Once Upon A Spring

Once Upon A Spring

Author : Fai

Cast :

  • Kim Joonmyun/Suho | Suho EXO
  • Hwang Hana | YOU/readers

Genre : romance, fluff(?)

Rating : T

Length : oneshot (4155 words)

Disclaimer : the plot is mine!

N.B. : akhirnya saya post ff—lagi! syukurlah idenya mulai lancar lagi TvT saya bikin ff ini karena terinspirasi dari ‘Suho’s girl ideal type’ nya~ happy reading! ^^

Warning : tidak menerima silent readers! #duar

The first and the last day in spring
Will be my deepest memories

“ONCE UPON A SPRING”

Semilir angin di hari pertama musim semi itu menjadi saksi bisu perpisahan antara seorang gadis dan seorang laki-laki. Sepasang insan itu mengakhiri hubungannya di awal musim semi. Musim yang disukai oleh banyak umat manusia.

“Maaf, Joonmyun. Aku menyukai orang lain.”

Tanpa belas kasihan dan perasaan bersalah, gadis itu meninggalkan laki-laki bernama Joonmyun itu sendirian.

Saat gadis itu menghilang dari pandangannya, Joonmyun melangkah gontai. Ia tidak menyangka hubungannya dengan ‘mantan kekasihnya’ itu akan berakhir di hari pertama musim semi—musim yang sangat disukainya.

Wajahnya menunduk, matanya menatap lekat-lekat ujung sepatunya. Dia berpikir keras apa kesalahannya pada mantan kekasihnya itu sehingga gadis tersebut bisa menyukai orang lain—bahkan mengakhiri hubungannya.

“Aku tidak pernah membuatnya hatinya terluka,” gumam Joonmyun.

Kedua kakinya melangkah tanpa arah. Ia hanya berjalan hingga akhirnya ia berhenti di sebuah halte.

Tidak ada seorangpun di halte tersebut karena jarang sekali ada bus yang melewati halte tersebut. Bahkan Joonmyun-pun tidak tahu mengapa jarang sekali ada bus yang melewati halte tersebut. Mungkin tempat ini kurang strategis, pikirnya.

Joonmyun menoleh ke sekitarnya dan tidak ada orang. Sepertinya ini tempat yang bagus untuk menyendiri, bisiknya pada dirinya sendiri.

Akhirnya Joonmyun duduk di kursi halte tersebut dengan sedikit merenung. Ia memain-mainkan jari telunjuknya dan tanpa sengaja jarinya menyentuh sebuah kertas.

Joonmyun melirik kertas kecil berwarna ungu tersebut. Kertas itu terlipat dengan manis. Selain itu, kertas itu berwarna ungu—warna kesukaan Joonmyun. Joonmyun mengambil kertas itu dan tercium aroma bunga mawar dari kertas tersebut. Karena penasaran, Joonmyun membukanya. Lalu ia membaca tiap kata yang ada di kertas tersebut dengan hati-hati.

Jika aku hanya punya waktu satu jam untuk hidupku
Jika hanya selama itu yang diberikan kepadaku
Satu jam penuh cinta di atas Bumi ini
Aku akan berikan cintaku untukmu

Joonmyun membalik kertas kecil yang berisikan sajak itu untuk mencari tahu siapa penulisnya. Tapi tidak ada nama pengarang sajak tersebut.

Joonmyun membaca lagi sajak tersebut dan mencerna setiap kata yang dirangkai oleh penulisnya. Bahasa yang digunakannya sederhana, tapi maknanya sangat mendalam.

Cara penulisannya dan jenis tulisannya adalah tulisan tangan seorang wanita. Joonmyun yakin sekali kalau penulisnya adalah seorang wanita—atau mungkin seorang gadis. Ini bukan karangan seorang wanita, ini pasti karangan seorang gadis. Bahasa yang digunakannya sangat lembut.

Seketika, Joonmyun dapat melupakan rasa sakit hati yang dirasakannya tadi. Ia mulai penasaran siapakah orang yang mengarang sajak ini. Sajak yang cukup sederhana.

Aneh. Hanya dengan sebuah sajak, Joonmyun dapat melupakan rasa sakit hatinya. Mungkin karena pada dasarnya Joonmyun menyukai karya-karya sastra. Joonmyun juga sangat menyukai gadis yang mempunyai rambut panjang dan ketertarikkan pada bidang sastra, atau pada gadis yang sangat suka membaca.

Tapi, percuma saja jika ia terus duduk termangu di halte tersebut dengan rasa penasaran yang menguasai dirinya. Kemungkinan besar pengarangnya tidak akan kembali ke halte tersebut pada hari ini. Mungkin ia akan kembali di keesokkan harinya.

