Uncontrol [Part 10]

Title :Uncontrol

Author : Inthahindah

Length : Series

Genre: Romance, Friendship, Life, Love Trik (?)

Cast :

  • Yang Yoseob B2ST
  • Goo Hyemi (OC)
  • Son Naeun A-Pink
  • Jang Hyunseung B2ST
  • Lee Gikwang B2ST
  • Yoon Doojoon B2ST
  • Son Dongwoon B2ST
  • Yong Junhyung B2ST
  • Bang Cheolyong/ Mir Mblaq
  • Lee Joon Mblaq
  • Lee Jinki/ Onew Shinee
  • Kim Kibum  Shinee
  • Lee Jieun (Only Mention)

Disclaimers :This story really mine!!! Adaptasi dari sebuah novel terjemahan khusus dewasa #judulnya dirahasiakan# yg jalan ceritanya diubah di sana-sini tanpa mengubah karakter..

Read first Part 1 , 2 , 3 , 4 , 5 , 6 , 7 , 8 , 9

Warning : In view times, An Italic are the flashback!! And sorry for my bad grammar, in Hangul or English ^_^

*** Uncontrol ***

“Jalijinenji? (Kau baik-baik saja, ‘kan?)” ucap Hyemi membuka suara.

Naeun mendengus. Sedikitpun tak ingin melirik Hyemi yang kini menduduki kursi di sebelahnya. “Jangan berbelit-belit! Palli marhaejyo! Wonhaneun ge mwoya? (Cepat katakan! Apa yang kau mau?)

Hyemi mendesah.

Berat. Lagi-lagi Hyemi merasakannya. Membujuk, berbicara halus. Ini bukanlah sesuatu yang menjadi keahliannya. Ia tak terlahir dengan mulut manis dan kata-kata memukau.

Terlebih untuk Naeun.

Mengatakan sesuatu dengan watak yang telah jelas dikenal Naeun sebelumnya sudah tidak mungkin. Bagaimanapun, Hyemi mensyukuri perubahan pola pikirnya kini. Dan ia memang tak ingin lagi menyakiti dengan ucapan. Kendati begitu, Hyemi sepenuhnya mengerti akan keraguan dan segala hujatan yang ditujukan Naeun padanya akibat cara pikirnya sekarang.

Tapi topeng? Kepura-puraan? Hyemi benar-benar tersakiti oleh ucapan itu. Tidak bisakah Naeun membaca, meski hanya sedikit, ketulusan hati Hyemi?

Ditatapnya intens sisi wajah Naeun yang bisa dilihatnya. “Naeun-ah… apa kau begitu membenciku?”

DEG!

Kepingan hati Naeun tergetar. Hyemi tak pernah membahas privacy sedalam ini. Ia tak pernah peduli bagaimana pendapat orang lain tentang dirinya. Ia tak pernah ingin tahu seseorang menyukainya atau justru sebaliknya.

Keadaan ini berbanding terbalik dengan Hyemi yang dulu dikenalnya. Hal itu sontak membuat Naeun memutar wajahnya tanpa bisa menyembunyikan kerutan di keningnya.

“Apa itu sesuatu yang besar? Sejak kapan hal itu menjadi konsumsi seorang Goo Hyemi yang terhormat?” sindirnya.

“Gaereu! Ini penting bagiku. Naeun-ah, apa kesalahan yang kubuat terlalu besar? Apa lukanya begitu perih?” desak Hyemi balik.

Naeun kehilangan kesabaran. Kalaupun ini hanya sebuah sandiwara yang terencana oleh Hyemi, ini tetap saja memancingnya. “Eo! Masseumnida! Aku terluka. Sangat. Terlalu dalam, Hye. Tidakkah kau memikirkannya? Bagaimana sakitnya? Bagaimana perasaanku saat melihatmu dengan namja yang kucintai? Bagaimana ketika orang yang kukira sahabatku membunuh mimpiku?” jawabnya sedikit memekik.

Hyemi tersentak.

Meski relungnya tak menampik kelegaan akibat keterusterangan Naeun, ia tetap tak bisa mengelak. Ia tahu luka itu. Ia tahu rasanya dihianati. Ia merasakan luka hati Naeun. Ia merasa ada setitik rasa bersalah yang menyelip dalam hatinya.

Entah bagaimana, tanpa bisa dikontrolnya, setetes bening air mata turun perlahan dari kelopaknya.

“Naeun-ah….”

