[Lu Han’s] Eternal Fullmoon

A_hQchwCMAAXGdx.jpg large

Title            : 9th part (Lu Han’s) Eternal Fullmoon

Credit Poster : Thanks to Aishita

Author       : fransiskanoorilfirdhausi /@fhayfransiska (soo ra park)

Genre         : Romance, Angst, Family

Length       : Chaptered

                   1stpart [Chan Yeol’s] Girl inside the Window

                   2nd part [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

                   3rd part [Kris’] Wedding Pain

                   4th part [Xiu Min’s] Oblivious Summer

                   5th part [D.O’s] Goodbye Tiramisu

                   6th part [Kai’s] Hum on Rainy Day

                   7th part [Chen’s] A Silent Love Song

                   8th part [Su Ho’s] Secret behind Her Eyes

Cast            :

  • Xi Lu Han
  • Cho Yu Ji (OC)
  • Kim Joon Myun
  • Choi Soo Young
  • Lee Sung Yeon (OC)
  • Kim Jong In

Allo readerdeul semuanya, akhirnya author comeback juga \(^^)/ kangen kan? Kangen dong #maksa. Mian banget yah ini baru bisa publish soalnya saya sempet kena author’s block, tau sendiri kan kalau itu penyakit udah kambuh, waduhh, ga rampung” bikinnya, ditambah karena otak saya yang emang nyandet-jalan-nyandet-jalan -____-

And finally, it’s Lu Han’s part ^^ reader yang biasnya namja imut ini mana suaranyaaaaa?? Haha, oke dah langsung dibaca aja deh ya, mian kalo nggak sesuai harapan, nee? hehe

This plot and OC are mine, but EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good reader please, don’t forget to give me oksigen (Read-Comment-Like)^^

________

Suasana rumah itu benar-benar mencekam hingga aura tidak nyamannya saja bisa terasa begitu pekat dari luar. Sebuah rumah mewah bercat putih yang berdiri dengan angkuhnya, pagar-pagar tinggi—yang dihiasi dengan sedikit tanaman rambat—yang dibangun di sekeliling rumah itu semakin menambah kesan misterius dan mencekam.

Di salah satu ruangan di rumah mewah itu tampaklah seorang namja tengah duduk sembari memeluk erat kedua kakinya. Namja itu menggigil ketakutan, ia semakin merapatkan tubuhnya pada salah satu sudut ruangan itu. Di ruangan yang sangat luas dan tidak terdapat satupun perabotan itu ia menggertakkan gigi-giginya, takut. Sesekali namja itu menggigiti ujung kukunya, sedikit berharap hal tersebut akan berhasil mengusir rasa takut yang kini memenuhi hatinya.

Suara langkah-langkah kaki terdengar mendekati ruangan itu, membuat si namja semakin ketakutan. Ia lantas menutup kedua telinganya dengan tangan sementara pandangannya mengarah pada satu-satunya pintu yang berada di ruangan itu, sebuah pintu kayu yang dikunci dari luar. Si namja memandang lekat-lekat gagang pintu yang perlahan turun, menandakan bahwa ‘orang itu’ akan segera memasuki ruangan, si namja menahan napas.

Si namja masih memejamkan kedua matanya erat meskipun suara langkah-langkah sepatu yang beradu dengan lantai dan menimbulkan gema di seluruh ruangan itu mampu membuat nyalinya menciut. Selang beberapa saat berlalu namja itu memaksakan diri untuk membuka kedua matanya karena tidak ada apapun yang terjadi. Namun ia belum sempat merasa lega karena ‘orang itu’ kembali menunjukkan seringai khas di wajahnya, dan itu adalah sebuah pertanda, permainannya akan segera di mulai.

Tanpa bicara sepatah katapun ‘orang itu’ langsung menarik lengan si namja dengan kasar, membawanya tepat ke tengah ruangan. Si namja berusaha berontak, namun ‘orang itu’ langsung menamparnya dengan keras, membuat si namja terjatuh ke lantai. Dan belum sempat si namja membenarkan posisi tubuhnya, ‘orang itu’ menjambak rambut si namja cepat, membuatnya meringis. ‘Orang itu’ lagi-lagi menyeringai begitu menatap ekspresi ketakutan di wajah si namja, ia terlihat sangat menikmati ekspresi itu, entah mengapa sorot mata yang memancarkan ketakutan itu selalu sanggup membuat hatinya puas dan membuatnya ingin lebih dan lebih.

‘Orang itu’ mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya, benda yang berkilau terkena sinar matahari yang menembus kaca besar di ruangan itu. Si namja yang melihat benda itu sontak terbelalak, lagi-lagi ia berniat melepas paksa tangan ‘orang itu’ dari tubuhnya, dan sekali lagi sebuah tamparan melayang ke arahnya, membuat si namja jatuh dan tergeletak lemah di lantai. Tubuh si namja benar-benar terasa sakit, ia menangis sembari menggigit bibirnya keras.

‘Orang itu’ mendekati si namja, kemudian mendekatkan benda tajam yang ada di tangannya ke pipi mulus si namja. Namja itu bergidik, kemudian dengan sisa tenaganya ia berkata dengan nada memohon, “Jangan Ayah, aku mohon… jangan…”

Dan seringai itu muncul lagi di wajah ‘orang itu’, dan saat itu juga si namja menyadari, tidak ada yang bisa menghalangi apa yang ingin dilakukan ‘orang itu’ apabila seringai itu telah muncul, sekalipun ia memohon. Namja itu sudah pasrah dengan apa yang terjadi ketika besi dingin nan tajam itu menempel di pipinya yang kini basah oleh air mata. Ia hanya bisa menggigit bibirnya lebih keras dan berdoa dalam hati, oh Tuhan …

Namja itu belum menyelesaikan doanya di dalam hari ketika benda tajam itu merobek kulit pipinya perlahan, “Aaargggghhhh!”

_________

Jika dilihat sekilas mungkin yeoja itu memang tampak sedang melamun, namun kalau saja kau mau memperhatikannya dengan lebih teliti, kesan ‘melamun’ pasti langsung sirna saat kau mendapati sorot matanya yang tajam. Pandangannya tidak kosong, tapi fokus. Fokus pada suatu hal yang tengah terjadi tepat di depan matanya sekarang.

Kini lewat sudut matanya, ia melihat seorang yeoja yang sangat ia kenal baik tengah berjalan berdampingan dengan seorang namja yang dikaguminya di koridor sekolah. Keduanya tengah tertawa bersama, mereka saling tatap kemudian tersenyum salah tingkah, terlihat jelas kalau keduanya sedang kasmaran dan larut dalam dunianya sendiri hingga tidak menyadari bahwa ia—seorang yang berdiri tidak jauh dari mereka—tengah memandangi lekat-lekat setiap gerak-gerik keduanya.

Hati seorang Cho Yu Ji seketika memanas ketika melihat pemandangan itu. Ia lalu bertanya-tanya dalam hati, sejak kapan Lee Sung Yeon yang notabene adalah sahabatnya itu menjadi sangat dekat dengan sunbae yang selama ini dikaguminya, Kim Jong In?

Tawa Jong In dan Sung Yeon seketika terhenti begitu menyadari bahwa kini Yu Ji tengah berada tepat di hadapan mereka. Sung Yeon baru akan menyapa ketika Yu Ji menyelanya duluan, “Sungyeonni? Jong In Sunbae?”ujarnya sembari menatap Sung Yeon dan Jong In bergantian.

Sung Yeon tersenyum salah tingkah, “Aniya Yuji-ya, jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku dan sunbae hanya…”

“Ah aniya, teruskanlah saja, maaf kalau aku mengganggu.”potong Yu Ji sembari memperlihatkan sederet gigi putihnya yang rapi. Yu Ji mengerling ke arah Sung Yeon kemudian menepuk lengan yeoja itu pelan, “Jangan lupa untuk mentraktirku nanti, Sungyeonnie.”

Sung Yeon membulatkan matanya, begitu juga dengan Jong In.

“Haha, kalau begitu aku pergi dulu ya Sungyeonnie, Jong In sunbae.”ujar Yu Ji kemudian berlari meninggalkan keduanya, tak lupa ia melambaikan kedua tangannya ke arah Sung Yeon dan Jong In.

Ia harus segera pergi dari tempat itu, sebelum perasaannya ketahuan.

Ketika merasa kalau jaraknya dengan Jong In dan Sung Yeon kini telah cukup jauh, Yu Ji langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha keras agar tangisnya tidak pecah. Hatinya kini terasa begitu sakit karena sunbae yang selama ini ia kagumi dan ia cintai diam-diam ternyata lebih memilih untuk bersama sahabatnya.

Yu Ji menempelkan dahinya ke tembok kemudian mendesah, ia memaksakan sebuah senyum sembari meletakkan telapak tangannya di dadanya yang terasa sesak. Tidak apa-apa, ya, tidak apa-apa, selama sahabat yang paling disayanginya bahagia ia tidak akan apa-apa. Dia akan baik-baik saja. Dan setelah ini ia tidak boleh menangis lagi, setelah ini Yu Ji harus selalu tersenyum di hadapan Sung Yeon, sahabatnya itu sama sekali tidak boleh mengkhawatirkannya, tidak boleh merasa tidak enak padanya.

Ya, dia harus jadi yeoja yang kuat, seperti yang selalu diajarkan mendiang ibunya dahulu.

__________

“Apa!? Sung Hee Eonni tidak jadi berangkat ke New York?”

