Seo Rin’s Diary : Side Story of [Su Ho’s] Secret Behind Her Eyes

untitled-1

Title            : Secret Behind Her Eyes Side Story : Seo Rin’s Diary

Credit Poster : Thanks to Andinarima

Author       : fransiskanoorilfirdhausi /@fhayfransiska (soo ra park)

Genre         : Romance, Angst

Length       : Oneshoot, but if you want to know this story well, you can read all ffs below😀

                   1stpart [Chan Yeol’s] Girl inside the Window

                   2nd part [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

                   3rd part [Kris’] Wedding Pain

                   4th part [Xiu Min’s] Oblivious Summer

                   5th part [D.O’s] Goodbye Tiramisu

                   6th part [Kai’s] Hum on Rainy Day

                   7th part [Chen’s] A Silent Love Song

                   8th part [Su Ho’s] Secret behind Her Eyes

                   9th part [Lu Han’s] Eternal Fullmoon

Cast            :

  • Kim Joon Myun
  • Choi Seo Rin (OC)

Allo readerdeul semuanya, salam hangat dari author. Baru satu minggu yang lalu saya post yang part Luhan dan sekarang saya kembali sesuai janji saya, yaaaa ini dia side story dari suho’s😀 karena hasil polling yang 90 % meminta kalau saya membuat side story—yang entah gimana ini ceritanya—akhirnya saya buat dalam waktu satu minggu itu, hehe. Oke dah langsung aja yaaaa

This plot and OC are mine, but EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good reader please, don’t forget to give me oksigen (Read-Comment-Like)^^

________

Buku itu terbilang cukup sederhana rupanya, hanya sebuah buku diary berwarna merah muda pucat berukuran sedang dan tidak terlalu tebal. Biasa saja, baik cover depan maupun belakangnya, polos dan tidak bermotif, tidak salah kalau orang menyebutnya tidak menarik. Namun yang tidak biasa adalah sederet tulisan Hangeul yang tertulis rapi di sudut cover depan buku itu, lebih tepatnya sebuah nama, Kim Joon Myun.

Dan untuk kesekian kalinya seorang namja berwajah putih pucat menghela napasanya keras, kedua manik matanya yang cokelat dan teduh tidak hentinya menatap lekat-lekat sebuah buku diary yang kini berada di tangannya. Di dalam pikirannya menari-nari banyak hal, baik prasangka buruk maupun sebaliknya. Ia sendiri sulit menjelaskan perasaannya sekarang, entah harus senang, sedih, penasaran atau bahkan terancam. Yah, setidaknya kau sendiri bisa membayangkan bukan bagaimana rasanya ketika namamu sendiri tercantum di buku diary milik orang lain, dan bukan di dalamnya, tapi di covernya!

Namja itu ingin membukanya, ia penasaran. Tapi seperti yang kau tahu, buku diary adalah sebuah jurnal pribadi dan biasanya—atau bahkan selalu—dirahasiakan. Kalau orang sampai membaca diary milikmu, kau sendiri juga akan sangat marah bukan? Yah, seperti itulah yang kini ada dalam pikiran Kim Joon Myun. Sudah sejak dua hari yang lalu di hatinya timbul berbagai gejolak antara baca-tidak-baca-tidak.

Kim Joon Myun menyerah, ia beranjak dari tempatnya duduk kemudian berjalan keluar dari rumah sakit sembari tetap menggenggam buku diary itu. Tentu saja, sekalipun Soo Young memberikan buku itu padanya, bukan berarti ia bisa seenaknya membacanya. Begitu pikirnya.

Joon Myun baru hendak mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk ketika seseorang menabrak bahunya, membuatnya lantas terkejut dan sontak menjatuhkan buku diary di tangannya.

“Cheosoamida.”kata seseorang yang menabrak Joon Myun.

Joon Myun mengangguk sembari tersenyum kaku, ia lantas membungkuk kemudian mengambil buku diary yang kini terbuka lebar dan tergeletak di tanah itu. Namun sebelumnya, ia sempat merasa kaget dan terdiam sesaat. Bagaimana tidak, di halaman diary yang kini terbuka itu terpampanglah sebuah foto, foto dirinya.