Naeun tak bergeming. Rasa yang telah disalurkannya membawa dampak negatif bagi emosi juga fisiknya. Dan ia tak ingin Hyemi merasa menang ketika melihat ia berlinangan air mata. Ia membalik wajahnya tanpa sedikitpun memperhatikan ekspresi Hyemi sembari berucap, “Kau tahu, Hye? Tumbuh bersamamu tidak pernah kusesali. Setidaknya, aku tahu alasan kekeraskepalaanmu. Dan aku menyayangimu. Sangat. Kau tak hanya sahabatku, kau aliran darahku. Kau adalah alasan kenapa aku tetap berdiri tanpa tangis. Kenapa? Karena aku mengenalmu dengan sangat. Ketegaranmu hanyalah kedok untuk menyembunyikan betapa kau sendirian dan tak punya penopang. Untuk itulah aku bertahan. Untukmu. Untuk mendampingimu. Untuk mengusap air matamu jika suatu saat kau tak lagi mampu berdalih bahwa kau sudah kebal akan semua cobaan. Untukmu, Hye! Tapi kau tak pernah menganggapku. Dulu. Juga sekarang.”

Lirih. Terlalu lirih. Ia bahkan bisa mendengar isak tangis Naeun di setiap kata yang terucap.

Hyemi meradang. Pada hatinya. Pada kebodohannya. Pada kekeraskepalaannya. Pada keegoisannya.

Juga pada Naeun.

Hyemi masih tetap diam. Belum ingin mengatakan apapun yang terkesan membuatnya tampak sedang membela diri. Tidak, Hyemi tidak sedang ingin membela diri. Ia ingin mengungkap kenyataan. Semuanya.

Ketika cukup lama menunggu dalam diam, Hyemi akhirnya menghela nafas. Sebisa mungkin, sedari tadi, ia mencoba menahan isakannya agar tak terdengar Naeun. Perlahan, ia mulai berbicara. “Naeun-ah… Mianhada! Nan.. Nan jinjja.. mianheyo. NaneunBatal.. Naneun neoege sangcheo jul.. saenggageun eopseo! Igeon geunyang ohaeida, Naeun-ah! (Naeun-ah, maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu! Ini semua salah paham, Naeun!)

Naeun tak bergerak. Hanya isakannya yang masih terdengar sesekali.

“Naeun-ah…” panggil Hyemi lagi.

Tidak ada.

Naeun tidak merespon apapun. Tidak berpaling. Tidak menghela nafas. Tidak juga berbicara.

“Naeun-ah, kumohon katakan sesuatu!” pintanya.

Lamat, Naeun mengeluarkan suaranya. “Nan mali eopseoyo! (Tidak ada yang perlu kukatakan!)” tegasnya.

“Tapi aku ada! Aku punya banyak hal yang ingin kukatakan.” kata Hyemi dalam.

Naeun tetap tak menggerakkan wajah, apalagi hatinya.

“Nareul barabwa, Son Naeun! (Lihat aku, Son Naeun!)” paksa Hyemi. Ditariknya keras lengan Naeun. Membuat Naeun, suka atau tidak, terpaksa mengalihkan wajahnya menatap Hyemi.

Sesuatu menelusup di hati Naeun saat melihat bulir air mata di sekitar pipi Hyemi. Beberapa bahkan hampir menyentuh bibir tebalnya. Naeun terkesiap. Ia sangat yakin, Hyemi menahan tangis itu dari tadi. Keyakinan yang terlalu kuat hanya dengan melihat derasnya air mata itu.

“Naeun-ah, aku.. Kau.. kau benar! Aku hanya gadis bodoh yang penuh kepalsuan. Aku hanya sok tegar. Aku hanya terus-terusan memakai topeng kekeraskepalaanku agar tak ada yang sadar diriku yang sebenarnya. Naeun-ah, aku sedang menangis sekarang. Kenapa kau tidak mengusap air mataku?” beber Hyemi akhirnya. Ia tak lagi menahan diri untuk menangis.

Naeun masih termangu. Takjub akan pemandangan di depannya. Terlalu terkejut pada tetesan bening yang masih terus mengalir di wajah Hyemi. Pertama kalinya, Hyemi akhirnya meneteskan air mata. Selama ini, hal paling jauh yang memancing emosi Hyemi hanya mampu membuatnya berkaca-kaca. Dan kali ini Hyemi menangis? Benar-benar menangis? Untuk Naeun?

