Love Button [Part 7]

Title: Love Button

Author: Joo aka @indahberliana ( follow me 😉 )

Main Cast:

-Park Chanyeol (EXO-K)

-Byun Eunji (OC)

-Kris Wu (EXO-M)

And other cast you can find them in this Fanfict.

Genre: Comedy (maybe), Romance (maybe) Family (maybe) pokoknya readers tentuin aja deh hehe.

Rating: PG-15

Disclaimer: semua cast (kecuali OC) punya tuhan semata. Dont Be Plagiator! Please RCL.

BIG THANKS TO missfishyjazz@myfishyworld.wordpress.com !! >< Nana eonni!! gomawo posternya yang DAEBAK!

A.N: *tutup kepala pake tangan* *digebukin readers* Jeongmal mianhae readerdul. Aku mem-post part ini sangat-sangat lama . DAN part ini kayanya Panjang bgt hehe. Mian kalo ceritanya belom seperti yang kalian inginkan. gomawo ya readers udah mau kasih saran sama author. Semoga pada suka ya. Tidak bosen-bosennya aku mengingatkan, jangan jadi plagiator, jangan jadi siders, dan please Read, Comment, and Like ya. Kasih juga kritik dan saran kalian (lagi) di komentar kalian. Karena aku sangat butuh butuh kritik saran kalian.

INI HANYA FF, JADI JANGAN TERSINGGUNG DENGAN APA YANG DIKATAKAN PARA TOKOH. if there are with many typo please feel free to correct me. Sekian terima kasih.

[Part 1] [Part 2-A] [Part 2-B] [Part 3] [Part 4] [Part 5] [Part 6]

 

Preview: Setelah kepulangan Eunji dan Chanyeol dari N Seoul Tower, malamnya, Kris memberikan hadiah ulang tahun + hadiah natal untuk Eunji di pinggir jembatan Cheonggyecheon, yaitu sebuah kalung berliontin bunga yang terhiasi beberapa butir batu mengkilat. Tetapi, dibalik kebahagiaan tiga orang itu, seseorang akan membalikkan keadaan sebesar seratus delapan puluh derajat.

 

****

 

Author POV

“Jinwoon-ah!! ya!! hahaha, Jihyun-ah! hentikaan. Aku bisa mati karena terlalu eratnya pelukan kalian. Huh.” Seru Im Chaerin.

Jinwoon, Jihyun dan Chaerin bersahabat dari SMA, hingga sekarang, mereka baru saja melempar topi wisuda di kelulusan mereka dari universitas ternama di Seoul.

____

“ah, sudah 2 tahun setelah kelulusan kita, berarti umur kita sudah 25 tahun, kita harus cepat-cepat menikah!” seru Jinwoon pada Jihyun dan Chaerin yang sedang meminum cappucinonya di coffeshop langganan mereka.

Dengan gugup Chaerin menjawab, “me..memangnya kau sudah punya calonmu, Jinwoon-ah?”

Dengan setiap penekanan katanya ia menjawab, “aku, sudah, punya,”

Jihyun dan Chaerin membelakakkan kedua matanya. “MWO???!! YAA! Jahatnya kau tidak pernah memberitahu pada kami berdua.” Seru  Chaerin yang disetujui Jihyun.

Dengan bangganya Jinwoon yang memiliki garis wajah yang menawan, hidung mancung, matanya yang agak sipit dan rambut hitamnya itu mendecis, “Cih, kalau kuberitahu, berarti bukan kejutan kan? aku ingin membuat kalian terkejut, hahaha”

“memangnya kau sudah melamarnya?” Chaerin bertanya dengan rasa penasarannya yang tinggi.

Jinwoon melemas, wajahnya yang bahagia beralih ke kesuraman hidupnya. “belum, aku saja belum menyatakan perasaannya pada yeoja itu.” jawabnya yang diakhiri desahan menyedihkan.

Rasa penasaran yang menggebu-gebu milik Jihyun dan Chaerin meluruh seketika. APA? Pikir mereka dalam hati.

Jihyun meniup poninya kesal, lalu menjitak kepala Jinwoon. “Kau ini dasar namja menyebalkan! Chaerin-ah, ayo kita pulang saja. Namja aneh! Kaja!” tandasnya sambil menarik tangan Chaerin dengan raut wajah kusut. Sementara Chaerin hanya tertawa kecil melihat tingkah Jihyun pada Jinwoon malam itu. dia penasaran, siapa yeoja yang beruntung itu? Bisa-bisanya ia merebut hati milik Jinwoon.

“Semoga aku…” mohonnya.

____

“Shireo!! Eomma! Appa! Aku tidak mau menikah dengan namja pilihan kalian! Jangan paksa aku! Eomma, aku mohon, aku mencintai namja lain!!” yeoja itu berlutut di hadapan kedua orangtuanya, diselingi isakan tangisnya yang menggebu-gebu.

“Chaerin! Kau tidak boleh begitu! Kau harus menikah dengan Park Seungyeol! Dia ialah putra dari rekan kerja Appa! Dan dia tidak memiliki sifat penyakit bawaan sepertimu!”

Yeoja bernama Chaerin itu lantas berdiri lalu berteriak, “Cinta tidak bisa dipaksakan, appa!”

Plakk..

Sebuah tamparan keras menusuk hati Chaerin bagaikan ditusuk beribu-ribu jarum. Chaerin memegang pipi kirinya yang terkena tamparan dari appanya itu. lalu ia menyeringai.

“Ah, jadi appa dengan teganya menamparku keras seperti ini? IYA!? Aku menyesal menjadi anak dari kalian! Kalian tahukah? Jika aku tidak terlahir dari kalian, aku tidak akan memiliki penyakit seperti ini! Kalau aku tetap kalian paksakan untuk menikah dengannya, aku akan pergi dari neraka jahanam ini!!”

“CHAERIN!”

____

Ia menyiapkan hatinya, perasaannya, detak jantungnya yang ia perkirakan akan berdetak kencang saat mengucapkannya. Kurang lebih setahun tidak lagi berhubungan dengan kedua sahabatnya itu—dikarenakan pergi ke Amerika untuk transfusi darah selama itu tanpa sepengetahuan Jinwoon dan Jihyun. Dengan sekali helaan napas, ia melangkah menuju komplek rumah namja itu.

“ah, tidak. Aku harus meminta pendapat jitu dari Jihyun.” Ia merogoh ponselnya dari saku jeans hitamnya, berniat menghubungi Jihyun. Lalu membetulkan kemeja berlengan panjang dengan motif polkadot, dihiasi dengan ikat pinggang kecil yang melilit di pinggang kecilnya.

“Aish, apa dia sudah mengganti nomernya? Kalau begitu aku ke rumahnya sajalah.”

Sesampainya di depan rumah Jihyun, Chaerin menekan dua kali tombol bel  rumah itu. tak lama kemudian, seorang pembantu—biasanya ia memanggil bibi Jung—membukakan pintu rumahnya.

“ah, Chaerin, lama sekali kau tidak mengunjungi rumah ini. Ada apa kau ke sini?” ucap bibi Jung seraya berjalan membukakan pintu pagar untuk Chaerin.

Dengan senyuman menawannya, Chaerin menjawab, “ah, bibi Jung. Aku ingin menemui Jihyun. Apakah ada Jihyun sekarang?”

“Jihyun? Hmm, Jihyun sekarang sedang melaksanakan upacara pernikahannya di gereja Chungdong.”

Kedua bola mata Chaerin melebar. “Mwoyo? Pernikahan?”

Sontak bibi Jung keheranan. “loh? Memangnya kau tidak tahu? Apakah Jihyun tak memberitahumu?”

Chaerin menggelengkan kepalanya. Lalu ia pamit pada bibi Jung kemudian menyetop taksi di luar komplek rumah Jihyun.

 

Sesampainya di depan gereja Chungdong, dengan terburu-buru ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam gereja.

Ia melihat sang mempelai pria mencium hangat Jihyun. Wajah sang mempelai pria tertutup dengan tudung kepala yang dikenakan Jihyun.

Saat mempelai pria dan Jihyun menghadap ke semua para tamu undangan, ia terpaku untuk beberapa saat, mencoba untuk meyakini dirinya bahwa itu tidak benar.

“AH! Chaerin-ah! CHAERIN-ah! Jeongmal Bogoshippeo—” Teriakan Jihyun yang tak sengaja melihat Chaerin di depan pintu gereja, saat itu terputus karena Chaerin langsung meninggalkan gereja itu dengan isakan tangis yang tak kunjung berhenti. Ia baru sadar, tidak seharusnya ia menanamkan perasaannya ini dari 2 tahun lalu. Seharusnya ia bertunangan saja dengan Park Seungyeol—namja pilihan kedua orangtuanya. Ia tampan, pintar, kaya, dan segalanya. Ia menyesal. Apalagi semua ini berasal dari Jihyun dan Jinwoon yang baru saja resmi menjadi suami-istri.

 

Sementara Jihyun hanya bingung dengan kelakuan sahabatnya yang sudah lama menghilang dari penglihatannya. Ada apa dengannya? Gumam Jihyun dalam hati.

____

“menikahlah denganku.”

____

“kalian resmi menjadi suami-istri.”

“Im Chaerin, sekarang kau resmi menjadi seorang istri dari Park Seungyeol.” Ucap sang Pastur.

