Teenager Love Story – Chapter 8


Tittle:

Teenager Love Story

Author:

EnnyHtm

Rating:

General

Lenght:

Chaptered

Genre:

Romance, Friendship, Family

Cast:

Lee Jieun, Bae Sujie, Choi Jinri, Lee Taemin, Choi Minho, Jo Kwangmin, No Minwoo

Previous

Copyright © EnnyHtm fanfiction 2012

~ooOoo~

Sujie tidak tahu kenapa Jieun buru-buru sekali keluar dari kelas, ia tidak terlalu peduli saat ini. Dua pelajaran tadi sebenarnya hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri saja bagi Sujie. Ia penasaran dengan isi amplop coklat misterius yang ada di laci mejanya saat ini.

Segera, Sujie menarik amplop itu dan mengambil isinya dengan sekali tarikan tangan. Seketika matanya membulat melihat beberapa foto di amplop coklat itu. Dilihatkan di foto ini, Choi Minho dengan seorang gadis.

Foto yang berada paling depan mengabadikan kalau Minho merangkul pundak gadis itu dan gadis itu menyandarkan kepalanya pada Minho. Gadis itu tersenyum, namun Minho tidak melirik ke arah lain.

Di balikknya lagi foto-foto itu, foto kedua memperlihatkan—dengan pakaian yang sama namun berbeda latar belakang—gadis itu tengah melayangkan tinju ke pundak Minho. Kali ini Minho tertawa. Wajahnya menengadah ke atas, mulutnya terbuka sedangkan matanya terpejam. Sujie tidak pernah melihat Minho tertawa lepas seperti ini.

Dengan perasaan kesal, Sujie berdiri—membuat suara berisik karena suara gesekan kaki kursi dengan lantai. Ia sama sekali tak menghiraukan Jinri dan orang lain yang bertanya ‘ada apa’ dengannya. Dia hanya ingin menemui Choi Minho, meminta penjelasan dari laki-laki itu.

Oppa, apa maksudnya ini?” tanya Sujie sembari menyerahkan amplop coklat itu pada Minho yang sudah berdiri di ambang pintu kelas.

Alis Minho hanya mengernyit heran melihat wajah Sujie yang memerah akibat menahan kekesalan. Kemudian ia menatap amplop coklat yang baru saja di berikan oleh Sujie dengan sama bingungnya. Lalu, ia mengambil isi di dalam amplop coklat itu.

Seketika matanya membulat. “Siapa yang memberikan ini?” tanyanya panik pada Sujie.

“Siapa gadis itu?” tanya Sujie balik. Dia tak memperdulikan pertanyaan Minho barusan. Dia juga tak memperdulikan orang-orang yang tengah melihat mereka sembari berbisik-bisik. Kemudian ia menghela nafas, dadanya terasa sesak saat ini. Matanya pun mulai terasa panas, tapi ia tak ingin terlihat lemah di depan Minho. “Choi Minho,” ucapannya menyela mulut Minho yang hendak terbuka. Ia menetapkan hatinya kali ini. “Ayo kita putus.”

Pertanyaan yang baru saja Sujie ucapkan membuat bisikan di sekitar mereka semakin bising. Seperti suara sekumpulan lebah.

Lagi-lagi Minho hanya memasang wajah tanpa ekspresi, benar-benar membuat Sujie ingin menangis. Bagaimana bisa Minho memasang wajah seperti itu? sebenarnya, sekarang Sujie ingin sekali Minho menyangkalnya dan mengatakan ‘beri aku kesempatan’ atau apapun itu yang bisa membuat Sujie menarik kata-katanya. Tapi, kenapa hanya topeng yang di perlihatkan wajah Minho?

“Kau tidak mau mendengarkan penjelasanku?” tanya Minho sembari menatap mata Sujie yang mulai memerah menahan tangis.

Sujie mengerjapkan matanya, menahan bulir-bulir air di pelupuk matanya turun ke pipinya. “Baiklah, aku akan dengarkan.” Sahutnya pura-pura tak peduli. Padahal, Sujie ingin sekali mendengar penjelasan Minho tentang foto-foto itu.

