Cappuccino (Part 8)

Image

Author: Zola Kharisa

Title: Cappuccino

Cast: Han Hye-Na (OC), Cho Kyuhyun, Other Cast

Genre: Romance, AU, Family

Rating: PG-15

Length: Chapter

Disclaimer: This story and OC is mine. But the other cast is belong to God.

A/N: Annyeong readers, ini lanjutan dari FF sebelumnya. Oh ya, di sini aku tambahin dua cast baru ya, salah satunya Byun Baekhyun. Dan juga di sini aku fokus sama dua pasangan itu dulu (sesuai permintaan beberapa readers) dan kelanjutannya baca di akhir part ini ya. Oke, selamat membaca!

Credit Poster: Thanks to MissFishyJazz

Previous: [Part 1] [Part 2] [Part 3] [Part 4A] [Part 4B]

 [Part 5] [Part 6] [Part 7]

~~~oOo~~~

AUTHOR’S POV

Lagu berirama jazz itu mengalun dengan tenang, seakan tidak mempedulikan dua insan yang sedang dimabuk berbagai macam pertanyaan, dengan berbagai tatapan yang berbeda yang mereka dapat.

Hye-Na menghitung dalam hati, sudah berapa kali degupan jantungnya berdetak tak keruan? Matanya menerawang nanar seluruh penjuru ruangan dengan coklat muda mendominasi sebagai warna dinding. Ia tidak peduli dengan Kyuhyun yang terus memanggilnya. Kini, tatapannya hanya terfokus pada sosok yang sedang berjalan menghampirinya. Tersenyum begitu misterius, seolah ia adalah orang paling bodoh yang benar-benar tidak tahu sesuatu apapun yang berada di bumi ini. Bahkan di kehidupannya sendiri.

“Kalian sudah datang rupanya. Ayo masuk, mengapa terus berdiri di ambang pintu seperti itu?”

Nada suara itu membuat Hye-Na mengernyit, namun dapat membuat detak jantungnya melemah dalam waktu yang bersamaan. Tanpa menjawab, ia menarik pergelangan tangan Kyuhyun lalu masuk lebih dalam pada ruangan tersebut dengan langkah pasti.

Puluhan pasang mata menatap mereka bagai tatapan memuja. Terutama pada para namja yang menatap Hye-Na seolah gadis itu adalah titisan dewi. Dan mengetahui itu, namja di samping Hye-Na merasa darahnya berdesir. Ada sesuatu yang membuatnya ingin melampiaskan hal yang sama sekali tak dimengertinya. Seperti, ya… mengambil beberapa gelas wine lalu melemparnya tepat ke depan wajah para namja itu, mungkin?

Hye-Na menghela napas kesal, lalu melepas genggaman tangannya pada pergelengan tangan Kyuhyun. Tidak. Tidak ada lagi sengatan seperti listrik itu. Ia melakukannya bukan karena dasar suka atau berada dalam posisi sadar diri, tetapi lebih tepatnya terpaksa menyeret namja itu agar segera masuk dan tidak mempermalukan diri mereka dengan berdiri di ambang pintu dengan raut kebingungan.

Mata Hye-Na meneliti seluruh penjuru ruangan itu. Tidak ada yang spesial. Hanya seperti aula yang cukup besar untuk sebuah pertemuan, jamuan makan malam, meja-meja yang berderet dengan rapi, beberapa tirai dengan warna coklat gelap yang lembut, dan sebuah panggung kecil di pusat ruangan itu.

Tempat apa ini? Hye-Na bahkan masih tidak mengerti tempat apa yang kini dipijaknya. Sebuah konser? Tidak, terlalu kecil untuk sebuah konser. Seminar? Oh, konyol. Jamuan makan malam? Baiklah, mungkin itu bisa masuk dalam salah satu poinnya.

“Na-ya,”

“Apa?”

“Itu,”

“Apa?”

“I-Itu…”

“Apa?”

“Aish!” Kyuhyun menarik bahu Hye-Na, lalu memposisikan tubuhnya sejajar dengan pandangan Kyuhyun.

“Bukankah itu… Appamu?”

“Appa?” Hye-Na memicingkan sebelah matanya, lalu tiba-tiba membuka lebar. “Yaa! Kyu, itu Appa! Ba… bagaimana bisa?”

“Kau mau menghampirinya?” Kyuhyun juga tampak syok dengan apa yang dilihatnya.

Hye-Na mengangguk, “Tentu saja, aku harus menanyakan bagaimana Appaku bisa berada di sini.”

“Aku ikut,” Kyuhyun menyahut cepat. “Aku juga ingin mengetahui secara langsung apa maksud dari semua ini.”

Hye-Na mengangkat alisnya, lalu tiga detik kemudian tersenyum tipis. Ia tahu bahwa Kyuhyun mengerti apa yang akan dikatakannya. Entah bagaimana caranya. Seolah namja itu mampu membaca pikirannya dari raut wajahnya.

Tanpa berbicara lagi, Kyuhyun menarik pergelengan tangan Hye-Na perlahan. Dan itu sudah cukup membalas pemikiran Hye-Na akan sentuhan itu, atau tepatnya sentuhan sebelumnya. Sengatan listrik yang menyetrum tubuhnya selama satu detik itu membuat ia tersadar. Namja itu mampu menjadi alat penyetrum—oh, tidak. Justru seolah ingin membuat Hye-Na mati konyol takut-takut mendapat serangan jantung yang terlalu tiba-tiba.

“Kenapa?”

Bahkan suara itu sekarang menjadi nada favoritnya. “Tidak,”

“Aku hanya takut kau jatuh karena sepatu hak tinggi itu, Na-ya, itu saja.”

Hye-Na melirik Kyuhyun tidak percaya. Jangan bilang Kyuhyun mendadak memiliki indera keenam?

“Wajah polosmu itu…, bisa kau hilangkan?”

“Kenapa?” Hye-Na tertarik akan topik yang diangkat Kyuhyun di antara mereka.

“Karena membuatku ingin me… kau terlihat jelek kalau seperti itu.”

“Cih, menyebalkan sekali kau Cho Kyuhyun,” desis Hye-Na, sedangkan Kyuhyun hanya menanggapinya dengan tawa ringan.

Hye-Na kembali memfokuskan pandangannya ke depan, dan langsung tersentak begitu tatapannya beradu pada seseorang yang begitu dikenalnya. Sangat dikenalnya.

“Selamat malam, Nyonya Han.”

Hye-Na mendelik Kyuhyun, lalu beralih menatap sosok wanita yang entah sejak kapan sudah duduk di kursi rodanya, dengan balutan syal warna biru yang tersampir di lehernya. Masih tampak lemah, seperti menggores dengan sangat pelan pada salah satu organ tubuh Hye-Na ketika melihatnya.

“Mengapa Eomma bisa berada di sini?” Hye-Na menghampiri Jisun, lalu memeluk singkat wanita itu.

“Apa Eomma tidak bilang bahwa Eomma juga menghadiri acara ini?” klise, namun Hye-Na sama sekali tak menyadari.

“Tidak, Eomma tidak mengatakannya sama sekali. Bukankah Eomma masih sakit? Wajah Eomma pucat,” Hye-Na tampak khawatir, sampai satu garis ragu itu mengukir wajah Jisun.

“Kau terlihat sangat cantik malam ini,” ungkap Jisun tanpa mengindahkan pertanyaan Hye-Na sebelumnya. “Kau pasti belum makan pagi dan siang, kan?”

Mata Hye-Na membulat. “Eomma, bagaimana—“

“Tertulis dengan jelas di dahimu bahwa kau sedang lapar, Hye-Na-ya.”

Bibir Hye-Na mengerucut, lalu menatap Hyunjoo yang kini menatap Hye-Na dengan pandangan yang sulit diartikan. Terlalu datar untuk disebut ekspresi, namun terlalu aneh bila tidak disebut ekspresi.

“Appa, sebenarnya acara apa ini?” Hye-Na membenarkan posisi tubuhnya yang sedikit membungkuk, lalu menatap tepat di manik pria paruh baya itu.

“Kau masih ingat acara The Great Coffee Time?”

Hye-Na mengangkat alis, kemudian memutar bola matanya berpikir. Ia pernah mendengar kalimat itu, tapi…

“Acara memilih dan meminum kopi itu?”

Hyunjoo mengangguk, “Kebetulan rekan bisnis Appa mengadakan acara tersebut di Renaissance Seoul Hotel ini. Ia memberikanku empat undangan, dan dua undangan yang tersisa kuberikan padamu dan… Kyuhyun.” Hyunjoo tersenyum sekilas pada Kyuhyun yang masih tampak canggung.

“Tapi, saya mendapatkannya dari Eomma saya,” sahut Kyuhyun membalas ucapan Hyunjoo. Tersirat rasa heran di dalam nada suaranya.

“Aku yang memberikannya pada Hanna,” Hyunjoo berpikir sebentar. “Aku mengenal keluargamu, Kyuhyun-ssi.”

Sejenak hening, hanya terdengar suara musik berirama mellow berpadu dengan suara bising para tamu yang lain. Merasa ada atmosfir yang tidak menyenangkan, Hye-Na berujar, “Jadi, bagaimana Sora bisa ada di sini?”

Ups. Gadis itu mengatupkan bibirnya rapat. Benar-benar terlalu jujur.

“Jung Sora? Ia juga sepertinya mendapatkan undangannya,” jawab Hyunjoo tenang. “Apa ada masalah?”

“Tidak,” Hye-Na membalas cepat. “Hanya sedikit bingung, awalnya.”

Hyunjoo tersenyum, lalu dengan perlahan kedua tangannya sudah berada di pegangan dorongan kursi roda milik Jisun.

“Acara masih di mulai lima belas menit lagi. Menurutku, carilah tempat duduk yang kosong terlebih dahulu, atau paling tidak nikmati jamuan dessert pembuka yang telah disediakan hotel ini.”

Hye-Na mengangguk patuh, diikuti pula dengan Kyuhyun. “Appa mau pergi ke mana?”

“Hanya berjalan-jalan sebentar,” Jisun mengambil alih pembicaraan. “Menghirup udara malam bersama dengan suami idaman, siapa yang tidak menyukainya?”

Beberapa detik hening sebelum sebuah suara tawa menyeruak di antara lapisan zat tak tersentuh itu. “Selamat bersenang-senang Appa, Eomma.”

“Dan selamat bersenang-senang juga untuk kalian, Hye-Na, Kyuhyun.”

Hye-Na mengalihkan pandangannya, melirik Kyuhyun yang ternyata juga tengah menatapnya. Pandangan mereka bertemu, membuat keduanya tampak gugup, sebelum akhirnya saling melemparkan pandangan ke arah yang berlawanan. Pipi Hye-Na memanas, doanya untuk kali ini adalah berharap bahwa pipinya tidak merona merah.