Joonmyun melipat kembali kertas kecil tersebut dan memutuskan untuk menyimpannya. Ia memasukkan kertas kecil tersebut ke saku celananya.

Mungkin besok ia akan ke sini lagi. Aku harus bertemu dengannya.

+++

Keesokkan harinya pada jam yang sama, Joonmyun kembali ke halte yang kemarin ia kunjungi. Masih seperti kemarin, tidak ada orang di halte tersebut.

Dan lagi, Joonmyun menemukan sebuah kertas kecil berwarna ungu yang terlipat. Joonmyun dapat menyimpulkan bahwa pengarang sajak itu akan selalu mengunjungi halte ini. Karena halte ini merupakan tempat yang cukup bagus untuk menyendiri atau mencari inspirasi.

Joonmyun duduk di kursi halte tersebut dan mengambil kertas berwarna ungu tersebut. Masih dengan aroma mawar bunga. Mungkin pengarangnya menyukai aroma bunga mawar.

Joonmyun membuka lipatan kertas kecil tersebut dan membaca isinya.

Detik detik waktu berlalu begitu saja
Meninggalkan kita tanpa peduli dengan apapun yang telah kita lakukan
Sampai kapanpun, waktu tidak akan pernah berhenti atau kembali ke masa lalu
Dan sampai kapanpun waktu akan terus berjalan
Untuk apa aku masih memikirkan masa lalu jika masih ada masa depan?

Joonmyun terhenyak membacanya. Kata-kata yang terangkai di sajak tersebut membuatnya sadar bahwa ia tidak perlu memikirkan masa lalu karena masih ada masa depan.

Ia teringat dengan hari perpisahannya pada gadis yang ia sayangi. Mulai sekarang, ia tidak boleh terbelenggu dengan hari kemarin karena masih ada hari ini dan hari esok yang harus dilaluinya. Selain itu, hari ini dan hari esok harus lebih sempurna dari hari kemarin.

Joonmyun membalik kertas itu untuk mencari nama pengarangnya. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada nama yang tertulis di kertas tersebut.

Joonmyun merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kertas kecil berwarna ungu yang terlipat. Itu adalah kertas yang kemarin disimpannya.

Joonmyun membuka lipatan kertas yang disimpannya itu dan menyocokkan tulisannya. Tulisan di kertas tersebut masih sama dengan tulisan yang kemarin—bahkan sama persis. Itu artinya pengarang sajak tersebut adalah orang yang sama.

Sesekali hembusan angin musim semi itu menggelitik tubuh Joonmyun. Hembusan angin di hari kedua musim semi itu juga sesekali seperti berbisik padanya.

Joonmyun masih belum mengetahui siapa pengarang sajak tersebut. Mungkin pengarangnya sengaja menyembunyikan identitasnya untuk menambah kesan misterius pada dirinya. Mungkin.

Akhirnya dengan perasaan yang sedikit kecewa, Joonmyun melipat kertas kecil tersebut dan menyimpannya di saku celananya. Ia memutuskan untuk kembali lagi esok hari.

+++

Hari ini adalah hari ketiga ia mendatangi halte bus dengan sajak misterius itu. Masih pada jam dan masih dengan keadaan yang sama, tidak ada orang di halte tersebut kecuali kertas kecil berwarna ungu yang dilipat.

Joonmyun menghampiri halte tersebut dengan langkah gontai. Ia duduk di kursi halte tersebut dan mengambil kertas kecil yang dilipat itu. Sebenarnya siapa yang menaruh kertas ini di sini?

Joonmyun membuka lipatan kertas kecil tersebut dan kali ini pengarangnya membuat sajak dengan bahasa Inggris.

Do you know how does it feel?
Have you ever been waiting for this long time?
Do you know that the word of ‘wait’ is the worst thing ever?
Have you ever been realizing it?

Cukup singkat, namun mempunyai arti yang mendalam.

Sajak tersebut seolah berisikan sebuah pernyataan ketidaksukaan pengarangnya dalam hal menunggu. Tapi ia benar. Menunggu memang merupakan hal yang tidak menyenangkan.

Joonmyun membalik kertas itu dan lagi-lagi tidak ada tanda-tanda maupun klu tentang siapa yang mengarang sajak itu. Tapi ia sangat yakin kalau pengarangnya adalah seorang gadis.

Dengan sedikit kecewa, Joonmyun melipat kembali kertas kecil berwarna ungu dan beraroma bunga mawar tersebut. Ia menyisipkan kertas tersebut ke saku celananya.

Bahkan aroma musim semipun tidak bisa menghapus sedikit saja rasa kecewanya itu. Dan dengan malas, Joonmyun berjalan meninggalkan halte tersebut.

Suatu hari nanti, aku pasti akan bertemu dengannya.

