[Another Piece of Me] – Strange Shadow

[Another Piece of Me] – Strange Shadow

Title: Strange Shadow

 

Author: kikiyeonniee

 

Cast:

Kim Ji Woong (Taeyeon’s Brother)

Girls’ Generation Kim Tae Yeon

 

Other Cast:

EXO-M Xi Luhan

Super Junior Kangin Kim

Miss A Wang Fei Fei

F(x) Choi Sulli

 

Genre: Mystery, thriller, dark

 

Rating: PG-16+

 

Length: oneshot (universe)

 

Disclaimer: Inspirated by Monster (Urasawa Naoki). But all is mine, except the casts. Don’t be a plagiator 🙂

 

NB: lihat rating? Saia naikin karena disini banyak adegan pembunuhan. Disini WAJIB perhatikan tanggal. Siap-siap konsentrasi karena tanggalnya loncat-koncat. 🙂

 

Read 1st

Another Piece of Me

[Another Piece of Me] – Unhoped Birth

[Another Piece of Me] – Fallen Petals

[Another Piece of Me] – Found You

Another Piece of Me – 2

[Another Piece of Me] – A Born To Revenge

***

~It is impossible to suffer without making someone pay for it~

***

-August 1st 1994. Seoul, South Korea-

 

Wanita renta itu tengah menyaksikan satu garis cakrawala yang mulai menelan bulatan mentari secara perlahan. Membuatnya memuntahkan semburat peach yang menawan. Ditangan keriputnya, bergerak satu jarum berbenang yang keluar masuk membelit kain.

 

Dengan manik matanya yang berada diantara kelopak tuanya, wanita itu tengah asyik memperhatikan hal lain selain ongokan kain di genggamannya. Namun, ia pula memperhatikan dua anak kecil berwajah serupa tengah bermain di depan pagar rumah mungilnya. Otaknya yang usang sama sekali tidak pernah mengingat bahwa ia memiliki tetangga dua orang anak kecil, namja dan yeoja yang kembar. Atau mungkin karena intensitas keluar rumah nenek tersebut terbilang sangat langka.

 

Si kembar namja mengarahkan telunjuknya ke arah rumah sang nenek. Tepat dimana nenek tersebut duduk. Si kembar yeoja mengikuti arah telunjuk kembarannya. Seketika itu pula mereka berdua menatap nenek itu. Dengan wajah yang sama mereka tersenyum. Namun meninggalkan kesan yang berbeda. Si kembar namja ada di utara tidak terlalu mengembangkan senyumnya secara kentara, justru menyipitkan matanya. Berusaha membentuknya seolah tengah tersenyum. Sedang yang berada di selatan -si yeoja-, menarik kedua sudut bibirnya secara simetris. Membentuk senyum yang begitu tulus lewat bibirnya.

 

Mendapati si kembar itu tengah melempar senyum padanya, sang nenek membalasnya dengan anggukan ramah dan tidak ketinggalan untuk membalas senyum mereka.

 

[DSSSTT]

 

Satu peluru yang diluncurkan melalui baretta berperedam berhasil menembus kepala sang nenek. Kepala nenek itu merosot dan terkulai tidak wajar. Darah segar mulai merembes dengan lancar berkelok di wajah keriputnya. Satu hal yang ditujukan kepada si kembar masih tertinggal di wajahnya yang mulai ironis. Senyum itu… Masih belum luntur.

 

 

Si kembar namja menarik kembarannya ke dalam dekapannya. Berinisiatif menjaga pandangan adiknya dari pemandangan mengerikan di beranda pondok si nenek.

 

Merasa bingung dengan perlakuan kakak kembarnya, sang adik menegurnya. “Waeguraeyo, Oppa?”

 

“Aniyo.” jawab sang kakak dengan suara berusaha tenang.

 

Mata sipit sang kakak menyelidik mangamati setiap sudut kompleks perumahan yang senyap tersebut. Dan akhirnya mendapati apa yang ia cari. Atau lebih tepatnya siapa. Seorang dengan coat hitam berada di ujung jalan. Dibalik rumah dengan dinding berbata merah. Tengah membenahi baretta yang baru saja ia pergunakan untuk melubangi kepala si nenek.

 

“Mom…” desah sang kakak gusar.

 

“Huh? Mom? Dia ada disini?” cecar adiknya bertubi.

