Confessions – Sungjong: Protect The Dance Prodigy

Hoya’s StoryWoohyun’s StorySunggyu’s StoryDongwoo’s Story

Title: Confessions – Sungjong: Protect The Dance Prodigy

Author : Joonisa (@Joonisa)

Rating : PG 15

Genre :Romance

Length :One shot compilation

Cast    :          

  • Lee Sungjong (INFINITE)
  • Park Jin Hee as YOU

Support Cast:

  • Jang Hyunseung (BEAST) as Hyunseung
  • Kim Hyuna (4minute) as Hyuna
  • Lee Taemin as Taemin
  • The others

Disclaimer: The casts are belong to God.

Poster: I do not own the original photo, i just edited it ^^

Note:

Terinspirasi dari ulah SUNGYEOL-SUNGJONG dalam mem-parodikan lagu Trouble Maker di konser Second Invasion, tapi di FF ini peran Sungjong bukan sebagai JS ^^ hohoho.. Penasaran dia jadi apa? Silakan dibaca ^o^

Entah berapa lama lagi aku harus sesak nafas  – Lee Sungjong

***

Five, six, seven, eight!

Musik yang terdengar dari cd player berubah tempo menjadi lebih cepat. Semua orang yang ada di ruangan itu serempak menggerakkan tangan dan kaki sesuai dengan dentuman dan hentakan.  Gerakan mereka semuanya seragam, membuktikan kalau mereka sudah latihan gerakan ini berulang kali.

Seseorang mengangguk-anggukan kepala, menikmati musik sekaligus memperhatikan gerakan orang-orang itu dari depan pintu ruang latihan. Sebenarnya tidak semua orang diperhatikannya. Hanya ada satu. Lebih tepatnya seorang gadis.

Sajangnim?”

Orang itu masih terus mengangguk-anggukan kepala mengikuti hentakan musik dan tidak mendengar ada orang yang memanggilnya.

“Lee Sungjong sajangnim!” Panggil orang itu lebih keras ditambah dengan tiga kali colekan di bahu.

“Sssttt!” Sungjong menempelkan telunjuknya di depan bibir. “Tunggu sampai lagunya selesai, Lee Taemin!”

Orang yang memanggil – namanya Lee Taemin – menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Ia lalu melongok ke dalam ruang latihan dan langsung mengerti kenapa bosnya itu tidak mau diganggu.

“Oh.. arasseo.” Taemin mengangguk. Ia kemudian menunggu di sebelah Sungjong sambil melipat kedua tangan di depan dada.

“Dia memang yang paling bersinar. Mungkin tubuhnya kalah seksi dari Hyuna, tapi kalau soal gerakan dan ekspresi, dia yang lebih unggul. Perpaduan antara bakat, insting, dan kejeniusan.” Komentar Taemin. Suaranya sama sekali tidak dipelankan, karena suara musik dari ruang latihan cukup keras untuk menyembunyikan percakapan mereka berdua.

Arasseo.” Sahut Sungjong tanpa mengalihkan tatapannya sedikit pun dari ruang latihan.

“Tapi wajahnya tidak terlalu menonjol.”

Arasseo.”

“Biasa saja.”

Arasseo.

“Liukan tubuh Hyuna lebih menggiurkan!”

Arasseo.”

“Tubuh Hyuna lebih S-Line!”

Arasseo.”

“Menurutku Hyuna yang paling cantik.”

“Sampai kapan kau mau memberitahu hal-hal yang sudah kuketahui melebihi dirimu, Lee Taemin?”

Taemin menutup mulutnya menahan tawa. Meskipun ucapan Sungjong terdengar menusuk, tapi ia sudah terbiasa. Ia bahkan merasa pantas mendapatkannya karena sebenarnya sedari tadi ia hanya menggoda Sungjong. Sungjong adalah bosnya, sementara ia bawahan Sungjong. Bahkan jika Sungjong memarahinya, Taemin merasa hal itu sangat wajar. Tapi kenyataannya Sungjong hanya berkata dengan nada yang biasa tanpa ada kesan kesal apalagi marah.

“Sebenarnya se-spesial apa seorang Park Jinhee di mata seorang CEO Lee Sungjong?” tanya Taemin lagi. Sungjong melirik ke arah Taemin – untuk yang pertama kalinya sejak Taemin memanggilnya tadi.

“Sangat spesial.” Jawab Sungjong mantap. Setelah itu perhatiannya kembali tertuju ke dalam ruang latihan, kembali mengacuhkan Taemin.

“Kenapa?”

“Haruskah kujawab?” Sungjong bertanya balik.

“Harus! Kau kan juga sepupuku!” desak Taemin. “Jadi aku bisa bilang ke bibi kalau anaknya sudah punya calon istri!”

“Karena dia tidak pernah merasa paling bersinar sementara orang lain selalu menganggapnya seperti itu, termasuk dirimu.”

Taemin mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari, mencoba mencerna kata-kata Sungjong. Beberapa saat kemudian ia tersenyum dan menepuk pundak Sungjong.

“Kau benar.”

Selesainya ucapan Taemin bertepatan dengan selesainya latihan. Suara musik pun sudah tidak terdengar lagi. Yang tersisa hanya sekelompok orang di dalam sana yang mengatur ritme nafas mereka.

“Taemin, tadi kau ada apa memanggilku?” tanya Sungjong yang sudah menghadap ke arah Taemin.

“Oh, kukira kau sudah lupa. Itu, ada tamu yang menunggumu.”

“Siapa?”

“Jang Hyunseung.”

Mata Sungjong membulat. “Jang.. Hyunseung?”

“Ne. Anak emasmu itu menunggu di ruang tamu.”

