunya. Bunyi berdecit kayu dengan lantai saat pintu terbuka menggema di dalam ruangan. Tidak ada cahaya lain selain lampu yang menyorot panggung. Hyemi mengedarkan pandangannya mencari sosok Sungmin sambil terus melangkah masuk.

“Sungmin-ah,” panggil Hyemi lirih.

“Ayolah jangan aneh-aneh,” gumam Hyemi lagi. Matanya terus mencari sosok namja itu hingga dia tak menyadari pintu yang terbuka perlahan menutup.

***

“Bukakan pintunya! Demi apapun, buka!” teriak Sungmin, semakin dikuasai oleh panik dan takut.

“Ya!!” Sungmin menjambak rambutnya kesal.

Setelah memukul pintu lagi untuk kesekian kalinya, dia menyenderkan punggung lelahnya ke pintu dan menjatuhkan dirinya ke lantai dengan kasar. Suara deru napasnya terdengar semakin liar. Rasanya dia ingin menangis putus asa. Tapi rasa khawatirnya lebih mendominasi dan membatalkan keinginannya untuk menyerah.

“Jendela,” gumamnya seperti mendapat sebuah jalan.

Sungmin berdiri secepat kakinya bisa mengangkat tubuhnya dan mengambil bangku kayu yang di gunakan sebagai properti. Tanpa berpikir panjang dia mengayunkan kursi properti itu ke arah jendela terdekat yang ditemukannya. Langit-langit auditorium kampus mereka begitu tinggi, Sungmin harus mengangkat kedua tangannya setinggi mungkin untuk bisa meraih jendela. Suara kaca pecah terdengar menyakitkan di telinga Sungmin. Setelah beberapa kali ayun, kaca jendela itu terbuka cukup lebar untuk dilewati Sungmin. Tanpa membuang waktu, Sungmin membanting kursi itu ke lantai dan mulai memanjat keluar. Sungmin baru setengah jalan saat salah satu kaki kursi tumpuannya patah.

“Argh!” geram Sungmin. Dia mengerang kesakitan begitu terjatuh keras ke lantai yang berserakan pecahan kaca. Penuh amarah Sungmin menendang kursi patah yang tadi digunakannya memecahkan jendela. Setelah mengusap luka-luka di tubuhnya dan mencabuti pecahan-pecahan kaca yang menancap, Sungmin mengumpulkan seluruh tenaga yang tersisa dalam tubuhnya dan kembali berusaha memanjat keluar jendela.

***

BRAK!

Suara hentakan pintu yang keras akhirnya menyadarkan Hyemi. Da berbalik dan merasakan aliran darahnya berhenti sekilas.

“Buka pintunya!!” Hyemi menggedor pintu sambil memegang panelnya dan memaksa pintu agar terbuka. Tapi pintu itu seperti ditahan dari luar, sama sekali tidak bergeming.

“Kau tidak akan bisa keluar dari sini Hyemi-ssi,” suara seseorang yang sangat amat dikenalnya terdengar dari belakang tubuh Hyemi membuatnya seketika tak berkutik. Ia sama sekali tak berani menoleh.

“Kau sangat merepotkan,” suara tadi terdengar lagi. Hyemi akhirnya mengikuti hati nuraninya untuk menoleh. Dilihatnya sosok yeoja kemarin yang dilihatnya duduk di auditorium, sosoknya kini lebih menyeramkan dibanding kemarin. Apalagi sekarang dia berdiri dibawah lampu satu-satunya yang menyorot panggung.

Hyemi mengatur rasa ketakutannya saat kaki yeoja tersebut perlahan melangkah mendekatinya. “Kau benar-benar membuat kesabaranku habis,” ujarnya sengit tanpa sedikitpun melepaskan tatapannya dari sosok Hyemi yang masih berdiri di belakang pintu.

“Sungmin bilang kau yang meninggalkan dirinya,” seperti keajaiban Hyemi akhirnya berhasil mengeluarkan suaranya.

Namhee seketika tertawa mengejek saat mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Hyemi. “Lalu kau percaya? Aku tidak mungkin meninggalkannya kalau pada kenyataannya aku ingin mengambilnya darimu!” suara Namhee seketika meninggi.