___

“Sialan, aku terpikir lagi dengan masalalu menjijikkan itu. cih.”

Layaknya seorang diva, yeoja berumur 47 tahun itu berpakaian sangat elegan. Ia menutupi wajah pucatnya dengan kacamata bermerk Gucci yang menutup tulang pipinya. Sesampainya di apartemen yang langsung ia sewa setelah kedatangannya di Seoul, ia membuka kaca mata Guccinya, mantel bulunya, ankle boots hitam yang memiliki kesan tersendiri jika seorang Park Chaerin, ralat, jika seorang Im Chaerin yang memakainya.

Chaerin melangkahkan kedua kakinya ke arah balkon apartemen pada malam itu, “selamat datang, Seoul.”

 

****

Eunji POV

“Noona, temanmu yang bernama Kris, mengirimimu sms.”

“apa katanya?”

“ini.” Baekhyun menyerahkan ponselku. Aku yang sedang memakan sarapan buatan halmeoni, menjeda makanku sebentar dan meraih ponselku.

Eunji-ah, bisa kita tunda? Aku tidak bisa sekarang. Ada keperluan mendadak. Mian. kita bertemu di jembatan Cheonggyeocheon pukul 2 siang.

Apa? Ditunda? Aishhh, kalau begini, aku tidak akan mandi sepagi ini. Aigoo.

Kuselesaikan sarapanku lebih cepat dan memberi kembali ponselku pada Baekhyun. Lalu pergi ke kamarku, melepas jaket tebal orangeku dan menghempaskan tubuhku di ranjang.

****

Kulihat jam tangan biruku, menunjukkan pukul 2 siang. Aish, di mana Kris oppa? katanya aku harus menunggunya di jembatan Cheonggyeocheon pagi ini jam setengah sembilan, lalu di tunda menjadi jam 2 siang. Sekarang di mana dia? Huh menyebalkan.

Suasana di jembatan ini masih riuh akan suasana natal. Untungnya hari ini libur, kekeke.

“EUNJIII” kedua bahuku dipegang seseorang. Sontak aku terkejut dan berteriak.

“HYAAAA”

Aku melihat seseorang yang tinggi di hadapanku kini menutup paksa kedua matanya—pastinya karena teriakanku tadi. Kok Kris oppa jadi terlihat lebih muda begini ya? apa yang salah?

“teriakanmu kencang sekali,” Ucapnya yang diselingi gelak tawanya.

“ah, iya. mianhae, aku agak terlambat. Hehe.”

Aku terkekeh geli lalu menggembungkan pipiku. Kok? Kris oppa? kau…

“oppa,”

Sementara Kris oppa hanya berdeham sambil tersenyum.

“oppa, ada apa dengan rambutmu?”

Lantas Kris oppa langsung menyentuh rambut barunya itu. “wae? Apa aku terlihat aneh mengubah style rambut seperti ini?”

Oppa, kau itu tidak terlihat aneh tapi…

“Yaaa~ kenapa, huh? Aku aneh ya berpenampilan seperti ini? Huh? Eunji-ah~”

Aku terkikik geli begitu kedua tangan Kris oppa mengguncang-guncangkan kedua bahuku.

“aniyo. Hanya saja kau terlihat lebih muda, kekeke.”

Kulihat kedua mata Kris oppa membulat. “mwo? jinjja?”

Aku mengangguk-angguk tandanya mengiyakannya. Sepertinya Kris oppa senang sekali. Kalau begitu, baguslah. ><

 

****

 

Chanyeol POV

“nomer yang anda tuju sedang tidak aktif. Mohon dicoba—”

Aish kenapa tidak diangkat terus sih? Padahal aku merindukannya. Ah iya, beginilah sikapku padanya. Entah kenapa semenjak kami memiliki hubungan yang spesial itu, kalau dia tidak membalas smsku, sejam saja aku sudah merindukannya. Aku tidak sabar menunggu besok. Padahal, dulu, kalau liburan aku selalu ingin lama tidur-tiduran, makan di apartemen. Tapi sekarang? Aku malah ingin cepat-cepat masuk sekolah. Cinta memang bisa mengubah segalanya, ternyata.

“Sudahlah, jangan banyak protes. Kau kan masih sakit, lebih baik makan makanan yang mengandung vitamin yang banyak. Agar aku tak kerepotan lagi merawatmu yang seperti anak kecil.” 

Kalimat-kalimat itu selalu terngiang di telingaku. Kalimat itu Eunji keluarkan sebelum kami berpacaran, arasseo? Berarti sebelum hubungan itu dimulai, dia begitu perhatian padaku. Mengingatnya aku jadi tersenyum-senyum sendiri. Dan karena dia begitu perhatian padaku, ramyun-ramyun yang tersimpan di kulkas yang berada di dapurku, kuganti semua dengan buah-buahan dan sayuran. Karena aku tidak bisa memasak, jadi aku menyiapkan sereal saja untuk sarapan pagi ini—aku baru saja bangun.

Kencan ke mana lagi ya?

****

 

Eunji POV

 

Setelah Kris oppa membeli tiket masuk ke Gyeongbok-gung, kami memasuki area istana itu dan menyaksikan kegiatan sebuah upacara. Cuaca siang ini ceraaah sekali. Cahaya matahari bersinar terik walaupun panasnya berhasil dikalahkan dengan udara di musim dingin. Awan-awan yang menggembul seperti sekumpulan kapas putih. Lalu cuaca yang tak sedingin kemarin—6 derajat celcius. Rasanya ingin sekali mencoba ke masa dinasti Joseon dan aku menjadi istri sang Putra Mahkota. Aish Eunji, pemikiran macam apa itu? masih umur 19 tahun sudah memikirkan pernikahan. Ckck. Apa kata Kris oppa kalau ia tahu apa yang sedang kupikirkan sekarang? Pasti sangat menyeramkan.

“aku akan menganggapmu sebagai guide tourku. Apa yang mereka lakukan?” aku menoleh sejenak pada Kris oppa yang menunjukkan telunjuknya pada kegiatan di istana ini.

Aku mencoba untuk berdeham sekilas. “ekhm, guide tour? Haha boleh juga. Kegiatan itu merupakan upacara pergantian pengawal kerajaan. Kebetulan sekali kita datang di saat pergantian pengawal kerajaan. Karena hanya berlaku di jam atau waktu tertentu upacara ini dilaksanakan.”

“ah, benarkah? Eunji! Foto aku ya!” apa? Foto? Kris oppa… narsis juga haha. Kris oppa menyodorkan iPhone 4s-nya yang seperti punyaku juga. Tapi bedanya Kris oppa berwarna putih, sedangkan aku berwarna hitam.

“baiklah.” Aku pun menerima ponselnya dan melangkah mundur.

“hana… tul… SET!”

click

“otte? Bagus tidak?” Kris oppa menghampiriku dan melihat foto hasil bidikanku.

“keren sih, tapi sayangnya matamu tertutup.”

Kudeskripsikan ya, foto yang baru saja ku bidik, Kris oppa memejamkan matanya. Entah disengaja atau tidak.

“tapi bagaimana menurutmu? Tampankah?”

Kurang dari sedetik kemudian aku langsung menatap Kris oppa dengan tatapan menyelidik. Apakah ini Kris yang kukenal? Apa katanya? Tampan? Sekarang aku mengetahui berbagai hal tentang Kris oppa yang tidak diketahui orang lain.

Aku menghela napas, lalu menutup mata untuk merenungkan. Jawab iya atau tidak? Aku bermaksud bercanda dengannya.

“Kau ini lama sekali menjawabnyaaa,” aaih tiba-tiba kedua pipiku dicubit gemas oleh Kris oppa. “oppa! appo!!” sergahku.

Kris oppa tersenyum seraya dengan kekehannya. “Baiklah, kalau diam berarti kuanggap kau menjawab iya.”

“ani, aku tidak berpikir kau ini tampan. Oppa, kenapa kau begitu percaya diri? Kau aneh,” tandasku ditambah dengan kekehanku.

“jinjja? aku, percaya diri? Baguslah kalau begitu,”

Maksud Kris oppa apa sih? Kulihat Kris oppa menghampiri seorang namja yang kalau kulihat dari sikap mereka, mungkin yeoja di sampingnya itu pasangannya.

jogieyo, bisakah anda memotret kami berdua? Ah, jeongmal gomawoyo,”

Kris oppa merangkulku dan menuntunku berjalan mundur. Aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang tidak gatal ini.

“ah, pasanganmu tak perlu malu-malu begitu. Agasshi, cobalah untuk lebih dekat dengan namjachingumu.” Apa? Kris oppa? namjachinguku? Aku agak terkejut mendengar perkataan yeoja—kekasih namja yang akan memotret kami berdua—itu.

“Eunji-ah, mendekatlah.” Kris oppa mengeratkan rangkulannya padaku. Aku agak kikuk dengan suasana seperti ini.

Dengan jari tangan kananku yang membentuk V—raut wajah mungkin terlihat aneh, dan Kris oppa yang sudah memasang senyuman menawan miliknya, namja itu mulai berhitung.

“bersiap! Hana, dul, set!”

Click

Kedua pasangan itu menghampiri kami dan memberikan ponsel Kris oppa pada sang empunya.