+++

Ini merupakan hari ketujuh Joonmyun mendatangi halte tersebut. Sudah ada tujuh kertas berwarna ungu berisikan sajak yang berbeda pada setiap kertasnya.

Tapi untuk hari ini, Joonmyun datang lebih cepat dari biasanya. Dan, bingo! Ada seorang gadis yang duduk di kursi halte tersebut. Dengan bersemangat, Joonmyun berjalan mendekati halte tersebut dan menghampiri gadis yang duduk di sana.

“Hai..,” dengan sedikit ragu, Joonmyun menyapa gadis itu. Ternyata gadis itu tengah membaca sebuah novel. Gadis itu mengangkat wajahnya perlahan untuk melihat Joonmyun dan menatapnya bingung. Siapa laki-laki ini?

“Emm, hai?” jawab gadis itu. Suaranya sangat lembut.

Joonmyun memperhatikan lekuk wajah gadis itu dengan seksama. Rambut yang panjang, bentuk wajah yang bulat, mata yang bulat, alis yang tipis, bulu mata yang lentik, hidungnya cukup kecil, bibirnya sedikit tipis dan bulat, telinganya juga lumayan kecil, pipinya terbentuk dengan indah dan dagunya terbelah membuat gadis itu terlihat semakin manis. Dan Joonmyun sadar kalau ia mendadak jatuh hati dengan gadis itu.

“Maaf, nuguseyo?” tanya gadis itu dengan logat yang sedikit terdengar aneh di telinga Joonmyun. Sepertinya dia bukan orang Korea asli.

“Namaku Kim Joonmyun. Neo?”

“Hwang Hana.”

“Boleh aku duduk di sebelahmu, Hana?”

Gadis itu mengangguk kecil dan Joonmyun duduk di sebelahnya. Kemudian Joonmyun teringat pada sajak-sajak yang selama ini ia temukan. Ia meraba-raba saku celananya untuk mencari kertas-kertas tersebut dan menunjukkannya pada gadis di hadapannya itu.

“Ini milikmu?” tanya Joonmyun seraya mengacungkan kertas-kertas itu di hadapan gadis bernama Hana tersebut. Hana melirik sedikit kertas-kertas yang dipegang Joonmyun dan dengan mudah ia mengenali kertas tersebut.

Ne, dan aku yang mengarangnya. Kau menyimpannya?” tanya Hana dan hanya dijawab sebuah anggukkan oleh Joonmyun.

“Selama seminggu ini aku menemukan dan mengumpulkan kertas-kertas ini. Aku sangat menyukai karya sastra, dan aku sangat menyukai sajak-sajakmu. Maka dari itu aku menyimpannya.”

“Ah, terima kasih karena kau sudah menyukai sajak-sajak itu.”

“Kau memiliki ketertarikan pada bidang kesastraan?”

Ne, aku sangat menyukai bidang kesastraan. Waeyo?” aksen gadis itu terdengar sedikit aneh, dan gadis itu menyadari keanehannya dalam berbicara. “Maaf, aku belum terlalu lancar berbahasa Korea.”

“Ah, ternyata begitu. Kalau begitu kita punya ketertarikkan yang sama. Aku juga sangat menyukai bidang kesastraan,” jawab Joonmyun. Hana tersenyum kecil. “Ngomong-ngomong, kau bukan orang asli Korea?”

“Aku memang bukan orang asli Korea. Aku berasal dari China, nama Hana diberikan oleh umma-ku yang berkebangsaan Korea dan nama Hwang diberikan oleh appa­-ku yang berkebangsaan China. Aku baru tinggal di Korea selama 2 tahun.”

Joonmyun hanya mengangguk-angguk mendengarnya. Hana tersadar dengan novel yang sedaritadi dipegangnya, kemudian ia menutup novel tersebut dan menyimpannya di dalam tas selempangnya.

“Kenapa kau menutupnya? Kau sudah selesai membacanya?” tanya Joonmyun—karena sepertinya gadis itu belum selesai membaca novel tersebut.

“Aku rasa tidak sopan mengacuhkan lawan bicara dengan membaca novel. Maka dari itu aku menyimpannya,” jawab Hana ramah. Joonmyun hanya mengangguk-angguk. Gadis ini sangat sopan.

Baik Joonmyun ataupun Hana keduanya sama-sama terdiam. Sedaritadi jantung Joonmyun terus berdegup dengan kencang. Sedangkan Hana hanya terdiam sambil memainkan kedua kakinya. Dan kemudian, Hana memecah keheningan.