“Apa yang kau bicarakan? Tidak ada yang kuanggap anak emas, Lee Taemin!” Sungjong menepuk pundak Taemin. “Ayo kita temui dia!”

Taemin memutar bola matanya. Sekilas ia melirik ke dalam ruang latihan sebelum mengikuti Sungjong dan menemukan pemandangan yang membuat Taemin mengerutkan alis.

“Kenapa… Hyuna..?”

***

Annyeonghaseyo Lee Sungjong sajangnim, Taemin.” Hyunseung membungkuk ke arah Sungjong dan Taemin. “Lama tidak berjumpa.”

Annyeonghaseyo, Hyunseung sunbaenim.” Jawab Taemin sambil membungkuk. Hyunseung adalah salah satu seniornya di Lee Academy.

Annyeong Hyunseung-ah. Panggil aku Sungjong-ssi saja, tidak usah pakai sajangnim. Aku bukan bosmu lagi, kan?” ucap Sungjong sambil mengambil posisi duduk.

“Baiklah. Tapi selamanya aku akan menganggap anda sebagai bosku.”

Sungjong tersenyum simpul. “Terserah lah. Silakan duduk.”

Taemin dan Hyunseung duduk bersebelahan, sementara Sungjong ada di seberang mereka berdua.

“Bagaimana kabar kuliahmu di Juilliard?” tanya Sungjong membuka percakapan.

“Sangat baik.” Jawab Hyunseung mantap.

“Kau sedang liburan ya, Hyung?” Tanya Taemin yang penasaran.

Aniyo. Aku tidak sedang liburan. Aku ada tujuan khusus kembali ke Korea. Aku diutus oleh kampusku untuk memberikan pertunjukan di Kedutaan Amerika Serikat di Korea.”

Sungjong mengangguk-angguk sementara Taemin terkagum-kagum menatap Hyunseung.

“Nah, selain berkunjung, aku punya tujuan khusus datang ke sini.”

“Tujuan khusus?” tanya Sungjong dan Taemin bersamaan.

“Hmm.. begini. Di pertunjukan itu aku akan menampilkan tarian dari lagu duet terkenal nyang berjudul Trouble Maker. Kalian pasti tahu lagu yang sangat booming di seantero Asia itu kan?”

Taemin dan Sungjong serempak mengangguk.

“Tentu saja kami tahu. Tarian itu dibawakan dengan sangat bagus oleh duet terseksi yang pernah kulihat!” tambah Taemin penuh semangat.

“Lalu apa hubungannya dengan kedatanganmu kemari?” tanya Sungjong.

“Aku ingin mencari partnerku di sini.”

“Kenapa kau mencari partner di sini? Memangnya di kampusmu tidak ada partner yang cocok?”

“ Aku tidak ingin melupakan jasa dari dance academy ini karena berkat dance academy ini aku bisa tembus ke Juilliard. Aku ingin menunjukkan pada orang-orang yang ada di kedutaan kalau dance academy ini mempunyai banyak orang-orang hebat. Boleh kan,Sungjong-ssi?”

Sungjong saling bertatapan dengan Taemin. Secercah keraguan hinggap di hatinya. Sebenarnya Sungjong tidak terlalu yakin, tapi entah kenapa ia menganggukkan kepalanya saat itu juga di hadapan Hyunseung.

Jinjjayo? Gomawoyo, Sungjong-ssi!” Hyunseung menyalami tangan Sungjong dan nyaris melompat kegirangan.

“Aku senang bisa membantu. Oh iya, bagaimana caramu memilih partner? Apakah kau memilih sendiri atau aku dan Taemin yang memilihkannya?”

“Izinkan aku memilihnya sendiri, ne?” tanya Hyunseung – atau lebih tepatnya meminta pada Sungjong.

“Baiklah. Kebetulan para trainee wanita baru saja habis latihan rutin dan mereka sekarang sedang istirahat di ruang latihan. Kau bisa mengaudisi mereka sekarang.”

“Sekalian kami bisa melihat cara mahasiswa Juilliard mengaudisi.” Taemin menambahkan.

“Oke!” Hyunseung langsung setuju. Mereka bertiga pun beranjak pergi ke ruang latihan para trainee wanita.

***

Annyeonghaseyo.” Hyunseung membungkuk hormat kepada semua orang yang ada di dalam ruang latihan. Yang ada di sana adalah 10 trainee wanita ditambah dengan satu orang instruktur yang juga wanita bernama Park Kahi. Tidak lupa di sana juga ada Sungjong dan Taemin yang mengawasi di bagian belakang ruangan.

Annyeonghaseyoooo.” Sahut semua yang ada di ruangan itu.

“Perkenalkan namaku Jang Hyunseung. Dulunya aku juga salah satu trainee di sini. Mungkin yang sebagian besar dari kalian sudah mengenalku.”

“Ne! Aku mengenalmu, sunbaenim!” Hyuna mengacungkan tangannya tinggi-tinggi dan mengatakannya dengan suara yang – kedengarannya – imut. Hyunseung nyengir, tidak jelas apa maksud dibalik cengirannya itu.

“Kurasa perkenalannya cukup. Kedatanganku ke sini adalah untuk memilih siapa yang akan menjadi partnerku di pertunjukan yang diadakan oleh Kedutaan Amerika Serikat di Korea Selatan. Pengajar di kampusku membebaskanku untuk memilih partner dari mana saja, termasuk dari luar Juilliard.”

Seisi ruang latihan langsung riuh mendengar pernyataan Hyunseung. Semuanya terlihat senang dan bersemangat, bahkan ada yang ber’yes-yes’ ria yaitu Hyuna.

