My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip 10

Main Cast(s) :

  • Lee Jinki (SHINee Onew)
  • Shin Jibyung
  • Shin Jikyung

Support Cast(s) :

  • Kim Junsu (2PM Junsu)
  • Other SHINee members
  • Etc.

Genre  : Marriage Life, Family, Life, a bit romance

Length : Continue

Rating : Teen

Disclaimer : Only own the plot & Shin Jibyung.

Sorry telat update *bow bow bow*

>>> Previous <<<

“Aku merasa kecewa saat mengetahui kau sudah bersama Junsu hyung. Aku merasa kesal melihat kalian berkencan. Aku marah melihatnya menggandeng tanganmu. Dan aku benci melihat kalian tertawa bersama.”

“Aku ingin berada di posisinya.”

“Walaupun saat-saat bersamamu.. membuatku senang, tapi bagaimanapun kau terlihat tidak nyaman. Aku tidak bisa memaksakan kehendak.”

“Kalau dia tidak datang dalam 30 menit ke depan, kita terpaksa hadir tanpanya.”

“Dingin..” lelaki itu mengeluarkan sebelah tangannya dari dalam selimut dan meraih tangan Jikyung, menggenggamnya dan meletakkannya di atas diafragmanya, membuat Jikyung tertegun selama beberapa detik. Tapi kemudian dia sadar ini bukan waktunya menjadi orang yang ‘perasa’. Karena itu dia mengabaikan kecanggungan dalam dirinya dan mengusap-usap tubuh Onew, berharap dengan usahanya ini Onew merasa lebih hangat.

“Aku sudah melepasnya. Aku sudah membiarkannya pergi. Ini keputusanku, Junho-ya.”

“Hyung, kau menangis?”

>>><<<

CLIP 10

SHINee’s Dorm, 2.00 a.m…

Minho berdiri mematung di ambang pintu kamar begitu melihat pemandangan di depannya. Dia terkejut melihat seseorang tengah duduk di tempat tidur Onew dengan sang pemilik terbaring di sampingnya.

Seseorang itu—Jikyung—menoleh menatapnya, lalu tersenyum simpul, “Minho-ya.” katanya sambil berdiri menghadap Minho, “Kalian sudah pulang?”

“Eoh.. noona..” jawab Minho singkat sambil memperhatikan Jikyung lekat-lekat. Ada sesuatu yang mengganggunya. Masih dengan tatapan tertuju pada Jikyung—namun belum sepenuhnya yakin bahwa itu Jikyung—Minho menunjuk Onew, “Onew hyung..”

Di belakang Minho, Key memasuki kamar sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk. Sama dengan Minho, dia pun terdiam beberapa saat di ambang pintu, “Omo, Onew-hyung kenapa?” ujarnya setengah histeris, lalu menghampiri Onew dan memeriksa suhu tubuhnya, “Dia demam?” tanyanya masih dengan nada yang sama.

Jikyung menggigit bibir bawahnya dengan gelisah sambil menoleh pada Key. Dia masih bisa merasakan tatapan yang ditujukan Minho padanya, dan itu membuatnya tidak nyaman.

“Onew hyung kenapa, Jikyung.. noona?” tanya Minho dengan suara beratnya, membuat Key seketika menoleh pada Jikyung dengan raut wajah kaget.

“Ada apa ini? Siapa yang demam?” Jonghyun muncul di belakang Minho, “Onew hyung sakit?” tanyanya lagi sambil berjalan mendekati ranjang Onew dan duduk di sana, tidak sadar akan suasana canggung di sekitarnya saat ini.

Key yang masih menatap Jikyung berdeham pelan sambil menegakkan tubuhnya, “Noona.. kau yang mengantar Onew hyung kemari?” tanyanya pada Jikyung.

Jikyung hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun lagi.

“Kalau begitu, biar Minho mengantarmu pulang. Ini sudah sangat larut.” ujar Key lagi sambil sedikit melirik Minho dari ekor matanya. Minho mengangguk, masih memberikan tatapannya yang membuat Jikyung sedikit tak nyaman.

“Ayo, Noona.” ucap Minho pelan, lalu keluar duluan dari kamar. Jikyung mengikuti setelah sebelumnya melirik Onew, Jonghyun dan Key sekilas.

Key menatap Jonghyun saat Minho dan Jikyung sudah keluar dari kamar. Sebelah alisnya terangkat, dan Jonghyun membalasnya dengan tatapan yang persis sama, “Apa?” tanya main vocalist SHINee itu.

“Kau pasti memikirkan apa yang kupikirkan.” kata Key pelan, “Apa terjadi sesuatu di antara mereka?”

“Onew hyung tidak datang memenuhi schedule, sebelumnya Jibyung menelfon menanyakan keberadaan ‘orang tua’ ini, dan sekarang dia terbaring dalam keadaan demam, dengan Jikyung di sampingnya. Kurasa memang sudah terjadi sesuatu.” tutur Jonghyun cepat, juga dengan volume suara yang kecil.

“Minho sepertinya sudah menyadarinya. Ah, tapi memang dia yang pertama tahu itu Jikyung noona. Ckck, anak itu memang punya penglihatan yang bagus. Aku saja sebelumnya mengira dia Jibyung noona.” cerocos Key sembari mengganti kompresan Onew, “Apa terjadi sesuatu yang serius, ya?” tambahnya dengan suara makin berbisik.

Jonghyun membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang bersebelahan dengan tempat tidur Onew. Dia mengela nafas dalam dan menghembuskannya keras sambil menggumam, “Molla~ aku hanya ingin tidur sekarang.”

Ya, kau sudah cuci kaki?”

Namja yang sering diidentikkan dengan dino itu berguling memunggungi Key tanpa berniat menjawab pertanyaannya. Jonghyun tidak bisa membuka matanya lagi rasanya. Dia benar-benar lelah. Tidak ada tenaga untuk membuka mata lagi, apalagi mengurusi urusan orang lain. Lagipula Onew tidak akan suka dia ikut campur.

“Aish, orang ini.” Key mendelik pada Jonghyun yang memunggunginya, lalu kembali beralih pada Onew sambil menutup mulutnya yang terbuka karena menguap, “Sepertinya aku juga harus tidur.” gumamnya sambil bangkit dan membenarkan letak selimut Onew.

Key menghentikan kegiatannya sejenak saat menemukan sebuah handphone yang tergeletak di samping Onew, “Oh? Punya siapa ini?” Dia mengambil handphone itu dan mencoba menyalakannya, “Baterainya habis. Ah, benar juga, mungkin punya Jikyung noona.”’

>>><<<

Untuk yang kesekian kalinya, Jibyung melihat keluar melalui jendela rumah, hanya untuk memastikan apakah Jikyung sudah datang atau belum. Dan untuk ke sekian kalinya juga dia hanya menemukan pekarangan rumah yang kosong dan sunyi. Entah kenapa dia begitu khawatir karena Jikyung belum juga kembali. Dia belum ingin tidur sebelum Jikyung memberi kabar. Jibyung sudah mencoba menghubungi Jikyung begitu sudah lewat tengah malam, tapi handphone’nya tidak aktif, dan itu membuatnya merasa semakin khawatir.

“Ini sudah pukul 2.30 dini hari. Sebenarnya kemana dulu anak itu?” gumam Jibyung sambil menggigiti kukunya dengan cemas, lalu kembali melihat keluar dan memutuskan untuk menunggu sebentar lagi.

2.50 a.m..