“Ayo,” kemudian Minho menarik tangan Sujie untuk pergi. Membuat tangan Sujie yang tadinya bergetar menjadi lebih tenang karena merasakan kehangatan yang menyurup dari tangan telapak tangan Minho.

Minho mengajak Sujie ke tangga di bagian utara gedung sekolah. Hanya tempat itu yang biasanya sepi dari lalu lalang murid dan guru saat jam istirahat. “Kau percaya pada foto-foto ini?” tanya Minho sembari mengibaskan amplop coklat di depan dadanya.

“Ya,” jawab Sujie sembari melepas genggaman tangan Minho. “Sama sekali tidak terlihat seperti rekayasa, bukan?” tanya Sujie balik. Ia terlihat seperti menantang dengan kepala yang di tegakkan.

Minho hanya mendecak kesal mendengar pertanyaan Sujie. Kemudian menghela nafas sebelum berbicara. “Dia adikku,” ujarnya.

“Apa?” pekik Sujie tertahan. Dia tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.

“Masih tidak percaya? Pulang sekolah kau ingin bertemu dengannya?”

Sujie meneguk air liurnya yang terasa mengganjal di tenggorokkannya. Kalau gadis di foto itu memang adiknya, maka barusan dia telah salah paham. Kemudian Sujie mengangguk, menjawab pertanyaan Minho, dengan pandangannya yang lekat menatap mata Minho.

“Jadi, kau tetap ingin kita putus?” tanya Minho seraya terkekeh dan mengelus puncak kepala Sujie lembut.

Sujie menggeleng kemudian tangisnya pecah merasakan tangan lembut Minho membelai puncak kepalanya. Kemudian Minho menarik Sujie dalam pelukannya, membiarkan Sujie menangis di dada bidangnya.

“Maaf aku tidak percaya padamu,” ujar Sujie di sela-sela tangisnya.

Minho hanya mengelus rambut panjang Sujie tanpa menjawab apapun. Matanya menatap tajam amplop coklat yang masih di genggamnya.

¯

Dengan bersusah payah, Minwoo melangkah menuju perpustakaan di lantai dua di bagian timur gedung sekolah. Sesekali ia membenarkan letak tumpukan buku tebal yang ia bawa.

“Hong Saem benar-benar menyebalkan,” umpatnya sembari terus melangkah.

“Mau kubantu?” tawar Jinri dan membuat langkah Minwoo terhenti. Tanpa menunggu jawaban dari Minwoo, Jinri segera mengambil beberapa buku tebal yang di bawa oleh Minwoo. “Ke perpustakaan? Aku juga ingin ke sana.” Kemudian ia melangkah melewati Minwoo yang masih mematung di tempatnya.

Setelah mengerjapkan mata, Minwoo mengendikkan bahunya dengan cuek kemudian melangkah jauh di belakang Jinri. Dia heran—yah, dia tahu memang Jinri orang yang baik. Tapi yang ia tahu, ketiga orang itu, Jinri, Jieun dan Sujie bukanlah orang akan belajar di perpustakaan. Bahkan sudah hampir dua tahun mereka bertiga bersekolah di sini, mereka hanya tiga atau empat kali datang, itu juga untuk memijam buku. Mereka biasa belajar di rumah, bukan di perpustakaan.

Jinri memang gadis yang baik, tapi entah kenapa Minwoo belum bisa merubah hatinya dari Jieun. Ia memang kecewa dengan reaksi Jieun yang jelas-jelas menolak rasa suka Minwoo, tapi ia juga tidak bisa menyalahkan Jieun juga. Jinri menyukai Minwoo sudah lama sekali, dan Jieun adalah sahabat Jinri. Jelas saja kalau Jieun sangat menjaga perasaan Jinri.

Begitu sampai di perpustakaan, Jinri menaruh buku-buku itu di atas meja di samping konter di mana pustakawati yang menjaga perpustakaan berada. Jinri berbicara sebentar dengan pustakawati itu kemudian ia menunjuk Minwoo yang masih berjalan menuju konter ketika pustakawati itu bertanya buku yang dibawanya sedikit sekali.