“Tarian apa yang akan kau bawakan sampai-sampai kau membutuhkan partner wanita?” tanya instruktur Park Kahi.

“Aku akan membawakan tarian ‘Trouble Maker’. Sangat hits di sini, bukan?”

“Wow!” Instruktur Park Kahi terlihat senang. “Kebetulan aku pernah melatih mereka semua dengan lagu itu, Hyunseung-ssi!”

“Wah bagus sekali! Jadi mereka bisa langsung menari berdua denganku dengan memakai lagu itu, biar aku tahu siapa yang memiliki chemistry yang kuat. Kalau begitu kita mulai audisinya sekarang saja, bagaimana?”

“Okay!!” Instruktur Park Kahi mengacungkan jempolnya.  “Dimulai dari baris paling depan sebelah kanan… ya.. kau yang pertama, Min-ssi!”

“Ne!” wanita yang bernama Min itu pun berdiri dan berjalan ke arah Hyunseung. Mereka berdua langsung mengambil posisi masing-masing. Instruktur Park Kahi pun menyalakan CD player dan beberapa saat kemudian lagu Trouble Maker pun mengalun.

Hyunseung dan Min pun bergerak dan menari sesuai dengan irama. Gerakan Min dan Hyunseung boleh dibilang cukup apik dan serasi. Kurang lebih 3.40 menit mereka menari, selesailah sudah giliran Min dan dilanjutkan kembali oleh trainee yang lain.

***

Lee Sungjong’s POV

Aku memperhatikan Hyunseung dan para trainee-ku. Mereka menari dengan baik. Sesekali aku melihat ke arah Jinhee yang berada di barisan paling belakang, paling dekat jaraknya dengan aku dan Taemin. Ia terlihat memperhatikan dengan sungguh-sungguh bagaimana Hyunseung dan trainee yang lain menari.

Sajangnim, sebenarnya apa yang kau perhatikan? Jinhee atau tarian Hyunseung?” bisik Taemin tepat di depan telingaku, membuatku bergidik geli.

“Kalau sudah tahu kenapa bertanya?” tanyaku sedikit sewot. Taemin terkikik.

“Sejauh ini aku tidak melihat ada kepuasan di mata Hyunseung, padahal ia sudah menari dengan 8 trainee.” Vonis Taemin. Aku mengerucutkan bibirku, mencoba untuk setuju dengannya. Taemin pasti lebih tahu daripada aku karena ia seorang penari handal.

“Sekarang yang tersisa hanya Hyuna dan Jinhee. Menurut sajangnim, siapa yang akan cocok dan dipilih oleh Hyunseung?”

DEG!

Sebuah perasaan aneh menjalar di dadaku begitu mencerna pertanyaan Taemin. Yang tersisa sekarang hanya Hyuna dan Jinhee…. Bagaimana nanti kalau yang dipilih Hyunseung adalah Jinhee?

“Dance Trouble Maker itu sangat seksi dan lumayan menggairahkan.”

Aku menoleh cepat ke arah Taemin. Dia benar, dance Trouble Maker itu sangat seksi dan menggairahkan. Bagaimana nanti kalau partner yang dipilih Hyunseung adalah Jinhee? Nanti Jinhee akan melakukan dance seksi, lalu ia akan bertatapan dengan Hyunseung, lalu ia JATUH CINTA pada Hyunseung, lalu mereka pacaran.. lalu…

“NEXT! Kim Hyuna!!!”

Suara Kahi noona membuyarkan pikiranku yang mulai melantur. Aku menoleh ke arah Jinhee. Ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang gugup. Aku memberanikan diri untuk mendekat, siapa tahu aku bisa membuatnya sedikit lebih rileks. Sekalian aku ingin ngobrol dengan trainee kesayanganku – atau yang tercinta kata Taemin.

“Hai Jinhee – “ Sapaku dengan nada santai dan langsung duduk di sebelahnya. “Gugup?”

“Ne, sajangnim. Sedikit.” Jawabnya dengan wajah sedikit meringis. Lucu sekali.

Waeyo? Bukankah kau sudah pernah latihan gerakan lagu Trouble Maker?”

Jinhee terdiam menatapku dengan matanya yang kecil. “Memang. Tapi biasanya aku latihan seorang diri, tidak bersama partner pria. Aku takut melakukan kesalahan dan mempermalukamu.”

“Jadi kau gugup karena Hyunseung?” tanyaku datar. Rasa cemburu hinggap terlalu cepat di dadaku. Sial.

“Bu.. bukan begitu..” Jinhee mengibas-ngibaskan tangannya.

“Hyunseung keren dan tampan. Tubuh dan gerakannya juga bagus. Wajar saja kalau semua wanita suka bahkan tergila-gila melihatnya.”

Sajangnim cemburu pada Hyunseung?”

“Mwo?” aku menoleh cepat ke arah Jinhee. Ia tersenyum jahil ke arahku lalu melakukan mehrong. Aish.. yeoja ini kenapa mengusiliku?

“Aniyooo… Aku tidak cemburu. Kau ini bicara apa?”

Bingo! Kau bohong, Lee Sungjong!

“NEXT!! Park Jinhee!!!”

Teriakan Kahi Noona sukses membuatku terlonjak. Untung saat itu aku tidak sedang minum. Bisa-bisa aku tersedak lalu sesak nafas dan kejang-kejang.

Jinhee berdiri lalu mulai berjalan ke arah Hyunseung. Aku memperhatikan punggungnya yang mulai menjauhiku. Rasa khawatir yang sama tiba-tiba hinggap. Bagaimana kalau Hyunseung memilihnya? Bagaimana kalau mereka kebanyakan interaksi? Bagaimana kalau mereka saling menyukai dan jatuh cinta? Bagaimana kalau….

