The Angel’s Girl [Prolog]

Judul FF : The Angel’s Girl [Prolog]

Main Cats :

Choi Siwon (Super Junior), Kim Kibum (Super Junior), Jung Ayul (OC), Park Jinyoung (OC)

Genre : Romance

Rating : PG 13

Length: Chaptered

Author : Vienna Annur

~The Angel’s Girl~

-Jung Ayul’s POV-

 “Yul-ah!”
“Oh, Siwon-oppa?” Aku refleks menoleh ke arah suara itu. Dia kekasihku, Choi Siwon. Putra pemilik perusahaan ini, Tuan Choi. Sudah lama aku mengenalnya, sudah sejak waktu kuliah dulu. Sedangkan aku, Jung Ayul, tidak ada yang istimewa dariku. Hanya gadis biasa dengan kehidupan yang sulit. Kecuali, aku adalah lulusan terbaik di Seoul National University pada saat aku lulus (jika kau menganggap itu memang nilai plus untukku). Dia bilang dia sudah menyukaiku sejak pertama bertemu denganku, dan juga di hari pertama kuliah. Itu adalah hal teraneh yang pernah kutahu. Kami baru dekat di akhir tahun kami di universitas. Dia menyatakan cintanya padaku di hari wisuda kami, entah mimpi apa aku di malam sebelumnya. Sebenarnya aku bermaksud menolaknya, tapi dia memaksaku untuk menerimanya. Yah, dia memang selalu begitu. Tapi aku mulai menyukainya sedikit, demi sedikit. Menurutku, dia orang yang sangat baik.

“Yul-ah, ayo kita makan siang!” Ajaknya bersemangat.

“Ah, ne! Oppa, bukankah kau ada meeting dengan pemilik saham baru itu?” Tanyaku sambil membereskan folder-folder pekerjaanku di meja yang masih berantakan.

“Umm, sebenarnya sih ada, tapi sudah kubatalkan.” Jawabnya enteng.

“Wae?? Oppa, apa ada hal penting yang harus kaulakukan? Kenapa kau tiba-tiba membatalkannya?”

“Tentu saja ada, bukankah sekarang aku ada jadwal makan siang denganmu? Itu adalah hal yang sangat penting.”

“Anio, Oppa tidak boleh melakukan hal ini. Cepat hubungi sekretarismu, jangan batalkan jadwal meetingnya. Aku bisa makan siang sendiri.” Kataku tegas.

“Tapi aku tidak mau makan siang jika tidak denganmu.”

“Oppa!”
“Ayolah! Aku sudah terlanjur membatalkannya, jangan kau bahas lagi. Kajja, aku sudah lapar!” Jika sudah seperti ini, beradu mulut dengannya akan percuma. Dengan terpaksa aku mengikutinya, tangannya terlalu kuat menarik lenganku.

-..-

“Yul-ah, aku punya sesuatu untukmu.” Dia meletakkan semacam remote kecil di atas meja makan kami.

“Apa itu, Oppa?”

“Kunci mobil. Kau bisa menyetir kan?”

“Siwon oppa, apa maksudmu?”

“Aku tidak tega melihatmu naik turun bis setiap hari. Bis yang kau tumpangi seringkali sesak, aku takut kau tidak bisa bernapas di dalam sana.”

“Oppa, tentu saja aku masih bisa bernapas. Aku tidak mau menerima ini.”

“Wae? Aku sudah susah-susah memilihkanmu mobil. Pokoknya, kau harus memakainya. Mobilnya kuparkir di parkiran kantor, pulang kerja langsung bisa kau ambil. Oh, ya! Surat-suratnya juga sudah ada di dalam mobil.”

“Oppa!!” Keluhku.