Badan Hyemi sekarang tak berjarak lagi dengan daun pintu. Bibirnya mengucapkan doa berharap seseorang menolongnya.

“Berdoalah sebanyak yang kau bisa,” ledek Namhee.

Jarak keduanya kini hanya berkisar dua meter dan dia dapat dengan jelas tatapan Namhee yang menyiratkan kebencian pada dirinya.

“Aku tak pernah merebut Sungmin darimu, Namhee-ssi,” ujarnya tiba-tiba begitu pilu seperti memohon ampun pada Namhee.

“Kalau begitu lepaskan dia!” bentak Namhee.

Hyemi menggelengkan kepalanya, “Aku mencintainya.”

“Keras kepala!” pekik Namhee. Tangan Namhee dengan cepat meraih leher Hyemi dan menjepit saluran napasnya.

“Nam – hee,” Hyemi mencoba melepaskan tangan Namhee dilehernya. Gadis itu kemudian bergeser mencoba memposisikan Namhee yang merapat di dinding namun posisi ini justru merugikan Hyemi. Dengan leluasa justru Namhee mendorong tubuh Hyemi hingga terjatuh di lantai. Jemari Hyemi menusuk dalam lengan Namhee, tapi gadis dingin itu tidak bereaksi.

Kedua mata mereka bertemu, Hyemi dengan tatapan memohonnya dan Namhee dengan tatapan kebenciannya. Bisa dibilang posisi Hyemi saat ini berada di ujung tanduk, nafasnya mulai terpatah akibat cekikan Namhee. Mata bulatnya perlahan mulai menutup namun sedetik kemudian ia tak lagi merasakan tangan Namhee di lehernya.

Mata Hyemi terbuka dan merasakan tangan seseorang merengkuh pundaknya dan membantunya berdiri. Hyemi mengerjapkan kedua matanya dan melihat tubuh Sungmin menjaganya dari serangan lanjutan Namhee.

“Berhenti Namhee!” teriak Sungmin, sekarang memisahkannya dari Namhee. Lutut Hyemi terasa lemah, tanpa sadar dia menyenderkan tubuhnya sepenuhnya ke punggung Sungmin.

Gigi Namhee bergeretak marah melihat sikap Sungmin.

“Kenapa Min? Kenapa kau bersikap seperti ini padaku!” Namhee berteriak tak kalah kencang dari Sungmin. Mata Namhee menatap lekat sosok Sungmin tanpa sedikitpun berpaling.

“Kau yang meninggalkanku,“ ujar Sungmin.

“Aku tak pernah meninggalkanmu Min! Kau yang –“

“Dua tahun yang lalu Namhee! Dua tahun lalu kau pergi!” potong Sungmin sebelum Namhee melanjutkan kalimatnya.

Namhee mematung di tempatnya, pikirannya melayang pada dua tahun lalu. Hari itu.

***

“Bawel,” ledek Sungmin.

“Berisik,” balas Namhee.

“Cerewet,” ledek Sungmin lagi.

“Gendut,” maki Namhee.

“Aku tidak gendut!” bantah Sungmin tidak terima, secara refleks mengeluarkan pout legendarisnya.

“Lalu ini apa, hah?” tanya Namhee balik sambil menarik kedua pipi Sungmin.

Sungmin meringis dan menarik kedua tangan Namhee dari pipinya yang mulai memerah. Namhee ikut memanyunkan bibirnya walaupun dalam hati dia gemas melihat pipi Sungmin memerah seperti boneka.

“Aku membencimu,” gumam Sungmin, masih mempertahankan pout-nya.

“Bohong,” sahut Namhee pendek sambil menjulurkan lidahnya.

“Aku serius!” sahut Sungmin ngotot. Dengan cepat dia menarik tangan Namhee dan melingkarkan lengannya sendiri ke sekeliling pinggang Namhee.

“Aku akan benar-benar membencimu kalau sampai kita terlambat dan kehilangan reservasi kita,” sahut Sungmin sambil mengeluarkan smirk. Jarak antara mereka begitu dekat sampai Namhee bisa merasakan hembusan napas Sungmin di pipinya.

Namhee tertawa kecil mendengarnya, “Dan kau masih juga berbohong.”

