Eternity [Part 9]

Title : Eternity

Author : ditjao 

Cast :

  • Kim Taerin [OC]
  • Oh Sehun [EXO-K]
  • Xi Luhan [EXO-M]
  • Kim Hyeri [OC]
  • Kai / Kim Jongin [EXO-K]
  • Do Kyungsoo [EXO-K] <— tumben muncul
  • dan beberapa penampakan nama artis lainnya~

Rating : Teen

Genre : Romance, Angst, Family meskipun tidak yakin

Length : Series

Disclaimer : I own the plot and OCs only. Story idea comes from my best friend’s mind, Dinar. EXO belong to their agency and God, ofc :3

Note : Maaf ya kalo kelamaan, maaf juga kalau bahasanya makin kacau balau dan terkesan berantakan ;_; Bikinnya nyuri-nyuri waktu di sela-sela kuliah dan ospek jurusan ;_; (alesan). Sejauh ini Luhan masih belum terlalu eksis, so yang menantikan Luhan rada bersabar dulu aja ya u,u Oh ya, jangan lupa juga persiapkan secangkir kopi agar tidak mengantuk saat membacanya. Last, hepi riding ya kawan-kawan’-‘)/

Prev : Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 | Part 7 | Part 8

Eternity

Tes..

Bulir hujan kesekian turun berpijak pada bumi beriringan dengan buliran bening yang ikut mengalir melewati pipi Taerin. Gadis itu rupanya tengah menangis sendirian di halte tempat ia bernaung saat ini. Ralat, mungkin Taerin tak sepenuhnya seorang diri yang mengalami kesedihan karena nyatanya langit pun seolah turut merasakan apa yang tengah ia rasakan sekarang. Setidaknya, gadis itu merasa masih ada yang mau berpihak padanya juga mengerti betul akan cuaca hatinya saat ini. 

Taerin menggigit-gigit bibir bagian bawahnya, berupaya sebisa mungkin untuk menahan tangis. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, derai air mata yang turun melewati pipinya kini malah bertambah semakin deras. Taerin sebenarnya benci untuk mengakui hal ini namun batin gadis itu tak dapat memungkiri jika perasaannya kini telah terlampau sakit akibat perbuatan dari seorang namja bernama Kim Jongin.

Sungguh, apa yang dilihatnya tadi sore sepertinya telah membuka pintu hati gadis itu untuk menerima kenyataan bahwa pria yang disukainya ternyata lebih memilih untuk berkencan dengan gadis lain dibandingkan dirinya. Seandainya ia diberi kemampuan untuk memutar waktu, mungkin gadis itu akan membuang perasaannya pada Jongin sejak jauh-jauh hari sebelum akhirnya malah menjadi bertumpuk seperti yang ia rasakan sekarang. Apa mau dikata, semuanya sudah terlambat. Pada akhirnya gadis itu malah terlanjur mengecap bagaimana pahitnya yang dinamakan patah hati dan dibohongi sekaligus.

Cukup sudah, terlalu banyak berharap hanya akan membuat batinnya terasa nyeri. Gadis itu lelah. Ia sudah memutuskan untuk mengahapuskan perasaannya pada namja bernama Kim Jongin tersebut.

Tapi…bisakah?

“Bodoh..”

Taerin sedikit tersentak. Rupanya sesosok namja telah hadir di samping tempat duduknya tanpa diduga. Refleks, ia pun mendongak menatap sosok dengan pakaian yang sudah hampir basah kuyup di sana-sini tersebut. Kedua mata sipit gadis itu sontak langsung membulat manakala mendapati sosok tak diundang itu. Wajah yang begitu familiar..

Kenapa harus dia lagi?

“Saat berpisah tadi kau bilang ingin pulang tapi malah berdiam diri di sini, eh? Kau membuat semua orang cemas mengkhawatirkan kondisimu, kau tahu itu? Cepat pulang.”

Terdengar ketus dan bahkan sama sekali tak bisa dibilang bersahabat. Taerin hanya mampu tertegun usai mendengar rentetan kalimat yang diucapkan dengan nada yang begitu dingin tersebut. Dirinya masih terlarut oleh rasa terkejut yang teramat sangat.

“Kim Taerin? Kim Taerin, kau dengar aku, kan?”

Hening. Bahkan Taerin masih enggan menjawab.

“YA! Kim Taerin! Kubilang agar kau—“

“Kenapa?”

Seruan namja itu langsung terpotong dengan pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan oleh Taerin. Dahi namja itu kontan langsung mengerut, pertanda tak paham dengan maksud pertanyaan Taerin barusan.

“Kenapa? Kenapa apanya?”

Taerin menghela nafas. Lagi, untuk yang kesekian kalinya kedua matanya kembali terasa memanas. Bersiap menghantarkan air mata yang belum bosan membanjiri pipinya.

“Kenapa kau lagi..? Kenapa kau lagi yang harus memergokiku menangis.., Sehun-ah..?” tanya Taerin dengan suara bergetar.

Tes tes tes..

Hujan yang mengguyur jalanan kawasan Samsung-dong semakin bertambah deras. Pemandangan yang begitu selaras dengan apa yang terjadi pada Taerin kini. Gadis itu pun kembali menangis meski tanpa suara.

“Bodoh..”

Masih dengan nada suara yang begitu dingin, Sehun berujar dengan tatapan matanya yang terus mengarah menghadap Taerin. Wajah pucatnya yang tanpa ekspresi benar-benar menyiratkan bahwa saat ini namja itu benar-benar dalam suasana hati yang kurang baik. Hanya melihat gadis yang ada di hadapannya kini berderai air mata entah mengapa begitu menjerat batinnya dengan perasaan tak nyaman. Ia benci ketika harus melihat gadis yang disukainya ini menangis.

“…kau tak dengar perkataanku barusan? Kubilang cepat pulang. Sekarang.”

“Shireo..,” Taerin menggeleng lemah. “Biarkan aku di sini untuk beberapa waktu. Aku mau sendiri. Kau pulang saja, Sehun-ah..”

“Kubilang sekarang, Kim Taerin!”

Tanpa diduga, namja itu menarik paksa lengan kiri Taerin dan langsung disambut dengan pemberontakan oleh gadis yang bersangkutan.

“Sehun, lepaskan!” Taerin langsung meronta, berusaha melepaskan lengan kirinya yang kini tengah digenggam erat oleh Sehun.

“Tidak, kita pulang!” Sehun makin menguatkan genggamannya pada Taerin, berusaha membuat gadis itu agar mau beranjak dari posisi duduknya.

“Tidak mau, kubilang lepas!” Taerin masih belum berhenti meronta.

Sehun tak menggubris. Cengkramannya pada Taerin malah semakin bertambah kuat.

“Sehun, lepas!!” Taerin meringis. Lengannya mulai merasakan sakit saat tangan dingin Sehun terus mencengkeramnya dengan erat.

Perlahan namja itu mulai melunak. Ia kemudian melepaskan cengkramannya dari lengan Taerin meski tatapan tajam matanya belum berhenti terarah pada gadis berambut panjang itu.

“Baboya..,” ujarnya lirih namun dapat tertangkap jelas di telinga Taerin.

Gadis itu hanya megulas senyuman tipis pada wajahnya yang masih terlihat sembab usai mendengarnya.

“Kau benar, Sehun-ah.. Aku.. aku memang bodoh..,” sahutnya dengan suara parau. Gadis itu menyahut dengan kepalanya yang setengah tertunduk. Kedua matanya mulai kembali terasa memanas. Ia hanya tak ingin Sehun dapat melihat wajahnya yang dibanjiri oleh tangis untuk yang kesekian kalinya. Menggambarkan betapa lemahnya ia saat itu.

“Sudah tahu kalau ia menyukai orang lain tapi aku tetap bersikukuh dan tak berhenti menyerah. Aku.. aku…,” kalimat Taerin langsung terpotong karena tangan kanan gadis itu dengan sendirinya beranjak menutup mulutnya. Menahan rasa sedihnya yang tiba-tiba seakan ingin menyeruak keluar. Suara paraunya kala itu jelas menunjukkan bahwa Taerin benar-benar tak sanggup untuk menahan dirinya agar tak kembali menangis.

“..aku betul-betul seperti orang bodoh, ya?”

Taerin tersenyum lagi. Setidaknya upayanya tadi sedikit membuahkan hasil, air matanya tak jadi tumpah keluar meski raut wajahnya masih jelas terlihat sembab.

Sehun diam. Tampaknya ia mulai menangkap hal apa yang baru saja diutarakan oleh Taerin barusan.

“Kim Jongin?”

Tepat sasaran. Taerin yang mendegarnya hanya mampu membisu.

“Kau menyukainya, benar kan?”

Bak seorang polisi yang menginterogasi tahanannya, Sehun melemparkan pertanyaannya tersebut bertubi-tubi. Dan reaksi bungkam dari Taerin yang diterimanya atas pertanyaannya ini menghantarkan namja itu pada kesimpulan yang paling pahit.

Bahwa gadis yang ada di hadapannya ini ternyata memang benar menyukai orang lain.

“Kalau begitu aku juga bodoh..,” ujarnya tiba-tiba sembari mengambil posisi duduk di samping Taerin. Sementara Taerin hanya menoleh dan menatap namja yang sekarang berada di sampingnya ini dengan perasaan tak paham.

“…orang yang kusukai juga nyatanya malah menyukai orang lain. Menyakitkan.” lanjut Sehun lagi. Nada suaranya tak sedingin tadi saat mengajak Taerin pulang.

“Mwo?” Taerin mengernyitkan alisnya, heran. Rasa sedihnya sedikit berganti dengan rasa penasaran sekaligus takjub akibat sesi curhat dadakan dari Sehun. Teman sekelasnya yang dikenal dengan pribadinya yang sangat tertutup dan sekarang tengah mencurahkan perasaannnya perihal cinta yang bertepuk sebelah tangan?