“Baiklah, aku takut menganggu kalian. Silahkan menikmati malam ini, Hye-Na.” Suara itu ke luar dari bibir Jisun, hampir terdengar berbisik. Sebelum Hyunjoo mendorong kursi rodanya dengan pelan, ia sempat melihat raut Hye-Na yang sama seperti saat ia melihatnya di rumah sakit.

Ekspresi yang sama, yang seharusnya tidak ditunjukkan Hye-Na untuk saat ini.

***

Kyuhyun mengambil dua buah gelas jus jeruk di tangannya. Ia sama sekali tidak bisa memilih antara wine atau berbagai jus dengan aneka rasa yang ditawarkan di hadapannya. Jadi, daripada salah memilih, ia mengambil jalan aman agar Hye-Na juga bisa ikut meminumnya. Namja itu sama sekali tidak ingin terjadi sesuatu pada Hye-Na jika ia memberikannya segelas wine atau jus-jus lainnya—selain rasa jeruk—karena setahunya sepertinya hanya jus itu yang terlihat bisa diminum oleh siapa saja.

Hampir saja gelas-gelas di tangan Kyuhyun jatuh kalau saja refleksnya tidak lebih baik. Ia menghela napas begitu melihat siapa yang sudah berdiri di belakangnya. Yang sempat mengagetkannya dengan cara yang sedikit tidak sopan. Sora, berada di belakang Kyuhyun dengan raut aegyo.

“Tatapanmu seperti melihat hantu,” desis Sora seraya tangannya menyalip di samping Kyuhyun untuk mengambil segelas wine.

Kening Kyuhyun mengernyit samar. “Kau meminum wine?”

“Mengapa tidak?” Sora mengangkat bahu acuh, “Aku hanya meminumnya sedikit. Itu pun informasi seandainya kau ingin tahu, atau mengkhawatirkanku.”

“Informasi yang sangat baru dan unik,” gumam Kyuhyun. “Omong-omong, kau juga mendapatkan undangan ke sini?”

Sora mengangguk sambil menegak sedikit wine-nya, lalu mendecak pelan setelahnya. “Ck, rasanya hampir buruk,”

“Sudah kukatakan pada kau untuk tidak mencobanya.”

“Cih, kau tidak pernah mengatakannya Kyuhyun-ah.”

“Kau benar. Baiklah, jadi bisakah kau beritahu aku acara apa ini?” Kyuhyun mengganti topik pembicarannya, lalu melirik sekilas Hye-Na yang kini tampak menjadi pusat perhatian beberapa namja yang berada di dekatnya.

“Oh, acara ini,” Sora menghembuskan napasnya pelan, sesaat ekspresi ragu itu tercetak jelas di wajahnya. “Hmm, The Great Coffee Time sebenarnya acara yang diselenggarakan teman rekan bisnis Jungsoo Oppa, bernama Byun Baekhyun, seorang pengusaha muda terkenal di dunia kopi. Biasanya acara ini dilangsungkan selama lima tahun sekali, dan ini kali ketiganya acara ini diselenggarakan. The Great Coffee Time adalah saat dimana para tamu yang mempunyai undangan untuk memilih satu dari deretan kopi yang ditawarkan oleh perusahaannya, Byun Coffee, lalu kopi itu akan diberikan kepada pasangannya sesuai dengan cita rasa yang menurutnya cocok dengan pasangannya.”

“Sesuai perasaannya kepada si pasangan?”

Mata Sora melebar. “Bagaimana bisa kau mengetahuinya?”

“Hmm, sepertinya lima atau sepuluh tahun yang lalu aku pernah menghadiri acara serupa seperti ini juga,”

“Kau pasti akan menyukai malam ini,” gumam Sora pelan.

“Apa?”

“Ah, tidak. Tidak ada apa-apa.” Sora tersenyum, lalu menaruh gelas wine yang bersisa itu ke atas meja. “Hmm, jadi siapa yang akan kau berikan kopi pilihanmu itu?”

Kyuhyun tersentak, ia sama sekali tidak memikirkan siapa yang akan diberikannya kopi pilihannya. Dan… oke, memikirkan untuk mengikuti acara dengan permainan konyol itu saja ia tidak mau.

“Entahlah, aku sama sekali tidak tertarik.” Kyuhyun mengangkat bahunya dan menatap Sora yang kini mendengus sebal.

“Kau tidak menyenangkan, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun hanya menanggapi dengan senyum, lalu tatapannya langsung berpusat pada seorang gadis yang kini tengah duduk bersampingan dengan seorang namja. Tunggu, mengapa rahangnya tiba-tiba mengeras?

“Jungsoo Oppa sedang bersama dengan Hye-Na,” ujar Sora dengan nada datar. Mimiknya begitu sulit ditebak.

“Apa gadis itu akan selalu—“

“Selamat malam hadirin yang sudah bersedia datang dalam acara malam ini. Perkenalkan saya Byun Baekhyun, putra dari Byun Jijae, pendiri dari Byun Coffee ini. Malam ini adalah malam ketiga kita dalam acara The Great Coffee Time yang lima dan sepuluh tahun yang lalu acara ini dibawakan oleh ayah saya yang kini sudah berada di… surga.” Baekhyun menjeda sebentar, memberikan keheningan yang nyaman di seantaro ruangan. “Untuk itu, saya sebagai penerusnya yang akan berdiri di sini dan menemani hadirin sekalian sampai acara usai.”

Beberapa suara sorak terdengar meramaikan suasana aula tersebut di antara para tamu kalangan atas yang lebih memilih duduk dan memperhatikan dengan sopan.

“Terima kasih sebelumnya untuk para tamu yang selama lima belas tahun ini sudah menjadi konsumen setia Byun Coffee dan mengikuti event yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali ini. Untuk itu, sebagai apresiasi terbesar kami, malam ini kami akan menawarkan sepuluh cita rasa kopi terbaru kami yang jika mendapatkan sambutan yang luar biasa, akan kami distribusikan ke kafe-kafe Byun Coffee yang berada di pelosok dunia, sama seperti dua event sebelumnya. Namun, karena sekaligus sebagai peringatan Byun Coffee yang sudah menginjak usia kelima belas tahun, kami akan memberikan sedikit permainan untuk Anda semua.”

Usai mengatakan itu, hampir seluruh tamu berbisik-bisik tentang permainan apa yang akan diberikan oleh Baekhyun, selaku pewaris Byun Coffee itu.

“Lima tahun sebelumnya, ayah dari Baekhyun, Byun Jijae masih berada di dunia ini. Byun Jijae saat itu tidak menawarkan permainan apapun pada acaranya The Great Coffee Time, tetapi ia menawarkan peluang untuk beberapa pebisnis yang mau menanam saham di perusahaannya. Lima tahun yang lalu Byun Coffee merupakan merek kopi nomor satu di dunia, hingga kini. Namun ada sedikit perbedaan, di lima tahun yang lalu kafe Byun Coffee cenderung lebih menggunakan desain interior khas tradisional Korea meski ada beberapa sentuhan modern di sana. Sedangkan yang sekarang, sebaliknya. Sentuhan tradisional Korea hanya ada di beberapa bagian dari interior kafe itu.” Suara Sora terdengar, menarik perhatian mata Kyuhyun untuk memandang gadis itu.

“Bagaimana bisa kau mengetahuinya?”

Sora tersenyum, “Sepuluh tahun yang lalu adalah masa Byun Coffee meraih popularitas. Biji kopi yang diolah oleh Byun Coffee merupakan salah satu biji kopi terkemuka di dunia. Mereka menggunakan bahan-bahan yang berkualitas, dan sempat membuat pasar industri kopi mengalami kenaikan pesat akibat permintaan biji kopi yang membludak. Sejak saat itu, muncul berbagai macam merek kopi lainnya setelah Byun Coffee, yang mencoba untuk bisa meraup kepopuleran seperti kafe tersebut. Namun sayangnya sepuluh tahun yang lalu, Byun Coffee masih berada di puncaknya dan tidak ada tanda-tanda akan tergeser dari posisinya.

“Tentang permainan, sepuluh tahun yang lalu Byun Jijae juga tidak memberikan permainan apapun pada para tamunya. Ia hanya menawarkan dua amplop berwarna merah dan putih di setiap meja yang ada. Dan mengatakan bahwa para tamu dapat memilih satu dari amplop tersebut. Merah untuk warna gelas dan cangkir yang akan terus digunakan oleh Byun Coffee, atau putih untuk warna desain interior kafenya. Hmm, pilihan yang sulitkah? Saat itu juga… mereka mengadakan pesta dansa sesuai dengan pasangan pria yang mendapatkan kopi pilihan dari pasangan wanitanya.” Sora mengakhiri penjelasannya.

“Kau tahu banyak—“ lagi-lagi ucapan Kyuhyun disela.

Baekhyun berdeham pelan, “Permainannya adalah…”

Suara berisik yang berasal dari derap langkah yang beradu dengan lantai keramik di sisi kanan menjadi pusat perhatian secara mendadak. Puluhan pasang mata itu menyipitkan matanya, melihat dengan baik-baik siapa yang ke luar dari balik tirai coklat di sisi kanan.

“Mereka adalah para barista yang akan menjamu Anda sekalian malam ini.”

Sepenggal kalimat itu sudah cukup menjelaskan pertanyaan yang berputar di kepala para tamu di dalam aula tersebut ketika melihat ada sekitar tiga puluh orang yang mengenakan seragam pelayan berwarna hitam dan di kedua tangannya masing-masing membawa sebuah nampan berisi gelas-gelas yang tertata rapi.

Para barista itu lalu menaruh gelas-gelas itu di atas meja panjang berbalut kain putih seukuran hampir sepanjang aula. Mereka menyusun gelas-gelas itu dalam bentuk berkelompok, dan ada sebuah tag nama di setiap kelompok-kelompok tersebut.

“Nah, Anda sekalian pasti sudah melihat bahwa gelas-gelas itu disusun seperti berkelompok, bukan? Sekarang sebelum saya mengatakan permainannya, bisakah para tamu wanita di dalam ruangan ini berdiri serempak?”

Dalam hitungan detik setelah Baekhyun mengucapkan itu, seluruh wanita di seantaro aula tersebut berdiri—tak terkecuali dengan Hye-Na, dan Sora.

“Oke, bisakah para tamu wanita sekalian maju ke depan? Hmm, tepatnya di depan meja panjang itu,” telunjuk Baekhyun bergerak seolah memandu puluhan pasang mata itu.

Hye-Na melirik Kyuhyun berharap bahwa namja itu sedang menatap ke arahnya. Namun sayangnya harapannya tak terkabul. Sejujurnya ia ingin pandangan mereka bertemu meski hanya beberapa detik—memberi isyarat pada Kyuhyun tentang apa yang harus dilakukannya dengan kontak mata.