“Joonmyun, apa kau tahu? Dalam Bahasa Jepang, Hana itu artinya bunga. Dan dalam Bahasa Korea, Hana itu artinya satu. Sama seperti kepribadianku. Aku sangat menyukai bunga dan musim semi, aku juga selalu berusaha untuk menjadi nomor satu. Tapi, aku sendiri tidak tahu arti namaku dalam Bahasa China ataupun Mandarin.”

Jeongmal?” tanya Joonmyun terkejut. Hana tertawa kecil. Joonmyun berpikir gadis ini cukup unik. Selain itu, mereka berdua mempunyai sifat yang sama. “Ngomong-ngomong, aku juga menyukai musim semi.”

“Kalau begitu kita mempunyai ketertarikkan yang sama,” ujar Hana. Joonmyun hanya mengangguk. Jantungnya terus berdegup dengan kencang. Apakah mungkin ia bisa menjadi pacarku? Aish, pabbo. Kau baru mengenalnya hari ini, Kim Joonmyun.

Mereka berdua kembali terdiam. Dan lagi, Hana-lah yang memecahkan keheningan.

“Apakah kau bisa berbahasa Mandarin?” tanyanya. Joonmyun menggeleng. “Aku hanya bisa sedikit. Waeyo?”

Gwenchana. Oh, ya. Apa pendapatmu tentang halte ini?”

“Hmm, menurutku halte ini cukup sepi.”

Hana tertawa kecil. Setidaknya pendapatnya barusan benar.

“Kenapa kau tertawa? Kau sendiri apa pendapatmu tentang halte ini?” tanya Joonmyun. Hana berusaha mengendalikan tawanya kemudian berpikir sejenak.

“Menurutku halte ini adalah tempat yang bagus untuk menenangkan diri karena jarang sekali ada yang ke sini. Tempat ini juga cukup bagus untuk mencari inspirasi karena lingkungannya yang sunyi. Aku suka tempat ini.”

Joonmyun memiringkan kepalanya. Kurasa dia benar.

“Kau benar.”

Mereka berdua kembali terdiam. Saat tidak ada hal untuk mereka bahas, selalu gadis itu yang memecah keheningan atau memulai pembicaraan. Mungkin ia tipikal orang yang cerewet.

Setelah lama berdiam, gadis itu merogoh tas selempang berwarna ungunya dan mengambil sebuah buku kecil dan sebuah pulpen. Ia terlihat berpikir sejenak dan mulai menulis di buku kecil tersebut. Sepertinya itu adalah buku catatannya.

Satu menit kemudian, Hana menyimpan kembali pulpennya dan merobek isi buku tersebut menjadi sebuah kertas kecil. Kertas kecil berwarna ungu yang selama ini ditemukan oleh Joonmyun.

“Kau membuat sebuah sajak?” tanya Joonmyun. Gadis itu menggeleng dan menyodorkan kertas kecil tersebut ke depan wajah Joonmyun. “Bukan sajak, hanya sebuah quote. Kau mau membacanya?”

Dengan sebuah anggukkan kecil, Joonmyun mengambil kertas kecil tersebut dan membacanya.

Aku sudah pernah memasukki surga, tapi aku belum pernah memasukki diriku sendiri

Joonmyun tercengang saat membacanya. Hanya sebuah kalimat, namun menimbulkan banyak pertanyaan di pikiranya. “Apa maksudnya?”

“Lebih mengarah ke peribahasa sebenarnya, tapi bukan peribahasa. Maksudnya adalah aku mengerti banyak tentang orang lain, tapi aku tidak mengerti tentang diriku sendiri. Dan aku mengibaratkannya dengan kematian.”

Lagi-lagi Joonmyun tercengang mendengar penjelasan Hana. Jarang sekali ada orang yang membuat quote tentang kepribadian seseorang dan mengibaratkannya dengan kematian.

“Keren,” puji Joonmyun. Hana tersenyum senang. “Khamsahamnida.”

Cheonmaneyo,” sahut Joonmyun. “Oh, ya. Kenapa kau sering meninggalkan karya-karya sastramu di sini tanpa mencantumkan namamu sebagai pengarangnya?”

“Aku meninggalkannya karena aku ingin ada orang yang membaca karyaku dan menyukainya. Aku sengaja tidak mencantumkan namaku di kertas itu sebagai pengarangnya karena aku ingin membuat orang yang membacanya penasaran dan akan selalu mengingat karyaku itu. Kau pasti selalu teringat dengan sajak-sajakku itu, bukan?”

Joonmyun mengangguk kecil seraya membulatkan mulutnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Jadi itu alasannya.

Duibuqi1, aku harus pulang. Zaijian2, Kim Joonmyun!”

Hana meninggalkan Joonmyun sendirian di halte tersebut dan melesat dengan cepat. Joonmyun hanya memasang ekspresi bingung karena ia tidak mengerti dengan ucapan Hana barusan.