Yu Ji memindahkan ponselnya ke telinga kiri sementara pandangannya masih terpaku pada puluhan soal matematika yang belum rampung ia kerjakan, alisnya berkerut ketika mendengar alasan panjang yang terdengar di seberang telepon.

“Ah nee, aku mengerti. Kalau memang itu alasannya apakah Eonni masih menaruh perasaan pada Joon Myun oppa?”

Sembari mendengarkan celotehan kakak sepupunya di seberang telepon, Yu Ji mencoret-coret selembar kertas kosong di hadapannya. Sedetik kemudian ia tertawa, “Ah, nee maafkan aku, aku tidak bermaksud menuduhmu, Eonni. Aku tahu kalau cintamu hanya untuk Baek Hyun oppa, tidak ada yang lain!”ujar Yu Ji kemudian dengan penekanan di tiga kata terakhir.

“Ah, nee. Anyyeong, kalau ada kabar baru kau harus segera menghubungi aku, Eonni. Ok?”

Yu Ji menutup teleponnya kemudian melemparkan benda sarat fungsi itu sembarangan ke atas kasur. Ia mendesah hebat kemudian kembali berkutat dengan puluhan soal matematika yang belum rampung ia kerjakan. Tidak sampai setengah jam, semua soal itu telah selesai ia kerjakan. Cho Yu Ji memang yeoja jenius yang gila matematika. Baginya, soal yang baru saja ia kerjakan itu tidak ada apa-apanya dan hanya dengan menutup mata saja ia merasa sanggup mengerjakannya.

Tok tok tok!

Suara ketukan pintu terdengar dari luar, membuat Yu Ji memutar kepalanya cepat ke arah sumber suara. Ia segera beranjak dari tempat duduknya, berjalan ke arah pintu dan membukanya. Binar bahagia langsung muncul di wajahnya ketika melihat seseorang yang sangat dirindukannya kini berdiri tepat di depan pintu kamarnya.

“Appa!”

_________

“Namanya Xi Lu Han. Appa memutuskan untuk membawanya kemari karena keadaan lingkungannya dulu sangat tidak memungkinkan.”

Yu Ji mendengarkan penuturan appanya dengan acuh tak acuh, ia benar-benar kecewa karena kepulangan ayahnya dari China semata-mata bukan karena merindukannya, melainkan demi seorang namja—yang katanya bernama Xi Lu Han—yang mengalami berbagai tekanan mental dan memerlukan pengobatan psikologis. Yu Ji lantas berpikir, kalau memang namja itu butuh pengobatan, kenapa tidak di rumah sakit saja? Kenapa tidak membawanya ke psikolog? Kenapa appanya malah menempatkan namja itu di rumahnya?

“Appa tahu, appa terlalu sibuk hingga jarang ada untuk menemanimu. Setelah menyelesaikan pekerjaan appa di China, appa janji akan segera pulang dan kita akan bersama-sama lagi. Sekarang appa hanya minta tolong satu hal padamu, jagalah dan temani Xi Lu Han, appa benar-benar tidak tega kalau harus melihatnya seperti itu.”

Yu Ji menggigit bibir kemudian mengerutkan alisnya, “Memangnya siapa Lu Han? Ada hubungan apa dengan Appa sehingga Appa begitu kasihan padanya? Begitu peduli padanya melebihi kepedulian Appa padaku? Anak Appa siapa? Aku atau Lu Han?”ujar Yu Ji dengan nada meninggi.

Appa Yu Ji mendesah, ia memasang ekspresi yang sulit diartikan, namun kemudian dia hanya berkata sembari mengelus puncak kepala anak yeojanya, “Appa akan menjelaskan semua padamu sepulang dari China. Appa janji. Dan Appa benar-benar minta tolong padamu, untuk kali ini saja.”

_________

Akhirnya Yu Ji bertemu dengannya, seorang namja China berwajah pucat dengan tatapannya yang kosong dan misterius, di sekujur tubuhnya terdapat beberapa luka sayat yang sanggup membuat Yu Ji bergidik ngeri. Di wajah namja itu, lebih tepatnya di bagian pipi kanan, tertempel sebuah plester putih, nampaknya untuk menutupi luka yang baru. Yu Ji menutup mulutnya, tidak sanggup membayangkan bagaimana rasa sakit yang dirasakan namja itu ketika luka-luka itu ditorehkan di kulitnya. Yang jadi pertanyaan di otaknya, siapa yang tega berbuat sekeji itu pada namja bernama lengkap Xi Lu Han itu?

Seusai memperkenalkan dirinya singkat kepada manusia kaku di depannya, Yu Ji bergumam pelan, “Ahh, ehm, biar aku yang membawakan barang-barangmu ke kamarmu, ah iya kamarmu ada di lantai dua, bersebelahan dengan kamarku. Dan kalau kau butuh bantuan, jangan ragu untuk minta tolong padaku.”ujar Yu Ji kemudian menarik koper hitam yang ada di samping Lu Han, ia berjalan menaiki tangga diikuti oleh Lu Han di belakangnya.

Yu Ji memutar kunci pintu kamar itu perlahan, ketika memasukinya ia merasa agak sangsi dengan keadaan kamar yang telah lama tidak ditempati itu. Namun ketika melihat cahaya matahari yang memaksa masuk melewati kaca besar yang ada di kamar itu, ia merasa seakan kamar itu menjadi hidup kembali. Perabotan di kamar itu cukup beragam, sebuah kasur busa dengan bed cover berwarna cerah dengan sebuah meja kecil di sampingnya, sebuah jam dinding, kemudian terdapat juga sebuah lemari kayu bermotif ukir klasik di sudut ruangan. Yu Ji tersenyum, ia merasa kalau kamar itu akan cocok untuk Xi Lu Han.

“Semoga harimu di sini menyenangkan.”kata Yu Ji sembari melihat sorot mata Lu Han yang masih sama seperti sebelumnya, namja itu tidak menanggapinya, sama seperti sebelumnya.

Yu Ji terdiam sejenak kemudian menepuk dahinya gemas, ia baru teringat kalau Lu Han adalah orang China, itu artinya selama ia berceloteh dalam bahasa Korea tadi Lu Han tidak mengerti, pantas saja namja itu hanya diam saja. Yu Ji lantas berpikir keras dalam hati seberapa paham ia dengan bahasa China, ia merasa appanya benar-benar melakukan suatu kesalahan dengan ‘menitipkan’ Lu Han padanya.

________

Akhirnya Joon Myun berhadapan dengannya, dengan pria itu, Choi Jae Min.

Joon Myun menatap lekat-lekat pria yang duduk di hadapannya, sementara yang ditatap hanya menunduk, terlihat enggan menatap balik. Joon Myun mengepalkan tangannya erat, berusaha menahan emosinya yang mulai mencuat. Ia tidak pernah menyangka akan benar-benar berhadapan dengan pembunuh orangtuanya sepuluh tahun lalu. Joon Myun ingin sekali melontarkan berbagai pertanyaan kepada si pria—tentang alasannya membunuh kedua orangtuanya atau rencana si pria untuk membunuhnya—dan kalau saja ia tidak sedang berada di kantor polisi sekarang, ia pasti sudah memukul pria itu sedari tadi.

“Bagaimana keadaan Seo Rin sekarang? Apakah masih tidak ada perkembangan? Ia masih koma?”tanya si pria memecah keheningan. “Aku tidak pernah menyangka ia akan melakukan hal senekat itu.”lanjutnya.

Ketegangan yang semula menyelimuti Joon Myun kini perlahan menghilang, tergantikan oleh perasaan cemas yang tiba-tiba terbit di hatinya begitu nama yeoja itu keluar dari mulut Choi Jae Min.

Joon Myun hanya mendesah panjang sebagai jawaban atas pertanyaan si pria paruh baya, entah kenapa kali ini ia benar-benar enggan untuk mengeluarkan suaranya, apalagi menggunakannya untuk menjawab pertanyaan dari seorang Choi Jae Min.

“Maaf.”

Alis Joon Myun terangkat tinggi, sedikit sangsi dengan ucapan maaf yang baru saja ia dengar.

“Aku memang membunuh kedua orang tuamu sepuluh tahun yang lalu.”ucap Jae Min dengan napas berat, “Aku melakukannya karena kepentinganku, tidak ada alasan lain.”

Seketika udara di sekitar Joon Myun terasa benar-benar tipis, membuatnya kesusahan untuk bernapas, terlalu menyesakkan. Joon Myun lantas bergumam dalam hati, akhirnya pria itu mengatakannya, mengatakan pengakuan yang sedari tadi ingin ia dengar meskipun pengakuan itu tak ayal sanggup membuat hatinya retak perlahan-lahan.

“Aku memang melakukannya, aku sendiri takjub dengan diriku sendiri yang dengan teganya membunuh Joon Sang dan istrinya. Aku tidak tahu setan apa yang merasukiku saat itu. Sesungguhnya aku menyesal telah melakukannya.”Jae Min berkata sembari menggigit bibirnya keras, “Namun aku terlalu buta dengan harta sehingga aku memutuskan untuk terus menyembunyikan kejahatanku hingga sepuluh tahun lamanya.”

Dahi Joon Myun berkerut, ia lantas tersenyum sinis. Lagi-lagi soal uang dan harta, orang kaya memang memuakkan, pikirnya.

“Dan setan pembunuh itu kembali muncul saat aku mengetahui bahwa Joon Sang memiliki seorang anak laki-laki, anak laki-laki yang ia sembunyikan dariku agar aku tidak membunuhnya. Aku terlalu takut kalau anak laki-laki itu akan datang kemudian merebut kembali perusahaan yang sebenarnya memang milik kedua orangtuanya, dan aku memutuskan untuk memerintahkan Seo Rin untuk membunuh anak laki-laki itu.”

