CHANGING PARTNERS (Part 1 of 2)

Changing Partners (Part 1 of 2)

Casts: Lee Jinki, Choi Minho, Lee Nayoung (OCs), Shin Jiyeon (OCs)

Genre: Romance

Rating: PG-17 (Gak ada apa-apa banget, sih, tapi sebaiknya jangan kalau belum cukup umur)

Terinspirasi dari sebuah film Korea berjudul sama. Alur berbeda.

(Author mau curhat dikit. Dalam hampir semua FF author, Jinki kan selalu berpasangan dengan Lee Nayoung. Dan hari ini di radio show Jinki bilang kalo idolanya artis Lee Nayoung. Such a fate, uh? :P)

 

Incheon

Jinki melangkahkan kakinya masuk ke dalam sebuah ruangan berukuran 4×5 meter di lantai 11 sebuah gedung. Ia berjalan pelan-pelan agar suaranya tidak terdengar. Jinki membawa sebuah buket bunga mawar putih besar yang dipeluknya erat di tangan kanannya dan sebuah kotak berwarna oranye di tangan kirinya. Pelan-pelan, ia menaruhnya di satu-satunya meja yang ada di ruangan itu, di antara kertas-kertas yang bertumpuk berantakan di sana. Jinki mengerling tulisannya sendiri di sebuah kartu yang tertempel di buket bunganya sambil membuka kotak oranye yang ternyata berisi sebuah tart tiramisu. Ia mengulang-ulang membaca di dalam hati tulisan di buket bunganya sambil menyalakan lilin.

Happy Anniversary, Love. Hope we always be together forever, ever.

So cheesy, Jinki nyengir.

Ia bergidik sendiri membaca tulisannya. Tulisan ini, Kim Kibum, sahabatnya yang memaksanya. Ia seringkali berkonsultasi mengenai masalah percintaan pada sahabatnya itu. Key, sapaan Kibum, biasanya selalu menghinanya sebagai seseorang yang tidak bisa serius dengan hubungannya dan ceweknya, Shin Jiyeon. Menurut Key, Jinki selalu bercanda dan tidak pernah bisa romantis. Sekali pun.

Mereka berdua, Jinki dan Jiyeon, are perfect for each other. Kuliah di universitas sama membuat mereka dekat. Jiyeon adalah ketua organisasi mahasiswa di kampusnya dan Key adalah wakilnya. Lalu, Key mengenalkan Jiyeon pada Jinki. Dan sudah 2 tahun mereka pacaran. Sudah tiga bulan mereka tinggal bersama menyewa sebuah apartemen. Dan hari ini Jiyeon berulang tahun.

Jinki mengambil kamera DSLR yang menggantung di bahunya, lalu men-set nya sedemikian rupa. Ia mengambil foto ruangan Jiyeon, tempat Jiyeon biasa bekerja. Saat ini, Jiyeon sedang ada di dalam ruang meeting bersama bosnya dan ia tidak mengetahui kedatangan Jinki.

Cklik! Cklik!

Jinki memotret kue ulang tahun Jiyeon, saat…

“Oppa?”

Jinki terlonjak kaget. Ia menoleh mendapati seseorang berdiri di belakangnya. Jiyeon, masih memakai blazer kuning gading rapi dengan rambut bergelombangnya tersanggul ke atas. Cewek itu tidak jauh berbeda tingginya dari Jinki. Perut Jinki serasa ditonjok. Bahunya melorot. Hancur sudah rencananya memberi kejutan.

Jiyeon masuk mendorongnya. “Kerjaanmu sudah selesai? Ada apa kau dat…”

Dan Jiyeon melihatnya. Melihat kue Jinki dan buket bunganya. Serta merta ia memeluk Jinki erat hingga Jinki sesak nafas.

“Oppa! Terima kasih! Kau ingat ulang tahunku!”

Baru saja, pagi ini, Jinki meninggalkan apartemen terlebih dahulu dari Jiyeon tanpa mengatakan apa-apa. Padahal, biasanya mereka selalu berangkat bersama. Jiyeon ke kantor, sedangkan Jinki pergi ke studio pemotretannya.

“Tapi, aku gagal memberikanmmu surprise..,” kata Jinki lemah, melepas pelukannya. Jiyeon meraih lagi bahu Jinki dan memeluknya erat.

“Tidak, oppa! Ini sudah lebih dari cukup. Aku kira kau lupa! Terima kasih, ya!”

Jiyeon mengecup pipi Jinki kilat. Jinki terlihat sangat kecewa. “Hanya di pipi saja?”

Jiyeon memeluknya lagi. “Nanti saja kalau sudah di rumah.”

Jinki nyengir lebar. “Jadi, nanti malam, aku boleh tidur di kamarmu?”

Dan.. PLAK! Jiyeon menamparnya. Ringan sih, tapi tetap saja pipi halusnya itu memerah.

“Jadi… Aku tidak boleh tidur di kamarmu?” Jinki merengut.

Jiyeon menggeleng, tersenyum padanya. “Tidak, tidak. Aku malam ini akan berangkat ke Seoul…”

“Apa?! Kenapa begitu tiba-tiba?”

Jiyeon berjalan ke arah mejanya dan mulai membereskan barangnya. Ia mengambil bunga mawar putih dari Jinki dan menciumnya lembut, merasakan keharumannya. “Thanks untuk bunganya, Oppa! Tapi, aku harus ke Seoul malam ini. Ada pertemuan selama seminggu dengan kontraktor yang memenangkan tender membangun Mall Incheon. Izinkan, ya? Hanya seminggu, kok.”

Bahu Jinki benar-benar lemas sekarang.

Seoul

“Kau sudah pulang?”

“Ng.”

Percakapan ini terjadi antara sepasang suami istri yang telah menikah selama 2 tahun. Mereka pernah saling mencintai.

“Soft drink habis. Apa kau lihat jusku?”

Lee Nayoung membuka freezer yang ada di bawah lemari buku mereka, mencari-cari jus yang ia beli kemarin, tetapi di dalam freezer hanya ada sekaleng bir.

Choi Minho, suaminya, yang saat ini sedang tidur-tiduran di atas ranjangnya sambil mengganti-ganti channel TV menjawab tanpa menoleh padanya,

“Maaf, sudah kuminum. Akan kubelikan sebotol lagi untukmu besok.”

Nayoung mendengus. Percakapan pendek itu selalu memulai malam mereka.

Nayoung melepas cardigannya, mengambil handuk, menuju kamar mandi. Ia mandi hingga setengah jam. Pemotretannya hari ini berlangsung padat. Ia bahkan belum makan siang. Ia sudah membayangkan betapa ia akan menikmati jus jeruk 1 liter yang ia beli kemarin malam ini, tetapi Minho, suaminya, tega-teganya menghabiskannya.