“Naeun-ah,, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Kau harusnya tahu, Soohyun hanya memperalatmu. Kau harusnya menyadarinya sejak awal ia mendekatimu. Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali. Siapapun, Na! Siapapun, asal bukan Soohyun. Dia bukan namja yang baik. Kau berhak mendapatkan yang lebih baik. Berkali-kali, bukan?”

Hyemi menarik nafas, sembari memberi sedikit ruang agar Naeun mencerna penuh maksudnya. Tapi Naeun tetap memilih diam, bertempur dengan hatinya sendiri.

“Sekali saja, pernahkah kau memikirkan ucapanku dulu? Mengesampingkan perasaanmu padanya dan menilai berdasarkan fakta? Pernahkah? Setidaknya sekali saja, kau menganggap ucapanku mungkin benar? Apa yang diberikannya padamu yang membuatmu meragukanku? Aku, yang menurutmu kau kenal dengan sangat?”

Hyemi menghapus riak-riak di sekitar wajahnya. Terlalu membanjir jika tak ditepis segera. “Aku bisa menjawabnya, Na. Tidak! Tak pernah sekalipun kau memikirkan kebenaran kata-kataku. Jangankan memikirkan, untuk mengujinya saja kau tidak ingin, bukan? Tidak pernah, Na! Kau tidak pernah memedulikan teguranku. Yang ada di benakmu kala itu pasti hanya ‘Hyemi iri padaku!’, ‘Hyemi menyukai Soohyun Oppa!’ dan sejenisnya. Semua anggapan negatif, tentunya. Tidak ada firasat baik yang timbul saat kau mencoba mencari jawaban kenapa aku memintamu putus dengan namja itu. Naega teullyeosdamyeon jeongjeong, Na! (Ralat jika aku salah, Na!)

Hening.

Bahkan Naeun tak mampu sedikitpun menyalahkan argumen Hyemi.

Karena itulah faktanya.

Segera setelah Hyemi menyampaikan keberatannya akan hubungan Naeun dan Soohyun dulu, hanya satu hal yang segera terkonsep di kepalanya. Hyemi iri! IRI! Hanya satu kata itu yang sontak mengisi pikiran Naeun. Hyemi iri karena akhirnya Naeun mempunyai kekasih. Hyemi iri karena ada yang menyayangi Naeun. Hyemi iri karena ia belum menemukan orang yang dicarinya. Hyemi iri karena Soohyun-nya adalah namja yang keren.

Hanya satu hal. Dan terus berulang. Satu hal yang terus-menerus mengganggu pikiran Naeun. Hal yang tak pernah dicobanya adalah membersihkan nama Hyemi.

“Kau sendiri menyadarinya, Na? Bahwa kau memang tak pernah ingin melihat celah Kim Soohyun-mu itu? Heuh!” Hyemi menghapus sisa-sisa air di wajahnya. Entah bagaimana, lelah akhirnya merasuk. Lelah akan simpulannya sendiri. Lelah akan fakta yang membuatnya sadar, ia tak seberharga yang dikatakan Naeun. “Aku juga mengalaminya, Na! Luka yang kau rasakan itu, aku tahu rasa sakitnya. Rasa yang begitu menyayat saat orang yang kukira keluargaku ternyata berbalik menusukku. Sahabat, yang begitu kusayangi, pada akhirnya membunuhku secara perlahan.”

DEG!

Naeun terkesiap. Sedikit terkejut atas sindiran tak langsung Hyemi. Itu dirinya, bukan? Sahabat yang dimaksud Hyemi adalah dia?

Hyemi memperbaiki sedikit anak rambutnya. Kembali diusapnya sedikit lembab yang masih terasa di pipinya. Ia beranjak berdiri, kemudian berucap, “Aku sudah mengatakan yang ingin kukatakan, Na! Hanboman ddo, chosunghamnida!(Sekali lagi, maafkan aku!)” Dibungkukkan Hyemi badannya serendah mungkin. Bukti betapa ia tak hanya menyayangi Naeun, tapi juga menghormatinya.

“Maafkan aku atas semua goresan yang kubuat. Maafkan aku atas segala tangis yang tumpah. Jeongmal mianheyo, Na! Jeongmal!” sambungnya.

Kali ini, Naeun merasakan sensasi yang berbeda dalam dirinya. Ini bukan permintaan maaf pertama Hyemi. Tapi ini kali pertama Hyemi menggunakan nada serendah itu. Dan membungkuk begitu dalam. Ini pertama kalinya.