Jadi karena itu, karena itulah appa dan eomma menitipkan aku pada nenek Park, agar jejakku dalam silsilah keluarga Kim hilang dan aku tidak menjadi sasaran dari seorang Choi Jae Min? Oh Tuhan, batin Joon Myun. Joon Myun kembali merasakan sesak luar biasanya di dadanya.

Joon Myun terbelalak begitu Choi Jae Min bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan ke samping Joon Myun, pria itu duduk bersimpuh dan sedetik kemudian ia bersujud dengan menghadap ke arah Joon Myun. “Aku mohon,”rintihnya, “Aku mohon jagalah Seo Rin, aku akan mengakui semua kejahatanku, aku akan membayar semuanya, aku akan memberikan semuanya. Tapi aku mohon, tolong jagalah Seo Rin. Aku mohon.”

“A..apa?”kata Joon Myun terbata-bata.

“Dia tidak punya siapa-siapa lagi, anggota keluarganya yang tersisa hanyalah aku sebagai ayahnya. Kalau aku dipenjara seperti ini, ia akan sendiri. Aku memang brengsek, akulah penyebab dari semua ini, aku yang menyusahkan dan menyengsarakanmu. Tapi aku tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Aku mohon padamu, tolong, tolong jaga dia.

“Itulah permintaan terakhirku.”tambah pria itu.

Dan kali ini sama saja, Joon Myun tidak menjawab, menggeleng ataupun mengangguk. Ia hanya diam dan termenung, terlalu bingung dengan apa yang harus ia lakukan di saat seperti ini.

_________

Alis Yu Ji mengernyit karena berusaha keras memahami sederet kalimat yang tertera di buku dengan judul ‘Mahir Berbahasa Mandarin Hanya dalam Waktu 30 Menit” itu. Karena tak kunjung memahaminya, ia lantas mendesah kemudian menutup buku itu cepat.

“Apanya yang 30 menit? Membacanya saja butuh waktu sejam lebih, hah! Penulisnya benar-benar pemberi harapan palsu!”

“Ada apa Yu Ji-ya?”

Yu Ji tidak menjawab pertanyaan Sung Yeon, ia hanya menunjuk judul buku yang berada di tangannya. Sung Yeon terbahak, namun yeoja itu langsung menutup mulutnya ketika merasa bahwa Yu Ji mulai memasang wajah ‘bete-paling-menyebalkan-sedunia’nya.

“Aissh, nee, nee. Oh iya, bagaimana kabar namja bernama Xi Lu Han itu? Dia sudah tinggal di rumahmu selama hampir dua minggu kan? Dan sampai sekarang dia belum mengucap sepatah katapun padamu?”

Yu Ji mengangguk pelan. “Aku selalu berusaha mengajaknya bicara, namun ia tidak pernah menanggapi, aku seperti bicara dengan patung.”

“Apakah dia makan dengan baik? Apa yang ia lakukan untuk menghabiskan waktu?”

“Ya, dia makan dengan baik. Kau tahu, aku seperti pengasuhnya karena setiap hari membawakan makanan ke kamarnya. Ia tidak pernah mau keluar dari kamarnya. Setiap kali aku memasuki kamarnya, tatapannya selalu mengarah pada jendela kamar yang tertutup kaca. Aku sendiri penasaran dengan apa yang ada di pikirannya saat itu.”tutur Yu Ji panjang lebar sembari memilin-milin pita yang menghiasi rambutnya.

“Apa yang membuatmu begitu perhatian padanya? Hingga membuatmu rela belajar bahasa Mandarin yang cukup menyiksamu itu?”

Mata Yu Ji membulat, dalam hati ia membenarkan perkataan Sung Yeon. “Mungkin karena aku butuh teman, entah kenapa keberadaannya membuat aku merasa tidak lagi sendiri di rumah. Yah, meskipun dia hanya diam seperti patung.”

Sung Yeon membenarkan dasi seragamnya sembari berpikir keras. “Yu Ji-ya, apakah dia tampan? Kau tidak membiarkan aku menemuinya bahkan sekali saja, aku tidak tahu seperti apa dia.”

“Kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?”kata Yu Ji sembari memainkan ujung pensil yang entah sejak kapan berada di tangannya. Sedetik kemudian matanya kembali membulat, “Jangan bilang kau berpikir kalau aku jatuh cinta padanya.”

Sung Yeon terkekeh karena tebakan Yu Ji memang benar, yeoja itu lantas menatap Yu Ji lekat-lekat. “Katakan padaku sejujurnya, apakah dia tampan?”

Mendengar itu, Yu Ji hanya menelan ludah. Ia berusaha menyembunyikan semburat kemerahan di wajahnya yang entah kenapa tiba-tiba muncul. Yu Ji tersenyum, “Nee, dia memang tampan, sekalipun wajah dan tubuhnya penuh luka, hal itu tidak bisa menutupi sinar ketampanannya. Tapi…. Jujur aku terlalu takut untuk jatuh cinta padanya.”

“Wae?”

Yu Ji mendesis, “Aku punya firasat kalau cintaku justru akan menyakitinya.”

“Eh?”

_______

Lu Han menyentuh pipinya yang masih terplester dengan hati sakit, sebab setiap kali ia menyentuhnya, kenangan menyakitkan itu akan kembali memenuhi pikirannya dan mampu merobek hatinya pelan-pelan. Lu Han mendesah kemudian berjalan mendekati jendela kaca, ia menatap kosong halaman rumah yang terlihat dari sana. Ia ingin ke sana, ia ingin keluar, ia tidak ingin terus terkurung di dalam sini. Tapi kalau ia berontak, kalau ia keluar, ia takut akan bertemu dengan ‘orang itu’. Sebenarnya ia merasa sudah cukup hanya diam di kamar ini saja, karena dengan begitu ia tidak akan bertemu dengan seringai ‘orang itu’ lagi, ia tidak perlu merasa tersiksa lagi, ia aman di sini.

Kini sudah satu bulan berlalu sejak Lu Han pertama kali menginjakkan kaki di rumah yang sama besar dengan rumah lamanya ini, namun kesan yang ia rasakan saat melihat rumah ini jauh berbeda dengan kesan yang ia rasakan saat melihat rumahnya sendiri. Rumah ini memang sama sepinya, namun rumah ini lebih hidup, lebih berwarna dan lebih terang. Tidak ada sama sekali kesan mencekam seperti yang ia rasakan di rumah lamanya. Diam-diam ia berterima kasih pada pria yang membawanya kemari, pria yang telah membebaskannya dari rumah terkutuk itu, meskipun sebenarnya pria itulah yang membuatnya harus merasakan siksaan itu.

Lu Han tersentak ketika pintu kamarnya diketuk pelan, ia lantas berjalan mendekatinya lalu membukanya. Namja itu mendapati seorang yeoja tengah membawa sebuah nampan dengan sepiring nasi goreng di atasnya.

“Ah, ehm, i..ini makanannya. Ah anu..”ujar si yeoja dengan bahasa Mandarin yang terdengar payah sekali. Mendengar itu, Lu Han langsung mengambil inisiatif dengan berkata dalam bahasa Korea, “Gwenchana, berbicaralah dalam bahasa Korea.”

Cho Yu Ji, yeoja itu langsung mematung begitu mendengar suara Lu Han. Selain karena kenyataan bahwa ini pertama kalinya Lu Han mengeluarkan suaranya dan menanggapinya, juga karena ternyata namja itu bisa berbahasa Korea. Hah, lalu apa artinya ia belajar bahasa Mandarin dari buku ‘Mahir Berbahasa Mandarin Hanya dalam Waktu 30 Menit’ yang menyebalkan itu!

Yu Ji masih belum menghentikan keterkejutannya ketika Lu Han mengambil nampan dari tangannya. Yeoja itu masih belum bisa memercayai apa yang baru saja ia dengar, apa yang baru saja ia lihat, dan apa yang baru saja ia rasakan. Namja itu, ayolah, Xi Lu Han akhirnya mengeluarkan suaranya setelah selama satu bulan hanya diam seperti boneka manekin, puji Tuhan!

“Maaf.”

“Eh?”

“Maaf karena aku hanya diam saja selama satu bulan ini, aku hanya takut. Eh iya, ah, ehm, aku masih berusaha beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Aku ..”

Puji Tuhan! Namja itu sangat mahir berbahasa Korea, bahasa Koreanya terdengar tanpa cela, lagi-lagi Yu Ji mendapati dirinya terkejut.

“Gwencahana. Aku mengerti. Ah, dan kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu, hehe.”

Lu Han memaksakan seulas senyum, ia agak sangsi dengan senyumannya sendiri karena sudah lama ia tidak melakukannya, ia berpikir Yu Ji pasti merasa aneh dengan senyumannya yang kaku.

“Ah, oh iya. Sekali lagi aku ingin memperkenalkan diri, Cho Yu Ji imnida.”ujar Yu Ji sembari tersenyum cerah dan mengedepankan tangannya, “Aku rasa kita perlu untuk saling memperkenalkan diri lagi.”

Lu Han menatap lekat-lekat tangan Yu Ji yang terjulur di depannya, ia lantas mengangkat tangannya ragu kemudian menjabat tangan Yu Ji. “Xi Lu Han imnida.”