Sajangnim! Kau lihat tidak tadi penampilan Hyuna?”

Guncangan Taemin di bahuku sukses membuyarkan pikiranku – lagi. Aku lantas menggeleng karena memang tidak melihat penampilan Hyuna.

“Wah! Rugi sekali kau tidak melihatnya!”

“Memangnya kenapa?”

“Aku rasa ia yang cocok dipasangkan dengan Hyunseung. Gerakannya begitu….” Taemin meliuk-liukkan badannya seperti orang terangsang.

“Hmmm.. benarkah?”

“Benar lah! Masa aku bohong!” Taemin menepuk pundakku keras. Aku mengangguk-angguk malas.

“Meskipun kau mengatakan hal itu, aku tetap khawatir kalau ia akan memilih Jinhee. Kau dan aku kan sama-sama tahu kalau bagaimana pun Jinhee jauh lebih jenius dari Hyuna.”

“Benar juga sih. Ya sudah, kita lihat saja penampilan Jinhee!”

***

“WOW!”

Taemin bertepuk tangan dengan penuh semangat bersama dengan yang lainnya. Semua terpana dengan penampilan Jinhee – Hyunseung. Selain karena penampil terakhir, Jinhee juga sangat sempurna dalam menarikan Trouble Maker. Tidak berlebihan, tidak dibuat-buat, dan nyaman untuk dinikmati.

Tapi tidak untukku. Tidak. Sama sekali tidak. Aku benci ini. Aku benci!

Sajangnim, mereka hebat sekali! Aku yakin Hyunseung akan memilihnya.”

Aku mengangguk malas tanpa menoleh ke arah Taemin. Aku memang mengagumi perform mereka, tapi hatiku rasanya terlalu sakit.

“Professional sedikit, Sajangnim.” Bisik Taemin padaku saat Jinhee kembali ke posisinya – yaitu duduk di sebelahku. Aku pun menarik nafas dalam-dalam lalu memasang ekspresi senang seperti Taemin.

Sajangnim, bagaimana tadi penampilanku?” tanya Jinhee sambil mengelap keringat yang menetes di pelipisnya. Aku menyunggingkan senyum terbaikku dan mengacungkan kedua jempol di depan wajahku.

“Kau yang terbaik.” Pujiku tulus. Ya. Terbaik untukku.

“Terima kasih sajangnim.”

“Kau yakin Hyunseung akan memilihmu?”

“Tidak. Sama sekali tidak.”

Waeyo?” tanyaku dan kebetulan bersamaan dengan Taemin. Rupanya anak ini menguping.

“Aku tidak peduli apakah Hyunseung sunbaenim akan memilihku atau tidak. Yang paling penting untukku adalah menampilkan yang terbaik dan tidak mempermalukan sajangnim. Aku tidak mau dianggap trainee yang hanya membuang-buang waktu.” Jawab Jinhee panjang lebar. Ia tersenyum padaku setelah menyelesaikan jawabannya.

Aku mengangguk disertai dengan senyum puas yang mengembang di bibirku. Inilah yang membuatku memilih Jinhee sebagai trainee kesayangan atau bahasa lainnya yeoja – spesial – yang – kutaksir. Setiap kami aku memujinya atau siapapun selain aku, ia selalu mengatakan kalau ia hanya ingin berusaha memberikan yang terbaik. Jawaban itulah yang membuat aku menyukainya. Ia tidak gila dengan pujian.

“Hmmm.. baiklah. Kurasa aku sudah menemukan siapa partner yang cocok untukku nanti.”

Aku , Taemin, dan Jinhee serempak menoleh ke arah Hyunseung yang berada di depan. Wajahnya terlihat sumringah meskipun keringat membasahi seluruh wajahnya.

“Hyuna dan Jinhee, tolong maju dan berdiri di sebelahku.”

Jinhee menoleh heran ke arahku. Aku yang juga terkejut dengan ucapan Hyunseung hanya bisa mengangkat bahu. Aku pun menoleh ke arah Taemin yang hanya ia balas dengan mengangkat bahu juga.

Jinhee pun berdiri dan berjalan ke arah Hyunseung. Hyuna yang entah duduk di mana juga sedang berjalan ke arah Hyunseung. Raut wajah super senang sangat terlihat di wajah Hyuna. Ia sepertinya sangat – berlebihan – percaya diri sampai-sampai dagunya terangkat ketika berjalan.

“Sebenarnya ada dua orang kandidat yang kurasa cocok yaitu Hyuna dan Jinhee. Aku sangat bingung memilihnya. Oleh karena itu aku akan mempercayakan keputusan akhir pada Lee Sungjong sajangnim untuk memilihkan partnerku.”

Semua orang menoleh ke arahku.

Mwo? Aku? Aku???

“Taemin-ah, ottohkae?” bisikku panik. Taemin menepuk-nepuk pundakku pelan.

“Satu kata. PROFESSIONAL!”

Aku mengusap wajahku mendengar jawaban Taemin. Kalau aku memilih secara objektif, aku tentu memilih Jinhee karena aku tidak melihat penampilan Hyuna secara keseluruhan dan penampilan Jinhee juga sangat bagus. Tapi kalau secara subjektif, jelas aku akan memilih Hyuna karena aku tidak mau Jinhee dipegang-pegang oleh Hyunseung.

Aku cemburu. Sudah sangat jelas.

“Lee Sungjong sajangnim,dipersilakan untuk maju dan memberikan keputusannya. Mereka adalah traineemu, jadi kau yang kuanggap paling mengenal mereka.”