Tunggu, jadi makhluk bernama Oh Sehun pun rupanya bisa merasakan yang dinamakan rasa suka? Ini bahkan lebih hebat ketimbang mendengar berita ada sapi jantan yang bisa melahirkan, pikir gadis itu.

“Ya, aku mengerti betul bagaimana rasanya.”

Sehun memberanikan diri membalas tatapan Taerin yang masih mengarah kepadanya. Begitu gugup. Rasanya seperti ada daya tersendiri yang mendorong Sehun untuk memandang dua manik kecoklatan itu terus-menerus. Hingga akhirnya, namja itu pun tak bisa lagi menahan diri. Seolah perasaannya yang selama ini tertahan begitu ingin menyeruak keluar kala keduanya saling berhadapan dan bertatapan intens seperti ini.

“Karena aku menyukaimu, Kim Taerin.”

Rentetan kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Sehun tanpa kendala yang berarti. Meskipun diucapkan dengan lancar dan nada suara yang begitu tenang, namja itu tak bisa memungkiri bahwa hatinya tengah diliputi oleh buncahan rasa gugup saat ini. Di sela-sela debaran jantungnya yang makin tak terkontrol, Sehun sedikit merutuk, mengapa ia bisa dengan bodohnya terbawa suasana mengungkapkan perasaannya pada Taerin di saat seperti ini? Ayolah, gadis ini bahkan baru saja mengalami patah hati beberapa saat yang lalu!

Lain halnya dengan Taerin yang hanya bisa mematung. Suara gemericik air hujan meyakinkan hatinya bahwa apa yang didengarnya dari mulut Sehun tadi tak akan lebih dari sekedar kesalahan teknis yang mungkin sedang terjadi pada indera pendengarannya. Lagipula yang tadi itu tak mungkin, kan? pikirnya.

Sehun tak mungkin bilang kalau ia menyukai dirinya..

“Kau tadi bilang sesuatu? Suara hujan membuat suaramu tidak terlalu jelas..,” kata Taerin gugup.

Bodoh! Bodoh! Bodoh! Sehun refleks mengumpat dalam batinnya.

Sudah bagus tadi ia mengucapkannya dengan lancar dan tanpa hambatan, tapi sekarang? Gadis ini malah memintanya untuk mengulangi pernyataan rasa sukanya?

Dipikirnya mengungkapkan rasa suka itu mudah apa?? Sehun mengomel dalam hati.

Sehun mengehela napas sejenak. Berusaha mengumpulkan keberanian untuk kembali mengucapkan hal yang baru saja ia katakan beberapa menit yang lalu.

“AkumenyukaimuKimTaerin!” tandas Sehun tanpa jeda sama sekali. Mungkin siapapun yang mendengar perkataannya ini mungkin akan tertawa geli karena kecepatannya dalam berujar barusan bahkan lebih cepat dari kereta yang sedang berjalan.

Taerin mengernyit heran. Bukannya menangkap maksud ucapan Sehun barusan, gadis itu langsung merengut. Ia merasa Sehun tengah mempermainkannya saat ini.

“Kau ini bicara apa, sih? Mana bisa aku mendengarnya kalau omonganmu saja terlalu cepat seperti itu!” gerutu Taerin kesal.

Ya Tuhan…

Sehun menghela napas lagi. Kenapa gadis yang ada di sampingnya ini terkadang seringkali membuatnya habis kesabaran, sih?

“Kau ini tuli atau apa? Perlukah aku mengejanya secara perlahan, Kim Taerin?”

Dalam gerak cepat, kedua tangan Sehun kini telah dengan sukses mendekap tubuh gadis itu. Begitu juga dengan posisi kepala Taerin yang kini telah berpindah menjadi bersarang di bahu milik Sehun. Tenggorokan Taerin rasanya langsung tercekat. Prilaku Sehun ini jelas benar-benar membuatnya terjebak dalam rasa gugup bukan main. Rasanya waktu berjalan cepat sekali ketika Sehun memeluknya secara tiba-tiba hingga ia bahkan sama sekali tak bisa bergerak maupun bersuara.

“Aku akan mengucapkannya sekali lagi, jadi tolong dengarkan baik-baik..,” lirih Sehun tepat di depan telinga kiri milik gadis itu.

Tak ubahnya dengan Taerin, namja ini pun sebenarnya ikut merasa gugup dengan tindakan spontan yang baru saja ia lakukan. Yakni memeluk gadis yang ia sukai. Beruntung ia tidak dibilang sebagai pria kurang ajar karena sepertinya Taerin pun masih terbawa rasa gugup hingga sama sekali tak bisa melakukan pergerakan sekecilpun.

“Aku. Menyukaimu. Kim Taerin.”

Sesuai janjinya, Sehun mengucapkan kalimat itu dengan jelas. Bahkan mengejanya agar Taerin dapat mendengarnya dengan baik. Entah apa yang tengah Sehun rasakan ini. Lega bercampur gugup. Ia sudah terlanjur mengatakannya dan tak begitu peduli dengan reaksi Taerin nanti. Namja itu perlahan memejamkan kedua matanya erat. Gadis yang ia sukai kini berada dalam pelukannya, Sehun berharap putaran waktu terhenti untuk malam ini, dan untuk seterusnya..

“Se..Sehun?” panggil Taerin terbata.

“Ya?”

“Err… badanmu…dingin..”

Taerin menelan ludahnya. Sesungguhnya bukan itu yang hendak ia utarakan. Apa daya, rasa gugup malah memerintahkan lidahnya untuk berucap hal yang sama sekali di luar perintah otaknya.

“Salahmu. Kalau tadi kau langsung pulang ke rumah dan bukan keluyuran seperti ini aku juga tidak akan hujan-hujanan,” jawab Sehun tak acuh sambil terus memeluk erat Taerin yang kini masih berada dalam dekapannya.

“Ta..tapi..”

“Sebentar lagi.. biarkan seperti ini dulu, ne? Rasanya hangat.”

Taerin kembali terdiam untuk yang kesekian kalinya. Walaupun masih diselimuti rasa gugup, menurutnya ucapan Sehun barusan memang benar adanya. Entah dari mana asalnya, ia merasakan seperti ada kehangatan yang menjalar di tubuhnya ketika Sehun mendekap erat dirinya. Aneh, tapi rasanya nyaman.

**~*****~**

Luhan terpaku. Ia menyaksikan semuanya lewat pemandangan yang tersaji lewat kaca mobilnya. Begitu jelas, ia melihat Sehun memeluk Taerin di halte. Tatapan matanya kosong, seperti ada sebersit perasaan tak nyaman yang menelusup masuk menyelimuti benaknya saat itu.

Aneh, kenapa ia seperti dikelilingi oleh perasaan tak rela ketika melihat Taerin bersama namja lain? Apalagi namja yang sedang bersamanya kini adalah sepupunya sendiri, Sehun.

Luhan cepat-cepat membuyarkan lamunannya lantas kembali menyalakan mesin mobilnya lalu melaju meninggalkan jalanan Samsung-dong yang masih dalam keadaan ramai tersebut. Senyuman pahit mulai tersungging dari bibir namja itu. Siapapun orang yang dilihatnya bersama Taerin barusan, nyatanya Luhan merasa telah kalah darinya.

Ya, ia kalah cepat..

**~*****~**

Sehun terdiam memandangi wajah gadis yang saat ini tengah terlelap di sampingnya. Wajah pucatnya menyiratkan rasa lelah, membuat Sehun yang melihatnya sedikit menaruh rasa iba. Kalau saja tadi dirinya bersikukuh untuk mengantarkan Taerin pulang ke rumahnya, mungkin gadis itu juga tak akan menangis sendirian di halte seperti tadi. Bagaimanapun, Sehun bersyukur atas insiden tertukarnya ponsel mereka hari ini. Karena berkatnya, namja itu jadi mempunyai alasan untuk mencari Taerin dan mengantarkannya pulang malam ini.

Posisi kepala Taerin kini tengah bersandar pada pundak kiri Sehun. Sementara namja yang bersangkutan masih belum berhenti terlihat gugup. Pasalnya, sudah hampir beberapa menit Taerin terlelap dengan posisi seperti ini. Baginya dirinya, jarak mereka berdua sudah terlampau dekat. Apalagi ketika mengingat perbuatannya pada Taerin di halte tadi, mungkin saat ini wajah Sehun sukses berubah warna menjadi layaknya kepiting rebus. Meski ia lelaki, tak berarti ia juga tak ikut merasa berdebar, kan?

Wajah lelap Taerin kembali menyita perhatian Sehun. Wajah pucat gadis itu terlihat damai kala tengah tertidur. Sehun pun mengambil inisiatif mengamati wajah Taerin dengan seksama. Mulai dari kedua kelopak matanya yang masih tertutup, kedua pipinya, hidungnya, lalu beranjak menuju anggota wajah yang paling bawah. Bibir Taerin.

Sehun tersenyum geli. Kalau ia tak ingat keduanya sedang dalam perjalanan menaiki taksi, hampir saja namja itu terbawa suasana seperti beberapa waktu yang lalu terjadi di halte. Bahkan mungkin saja menjadi…errr…lebih?

Ingatan Sehun kemudian melayang pada kejadian lalu tersebut. Ia masih ingat wajah Taerin yang bersemu merah usai mendengar penyataan darinya. Gadis itu berujar dengan kepalanya yang tertunduk malu.

“Beri aku waktu berpikir untuk menjawabnya.”

Sehun tersenyum lagi usai mengingatnya. Rasanya seperti telah muncul celah bagi dirinya untuk dapat merebut hati Taerin. Yang sekarang perlu ia lakukan hanya tinggal menunggu waktu dan berusaha agar gadis itu mau sepenuhnya membuka hati untuknya.