Nayoung menahan bunyi perutnya yang kelaparan ketika keluar dari kamar mandi. Minho sedang berdiri memandangi malam di beranda kamar mereka. Rumah mereka adalah penthouse, bangunan yang ada di paling atas suatu gedung. Minho mewarisinya dari ayahnya, seorang pengusaha terkenal di Seoul. Sama seperti penthouse itu, Minho juga mewarisi perusahaannya.

Nayoung memakai krim untuk kulit wajahnya yang terlihat pucat. Ia model dan harus selalu menjaga kesegaran kulitnya. Umurnya 23 dan ia sudah menikah selama dua tahun. Pernikahan yang awalnya indah. Nayoung mengerling Minho saat Minho masuk ke dalam kamar. Minho meliriknya sedikit, lalu membuang muka. Minho naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam bedcovernya.

“Sudah kubilang kau tidak perlu kerja, kan,” katanya pada Nayoung dari belik bedcover-nya. “Cukup aku yang bekerja.”

Nayoung beranjak ke ranjang juga, menarik bed covernya, tidur di sebelah Minho yang membelakanginya. Mereka tidak saling berhadapan dan berjauhan. Kaku satu sama lain.

“Aku mencintai profesi ini. Profesi ini membuatku melupakan Yuna.”

Minho memejamkan mata saat nama Yuna disebut. Bayi mereka. Yang meninggal pada usia 2 bulan kelahiran. Prematur. Hubungan mereka berdua mendingin setelah itu.

Terdengar dengkuran halus dari Nayoung sepuluh menit kemudian. Setelah memastikan Nayoung sudah tidur, Minho terduduk di atas ranjangnya. Memandangi wajah istrinya yang cantik terkena sinar bulan yang masuk melalui dinding kaca lebar penthouse mereka. Ia kelihatan sangat lelah. Minho merasa, cinta memang telah memudar di antara mereka berdua, namun masih ada rasa tersisa. Rasa kasihan padanya.

Minho mengangkat tangannya, menyibak rambut yang menutupi dahi Nayoung dan menciumnya lembut.

Incheon

Nayoung sedang membereskan kotak make up-nya saat tiba-tiba HP-nya berdering. Ia melihat namanya, lalu menghela nafas. “Mister Choi.”

“Ya?”

“Mengapa kau tidak bilang padaku kau akan ke Incheon selama seminggu?” tanya suara di seberang sana agak kasar.

Nayoung kembali menghela nafas. “Kenapa aku harus bilang padamu?”

Minho memejamkan mata. Istrinya ini memang wanita paling dingin dan keras kepala yang pernah ia kenal. Kehidupan rumah tangga mereka diwarnai adu argumen dan egoisme masing-masing.

“Kau istriku.”

Kata Minho akhirnya, sedikit geram. “Setidaknya, izinlah kalau kau memang akan pergi keluar kota.”

“Memangnya kenapa? Kau urus saja perusahaanmu. Kau tidak akan merindukanku, kok.”

Dan Nayoung menutup teleponnya. Ia segera naik ke van yang akan membawanya ke Incheon bersama para staf agency-nya. Di sana, Nayoung akan melakukan pemotretan untuk sebuah proyek katalog perlengkapan pernikahan. Jadi, ia akan shoot bersama seorang model pria, berfoto pre-wedding dan sebagainya.

Nayoung memasang headset-nya kencang-kencang. Tidak peduli dengan keadaan sekitar. Ia terkenal sebagai model yang dingin dan angkuh. Memang wataknya begitu. Terlebih lagi, dipicu oleh statusnya sebagai istri pengusaha kaya raya di Seoul. Tentu ini membuat siapapun segan berinteraksi dengannya.

Setelah menempuh waktu yang sangat lama, mereka tiba di Incheon. Nayoung melepas headsetnya saat manajernya memintanya turun. Ia memandangi studio yang akan menjadi tempat pemotretannya selama seminggu dari luar. Tidak sebesar kantor agency-nya, tetapi cukup bagus.

Nayoung melangkahkan kakinya melewati pintu kaca putar dan…

BRUK!

Seseorang menabrak bahunya kencang hingga Ipod beserta headset yang sedang digenggamnya jatuh terlempar. PRAK!

“Maaf.”

Sebuah suara yang terdengar begitu menyesal berasal dari seorang pria di hadapannya yang tergesa. Pria itu memiliki rambut cokelat lebat berantakan dan gigi-gigi putih rapi yang terlihat saat ia bicara. Tingginya tidak jauh dari Nayoung dan memakai jins. Berkeringat dan tampan. Dengan kamera menggantung di bahunya.

“Maaf. Ipod Anda akan saya ganti.”

Pria itu mengeluarkan kartu nama dari sakunya. Nayoung masih memakai kacamata hitamnya, sama sekali tak bergeming. Ia sangat kaget. Tangannya tidak terjulur mengambil kartu nama itu.

“Saya Lee Jinki, asisten fotografer di sini. Kalau tidak keberatan, saya sedang buru-buru,” ia melihat arlojinya. “Ini kartu nama saya. Harap hubungi saya untuk masalah Ipod yang rusak.”

Jinki, pria itu, meraih tangan Nayoung dan memberikan kartu namanya ke dalam genggaman Nayoung. Ia beranjak pergi, saat Nayoung berteriak padanya. “YA!!! Kau ingin mati, hah?! Kau tidak tahu siapa aku?!”

Jinki berbalik dan memperhatikan cewek itu. Dahinya berkerut bingung. Ia sama sekali tidak mengenalinya. Memang siapa cewek ini?

Tingginya sekitar 170 cm. Memakai gaun berwarna hijau toska dengan rambut bergelombang berjatuhan di punggungnya. Dan wajah yang sangat cantik. Tetapi, Jinki masih belum mengenalinya karena kacamata hitamnya.

Manajer Nayoung, di sebelah Nayoung berbisik pada Jinki.

“Dia Lee Nayoung.”

“HAAAAH?!”

Jinki terlonjak. Kalau bosnya tahu ia cari keributan dengan orang yang akan menjadi model di pemotretan mereka minggu ini, habislah. Jinki berbalik dan berjalan menghampirinya. Lalu, membereskan pecahan Ipod yang berserakan di bawah kaki cewek itu. Ia berjongkok dan Jinki dapat melihat cewek itu tersenyum puas merendahkannya. Salah satu sudut bibir cewek itu yang merah, terangkat penuh kemenangan. Jinki merasa dilucuti habis-habisan karena harus berlutut di depan seorang cewek. Harga dirinya punah sudah.