Duibuqi? Zaijian?

YA! Besok kau harus kembali lagi ke sini!” teriak Joonmyun. Hana menoleh dan mengacungkan ibu jarinya di depan wajahnya. “Ne!

+++

Esok harinya, Joonmyun bertemu lagi dengan gadis penyuka sastra bernama Hana tersebut pada jam yang sama.

Hari ini mereka lebih banyak mengobrol, dan selalu saja Hana yang memulai percakapan di antara mereka berdua. Dia memang tipikal orang yang cerewet.

“Ngomong-ngomong, kenapa kau menyukai musim semi?” tanya Hana. Ini merupakan yang kesekian kalinya ia memecah keheningan.

“Aku suka aroma musim semi, selain itu udaranya juga cukup bagus,” jawab Joonmyun. “Kalau kau?”

“Aku suka musim semi karena aku suka melihat bunga-bunga bermekaran. Selain itu, aku lebih mudah membuat karya sastra di saat musim semi,” jawab Hana. “Lalu, kenapa kau menyukai bidang kesastraan?”

“Karena menurutku orang-orang yang berperan dalam bidang sastra itu adalah orang-orang yang kreatif. Mereka mempunyai imajinasi yang tinggi,” jawab Joonmyun dan membuat Hana tersenyum secara spontan. “Kalau kau?”

“Terkadang aku mempunyai terlalu banyak imajinasi dan khayalan, maka dari itu aku menumpahkan semua imajinasi dan khayalanku itu dalam bentuk karya sastra.”

Joonmyun hanya mengangguk-angguk begitu mendengar jawaban Hana. Gadis itu memang mempunyai terlalu banyak imajinasi dan khayalan, maka tidak heran kalau karya-karya sastranya patut disanjung.

“Ngomong-ngomong, apa yang membuatmu pindah ke Korea, Hana?” kali ini Joonmyun yang memulai pembicaraan.

“Aku melanjutkan dan menyelesaikan kuliahku di sini. Selain itu, aku ke sini untuk menemani haelmoni-ku di Korea. Umma dan appa tidak bisa menemani haelmoni di Korea karena mereka berdua sangat sibuk dengan proyek kantor mereka.”

“Kau kuliah dimana?”

“Seoul International University, bagian kesastraan.”

Mulut Joonmyun melebar. Seoul International University?! Sepintar apakah dia?

Omo, kau kuliah di universitas terbesar di Seoul!” seru Joonmyun. Hana menarik kedua ujung bibirnya untuk tersenyum tanpa perasaan sombong sedikitpun.

Setelah membicarakan banyak hal, mereka kembali terdiam. Joonmyun sibuk mengatur detak jantungnya yang berdetak sangat cepat, sedangkan Hana sibuk bergelut di pikirannya untuk membuat sebuah karya sastra.

“Joonmyun, apa kau punya tema yang bagus untuk sebuah karya sastra?” tanya Hana yang kembali memecah keheningan. Joonmyun tampak berpikir, dan tiba-tiba saja terlintas di pikirannya, “Kehidupan malaikat, mungkin?”

“Ah! Kau benar,” Hana menjentikkan jarinya dan meraih tas selempang berwarna ungunya untuk mencari buku catatannya. Ia mengeluarkan sebuah buku catatan berwarna biru dari tasnya dan membukanya dengan asal. “Kenapa tema itu tidak terpikirkan olehku.”

Hana mengambil pulpennya dan mulai menggoreskan pulpennya di buku catatannya. Joonmyun hendak mengintip, tapi ia mengurungkan niatnya karena tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan di otaknya.

“Kau suka warna ungu?” tanya Joonmyun.

“Yap,” jawab Hana sambil terus menulis.

“Aku juga suka warna ungu,” ungkap Joonmyun seraya tertawa kecil. Hana hanya tersenyum simpul.

So, is it our another similars?” tanya Hanya dengan Bahasa Inggris yang fasih. Joonmyun hanya berdehem—mengiyakan pertanyaan Hana barusan. Dan setelah itu, suasana kembali hening.

Setelah beberapa menit, Hana menyimpan kembali pulpennya dan merobek isi buku itu menjadi sebuah kertas kecil.

Done!” ujar Hana senang. Suaranya terdengar seperti anak kecil di telinga Joonmyun. Dan Joonmyun sadar, kalau dia menyukai gadis di hadapannya ini.

“Boleh aku melihatnya?” tanya Joonmyun. Hana mengangguk senang dan memberikan kertas kecil itu kepada Joonmyun.

Kalau aku sudah mati
Aku ingin menjadi sesosok malaikat
Tapi aku takut
Aku takut di surga sana aku tidak akan mempunyai siapa-siapa
Tidak ada yang menemaniku
Apakah kau mau menjadi bidadariku?