 

Tanpa merasa perlu menjawab pertanyaan bodoh adiknya, sang kakak mendesis kesal lantas menarik pergelangan tangan si adik. Tetap manjaga si adik supaya tidak mengalihkan pandangannya pada mayat nenek.

 

Name: Kim Shin Yeong

Birth: May 5th

Position: Organization’s servant

Status: DEAD

 

***

 

-March 3rd 2009. School of Performing Art. Seoul, South Korea-

 

Seorang namja. Ber-name tag Xi Luhan. Seseorang yang merupakan siswa paling berpengaruh di sekolah menengah populer itu. Jabatan sebagai ketua sebuah organisasi sekolah, praktis membuatnya menghabiskan lebih dari setengah harinya di sekolah. Selayak kali ini, ia harus membuat proposal yang harus ia selesaikan sore itu juga. Namun tanpa ia duga, ia harus memakan waktu lebih lama dari perkiraannya.

 

Sekali lagi Luhan memperhatikan arlojinya. Pukul 21.00. Dan nyaris tiada lagi seseorang ada di koridor yang tengah ia lewati. Sejatinya ia bukanlah seseorang penakut seperti yang terlihat. Hanya saja ia merasa sedikit was-was. Dengan perasaan ‘diikuti seseorang’ yang terus menghantuinya.

 

Saat Luhan berjalan. Ia merasa seseorang berjalan perlahan dibelakangnya. Namun saat Luhan menoleh untuk memastikan. Hasilnya nihil.

 

Sekali lagi. Seusai Luhan menolehkan kepalanya ke balik punggungnya. Ia mendapatkan hal yang sama dengan sebelumnya. Sebuah koridor kosong tanpa seseorang atau sesuatu yang dinilai bisa membuntutinya. Luhan bergidik. Kali ini ia memutuskan untuk berlari dari sana. Namun sebuah deheman rendah berhasil menahannya sementara.

 

“Xi Luhan. 17 tahun. Putra dari pasangan karyawan tetap sebuah perusahaan. Putra kedua dari dua bersaudara. Memiliki kakak laki-laki bernama Xiumin.” sebuah suara dengan pemilik seorang bermantel tebal dan bertopi. Yang kali ini menampakkan dirinya dibalik kegelapan malam. Suaranya begitu rendah namun Luhan masih dapat menangkapnya dengan telinga.

 

Luhan berdiri terpaku tanpa bisa berucap satu patah katapun. Jujur saja kali ini ia merasa takut. Dengan koridor yang gelap. Sekaligus dengan manusia di depannya yang tidak bisa didefinisikan bentuknya. Terlalu sibuk memikirkan ketakutannya, Luhan sama sekali tidak mampu memproses apa yang dikatakan orang tersebut.

 

“Diam berarti ya atau tidak?” gumam orang tersebut lagi.

 

Luhan terperanjat. Kali ini ia berusaha mengingat apa kalimat yang sebelumnya dilontarkan manusia berjaket itu. Eung tentang latar belakangnya? Tanpa sadar Luhan mengangguk.

 

“Xiumin. Meninggal pada tanggal 6 Agustus 2008 di jalan Apgeujong. Karena kecelakaan.” suara tersebut kembali berdengung menjelaskan sesuatu. Seolah berusaha membuka pikiran Luhan mengenai kilas balik yang kelam dimasa lampau.

 

Raut Luhan begitu mendung. Meski ia tidak dapat dengan begitu saja menyembunyikan mimik terkejutnya.

 

“B… Bagaimana kau tahu?” balas Luhan tersendat.

 

Orang itu mendengus melecehkan sebelum pada akhirnya ia berkata, “Apa kau tahu apa pekerjaannya dimasa lalu?” sama sekali mengabaikan pertanyaan Luhan.

 

Luhan menggeleng dengan polosnya.

 

“Membunuh.” desis orang itu mengerikan, “… bekerja pada sebuah organisasi hitam dan bekerja menjadi pengawal yang bertugas sebagai eksekutor.”

 

Luhan semakin membuat wajahnya sendiri abstrak. Matanya mulai berkaca. Sebuah hal yang haram dilakukan laki-laki.

 

“Mustahil.” bisiknya nyaris tak bersuara.

 

Orang tersebut mengendikkan bahunya acuh. Tanpa berniat menaruh simpati pada namja di hapadannya.