Jibyung baru saja hendak menjauh dari jendela saat matanya tiba-tiba menangkap sebuah cahaya lampu mobil yang berhenti di depan rumah. Tanpa basa-basi, wanita itu segera membuka pintu dan keluar menyambut Jikyung yang baru saja turun dari dalam mobil.

*

“Sudah sampai, Noona.” Minho menatap Jikyung datar sambil tersenyum tipis, ekspresi yang selama di perjalanan tadi selalu ditunjukkannya pada Jikyung. Karena itu Jikyung jadi merasa agak segan pada Minho, apalagi dia sama sekali tidak tahu apa sebabnya Minho tiba-tiba bersikap seperti itu terhadapanya.

Yeoja itu tersenyum simpul dan turun dari mobil, “Gomawo, Minho-ya.” ujarnya sambil sedikit menganggukkan kepala.

Ne.

“Hati-hati.”

“Jikyung-ah!” Jibyung berlari kecil menghampiri Jikyung dengan wajah cemas yang masih tergambar di wajahnya, “Kau kemana saja? Kenapa baru pulang sekarang?”

Jikyung tertegun menatap Jibyung, tak tahu harus menjawab bagaimana. Sementara Jibyung menoleh pada seseorang yang masih di belakang kemudi, lalu tersenyum lebar, “Oh, Minho yang mengantar? Kukira Junsu-ssi.” katanya sambil terkekeh pelan.

Minho tersenyum sekilas pada Jibyung, lalu memperhatikan kedua yeoja serupa di hadapannya dengan intens, dan kembali melemparkan tatapan sedikit-tak-mengenakkan pada Jikyung yang lagi-lagi menatapnya segan, “Hmm.. kalau begitu, aku kembali lagi.” kata namja itu dengan tenang.

Ne~ terimakasih sudah mengantarkan Jikyung, ya! Hati-hati!” Jibyung melambai kecil pada Minho yang mulai menginjak pedal gas dan berlalu dari hadapan kedua perempuan itu.

Sejak menemukan Jikyung berada di dorm mereka bersama Onew, Minho sudah menduga-duga dan juga bertanya-tanya tentang sesuatu yang mungkin terjadi di antara keduanya. Sebutlah dia kurang ajar karena terlalu ingin tahu urusan pribadi orang lain. Namun dia juga tidak bisa untuk tidak merasa penasaran.

Tatapan Jibyung tadi, dan juga sikapnya, membuat Minho sedikit merasa… kasihan. Tampaknya yeoja itu memang sama sekali tidak tahu apapun yang terjadi di sekitarnya, apapun yang terjadi pada suaminya dan saudara kembarnya sendiri.

“Bukankah itu artinya kau keterlaluan, Onew hyung?”

>>><<<

… SHINee’s Dorm, 9.10 am…

Tenggorokan yang terasa kering membuat Onew terbangun dari tidurnya. Dia menelan ludah membasahi tenggorokannya sambil menoleh ke samping, ke tempat tidur adik-adiknya yang kosong.

Onew merubah posisinya jadi duduk, mengacak rambutnya dengan pelan sambil bergumam kecil. Matanya menangkap nampan yang berisi segelas air putih dan semangkuk bubur yang tampak masih mengepulkan uap putih—di atas meja di depan ranjangnya.

“Apa mereka sudah pergi?” gumam Onew parau sambil berdiri dan berjalan perlahan ke meja tersebut, lalu meneguk air putih untuk membasahi tenggorokannya. Tidak ada suara lain yang menghampiri pendengarannya selain suara detik jarum jam dan suara tegukan tenggorokannya sendiri. Dorm benar-benar sepi. Sepertinya memang tidak ada siapapun lagi selain dirinya.

Onew memandangi sejenak bubur di atas nampan, merasa lapar namun sama sekali tidak ada nafsu makan. Akhirnya, tanpa sedikitpun menyentuh bubur itu dia memutuskan untuk kembali ke tempat tidur, mengingat kondisinya belum sepenuhnya membaik.

Namun baru saja kepalanya kembali menyentuh bantal, suara bel apartemen membuat Onew mendesah pelan. Sesaat kemudian namja itu merasa heran, siapa yang bertamu ke dorm mereka? Tetangga kah? Atau keluarga para member?

Onew memutuskan untuk mendiamkan orang itu hingga berhenti membunyikan bel. Namun semakin dibiarkan, bel malah berbunyi semakin sering, seolah menyampaikan pesan Si Tamu yang sepertinya tidak sabar menunggu pintu dibukakan.

“Iya, baiklah. Aku bukakan pintu.” erang Onew sambil beringsut turun dari tempat tidur, dan berjalan—dengan langkah diseret—keluar dari kamar, melewati ruang tengah, dan kemudian sampai di depan pintu masuk dorm.

Suara bel sudah tidak terdengar lagi sejak beberapa detik sebelum Onew sampai di depan pintu. Karena itu, begitu Onew membuka pintu, yang dilihatnya hanya punggung seorang perempuan yang berjalan menjauh dari dorm mereka.

“Tunggu!” seru Onew yang merasa mengenali sosok itu.

Sosok tersebut berbalik dan mereka bertemu pandang selama beberapa saat. Perempuan itu tampak ragu sesaat, tapi kemudian berjalan kembali mendekat ke arah Onew.

“Aku.. mau mengambil handphone’ku. Kurasa tertinggal di sini.” katanya pelan.

“O-oh..” sebuah lengkungan kecil tersimpul di bibir Onew. Dia bergerak memberi ruang agar yeoja itu—Jikyung—dapat masuk dengan mudah ke dalam dorm, “Aku tidak tahu dimana itu tertinggal. Kau saja yang cari.” ucap Onew sama pelannya.

Jikyung mengangguk pelan dan masuk ke dalam dorm, kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling dorm, sementara Onew menutup pintu,“Apa yang lain sedang pergi? Kenapa sepi sekali?” tanya Jikyung, berusaha bersikap biasa.

“Ng, mungkin ada schedule solo.” jawab Onew ringan.

Jikyung mengangguk mengerti sambil diam-diam menghembuskan nafas canggung, “Lalu.. bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Aku sudah jauh lebih baik.” senyum yang tergambar di bibir Onew semakin lebar, membuat eyesmile’nya terlihat jelas. Jikyung mau tak mau ikut tersenyum karenanya. Mereka terdiam dalam posisi saling berhadapan seperti itu selama beberapa lama.

“Ah..” Jikyung mengerjap pelan dan memalingkan wajahnya dengan segera, seolah tersadar dari lamunan, “.. a-aku harus cepat menemukan handphone’ku.” ujarnya sambil menatap jam yang melingkar di tangan kirinya.

“Oh, iya, cari saja.”

Onew mengamati punggung Jikyung yang berjalan masuk ke dalam kamar. Senyum di bibirnya perlahan menipis, dan diikuti tatapannya yang turun ke lantai. Dengan langkah di seret, Onew menghampiri sofa dan menghempaskan diri di sana, mendongakkan kepalanya di sandaran sofa, memejamkan mata untuk menghilangkan rasa pening di kepalanya.

Jangan dulu memikirkan itu, aku lelah.

***

“..ya.. gwaen.. na?

“Onew-ya? Onew..”

Seperti tertarik begitu saja dari alam bawah sadarnya, Onew membuka mata dan mendapati wajah Jikyung berada di hadapannya, melemparkan tatapan cemas terhadapnya.

Gwaenchana?” tanya yeoja itu, menyentuh dahi Onew dengan punggung tangannya, “Istirahatlah lagi di kamar. Kurasa kau belum benar-benar sembuh.” Jikyung menurunkan tangannya dari dahi Onew, “Sudah minum obat?”