Yu Ji tersenyum lagi, binar bahagia terukir jelas di wajahnya yang manis. “Aku senang sekali karena akhirnya namdongsaeng-ku mau berbicara padaku! Ah maaf, boleh kan kalau aku menganggapmu adikku mulai hari ini? Karena aku benar-benar ingin punya adik laki-laki.”

Alis Lu Han terangkat, “Adik?”

“Nee!”

“Tapi, aku sudah 22 tahun.”

Yu Ji tercenung seketika, sedetik kemudian mulutnya membulat sempurna. “Apa!? Jadi kau lebih tua dariku!?”

Lu Han tampak berpikir kemudian mengangguk pelan.

Dan ini sudah ketiga kalinya di hari itu seorang Xi Lu Han mampu membuat Cho Yu Ji terkejut setengah mati.

_________

1 minggu kemudian…

“Lihat, Oppa! Kalau yang ini namanya Kim Jong In, dia sunbaeku yang akan lulus tahun ini. Lihat itu, kulitnya gelap sekali bukan?”ujar Cho Yu Ji sembari menunjuk salah satu foto namja yang ada di albumnya. “Jong In sunbae juga pandai menari.Oh, Sung Yeon benar-benar beruntung memilikinya.”

Lu Han hanya mengangguk-angguk menanggapi ocehan Yu Ji, ia sama sekali tidak menyadari ekspresi Yu Ji yang berubah masam ketika mengucapkan kalimat terakhir.

Yu Ji membalikkan album fotonya dan lagi-lagi foto seorang namja terpampang di sana, “Dan yang ini namanya Oh Se Hun, dia satu kelas dengan Jong In sunbae, mereka berdua bersahabat. Se Hun sunbae juga tampan dan pandai menari, sayang sekali dia begitu dingin kepada yeoja. Berbeda sekali dengan Jong In sunbae yang terkesan bad boy.”

Yu Ji terus mengoceh panjang lebar soal foto namja-namja yang ada di albumnya hingga tidak menyadari Lu Han yang sedari tadi kebosanan di sampingnya.

“Yu Ji-ya, berapa banyak foto namja yang kau simpan di sana?”tanya Lu Han kemudian.

Gerakan tangan Yu Ji yang sedang membolak-balikkan setiap lembar albumnya terhenti, ia lantas meringis, “Banyak. Mungkin ada sekitar dua ratus foto dan semuanya berbeda, hehe.”

Dalam hati Lu Han mengerang, haruskah ia mendengarkan semua cerita tentang dua ratus namja itu? Ayolah, satu foto saja dikomentari panjang lebar oleh Yu Ji.

Yu Ji menutup albumnya dan tanpa ia sadari Lu Han menghembuskan napas lega di sampingnya. Lu Han menatap lekat-lekat si pemuja pria tampan yang duduk di sampingnya, alisnya terangkat ketika yeoja itu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya. Sebuah kamera.

“Mau apa?”

“Aku akan memotretmu, Oppa.”

“Kenapa?”

“Karena kau tampan, dan namja tampan harus diabadikan di dalam kameraku kemudian aku tempelkan di album.”

Lu Han mendengus, kemudian menutup lensa kamera Yu Ji dengan telapak tangannya, “Tidak mau.”

“Kenapa tidak?”

“Aku tidak tampan.”

“Siapa bilang?”

“Aku.”

Yu Ji mendesah pelan, ia lantas menyadari bahwa Lu Han adalah pribadi yang cerewet, “Tapi menurutku kau tampan.”

“Menurutku tidak.”

“Tampan.”

“Tidak.”

Setelah melalui perdebatan panjang dan monoton berupa ‘tampan-tidak-tampan-tidak-tampan’ akhirnya keduanya memutuskan untuk berhenti dan melakukan hal lain. Saat ini Lu Han dan Yu Ji sedang berada di ruang tengah di lantai satu sembari menonton televisi yang sedang menayangkan program musik. Lu Han menonton dengan khidmat sementara yeoja di sampingnya malah asyik berkutat dengan berpuluh-puluh soal matematika yang menguras otak.

“Oppa, kenapa bahasa Korea Oppa bagus sekali?”kata Yu Ji tiba-tiba.

Lu Han mengalihkan pandangannya dari televisi kemudian menatap yeoja yang telah berpaling dari soal-soal trigonometri itu. “Ibuku adalah peranakan Korea, ia sering mengajakku bicara dalam bahasa Korea. Selain itu aku juga pernah tinggal di sini selama dua tahun, kalau tidak salah ketika umurku sepuluh tahun. Entahlah, aku sendiri tidak ingat.”

Yu Ji mengangguk mengerti, setelah itu ia kembali memfokuskan dirinya pada buku tebal di hadapannya. Lu Han yang melihat itu lantas menjuluki Yu Ji ‘si pemuja pria tampan yang gila matematika’ dalam hati.

“Lu Han Oppa, bolehkah aku bertanya satu hal padamu?”

“Nee?”

Yu Ji tampak berpikir keras, ia takut kalau pertanyaannya nanti akan menyakiti hati Lu Han. Namun rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya, membuatnya lantas berkata dengan hati-hati, “Apa yang sebenarnya terjadi padamu hingga Appa membawamu kemari? Dan juga kenapa banyak sekali luka di tubuhmu?”

Televisi di hadapan mereka tiba-tiba mati, ya, Lu Han sontak menekan tombol off di remote ketika Yu Ji mengutarakan pertanyaan itu, pertanyaan yang mampu membuat hatinya sontak menjerit kesakitan. Ia kembali teringat, sesuatu yang menakutkan dan berusaha ia kubur dalam-dalam.

Melihat ketidaknyamanan yang terlihat dari bahasa tubuh Lu Han, Yu Ji lantas berinisiatif mengubah topik. “Ah, kenapa televisinya dimatikan, Oppa. Aku kan masih mau melihat grup favoritku yang sebentar lagi tampil.” Yu Ji baru akan mengambil remote yang berada di tangan Lu Han ketika namja itu menggumamkan sesuatu.

“Orang itu’ yang melakukannya, ‘orang itu’ yang menorehkan semua luka ini di tubuhku.”

Yu Ji terdiam seketika, tidak paham maksud ucapan Lu Han. Yeoja itu lantas mengamati lekat-lekat bibir Lu Han yang bergetar, kemudian pandangannya beralih pada pipi Lu Han yang masih diplester, turun ke bawah dan ia menemukan banyak sekali luka gores di kedua tangan kurus Lu Han.

“Orang itu’ membenciku dan ia selalu menyiksaku tanpa kenal ampun.” Dada Lu Han mulai naik turun, ia terlihat tengah mengontrol napasnya yang berat,  “Ia … ia mengurungku di sebuah ruangan yang luas… ruangan yang jauh dari ruangan yang lain..  tempat di mana ia bebas menyiksaku … tanpa seorangpun tahu.”

Lu Han menempelkan kedua tangannya ke telinga kemudian menggigit bibirnya keras, Yu Ji mulai khawatir dengan perubahan drastis dari ekspresi Lu Han, namja itu kini tampak sangat ketakutan.

“Aku takut.. takut. Setiap kali gagang pintu itu turun, setiap kali pintu kayu itu terbuka, setiap kali terdengar langkah ‘orang itu’ yang menggema ke seluruh ruangan, setiap kali seringai itu muncul….” Lu Han terlihat mengatur napasnya dengan susah payah, “Aku … takut….”

Yu Ji menyentuh punggung Lu Han yang bergetar, yeoja itu bermaksud menenangkan namja itu sementara hatinya dipenuhi perasaan bersalah karena secara tidak langsung dialah yang membuat Lu Han seperti itu.

“Ketika benda tajam itu merobek kulitku, ketika tangan besar itu menampar dan memukulku, sakit, semuanya sangat menyakitkan. Tapi …”

Sebelah tangan Yu Ji langsung membekap mulutnya sendiri, ia merasa tidak sanggup lagi mendengar cerita Lu Han.

“Tapi anehnya rasa sakit itu tidak bisa mengalahkan rasa sakit yang terasa di sini.”ujar Lu Han sembari menekan dadanya. “Di sini lebih menyakitkan. Karena ‘orang itu’ adalah orang yang pernah menyayangiku, yang pernah aku sayangi, yang pernah memberikan kecupan di dahiku, yang pernah …”

Lu Han belum menyelesaikan ucapannya ketika ia menyadari bahwa kini ia telah berada di dalam pelukan Cho Yu Ji.

“Tolong jangan teruskan lagi, Oppa.”kata Yu Ji.

Lu Han terdiam kemudian membenamkan wajahnya di bahu Yu Ji yang hangat, ia berusaha keras menyembunyikan matanya yang mulai berair.

________

“Appa harus menjelaskan semuanya, ya, semuanya. Aku tidak mau tahu, yang penting ceritakan semuanya sekarang.”

Terdengar desahan panjang di seberang telepon, “Baik. Appa akan pulang besok malam, kita harus berbicara empat mata soal masalah ini, tidak bisa dijelaskan lewat telepon.”

Mendengar itu, Yu Ji mengangguk dan tersenyum puas—meskipun ia yakin appanya tidak akan bisa melihatnya—lalu menutup telepon setelah sempat mengucapkan salam kepada appanya. Ia meniup-niup poninya pelan sembari mempersiapkan hati untuk penjelasan appanya yang mungkin akan ia dengar dua hari lagi, karena entah kenapa ia merasa ada yang tidak benar dengan masalah ini, ia merasa akan ada sesuatu yang terkuak, sesuatu yang tidak menyenangkan, sesuatu tentang Lu Han.