“Terima kasih. Kalian baik sekali mau membawakan buku-buku ini kemari,” kata pustakawati itu ramah sambil memasang senyum termanisnya ketika Minwoo meletakkan sisa buku yang ia bawa.

Jinri hanya memutar bola matanya membalas perkataan pustakawati itu. Pasalnya saat tadi pustakawati itu hanya menjawab singkat dan seadanya, matanya pun tak berpaling dari layar komputer di depannya saat menjawab.

Gomawo,” ucap Minwoo saat Jinri hendak berbalik.

“Mm,” sahut Jinri singkat sembari menganggukkan kepalanya kemudian membalikkan badan dan menempati kursi kosong di pojok perpustakaan.

Minwoo merasa bahwa Jinri menghindarinya. Tidak langsung mungkin, tapi ia merasa kalau perlahan-lahan Jinri menjauhinya. Apa Jinri membencinya atau Jinri ingin melupakannya? Ia sendiri tahu rasanya mengetahui orang yang disukai namun orang itu menyukai orang lain. Jadi, sudah pasti Jinri merasakan sakit. Bahkan lebih sakit dari yang ia rasakan karena orang yang disukai Jinri menyukai sahabatnya sendiri.

¯

Seperti biasa, ketika Jinri menginjakkan kakinya di halaman depan rumahnya, ia selalu di sambut oleh angin kosong. Rumahnya selalu sepi. Orangtuanya selalu bekerja walaupun mereka tak akan kelaparan kalau satu hari saja tak bekerja.

Workaholic. Kata itu yang selalu ia katakan begitu tiba di rumah dan mendapati tak ada siapapun di dalam.

“Aku pulang,” ucapnya pelan ketika membuka pintu rumah. Walaupun ia tahu tak akan ada yang menjawabnya, tapi itu sudah kebiasaannya dari kecil.

Dengan malas, ia membuka sepatu kemudian langsung menuju tangga di ruang tengah untuk menuju kamarnya di lantai dua. Tanpa diduganya, ada suara-suara dari arah dapur. Ia berhenti melangkah dan menatap was-was ke arah dapur. Pencuri? Pikirnya.

Kemudian ia melangkah dengan hati-hati menuju dapur, namun suasana asing terlihat jelas di pandangannya. Ibunya tengah menaruh piring-piring berisi makanan di meja makan sedangkan Ayahnya duduk di kursi yang biasanya kosong di meja makan. Tak ada obrolan di antara mereka berdua, namun itu membuat Jinri ingin menangis. Sudah lama sekali ia tidak melihat kedua orangtuanya di meja makan seperti sekarang ini.

“Kau sudah pulang?”

Jinri tersentak dari lamunannya karena Ibunya berbicara. Ia melihat Ibu dan Ayahnya tengah menatapnya hangat. Tatapan dari orangtua yang sudah lama ia rindukan. Kemudian ia mengangguk kaku menanggapi pertanyaan Ibunya.

Senyum Ibunya pun merekah. Kemudian ia melepaskan celemek yang tadi ia pakai saat memasak kemudian mencuci piringnya. “Cepat mandi, kami tunggu untuk makan malam,” kata Ibunya saat mencuci tangannya sembari menolehkan kepalanya untuk melihat Jinri.

Jinri mengangguk dengan kaku lagi.

“Kenapa telat sekali pulangnya?” tanya Ayahnya yang sedari tadi terdiam kemudian mendapatkan tatapan membunuh dari Ibunya yang sudah selesai mencuci dan mengeringkan tangannya.

“Cepat mandi,” timpal Ibunya sembari menarik kursi. “Amma sudah lapar sekali.”

Jinri pun mengikuti perintah Ibunya dan bergegas menaiki tangga menuju kamarnya. Begitu menutup pintu kamarnya, ia tak segera beranjak dari tempatnya. Ia menyandar pada pintu sembari tersenyum. Senyum yang sudah lama sekali tak terlihat di wajahnya.

Ia sangat senang membayangkan akan makan malam bersama orangtuanya.