-..-

Setelah pulang kerja, aku langsung turun ke lantai paling bawah, parkiran mobil. Kunci mobil itu masih di tanganku. Terkadang aku tidak bisa mengerti jalan pikiran Siwon-oppa, meskipun aku sudah menjadi pacarnya sejak kami lulus kuliah. Oh, Tuhan! Aku lupa bertanya mobil yang mana yang Oppa maksudkan. Aduh bagaimana ini? Baiklah, aku akan ke ruangan Oppa! Aku sudah melangkah masuk ke dalam lift, tiba-tiba aku mendapat ide lain. Dasar! Bodoh sekali aku? Kenapa tidak aku telepon saja dia? Kukeluarkan handphoneku dari dalam tas. Kutekan panggilan cepat di nomor 2, di sana tertulis Siwon-oppa. Aku berusaha meletakkan handphone di telingaku. Tasku kusampirkan kembali ke bahuku, kunci mobil kuletakkan di tangan kiriku. Kunci mobil! Ya, kunci mobil! Kenapa tidak terpikir sebelumnya?? Bukankah aku tinggal menekan tombol alarmnya?? Babo! Mobil itu meraung-raung setelah kutekan tombol alarmnya. Aku berlari mengikuti bunyi alarm yang kudengar, dan aku berhenti di depan sebuah mobil berwarna putih yang masih mulus dan pastinya baru. Aku berputar-putar mengelilingi mobil itu. Kubaca tulisan di body belakang mobil, di sana tertulis Volvo S80.

“Oppa!” Kataku pelan, rasanya aku tidak bisa mengatakan apapun. Tapi, ada satu hal yang yang ingin aku tanyakan langsung pada Oppa.

“Oppa, berapa harga mobil ini?” Kataku pelan sambil meringis.

-..-

Aku mengendarai mobil ini dengan perasaan getir dan sangat hati-hati, aku takut tidak sengaja menabrak sesuatu dan merusak mobilnya meski hanya meninggalkan 0,5 inchi goresan. Lampu lalu lintas di pertigaan depan menunjukkan warna merah, aku berhenti.
“Lampu merah di sini cukup lama ya.” Kataku pada diri sendiri. Tiba-tiba aku mendengar Pachabel Canon mengalun. Aku meraih tas di kursi di sampingku. Kulirik lampu lalu lintas sekilas, masih merah. Aku masih meneruskan usahaku untuk mencari handphoneku. Ini dia! Tertulis Siwon-Oppa di layarnya.

“Yeobseo, oppa?” Salamku.

Tin! Tin! Tin! Mobil mobil di belakangku meraung-raung, menyuruhku akan cepat-cepat berjalan. Lampu lalu lintasnya sudah berubah dari merah menjadi hijau. Aku segera menginjak gas. Ada seseorang lewat di depanku, tapi aku sama-sekali tidak menyadarinya. Semua berlangsung dengan sangat cepat. Aku mendengar suara benda jatuh. Aku refleks berteriak, dan sepertinya oppa di seberang sana mendengar teriakanku.

“Yul-ah, gwenchana?” Tanya suara yang berasal dari handphoneku.

“Ne, oppa. Aku baik-baik saja.” Kumatikan mesin mobilku, dan langsung keluar dari mobil. Di depan mobilku seorang laki-laki terjatuh dari sepedanya. Dia membawa banyak karangan bunga, dan sekarang sudah rusak dan tercecer ke mana-mana.

“Ahjusshi, gwenchana?” Tanyaku khawatir.

“Ne, ne. Gwenchana.”

“Aduh, sayang sekali bunganya rusak.” Kataku melihat bunga-bunga yang tercecer di mana-mana.

“Yul-ah! Yul-ah!” Suara di handphoneku yang masih kugenggam memanggil-manggil namaku.

“Ne, Oppa!”

“Apa yang terjadi?’

“Aku menabrak seseorang oppa. Mianhe!” Sesalku.

“Kenapa kau harus meminta maaf padaku? Katakan padaku, dimana kau sekarang?” Dia terdengar sangat panik dan khawatir.

Tin! Tin! Mobil-mobil di belakang menyuruhku minggir, sepertinya aku sudah menyebabkan macet.

“Oppa, aku ada di pertigaan kecil tiga blok dari kantor. Sebentar, kututup dulu telponnya.” Kataku cepat-cepat.

“Ahjusshi, apa kau bisa berdiri? Mari, biar kubantu kau.” Kubawa dia ke trotoar. Beberapa orang membantu membawakan sepedanya dan beberapa benda lain yang dia bawa. Setelah itu, aku segera memindahkan mobilku.

“Ahjusshi, kakimu terluka?” Tanyaku lagi.

“Animmida, Agasshi. Aku baik-baik saja.” Katanya. Tapi sepertinya tidak begitu, aku bahkan harus membopongnya tadi.

“Mianhe, aku yang salah. Aku tidak melihat ke depan tadi.”
“Ani, ku juga ceroboh. Menyebrang sembarangan.” Jawabnya, seakan tidak peduli dengan apa yang baru saja terjadi. Dia bahkan tidak memandangku ketika bicara.

“Yul-ah!” Panggil seseorang.