Yu Ji melangkahkan kakinya yang mungil keluar kamar, ia melirik ke samping kanannya, tempat di mana kamar Lu Han berada. Entah apa yang tengah ada di pikirannya karena yeoja itu langsung berjalan menuju pintu kamar Lu Han dan dengan mudah membukanya karena ternyata pintu itu tidak terkunci. Ia berjalan pelan-pelan menuju ke arah Lu Han yang ternyata tengah tertidur pulas di atas ranjang busa.

Kedua mata namja itu tertutup rapat, ia terlihat begitu tenang dalam tidurnya. Sesekali terdengar bunyi napasnya yang teratur. Yu Ji tersenyum, Lu Han tampak jauh lebih baik daripada beberapa jam lalu ketika namja itu menceritakan masa lalunya yang kelam. Sampai saat ini pun Yu Ji masih merasa bersalah pada namja itu. Yu Ji menekuk lututnya kemudian duduk bersimpuh di samping tempat tidur Lu Han.

Pandangan Yu Ji menelusuri setiap inci wajah Lu Han yang penuh luka, tiba-tiba telunjuk yeoja itu terangkat dan menyentuh plester di pipi Lu Han. “Apakah ini sakit, Oppa?”ujarnya lirih. Telunjuk Yu Ji kini berpindah ke arah lengan Lu Han yang memilki luka tak kalah banyak, “Bagaimana dengan ini semua, pasti juga terasa sakit sekali kan?”

“Kalau begitu, hatimu merasakan sakit yang bagaimana? Seperti apa? Sesakit apakah hingga melebihi sakit dari semua luka ini?”

Yu Ji termenung agak lama karena tak mendapat jawaban dari pertanyaan yang baru saja ia lontarkan, pertanyaan yang ia tahu tidak akan dijawab karena yang ditanya tengah tertidur.

“Aku ingin melihatmu tertawa, Oppa. Aku ingin kau berhenti melupakan masa lalumu dan mulai melihat masa depan. Kalau kau tanya apa yang membuatku begitu peduli padamu, aku akan menjawab aku tidak tahu. Ya, aku sendiri tidak tahu apa yang membuatku begini, padahal jujur saja awalnya aku menolak kehadiranmu di sini. Aku berpikir kehadiranmu akan merebut perhatian Appa, namun entah sejak kapan gagasan itu berubah.”

Yu Ji melirik jam dinding yang ada di kamar Lu Han, pukul 22.13.

“Dan siapa bilang kau tidak tampan? Hanya orang buta yang akan bilang kalau kau tidak tampan, Oppa!”ujar Yu Ji lagi saat pandangannya beralih pada Lu Han.

Yeoja itu tersenyum kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Namun sebelum ia menutupnya kembali, ia terlebih dahulu melongokkan kepalanya dan berkata, “Selamat tidur, Oppa. Aku harap besok kau akan bangun dan memperlihatkan senyum ceriamu.”

Dan pintu itu pun tertutup pelan.

Dan yeoja yang baru saja menutup pintu itu melangkah kembali ke kamarnya sembari bersenandung kecil, tanpa sedikitpun menyadari kalau seseorang yang baru saja ia kunjungi telah terjaga dari awal dan mendengar semua perkataannya.

________

“Apa yang Oppa lakukan?”

“Pertanyaanmu sungguh retoris. Memangnya apa yang akan dilakukan seseorang yang duduk di depan sebuah piano? Mengepel?”

Yu Ji mengerucutkan bibirnya, sementara Lu Han hanya membalasnya dengan senyum tipis. Namja itu lalu meletakkan kesepuluh jarinya di atas tuts-tuts piano, sejenak ia tampak mengingat-ingat sesuatu, mungkin sebuah lagu. Dan dalam hitungan detik, atmosfer di sekeliling Lu Han berubah, namja itu sudah mulai menarikan jari-jarinya yang lentik di atas tuts piano. Dengan lincahnya jari-jari itu berpindah, dari tuts yang satu ke tuts yang lain, menimbulkan berbagai bunyi yang indah dan mampu memanjakan telinga. Mata Lu Han terpejam, selain menandakan bahwa ia sudah hapal di luar kepala lagu yang tengah ia dentingkan, ia juga terlihat sangat menikmati dan menghayatinya.

Yu Ji tahu lagu apa yang tengah Lu Han mainkan. Sebuah lagu sedih berjudul River Flows in You, lagu milik Yiruma. Dan harus ia akui kalau ia kembali terkejut akan Lu Han, ia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa seorang Xi Lu Han bisa memainkan sebuah lagu dengan indah dan penuh perasaan seperti itu, dengan sebuah piano klasik milik mendiang ibunya. Selain itu, lagu itu adalah lagu yang sering dimainkan mendiang ibu Yu Ji dulu.

Permainan Lu Han berakhir dan Yu Ji mendapati air matanya mulai turun, gambaran mendiang ibunya kini tergambar jelas di otaknya dan membuatnya tidak bisa menahan air mata. Ia buru-buru mengusap air matanya ketika Lu Han beralih memandangnya. “Kau menangis?”

Yu Ji menggeleng cepat kemudian tersenyum, “Tidak.”

Lu Han bangkit dari duduknya kemudian mengusap pelan air mata di sudut mata Yu Ji, membuat yeoja itu terkejut dan langsung menjauhkan tubuhnya. “Maaf kalau aku membuatmu menangis. Seharusnya aku memilih lagu yang bersemangat, bukan yang sedih seperti itu.”gumam Lu Han sembari mengacak rambutnya pelan.

Alis Yu Ji terangkat, kemudian menarik ujung bibirnya hingga terbentuk sebuah senyuman. “Aku menangis karena teringat mendiang ibuku. Aku tidak bersedih, aku justru bahagia karena bisa mendengarkan lagu itu lagi, lagu yang sering ibuku mainkan dengan piano klasik itu.”

Lu Han belum sempat menanggapi penuturan Yu Ji karena yeoja itu kembali menyela, “Terima kasih, Oppa. Permainanmu sangatlah indah, berapa aku harus membayarnya?”canda Yu Ji.

Mendengar itu Lu Han hanya tertawa renyah dan membuat Yu Ji mematung seketika. “Oppa… tertawa? Baru saja Oppa tertawa bukan?” Yu Ji mengguncang bahu Lu Han yang kini tersenyum.

Karena kau sendiri yang memintanya malam itu, aku tersenyum untukmu, batin Lu Han.

Astaga, Lu Han tertawa, akhirnya Lu Han tertawa! Sebelumnya Lu Han hanya tersenyum, itupun hanyalah senyum kaku dan terpaksa, namun kali ini berbeda karena Lu Han tertawa lepas tanpa beban. Yu Ji merasakan ribuan kupu-kupu terbang di perutnya begitu melihat senyum manis Lu Han, senyum yang entah kenapa bisa membuat jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dan membuat aliran darahnya seakan berhenti.

________

Cerah. Penuh bintang. Bulan purnama. Indah.

Itulah kosa kata yang memenuhi pikiran Lu Han dan Yu Ji ketika melihat langit malam itu lewat balkon kamar Lu Han. Keduanya kini asyik dengan pikirannya sendiri-sendiri, yang seorang membayangkan bagaimana caranya menyentuh bulan yang kini terlihat sangat dekat dengan bumi itu, sementara yang seorang lagi mulai mencari-cari rasi bintang yang mungkin terbentuk di malam yang cerah itu.

“Apa yang lebih Oppa suka, bulan atau bintang?”ujar Yu Ji memecah keheningan di antara keduanya.

Lu Han berpikir agak lama kemudian tersenyum, ”Kalau kau?”

Yu Ji mengerucutkan bibirnya gemas, “Aku lebih suka bintang.”

“Kenapa?”

“Karena bintang punya cahayanya sendiri. Sekalipun ia terletak begitu jauh dengan bumi, ia tetap terlihat terang, indah dan mengagumkan.”

Lu Han mengangguk, membenarkan dalam hati. “Kalau aku lebih suka bulan.”

Pandangan Yu Ji beralih pada namja yang berdiri di sampingnya, “Kenapa?”

“Karena bulan adalah satu-satunya benda planet yang setia dengan bumi, ia selalu mengikuti kemanapun bumi pergi. Meskipun ia tidak punya cahayanya sendiri, ia tetap berusaha menerangi bumi dengan memantulkan cahaya matahari. Meskipun ia tidak bisa bersinar, ia tidak malu-malu untuk meminjam cahaya matahari demi menerangi bumi di malam hari.”

Yu Ji tercenung dengan jawaban Lu Han. Jawaban yang aneh dan tidak umum, tapi kalau dipikir-pikir jawaban itu benar. Oh Tuhan, sudah berapa kali namja itu sanggup membuat Yu Ji tercengang seperti ini?

“Lalu apakah Oppa berpikir kalau bulan mencintai bumi?”

Lu Han terkekeh mendengar pertanyaan Yu Ji yang terdengar konyol, “Mungkin.”

Yu Ji mendongak, menatap bulan purnama, ia lalu merasa bahwa benda langit itu bersinar semakin terang. Yeoja itu lantas tersenyum kecut, “Lalu, apa bumi juga mencintai bulan? Bagaimana cara bumi membalas jasa-jasa bulan?”

Lu Han mengetukkan jari-jarinya pada pagar di sekeliling balkon, tampak berpikir. “Entahlah, aku rasa bumi punya caranya sendiri untuk mencintai bulan.”