“Hye…” Keterkejutan itu membuat Naeun membuka mulutnya memanggil nama sang sahabat.

“Untuk seterusnya, aku akan berusaha menjauh dari langkahmu. Sebisa mungkin tak berada di titik pandang dan jarak yang begitu dekat denganmu. Jigeumbuteo, neoneun swibge swilsu issseuyo! (Jadi, mulai sekarang kau bisa tenang!)

Hyemi membalik wajah beserta tubuhnya. Meninggalkan Naeun dengan rasa bersalah yang perlahan mencari celah untuk hinggap.

Satu langkah, ia berucap tanpa sedikitpun memalingkan tubuh, apalagi wajahnya, “Kau tahu, Na? Kurasa kau tidak mengenalku dengan sangat. Seandainya itu benar, kalau ‘kau mengenalku dengan sangat’ harusnya kau juga bisa melihat tangisanku kala Soohyun memelukku malam itu. Harusnya kau bisa melihat betapa kau telah membunuhku sejak kau mengatakan aku wanita murahan. Harusnya kau bisa merasakan tak hanya kau yang begitu jatuh dalam masalah ini. Tidak, Na! Kau belum mengenalku dengan sangat.”

Air mata kembali menyeruak. Hyemi tak lagi berusaha menepisnya. Dengan segera dilangkahkan kakinya menuju Yoseob yang memang sejak tadi tak melepas matanya. Beberapa langkah sampai, Hyemi berlari. Secara tiba-tiba langsung menghambur ke pelukan namjanya.

Yoseob sedikit terkejut. Melihat Hyemi berurai air mata seperti berada di ketinggian yang terjal. Menakutkan, tapi juga menegangkan. Dan menemukan Hyemi di pelukannya membuat ia yakin, kini yeoja itu mempercayainya. Tak hanya sebagai pasangan, tetapi juga teman.

Diusapnya puncak kepala Hyemi penuh kasih. Sedikit ditariknya tubuh Hyemi ke dalam remang-remang. Bagaimanapun, Yoseob tak ingin ini menjadi perhatian tamu lain. Terlebih, kini Hyemi sedang tidak tersenyum.

Ketika tangannya tetap mengelus helaian rambut Hyemi tanpa kata, matanya mengedar. Kembali memusatkan tatapannya pada sosok Naeun yang tertinggal. Naeun tak lagi berbalik ke arah meja bartender. Tapi ia juga tak sedang menatap sesuatu. Pandangan matanya nanar. Kosong.

Meski berada di keremangan, Yoseob yakin sedang menangkap sorot sedih, atau bahkan mungkin luka, dalam diri Naeun. Pada akhirnya, sebentuk kelegaan merasuk. Setidaknya, bukan hanya Hyemi yang terluka. Mereka, Hyemi dan Naeun, sama-sama menanggung duka yang sama. Entah goresannya terukir dengan dalam yang sama atau berbeda jauh, faktanya dua orang dengan watak yang bertolak-belakang itu tengah merasakan luka yang sama.

Merasa terhianati. Merasa ditinggalkan.

Dan sudah pasti saling menyayangi satu dan yang lain.

“Gwaenchanha?” tanyanya di sela elusan tangannya pada helaian rambut Hyemi.

Isakannya sudah mereda. Guncangan pada tubuh Hyemi yang dirasakan Yoseob di awal pun jauh berkurang. Dirasakannya anggukan Hyemi di dalamnya. Sedikit geliatan pertanda Hyemi ingin beranjak darinya pun terasa. Meski begitu, ia enggan melepas pelukannya. Semakin enggan lagi karena Hyemi tampak begitu lepas padanya tadi. Namun, egonya tak harus menang kala ini.

“Wae? Kau sudah mengatakannya?” Dan lagi-lagi hanya anggukan yang diterimanya. Disodorkannya sapu tangan miliknya pada Hyemi, hingga si gadis bisa sedikit merapikan wajahnya. “Naeun mengatakan sesuatu yang menyakitimu?”

Hyemi menggeleng. “Ani..”

Kening Yoseob mengernyit. “Ani? Gaereom neo wae uneungeoya?” (Tidak? Lalu untuk apa kau menangis?)

Hyemi mendesah. “Jeonghwagi Naeun amu maldohaji ttaemune, Oppa~~ (Justru karena Naeun sama sekali tak mengatakan apa-apa, Oppa~~ Menyedihkan ketika dia diam! Seolah-olah aku hanya mengutarakan kebohongan dan dia sama sekali tidak percaya padaku.” rengeknya.