“Belum.” jawab Onew terus terang.

Jikyung mengerutkan dahinya sambil menghembuskan nafas panjang, kemudian membantu Onew berdiri dan berjalan ke kamar, kembali berbaring di ranjangnya.

“Mana obatnya? Kau sudah sarapan, kan?” tanya Jikyung seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar, “Eoh? Ini..” ujarnya saat menemukan semangkuk bubur yang masih mengepulkan asap terletak di atas nakas, “.. sepertinya mereka sudah menyiapkan ini untukmu. Kenapa sepertinya belum dimakan?” Jikyung kembali bertanya.

Onew meringis kecil mendengar ucapan berantai yeoja yang biasanya lebih kalem itu. Namun kemudian segera menjawab saat Jikyung menatapnya menunggu jawaban, “Err.. aku tidak sakit lagi, kok. Tidak perlu minum obat lagi, sungguh.”

Jikyung sudah menyodorkan sendok berisi bubur tepat di depan mulut Onew sejurus setelah laki-laki itu menyelesaikan ucapannya, “Makan.” katanya tegas.

Onew menatap sendok itu dengan ragu, “Aku tidak ada nafsu makan.” ujarnya pada akhirnya.

“Kapan sembuhnya kalau tidak makan? Ayo makan! Dan minum obat setelah ini. Kau itu kan seorang idol. Sedang banyak kegiatan, pula. Masa mau absen terus karena sakit? Tidak kasihan pada fansmu?”

Onew diam tak berkedip, beberapa detik kemudian terkekeh pelan, merasa geli karena baru kali ini melihat Jikyung mengomel, “Arasso, arasso.” katanya mengalah. Jikyung terlihat puas saat namja itu melahap bubur yang disodorkannya. Dia kembali menyendok bubur dan lanjut menyuapi Onew hingga mangkuk berisi bubur itu kosong. Dan selanjutnya tidak ada lagi kata-kata protes ataupun penolakan dari Onew saat Jikyung menyuruhnya minum obat.

Onew menyerahkan gelas yang sudah kosong habis diminumnya pada Jikyung, “Gomawo, Jikyung-ah.” ucapnya tulus. Jikyung tersenyum simpul sembari menerima gelas itu dan meletakkannya kembali di atas nakas.

“Istirahatlah lagi.” ujar Jikyung dengan lembut.

Onew mengangguk patuh dan menaikkan selimutnya hingga menutupi sebagian wajah, “Dingin sekali..”

“Ng, memang dingin.” tanggap Jikyung, merasa lebih tenang setelah melihat Onew minum obat, “Omo!” dia memekik pelan saat mengalihkan pandangan pada jam tangan yang dikenakannya, “Aku harus pergi sekarang, Onew-ya.

“Oh? Oh, ya sudah.” jawab Onew pelan, “ Pergilah.”

“Maaf, ya. Aku tinggal. Ittabwa~” lambai Jikyung sambil berjalan mundur keluar dari kamar.

Ne, hati-hati!” seru Onew dengan suara teredam selimut. Beberapa detik kemudian dia mendengar suara pintu dorm yang membuka dan tertutup sekaligus terkunci otomatis. Namja itu menghela napas dalam, terdiam sejenak, kemudian memejamkan mata, mencoba tidur lagi.

>>><<<

…A few weeks later…

Uap putih mengepul keluar dari mulut milik wanita yang tengah berjalan santai di sekitar Han Gang itu. Kedua tangannya tenggelam di balik saku mantel hangat yang dia gunakan.

Matanya tertuju pada aliran jernih sungai di bawah jembatan tempatnya berpijak sekarang, sementara kakinya terus melangkah lurus menyusuri sisi jembatan Banpo. Hingga akhirnya langkahnya terhenti, di waktu yang bersamaan tangannya terulur untuk menyentuh pembatas jembatan yang malah membuatnya bergidik dingin saat permukaan besi itu menyentuh kulitnya. Akhirnya Jibyung kembali menenggelamkan tangannya ke dalam saku mantel.

Lalu lintas di jembatan Banpo tidak terlalu padat siang ini, dan itu mengingatkan Jibyung pada peristiwa tepat setahun yang lalu. Setelah beberapa saat hanya terdiam, wanita itu tiba-tiba saja menyuarakan kekehan pelan karena ingatan yang melintas di benaknya tersebut, “Haa, ulang tahun, ya?”

*

[“Kalian tidak bersenang-senang di hari spesial ini?”

“Eh?” Jibyung dan Jikyung saling bertatapan satu sama lain mendengar pertanyaan yang diajukan ibu mereka, “Bersenang-senang?” ulang Jibyung sambil mengangkat sebelah alisnya, lalu mengalihkan pandangan pada Minhyun yang sedang menatap keduanya sambil mengangguk-angguk mengiyakan.

“Maksud eomma, bersenang-senang seperti mengadakan pesta ulang tahun dan mengundang teman-teman kami? Aish, seperti anak kecil saja.” cibir Jibyung sambil kembali menyantap makan siangnya. Jikyung terkekeh pelan mendengar pernyataan adik kembarnya.

“Hm? Memang apa salahnya kalau kalian mengadakan pesta ulang tahun di umur kalian yang baru saja menginjak angka 20 ini?” Minhyun membulatkan kedua matanya, seolah takjub mendengar ucapan Jibyung.

“Aku tidak terlalu suka pesta.” ujar Jikyung sambil tertawa pelan.

Jibyung menambahkan, “Lagipula belum tentu teman-teman kami akan datang. Semuanya sudah jadi orang sibuk sekarang.”

Minhyun mencibir kecil, lalu memutuskan untuk tidak mempermasalahkan lagi soal pesta, “Sepertinya kalian memang sudah tidak ada niat untuk bersenang-senang, ya?” katanya santai, lalu menyumpit sepotong daging asap di atas panggangan, meniupnya sebentar sebelum melahapnya dengan nikmat, “Mm.. mashitta.

“Haha.. tidak juga.” kekeh Jibyung tiba-tiba, membuat kedua wanita yang sedang makan siang bersamanya ini beralih menatapnya, “Aku sudah punya rencana lain. Iya kan, Jikyung?” lanjutnya, lalu menatap Jikyung dengan cengiran lebar yang menghiasi wajahnya.

Jikyung yang memang tidak mengerti dan tidak tahu apa yang dimaksud Jibyung dengan ‘rencana’, hanya mengerutkan dahi heran dan balas memandang Minhyun yang kini menatapnya, “Rencana..?”

“Haha.. lihat saja nanti. Kita selesaikan makan siangnya dulu.”

*

Satu-satunya yang dilakukan Shin Jikyung saat ini hanya memejamkan mata dan berpegangan dengan sangat erat pada pinggang Jibyung. Dia tidak berani membuka kedua matanya hanya untuk membuatnya pusing karena melihat segala sesuatu yang mereka lewati berlalu hanya dalam waktu kurang dari sedetik.

Ternyata ini yang dimaksud Jibyung dengan ‘rencana’. Tepatnya rencana untuk mengerjaiku, pikir Jikyung. Memang benar kalau Jibyung menganggap kebut-kebutan dengan motor sportnya seperti ini adalah sesuatu yang menyenangkan. Tapi untuk Jikyung, ini adalah salah satu jalan menuju ‘peristirahatan terakhir’. (-_-) Apalagi di tengah cuaca dingin yang menusuk tulang, yang membuat Jikyung semakin gemetar sekaligus mual.