“Baiklah!” sahut Sungmin berat sambil melepas pelukannya, “Aku tidak akan pernah bisa membencimu, Go Namhee. Kau adalah kelemahanku.”

Namhee tertawa penuh kemenangan. Setelah kedua pasangan itu sampai di ujung penyebrangan jalan, Namhee menoleh ke arah Sungmin dan melihat bibir tunangannya sudah membentuk sebuah pout imut lagi. Namhee menahan diri untuk tidak tertawa saat dia bergerak ke samping dan merubah pout itu menjadi sebuah senyum malu-malu dengan satu kecupan.

“Aku bukan kelemahanmu,” gumam Namhee sambil memeluk lengan Sungmin, “Aku sumber kebahagiaanmu.”

“Kau milikku dan kau tahu itu,” koreksi Sungmin sambil menyerang Namhee dengan kecupan. Keduanya melanjutkan langkah mereka, setengah bercanda, setengah bergelayut satu sama lain, dan sama sekali tidak menyadari lampu penyebrangan yang dengan cepat berubah menjadi merah lagi.

Sungmin berjalan di samping Namhee, menggandeng tangan gadis itu. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada sebrang jalan yang harus dilewatinya. Semuanya terjadi begitu cepat. Sungmin tidak mengerti saat Namhee tiba-tiba menyikut dan mendorongnya ke belakang. Semuanya terasa seperti slide yang diputar terlalu cepat. Sungmin merasa tubuhnya terbanting ke aspal dan pegangan tangannya terlepas dari Namhee.

Kepala Sungmin terasa perih setelah terbentur keras. Dia berusaha keras untuk mengangkat badannya dan mencari tahu apa yang terjadi. Tapi begitu Sungmin berhasil mengamati keadaan sekitarnya, satu-satunya hal yang bisa dilihatnya adalah sebuah mobil terguling dan sosok Namhee terbaring beberapa meter darinya. Summer dress putih gading yang dikenakannya sudah dipenuhi bercak merah marun. Dan yang paling menyakitkan Sungmin adalah kedua mata gadis itu masih membuka, sama sekali kehilangan cahaya kehidupannya, dan seberkas senyum yang masih terlihat di wajah Namhee.

***

“Hentikan,” pinta Namhee lirih.

Sungmin menghentikan kata-katanya sendiri. Dia pun tidak sanggup menahan sakit dalam dadanya ketika harus mengingat hari naas itu. Perayaan 100 hari pertunangan mereka. Seharusnya dirayakan dengan tawa bahagia, bukan dengan tangis dan luka. Sungmin ingat benar bagaimana polisi dan ambulans datang mengevakuasi lokasi kejadian. Namhee dinyatakan meninggal di tempat dan Sungmin menderita luka-luka.

“Aku tidak mungkin mati Min. Tidak mungkin,” racaunya, “Hari itu. Mobil itu hampir menabrakku, Min. Aku ingat jelas. Aku mendorongmu ke belakang dan kita berdua selamat. Aku ingat itu.”

Suara isakan Namhee terdengar semakin jelas membuat Hyemi mengencangkan pegangannya pada Sungmin.

“Aku menyelamatkanmu dari tabrakan itu, tapi kau justru meninggalkanku demi dia?!” teriak Namhee dengan suara bergetar, “Apa kau benar-benar mencintaiku Lee Sungmin?! Kemana perginya kata-kata manis yang sering kau bisikkan itu?!”

Hyemi yang berlindung di balik punggung Sungmin seketika mengerti apa yang terjadi. Cinta Namhee begitu tulus. Tapi saat ketulusan cinta mereka dipermainkan takdir, perasaan sakral itu berubah menjadi posesi. Posesi terhadap Sungmin tepatnya. Namhee tidak tenang, tidak pernah tenang. Hidupnya berakhir terlalu cepat dan dia menolak untuk mengakuinya. Tidak salah jika gadis itu masih menganggap Sungmin sebagai tunangannya. Tentu saja Namhee mengira Hyemi merebut Sungmin darinya. Semuanya bisa dimengerti sekarang.

“Maafkan aku,” gumam Sungmin sambil perlahan merangkak ke arah Namhee yang sudah menangis tersedu di lantai, “Maafkan aku Namhee, matahariku, maafkan aku.”