“Nih,” Jinki menyerahkan Ipod yang sudah rusak itu. Setidaknya ia punya alasan mengapa datang terlambat hari itu. Ia akan bilang pada bosnya bahwa Nayoung, si model sombong ini, ‘bermain-main’ dengannya dulu. Pagi ini, Jinki kesiangan karena biasanya, selama 3 bulan ini ada Jiyeon yang selalu membangunkannya.

Nayoung mengambil Ipod-nya dari tangan Jinki dan berlalu angkuh lalu berkata tanpa melihat Jinki.

“Manajer Ryu, berikan padanya nomor rekeningmu. Dan kau, asisten fotografer, berterima kasihlah padaku karena tidak membawa masalah ini pada bosmu. Aku tunggu 500 ribu won siang ini masuk ke dalam rekening manajerku.”

Hati Jinki mencelos. 500 ribu won adalah sepertiga gajinya sekarang. Sungguh sial nasibnya mesti bertemu dengan model sialan ini.

Seoul

“Ya, Omma. Aku sudah di Seoul. Iya, baiklah, aku akan mampir..”

Jiyeon sibuk berteleponan dengan ibu dan ayahnya yang tinggal di Seoul begitu ia sampai di Seoul. Ia membaca baik-baik alamat di surat yang diberikan atasannya padanya. Choi Construction?

“Apakah sudah dekat?” Jiyeon bertanya pada supir taksi yang membaca alamat yang dibawanya. Supir taksi itu mengangguk.

“Tinggallah bersama kami,” Ibunya merengek di seberang telepon. “Bekerjalah di Seoul..”

“Omma..,” kata Jiyeon lembut sambil merapikan gelungan rambutnya yang agak berantakan. Ia melirik bayangannya di spion. Perfect. Lipstik merah muda lembut yang cocok dengan kulitnya dan eyeliner keluaran terbaru paling mahal. Wajahnya yang oval dengan mata besar yang cantik itu membuatnya bangga. “Aku hanya seminggu di sini. Lagipula, di Incheon… Aku tidak bisa meninggalkan Jinki.”

Ibunya mendesah.

“Kau dengar dia?”

Ibunya tampak bicara pada ayahnya. “Anakmu sudah tergila-gila oleh lelaki Incheon itu,” lanjut ibunya sinis, lebih kepada Jiyeon. “Apa sih yang kau harapkan dari lelaki Incheon itu? Fotografer? Masa depan yang tidak jelas.”

“Omma..,” Jiyeon menghelas nafas. Ia masih memegangi alamat kantor Choi Construction itu agar supir taksi dapat melihatnya dengan jelas. “….kami sudah lama pacaran. Aku tidak pernah bermasalah dengan profesinya.”

“Dan kalian tinggal serumah sekarang…,” Ibunya menyambung kalimatnya sendiri dengan sadis. “Ya Tuhan! Anak gadisku. Aku tidak setuju dengannya. Karirmu begitu bagus dan lelaki itu? Dia akan terus menumpang hidup padamu… Bagaimana kalau kau hamil?”

“Omma!”

Jiyeon kehilangan kesabaran. Dan lagi, ia sudah menemukan kantor pusat Choi Construction di depannya. Gedung paling megah di daerah itu, tinggi menjulang.

“Sudah ya, aku tutup.”

Jiyeon menutup teleponnya. Tidak ia pungkiri kalau wajahnya panas dan memerah sekarang. Ibunya takut Jinki menghamilinya? Tuduhan macam apa itu…. Walaupun serumah, selama ini, Jinki sangat menjaganya. Mereka bersentuhan, tapi Jiyeon tidak sekali pun tidur dengannya. Mereka berada di kamar terpisah.

Jiyeon turun dari taksi dan memandang gedung Choi Construction di hadapannya saat…

Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di hadapannya. Seseorang turun dari mobil itu. Memakai kemeja dengan dasi yang rapi dan jas di tangannya. Ia adalah lelaki yang sangat tinggi. Jiyeon tidak bisa melihat wajahnya karena ia memakai kacamata hitam.

Sosok itu melewatinya dan Jiyeon memanggilnya.

“Jogiyo! Maaf, apakah Anda karyawan di sini? Saya Shin Jiyeon dari Incheon Mall. Bisakah saya bertemu dengan…,” Jiyeon membuka lagi surat yang diberikan atasannya. “… Mister Choi?”

Cowok itu menghentikan langkahnya. Terdiam beberapa saat memandangi cewek yang ada di hadapannya. Rambut bergelombang panjang yang digelung ke atas. Mata besar penuh rasa ingin tahu… Cowok itu melepas kacamata hitamnya.

“Shin Jiyeon?!!!”

Jiyeon mendekap mulutnya kaget saat melihat cowok itu melepas kacamata hitamnya.

“Choi Minho! Ya ampun, kau Choi Minho kan?”

Refleks, tanpa tedeng aling-aling, Minho langsung saja menghambur memeluknya erat. Jiyeon pun melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Minho. Semua orang yang lewat memandangi mereka sampai akhirnya Minho buru-buru melepas pelukannya dan berdehem.

Wajah Jiyeon memerah. Ia tidak pernah berharap bertemu lagi dengan Choi Minho di sini.

“Jangan bilang Choi Construction ini adalah perusahaanmu?!”

Minho tersenyum penuh arti padanya. “Kau cewek yang akan mengerjakan proyek Incheon Mall bersamaku? That will be seriously fun.”

Ia tersenyum lebar sampai Jiyeon merasakan wajahnya memerah sangat parah. Ia tidak tahu mengapa. Rasanya, kebahagiaan melihat Choi Minho lagi tidak tertukar oleh apapun.

Seoul, 7 tahun yang lalu

“Ssst, Shin Jiyeon. Seo Hyun sonsaengnim datang.”

Yoora, teman sebangku Jiyeon, berbisik padanya yang sedang tidur terlelap di atas buku fisikanya. Jiyeon terbangun malas-malasan, mengelap air liur di pipinya, membuat Yoora bergidik. Di tahun pertama ia bersekolah saja, Jiyeon sudah sedemikian populer di sekolahnya. Semua cowok menginginkan Jiyeon menjadi pacarnya. Tapi… kelakuannya itu, loh. Terlampau ceria, tidak peduli dengan orang lain.

Seo Hyun sonsaengnim tidak masuk kelas sendiri. Di belakangnya ada seseorang. Jiyeon memandangi orang itu. Seorang siswa baru. Laki-laki. Sangat tinggi. Dan ketika ia memperkenalkan diri, Jiyeon tertegun memandangi matanya yang besar. Dan cowok itu… bisa dikategorikan sangat tampan.