“Kalian cocok sekali. Si yeoja yang manis dan cantik, dan si namja yang, keren dan tampan!” seru si yeoja itu putus-putus. Aku hanya bisa terkekeh melihat namjachingunya yang langsung murung.

“jadi aku tidak tampan, begitu?” si namja menggembungkan pipinya.

Kuperhatikan, si yeoja mendelik padaku dan Kris oppa bergantian dengan cemas, lalu dia menatap dalam si namja. “Ya! kau ini! Kau tidak malu? Aish jinjja,” yeoja itu menjitak kepala si namja.

“ah iya kami permisi dulu ya. dasar kau ini memalukan sekali sih!” kalimat itu yang terakhir kami dengar dari sepasang kekasih itu.

Tak lama sepeninggal sepasang kekasih itu, kami berdua tertawa terbahak-bahak. Dengan mulut yang terbuka lebar, tangan memegang perut, dan kedua mata yang tertutup paksa karena saking lucunya pasangan itu.

“ah, sudah-sudah. Aku capek. Eunji berhentiiii.” Aku berhenti seketika, membulatkan mataku.

“begini dong dari tadi. Aku sudah capek sekali tertawa begini. Hahaha, sungguh, lucu sekali.” Kris oppa melepaskan telapak tangannya di mulutku yang tadi membekapku.

Kami terdiam selama beberapa menit, lalu Kris oppa memulai percakapan itu.

“Seperti dirimu dan Chanyeol, bukan?”

Aku langsung mendelik padanya, “nde?”

“iya, sepasang kekasih tadi, menurutku mereka sama seperti dirimu dengan Chanyeol. selalu bertengkar, saling menjitak, mencubit. Itu satu hal yang selama ini tidak bisa kulakukan,”

Kris oppa berhenti melangkahkan kakinya, dan mensejajarkan tubuhku dengan tubuhnya.

“tapi, sejak bertemu denganmu, aku bisa melakukan itu semua.”

Aku mengerutkan dahiku, bingung.

“aku berubah seperti ini karenamu. Maka dari itu, aku sangat berterimakasih padamu.”

“oppa, berubah? Maksudnya?”

Kris oppa kembali mencubit kedua pipiku. Lalu mengacak rambutku, dan kini merangkulku lagi. Kami berdua melangkahkan lagi kaki kami menuju dalam istana Gyeongbok.

“mencubit pipiku, mengacak rambutku, dan,  ehm, menyentuhku?” gumamku.

Aku mendelik pada Kris oppa yang hanya tersenyum sembari menatap lurus ke arah jalan. Tapi, senyumannya kali ini berbeda. Ada yang aneh. Hiyy aku jadi takut.

“oppa,”

Kudengar dehaman singkat darinya yang masih menatap lurus ke depan. Aku mendongak, memperhatikannya dengan detail.

“oppa, kenapa kau memilih model rambut seperti ini?” tanyaku polos.

Tak lama, Kris oppa memalingkan wajahnya ke arahku. “ingin terlihat sebaya saja denganmu. Aku tidak mau orang-orang nanti menganggapku ialah pamanmu. Kau saja, waktu pertama kali kita bertemu, kau memanggilku ‘ahjussi’ kan?” jelasnya disusul kekehan ringan.

Segera kubuka mulutku untuk mengeluarkan tawaku. “haha, oppa, sebegitu tuakah oppa di mata orang lain? Oppa, kau ini tampan. Walaupun kau sangat terlihat dewasa, tetap saja wajahmu itu sangat tampan. Kau polos sekali. Haha.”

“bukankah kau juga Byun Eunji yang polos, hm?” kekehanku berhenti seketika, lalu menggembungkan pipiku cemberut. Tapi kedua pipiku malah dicubit Kris oppa. huh menyebalkan.

“Aku ingin mencoba menjadi Kris yang baru!”

Aku mendelik lagi padanya, “kalau begitu, rambut baru, kelakuan baru, dan, jangan-jangan pakaian yang kau kenakan sekarang, baru kau beli? AH! jadi, kau menunda semuanya karena menyiapkan ini semua?

Apa aku benar, oppa? Kris oppa serba baru!” ujarku terang-terangan sambil tertawa. Aku mulai berlari-lari ketika Kris oppa mulai mengejarku dengan meneriakiku kesal.

“Yaaa~ Byun Eunji!!”

 

****

Author POV

Yeoja berpenampilan mewah dengan kaca mata Gucci hitamnya yang menutupi tulang pipinya yang tinggi itu melangkahkan kakinya menuju resepsionis.

“apakah dr. Shin sudah datang?” tanya yeoja itu pada si resepsionis.

“ah, Im Chaerin-ssi. Iya, dr. Shin Boyoung sudah datang sejam yang lalu. Silahkan anda masuk.”

Yeoja berkulit pucat itu pun melangkah ke lift dan menekan tombol 5, lantai khusus untuk menangani penyakit yang berhubungan erat dengan darah.

Sesampainya di lantai 3, ia mencari-cari sebuah pintu di mana dokter yang bernama Shin Boyoung itu bekerja di dalamnya.

 

dr. Shin Boyoung Sp.JP
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah

“Boyoung-ah, lakukan transfusi darah padaku sekarang,” pintanya tergesa-gesa sehabis membuka pintu sembari berjalan menuju ranjang pasien.

“Chaerin eonni! Kumohon tenanglah!” Sang dokter yang ternyata sepupu Chaerin yang lebih muda 4 tahun darinya, mencoba menenangkan Chaerin yang sudah sulit bernapas.

Boyoung mengukur kecepatan denyut nadi di leher Chaerin. “Astaga, eonni! Apakah kau sudah bosan hidup? Kencang sekali denyut nadimu! Ingat! Jantungmu tidak boleh bekerja terlalu berlebihan!”

“ani, aku masih ingin membalaskan dendamku pada yeoja itu—”

“Chaerin eonni!! Berhenti memikirkan dendammu itu padanya! Kau ini sudah menjelang setengah abad, apalagi dengan berpenyakit seperti ini! Lupakan dan maafkan mereka!”

Chaerin yang sudah berbaring di ranjang pasien pun hanya mendecis, “cih, kau, jangan sok mengaturku. Urus saja aku ini. Aku akan membayar lebih, aku akan membayarmu jauh lebih besar dibanding dokter spesialis jantung manapun!”

“eonni! kumohon, hentikan semua itu!”

“diam kau! Lebih baik kau alirkan darah bergolongan A ke dalam tubuhku!”

Boyoung hanya diam, membalikkan badannya, berjalan untuk menyuruh suster mengambil kantong darah bergolongan A. Ia menangis melihat sifat kediktatoran sepupunya ini. Ia tak akan pernah menyadari, denyut nadinya yang sangat cepat itu bisa membahayakan tubuhnya. Bahkan bisa mematikannya.

 

****

 

Matahari dengan cahaya jingga kini telah berubah menjadi langit yang penuh kerlap-kerlip dari bermilyaran bintang di atasnya. Ditambah dengan suasana Gwanghamun Square yang berada di pusat kota Seoul. Kini, Kris dan Eunji melangkah demi langkah mendekat ke air mancur yang terdapat di tengah jalan dari gerbang utama Gwanghamun Square, yaitu Gyeongbok Palace. Disinilah berdiri 2 patung dari orang yang sangat berjasa untuk Korea. Raja Sejong dan Laksamana Yi. Dihiasi dengan air mancur 12.23, patung Laksamana Yi siap menyambut mereka.

 

“wah, Oppa, aku belum sempat melihat pemandangan air mancur Gwanghamun Square di malam hari seperti ini. Wah.” Eunji berdecak kagum melihat pemandangan air mancur berwarna biru terang yang memancar.

Kris tersenyum. “mau kufoto?”

Eunji seketika menoleh pada Kris, “eo? Bo-boleh.” Disusul kekehannya.

Eunji melangkah mundur, tepat di samping air mancur yang sedang memancar. Ia diam disitu. Memikirkan gaya apa yang bagus untuk pemandangan seperti ini.

Kris mulai memberi aba-aba. “siap? Hana, tul—”

Oh tidak…

“KYAAAA!!!” teriakan Eunji sontak membuat pengunjung yang sedang bermain-main dengan air mancur itu terkejut. Dan tak lama kemudian, para pengunjung pun tertawa diam-diam lalu berbisik-bisik kecil dengan teman mereka.

“huaaaa, otteokhe??” Eunji memegang celana jeansnya yang sudah basah kuyup, dan sudah pasti, rasanya seperti dibekukan ke dalam freezer.

Kris hanya bisa tertawa di belakang Eunji. “Eunji-ah, lagi pula kenapa kau berdiri tepat di saluran air mancur itu? lihat? Celana jeansmu basah semua.”

Si pendengar—Eunji, hanya mengerutkan kedua alis matanya dan menatap tajam Kris atas perkataannya barusan. “oke, oke. Aku minta maaf. Lalu bagaimana celanamu itu?” tanya Kris mendekat pada Eunji. Eunji malah membuang muka.

“Sudahlah, aku tidak jadi foto.” Sergah Eunji. Kris melongo.