Tak berapa lama, taksi yang mereka tumpangi pun berhenti melaju. Sehun lantas berinisiatif membangunkan Taerin untuk memberitahukan bahwa keduanya telah sampai ke tujuan.

“Taerin? Taerin-ah, irheonayo..,” ujar Sehun sembari mengguncangkan bahu Taerin perlahan.

Gadis itu terjaga lantas segera membuka matanya lebar-lebar. Tubuhnya sedikit menggeliat, bermaksud mengusir rasa kantuk.

“Errr… sudah sampai, ya?” tanyanya dengan mata yang masih dalam kondisi setengah terbuka. Efek menangis cukup lama membuat kedua mata gadis itu sedikit terlihat membengkak.

“Iya, kita sudah sampai. Ayo turun.”

Sehun mengantarkan Taerin hingga ke depan pintu gerbang rumahnya sementara mobil taksi yang mengantarkan mereka menunggu tak jauh dari sana.

“Gomawo untuk hari ini, Sehun-ah,” kata Taerin disertai dengan bungkukkan badan.

Sehun yang memandangnya langsung terkikik geli. “Seingatku kau sudah mengatakannya berkali-kali hari ini.”

“Eh?”

“Ingat saat tadi kita berpisah di COEX?” tanya Sehun mencoba mengingatkan gadis itu.

“Aigoo.. tentu saja yang ini berbeda!” tukas Taerin sembari mengerucutkan bibirnya.

“Hmm? Berbeda?” sebelah alis Sehun refleks langsung terangkat.

“Gomawo yang aku maksudkan untuk yang tadi. Gomawo karena telah mau susah payah berhujan-hujan ria hanya untuk menyusulku, Sehun-ah.” Taerin menyengir yang langsung ikut disambut oleh senyuman dari Sehun.

“Lain kali jangan diulang lagi, eo?” Sehun mengacak rambut Taerin pelan.

Sementara Taerin hanya mampu tertegun usai menerima perlakuan Sehun barusan. Gadis itu hanya belum terbiasa dengan sikap hangat Sehun kepadanya beberapa waktu belakangan ini. Terasa sedikit ganjil, namun ia akui rasanya menyenangkan. Kalau boleh jujur, ia juga lebih suka Sehun versi sekarang ketimbang versi ‘dingin’-nya yang dulu.

“Errr.. baiklah, kalau begitu aku masuk duluan ke dalam ya, hehe..,” ujar Taerin kikuk.

“Chakanman, kau melupakan sesuatu,” kata Sehun sembari merogoh saku jaketnya.

“Mwo?” tanya Taerin yang heran.

“Igeo,” Sehun menyerahkan benda yang dimaksud. Sebuah ponsel yang kini tengah diulurkan ke arah Taerin.

“Eh? Kenapa ponselku bisa ada padamu?” Taerin menerima ponselnya itu dengan ekspresi bingung.

“Sepertinya ponsel kita tertukar saat tadi makan siang.” jelas Sehun.

“Aish.., jangan bilang kalau ponselmu juga—,” Taerin tak langsung melanjutkan kalimatnya dan langsung bergegas merogoh tas bawaannya.

Bingo. Seperti yang ia duga, ponsel Sehun berada di dalam sana.

Taerin meringis, sedikit menyesali perbuatan cerobohnya. Sepertinya tadi siang karena tak terlalu memerhatikan malah ponsel Sehun-lah yang ia masukkan ke dalam tas.

“Mianhae..,” gadis itu lantas berganti menyerahkan ponsel Sehun kepada pemiliknya dengan ekspresi menyesal.

“Tak apa. Setidaknya berkat hal ini aku jadi tahu kalau tadi kau belum pulang ke rumah.” Sehun tersenyum lagi. Sementara Taerin hanya balas menyunggingkan senyum kaku.

“Kalau begitu, aku masuk dulu..,” pamit Taerin untuk yang kedua kalinya.

“Tu..tunggu sebentar!” ucap Sehun tiba-tiba. Tangannya dengan sigap menahan lengan kanan Taerin agar tetap tinggal.

“A..ada apa?” tanya Taerin gugup. Mendadak pikirannya melayang pada kejadian ketika di halte tadi. Terkadang Sehun selalu melakukan hal yang tak terduga, pikiran gadis itu mulai membayangkan hal yang macam-macam.

“Uhm.. ini tentang yang tadi.. itu..antara aku dan kau..errr..maksudku..,” Sehun menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal. Namja itu terlihat kebingungan setengah mati.

“Aku..maksudku..”

Mendadak lidahnya terasa kelu untuk berucap. Kenapa kondisinya sekarang malah terkesan berbalik dari yang tadi, ya? Ketika di halte, namja itu terkesan lugas dan tenang dalam menyampaikan perasaannya. Tapi mengapa sekarang rasa gugupnya malah dirasa semakin bertambah? Apa jangan-jangan ini karena Taerin yang sedang balas menatap ke arahnya? Bisa jadi. Mengingat ketika menyampaikan perasaannya pada Taerin tadi Sehun melakukannya sambil memeluk gadis itu dan tak mengharuskannya untuk melakukan kontak mata dengan gadis yang bersangkutan.

“Errr… Sehun-ah?” panggil Taerin lagi. Kedua mata gadis itu masih tertumbuk pada satu titik di mana tangan Sehun masih menggenggam erat lengannya. Salah satu bentuk isyarat agar Sehun mau melepaskannya.

“Oh.. mian..,” ucap Sehun tak enak. Namja itu lantas buru-buru menjauhkan tangannya dari lengan Taerin.

Taerin kembali tersenyum kaku usai melihat tingkah gugup dari Sehun. Sejujurnya, ia juga merasakan hal yang tak jauh berbeda dengan apa yang tengah namja itu rasakan sekarang.

“Ada apa?” Taerin kembali mengulang pertanyannya.

“Errr.. aku..,” Sehun menggigit-gigit bibir bagian bawahnya, terlihat ragu untuk melanjutkan. “..aku akan menunggu jawaban darimu.”

Wajah Taerin langsung memerah. Gadis itu langsung teringat tentang ucapannya ketika di halte beberapa waktu yang lalu.

“Uhm.., aku tak bermaksud untuk menagih jawabannya sekarang, kok. Kau tenang saja. Tinggal hubungi aku kalau kau sudah punya jawaban, ne? Tolong jangan merasa terbebani. Ah ya, sudah malam. Lebih baik kau segera masuk ke dalam. Kurasa seluruh penghuni rumah juga sudah mencemaskan kondisimu seharian ini. Aku pulang duluan, ya. Bye!” Sehun pamit seraya melemparkan senyumannya sebagai salam perpisahan meski dengan ekspresi canggung. Ia lantas berbalik meninggalkan pintu gerbang rumah Taerin menuju mobil taksi yang terparkir tak jauh dari mereka.

“Ah ne, annyeong, Sehun-ah!” Taerin balas melambaikan tangannya menyambut kepergian Sehun meski masih dengan ekspresi gugup.

Gadis itu terus memerhatikan sosok Sehun yang mulai menjauh dan bersiap masuk kembali ke dalam taksi. Rasanya semua yang telah dialaminya hari ini bersama namja itu mendadak kembali terputar di dalam memori otaknya bak kilasan film pendek. Dan hampir dalam setiap ‘scene’ yang tengah diingatnya saat ini selalu melibatkan sosok Sehun yang hampir mendominasi di setiap ‘scene’-nya. Terlalu banyak kebaikan Sehun yang sudah diterimanya hari ini. Seketika gadis itu menyesal karena sempat merasa kecewa karena tadi siang Sehun-lah yang harus menggantikan Jongin untuk menemaninya menonton hari ini. Harusnya ia bersyukur, Sehun adalah namja yang baik. Bahkan mungkin beratus kali lipat lebih baik dari Jongin.

Pelan-pelan, rasanya pandangan Taerin kepada namja itu pun mulai berubah sedikit demi sedikit.

Taerin tersenyum ketika dilihatnya Sehun ikut membalas lambaian tangannya ketika akan memasuki taksi. Gadis itu pun bersiap memasuki pintu gerbang pagar rumahnya kalau saja tanpa sengaja matanya tak menangkap adanya suatu benda mungil yang menarik perhatiannya. Benda berkilauan itu tergeletak begitu saja di tanah, tak jauh dari tempat Sehun berpijak barusan.

Terbawa oleh rasa penasaran, gadis itu pun langsung membungkuk untuk mengambil benda yang bersangkutan. Beruntung cahaya lampu jalan yang ada di sekitar rumahnya cukup terang bagi gadis itu untuk bisa melihat benda berukuran mungil tersebut.

“Aigoo.. apa jangan-jangan ini punya Sehun?” Taerin menggumam dengan dahinya yang berkerut. Terlihat heran.

Tanpa memerhatikan benda itu lebih jauh, Taerin langsung mempercepat langkahnya menyusul taksi yang Sehun tumpangi. Beruntung saat itu taksinya belum sempat melaju.

“Sehun-ah! Sehun-ah!” panggil Taerin sembari berseru cukup keras.

Tak berapa lama, Sehun pun kembali keluar dari dalam mobil taksinya.

“Ada apa?” tanyanya sambil melangkah menghampiri Taerin.

“Ini.., aku menemukan perhiasan ini terjatuh di—“

Taerin tak langsung melanjutkan kalimatnya. Tubuhnya tiba-tiba mematung. Benda yang masih berada dalam genggamannya kini mendadak mengingatkannya pada suatu hal yang sama sekali tak pernah bisa dilupakannya. Sesuatu yang sangat berharga..

“Kubilang aku tak punya keluarga. Kedua orang tuaku telah meninggalkanku sendirian…, di sini.”

“Memangnya orang tuamu itu pergi ke mana? Ke luar kota? Luar negri?”

 “Ani. Ini punya mereka berdua yang tak sempat mereka bawa..”

 “Untukmu saja.”