“YA! Shin Jiyeon!” Yoora berbisik padanya. “Hei, sadarlah! Kau tidak perlu lama-lama melihatnya, kan. Dia risih, tuh.”

Dan benar saja. Choi Minho, siswa baru itu, memandangi Jiyeon terheran-heran karena Jiyeon tak lepas memandangi wajahnya.

“Minho! Minho! Minho!”

Semua gadis berteriak saat Minho memasukkan bola basketnya dengan three point shoot. Dia sangat jangkung. Dan jago basket. Sampai-sampai, anak lelaki di SMA mereka, tidak ada yang bisa mengalahkannya.

Jiyeon sedang dihukum membersihkan toilet sekolah akibat tidur dalam pelajaran literatur Korea ketika itu. Jarak antara lapangan basket dan toilet sekolah tidaklah jauh, hanya dibatasi keran air tempat Jiyeon bolak balik mengambil ember demi ember.

Tanpa sadar, mata Jiyeon tidak lepas memandangi Choi Minho. Cowok itu begitu hidup, bergerak, lincah. Dan sangat-sangat tampan. Ia membawa kembali ember kosongnya ke kran air yang berjejer di pinggir lapangan basket tanpa menyadi, objek perhatiannya lebih dahulu ada di sana. Langit senja memayungi mereka berdua saat itu. Saat Choi Minho mengangkat wajahnya dari kran air dan membasuh wajahnya dengan handuk.

Ia tersenyum lembut pada Jiyeon.

“Apakah di wajahku ada sesuatu?”

Jiyeon gelagapan mendapat pertanyaan seperti itu. “Eh?”

“Kau terus melihat ke arahku,” kata Choi Minho lagi, tertawa renyah kepadanya. Jiyeon memainkan pegangan embernya salah tingkah. Ia belum pernah merasakan hal ini padahal umurnya sudah enam belas. Rasanya ada yang aneh saat Choi Minho ada di dekatnya. Di kelas, menyapanya, mengerjakan tugas kelompok bersamanya, piket bersamanya, bermain basket saat pelajaran olahraga di satu lapangan yang sama dengannya. Ia merasa perutnya sakit jika melihat Choi Minho.

“Minho-ya!”

Suho memanggil Minho untuk bermain kembali di lapangan.

“Waktu istirahat sudah selesai,” Minho masih memandangi Jiyeon dengan tatapan lembutnya. “Sampai nanti!”

Saat Minho melambai padanya, Jiyeon membalasnya. Jiyeon memperhatikan punggung Minho yang menjauh darinya. Ia memutuskan untuk meneruskan pekerjaannya mengisi ember dengan air hingga penuh. Setelah embernya terisi penuh, Jiyeon bergegas mengangkatnya susah payah menjauhi kran air menuju ke toilet sekolah saat…

BUGH!

Dan pandangannya kabur.

Minho memandangi Jiyeon yang masih tertidur di atas ranjang kecil di UKS sekolah. Ia melirik arlojinya. Pukul 7 sore. Supirnya pasti telah menunggu di gerbang sekolah, tapi Minho urung beranjak dari kursinya di sebelah ranjang Jiyeon. Bola basket menghantam kepala Jiyeon. Dan itu tidak sengaja dilepar oleh Suho yang bermaksud mengoper ke arah Minho. Namun, karena Minho sibuk memperhatikan punggung Jiyeon dari kejauhan, bola basket melesat dan mengenai belakang kepala Jiyeon.

Minho segera menggotongnya ke ruang UKS.

Jiyeon perlahan membuka matanya dan terduduk. Kepalanya masih sangat sakit.

“Choi… Minho?” ia berbisik lemah.

Minho tersenyum padanya. Lemah. Ia merasa amat bersalah.

“Semua salahku. Harusnya aku menangkap bolanya…”

Jiyeon masih setengah sadar mendengar pengakuan Minho. “Seandainya saja… aku tidak memperhatikanmu ketika berjalan menjauhi lapangan..”

Jiyeon yang masih belum sepenuhnya sadar refleks menajamkan telinganya karena kata-kata Minho berikutnya sangat indah.

“Aku tidak tahu mengapa…,” Minho menunduk. Memperhatikan kaki-kakinya. Ia masih memakai seragam basketnya. “Sudah setahun aku di sini bersama kau, tetapi tidak pernah sekali pun kita mengobrol banyak…”

Jiyeon menurunkan tangannya dari belakang kepalanya. Tertegun dengan kata-kata Minho. Ia merasakan wajahnya panas,  tapi bukan karena sakit di kepalanya. Rasa sakit perutnya bertambah berkali-kali lipat saat melihat wajah Minho merona merah, masih menunduk.

“Aku merasa… Kau manis sekali, Shin Jiyeon.”

Dan sore itu, ruang UKS menjadi saksi saat Choi Minho pertama kali mencium Jiyeon.

END OF FLASHBACK

Seoul, 11:12 PM

“Lalu kau pergi…”

Jiyeon menggigit bibirnya. Baru saja, satu jam belakangan mereka saling tertawa mengingat masa lalu mereka di SMA sambil minum sedikit soju, namun, detik ini, Jiyeon berkata dengan getir. Tidak banyak masa-masa bahagia yang ia kenang tentang Choi Minho. Choi Minho malah telah menimbulkan luka yang menganga baginya. Cinta pertamanya yang meninggalkannya begitu saja.

Jiyeon cegukan. Bau soju keluar dari mulutnya. Minho memang ikut minum bersamanya setelah meeting tadi—mereka mampir ke sebuah kedai soju di depan kantor untuk bernostalgia semasa SMA menghabiskan waktu bersama—namun, Minho minum lebih sedikit dari Jiyeon.

“Aku dipaksa ayahku belajar di Amerika..,” Minho menghela nafas sambil menyetir mobilnya. Jiyeon duduk di sebelah kemudinya. Entah mengapa, suasana mendadak menjadi kaku. Ya, tidak lama setelah kejadian UKS itu, Minho menghilang tanpa berpamitan. Setahun kemudian, Jiyeon mengetahui dari Suho kalau Minho pergi bersama ayahnya untuk belajar di sekolah bisnis di Amerika.

“Ngomong-ngomong, kau menginap dimana malam ini? Kau mabuk, ya?”

Jiyeon menggendikkan bahunya. “Belum tahu. Kita terlalu banyak bicara bisnis di pertemuan kita hari ini. Dan juga terlalu banyak soju.”

