Two Hearts — Chapter 2: Join Forces

Title: Two Hearts

Author: Bangmil

Rating: PG-15

Genre: Romance

Length: Chaptered

Cast: 

  • Yang Haejin (OC as You)
  • Kris Wu (EXO-M)

Minor Cast:

  • Park Chanyeol (EXO-K)
  • Park Yoojung (OC / Ibu Kris)
  • Other casts that hasn’t been revealed.

Disclaimer: I own nothing beside OC, poster and the story. Do not plagiarize.

Previous Chapter

Chapter 2: Join Forces

Haejin mengerjap perlahan. Kilatan cahaya tipis yang menerpa wajahnya mampu membuat gadis itu terbangun dari tidurnya. Matanya memperhatikan keadaan sekeliling yang entah kenapa tampak asing baginya. Sekali lagi ia mengerjap, mengira dia masih berada di bawah alam mimpi, namun keadaan di sekelilingnya tidak berubah.

Alis Haejin mengerut. Ia tidak pernah merasa kamar tidurnya jadi selebar dan serapi ini. Seingatnya, kamarnya berbalut warna biru muda, bukan putih tulang seperti ini. Ia tidak pernah merasa kamarnya semewah kamar hotel. Ia juga tidak pernah merasa punya setelan jas hitam yang bergantung di pojok sana.

Tunggu. Setelan jas itu… astaga, ini kamar laki-laki?

Haejin sontak terlonjak, menoleh ke arah kanannya dan mendapati ruang kosong dan sebuah bantal yang tentu saja bekas dipakai tidur oleh seseorang tadi malam. Dengan sigap ia mengecek badannya dari atas sampai bawah, kemudian bernafas lega begitu tahu ia masih berpakaian lengkap. Tapi walaupun begitu, Haejin tetap saja yakin sesuatu sudah terjadi semalam, dan entah bagaimana ia bisa lupa akan hal itu. Dan lagi, kalau diperhatikan, kamar ini tidak begitu asing kok. Tapi kamar siapa, ya?

“Sial,” umpat Haejin pelan ketika ia berusaha berdiri dan merasa kepalanya seakan ditusuk. Walaupun begitu, ia tetap berusaha untuk bangkit dari tidurnya, dan berjalan perlahan menuju pintu kamar. Ia membukanya, berjalan keluar, dan memperhatikan sekeliling. Di hadapannya, ia menemukan sebuah sofa abu-abu menghadap televisi yang tampak rapi… dan oh, Haejin menemukan seseorang berdiri membelakanginya. Seorang laki-laki bertubuh tinggi, berambut cokelat, dan Haejin baru menyadari siapa sosok tersebut setelah lelaki itu berbalik ke arahnya, menatapnya dengan pandangan was-was. Ditambah lagi, dari belakang laki-laki itu muncul seorang wanita paruh baya yang tak kalah terkejutnya dengan Haejin, menatap gadis itu dengan pandangan tidak percaya.

Haejin menelan ludah. Tiba-tiba otaknya tidak bisa ia pakai untuk berpikir. Dan entah bagaimana ia bisa tahu, kalau saat itu merupakan awal dari bencana besar yang akan dialaminya. Bencana besar yang akan merubah hidupnya… entah bisa diartikan pertanda baik atau buruk.

Beberapa menit yang lalu…

“Lama tidak bertemu, puteraku yang paling tampan!”

Kris tidak mampu berbuat apa-apa begitu wanita paruh baya yang sejatinya adalah ibunya itu memeluknya erat. Memang benar sudah hampir dua tahun mereka tidak bertemu, dan tentu saja Kris sangat senang bertemu dengan ibunya lagi. Tapi masalahnya, kenapa harus hari ini, saat ini?

Wae? Kenapa melihat eomma seperti melihat hantu begitu?”

Pertanyaan ibunya membuat Kris tersentak dan kembali ke alam sadarnya. Ia mengerjap beberapa kali, menunjukkan senyum yang dibuat-buat. “Aanieyo. Aku hanya kaget karena eomma datang tiba-tiba tanpa menghubungiku dulu.”