 “Ne, biar yang satu ini menjadi milikmu dan yang satunya lagi aku simpan. Yang sedang kau pegang itu adalah kalung punya Eomma, sedangkan yang berada di tanganku ini adalah kalung kepunyaan Appa.”

 “Ya, Eomma dan Appa-ku juga sekarang sedang berada di surga.”

“Taerin-ah, annyeong…”

CIIIT BRAAAK!!!

Semua kilasan memori di otaknya seolah kembali berputar mengenang kejadian yang pernah terjadi di masa dahulu. Liontin itu, serta satu sosok yang masih terekam jelas dalam ingatan masa kecilnya, sosok yang begitu familiar..

“O..oppa..,” Taerin menggumam lirih sementara ekspresi wajahnya terlihat shock. Tangannya sedikit gemetar ketika hendak menyerahkan liontin yang tadi ditemukannya kepada Sehun.

“Astaga! Bagaimana bisa aku menjatuhkannya??” Sehun menepuk dahinya gemas sebelum akhirnya liontin itu berpindah ke dalam genggamannya.

“Gomawo, Taerin-ah. Aku tak tahu apa jadinya kalau benda ini sampai hilang. Sebab benda ini adalah salah satu benda yang paling mempunyai banyak kenangan bagiku,” jelas Sehun sembari terkekeh.

DEG!

Apa yang didengarnya tadi? Benda yang memiliki banyak kenangan? Jangan bilang kalau Sehun yang…

“Taerin? Gwenchana?” tanya Sehun seraya memegang bahu gadis itu. Sentuhan tangan Sehun berhasil menghadirkan alam sadar Taerin kembali ke dunia nyata.

“Oh.. eh..,” Taerin masih terlihat gelagapan.

“Kau sakit? Kenapa wajahmu terlihat pucat?” tanya Sehun khawatir mendapati gelagat Taerin yang sedikit berbeda dari biasanya.

“A..aku.. aku tidak apa-apa,” jawab Taerin tersendat. Gadis itu belum mampu mengontrol rasa terkejut yang masih menguasai dirinya saat ini.

“Geureom, aku—“

“Aku masuk ke dalam ya, annyeong. Sampai jumpa hari Senin nanti.”

Belum sempat Sehun menuntaskan kalimatnya, Taerin buru-buru berbalik meninggalkan namja itu dan segera masuk ke dalam rumahnya. Wajahnya masih terlihat cukup shock. Usai menutup pintu masuk, tubuh Taerin langsung merosot ke lantai dengan posisi terduduk dan bersandar pada pintu. Entah mengapa tubuhnya mendadak terasa lemas kali ini.

Lagi, hanya dengan mengingat liontin mungil milik Sehun barusan seolah memaksanya untuk membangkitkan memori masa lalu yang selalu ingin ia kubur tanpa bekas. Sosok itu, antara rindu dan benci Taerin bahkan sudah bertekad untuk melupakan namja itu selamanya. Tapi kenapa kali ini terasa begitu sulit? Sosok itu seakan hadir kembali memenuhi benaknya saat ini.

“Taerin-ah, annyeong…”

Tidak, tidak mungkin. Taerin menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha menyingkirkan praduga yang terus-menerus singgah dalam pikirannya sekarang.

Tidak mungkin oppa 12 tahun silamnya itu adalah Sehun, kan?

**~*****~**

Sehun tersenyum tipis mengingat berbagai kejadian yang telah dilaluinya bersama Taerin hari ini. Sedari tadi raut wajahnya tak henti-hentinya terlihat berseri usai mengantarkan gadis itu pulang ke rumahnya. Tatapan matanya menerawang memandangi pemandangan yang tengah tersaji lewat kaca mobil yang ada di sampingnya saat ini, meski nyatanya ingatannya terus-menerus mengarah pasa satu sosok. Seorang gadis bernama Kim Taerin.

Sehun memejamkan kedua matanya dengan seulas senyum yang masih belum berhenti mengembang. Kelihatannya hari ini akan menjadi hari paling tak terlupakan yang pernah ia alami seumur hidupnya.

SIIING…

Tiba-tiba saja Sehun merasakan kepalanya berdengung disertai rasa sakit yang ikut menjalar di sekitar perutnya. Namja itu meringis. Rasa sakitnya datang lagi.

Belum cukup sampai di situ, Sehun merasakan sesuatu yang hangat mengalir melewati bagian bawah hidungnya. Tak butuh waktu lama bagi namja itu untuk menyadari bahwa cairan yang keluar dari hidungnya tersebut merupakan cairan berwarna merah pekat. Dengan sisa kekuatannya, Sehun lantas buru-buru merogoh saku celananya untuk mengambil sapu tangan dan segera menampung darahnya agar tak mengalir ke segala penjuru.

“Tuan, Anda tidak apa-apa?” tanya sang supir taksi yang cemas melihat penumpangnya itu kini mengalami mimisan secara mendadak.

“Gwenchanayo, ahjusshi..,” jawab Sehun masih sambil setengah meringis. Kepalanya masih terasa pusing.

“Apa perlu kita menuju rumah sakit, Tuan?” tanya supir taksi itu lagi.

“Tidak, tidak usah.” Sehun buru-buru menggeleng. “Lurus saja, rumah saya hanya tinggal beberapa blok lagi dari sini.”

**~*****~**

“Untung saja kau pulang saat Joonmyun oppa pergi..,” ujar Hyeri sembari mengeringkan rambut Taerin yang tengah duduk membelakanginya kini menggunakan hair-dryer. “..aku tak tahu akan bagaimana jadinya kalau tadi ia sampai menemukanmu dan menyeretmu pulang. Kau tahu? Namja itu sudah seperti kebakaran jenggot tadi, hiii… mengerikan!” lanjut gadis itu seraya terkikik geli. Sementara Taerin yang mendengarkannya hanya terdiam.

“Oh ya, bagaimana acaramu dengan Jongin hari ini? Apa semuanya berjalan lancar?” tanya Hyeri antusias sambil tangannya tetap sibuk mengeringkan rambut Taerin yang memang baru saja selesai mandi usai kepulangannya malam ini.

“Hari ini aku tidak pergi bersamanya, onnie..,” jawab Taerin pelan.

“Mwo?” tanya Hyeri terkaget-kaget. “Lalu dengan siapa kau menghabiskan waktu seharian ini, eo??”

“Salah satu teman sekelasku yang lain, hehe..,” Taerin hanya tersenyum tipis kemudian segera beranjak dari meja riasnya dan melangkah menuju tempat tidur. Meninggalkan Hyeri yang masih terlihat cukup bingung dengan jawaban yang baru saja diberikan oleh adiknya barusan.

“Tapi, tadi Jongin—“

“Onnie..,” panggil Taerin, cepat-cepat memotong ucapannya. “Tolong jangan bahas apapun mengenai Jongin lagi, ya? Namja itu sama sekali tak menaruh perasaan terhadapku. Dan kurasa hal itu sudah cukup jelas. Lagipula dia juga sudah mempunyai yeojachingu, hehe.. Oh ya, aku lelah sekali seharian ini. Aku tidur duluan ya, onnie. Jaljayo, hoam..”

Taerin buru-buru menarik selimutnya lalu memejamkan mata. Ia berbohong. Sesungguhnya gadis itu sama sekali belum merasa mengantuk. Hanya saja pikirannya yang terus berkelana memikirkan Sehun cukup membuatnya jengah. Apalagi jika ditambah dengan mengingat kebohongan Jongin yang diterimanya sore tadi. Kelihatannya tidur merupakan satu-satunya jalan agar Taerin bisa melupakan sejenak apa yang telah kedua namja itu perbuat untuk hari ini.

Terlebih dengan namja bernama Oh Sehun..

“Aish, baiklah..”

Merasa kehadirannya tidak diinginkan lagi di kamar adiknya kini, Hyeri hanya bisa berdecak gemas. Ia lantas bersiap meninggalkan kamar Taerin sebelum akhirnya tanpa sengaja kedua matanya menangkap benda yang berkerlap-kerlip di atas meja rias milik adik perempuannya tersebut.

Hyeri hampir saja mengacuhkan benda yang merupakan ponsel milik Taerin itu kalau saja ia tak melihat bahwa tulisan yang kini tengah terpampang jelas di layarnya seketika membuat batinnya berhasil diliputi rasa gundah.

Luhan Oppa is calling..

Dada Hyeri berdegup cepat. Untuk apa Luhan menelepon Taerin malam-malam begini?

Dengan ragu gadis itu lantas berjalan mengendap-endap untuk mengambil benda yang berhasil mengusik perhatiannya tersebut. Setelah memastikan bahwa Taerin telah terlelap, Hyeri lalu mengambil benda itu dan segera mengaktifkan layar sentuhnya. Ponsel Taerin sudah berhenti menyala, itu artinya panggilan telepon dari Luhan tadi telah terputus.

2 missed calls & 3 new messages..

Hyeri terperangah usai membaca nama kontak yang tertera di sana.

Semuanya dari Luhan.

From : Luhan Oppa

Kau sudah sampai di rumah?

Tunggu. Bagaimana namja itu bisa tahu kalau seharian ini Taerin memang menghabiskan waktu di luar rumah? pikirnya.

Apa jangan-jangan yang menemani Taerin pergi tadi memang bukan Jongin melainkan… Luhan?

“Tidak, tidak mungkin..,” Hyeri bergumam pelan.

Lagipula suara lelaki yang didengarnya saat menghubungi ponsel Taerin beberapa saat yang lalu bukan milik Luhan.

Tapi mengapa Luhan bisa tahu kalau tadi Taerin tengah pergi dan belum kunjung pulang ke rumah?

