The Fear of Falling for You: Chapter 4

Prolog | Chapter: 123

Title: The Fear of Falling for You

Author: SSI

Length: Chaptered (still on-going)

Cast: Wu Yi Fan / Kris Wu (EXO M), Park Chanyeol (EXO K), Son Hana (OC)

Other Cast: EXO K, EXO M, etc.

Genre: Action, romance, angst, slightly abuse

Rating: PG-16

Disclaimer: We don’t own anything but the storyline

Poster: cr; logo

Author’s POV

Suasana hening selalu mendominasi percakapan keenam orang yang merupakan tiang dari organisasi ini, Dragon Team. Siapa yang tak kenal organisasi ini? Satu-satunya organisasi yang menjalankan misinya dengan setelan tuxedo hitam. Sungguh kabur tentang apa-saja-misi organisasi ini di mata masyarakat awam Korea Selatan. Mereka hanya mengetahui kelompok ini ditiangi oleh orang-orang bergolongan tinggi dan cerdas, serta mempunyai sebuah klub eksekutif yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu saja. Tak salah jika masyarakat penasaran dengan organisasi ini, tetapi selalu berakhir dengan rasa puas bahwa organisasi ini hanyalah organisasi yang bergerak dalam bidang penyedia tempat hiburan malam, bukan hanya di Korea Selatan, tetapi juga di negara lain.

Berbanding terbalik dengan pengetahuan masyarakat awam, polisi di Seoul sudah mempunyai catatan yang lengkap tentang tindakan kriminal di luar nalar yang mereka lakukan. Pengedar narkoba dalam jumlah banyak adalah hal yang sangat lumrah untuk organisasi ini. Tetapi penjualan wanita, sampai penemuan racun yang bisa membasmi seseorang tanpa meninggalkan sedikitpun reaksi kimiawi dalam tubuh orang tersebut, sangat di luar ekspektasi polisi-polisi ini. Hampir semua polisi sudah angkat tangan dan bersikap acuh tentang organisasi ini. Mereka sama sekali tidak mempunyai bukti yang menunjukkan bahwa Dragon Teamlah dalang dari semua ini.  Kejahatan yang mereka lakukan terstruktur dengan baik tanpa adanya kesalahan 0,1 persen pun.

Kris yang merupakan leader dari kelompok ini sedaritadi hanya tersenyum tipis dengan segelas tequilla di genggaman tangan kanannya, menertawai ekspresi bingung dari lima orang yang ada di sekelilingnya.

Kai yang tadinya bersikap seakan tak peduli akhirnya angkat bicara, “Mundur? Apa maksudmu?”

“Mundur? Maksudmu kabur dari semua ini?” lanjut Chen.

Kris berdeham kecil, membuat Tao yang sedaritadi berjalan mondar-mandir menghentikan aktifitasnya.

“Mundur untuk bersiap-siap. Kita akan menyambut mereka. Menyambut kawanan kecoak yang datang untuk mengambil teman mereka yang terpisah. Lengahkan pengawasan, biarkan masyarakat umum menikmati klub kita,” jelas Kris seraya meneguk tequillanya.

“Tapi itu terlalu berbahaya. Kita harus memindahkan wanita itu,” balas Tao sambil menunjuk Sora dengan dagunya yang lancip.

Sama seperti Kris, Xiumin yang rupanya sudah membaca semua misi yang telah dipikirkan Kris, hanya tersenyum, “Tidak, itu misi terakhir. Kita akan mengikuti permainannya untuk mendapat informasi siapa-siapa saja yang mengerjar kita.”

“Dan di saat misi terakhir itu tiba, kita memerlukan driver handal untuk menjadi lapisan pertama dalam menghadapi mereka,” tambah Kris.

“It’s my job,” sahut Xiumin seraya menyeringai kecil.

“Tidak. Nyawaku bergantung padamu, Baozi. Kau bersamaku,” jawab Kris tegas.

“Lalu siapa?” balas Xiumin.

Senyum kecil di wajah Kris tergantikan dengan ekspresi kaku yang serius, Tao, kau bersama dark blue Vipermu akan ke arah utara. Chen, kau tetap di sini mengontrol setiap pergerakan kami dan pergerakan mereka. Kemudian kau, Yixing, kau tahu kan akan membawa teman mereka ini ke mana?”

Lay tidak bergeming sama sekali. Sedikit tersirat rasa ragu yang tertangkap oleh mata Kris.

“Fear of death is worse than death itself. Takut pada kematian lebih buruk daripada kematian itu sendiri. Jadi, jangan takut,” kata Kris sambil menepuk pundak Lay. Lay hanya tersenyum singkat seraya mengangguk, seolah mengiyakan.

Pertemuan itu berakhir dengan Kris yang bangkit dari sofa tahtanya dan melemparkan kunci mobilnya ke arah Xiumin. “Drive me,” pintanya.

Tinggallah empat orang yang tersisa di sana, larut dalam pikiran masing-masing. Aura semangat yang menggebu-gebu untuk melakukan misi ini terlalu mendominasi ruangan tersebut, tetapi rupanya satu orang di antara mereka sedang sibuk memikirkan rencana lain.

—–

Hana’s POV

Aku terbangun dari tidur panjangku. Aku baru saja sampai di rumah pagi tadi dan segera terlelap tidur tanpa mempedulikan mobil Kris, yang kulihat dari balik jendela kamarku, melesat pergi meninggalkan garasi. Kuregangkan otot-otot tubuhku sebelum berjalan menuju dapur. Perutku terasa lapar, maka aku memutuskan untuk membuat makan malam. Ya, tentu saja makan malam untuknya juga. Aku sedikit berharap kali ini dia bersedia memakannya. Aku sedang membuka kulkas saat suara mesin mobil terdengar memasuki halaman depan rumah. Aku melirik jam yang terpasang di dinding dapur.

Tumben sekali jam segini sudah pulang,’ pikirku dalam hati.

Baru saja aku hendak meraih gagang pintu ketika pintu tersebut telah terbuka, menampakkan Kris dan seseorang yang sepertinya aku kenal. Ah, dia yang mengatar Kris yang sedang mabuk berat malam itu. Pria itu memberiku senyuman kecil sementara Krismenatapku sekilas seraya menghela napas kesal sebelum dengan tak acuh berjalan melewatiku seolah aku ini tembok.

‘Astaga, bagaimana bisa aku telat membukakan pintu untuknya? Dia pasti akan memberiku pelajaran malam ini,‘ rutukku.

Kulihat sosok Kris yang langsung masuk ke kamarnya dan meninggalkan temannya ini duduk sendiri di sofa ruang tamu kami. Tunggu, ‘kami’? Bolehkah aku menyebut Kris dan aku sebagai ‘kami’? Tentu saja boleh, ini kan hanya pembicaraan di dalam otakku saja. Rupanya imajinasiku ini membuatku mengulum senyum tanpa sadar, sehingga pria di depanku ini menatapku dengan aneh.

“Umm… Tuan mau minum apa?” tanyaku gugup padanya.