Aku menoleh lagi ke arah Taemin dan lagi-lagi ia membisikkan kata ‘PROFESSIONAL’. Aku berdecak pelan sambil berdiri dan berjalan ke arah Hyunseung. Aku berusaha memasang poker face andalanku agar tidak terlihat seperti orang yang bimbang karena kecemburuan.

“Baiklah, karena Hyunseung memintaku untuk memilih maka aku akan melakukannya.” Ucapku sesaat setelah berdiri di sebelah Hyunseung.

“Jadi, siapa yang akan sajangnim pilih?” Tanya Hyuna padaku. Kulihat ia menunjukkan aegyo padaku. Apa dia tidak tahu kalau aegyoku lebih hebat? Mau taruhan? Aishhh!! Kenapa aku malah memikirkan aegyo?

“Yang kupilih adalah….”

Jantungku benar-benar tidak teratur sekarang. Aku harus professional karena ini menyangkut nama baikku sebagai seorang CEO, tapi aku harus menjauhkan Jinhee dari Hyunseung sebelum Hyunseung menyukainya. Aku tidak mau kalau Hyunseung menaksir Jinhee. Tidak boleh!

Hyuna….. Jinhee…

Hyuna….. Jinhee …

Hyuna …. Jinhee….

Hyuna …. Jiinhee…. Hyuna… Jinhee… Hyuna… JinheeHyunaJinheeHyunaJinheeHyunaJinhee…

“Park Jinhee!”

Akhirnya, aku menyebutkan sebuah nama. Nama yang tidak boleh kusebutkan. Nama yang aku sendiri bahkan tidak merelakannya. Nama yang membuatku sakit kepala.

Semua orang yang ada di ruangan ini bertepuk tangan, kecuali Hyuna yang bertepuk tangan dengan malas. Aku bisa melihat ekspresi kekecewaan di wajahnya, tapi bukan itu yang kupedulikan sekarang. Aku melirik ke arah Jinhee dan ia ternyata juga sedang menatapku. Ia terlihat tidak percaya dengan apa yang kukatakan.

“Benarkah sajangnim memilihku?” tanyanya setengah berbisik. Aku mengangguk dan lagi-lagi memaksakan diri untuk tersenyum dengan ikhlas.

“Ne. Aku memilih berdasarkan apa yang kulihat.”

Hah! Lihat dirimu! Jawabanmu sok seperti BOS, Lee Sungjong!

“Pilihan yang sangat tepat,sajangnim!” Hyunseung terlihat sangat gembira.

Kau yang gembira, aku yang sakit hati!

***

Author’s POV

“Sampai jumpa besok, Jinhee-ya!”

“Ne. Sampai jumpa besok jam 8.”

“Bye!”

Hyunseung berjalan ke luar meninggalkan Jinhee ruang latihan. Hari ini adalah hari keenam Jinhee dan Hyunseung latihan untuk perform mereka di acara Kedutaan Besar Amerika Serikat, yang artinya besok mereka akan tampil di atas pentas. Setiap hari mereka berdua berlatih selama kurang lebih 4-5 jam sebelum Jinhee melakukan latihan rutin bersama dengan trainee lainnya.

Setiap hari mereka berdua latihan, setiap hari pula Sungjong mengawasi – atau lebih tepatnya mengintip mereka latihan dari jendela ruang latihan. Ketika Hyunseung keluar dari ruangan, Sungjong sudah kabur ke ruangannya terlebih dahulu agar ia tidak ketahuan kalau ia sedang mengintip. Tanpa Sungjong ketahui, sebenarnya Taemin selalu melihat ulah sepupu yang juga CEO-nya itu. Dan ia selalu tertawa geli ketika Sungjong panik mencari tempat persembunyian saat Hyunseung keluar ruang latihan.

Tinggallah Jinhee seorang diri di ruang latihan itu. Ia bersender di dinding kaca sambil meluruskan kakinya di lantai, meregangkan otot-ototnya yang kencang sekaligus memulihkan tenaganya yang cukup terkuras. Saat ia memejamkan mata, ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Jinhee pun membuka mata dan menemukan Hyuna di sana.

“Oh Hyuna?”

“Hai. Bagaimana latihannya?” sapa Hyuna ramah dengan dua tangan yang berada di belakang tubuhnya. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan kaki Jinhee.

“Hmm.. cukup mengasyikkan. Melelahkan juga.” jawab Jinhee pelan namun tetap tersenyum.

“Oooh begitu ya.” Hyuna mengangguk-angguk. “Kasihan. Pasti kau sangat lelah. Kebetulan aku membawakan sesuatu agar kau tidak kelelahan latihan lagi.”

“Oh ya? Apa yang kau bawa?” tanya Jinhee yang kembali bersemangat. Hyuna mengeluarkan sesuatu yang sedari tadi ia sembunyikan di balik tubuhnya.

“Tada! Ini dia agar kau tidak kelelahan lagi latihan bersama Hyunseung sunbaenim.”

Jinhee mengerutkan alis melihat benda yang dibawa oleh Hyuna. Benda itu tertutup kantong plastik hitam.

“Apa itu?”

“Kau mau tahu?” tanya Hyuna menggoda Jinhee. “Tutup matamu dulu.”

Dengan polosnya Jinhee menurut saja apa yang disuruh oleh Hyuna. Ia pun menutup matanya tanpa mengetahui seringaian licik yang muncul di bibir Hyuna.

[BUKK!!!!]

“AAAAAAAAAAAAA!!!!”

***

“Sampai jumpa besok, Jinhee-ya!”

“Ne. Sampai jumpa besok jam 8.”

“Bye!”