“Majulah, Hye-Na. Kau seorang wanita, kan?”

Hye-Na tersentak, dan tersenyum kaku merespon gurauan Jungsoo di sampingnya. “B-Baiklah,”

Hye-Na bergerak maju ke depan meja panjang itu, kemudian tertegun sesaat. Takdir sepertinya sedang tidak berpihak padanya. Sekarang, yang berdiri di samping Hye-Na adalah gadis itu. Ia mengumpat dalam hati begitu saat ia mengedarkan pandangannya, sudah tidak ada lagi tempat kosong yang tersisa selain di samping Sora.

Kedua gadis dengan ekspresi kontras itu terselimuti keheningan. Hye-Na memilih untuk diam dan tidak menekuk sama sekali sudut bibirnya ke atas. Sedangkan Sora menyunggingkan senyum manisnya, yang sempat membuat seorang Baekhyun melirik ke arah Sora. Oh, God, bahkan Hye-Na tidak yakin akan penglihatannya bahwa Baekhyun sempat tersenyum balik pada Sora.

“Baiklah hadirin wanita sekalian, sekarang Anda semua bisa melihat ada sepuluh gelas kopi di hadapan Anda semua. Tag nama yang berada di sana tertulis sesuai dengan jenis kopi yang diinginkan. Oke, kami menyediakan seratus kopi yang terbagi ke dalam sepuluh jenis kopi dan kelompok. Anda semua bisa berjalan memutari meja panjang tersebut untuk memilih kopi yang sesuai dengan perasaan Anda pada pasangan Anda. Ingat, Anda semua hanya boleh memilih satu kopi.”

“Lalu? Apa ini permainannya?” suara seorang tamu wanita terdengar menggema.

“Bukan, tapi ini mungkin sebagai langkah awal.”

Para tamu wanita di sana yang mendengarnya hanya menganggukkan kepala. Sebagiannya tidak terlalu peduli pada ‘permainan apa’ yang direncanakan Baekhyun.

“Oke, mari kita mulai sekarang,” Baekhyun menarik napas, lalu mengayunkan tangannya sebagai isyarat bahwa para tamu wanita itu sudah bisa memperhatikan baik-baik deretan kelompok kopi-kopi tersebut.

“Kita mulai dari kelompok kopi di sisi barat, paling kanan. Pertama, Anda sekalian bisa melihat bahwa nama kopi itu adalah Cinnamon Latte, yang artinya menggambarkan perasaan seseorang yang jatuh cinta pada pasangannya saat pertama kali bertemu.”

Beberapa wanita menggelengkan kepalanya, namun ada juga yang tersenyum simpul tetapi tidak mengambil kopi tersebut. Sedikitnya lagi ada yang mengambil kopi itu—langsung menjatuhkan pada pilihan pertama.

“Oh ya, bagi hadirin tamu wanita yang sudah memilih kopi bisa mundur dua langkah dari tempat sebelumnya.”

Para tamu yang sudah memegang segelas cup Cinnamon Latte itu mundur teratur.

“Baiklah, kita lanjutkan pada kopi yang kedua. Seperti yang dilihat nama kopi itu adalah Pappermint White Chocolate Mocha, yang memiliki arti bahwa Anda menyukai pasangan Anda tidak lebih dari sebersih warna putih, dan sedingin salju. Mengapa sedingin salju? Karena Anda memiliki pemikiran bahwa pasangan Anda cenderung cool tetapi tidak terlalu banyak melakukan pembicaraan jika Anda sedang berdua dengan pasangan. Kalian berdua lebih memilih tidak mengungkapkan kata cinta setiap hari, tetapi sejujurnya kalian terikat benang merah yang kuat. Meski kalian tidak mengungkapkannya sesering mungkin, tapi kalian tahu bahwa kalian berdua saling mencintai. Dan percaya akan tetap seperti itu selamanya.”

Beberapa tamu wanita memekik tertahan, lalu dengan cepat mengambil pilihan kedua itu dan mundur dua langkah ke belakang tanpa suruhan sebelumnya.

Baekhyun tertawa pelan, “Sepertinya para wanita di sini sudah mengerti alurnya,”

“Oke, untuk kelompok kopi yang ketiga adalah Caramel Macchiato, menggambarkan bahwa Anda dengan pasangan Anda selama ini memiliki hubungan semanis caramel. Hanya rintangan ringan yang kalian hadapi, dan rintangan itu pun selalu sukes dilewati.”

Satu wanita di antara para wanita yang tersisa—termasuk Hye-Na dan Sora—dengan gerakan pasti mengambil gelas kopi itu, dan mundur dua langkah sembari senyuman lebar terpatri jelas di bibirnya.

“Kopi yang keempat diberi nama Rose Vanilla Latte, mempunyai arti bahwa setiap pasangan mampu memiliki hubungan yang mulus, meski beberapa masalah pasti akan dialami. Hal yang wajar. Dan kopi itu ada untuk mengisi waktu Anda dengan pasangan Anda agar lebih dekat satu sama lain.”

Beberapa wanita mengambil gelas kopi itu, yang hampir dari para wanita itu memang memiliki hubungan yang serupa seperti digambarkan oleh Baekhyun tadi. Ingin memiliki hubungan yang mulus, meski beberapa masalah pasti akan menghampiri.

“Baiklah, kopi yang kelima bernama Espresso Macchiato, memiliki pengertian bahwa Anda dengan pasangan Anda memiliki hubungan yang serius, atau sedang dalam tahap keseriusan.”

Dua orang wanita dengan gaun kembar yang unik mengambil gelas kopi itu, lalu mundur dengan langkah seirama. Kini, sisa dua puluh orang wanita—termasuk Hye-Na dan Sora.

“Kopi yang keenam adalah Chocolate Mocha, yang berarti kalau perasaan Anda memiliki daya pekat yang kuat untuk menarik perhatian sang pasangan. Sayangnya, Anda kurang percaya diri. Padahal pasangan Anda merupakan tipe paling ideal untuk Anda.”

Sora dan Hye-Na mengangkat alisnya, lalu kembali tak mengacuhkan dan bergerak ke deretan kopi-kopi selanjutnya.

“Kopi yang ketujuh ini mempunyai nama Flavored Latte, mendeskripsikan bahwa Anda memiliki berbagai macam perasaan yang bertumpuk menjadi satu saat Anda berada di dekat pasangan Anda. Perasaan yang membuat Anda semakin mencintai sang pasangan, dan hampir tidak waras bila mengingat kebersamaan kalian.”

Hye-Na terkikik geli, lalu kembali fokus pada rentetan kopi-kopi di depan matanya. Ia nyaris tertawa lebar saat beberapa wanita mengambil gelas kopi itu. Tunggu, apa Hye-Na juga tidak merasa tersindir?

“Wah, tidak terasa sudah mencapai tiga deretan kopi terakhir. Oke, di depan Anda sekalian, kini terdapat kopi kedelapan dengan nama Caffe Vanilla Frappuccino, menggambarkan bahwa Anda mencintai sang pasangan dengan sepenuh hati, tanpa memikirkan bahwa sang pasangan mengucapkan kata cinta atau tidak. Yang pasti, Anda mencintainya, dan itu sudah cukup. Cinta yang sederhana.”

Hye-Na mengerutkan alis bingung, lalu tiba-tiba terkejut begitu melihat tangan yang terulur di sampingnya.

Sora, ia mengambil gelas kopi itu.

Sora ternyum khas sembari menatap Hye-Na dengan tatapan seolah merendahkan, meski Hye-Na sendiri sedikit tidak yakin dengan pemikirannya.

“Kau masih ingat perjanjiannya kan, Hye-Na-ssi?”

Bisikkan halus itu mampu membuat telinga Hye-Na berdenging. Ia tidak suka saat-saat seperti ini. Seolah-olah, ia adalah orang yang selalu kalah sebelum bertaruh.

Sora menatap Hye-Na dengan sorot tajam. “Jika kau tidak mengerti dengan perasaanmu sendiri, katakan saja kalau kau menyerah. Lalu, Kyuhyun akan bersama denganku, mudah kan?”

Pupil Hye-Na melebar, ia ingin sekali memberikan respon menolak pada ucapan Sora, namun lagi-lagi ia merasa lidahnya kelu. Sepertinya sangat berefek jika ia sedang berada di dekat Sora.

Good luck,” Sora menepuk pundak Hye-Na pelan. “Jangan salahkan aku kalau kau menangis, atau menyesal.”

Hye-Na berbalik, menatap Sora yang kini sudah berdiri di belakangnya. Ia merasa sisi egoisnya muncul, muncul bersamaan dengan suara Baekhyun yang mulai terdengar kembali.

“Kopi kesembilan memiliki nama Coffee Milk Lovers, menggambarkan kesederhanaan. Namun dengan cita rasa susunya, menambahkan gambaran bahwa di dalam kepahitan hubungan yang dialami kedua sejoli, Anda bisa memberikan sedikit pencerahan untuk hubungan kalian dengan kepala dingin. Hal inilah yang disukai oleh pasangan pria. Anda bisa mengatasi masalah dengan solusi yang nyaman untuk Anda maupun pasangan.”

Hye-Na menggelang, lalu mendesah pelan. Sampai kopi kesembilan ini, ia belum juga menemukan kopi yang cocok dengan perasaan yang tengah dialaminya. Baiklah, sekarang ia hanya bisa berharap kelompok kopi yang terakhir ini dapat memenuhi kriterianya.

“Baik, ini adalah kopi terakhir yang kami sajikan. Seperti yang tampak, nama kopi itu adalah Snow Cookie Crumble Cappuccino, bertemakan salju yang memiliki gambaran bahwa perasaan wanita itu seputih salju saat merasakan jatuh cinta. Para wanita awalnya tidak menyadari, sampai filosofi tentang cappuccino yang menyatakan bahwa penikmatnya adalah orang-orang yang ringan, dengan pembawaan tenang. Mereka lebih menyukai menutupi perasaannya sendiri saat berhadapan dengan pasangan pria, lalu mengunci rapat hatinya. Namun sebenarnya, mereka sangat peduli pada sang pria, dan juga perasaan cinta itu selalu menyelimutinya. Biasanya, kedua pasangan tersebut memiliki hubungan yang unik, dan perasaannya masing-masing memang tidak akan secara mudah diungkapkan, tetapi keduanya sudah mengerti bahwa mereka memiliki perasaan yang sama satu sama lain.”

Hye-Na mencerna baik-baik kata demi kata yang dilontarkan Baekhyun tentang salah satu minuman favoritnya itu, cappuccino.