Tanpa membuang waktu lagi, Jinri pun segera melesat masuk ke kamar mandi yang terletak di samping kamarnya. Setelah selesai dan memakai pakaian rumah, ia bergegas turun ke bawah.

“Sudah lama sekali kita tidak makan malam bersama,” keluh Ibunya begitu Jinri duduk di kursinya.

Jinri tersenyum lagi melihat tingkah Ibu dan Ayahnya yang tidak lagi saling berdiam diri. Ia sedih mengingat saat Ibu dan Ayahnya pulang beberapa hari yang lalu, mereka pulang tidak membawa kabar baik melainkan kabar buruk. Mereka berencana untuk bercerai.

Cepat-cepat ia mengibas segala ingatan itu dari kepalanya. Itu hanya rencana bukan sungguhan. Sekarang semua sudah baik-baik saja seperti dulu.

“Bagaimana sekolahmu?” Ayahnya membuka percakapan.

Mendengar suara Ayahnya, Jinri menelan makanannya kemudian mendongak. “Baik-baik saja, Appa,” jawabnya. “Hanya sedikit masalah pelajaran yang perlu menghafal.”

Ayahnya kemudian menjawab dan mulai memberi nasihat untuk Jinri. Ini yang sebenarnya ia inginkan. Pertanyaan keadaannya di sekolah dan diberikan nasihat oleh Ayahnya. Ia ingin seperti teman-teman lainnya yang selalu diperhatikan oleh orang tuanya.

Setelah hening beberapa saat dan hanya terdengar suara dentingan sendok dan sumpit yang beradu dengan piring, Ayahnya kembali membuka suara.

“Jinri-ya,” panggil Ayahnya dan membuat Jinri mengangkat kepalanya lagi dari piring. “Sebernarnya kami kemari hanya ingin bertanya.” Katanya kemudian berdeham.

Ibu Jinri segera memalingkan wajahnya dengan cemas sedangkan Jinri hanya menatap Ayahnya tak paham.

“Jinri-ya, kau ada kekasih?” tanya Ibunya berusaha untuk mengalihkan perhatian.

Jinri tahu ada yang disembunyikan oleh mereka berdua, jadi ia lebih memilih mengabaikan pertanyaan Ibunya dan menatap Ayahnya tajam. “Apa?” tanyanya. Nada suaranya sudah berubah dingin. Perasaannya tidak enak. Tidak hanya Ibunya yang merasa atmosfer di ruang makan mulai terasa tak mengenakkan, Jinri dan Ayahnya juga merasakan. “Tanya apa?” ulangnya karena tak kunjung dijawab oleh Ayahnya.

“Habiskan makananmu dulu, Nak,” perintah Ibunya. Nada suaranya berubah menjadi tegas. Kesan lemah lembut dan ceria Ibunya hanya mampu bertahan beberapa jam. Bahkan ia melihat rahang Ayahnya mengeras yang menandakan Ayahnya sudah kembali seperti beberapa hari yang lalu.

Kini orangtuanya sudah terasa asing lagi dengan topeng dingin yang lagi-lagi mereka pakai. Jinri hanya bisa menghela nafas kesal kemudian mulai menyendok makanan di piringnya yang baru setengah ia makan.

“Jadi,” tanya Jinri begitu makan malam selesai. Ibunya tengah mencuci alat makan sehabis makan malam, sedangkan ia dan Ayahnya teteap duduk di kursi yang sama saat makan malam berlangsung. “Apa yang mau Appa tanyakan?”

“Kami sudah bercerai.”

Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan. Pernyataan yang mengandung tiga kata namun sukses membuat tubuh Jinri lumpuh. Membuat harapannya tentang memiliki keluarga yang bahagia musnah. Membuat matanya memerah akibat menahan air mata di pelupuk matanya agar tidak turun membasahi pipinya.

Ibu Jinri hanya menghela nafas berat begitu mendengar ucapan suaminya. Air matanya juga tertahan di pelupuk matanya. Ia enggan untuk membalikkan tubuhnya. Pasti akan menyakiitkan melihat reaksi anaknya setelah mendengar ucapan suaminya.