Mendengarnya, ibu Kris mengacak-acak rambut Kris gemas. “Aigoo, kau pasti terkejut ya? Eomma memang sengaja datang diam-diam dan memberimu kejutan!” ujarnya riang, sangat riang. Sepertinya, Park Yoojung—nama asli ibu Kris—punya sifat yang berkebalikan dengan puteranya. “Ngomong-ngomong, di luar dingin sekali, eomma langsung masuk saja ya!”

“T-tunggu, eomma!”

Tanpa sadar Kris merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memblokade pintu agar ibunya tidak bisa lewat. Park Yoojung menatapnya heran, sedangkan Kris sibuk memeras otaknya, berpikir harus memberikan alasan apa.

“A-Apartemenku sedang berantakan sekali, biar aku rapikan dulu!” seru Kris cepat.

Mendengar alasan yang menurutnya konyol, Yoojung memukul pundak anaknya pelan. “Aiss, memangnya sejak kapan kau bisa berantakan?” ujarnya, sembari menyerobot masuk ke dalam apartemen Kris, tapi lagi-lagi puteranya itu menghalanginya.

A-andwae yo, eomma! Aku kan sudah bilang kalau masih berantakan!”

“Kalau begitu biarkan eomma masuk, nanti eomma bantu bersihkan!”

“Tidak perlu!”

Aiss, biarkan eomma masuk!”

“Tidak, eomma!”

“Jangan menghalangi jalan!”

“T-tidak! Jangan masuk!”

“Kris!”

“Eomma!”

Park Yoojung menghela nafas kesal karena Kris tidak kunjung membiarkan ia masuk. Ia menatap Kris dengan pandangan menakutkan. “Kau tidak kasian eomma-mu kedinginan, hah?” ucapnya dengan keras, lebih tepatnya membentak. “Atau jangan-jangan kau menyembunyikan perem—”

Perkataan ibu Kris terhenti begitu kedua matanya menangkap sesosok gadis yang baru saja muncul, keluar dari salah satu ruangan apartemen Kris. Gadis itu perlahan menoleh ke arah mereka berdua, dengan tatapan bingung, seakan ia melihat makhluk asing.

Melihat ibunya yang tiba-tiba mematung, kewaspadaan Kris bertambah seratus kali lipat. Ia menelan ludahnya, mengetahui kalau bahaya itu akan segera datang. Perlahan ia berbalik, menatap gadis yang ia harap tidak akan muncul saat itu.

“Kau… menyembunyikan… perempuan…”

Park Yoojung mengucapkan tiga kata itu perlahan, tampak tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ia menatap gadis di hadapannya yang juga tampak bingung, kelihatan dari alisnya yang berkerut dan matanya yang berulang kali berpindah dari ibu Kris dan Kris sendiri.

Tiba-tiba Kris memegang pundak ibunya erat, membuat ibunya berbalik ke arahnya.

“E-eomma jangan salah paham! Ini tidak seperti apa yang eomma lihat!” ujarnya dengan nada cemas.

Park Yoojung mengerjap beberapa kali, mencoba memahami situasi. “Kris, sebenarnya eomma tidak…”

“A-aku bisa jelaskan! Aku bisa jelaskan!” potong Kris. Ia tidak mau ibunya salah paham karena masalah ini.

“Tidak perlu, kau juga tidak perlu cemas, eomma mengerti…”

“Tapi ini benar-benar salah paham! Tidak ada yang terjadi semalam! Aku hanya…”

“Kris, cukup!”

Kris tersentak melihat ibunya yang tiba-tiba membentaknya. Ia menatap wajah ibunya yang tampak kesal, lalu mundur perlahan selangkah sambil menunduk.

Park Yoojung mendesah pelan. “Kau sudah tertangkap basah seperti ini masih mau mengelak? Kau pikir kau bisa membohongi eomma?” ujarnya kemudian, masih memelototi Kris. “Hal lain apalagi yang bisa eomma pikirkan ketika melihat seorang gadis keluar dari kamarmu, di pagi hari, dengan penampilan yang berantakan seperti itu?”