Yu Ji memejamkan matanya sekilas, “Kalau begitu Oppa harus berjanji padaku.”

Sebelah alis Lu Han terangkat, kini ia melihat yeoja itu tengah mengangkat sebelah tangannya, menunjuk ke arah bulan purnama. “Oppa harus selalu berada di sampingku dan menemaniku, agar aku tidak sendiri lagi seperti dulu, seperti bulan yang selalu berada di samping bumi.”

Lu Han masih berusaha mencerna kata-kata Yu Ji, dan kemudian ia mengacak pelan kepala Yu Ji sembari tersenyum, tanpa sedikitpun menyadari kalau perlakuannya itu membuat yeoja yang berdiri di sampingnya itu tak bisa berhenti berdebar.

_________

Seoul Hospital

Bumi seakan berhenti berputar begitu Joon Myun melihat yeoja itu sekali lagi, yeoja yang tengah tergeletak tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit dengan balutan perban yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Joon Myun tak hentinya merasa cemas, sudah hampir dua bulan berlalu sejak kejadian itu dan sampai saat ini Seo Rin belum juga sadar. Alat pendeteksi detak jantung juga selalu menunjukkan catatan jantung Seo Rin yang lemah, membuat Joon Myun berkali-kali hampir kehabisan napas karena terlalu khawatir.

Saat itu, dua bulan yang lalu, di atap gedunglah semuanya berawal. Ketika angin berhembus sangat kencang, ketika seorang yeoja menarik pelatuk pistolnya hingga menimbulkan suara tembakan yang memekakkan telinga. Dan ketika Joon Myun membuka mata, yang terlihat di hadapannya adalah seorang yeoja yang tak sadarkan diri dengan darah mengalir deras dari pelipisnya. Jantung Joon Myun seakan berhenti berdetak, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, semuanya terjadi begitu cepat. Joon Myun jatuh berlutut di samping Seo Rin, ia merasa gila, ia merasa bisa mati saat itu juga. Dan saat itu juga, dengan tangan yang bergetar hebat Joon Myun segera menghubungi ambulans.

Sungguh keajaiban, Seo Rin masih hidup meskipun hingga saat ini yeoja itu masih enggan untuk membuka matanya. Joon Myun benar-benar berharap yeoja itu akan segera membuka matanya dan berhenti membuatnya khawatir. Setiap hari, Joon Myun tidak pernah absen menjenguk Seo Rin, selain karena janjinya kepada appa Seo Rin, ada juga alasan lain. Alasan yang sampai saat ini belum bisa Joon Myun pahami, seperti suatu perasaan di mana ia tidak ingin jauh-jauh dari yeoja itu.

Lamunan Joon Myun terhenti begitu merasa kalau pintu kamar rawat Seo Rin terbuka, seorang yeoja bertubuh tinggi memasuki ruang itu, ia mengangkat alisnya begitu menyadari keberadaan Joon Myun, “Joon Myun-ssi?”

Joon Myun bangkit dari duduknya kemudian membungkuk singkat, “Nee, Soo Young-ssi.”

Yeoja bernama Soo Young itu tersenyum kemudian berjalan mendekati ranjang Seo Rin, wajahnya menunjukkan kecemasan yang pekat. Ia mengangkat tangannya dan mengelus pelan wajah Seo Rin. Soo Young meletakkan keranjang berisi buah-buahan yang ia bawa di meja kecil di samping ranjang, ia lalu duduk di kursi yang tadi diduduki Joon Myun.

Soo Young adalah sepupu Seo Rin yang bekerja sebagai seorang model. Ia dan Joon Myun pertama kali bertemu di rumah sakit, tepatnya di ruang rawat Seo Rin satu bulan yang lalu. Soo Young adalah satu-satunya kerabat Seo Rin yang kerap kali datang menjenguk Seo Rin. Yeoja itu tak hentinya merasa heran karena Joon Myun selalu berada di rumah sakit setiap hari untuk menemani Seo Rin, namja itu bukanlah kerabat Seo Rin, malahan ia adalah namja yang telah banyak disusahkan oleh tindakan kejam dari appa Seo Rin.

Joon Myun baru memutuskan untuk keluar dari ruang rawat dan meninggalkan Soo Young dan Seo Rin berdua ketika Soo Young memanggil namanya, membuatnya kembali menoleh. “Nee?”

“Seberapa jauh kau mengenal Seo Rin?”

Joon Myun tercenung karena pertanyaan tiba-tiba Soo Young, ia lantas mengangkat kedua bahunya. “Kami hanya teman.”

Soo Young tersenyum kecut, “Kalau begitu, kenapa kau selalu ada di sini?”

“Entahlah.”kata Joon Myun singkat.

“Apa yang membuatmu datang kemari setiap hari, padahal Seo Rin adalah anak dari seorang Choi Jae Min, seorang yang telah membunuh kedua orangtuamu. Kau tahu, aku merasa kalau ini semua tidak masuk akal, terutama dirimu.”

Joon Myun tercenung, hatinya sedikit sesak mendengar nama itu disebut lagi, “Kau sudah berulang kali menanyakan hal serupa padaku, Soo Young-ssi. Dan sebenarnya jawaban apa yang kau harapkan keluar dari mulutku?”

Tatapan Soo Young menerawang, “Kau menyukai Seo Rin, mungkin?”

Mata Joon Myun membulat seketika, membuat Soo Young tak bisa menahan diri untuk tertawa. “Yeah, aku bercanda, Joon Myun-ssi.” Mendengar itu, Joon Myun hanya menghembuskan napasnya pelan.

Soo Young beranjak dari kursinya kemudian membungkuk dalam-dalam, membuat Joon Myun lagi-lagi tersentak kaget. “Terima kasih karena telah menjaga Seo Rin selama ini. Aku tidak tahu sejauh apa hubunganmu dengan Seo Rin. Jujur baru kali ini aku bertemu dengan orang sepertimu, yang dengan sabar menjaga Seo Rin meskipun ia adalah anak dari seorang Choi Jae Min. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya.”ujar Soo Young.

“Ah, aku tidak seperti yang kau pikirkan, Soo Young-ssi.”ujar Joon Myun sembari tersenyum kaku.

“Joon Myun-ssi, aku akan kembali ke London sebentar lagi. Aku benar-benar menyesal harus pergi di saat seperti ini, aku benar-benar tidak bisa melawan manajerku yang cerewet itu.”ujar Soo Young dengan nada sebal, sementara lawan bicaranya hanya mengangguk.

“Aku akan menjaga Seo Rin.”

Mendengar itu, Soo Young tersenyum. “Sebentar lagi sidang akan dilaksanakan, dan kau akan segera mendapatkan hakmu. Dan sekali lagi, aku minta maaf sebesar-besarnya untuk segala yang terjadi padamu karena ulah keluarga Choi.”

Joon Myun tidak menjawab, ia hanya menatap lekat-lekat Soo Young yang tengah mengobrak-abrik isi tasnya, wajah yeoja itu berbinar ketika apa yang dicarinya telah ditemukan. Ia mengeluarkan sebuah buku diary dari dalam tasnya yang cukup besar lalu memberikannya pada Joon Myun.

“Itu buku harian milik Seo Rin, aku sempat ke rumahnya sebelum kemari dan menemukan buku itu di atas meja belajarnya. Dan entah kenapa aku merasa harus memberikannya padamu.”

Joon Myun menatap lekat-lekat buku harian berwarna merah muda milik Seo Rin yang kini berada di dalam genggamannya. Ia terhenyak begitu sebuah nama yang sangat ia kenal tertulis rapi di ujung kanan buku harian itu, itu adalah namanya sendiri, Kim Joon Myun.

_________

Tidak biasanya ruangan itu memiliki aura mencekam yang sulit dilukiskan dengan kata-kata seperti saat ini. Sebuah ruang kerja pribadi yang di setiap sudutnya terdapat rak-rak besar yang menyatu dengan tembok, sementara tepat di tengah ruangan terlihat sebuah meja kayu kualitas nomor satu dengan bertumpuk-tumpuk dokumen serta buku di atasnya, tak lupa sebuah vas dengan bunga yang hampir layu          terletak di sudut meja.

Bukan benda-benda yang ada di ruangan itu, bukan buku-buku, rak atau apapun yang ada di sana, tapi dua orang yang berdiam di sanalah yang membuat suasana di ruangan itu mencekam. Keduanya hanya terdiam sambil sesekali melirik lawan bicaranya yang ternyata juga melakukan hal yang sama.

“Appa, mau sampai kapan diam terus seperti itu? Segeralah bercerita padaku apa yang sebenarnya terjadi!”ujar seorang yeoja bernama Cho Yu Ji dengan tidak sabar.

Pria yang duduk di hadapan Yu Ji hanya mendesah pelan, dahinya berkerut-kerut seakan-akan beban hidupnya bertumpuk di sana. “Appa harap kamu tidak terkejut dengan semua yang akan Appa katakan kali ini.”

Yu Ji menelan ludah kemudian mengangguk. Ia merasa yakin tidak akan terkejut karena telah mempersiapkan hatinya sejak beberapa hari yang lalu.

Appa Yu Ji menautkan kesepuluh jarinya, kemudian menempelkannya di dahi. Ia memukul-mukul dahinya pelan, tampak frustasi.

“Xi Lu Han, ia disiksa oleh appanya sendiri. Ia mengurung Lu Han di ruang bawah tanah, agar tidak ada seorangpun yang mengetahui tindak kriminalnya. Semuanya terjadi sejak setengah tahun yang lalu.”kata Appa Yu Ji kemudian dengan susah payah.

