Uncontrol [Part 11]

Title :Uncontrol

Author : Inthahindah

Length : Series

Genre : Romance, Friendship, Life, Love Trik, Galau (?)

Cast :

  • Yang Yoseob B2ST
  • Goo Hyemi (OC)
  • Yoon Doojoon B2ST
  • Son Dongwoon B2ST
  • Jang Hyunseung B2ST
  • Lee Gikwang B2ST
  • Yong Junhyung B2ST
  • Lee Jieun (Only Mention)

Poster : Thanks for Shara ( @taeminiesha ) 4 made this special 4 me ^.^ Saranghaeeeee ❤

Disclaimers :This story really mine!!! Adaptasi dari sebuah novel terjemahan khusus dewasa #judulnya dirahasiakan# yg jalan ceritanya diubah di sana-sini tanpa mengubah karakter..

Read first Part 1 , 2 , 3 , 4 , 5 , 6 , 7 , 8 , 9 , 10

Warning : In view times, An Italic are the flashback!! And sorry for my bad grammar, in Hangul or English ^_^

*** Uncontrol ***

“Mwo? Taruhan?” pekik Hyemi tertahan. Ia tak mampu menyembunyikan kekagetan luar biasa yang dialami hatinya.

Ditatapnya Hyunseung, kemudian Yoseob. Berulang kali dilakukannya hal itu. Hingga pada akhirnya, matanya berpusat pada Yoseob, “Oppa? Apa itu benar?”

Hatinya bergelut. Ada sakit yang perlahan menyusup. Tapi entah bagaimana, ia masih berharap itu hanya gurauan B2ST semata. Namun, ketika ia melihat sikap tak wajar Yoseob, ia sadar sesuatu yang buruk kini tengah hadir di hidupnya. Tak pelak, matanya kembali berkaca. Meski Hyemi tak sampai meneteskan air mata, Yoseob tahu lagi-lagi ia melukai yeoja ini.

Hyemi membuang pandangnya pada member B2ST yang secara tiba-tiba juga kehilangan kata-kata. Tapi alasan sebenarnya, karena ia tak ingin memperlihatkan lukanya pada Yoseob. “Oppadeul.. modunge arra? Dongwoon Oppa… (Oppa semua tahu? Dongwoon Oppa..)” ucapnya tercekat.

“Ani!” potong Doojoon segera. “Dongwoon sama sekali tidak tahu apa-apa, Begitu pula Lee Jieun. Mereka hanya terlibat secara tidak sengaja. Hyemi-sshi. Chosunghamnida.” Ditatapnya tajam manik milik Hyemi, berharap ketulusannya sampai.

Namun Hyemi nanar. Keterkejutan lebih besar efeknya.

Jadi selama ini ia hanya sebuah taruhan? Alat yang digunakan Yoseob untuk membuktikan pesonanya? Sekedar pelampiasan karena dulu ia pernah menyakiti sahabatnya? Hyemi hanya mainan?

Lalu haruskah Hyemi melupakan kenangan mereka? Betapa dulu ia begitu terhipnotis pada bibir Yoseob? Bahwa Yoseob dengan mudahnya mampu membuat ia bertekuk lutut? Bahwa untuk pertama kalinya, ia mau membagi kisahnya dengan orang lain? Bahwa pada akhirnya, namja itu telah merusak seluruh organ tubuhnya? Bahwa Yoseob sudah membuat Hyemi begitu mencintainya? Haruskah ia melupakannya?

Hyemi menarik nafas dalam. Setidaknya satu simpulan sampai di kepalanya.

Ia harus segera beranjak dari tempat itu.

“Gaereu. Algesseumnida! Gaereom, annyeong hi gaseyo, Yeorobun! (Baiklah. Aku mengerti. Kalau begitu, selamat tinggal, Semuanya!)” pamitnya.

“Hye.. kuantar!” sambar Yoseob tepat saat Hyemi berpaling.