Sebisa mungkin Hyeri menepis semua prasangka buruk yang kini seakan singgah memenuhi benaknya tanpa henti. Ia percaya pada Taerin bahwa adik perempuannya itu memang pergi bersama salah satu teman sekelasnya—yang entah siapa—hari ini. Tapi untuk Luhan? Entah mengapa seperti ada sesuatu yang tak henti membisikkan sebuah kenyataan pahit yang terus-menerus mengusik batinnya belakangan ini mengenai kekasihnya tersebut.

Bahwa Luhan memang benar menaruh perhatian yang lebih terhadap Taerin..

**~*****~**

Hari Senin pagi. Sehun melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah dengan perasaan ringan. Entah mengapa hari ini tak seperti hari-hari sebelumnya. Namja itu merasa bersemangat ketika akan memulai aktivitasnya di sekolah minggu ini.

Kelihatannya gadis bernama Kim Taerin-lah yang berhasil memberikan kontribusi pada semangat Sehun pagi ini. Harus namja itu akui, semenjak ia mengenal—dalam artian berteman dekat—dengan Taerin, cukup banyak hal dari dirinya yang terasa berubah. Mulai dari hal pelajaran di sekolah dan yang lainnya. Gadis itu seperti memberikan warna tersendiri dalam hidupnya. Dan Sehun berterimakasih atas hal itu. Berkat Taerin rasanya sedikit demi sedikit hal buruk yang melekat di dirinya dirasa mulai menghilang secara perlahan.

Kalau dulu namja itu sering menghabiskan waktunya sepulang sekolah di loteng sekolah sembari merokok, sekarang tidak lagi. Kini waktunya tersebut diganti dengan les privat bersama gadis itu atau gantian Sehun yang memberikan kelas piano untuknya. Walau awalnya terkesan canggung, lama-lama Sehun pun bisa menyesuaikan diri. Malah sepertinya namja itu mulai menikmati setiap waktu yang dihabiskannya bersama Taerin.

Bicara tentang aktivitasnya sepulang sekolah, Sehun baru ingat kalau sore ini adalah giliran Taerin mengadakan kelas Kimia dan Matematika untuknya. Aneh, untuk pertama kalinya Sehun merasa antusias jika mengingat hal yang berhubungan dengan pelajaran. Terlebih lagi untuk pelajaran Kimia dan Matematika, dua pelajaran eksak yang benar-benar ia tak suka. Untuk membaca buku pelajaran atau sekedar mencatat dan memperhatikan kedua pelajaran itu saja bahkan ia tak pernah. Hanya semenjak ia mengenal Taerin saja Sehun melakukan hal itu. Ah, ya.. lagi-lagi semuanya disangkutpautkan dengan gadis itu.

Sehun kemudian tersenyum tipis. Kenapa gadis bernama Kim Taerin itu betah sekali mendiami pikirannya sejak kemarin, sih?

BRUK

Tanpa sengaja tas ransel yang dibawa Sehun menyenggol seseorang yang ada di sampingnya ketika akan berbelok ke lorong koridor. Namja itu lantas menoleh, mendapati ‘korban’-nya itu hampir terhuyung ke belakang ketika tadi tanpa sengaja bahunya bertemu dengan ransel Sehun. Sepertinya tadi ia berjalan sembari melamun hingga tak sadar bahwa di hadapannya ada seseorang yang juga tengah berjalan. Hingga saat Sehun akan berbelok, tanpa sadar ia hampir saja menabrak namja itu.

“Eo, mianhamnida,” ucap gadis yang hampir tertabrak itu dengan ekspresi linglung.

“Uhm, gwencha—Taerin?” tanya Sehun yang terkejut karena nyatanya orang yang tadi hampir menabraknya merupakan objek yang ada dalam lamunannya barusan, Kim Taerin.

“Se..Sehun?” balas Taerin gugup. Tak jauh berbeda dengan Sehun, gadis itu pun sepertinya cukup terkejut karena hal yang tengah ia lamunkan tadi saat sedang berjalan menuju kelas kini tengah berdiri persis di hadapannya.

Oh Sehun.

“Errr… kau datang pagi juga rupanya,” kata Sehun sedikit canggung.

“Uhm.., ne..,” Taerin mengiyakan meski raut wajahnya juga hampir sama dengan milik Sehun. Keduanya mendadak dilanda oleh perasaan gugup.

“Oh, kebetulan ya..,” ujar Sehun lagi sembari menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal. Namja itu mendadak kehabisan bahan pembicaraan.

“..mau ke kelas bersama?” tanya Sehun akhirnya.

Taerin tak langsung menjawab. Lagi, pikirannya mengarah pada lamunannya tentang Sehun beberapa saat yang lalu. Hal yang tak habis menghantui benaknya dan menjelma menjadi tanda tanya besar untuknya belakangan ini, yakni Sehun dan liontin miliknya yang ia lihat malam kemarin..

“Taerin? Kau melamun?” tanya Sehun yang heran karena Taerin tak kunjung menanggapi ajakannya.

“Oh.. eh.., kau duluan saja. A..aku mau ke toilet,” jawab Taerin yang langsung buru-buru berbalik menuju lorong koridor yang berlawanan dengan arah menuju kelasnya bersama Sehun.

Gadis itu tak mengindahkan raut wajah heran Sehun ketika melihat gelagatnya yang—mungkin terkesan—agak aneh pagi itu. Tidak, sebenarnya bukan hanya pagi ini, melainkan dimulai sejak malam Sabtu kemarin usai Sehun mengantarkannya pulang ke rumah. Kalau boleh jujur, sebagian hati Taerin merasa senang jika pemilik liontin itu ternyata adalah Sehun. Dan jika liontin yang ada pada namja itu memang benar merupakan pasangan dari liontin miliknya.

Tapi sebagian hatinya yang lain entah mengapa berusaha sekuat tenaga untuk mengingkari kenyataan itu. Kalau memang benar Sehun adalah ‘oppa’-nya 12 tahun silam, Taerin tak dapat memungkiri bahwa masih ada rasa bencinya yang tertinggal tiap kali mengingat sosok dari pemilik liontin tersebut..

**~*****~**

“Hadiah dari fans lagi, huh?” cibir Kyungsoo ketika dilihatnya Jongin mengacungkan sebuah kemasan makanan berisikan sebatang cokelat dalam genggamannya sekarang. Keduanya saat ini sedang duduk berdua di meja kantin, menghabiskan waktu istirahat pertama.

“Uhm..,” Jongin hanya mengangguk, kemudian segera menaruh cokelat batangan yang sama sekali belum dicicipnya itu ke atas meja. Terkesan tak terlalu berselera bahkan hanya untuk sekedar menyentuhnya.

“Jadi, kali ini dari fans yang mana lagi?” tanya Kyungsoo sembari menyeruput cairan orange juice dalam gelas miliknya.

“Hmm… dari siapa, ya? Ah, aku lupa namanya.” jawab Jongin asal, terkesan tak begitu menaruh peduli.

Oh my! Dasar namja tak punya perasaan!” Kyungsoo langsung tergelak usai mendengar jawaban dari sahabatnya barusan.

“Wae?” tanya Jongin yang heran begitu melihat reaksi namja yang duduk di hadapannya ini.

“Ani, hanya merasa sedikit prihatin saja. Gadis itu menyukaimu tapi kau bahkan tidak mengenalnya barang sedikit pun. Minimal untuk mengetahui siapa namanya.”

“Haruskah?” tanya Jongin malas. “Mereka terlalu banyak, aku tak akan bisa menghapal wajah apalagi nama mereka satu persatu.” dalihnya.

“Ish.. apa kebanyakan namja dengan predikat most-wanted memang selalu bertabiat angkuh seperti dirimu, ya?” cibir Kyungsoo lagi.

Most-wanted?” Jongin langsung terkikik geli usai mendengarnya. “Memangnya aku sebegitu diinginkan oleh para gadis, ya?” namja itu malah membalikkan pertanyaan.

“Tak usah merendah untuk meninggi. Siapapun tahu kalau kau adalah primadona di sekolah ini, Kim Jongin.” Kyungsoo berceletuk.

“Oke, oke. Aku mengerti. Terima kasih banyak atas pujiannya. Sebagai imbalannya, izinkan aku memberikan cokelat ini untukmu, Do Kyungsoo. Ini, terimalah.” Jongin terkekeh sembari tangannya menyodorkan cokelat pemberian ‘fans’-nya yang tadi sempat terabaikan di atas meja.

“Errr… tidak, terima kasih.” Kyungsoo langsung cepat-cepat menolak.

Sementara Jongin hanya bisa mengernyitkan alis. Tak biasanya sahabatnya yang satu ini menolak pemberiannya, apalagi yang bentuknya makanan. Jongin memang kerap memberikan Kyungsoo barang-barang pemberian dari ‘fans’-nya di sekolah karena dirinya juga tak terlalu berminat untuk menyimpan barang-barang pemberian tersebut ataupun memakannya—jika bentuknya makanan.

“Wae?” tanya Jongin heran.

“Hari Minggu kemarin aku baru melakukan perawatan gigi. Kata dokter aku tak boleh terlalu banyak memakan makanan manis.” Kyungsoo menyengir saat mengutarakan alasannya.

Jongin spontan berdesis. Sahabatnya yang satu ini terkadang memang terlalu banyak gaya bahkan melebihi wanita.

“Lagipula kenapa kau tak makan sendiri saja?” tanya Kyungsoo kemudian.

“Hmm… aniya..,” jawab Jongin sembari menggelengkan kepala. “Aku hanya mau makan makanan pemberian Nayeon.” namja itu tertawa kecil.

“Kalau begitu, kenapa tak kau berikan saja cokelat ini untuknya?” sambung Kyungsoo lagi.

“Lalu mengatakan kalau ini adalah pemberian gadis yang merupakan salah satu fans-ku di sekolah? Kau gila? Daripada memakannya, gadis itu pasti akan langsung melemparkan cokelat ini ke hadapan wajahku!” ujar Jongin sedikit mendengus.