“SHIN JIBYUNG KAU GILA!!” teriak Jikyung sekuat tenaga, karena suaranya pasti akan teredam suara angin yang mereka buat sendiri jika tidak berteriak.

“HAHAHA! WAE?!” Jibyung balas berteriak sambil sedikit menurunkan kecepatan saat berbelok, “Omo!” pekiknya pelan saat harus me-rem tiba-tiba karena melihat lampu pejalan kaki di penyeberangan di depannya berwarna hijau. Jibyung dapat merasakan kepala bagian belakangnya yang mengenakan helm terantuk cukup keras dengan helm yang dikenakan Jikyung.

“Sudah, berhenti, berhenti.”

Entah karena tidak mendengar ucapan Jikyung atau karena belum puas, Jibyung malah kembali melajukan motor kesayangannya tepat setelah lampu pejalan kaki kembali merah.

Jikyung memukul lengan Jibyung dengan kuat karena merasa laju motor itu semakin cepat, “BERHENTI ATAU MAKAN SIANGKU AKAN KELUAR LAGI DAN MENGENAI BAJUMU!” teriaknya dengan setengah merengek.]

>>><<<

Jibyung kembali tertawa kecil mengingat kejadian tepat setahun yang lalu di hari ulang tahun mereka itu. Rasanya ingin melakukannya lagi. Tapi dia tidak mau bersenang-senang di atas penderitaan Jikyung seperti saat itu. Haha!

Lagipula Jikyung sudah punya janji untuk menghabiskan hari ulang tahunnya sekarang dengan temannya. Jadi.. yah, begitulah. Itu juga sebab kenapa Jibyung berada di sini sendiri.

Sebelah tangannya keluar dari saku mantel dan beralih menyusup ke saku celana denim yang dikenakannya untuk mengambil ponsel. Matanya menatap layar ponsel dan uap putih kembali terlihat mengudara dari mulutnya saat Jibyung mendesah pelan karena tidak menemukan pemberitahuan apapun yang merupakan tanda Onew menghubunginya.

“Apa sibuk, ya?” tanya wanita itu pada dirinya sendiri.

Sejak setelah menerima pesan singkat yang berisi ucapan selamat ulang tahun dari Onew tadi pagi, Jibyung tidak lagi menerima kabar apapun dari pria itu. Ya, mungkin Onew memang sedang sibuk, jadi tidak bisa menemui Jibyung di hari bahagianya ini. Dan jujur saja, Jibyung merasa sedikit kecewa karena itu.

Tapi memang mau bagaimana lagi? Memang begini resiko menjadi ‘seseorang’nya SHINee Onew. Toh ini bukan yang pertama kali bagi Jibyung.

Noona neomu yeppeo~

Dengan sedikit tersentak, Jibyung memutar tubuhnya berbalik ke arah sumber suara di belakangnya. Seorang namja dengan pakaian tertutup melangkah mendekatinya, “Sedang apa sendirian di sini, noonim?”  tanyanya. Walaupun Jibyung tidak bisa melihat bibir namja itu, tapi Jibyung tahu namja itu sedang tersenyum, terlihat dari matanya yang membentuk eyesmile. Dan Jibyung juga tahu hanya Lee Taemin yang memiliki eyesmile ini.

“Taemin-ah…” Jibyung balas tersenyum, kemudian mengangkat bahu sembari menjawab pertanyaan yang tadi diajukan Taemin, “…hanya jalan-jalan dan entah kenapa ingin berhenti di sini. Kau sendiri?”

Taemin melangkahkan kakinya mendekat, berdiri tepat di samping Jibyung, “Aku juga jalan-jalan, tepatnya kabur dari dorm, naik taksi, dan menemukan noona saat lewat ke sini.” jawabnya enteng.

“Dan kau turun dari taksi karena melihatku?” kekeh Jibyung sekedar basa-basi.

Ne.” angguk Taemin mantap, kemudian membuka masker yang dikenakannya, sehingga Jibyung bisa melihat senyum lebar di bibirnya. Senyum yang.. semakin hari semakin.. menawan.

Aigoo, Lee Taemin, jangan tersenyum seperti itu di hadapanku. Kau membuatku tidak bisa berkedip.” Jibyung menahan kedua kelopak matanya dengan jari agar tidak berkedip saat mengatakan ‘tidak bisa berkedip’, membuat Taemin tertawa cukup lepas.

“Kau cukup berbakat jadi pelawak, Noona.

“Sial. Memangnya selucu itu, apa?” Jibyung terkekeh sambil memukul pelan lengan Taemin yang hanya terkekeh kecil.

“Jadi? Noona belum menjawab pertanyaanku. Kenapa di sini sendirian?” tanya Taemin kemudian, “Tidak dingin? Hanya orang kutub yang kuat menahan dingin di suhu minus seperti sekarang.”

Jibyung terkekeh pelan, “Apa katamu saja, Adik Manis.”

Yaa! Aku tidak manis lagi sekarang. Aku sudah manly.”

Arasso, Tuan Manly.

Taemin nyengir puas dan Jibyung mengacak rambut merah menyalanya dengan gemas, “Kalian tidak ada schedule hari ini?” tanya Jibyung sesaat setelah menurunkan tangannya dari kepala Taemin.

Namja di sampingnya itu menggeleng pelan, lalu menjawab pertanyaan Jibyung sambil membuang napas di sela perkataannya, “Tidak ada, makanya aku bisa kabur dari dorm.”

Jibyung mengangguk mengerti, namun sedetik kemudian mengerutkan dahi sambil menarik kembali ponselnya dari dalam saku. Kalau memang SHINee tidak ada kegiatan, orang ini kemana? pikirnya heran.

“Kau tidak dengan Onew hyung, Noona?” tanya Taemin sambil melirik ke arah tempat motor Jibyung diparkir, “Di cuaca sedingin ini kau bahkan mengendarai motor.” decaknya takjub.

“Tidak, apa Onew sedang istirahat di dorm?” tanya Jibyung, tidak terlalu berniat menanggapi ucapan Taemin yang terakhir.

“Eh?” Taemin memandang Jibyung dengan alis bertaut heran, “Tidak, kok. Tadi dia keluar. Kukira bertemu denganmu.”

Jawaban Taemin membuat Jibyung tertegun sesaat, “Benarkah?” Tiba-tiba dia merasa was-was. Bagaimana kalau Onew benar-benar…

Ah, tidak. Jibyung harus mempercayai Onew.

“Atau mungkin dia punya schedule solo?” celetuk Taemin lagi. Tangannya iseng menyisir-nyisir pelan rambut bagian belakangnya, “Aku tidak terlalu memperhatikan schedule sekarang. Hanya menjalaninya saja tanpa bertanya-tanya.” lanjutnya kemudian sambil tertawa pelan.

“Kalian pasti lelah, ya?” Jibyung menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu terkekeh garing. Perasaannya gelisah seketika.

Waeyo? Onew hyung tidak memberimu kabar?” tanya Taemin yang mengerti sebab dari kekehan garing yang didengarnya dari Jibyung barusan. Yeoja itu mengangguk, terus terang, kemudian mengantongi lagi ponselnya, dan kembali melihat ke arah aliran sungai.

Lee Jinki, jangan membuatku takut.

Karena tiba-tiba saja Jibyung terdiam, Taemin menggaruk pelipisnya yang tak gatal dan ikut terdiam, bingung harus melakukan apa karena dia tidak tahu apapun. Dia takut akan salah bicara nanti.