Kelopak mata gadis itu perlahan melebar, lalu dengan satu gerakan mantap ia mengambil satu gelas berisi kopi itu. Ia berpikir bahwa kopi terakhir itu setidaknya memenuhi sebagian kriterianya, meski ia sendiri tidak yakin siapa orang yang akan diberikannya kopi itu.

“Oke, sepertinya semua hadirin wanita di sini sudah mendapatkan kopi pilihannya. Baiklah karena saya sudah berjanji, saya akan mengatakan apa permainan malam ini…”

Mendadak tidak terdengar lagi suara bising orang-orang di dalam aula tersebut. Mereka memilih diam, mendengarkan dengan seksama kata-kata apa yang akan diluncurkan Baekhyun.

“Permainannya adalah… kissing with a coffee taste.

“OMONA?!” suara pekikkan salah satu wanita di dalam aula tersebut menyeruak, diikuti dengan sorak sorai dari para tamu yang ada.

“Tenang hadirin, tenang dulu,” Baekhyun mengangkat kedua tangannya di depan dada. “Karena saya tahu bahwa kissing is privacy, ketika permainan dimulai, lampu di dalam aula ini akan dimatikan selama tujuh detik. Lalu setelah itu, Anda semua bisa mengakhiri hal itu.”

“Lalu, apa keuntungan dari permainan ini?” suara berat seorang pria terdengar menginterupsi.

“Pemenang ditentukan oleh lampu sorot yang akan kami pilih secara acak. Jadi ini seperti the lucky games, siapapun pemenangnya berhak mendapatkan hadiah. Dan hadiahnya berupa… candle light dinner di Paris, dan perjalanan tur kota Perancis selama empat hari. Bagaimana?”

Suara sorak semakin terdengar riuh, tak terkecuali dengan Hye-Na yang matanya kini memancarkan binar.

Perancis? Kesempatan untuk mendatangi negara impianku itu?

“Baiklah, sekarang lebih baik para tamu wanita sekalian untuk menghampiri para pasangan prianya,”

Kata-kata itu membuat Hye-Na tersadar dari fantasinya. Tunggu, itu artinya untuk mendapatkan hadiah itu… ia harus berciuman dengan seseorang, bukan?

Hye-Na menggelang frustasi. Lalu tiba-tiba ia mengaduh saat seseorang melewatinya dengan sengaja, menyenggolkan bahunya pada bahu Hye-Na.

Ups, sorry.”

Suara itu… Sora. Hye-Na tahu persis itu, meski kini kepalanya sedikit menunduk.

“Oke, permainan ini kita mulai tiga puluh detik dari… sekarang.”

Dalam sekejap, para tamu wanita itu sudah menghampiri pasangannya masing-masing, berdiri berhadapan, lalu menyerahkan gelas kopi yang mereka pilih—kecuali Hye-Na, yang kini merasa tubuhnya membeku, benar-benar membeku.

Kesempatannya terbuang. Kini, arus lingkar matanya melihat sesosok wanita tengah berdiri berhadapan dengan seorang pria yang terlihat heran menatapnya. Lalu, tubuh Hye-Na hampir bergetar begitu ia melihat sosok wanita itu menyerahkan gelas kopinya pada pria itu, lalu tanpa tahu alasannya, sosok pria itu menegak habis cairan kopi di dalam gelas tersebut.

“Jangan salahkan aku kalau kau menangis, atau menyesal.”

Benar. Hye-Na merasa matanya perlahan memanas, dan ada sesuatu yang menggetarkan batinnya. Ia seperti tersedot ke dalam memori bertahun-tahun silam. Bagai pernah mengalami hal ini, berdiri dengan hati seperti disayat.

Bahkan saat Baekhyun mengucapkan tiga puluh detik telah habis, dan lampu tiba-tiba padam, Hye-Na sama sekali tidak bisa menerka apa yang terjadi sekarang. Otaknya kosong melompong, namun terasa panas. Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi di dalam aula yang kini gelap gulita. Berciuman?

Hye-Na tersentak. Otaknya kembali berputar. Berciuman?

Berciuman? Sora dan… Kyuhyun?

Hye-Na menggeleng kuat, ia benar-benar tidak bisa membayangkan bahwa hal itu benar-benar terjadi. Ia merasa ada sesuatu yang menyesakkan di dalam hatinya. Ia menginginkan bukan posisi Sora yang berada di sana. Bukan Sora yang kini berciuman dengan Kyuhyun. Bukan Sora yang menyerahkan kopi pilhannya pada Kyuhyun. Bukan Sora yang…

Apa aku mencintai pria itu?

Hye-Na nyaris menjerit sebelum seseorang, yang tidak diketahuinya siapa, kini menariknya ke dalam dekapan hangat. Tepat saat lampu sorot itu berhenti bergerak, dan lampu ruangan di aula itu kembali menyala.

Pandangannya mengabur, meski kini ia berada dalam dekapan seorang pria yang tidak diketahuinya siapa, tapi ia merasa sedikit nyaman di sana. Ia merasa agak familiar dengan aroma maskulin pria yang kini memeluknya.

Namun, hal itu tidak bisa membuat kepala Hye-Na berhenti berdenyut. Tidak bisa mengembalikan detak jantung Hye-Na agar berdegup normal.

Ingatannya kembali terbayang sekilas demi sekilas pada dua detik yang lalu, ketika seluruh lampu menyala, pandangan matanya sempat melihat dua objek yang begitu menyesakkan dada.

Seorang wanita yang berjinjit, seraya mengalungkan kedua tangannya pada leher pria di hadapannya.

***

“Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Hyunjoo-ya?”

Pria paruh baya itu tersadar dari lamunannya, kemudian menoleh. Membiarkan matanya menatap istrinya tersebut selama beberapa waktu sebelum pandangannya kembali terfokus pada langit malam.

“Kau…, apa ada yang tidak aku ketahui selama ini?”

Hyunjoo kembali menoleh, namun kali ini ia membiarkan kedua matanya memandang istrinya lama, dan lekat. Tidak ada tanda-tanda ia akan kembali berpaling, namun tak urung bahwa ia juga tidak akan menjawab. Seolah memberikan teka-teki pada Jisun agar wanita itu memecahkan sendiri jawaban atas pertanyaannya, tanpa bantuan siapapun.

“Alasan dari semua yang aku rencanakan adalah Hye-Na, Jisun-ah.”

Akhirnya Hyunjoo angkat bicara, namun masih memberikan teka-teki secara tidak langsung pada Jisun.

“Hye-Na? Apa yang terjadi padanya?”

“Kau pasti bisa melihat ada yang berbeda dengan diri putri kita itu sekarang, kan?”

Jisun mengangguk, “Bisakah kau menjelaskannya lebih detail?” pintanya.

Hyunjoo menghela napas pelan, lalu matanya kembali berpaling. Kali ini ia membiarkan fokus matanya menatap Kota Seoul dari balkon hotel. Sebuah kota dengan kenangan abadi yang tersimpan rapi di memorinya.

“Hye-Na, empat tahun yang lalu. Kau masih ingat kan bagaimana gadis itu merubah hampir seratus delapan puluh derajat rotasi hidupnya?” Hyunjoo memejam sesaat. “Bagaimana ia merubah penampilannya yang sebelumnya fashionable menjadi seorang gadis kutu buku. Bagaimana ia menjadi sangat rajin belajar hanya untuk bisa masuk Universitas Kyunghee. Bagaimana ia melewati hari-harinya saat aku, atau kau dulu, pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis. Bagaimana ia mengeskpresikan hal-hal ringan di dalam hidupnya, seperti tersenyum. Kau tahu kan di mana letak perbedaannya?”

“Cara ia membawakan intonasi suaranya saat tertawa, saat melengkungkan sudut bibirnya ke atas, dan ketika ia mengubah-ubah berbagai eskpresi wajahnya, semuanya mengalami perubahan. Kini ia bisa mengekspresikan semuanya dengan lepas, tanpa beban. Atau mungkin karena faktor—“

“Hye-Na hilang ingatan?”

Jisun mengangguk kecil.

“Mungkin itu adalah salah satu faktornya. Tapi… kurasa bukan hanya itu,”

“Apa kau mau bilang bahwa alasan ia berubah adalah karena putra… Hanna itu?”

Hyunjoo terdiam sejenak, lalu mengiyakan. “Cho Kyuhyun. Bagaimana namja itu bisa merubah seorang Han Hye-Na yang selama kita tahu, selalu mengunci rapat perasaannya, tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam ruang hatinya. Kyuhyun, bukankah namja itu bisa menyembuhkan luka di hati Hye-Na sedikit demi sedikit?”

“Itu masa lalu, Hyunjoo-ya.”

“Masa lalu? Kudengar Lee Donghae kembali ke Korea, dan kabar terbarunya ia juga sudah pernah bertemu dengan Hye-Na setelahnya.”

Mata Jisun membelalak kaget, “Are you kidding me?”

It’s not good for me.

Jisun menghela napas. Matanya menerawang. “Jadi sebenarnya, apa rencana yang telah kau susun sedemikian rupa itu?”

Hyunjoo menyeringai tipis, “Sederhana, aku bekerjasama dengan Hanna.”

“Hanna?” sesaat Hyunjoo bisa melihat ketakutan kecil di mata Jisun. “Apa yang kalian rencanakan?”

“Hanya memberikan kesempatan untuk keduanya mendalami perasaan masing-masing,” Hyunjoo mengedikkan bahu sekilas. “Sebelum keduanya merasa menyesal satu sama lain.”

“Memberikan kesempatan pada Kyuhyun sebagai pengganti Lee Donghae?”

Hyunjoo mengangguk, “Ingat Jisun-ah, ingatan Hye-Na masih belum kembali sepenuhnya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah jangan sampai ingatan Hye-Na kembali sebelum ia benar-benar yakin akan perasaannya pada Kyuhyun.”

“Kau benar-benar akan melakukan ini, Hyunjoo-ya? Bagaimana kalau—“

“Lupakan hal yang terjadi di masa lalu, Jisun-ah. Apa aku perlu mengingatkanmu bahwa kau hanya satu-satunya takdir yang diberikan Tuhan untukku?”

Jisun tersenyum samar, “Kalau boleh jujur, aku ragu.”

Hyunjoo menghela napas, sedikit frustasi. “Kau hanya perlu memercayaiku, dan cobalah untuk melupakan semua hal itu.”

“Apa acara The Great Coffee Time ini juga adalah salah satu bagian dari rencanamu?”

Ini yang Hyunjoo selalu keluhkan. Ia merasa istrinya tidak benar-benar mempercayainya, dan akan selalu mengalihkan pembicaraan bila topik mereka sebelumnya adalah tentang ‘masa lalu’.

“Mengalihkan pembicaraan lagi,” Jisun tidak mengambil pusing gumaman Hyunjoo yang terdengar oleh telinganya. “Bukan, ini rencana Hanna,” lanjutnya.