“Enak saja,” kata Minho. “Yang minum banyak itu kau. Aku hanya minum setengah dari porsimu.”

Minho mengangkat handphone-nya sambil menyetir dan Jiyeon tidak begitu mendengarkan apa yang dibicarakan di telepon.

“Aku sudah mengatur kamar untukmu. Tepat di lantai di bawah rumahku.”

Minho menoleh padanya, tersenyum lebar. Sedikit dingin dan angkuh. Dia sudah sedikit berubah dari Choi Minho dengan pribadi hangat yang dikenalnya waktu SMA.

“Terima kasih,” kata Jiyeon sambil tersenyum padanya. Tiba-tiba, HP-nya berbunyi. 9 SMS masuk dari Jinki. Jiyeon segera membalasnya. Belum juga sehari, Jiyeon sudah merindukan kekonyolannya.

Aku akan tidur di apartemen milik temanku. Jangan khawatir, Oppa. Aku tidak minum, kok. Love you. XXX

“Siapa? Kenapa kau senyam senyum begitu?”

Jiyeon gelagapan mendapati Minho sedang memperhatikannya.

“Namjachinggu.”

“Kekasih?” Minho tertawa, namun terdengar aneh. “Cewek secantik kau pasti sudah punya kekasih, ya.”

Minho memarkir mobilnya dan turun. Jiyeon mengikuti di belakangnya. Ia membawa dokumen-dokumen di dalam map birunya yang besar dan tas tangannya, sementara kopernya masih ada di dalam mobil Minho. Nanti, akan ada yang mengantarnya, begitu kata Minho. Jalannya agak tidak stabil akibat pengaruh soju. Sepertinya, Jiyeon minum agak banyak hari ini karena pikirannya begitu berkecamuk bertemu dengan Choi Minho. Ada kebahagiaan meluap-luap, serta sekaligus kesedihan yang tidak terungkap yang ia juga tidak yakin dari mana asalnya.

Jiyeon dan Minho memasuki lobi gedung apartemen itu dan menuju resepsionis yang memberikan kunci sebuah kamar pada Minho. Minho memberikannya ke Jiyeon. Jiyeon nyengir padanya.

Mereka masuk ke dalam lift. Minho memencet lantai 29 untuk Jiyeon dan lantai 30 untuknya sendiri saat Jiyeon melihat sesuatu melingkar di jari Minho saat memencet tombol lift. Entah mengapa, seberapapun ia berkonsentrasi mengingat cowoknya, Lee Jinki, yang menunggunya di Incheon, ia merasa sangat sakit hati.

“Kau sudah menikah?”

Jiyeon cegukan, menarik tangan Minho mendekat ke arahnya. Minho hanya bingung memandanginya. “Kau pasti mabuk, ya?”

“Tidak, kok,” Jiyeon berkata sambil menggeleng. “Istrimu.. apakah dia ada di rumah?”

“Tidak.”

Minho berdehem, berusaha menguasai dirinya. Jiyeon sangat cantik, cewek yang pernah disukainya setengah mati. Yang ayahnya pisahkan darinya dengan membawanya ke Amerika. Yang membuatnya pernah tinggal kelas di Amerika karena terus merindukan gadis ini. Minho menarik tangannya kembali. Ia bersandar di sudut lift dan Jiyeon pada sudut satunya, sibuk dengan pikiran masing-masing….

GREEEEKKK!

CKLIK!

Pandangan Minho dan Jiyeon berubah menjadi hitam semua. Tiba-tiba saja guncangan keras di dalam lift membuat mereka bergeser satu sama lain. Dan lampu lift-nya mati. Jiyeon berteriak kencang sekali mendapati dirinya terjebak di lift dan Minho meraih tubuhnya, memeluknya erat, menenangkannya…. Dan menenangkan dirinya sendiri.

Incheon, 10:15 AM

“Kenapa kau datang terlambat?”

Bos Jinki, seorang fotografer profesional terkenal, Park Yoochun, memarahinya karena Jinki telat. Jinki bahkan datang setelah modelnya datang ke studio, begitu pikir Yoochun.

“Ng.. Itu,” Jinki mengerling ke arah Nayoung yang sedang dirias melalui cermin dan Nayoung balas memandanginya tajam. “Ada sedikit masalah tadi, Hyung. Sori.”

“Ya sudah, kau siapkan setting-nya. Pertama, kita pakai background outdor terlebih dahulu baru indoor. Untuk outdoor, dimulai dari beranda di lantai dua, kau pergilah ke sana, siapkan dengan baik,” Yoochun memerintahnya. Jinki hanya menghela nafas berat bahkan ketika ia melewati Nayoung yang sedang duduk di rias di depan cermin. Nayoung tampak sangat puas melihat ia memiliki power lebih besar dari Jinki di sana, yang hanya menjadi pesuruh bosnya.

“Lee Nayoung-ssi. Silahkan Anda berganti kostum pertama,” Yoochun berkata sangat lembut pada Nayoung, berbeda dengan saat ia menyuruh Jinki. Jinki mendengus. Begitulah kebanyakan lelaki jika bertemu dengan wanita cantik. Energi yang biasa dipakai untuk menggencet orang-orang seperti Jinki hilang begitu saja.

Jinki bergegas menaiki tangga menuju lantai 2. Studio foto ini memang dibangun oleh keringat Park Yoochun sendiri. Meskipun bosnya itu menyebalkan, ia telah bekerja keras membuat studio foto yang terkenal di Incheon ini. Studio ini tidak terlalu besar, hanya terdiri dua lantai. Namun, seringkali majalah, katalog, atau apapun itu, yang memakai jasa Yoochun, meminta artis atau model mereka dipotret di sini. Karena studio ini punya semua yang dibutuhkan fotografi.

Lantai dua gedung itu begitu artistik. Jinki dapat melihat bahwa ruangan demi ruangan di sana dirancang oleh Yoochun sendiri. Ada yang berlatar lukisan taman dengan bunga bermekaran, lukisan kontemporer, dan banyak lagi. Kadang, para staf seringkali menginap menggunakan salah satu kamar di sini. Ada satu-satunya kamar yang hangat di sini, yaitu di pojok, dekat beranda. Dengan satu tempat tidur. Kebetulan saat ini musim gugur menjelang musim dingin dan ruangan tersebut satu-satunya yang diberi penghangat. Jika ada staf yang menginap selain di kamar itu, terlebih di lantai bawah, akan kedinginan. Dan setting beranda adalah setting yang paling spesial.