“Astaga, Kim Jongin.. Meski terkadang sedikit brengsek, rupanya dari dulu sampai sekarang pun sifat naifmu belum menghilang sepenuhnya, ya? Bilang saja kalau kau membelinya di toko atau apapun, kek!” sahut Kyungsoo gemas.

Jongin tercenung sejenak. Kalau dipikir-pikir, saran dari Kyungsoo ini ada benarnya juga. Tapi… berbohong? Mungkin untuk gadis lain Jongin akan mudah untuk melakukannya. Sedangkan untuk Nayeon? Kelihatannya ia harus berpikir dua kali.

“Tidak.” Jongin menggelengkan kepalanya lagi. “Kalau dengannya aku sudah berjanji untuk tidak akan pernah berbohong,” katanya disertai dengan seulas senyuman tipis.

“Aigoo..,” kali ini gantian Kyungsoo yang menggelengkan kepala. Namja itu terlihat gemas dengan apa yang baru saja diucapkan oleh sahabatnya barusan.

“Kenapa selalu ada pengecualian untuk gadis itu, eo? Tak kusangka, namja dengan predikat bad boy sepertimu pun bahkan masih bisa bersikap sok setia kalau sudah menyangkut urusan hati. Ckck..,” ujar Kyungsoo sembari berdecak.

“Kau tak mengerti, Kyungsoo-ya. Dia berbeda.” Jongin kembali terkekeh.

“Berbeda? Ah, apa yang kau maksudkan gadis itu berbeda karena sifatnya sama sepertimu yakni sering bergonta-ganti kekasih, huh?” cerca Kyungsoo lagi.

“Ssstt… sudahlah, lupakan Nayeon dan mari kembali ke topik awal. Apa yang harus aku perbuat dengan cokelat ini? Atau aku buang saja, ya?” gumamnya sembari menimang-nimang cokelat yang masih berada dalam genggamannya tersebut.

“Aish! Mentang-mentang kehidupan keluargamu cukup berada, kau tak pernah diajarkan oleh ibumu untuk jangan sekali-kali membuang-buang makanan, ya?? Cokelat yang kau pegang itu termasuk cokelat mahal, Jongin-ah! Lihat saja merk-nya!” omel Kyungsoo gemas.

Tawa Jongin langsung meledak.

“Hahaha… astaga! Kau bahkan lebih cerewet dan galak dari Eomma-ku, Kyungsoo-ya! Jinjja.. 10 tahun mendatang, aku yakin kau pasti bisa menyandang status sebagai ibu rumah tangga teladan!” Jongin berkelakar di sela-sela tawanya.

“MWO?!” kedua mata Kyungsoo langsung membulat bersamaan seperti berikut —> O_O usai mendengar celotehan Jongin barusan.

“Kau ini benar-benar minta dibunuh rupanya!” seru Kyungsoo gusar.

“Oke, maaf. Yang tadi itu aku hanya bercanda, kok. Hahaha…,” Jongin masih belum berhenti tertawa.

Tiba-tiba tanpa sengaja ekor matanya menatap sosok gadis dengan wajah familiar yang baru saja berjalan memasuki kawasan kantin. Sebersit ide cemerlang mendadak muncul saja dalam benak Jongin dan langsung mendorongnya beranjak dari kursi untuk mendekati gadis tersebut.

“Eo, kau mau ke mana?” tanya Kyungsoo yang bingung karena tiba-tiba saja Jongin beranjak meninggalkan meja mereka.

“Nanti juga kau akan tahu,” balas Jongin sembari tersenyum jenaka.

Sementara Kyungsoo hanya mengangkat bahu. Dugaannya mengatakan paling-paling Jongin ingin mendekati gadis lain di dalam kantin ini yang tanpa sengaja telah menarik perhatiannya. Rutinitas biasa yang telah ia hapal dari sosok bernama Kim Jongin semenjak keduanya berteman dekat.

“Hai!” Jongin menepuk pundak gadis itu dari belakang ketika yang bersangkutan tengah memesan minuman di salah satu stand yang terdapat di dalam kantin.

“Eo, Jongin?” balas gadis itu, sedikit terkejut.

“Uhm.. aku ingin minta maaf sebelumnya kepadamu, Taerin-ah.” ucap Jongin sembari menggaruk bagian belakang tengkuknya untuk menampilkan kesan bersalah. “Maaf ya, hari Sabtu kemarin aku tak bisa datang. Eomma-ku—“

“Sakit?” Taerin buru-buru memotong ucapannya dengan senyuman sinis.

“Uhm.. ne.., mianhae.”

“Tak usah dipikirkan. Santai saja. Kemarin sudah ada Sehun yang menggantikanmu, kok.” ujar Taerin acuh tak acuh. Mendadak gadis itu ingin cepat-cepat meninggalkan kantin ketimbang harus bertegur sapa dengan namja yang tengah berdiri di hadapannya sekarang. Ada rasa kesal yang muncul dalam benaknya sekarang tiap kali melihat wajah Jongin. Berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya, ketika ia masih menyimpan perasaannya untuk namja ini.

“Geuraeyo? Syukurlah..,” ujar Jongin dengan ekspresi lega yang dibuat-buat.

Taerin hanya memaksakan seulas senyum usai mendengarnya. Lebih lama lagi berdiam diri di sini mungkin hanya akan membuat hatinya makin memanas. Ia tak sudi mendengarkan namja ini berbohong untuk yang kesekian kalinya.

“Sebagai permintaan maafku, ini terimalah..,” Jongin mengulurkan cokelat yang sedari tadi berada dalam genggamannya kepada Taerin sembari tersenyum manis.

Sebelah alis Taerin kontan langsung terangkat.

Jongin memberinya cokelat sebagai tanda permintaan maaf? Harus ia akui, ini benar-benar di luar dugaannya.

“Untukku?” tanya Taerin tak yakin.

Jongin mengangguk mantap. Sementara Taerin hanya menerima cokelat pemberian darinya itu dengan ekspresi ragu.

“Go..gomawo,” ucap Taerin yang masih terlihat bingung. Bukan dalam artian terkesan, hanya saja prilaku baik Jongin ini sedikit membuatnya bertanya-tanya. Apa ini juga termasuk ke dalam taktik Jongin agar ia bisa kembali merasa simpatik padanya? Mungkin saja.. Taerin hanya tak mau terlalu banyak berburuk sangka.

“Cheonmaneyo. Ah, aku tinggal, ya. Selamat menikmati cokelatnya, Taerin-ah!” ujar Jongin sembari mengerlingkan matanya sebelum benar-benar berlalu dari hadapan gadis itu.

Sementara Taerin masih terdiam menatap bungkusan cokelat yang kini sudah berpindah ke tangannya tersebut. Gadis itu hanya merasa tak habis pikir dengan pikirannya yang juga masih dipenuhi oleh tanda tanya tentang prilaku Jongin barusan.

“Ara.. tak jadi membuangnya lantas memberikannya untuk gadis bernama Taerin itu, huh?” tanya Kyungsoo seraya tertawa kecil ketika Jongin telah kembali sampai ke meja mereka.

“Wae? Ada yang salah?” balas Jongin bingung.

“Kau menyukainya, ya?” tebak Kyungsoo dengan tatapan jahil.

“Mwo? Nugu?” tanya Jongin tak paham.

“Aish… Kim Taerin! Memangnya siapa lagi?? Gadis yang akhir-akhir ini dekat denganmu itu, lho!” ujar Kyungsoo gemas.

“Mwo? Kau bercanda? Mana mungkin aku menyukainya, Kyungsoo-ya? Ada-ada saja,” Jongin hanya menanggapinya dengan gelengan kepala.

“Lantas? Kenapa cokelat itu kau berikan kepadanya?” tanya Kyungsoo tak habis pikir.

“Apa memberikan cokelat itu berarti sama dengan pertanda rasa suka. Tidak, kan? Lagipula kau sendiri yang melarangku untuk membuangnya,” jawab Jongin tak acuh.

“Nappeun namja! Apa kau tidak sadar dengan perbuatanmu tadi?? Bisa saja gadis itu berpikiran macam-macam kalau kau menyukainya, kan??”

“Itu urusannya, bukan urusanku.” jawab Jongin datar sembari kemudian beralih menyeruput milk shake-nya yang tadi sempat terabaikan untuk beberapa saat. “Lagipula kita masih membutuhkannya agar selalu mendapat nilai bagus, Kyungsoo-ya. Bukan begitu?” ujarnya lagi, kali ini dengan sebuah senyuman yang terkembang di wajahnya. Tak bisa dikategorikan sebagai sebuah senyuman yang tulus memang, karena di sini lekukan bibir namja itu seperti mempunyai arti tersendiri. Bahkan lebih menjurus pada kesan misterius.

“Neo… jinjja..,” Kyungsoo hanya bisa menggelengkan kepalanya, antara gemas dan tak habis pikir, namja itu seperti kehilangan kata-katanya ketika akan berucap.

“Kau tahu, Jongin? Kau yang dulu dan kau yang sekarang benar-benar bertolak belakang. Untuk beberapa alasan, aku lebih suka kepribadianmu yang dulu.”

“Oh, ya?” Jongin hanya tertawa kecil menaggapi ucapan Kyungsoo barusan. Namja itu kemudian kembali berkutat dengan gelas berisikan milk shake miliknya, mengaduknya perlahan menggunakan sedotan tanpa ada niatan sedikit pun untuk kembali meminumnya. Kepalanya tertunduk, meski seulas senyum masih belum pudar menghiasi wajahnya saat itu.

“Kyungsoo-ya, kalau begitu sekarang apa menurutmu aku telah cukup pantas dicap sebagai namja brengsek?”

**~*****~**

“Itu urusannya, bukan urusanku. Lagipula kita masih membutuhkannya agar selalu mendapat nilai bagus, Kyungsoo-ya. Bukan begitu?”