“Kau,” jawab pria itu.

“Eh?” aku mengeryitkan dahi tak mengerti.

“Kau lucu sekali,” tambahnya seraya tertawa kecil.

Aku mengamati wajahnya. Pipinya terlihat sangat bulat yang membuatnya terlihat sangat manis, namun ketika aku menatap matanya, kubuang jauh-jauh pikiran itu. Pria ini pasti sama saja dengan Kris, suka mempermainkan wanita. Hal itu bisa aku tangkap juga dari seringainya dan pernyataannya padaku barusan.

Aku segera beranjak meninggalkannya dan kembali ke dapur. Aku memutuskan untuk membuatkannya sirup saja. Aku membuka kulkas dan mengambil sebotol sirup yang masih tersegel. Kusiapkan dua gelas kaca dan kutuangkan sirup tersebut seraya menambahkan air ke dalamnya.  Setelah kurasa cukup, aku mengambil nampan dan meletakkan kedua gelas tersebut di sana. Namun ketika aku membalikkan tubuhku, aku dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang tepat berada di belakangku yang menyebabkan nampan yang kubawa jatuh dan sirup yang telah kubuat tumpah membasahi bajunya.

“Ah maaf. Aku benar-benar tidak sengaja,” ucapku seraya membungkukkan badan berkali-kali.

Saat kudongakkan kepala, tatapanku bertemu dengan tatapan nakal miliknya.

‘Aish, tamu ini lagi. Kenapa dia tiba-tiba berada di sini?’ gerutuku dalam hati.

Tatapannya tidak kunjung berpaling dariku, dia seolah-olah tidak peduli dengan keadaan bajunya yang basah dan bernoda akibat tumpahan sirup tadi.

“Tuan… Apa yang Tuan lakukan di sini?” tanyaku sambil terburu-buru mengambil tisu yang terletak di atas salah satu konter dan segera menyapukannya di atas permukaan baju miliknya.

Tetapi gerakan tanganku terhenti akibat cengkeraman tangannya.

“Kau harus ganti rugi, Nona,” katanya dingin. Suaranya tidak semanis tadi.

Aku menelan ludah dengan susah payah mendengarnya. ‘Sial, apa yang akan Kris lakukan padaku kalau dia tahu aku membuat tamunya marah,’ tak henti-hentinya aku mengutuk diriku sendiri.

“Maaf, aku benar-benar minta maaf,” kataku sekali lagi sambil menunduk.

Dia masih mengenggam pergelangan tangan kananku saat menjawab, “Kumaafkan asal…”

Kata-katanya terdengar menggantung, karena itu aku mengangkat kepalaku dan segera disambut dengan seringai miliknya. Tiba-tiba dia mendekatkan wajahnya padaku yang mebuatku menahan napas seketika.

“Kau ikut denganku. Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik. Aku bukan tipe kasar seperti majikanmu,” bisiknya tepat di telingaku.

Aku bergidik mendengarnya.

“Kau cantik,” katanya seraya menarik daguku, mendekatkan wajahku ke wajahnya dan menjalankan jari telunjuknya di garis rahangku.

Aku menutup mataku erat-erat.

“Hmm… And you have a nice body,” tambahnya lagi.

Kurasakan tangannya yang tadi mengenggam daguku kini turun dan meraba pinggangku, sementara tangannya yang lain memegang leherku, dia terlihat sedang bersiap-siap untuk menerjang daerah itu. Tubuhku bergetar. Aku bisa merasakan air mata yang siap tumpah di pelupuk mataku. Saat bibirnya hanya berjarak sesenti lagi dari leherku, pria itu terlempar ke belakang, seperti ditarik dengan paksa oleh seseorang.

Aku segera membuka mataku. ‘Kris…?’

“What the hell do you think you’re doing, Kim Minseok?!” suara parau namun tegas itu tak salah lagi memang miliknya.

“Nothing,” jawab pria yang bernama Minseok itu dengan senyuman kecilnya.

‘Dasar muka dua,’ hardikku dalam hati.

Tentu saja Kris tidak menerima jawaban itu. Dia terus menatap pria kurang ajar itu dengan tatapan membunuh.

“Well, sebenarnya aku ingin mengajakmu kerja sama,” tambah pria itu.

“What?!” Kris berteriak kaget.

Author’s POV

Hana memandang Xiumin dengan tatapan tidak mengerti. Namun tiba-tiba, dengan gerakan cepat Xiumin menjambak rambut Hana yang membuat Hana merintih seketika. Dia mengendus leher jenjang milik Hana sekilas dan segera beralih mendekati bibir Hana. Hana tampak sangat ketakutan. Bibirnya bergetar dan isakan-isakan kecil keluar dari sana. Hal tersebut membuat Xiumin tersenyum seraya menjilat bibirnya sementara pemadangan itu membuat hati Kris terhenyak.

“Stop it now,” desis Kris tajam.

Xiumin melepaskan jambakannya pada rambut Hana dan beralih menatap Kris. Dia melihat Kris yang kini terlihat sangat murka dan tangannya yang terkepal, seperti ingin menghabisinya saat itu juga. Xiumin berpikir sebentar lalu mengerti. Dilemparkan senyumannya yang khas kepada ketuanya itu.

“Tell me, who is she?” tanya Xiumin dengan nada santai seraya menunjuk Hana.

“Pembantuku,” jawab Kris singkat.

“Liar,” balas Xiumin sambil tertawa.

Kris hanya bertahan diam.

“Your maid, huh? Lalu bisakah kau jelaskan mengapa kau menghentikanku barusan? Kukira dia hanya pelayanmu, Tuan Wu Yi fan,” tanyanya lagi, menantang.

“Dia pelayanku, bukan pelayanmu dan ini adalah rumahku. Jadi kau tidak punyan hak untuk bertingkah laku di sini,” sahut Kris.

“Baiklah kalau kau tidak mau mengakuinya. Lain kali, bukan di sini dan aku akan memperlakukan ‘pelayanmu’ sesuai keinginanku. Aku pulang dulu,” balas Xiumin seraya tersenyum mengejek dan berlalu meninggalkan Kris dan Hana yang kini sedang bertukar pandangan dalam bisu.

—–

Betapa kagetnya Kris yang baru saja selesai mandi dan berniat melanjutkan diskusi mengenai misi penting Dragon Team dengan Xiumin, malah mendapati tangan Xiumin yang sedang menggerayangi tubuh istrinya. Tentu saja Kris tidak bisa mengontrol kemurkaannya.

‘Kurang ajar sekali dia. Hah, gara-gara emosiku yang meluap-luap tadi dia jadi tidak percaya bahwa Hana hanyalah pembantuku. Baozi yang pintar,’ geram Kris dalam hati.

Tatapan mata Kris jatuh ke leher milik Hana. Leher yang tadi hampir saja dikuasai anak buahnya. Mengingat hal tersebut membuat tangan Kris terkepal lagi. Dia ingin sekali melayangkan tinjunya ke muka bawahannya yang tak tahu diri itu. Tetapi dia masih punya otak, tidak lucu kalau tim yang dia bangun dengan susah payah, hancur hanya karena seorang wanita yang berstatus sebagai istrinya.