Kemudian Ayah Jinri berdeham lagi, berusaha menghilangnya sesuatu di tenggorokannya yang membuat tergorokannya terasa tercekat. “Appa ingin bertanya padamu,” ia melanjutkan walaupun melihat mata Jinri yang sudah merah. “Kau mau ikut dengan Appa atau Amma?”

“Pertanyaan bodoh,” gumam Jinri sembari tertawa sakartis. “Aku ingin dengar alasan kalian bercerai.” Tuntutnya dengan suara yang tercekat. Sulit sekali untuk bicara ketika ia tengah menahan air matanya.

“Kami terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan masing-masing,” jawab Ayahnya cepat.

“Itu sama sekali bukan alasan masuk akal!” seru Jinri sembari berdiri dan menggebrak meja. Air matanya sudah mulai membasahi pipinya. Ia tahu sikapnya tadi sama sekali tidak sopan, tapi ia tidak peduli.

“Jinri, jaga sikapmu!” tegur Ibunya yang sudah membalikkan wajahnya. Matanya tampak merah namun tidak ada air mata yang membasahi pipinya.

Jinri berpaling menatap Ibunya dengan geram. “Terserah! Aku tidak mau tinggal dengan salah satu dari kalian. Tinggalkan aku sendiri di rumah ini!” teriak Jinri sembari menggebrak meja sekali lagi kemudian berbalik meninggalkan ruang makan dengan wajah yang basah oleh air mata.

“Choi Jinri!” panggil Ibunya begitu melihat sikap anaknya yang kurang sopan, atau bisa dibilang sama sekali tidak sopan. Namun—mantan—suaminya menahannya.

“Biarkan dia sendiri dulu,” kata Ayah Jinri tenang. Tenang hanya terdengar dari suaranya. Perasaannya sama sekali tidak tenang. Ia merasa bersalah pada anak dan—mantan—istrinya karena tidak bisa menjadi kepala keluarga yang baik.

“Bagaimana bisa kau setenang ini?” tanya Ibu Jinri sakartis pada mantan suaminya. “Setidaknya katakan ini tunggu sampai ia dewasa. Satu tahun lagi.”

Ayah Jinri hanya bisa menghela nafas berat. “Aku tidak punya pilihan. Ini lebih baik daripada nanti ia mengetahuinya dari orang lain,” sahutnya. “Oh ya, jangan masuk ke kamarnya sampai ia benar-benar sudah lebih baik.”

Ibu Jinri hanya mengangguk mengerti lalu ia teringat perkataan Jinri tadi. “Lalu bagaimana?” tanyanya. “Dia tidak ingin tinggal denganku ataupun denganmu.” Lanjutnya menjelaskan pertanyaan begitu melihat ekpresi bingung di wajah Ayah Jinri.

“Oh,” sahutnya. “Biarkan dia tinggal di sini sementara. Mungkin suatu saat nanti ia ingin tinggal denganku atau denganmu. Dan, akan kusuruh Bibi Kwon mengurus rumah ini dan Jinri.”

¯

Langkah Kwangmin terhenti begitu mendengar alunan lagu yang dinyanyikan secara akustik di dalam ruang musik. Suara yang lembut dengan permainan gitar yang sangat menarik. Ia melihat pintu ruang musik yang terbuka dan mendapati seorang gadis duduk membelakanginya tengah bernyanyi sembari bermain gitar secara akustik.

Lee Jieun. Dengan mudah Kwangmin menebak siapa gadis yang duduk membelakanginya itu. Gadis itu sudah berhari-hari muncul di mimpinya dan melayang-layang di benaknya.

Begitu Jieun menyelesaikan lagunya, Kwangmin bertepuk tangan sembari melangkah mendekat. “Suaramu bagus sekali.” Puji Kwangmin. Itu benar, suara Jieun benar-benar indah.

Jieun memutar tubuhnya dan mendapati Kwangmin berdiri tidak jauh di belakangnya. Kemudian ia ikut tersenyum melihat senyum yang menghiasi wajah Kwangmin. Sulit sekali mengabaikan senyum di wajah sempurna Kwangmin.