Ada seberkas perasaan iri saat Sungmin memanggil Namhee ‘matahariku’. Tapi Hyemi berusaha mengerti. Mungkin – mungkin saja kalau dia di posisi Namhee, dia akan melakukan hal yang sama.

“Aku tidak ingin pergi, Min-ah. Aku tidak mau,” lirih Namhee lemah.

Sungmin meraih sosok Namhee dan menariknya ke dalam pelukannya, “Tenanglah… tenanglah Namhee-ya, aku tahu ini berat, aku juga kesulitan menerimanya. Tapi percayalah, kau akan pergi ke tempat yang lebih baik. Oke? Kau pantas mendapat kebahagiaan… ketenangan… maaf aku tidak bisa menjadi bagian dari kebahagiaanmu itu.”

Butuh waktu beberapa saat sampai tangisan Namhee benar-benar berhenti. Hyemi sama sekali tidak berani bersuara melihat sosok Namhee perlahan mulai membuyar dalam pelukan Sungmin.

“Aku mencintaimu, Sungmin-ah,” gumam Namhee perlahan, “Sangat mencintaimu. Oleh karena itu, kau harus bahagia. Paham?”

Sungmin mengangguk mengerti. Pandangan Namhee beralih dan terfokus pada Hyemi. Tatapannya masih tajam, masih dingin, tapi sama sekali tidak mengandung unsur kebencian lagi.

“Aku mengawasimu,” sahut Namhee tegas, “Aku akan selalu mengawasimu, Ahn Hyemi. Jangan pernah berpikir untuk menyakiti Sungmin, bahkan satu helai rambut pun tidak.”

Hyemi menggigit bibirnya nervous mendengar ‘ancaman’ Namhee, tapi dia tetap memberi anggukan lemah. Sosok Namhee semakin membuyar seiring waktu. Dan tepat sebelum dia sepenuhnya menghilang, seberkas suaranya masih terdengar, “Aku percayakan Sungmin-ah padamu… Hyemi-ya.”

Seluruh tubuh Hyemi terasa lemah dan bergetar hebat. Seluruh emosi antara takut, khawatir, dan shock bercampur menjadi satu. Dalam hitungan detik, Sungmin bergegas kembali ke sisi Hyemi dan memeluknya seolah gadis itu akan menghilang juga. Awalnya Hyemi mengira Sungmin hanya gemetaran, tapi akhirnya dia mengetahui bahwa Sungmin perlahan terisak di bahunya.

“M-maafkan aku –“ gumam Sungmin, “M-maaf aku tidak pernah cerita – maaf sudah menarikmu ke masalah ini – maaf aku sudah – maafkan aku, tolong maafkan –“

Hyemi menarik sosok Sungmin dan memaksanya balik menatap ke arahnya, “Kita tidak perlu membahas ini lagi … Sungmin-ah. Tidak ada yang salah, tidak ada yang harus dimaafkan.”

Sungmin mengangguk kecil dan menyeka wajahnya sendiri. Dia menatap kedua mata Hyemi dan perlahan mencium gadis itu dengan lembut. Tangannya mengusap pipi Hyemi dan keduanya bisa mendengar deru napas satu sama lain.

“Aku mencintaimu,” gumam Sungmin, “Tetaplah bersamaku, karena aku mencintaimu.”

THE END

8 responses to “Heart of Possession – Final Part

  1. astaga, ga nyangka ternyata namhee itu aslinya cuma arwah, uda meninggal krn kecelakaan TT-TT tapi seneng akhirnya dy sadar dan ngerelain sungmin bwt hyemi..

  2. Hantu? *.* huaaa namhee, keren dia! ㅠ.ㅠ bagus thor! Tapi gak nyangka kalo namhee hantu, waktu baca genre nya, kok horor? Kayanya yg part 1 nya gak gini genre nya, eh taunya ada si hantu ._. Hhe^^

  3. daleeeeeeem >.<
    dan ternyata dugaan aq bener kl si Namhee ud tewas *bahasanya -__-'
    its sweet, and nice….
    narasi juga deskripsinya bener2 bikin aq nngebayangin ada di sana..
    Great job, Thor!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s