Sebagai gantinya, otak Kris berputar dan dengan segera, Kris mempunyai rencana lain. Kris menarik tangan Hana yang membuat Hana sontak memekik kaget. Kris membawa Hana berjalan melintasi ruang tamu dan naik ke lantai dua melalui tangga sampai berhenti tepat di depan pintu kamar miliknya.

Hana’s POV

“Go inside, Son Hana.”

Bulu kudukku berdiri ketika mendengar suara berat miliknya. Kulirik pintu kamarnya yang telah terbuka sedikit. Aku menelan ludah saat memalingkan pandanganku dan melihat sosok Kris yang belum sepenuhnya kering sehabis mandi. Rambutnya tampak lurus, berantakan dan… Basah. Kaus yang dikenakannya sangat pas membungkus badannya sehingga membuatku dapat melihat dengan jelas bentuk tubuhnya.

Aku dapat mendengar dengan jelas napasnya yang berat dan memburu. Kugigit bibirku. Kurasa aku dapat mendengar jantung Kris yang berdetak di dekatku. Tunggu, atau mungkin itu adalah bunyi detakan jantungku sendiri yang merespon keberadaannya. The atmosphere was so inviting… And so was his stare.

Should I go inside?

Untuk kesekian kalinya, aku menelan ludah. Sepertinya aku tidak bergerak sesenti pun daritadi karena kini Kris tampak sedang mengacak-ngacak rambut basahnya dengan frustasi dan berjalan dengan cepat menghampirku, tanpa sedetik pun mengalihkan tatapan matanya dariku. Aku menggertakkan gigiku panik dan dengan refleks berjalan mundur hingga kurasakan punggungku bersentuhan dengan tembok yang dingin. Dia mengeluarkan smirk khasnya dan berhenti tepat di hadapanku.

Aku memekik kaget saat kurasakan kedua tangannya yang besar memegang pinggangku dan tiba-tiba, tubuhku sudah diangkatnya. Dia memanggulku di bahu kanannya, berjalan memasuki kamarnya. Aku sempat terpana sejenak sebelum berusaha memberontak, “Lepaskan aku!”

Dia membalas dengan setengah berbisik, “Ssst… Kalau kau tidak mau diam begini kita berdua akan berakhir melakukannya di lantai dan tentu saja aku tidak keberatan, as long as it’s with you.”

Kris’ POV

Sial, kenapa sangat sulit sekali untuk mengendalikan diri? Aku tidak mungkin berpura-pura buta saat melihat lekuk tubuhnya yang sempurna di hadapanku, aku tidak dapat berpura-pura tuli  saat napasnya terdengar seduktif di telingaku dan aku juga tidak mau mengabaikan harum tubuhnya yang memenuhi seisi ruangan ini, memaksa masuk ke dalam indera penciumanku.

Aku menjilat bibirku sambil terus membopong tubuhnya menuju kamarku. Dia berhenti meronta setelah mendengar kata-kata yang baru saja kuucapkan. Hmm, sepertinya malam ini akan menjadi malam yang sangat menyenangkan.

Author’s POV

Begitu masuk ke dalam kamarnya, tanpa basa-basi Kris langsung menghempaskan tubuh Hana ke atas tempat tidur. Belum sempat Hana bangkit untuk kabur, Kris telah berada di atasnya, mengunci kedua pergelangan tangan Hana dengan genggamannya. Tatapan Kris turun dari mata Hana yang memancarkan ketakutan ke bibir merah milik Hana.

‘Damn, I want these sexy lips of hers on my neck,’ desisnya dalam hati.

“K-Kris… Umm, kurasa aku harus kembali ke kamarku,” akhirnya Hana berani bersuara setelah sekian lama mereka hanya saling bertatapan.

“Kau menginginkan aku memperlakukanmu di sana?” jawab Kris dengan nada menggoda.

“B-bukan itu, m-ma-maksudku—”

“Lalu di mana? Di kamar mandi? Di shower? Di bathtub? Di sofa? Di dapur? Atau di jok mobil ferarri milikku? Hmm? Katakan, aku sanggup melakukannya di mana saja,” potong Kris seraya tersenyum miring.

Mata Hana membulat dan bibirnya kini terbuka sedikit, ingin bersuara, namun tidak tahu apa yang mau dikatakan. Otaknya membeku setelah mendengar jawaban Kris barusan. Sementara di sisi lain, Kris sedang mati-matian menahan hormonnya yang bereaksi ketika melihat bibir merah milik Hana membuka. Imajinasinya berputar-putar, penuh dengan hal-hal yang ingin dia lakukan dengan sepasang bibir itu.

Melihat Hana tidak bereaksi, Kris menundukkan wajahnya hingga ujung hidungnya menyentuh pipi kiri Hana. Jarak bibir mereka kini teramat dekat sampai mereka hanya bisa menghirup udara dari pertukaran napas mereka. Bibir mereka sama-sama terbuka. Kris bisa merasakan napas Hana yang hangat di atas kulit bibirnya dan Hana bisa mencium aroma pasta gigi mint yang baru saja digunakan oleh Kris.

“Stop, Kris… I can’t…” desah Hana putus asa.

“Apakah kau yakin kau ingin aku berhenti?” tanya Kris balik.

Hana hanya menganggukkan kepalanya.

“Why?”

“I-I… I just… I just want to sleep.”

Kris tertawa kecil mendengar jawaban Hana. Matanya bersinar nakal saat berkata, “Tetapi tempat tidur ini ingin kita melakukan hal lain selain menidurinya.”

“Hal apa…?” balas Hana dengan suara parau.

“Berhenti bertanya, because our small talk is over,” jawab Kris seraya memegang pinggang Hana untuk merapatkannya dengan pinggangnya.

Kini Kris berada di antara kedua kaki Hana dengan wajah yang masih tepat berhadapan dengan Hana. Dada Kris terasa sesak, seperti butuh udara. Sedangkan napas Hana yang memburu berubah menjadi erangan kecil saat tiba-tiba lampu di kamar itu mati. Tentu saja bukan diatur oleh Kris, mungkin kegelapan memang sangat mendukung momen mereka.

Kris meraih pergelangan tangan Hana dan menuntunnya ke dadanya. Kini telapak tangan milik Hana berada di atas dada Kris dan bisa dirasakan olehnya jantung Kris yang berdetak cepat di bawah sentuhannya. Walaupun dalam gelap, Kris bisa merasakan Hana yang sedang menatapnya dengan penuh tanya.

Kris semakin menekankan tangan Hana ke dadanya dan berkata, “Inilah yang kau lakukan padaku, Hana. Kau membuat jantungku berdetak lebih cepat.”