Gomawoyo, Sunbae,” ucap Jieun sembari menundukkan kepalanya kemudian ia berdiri. “Kau mau pulang?” tanyanya begitu melihat tas yang menempel di pundak Kwangmin.

Kwangmin mengangguk. “Kau sendiri? Kenapa masih di sini?”

Jieun mengendikkan bahunya kemudian berdiri dan menaruh gitar yang tadi dipangkunya di tempat semula. “Aku menunggu Sujie yang masih di klub tari,” jawabnya tanpa melihat ke arah Kwangmin. Ia membungkuk sebentar untuk mengambil tasnya yang ia taruh di lantai di samping kaki piano.

“Kalau begitu, kau temani aku ambil pesanan sepatu Ibuku di butik.” Kata Kwangmin sembari menarik pergelangan tangan Jieun.

Ya, Sunbae!” pekik Jieun kaget mendapat perlakuan Kwangmin yang tiba-tiba menarik pergelangan tangannya. Namun Kwangmin tidak memerdulikan pekikkan kaget Jieun dan terus menarik pergelangan tangan Jieun sampai mereka tiba di parkiran sekolah.

Tetapi, ketika Jieun di panggil oleh Minwoo, mereka berhenti namun Kwangmin tidak melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan Jieun.

“Ada apa?” tanya Jieun santai. Dia tidak menyadari Kwangmin yang menatap Minwoo dengan tajam ataupun Minwoo yang menatap tangannya yang masih digenggam oleh Kwangmin dengan tatapan yang tidak bisa digambarkan. Terkejut, sedih, kecewa, dan heran. Bukankah Jieun berpacaran dengan Taemin Sunbae? pikir Minwoo.

“Minwoo?” ucap Jieun lagi sembari mengibaskan tangan kanannya yang bebas di depan wajah Minwoo.

“Eh? Anu, kau lihat Jinri?” tanya Minwoo begitu kesadarannya kembali.

“Jinri?” tanya Jieun. Di benaknya, ada sebuncah kegembiraan karena akhirnya Minwoo mulai dekat dengan Jinri. Kemarin ia melihat Minwoo sedang bersama Jinri di perpustakaan. Berarti memang hari ini harinya. Senang mengetahui adanya kemajuan dengan Minwoo dan Jinri dan entah kenapa juga senang karena Minho dan Sujie tidak jadi putus atau karena ia masih bisa berdekatan dengan Taemin. “Hari ini dia tidak masuk sekolah.” Lanjutnya.

Mwo?”

“Absennya hari ini tidak ada yang tahu alasannya. Sebenarnya aku ingin menjenguknya bersama Sujie, tapi…” Jieun tidak meneruskan perkataannya dan ia melirik sekilas ke arah Kwangmin dengan ekor matanya. “Yah, kurasa ia sakit. Tolong jenguk dia, ya!”

Setelah menepuk bahu Minwoo pelan, kini Jieun yang menarik tangan Kwangmin. Well, sebenarnya ia tidak menarik tangan Kwangmin karena Kwangmin masih menggenggam pergelangan tangannya. Jadi ia hanya berjalan di depan sedangkan Kwangmin di belakangnya dengan bergenggaman tangan.

Kwangmin tersenyum melihat Jieun yang berjalan di depannya sedangkan Jieun tersenyum membayangkan Minwoo akan menjenguk Jinri. Mereka sama-sama tersenyum namun senyum itu berbeda arti dan pikiran.

¯

Setelah mengambil pesanan sepatu milik Ibu Kwangmin, Kwangmin membawa motornya menuju kafe di yang sering ia datangi untuk membeli kopi atau makanan kecil.

Jieun menyeruput kopi panasnya kemudian rasa panas dari kopi tersebut menjalar ke tubuh Jieun. Membuat tubuhnya yang terasa dingin menjadi lebih hangat. Ia menoleh ke luar jendela besar di samping kirinya.

Hujan deras masih mengguyur kota. Bahkan baru saja berita di televisi di kafe ini mengatakan hujan deras yang disertakan angin kencang akan berlangsung selama semalaman. Dia dan Kwangmin terjebak di sini.

