LIFE [2]

Author : Asuchi aka @hotachii

Cast :

*) Yoo Nayeon [OC]

*) Ricky / Yoo Changhyun [Teen Top]

*) Oh Sehun [Exo]

*) Nayeon’s friends [OC]

*) Kevin / Woo Sunghyun [U Kiss]

*) Sementara segitu :p

Genre : AU, OOC, Romance, Angst <- di otak sih gitu :p

Rate : General

Disclaim : Kayaknya melenceng jauh dari inspirator sebelom’a :p selain OC’s Nayeon’s friends dan jalan cerita semuanya bukan punya aku, eh tapi kalo kasih kepin gak bakal ditolak /ditimpukkiseop

Credit Pic : Aishita World

a/n : Dita sama kepin lagi miskin, jadi dikontrak lagi sama aku buat maen bareng, tapi ini sekalian sama dua namja dita yg laen, Kibum belom nampang eh :p tunggu aja.. lanjutannya mungkin lama, mian (_ _)

ini pendek! dita bilang gitu, maklumin yaa~ masih proses intro kok, entar kalo udahinti cerita aku usahain biar lebih panjang lagi ^o^ happy reading ^^

Previous Part : LIFE [1] |

“Lupa jalan pulang? Tidak seharusnya kau pulang kemari.” Suara berat pria paruh baya menyambut kepulangan Nayeon dan Ricky.

Nayeon menatap sang ayah yang sedang duduk di teras depan rumahnya. Dia menunduk, merasa bersalah dan ingin sekali menangis saat itu juga. Saat itu, Ricky langsung saja menggenggam tangan Nayeon, dan mengajak saudaranya itu masuk ke dalam rumah.

Ayah si kembar mendesah pelan sambil menatap punggung putra dan putrinya itu.

LIFE [2]

Nayeon tersenyum begitu melihat Sehun berada di bangku di samping tempatnya duduk. Dia berpikir kalau Sehun tidak benar-benar marah padanya kemarin. Dia kemudian menghampiri bangkunya, menoleh ke samping begitu dia sudah duduk di bangkunya. ”Annyeong haseyo, mianhae yang kemarin.” Ucapnya tulus.

Desahan pelan dikeluarkan Nayeon begitu tidak mendapatkan respon dari Sehun. Tapi itu lebih baik daripada Sehun sama sekali tidak muncul seperti kemarin.

“Nayeon-ah, ayo kesini!”

Nayeon menoleh dan mendapati Jihyun tengah melambaikan tangannya. Empat teman Nayeon yang kemarin juga sedang berkerumun bersama Jihyun. Tanpa perlu berpikir keras, Nayeon yakin mereka ingin mendapatkan informasi lebih tentang saudara kembarnya.

Kelasnya berjalan lancar. Walaupun dia jarang sekali masuk sekolah tahun kemarin, tapi Nayeon setidaknya lebih berpengalaman daripada teman-temannya mengenai beberapa materi. Ada kelebihan juga tinggal kelas tahun sebelumnya.

Tapi begitu kelas ketiga dimulai, Nayeon memajukan bibirnya. Menyesal karena sama sekali tidak bisa berpartisipasi di kelas olahraga. Hari ini adalah olahraga bola tangan, dan sudah sangat jelas Nayeon sama sekali tidak bisa mengikuti kelas olahraganya itu. Kaki kirinya cedera, patah tulang dan belum sepenuhnya sembuh. Alasan kenapa sebelumnya Nayeon bilang pada Jihyun kalau dia tidak boleh berlari. Cedera kakinya memang tidak terlihat, Nayeon terlihat berjalan dengan normal, namun kakinya masih belum bisa digunakan untuk hal lain seperti berlari.

Nayeon memutuskan untuk diam di kelas karena dia akan merasa sangat iri kalau dia mengikuti teman-temannya ke lapangan. Tadi Nayeon sempat mengikuti Jihyun dan teman perempuannya yang lain saat ganti baju. Karena murid pria mengganti pakaian mereka di kelas, jadi mau tidak mau dia menyingkir sementara dari kelas.