Beranda studio ini tinggi sekali dari permukaan tanah dengan latar balakang sebuah pohon besar yang berjarak 3 meter di depannya. Jika sore hari, pemotretan yang dilakukan di beranda ini dapat menangkap matahari senja yang berwarna jingga. Jinki berdiri di antara ambang jendela besar di beranda itu, merasakan angin musim gugur yang membuat ngilu tulang-tulangnya. Ia mulai membuat set pemotretan.

Tidak lama kemudian, Yoochun dan yang lainnya naik ke lantai 2 dengan tergesa-gesa. Yoochun menghampirinya dengan wajah panik.

“Jinki-ya.”

Tumben sekali bosnya ini memanggilnya dengan ‘Jinki-ya’. Biasanya ‘kau-kau’ saja.

“Ada berita buruk.”

Yoochun menatap Jinki serius.

“Ada apa?” tanya Jinki. Perasaanya pun tak enak seketika.

“Kim Kibum, sahabatmu itu, sialan sekali dia. Dia bilang dia masuk rumah sakit.”

“Apa?!” Jinki terlonjak kaget. Pasalnya, kemarin sore, di Pancake House, saat membantu Jinki memilih kue untuk Jiyeon, Key tampak baik-baik saja.

“Katanya, ia keracunan saus tortilla basi yang dimakannya di rumah semalam sambil nonton film. Dia pingsan semalaman dan saat ini baru sadar…”

Ya ampun! Jinki mengkhawatirkan sahabatnya itu. Namun, Park Yoochun mungkin lebih mengkhawatirkan pemotretannya.

“Jadi…?” tanya Jinki. Diam-diam ia berharap pemotretan ini dibatalkan agar model sombong itu tahu rasa.

“Jadi…,” wajah pucat Yoochun mendadak cerah. “Kau akan menggantikannya di pemotretan hari ini, besok, selama seminggu! Betapa briliannya ideku, kan?”

Seperti tersambar petir, Jinki tidak tahu lagi harus berkata apa. Ia hanya berkata tergagap. “Aku…? Jadi.. Model?” Akan jadi apa katalog itu jika ia yang menjadi modelnya? Katalog mainan anak-anak karena ia merasa dirinya tampak seperti badut?

“Sudahlah,” kata Yoochun lagi, menepuk bahunya, mengeluarkan tatapan permohonan yang Jinki tak dapat berkelak karenanya. “Kali ini, kau harus tolong aku. Hanya beberapa kali wedding shoot dengan model Lee Nayoung itu dan kita berdua selamat. Masalahnya, aku tidak punya model lagi selain Kibum. Di antara staf-stafku, kaulah yang wajahnya paling lumayan. Aku bisa dituntut kalau tidak bisa mencari model lagi. Kau akan kuberikan bayaran Kibum.”

“Hyung…”

Jinki menghela nafas. Saat ia menoleh, ia mendapati Nayoung baru saja menaiki tangga menghampirinya. Jinki tersentak melihatnya. Nayoung tampak berbeda dengan balutan gaun pengantin berwarna putih yang pas sekali di tubuhnya yang ramping. Rambutnya digelung ke atas dan Jinki teringat Jiyeon. Rambut Jiyeon seringkali digelung ke atas. Namun, Nayoung, kali ini, versi yang jauh lebih rapi.

Jinki tidak bisa lepas memandanginya. Model ini… bukan model biasa. Ia sangat menawan, membuat siapapun terhipnotis karenanya.

“Baiklah, Hyung, aku setuju,” kata Jinki pada akhirnya.

Jinki keluar dari ruang ganti dengan tuksedo berwarna putih dengan canggung.

Nayoung yang tampak sibuk mengatur gayanya tercengang melihat Jinki. Ia tampak berbeda. Sama sekali berbeda dengan Jinki asisten fotografer menyebalkan yang membuat Ipod-nya rusak tadi pagi. Rambutnya rapi. Senyumnya masih senyum yang sama dengan gigi-gigi rapinya, tetapi semakin menawan dengan balutan tuksedo yang ia pakai.

“Dia tampan, ya?” Manajernya menggoda Nayoung.

Nayoung langsung membuang muka, namun ia merasakan wajahnya sedikit memerah. “Tidak sama sekali. Ia terlihat sangat kampungan.”

Nayoung menoleh lagi ke arahnya sekali lagi dan Jinki memergokinya. Alih-alih menghindari tatapan Jinki, Nayoung malah berfokus pada keringat Jinki yang jatuh di pelipisnya, membuatnya semakin tampan.

“Ayo, kita mulai take! Ambil posisi,” Yoochun memerintah lagi.

Jinki menghampirinya, tidak tampak berusaha ramah pada Nayoung karena ia kesal juga dengan gaya Nayoung tadi pagi. Tapi, Jinki tahu, meskipun bukan model profesional, ia harus profesional.

“Hai,”kata Jinki.

“Hai,” balas Nayoung canggung.

Pose pertama mereka saja sudah sangat skinship. Yoochun mengatur agar Jinki merangkul pinggang Nayoung dan Nayoung meletakkan kedua tangannya di bahu Jinki.

“Sebentar!”

Jinki tiba-tiba saja menyela proses pemotretan.

“Apa lagi, sih?” tanya Yoochun gusar. “Ini sudah keempat kalinya kau bilang kau belum siap.”

“Aku kan memang bukan model,” seru Jinki tak kalah kesal. Nayoung, yang kesal karena ia harus mengulang-ulang satu take, langsung saja meraih tangan Jinki dan meletakannya di pinggangnya sendiri.

Jinki gelagapan. Entah mengapa, dengan jarak begitu dekat bersama model cantik ini, jantungnya serasa mau copot.

“Letakkan tanganmu di situ,” kata Nayoung lurus ke dalam matanya. Wajah mereka hanya berjarak 5 centi sekarang. “Anggap aku pacarmu. Perlakukan aku seperti itu.”

Jinki memejamkan mata membayangkan Jiyeon, namun ia tetap tidak bisa fokus. Entah mengapa, bayangan Nayoung yang wajahnya hanya berjarak beberapa centi darinya menghantuinya. Ia membuka matanya dan menatap Nayoung. Ia terlalu cantik.

Seberapapun Nayoung menguasai diri, ia pun merasakan debaran aneh yang sama….

“Cheers!”

Di musim yang sangat dingin seperti ini, soju adalah pilihan yang sangat tepat untuk menghangatkan badan. Setelah pemotretan selesai, mereka pergi ke kedai soju yang berlokasi agak jauh dari studio untuk merayakan kerjasama mereka seminggu kedepan.