“ya~ kalau begitu, foto aku. Ara?” ujar Kris sembari memegang telapak tangan Eunji, lalu meletakkan sebuah benda persegi panjang putih itu di atas tangan Eunji. Eunji malah mendesah kecil, menghela napas. Sementara Kris berjalan mundur dan mulai merentangkan tangannya, seakan-akan bisa meraih kedua air mancur yang memancar di sisi kanan dan kirinya. Dan di belakangnya, terdapat patung Laksamana Yi yang kokoh.

Setelah terfoto, Kris melihat hasil bidikan yeoja unik yang satu ini, lalu berdeham pelan. “pemandangannya bagus ya.”

Tak ada respon, Kris menoleh dan mendapati percikan-percikan air yang dingin menyentuh permukaan wajahnya. Spontan Kris terdiam. Sementara yang memercikkan air itu—Eunji, hanya tertawa melihat namja itu terdiam.

Tapi, tawaannya itu berhenti ketika melihat salah satu sudut bibir Kris terangkat. Sepertinya ada rencana ‘jahat’ yang akan ia lakukan pada yeoja di hadapannya ini.

 

Lucunya, mereka malah saling mencipratkan air. Dan, tak sengaja kepala Kris mengenai air yang sedang memancar sehingga rambutnya agak basah.

Eunji terperangah ketika Kris mengacak-acak rambutnya untuk mengeringkannya.

“hei, hei, lihat! Namja itu. so damn sexy!!”

Mendengar seruan dari salah satu yeoja di sekitar mereka membuat pipi Eunji menggembung. Berusaha menahan tawa dengan udara yang memenuhi kedua pipinya.

Kris masih tetap dengan tangannya yang mengeringkan rambutnya. “wae?” dia menengok ke arah sekitarnya. Yeoja-yeoja itu teriak kegirangan saat Kris menoleh. Hei, memangnya Kris itu Aktor?

Click

“HYAAA. Oppa!! aishh. Pasti aku jelek di foto itu!” seru Eunji sembari berusaha merebut ponsel Kris. Sedetik kemudian, ia merogoh saku celana jeansnya untuk mengambil ponsel.

Eunji terdiam, mencoba kembali mengecek ponselnya di saku mantelnya. “loh, ponselku tinggal? Ah iya, kemarin kan ponselku dipinjam Baekhyun.” Gumamnya. Lantas ia mencoba merebut ponsel Kris lagi. Yap. Ia mendapatkannya. Segera ia bidik Kris dengan rambut yang acak-acakan. Hmm, terlihat sangat menawan.

“selca?” tawar Kris masih dengan senyuman mautnya itu.

Eunji terperangah ketika Kris berucap begitu. Kris merebut ponselnya lalu berselca dengan Eunji dalam satu bidikan.

Ketika melihat hasilnya, mereka tertawa sendiri-sendiri.

 

****

“eh,  hyung? Ada apa? Mian dari tadi aku sibuk mengerjakan tugasku yang sudah menggunung itu.”

“Baekhyun? Loh, ini nomer Eunji kan?”

“eh? Ah iya, ponsel noona ada di tanganku. Kemarin aku meminjamnya tapi lupa mengembalikannya pada noona. Giliran mau di kembalikan, Eunji noona sudah pergi.”

Chanyeol—yang sedang berbicara dengan Baekhyun—memanggut tanda mengerti. “pergi? Ke mana?”

“aku tidak tahu pasti, kata halmeoni sih, siang tadi noona pergi ke istana Gyeongbok.”

“Hah? Dengan siapa ia pergi? Kenapa dia pergi ke sana? Apakah Eunji belum pulang?”

“belum, aku juga tidak tahu. halmeoni dan aku juga khawatir. Sudah saatnya makan malam tapi noona belum juga pulang.” Chanyeol cukup terkejut mendengar Eunji pergi ke Istana Gyeongbok dan belum pulang hingga sekarang.

Chanyeol langsung memutuskan sambungan teleponnya, mengambil jaket tebal hitamnya dan pergi keluar. Ya, karena kekhawatirannya pada Eunji, ia pergi menuju istana Gyeongbok.

****

Satu hal yang tidak diketahui Eunji, bahwasanya Chanyeol itu sebenarnya mempunyai mobil. Hadiah dari ayahnya saat ia berulang tahun yang ke 19. Mobil itu langsung dikirim dari Amerika ke Korea. Yap, Chanyeol merupakan anak yang beruntung memiliki appa yang baik padanya. Tetapi, jika membicarakan soal ommanya, ia merupakan anak yang kurang beruntung, memiliki keluarga yang tidak utuh.

Ia menekan tombol untuk membuka kunci mobil sedan hitamnya. Dan melaju ke arah istana Gyeongbok dengan perasaan cemas.

“Eunji-ah. kau di mana?”

****

Kris dan Eunji duduk di bangku yang terdapat di bawah pohon dekat dengan Gwanghamun Square. Mereka duduk bersebelahan. Hanya mereka berdua yang duduk di kursi panjang kayu itu.

Kris mengacak rambutnya yang sudah agak mengering. Eunji sibuk mengayun-ayunkan kedua kakinya agar celana jeans yang ia kenakan cepat mengering.

Tahu-tahu Kris mengubah arah pandangannya 90 derajat ke kanan, menghadap Eunji. “Eunji-ah. aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

Eunji menjeda kegiatan kedua kakinya, lalu menatap Kris dengan tanda tanya. “apa yang ingin kau katakan?” “ah, pasti soal ‘Kris yang Baru’ kan?”

Kris menggelengkan kepalanya sembari tertawa. “bukan. Lebih tepatnya penyebab dari ‘Kris yang Baru’.”

Sepertinya Eunji tertarik dengan topik yang dimulai oleh Kris. “apa?”

“Apakah kau mengenal Victoria?”

Eunji terlihat berfikir, mencoba mengingat siapa itu Victoria. Dia memejamkan matanya, dan Eunji sudah tau, ia mengenal Victoria.

“memangnya kenapa dengan Victoria eonni?” mendengarnya, Kris tersenyum-senyum sendiri.

“dia kakakku, dan dia adalah ibu dari Muyeol.”

Eunji melebarkan kedua matanya. “apa?” melihat Eunji yang sepertinya membutuhkan penjelasan yang lebih detail, Kris menarik napasnya sebelum mengingat masa lalunya.

“dua hari setelah pertama kali kita bertemu saat kau jatuh dari motor waktu itu, Victoria mengenalkanmu padaku lewat akun weibonya ke akun weiboku. Aku masih ingat sekali apa yang dia katakan. ‘ini foto temanku. Cantik tidak? Aku ingin punya adik perempuan seperti dia, tapi, sepertinya mama tidak pernah mengabulkan permintaanku itu dari aku kecil. Mama malah mengeluarkanmu dari rahimnya. Huhu.’ Sampai saat ini, Victoria sangat ingin bertemu denganmu. Tapi bagaimana lagi, dia sangat sibuk dengan pekerjaannya dan keluarga kecilnya.”

Eunji menarik napas, “jadi, adik Victoria eonni yang selalu dibicarakannya padaku itu, kau oppa?” “dunia ini ternyata sempit ya, haha.”

Kris dan Eunji mulai menceritakan orang yang mengenalkan mereka, Victoria. Ya, Eunji mengenal Victoria di salah satu jejaring sosial paling populer di China. Tentu saja Victoria yang sekarang bekerja sebagai Duta Besar China untuk Korea, berbicara dengan Eunji menggunakan bahasa Korea. Seperti yang kalian tahu, Eunji tidak lancar berbahasa mandarin.

“seperti itulah. Dan sekarang, aku ingin mengatakan inti dari topik ini.” Ujar Kris. Eunji menajamkan pendengarannya.

Kris menarik napas panjang sebelum berkata,

“Saranghae.”

Sebelum Eunji bereaksi atas ucapannya barusan, namja itu buru-buru menempelkan telunjuknya di bibir ranum yeoja itu. Setelah jeda beberapa saat, Kris baru melanjutkan, “Aku tidak bisa menjamin akulah yang kau inginkan. Tapi aku berjanji akan menjadi laki-laki yang kau butuhkan.”

Eunji tak mampu berkata-kata. Lidahnya kelu untuk mengucapkan sepatah kata pun. Ia menarik napas panjang lalu tersenyum.

“oppa…”

Kris yang sedaritadi menundukkan kepalanya setelah menempelkan telunjuknya di bibir Eunji, mendongak lalu tersenyum lirih. “aku tahu, aku tahu kau—”

“Aniya oppa. Sebenarnya aku menyukaimu, tapi, aku hanya menyukaimu sebagai seorang oppa untukku, tidak lebih. Oppa adalah seorang kakak yang sangat aku sayangi karena aku anak pertama, tidak mempunyai kakak kandung.”

Wajah Kris tiba-tiba memerah dan kedua ujung bibirnya terangkat dengan manis. “gomawo, nae saeng.” Salah satu telapak tangannya tahu-tahu mengacak rambut coklat Eunji. Eunji tersenyum lebar dengan kedua ujung matanya yang membentuk bulan sabit.

****

 

Dengan terburu-buru Chanyeol memarkirkan mobilnya dekat di pinggir jalan area patung Laksamana Yi dan Raja Sejong. Air mancur masih memancar dari tengah-tengah jalan itu. ia membuka pintu mobil hitamnya dan menutupnya kembali dengan menekan tombol lock yang terdapat di kunci mobilnya.