“Siwon-oppa!” Jawabku memanggilnya juga. Dia baru saja keluar dari mobilnya bersama sekretarisnya, Tuan Kim.

“Oh, Kibum-shi?” Kata Oppa, sepertinya dia memanggil seseorang. Lelaki yang kutabrak tadi menoleh ke arah oppa.

“Oppa, kau mengenalnya?” Tanyaku.

“Ne.” Jawabnya sambil mengangguk.

“Siwon-shi?” Seru lelaki bernama Kibum tadi sambil meringis kesakitan.

“Oppa, kakinya terluka. Ayo kita bawa ke rumah sakit.”

“Agasshi, sudah kubilang aku baik-baik saja.” Sanggah lelaki itu.

“Ani, aku akan tetap membawamu ke rumah sakit. Kau pikir kau bisa membohongiku? Padahal kau selalu meringis kesakitan sejak tadi.” Tegasku sambil meraih tangannya, berusaha membopongnya. Entah mengapa oppa tidak bergerak, padahal laki-laki ini berat sekali.

“Oppa, bantu aku!” Pintaku.

-..-

“Oppa, bagaimana kau bisa mengenal laki-laki itu?” Kami berada di ruang tunggu rumah sakit, menunggu hasil pemriksaan Kibum-shi. Tadi oppa meminta untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Kibum-shi, takut-takut jika ada luka dalam yang tidak terlihat.

“Siapa? Kibum-shi?” Oppa malah bertanya lagi padaku, sepertinya dia melamun.

“Ne, Kibum-shi.”

“Oh, dia bekerja pada seorang florist. Kau tahu bunga yang biasanya kuberikan padamu?”

“Mawar putih!” Potongku.

“Ya, mawar putih. Aku membelinya di toko bunga tempat Kibum-shi bekerja, dia sering membantuku memilihkan bunga untukmu Tokonya dekat dengan tempat kau menabraknya tadi, tinggal belok ke kiri dan berjalan sekitar lima pulih meter.”

“Oh, begitu.” Oppa tersenyum dan menepuk puncak kepalaku.

“Apa dia akan baik-baik saja?” Tanyaku khawatir.

“Dia pasti baik-baik saja. Percayalah padaku!” Katanya. Salah satu tangannya melingkar memeluk pundakku sambil memberikan senyum terbaiknya, dan itu cukup membuatku tenang.

“Oppa, sebelumnya maafkan aku. Aku harus merepotkanmu lagi.”

“Hei, berhentilah bersikap seperti itu padaku. Aku ini kekasihmu, kau sama sekali tidak merepotkanku.”

“Oppa, nanti akan kuganti biaya rumah sakitnya.”

“Ssst! Jangan kau pikirkan masalah itu.”

“Siwon-sshi!” Panggil sorang suster.

“Ne! Yul-ah kau tunggu di sini.”

“Baiklah.”

Aku menunggu oppa selama beberapa menit, memeperhatikan orang-orang yang juga sedang duduk di kursi putih berjejer panjang sepanjang ruangan ini.

“Hai!” Sapa seseorang, membuyarkan lamunanku.

“Oh, hai! Kibum-shi? Apa kau sudah baikan? Jawabku terkejut. Aku melihat kaki kanannya yang dibelit perban, tangan kanannya memegangi kruk yang digunakannya sebagai tumpuan untuk berjalan.  Dia berjalan mendekat, sepertinya dia ingin duduk. Aku segera berdiri, berniat membantu.

“Apa kau perlu bantuan?” Aku sudah berada di sampingnya, memegangi lengannya yang bebas, berniat membantu.

“Ah, sudah! Aku baik-baik saja.” Dia tersenyum.

“Sekali lagi aku minta maaf, aku memang ceroboh.” Aku membungkukkan badanku tanda menyesal.

“Aku kan sudah bilang tidak apa-apa. Sudah terlanjur terjadi, kan?” Katanya tenang sambil tersenyum, tapi entah mengapa aku malah merasa tambah menyesal.

“Kau ini memang murah senyum atau memang luka di kakimu itu tidak sakit?”

“Hah? Maksudmu?”

“Dengan keadaanmu seperti ini kau bisa begitu tenang dan sedikit-sedikit tersenyum.” Entah kenapa tiba-tiba aku bicara seperti itu, tapi kenapa dia malah tertawa?

“Ya! Kenapa kau tertawa?”