Semburat-semburat merah segera menghiasi wajah Hana, untung saja tidak ada cahaya apapun yang menerangi mereka sehingga Kris tidak menyadari hal itu. Masih dengan mencengkeram tangan Hana, Kris mengarahkan tangan itu ke dalam kaus yang dia kenakan. Ya, Hana kini sedang merasakan bentuk tubuh Kris yang padat dan juga kehangatan yang diberikannya. Tanpa Hana sadari, tangannya kini telah bergerak sendiri, naik dari perut menuju dada Kris yang tegap dan bidang.

“Hana…”

Hana segera tersadar setelah mendengar Kris mengerangkan namanya. Buru-buru dia tarik tangannya keluar dari dalam kaus Kris, namun tindakan tersebut dicegah oleh pria itu. Kris mulai menyentuhkan ujung hidungnya ke leher Hana, menghirup sebanyak-banyaknya oksigen dari sana, sementar bibirnya terbuka untuk mengeluarkan hasil pernapasan yang hangat, memberi Hana sensasi yang tidak bisa dideskripsikannya.

Sementara itu, Kris bisa merasakan Hana terengah-engah di telinganya.  Kris menurunkan wajahnya, membiarkan ujung hidungnya menyusuri tulang selangka Hana, memberikan sedikit ciuman-ciuman kecil di sana. Napas Hana semakin memburu, namun tak satupun protes keluar dari bibirnya. Kris tersenyum kecil.

‘Dia tidak menolakku kali ini,’ bisiknya senang dalam hati.

Di luar kesadarannya, kedua kaki Hana kini melingkari pinggang Kris. Kris menurunkan pinggangnya sehingga area pribadi mereka bersentuhan. Kris menggerakkan tubuhnya naik turun, membuat Hana mendesahkan nama asli Kris di telinga pria itu, “Wu Yi Fan…” Mendengar itu, kontak tubuh yang dilakukan oleh Kris semakin tinggi intensitasnya, sedangkan Hana semakin kesulitan mendapatkan udara untuk bernapas.

Berulang-ulang Kris mendengar namanya diucapkan oleh Hana di setiap pergerakan yang dia lakukan. Kris meneruskan perjalanan ujung hidungnya, ditariknya garis dari tengah tenggorokan Hana turun menuju perut rata milik gadis itu.

Hana’s POV

“Oh God…” aku berkata di antara napasku yang semakin terengah-engah.

Kami hanya bersentuhan, tanpa ciuman, tanpa kontak antara bibir kami dan juga dengan pakaian yang masih lengkap, tak kurang satu apapun. Tidak ada paksaan dari salah satu pihak dan tidak ada perlawanan untuk menolak dari pihak lainnya.

Tidak lucu, aku bisa mati kehabisan udara di sini. Ya Tuhan, apa yang sedang pria ini lakukan? Jari-jariku menyusup ke dalam rambutnya saat kurasakan pergerakan wajahnya yang semakin turun menuju daerah itu. Aku meremas rambutnya. Sentuhannya seperti ekstasi, aku tidak dapat dan tentu saja tidak mau menolaknya.

Ketika aku menduga hal-hal yang lebih dalam akan terjadi, rasa itu hilang. Aku merasakan beban tubuh Kris yang lenyap dari atas tubuhku. Aku membuka mata dan samar-samar kulihat bayangan sosok Kris yang sedang mengatur bantal di sampingku. Aku mengernyitkan dahi, “K-Kris…?”

“Hmm?” jawabnya.

“K-kau sedang apa?” tanyaku ragu.

“Bersiap-siap untuk tidur, kau pikir apa lagi?” balasnya kalem, namun aku bisa merasakan unsur menggoda dari sana.

Sial, ternyata aku dikerjai. Sekarang bagaimana aku bisa tidur dengan keadaan seperti ini? Karena malu, aku memutuskan untuk bangun dan keluar dari kamarnya. Namun belum sempat kakiku menyentuh lantai, tubuhku ditarik kembali ke tempat tidur oleh Kris. Sekarang punggungku menempel erat di dadanya dan tangannya kini melingkari pinggangku.

“Kris, lepaskan,” kataku.

“Diam.”

“Aku mau tidur,” jelasku.

“Aku juga.”

“Karena itu kau ha—”

“Ssst. Good night, Hana.”

Aku terdiam sebentar sebelum membalas, “Good night, Kris.”

Aku bisa merasakan bibirnya yang membentuk senyuman sebelum aku memejamkan mata menuju ke alam mimpi.

Author’s POV

Sementara itu di tempat lain, Sora telah tersadar. Kepalanya terasa sakit sekali akibat perlakuan orang yang menculiknya. Diedarkan padangannya ke seluruh penjuru ruangan tersebut. Gelap. Saat dia mencoba bangkit, tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali.

“Brengsek. Tentu saja aku diikat,” gerutunya.

Kedua tangannya terikat erat di sandaran kursi dan lakban berwarna perak memplester rekat-rekat tubuhnya ke kursi. Sora mendengus kesal. Meskipun begitu, dia tidak kehilangan akal. Tangannya yang lincah berhasil dia susupkan masuk ke dalam saku celana bagian belakang, mencari sesuatu.

“Sial, aku selalu menyisipkan pisau lipat di sini. Sekarang ke mana benda itu?!” rutuknya.

Setelah bermenit-menit mencari, Sora menyerah. “Kurang ajar, ternyata mereka mengambilnya.” Dia menggeram kesal.

Dia menggoyang-goyangkan tangannya, berusaha untuk mengendurkan ikatan tali pada tangannya. Tetapi sia-sia, ikatan tersebut terlalu kencang dan disimpul mati, sepertinya orang yang mengikatnya sangat berpengalaman dalam menyandera korbannya. Setelah lelah berusaha, Sora pun menyerah. Keningnya telah berpeluh akibat memikirkan cara untuk meloloskan diri dari sana.

Ketika Sora berpikiran untuk berteriak, pintu di hadapannya terbuka, membiarkan sedikit cahaya masuk ke dalam ruangan tersebut. Sora menyipitkan mata, pupilnya menyesuaikan dengan situasi gelap yang tiba-tiba mendapatkan penerangan. Dilihatnya sosok tubuh tinggi milik seorang pria yang masuk dan dengan cepat menutup kembali pintu itu.

 

“…..K-kau? Kim Jongin?”

“Hah, kau kenal aku rupanya. Kukira aku tidak terlalu terkenal di kalanganmu,” desis Kai.

Sora tak menanggapinya, dia langsung bertanya, “Kenapa aku ada di sini? Apa yang tim kalian incar dariku? Apakah kau yang memukulku dari belakang? Di mana leader timmu?”

“Kau tak sabaran sekali rupanya. Biar ketua kami saja yang menjelaskan semuanya padamu, aku malas,” balas Kai.

“Lalu apa yang kau lakukan di sini?”

“Memberimu makan. Kau tidak sadarkan diri dari kemarin dan aku yakin sekarang kau sedang kelaparan,” jawab Kai lagi.