Sehun menggeram tertahan. Ia mendengar semuanya, juga ketika Jongin menyerahkan satu bungkus cokelat kepada Taerin. Mejanya yang saat itu kebetulan terletak berdekatan dengan meja Jongin dan Kyungsoo memang memudahkan namja itu untuk menguping segala pembicaraan mereka.

Tanpa pikir panjang, namja itu pun langsung beranjak dari kursinya dan bergegas meninggalkan kawasan kantin dengan perasaan tak menentu. Padahal hanya tinggal selangkah lagi namja itu bisa mendapatkan hati Taerin, dan Jongin tak boleh kembali memilikinya.

Tidak, tidak boleh! Sehun menggeram lagi dalam hatinya.

Taerin tak boleh membuka kembali hatinya untuk namja itu. Gadis itu tak boleh terluka untuk yang kedua kalinya.

**~*****~**

Jam kala itu telah menunjukkan waktu pukul 5 sore lewat 15 menit. Ruangan perpustakaan yang tadinya sedikit dipenuhi oleh beberapa murid kini mulai berangsur-angsur lengang, hanya menyisakan satu orang penjaga perpustakaan dan para murid yang keberadaannya pun bisa ditaksir tak akan lebih dari 5 orang.

Beberapa di antaranya adalah Sehun dan Taerin yang masih terlihat enggan beranjak dari bangku yang tengah mereka tempati sekarang. Tak seperti minggu kemarin yang masih menghadirkan Jongin dalam kegiatan belajar bersama mereka, kali ini namja itu tak datang. Entah untuk alasan apa, Taerin sendiri sudah tak mau ambil pusing. Baginya, ia dan Sehun berdua sudah cukup. Tak harus melihat wajah milik Jongin menurutnya malah lebih bagus. Setidaknya emosinya tak harus kembali tersulut tiap kali mengingat berbagai kebohongan yang telah diterimanya dari Jongin beberapa waktu ini.

Sudah hampir sejam semenjak keduanya duduk dan membahas soal pelajaran di sana. Tak ada obrolan hangat ataupun canda tawa, kegiatan mereka kali ini lebih didominasi oleh keheningan yang melanda. Yang sedari tadi terdengar jelas hanyalah lembaran buku yang dibuka atau pensil yang digoreskan di atas. Selebihnya, mungkin hanya diskusi singkat tentang pelajaran di mana Sehun lebih sering memegang status sebagai penanya dan Taerin yang menjawabnya.

Meski terlihat asyik dengan kegiatannya, sesungguhnya keduanya tengah tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sehun yang masih memikirkan perasaan Taerin pada Jongin, serta Taerin yang memikirkan Sehun dan liontin miliknya.

Sedikit ironis memang. Padahal keduanya tengah saling memikirkan satu sama lain tapi sama-sama tak saling menyadari. Mungkin agak terkesan menggelikan.

“Kapan saat terjadinya reaksi kesetimbangan homogen?” tanya Sehun tiba-tiba, memecah keheningan.

Taerin tak menjawab, meski pandangannya tetap tertuju pada buku catatan sesungguhnya pikirannya belum berhenti berkelana sedari tadi. Ingatannya terus berpindah-pindah mengingat kejadian 12 tahun silam dan ketika Sehun mengantarkannya pulang. Gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk mencocokkan bayangan ‘oppa’-nya dengan sosok Sehun. Walaupun hal itu dirasanya terlalu sulit karena ingatan masa kecilnya tidak terlalu menyisakan banyak memori yang bisa diingatnya. Hingga karenanya, gadis itu merasa sama sekali belum menemukan titik terang dan benang merah antara Sehun dengan sosok ‘oppa’ di masa kecilnya itu.

“Taerin? Kim Taerin?” ulang Sehun sekali lagi. Rupanya ia cukup jengah karena bukan kali ini saja Taerin mengabaikan panggilannya. Bila dugaannya benar, ia rasa Taerin tengah melamunkan sosok Jongin saat ini.

“Uhm.. ne? Ma..maaf, tadi aku sedang tidak konsentrasi. Ada apa?” Taerin berdalih kemudian memalingkan wajahnya menatap Sehun.

Seketika ingatannya kembali pada masa 12 tahun silam. Sosok oppa-nya itu seakan terus hadir dalam bayangannya bertepatan ketika gadis itu melihat wajah Sehun.

“Taerin-ah, annyeong…”

Taerin tertegun memandangi wajah Sehun sejenak. Apa mungkin dugaannya benar kalau ternyata selama ini Sehun adalah oppa-nya yang menghilang 12 tahun yang lalu? Juga liontin itu, apa benar kalau Sehun yang…

“Kim Taerin?”

Taerin terkesiap. Lagi-lagi Sehun memergokinya tengah melamun.

“Melamun lagi, ya? Kau tak dengar pertanyaanku barusan? Tentang kapan terjadinya reaksi kesetimbangan homogen..,” ujar Sehun sedikit kesal.

“Oh.. ma..maaf, tadi aku sedang berpikir untuk mencari tahu jawabannya tapi malah tak kunjung ingat. Ah ya, aku lupa buku paketku masih ada pada Jongin. Sebentar ya, biar aku carikan buku Kimia untuk mencari tahu jawabannya.”

Taerin lantas buru-buru beranjak dari kursinya dan berjalan menyusuri rak buku yang berada tak jauh dari bangkunya bersama Sehun. Bukan sepenuhnya untuk mencari buku sebenarnya. Gadis itu hanya ingin memberikan dirinya ruang yang lebih untuk bisa leluasa menggali memori ingatannya lebih dalam. Tentang sosok oppa-nya, liontin miliknya, juga Sehun yang kemungkinan besar adalah..

“Melamun lagi..”

Taerin sedikit tersentak. Tahu-tahu Sehun telah berdiri tak jauh darinya sembari memandang ke arahnya dengan tatapan gemas.

“A..aku tidak melamun!” tukas Taerin, berusaha mengacuhkan Sehun sembari tetap berpura-pura melanjutkan pencariannya dalam menyusuri rak buku yang ada di hadapannya.

“Apa yang kau cari? Buku Kimia?” tanya Sehun dengan tatapan sangsi.

“Ne! Memangnya apa lagi?” jawab Taerin ketus.

“Dan kau mencarinya di rak buku khusus pelajaran ilmu sosial? Sampai satu jam ke depan pun aku jamin kau tak akan bisa menemukannya, Nona..,” ujar Sehun lagi, kali ini sambil menyandarkan tubuhnya pada rak buku dengan kedua tangannya yang melipat di dada. Lewat ekor matanya, namja itu dapat melihat bahwa Taerin sepertinya langsung membatu usai mendengar ucapannya barusan.

“A..aku juga kebetulan sedang mencari buku Sosiologi, kok!” Taerin masih belum berhenti berdalih kemudian tetap asyik berpura-pura melanjutkan pencariannya. Sementara Sehun yang terus memperhatikannya dari jauh hanya mampu mengulum senyum.

“Errr… sayangnya buku yang aku cari tak ada di sini. Baiklah, sekarang kita menuju rak buku khusus ilmu pengetahuan alam!” celotehnya seraya bergegas untuk berpindah menuju rak yang lain. Namun langkahnya itu terhenti ketika Taerin hendak melewati Sehun. Tubuh gadis itu terhalang oleh Sehun yang langsung dengan sigap menarik lengannya ketika Taerin baru saja akan berjalan melewati dirinya.

“Apa yang sebenarnya kau pikirkan?” tanya Sehun dengan tatapan matanya yang menatap lurus ke depan, memandangi Taerin yang saat itu masih terlihat salah tingkah.

“A..aku? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.” elak gadis itu.

“Kau memikirkannya?” tanya Sehun lagi. Kali ini raut wajahnya terkesan datar dan bahkan tanpa ekpresi. Mungkin Taerin akan menganggapnya sebagai sosok yang menakutkan kalau saja gadis itu punya keberanian lebih untuk balas menatap wajah Sehun kala itu.

“Memikirkan apa?” tanya Taerin bingung di sela-sela rasa gugupnya.

“Kim Jongin. Kau kecewa karena sore ini ia tak hadir, benar kan?”

“Kau ini bicara apa? Siapa yang kecewa?” balas Taerin kesal sambil berusaha melepaskan tangannya dari Sehun. Namun tak kunjung berhasil karena namja itu enggan untuk melepaskan genggamannya.

“Kau tak jujur.” Sehun masih menyerang Taerin dengan tatapan tajam dari raut wajahnya yang terlihat dingin.

“Aku tak bohong, Sehun-ah! Sekarang lepaskan tanganku!” seru Taerin gusar.

“Tidak.” jawab Sehun singkat namun terkesan tegas.

“Aish.. kau ini kenapa, sih?? Lepaskan tanganku, Sehun-ah!” Taerin masih belum berhenti meronta.

“Tidak sampai kau menjawab pertanyaanku, Nona.”

“Baiklah, pertanyaan apa??” tanya Taerin, berusaha untuk mengalah.

“Jawaban untuk pernyataanku di halte sepulang acara kencan kita kemarin.”

“Mwo?? Kau sudah bersedia untuk memberikanku waktu, bukan??”

“Dua puluh empat jam untuk hari Minggu kemarin dan tujuh belas jam lewat 30 menit untuk hari ini. Totalnya ada sekitar 41 jam dan kurasa itu sudah lebih dari cukup untuk memberikanmu waktu berpikir.”

“Mwo?? Ta..tapi aku..,” Taerin terlihat gelagapan.

“Kenapa?”

Cengkraman Sehun pada lengan Taerin sedikit demi sedikit mulai melonggar dan berangsur-angsur lepas. Namja itu hanya melemparkan senyuman sinis begitu melihat gelagat canggung dari Taerin usai mendengar permintaannya barusan.

“Dugaanku benar, kan? Bahwa kau masih.. menyukainya.”