Joonmyun terpaku. Ia heran kenapa gadis ini bisa merangkai kata-kata itu sehingga mereka menjadi sajak yang terpadu? Selain itu, kenapa ia membuat sajak seperti ini?

Well, apa maksud dari sajakmu ini, Hwang Hana?” tanya Joonmyun sedikit bingung—tidak, ia sangat bingung.

“Menurut beberapa orang, jika kita sudah mati, kemungkinan besar kita akan menjadi malaikat dan kemungkinan lainnya kita akan berada di neraka, bukan? Dalam sajak ini, aku menggunakan sudut pandang seorang laki-laki yang takut akan kematian. Ia takut saat ia mati nanti sosoknya akan menjadi malaikat yang kesepian. Dia berpikir jika ia menjadi malaikat, ia ingin kekasihnya menjadi bidadarinya, bidadari yang menemaninya di surga. Dengan begitu, ia tidak akan merasa kesepian di surga.”

Lagi-lagi Joonmyun terpaku dengan jawaban Hana barusan. Ia tercengang, sangat tercengang. Bagaimana bisa ia memikirkan hal itu?

“Kau hebat. Daebak!” puji Joonmyun. Ia tidak tahu kata-kata apa yang cocok untuk melantunkan pujian pada Hana. Ia hanya bisa berkata ‘hebat’ pada Hana.

Xiexie3,” ujar Hana dengan senyum simpul. Joonmyun berpikir sejenak, gadis ini pasti berbicara dengan Bahasa Mandarin. Joonmyun mencoba mengingat-ingat arti xiexie dan sesaat kemudian ia ingat artinya.

Bukeqi4,” jawab Joonmyun. Ia masih mengingat sedikit Bahasa Mandarin yang pernah ia pelajari. Hana tersenyum lagi.

“Ah, aku harus pulang. Annyeong, Joonmyun!” ujar Hana seraya meraih tas selempang berwarna ungunya dan beranjak pergi.

Annyeong, Hana. Sampai bertemu besok!”

Sure!”

+++

Dua bulan telah berlalu, Joonmyun dan Hana semakin dekat. Joonmyun belum siap untuk menyatakan perasaannya pada Hana karena ia pikir terlalu cepat jika ia menyatakannya pada Hana dalam jangka waktu secepat itu.

Mereka selalu bertemu setiap hari. Terkadang Joonmyun mengajaknya untuk berjalan-jalan di sekitar Seoul atau makan siang bersama. Mereka tidak selalu bertemu di halte tersebut.

Ya, terkadang Hana tidak mempunyai waktu untuk sekedar mengobrol dengan Joonmyun karena urusan kuliahnya. Joonmyun juga tidak pernah menuntut Hana untuk bertemu dengannya setiap hari, bukan?

Dua bulan telah berlalu, dan gadis yang merupakan mantan terakhir Joonmyun waktu itu meminta maaf padanya dan memintanya untuk melanjutkan hubungannya yang pernah terputus itu.

Ada perasaan senang di hati Joonmyun, tapi ia sudah tidak merasa seperti dulu. Perasaannya pada gadis itu telah berubah. Ntah apa yang membuatnya berubah.

Dan dia tidak tahu mengapa malah menceritakan hal itu pada Hana.

“Sebenarnya, ada sedikit perasaan senang saat ia meminta maaf padaku, tapi entah mengapa rasanya berbeda. Tidak seperti pertama kali berpacaran dengannya.”

Hana tersenyum. Ia membuka resleting tas selempangnya dan mengambil buku catatannya. Ia merobek sebuah kertas dan mengambil sebuah gunting. Hana memotong kertas tersebut dan membentuknya menjadi sebuah hati.

“Ibaratkan ini bentuk hatimu saat pertama kali berpacaran dengannya,” ujar Hana sambil mengacungkan sebuah kertas berbentuk hati di hadapan Joonmyun. Bentuk hati yang sempurna, tanpa cacat sedikitpun. Joonmyun mengangguk.

Hana melipat kertas berbentuk hati tersebut dan membuatnya menjadi setengah bagian.

“Ini bentuk hatimu saat ia mulai menyakitimu,” lanjut Hana. Joonmyun mengangguk mengerti. Saat gadis itu mulai menyakitinya, ia merasa bahwa hatinya terbelah menjadi dua.

Hana melipat kertas berbentuk setengah hati itu dan membuatnya menjadi sepertiga bagian.

“Ini bentuk hatimu saat ia mulai mengkhianatimu,” ujar Hana. Joonmyun mengangguk lagi. Ia berpikir saat gadis itu mulai mengkhianatinya, hatinya akan terbelah menjadi beberapa bagian.