Jieun menghembuskan nafas dan ada asap yang mengepul dari mulut dan hidungnya. Padahal ia sekarang berada di ruangan yang bisa di bilang cukup hangat dengan pemanas, namun ia tetap merasa dingin. Payah. Tubuhnya tidak bisa diajak kompromi.

“Dingin?” tanya Kwangmin melihat Jieun yang terus mengusapkan kedua telapak tangannya. Jieun hanya mengangguk acuh tak acuh sambil tetap mengusap kedua telapak tangannya. “Mau pakai jas seragamku?”

Jieun cepat-cepat menggeleng. “Tidak perlu, Sunbae. Aku baik-baik saja,” tolaknya halus sembari tersenyum ke arah Kwangmin yang duduk di hadapannya.

“Kalau begitu terobos hujannya sebelum bertambah deras. Bagaimana?”

Usul Kwangmin barusan membuat mata Jieun membulat. Rumahnya dari kafe ini lumayan jauh. Harus melewati tiga stasiun kereta bawah tanah yang pasti sekarang sedang tidak beroperasi. “Tidak, tidak, tidak. Rumahku jauh sekali dari sini.”

“Rumahku dekat dari sini. Kita ke rumahku, ayo,” Kwangmin berdiri. Melihat Jieun yang menatapnya ragu, ia mengendikkan dagunya. Tanda agar Jieun cepat berdiri.

Akhirnya, mau tak mau Jieun berdiri. Ia menatap ngeri ke luar jendela besar kafe kemudian mengikuti Kwangmin yang sudah melangkah lebih dulu. Begitu membuka pintu kaca, angin kencang menerpa Jieun dan membuatnya menutup wajahnya dengan tangan agar anginnya tak melukai mata dan membuatnya terhuyung ke belakang. Anginnya benar-benar kencang!

Setelah berhasil keluar, Jieun berdiri di samping Kwangmin yang berdiri di depan kaca besar kafe. Kemudian Kwangmin menoleh ke arah Jieun yang tengah memeluk dirinya sendiri. Dengan segera, Kwangmin melepas jas seragamnya dan memasangkannya di tubuh Jieun yang kecil.

“Tapi, Sunbae—”

“Tunggu di sini. Aku ambil motor.” Potong Kwangmin kemudian melangkah menjauh dengan kedua tangannya dimasukkan di dalam saku celana. Walaupun begitu, tetap saja dinginnya angin yang berhembus menusuk-nusuk tubuhnya yang hanya terbalut kemeja tipis seragam sekolahnya.

Beberapa menit kemudian, Kwangmin memberhentikan motornya tepat di hadapan Jieun dan menyuruh cepat naik. Motor pun melaju dengan kecepatan sedang karena jalanan yang licin. Selama perjalanan ke rumah Kwangmin, Jieun terus memeluk pinggang Kwangmin. Berharap membantu menghangatkan Kwangmin meskipun sama sekali tidak berhasil. Namun tubuh keduanya terasa hangat walaupun mereka hujan-hujanan.

Untung saja dari kafe menuju rumah Kwangmin hanya membutuhkan waktu sekitar tujuh menit. Kalau lebih dari itu, mungkin Kwangmin tidak sanggup membawa motor karena dingin yang menusuk sampai ke tulang. Kehangatan yang dirasakannya kalah dengan hembusan angin yang sangat dingin.

Ya! Oppa, kenapa hujan-hujanan?” sembur adik perempuan Kwangmin, Jo Gyuwon, begitu Kwangmin dan Jieun membuka pintu rumah yang besar dan bergaya modern. Tapi Gyuwon tetap melempar handuk untuk Kwangmin dan juga Jieun. Sebelum mengambil motor, Kwangmin memang menelpon adik perempuannya untuk menyiapkan coklat panas, handuk dan pakaian miliknya untuk Jieun.

“Hujannya parah sekali,” gerutu Kwangmin sembari menggigil. “Jieun-ah, cepat mandi dan ganti pakaian di kamar adikku. Gyuwon-ah, temani dia.” Perintahnya, kemudian ia bergegas menuju kamarnya.