Pada akhirnya mereka sama-sama diam, sibuk dengan pikiran masing-masing sementara angin musim dingin terus berhembus menusuk tulang. Taemin kembali menaikkan maskernya, dan setelah itu tidak ada pergerakan apapun lagi darinya maupun Jibyung. Dan itu berlangsung selama beberapa menit.

“Mana kado untukku?” tagih Jibyung tiba-tiba sambil menadahkan kedua tangannya ke arah Taemin.

Taemin menoleh cepat, kaget sekaligus heran, “Kado apa, Noona?

“Tega sekali. Kau juga melupakan hari ulang tahun noona-mu ini?” protes Jibyung manyun, berusaha mengenyahkan rasa gelisahnya.

Kedua mata Taemin melebar, lalu tawa lembut terdengar dari mulutnya, “Astaga, maaf, Noona. Aku memang lupa hari ini hari ulang tahunmu.” Aku Taemin jujur, yang membuat Jibyung semakin mengerucutkan bibirnya. Taemin cepat-cepat mengulurkan tangan dan menjabat tangan Jibyung, “Selamat tua, Noona.

Mwoyaaa?” protes Jibyung tak terima sekaligus geli. Tangannya yang bebas melayang dan mendarat tepat di lengan Taemin. Setidaknya lelucon Taemin membuat pikirannya teralih sejenak dari Onew.

*

Di saat yang sama, sebuah mobil Porsche hitam melaju dengan kecepatan sedang di belakang Jibyung dan Taemin. Jika keduanya berbalik dan melihat mobil itu, mungkin mereka bisa melihat Onew dan Jikyung di dalamnya.

>>><<<

“Kau sibuk, ya?”

“Eoh?”

“Emm.. hari ini.. kita tidak bertemu…” suara Jibyung yang terdengar dari speaker ponsel Onew terdengar ragu dan menggantung.

“Kau mau bertemu?” tanya Onew sembari mengulum senyum, menunggu reaksi Jibyung.

“…”

“Eoh?”

“Err.. kalau kau memang sedang sibuk, tidak usah. Aku.. aku hanya.. hanya mau menagih kadoku!”

Onew terkekeh pelan mendengarnya, “Arasso.” katanya sembari mengangguk kepada Jikyung yang hendak turun dari mobilnya sambil membawa sebuah tas berisi beberapa barang. Beberapa saat kemudian namja itu ikut turun sambil tetap menempelkan ponsel di telinganya.

“…” Jibyung tidak mengatakan apapun lagi, karena itu Onew menjauhkan sejenak ponsel dari telinganya sambil bicara pada Jikyung dengan suara pelan, “Kajja!”

Jikyung mengangguk saja saat Onew meraih sebelah tangannya yang kosong dan menggenggamnya. Mereka lalu berjalan beriringan ke dalam rumah keluarga Shin.

“Onew-ya? Kau masih di sana?”

“Emm..” gumam Onew mengiyakan pertanyaan Jibyung. Di waktu yang bersamaan dia membuka pintu rumah dan melongokkan kepalanya ke dalam. Minhyun sudah berdiri di belakang pintu dan memberitahu Onew dan Jikyung dengan isyarat bahwa Jibyung sedang di ruang keluarga.

Onew mengangguk mengerti, lalu berbicara di telpon sebelum mematikan sambungan begitu saja, “Ah, Jibyung-ah, sudah dulu, ya. Ada yang harus aku lakukan. Annyeong!

Jikyung meletakkan tas yang dibawanya ke lantai. Minhyun mengeluarkan sebuah kotak berisi tart dari dalam tas tersebut. Sesaat kemudian mereka sudah kasak-kusuk mempersiapkan ‘kejutan’ untuk Jibyung.

*

Dengan bibir mengerucut kesal Jibyung memandangi layar ponselnya yang menunjukkan bahwa sambungan telponnya dengan Onew sudah terputus. Wanita itu menyimpan ponselnya sembarangan di sofa, lalu mengambil remote dan memindahkan channel tv yang berada di hadapannya, berusaha mengalihkan perasaan gelisahnya.

“Dia benar-benar tidak merindukanku. Sama sekali tidak terdengar dari suaranya. Aish, eommaaa! Aku hampir gila!” gerutu Jibyung sembari menenggelamkan kepalanya ke tumpuan siku yang memeluk lututnya yang ditekuk.

PATS!

Karena tidak mendengar suara televisi, Jibyung mengangkat kepalanya dan mendapati sekelilingnya gelap, “Apa ini? Mataku kenapa tidak bisa terbuka? Telingaku tidak mendengar apapun. Eomma, tolong aku!” serunya heboh. Tangannya dengan random menggapai-gapai sofa.

Eomma? Kenapa? Mati lampu, ya?”

Hanya hening.

Eomma?

“Byung?”

“Eh?” spontan yeoja itu menegakkan tubuh begitu mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, “Mwoya?

Cahaya lilin tampak dari arah ruang tamu dan perlahan mendekat ke arahnya. Di atasnya, Jibyung bisa melihat senyuman tiga jari Onew. Jibyung terdiam sebentar, lalu berkata—setengah berseru, “Ige mwoya?!

Ruangan kembali diterangi lampu, dan di saat yang sama konfeti berjatuhan mengenai kepala Jibyung, “Aish, kalian..”

Happy birthday Jibyung~” Onew mengawali, dan Minhyun ikut bernyanyi,“happy birthday Jikyung~ happy birthday, happy birthday. Happy birthday to you~

Jikyung yang tadinya berdiri di belakang Onew dan Minhyun—karena dia ‘bertugas’ mematikan dan menyalakan lampu—kini berjalan mendekati Jibyung atas permintaan ibu mereka. Jibyung sendiri masih diam di tempatnya sambil memperhatikan nyala lilin di atas tart berukuran sedang yang Onew pegang, “Yaa..”

“Ayo cepat buat permohonan dan tiup lilinnya, kalian berdua.” ucap Onew sambil mendekatkan tartnya ke hadapan Jibyung dan Jikyung. Jibyung meraih tangan Jikyung dan menggenggamnya, kemudian kedua perempuan itu memejamkan mata bersamaan, mulai mengucapkan harapan di dalam hati mereka, begitu pula Minhyun yang ikut berdoa untuk kedua anaknya itu.

“Semoga appa bahagia di sana, semoga kami bisa mencapai keinginan untuk menjadi designer hebat. Semoga kami sekeluarga panjang umur dan diberi kesehatan. Semoga.. semuanya baik-baik saja.”

Hana, dul, set!

WUSH!

“Waa~ chukkahae!

>>><<<

Sebenarnya Jibyung tidak terlalu menginginkan kejutan tadi. Dia hanya perlu Onew berada di sampingnya sepanjang hari bertambahnya umurnya ini. Kado yang ditagihnya dari Taemin dan Onew itu hanya sebuah candaan. Jibyung juga tidak terlalu menginginkan hadiah seperti yang sering diterimanya saat masih duduk di bangku sekolah, apalagi hadiah perhiasan yang baru saja diterimanya dari Onew. Hanya Onew berada di dekatnya seharian ini saja sudah dapat membuat Jibyung senang.

Terkadang Jibyung ingin egois—mengklaim Onew sebagai orang yang harus selalu berada di sampingnya, tidak ada jadwal-jadwal yang harus dipenuhinya—di setiap hari yang penting bagi Jibyung. Tapi tentu itu sulit. Baginya dan bagi Onew sendiri, mungkin, karena kebetulan tidak selalu ada. Untuk sekarang, jika kenyataannya mereka hanya bisa bertemu satu jam sebelum hari ulang tahun Jibyung habis, Jibyung harus menerimanya, mau tak mau. Ya, lagipula jika dipikir-pikir lagi, menghabiskan waktu dengan Onew tidak harus di hari ulang tahun saja.

