So Nice To Meet You

So Nice To Meet You

author: lightless_star | pairing: Xiumin/Chen (EXO-M) | length: ficlet | rated: General | genre: Hurt | WARNING: Alternate Universe, Shonen-ai

xxx

It’s as if I was gone for a long time

With a little practice to smile,

Now, I need to throw it all away

(SeeYa – So Nice To Meet You)

….


Angin musim gugur membelai kulit putihnya, membuatnya sadar kalau musim yang indah itu akan berakhir sebentar lagi lalu digantikan oleh musim dingin. Rumput-rumput itu bergoyang pelan saat angin mengajaknya menari. Sedangkan matahari duduk manis diatas langit sambil ditutupi awan-awan yang agak menghalangi sinarnya. Hari ini agak dingin, dan ia menyukai cuaca yang seperti ini.

Ia masih duduk dibangku kayu panjang pekarangan taman kanak-kanak itu. Sesekali, lelaki 32 tahun itu melihat jam tangan cokelat tua yang melekat dipergelangan tangannya. Ada raut gelisah tergambar diwajahnya yang terbilang menarik untuk orang seusianya, jelas sekali kalau dia tidak suka menunggu disini dari tadi. Kapan anak-anak itu akan keluar? Ia sudah ingin cepat-cepat pulang kerumah. Banyak orang tua murid lainnya yang bercakap-cakap sambil menunggu anak mereka yang juga bersekolah di taman kanak-kanak itu pulang. Lelaki itu—Jongdae, ingin saja bergabung dengan mereka seandainya bisa. Tapi kenyataannya, ia tak mengenal satupun dari mereka. Kalau saja bukan karena kakaknya yang meminta tolong pada Jongdae agar menjemput anaknya, Jongdae juga tidak mau kalau harus membuang waktunya menunggu disini.

Ia melirik jam tangannya untuk yang kedua kali sejak ia duduk disana, anak-anak itu akan keluar sekitar 30 menit lagi.

Jongdae menghela napas. Memang, ia berlibur ke Korea juga karena ingin mengunjungi keluarga yang sangat ia rindukan selama berada di China. Namun, ia juga tidak suka menunggu. Makanya ia terlihat agak jengkel daritadi. Matanya yang gelap melihat sekeliling, lalu pandangannya jatuh pada sosok yang berdiri di bangku yang sama dengannya. Sosok yang daritadi tidak berbicara apapun, yang sama sepertinya—tidak ikut bercakap-cakap dengan orangtua murid yang lain.

Laki-laki yang tampak seumuran dengannya itu mengenakan kemeja biru tua yang rapi, dipadukan dengan celana bahan warna hitam. Rambut brunette-nya tampak agak berantakan, ekspresi wajahnya kelihatan lelah. Matanya kecil dan pipinya  chubby, nampaknya ia orang yang ramah. Sebenarnya, Jongdae ingin mengajak laki-laki itu berbicara. Mengingat umur mereka yang sepertinya tak terlalu jauh dan hitung-hitung untuk menghilangkan rasa bosannya tadi.

Namun saat Jongdae memperhatikan lebih teliti wajah itu, raut terkejut langsung menggantikan senyum yang beberapa detik lalu ia pasang. Wajah lelaki itu sangat familiar untuknya. Yang dulu selalu hadir di tiap harinya. Yang dulu selalu menggenggam tangannya saat mereka berjalan bersebelahan. Yang dulu selalu ada disampingnya saat ia membutuhkan. Yang dulu menggores luka dihatinya. Yang lima tahun lalu meninggalkannya.

Yang ia pikir tak akan pernah ia temui lagi. Kim Minseok.

“Minseok?” panggilnya pelan. Lelaki yang dipanggil Minseok itu menoleh.

Kedua alisnya bertaut bingung, namun beberapa saat kemudian mulutnya sedikit terbuka ketika menyadari sesuatu. Raut wajahnya berubah gugup namun ia masih berusaha memasang senyum walaupun canggung.

“Jongdae? Kim Jongdae?” balasnya, seulas senyum kecil menghias wajahnya. Jongdae membalas senyum itu ramah.