“Ti..tidak! Itu tidak benar! Kau salah sangka, Sehun-ah! Sekarang aku—“

“Berhenti menyangkalnya, Kim Taerin.” Sehun tersenyum kecut lantas segera membuang pandangannya ke arah lain, menghindari tatapan milik Taerin yang kini tengah berganti menatap ke arahnya. “Akui saja kalau kau—“

“Ehem..,” suara deheman yang datang dari pojok lorong rak buku tempat keduanya berada sedikit mengejutkan Taerin dan Sehun. Sesosok wanita paruh baya dengan kacamata tebal dan pakaian formal ala pekerja kantoran tengah memandang ke arah mereka dengan tatapan risih.

“Bisakah kalian berhenti bersenda gurau? Ruangan ini adalah perpustakaan, bukan pasar.” celetuknya dengan nada sinis.

“Ah, jwosonghamnida sonsaengnim, jwosonghamnida..,” Taerin refleks membungkukkan badannya secara berulang-ulang sebagai tanda permintaan maaf.

“Dasar, mentang-mentang hanya tinggal berdua dalam ruangan ini jadi bisa bertingkah seenaknya. Dipikirnya ruangan ini hanya milik kalian apa?” wanita paruh baya yang merupakan penjaga perpustakaan itu menggumam sebal sembari kembali berjalan menuju tempat duduknya. Namun tak berapa lama, ia menepuk dahinya gemas mengingat ada suatu hal yang ia lupakan hari ini.

“Aish.. baboya! Bagaimana bisa aku meninggalkan daftar hadir pengunjung perpustakaan di ruang guru tadi siang?? Ukh..”

Tanpa menunggu lama, wanita itu langsung saja pergi meninggalkan ruangan perpustakaan. Dan suara langkah kakinya yang terdengar menghentak ketika keluar melewati pintu tak membutuhkan waktu lama untuk segera menyadarkan Taerin bahwa hanya ada ia dan Sehun yang tersisa dalam ruangan itu sekarang.

“Uhm… kelihatannya sudah hampir petang. Kita sudahi pelajarannya sampai di sini saja, ya. Aku mau pulang.”

Taerin hampir saja berhasil berjalan melewati Sehun kalau namja itu tak kembali menarik lengannya, menahannya untuk tetap tinggal.

“Se..Sehun-ah?”

“Kau bahkan belum menjawabnya.”

Dalam gerak cepat, Sehun mengarahkan tubuh Taerin untuk berbalik dan menyandarkannya pada salah satu rak buku yang ada di dekat mereka lantas berusaha menghimpitnya. Menghalangi agar gadis itu tak bisa melarikan diri. Sementara Taerin hanya bisa meringis karena ulah Sehun tadi mau tak mau sedikit menyisakan rasa sakit di punggungnya karena harus bertabrakan dengan rak buku.

“YA!! Apa yang kau lakukan??” tanya Taerin kesal sekaligus bercampur takut. Tak dapat dipungkiri, batinnya merasa was-was apalagi jika mengingat hanya tinggal tersisa mereka berdua dalam ruangan ini.

“Hanya ingin meminta jawabanmu, tak lebih.” jawab Sehun dengan ekspresi dingin. Jaraknya dengan Taerin kini mungkin bisa dibilang terlampau dekat karena ia dapat menangkap dengan jelas ekspresi kegelisahan yang tengah ditunjukkan oleh gadis itu sekarang.

“Aku..aku akan jawab tapi tidak sekarang,” kata Taerin sembari memalingkan mukanya ke arah lain. Gadis itu mencoba menghindari tatapan dingin milik Sehun yang kini seolah tak henti menyerangnya secara bertubi-tubi.

“Kenapa? Karena kau masih menyukai Jongin? Kau masih menyimpan perasaan untuknya, benar begitu, kan?” tanya Sehun sembari tersenyum sinis. Namja itu makin mempersingkat jarak antara dirinya dan Taerin hingga mengakibatkan gadis tersebut semakin gencar untuk berusaha melepaskan diri. Sayang, usahanya tak membuahkan hasil karena kedua tangan Sehun yang bertumpu pada rak buku hanya makin mempersulit pergerakannya.

“Aniya! Harus berapa kali kukatakan kalau aku tak menyukainya, Oh Sehun?!” seru Taerin gusar.

“Benarkah? Kalau iya, coba tatap aku dan katakan bahwa kau memang tidak menyukainya dan perasaanmu padanya memang telah hilang.” tantang Sehun.

Taerin menelan ludah. Sehun yang ada di hadapannya sekarang bukan seperti Sehun yang ia kenal sebelumnya. Namja ini bak orang asing yang menakutkan di matanya.

“Sehun-ah.., kau.. kau menyeramkan..,” ujar Taerin takut-takut. Jangankan untuk menatap, mati-matian Taerin berusaha untuk memalingkan wajahnya dari Sehun karena kini wajah keduanya malah semakin terlampau dekat. Mungkin hanya tinggal beberapa sentimeter lagi hingga ujung hidung keduanya dapat saling bersentuhan.

“Kenapa? Tak sanggup?” Sehun tersenyum tipis meski kini suasana hatinya benar-benar sangat bertolak belakang. Cemburu, mungkin bisa mewakili apa yang tengah ia rasakan sekarang. Ia hanya tak suka ketika mendapati kenyataan bahwa gadis yang ia suka masih memikirkan namja lain ketika sedang bersama dengan dirinya.

“Bu..bukan begitu, hanya saja aku…,” Taerin memberanikan diri menghadapkan wajahnya kembali ke arah Sehun. Kedua matanya yang terlihat sayu berhasil mengurungkan niat Taerin untuk kembali berpaling. Seolah ada magnet tersendiri yang menarik gadis itu untuk terus menatap Sehun. Dan untuk yang kesekian kalinya, melihat wajah Sehun sedekat ini kembali membuat pikiran gadis itu melayang mengingat sosok oppa yang dirindukannya semenjak 12 tahun silam. Sebagian hatinya memang sedikit menaruh rasa yakin, tapi sebagian hatinya yang lain bersikukuh mengatakan bahwa Sehun adalah orang yang berbeda.

Sehun bukan ‘oppa’ yang dirindukannya selama ini..

“Mi..mianhae..”

Taerin baru saja hendak kembali memalingkan wajahnya ketika dengan sigap Sehun meraih dagu milik gadis itu dan melakukan hal yang tak pernah Taerin duga sebelumnya.

Bibir keduanya sudah terlanjur bertaut bahkan tanpa Taerin sendiri pun sempat melakukan perlawanan. Gadis itu hanya mematung ketika dirasakannya bibir Sehun mulai melumat lembut miliknya bahkan menghisapnya tanpa sedikit pun celah yang terlewati. Perlu waktu beberapa detik bagi gadis itu untuk bisa menyadari bahwa Sehun baru saja merebut first kiss-nya tanpa kendala yang berarti. Ralat, bukan baru saja melainkan SEDANG. Dalam artian keduanya memang masih melakukannya.

“YA!” Taerin refleks mendorong tubuh Sehun menjauh dengan sekuat tenaga. Satu tamparan kemudian mendarat pada pipi mulus namja itu sebelum Taerin benar-benar pergi meninggalkannya dengan langkah terburu-buru.

Taerin tak peduli seberapa memerahnya wajahnya saat ini. Tapi gadis itu yakin, ia pasti telah hampir menyerupai tomat matang. Antara rasa malu, kesal, dan marah, gadis itu langsung pergi meninggalkan ruangan perpustakaan sembari menenteng tas ranselnya dengan langkah tergesa. Dalam hatinya ia sedikit mengumpat, kelihatannya hari-harinya selanjutnya akan selalu dipenuhi oleh bayangan dari makhluk bernama Oh Sehun yang sebenarnya dari hari-hari kemarin pun belum kunjung menghilang dari dalam pikirannya.

-TBC-

Sejujurnya agak gak rela di part ini Sehun sama Taerin udah mulai ada skinship, hikseu ,___, *nangis guling-guling* *digulingin Taerin yang asli*

Untuk part-part selanjutnya saya minta maaf ya kalau mungkin agak terlalu lama post-nya. Dimaklumlah, udah mulai kuliah ini itu. Belum lagi rutinitas seorang maba yang memang seabrek di tingkat pertama. Ternyata jadi mahasiswa itu asyik juga ya, meskipun lebih asyik jadi anak SMA ke mana-mana sih ._.

Oh ya, dan saya baru sadar. Kelihatannya seiring dengan berlanjutnya ff ini antis(?)-nya Kai pun jadi semakin bertambah. Yang sabar ya Kai, nasib jadi pemeran antagonis sih’-‘)/ *pukpuk Kai* *digulingin ke jurang*

Ah ya, dan sekalian saya mau bikin polling (hampir lupa).

Kalau suatu hari nanti(?) seumpamanya saya pengen bikin ff yang cast-nya EXO lagi, kalian ingin siapa yang menjadi pemeran utamanya? Bantu vote ya, kawan-kawan ^^

Terima kasih untuk menjadi good reader dan sudah mau berpartisipasi dalam voting ^^

NB : Kalau saya balesin komen dari kalian agak lama tolong dimaafkan, ya. Udah berapa minggu ini koneksi modem ngajak berantem melulu soalnya ;_;

82 responses to “Eternity [Part 9]

  1. Wah bagua si sehun udah ga jaim udah nyatain juga hua . Bener banget mending taerin jauhjauh dari si jongin toh ada sehun ^^ pas kisseunya huaaa langsung degdegan sweet banget. Suka taerin sehun moment pokoknya :’)
    Lanjut baca ya :’)

  2. Aigoo.. Sbnrnya Sehun ma Taerin udh ada snyal2.. Tpi mnrt aq taerin jga klmaan jwb’y, trus jga dy nglmun trus.. Bkn sehun mikir klw yg dpkrn ma Taerin itu Jong In

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s