“Kalau dibilang tidak sakit, berarti aku berbohong. Tapi kau tidak perlu khawatir! Dokter bilang hanya retak kecil, nanti juga sembuh.”

“Kau sudah berbohong sejak tadi! Memangnya siapa yang terus bilang tidak apa-apa?” Omelku.

“Maaf, aku hanya tidak ingin merepotkan.” Dia tersenyum, lagi.

“Itu kan sudah kewajibanku. Tapi, apa sembuhnya lama?”

“Kau bertanya seperti anak kecil! Mungkin perlu waktu beberapa minggu, atau paling lama beberapa bulan. Yang penting, kau sungguh tidak perlu khawatir. Nanti pasti sembuh.” Dia menjawab pertanyaanku sambil tertawa.

“Jinjja?”

“Ne.”

“Lalu bagaimana dengan karangan bunga-bunga itu?”

“Bunga?”

“Ne, karangan bunga yang kau bawa tadi. Sayang sekali bukan? Bunga yang cantik, tapi harus terbuang begitu saja. Apa itu pesanan orang lain?”

“Iya.” Jawabnya pendek.

“Mianhe.” Aku membungkukkan badanku lagi.

“Sudah terlanjur terjadi kan? Biarkan saja.” Aku cuma bisa menyesali perbuatanku sambil menundukkan kepalaku.

“Yul-ah! Ayo, biar kuantar kau pulang!” Aku mendengar suara Siwon-oppa mendekat.

“Lalu bagaimana dengan Kibum-shi, oppa?”

“Aku kan sudah bilang, kau tidak perlu khawatir.” Sela Kibum-shi.

“Kibum-shi harus menginap di rumah sakit. Dokter dan perawat akan menjaganya di sini. Aku juga sudah menyuruh Tuan Kim membawa pulang mobilku. Akan kuantar kau pulang dengan mobilmu. Ayo, kau butuh istirahat!.” Ajaknya.

“Ne, oppa! Kibum-shi, sampai jumpa lagi! Mianhe!” Aku mengucapkan selamat tinggal padanya.

“Sampai jumpa lagi, Kibum-shi!” Sapa oppa.

-..-

Choi Siwon’s POV

Aku sedang berkonsentrasi mengemudikan mobil kekasihku yang duduk di sampingku sekarang. Dia terlihat diam, seperti biasanya. Tapi, apa yang kulihat tadi, kejadian di trotoar jalan dan di ruang tunggu rumah sakit sangat berbeda dengannya saat ini. Aku merasa agak risih melihat Yul dengan Kibum. Pasalnya, Yul sangat sulit bersosialisasi dengan orang baru. Aku tidak pernah melihatnya bicara begitu banyak dan sangat berani menghadapi orang asing seperti Kibum. Tadinya aku panik setengah mati saat mendengar dia berteriak di telepon, aku sangat takut terjadi sesuatu padanya karena dia memang seringkali bertindak ceroboh. Untung saja tidak apa-apa, orang lain lah yang malah apa-apa. Aku melirik ke arahnya lagi, tatapannya menerawang ke luar kaca jendela mobil di depan, seperti sedang memikirkan sesuatu. Sesaat kemuadian, dia mulai membongkar isi tasnya, mencari sesuatu.

“Ada apa?” Tanyaku.

“Hanya mencari karet rambut, oppa.” Jawabnya. Ditariknya rambut panjangnya ke belakang, lalu diikat menjadi satu. Beberapa helai rambutnya jatuh ke depan wajahnya, menutupi matanya. Salah satu tanganku kulepas dari dari kemudi, dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.

“Gumawo, Oppa!” Aku hanya menjawabnya dengan tersenyum. Aku senang melakukannya. Dia memang sering mengikat rambutnya sembarangan, dan sudah kebiasaanku untuk merapikannya.

“Oh iya, Oppa! Apa suster tadi memberitahumu apa yang terjadi pada Kibum-shi?” Tanyanya. Baru saja aku memikirkannya, sekarang dia sudah bertanya tentang Kibum-shi. Sebenarnya ini hanya perasaanku saja atau memang ada yang sesuatu yang berbeda pada Yul kali ini.?

“Suster bilang, dia mengalami patah tulang ringan di tungkai kanannya.”

“Dasar, dia memang pembohong!”

“Apa maksudmu, Yul-ah?”

“Kibum-shi! Dia bilang hanya retak kecil di kakinya, nyatanya patah tulang.”