Sora baru menyadari bahwa Kai membawa baki makanan, dia berkata dengan ketus, “Aku tidak butuh makanan kotor dari kalian. Lebih baik aku mati kelaparan daripada ususku harus terkontaminasi dengan zat-zat aneh yang kalian berikan di makanan itu.”

“Keras kepala sekali. Dengar ya, markas ini adalah milikku. Jika kau mati di sini, aku tak mau repot-repot membersihkan tempat ini dari bangkai tubuhmu,” balas Kai tetap dengan nada datar, ekspresinya tidak berubah.

Sora diam tak membalas, dia membuang muka. Kai menaruh bakinya di lantai, tepat di bawah kaki Sora. Sora meliriknya dan mendesis, “Bagaimana aku mau makan jika piringnya saja ada di lantai? Kau buta tidak melihatku diikat begini?”

“Jika kau berpikir aku akan tertipu dan melepaskan ikatanmu, kau sangat naif,” jawab Kai.

Kai mengangkat kembali baki tersebut dan menyendokkan makanan yang ada di mangkuk sebelum menyodorkan sendok itu kepada Sora. “Buka mulutmu,” katanya.

Sora kembali membuang muka. Tepat beberapa detik kemudian, perutnya berbunyi. Sora mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Diliriknya Kai yang tetap memandangnya tanpa ekspresi. Tentu saja Kai mendengarnya, di ruangan itu hanya ada mereka berdua.

“Apakah sekarang kau masih keras kepala dan tidak mau makan?” tanyanya lagi.

Sora menghembuskan napas kesal sebelum benar-benar memalingkan wajahnya kembali menatap Kai. Dilihatnya Kai kini sedang berlutut di hadapannya dan menyodorkan sendok tepat di depan mulutnya. Dengan ragu-ragu, dibukanya sedikit mulutnya. Kai segera menjejalkan sendok yang berisi makanan tersebut ke dalam mulut Sora. Selama berpuluh-puluh menit, Kai menyuapi Sora dalam diam.

Setelah mangkuk di tangannya tak berisi lagi, dia mengambil gelas berisi air mineral dari baki dan membantu Sora untuk meminumnya. Kemudian dia bangkit dari posisinya untuk melangkah menuju pintu keluar.

Namun langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara Sora, “Sampai kapan aku akan berada di sini?”

Kai diam sejenak sebelum menjawab, “Sampai aku bosan melihatmu.”

“Dan jangan coba-coba untuk berteriak, percuma. Ruangan ini kurancang untuk kedap terhadap suara sekencang apapun,” tambahnya lagi sebelum menutup pintu di belakangnya.

—–

Sinar matahari masuk menembus tirai yang menutup jendela kamar dan meneruskannya meminta kelopak Hana untuk terbuka. Pelan-pelan, Hana mulai terbangun dari tidunya. Hal pertama yang dia sadari adalah kehangatan yang semalam menyelimutinya hilang. Hana segera terduduk, melihat sisi di sampingnya yang telah kosong. Denga kecewa dia menghembuskan napasnya dan segera bangkit untuk mandi. Namun secarik kertas kecil yang diletakkan di atas meja di samping tempat tidur menarik perhatiannya.

‘Good morning, my sleeping beauty.’

Sebuah kalimat singkat tersebut membuat kedua sudut bibir Hana tertarik ke atas. Dia tersenyum. Dibacanya berulang-ulang kalimat yang tertulis di kertas kecil tersebut, memastikan, sebelum didekapnya kertas tersebut erat-erat. Hana tidak perlu bersusah payah menengok isi garasi karena dia tahu, hari ini Kris tetap menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Namun kali ini, Kris berhasil meninggalkan rumah dengan tenang setelah melakukan hal sepele tadi, yang membuat Hana tidak bisa berhenti tersenyum dan masih terduduk di pinggir tempat tidur.

—–

Kris’ POV

Hampir 3 hari sebuah ‘kecoak’ bersarang di salah satu ruangan ini. Sebenarnya sangat mudah untuk menentukan ruangan mana ‘kecoak’ ini akan ditempatkan, tetapi dengan melihat kepada siapa aku harus menitipkannya, aku sedikit ragu. Kim Jongin, kuakui anak ini sangat lihai dalam menjalankan misi individu, tetapi tidak dengan tim. Jalan bekerja otaknya berbeda 360 derajat denganku. Itu sebabnya aku sangat ingin mencekokinya dengan X0612 milik Chen, tetapi dengan melihat penghasilannya untuk Dragon Team sangat tinggi, aku hanya bisa mengubur keinginanku.

Kutengok jam tangan yang melingkar di pergelengan tanganku.

22.35

Hampir sejam aku hanya berdiam diri di monitoring room. Aku tahu hiruk pikuk di luar sangat berbanding terbalik dengan keadaan di ruangan ini. Hari ini adalah hari kedua Dragon Club dibuka untuk umum dan tentu saja hal ini sangat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat biasa maupun golongan tinggi yang tadinya tidak mempunyai hak untuk memasuki klub ini. Dengan puas aku mengamati seluruh pergerakan pengunjung dari layar monitor besar di hadapanku.

Pintu masuk yang tak dijaga oleh satu pun bouncer, terlihat sedikit lebih sesak tetapi tetap membosankan. Di setiap sisi ruangan sudah ditempati oleh teman-temanku ditemani dua-tiga gadis sebagai modus. Dengan mengetik beberapa password, tampilan layar monitor itu terganti. Bukan lagi dengan kerumunan orang yang membuat klub milikku ini padat, melainkan sebuah ruangan besar tanpa penghuni. Aku menggeser jariku cepat dan ruangan lain pun muncul, kamarku. Sama seperti tadi tetap tidak ada orang. Kugeser lagi, kali ini menampakkan ruangan berwarna plain white, yang tak lain adalah kamar Son Hana.

Hah, hampir jam sebelas malam dan gadis ini belum tidur? Apa yang sedang dia lakukan? Apakah dia sedang menungguku? Don’t wait for me, Hana. Go sleep, because I want to see your sleeping face…

Setelah menunggu beberapa menit, dia tak kunjung tidur. Dia hanya berjalan hilir mudik di sekitar kamarnya, menengok keluar jendela, kemudian duduk di tepi tempat tidur, berjalan ke arah jendela, kemudian kembali lagi. Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan? Apakah dia berharap aku pulang dan menemaninya tidur? Memikirkan hal itu membuat aku tak berhenti tersenyum.

Tiba-tiba aku tersadar. Astaga, aku harus fokus. Dengan berat hati, aku menggeser lagi layar monitor tersebut. Kali ini memperlihatkan sidengar suara pintu yang terbuka dan suara seseorang yang sangat kukenal memanggilku, “Hyung, ini waktunya.”

Aku segera mematikan layar monitor yang ada di hadapanku dan bangkit berdiri. Tampak sosok Chen yang membawa beberapa kotak berbagai ukuran dengan senyum puas.

“Bom waktu, mereka memanfaatkan para wanita-wanita itu,” jelasnya.