 

“Hutang adalah hutang. Hutang harus dibayar. Sayang sekali dia bisa lolos dari pesta itu. Maka kini dia harus membayar nyawa yang ia habisi di masa lalu.” orang itu menghela nafas kecil sebelum melanjutkan, “… sayang sekali dia tidak mati ditanganku.”

 

Dengan satu gerakan yang amat cepat, manusia bertopi itu mengambil sebuah benda dari saku mantelnya. Sebuah benda hitam yang nyaris Luhan kenali bentuknya.

 

.

 

.

 

.

 

Hand-gun.

 

Dengan ujungnya yang mengarah tepat di kepala Luhan. Luhan sama sekali tidak dapat mengeluarkan suara untuk meminta tolong. Maupun memiliki cukup nyali untuk lari dari sana. Ia hanya berdiri cukup statis. Seolah ia sendiri sadar sepenuhnya bahwa ajalnya beberapa detik lagi akan menghampiri.

 

“Karena Xiumin tidak bisa membayarnya. Maka kau yang harus membayarnya…”

 

[DOR!]

 

 

Name: Xi Luhan

Birth: April 20th

Position: Xiumin’s Brother

Status: DEAD

 

 

Sosok itu berjalan tenang menuju sebuah pos kecil disamping gerbang utama. Dibalik kaca pos tersebut, terlihat seorang namja paruh baya yang apabila kita tilik sekilas maka langsung bisa diidentifikasikan sebagai petugas keamanan sekolah. Petugas keamanan tersebut tergolek dengan nafas teratur di kursinya.

 

Sosok hitam tersebut membuka mantel berisi hand gun-nya. Dimasukkannya dua benda tersebut pada sebuah kardus coklat yang sudah ia persiapkan. Seusai itu, ia mendorong kardus tersebut masuk ke dalam kolong meja. Orang tersebut mengambil sarung tangan dari saku celananya. Dengan cekatan ia mengenakannya di kedua belah tangannya. Orang tersebut mengambil gelas kertas yang semula berisi kopi milik petugas tersebut. Diremasnya gelas tersebut dan ia masukan ke dalam saku celananya.

 

“Obat bius ini akan bekerja hingga beberapa jam lagi. Jadi bersabarlah.” gumamnya seolah bermonolog. Mengingat petugas itu sama sekali tidak membuka matanya sedikitpun. Dan terlihat tidak terganggu oleh gumaman rendah tersebut.

 

***

 

-April 5th 2009. Outside a Gym, Myeongdong Street. Seoul, South Korea-

 

“Kangin-ssi!”

 

Sesosok namja berkulit putih dan bermata sipit memicing tatkala mendengar seruan namanya. Namja dengan tubuh atletis yang dibalut kaus hitam tanpa lengan tersebut mengerling ke arah pintu yang semula ada di balik punggungnya. Tempat dimana seorang yeoja bersurai menyerupai jerami berteriak menyerukan namanya. Kangin melempar seulas senyum pada gadis pendek tersebut.

 

“Hati-hati di jalan!” lanjut yeoja rambut jerami tersebut sebelum pada akhirnya menghilang di balik pintu mobilnya.

 

Kangin semakin melebarkan senyum manisnya lantas mengacungkan ibu jarinya ke udara. Ke arah mobil yeoja yang merupakan rekan kerjanya di Gym tersohor itu. SUV milik gadis tersebut perlahan melaju lambat melewati Kangin dan semakin lama semakin menjauh hingga tak terjangkau oleh pandangan mata Kangin.

 

Kangin terkesiap seusai mobil itu menghilang. Tersadar bahwa betapa senyapnya jalanan pada masa itu. Kangin melirik arlojinya sekejap. Hampir lewat tengah malam. Ia tak mengerti mengapa shift malam yang biasanya usai pada pagi hari kini menjadi selesai pada tengah malam. Membuat dirinya yang mobilnya tengah diperbaiki harus berjalan dalam hening menuju rumahnya. Memang, mungkin saja bus angkutan umum pada malam itu masih beroperasi. Namun sialnya, halte bus berada di tempat yang lebih jauh dari flat-nya sendiri.

 

“Ya! Kau yang ada di sana!” sebuah suara berat menggema di udara hampa disekitar Kangin. Mengusiknya. Jelas saja mengusiknya. Mengingat Kangin adalah satu-satunya manusia yang ada di sana. Jadi kemungkinan besar suara berat itu memanggilnya.

 

[DOR!]