Yoseob mengurai senyum kecil. “Dwesseo! Dwesseo! Jangan pasang tampang seperti itu. Bukankah yang terpenting kau sudah mengatakannya? Naeun menerima atau tidak, itu terserah dia. Tapi jika memang ia temanmu yang berharga, begitu juga sebaliknya, kalian akan menemukan jalan untuk kembali. Bersabarlah, eo?”

Hyemi mengangguk masih dengan sedikit kerucutan di bibirnya. Yoseob tertawa pelan. Tak lupa memainkan tangannya kembali di helaian rambut Hyemi.

“Jja! Member B2ST sudah datang semua. Kukenalkan kau pada mereka. Kau masih punya hutang maaf, bukan?”

Hyemi terhenyak.

Hyunseung.

Digamitnya jemari Hyemi hangat. Perlahan dituntunnya langkah Hyemi menuju kumpulan member B2ST yang tengah bersama beberapa namja lain. Beberapa dikenal Hyemi sebagai Lee Joon, Mir, Key, dan Onew.

Mereka sedikit membuka jarak saat Hyemi dan Yoseob dirasa makin dekat ke arah mereka. Satu persatu pasang mata mulai memperhatikan kedua pasangan yang berpegangan tangan itu. Sebelum begitu dekat, Yoseob berucap, “Hye, kuingatkan! Kau tidak boleh jatuh cinta lagi pada Hyunseung, arra?”

Hyemi berpaling dan terperangah. Bagaimana mungkin namja itu bisa berpikir sampai ke sana? Dia mencoba menahan tawanya mengingat beberapa pasang mata namja tengah menatapnya.

“Ah, Hyung, kurasa kita harus pergi. Sepertinya mereka akan mengadakan rapat internal.” goda Key saat mereka berada di tengah kumpulan itu.

Yoseob tertawa. “Kau berlebihan, Key!” ujarnya.

Mereka semua tersenyum penuh arti. Masing-masing mencuri pandang, menatap yeoja yang tiba-tiba hadir di tengah mereka.

“AH, MATTA!!! SUZY BAE, EO? DANGSINEUN SUZY BAE, GETTCHI? (Ah, aku tahu!!! Suzy Bae? Kau Suzy Bae, ‘kan?” pekik Mir secara tiba-tiba.

Beberapa mata yang kebetulan berada di sekitar mereka dan menangkap gelombang suara Mir sontak berpaling. Hyemi yang ditunjukpun tak luput ikut terkejut. Dongwoon dan Lee Joon yang berada di samping Mir segera membekap mulutnya. Dengan enggan meminta maaf pada beberapa orang yang tampak terganggu dan ingin tahu.

“Ya, Mirreu! Neo jinjja pabooya! Kau mau kita jadi pusat perhatian, eo?” bisik Dongwoon dengan penuh tekanan.

Mir langsung menyengir tanpa dosa. Onew dan Key serta merta menatap Hyemi intens. “Kkeundae, wajahnya memang sedikit mirip Suzy, Hyung.” sahut Key.

“Eo! Apalagi tubuh dan rambutnya. Jika hanya melihat sekilas, mungkin mereka akan mengira dia adalah Suzy. Nuga igae? (Dia siapa?)” Onew ikut menimpali. Menjawab pertanyaan yang daritadi tertahan oleh beberapa mulut, meski sebenarnya mereka sudah mengetahuinya.

“Ah, mian. Perkenalkan, dia Hyemi.”

Hyemi dengan segera melepas tangan Yoseob. Dengan tergesa-gesa pula ia membungkukkan tubuhnya. “Annyeong haseyo, Memberdeul. Goo Hyemi imnida. Bangapseumnida!” jawabnya.

Tepat ketika Hyemi mengangkat wajahnya, matanya tak sengaja bertubrukan dengan Hyunseng.

DEG!

Seketika was-was langsung bergelut dalam benaknya. Tatapan tajam seorang Hyunseung seolah-olah menelanjangi Hyemi. Membuatnya bahkan tak mampu lagi untuk mengulas senyum. Tak bisa dicegah, dengan segera tertunduklah kepala Hyemi.

Dan Yoseob menyadarinya. “Yaa, Jang Hyunseung, berhenti menatapnya begitu! Yereobun, kenalkan. I yeojaga… nae yeojachingu! (Gadis ini.. kekasihku!)