Ia menelusuri kawasan Gwanghamun Square, karena istana Gyeongbok sudah tutup dari jam 5 sore. Tetapi, perhatiannya menuju kepada dua orang yang duduk di kursi di bawah pohon itu. ia mendekat, dan karena cahaya lampu jalanan yang terang, ia mampu melihat wajah dari kedua orang itu. Eunji, dengan jaket tebalnya, rambut panjangnya yang tergerai, dan namja itu.

“guru Wu?” tanyanya dalam hati. Dan kini ia melihat Kris menyentuh bibir Eunji dengan telunjuknya. Chanyeol terkejut melihat itu semua. Ia membalikkan tubuhnya 180 derajat.

Ia menarik napasnya panjang, lalu membuangnya perlahan. “hah!”

****

 

Malam itu, ia tidak langsung pulang ke apartemennya. Melainkan ke jembatan Banpo, di mana di pinggir jembatan itu, memancar air berwarna-warni karena efek cahaya yang menari-nari dan memancar ke sungai Han. Di Jembatan itu ia berteriak keras.

“AAAAAAAAAAAAAAAARRGHHHHH!”

“BYUN EUNJI!!!! KAU KENAPA HAH??? ARGHHHHH!”

Di pinggir jembatan Banpo, Chanyeol memijat batang hidungnya, dan memukul pembatas jembatan dengan kesal. Ia masih shock dengan baru saja ia lihat.

“kenapa harus dia?! Kenapa dia memegang bibir Eunji? Apa Eunji lupa kalau aku ini namjachingunya? Sial!”

 

****

“Eonni, kumohon jaga kesehatanmu.” Sergah dr. Shin Boyoung.

“terserah apa katamu. Aku pergi dulu.” Chaerin bergegas dari kursi dan menuju keluar ruangan dokter Shin.

“eonni, Jebal.” Ucapan Boyoung membuat langkah kaki Chaerin yang sudah di depan pintu, terhenti. Tak lama kemudian, langkah kaki itu kembali berderap dan melangkah ke luar ruangan serba putih itu. Boyoung hanya menghela napas panjang.

“eonni, kapan kau kembali seperti dulu? Chaerin eonni yang selalu menjadi inspirasiku karena kau tidak pernah menyerah akan penyakitmu, hingga aku menjadi dokter spesialis sekarang. Tapi, kenapa kau menjadi gegabah begini?” ucap Boyoung sendirian.

****

Chanyeol mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang normal, ia sudah bisa mengontrol emosinya karena semua emosinya sudah ia lepaskan di jembatan Banpo tadi. Saat membelok ke arah kiri, ternyata ada mobil yang melaju dengan kecepatan penuh, padahal jalur yang dilewati Chanyeol sedang lampu hijau. Sehingga mobil-mobil yang di depan Chanyeol tertabrak van itu. Chanyeol juga tertabrak karena kecelakaan itu kecelakaan beruntun.

****

Eunji POV

Saatnya sekolah, pagi ini dingin sekali. Seperti biasanya, mandi, berseragam, dan sarapan di lantai bawah. Oh iya, kemarin malam, omma dan appa sudah pulang ke Seoul. Begitu juga halmeoni. Jam 9 malam kemarin, satu jam setelah aku pulang ke rumah, halmeoni diantar omma dan appa ke bandara Incheon

“Eomma, appa, aku berangkat dulu.” Aku membungkukkan badanku kepada omma dan appa. Kenapa tidak ada Baekhyun? Karena dia sudah berangkat lebih dulu.

“Eunji, hati-hati!”

Sesampainya di kelas, kutelusuri si virus itu. Mana? Di mana dia? Tumben sudah jam segini belum masuk?

Pelajaran Bahasa Korea, Mandarin dan pelajaran yang lainnya kulalui tanpa Chanyeol. Aku saja pergi ke kantin hanya bersama Krystal, Sulli, Kyungsoo dan Sehun.

Pada jam pelajaran terakhir, yaitu Matematika. Saat memasuki kelas saja, raut wajah guru Lee tampak tak bersemangat, seperti banyak pikiran. Guru Lee meletakkan buku-buku bahan materi yang untuk diajarkannya di meja guru. tetapi, ini agak aneh. Biasanya, guru Lee setelah meletakkan bukunya di atas mejanya, ia langsung duduk di kursi itu. tapi, sekarang kenapa guru Lee berdiri di depan kelas dengan wajah yang suram begitu?

“anak-anak sekalian. Saya ingin memberi tahu kabar buruk dari kelas kita ini.”

Kelas yang tadinya riuh, tiba-tiba diam, memperhatikan apa yang akan dibicarakan guru Lee.

“Park Chanyeol mangalami kecelakaan. Siapa yang menonton breaking news di KBS2 kemarin malam? Di perempatan lampu lalu lintas setelah jembatan Banpo. Adakah yang melihatnya? Sebuah van yang tidak mematuhi peraturan lalu lintas, melaju dengan kecepatan tinggi dan melewati lampu merah. Dan terjadilah kecelakaan beruntun itu.”

Mwo? astaga. Chanyeol, kecelakaan?

Suasana kelas kembali riuh setelah mendengar penjelasan guru Lee. Chanyeol, kenapa kau harus mengalami ini?

“Dimohon tenang dulu. Untungnya bukan Chanyeol yang langsung tertabrak oleh van tersebut, jadi tak ada luka berat pada tubuhnya hanya luka ringan di sekitar kepalanya dan lengannya. Bagi yang ingin menjenguknya, kalian bisa menjenguknya di Seoul Hospital. Ia sedang dalam proses pemulihan.”

Aku termenung, memainkan pensil mekanik biruku diantara kelima jariku. Chanyeol, aku berdoa, semoga kau baik-baik saja. Ya Tuhan, jebal, kabulkan doaku.

****

Bel pulang sekolah berbunyi, segera kumasukkan buku-buku matematika yang menjadi jam terakhir hari ini. Saat itu, rumus-rumus, langkah untuk menyelesaikan matematika pun sama seperti pepatah masuk telinga kanan keluar telinga kiri, aku benar-benar khawatir.

Kulangkahkan kakiku menuju koridor lantai 3, tiba-tiba ada yang menyeru namaku.

“Eunji!”

Kutoleh kepalaku ke belakang—arah suara itu. Ternyata Sulli. Disusul dengan Krystal.

“ada apa?”

Mereka berdua menepuk pelan punggungku. “kau yang sabar ya,” ujar Sulli.

“iya, kudengar namjachingumu kecelakaan, kan? sabarlah.” Susul Krystal. Sulli berdeham pelan tandanya mengiyakan Krystal.

Aku menarik napas panjang, berusaha terlihat tegar. Eh, tapi, apa katanya? Namjachingu? Dari mana mereka tahu??

“ayo kita jenguk! Eunji-ah! kaja!” tiba-tiba kedua pergelangan tanganku ditarik mereka berdua. Aku berusaha menahannya. Tetapi 2 tenaga lawan satu tenaga pasti yang kalah adalah yang hanya memiliki satu tenaga, yaitu aku. Dan aku pun ditarik mereka menuju gerbang sekolah, lalu menaiki bus yang haltenya terletak lumayan dekat dari SMA Shin.

Sesampainya di Seoul Hospital, kami—atau lebih tepatnya aku—menanyakan nomer kamar Chanyeol. setelah itu, kami bertiga menaiki lift dan menekan tombol 6. Lalu kami menelusuri nomor tiap kamar. Setelah menemukan kamar bernomer 601, Sulli meraih kenop pintu tetapi ditahan Krystal. “kau ini bagaimana sih, biarkan yeojachingunya dulu yang masuk pertama, setelah Eunji keluar, baru kita yang masuk, ara?”

Sulli mengangguk mengerti. Tahu-tahu aku di dorong ke arah pintu yang kenopnya sudah dipegang Sulli, sementara yang mendorongku ialah Krystal. Dasar mereka usil sekali sih.

Dengan malu-malu, aku memasuki kamar rawat yang warnanya mendominasi warna krem. Lumayan besar, mungkin ruangan seperti ini ialah ruangan VVIP, di mana hanya ada satu pasien di kamar rawat tersebut.

Kulihat Chanyeol yang sedang menatap ke arah jendela kaca yang gorden jendelanya terbuka lebar, sehingga cahaya di ruangan ini sangat terang. Dia terlihat fokus sekali pada jendela itu, sehingga dia tak menyadari keberadaanku di sini.

“Chanyeol-ah.”

Tanpa mengubah arah pandangnya, ia berkata, “kenapa kau datang ke sini? Mau pamer padaku tentang kemarin malam, hah?”

Aku membeku ketika hendak melangkah mendekati ranjang Chanyeol.

“mwo?” kataku lirih.

“ka.” Mendengar kata ‘pergi’, aku menjadi sedih. Chanyeol, kau kenapa?

“kubilang pergi, kau tuli?” rasanya ia pantang sekali untuk menoleh padaku. Kutarik napasku panjang.

“tapi aku—”

“kubilang pergi. Jebal.”

Kubalikkan arah tubuhku dan kembali menuju pintu kamar rawat ini. Kubuka dan aku langsung berlari meninggalkan lantai ini.