Kuambil beberapa kotak dan kudekatkan ke telingaku. Memang ada suara detikan yang terdengar dari dalam. Aku menggoyangkan kotak itu dengan hati-hati dan mencium sedikit bau messiu dari kotak itu.

“C4, mungkin?” tanya Chen yang kini sudah membuka kotak yang lain. Terlihat banyak kabel yang bewarna-warni menghiasi pinggiran bom tersebut.

Aku berpikir, sedikit ragu.

“Ketika telepon penghubung yang berfungsi sebagai remote menghubungi salah satu handphone mereka yang menjadi kunci bom ini, maka akan menimbulkan fungsi getar dan membuat kabel bersentuhan dan mempengaruhi denator yang terpasang pada C4 ini. Kita harus bergerak cepat jika tidak mau hangus terpanggang,” terangnya tanpa sedikitpun berpaling dari bom tersebut, menelaah setiap kabel-kabel yang saling terhubung dan memutuskan untuk menggunting kabel dengan warna biru.

Denator pada bom itu terhenti yang ditandai dengan berhentinya suara detikan. Tetapi digantikan dengan bau messiu yang semakin tajam. Tanpa pikir panjang, aku mengambil Browning Buckmark .22 yang tadi kutaruh di atas sofa, lalu menembak kotak tersebut. Sangat terlihat jelas ekspresi kaget yang terpancar dari wajah Chen. Namun tak lama, ekspresi tersebut terganti dengan suara tepuk tangan miliknya.

“Aku tahu, aku tidak berbakat dalam hal ini,” katanya kemudian.

“KNO3. Potassium Nitrate, low explosive. Hanya ada ciri-ciri samar, bau messiu yang mencolok lalu ledakan seperti mercon dan warna api yang ditimbulkan, tetapi terbukti setelah kau yakin bahwa itu betul-betul KNO3,” jelasku.

“Bentuknya mengecohkanku,” gumamnya.

“Disamarkan. You have to note this, Chen. Aku suka C4 bukan hanya karena dia golongan high explosive yang dapat menjebolkan baja, tetapi karena baunya yang seperti coklat dan strawberry. Lagipula kau melupakan kepada siapa kita akan berhadapan,” tambahku sambil sedikit tersenyum melihat wajah Chen yang tampak kesal.

Trinitrotoluene or TNT. Mereka hanya mengenal TNT dan tidak mungkin menangkap kita dengan mengorbankan beratus nyawa,” sahutnya.

Aku hanya mengangguk singkat sebelum menekan speed dial yang menghubungkanku dengan Xiumin, “Get ready.”

Hana’s POV

Sudah hampir tengah malam dan pria itu belum juga tampak batang hidungnya. Ke mana dia? Apakah dia tidak akan pulang malam ini? Apakah dia kembali ke sifat asalnya? Apakah kemarin malam aku hanya bermimpi? Beribu pertanyaan serupa menyerbu otakku yang membuatku gusar seketika. Aku melangkahkan kakiku mendekati cermin yang terpasang di dinding kamarku. Kulihat pantulan diriku di sana dan kugerakkan jemariku menuju leherku yang kini masih menunjukkan tanda kemerah-merahan, tanda darinya. Tidak, malam itu tentu bukan mimpi.

Karena merasa sudah sangat lelah, aku memutuskan untuk berhenti menunggunya dan pergi tidur. Kulepas ikatan rambutku dan kubiarkan rambut panjangku tergerai. Aku mulai membaringkan tubuhku di tempat tidur dan mencari posisi yang nyaman. Saat aku sudah hampir terlelap, kudengar bel pintu depan dibunyikan dengan kasar oleh seseorang. Apakah itu dia?

Aku bergegas keluar kamar dan dengan langkah terburu-buru menuruni anak tangga, hampir saja aku terjatuh di anak tangga terakhir. Akhirnya aku tiba di depan pintu utama, aku terdiam sejenak, kutarik napas dalam-dalam dan kurapikan rambutku dengan cepat. Tunggu dulu, kenapa aku harus merapikan rambutku? Ah sudahlah. Aku menghembuskan napas sekali lagi sebelum dengan hati-hati membukakan pintu itu. Namun, yang muncul di hadapanku bukanlah pria yang aku tunggu-tunggu, melainkan pria yang saat ini tidak ingin aku temui, tidak di tempat ini, tidak di rumah ini.

“Cha-Chanyeol…?

Author’s POV

Lay berdiri bersamaan dengan eluhan dari kedua cewek yang ada di kiri dan kanannya.

“You know what I want, girl” kata Lay sambil membungkuk mendekatkan wajahnya ke seorang gadis dengan mini dress bewarna hitam.

Gadis itu menyambut wajah Lay dengan mengangkat wajahnya semakin dekat dan menutup matanya. Melihat itu Lay ingin tertawa dan dengan cepat ia mengambil sebuah kotak yang sedari tadi dipangku gadis itu.

“I mean, this” kata Lay setelah menegakkan badannya yang membuat gadis itu mati keheranan.

Lay segera pergi dan bergabung bersama Xiumin dan Tao yang sedaritadi sibuk mengawasi orang-orang yang berkeliaran keluar masuk klub tersebut. Beberapa meter dari tempat mereka berdiri, Kris sudah siap didampingi Browning Buckmark di tangan kanannya. Tak lama seisi klub tersadar akan kehadiran ‘Tuan Rumah’ dengan snipper di tangannya yang mengubah suasana menjadi hening. Kris berdeham singkat sebelum berkata, “Kita buat malam ini semakin seru.”

Suasana yang tadinya hening mulai ramai dengan suara bisik-bisik samar.

“Bagi orang yang mendapatkan kotak seperti ini, kuharap dia bersedia untuk menukarkan kotaknya dengan beberapa lembar uang,” lanjut Kris seraya tersenyum ramah.

Masih dengan diam, para pengunjung mulai mengangkat kotak yang dimaksud. Ada sekitar dua puluh kotak yang membuat Kris memasang ekspresi puas sambil melirik Chen yang berdiri di sebelahnya. Kris mengedarkan pandangannya mencari teman-temannya lagi dan mengangguk ketika matanya bertemu dengan Lay.

“It will be easy,” gumamnya.

“Kalau begitu, mari kita lemparkan kotak itu tinggi-tinggi. One, two, three.”

Tepat setelah para pengunjung melemparkan kotak yang mereka dapat ke udara, Kris dengan Browning Buckmark dan Lay bersama Revolver 38 menembak satu-persatu kotak-kotak tersebut tanpa meleset dan selesai dalam hitungan beberapa detik. Dan selama kejadian itu berlangsung, pengunjung mulai berteriak-teriak panik.

“Get it,” kata Xiumin dari ujung sambungan teleponnya dengan Kris.

Kris yang masih menempelkan ponselnya dan mendengarkan laporan Xiumin, kemudian menebarkan lembaran-lembaran uang yang membuat para pengunjung heboh dan saling berebut.

“3 orang. 2 diarah timur.

Dan 1 di arah utara.”