Namja itu tercenung, apa maksudnya ini?

_________

Joon Myun duduk bersandar di bangku taman, tatapannya lurus ke depan. Sekalipun di sekelilingnya sangat ramai dengan suara anak kecil bermain-main, suara ibu-ibu yang bergosip sembari mendorong kereta bayinya, suara anak-anak remaja yang bermain gitar sembari bernyanyi keras, namun semuanya tidak mampu mengalihkan pikirannya pada apa yang baru saja ia lihat satu jam lalu.

Namja itu menunduk, menatap buku diary yang kini berada di pangkuannya. Perasaannya mulai kacau, dorongan untuk membaca buku diary itu semakin kuat. Dan beberapa saat kemudian ia menyerah dan memilih untuk membukanya perlahan dengan ragu.

Dan ia pun mulai membacanya.

_________

Senin, 19 Februari

            Dear diary,

            Akhirnya aku kembali menulis setelah sekian lama, kau tahu apa yang membuatku ingin kembali menulis dan bercerita padamu?

            Ya, tentu saja karena aku ingin bercerita tentang sesuatu hal.

            Pagi ini salju sudah tidak lagi turun mengingat sebentar lagi musim dingin juga akan berakhir. Jalanan sudah mulai terlihat, tidak tertutupi oleh tumpukan salju lagi.

            Saat itu entah kenapa aku ingin sekali naik bus menuju kampus, padahal udara cukup dingin dan aku pasti akan merasa lebih hangat apabila membawa mobilku sendiri, aku juga tidak perlu berdesak-desakan dan berebut kursi dengan penumpang lain. Tapi keinginan untuk naik bus seakan tidak terelakkan, sungguh aneh, bukan?

            Dan seperti perkiraanku awalnya, bus yang aku naiki benar-benar penuh sesak hingga aku tidak mendapatkan tempat untuk duduk. Akupun memutuskan untuk berdiri hingga seorang namja berdiri dari tempatnya duduk dan mempersilahkan tempat duduknya itu padaku. Sungguh sesuatu yang jarang terjadi di jaman seperti ini, bukan? Dan bodohnya saat itu aku hanya bisa tercenung lama begitu pandangan kami bertemu.

            Hingga namja itu menegurku pelan. Dia tersenyum. Wajahnya yang teduh dan lembut, serta suaranya yang sedikit serak—mungkin karena pengaruh cuaca—membuat otakku merekam semuanya tanpa diminta. Takjub dalam diam.

            Dan pagi ini entah kenapa aku benar-benar bersyukur karena berangkat ke kampus dengan bus.

 

Jum’at, 24 Februari

            Dear diary, musim dingin sebentar lagi berakhir. Di pertengahan musim dingin lalu aku kembali bertemu dengannya, ah, mungkin lebih tepatnya kalau aku yang melihatnya tapi ia tidak melihatku. Di sebuah restoran bergaya Eropa-lah dia bekerja, menjadi seorang pelayan lebih tepatnya. Aku mulai berpikir, kalau seandainya aku menyapanya apakah dia akan ingat padaku? Atau mungkin ingat pertemuan kami yang tak disengaja di bus itu?

            Konyol memang, seorang pelayan berwajah teduh yang selalu tersenyum dan tak jarang bertingkah ceroboh dan memalukan seperti itu bisa memikat hati seorang Choi Seo Rin, ya seorang yeoja yang belum pernah benar-benar menaruh hati pada seseorang seperti aku. Mungkin terlalu berlebihan apabila aku bilang aku terpikat padanya, perasaan kagum mungkin lebih tepat.

            Ya, kagum dengan semangat kerja keras dan senyum tulusnya.

            Cinta? Tentu saja tidak, mana mungkin aku jatuh cinta pada orang payah seperti dia. Aku tidak tahu namanya, aku tidak perlu tahu, aku juga tidak perlu mengenalnya, aku hanya perlu melihatnya dari jauh. Cukup. Hanya itu saja dan aku merasa bisa bahagia, aneh bukan? Dan perasaan ini bukan cinta kan, Diaryku?