Hana melipat lagi kertas itu sehingga membentuk sebuah lipatan yang sangat kecil.

“Dan ini bentuk hatimu saat ia mulai menghancurkan perasaanmu dan memutuskanmu,” lanjut Hana. Dan lagi, Joonmyun mengangguk mengerti. Ketika gadis itu menghancurkan perasaannya, hatinya akan hancur menjadi kepingan-kepingan kecil.

Hana tersenyum simpul dan membuka satu lipatan dari kertas itu.

“Ini bentuk hatimu saat ia meminta maaf padamu,” ujar Hana. Joonmyun mengangguk lagi. Saat gadis itu meminta maaf padanya, hatinya akan mulai terbuka lagi untuk gadis itu.

Hana membuka satu lipatan lagi dari kertas itu sehingga membuat kertas itu menjadi sepertiga bagian.

“Ini bentuk hatimu saat ia berbuat baik lagi padamu,” lanjut Hana. Joonmyun terdiam. Hatinya memang melunak begitu gadis yang pernah menghancurkan perasaannya itu berbuat baik lagi padanya.

Hana membuka lipatan kertas itu lagi sehingga kertas itu berbentuk setengah hati.

“Ini bentuk hatimu saat ia mulai merasamu nyaman lagi,” lanjut Hana. Joonmyun masih terdiam. Kemudian, Hana membuka lipatan terakhir sehingga kertas itu membentuk sebuah hati yang utuh.

“Dan ini bentuk hatimu saat ia mengajakmu untuk melanjutkan hubunganmu dengannya yang pernah terputus,” ujar Hana. Bentuk hati itu sudah tidak sempurna lagi. Walaupun bentuknya memang sebuah hati yang utuh, tapi terdapat banyak bekas lipatan di kertas itu.

“Sama seperti bentuk hatimu saat ini. Walaupun hatimu kembali menjadi sebuah hati yang utuh, sampai kapanpun hatimu itu tidak akan pernah kembali seperti semula. Rasa sakitnya pasti akan membekas. Sama seperti kertas ini. Walaupun aku membentuknya menjadi sebuah hati yang utuh, sampai kapanpun kertas ini tidak akan kembali seperti semula, lipatannya pasti akan membekas di kertas ini. Mengerti?”

Joonmyun tercengang begitu mendengar penjelasan dari Hana. Gadis itu memang benar. Walaupun Joonmyun merasa senang, tapi ia tidak akan merasa sesenang dulu. Karena hatinya tidak akan pernah kembali seperti dulu lagi. Rasa sakit itu pasti akan membekas di hatinya. Gadis ini memang hebat.

“Kau hebat, Hwang Hana. Sangat hebat,” Joonmyun terus-terusan melantunkan pujian untuk gadis itu. Gadis terpintar yang pernah ia temui.

Khamsahamnida, Kim Joonmyun,” ujar Hana. Ia tersenyum senang. Ia senang karena Joonmyun menyukai penjelasan darinya barusan—bukan karena Joonmyun sedang memujinya.

+++

Waktu terus berjalan dan hari ini adalah hari terakhir musim semi. Beberapa tumbuhan terlihat mulai sedikit layu dan daunnya berguguran—memisahkan diri dari batangnya.

Joonmyun merasa hari ini adalah hari yang tepat untuk mengutarakan perasaannya pada Hwang Hana—gadis yang mencuri hatinya saat pertama kali bertemu.

Hari ini, Joonmyun mengajak Hana untuk bertemu di halte dan mengajaknya untuk sekedar mengobrol seperti biasa. Setelah cukup banyak mengobrol, Joonmyun mengerahkan seluruh keberaniannya untuk menyatakan perasaannya pada Hana.

“Hwang Hana, boleh aku bicara sesuatu?” tanya Joonmyun. Terdengar sekali bahwa ia merasa sangat gugup. Ekspresi di wajahnya menunjukkan ketegangan. Tangannya bergetar.

“Tentu saja boleh,” jawab Hana singkat. Dan ternyata gadis itu sadar kalau Joonmyun merasa tegang. Keringatnya meleleh di kepalanya dan membasahi sebagian wajahnya. “Kau kenapa? Sakit?”

Joonmyun menggeleng.

“Aku mengawali musim semi dengan luka di hatiku, dan aku ingin memperbaikinya di hari terakhir musim semi ini.”

Joonmyun sedikit terbata-bata, tapi sebisa mungkin ia menutupi kegugupannya. Hana tersenyum cerah. Ia berpikir bahwa Joonmyun ingin menjalin hubungan lagi dengan mantannya itu.

“Kau ingin mengajak mantanmu untuk balikkan?”

Joonmyun menggeleng cepat. Hana menautkan kedua alisnya—bingung. Apa yang sebenarnya ingin dia bicarakan?