Aku yakin mereka berputar menuju pintu keluar sekarang. Now or later?”

Suara Xiumin terdengar kurang jelas, seperti terburu-buru. Kris yakin dia sedang membidik seseorang sekarang.

“Later. Last plan kita harus menguji mereka,” jawab Kris.

“Right, all copies out,” balas Xiumin.

Sementara di sisi lain ruangan tersebut, Suho berjalan dengan cepat keluar menuju pintu keluar, berusaha menyusup untuk segera meninggalkan suasana klub yang begitu sesak.

“Mereka melihatku. Aku tahu ini tidak akan berhasil. Mundur,” katanya terengah-engah kepada Midland LXT114 yang tersembunyi dibalik jas tebal yang dia kenakan.

“Tidak. Kita harus mencarinya,” jawab Luhan yang mengedarkan pandangannya dengan cepat, seakan tak mau terlewat satu pun sudut dari klub itu.

“Jangan membangkang, Luhan. Kau tahu apa yang akan terjadi setelah ini,” balas Suho yang kini telah sampai di mobil dan segera melajukannya pergi jauh-jauh dari daerah kekuasaan Dragon Team.

“Dari awal aku tak percaya dengan orang i—”

Suara Luhan terpotong oleh perkataan Sehun, “Aku mengerti, stay di tempat awal.”

—–

Kris melangkah dengan sigap menuju mobil yang telah disiapkan oleh Xiumin. Di sebelahnya sudah ada Kai, Lay, Tao dan seorang lagi yang memakai jaket berwarna cokelat dan sebuah topi yang menutupi separuh wajahnya. Kai yang terlebih dahulu naik ke Ducati Black miliknya segera melajukannya dengan cepat, meninggalkan teman-teman setimnya di belakang. Kris yang melihat itu hanya bisa mengutuknya dan segera memalingkan pandangannya kepada Sora.

“Tenang, dia masih terbius,” terang Lay saat melihat wajah kaku milik Kris.

“Kalau begitu, aku menyerahkan sepenuhnya padamu,” jawab Kris sebelum masuk ke dalam mobil.

Tao pun segera masuk ke Viper miliknya setelah terlebih dahulu memberi kode penyemangat untuk Lay. Dilajukannya Viper tersebut menyusul mobik yang ditumpangi Kris dan Xiumin. Sedangkan Lay harus bersusah payah mendudukkan tubuh Sora di sisi lain dari jok miliknya dan memasangkan seat belt agar tubuhnya tetap pada posisinya terlebih dahulu. Setelah semuanya dirasa cukup, tanpa menunggu lama, segera dia lajukan mobilnya keluar dari basement parking area Dragon Club.

—–

“Belum ada info dari Chanyeol. Jangan gegabah, aku tak mau ini gagal,” kata Suho yang sedaritadi gelisah menunggu teman-temannya di depan sebuah parkiran toko di Gangnam Street.

“Black Ferrari F430, Dark Blue Viper dan sebuah mini bus berwarna silver. Semuanya menuju ke arah yang berbeda. Kurasa mobil terakhir hanya mobil pengunjung biasa,” kata Luhan setengah hati, masih tak mengerti jalan pikiran inspekturnya yang menyuruhnya untuk mengikuti pergerakan Dragon Team yang didasari oleh instruksi orang dalam.

“Aku melihat Black Ferrari. Sehun, tangani Viper itu. Dan Luhan, kau dengan mini bus,” terang Suho memberi instruksi.

“What?!” teriak Luhan ketika mendengar perintah dari atasannya untuk mengikuti sebuah mini bus, yang dipikirnya tidak berharga.

“Sorry, Casanova. Time’s up” jawab Suho seraya menyudahi pembicaraan mereka.

—–

“Bagaimana?” tanya Xiumin dengan sekilas menengok ke arah Kris yang sedari tadi sedang fokus memperhatikan kaca spion mobil yang mereka tumpangi.

“Hanya seekor,” jawabnya dengan nada meremehkan.

“And look who’s behind us,” kata Xiumin dengan seraya menurunkan kaca spion tengah, memberi Kris kesempatan untuk melihat apa yang dia lihat.

“Tumben sekali si hitam Kai menuruti perintahmu,” lanjut Xiumin sambil tertawa kecil.

Tak sedetik pun Xiumin mengalihkan padangannya dari jalan raya. Beberapa mobil langsung saja dia libas sehingga membuat mobil-mobil tersebut menginjak rem mati yang diiringi lontaran kutukan. Hal tersebut membuat Kris menggeleng-gelengkan kepalanya, dia sudah tahu betul kecintaan temannya itu terhadap velocity. Mobil Black Ferrari tersebut melaju kencang ditemani dengan Black Ducati yang tepat di sampingnya dan sebuah mobil Audi R8 berwarna putih beberapa meter di belakang mereka.

“Sebenarnya aku mau bilang bahwa cukup sampai di sini saja aku mengawal Ferrarimu ini. Aku ingin mengecek yang lain,” Ucap Kai tiba-tiba.

Xiumin hanya sedikit menyeringai. Tetapi seringai tersebut segera terganti oleh rentetan kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya saat Black Ducati milik Kai memblok jalan di depannya dan membuatnya terpaksa menginjak rem mendadak. Diliriknya Kris yang hanya membeku di sampingnya, padangannya tetap ke depan tanpa sedekit pun mengeluarkan ekspresi yang dapat dibaca oleh Xiumin.

“Apa yang kau tunggu, Baozi? Move,” suara kaku miliknya memecah konsentrasi Xiumin yang tak hentinya mengutuk ulah Kai barusan. Xiumin hanya mengangguk dan membelokkan mobilnya menyalip Kai dan motornya, kembali melaju kencang menantang angin.

—–

“Mini bus? Kau yakin?” tanya Suho cepat.

“Seratus persen,” jawab Chanyeol yang sedang berada di sebuah ruangan dengan pencahayaan kurang, ditemani sebuah laptop miliknya yang tengah menampilkan titik merah kecil yang terus berjalan.

“Luhan, apa kau di tempatmu?” tanya Chanyeol setengah berteriak di Midland yang sedang digenggamnya.

“Apa?!” terdengar balasan kasar dari Luhan.

“Gunakan pendeteksi suhu tubuhmu,” sambung Suho yang sedang tak henti mengklakson setiap mobil yang menghalangi jalannya.

Luhan dengan gesit mendekatkan Triumph Bonneville miliknya ke badan mini bus tersebut dan segera menempelkan termografi inframerah yang telah dipersiapkan olehnya.

“Hanya 2 orang sepertinya,” jelas Luhan.

“Tahan itu!” balas Suho.

“Kau yakin?”

Tak kunjung ada jawaban dari Suho yang membuat Luhan sedikit cemas, mini bus di sampingnya sudah sadar akan keberadaannya dan kini telah menaikkan kecepatan untuk menghindarinya.

“Suho?”

“Suho?!”

“Damn it, Suho! Answer me!”