“Ah, Sehun oppa! Kau tidak ikut pelajaran olahraga?” Nayeon bertanya begitu melihat Sehun tengah duduk di bangkunya saat kelas sudah kosong.

Seperti biasanya, yang ditanya tetap bersikap seolah patung.

“Arrasseo. Kau sama sekali pelit mengeluarkan suaramu. Apa karena suaramu terlalu indah, jadi kau tidak mau memamerkan suaramu? Takut orang-orang terpesona? Gwenchana, suara saudaraku tidak kalah indah kok. Jadi aku sudah terbiasa mendengar suara yang indah.” Oceh Nayeon. “Atau jangan-jangan… sebaliknya. Suaramu terlalu menyeramkan hingga membuatmu malu untuk bersuara. Hm, yang mana oppa jawabannya?” Tanyanya.

Lagi-lagi, meski Nayeon tahu dia akan sia-sia saja mengajak Sehun bicara, dia tetap saja melakukannya.

Nayeon kemudian duduk di bangku di depan Sehun, tepat di dekat jendela yang menghadap ke arah lapangan. Nayeon membalikkan posisi kursinya agar bisa berhadapan dengan Sehun. Dia kemudian melihat keluar, menatap teman-temannya yang tengah bermain bola tangan. “Apa di luar begitu menarik? Kemarin juga oppa terus saja melihat ke arah luar.” Nayeon bertanya dengan mata tetap mengarah keluar, sama seperti yang Sehun lakukan.

Cukup lama dia menatap ke arah lapangan sampai kemudian Nayeon menoleh kembali, menatap Sehun. “Oppa tampan juga ya.” Komentar Nayeon yang sukses membuat Sehun menghentikan kegiatannya dan menatap Nayeon.

Mata keduanya bertemu, saling menatap dengan cara yang berbeda.

“A… aku sepertinya harus ke ruang kesehatan.” Kata Nayeon sambil buru-buru pergi dari kelas.

-o0o-

“Permisi.”

Nayeon membuka pintu ruang kesehatan dan melongokkan kepalanya ke dalam, melihat dokter sekolah yang menjaga ruang kesehatan.

“Masuklah.” Ucap suara lembut dari dalam.

Dengan sedikit ragu, Nayeon kemudian masuk ke dalam dan mendapati seorang pria yang jauh sekali dari kesan seorang dokter sekolah. Terlalu muda kalau menurut Nayeon.

“Kau Yoo Nayeon?” Pria itu bertanya.

Nayeon cukup kaget karena dia dikenal orang pria di depannya. Ini hari keduanya di sekolah, dia sangsi dia bisa sama terkenalnya dengan Ricky. “Anda…. Bagaimana bisa tahu nama saya? Nayeon bertanya dengan ekspresi bingung.

“Ricky sering datang dan memintaku untuk memperlakukanmu dengan baik jika kau datang kemari.” Jawab pria itu. “Bisa dibilang aku sudah mengenalmu sejak dulu. Kalian kembar tapi tidak terlalu mirip. Yang ini lebih manis.”

“DE?” Wajah Nayeon terlihat kaget.

“Kenalkan, namaku Woo Sunghyun, tapi panggil saja Kevin. Aku lebih terbiasa dipanggil begitu. Dan ah ya, walaupun aku terlihat masih muda, aku ini asisten dokter di sekolah ini.” Terangnya dengan senyuman sangat manis.

“Bagaimana Changhyun bisa cerita begitu banyak pada Kevin-nim?” Nayeon bertanya.

Kevin memperlihatkan senyuman yang sama manisnya seperti tadi. Nayeon bahkan terlihat terpesona dengan senyuman itu. “Bisa dibilang aku dipaksa anak itu untuk mengajarinya bahasa inggris gratis.” Jawab Kevin yang membuat Nayeon kembali sadar. “Dan ya, jangan panggil aku seperti tadi. Panggil saja oppa, seperti murid yang lainnya. Aku masih belum cukup pantas disejajarkan dengan dokter sekolah ini, masih butuh banyak belajar.” Tambahnya.