Joonmyun membulatkan niatnya untuk menyatakan perasaannya pada Hana. Ia tidak ingin memendam perasaan ini lebih lama lagi.

“Aku sudah menyukaimu sejak awal kita bertemu. Aku bermaksud untuk menutup hariku di musim semi ini dengan menyatakan perasaanku padamu,” jelas Joonmyun dengan jantung yang berdetak sangat cepat. Jantungnya seperti akan copot saat itu juga. “Would you be my girlfriend, Hwang Hana?

Hana terkejut mendengar pernyataan Joonmyun barusan. Sedetik kemudian, raut wajahnya berubah. Ia tersenyum.

“Maaf, Kim Joonmyun,” jawab Hana. Jantung Joonmyun berdesir dengan cepat. Ia seperti disengat listrik ketika Hana berkata maaf. “Aku sudah bertunangan dan aku akan segera menikah saat aku kembali ke China.”

DANG!

Saat itu juga, Joonmyun merasa dirinya seperti disambar petir. Ia tidak menyangka bahwa selama ini gadis itu telah bertunangan dan akan segera menikah. “Jinjjayo?”

Hana tersenyum lagi. Ia memang terlihat lebih cantik saat tersenyum.

“Aku memang masih kuliah, tapi sebelum aku pindah ke sini, aku sudah bertunangan dengan kekasihku. Dan saat aku kembali ke China—tepatnya bulan depan, aku akan menikah dengannya.”

Joonmyun merasa hatinya hancur berkeping-keping dan sepertinya hatinya tidak akan pernah kembali lagi seperti semula. Tuhan, mengapa rasanya sangat sakit?

“Ah, jadi begitu..,” Joonmyun menahan malu. Ia menundukkan wajahnya—tidak berani menatap Hana yang masih tersenyum padanya. Hana tahu apa yang dirasakan oleh Joonmyun.

“Dan aku rasa ini adalah waktu yang tepat untuk berpisah. Zaijian, Kim Joonmyun,” ujar Hana dan memeluk Joonmyun dalam waktu singkat.

Seolah tersambar listrik, tubuh Joonmyun menegang. Ia terkejut saat Hana memeluknya walaupun hanya sebentar. Dan seketika, Joonmyun mengingat arti ‘zaijian’.

Zaijian, Hwang Hana.”

Gadis itu tersenyum dan meninggalkan Joonmyun yang masih terdiam di tempatnya. Ia menjauh hingga akhirnya sosoknya menghilang dari pandangan Joonmyun yang masih menahan rasa sakitnya.

Musim semi kali ini adalah musim semi yang meninggalkan banyak memori untuknya—juga meninggalkan luka yang amat dalam di hatinya.

.::FIN::.

[1] : Maaf
[2] : Selamat tinggal
[3] : Terima kasih
[4] : Sama-sama

KYAHAHAHA APA INIIIIIIIIIII!!!!!!!!!!!! #petirmenggelegar
Omaigotttt, saya menistakan mas Jun TvT *dikemplang Suho* /ampun bang
Fufufu, tadinya happy ending, tapi ntah mengapa terpikirkan oleh saya untuk membuat ending seperti ini-_________- maap ya mas Jun *peluk mas jontor a.k.a mas dio(?) #duar* #sembahsujud
Jadi, gimana? .____. Saya juga bingung dalam pemilihan kata-katanya, jadi maap ya kalo bahasanya banyak yang aneh-.- maaf juga kalo ceritanya fail, kan saya bukan ahlinya ff bergenre romance-.- efek kelamaan vakum dari dunia ff jadi gini nih muahaha
Satu lagi! Maap kalo alurnya terkesan kecepetan._. Lagi males mikir, jadi apa adanya aja deh ya ngahahaha-_- #diterjang

Yang komen didoain kisah cintanya nanti ngga kayak kisah cintanya mas Jun di ff ini deh! :3 *dibakar Suho*

So, wanna komen?

P.S. : maaf kalo ada typo.. Saya hanya manusia biasa T_T

62 responses to “Once Upon A Spring

  1. 2x disakiti dalam 1 musim. Kasian , tapi bagus alurnya. Pesannya juga dapet thor , pas aku lagi galau mslh mantan juga #loh #curhat #plakk

  2. KENAPA NYESEK? Aduh, kasian Joonmyun :’
    Aku suka banget ff ini! Kayak berasa baca novel._. keren keren~ *kasih jempol
    Author kok pandai bgt ngerangkai kata-kata? Jadi iri T-T
    Kutunggu ffmu yang lain dengan main cast Kris ya~~ *eh

  3. Pingback: Recommended FF Suho and Lay | DILAYS·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s