*

“Kau pasti sudah harus kembali.” gumam Jibyung saat melihat Onew melirik jam tangannya.

Pria itu menatap Jibyung dan menyunggingkan senyum, senyum yang dirindukan Jibyung, “Ne. Aku harus segera kembali. Besok pagi-pagi sekali harus bersiap-siap, bekerja lagi. Mianhae, Byung.”

“Padahal aku..“ …mau membicarakan sesuatu.

Onew menaikkan sebelah alisnya mendengar perkataan Jibyung yang menggantung, “Padahal apa?” tanyanya penasaran.

“Ah, aniya.” keraguan yang dirasakan Jibyung akhirnya membuat wanita itu menekan lagi rasa penasarannya. Sekali lagi dia mengingatkan pada diri sendiri bahwa dirinya harus percaya pada Onew, “Ya sudah, kalau kau mau pergi sekarang. Daripada besok kesiangan.”

Ne.” Onew berdiri dari sofa, menundukkan tubuh ke arah Jibyung dan mengecup dahi istrinya sekilas, “Selamat ulang tahun, Yeobo.

Jibyung tersenyum saat tangan Onew mengusap pelan kepalanya. Dia kemudian ikut berdiri dan mengantar Onew ke pintu rumah, “Hati-hati, ya. Jangan lupa minum vitamin, jangan sampai sakit lagi.”

“Aku mengerti. Aku pergi, ya. Sampai jumpa!” lambai Onew sembari berjalan menjauhi pintu rumah dan masuk ke dalam mobilnya yang diparkir di pekarangan rumah. Jibyung terus memandangi mobil Onew hingga mobil itu melaju dan hilang dari pandangan. Setelahnya wanita itu membuka sedikit mulutnya dan membuang napas sepelan mungkin.

*

“From  :  Jikyungie

Terimakasih hadiahnya, dan terimakasih sudah menemaniku seharian ini ^^”

Onew tersenyum membaca pesan singkat dari Jikyung. Dengan cepat jarinya menari di atas layar iPhone’nya, mengetik balasan pesan. Setelah selesai, Onew segera mengenakan seatbelt dan mulai mengendarai mobilnya melaju meninggalkan kediaman keluarga Shin.

*

“From  :  Jinki

My pleasure.

Lengkungan senyum simpul terbentuk di bibir Jikyung ketika pesan balasan itu masuk ke ponselnya. Diletakkannya benda persegi itu di atas tempat tidur, kemudian perhatiannya kembali terpusat pada kotak perhiasan yang berisi kalung cantik berwarna silver dengan bandul lingkaran dan batu ruby soft pink di tengahnya. Tangannya bergerak mengambil kalung itu dan mengamatinya di telapak tangannya.

“Jikyung-ah! Aaa, Jikyung-aah!” tiba-tiba saja Jibyung menghambur masuk ke dalam kamar—yang semula—kamar mereka, tempat dimana Jikyung berada sekarang. Sontak Jikyung memasukkan kembali kalung tersebut dengan asal ke dalam kotak perhiasan, kemudian meletakkan kotak itu di dekat spot duduknya, berusaha membuatnya tidak tampak mencolok.

“Jikyung-ah, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu di depan rumah.” kata Jibyung dengan  senyuman jahil yang terpajang di wajahnya.

“Siapa?” tanya Jikyung heran, tapi sejurus kemudian raut wajahnya berubah, “Oh, atau…”

“Atau?” senyuman jahil Jibyung tampak semakin lebar, “Kau pasti sudah tahu. Kajja. Ppalliwa!

Jikyung hanya diam saja saat Jibyung menariknya keluar dari kamar, hingga sampai di dekat pintu rumah yang sudah terbuka. Setelah melakukan ‘tugasnya’, Jibyung kembali ke kamar sambil melompat-lompat kecil.

“Dia itu kenapa?” gumam Jikyung heran dengan tingkah Jibyung yang seperti anak kecil. Tapi kemudian dia teringat tujuannya berada di sini. Yeoja itu melangkah keluar pintu, lalu menengokkan kepalanya ke samping kiri, dan menemukan Junsu bersandar pada dinding di samping pintu. Seperti yang sudah diduga Jikyung sebelumnya, ternyata benar-benar Junsu, “Oh.. oppa.

Ah, benar juga. Jibyung belum tahu aku dan Junsu oppa sudah berakhir.

Mendengar suara yang—jujur—dirindukannya, Junsu refleks menoleh dan segera memasang senyum lebar, “Halo, Jikyung.”

Oppa, ada apa?” tanya Jikyung sambil tersenyum dengan heran sekaligus canggung. Tapi jika mengingat ini hari ulang tahunnya, tentu saja sebenarnya Jikyung tidak perlu heran jika Junsu datang di waktu hampir tengah malam ini. Ah, apa Jikyung terkesan mengharapkan sesuatu?

“Hanya..” namja di hadapan Jikyung itu kemudian mengulurkan tangannya yang memegang kotak kado berukuran sedang pada Jikyung, “… hanya ingin memberikan ini. Aku belum terlambat, kan?” kekehnya dengan suara lembut.

Jikyung memandangi kotak itu dan Junsu bergantian, “Ah, oppa, kau tidak perlu..”

Gwaenchana. Anggap saja itu tandanya aku masih peduli padamu.” ujar Junsu dengan suara memelan di akhir kalimat, sadar bahwa dirinya kelepasan bicara.

Jikyung terdiam beberapa detik, kemudian menerima kotak itu sambil tersenyum simpul, “Gomawoyo.

Sambil kembali memasang senyum, Junsu mengangguk, lantas mengulurkan sebelah tangannya pada Jikyung, “Selamat ulang tahun.”

Ne. Gomawoyo, Oppa.” balas Jikyung sembari menjabat tangan Junsu, tersenyum hangat pada lelaki itu. Mereka mengobrol ringan sebentar, sekedar basa-basi, sebelum kemudian Junsu pergi dengan alasan takut mengganggu waktu istirahat Jikyung, walaupun sebenarnya namja itu masih merasa merindukan Jikyung.

*

“Perhiasan? Aniya. Menurutku topi.. topi rajut atau syal.”

“Benarkah?” Jikyung menggaruk pelipisnya, tampak bingung dengan tebakan Jibyung mengenai isi kotak hadiah yang diberikan Junsu. Entah kenapa Jikyung malah berpikir isinya perhiasan. Tangannya bersiap membuka tutup kotak tersebut sebelum tangan Jibyung bergerak mencegahnya.

“Tunggu!”

“Eh?” dengan raut semakin bingung, Jikyung menoleh pada Jibyung yang kini tengah nyengir lebar ke arahnya.

“Bagaimana kalau kita taruhan? Kalau isinya perhiasan, aku akan melakukan apapun yang kau mau. Tapi kalau isinya benar-benar topi rajut atau syal…” Jibyung sengaja membuat kalimatnya menggantung, “… kau harus membantuku memilihkan rancangan yang cocok untuk musim panas nanti. Eotte?

Mendengar itu, Jikyung mengerutkan kening dan tertawa pelan, “Mwoya? Mana mungkin boleh. Perusahaan tempat kita bekerja berbeda, Jibyung.”