“Senang bertemu denganmu lagi, Minseok-ah,” ucap Jongdae. Caranya berbicara sama sekali tak menunjukkan kalau lima tahun yang lalu pernah terjadi sesuatu diantara mereka.

“Ne, senang bertemu denganmu lagi,” lalu setelah itu mereka terdiam selama beberapa saat, Jongdae menatap Minseok tepat dimatanya dan lelaki itu membalas tatapannya. Dan tak ada yang berbicara.

“Bagaimana kabarmu? Sudah lima tahun sejak kita terakhir bertemu,” ucap Minseok, mengalihkan pandangan dari bola mata hitam Jongdae.

“Baik. Sekarang aku tinggal di Cina dan mengelola studio musikku sendiri disana. Aku ke Korea untuk berlibur. Kau sendiri?”

“Cukup baik. Aku masih menetap di Seoul dan mengurus perusahaan milik keluargaku. Kau hebat bisa punya studio musikmu sendiri, Jongdae.”

Jongdae hanya tersenyum.

“Itu keinginanmu dari dulu, kan? Dulu kau sering menceritakan padaku bagaimana inginnya kau punya studio musik sendiri, dan sekarang kau bisa mewujudkannya,” ucap Minseok, mata kecokelatannya yang sipit menatap keatas. Kearah langit kelabu siang itu. Jongdae tertawa kecil mengingat bagaimana ia menceritakan hal itu pada Minseok saat mereka masih sama sama disekolah menengah atas. Saat perasaan itu masih ada, saat mereka masih bersama.

Jongdae melirik cincin pernikahan yang melingkar dijari manis Minseok. Ada yang terasa nyeri dihatinya, tapi ia berusaha menyembunyikan itu dari raut wajahnya.

“Kau sudah menikah, Minseok-ah?” tanyanya tiba-tiba, Minseok menoleh. Sekilas ia tampak terkejut namun kemudian melihat jari manisnya sendiri dan tertawa kecil.

“Begitulah. Aku bahkan punya seorang anak perempuan.“

“Wah, jadi kau kemari ingin menjemputnya?”

“Ya. Apa kau juga kemarin ingin menjemput anakmu?”

“Tidak. Aku kemari menjemput keponakanku.”

Mereka berbicara seperti teman lama yag bertemu kembali. Namun, ada yang terasa mengganjal dihati Jongdae. Satu persatu hal-hal yang pernah mereka lewati bersama dulu terlintas dikepalanya lagi. Membawa perasaan yang sudah lama mati itu kembali. Mungkin bagi Minseok, mereka yang dulu hanya dua orang remaja yang bilang kalau mereka saling mencintai tapi kemudian berpisah begitu saja karena masalah sepele. Mereka yang dulu hanya dua orang remaja yang tak pernah mengerti sebenarnya cinta itu apa. Mereka yang dulu hanya dua orang remaja yang tak pernah serius akan hubungan yang mereka jalani.

Tapi bagi Jongdae tidak. Walaupun sudah mulai pudar, ia menyadari kalau perasaan itu masih ada. Perasaannya pada Minseok dulu bukanlah sesuatu yang bisa dianggap serius. Namun ia juga menyadari kalau sudah tak mungkin mereka kembali seperti dulu. Waktu tetap berjalan, dan kini mereka punya kehidupan masing-masing. Minseok dengan keluarga kecilnya yang bahagia dan Jongdae dengan tunangannya di China yang tahun depan akan ia nikahi.

Perasaan yang salah itu harus ia buang jauh-jauh.

“Appa!” pintu salah satu ruang kelas taman kanak-kanak itu terbuka, diikuti suara nyaring seorang anak perempuan manis yang berlari kearah Minseok kemudian memeluk laki-laki yang ia panggil Appa tadi.

“Jongdae-ahjusshi!” dibelakangnya berlari seorang anak laki-laki berambut hitam yang kemudian menggandeng tangan Jongdae. Sepertinya ia dan anak perempuan Minseok sekelas.

“Jinhee-ya, Appa sudah menunggumu daritadi!” ucap Minseok, seulas senyum bahagia terlengkung diwajahnya. Ia merendahkan badannya, lalu mengusap pucuk kepala anak perempuan berambut ikal itu. Anak perempuan yang dipanggil Jinhee tadi tertawa kecil.