“dia kenapa?” tanya Krystal pada Sulli. Mereka berdua hanya menaikkan kedua bahu mereka tandanya tak tahu.

****

“Ya! Eunji-ah! ternyata kau di sini. Kenapa kau tidak mengangkat teleponku?” gerutu Krystal yang membuat moodku menjadi tambah buruk.

Sulli dan Krystal menyusul Eunji yang duduk sambil menyeruput kopi susu hangat di kafetaria rumah sakit Seoul. Mereka duduk di depan Eunji.

“Eunji-ah, memangnya tadi kau kenapa dengan Chanyeol? eo? Ceritakan pada kami, kami akan dengan senang hati mendengarmu.”

Setelah mendengar ketulusan mereka, aku jadi sedih lagi. Kenapa Chanyeol seperti itu.

Jadi aku menceritakan semuanya pada mereka. Mereka cukup terkejut, mengetahu Chanyeol yang riang kini menjadi dingin. Dulu aku tahu, Chanyeol pernah menceritakan masa lalunya, ia dulu adalah anak yang dingin. Tetapi kini dia berubah lagi menjadi namja yang dingin.

“lebih baik kau membicarakannya baik-baik. Tapi, aku heran, apa yang membuatnya marah seperti itu padamu? Masa iya dia marah padamu dengan alasan yang tidak jelas?” selidik Sulli, Krystal mengiyakannya.

“yang jelas, dia mengatakan ini padaku tadi, ‘kenapa kau datang ke sini? Mau pamer padaku tentang kemarin malam, hah?’. Itu. menurut kalian, dia kenapa?”

Sulli dan Krystal berpikir, mencoba untuk menduga-duga apa alasan Chanyeol marah padaku.

pamer padaku tentang kemarin malam? Memangnya kemarin malam kau ngapain, eo? Kok bisa membuat Chanyeol seperti itu? atau cemburu?—”

“AKU TAHU!” seru Krystal menyela pendugaan Sulli.

“apa dia melihatmu bersama namja lain? Kemarin kau di mana?”

“iya, waktu aku saling kirim pesan singkat pada Baekhyun kemarin, kau pulang jam 8 malam. Kau pergi dengan siapa, eo?” tanya Sulli.

Tunggu, jangan-jangan…

“astaga,” seruku lirih.

Kepala mereka berdua langsung merapat ke kepalaku. Sementara aku masih shock, kenapa aku baru sadar sekarang?!

“Kris oppa.”

“Kris? Maksudmu… GURU WU?!!!!” seruan mereka membuat kedua tanganku membekap mulut mereka. Aish jinjja.

“kau, kenapa bisa, kau memanggilnya Kris oppa? aigooo.” Decak sulli sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku hanya cemberut melihat mereka yang seperti itu.

“memangnya kau ngapain saja dengan guru Wu kemarin? Kok pulangnya bisa sampai jam 8 begitu?” tandas Krystal dengan tatapan menyelidik. Aigoo.

Kuceritakan semua saat Kris oppa menyatakan perasaannya padaku.

“sungguh, aku menolaknya dengan baik-baik. Aku hanya menganggapnya sebagai kakakku.” Sergahku.

“jinjja? omona. YAAA BYUN EUNJI!! Kenapa kau beruntung sekaliii??? Telunjuknya mendarat di bibirmu?? Aakhh aku iri sekali denganmu.” Seru Krystal. Aku hanya mendengus kesal pada mereka berdua. Huh.

“Aisssh jinjja! Krystal-aah, ssssh.” Aku mendesis sembari menempelkan telunjukku di bibirku, bermaksud menyuruhnya diam. Setelah mereka sudah tenang, aku pergi kembali ke kamar Chanyeol yang berada 6 lantai dari lantai dasar rumah sakit ini, untuk menjelaskan kejadian waktu itu. apa kecelakaan yang menimpanya kemarin malam karena Chanyeol memikirkan hal itu? astaga.

Kini, kakiku tepat berada di depan pintu ini. Satu jam setelah dia mengusirku dari ruangan ini, aku mencoba mengumpulkan keberanianku. Ini penting. Eunji, fighting!

Sebelumnya kuketuk pintu itu 2 kali, tapi aku tak mendengar jawaban dari dalam. Kubuka perlahan pintu yang berwarna putih ini. Menutupnya kembali dengan perlahan-lahan. Dan pemandangan yang kudapati ialah, Chanyeol tertidur pulas di ranjangnya. Aku mendekat ke ranjangnya, dan duduk di kursi yang ada di samping kanan ranjangnya.

Kupandangi wajahnya yang damai ketika tertidur untuk kedua kalinya, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang penuh. Kuelus pipinya pelan. Lalu kedua tanganku kini beralih pada telapak tangan kanannya yang terletak di atas perutnya. Kugenggam erat tangan itu. hangat, itu yang kurasakan saat ini.

“mianhae, aku baru menyadarinya. Tapi kau hanya salah paham, Chanyeol-ah. dia memang menyatakannya padaku, tapi aku tidak menyukainya, aku hanya menyayanginya sebagai kakakku sendiri. Kau tahu, aku mencintaimu. rasanya air mata ini akan melimpah jika kau tidak memaafkanku.” Aku semakin mengeratkan genggaman tanganku ke tangannya.

Aku mengeluskan punggung tangan Chanyeol ke pipiku sambil memejamkan mata, mencoba meresap kenyamanan ini.

“aku juga ingin minta maaf denganmu. Aku tidak bisa seromantis seperti yang kau inginkan. Aku selalu saja cuek, memukulimu, menjitakmu, bahkan aku selalu mengataimu virus. Tapi, sebenarnya, omonganmu waktu di taksi malam itu juga ada benarnya. Kau adalah orang yang membuatku tertawa, dan juga marah pastinya. Ya, kau itu adalah Happy Virus. Happy Virusku. Sekali lagi, mian. Aku akan berusaha menjadi yeoja yang baik untukmu, yeol-ah.” lagi-lagi aku berbicara sendiri, menyebut namanya dengan ‘yeol’—nama yang selalu ingin dia dengar dari mulutku. Sementara Chanyeol masih dengan kedua mata teduhnya yang terlelap.

“sepertinya aku mengganggu tidurmu, ya? baiklah, aku akan keluar.” Aku bangkit dari kursi itu dan aku menatap dahinya yang terluka karena kecelakaan kemarin malam. Teringat saat aku dengan tak sengaja mengenai dahinya dengan gembok cinta itu di N Seoul Tower. Kuelus pelan dahinya itu sambil tersenyum.

Ya, aku merindukannya. Kucium bibirnya dengan mataku yang tertutup selama beberapa detik.

“semoga kau cepat sembuh, dan memaafkanku. Hmm, kalau kau memafkanku, aku akan melakukan apapun yang kau mau. Inilah janji seorang Byun Eunji! Hahaha. Eunji! Fighting!”

Aku segera beranjak dari kamar rawat itu, tetapi, ponselku berbunyi. Ternyata dari Sulli.

“wae, Sulli-ah?”

“Mwo? ara, ara. Aku akan ke sana sebentar lagi. Yap. Bilang padanya untuk menungguiku.”

****

Chanyeol POV

“Chanyeol-ah, Gwaenchanha? Eo? Maafkan aboji baru datang malam ini. Ketika mendengar berita itu dari rumah sakit ini, aboji langsung terbang ke Korea.”

Jujur, aku agak terkejut melihat kehadiran aboji yang sangat tiba-tiba ini. Aboji memelukku erat, akupun membalas pelukannya.

“apakah lukamu parah?” Aboji menghampiriku yang masih terbaring lemas di ranjang.

Aboji duduk di atas kursi tepat di samping ranjang ini membelakangi pintu. “Aboji khawatir sekali padamu, Chanyeol-ah. Kau adalah anak kami satu-satunya. Untung saja kau tidak mengalami luka parah seperti patah tulang atau yang lainnya—”

“Mianhae, aboji. Aku akan lebih hati-hati lagi.” Ucapku lirih. Melihat wajah aboji yang mulai berkerut dan kulihat lingkaran hitam di bawah matanya. Tetapi garis wajahnya yang tegas membuatku teringat wajah aboji saat aku masih kecil dulu. Aboji adalah namja yang paling tampan dan tegas di dalam hidupku.

klek…

Seketika aku menoleh ke arah pintu ruangan ini saat mendengar suara pintu terbuka. Dia?

****

Eunji POV

“hhh… hhh, hhh.” Kutarik napasku dalam dalam sambil memegang lututku. Aku berlari sampai kamar rawat ini sehingga aku jadi ngos-ngosan seperti ini.

“Chanyeol-ah, kau cemburu pada—” aku menghentikan ucapanku ketika meyadari ada orang lain yang memasuki ruangannya. Seorang ahjussi menolehkan kepalanya ke belakang, kemudian ahjussi itu tersenyum padaku. Kubalas senyumannya dengan sopan.

“Chanyeol-ah, nugu?” setelah menolehkan kepalanya menghadap Chanyeol, kudengar samar-samar ahjussi itu berbisik pada Chanyeol. Sementara Chanyeol hanya menatapku datar. Melihatnya seperti itu, hatiku mulai merutuki kebodohanku kemarin malam.

Karena merasa harus memperkenalkan diri, aku langsung membungkuk 90 derajat dan memperkenalkan diri. “Annyeonghaseyo, Byun Eunji imnida. Bangapseumnida.”