 

Kangin baru saja menghentikan langkahnya dan bersiap untuk berbalik. Namun tiba-tiba saja sebuah peluru dari barreta berhasil menembus pinggangnya. Membuat Kangin terpuruk di atas permukaan trotoar yang kasar. Ia mengerang kesakitan seraya bertumpu pada lututnya. Pandangan Kangin mulai mengabur saat ia mencoba untuk mendongkak dan melihat siapa yang mendekat padanya.

 

“Kim Youngwon. Nama yang bagus. Kenapa harus kau ubah?” suara bass itu kembali bergema di telinga Kangin. Kangin menggelengkan kepalanya keras. Berusaha menghilangkan kabut tipis yang menyelubungi pandangannya.

 

“Aah~ araseo. Kau pasti melakukan sesuatu yang salah di masa lalu. Iya kan?” tanya orang tersebut.

 

Sekali lagi. Kangin berusaha mendongkak. Namun naas pemandangan yang ada di hadapannya adalah lubang barreta yang siap memuntahkan peluru kapan saja. Kangin melirik sekilas pada seorang yang mengacungkan barreta padanya. Orang tersebut tersenyum tipis sebelum…

 

[DOR!]

 

Menarik pelatuk barreta-nya.

 

Name: Kim Youngwon (Kangin)

Birth:

Position: Organization’s Guard

Status: DEAD

 

***

 

-May 26th 2009. At an kindergarten. Seoul, South Korea-

 

Dari pintu ganda sebuah TK di ujung jalan itu. Keluarlah berpuluh-puluh namja dan yeoja cilik yang berlarian dari sana. Menyandang tas di masing-masing punggung mereka, bersiap untuk pulang. Dan di ujung barisan anak-anak tersebut, berjalan seorang wanita tinggi berkulit kecoklatan yang tengah menatap anak-anak itu seraya tersenyum bahagia.

 

“Annyeonghi gyeseyo. Fei sonsaengnim.” gadis terakhir yang merupakan murid terakhir yang ada di situ membungkuk kecil sebelum melambai pada Fei. Fei membalas lambaian tangan mungil itu sebelum gadis itu pada akhirnya menghilang di pertigaan.

 

Sebelumnya, Fei berniat untuk berbalik. Namun sesuatu yang tertangkap oleh pencitraannya membuat Fei urung untuk berbalik masuk ke dalam kelas. Seseorang. Mengenakan hoodie hitam dan duduk di sudut beranda bangunan TK tersebut. Fei menelengkan kepalanya. Siapakah gerangan orang itu? Apa yang ia lakukan disini? Itulah dua pertanyaan besar yang ada di benak Fei.

 

Tanpa ia sadari, kedua kakinya mulai melanngkah ke arah orang misterius tersebut. Alisnya berkerut-kerut tentang siapa orang itu.

 

“Maaf?” sapa Fei. “… semua siswa sudah pulang. Apa ada yang anda cari atau yang bisa saya bantu?”

 

Orang tersebut mendongkak. Sekilas melemparkan senyum kecil pada Fei. Fei terperanjat. Begitu familiar dengan senyum itu. Namun ia berusaha keras untuk menyamarkan ekspresi terkejutnya.

 

“Ya, saya mencari Wang Fei Fei.” jawab orang tersebut tenang.

 

Fei semakin tidak dapat mengatasi keterkejutannya. Ia menelengkan kepalanya heran.

 

“Anda mencari saya?” tanya Fei untuk kedua kalinya.

 

Kembali. Orang tersebut tersenyum penuh misteri. Namun sejatinya semua tindakannya membuat Fei langsung mengkategorikannya sebagai misteri.

 

Orang tersebut berdeham sebelum berujar, “Beberapa tahun silam. Dimana seorang abdi muda dari seorang dokter kabur dari pesta perjamuan yang kelam. Hidup dalam pelarian yang penuh dengan ketakutan.” gumamnya.

 

Fei menahan nafasnya yang entah bagaimana terasa sangat berat baginya masa itu. Potongan-potongan kecil mengenai gambaran masa lalunya mulai berkelebat ringan menyusup ke otaknya. Mengobrak-abrik kenangan pahit di masa lampaunya membuat dada Fei terasa menyempit. Bahkan membuatnya sukar kembali memfokuskan pada orang yang ia ajak bicara sebelumnya.