“Ah, ayolah. Jikyung-ah~ hm? Hanya membantu memilihkan saja. Aku yang akan buat rancangannya. Ya? Ya? Kau jangan bilang pada siapa-siapa kalau kau melakukan ini. Hmm?” Jibyung membuat wajahnya terlihat memelas semelas-melasnya. Pasalnya, sejak bekerja di tempat kerjanya sekarang, Jikyung sudah memperlihatkan beberapa hal baik yang bisa dibilang ‘prestasi’ di bidang kerjanya—lebih banyak dari yang dilakukan Jibyung.

Dan sebelum Jikyung sempat menanggapi perkataan kembarannya, Jibyungcepat-cepat mengambil kotak hadiah di tangan Jikyung, “Aku anggap jawabanmu ‘iya’ ya!” cengirnya, lalu kemudian membuka penutup kotak dengan sangat pelan, mendramatisir.

Helaan napas pelan keluar dari mulut Jikyung, dibarengi gelengan kecil kepalanya, melihat tingkah Jibyung. Dia membiarkan Jibyung mengambil alih kotak di tangannya, dan ikut memperhatikan kotak itu yang perlahan-lahan mulai menunjukkan isinya.

>>><<<

…Backstage – SHINee’s Waiting Room, 8.42 pm…

Jonghyun menutup sambungan telpon ketika pembicaraannya dengan Jibyung—di telpon—selesai. Sejurus kemudian namja itu memutar tubuh dan langsung mengeluarkan suaranya yang lantang, “Demi apapun, kau harus segera menyelesaikan semua ini, Jinki hyung.

Keurae,” Key menimpali, “bagaimana bisa kalian berlaku setega ini, heh? Kau tidak pernah membayangkan bagaimana perasaan Jibyung, istrimu?” cercanya dengan penekanan pada satu kata terakhir.

Onew yang tengah duduk santai sambil memainkan ponsel di tangannya mendongak sebentar untuk menatap Jonghyun dan Key yang berdiri di dekat ujung sofa tempatnya duduk, “Aku sedang berusaha.”

Dengusan keras terdengar dari hampir semua member, kecuali Taemin dan Onew sendiri (Taemin memang tidak tahu persis semua yang terjadi, dan tidak terlalu mengerti juga apa permasalahannya).

Minho menumpangkan kaki kanannya ke atas kaki kiri, bersandar ke sandaran sofa sambil memperhatikan Onew dengan pandangan sinis, “Kalau begitu biarkan kami yang menyelesaikannya.”

“Jangan bertindak semaumu, Choi Minho! Sudah kukatakan, ini urusanku, dan biarkan aku menentukan sendiri. Kalian lihat saja!” balas Onew dengan suara dalam yang tak kalah tajam, kemudian berdiri dari sofa dan berjalan keluar dari waiting room, entah kemana.

Keempat namja yang lebih muda saling bertukar pandangan dan mendesah pelan hampir di waktu yang bersamaan.

“Ya, terserah dia saja, terserah.” celetuk Key sambil memutar kedua bola matanya dengan sebal. Sementara Taemin memperhatikan ketiga hyung-nya dengan pipi menggembung dan raut wajah bingun, tak tahu apa yang harus dilakukannya di saat seperti ini.

>>><<<

“Onew, aku.. aku tidak yakin—ani, aku belum siap.”

“Tenang saja, ada aku. Aku yakin Jibyung tidak akan bertindak macam-macam.”

“Tapi…”

“Hm, sudahlah. Lagipula masih ada waktu untukmu menyiapkan diri.”

“…”

Oke? Semoga kita beruntung, Kyung-ah. Aku harus menutup telponnya sekarang. Masih ada yang ingin kau katakan?”

“Oh, ne… selamat bekerja. Pastikan kau… tidak terlalu lelah.”

Eoh, gomawo. Sudah, ya. Kkeunho. Aku akan menghubungimu lagi nanti.”

“Emm..”

PIP!

Desahan napas kasar terdengar keluar melalui mulut namja yang baru saja mengakhiri percakapannya dengan seseorang di telpon. Mata sipitnya memicing dan bergerak-gerak gelisah, sambil tangannya mengetuk-ngetukkan ujung iPhone ke bibir bawahnya. Pada akhirnya dia memejamkan mata sejenak dan dengan begitu dia bisa mendengar kata hatinya sendiri, “Aku memang yang paling bersalah atas semua ini, dan aku harus menyelesaikannya dengan tanganku sendiri.”

Meskipun itu harus mengorbankan sesuatu yang—dulu, mungkin—sangat berharga di hidupnya?

>>><<<

Semuanya berjalan seperti biasa, beberapa minggu kemudian—sepanjang pengetahuan Jibyung. Pekerjaannya semakin baik, dan setahunya begitu pula dengan Jikyung. Hanya saja Onew jadi semakin tidak kerap menghubunginya, membuat Jibyung gencar menanyakan ini itu pada member SHINee lain—selama beberapa hari—karena hari-hari setelah itu dia sadar dirinya bisa mengganggu kegiatan mereka. Ya, pasti mereka—termasuk Onew sangat sibuk. Jibyung tidak boleh berprasangka buruk dulu. Lagi, dia harus mempercayai Onew.

Di hari Minggu pagi menjelang siang ini wanita itu sudah selesai membereskan apartemen tempatnya tinggal. Seminggu ini dia tidak sempat hanya untuk sekedar mengepel lantai karena sibuk dengan pekerjaan.

Dan kini dia dan saudara kembarnya tengah berdiskusi tentang rancangan busana seperti apa yang harus dipilihnya untuk musim panas nanti. Ternyata isi kotak hadiah dari Junsu tempo hari benar-benar topi rajut, juga sarung tangan dan syal dengan bahan yang lembut dan hangat. Itu artinya Jibyung menang, dan Jikyung harus melakukan apa yang tengah dilakukannya saat ini. Karena ‘taruhan sepihak’ Jibyung. Ckck.

“… di musim panas, kerutan di bagian lengan itu kadang membuat tidak nyaman. Lebih baik biasa saja. Dan model keseluruhannya kurasa cocok untuk banyak kalangan. Jadi menurutku kau harus pilih yang ini. Kau bisa menggunakan kain yang halus dan membuat sejuk.” tutur Jikyung sembari menunjuk-nunjuk beberapa dari desain-desain pakaian yang tersebar di atas meja.

Jibyung yang mendengarkan penjelasan Jikyung mengangguk-angguk paham, “Kau benar. Aku berpikir hal yang sama denganmu. Wah, gomawo, Jikyung-ah, kau sangat membantu.”

Sambil terkekeh pelan, Jikyung bangkit berdiri dari duduknya dan pura-pura melihat sekeliling, “Jadi.. adakah sesuatu yang bisa kumakan untuk makan siang?”

Jibyung mendongak untuk menatap Jikyung, sementara tangannya bergerak merapikan gambar-gambar desain yang berserakan di meja, “Aku belum memasak sejak pagi. Ah, bahkan aku belum belanja! Astaga! Eotteokhae?” serunya Jibyung yang bergegas meletakkan gambar-gambarnya di meja kerjanya dan berjalan cepat menuju kamarnya.

Bingung dengan tingkah Jibyung, Jikyung berseru sambil menyusul Jibyung keluar dari ruang kerjanya, “Aku hanya bercanda Jibyung. Aku bisa makan di luar, kok!”

“Bukan masalah itu.” Jibyung kembali keluar kamar sambil mengenakan mantelnya, “Pokoknya aku harus belanja dulu. Kau tunggu di sini, ya, jangan kemana-mana! Aku segera kembali.”