Kris hanya mampu mengerutkan alisnya sambil mencoba bersabar ketika rangkaian omelan keluar dari mulut ibunya. Sesekali ia melirik gadis yang sedari tadi disebut—yang tak lain adalah Haejin—yang juga sedang berdiri mematung tak jauh darinya. Gadis itu sama pasrahnya dengan Kris, bedanya ia sedari tadi hanya diam, tidak mengatakan apa-apa.

Kris mendesah pelan. Ya, tentu saja gadis itu diam. Orang sebodoh Haejin tidak mungkin mengerti kacaunya situasi saat ini, dan ia juga tak mungkin berani membuka mulutnya, kalau ia masih ingat Kris adalah atasannya. Yang Kris sesali, kenapa juga gadis bodoh itu keluar di saat yang tidak tepat? Walaupun Kris tidak ingat dengan kejadian semalam, seharusnya Haejin tetap tinggal di dalam kamar sampai Kris berhasil mengulur waktu, membereskan ibunya, lalu kembali ke pokok permasalahan. Kenapa gadis bodoh itu harus keluar dari kamarnya saat itu?!

Aigoo…”

Park Yoojung menghela nafas pelan sambil memijit pelipisnya, mengasihani otaknya yang tiba-tiba panas di pagi hari. Ia menghempaskan dirinya di kursi yang terletak tak jauh dari mereka berdiri, sembari bergantian menatap kedua anak muda itu.

Kris menelan ludahnya sendiri. Ia tidak pernah melihat ibunya semarah ini. Selama ini Park Yoojung dikenal sebagai ibu yang periang dan tidak mudah marah. Lalu apa yang akan terjadi jika ibunya sudah naik darah begini? Kris tidak bisa membayangkannya.

Helaan nafas terdengar dari Park Yoojung lagi. “Nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Mau eomma ceramah sepanjang apa pun tidak akan ada gunanya,” ujar wanita itu kemudian, terdengar cukup bijak. Selesai memijit pelipisnya, tiba-tiba ia menyunggingkan senyum. “Tapi bukankah ini kabar baik? Maksudnya, dengan begini eomma tidak perlu repot menjodoh-jodohkanmu lagi, ya kan?”

Sontak mata Kris terbelalak. “N-ne?”

“Tentu saja kalian harus segera menikah!”

Kalimat itu terdengar begitu nyaring di telinga Kris, dan juga Haejin tentunya. Ia menoleh, mendapati Haejin yang mengeluarkan ekspresi tak jauh beda dengannya, lalu berbalik menatap ibunya.

“M-mana mungkin kami menikah, eomma!” seru Kris dengan keras, membuat ibunya menutup telinga.

Park Yoojung berkacak pinggang. “Dengar, Kris. Eomma memang bukan orang yang religius, tapi perlu saja kau tahu, eomma tidak suka dengan gaya berpacaran anak muda jaman sekarang yang suka seenaknya. Akibat perbuatanmu Kris, kau sebagai laki-laki harus bertanggung jawab!” ujar Park Yoojung, menjelaskan panjang lebar.

Kris hanya mampu menggeleng lemah. “Sudah aku bilang tidak ada yang terjadi semalam, eomma!”

“Mana mungkin!” bentak Park Yoojung lagi. “Kalau kau berani melakukannya, seharusnya kau sudah siap menikah! Bukankah keputusan eomma ini justru menguntungkan hubungan kalian berdua? Kalian ini kan sudah dewasa, buat apa lama-lama berpacaran? Langsung saja menikah!”

Kris melotot, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ibunya itu sudah benar-benar salah paham dan kelewat batas. Oke lah, kalau Kris memang tidur dengan Haejin. Tapi tidak, ia yakin seyakin-yakinnya kalau ia tidak berbuat macam-macam tadi malam. Ditambah lagi status mereka juga tidak berpacaran, dan keputusan ibunya itu sama sekali tidak menguntungkan!