Udara di sekeliling Yu Ji tiba-tiba terasa berat, ternyata inilah yang dimaksud Lu Han. Seseorang yang pernah menyayanginya, yang pernah namja itu sayangi, yang pernah memberikan kecupan di dahinya, seseorang yang juga menyiksannya. Ternyata adalah appanya sendiri. Oh Tuhan …

“Kenapa? Kenapa ia menyiksa Lu Han oppa?”

Appa Yu Ji mendesah, “Kau yakin mau mendengar cerita yang sebenarnya?”

Yu Ji mengangguk pasti sementara pria yang duduk di hadapannya tampak cemas, ia berpikir lama kemudian menghela napas. Ya, inilah saat yang tepat untuk mengakui semuanya, begitulah pikirnya.

“Sebenarnya semua karena Appa. Secara tidak langsung Appalah penyebab semua siksaan yang harus diterima Lu Han.”

Mata Yu Ji membulat sempurna. Tunggu, apa maksudnya ini?

Appa Yu Ji menggigit bibir, “Eomma Lu Han adalah mantan kekasih Appa. Setelah Eomma-mu meninggal dua tahun yang lalu, Appa kembali bertemu dengannya. Ditambah dengan pekerjaan yang mengharuskan Appa untuk tinggal di China membuat kami berdua semakin sering bertemu, dan tanpa kami sadari mungkin kami saling jatuh cinta lagi.”

Tanpa Yu Ji sadari, tangannya terkepal erat, ia tampak menahan emosinya yang mulai mencuat. Mendengar Appanya dekat dengan wanita lain selain ibunya sanggup membuat hati Yu Ji tercabik-cabik.

“Dan Appa Lu Han memergoki saat kami tengah berdua, ia kalap dan langsung membanting semua yang ada di sekitarnya. Ia tampak benar-benar marah.”

Lama appanya tidak melanjutkan, Yu Ji lantas berkata sembari menahan napas, “Lalu apa hubungan semua ini dengan Lu Han?”

Appa Yu Ji mengepalkan tangannya kemudian memukul-mukul kepalanya keras, alisnya berkerut sempurna. “Setelah itu, appa Lu Han tidak memercayai semua yang berhubungan dengan Eomma Lu Han. Dan yang terburuk adalah ia mengira bahwa Lu Han adalah anak dari hubungan Appa dan Eomma Lu Han.”

Jantung dan aliran darah Yu Ji seakan terhenti saat itu juga.

Appa Yu Ji menggertakkan gigi-giginya, “Sejak saat itulah Lu Han mulai disiksa. Appa Lu Han melampiaskan seluruh kekecewaannya kepada Lu Han. Ia sudah gila, ia benar-benar sudah gila.”

Dalam satu sentakan, Appa Yu Ji bangkit dan dengan cepat membanting kursi yang baru saja ia duduki. Yu Ji sedikit terlonjak dari tempatnya duduk karena terkejut. Appa Yu Ji berjalan mendekati jendela kemudian menempelkan dahinya di kaca, menghela napas, menyesali semuanya, semuanya yang sudah terlambat.

“Appa mendatangi rumah itu atas permintaan Eomma Lu Han karena ia sendiri tidak mampu menghentikan kekejaman suaminya. Ia juga tidak berani melapor polisi karena terlalu takut, ia lantas meminta bantuan Appa untuk membawa Lu Han pergi sejauh-jauhnya dari rumah itu. Dan Appa berhasil, dan satu-satunya tempat yang terpikirkan oleh appa adalah di sini, rumah kita.”

Appa Yu Ji memukul kaca jendela ruang kerja pribadinya, ia tampak semakin frustasi, “Appa menyesal, sungguh menyesal.”

Suasana mencekam di ruangan itu tak sedikitpun berkurang, malah kian detik semakin parah. Yu Ji tampak menggigit bibir dan tangannya tidak bisa berhenti bergetar, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh appanya. Ia berharap kali ini ia hanya bermimpi. Setelah ini ia akan terbangun dan semua akan baik-baik saja, ya, tapi sayangnya …

“Appa, kalau begitu tolong katakan padaku sejujurnya.”

Appa Yu Ji mengangkat kepalanya yang menempel di kaca kemudian menatap anaknya yang kini memandangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan, “Katakan padaku…”

Yu Ji mulai terisak. Ia tidak bisa menahan air matanya, di pikirannya mulai berlalu lalang banyak hal yang tidak ia inginkan. Kemungkinan terburuk, ya, kemungkinan yang terburuk. Setelah kenyataan bahwa appanya dengan cepat mengkhianati cinta yang ibunya jaga sampai mati, ia harus mempersiapkan hatinya lagi dan lagi, untuk kenyataan yang mungkin lebih menyakitkan.

Yu Ji lantas berkata dengan bibir bergetar, ia mengerahkan seluruh tenaga dan hatinya, “Katakan padaku apakah benar yang appa Lu Han perkirakan, apakah benar kalau Lu Han adalah anak Appa?”

Pria itu tidak segera menjawab, ia hanya termenung agak lama, nampaknya ia terlalu terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan putrinya sehingga membuat lidahnya kelu seketika.

“Appa… tolong katakan padaku. Lu han bukan anak Appa kan?”ujar Yu Ji dengan bibir bergetar.

Appa Yu Ji menundukkan kepalanya dalam-dalam, “Maaf.”katanya kemudian, “Maaf karena Appa tidak tahu.”

Yu Ji memiringkan kepalanya sedikit, apa maksudnya?

“Appa memang pernah berhubungan dengan Eomma Lu Han, tapi saat itu Appa tidak tahu apakah Eomma Lu Han hamil atau tidak. Eomma Lu Han juga tidak mengatakan apapun soal itu.”

Yu Ji tercenung, “Jadi?”

Lipatan di dahi Appa Yu Ji semakin bertambah, “Maafkan Appa.” Pria itu terdiam sesaat, “Pernikahan Appa dan Eomma-mu terjadi karena sebuah perjodohan, saat itu Appa masih sangat mencintai Eomma Lu Han. Kami masih sering bertemu hingga tidak bisa menahan godaan untuk tidak melakukannya.”

Dalam sekejap aliran darah Yu Ji terhenti seketika. Eomma, eomma…

Dalam hati kecilnya Yu Ji berharap, sebentar lagi appanya akan tertawa kemudian mengatakan kalau semua yang ia katakan tadi adalah sebuah kebohongan belaka. Namun Yu Ji segera menyadarinya, ini semua nyata, ia menutup mulutnya agar isak tangisnya tidak pecah, oh Tuhan kenapa kenyataannya harus begini menyakitkan?

“Setelah itu Eomma Lu Han pindah ke China dan menikah. Kami tidak bertemu untuk waktu yang lama. Sampai akhirnya kami bertemu kembali dan semuanya menjadi seperti sekarang.”ujar Appa Yu Ji lirih.

Tangis Yu Ji pecah saat itu juga, ia menggigit bibirnya keras, air matanya tak kunjung berhenti, ia menekan dadanya yang kini terasa sakit. Beberapa potong kenangan tentang Eommanya mengalir deras dalam pikirannya. Eomma yang menyayangi Appa dan dirinya, yang memeluknya di saat dingin, yang mencintainya sepenuh hati. Kenapa Appa begitu jahat pada Eomma dan dirinya?

Yu Ji beranjak dari tempatnya duduk, ia berlari keluar ruangan sementara Appanya berteriak memanggil namanya. Namun yeoja itu enggan mendengar semuanya, ia tidak ingin mengetahui apapun, tidak ingin menerima apapun, ia hanya berharap semua ini hanyalah mimpi dan begitu ia terbangun nanti semua akan baik-baik saja. Hatinya akan baik-baik saja.

_________

Bulan purnama.

Yeoja itu kembali merapatkan cardigan warna pucatnya ketika merasakan udara dingin mulai menusuk tulangnya. Sesekali yeoja itu menggigil, entah kenapa kali ini ia merasa udara begitu dingin dan asing, seperti ingin menyergap dan menelannya bulat-bulat. Yeoja itu memeluk tubuhnya sendiri, ia mendongak dan mendapati sebuah benda langit berukuran besar tengah menyinari bumi dengan anggunnya. Benda langit yang menimbulkan pantulan samar di wajah si yeoja yang semakin memperjelas lekukan kekecewaan yang tergurat di wajah manis itu.

Yeoja itu mendesah kemudian mendekati pagar balkon kamarnya, ia memejamkan matanya erat-erat, berusaha menahan sesuatu yang mulai muncul lagi di pelupuk matanya. Ia sendiri heran, bukankah ia sudah berkata bahwa ia siap dengan segala kenyataan yang mungkin saja menyakitkan dan mengubah hidupnya, bukankah ia sudah berlatih mempersiapkan hatinya sedari lama, tapi mengapa air mata emosi ini tak kunjung bisa berhenti?

Setetes, dua tetes, dan seterusnya tanpa bisa dihentikan, semuanya keluar dari sepasang mata yang kini memantulkan cahaya bulan purnama. Yeoja itu menutup mulutnya rapat-rapat berusaha agar isak tangisnya tidak terdengar. Oh Tuhan…

Dan tangis itu berhenti sejenak ketika sepasang lengan muncul tiba-tiba dan memeluk si yeoja dari belakang. Kedua lengan yang hangat itu berada di pundak si yeoja, sesaat si yeoja dapat merasakan hembusan napas orang yang memeluknya, hembusan yang mampu membuat jantungnya berdentum tak karuan.