“Rencana Hanna?”

“Sudah kukatakan bahwa aku bekerjasama dengannya, kan? Hanna…, dia sepertinya tertarik dengan Hye-Na, Jisun-ah. Makanya ia mau Hye-Na dan Kyuhyun bersama.”

Jisun mendengus kecil, kekhawatiran yang sempat menghampirinya sekarang datang kembali. Ini yang paling tidak ia harapkan. Bukan, bukan karena hubungan Hye-Na dengan Kyuhyun. Tetapi…

“Apa kau memasukkan sedikit sentuhan drama di dalam rencanamu ini?”

“Tentu. Bahkan aku memasukkan unsur drama di sini, di acara ini. Meski kenyataannya sedikit real, dan agak menyimpang dari naskah yang seharusnya.”

“Ide cerita apa yang kau gunakan untuk drama kali ini?” Jisun melipat kedua tangan di dada begitu angin berhembus semakin mencoba menjebolkan pertahanan Jisun. Hyunjoo yang menyadari itu akhirnya menyampirkan jas hitamnya pada punggung wanita itu.

“Drama yang hampir serupa dengan peristiwa sepuluh tahun yang lalu, Jisun-ah.”

***

Hye-Na merasa lututnya lemas seketika. Otaknya tidak dapat memberikan respon positif atas apa yang baru saja dilihatnya.

Untaian kata demi kata kini terjejer di dalam benaknya. Mencoba menyusun berbagai hipotesa yang mungkin saja dapat membantunya. Membantu dalam artian memberi dukungan atas perasaannya bahwa semua yang dilihat, dirasakan, dan yang didengar gadis itu adalah bohong. Hanya kebohongan.

Tubuhnya masih berada di dalam dekapan seseorang yang masih tidak diketahuinya siapa—dan Hye-Na sama sekali tak menolak. Namun aroma yang menguar masuk ke dalam hidungnya membuat perasaannya sedikit lebih tenang. Aroma itu… ia seperti mengenalnya.

Bayang-bayang tentang kejadian beberapa detik lalu kembali membuat napas Hye-Na sesak. Oksigen di sekelilingnya seperti tersedot habis, tenggorokannya terasa kering.

Hye-Na mencoba untuk menggerakkan kaki dan tangannya untuk melepaskan diri dari rengkuhan pria yang tak dikenalnya itu, tetapi hasilnya malah membuat ia mengerutkan dahi heran.

Pria itu malah mengencangkan pelukannya, seolah enggan membiarkan Hye-Na lepas dari jeratannya.

“Siapa kau?”

Hye-Na tak berani mendongak, otaknya kini memunculkan banyak pertanyaan sekarang.

“Suaramu serak. Kalau kau ingin menangis, menangislah.”

“Byun… Baekhyun?”

Nyaris tergagap anda saja Hye-Na tidak cepat-cepat mengumpulkan seluruh kesadarannya. Ekspresi wajah gadis itu tergambar dengan jelas, antara kaget dan bingung.

“Salam kenal, Han Hye-Na.” Baekhyun melepas rengkuhannya, menatap Hye-Na yang kebetulan juga tengah menatapnya.

“Lihat lampu itu,” ucap Baekhyun seraya tangannya mengayun pada sepasang sejoli yang diterangi lampu sorot.

Dan untuk kali ini, Hye-Na benar-benar merasa dirinya seperti sedang berada di neraka.

“Jung Sora dan Cho Kyuhyun… mereka terlihat sangat serasi, bukan?”

Hye-Na menelantarkan pertanyaan Baekhyun. Fokus seluruh organ tubuhnya kini hanya terpaku pada tiga kata, Sora dan Kyuhyun.

“Kau tahu Nona Han, kalau lampu sorot itu sebenarnya tidak memilih secara acak, melainkan memang benar-benar memilih dengan beberapa syarat. So, tidak ada ‘the lucky person’ dalam permainan ini.” Baekhyun menatap Hye-Na yang kini menegang. “Bahkan kalau kau butuh informasi lagi, syarat yang ditentukan adalah… pasangan yang memiliki chemistry dengan sangat baik, dan tentu juga akan memengaruhi saat mereka berciuman, itulah yang akan menjadi pemenangnya.”

“Kau, apa maksudmu mengatakannya padaku?”

“Hanya memberitahumu sesuatu yang tidak kau ketahui.” Baekhyun menegakkan bahu acuh.

“Kita tidak saling mengenal, lalu kau memelukku dan mengatakan hal tersebut. Apa itu lucu?”

“Aku bukan orang yang humoris. Masalah memelukmu…, baiklah, kukatakan bahwa aku ikut terjun dalam permainan ini. Sayangnya, gadis yang kuincar ternyata mencintai orang lain. Ah, bukankah nasibku sangat malang?” Baekhyun mengedarkan pandangan ke sekeliling begitu sadar aksinya sekarang membuat puluhan pasang mata meliriknya ingin tahu.

“Kau tidak merasa sakit hati melihat namja itu berciuman dengan gadis lain? Kau tidak takut ia berpaling darimu?”

“Ia bukan kekasihku,” elak Hye-Na, suaranya serak.

“Bahkan kau masih mau berbohong setelah melihat semua itu? Hatimu terlalu terkunci rapat, makanya kau memilih kopi kesepuluh itu. Aku tidak menyangka di antara deretan tamu wanita yang hadir, hanya kau satu-satunya yang mengambil kopi rasa itu. Apa sebegitu kerasnya untuk mengerti perasaanmu sendiri?”

“Kau terlalu ikut campur, kita bahkan tak saling mengenal.”

“Aku tahu kau, dan kau tahu aku. Itu cukup.”

“Minggir, aku ingin pulang,” desis Hye-Na, lalu melepaskan tangan Baekhyun yang ternyata sedari awal menggenggam tangannya.

“Pulang? Acara yang sebenarnya baru saja akan dimulai,”

“Apa?”

“Lihat.” Dengan cepat Baekhyun membalikkan posisi Hye-Na sejajar dengan arah pandangannya.

Perlahan namun pasti, pertahanan Hye-Na jebol. Tangannya sukses bergetar, matanya dengan cepat memanas. Ia sudah tidak tahan, benar-benar tidak tahan. Ini terlalu membuat batinnya tersiksa, kepalanya benar-benar sakit.

“Ritual sebagai pemenang, sebuah kissing. Dan kau lihat bukan apa yang ada di depan matamu sekarang?” Baekhyun menyeringai tipis, lalu tanpa diketahui Hye-Na, Baekhyun menolehkan kepalanya ke belakang, seolah memberi isyarat pada seseorang.

“Namja itu membalas ciumannya, apa kau tidak takut ia benar-benar pergi darimu, Han Hye-Na?”

Hye-Na menjerit dalam hati. Dengan satu gerakan cepat, Hye-Na melepas cengkraman tangan Baekhyun di pergelengan tangannya, dan berlari dengan terpogoh-pogoh ke luar dari aula besar tersebut. Meninggalkan Baekhyun yang kini menyeringai puas, dan puluhan tamu undangan yang menatap heran.

Tak lupa juga menyisakan seorang wanita paruh baya yang menatap nanar apa yang ditangkap matanya sekarang, seolah-olah ia seperti menonton potongan-potongan kejadian masa lalu yang kini bergerak perlahan bagai sebuah rol film yang diputar pada layar.

Memberi jejak potongan kecil memori masa lampau yang begitu tak ingin diingatnya.

***

Kyuhyun mendorong bahu Sora menjauh. Ia tidak yakin apa yang dirasakannya sekarang, benar-benar tidak yakin.

Matanya mengerjap, dan satu tamparan mulus mendarat di pipinya. Ia tidak sedang bermimpi, benar-benar tidak sedang bermimpi.

Sora menciumnya?

Pertanyaan itu terus berputar di benak Kyuhyun. Meski ia sedikit tidak yakin itu bisa disebut ‘ciuman sebenarnya’ karena Sora hanya menempelkan bibirnya di sudut bibir Kyuhyun, tidak lebih. Namun, bukankah itu nyaris?

Kyuhyun mengerang tertahan saat lampu sorot semakin menyilaukan matanya di ruang aula yang sudah diterangi lampu itu. Lalu pandangannya beralih pada Sora yang kini pipinya bersemu merah.

Ada perasaan bingung, sekaligus tidak suka ketika Kyuhyun menatap Sora. Seperti ada yang janggal, dan ia tahu sekali apa yang janggal di pikirannya itu.

“Mengapa kau melakukan itu?”

Menginterupsi, Sora tahu dengan sangat jelas.

“Tidak mendengar apa yang dikatakan Byun Baekhyun tadi?”

“Tch, maksudmu aku adalah pasangan yang kau maksud itu?”

“Kau pikir siapa orang yang aku cintai selain kau, Cho Kyuhyun? Berhenti bersikap bahwa kau tidak tahu apa-apa soal perasaanku. Kau masih memiliki hutang janji padaku, dan itu tidak akan berlaku lagi jika dua minggu dari sekarang telah habis.”

Kyuhyun sedikit tersentak, yang ada dipikirannya sekarang hanya satu.

Han Hye-Na.

“Lagipula, kau tidak menolak saat aku mencium sudut bibirmu, bahkan untuk kedua kalinya. Kau tidak bertanya mengapa aku memberikanmu gelas kopi itu, dan kau langsung meneguknya. Jadi, di mana letak kesalahanku kalau awal dari semua ini adalah karena kau?”

“Kesalahanmu adalah kau tidak bisa menerima kenyataan. Sudah kubilang bahwa aku hanya menganggap kau sebagai—“

“Cukup!” Sora menutup telinganya. “Jadi maksudmu kau sudah menentukan pilihannya? Kau mencintai Han Hye-Na? Itu maksudmu, kan?!”

Mendadak lidah Kyuhyun terasa kelu.

“Yang ada di pikiranmu sekarang hanya Han Hye-Na, kan? Kalau begitu, apa yang akan kau lakukan jika Hye-Na melihat kau berciuman denganku? Kau pikir gadis sialan itu akan tetap berdiri di sampingmu?!”

“Jangan sekali-kali mengatakan sialan padanya, Sora.”

Oh, bahkan panggilan ‘Songie’ yang biasa dielukan Kyuhyun kini sudah berganti.

“Lalu, bagaimana kalau gadis itu melihat ini semua? Kau bisa menjelaskannya? Bagaimanapun, ia melihat kau dicium olehku, atau posisi kita terlihat seperti sedang berciuman. Jadi, apa reaksi Hye-Na saat melihatnya?” desis Sora, memandang remeh Kyuhyun.

“Oh, bahkan gadis itu sudah ke luar dari ruangan ini,” cibir Sora saat pandangannya bertemu dengan punggung Hye-Na yang kini menghilang di balik pintu.