 

“Karena itulah aku disini. Menemui pelayan bernama Wang Fei Fei yang kabur dari masa lalunya hingga sekarang.” orang itu bangkit dan mengarahkan tangan kanannya pada Fei. Yang kala itu masih belum dapat mengkondisikan wajahnya dengan benar.

 

“M… mwo?” sendat Fei.

 

Orang itu tersenyum miring, “Wang Fei Fei. Bukankah itu kau?”

 

Fei berusaha menahan setiap getaran pada tubuhnya yang semakin lama semakin kentara. Menatap benda yang Fei sangat kenali. Namun enggan untuk ia kenali lagi. Hand-gun.

 

“Neo… Nuguya?” tanya Fei dengan nada getir.

 

Orang tersebut menaikkan sebelah alisnya sebelum bertanya, “Nan? Aku?”

 

Fei mengangguk kecil.

 

Ia tersenyum samar. Melakukan satu hal lagi yang membuat sosoknya semakin misterius. “Aku hanyalah salah satu dari anak kembar yang merasa tidak diindahkan oleh siapapun.”

 

Bahkan sebelum Fei semakin melebarkan matanya karena terkejut. Hand-gun itu sudah meletus.

 

[DOR!]

 

Memuntahkan pelurunya ke arah kepala Wang Fei Fei.

 

 

Name: Wang Fei Fei

Birth: April 27th

Position: Organization’s guard

Status: DEAD

 

 

***

 

-September 7th 2010. Seoul Police Office. Seoul, South Korea-

 

Seorang detektif dari Kepolisian Seoul. Bertubuh tinggi. Dengan wajah berminyak dimakan masa. Tengah berada dalam ruang introgasi. Tidak ada rekan yang menemaninya pada shift itu. Rekannya, Choi Siwon tengah ada di Rumah Sakit Seoul karena itu bekerja disana saat itu. Satu-satunya makhluk lain yang berada di ruang yang sama adalah seorang gadis manis. Duduk tepat di depan bangku yang diduduki oleh detektif itu. Wajah gadis itu nampak pias. Seolah sesuatu telah berhasil membuat dirinya begitu terguncang. Matanya yang bulat nampak kemerahan. Siapapun yang melihat sosok gadis itu pasti dapat menebak bahwa gadis itu telah menangis dalam waktu yang lama.

 

“Jadi… Choi Sulli?” ujar detektif tersebut membuka percakapan.

 

Gadis itu -Sulli- terkesiap. Bangkit kembali ke dunia nyata setelah sebelumnya berkelana ke dunianya sendiri. Dunia yang tidak terjamah oleh orang lain.

 

“N… nde?” sahut Sulli dengan bibir bergetar. Suaranya parau.

 

Detektif itu jelas menatapnya dengan parasaan simpatik yang luar biasa. “Maafkan kami sebelumnya, namun bisakah anda jelaskan bagaimana kronologis ceritanya hingga pada akhirnya anda menemukan ayah anda meninggal di dekat perapian rumah anda?”

 

Sulli membuka sedikit bibirnya. Namun tiada jua kata meluncur dari sana. Matanya bergerak kesana-kemari. Gelisah.

 

“A… aku. Aku tidak… tau.” balas Sulli penuh dengan keraguan.

 

Detektif itu menatap Sulli penuh dengan kesabaran. Menunggu jawaban Sulli selanjutnya.

 

Lanjutnya, “… aku tidak ingat. Semuanya terjadi begitu saja. Dan appa ada di sana… dia…”

 

Sulli tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Lidahnya tercekat. Otaknya kembali berputar dengan keras. Dan otaknya menemukan kepingan gambar kelam dimana saat ia menemukan ayahnya tanpa nafas di rumahnya. Sulli menatap nanar detektif di depannya. Air matanya kembali mengalir dengan lembut di dua sisi wajahnya.

 

“Well… nampaknya tidak bijaksana memintamu bercerita di keadaan yang sedemikian rupa.” ungkap detektif itu diakhiri dengan deheman.

 

“Dan mungkin ini saatnya aku yang harus bercerita. Kuharap kau adalah pendengar yang baik.” lanjutnya.

 

Sulli hanya mengangguk kecil bahkan detektif itu tidak yakin jika Sulli benar-benar mengangguk.

 

“Apa kau tahu, jika saat ibumu mengandungmu. Ayahmu memimpin sebuah… organisasi?”

 

Kali ini Sulli menggeleng kecil.