“Kenapa menangis?”

Si yeoja tidak menjawab, ia masih belum mampu menemukan kata-katanya.

“Yu Ji-ya?”

“Aku baik-baik saja, Oppa. Aku hanya rindu pada eomma, ya, aku rindu eomma.”kata yeoja bernama Yu Ji itu. Yeoja itu berusaha melepaskan pelukan dari seseorang di belakangnya, pelukan seorang namja bernama Lu Han. Namun sayangnya pelukan itu malah semakin erat, Lu Han terlihat tidak ingin melepaskan Yu Ji.

“Tidak, pasti ada sesuatu yang terjadi. Kenapa kau enggan menceritakannya padaku?”kata Lu Han tepat di telinga Yu Ji.

Karena aku takut, jika aku menceritakan semuanya, aku takut nanti kau akan sampai pada kesimpulan kalau kau adalah kakakku, aku takut.

Yu Ji menggigit bibirnya lebih keras, ia berusaha mengontrol detak jantungnya yang bertalu-talu. Karena baru kali ini mereka sedekat itu, baru kali ini juga Lu Han memeluknya seerat itu, baru kali ini…

Yu Ji menyentuh lengan Lu Han, meraba luka Lu Han yang telah kering itu. “Sakitkah?”

Lu Han menggeleng. “Kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Bagaimana rasanya ketika benda tajam itu menggores kulit Oppa?”kata Yu Ji seakan tidak mendengar pernyataan Lu Han.

“Sakit.”kata Lu Han kemudian.

Tatapan Yu Ji menerawang, “Maafkan aku.”

Pelukan Lu Han sedikit melonggar, nampaknya namja itu sedikit terkejut dengan perkataan Yu Ji baru saja.

“Seandainya Appa-ku tidak melakukan itu, kau pasti tidak akan merasakan siksaan seperti itu.” Yu Ji menelan ludah, “Tapi seandainya itu tidak terjadi, maka kau tidak akan bertemu denganku, Oppa.”

Yu Ji melepaskan pelukan Lu Han, dan kali ini namja itu membiarkannya. Kini keduanya saling bertatapan satu sama lain, sama-sama mencari sesuatu yang mungkin bisa menjelaskan sesuatu yang tengah terjadi di sepasang mata masing-masing. Namun Lu Han tidak bisa melihat rona wajah Yu Ji dengan jelas karena yeoja itu tengah membelakangi cahaya bulan.

“Aku menyukaimu, Oppa. Bagaimana dengan Oppa?”

Lu Han tertegun lama, setelah mampu mencerna kata-kata Yu Ji namja itu langsung tersenyum sendu, “Kau bilang apa sih? Tentu saja aku juga menyukaimu, kau kan adikku.”

Kau bukan kakakku, tolong jangan katakana kalau kau kakakku dengan wajah seperti itu, gumam Yu Ji dalam hati.

“Bukan sebagai kakak, aku menyukaimu bukan sebagai kakak. Tapi sebagai seorang namja.”kata Yu Ji tegas dan cepat. Namun kesan gugup tetap terdengar jelas di setiap katanya.

Lu Han tidak mampu menjawab, ia terlalu bingung dengan situasi yang terjadi saat ini.

“Appa sudah menceritakan semuanya padaku. Tentang hubungan appa-ku dan eomma-mu, tentang appa-mu yang kerap menyiksamu.”Yu Ji tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Ia menyampirkan rambutnya ke belakang telinga, ia juga kembali merapatkan cardigannya, yeoja itu terlihat salah tingkah. Sementara Lu Han hanya berdiri mematung di depannya.

“Aku sangat sedih, aku tidak bisa berhenti menangis dalam hati, ketika appa mengakui kalau ia bermain bersama wanita lain. Sekalipun eomma telah meninggal, aku tetap merasa kalau appa telah mengkhianati eomma. Mengkhianati eomma sama saja dengan mengkhianatiku, putrinya sendiri.”

Kepala Yu Ji tertunduk dalam-dalam, “Kemudian yang membuatku semakin sedih adalah kenyataan tentang dirimu. Mendapat perlakuan yang tidak seharusnya dari ayahmu sendiri, aku sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya dilukai oleh orang tua kita sendiri. Dan semua penyebabnya adalah appa-ku, semuanya salah appaku.”

Lu Han menarik Yu Ji ke dalam pelukannya ketika yeoja itu kembali menangis, “Maafkan aku, Oppa. Maafkan appaku.”

Lu Han mengelus puncak kepala Yu Ji, namja itu sangat cemas dengan si yeoja. “Semua bukan salahmu, tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua ini memang nasibku, tidak perlu di sesali, kita tidak perlu lagi mengungkit-ungkit masa lalu.”

“Percayalah, bertemu denganmu adalah takdirku yang terindah.”

Yu Ji mengangkat kepala dan mendapati Lu Han tengah tersenyum padanya.

“Seperti bulan dan bumi yang selalu bersama, maka kita juga.”

Yu Ji menutup matanya, ia menempelkan kepalanya di dada Lu Han. Dalam sekejap mata ia merasa nyaman dan tenang, suara Lu Han mampu membuat dirinya seakan melayang ke angkasa. Lembut dan teduh.

Sinar bulan purnama menerpa keduanya yang tengah diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Menyisipkan kehangatan di sela-sela mereka yang tengah merasa dingin. Si namja kembali merapatkan pelukannya, ia ingin menenangkan si yeoja dalam pelukannya, ia ingin membagi kehangatan yang ia rasakan pada si yeoja. Sementara si yeoja telah berhenti menangis, ia menikmati malam yang dingin, menikmati setiap kehangatan yang diberikan si namja, sejenak ia berharap bahwa waktu akan berhenti saat itu juga, dan selamanya ia akan tetap melihat dan merasakan benda langit yang begitu setia dan mengagumkan itu.

Bulan purnama yang abadi.

________

Aku tahu. Awalnya ia sangat ketakutan melihatku, bagaimana tidak, di sekujur tubuhku penuh luka sayat yang siapapun saja pasti bergidik melihatnya. Kalau tidak tahu duduk permasalahannya, orang-orang pun pasti akan berkata kalau aku adalah anak nakal yang gemar berkelahi.

Tapi dia tidak begitu, ya, gadis itu. Dia tetap rutin datang mengunjungi kamarku sekedar untuk mengantar makanan dan menjajal sejauh mana ia menguasai bahasa Mandarin yang mungkin sangat sulit baginya. Aku terpukau dengan setiap usahanya, mengajakku bicara, berusaha sekuat tenaga membuatku nyaman. Lama kelamaan rasa itu pastilah muncul juga, ya, seperti kisah klasik.

 Dan aku juga tahu, jauh sebelum gadis itu mengetahuinya. Tentang hubungan kedua orang tua kami di masa lalu, tentang alasan ‘orang itu’ menyiksaku, tentang mereka semua yang justru membuat kita bertemu, tentang kenyataan yang belum tersingkap. Kalau begitu haruskah aku bilang ini semua adalah keberuntungan atau bahkan sebuah malapetaka?

Dia bukan adikku, sungguh, aku yakin itu.

Dia adalah gadisku, bulanku, cahayaku.

            Dia hidupku.

_____TBC____

Akhirnyaaaa… ff abal ini kelar juga, akhirnyaaaaa. Hahahaha, ini author bikinnya ngebut banget sumpah. Gimana? Geje yah? Pasaran yah? Kaya sinetron yah? Emang -____- uuh, author bener-bener lagi stuck ini astaga, ya akhirnya nyomot-nyomot dari berbagai ide yang ada, campur aduk jadi satu sampek jadi ff macam begini -____- author udah lama publish, sekalinya publish ngecewain readerdeul yah, miaaaan yaaa T.T

Mian juga kalo cast yang diharapkan tidak muncul di sini, tidak ada ChanRi, kopel fav kebanyakan reader yah, itu karena keterbatasan halaman -___-

Oh iya author punya new project nih, author pengen bikin side story ceritanya Suho, ya khusunya tentang diary seorin yang sekarang ada di tangan suho, author mikir gaada tempat buat nyeritain tentang itu di part” selanjutnya, jadinya author pengen bikin side storynya aja, gimana menurut readerdeul semuanya? Kalau gitu, isi pollingnya yah ^^ oke gomawo buat reader tercinta semuanya, muah :*

See ya in the next chapter nee?😀 follow me @fhayfransiska

Don’t forget to leave your comment and like this ^^b

Read my another fanfic :

211 responses to “[Lu Han’s] Eternal Fullmoon

  1. awal baca judulnya udah pikiran sinetronisme plus fantasi kubis-kubisan menyeruak memunculkan satu ide : mungkin Luhannya ternyata werewolf yang berubah gegara full moon.

    Dan semua itu tertepis dengan hinanya tatkala aku menamatkan bacaan ini….
    ternyata ini nomu jeongmal sosweet…
    Iyaudah jadian aja sana jadian…
    who’s care about siblings thing!? datz doesn’t ever exist in FF world!!
    just dating rite here, rite now!!

  2. sedih😦
    tragic but sweet, apalagi paragraf terakhir curhatannya luhan :((

    “Dia adalah gadisku, bulanku,
    cahayaku.
    Dia hidupku.” (T______T)

  3. Sweet bngtt .. Pling suka crita ini .. Krasa bngett feelnya mknya side story nya cepat ya thor aku mau baca

  4. Bagusssss n.n
    Side storynya luhan mana ? Gak nyangka aku bakal suka banget sama yg Luhan’s part❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s