Baru saja Kris mau mengelak lagi, tiba-tiba ponsel ibunya berbunyi. Sontak ibu Kris menyuruhnya diam, mengangkat telepon, lalu berbicara sebentar dengan orang di seberang sana. Entah apa yang sedang dibicarakan, Kris tidak peduli. Yang ia pedulikan sekarang hanyalah nasibnya, juga harapan agar ibunya tersadar dari kekonyolan yang telah dibuatnya.

Tak lama di telepon, Park Yoojung memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, dan berbalik menghadap Kris dan Haejin. Ia berdehem. “Eomma tidak akan ceramah panjang karena sekarang eomma harus segera pergi. Tapi ingat, pembicaraan kita belum selesai. Mengerti?”

Kris menghela nafas pasrah. Ia hanya bisa mengangguk pelan sembari menatap ibunya yang nampaknya tidak mau keputusannya diganggu gugat. Kalau kejadiannya sudah begini, mau bagaimana lagi?

Blam!

Suara pintu terdengar memekakkan gendang telinga, setidaknya bagi Kris. Pikirannya kacau, ia benar-benar tidak habis pikir ibunya akan mengambil keputusan seperti itu. Kris berbalik, dan matanya tertuju pada Haejin yang masih berdiri di tempat yang sama, tidak bergerak sedikit pun. Sepertinya gadis itu juga sama syoknya seperti dia.

“Kau… ingat apa yang sudah terjadi semalam?”

Kris membuka suara. Suaranya berat seperti biasa, namun kali ini terdengar lemah.

Gadis di hadapannya itu sekilas terbengong, memahami pertanyaan Kris. Setelah beberapa detik baru kemudian ia mengerutkan dahinya, berpikir.

“Seingat saya tadi malam anda sedang mabuk berat di jalan, kemudian seseorang menelepon dan meminta saya untuk mengantar anda pulang,” jelas Haejin.

Tidak ada nada-nada keraguan di suara Haejin, tapi Kris tahu kalau gadis itu sama gelisahnya seperti dia. Walaupun Kris sudah mengecap Haejin sebagai gadis bodoh dan tidak disiplin, ia mengakui kalau Haejin cukup kompeten menjadi seorang manajer, terlihat dari sikapnya yang selalu tenang menghadapi berbagai masalah.

“Tentu saja saya menjemput anda dan membawa anda pulang kemari. Tapi selanjutnya maaf, sajangnim. Saya juga tidak ingat karena tadi malam saya sedang pusing,” ujar Haejin sambil membungkuk meminta maaf.

Hah…
Mendengar penjelasan yang menurutnya tidak berguna, Kris menghempaskan dirinya di atas sofa, frustasi. Ia sungguh tak tahu lagi harus mulai dari mana. Ia ingat, kemarin malam setelah menghadiri acara blind date konyol buatan ibunya, ia sempat minum-minum di pinggir jalan dan pasti itu yang sudah membuat ia mabuk. Tapi apa yang terjadi setelah ia mabuk dan bagaimana Haejin bisa di kamarnya… ia tidak ingat apa-apa.

Sambil menghela nafas, Kris terus memijit-mijit pelipisnya. Menurutnya, apa pun yang sudah terjadi semalam dan bagaimana bisa terjadi, menyelidikinya sekarang sudah tidak ada gunanya lagi. Ibunya sudah  melihatnya, menuduhnya macam-macam, dan ia harus mempertanggung jawabkannya, walaupun ia tak mau.

“Semua sudah terlanjur seperti ini,” ujar Kris setelah ia menghela nafas panjang. “Sekarang yang terpenting adalah bagaimana caranya kita bisa membereskan semua kekacauan ini.”

Y-ye? Kita, sajangnim?”

Alis Kris mengerut melihat Haejin yang tampak terkejut. “Tentu saja kita. Kau, aku. Wae? Kau pikir kau tidak bersalah?” tanyanya dengan sinis, merasa itu adalah pertanyaan paling konyol sedunia.