Dahi Jikyung berkerut dalam, heran dengan tingkah Jibyung yang tergesa-gesa keluar dari apartemennya. Tapi kemudian yeoja itu menghela napas pelan, ingat dirinya berada di sini bukan hanya untuk membantu Jibyung memilih rancangan, tapi juga untuk tujuan lain yang kembali mengingatkannya akan kesalahannya. Kesalahan terbesar yang pernah dilakukannya. Katakanlah dia tidak tahu diri dan sebagainya karena lebih memilih melanjutkan sandiwara hingga saat ini dengan alasan sudah terlanjur menuruti egonya. Tapi sumpah mati demi apapun, Jikyung masih sangat menyayangi Jibyung sebagai saudara kembarnya. Sangat menyayanginya.

Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk merenung, Jikyung memutuskan untuk menunggu Jibyung dan seorang lainnya sambil duduk di sofa ruang tengah dan membaca salah satu dari tumpukan majalah fashion yang terletak di meja.

Kegiatannya kemudian terhenti ketika ponselnya berdering. Jikyung tersenyum sendu melihat nama penelpon di layar ponselnya saat ini. Namun sejurus kemudian dia mengangkat panggilan itu dengan sikap yang tiba-tiba tampak gelisah, “Ne?”

“Aku sudah sampai. Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Onew dengan nada bicara seperti biasa, cukup santai.

>>><<<

(Onew’s POV)

“Jibyung sedang keluar sebentar untuk berbelanja.”

“Begitu?”

Hanya gumaman yang kudengar sebagai tanggapan dari Jikyung. Setelah itu kudengar helaan napas pelannya.

Keurae.” balasku dengan suara pelan.

“Kau dimana sekarang? Aku akan mendatangimu.”

“Aku masih di depan gedung. Baiklah, aku menunggumu.”

PIP!

Sambungan telpon terputus. Aku melepas seat belt yang masih melilit di tubuhku sambil membayangkan seberapa gelisah Jikyung saat ini. Kunaikkan tudung mantel yang kupakai untuk menutupi kepala, lalu kemudian membuka pintu mobil dan beranjak turun.

Aku memutuskan untuk menunggu sambil menyandar pada mobil. Dan kedatangan Jikyung ternyata lebih cepat dari yang kuduga. Kulihat sosoknya keluar dari lobi apartemen dengan langkah lambat. Aku bisa melihat dahinya berkerut walaupun dari jarak yang cukup jauh. Tanpa menunggu lagi, aku berlari kecil menghampirinya yang entah karena apa kembali memutar arah memasuki gedung.

“Hey!” aku menepuk sebelah bahunya dari belakang begitu jarakku sudah cukup dekat dengannya.

Seketika Jikyung berbalik dan menatapku, “Onew-ya!” pekiknya hampir berseru, namun setelah itu langsung menutup mulutnya. Mungkin khawatir orang lain akan mendengar dan menyadari keberadaanku. Tapi sepertinya pekikannya itu kurang keras untuk menarik perhatian orang-orang.

Aku terkekeh kecil melihat reaksinya yang agak diluar dugaanku, “Kenapa sepertinya kau terkejut begitu?”

“Tentu saja aku terkejut. Kau membuatku kaget.” katanya, dan aku kembali terkekeh.

“Baiklah, maafkan aku, Nona.” gurauku sembari merangkul bahunya dan berjalan bersamanya menuju ke sebuah lift. Jikyung hanya bergumam, dan aku menekan tombol lift. Kami menunggu selama beberapa saat.

TING!

Pintu lift akhirnya terbuka dan menunjukkan ruangan lift yang kosong. Kami segera masuk ke dalamnya. Aku menekan tombol lift nomor 5, 4, dan 3 sekaligus, padahal apartemenku dan Jibyung berada di lantai 3.

Jikyung terlihat akan protes, tapi aku langsung menyela sebelum dia sempat berbicara, “Kita butuh privasi, sebentar saja.” Dia terlihat bingung, tapi kemudian mengangguk mengerti. Dengan gerakan yang tampak ragu-ragu, dia meletakkan sebelah tangannya di atas punggung tanganku yang masih merangkul bahunya.

“Kau ingin mengatakan sesuatu?”

“Ya, setidaknya kita harus memantapkan apa yang akan kita bicarakan pada Jibyung nanti.” lagi-lagi aku terkekeh, hanya sekedar untuk menghangatkan suasana, padahal perasaanku juga sama sekali tidak menentu.

Jikyung menoleh cepat padaku, dahinya berkerut, lagi, “Maksudmu?”

Aku menatapnya, “Kau tidak mengerti apa maksudku?”

Dia menggeleng pelan.

“Sudahlah, Jikyung-ah. Jangan terlalu dipikirkan.” aku mengusap puncak kepalanya dengan tanganku yang bebas. Yeoja ini terdiam, menatap kosong pantulan dirinya di dinding lift.

TING!

Pintu lift terbuka saat mencapai lantai 5, dan tidak ada satu orang pun yang tampak menunggu lift, hingga pintu lift kembali menutup dan turun ke lantai 4, sesuai tombol yang kutekan di awal tadi.

Jikyung masih diam hingga aku berkata, “Kalau kita membicarakannya dengan baik, aku yakin Jibyung akan baik-baik saja.”

Jikyung masih diam selama beberapa detik. Pintu lift kembali terbuka, dan entah karena kebetulan atau apa, di lantai 4 juga tidak ada seorang pun yang menunggu lift—yang kami tumpangi.

Begitu lift kembali turun, Jikyung kemudian bertanya, “Membicarakan apa?”

Aku mengernyit bingung, “Tentu saja membicarakan… apa yang terjadi pada kita beberapa waktu ini.”

“Begitu?”

Aku semakin bingung.

“Jadi… selama ini..” Jikyung melepaskan tanganku dari bahunya dan memutar tubuh menghadap padaku. Aku terkejut melihat matanya sudah tampak merah dan basah. Dengan suara yang bergetar dia melanjutkan, “selama ini kalian… membodohiku?”

DEG!

Apa yang…

Jantungku berdetak berkali-kali lebih cepat saat ingatanku memflashback kejadian beberapa menit yang lalu. Masih dengan keadaan shock, aku meraih tangan yeoja ini dan memperhatikan jari manisnya, dimana sebuah cincin pengantin melingkar dengan manis di sana.

>>><<<

To Be Continue

30 responses to “My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip 10

  1. huaaaa.. Nyesek bgd bacanya..
    Onew ma jikyung jahat bgd sih..
    Kan kasian jikyung T.T
    penasaran bgd ma kelanjutannya..
    Ditunggu lanjutannya..

  2. jahaaaaat, gila temen aja ngerebut orang yang kita suka nyeseknya gak ketulungan
    ini kembaran booook, yang direbut suami pula
    ckckckckck
    onew oppaaaaaaa

  3. onewwwww~ kenapa msh melanjutkan hubungan terlarang sama jikyung? kan kasian jibyungnya tuh, dikhianati suami dan saudara kembarny sendiri >___<
    maksud pgn ngomong baik2 malah jd ketawan kan skg, tnyata yg dijumpai itu jibyung, bukan jikyung. sepertinya byung uda curiga sejak ultah mreka? entahlah..

    • apa Jibyung udah curiga? eheheh.. liat aja 😀 makasih ya, eonn, dah baca + komen. *hug tight* please wait for next clip~ T^T

  4. Pingback: My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip Eleven | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s