“Aaahh.. de, arrasseo oppa.” Jawab Nayeon sedikit ragu.

“Jadi, apa kau mau beristirahat di sini sampai pelajaran olahraga selesai?” Kevin bertanya.

Kedua mata Nayeon membulat, dia tidak percaya bahkan asisten dokter sekolah itu tahu jadwal pelajarannya.

“Duduklah, atau berbaring. Sementara ini aku tidak bisa mengajakmu mengobrol karena harus membuat laporan untuk skripsiku.” Ucap Kevin setelah sekian lama memperhatikan Nayeon yang terlihat bingung tanpa menjawab pertanyaannya. Kevin kemudian berjalan menuju meja miliknya. Dan mulai berkutat dengan laptopnya.

Setelah Nayeon mengangguk dengan tampang yang masih bingung, dia berjalan menuju tempat kasur-kasur berjajar. Tidak ada orang lain di ruang kesehatan selain mereka berdua. Nayeon kemudian duduk di kasur yang paling dekat dengan meja Kevin. Dia menyibakkan tirai yang menghalangi tempat tidurnya dengan meja tempat Kevin bekerja.

Seolah melupakan keberadaan Nayeon, Kevin tetap sibuk dengan laporannya. Dia bahkan tidak sadar kalau Nayeon terus saja memperhatikannya. Tidak melewatkan setiap gerakan yang dibuat oleh Kevin. Nayeon juga tersenyum tanpa sadar saat melihat ekspresi-ekpresi lucu dari sang asisten dokter.

Degg… Degg…

Nayeon menyentuh dada dekat jantungnya. Dia merasakan denyut jantungnya begitu kuat. Sambil menatap Kevin, tangannya tetap berada di dadanya dan telinganya berusaha mendengarkan irama yang diciptakan jantungnya itu.

“Dia manis sekali. Terlihat benar-benar seperti orang baik. Seperti malaikat….” Nayeon memuji Kevin dalam hati. “Oppa!” Dia memanggil Kevin. “Oppa!” Nayeon menaikkan suaranya begitu tidak mendapat respon dari Kevin. “Kevin OPPA!” Kali ini Nayeon mengerahkan cukup banyak tenaga agar suaranya lebih kencang.

“Ne, wae?” Kevin bertanya kemudian.

Nayeon tersenyum. “Aku mau pergi ke kelas saja. Nanti aku datang lagi kalau oppa sudah tidak sibuk ya.” Ucap Nayeon sambil turun dari kasurnya.

Wajah Kevin terlihat muram. “Mianhae, kau bosan ya? Ah, tugasku terlalu banyak jadi aku mengacuhkanmu. Mianhae.”

Nayeon tersenyum dan menggeleng. “Anniyo, tapi di kelas juga ada temanku. Jadi aku tidak kesepian. Aku pergi dulu oppa.” Setelah mengucapkan salam perpisahan dan membungkuk sejenak, Nayeon pun pergi dari ruang kesehatan.

-o0o-

Nayeon tidak kembali ke kelasnya seperti yang dia katakan pada Kevin, tapi dia berjalan menyusuri gedung sekolahnya. Nayeon masih belum benar-benar mengenal sekolahnya itu. Setiap melewati kelas, Nayeon menatap papan petunjuk ruangan. Kadang dia berjinjit di jendela kelas orang lain yang sedang belajar, mengintip. Dan pada akhirnya Nayeon sampai di ujung gedung kelasnya dimana ada sebuah ruangan tanpa petunjuk. Ukuran ruangan itu lebih kecil dari ruangan-ruangan lain dan berada di lantas empat gedung sekolahnya. Seperti sebelumnya, Nayeon mencoba untuk mengintip.

Matanya membulat begitu melihat apa dan siapa yang ada di dalam ruangan itu. “OMO..!!”

-to be continued-

Komen penting banget buat saia, tapi gak pernah maksa buat komen kok…

-chii-

26 responses to “LIFE [2]

Leave a Reply to chii_binusKDJ Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s