           

            Minggu, 25 Februari

            Dear diary, terlalu berlebihankah aku kalau aku bilang saat ini aku begitu bahagia?

            Aku berjalan-jalan sendiri di jalanan Apgujeong-dong hari ini, aku memilih berbagai pernak-pernik untuk menghiasi meja belajarku yang membosankan. Dan ketika pandangan mataku terpaku pada sebuah lampu belajar berbentuk robot—yang menurutku unik sekali—aku langsung meraihnya dan ternyata ada orang lain yang juga tertarik akan hal yang sama, membuat tanganku dan tangan orang itu bertemu.

            Saat itulah aku mengangkat wajahku dan mendapati diriku menahan napas.

            Dia, dialah dia, dia kini begitu dekat.

             Saking terkejutnya, aku yang bodoh langsung menarik tanganku kemudian keluar dari toko yang menjadi saksi pertemuan kedua kami itu.

            Namun tidak bisa dipungkiri, aku bahagia, Diary. Bahagia bisa melihat wajahnya yang putih pucat dan teduh itu dari jarak sedekat itu, bahagia bisa menyentuh tangannya yang dingin itu.

            Aku bahagia. \(^^)/

 

            Minggu, 4 Maret

            Setelah sekian lama tidak berbicara empat mata dengan Appa akhirnya aku melakukannya. Beliau memanggilku, awalnya aku sangat bahagia berpikir bahwa beliau merindukanku, namun apa yang aku terima kemudian malah membuat hatiku semakin kelu, semakin mati.

            Aku ditugaskan untuk membunuhnya, ya, membunuh dia.

            Kau tahu apa artinya itu bukan?

            Membunuh adalah hal yang lumrah bagi Appa, ia bahkan terlihat bahagia saat aku mengiyakan perintahnya. Tanpa sedikitpun melihat ke dasar hatiku yang menjerit, menangis. Tanpa sedikitpun melihat mataku yang berkaca-kaca saat melihat foto yang beliau berikan padaku, fotonya, foto dia.

            Aku sendiri tidak tahu mengapa aku mengiyakan segala ucapan Appa saat itu. Aku terlalu terbawa emosi dengan semua kejadian sepuluh tahun lalu yang Appa ceritakan. Jujur aku terkejut dengan semua kenyataan itu. Ada rasa bersalah yang muncul di hati, namun tentu saja aku tidak ingin melawan Appa. Bagaimanapun juga membahagiakan Appa adalah tujuan hidupku, aku sama sekali tidak boleh mengecewakannya.

            Tapi ayolah, membunuhnya? Bukankah itu terlalu kejam?

            Tapi kenapa… oh Tuhan, kenapa harus dia? Kenapa kebetulan seperti ini terjadi?

            Dan akhirnya aku mengetahui namanya, Kim Joon Myun. Nama yang indah bukan, diary?

            Dan aku harus membunuhnya? Bukankah itu aneh?Bukankah itu bukan hatiku? Bukan aku?

            Ya Tuhan, tentu saja aku tidak bisa.

 

            Kamis, 8 Maret

            Dear diary,

Hari ini aku benar-benar kacau, aku sakit, hatiku sakit. Aku melihat dia, aku melihat Kim Joon Myun, ia tersenyum untuk seorang yeoja berambut ikal. Dan kau tahu, senyum itu bukan senyum yang biasa ia berikan pada pengunjung restoran, aku yakin, itu senyuman tulus, senyuman yang penuh cinta dan sukacita.

Kenapa? Kenapa aku merasakan ini? Kenapa dada ini terasa begitu sesak?

Aku tidak suka melihatnya, aku risih, aku benci.

Kalau begitu aku harus membunuhnya, aku harus, tidak boleh ragu, aku harus membunuhnya! Dengan membunuhnya maka perasaan sakit ini tidak akan muncul lagi, ya, benar.

Aku sudah bertekad.