Haejin menelan ludah mendengarnya, lalu kembali menunduk. Semua yang keluar dari mulutnya saat itu sepertinya hanya akan dianggap salah oleh Kris. Lebih baik ia diam saja, batinnya.

Kris kembali menatap Haejin. “Pertama-tama, kita ikuti saja dulu kemauan ibuku. Pura-pura saja kalau kita memang berpacaran, membuatnya senang. Setidaknya itu akan membuat ibuku lengah. Lalu selanjutnya, aku akan berusaha mencegah pernikahan dan mengulur waktu,” jelas Kris panjang lebar, tapi kemudian ia berhenti begitu melihat Haejin yang tampak tidak mendengarkan dan menggigit bibirnya. Kris mendesis. “Wae? Kau tidak berpikir untuk menolak rencanaku kan?”

Ditanya begitu, Haejin hanya diam sambil sesekali mengerjapkan matanya. Ia tidak menolak ataupun mengiyakan.

Kris terdiam sebentar sambil mengamati gadis di hadapannya itu. Walaupun ia merutuki kejadian tadi malam dan pagi ini, sebenarnya diam-diam Kris bersyukur dalam hati. Kenapa? Karena dengan begini, ibunya tidak akan menjodoh-jodohkannya lagi, dan ia bisa hidup bebas, dengan syarat Haejin mau diajak bekerja sama. Memang sih, kasihan juga kalau gadis itu ia paksa untuk menuruti kemauannya, tapi… bukankah Haejin juga bersalah? Jadi kalau dipikir-pikir, ini bukan hanya menguntungkan Kris, tapi Haejin juga, kan?

Kris menyandarkan bahunya, lalu menghela nafas lagi. “Oke, sekarang aku memberimu hak untuk memilih.”

Dua bola mata Haejin terbelalak dan menatap Kris lurus-lurus, penuh harap.

“Kau boleh menolak rencana ini, tapi segera saja bereskan barangmu dari kantor, dan anggap saja gajimu bulan ini hangus.”

N-ne?!” pekik Haejin tertahan. Ia terlihat sangat terkejut. Matanya terbelalak, mulutnya menganga. Baiklah, siapa juga yang tidak akan terkejut kalau diancam dipecat dari pekerjaannya?

“Tapi ada satu pilihan lagi,” sahut Kris. Ia menatap Haejin dibalik senyumnya yang tidak terlihat. “Sebagai gantinya, kalau kau mau dan pandai diajak bekerja sama, kau boleh minta apa saja. Gaji, cuti, liburan, tinggal pilih saja.”

Sontak Haejin semakin ternganga mendengarnya. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana ketika tiba-tiba dihadapkan dengan dua pilihan seperti itu.

Sedangkan Kris, sedari tadi lelaki itu justru menikmatinya. Ia yakin seratus persen kalau Haejin tak akan begitu saja menolak rencananya, karena bagaimana pun juga, gadis itu butuh uang, butuh pekerjaan.

Dengan santainya, Kris berkata, bersamaan seringaian tipis di bibirnya. “Bagaimana?”

***

Tuk, tuk, tuk, tuk…

Sejak sepuluh menit yang lalu Haejin terus saja mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja. Mau bagaimana lagi, itulah kebiasaan gadis itu ketika ia sedang gugup, tegang, atau tidak sabar. Sekali lagi ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tapi tetap saja orang yang ia tunggu belum juga datang.

Ya, bisakah kau berhenti mengetuk meja?”

Kata-kata yang keluar dan terdengar pedas dari pria yang duduk di samping Haejin, Kris, sukses membuat gadis itu menghentikan aktivitasnya, lalu menyimpan tangannya dan kembali menunduk sambil mengumpat dalam hati. Ya, sekarang ia sedang bersama Kris di sebuah restoran mewah, menepati janji mereka dengan Park Yoojung, ibu Kris, yang menyuruhnya datang malam itu.