“Oppa….”

“Wae?”

“Kau tidak harus mengatakannya seolah aku barang, bukan?” tampik Hyemi. Yoseob hanya mengendikkan bahu.

Dongwoon mengulas senyum senang. Doojoon dan Junhyung saling bertukar pandang penuh arti. Sisanya terperangah mendengar pengakuan Yoseob.

“Hyung, berani sekali kau membawanya ke acara ini. Kalau ada seorang saja papparazi yang menyamar, beritamu akan muncul besok.” papar Mir.

Yoseob lagi-lagi hanya tertawa ringan. Ditatapnya Hyemi yang juga tengah menunduk.

Tiba-tiba ia mengingat tujuannya. Menyadari wajah Hyemi yang masih kelihatan was-was, mau tak mau Yoseob kembali berujar, “Ada yang harus kubahas bersama member B2ST. Dan tak lagi bisa ditunda. Bisakah aku meminta waktu kalian?”

Mereka berpandangan. Lee Joon, Mir, Onew, dan Key saling mengendikkan bahu. Bagaimanapun, mereka tahu ada batasan antara hubungan kerja dan pergaulan biasa. Mereka mulai beranjak dari tempatnya masing-masing.

B2ST, beserta Hyemi, mulai bergerak atas tuntunan sang Leader menuju sofa. Entah bagaimana, sofa yang disusun berkeliling itu secara sengaja atau tidak dibiarkan tanpa penghuni.

Hyunseung adalah yang pertama kali menjatuhkan dirinya di sana. Segera setelah duduk, matanya mengarah kembali ke Hyemi. Sedikit sulit menafsirkan arti pandang itu. Kilatan marah sedikit terasa dari matanya. Namun, tak pelak juga tertangkap lebih banyak rasa penasaran. Inikah Goo Hyemi yang secara tiba-tiba mengatainya banci dulu?

“Hyunseung-ah..” tegur Doojoon yang menyadarinya. Hyunseung hanya menatap Doojoon sekilas. “Anjjayo, Hyemi-sshi.”

Hyemi mengangguk, tapi tak beranjak. Ia tetap berdiri tertunduk. Sadar akan mata Hyunseung yang terus memperhatikannya, ia seolah tak mampu bergerak. Yoseob, yang berdiri di sebelahnya mau tak mau bertahan berdiri.

“Hye….” Digenggamnya tangan Hyemi lembut sembari mengangkat wajahnya. “Gwaenchanha!” ujarnya lembut.

Ada rasa bercampur dalam benak member lainnya. Terkejut, seorang Yoseob bisa bertingkah selembut itu. Senang. Lega.

Tapi was-was justru dirasakan sang Leader. Ia mengenal watak membernya melebihi dirinya. Perasaan buruk secara tiba-tiba hinggap di dirinya. Ia tahu maksud Yoseob membawa Hyemi. Doojoon tahu apa yang akan dikatakan Hyemi.

Ia bahkan tahu bagaimana ekspresi Hyunseung nantinya!

Tapi untuk masalah ini, Doojoon seolah lepas tangan. Kali ini saja, ia ingin mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Tanpa campur tangannya. Setidaknya, ia hanya memberikan pendapat.

“Kau tahu akibatnya?” tanya Junhyung mencoba meyakinkan.

“Eo! Kali ini saja, Jun. Biar kita mendorong mereka dari belakang untuk menyelesaikan. Aku tak ingin ikut campur lebih dalam.”

“Tapi ini tidak hanya tentang mereka. Doojoon-ah, ini juga tentang B2ST. Bagaimana kalau masalahnya semakin besar? Kau tahu bagaimana Yoseob. Dan Dongwoon. Kau mau membiarkan B2ST bubar? Apa kau serius ingin membiarkannya?”

Doojoon menghela nafas. “Harus! Kalau mereka memang menyadari pentingnya B2ST, tidak akan ada apa-apa, Junhyung-ah.”

Kali ini, ia mempertaruhkan kepercayaan dirinya kala Junhyung mempertanyakan hal itu. Ia akan berdiri di sisi terjauh Yoseob dan Hyunseung. Tidak sebagai penengah. Tidak sebagai Leader. Hanya seorang teman biasa, yang memberikan sedikit saja nasehat.