Sungjong menoleh ke kiri dan ke kanan dengan panik. Ia segera berlari menuju tiang terdekat untuk bersembunyi agar Hyunseung tidak melihatnya. 10 detik lamanya Sungjong menunggu di balik tiang lengkap dengan aksi menahan nafas.Setelah yakin Hyunseung sudah lewat, barulah Sungjong kembali bernafas dengan normal dan keluar dari persembunyiannya.

“Huft! Untung tidak ketahuan!” Sungjong mengelus dadanya. Ia lalu berjalan ke ruang latihan dengan niat untuk memberi semangat pada Jinhee. Ini sudah hari keenam dan tidak satu hari pun Sungjong menampakkan batang hidungnya di depan Jinhee. Yang ia lakukan hanya mengintip =___=.

Baru saja Sungjong ingin masuk ke ruang latihan, ia mendengar suara lain yang sedang berbicara dengan Jinhee. Kali ini Sungjong tidak mengintip, melainkan berdiri di balik pintu.

“Hyuna?” gumam Sungjong dengan alis berkerut. Sebenarnya ia bukan bingung melihat Hyuna, tapi lebih kepada sebuah benda yang berada disembunyikan Hyuna di belakang punggungnya.

Sungjong melipat kedua tangannya di dada, menunggu apa yang akan dilakukan Hyuna. Ia melihat Hyuna mengatakan sesuatu pada Jinhee , tidak begitu jelas karena suara Hyuna yang pelan.

BUKK!!!!

“AAAAAAAAAAAAA!!!!”

Mata Sungjong terbelalak melihat pemandangan yanga da di depannya. Selama beberapa detik ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, tapi kemudian ia berlari secepat kilat dan mendorong Hyuna dengan kekuatan penuh.

“Hyuna!!! Kau apakan Jinhee? Kenapa kau memukul kakinya?” Teriak Sungjong pada Hyuna yang terjengkang ke belakang. Kantong plastik yang ada di tangannya terlempar entah kemana, membuat bunyi bedebam yang cukup keras.

“Jinhee, kau tidak apa-apa?” tanya Sungjong panik. Ia memegangi bahu Jinhee agar tidak terjatuh menyentuh lantai.

“Sa… sakit…” Jinhee meringis. Air mata tak bisa ditahannya lagi. Api kemarahan Sungjong pun tersulut.

“Apa yang kau pukulkan tadi?”

Hyuna tidak menjawab. Ia hanya mengelus sikunya yang terbentur lantai.

“HYUNA!” Teriak Sungjong lagi. Hyuna menatap Sungjong seperti meminta belas kasihan, lalu ia menangis.

“I.. itu.. batu bata…”

“Mwo? Batu bata? Kau tahu, dengan batu bata itu kaki Jinhee bisa patah!!!” Sungjong semakin tak terkontrol. Alhasil suaranya menggema ke seluruh penjuru kantor, membuat orang-orang tertarik untuk melihat apa yang terjadi di ruang latihan. Hyunseung yang belum jauh pun ikut penasaran. Ia menerobos kerumunan orang-orang yang menonton sampai akhirnya ia berhasil masuk ke dalam ruang latihan.

“Apa yang terjadi?” Hyunseung mencoba bertanya pada Sungjong. Sungjong melirik sekilas padanya, kemudian menoleh lagi ke arah Hyuna dengan nafas tersengal akibat menahan marah.

Sajangnim, ada apa? Kenapa ribut-ribut?” Tanya Taemin yang entah kenapa bisa ada di sana juga.

“Dia ingin sekali berpasangan denganmu, Hyunseung. Sampai-sampai ia mencelakai teman trainee nya dengan memukul tulang keringnya dengan batu bata!!!”

Semua yang ada di sana terkejut. Suasana semakin memanas ketika Sungjong mendekati Hyuna dengan tatapan super tajam.

“Namamu dicoret sebagai trainee dan satu minggu lagi surat tanda kau keluar dari sini akan keluar!”

Suasana yang tadinya panas langsung berubah beku. Hyuna sangat syok mendengar keputusan Sungjong. Sorot matanya menyiratkan keberatan tapi di sisi lain ia juga merasa ketakutan.

Tanpa memedulikan Hyuna dan tatapan orang-orang yang ada di sana, Sungjong langsung menggendong Jinhee yang masih menangis. Kakinya yang dipukul Hyuna sekarang membentuk sebuah tonjolan besar.

“Tahan sedikit ya. Kita ke rumah sakit sekarang.” Bisik Sungjong lembut. Sangat berbeda dengan saat ia memarahi Hyuna tadi. Dengan langkah cepat Sungjong menerobos kerumunan yang ada di depan ruang latihan dan meninggalkan mereka semua dalam keadaan terpaku.

“Hyuna…” Hyunseung mengulurkan tangannya pada Hyuna. Senyum Hyuna mengembang. Ia pun menyambut uluran tangan Hyunseung dan mencoba untuk berdiri. Baru satu detik tangan Hyuna berjabat dengan Hyunseung, Hyunseung sudah melepaskan tangannya dan membuat Hyuna terjengkang untuk yang kedua kalinya.

“Ya! Kenapa kau lepas!” sungut Hyuna kesal. Hyunseung menyeringai tanpa terlihat menyesal.

“Aku hanya ingin berterima kasih.”

“Terima kasih?”

“Terima kasih…. Sudah mengacaukan pertunjukanku!”

Dengan raut wajah yang tak kalah kesalnya dengan Sungjong, Hyunseung mengambil tasnya yang ada di lantai dan bergegas pergi dari ruang latihan itu.

***

“Masih sakit?”