Kyuhyun tersentak, lalu buru-buru menoleh ke belakang. Shit! Apa gadis itu melihat semuanya?

“Dan jangan menjadi orang bodoh, Kyuhyun-ah. Gadis itu pasti melihat semuanya. Kau dan aku di aula ini, pasti menjadi sorotan. Kau pikir gadis bodoh itu tidak akan melihat apa yang menjadi pusat perhatian?”

“Diam!” suara Kyuhyun terdengar membentak, membuat Sora tertegun.

“Berhenti mengatainya. Han Hye-Na itu—“

“Kau bahkan namja paling bodoh yang pernah kutemui. Mencintai seorang gadis dan kini malah membiarkannya jatuh dalam kesalahpahaman. Oh, pengecut sekali.”

Emosi Kyuhyun sudah hampir memucak, “Kau—“

“Gadis itu ternyata menyukai aroma parfum yang kugunakan. Aku tidak menyangka kalau aroma tubuhku hampir serupa denganmu.” Baekhyun tiba-tiba sudah berdiri di belakang Kyuhyun, hidungnya bergerak seperti sedang mengendus.

Kyuhyun mendelik Baekhyun tidak suka. “Aku tadi memeluknya, tidak salah kan? Habis, ia tadi hanya sendiri…”

“Memeluknya?” rahang Kyuhyun mengeras.

“Mengapa? Lagipula, ada hubungan apa kau dengan gadis itu? Sejujurnya gadis bernama Han Hye-Na itu adalah gadis yang kuincar selama awal acara ini. Dan tadinya aku ingin menciumnya, hanya saja sepertinya waktu tidak memihak.”

Kyuhyun mengepalkan tangannya kuat, lalu kakinya bergerak perlahan. “Aku tidak mengenal siapa kau. Tetapi kalau kau sampai menyentuhnya, kau akan menyesal nanti,” bisik Kyuhyun geram sebelum dengan satu gerakan cepat ia berlalu meninggalkan Baekhyun dan Sora.

Baekhyun dan Sora sama-sama menatap punggung Kyuhyun yang berjalan menjauh dengan langkah gelisah. Sebelum suara-suara tamu di dalam aula tersebut semakin menjadi, kedua orang itu akhirnya tersadar dari bayang-bayang lamunannya.

Baekhyun melirik Sora yang kini juga tengah meliriknya. Keduanya menghela napas, lalu tiba-tiba tangan Baekhyun sudah terulur, terdapat satu amplop putih di sana.

“Ini dari wanita itu, terimalah.” Baekhyun menunjuk sebuah arah yang anehnya, ia sudah tidak menemukan lagi orang itu di sana.

Sora mengernyit saat ia tidak menemukan sosok yang ditunjuk Baekhyun. Namun ia tidak ambil pusing, lantas langsung mengambil amplop putih yang disodorkan Baekhyun.

“Apa ini?”

Baekhyun mengedikkan bahu, “Entahlah.”

Sora hanya menanggapinya dengan senyum sekilas, lalu memasukkan amplop putih itu ke dalam tas tangannya tanpa berminat untuk membuka isinya terlebih dahulu. Baekhyun yang melihat itu lantas merasa semuanya sudah selesai.

“Baiklah para tamu sekalian, maaf jika ada keributan kecil. Oke, mari kita melanjutkan ke acara selanjutnya. Hmm, bagaimana kalau saya menawarkan sebuah permainan lagi?” ujar Baekhyun yang langsung dibalas tatapan memelas beberapa tamu yang ada. “Haha. Saya hanya bercanda. Untuk acara selanjutnya, koki kafe kami sudah memasakkan makan malam yang spesial untuk hadirin sekalian sebagai jamuan malam ini. Baiklah, selamat menikmati jamuannya.” Usai mengucapkan itu, reaksi tamu yang ada kurang lebih sama; merasa lega.

Baekhyun beralih menatap Sora yang dilihat dari tatapannya seperti menerawang. Membuat hati Baekhyun sedikit tergerak.

Dan tanpa sadar, Baekhyun menaruh telapak tangannya di pundak kiri Sora. “Tenanglah, image-mu tidak akan turun di hadapannya.”

“Andai aku tidak mengatakan itu, mungkin—“

“Kau berharap yang terbaik baginya dan untukmu, kan?”

Sora terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil.

“Aku juga sama denganmu, berharap yang tebaik. Meski bukan untukku, ataupun untuk pasangan itu.”

“Maksudmu?”

Baekhyun tersenyum, “Aku akan mengatakannya bila waktunya sudah tepat, atau mungkin kau akan mengetahuinya sendiri, Sora-ssi.”

***

Kyuhyun berlari ke luar dari gedung hotel dengan napas memburu. Ekor matanya meneliti gerak-gerik setiap orang yang berlalu lalang di hadapannya—mencari satu sosok dari kerumunan manusia itu.

Aish, di mana sebenarnya gadis itu?!

Kyuhyun menarik napasnya dalam, lalu membuangnya gusar. Tak dihiraukannya beberapa orang yang mulai memerhatikannya penuh minat. Yang ada di benaknya sekarang hanya satu, bertemu dengan Han Hye-Na.

Ia melirik jam tangannya yang kini terlihat bahwa jarum pendek di dalam jam tersebut bergerak ke arah sembilan. Erangan frustasi itu lagi-lagi terdengar memekakkan telinganya—baginya—yang sebenarnya bagi orang lain terdengar tak lebih dari sebuah bisikkan.

Otaknya mulai berpikir tentang tempat-tempat yang mungkin saja dikunjungi Hye-Na. Kafe? Tidak mungkin. Restoran? Apalagi. Rumah? Ah ya, rumah.

Kyuhyun baru saja akan melangkahkan kakinya menuju lapangan parkir begitu ia merasakan ada genggaman kecil yang menyentuh jemarinya. Lantas tanpa arahanpun, Kyuhyun membalikkan tubuhnya, mencari-cari sosok yang menggenggamnya begitu lembut.

“Ahjussi, di sini.”

Kyuhyun sedikit tersentak begitu ia melihat ada seorang anak kecil yang kini berdiri di depannya, menatap mata Kyuhyun dengan polos. Raut yang membuat siapapun orang yang melihatnya pasti ingin mencubit pipi anak kecil itu dengan gemas.

“Ada apa? Apa kau tersesat?” Kyuhyun membungkukkan tubuhnya, mensejajarkan diri dengan tubuh anak kecil laki-laki itu.

“Tidak, aku tidak tersesat,” jawab anak kecil itu. “Aku hanya ingin memberikan Ahjussi ini,”

Alis Kyuhyun bertautan, terlukis jelas bahwa kening pria itu kini mengerut.

“Apa ini?” Kyuhyun mengambil satu buah amplop putih dari tangan anak kecil yang terulur itu.

“Hmm, aku juga tidak tahu Ahjussi. Tapi tadi aku disuruh oleh seorang wanita di ujung jalan sana untuk memberikannya padamu,” jawabnya.

Kyuhyun langsung melemparkan pandangannya pada arah tunjuk bocah lelaki itu. Namun saat matanya bertumpu, ia sama sekali tidak menemukan objek apapun yang dapat membuat pertanyaannya terjawab. Tidak ada siapapun di sana, hanya sebuah gang kecil yang terlihat sepi.

“Kau yakin mendapatkan surat ini dari seseorang di sana? Mengapa tidak ada siapapun di situ?” tanya Kyuhyun seraya menatap raut bocah yang kini kebingungan itu.

Bocah laki-laki itu menggeleng, “Tapi Ahjussi, aku benar-benar mendapatkannya dari seorang wanita di sana,” tatapannya memelas.

Kyuhyun terdiam sejenak, merasa iba bila ia harus menuduh anak kecil tak berdosa itu bahwa ia mungkin saja berbohong. Tapi akhirnya Kyuhyun menyunggingkan senyum, “Baiklah, Ahjussi percaya padamu. Oh ya, ini sudah malam. Apa kau tidak pulang? Atau kau sedang bersama dengan kedua orang tuamu?”

Perlahan, ekspresi bocah laki-laki itu berubah murung. Ia menundukkan kepalanya, dan jari-jarinya perlahan bergetar. Ada suara isakkan yang mulai terdengar. Kyuhyun yang melihat itu lantas refleks panik. Ia sebenarnya tidak biasa menghadapi seseorang menangis, apalagi ini adalah seorang anak kecil. Baiklah, sepertinya ada satu ujian lagi yang harus diselesaikannya.

“Kau tidak apa-apa? Ada apa sebenarnya?” Kyuhyun menggoyangkan pelan lengan bocah laki-laki itu. Ada sebersit rasa kekhawatiran yang kini menyergap dirinya.

“Hmm, se… sebenarnya, aku… ditinggal kedua orang tuaku, Ahjussi,” ucapnya tergagap sambil pelan-pelan wajahnya berusaha mendongak.

“Ditinggal? Apa maksudmu?”

“Ta… tadi, saat aku masuk ke toko mainan itu,” bocah laki-laki itu menunjuk sebuah toko mainan di samping gedung hotel. “aku melihat mobil Eomma dan Appa yang terparkir awalnya, malah bergerak pergi. Aku sudah meneriakkannya, namun sepertinya mereka tidak dengar. Akhirnya, aku mencoba meminta bantuan pada orang-orang di sana, namun sayangnya tidak ada yang mau membantuku,” ungkap bocah laki-laki itu seraya menghapus air mata yang mengalir di ujung pelupuk matanya.

Kyuhyun menatap iba bocah laki-laki itu. Entah mengapa hatinya tergerak untuk menolong bocah itu, atau setidaknya mengantarnya ke rumahnya. Lagipula, siapa yang berniat menelantarkan bocah laki-laki semanis dan sepolos itu? Orang tua macam apa?

“Hmm, kalau begitu… bagaimana kalau Ahjussi mengatarkanmu pulang? Kau mau?” Kyuhyun tersenyum saat mata bocah itu membulat.

“Ahjussi serius?!”

Kyuhyun mengangguk, “Kau mau?”

“Tentu saja aku mau Ahjussi!” pekik bocah itu kegirangan.

“Baiklah, kalau begitu Ahjussi akan mengantarmu sekarang,” Kyuhyun beranjak berdiri seraya tangannya menggamit jari-jari mungil bocah laki-laki itu, lalu dengan perlahan mulai menyusuri jalan menuju lobi parkir.

“Oh ya,” suara Kyuhyun kembali terdengar saat ia sudah berada di lobi parkir dan hendak membuka pintu mobil. “Siapa namamu? Kita bahkan belum saling mengenal,”

“Namaku Han Seokgu, Ahjussi.” Bocah itu tersenyum lebar, membuat matanya kian menyipit. “Kalau Ahjussi bernama… Cho Kyuhyun?”