 

Sabtu, 10 Maret

Dear diary,

Hari ini aku mengunjungi restoran di mana Joon Myun bekerja. Aku mengenakan kaca mata hitam sehingga wajahku tidak terlihat olehnya. Dan kau tahu, aku berhasil melakukan satu langkah pertama, aku menyandung kaki Joon Myun dan membuatnya menjatuhkan sepiring spaghetti di nampan yang ia bawa.

Aku berhasil membuatnya dimarahi oleh bosnya dan nyaris membuatnya dipecat. Aku hebat bukan?

Namun itu masih kejutan awal karena aku menyiapkan yang lebih untuk namja itu. Di jalanan sepi yang biasa ia lewati aku membayar beberapa berandalan untuk membunuhnya. Dan tentu saja berhasil, ia tertusuk, tergeletak di tanah dengan darah mengalir deras dari perutnya.

Aku tertawa.

Dan apa yang terjadi kemudian berada di luar kendali pikiranku. Aku tidak bisa berhenti memikirkan dia, semakin aku berusaha menghindar semakin air mataku mengalir deras. Dadaku sesak luar biasa sementara di pikiranku mulai melayang-layang banyak hal, bagaimana bila dia benar-benar mati? Bagaimana kalau aku tidak bisa melihat namja itu lagi?

Kenapa perasaan seperti itu muncul?

Siapapun mungkin mengatakan aku berlebihan, itu karena mereka tidak berada di posisiku. Aku merasa bisa mati saat itu juga, ketika melihat pengemis itu juga, dadaku berdesir hebat, segalanya jadi terasa berbeda kalau berhubungan dengan Joon Myun. Oh Tuhan, namja itu benar-benar sudah membuatku gila.

Detik itu juga aku langsung menghubungi ambulans dan membawanya ke rumah sakit. Dia tampak begitu pucat dan aku sangat khawatir, para perawat bilang dia benar-benar butuh banyak darah. Dan aku mendonorkan darahku untuknya, karena kebetulan golongan darah kami sama. Kebetulan yang indah.

Oh Tuhan aku sungguh merasa bahagia saat aku bisa menyelamatkannya, aku benar-benar bersyukur karena ia masih hidup.

Dan saat itu aku pikir aku harus segera menghilangkan jejak, sebisa mungkin aku meminta semua perawat dan dokter di rumah sakit menyembunyikan identitasku darinya. Dia tidak boleh mengenalku, dia tidak boleh tahu siapa aku. Karena bila ia sampai tahu siapa aku, anak siapa aku, apa yang sebenarnya terjadi pada orangtuanya sepuluh tahun lalu, ia akan terluka dan aku akan tidak suka mendengar itu.

Aku merasa lebih baik melihatnya dari kejauhan daripada berada di dekatnya tapi ia malah akan terluka. Biarlah aku tetap berada di belakangnya, sebagai malaikat yang menolongnya sekaligus iblis yang bisa membunuhnya kapan saja.

 

Jum’at, 6 April

Dear diary,

Aku bersyukur, hari ini aku melihatnya di restoran. Ia sudah kembali bekerja seperti biasa, seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku senang melihatnya. Ia tampak begitu sehat.

            Hari ini bintangnya banyak, berkelap-kelip. Aku sedikit berharap akan ada bintang jatuh dan akan kukatakan permohonanku. Permohonan apa? Rahasia, hehe.

Dan ternyata sudah larut sekali, mataku benar-benar sudah tidak bisa diajak kompromi, aku tidak akan menulis banyak hari ini.

Selamat tidur semuanya, selamat tidur Kim Joon Myun ^^/

 

Selasa, 10 April

Dear diary,

Setelah apa yang sempat terjadi sebelumnya, aku kembali merasa risau. Appa terus menghubungiku dan menanyakan sejauh mana aku telah menyusun rencana kedua. Beliau benar-benar kecewa dengan rencana pertama yang gagal, dan kau tahu, aku benar-benar kacau mendengar nada kecewa yang beliau lontarkan kepadaku.