“Appa, ayo kita pulang! Aku ingin cepat bertemu eomma,” ucap gadis kecil itu, alisnya berkerut dan bibirnya mengerucut lucu. Manis sekali. Kalau dilihat sekilas, sangat mirip dengan Minseok—ayahnya.

“Ne, ne. Ah, maaf, Jongdae. Padahal aku masih ingin mengobrol lebih banyak lagi, mengingat kita sudah lama sekali lost contact. Tapi aku harus pulang sekarang.”

“Baiklah. Hati-hati, Minseok-ah,” ucap Jongdae sambil tersenyum ramah. Minseok kemudian memeluknya akrab, pelukan seorang teman lama. Tanpa pernah mengingat kalau mereka dulu selalu bilang kalau akan terus bersama, sebagai sepasang kekasih.

Gadis kecil bernama Jinhee tadi membungkukkan badan pada Jongdae, bermaksud memberi salam sebelum kemudian ia dan Minseok berbalik hendak pulang. Jongdae merasakan matanya agak berair, namun berusaha ia tahan sekuat tenaga.

Minseok dulu sering bilang kalau sudah dewasa nanti ia ingin punya seorang anak perempuan yang manis, dan sekarang ia sudah punya Jinhee. Jongdae jadi terpikir, jika mereka masih bersama hingga sekarang, mungkin dia tak bisa memberikan Minseok seorang anak perempuan yang manis seperti Jinhee.

“Ahjusshi, kenapa menangis?” tanya anak laki-laki yang berdiri disebelah Jongdae daritadi.

“Tidak. Disini hanya dingin dan aku sedang flu, Myungjin-ah.”

Anak laki-laki itu mengangguk, kemudian berbicara lagi, “Apa ahjusshi mengenal Appa-nya Jinhee?”

“Tentu. Kami berteman akrab saat SMA dulu,” kemudian Jongdae tertawa kecil, anak laki-laki yang dipanggil Myungjin itu lagi-lagi hanya mengangguk.

“Ahjusshi, ayo kita pulang. Aku sudah lapar,” ucap Myungjin, kepalanya harus menengadah saat ia berusaha menatap Jongdae. Jongdae kemudian merendahkan badannya dan mengusap pucuk kepala anak itu sebelum kemudian menggendongnya.

Jongdae sadar, kalau cinta tak selamanya berarti dua orang yang harus selalu bersama, berbagi dalam suka maupun duka.

Terkadang cinta juga bisa berarti melupakan seseorang dan membiarkan mereka bahagia dengan pilihannya yang lain.

Seperti apa yang terjadi padanya dan Minseok.

Mengingat itu, seulas senyum kecil terlengkung diwajahnya.

Satu bagian kecil dihatinya turut senang melihat orang yang dulu bersamanya kini telah bahagia.

“Baiklah. Ayo kita pulang, Myungjin-ah.”

….

I’ll take all the painful memories

I’ll take them all away, so

Take only the good memories

Because you should be happy

 (SeeYa – So Nice To Meet You)

-fin-

10 responses to “So Nice To Meet You

  1. nge jleb banget thor sumpah! T^T
    kasiyan kan jongdae nya, mending oppa ama aku aja kalo gitumah /ditendang/
    ohiya, terus pisahnya mereka berdua itu gara-gara apa? terus minseok nya juga masih suka engga ama chen? kalo udah gasuka mah bertepuk sebelah tangan berarti chennya u,u
    hwaiting yah thor! oneshoot nya keren banget deh (y)

    • tapi dicerita disebutin Jongdaenya udah tunangan hahaha

      kalo pisahnya mereka itu ya.. kayak remaja remaja lainlah. masalah masalah sepele 😐 tapi emang aku sengaja ga jelasin. nggak, Minseoknya nggak punya perasaan apa apa lagi sama Chen hehe .__.

      wah, seneng kalo ada yang suka hehe. thanks for read and comment :3

  2. ini entah kita punya hubungan batin ato gimana.. baruuuu aja mau ngepost FF judul n backsound yg sama .__.a. hadeeuuhh… xDD

    HUAAAAAAA ITU JONGDAENYA T^T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s