Alis Kyuhyun mengerut, ia tidak salah dengar kan?

“Bagaimana kau tahu namaku?”

Anak laki-laki itu sedikit salah tingkah saat mendengar pertanyaan itu, namun akhirnya senyum lebar itu kembali terpampang. “Hmm, aku melihatnya di bagian depan amplop putih itu, Ahjussi. Hehe.” Seokgu menunjuk sebuah amplop putih yang masih berada di tangan kiri Kyuhyun.

Kyuhyun melirik sekilas amplop putih yang berada di genggamannya. Ia nyaris tidak ingat untuk membuka amplop putih yang membawanya bertemu dengan anak kecil laki-laki itu. Dan sebuah pertanyaan lagi kini bertambah di benak Kyuhyun yang belum mendapatkan jawaban.

Sebenarnya, apa isi amplop itu?

***

Waktu sudah menujukkan hampir pukul sepuluh malam, namun Kyuhyun belum juga tiba di rumahnya. Sekarang, ia sedang berada di kawasan perumahan elit di Seoul, tepatnya di daerah Gangnam. Sebuah kawasan perumahan yang menurutnya terlalu kebetulan.

“Ini benar rumahmu, Seokgu?”

Seokgu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ne. Ahjussi mau masuk?”

Kyuhyun berpikir sejenak, “Mau kuantar ke dalam?”

“Hmm, tidak perlu Ahjussi,” tolak Seokgu halus. “Lagipula ini sudah malam, Eomma dan Appa Ahjussi pasti khawatir.”

Kyuhyun tertawa, memperlihatkan deretan giginya yang berjajar rapi. “Arraseo, kalau begitu kau harus hati-hati masuk ke dalamnya ya. Dan jelaskan apa yang terjadi pada kedua orang tuamu agar mereka tidak cemas. Oke?” ujar Kyuhyun seraya mengacak-acak pelan rambut hitam Seokgu.

“Siap, Ahjussi!” seru Seokgu sebelum tangannya menggapai knop pintu mobil.

Kyuhyun tersenyum melihatnya, sebelum tiba-tiba kepalanya teringat sesuatu. Lantas dengan cepat, ia menahan pergelangan tangan Seokgu yang baru saja hendak turun dari joknya.

“Ada apa Ahjussi?”

Kyuhyun menimbang sejenak apa yang akan dikatakannya, “Hmm, apa kau tahu keluarga yang tinggal di samping rumahmu itu?” tanya Kyuhyun sembari telunjuknya bergerak ke arah sebuah rumah mewah yang berdiri kokoh.

“Oh, rumah keluarga Han?” Seokgu tersenyum, “Aku tahu Ahjussi. Mereka keluarga yang sangat ramah, apalagi putri dari keluarga Han itu. Ia sangat baik dan sering bermain denganku,”

“Sering bermain denganmu?” sahut Kyuhyun cepat, mulai tertarik dengan perkataan Seokgu.

Seokgu mengangguk kecil, “Tapi itu dulu Ahjussi, sebelum ia pindah ke apartemennya.”

“Tapi ia sekarang sudah tinggal di sini lagi, kan?”

Mata Seokgu melebar. “Benarkah? Aigoo, mengapa aku belum bertemu dengan nona itu?!”

Kyuhyun tersenyum kecil, “Mungkin saja—“

“Astaga! Itu Nona!” pekik Seokgu menyela ucapan Kyuhyun, seraya telunjuknya menyentuh-nyentuh kaca depan mobil.

Kyuhyun mengernyit sekilas, lalu tatapannya langsung berpaling ke samping.

Jantung Kyuhyun mendadak berdebar kencang. Bahkan telapak tangannya kini sudah berada di dadanya, mengukur seberapa terasanya detak jantungnya yang tiba-tiba saja seperti ingin melompat ke luar.

Gadis itu berdiri di sana, masih dengan balutan gaun hitam yang sama seperti yang dilihat Kyuhyun beberapa waktu lalu. Jalan gadis itu begitu terlihat lunglai, dan nyaris Kyuhyun menjerit begitu fokus matanya melihat Hye-Na yang nyaris limbung ke tanah andai saja ia tidak berpegangan pada pagar rumahnya. Hye-Na begitu terlihat tak berdaya, bahkan di udara sedingin ini, gadis itu tidak mengenakan apapun yang dapat menutupi bahunya yang terbuka dan kaki jenjangnya. Ia terlihat seolah gadis yang kebal terhadap apapun. Padahal bila orang lain melihat hal ini, Kyuhyun yakin bahwa orang-orang itu pasti berpikir bahwa Hye-Na adalah gadis yang lemah, atau sedang dalam keadaan mabuk.

Tunggu, mabuk?

Gagasan itu melintas dengan cepat di kepala Kyuhyun seiring dengan gerakan tengannya yang sudah melepas seat belt yang digunakannya dan segera melompat dari jok mobilnya. Perasaannya benar-benar cemas sekarang. Andai Hye-Na memang sedang mabuk, apa dia siap menerima kemungkinan terburuk?

Seokgu yang melihat itu tanpa sadar tersenyum. Ia seperti melihat dua garis yang tak sengaja bertemu, lalu terhubung menjadi satu garis lurus di dalam matanya. Dua objek itu jatuh tepat di retinanya, menangkap dengan pas di dalam arus lingkar hitam yang kini memancarkan binar. Harapannya ternyata lebih dari yang ia bayangkan.

Bocah lelaki itu memilih untuk tetap duduk di dalam mobil, memperhatikan dengan seksama apa yang akan dilakukan Kyuhyun kepada seorang gadis yang kini masih tak bergeming di depan pagar rumahnya. Seokgu sebenarnya ingin segera masuk ke dalam rumahnya dan tidur. Namun sayangnya egois kecilnya muncul. Ia tidak ingin melewatkan momen ini. Meski umurnya baru menginjak delapan tahun, tapi tidak ada salahnya bukan melihat sepasang manusia berbeda jenis? Toh, ia sudah mengerti sedikit demi sedikit mana yang salah dan mana yang tidak, mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak. Lagipula, jangan salahkan ia bila ia harus melihat apa-yang-akan-terjadi-selanjutnya, ia hanya ditugaskan berperan sebagai cameo dalam sebuah alur yang sudah disusun sedemikan rupa. Dan lagi, ia bisa menutup mata jika apa yang dilihatnya memang tidak boleh dilihat. Pertemuannya yang tidak terduga dengan Hye-Na juga awalnya tidak ada dalam script, jadi biarkan semuanya mengalir seperti air.

Ada sebuah rasa ragu yang mengiringi langkah Kyuhyun. Namun ketika ia mengingat kemungkinan terburuk tentang Hye-Na, perasaan cemas itu langsung menyergapnya tanpa memberi sisa. Ia harus menjelaskan semuanya pada Hye-Na agar kesalahpahamannya tidak berlanjut lebih jauh.

Kyuhyun memantapkan hati. Kini jaraknya dengan Hye-Na tidak kurang dari dua meter, tetapi gadis itu masih tak menyadari kehadirannya. Hye-Na masih menundukkan kepalanya dalam sambil kedua tangannya berpegangan erat pada pagar rumah.

“Na-ya,”

Bahkan panggilan yang terdengar cukup keras mengingat suasana sunyi yang meliputi sekelilingnya itu tidak cukup membuat Hye-Na mendongak. Gadis itu merasa suara yang ia dengar merupakan bentuk halusinasinya. Pikirannya kembali melayang pada potongan-potongan kejadian di hotel beberapa waktu yang lalu. Masih terekam dengan sangat jelas, hingga erangan tertahan itu menyeruak di antara lapisan udara yang semakin membekukan kulit.

“YAA!” seruan itu terdengar seirama dengan kedua tangan Kyuhyun yang dengan sigap menangkap tubuh Hye-Na yang nyaris terjengkang ke belakang. “Kau? Apa yang terjadi padamu?!”

Hye-Na merasa pendengarannya sesaat tuli. Namun beberapa detik setelah itu, kelopak matanya yang terpejam takut sebelumnya perlahan mulai membuka.

Hye-Na masih mengerjapkan matanya, belum merespon ucapan Kyuhyun—atau ia memang tidak mendengarnya.

“Apa yang terjadi padaku?” suara itu terdengar parau, menyisakan sedikit kelegaan di hati Kyuhyun bahwa setidaknya gadis itu baik-baik saja. Bahkan deru napasnya tidak tercium bau alkohol atau semacamnya, membuktikan lagi-lagi bahwa gagasan Kyuhyun meleset.

“Kau hampir jatuh ke tanah tadi, Na-ya,” jawab Kyuhyun sembari memperbaiki posisi mereka yang sedikit tidak lazim—atau sebenarnya hanya alasan Kyuhyun untuk meredakan detak jantungnya yang berpacu cepat.

Hye-Na masih tidak merespon, otaknya seperti bergerak dengan lambat. Sebelum akhirnya matanya meneliti wajah seseorang yang berada di hadapannya, meneliti dengan lekat dan fokus seakan namja di depannya adalah objek observasi.

Kyuhyun yang merasa diperhatikan oleh Hye-Na seperti itu merasa sedikit gugup. Entahlah, sebenarnya ada banyak hal yang ingin dijelaskan Kyuhyun, namun ketika ia sudah berdiri di hadapan orang yang ia cari, justru bibirnya sekarang seperti terkunci rapat. Berbagai umpatan memenuhi benaknya, merasa bodoh dengan situasi seperti ini—dan tubuhnya yang tidak bisa diajak bekerjasama.

Saat kesadaran Hye-Na terkumpul semua, gadis itu mundur selangkah, matanya menatap Kyuhyun dengan pandangan sulit diartikan.

“Mengapa bisa kau berada di sini?”

Pertanyaan itu menyentakkan Kyuhyun kembali ke dunia nyata. Ia tidak mempermasalahkan apa yang dipertanyakan gadis itu, namun yang kini membuatnya heran adalah nada suaranya.

Terdengar begitu tidak suka.

“Aku—“

“Pulanglah. Kalau kedatanganmu ke sini untuk membawaku kembali ke acara itu lagi, hasilnya akan sama saja seperti kau membujuk sebuah patung untuk bisa berbicara.”

Kyuhyun menggeleng, merasa ada sesuatu yang aneh. “Ada apa denganmu?” Kyuhyun berjalan mendekat, namun di saat yang sama Hye-Na juga memundurkan tubuhnya.

“Ada apa denganku? Oh, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mencemaskan hal yang sia-sia. Sudahlah, lebih baik kau pulang sekarang,” ujar Hye-Na seraya mendorong pelan pagar rumahnya. Baru saja ia akan melangkah masuk, pergelangan tangannya sudah dikunci oleh jemari seseorang.