Apa yang terjadi padaku? Aku seperti benar-benar memilki dua kepribadian, dua sisi. Malaikat dan iblis dalam satu tubuh. Aku bagai malaikat yang bisa menolong Appa-ku, namun dibelakangnya aku bagai iblis yang menghancurkan rencananya sendiri.

Aku memulai hari ini dengan mata sembab, aku menangis semalaman. Namun kali ini aku bertekad untuk tidak gagal lagi. Aku telah menyewa salah seorang dari anak buah ayahku untuk rencana yang kedua ini. Aku harus membunuh perasaanku, bagaimanapun juga aku tidak boleh terbawa emosi seperti saat itu.

Aku berjalan di belakang Joon Myun, mengikutinya hingga ke persimpangan jalan. Sebelumnya aku sudah mengamati jalan-jalan apa saja yang biasa ia lewati sehingga akan memudahkan terlaksananya rencanaku. Ketika lampu berubah merah, Joon Myun melangkahkan kakinya untuk menyeberang jalan dan detik itu juga sebuah mobil bercat hitam metalik suruhanku melaju kencang dari kejauhan.

Aku tertawa. Aku pikir rencanaku kali ini akan berhasil.

Ya, hampir berhasil.

Tapi sayang sekali karena kali ini juga sama seperti sebelumnya.

Dadaku seketika sesak dan air mataku jatuh, aneh, sungguh aneh dan tidak masuk akal. Karena ketika itu berbagai pertanyaan berputar-putar dalam otakku, bagaimana kalau ia benar-benar mati? Bagaimana kalau aku tidak bisa melihatnya tersenyum lagi? Bagaimana kalau…

Dan aku menarik lengannya cepat, tepat sebelum mobil itu sempat menyentuh tubuhnya. Dan dia selamat, lagi.

Siapa yang berniat membunuhnya? Aku.

Siapa yang menolongnya saat hampir terbunuh ? Aku.

Oh Tuhan…

 Dia berterima kasih padaku berkali-kali, ia sampai menawarkan dirinya untuk mentraktirku dan untuk pertama kalinya ia tersenyum padaku. Tapi aku terlanjur kecewa, kecewa dengan diriku sendiri, kecewa kenapa aku gagal lagi. Kecewa karena perasaan sesak itu selalu muncul di saat yang tidak tepat.

Aku benci dia, benci. Kenapa dia membuatku memiliki perasaan seperti ini, kenapa?

Aku benci dia, benci. Ia sama sekali tidak mengingatku, ia tidak ingat pertemuan kami di bus ataupun di kios. Ia benar-benar tidak mengenaliku, jahat. Dia benar-benar jahat.

Namun hatiku berdesir hebat ketika ia menahan lenganku dan menanyakan namaku.

Hingga kini aku terus bertanya-tanya, sebenarnya perasaan apa yang aku miliki ini?

 

 Rabu, 18 April

Dear diary,

Hari ini aku datang di acara pertunangan anak dari teman kerja Appa. Karena beliau berhalangan hadir, beliau memintaku datang ke sana sebagai wakilnya. Awalnya aku enggan, namun entah mengapa seperti ada perasaan yang mendorongku untuk mengiyakan permintaan beliau.

Pergi ke pesta pertunangan sendirian saja benar-benar suatu pilihan yang salah. Aku memang cukup banyak mengenal orang-orang di sana, kebanyakan dari mereka adalah kenalan Appa. Tapi tetap saja, aku kurang merasa nyaman apabila harus bergabung dengan mereka-mereka yang kurang aku kenal. Pada akhirnya aku memilih untuk duduk sendirian saja.

Aku baru akan mengambil sampanye ketika kejadian seperti saat itu terjadi lagi. Tanganku bertemu dengan tangan seseorang yang juga menginginkan segelas sampanye itu. Dan ketika aku mengangkat kepalaku aku menemukan wajahnya yang terkejut, oh Tuhan.

Dia Kim Joon Myun.

Karena malu, aku lantas meninggalkan namja itu namun ia kembali meraih tanganku kemudian memintaku menemaninya. Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku hanya bisa menurut ketika namja itu menarik pelan lenganku dan membawaku keluar aula.