Lamat laun, matanya menangkap punggung Hyemi yang telah tertunduk dalam. Di depannya duduk Hyunseung yang menatap aneh. Dongwoon dan Gikwang tengah terperangah. Sedangkan Junhyung justru tampak tengah gusar. Meski mengetahui apa yang dipikirkan Junhyung, Doojoon memilih diam dan memfokuskan otaknya pada pasangan di depannya.

“Hyunseung-sshi, Chosunghamnida!” mulainya sambil membungkukkan tubuhnya.

Yoseob menatap Hyunseung dalam. Mencoba menerka apa yang tengah ada dalam benak Hyunseung dengan tatapan menusuk itu.

“Mwo? Mwosul wihaesseo? (Apa? Untuk apa?)” jawabnya tanpa berpaling.

“Aku… aku… Dulu, secara tiba-tiba aku mencacimu di depan banyak orang. Ditambah lagi, aku mengataimu banci, tidak bermutu, dan kata-kata kasar lainnya. Setelah kau menolongku saat semua orang tak peduli padaku yang tengah terjatuh, aku malah mempermalukanmu. Maafkan aku, Hyunseung-sshi!” ucapnya dramatis.

Masih tersisa rasa takut tatkala Hyemi mengangkat kepalanya. Tapi rasa lega karena lenyapnya beban hatinya lebih mendominasi. Ia tetap siap akan jawaban terburuk dari Hyunseung, meskipun ia berharap hal baik yang akan terjadi.

“Eo? Dangsin..? Ah, Nan gieog! (Ah, aku ingat!) Kau yang dulu mengataiku tidak macho, dan banci itu? Ya, aku ingat sekali. Bisa kau ingatkan aku apa saja yang sudah kau katakan dulu? Selain bagian banci?” sindir Hyunseung.

Doojoon segera mendehem. “Jang Hyunseung!” tegurnya.

Hyunseung menoleh dan melemparkan tatapan kesal. “Baiklah, lupakan! Dan kenapa tiba-tiba kau mau datang untuk minta maaf?”

“Chosunghamnida!” Sepertinya hanya ucapan itu yang mampu keluar dari bibirnya.

Hyunseung melirik Yoseob. Dan dengan segera mendapatkan tatapan membunuh dari Yoseob. Dialihkannya lagi pandangnya pada Hyemi. “Setelah sekian lama? Wae jigeum? (Kenapa sekarang?)

Dongwoon yang kebetulan berada di salah satu sisi Hyemi berucap segera, “Hyung, geumanhae! Dia sudah menyesalinya!”

“Aku ingin tahu! Dan kau, diam!” tegas Hyunseung.

Hyemi menelan ludahnya dengan susah payah. “Sejujurnya, aku terus dihantui rasa bersalah sejak itu. Tapi, ya, aku terlalu sombong untuk mengakui kesalahanku, terlebih untuk meminta maaf.  Harga diri yang terlalu tinggi membuatku menutup mata pada kenyataan bahwa aku telah dengan sengaja menyakiti hatimu, yang sebenarnya bukan keinginanku.”

“Gaereom? Yang Yoseobie ttaemune? (Lalu? Karena Yang Yoseob?)” pancing Hyunseung lagi. Diliriknya lagi Yoseob dengan tatapan penuh arti.

“Salah satunya. Setidaknya, dengan caranya Yang Yoseob-sshi sudah membantuku sedikit mengalahkan egoku. Tapi pengaruh terbesar bukan darinya. Kuakui, karena itu, terima kasih padamu, aku akhirnya mengenalnya dan mampu berpikir lebih realistis. Dan lebih terbuka. Tapi, tidak. Yang benar-benar membuatku membuka mata bahwa yang kulakukan sebelumnya salah adalah Lee Jieun Eonni. Kebesaran hati dan tutur katanya yang membuatku mengerti kodratku. Dia adalah alasan utama kenapa pada akhirnya aku mau bekerja sama dengan Yang Yoseob-sshi. Gaereusseo, jeongmal Chosunghamnida, Hyunseung-sshi! (Karena itu, aku benar-benar minta maaf, Hyunseung!)” pintanya tulus.

Hyunseung mengangguk-angguk. Dalam hatinya bergelut. Benar! Yeoja yang berdiri sekarang memang berbeda dengan yang dulu mencacinya. Yeoja ini dipenuhi rasa was-was, bukan percaya diri berlebih seperti dulu. Yeoja ini selalu menundukkan wajahnya tatkala menyadari ia tengah ditatap, bukan membalas balik dengan tatapan lebih tajam sepeti dulu. Yeoja ini bahkan mengucapkan seluruh kata dengan sangat hati-hati dan teratur. Dan tenang.