Jinhee menggeleng sembari tersenyum. “Sudah tidak lagi setelah di gips.”

Sungjong ikut tersenyum. Sedikit kelegaan terpancar di wajahnya – yang mana sejak ia menggendong Jinhee dari gedung perusahaannya sampai dokter memperbolehkannya masuk ke ruang Instalasi Gawat Darurat terus-terusan tegang. Ia lalu duduk di sebelah ranjang Jinhee.

Sajangnim tidak usah khawatir. Aku baik-baik saja.” ucap Jinhee lagi.

“Hmm..” Sungjong mengangguk. “Senang melihatmu baik-baik saja sekarang.”

“Terima kasih sudah mengantarku ke sini.”

“Sama-sama.”

Jinhee menunduk. Ia ingin meneruskan kata-katanya, tapi entah kenapa rasanya berat sekali untuk mengatakannya. Mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin ia katakan.

“Sajangnim…” panggil Jinhee, masih tetap menunduk.

Ne?”

“Aku  mengundurkan diri menjadi trainee.”

Mwo?” Sungjong terpekik. “Kenapa?”

Jinhee memberanikan diri untuk menatap Sungjong. Ia tahu matanya pasti berkaca-kaca sekarang, tapi bagaimana pun keadaan yang mengharuskannya mengambil keputusan seperti itu.

“Dokter bilang aku sudah tidak bisa menari lagi. Kakiku patah.”

***

Lee Sungjong’s POV

Aku terdiam mendengar alasan Jinhee. Ia benar, kakinya patah dan tentu saja dengan kondisi seperti itu ia sudah tidak bisa menari dengan baik lagi. Aku balas menatapnya dan ia sudah menangis meskipun tanpa suara.

“Aku bisa mengerti alasanmu meskipun sangat berat bagiku untuk mengatakan iya.”

“Kenapa berat? Sajangnim masih punya banyak trainee yang sangat berbakat. Kurasa tidak masalah kalau aku tidak ada.”

“Apanya yang tidak masalah? Tentu saja itu masalah! Kau itu trainee yang paling berbakat, Taemin pun mengakuinya dan juga kalau kau keluar aku…”

TIDAK BISA MELIHATMU LAGI SETIAP HARI

Kalimatku terhenti. Aku tidak bisa mengatakannya di hadapan Jinhee. Oh ayolah Lee Sungjong! Kenapa kau tidak bisa? Ini saat yang tepat tapi kenapa malah tidak bisa?

Oke. Aku akan mencoba mengatakannya lagi.

“Kalau kau keluar… aku..aku tidak bisa…”

“Jinhee?”

Aku dan Jinhee spontan menoleh ke sumber suara. Kulihat Hyunseung yang setengah berlari menghampiri kami.

“Hai.. Bagaimana keadaanmu?”

Apa-apaan ini? Kenapa Hyunseung rela berlarian ke rumah sakit demi menemui Jinhee? Apa dia kuatir pada Jinhee? Apa dia sudah mulai jatuh cinta pada Jinhee? Apa dia…

“Aku baik-baik saja, sunbae. Hanya saja aku tidak bisa menjadi partnermu besok. Maafkan aku.”

Jinhee lagi-lagi menunduk. Air matanya mengalir lagi. Aku bersumpah aku tidak suka melihatnya seperti ini. Sampai kapan ia akan terus merasa bersalah padahal kejadian itu murni karena kesalahan Hyuna?

“Tidak apa-apa, Jinhee-ah. Ini bukan salahmu dan tidak ada yang menyalahkanmu.” Hyunseung mencoba menenangkan Jinhee dengan mencoba menepuk bahunya, tapi sayang gerakan Hyunseung kalah cepat dari gerakanku. Aku terlebih dahulu merangkul Jinhee. Aku bermaksud menenangkannya DAN menjauhkannya dari tangan  Hyunseung.

“Benar Jinhee. Tidak ada yang menyalahkanmu.” Ucapku sambil melirik ke arah Hyunseung. Hyunseung mengulum senyumnya. Apa maksudnya tersenyum seperti itu?

“Kau lihat Jinhee, bahkan sajangnim saja sampai merangkulmu begitu. Itu artinya dia sayang padamu.”

Mwo??” aku melotot ke arah Hyunseung, dan sepertinya Jinhee juga begitu. Kenapa… kenapa Hyunseung tahu?

“Sudahlah sajangnim, Taemin sudah menceritakan semuanya padaku.” Hyunseung mengibaskan tangannya sambil tertawa. Aku mendengus pelan mendengar nama Taemin. Ternyata anak itu seperti ember bocor.

“Jinhee, kalau kau mendapat perlakuan kasar seperti yang sering dilakukan Hyuna, seharusnya kau mengadukannya pada pria yang sedang asik merangkulmu itu.”

Pria yang merangkul Jinhee? Siapa? Siapa yang… oh.. aku?

Aku menatap ke arah Jinhee dan Jinhee pun juga menatapku. Aku baru sadar ternyata tanganku masih merangkul Jinhee dengan erat. Aku pun langsung melepaskannya dengan wajah dalam keadaan panas. Pasti wajahku sudah merah sekarang!

“Tunggu.. apa yang kau maksud dengan perlakuan kasar?” tanyaku pada Hyunseung – untuk mengalihkan perhatian agar suasana tidak terasa canggung.

“Seperti yang sudah kukatakan, Taemin menceritakan semuanya padaku. Selain mengatakan kalau sajangnim menyukai Jinhee, Taemin juga bercerita kalau ia pernah sekali melihat Hyuna mendorong Jinhee di ruang latihan sampai ia jatuh terjengkang.”

Sajangnim menyukaiku?”