Kami berdua duduk bersebelahan di taman, kami lebih banyak diam, namun lebih dari itu aku merasa nyaman berada di sampingnya. Lebih nyaman daripada berada di dalam aula yang gemerlap itu.

Dan tiba-tiba tercetus sebuah ide gila di dalam otakku, aku mengambil sampanye dan membubuhkan racun di atasnya. Aku memberikannya pada Joon Myun, dan aku berharap ia akan benar-benar habis kali itu.

Aku benar-benar yakin.

Namun aku menggagalkannya lagi, ya, rencanaku sendiri. Karena perasaan sesak dan air mata itu muncul lagi, dan lagi-lagi muncul di saat aku hendak membunuh Joon Myun.

Aku menarik paksa segelas sampanye itu dari genggaman Joon Myun, kemudian membantingnya ke tanah. Joon Myun menatapku penuh tanya, namun saat itu air mataku tidak bisa berhenti, aku tak mengatakan apapun. Aku hanya bisa berlari meninggalkannya, meninggalkan Joon Myun yang masih terheran-heran.

Aku tidak bisa membunuhnya, oh Tuhan tolong aku.

Tolong beritahu aku kenapa aku tidak pernah bisa membunuhnya?

 

Minggu, 22 April

Dear diary,

Pagi ini appa mengatakan dengan gamblangnya kalau beliau benar-benar kecewa padaku. Kecewa karena semua usahaku selama ini selalu gagal. Hingga akhirnya beliau memutuskan bahwa ia akan membunuh Joon Myun dengan tangannya sendiri.

Tentu saja aku terkejut, seandainya saja itu benar terjadi maka tidak dapat dipungkiri kalau Joon Myun akan mati. Benar-benar mati. Dan…

Dan jika Joon Myun mati maka aku tidak perlu merasakan sesak di dada yang muncul setiap kali ia berbicara dengan yeoja lain, tidak perlu menitikkan air mata ketika berniat membunuhnya, tidak perlu susah-susah menyusun rencana untuk membunuhnya. Dan semuanya akan selesai tanpa harus khawatir kalau-kalau namja itu mengetahui masalah sepuluh tahun lalu, semua akan selesai.

Tapi …

Tapi aku menyangkal appa.

Aku bersikeras akan berhasil membunuhnya, aku meminta tambahan waktu dari appa untuk melaksanakan rencana selanjutnya. Dan appa dengan tidak rela mengiyakan permintaanku. Aku bersorak dalam hati.

Tapi apa yang harus aku lakukan sekarang, menyusun rencana lain untuk membunuhnya?

Oh dear, aku jatuh ke lubang yang aku gali sendiri.

 

Selasa, 24 April

Dear diary,

Hari ini aku hanya terdiam mematung di depan sebuah restoran bergaya Eropa, tempat di mana namja itu bekerja. Aku ingin masuk ke sana, aku ingin melihat namja itu lebih dekat, aku ingin melihat ia tersenyum, aku ingin memeluknya. Tapi aku tidak bisa.

Aku ingin sekali dekat dengannya, tapi beban yang kini aku bawa benar-benar menahanku untuk tidak mendekatinya. Terlalu memberatkanku.

Aku dihadapkan pada dua pilihan yang sulit, Appa atau dia.

Asal kau tahu, keinginanku untuk membunuh benar-benar telah lenyap, aku yakin aku tidak akan bisa membunuhnya. Tapi aku benar-benar tidak tega kalau harus membuat appa bersedih, melihat beliau kecewa dan hancur, tidak bisa. Lantas apa yang harus aku lakukan sekarang?

Kim Joon Myun.

Oh sayang, kenapa hanya dengan melihatnya saja aku bisa begini bahagia?

Melihat dia sehat, dia tersenyum, dia tertawa, meskipun aku yakin itu semua bukan untukku. Aku merasa cukup dengan itu semua, aku merasa hidupku menjadi tepat, menjadi benar. Aku membutuhkannya, aku butuh itu semua, semua tentang dia.

Lalu ini perasaan apa? Cinta?