 

“Dengan kecerdasan otak Ayahmu. Dia berhasil melakukan percobaan luar biasa dengan tangannya. Bahkan ia berhasil merangkul pemerintahan Korea Selatan pada masa itu untuk membiayai percobaannya…”

 

“A… aku tidak tahu jika Appa sebelumnya adalah ilmuan.” potong Sulli.

 

Detektif itu menaikkan satu alisnya. Merasa terganggu karena Sulli memotong pembicaraannya sakaligus karena heran dengan pernyataan Sulli.

 

“Mungkin karena itu sudah terjadi dulu sekali.” jawab detektif tersebut ringan. “… dan, percobaanya itu ditentang oleh salah satu pihak. Yang merasa sangat dirugikan karena percobaan ini. Pihak yang merasa dirugikan itu masih hidup. Masih ada di permukaan bumi ini dengan segala perasaan balas dendam yang kuat.”

 

Mata sembap Sulli mulai menampakkan binar ketertarikan dengan cerita sang detektif. “Jadi… mungkinkah Appa…?”

 

“Yep. Dibunuh oleh pihak tersebut. Dan satu pertanyaan lagi untukmu. Apa kau tahu, jika nama ‘Tuan Choi Jungnam’ adalah nama lain?” tanya detektif itu.

 

“Maksud anda?”

 

“Ya, maksudnya Choi Jungnam adalah nama baru untuk nama lamanya yang kelam. Namanya yang sudah lama ditinggalkan namun tidak bisa dilupakan adalah… ”

 

Detektif itu berdeham sebelum melanjutkan.

 

“Kris Wu.”

 

 

Name: Kris Wu / Wu Yi Fan / Choi Jungnam

Birth: November 6th

Position: Organization’s master and scientist

Status: DEAD

 

 

***

END of Strange Shadow

***

 

annyeong yeorobeun~ ^^/

maaf buat keterlambatannya yak? Hikseu 😥

sibuk sekolah, kadang nggak mood nulis.

 

gimana? Gimana? Ada titik terang-kah? Ato makin nggak ngerti? O.O

maaf kalo bingungin >/\<

please gimme a respond. Comment or like? Monggo monggo~ xD

26 responses to “[Another Piece of Me] – Strange Shadow

  1. Ckckck permainan takdir emang gªκ̣̇ bisa ditebak ya (keren authornya ч̲̮̲̅͡ğ buat cerita).. Choi jungnam itu rupanya kris n dia malah adopsi ciptaannya sndiri,hah sjata mkan tuan..
    Itu ч̲̮̲̅͡ğ bunuh luhan,kangin n fei jiwoong ya? Dia jg ikut bantu momnya balas dendam ya?
    Trus ч̲̮̲̅͡ğ bunuh kris itu jgn2 sica ya? Ato taeyeon?
    Lanjut ke next chap ^^

  2. Astaga. Bener2 nggak nyangka kalo bapakx sulli ntu kris. Ckckck berarti selama ini jiwoong diasuh kris? Bener2 nggak nyangka banget. Tak terduga. Bener2 ngeri pas jiwoong ngebunuh mereka satu persatu. Semakin menarikAstaga. Bener2 nggak nyangka kalo bapakx sulli ntu kris. Ckckck berarti selama ini jiwoong diasuh kris? Bener2 nggak nyangka banget. Tak terduga. Bener2 ngeri pas jiwoong ngebunuh mereka satu persatu. Semakin menarikAstaga. Bener2 nggak nyangka kalo bapakx sulli ntu kris. Ckckck berarti selama ini jiwoong diasuh kris? Bener2 nggak nyangka banget. Tak terduga. Bener2 ngeri pas jiwoong ngebunuh mereka satu persatu. Semakin menarikAstaga. Bener2 nggak nyangka kalo bapakx sulli ntu kris. Ckckck berarti selama ini jiwoong diasuh kris? Bener2 nggak nyangka banget. Tak terduga. Bener2 ngeri pas jiwoong ngebunuh mereka satu persatu. Semakin menarik nih ff.

  3. Pingback: Another Piece of Me – 3 | FFindo·

  4. Pingback: Another Piece of Me Link | kikiyeonniee·

  5. Uwaaahh.. Uwaaah Speechless makin kesini ceritanya makin keren 🙂 , aku sekalian ninggalin jejak disini yah yang part sebelumnya, aku suka banget yg part sebelumnya tentang Jessica 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s