“Byun Eunji? Nama yang bagus.” Puji ahjussi itu padaku. Aku hanya bisa tersenyum dan menggaruk kepalaku yang tak gatal ini.

Aku melihat keduanya yang tampak terganggu dengan kehadiranku. “hmm, apakah aku mengganggu kalian?”

Ahjussi itu langsung menyelaku, “aniya, kau tidak mengganggu kami. Kau mau menjenguk putraku? Baiklah, aku akan keluar. Silahkan.” Eh? Ahjussi itu, ayahnya Chanyeol???? ahjussi!! Kumohon jangan keluaaar….

Blam, pintu ruangan ini tertutup. Sekarang, di ruangan ini hanya ada aku dan dia. Ya, suasana di sini cukup membuat kami canggung. Tidak seperti biasanya.

“kenapa kau ke sini?” tanyanya yang cukup datar itu membuat kepalaku yang dari tadi menunduk, langsung menoleh padanya yang menatapku. Kenapa aku jadi tambah gugup begini melihat dia seperti itu?

Aku berdeham sebentar, lalu menjawabnya, “ekhm, aku ingin bilang itu—”

“keluar.”

“nde?”

“sudaah cepat sana keluaaar.”

Dengan lemas, aku berjalan ke luar dari ruangan itu. aish! Aku pusing dengan semua ini. Aku duduk di kursi panjang rumah sakit di depan kamar rawatnya ini. Lalu teringat dengan apa yang dikatakan Sehun di kafetaria rumah sakit ini—tadi aku ditelepon Sulli untuk menemui Sehun di kafetaria—karena Sehun ingin memberitahukan sesuatu padaku. Sehun bilang saat ia menjenguk Chanyeol, bahwa dia itu cemburu padaku karena Kris oppa. Dasar namja pencemburu. Kenapa cemburu sampai segitunya sih? Menyebalkan.

Lagian kau juga yang lamban, Byun Eunji. Masa kau tidak tahu namjachingumu itu cemburu?

Klek

Kutoleh kepalaku ke belakang—ke arah pintu kamar rawat Chanyeol. terkejut, yap, kata itu yang bisa kuucapkan sekarang.

“Ya! Park Chanyeol! kau mau ke mana??! Kau itu masih sakit! Kenapa kau lepaskan infusmu??” seruku bertubi-tubi. Tetapi, masih dengan wajah datarnya, ia menarik pergelangan tangan kananku. “YA! kau kenapa hah?”

Ia tetap menarik paksa tanganku. Lebih baik aku ikuti saja dia ingin ke mana.

****

Dan, sampailah kami berdua di kafetaria rumah sakit ini. astaga, sudah berapa kali aku bolak-balik ke sini? Langkah Chanyeol terhenti di depan sepasang kursi dan meja berbentuk lingkaran berwarna putih di antara kedua kursi itu.

“duduk” perintahnya yang membuatku langsung duduk di kursi putih ini. setelah aku duduk manis, dua bukannya duduk, tetapi malah pergi ke tempat pemesanan makanan. Kulihat dia yang membelakangiku menunggu makanan yang dia pesan dengan tenang. Tahu-tahu kedua ujung bibirku tertarik. Eh? Tunggu, tapi kenapa dia memesan makanan? Aku jadi bingung.

Saat dia membalikkan badannya, aku tak tahu pasti makanan yang ada di mangkuk hitam itu apa. Aku membuang arah pandanganku ke sembarang tempat dan mengetuk-ngetuk meja putih ini.

Saat dia menaruh nampan coklat itu, tercium sekumpulan asap ramyun yang menggugah selera makanku. MWO? Ramyun?

Aku mendelik padanya, sementara dia hanya menjawab tatapanku, “wae? Ini makan. Aku tahu kau belum lapar.”

“Yaaa~ kau itu belum sembuh sudah makan ramyun. Kalau lagi sakit tuh makan makanan yang lebih bergizi. Kalau begini gimana caranya kau mau sembuh, eo?”

Kutunggu kekehan darinya. Tetapi nihil. Yang ada dia malah mengambil sumpitnya dan menyuapi ramyunnya ke mulutnya. Tapi kalau kuperhatikan, kenapa hanya kuah ramyunku yang warnanya merah sekali? Tak seperti ramyun yang kubuat. Kuah ramyun milik Chanyeol juga warnanya biasa saja.

Aku hanya bisa menghela napas panjang. Baiklah, kuturuti kemauannya. Aku sudah janji akan menuruti keinginannya tadi. Tapi, aku merasa diperhatikan. Aish masa bodo lah.

Kuambil sumpitku lalu kusuapi sesumpit ramyun itu ke mulutku. Tapi, kenapa rasanya pedas? Maksudku, kenapa pedasnya berlebihan seperti ini?? OMMAA tolong akuuu!

Aku berusaha menyembunyikan ‘api’ yang melanda mulutku. Kuteguk air putih yang ada di samping mangkuk ramyunku. Aish kenapa pedas sekali?! Air minumku habis! Omo, kurasa aku akan mati sekarang.

Kukerjapkan kedua mataku, lalu mengusap keringat yang sudah mengalir di dahiku. Kukibaskan kedua telapak tanganku untuk memberi angin pada wajahku yang sudah memerah akibat kepedasan.

Masih dengan mengibas kedua tanganku, aku berkata “omonaaaa kenapa ramyunnya pedas seka—”

CUP!

Aku terdiam, membeku, wajahku yang memerah akibat kepedasan mungkin bertambah merah. Aku mendelik pada Chanyeol yang hanya tertawa-tawa melihatku membatu.

“Jadi kau mengerjaiku, eo? Kau masukkan berapa cabai di ramyunku ini, eo?” gerutuku kesal, dia masih tertawa terbahak-bahak dan berhenti sejenak “ini hukuman untukmu. Salah sendiri kenapa kau membuatku cemburu.” Mwo? jadi…

Kusuap paksa ramyun milikku ke mulutnya. Alhasil, wajah Chanyeol memerah sepertiku. Aku berusaha membalas dendam karena ia mentertawaiku karena kepedasan tadi.

“AIGOO PEDAS!!! YAA BYUN EUNJI!!”

“rasakan kau! Siapa suruh kau memasukkan banyak cabai ke ramyun ini?” sergahku dengan nada menyombongkan diri.

Kulihat ia meneguk semua air yang ada di gelasnya itu. setelah itu, ia masih kepedasan. Keringat mulai mengucur di pelipisnya.

Tiba-tiba ia mendadak tenang, dan mendekatiku dengan wajah yang memerah—aku tak menyangka kalau Chanyeol kepedasan wajahnya seperti ini.

“Eunji-ah, aku kepedasan.” Ujar Chanyeol memelas padaku. Aku menjeda sejenak tawaku untuk menjawabnya.

“Apa urusanku?”

“Kau harus menciumku juga, seperti apa yang kulakukan tadi padamu.”

Akun mengerjapkan mataku tak percaya. “Mwo? Memangnya aku yang memintanya?”

Chanyeol menggaruk tengkuknya yang kuyakini tak gatal itu. Lalu dia menggembungkan pipinya, dan menatapku. Aku hanya bisa menghela napas.

“Jebaaaal.” Aish, namja ini tampang imutnya berlebihan._.

“Shireo. Mana mungkin aku menciummu.” Jawabku. Tapi, aku kembali teringat dengan janjiku di ruang rawat Chanyeol tadi.

Chanyeol memejamkan matanya kesal. “Ckck kau tega seka—”

CUP!

kucium bibir ranumnya lama, wajah kami tidak bergerak, hanya saja bibirku bertambah panas—mungkin pedas—karena mengingat Chanyeol memakan ramyunku juga.

Kulepas bibirku dari bibirnya. Dia membeku, persis sepertiku saat diciumnya tadi.

“Mwoya? Aku sudah menciummu. Kenapa reaksimu hanya seperti itu?” Tanyaku polos.

“Ah, itu. Aku mau lagi. Boleh ya? mulutku masih kepedasan. Ya?” Chanyeol memasang muka polosnya dan aegyo yang membuatku bergidik ngeri.

Kuambil kembali sumpitku, lalu kujitak kepala Chanyeol dengan sumpit itu.

“YAAAK!”

Seruannya itu membuatku berdeham dan mencubit punggung tangannya yang terletak di atas meja ini.

“EUNJIII!! APPO!!”

“SSHHHH! Ini tempat umum! Jangan membuatku malu.”

“aish, baiklah.” Aku tertawa geli melihat Chanyeol yang menurut seperti sekarang.

“ngomong-ngomong, maafkan aku ya tentang—”

“Aku sudah mendengarnya.” Potong Chanyeol. Apa? Sudah mendengarnya?

“eh? Maksudmu?”

Chanyeol berdeham sebentar. “sebenarnya tadi itu aku sadar.”

Aku masih tidak mengerti. “tentu saja kau sadar karena kau yang memasuki sambal sebanyak itu ke mangkuk—”

“BUKAAN” seruannya membuatku berhenti bicara.

Aku menggaruk kepalaku, aku diam dan menajamkan pendengaranku.