 

Kamis, 26 April

Dear diary,

Aku telah memutuskan, apa yang akan aku lakukan semalam. Dan aku berharap pilihanku saat ini bukanlah suatu kesalahan.

Aku mendatangi kantor polisi pagi ini, dan aku menceritakan semuanya, soal kejadian serta perbuatan yang appa lakukan sepuluh tahun lalu.

Aku jahat bukan? Aku telah menghancurkan keluargaku sendiri, aku telah menghancurkan satu-satunya keluargaku yang tersisa, aku telah mencoreng nama baik keluarga Choi, semua itu aku lakukan hanya demi seorang namja, Kim Joon Myun.

Aku jahat bukan?

Benar, karena itulah aku tak pantas lagi untuk hidup.

Karena aku terlalu jahat.

 

Rabu, 9 Mei

Dear diary,

Sebelumnya aku akan mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya karena selama ini telah menjadi pendengar yang baik. Aku benar-benar berterima kasih padamu diary.

Hari ini aku akan mengakhiri semuanya.

Aku akan menemui Joon Myun kemudian mengatakan semua yang terjadi. Dia juga pasti telah mendengar beritanya dan sedang terkejut setengah mati.

Seperti apa ya ekspresi dia saat aku bilang kalau Choi Jae Min yang diduga sebagai pembunuh ayahnya adalah appa dari seorang Choi Seo Rin, seseorang yang dikenalnya dan diketahuinya sebagai seorang yeoja yang pernah menyelamatkan hidupnya?

Seperti apa ya ekspresi seorang Kim Joon Myun kalau aku bilang kalau akulah yang berniat membunuhnya selama ini?

Seperti apa ya ekspresi yang akan namja itu pasang ketika aku mengatakan kalau aku mencintainya? Tidak, tentu aku tidak akan mengatakannya. Aku tidak akan mengakuinya.

Cinta itu tidak mengenal seberapa lama aku mencintanya, cinta juga tidak melihat bahwa dia adalah seorang namja yang tidak seharusnya aku cintai.Namun seberapapun aku berusaha menggali dan mencari arti lain dari perasaan ini, semuanya selalu bermuara pada satu kata, ya, cinta.

Dan hingga kini, sampai akhirpun aku berharap namja itu tidak menyadari perasaanku, biarlah hanya aku dan Tuhan yang tahu, biarlah rahasia ini tetap tersimpan rapi, di balik sepasang mata milikku yang tidak lagi secerah dulu. Sinar mataku telah lama mati, layu.

Maafkan aku Appa, maafkan aku Joon Myun.

Mungkin ini adalah tulisan terakhirku, diary. Setelah ini mungkin aku tidak akan bisa menulisimu lagi, aku mungkin sudah berada di tempat lain, tempat di mana aku bisa merasa tenang dan damai. Yeah, aku harap begitu.

Karena aku sudah memutuskan, kalau aku tidak pantas hidup. Dan akan mengakhiri semuanya hari ini.

Selamat tinggal, diary :’)

Terima kasih sekali lagi.

_________

Kim Joon Myun menutup buku diary itu dengan tangan bergetar. Ia lalu menatap lekat-lekat buku bersampul polos itu, pelipisnya tiba-tiba berdenyut-denyut. Namja itu menutup erat matanya dan mendapati air matanya mengalir saat itu juga. Buku diary itu jatuh dari tangannya, tubuhnya mendadak kaku. Semua sarafnya seakan tidak lagi terkoordinasi dengan sempurna, otaknya seakan berhenti memerintahkan sel-sel tubuhnya untuk bekerja, ia merasa kelu, merasa mati.

Namun anehnya air mata itu tidak bisa berhenti, terus mengalir membasahi pipi pucatnya. Pemandangan di hadapannya pun semakin kabur karena air matanya semakin penuh. Joon Myun menggigit bibirnya keras, berusaha agar suara isak tangisnya tidak terdengar.

Oh Tuhan, apa yang telah aku lakukan?