Mencoba menghilangkan perasaan khawatirnya, Haejin memperhatikan sekeliling. Restoran yang didominasi warna putih dan kuning keemasan itu tidak lagi asing di mata Haejin. Semenjak ia bekerja di perusahaan Kris, sebagai seorang manajer ia sering kali diajak makan bersama di sana, tapi tentu saja bukan Haejin yang bayar. Demi apapun gadis itu lebih memilih untuk makan mi instan satu bulan daripada menghabiskan uangnya untuk makan sekali di restoran serba mahal itu.

“Eomma!”

Seruan Kris membuyarkan lamunan Haejin. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya yang sudah pernah ia lihat berjalan ke arahnya sambil tersenyum lebar. Sepertinya suasana hati ibu Kris sudah cukup membaik dibanding tadi pagi yang uring-uringan.

“Sudah lama menunggu, Kris?” tanya Park Yoojung seraya duduk di hadapan mereka berdua.

“Tidak, eomma. Kami juga baru saja datang,” jawab Kris cepat, kemudian mereka bertiga disibukkan oleh pelayan yang datang meminta pesanan.

“Sebelumnya eomma minta maaf tadi pagi sudah banyak membentak kalian. Eomma hanya sedikit terkejut waktu itu,” ujar Park Yoojung, dengan senyum mengembang di bibirnya. Sontak Kris dan Haejin bebarengan menggeleng dan mengatakan kalau itu bukanlah masalah besar.  Ia kembali tersenyum. “Lalu mau sampai kapan kau tidak memperkenalkan pacarmu pada eomma, Kris?”

Kris tersentak mendengarnya, menoleh ke arah Haejin yang juga sedang menatapnya, lalu kembali menghadap ibunya. “A-ah, iya benar juga. Perkenalkan, eomma. Ini pacarku, Yang Haejin. Haejin, ini eomma,” ujar Kris sedikit canggung, membiarkan dua wanita di dekatnya itu bertukar senyum.

“Aku sudah dengar sedikit banyak tentangmu. Katanya kau sekertaris Kris di kantor, benar begitu, Haejin ssi?” tanya Park Yoojung dengan ramah, yang dibalas dengan anggukan dan kata ‘ya’ dari Haejin.

Bagaimana ia bisa tahu? Jangan bilang setelah pertemuan pertama mereka tadi pagi, Park Yoojung langsung mengorek informasi tentang Haejin? Dari siapa?

Haejin menggumamkan ‘ah’ dalam batinnya. Tentu saja Ibu Kris punya banyak sumber informasi. Bukankah ia juga merupakan salah satu pimpinan perusahaan pusat di Cina? Kenapa Haejin bisa lupa kalau Park Yoojung adalah orang yang sangat berkuasa?

“Tapi yang aku dengar hubungan kalian tidak baik, malah katanya kalian tidak pernah akur. Kenapa bisa begitu?”

Pertanyaan kedua Park Yoojung sukses membuat Kris dan Haejin gugup. Belum sempat Haejin memikirkan alasan apa yang tepat, Kris sudah mendahuluinya menjawab.

“Begini, eomma. Sebenarnya kami sengaja berpura-pura tidak akur, agar hubungan kami tidak diketahui banyak orang. Eomma tahu kan, kalau sampai karyawan lain tahu tentang ini, bisa-bisa Haejin digosipkan yang tidak-tidak…”

Sementar Kris sedang menjelaskan, Haejin memandang pria itu kagum. Ia kagum pada Kris yang lihai sekali membuat penjelasan palsu. Ia kagum pada Kris yang bisa berbohong dengan luwes, tanpa kelihatan gugup. Kalau begini, selain pimpinan perusahaan, Kris juga berbakat menjadi penulis, juga pemain sinetron mungkin.

“Maka dari itu, eomma. Kalau tiba-tiba kami berdua menikah, bisa-bisa satu kantor akan heboh. Tidak bisakah kita undur rencana pernikahannya?”