“di kamar rawatku tadi. Kau meminta maaf padaku, menggenggam tanganku, mengelus wajahku—”

Omo.. jangan-jangan…

“..dan kau mencium bibirku. Sebenarnya aku sadar. Aku tak tidur.” jelasnya disusul kekehannya. Aku kemudian menepuk dahiku kesal.

“Kenapa? Kau sudah berani menciumku diam diam ternyata.” Kudelik tatapanku padanya. Wajahnya itu ingin sekali aku bekap agar tampang setannya tidak terlihat._.

“aish, lupakan!!”

Kudengar Chanyeol mendecis. “Cih, katanya ingin menjadi yeoja yang baik untukku. Lalu pakai memanggilku Happy Virusmu segala. Kau baru sadar, eo?.”

Aku terdiam. Yang dikatakan Chanyeol benar. “baiklah, kapan-kapan saja. Aku masih kepedasan nih. Hei. Sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Kau belum sembuh.” Kutarik lengannya cepat.

“Yaa~ tunggu. Ramyun ini bagaimana?” tanyanya mendongak karena aku berdiri di depannya yang masih duduk.

“tinggalkan saja ramyun sialan itu. ayo pergi. Cepaaat.”

Dengan mudahnya kutarik Chanyeol yang juga ikut berlari di belakangku. Haish rasa pedas ramyun itu masih terasa di mulutku. Siang-siang yang cuacanya dibawah 2 derajat ini saja aku sudah berkeringat. Apalagi kalau aku memakan ramyun super pedas itu di musim panas? Pasti bajuku sudah basah karena keringat.

Ets, kurasakan ada yang bergetar di saku blazer seragamku. Kurogoh saku itu dan mendapati appa meneleponku. “yeoboseyo..”

“Eunji-ah, Chanyeol kecelakaankah? Eomma dan appa akan menjenguknya ke Rumah Sakit Seoul siang ini.”

“ah? iya appa. Kami tunggu di sini.”

Telepon kuputuskan. Kuraih kembali tangan kiri Chanyeol dan menariknya ke kamar rawatnya.

****

Author POV

“kamsahamnida, suster.” Yeoja berambut hitam bergelombang itu meluruskan kembali lengan kiri kemeja putihnya yang terlipat-lipat. Ia bangun dari ranjang pasien—ia sudah terbaring lebih dari satu jam untuk transfusi darah—dengan perlahan.

Im Chaerin—yeoja itu—mengambil kembali mantel coklatnyanya dengan tangan kanannya. Lalu melangkah menuju keluar pintu ruangan khusus transfusi darah yang terletak di lantai 5 itu. tanpa kacamata mewahnya yang biasanya ia pakai, memperlihatkan wajah aslinya. Wajah cantik yang pucat, tulang pipinya terlihat sangat jelas karena ia terlalu kurus.

Ia melangkahkan kakinya ke arah lift, dan memencet tombol UG, yaitu lantai basement rumah sakit ini.

****

“Jinwoon-ah, ayo cepaat jalannyaa. Kau ini lamban sekali.” Jihyun khawatir dengan keadaan Chanyeol sekarang. Ia mendesak Jinwoon-suaminya yang merupakan appa dari Eunji—mendesah kesal sambil berjalan menuju pintu masuk Rumah Sakit Seoul.

Bruk

Tahu-tahu seseorang berbadan tegap, dengan tuxedo hitamnya, tak sengaja menabrak Jihyun dari belakang. Sehingga keranjang buah yang dipegang Jihyun terjatuh.

“ah, mianhada. Mianhada.” Ucap pria yang kiranya seumuran dengan mereka.

“eh, kurasa aku pernah melihat orang ini. tapi di mana ya?” batin Jihyun. Lengan Jihyun ditarik Jinwoon yang sudah mengambil keranjang buah itu dari lantai depan pintu masuk rumah sakit.

“Jinwoon-ah, saat kau telepon Eunji, ia bersama Chanyeol? anak itu membuatku khawatir saja. Sebaiknya pulang dulu untuk menjenguk Chanyeol ke sini.” Gerutu Jihyun. Jinwoon hanya terkikik geli melihat istrinya ini.

“kalian, kenal Eunji dan Chanyeol? ingin menjenguk Chanyeol kah?”

Suara itu membuat Jinwoon dan Jihyun menoleh ke belakang. Mereka mengangguk bersamaan. “Eunji ialah anak kami, sementara Chanyeol itu temannya.” Ucap Jinwoon. Jihyun langsung mendelik dan menyikut Jinwoon. Dan meralat perkataan Jinwoon. “maksud suami saya Chanyeol itu namjachingu anak kami.” Ujarnya sambil tersenyum kaku.

Pria bertuxedo hitam itu tersenyum, “saya Park Seungyeol, ayah dari Park Chanyeol.” pria itu menunduk singkat pada sepasang suami istri itu.

“Park, Seungyeol… rasanya aku pernah mendengarnya.” Batin Jihyun lagi.

“ah, baiklah, kita jenguk Chanyeol sekarang?” tawar Seungyeol dengan senyuman yang mirip dengan Chanyeol.

Jihyun dan Jinwoon mengangguk dan menuju lift.

tingtong

Lift terbuka, mereka bertiga melihat sosok wanita berkulit pucat dan kurus yang ada di dalam lift itu seorang diri. Kemudian mereka masuk ke lift tersebut yang menuju lantai basement.

Menuju lantai basement, Jihyun melihat pantulan bayangan yeoja dari pintu lift yang sudah tertutup. Ia sangat mengenal wajah pucat itu.

Seperti sudah menangkap kecurigaan dari Jihyun, buru-buru yeoja itu tmelangkahkan kaki untuk keluar dari lift. Tapi Jihyun dengan sigap menahan tangan yeoja itu.

“Im Chaerin?” tanya Jihyun.

“bu..bukan.” sergah yeoja itu sambil menundukkan kepalanya dengan rambutnya.

“kau Chaerin!” seru Jinwoon. Seungyeol yang semula tidak mengetahui kenapa sepasang suami istri ini menyerukan nama seseorang yang sangat ia cintai hingga kini. Ia melihat lebih dekat, dan mengangkat pelan wajah Chaerin.

“Chaerin-ah! Bogoshippeo!”

****

Chanyeol POV

“akhirnya sampai juga di kamarmu yang ada di lantai 6 ini. Aku saja sampai keringatan padahal sekarang musim dingin.” Eunji menggerutu sambil menutup pintu kamar rawatku. Aku masih melangkahkan kaki ke ranjangku.

“kau berlebihan, aku saja yang sedang sakit biasa-biasa saja.”

“ITU karena KAU tidak memakan ramyun sialan itu!” tekannya. Aku hanya terkekeh.

Kudengar Eunji mendecis, “ya~ katanya kau ingin menjadi yeoja yang baik untukku, bantu aku untuk menaiki ranjang ini. selang infus di tanganku ini mengganggu saja” titahku. Eunji hanya meniup poninya dengan kesal. Aku terkikik geli setiap melihatnya seperti itu.

Tangan kananku digenggam Eunji, rasanya, rasa hangat mengalir di tubuhku yang dari tadi menggigil kedinginan.

“tanganmu dingin sekali, yeol-ah.” dia menyentuh wajahku dan leherku dengan punggung tangannya. Jantungku kembali berdebar dengan cepat. Setelah aku terduduk di ranjangku, ia seperti mendelik padaku.

Wajahnya kini dekat dengan wajahku, perlahan wajahku memundur, memberi jarak pada wajahku dengannya. Dia ini kenapa sih? “kau kenapa melihatku seperti itu?” matanya menatapku. Lalu dia seperti memerhatikan sesuatu sehingga menunduk.

“oh mian, aku tidak tahu kalau posisi kita ini—”

Dengan segera aku menahan pinggangnya. Dia terkejut. Aku menarik satu ujung bibirku. “yeol-aah. Kumohoon.” Pintanya, aku semakin memperlebar senyumanku.

“kalau gitu, kumohon sekali lagi. Ya? tadi di kafetaria kau belum memenuhinya.”

Dia menghela napas, dalam hati aku tertawa geli melihatnya seperti ini. “baiklah, tutup matamu.”

Dengan masih tersenyum, aku merapatkan kedua mataku cepat-cepat. Kini dapat kurasakan hembusan napasnya yang kian mendekat pada wajahku.

Klek

“Chanyeol-ah?!”

“Eunji-ah???!”

Siapa itu? kami berdua langsung menoleh ke arah sumber suara.

Apa? Apa aku tidak salah lihat???

EOMMA?

TBC

Mian reader-deul sumpah demi apapun kelas 9 sibuk demi dek. pulang sekolah-> PM-> Les. gaada waktuu buat istirahat malahan. aku bikin part ini dengan sukacitaku untuk kalian. kasih RCLnya ya kumohon 🙂 gomawo reader-deul saranghae!

Advertisements

91 responses to “Love Button [Part 7]

  1. Pingback: Love Button [Part 9] | FFindo·

  2. uwooo! semacam reunian wkt chaerin, jinwoon, sama jihyun ketemu di rumah sakit. berarti bener, dong, ya. chaerin itu ibunya chanyeol? oooo O_O

    konfliknya makin memanas *kibas2* hohoho. dan itu… eomma-nya eunji lihat posisinya chanyeol sama eunji? uwooo! hati2 eunjiii (?) ><

    lanjut~! xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s