Dan dewasa.

“Lalu? Bagian kalian berpacaran? Apa itu benar?”

Dan semburat merah meluncur dengan mulusnya di pipi Hyemi. Membuat Hyunseung makin terkejut. Yeoja ini juga bisa malu! Sangat berbeda jauh dengan yang dulu mencacinya. Dan rona kemerahan itu cukup menjawab pertanyaannya.

“Baiklah! Aku mengerti. Ah, satu lagi. Kenapa dulu kau mencaciku? Apa kau memang membenciku?”

Hyemi seketika gusar menerima pertanyaan itu. Jawaban seperti apa yang harus dilontarkannya? Itu tidak terkonsep? Di luar batas kesadarannya? Ayolah… Itu jelas terdengar sangat konyol!

Yoseob melirik Hyemi. Sangat sadar apa yang kini tengah digeluti yeoja itu di alamnya. Dengan segera pula ia bersuara, “Hyemineun neol juhahaeyo! (Hyemi menyukaimu!)

“MWO???”

Koor serentak berurai dari mulut member B2ST, selain Doojoon. Hyunseung bahkan tak mampu menutup mulutnya. Hyemi merasa tercekat. Seandainya bisa, ia malah memilih untuk bunuh diri daripada harus berada di depan Hyunseung.

“Tadinya dia begitu bahagia karena kau menolongnya. Tapi karena terlalu bahagia, dia justru tak mampu mengontrol kata-katanya. Dan begitulah. Sebenarnya dia tak pernah membencimu. Dia menyukaimu, Hyunseung-ah!”

Hyunseung mengedipkan matanya tak percaya. Yang lain masih melongo, terkejut akan fakta yang baru saja mereka dengar. Hanya Doojoon, yang memang lebih dahulu tahu, yang memasang wajah datar. Lagipula, ada yang lebih penting yang dipikirkannya sekarang. Nasib B2ST. Setelah ini.

Yoseob menggeleng gerah. “Berhenti memasang tampang bodoh! Itu dulu! D-U-L-U! Jigeumeun… I yeojaga.. Nae kkeoya!” tekan Yoseob sambil menarik sisi tubuh Hyemi ke arahnya.

Jika di sekitarnya ada pisau, atau bahkan pistol, Hyemi akan dengan senang hati menusuk dirinya apalagi menembak kepalanya berkali-kali demi menghindari saat ini! Ia tak mampu menyembunyikan rona-rona yang makin jelas di pipinya.

“Jadi benar?” tanya Hyunseung lagi mencoba meyakinkan. “Hyemi-sshi?”

Hyemi mengangkat kepalanya. Ia masih merasakan tangan Yoseob di sekitar pinggangnya. Dan tak mampu menampik, ya, ia menikmati saat ini. Ia bahagia Yoseob mengakuinya dengan bangga. Entah kekuatan darimana, Hyemi akhirnya tersenyum manis sambil berucap, “Ye, Hyunseungg-sshi! Itu memang benar.”

Hyunseung mendesah. Dia mengendikkan bahu, membuat Doojoon menahan nafas berat. Ia tahu apa yang akan dikatakan Hyunseung berikutnya. Ia berteriak dalam hati, berharap yang dipikirkannya salah. Tapi harapnya membias seiring dihempaskannya punggung Hyunseung ke sofa sembari berucap, “Hah! Alggeseoyo! Yang Yoseob, kurasa kau memenangkan taruhan ini!”

“Geu sarami malhajul arrasseo! (Sudah kuduga dia akan mengatakannya!)” batin Doojoon kesal.

** To be Continue **

Note from Me :
Telat sehari. Miaaaaaaaaaaaaaaaaannnn…
So, here i give you guys!!
Moga part yg ini bisa memuaskan..
Sekali lagi, sorry buat grammarr yg rada-rada yaq..
Ehehehehehehe

DON’T FORGET TO Read, Comment, and Like!!!!

I Love You, Controllers!!!! See ya sebulan lageee :DD

43 responses to “Uncontrol [Part 10]

  1. Akhirnya masalah mereka terselesaikan walaupun naeun belum sepenuhnya bisa terimaaaa 😦 tapi kayaknya sebentar lg naeun bakal bisa memahami dan menerima pernyataan dari hyemi deh 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s