Gyuwon mengangguk kemudian berjalan lebih dulu ke kamarnya di lantai dua dan Jieun mengikuti Gyuwon dari belakang sembari mengusap tubuhnya. Bibirnya membiru akibat kedinginan.

Onni¸ cepatlah mandi. Pakaiannya sudah di dalam.” Kata Gyuwon sembari menunjuk kamar mandi di dalam kamarnya.

Jieun hanya mengikuti petunjuk Gyuwon dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia benar-benar merasa beku.

Setelah mandi, Jieun ke luar kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk yang tadi diberikan Gyuwon. Pakaian milik adik perempuan Kwangmin benar-benar pas di badannya. Celana pendek warna hijau lumut dengan kaus lengan pendek yang panjangnya menutupi celana. Untung saja rumah ini ada pemanas ruangannya.

Onni, kau kekasih Kwangmin Oppa, ya?” tanya Gyuwon ketika ia dengan sukarela mengeringkan rambut Jieun menggunakan hairdryer. “Baru kali ini Oppa membawa gadis kemari.”

Jieun mengibaskan tangan di depan wajah sembari tertawa kikuk. “Bukan,” jawabnya. “Aku hanya adik kelasnya.”

“Begitu?” sahut Gyuwon kecewa. “Aku lebih suka Onni jadi kekasih Kwangmin Oppa,”

Ne?” ucap Jieun bingung. Bingung apa yang harus ia katakan. Jelas-jelas ia terjebak. Adik Kwangmin benar-benar berbeda dengan Kwangmin. Adiknya banyak bicara sedangkan kakaknya tidak.

“Aku tahu kalau Kwangmin Oppa me—”

Perkataan Gyuwon terpotong karena terdengar nada dering dari ponsel milik Jieun. Gyuwon bangkit dan mengambil ponsel Jieun.

Gomapta,” ucap Jieun sembari tersenyum kepada Gyuwon. Kemudian Gyuwon kembali melanjutkan mengeringkan rambut hitam dan panjang millik Jieun.

Alis Jieun mengernyit begitu melihat nama yang tertera di layar ponselnya. No Minwoo.

Yoboseyo?” begitu ia mengangkat telepon, Minwoo tidak menjawab salam Jieun. Ia langsung menyerbu Jieun dengan pertanyaan. “Aku?… aku di rumah teman—ne?—suaramu kurang jelas, Minwoo-ya,” kemudian ia mendengarkan Minwoo berbicara cukup lama. Kemudian matanya membulat karena terkejut.

“Apa? Dia tak ada di rumah?!”

~TBC~

~Wait another story~


Annyeong~~~ Gimana sama chapter8nya? Terlalu banyak konflikkah? Kalo iya, ini masih setengah jalan dan masih banyak konflik yang akan dikuak(?) jadi… tunggulah kelanjutan ff sinetron ini^^v

Aku minta maaf karena ngubah karakter cast-cast di sini, soalnya dipikiranku mereka begitu(?) (apasih ini mulai gajelas). oke. Daripada terusan ngegaje, langsung aja sama cuplikan dialog buat chap selanjutnya. Cekidot~

“Hari ini dia tidak masuk sekolah.”

“Aku mencarimu, bodoh!”

“Karena kau menyukaiku?”

“Aku ingin menyerah saja.”

“Bukankah kau ini pacar Taemin Sunbae?”

“Aku sama tak melihat keakraban mereka berdua.”

“Aku mengerti. Aku harap juga begitu.”

9 responses to “Teenager Love Story – Chapter 8

  1. mian aku komen baru dpart ini..aku sblmny baca dblog chingu, dsana ini part 9 tp dprotek..huhuhu..
    Ternyata orang tua jinri udh cerai..tp knp mereka malah g sedih y..

  2. mian aku komen baru dpart ini..aku sblmny baca dblog chingu, dsana ini part 9 tp dprotek..huhuhu..
    Ternyata orang tua jinri udh cerai..tp knp mereka malah g sedih y.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s