________

Alat pendeteksi detak jantung itu masih bekerja, menunjukkan setiap hela napas dari seorang yeoja yang tengah terbaring kaku di atas ranjang rumah sakit itu. Detak jantung yang lemah, yang kemungkinan untuknya berhenti sungguh besar. Sungguh ajaib karena hal itu sudah berlangsung selama dua bulan, yeoja itu tetap bertahan, entah apa yang ditunggunya.

Di samping si yeoja duduklah seorang namja, namja yang selalu berada di dekatnya dan menjaganya sejak dua bulan yang lalu. Kini namja itu menatap kosong yeoja yang tengah terbujur kaku di hadapannya. Namja itu menghela napasnya keras, tangannya terangkat dan meraih tangan si yeoja.

“Dingin.”ujar si namja ketika tangan keduanya bersentuhan. “Kau kedinginan? Kalau begitu biarlah aku menghangatkanmu, nee?”

Namja itu lantas menggenggam tangan si yeoja, begitu erat seakan tidak ingin melepasnya lagi. Ia ingin berbagi kehangatannya dengan si yeoja, namja itu lalu menempelkan tangan si yeoja ke pipinya yang entah sejak kapan kembali basah oleh air mata.

“Kenapa kau melakukan itu semua? Kenapa kau sampai harus seperti itu demiku?”

Namja itu terisak lagi, ia menundukkan kepalanya, “Tidak. Sebenarnya akulah yang bodoh, akulah yang salah, aku yang membuatmu seperti ini.”

“Maaf.”tambahnya lirih.

Si namja menatap lekat-lekat yeoja itu sekali lagi, ia mengecup punggung tangan si yeoja yang mulai menghangat itu. “Kumohon, bangunlah, bangunlah untuk appamu, bangunlah untukku. Aku mohon.”

Tidak ada respon, tentu saja. Yang terdengar hanya suara alat pendeteksi jantung dan jam dinding yang berdetak. Namun si namja dapat mendengar yang lain, mendengar sesuatu yang ada di dadanya sekarang, suara debaran jantungnya sendiri. Kenapa ia bisa berdebar seperti itu?

“Selama dua bulan terakhir aku selalu di dekatmu, memang tidak ada yang terjadi, tapi jangan bilang tidak ada yang berubah. Sesuatu yang ada di dalam sinilah yang berubah.”ujar si namja sembari menempelkan tangannya di dada. “Seperti yang kau tulis di buku harianmu, cinta tidak mengenal siapapun, tak mengenal waktu, seperti itu juga yang terjadi padaku dan dirimu.”

Si namja mempererat genggamannya, ia menggigit bibirnya keras, “Kali ini aku harap engkau mendengarnya, dan aku harap aku tidak terlambat mengucapkannya.”

Yeoja itu masih menutup rapat matanya, tidak sedikitpun berkutik. Si namja lantas tersenyum sendu, “Aku mencintaimu, Choi Seo Rin.”

_______

How? How? How? Just share your thought in comment box below, yeah?😀

Oh yeah, isi polling di bawah ya ^^


 

Thanks for reading^^ Sorry kalau mengecewakan ^^b

See ya in the next chapter nee?😀 follow me @fhayfransiska

Don’t forget to leave your comment and like this ^^b

Read my another fanfic :

152 responses to “Seo Rin’s Diary : Side Story of [Su Ho’s] Secret Behind Her Eyes

  1. aku bacanya sampe nangis thor, isi diarinya ya tuhan :’)) seorin ntar sadar kan thor? akhirnya entar sama suho kan? kasian suho di crita ini kasian bet:””

  2. pas baca buku hariannya kasian juga ya seorin, antara pengen ngebahagian appa nya dengan ngebunuh joonmyeon tapi dia gak bisa karna ternyata dia cinta sm joonmyeon, galau banget kayaknya jadi seorin;(

  3. Baca part ini lg setelah sekian lama, baca sekilas n msh akan terus penasaran dgn side story demi side story masing” membernya….

    Keep writing n fighting ne, saeng!!^^
    Aku setia banget nunggu ff EXO Series-mu ini, walau br menemukannya lg~ haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s