Suho tak mampu lagi menekan Midland LXT114 untuk memberi instruksi kepada Luhan. Dia tidak menyangka bahwa mobil Ferrari yang dia kejar sekarang malah mensejajarkan posisi mereka dengannya. Dia melihat ketua organisasi incarannya itu tersenyum kepadanya dengan sebuah Revolver di tangannya.

“Sialan!” umpat Suho keras ketika didengarnya suara tembakan yang berasal dari Revolver tersebut kepada ban kanan Audi miliknya. Mobil tersebut berputar-putar, tak dapat dikendalikan dan baru saja berhenti ketika akhirnya menabrak pembatas jalan yang membuat kaca depan mobil berawarna putih itu hancur.

Kris yang melihat semua kejadian itu melalui kaca spion segera tersenyum puas. Tetapi hal itu tak berlangsung lama, dia terlonjak kaget karena kaca spion yang sedang dipandangnya tersebut pecah oleh sebuah tembakan peluru. Dengan sisa kaca yang masih tertinggal, dia dapat melihat seorang pemuda turun dari motor untuk menyelamatkan temannya yang terjebak di dalam mobil.

—–

Sora mengerjap-ngerjapkan matanya dan melihat bayangan-bayangan yang kabur di depannya. Dia berusaha untuk memijat keningnya yang terasa sakit dan menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku, namun tindakan tersebut terhalang oleh sebuah benda, yang dia tebak adalah lakban, yang melingkar dengan erat di tubuhnya. Ketika cahaya mulai masuk ke iris dan menembus pupil matanya, Sora mulai dapat melihat dengan jelas. Dia edarkan pandangannya untuk mengetahui di mana posisinya. Di dalam mobil. Dan yang menghalangi badannya untuk bergerak adalah seat belt.

Sora memalingkan wajahnya ke kiri dan melihat orang yang sedang mengemudikan mobil tersebut.  ‘Hah, dia rupanya,’ ucap Sora dalam hati. Kemudian Sora mengarahkan pandangannya ke kanan untuk melihat jalan di mana mobil itu melaju. Tetapi betapa terkejutnya dia saat melihat Luhan yang tepat berada di samping mobil tersebut. Sora segera memencet tombol untuk membuka kaca mobil tetapi tidak berhasil, terkunci.

“Ada tamu ya?” kata Lay seraya memencet tombol di sampingnya yang membuat kaca di samping Sora turun. Tetapi bukan Luhan yang dia maksud, melainkan orang yang berada di samping Luhan tanpa Luhan sadari.

Luhan terlihat kaget saat melihat Sora dan segera berteriak, “Turunkan dia sekarang!”

Lay hanya tersenyum. Sedangkan Kai yang tepat berada di samping Luhan, kini sedang sibuk merogoh kantong jaketnya demi mengambil sebuah pisau lipat dari sana. Sementara itu di sisi lain, Lay, berhasil menggunakan satu tangannya untuk meraih Heckler kesayangannya.

“Luhan, di sebelahmu!” teriak Sora panik saat melihat Kai semakin mendekatkan Black Ducati miliknya ke arah Luhan. Luhan pun segera tersadar dan dengan reflek segera menambah kecepatan motornya. Luhan mengubah posisi sehingga kini dia berada di sebelah kiri mobil, tepat di sisi Lay. Sontak Kai pun mengikuti langkahnya.

“Go away Kai! That’s my job, not yours,” teriak Lay kesal yang kini juga sedang mensejajarkan mobilnya dengan motor  milik Kai dan Luhan.

Jalanan yang sempit serta jurang yang curam di sisi kanan dan kiri mereka membuat Sora hanya bisa menelan ludah seraya berdoa untuk keselamatannya dan Luhan. Tindakan bodoh pikir Sora, jika dia memutuskan menjatuhkan dirinya ke jalan, alih-alih dia akan langsung terlindas oleh Ducati milik Kai atau langsung terjun ke dalam jurang dan mati.

“Do it now, Yixing!” geram Kai.

Tangan kiri Lay sudah siap di luar jendela. Menurut informasi yang dimiliki oleh kepolisian, Lay bahkan lebih ahli jika menembak dengan tangan kiri. Melihat itu, Sora segera mati-matian menyerang Lay. Namun tindakan Sora tersebut dapat ditahan hanya dengan satu tangan Lay yang lainnya. Sora telah kehabisan tenaga, tak biasanya dia seperti ini. Mungkin pengaruh dari obat bius yang telah disuntikkan oleh Chen.

“Membidik seseorang sama saja seperti mencabut nyawamu sendiri,” gumamnya pelan.

Mobil tersebut tak ada yang mengemudikan lagi karena tangan kanan Lay sibuk menahan Sora dan tangan kirinya tengah memegang erat Heckler yang sedaritadi diarahkan ke arah Luhan. Luhan sendiri sudah dibuat kewalahan oleh Kai yang sedari tadi menempelinya dan membuat dia tidak sempat lagi memperhatikan apa yang akan menimpanya.

Tubuh Luhan terlempar dari motor dengan satu tembakan yang menembus dada kirinya. Sora terbelalak kaget dan berhenti menyerang Lay. Sora melihat tubuh Luhan yang terkapar tak bergerak di belakangnya yang kini sudah terlihat semakin jauh. Bukan hanya Sora, Lay pun sedang mengamati sosok Luhan yang telah berhasil dia tembak melalui kaca spion di sebelahnya sehingga tidak memperhatikan tikungan tajam di depan mereka. Saat Lay tersadar, dia segera menginjak rem. Terlambat.

—–

Suara ambulance dan juga sirine mobil polisi meramaikan jalanan yang jarang dilewati oleh kendaraan tersebut. Mini bus yang sudah tak berbentuk jatuh ke jurang dengan sedalam 120 meter. Tetapi tak jauh dari tempat kejadian tersebut, seseorang dengan baju lusuh berjalan dengan cepat dengan menempelkan sebuah ponsel yang telah terhubung di telinganya, “Mission completed.”

TO BE CONTINUED

a/n: Hellooo 🙂 Akhirnya ff ini diupdate juga yaaa hahaha maaf buat yang ngerasa udah nunggu lama, authorsnya lagi disibukkan sama ulangan-ulangan harian, jadi sekalian mohon doanya semoga bisa dilewati dengan baik & lancar. Amin. And  just please remember that we have school too, so we can’t promise to update like as soon as the light (-_-) If you guys still want to read this sory, you have to bare with our slow updates hehe but THANK YOU SO MUCH for you all who have been there, in replies box, we really appreciate all of your thoughts 😀 Sooo, kami tunggu komen kritik & saran dari kalian 🙂 Btw, buat yang penasaran, yep, adegan atau quotes yang ada di ff ini memang ada yang terinspirasi dari komik Conan, karena authorsnya fans berat Conan 😛

200 responses to “The Fear of Falling for You: Chapter 4

  1. xiumin klihatan cntil bnget pas goda.in hana
    kris udah mulai baik ya sma hana.
    suka. suka. suka….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s