“Hyuna mendorongmu sampai jatuh terjengkang?”

***

Author’s POV

Sajangnim menyukaiku?”

“Hyuna mendorongmu sampai jatuh terjengkang?”

Suara Sungjong dan Jinhee yang bertabrakan membuat Hyunseung yang melihatnya geleng-geleng kepala.

“Kalian ini! Kalau bertanya itu gantian, jangan bersamaan seperti itu! Sekarang angkat tangan siapa yang ingin bertanya lebih dulu!

Sungjong mengangkat tangan kanannya dengan satu gerakan cepat.

“Silakan sajangnim.” Hyunseung mempersilakan Sungjong untuk bertanya.

“Kenapa aku sampai tidak tahu kalau Hyuna pernah berbuat kasar padamu?” tanya Sungjong tanpa basa-basi. Jinhee menggigit bibirnya dan mengira kalau Sungjong akan marah padanya.

“Kurasa.. itu bukan hal yang perlu dipermasalahkan.”

Sungjong menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tentu saja itu masalah! Seorang trainee dari perusahaanku melukai trainee yang lainnya, bagaimana mungkin aku bisa tidak tahu dan membiarkan hal itu terjadi?”

“Mi.. mianhae..” Jinhee menunduk semakin dalam. “Tapi aku sudah bukan trainee mu lagi dan aku juga tidak terluka, jadi tidak usah dipermasalahkan.”

Sungjong terdiam. Apa yang dikatakan Jinhee memang benar adanya, sekarang ia sudah bukan trainee di perusahaan Sungjong sejak kakinya tidak bisa digunakan untuk menari lagi.

“Kau benar. Kau sudah bukan trainee. Tapi naluriku untuk melindungimu masih ada. Bagaimana kalau suatu saat Hyuna atau siapapun melukaimu lagi di luar sana? Aku tentu saja tidak akan bisa tidur dengan tenang.”

“Karena sajangnim menyukaiku?”

Kali ini Sungjong sedikit terhenyak mendengar pertanyaan Jinhee. Ia ingin mengelak, tapi sisi terdalam dari hatinya menyuruhnya untuk berkata jujur. Toh semua sudah dibongkar oleh Hyunseung, jadi rasanya percuma kalau ia menyembunyikannya sekarang.

“Ne. Aku menyukaimu…. sejak lama.”

Jinhee tiba-tiba tersenyum. Bukan hanya senyum, ia bahkan memamerkan deretan giginya yang putih.

“Terima kasih sajangnim sudah menyukaiku.”

“Ya Park Jinhee! Yang dia inginkan bukan ucapan terima kasih, tapi sebuah pernyataan apakah kau menyukainya juga atau tidak!” omel Hyunseung pada Jinhee.

Jinhee menatap Sungjong lekat-lekat tanpa menghiraukan omelan Hyunseung. “Hmmm.. sajangnim tidak memiliki hal yang tidak kusukai. Aku sudah menyukainya sejak awal aku masuk, tapi aku hanya ingin bersikap tahu diri karena aku hanya seorang trainee.”

Memang benar Jinhee menatap Sungjong, tapi sebenarnya ia ingin menjawab pertanyaan Hyunseung. Sungjong balik menatap Jinhee dalam-dalam untuk meyakinkan hati kalau Jinhee mengatakan kalimat itu untuknya. Setelah beberapa saat meyakinkan diri, Sungjong mengusap lembut rambut Jinhee.

“Sebenarnya aku bersyukur kau tidak jadi tampil bersama Hyunseung.”

“Wah sajangnim, kenapa begitu? Kau tidak kasihan padaku?” hyunseung langsung protes, tapi Sungjong tidak menghiraukannya dan masih fokus membelai rambut Jinhee.

“Kalau kau jadi tampil bersama Hyunseung, entah berapa lama lagi aku harus sesak nafas menahan cemburu gara-gara tarian trouble maker itu.”

Sajangnim!” Hyunseung menghentakkan kakinya. “Besok aku tampil dengan siapa? Aku tidak mau dengan Hyuna!”

Sungjong melirik kesal ke arah Hyunseung yang sekarang dianggapnya sebagai ‘pengganggu’.

“Besok kau tampil bersamaku!”

“Mwo????”

“Kau tidak tahu kalau aku mahir menarikan trouble maker?”

Sungjong akhirnya berhenti ‘memfokuskan’ diri pada Jinhee dan menghampiri Hyunseung.

“Mau coba?”

Hyunseung tersenyum nyinyir sambil melangkah mundur.

“Tidak! Terima kasih!”

== END ==

 

Fyuuh.. akhirnya yang Sungjong’s Story selesai juga. Gimana FFnya? Nyambung nggak sama judulnya? .—-. Mohon RCL nya dengan sangat yah ^_^

Bonus pict, Uri Maknae Lee Sungjong ^O^

44 responses to “Confessions – Sungjong: Protect The Dance Prodigy

  1. loh? loh? jadi jinhee juga suka sama sungjong? :3
    kya kyaa~ sungjong unyuu banget di sini. cemburu-nya imuutt.
    mendadak dia jadi super lovable *pdhl emang udah lovable sejak dia gendong-gendong anjing di birth of family*
    duh, confessions ini meskipun bisa ketebak tapi aku tetep ngerasa penasaran.
    senyum2 sendiri bacanya XD apalagi punya dongwoo. hyaaa *peluk cium author*

  2. cie2 sungjong jd CEO,..
    ah mukany gk cocok, muka lawak mah,..
    kkkkk,.. /plak/
    aduh, jd si jinhee gk bsa nari lgi? sedih nih dengerny,..
    hyunany jahat ya,.. 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s