Mata Haejin mendadak melebar begitu mendengar Kris meluncurkan senjatanya. Ia ikut menatap Park Yoojung, menunggu reaksi apa yang akan ditunjukkan wanita berkekuasaan penuh itu.

Namun seperti yang sudah diperkirakan Haejin, Park Yoojung bukanlah orang yang mudah dibujuk. Wanita itu masih saja diam dengan alis berkerut, nampak sibuk menimbang-nimbang keputusannya.

Kris meluncurkan senjatanya yang kedua. “Lagipula, Haejin dua tahun lebih muda daripada aku. Tahun ini ia baru dua puluh empat tahun, kasihan jika dia harus menikah di usia muda. Eomma pasti lebih mengerti perasaan wanita daripada aku kan?”

Haejin menarik nafas pelan mendengar bujukan Kris yang tampaknya akan berhasil itu. Tak diragukan lagi, bosnya memang pandai mencuci otak—maksudnya, membujuk orang lain.

Park Yoojung tampak menggigit bibirnya, lalu berpaling ke arah Haejin. “Benarkah begitu, Haejin ssi? Kau belum siap menikah?”

Tersirat kekecewaan di mata Park Yoojung. Sempat membuat Haejin tak tega, tapi gadis itu tentu lebih mementingkan nasibnya.

Ne, choesunghamnida, eomeoni. Tapi memang benar saya belum siap untuk menikah,” jawabnya, dibuat senatural mungkin.

Park Yoojung berpikir sebentar, sebelum akhirnya ia menghela nafas, menyerah. “Baiklah, kalau begitu. Eomma tidak akan memaksa kalian berdua untuk menikah.”

Mendengarnya, beban di pundak Haejin terasa hilang seketika. Dan Haejin pun yakin, Kris juga sama leganya seperti dia.

Gomawo yo, eomma,” ujar Kris sambil menatap ibunya senang.

Walaupun terlihat tidak begitu puas, Park Yoojung mengangguk. “Tapi semuanya aman terkendali kan?”

Sontak Kris dan Haejin menoleh ke arah wanita paruh baya itu, memandangnya bingung. “Maksud eomma?”

Park Yoojung membenarkan duduknya, sedikit condong ke depan, lalu menyipitkan matanya. “Itu, ng… maksudku…” Ia meneruskan kalimatnya dengan ragu. “Begini, ng… maksud, eomma, kau… kau tidak hamil kan, Haejin ssi?”

Mungkin Haejin sudah pingsan kalau saja ia tidak ingat ia sedang berada di tempat umum. Pertanyaan yang dilontarkan Park Yoojung menurutnya adalah pertanyaan paling konyol sedunia.

Ia hamil bayi Kris? Hah, tidak akan pernah!

(to be continued…)

***

Halo semua, ketemu lagi dengan author! ^^

Sebelumnya author minta maaf sebesar-besarnya baru bisa update sekarang :”
Semoga readers menikmati chapter ini, dan author janji, chapter-chapter selanjutnya nggak akan lama!

Dan jangan lupa untuk komen yaa, karena komen kalian itu selain memberi enerji, juga memberi motivasi dan inspirasi buat author untuk terus menulis kedepannya ^^

Bbyeom~ ;D

82 responses to “Two Hearts — Chapter 2: Join Forces

  1. Gyahahaha mnarik sih ceritanya, hehe suka deh apalagi sma main castnya waks
    Good idea author. I like this story~~~~ /sok inggris/

  2. Wkwkwk,sayang eomma’y Kris ga tau yg sebener’y,kalo dia tau yg sebener’y pasti dia ga bakalan nanyain Haejin hamil apa enggak 😀
    Ia hamil bayi Kris? Hah, tidak akan
    pernah!,Suka !!!

  3. hahaha.. suka sm karakter eommanya kris yg g biasa itu.. lucuuu.. berbanding terbalik bgt sm kris..
    dichapter 1 haejin suka sm chanyeol ya..penasaran jdinya gmn perasaan haejin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s