Sekitar 10 orang, termasuk Jinki, Yoochun, Nayoung, dan manajernya memadati tempat itu. Mereka memesan satu kamar karoke dan menikmati soju sambil bernyanyi-nyanyi. Jinki duduk di pojok, berusaha melemaskan otot-ototnya yang tegang. Ternyata menjadi model itu melelahkan sekali. Jika salah, maka harus berulang-ulang mereka melakukan pemotretan dalam satu sesi. Sungguh melelahkan. Jinki bergidik saat ia merasa ada seseorang yang sedang menatapnya tajam. Di seberang sofa ia duduk di tempat karoke, model cantik itu, Lee Nayoung, menatapnya dengan tatapan membunuh. Jinki melihatnya menulis di atas sebuah tisu yang diambilnya dari meja. Suasana di ruangan itu memang sangat hiruk pikuk dengan semua orang bernyanyi dan minum soju lalu mengoceh, kecuali mereka berdua. Entah apa karena ia dan Nayoung adalah peminum soju yang kuat.

Karena kau salah terus, aku jadi melakukan pemotretan berkali-kali dalam 1 sesi. Jugullae?

Mata Jinki membelalak seketika membaca tulisan cewek itu di atas tisu. Jadi, padangan tajamnya karena Nayoung dendam padanya? Bahu Jinki merosot di sofanya. Memang ia sudah mencari masalah dengan cewek ini dengan merusak Ipod-nya, lalu merusak pemotretannya. Jinki tidak bisa membayangkan akan jadi apa katalognya nanti. Wajahnya yang konyol itu akan menghiasi katalog bersama model tercantik yang pernah ada. Dia akan dihujat habis-habisan oleh penggemar Lee Nayoung.

Jinki teringat betapa bodoh tampangnya tadi saat rambut cokelat lebatnya disisir rapi dan ia memakai dasi kupu-kupu, berpose seperti sepasang suami istri dengan model cantik itu. Ia berkeringat dingin, tidak tahu kenapa. Dan banyak melakukan kesalahan. Maklum saja, ia bukan model, ia fotografer. Jinki bersumpah akan memaksa Kibum makan saus tortilla basi itu sekali lagi kalau Kibum benar-benar tidak akan hadir lagi selama seminggu.

Jinki mengalihkan pandangannya ke layar HP-nya. Ia sudah mengirim 9 SMS pada Jiyeon yang berada di Seoul, tetapi tidak satu pun terbalas olehnya. Apakah Jiyeon begitu sibuk hingga tidak memeriksa HP-nya sendiri?

Jinki mengerling lagi ke arah model cantik di hadapannya lagi dan Nayoung tampak sibuk menulis sesuatu di atas tisunya lagi. Nayoung melebarkan tisunya lagi sambil memandang Jinki tajam.

Lalu, mana 500ribu won-ku? Bayar cash saja, sekarang!

Jinki mengacak rambutnya frustasi. Cewek ini benar-benar angkuh dan gila.

Jinki berdiri dari duduknya, menarik Yoochun yang tampak asyik bernyanyi dengan manajer Nayoung yang sudah sangat mabuk. Yoochun juga setengah mabuk. Mereka berdua keluar ruangan dan berbicara di koridor.

“Hyung, bantu aku,” bisik Jinki. “Aku butuh 500 ribu won. Potong dari gajiku saja.”

“Untuk apa? Baiklah.”

Yoochun masih bergoyang menikmati irama saat menyerahkan kepada Jinki kunci lacinya di studio. Yoochun bilang padanya bahwa ia menyimpan 2 juta won di dalam lacinya itu. Jinki memeluk Yoochun singkat dan bergegas masuk ke ruang karoke. Kekuatan meminjam uang dari orang mabuk. Matanya langsung saja menantang mata Nayoung. Memberi isyarat dengan ujung dagunya agar keluar bersamanya.

“Mau kemana?”

Tanya Nayoung sambil mengikuti Jinki di koridor, keluar. “Aku tidak bisa pergi tanpa manajerku.”

Saat Nayoung berkata seperti itu, Jinki dapat merasakan bau soju tercium dari mulutnya. “Manajermu mabuk parah. Sudah, kau ikut saja.”

Entah apa yang menguasainya, tiba-tiba saja Jinki menarik tangan Nayoung dan mengajaknya berjalan beberapa blok menuju studio. Nayoung diam saja. Entah apa karena dia lelah atau sedang mabuk, Nayoung hanya diam saja mengikuti Jinki.

Mereka tiba di gedung studio Yoochun. Jinki membuka gerendel pintunya dan terbuka. Mungkin saja masih ada staf yang bersih-bersih di lantai 1. Jinki langsung saja bergegas menuju lantai dua, masih menggenggam tangan Nayoung.

Tiba di lantai dua, Jinki melepaskan tangan Nayoung dan barulah ia tersadar begitu melihat sebuah cincin melingkar manis di jarinya.

“Kau… sudah menikah?”

Nayoung mengangguk bersemangat. Nyengir pada Jinki. Lalu, tanpa disangka-sangka sampai Jinki terkejut dibuatnya, Nayoung mulai mengeluarkan air mata. Ia berjongkok sambil menutupi wajahnya dengan kedua lengannya.

Jinki tidak tahu harus berbuat apa. Tanpa pikir panjang, Jinki ikut berjongkok, memeluknya.

“Jangan menangis, oke.”

Jinki mengelap air mata Nayoung yang jatuh di pipinya. Jinki berpikir, mungkin saja ia sedang ada masalah dengan suaminya. Bahkan, pemberitaan media massa sepertinya tidak sadar kalau model Lee Nayoung telah bersuami karena Jinki tidak pernah mendengar kabar tersebut.

“Jangan menangis, oke.”

Jinki beranjak meninggalkannya perlahan dan menuju laci yang diberitahukan Yoochun. Dan benar saja, Hyung-nya itu sengaja meninggalkan uang di studio untuk jaga-jaga kalau kalau ia membutuhkan uang. Jinki mengeluarkan 500ribu won dari amplop besar cokelat tempat Yoochun menaruh uang dan bergegas keluar kamar itu. Nayoung sudah tidak ada. Jinki mencari di lantai 2, Nayoung sudah benar-benar raib. Ia berlari menuruni tangga dan sangat lega ketika melihat Nayoung ada di depan pintu lantai 1, sedang mencoba melepas gerendel pintu studio…..

Tunggu! Mencoba melepas gerendel pintu studio?

Jinki setengah berlari menghampirinya, ikut panik. Nayoung menengadah kepadanya. Bau soju masih tercium dari mulutnya saat ia bicara, “Seseorang mengunci pintunya. Aku segera ke bawah dan ia sudah pergi.”