“Mungkin dia tidak ingin membuatmu khawatir.”

“Bohong tetaplah bohong, Oppa.”

“Yang penting kan sekarang kau sudah tahu.” Jawabku, berusaha mengakhiri topic pembicaraan ini.

“Menyebalkan!” Keluhnya. Kutepuk-tepuk puncak kepalanya, seperti biasanya itu berhasil membuatnya tenang.

Aku tinggal berbelok untuk sampai ke apartemen kecilnya. Sekitar sepuluh meter dari belokan, kami sudah sampai. Mobilnya kuparkir di depan apartemennya. Aku ikut masuk ke partemennya, memastikan dia sampai dengan aman.

“Oppa, kau mau mampir?” Tanyanya.

“Baiklah, sebentar saja.”

“Oppa, kau mau minum apa?” Dia bertanya lagi dari dalam dapur. Apartemennya tidak terlalu luas. Ruang tamu kecil dan mininmalis, satu kamar, satu kamar mandi, dan sebuah dapur sempit.

“Terserah padamu saja, yang penting tidak menyusahkanmu.”

“Tentu saja tidak, Oppa!” Dia mengatakannya sambil mengeluarkan kepalanya sedikit dari dapur dengan tersenyum.

Beberapa menit kemudian, dia sudah keluar dari dapur dengan dua cangkir yang mengeluarkan kepulan asap panas.

“Oppa, ini teh untukmu.”

“Gumawo, Yul-ah!”

“Oppa, aku tidak ingin naik mobil itu lagi.”

“Waeyo, Yul-ah?”

“Oppa, aku baru saja menabrak seseorang! Aku juga melihat ada goresan di bagian depan mobil. Baru sehari aku menggunakannya, aku sudah merusaknya. Kau membelinya dengan uangmu, dan aku yakin pasti harganya mahal. Aku merasa tidak enak padamu.”

“Kenapa kau harus merasa begitu? Mobil itu tidak terlalu mahal, harganya masih standar.”

“Oppa, standar bagimu berarti terlampau mahal bagiku.”

“Yul-ah, aku ingin sekali kau menggunakannya. Aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk mencari mobil untukmu. Kau pasti langsung menolak kalau aku beli yang mahal, jadi aku membeli Volvo itu untukmu. Kupikir akan cukup nyaman untukmu. Lagi pula kau juga tidak memintanya, akulah yang memberikannya padamu. Yul-ah, terimalah pemberianku yang ini. Kau tidak pernah mau menerima pemberianku.” Aku memegang kedua lengannya erat-erat ketika mengatakannya, berusaha meyakinkannya.

“Oppa, aku sudah menerima cincin yang kau berikan ini.” Sanggahnya sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.

“Yul-ah, benda itu sudah kuberikan sejak pertama ku mau menjadi kekasihku.”

“Tapi, oppa!”

“Dengarkan! Aku akan membawa mobilmu malam ini. Akan kubawa ke bengkel, dan memperbaiki goresannya. Besok Sabtu kan? Aku akan membawanya kembali besok sore, dan kita juga akan pergi kencan. Malam ini, aku ingin kau istirahat baik-baik, aku tahu kau lelah.” Aku meminum teh buatannya, lalu mencium keningnya sekilas, dan keluar dari apartemennya.

Belum terlalu jauh aku keluar dari apartemennya, aku mendengar suara langkah yang terburu-buru.

“Oppa, hati-hati!” Teriaknya. Aku tersenyum, tingkah lakunya yang berubah-ubah membuatku selalu jatuh cinta padanya.

“Ne, araseo! Aku mencintaimu.” Kataku, tersenyum sambil melambaikan tanganku padanya.

“Aku juga mencintaimu.” Aku melihat wajahnya memerah sambil mengatakan kata-kata itu. Aku meneruskan langkahku, masuk ke dalam mobil, dan mulai mengemudi. Dan sekarang, aku harus mencari bengkel yang bisa memperbaiki mobil ini dengan cepat. Aku harus siap untuk kencanku besok.

-To be Continued-

Hai hai Readers author balik lagi nih ^^ kali ini author bawain ff-nya temen author hehehehe 😀 *plak

Oke deh jangan lupa like n komen-nya yahh ^^

Advertisements

4 responses to “The Angel’s Girl [Prolog]

  1. Daebak cingu, pnasaran nih sm lnjutanx, cpetan ya lanjutanx jgn lama2. . .
    nice ff, keep writing n fighting ! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s