“Kedatanganku ke sini untuk menjelaskan semua yang terjadi malam ini, Na-ya. Bisakah kau tidak salah paham?”

“Percaya diri sekali kau,” desis Hye-Na, meski kini hatinya bergetar. “Salah paham tentang ciumanmu itu? Berguna sekali kalau aku memikirkannya, Cho Kyuhyun.”

“Itu bukan seperti yang kau bayangkan, Na-ya.”

“Lalu? Sudahlah. Aku lelah hari ini, jadi bisakah kau lepaskan tanganmu itu?”

Kyuhyun menggeleng tegas, “Aku tidak akan melepaskannya sebelum kau mau mendengarkan penjelasanku.”

“Aku tidak butuh penjelasanmu. Lagipula itu hakmu dekat dengan siapa saja, berciuman dengan siapa saja, atau melakukan hal apapun dengan siapa saja. Aku tidak punya hak untuk melarangmu. Ingat, kita tidak memiliki hubungan apapun Cho Kyuhyun!” cerca Hye-Na, emosinya sudah tidak stabil. Dengan cepat ia mengibaskan tangan Kyuhyun, membuat genggamannya terlepas.

Kesempatan itu tidak disia-siakan Hye-Na, lantas dengan sigap ia melangkah masuk ke dalam halaman rumahnya. Matanya perlahan memanas, seperti ada sesuatu yang salah di dalam perasaannya.

Kyuhyun masih tak bergeming di tempatnya, sebelum akhirnya seluruh organnya bekerja dan dengan pasti kakinya bergerak memasuki pelataran rumah Hye-Na. Ia sudah tidak dapat lagi menahan seluruh hal yang sudah berkecamuk di benaknya, lantas dengan cepat ia meraih tangan Hye-Na, menarik tubuh gadis itu ke dalam sebuah dekapan.

“Kau masih memiliki perjanjian denganku, Han Hye-Na. Selama itu, kau masih terikat denganku.” Kyuhyun menenggelamkan wajahnya pada puncak kepala Hye-Na, menghirup dalam-dalam udara di sana.

Hye-Na tercekat, merasa oksigen di sekelilingnya menipis karena perlakuan spontan Kyuhyun. “Yaa! Apa yang kau lakukan, hah?! Cepat lepaskan!”

Alih-alih melepaskan, Kyuhyun malah mengeratkan rengkuhannya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan dipikirkan gadis itu tentangnya. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah ketenangan untuk dapat berpikir jernih. Dan cara ampuh yang ia ketahui adalah berada di dekat gadis itu untuk beberapa waktu. Seolah gadis itu adalah pengisi energinya untuk dapat tetap bergerak.

“Ciuman itu… kau jangan salah sangka, Na-ya, itu bukan ciuman di bibir. Sora hanya mencium sudut bibirku,” Kyuhyun mulai membuka pembicaraan.

“Lepaskan aku!” Hye-Na berusaha menormalkan suaranya agar tidak terdengar serak, lalu meronta di dalam dekapan Kyuhyun.

“Kau cemburu?”

Well, sebenarnya pertanyaan klise, namun Kyuhyun tak menyadari.

“Cemburu?! Yaa! Mengapa kau sangat percaya diri?” sinis Hye-Na. “Berhenti untuk menjelaskan semuanya. Aku sudah mengerti apa yang akan kau katakan. Meskipun ia hanya mencium sudut bibirmu, kau tidak menolaknya kan? Bahkan untuk kedua kalinya, kau tidak merespon hal yang berbeda,”

“Sudah kukatakan bukan kalau itu adalah hakmu untuk melakukannya dengan siapa saja. Kau tidak perlu memberitahuku, lalu menjelaskan semuanya sampai aku mengerti dan seolah memaafkanmu. Kau mempunyai salah padaku? Kurasa tidak,” ujar Hye-Na datar, meski tanpa sadar matanya memanas. “Untuk itu, pulanglah Kyu. Tidak ada yang harus kau jelaskan karena semuanya memang sudah jelas.” Suara Hye-Na melemah, ingatannya kembali terbayang saat ia melihat Kyuhyun membalas ciuman Sora. Apa itu bisa disebut ciuman yang hanya di sudut bibir?

Atau… Kyuhyun berbohong padanya?

Kyuhyun terdiam, merasa gerak otaknya menemui jalan buntu. Sial! Umpatnya, di mana kata-kata yang sudah disusun olehnya selama di perjalanan itu?

Tanpa disadari Kyuhyun, lingkaran tangannya di tubuh Hye-Na terlepas seiring dengan tubuh Hye-Na yang kini berbalik ke arahnya.

“Kau bisa pulang sekarang. Hmm, bagaimana kalau kita tidak bertemu terlebih dahulu? Kurasa Sora—“

“Berhenti bersikap seolah tidak ada yang terjadi!” Hye-Na tertegun begitu mendengar suara yang terdengar membentak itu. “Apa kau tidak merasa ada sesuatu selama ini? Apa kau tidak memiliki sepercik perasaan apapun ketika bersamaku?”

Jantung Hye-Na perlahan berdetak cepat.

“Han Hye-Na,” Kyuhyun mengucapkannya dengan fasih, sambil tatapannya mengunci bola mata Hye-Na. “Apa kau tidak memiliki sedikit perasaan apapun padaku?”

“Kau berbicara apa?” Hye-Na tersenyum kaku, “Lebih baik sekarang kau—“

“Jawablah! Kau benar-benar membuatku hampir gila karena memikirkan hal ini terus!”

Hye-Na merasa emosinya naik, mengapa tiba-tiba Kyuhyun menjadi membentaknya seperti ini?

Gadis itu menghela napas, “Kau dan aku bukan takdir yang sengaja dipertemukan. Mungkin Sora bisa menjadi kekasih aslimu, dan…” Hye-Na menggantung ucapannya, lalu dengan yakin menatap bola mata Kyuhyun. “Kita… bisa mengakhiri hubungan kepura-puraan yang kita lakukan.”

Kyuhyun merasa dirinya sudah tuli. Ucapan Hye-Na membuat dadanya sesak, seperti ada sebongkah batu yang menimpa jantungnya.

“Kau—maksudmu, apa?”

Hye-Na memaksakan senyum, lalu matanya beralih menatap pekarangan rumahnya. “Seperti yang kau dengar, kita… bisa mengakhiri hubungan kepura-puraan ini, kan? Dengan begitu, semuanya akan menjadi lebih baik.”

“Lebih baik?” tanya Kyuhyun parau, “Kau akan membuat kondisiku menjadi jauh lebih buruk, Na-ya.”

“Mengapa?” Hye-Na menatap Kyuhyun lagi, pandangannya sayu. “Kau mencintaiku? Tertarik padaku? Menginginkanku?”

Kyuhyun menghembuskan napas berat, ada sesuatu yang mengganjal di rongga paru-parunya.

Ia mengumpulkan seluruh fokusnya, lalu kepalanya perlahan mendongak, menatap kedua bola mata Hye-Na. Tersirat rasa lain di dalam tatapannya.

Ada sesuatu yang membuat Hye-Na seperti terserap ke dalam arus masa lalu ketika manik matanya bertemu dengan bola mata milik Kyuhyun. Seperti ada sebuah kunci yang ia temukan di dalam otaknya, membuka sebuah pintu yang selama ini selalu diketuknya tanpa ada balasan.

Perlahan tangan Kyuhyun terulur, menarik kembali tubuh Hye-Na dengan pandangan mata yang masih tak berpaling dari kedua bola mata coklat yang kini tampak mengalihkannya.

Seokgu yang melihat itu menutup kedua matanya—menghindari kemungkinan yang tidak boleh ia bayangkan, atau ia pikirkan di umurnya yang belia.

Bahkan jantung Hye-Na hampir mencelos dari tempatnya. Otak dan hatinya benar-benar tidak sependapat. Selalu sepihak. Selalu.

“Kyu—“

“Kalau aku mengatakan ketiga hal itu, apa kau mau menarik kata-katamu sebelumnya, Na-ya?”

“Kata-kata sebelumnya itu—“

“Kau tidak bodoh, Han Hye-Na. Atau kau mau…”

Dan saat itu juga, Seokgu merutuki dirinya sendiri karena membuka mata—berpikir bahwa semuanya sudah selesai.

Matanya kembali terpejam, meski sayangnya kemungkinan yang seharusnya tidak boleh ia bayangkan, atau ia pikirkan kini harus menghantui otaknya.

Bahkan ia masih membayangkan apa yang ditangkap matanya, meski ia hanya melihatnya sekilas, namun itu sudah cukup membuat ia mengerti.

Ya, sesuatu yang seharusnya tidak boleh ia bayangkan, ataupun ia pikirkan.

-To Be Continued-

A/N: Voila! Akhirnya part8-nya selesai juga. Bagaimana? Kependekkan ya?

Sebelumnya, aku mau ngucapin permintaan maafku karena aku nge-post ini telat lebih dari empat hari. Jujur, dua minggu ini tugas dan ulangan emang lagi nggak kebayang, dan aku buat ini juga pas malam, di saat ada waktu senggang (jadi aku minta maaf ya kalau ada typo dsb, udah ngebut bikinnya soalnya) semoga readers mau memaklumi ya^^. Dan mengingat tugas dan ulangan yang belum selesai-selesai juga, akhirnya aku memutuskan buat part berikutnya aku nggak janji bisa sepuluh hari. Tapi insyaAllah, aku usahain nggak akan lama, soalnya aku juga udah punya planning jadwal dan draft sampai part ini tamat 😀

Lalu, aku ngucapin makasih banyak buat semua readers yang udah setia membaca FF chapter kacangan aku ini dari awal sampai part-8 ini. Komentar dan saran dari kalian itu bikin penyemangat buat lanjutin FF ini, meski saat mata udah siap untuk ditidurkan(?), hehe.

Dan oh ya, makasih juga sama doa readers buat ulanganku, alhamdullilah berjalan dengan lancar^^, dan untuk part berikutnya, aku usahain bakal aku post setelah sisa ulanganku di minggu ini beres semua (dimaklumi ya sebentar lagi udah mid semester), dan semoga readers nggak bosen dengar alasanku ini-ini mulu karena postingnya terlambat, soalnya memang itulah alasannya hehe.

Terakhir, (kebanyakan ya? xoxo) komentar dan sarannya diterima dengan senang hati, dan doain terus supaya FF ini dipostingnya lebih cepat ya, (aku juga maunya begitu) tapi mengingat ini masa-masa terakhir aku sekolah, jadi aku harus benar-benar ngebagi waktu. Oke sepertinya segitu dulu aja ya, sampai ketemu di part berikutnya *berasa apa ini*, dan makasih atas perhatiannya 😀

149 responses to “Cappuccino (Part 8)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s