Jinki mengeluarkan handphone dari sakunya. 1 SMS balasan dari Jiyeon. Baterenya langsung drained dan HP-nya mati total sekarang. Jinki menleh ke arah Nayoung dan Nayoung hanya nyengir. Ia sepertinya tidak membawa HP-nya dan telepon di kantor ini mati di atas jam 9 malam. Nayoung terus nyengir padanya dengan wajah cantiknya yang semakin memerah karena pengaruh soju dan terjatuh….

“Lee Nayoung!”

Jinki menahan tubuhnya dan menggotongnya. Tidak ada pilihan lain, mereka harus di sini malam ini, sampai Yoochun dan yang lainnya tersadar mereka tidak ada dan mencari ke sini. Tapi… Apakah mungkin? Mereka semua sedang mabuk sekarang. Mereka tidak akan ingat pada Jinki dan Nayoung.

HUP!

Jinki menggotong tubuh Nayoung sekuat tenaga menaiki tangga. Mereka tidak bisa berdiam diri di lantai 1. Dinginnya lantai 1 seperti dinginnya basement di musim dingin, bisa membuat hipotermia. Mereka harus berada di satu-satunya ruangan paling hangat sampai pertolongan datang. Sepertinya, Nayoung hanya kelelahan dan mabuk. Semua akan oke.

Jinki membaringkan Nayoung di atas satu-satunya ranjang di ruangan itu. Uang 500 ribu won yang menjadi sengketa ia dan Nayoung bahkan belum sempat diberikan. Ia memandangi Nayoung yang polos tanpa make up di wajahnya yang memerah. Masih tetap cantik di bawah sinar bulan yang terang menembus ruangan itu lewat jendela. Jinki memandanginya. Mengapa ia menangis? Entah mengapa Jinki penasaran.

Jinki tertidur dengan posisi duduk di samping ranjangnya saat Nayoung membuka matanya. Nayoung masih setengah sadar dan bingung mengapa ia di sini. Yang jelas, ia bermimpi, ada seorang cowok yang menggotongnya ke ruangan ini. Ataukah itu bukan mimpi?

Ia memandangi wajah Jinki yang kelelahan. Rasanya aneh. Mereka tidak saling mengenal, tapi Nayoung merasakan kedekatan perasaan dengannya. Ada suatu perasaan yang tidak bisa digambarkan karena mimpinya tentang cowok itu. Nayoung, yang kesal setengah mati dibuatnya selama seharian penuh, saat ini sedang memandanginya yang sedang tidur dengan wajah polosnya. Ataukah ia masih dalam pengaruh soju?

Jinki membuka matanya dan mendapati Nayoung memandanginya. Di bawah sinar bulan malam itu, mereka saling mengagumi. Dan entah apa yang menguasainya, Jinki mencondongkan tubuhnya ke arah Nayoung dan menciumnya dalam.

Seoul

“Ada aku di sini, tenang!”

Minho dan Jiyeon sudah hampir 15 menit berada di dalam kegelapan. Minho menyayangkan pelayanan gedung ini yang tidak cepat tanggap menghadapi lift rusak seperti ini. Jiyeon memeluk punggungnya erat dan Minho mendekap Jiyeon di dadanya. Jantungnya berdetak sangat cepat sampai cincin kawinnya bersama Nayoung terasa berdenyut-denyut. Baik Minho maupun Jiyeon berharap teknisi segera datang menolong mereka karena mereka hanya menghabiskan waktu dalam keheningan satu sama lain.

Suasana yang aneh.

Jiyeon berkali-kali membayangkan sedang apa Jinki di Incheon sedangkan Minho berkali-keli mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia telah menikah. Namun, satu hal yang mereka pungkiri satu sama lain, mereka saling menginginkan satu sama lain.

Tiba-tiba lift bergerak naik dan lampunya menyala terang.

Jiyeon langsung melepaskan pelukannya dan Minho bersyukur di dalam hati. Mereka kembali ke posisi masing-masing, saling menjauh. Jiyeon memandangi sepetunya dan Minho memandangi tombol lift yang bergerak terus ke atas.

“Aku akan komplain besok pada pengurus gedung,” kata Minho geram.

“Ng.”

Jiyeon tidak tahu harus menanggapi apa, yang jelas debaran di dadanya ini tidak dapat dihilangkan begitu saja. Ia melihat tombol lift sudah sampai pada angka 28. Sebentar lagi 29…..

“Well, aku…,” Jiyeon menggigit bibirnya. “…Aku duluan..”

GREP!

Minho menarik lengan Jiyeon yang akan keluar pintu lift dan ia memencet tombol tutup pintu lift. Ia menarik Jiyeon dan mendorongnya ke pojok, lalu menciumnya….

TBC

LIKE AND COMMENT, YA! THANKS! 🙂

31 responses to “CHANGING PARTNERS (Part 1 of 2)

  1. duh aduh aduhhh~ bikin penasran deh..minho-jiyeon bernostalgia zaman sma smpe terbawa suasana, jinki-nayoung jg terbawa suasana krn terkurung..smuanya serba terbawa suasana -____-” *digeplak author*
    tp minho-nayoung kan uda nikah tuh, belum lg jinki-jiyeon yg saling membutuhkan..gimana kelanjutannya ya?

  2. wah,keren si minho ma jiyeon smpai sgtunya mengingat masa lalu,jinki ma nayoung mengalami cinta dadakan nih,wah daebak lanjut thor ^^

  3. Memang ya laki2, ga bisa nglepas ksempatan emas..
    Ga jinki ga mino sama aja, nyosor duluan..
    Ayo thor, lanjuuutt, pnasaran niih..

  4. omo cerita menarik sekali,,,,trus gimana nich kelanjutannya…..ditgg next partnya jgn lama2 yach penasaran nich,,,hehehehhehehe

  5. Suamiku Jinki!!
    Kamu ngapain itu?
    Berani ya.
    Awas aj ya kamu kalok pulang nanti..
    *ampun changi.~ aku gak bermaksud begitu tadi. Ini semua gara2 adminnya nh. Jangan marah ya~.*

    wah bagus ceritanya. Lanjut….

  6. kayanya minho-jiyeon bakal CLBK trus Jinki ma nayoung deh.. #soktau
    dilanjut ya penasaran nih.. Ceritanya seru..

  7. Waaaaah tuker pasangan Ɣää
    Ŧǻρί jinki dpt Ɣªήğ udah Ъќ ori ϑό°°◦☀ทќ
    =))‎​Шǎ̜̣̍к̣̣̥ǎ̜̣̍к̲̣̣̥ǎ̜̣̍‎​Шǎ̜̣̍к̣̣̥ǎ̜̣̍к̲̣̣̥ǎ̜̣̍‎​=)) ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s