“Aniyo! Kau tentu harus merayakan kemenanganmu, Oppa… Ah, aniya! Bukankah aku hanya taruhan? Berarti kita tidak benar-benar berpacaran. Chosunghamnida, Yoseob-sshi!”

Hening.

Tak ada yang mampu bergerak. Yoseob bahkan hanya mampu menatap nanar jejak yang ditinggalkan Hyemi. Berharap, setidaknya tak ada kepingan luka yang ikut ditinggalkannya bersama menghilangnya Hyemi. Namun, pasti, itu harapan konyol!

Daripada mengakui bahwa ia bersalah, Yoseob lebih memilih memandang Hyunseung yang juga tak mampu mengucapkan apapun. “Jang Hyunseung, neo jinjja….”

“Yang Yoseob!” tahan Doojoon.

Ia mengeluarkan suaranya. Untuk ke sekian kali memperlihatkan bahwa ia yang punya kuasa. Bahwa tak ada yang boleh mengeluarkan suara dengan nada yang tak seharusnya di depannya. Sang Leader, meski telah berprinsip tak akan turut campur dalam masalah Hyemi dan Yoseob, tetap tak bisa diam jika sudah berhubungan dengan B2ST. Bagaimanapun, ia tak mampu lepas tangan.

“Anjja!” titahnya pada Yoseob dengan penuh wibawa.

Yoseob tak beranjak. Ia bahkan tak mampu memalingkan matanya dari Hyunseung. Amarah terbaca jelas dari tatapannya.

“Yang Yoseob! Anjja.” tekan Doojoon sekali lagi.

Yoseob manut. Semarah apapun ia, Doojoon adalah ketua mereka. Dan Yoseob sangat peka akan etika. Alih-alih duduk di samping Dongwoon yang secara nyata berada di sampingnya, Yoseob lebih memilih menjatuhkan diri di samping Junhyung. Ya, dia juga membaca pandangan penuh amarah dari Dongwoon untuknya. Ia melanggar janjinya pada sang magnae.

“Jadi kau benar-benar menjadikan Hyemi taruhan, Hyung?” desak Dongwoon.

Geretak giginya samar terdengar. Bukti bahwa ia sedari tadi berusaha menahan amarahnya. Dan, tanpa disadarinya, ia mengesampingkan etika yang selama ini dijunjungnya.

Yoseob berpaling. Raut marah sirna. Rasa bersalahnya pada Dongwoon mencuat segera. “Dongwoon-ah, percayalah. Aku benar-benar menyukainya!”

“Dan taruhan itu?”

“Son Dongwoon! Jaga bicaramu!” tegur Doojoon lagi. Dongwoon bukan orang yang mudah meledak. Dan ketika ia meledak, Doojoon tahu resikonya.

Nafas Dongwoon mulai naik turun. Ia benar-benar kesulitan mengontrol emosinya. Gikwang, yang duduk tak jauh darinya, serta merta mendekat dan mengelus punggungnya. “Dongwoon-ah, tahan emosimu! Jangan sampai Doojoon ikut terbakar.” pintanya.

Yoseob bahkan tak tahu harus membela diri seperti apa. Kata yang keluar hanya, “Kkeuge… taruhan itu memang benar!”

Dan Dongwoon tahu ia tak lagi mampu mengontrol dirinya. Sontak ia berdiri memandang tajam pada Yoseob. “Hyung, kau…”

“Tapi aku benar-benar menyukainya sekarang. Aku serius!” sambung Yoseob lagi.

“TAPI KAU MENJADIKANNYA TARUHAN, HYUNG! KAU MELUKAINYA. DAN AKU! KENAPA KAU TEGA, HYUNG?” teriaknya, membuat Yoseob membeku di tempatnya.

“SON NAM SHIN!” bentak Doojoon tak kalah garang.

“JANGAN PANGGIL AKU BEGITU! AKU BUKAN MANUSIA SUCI, HYUNG! Kalian membohongiku! Kalian semua! Bagaimana aku bisa begitu percaya pada kalian? Aku benar-benar kecewa, Hyung. KALIAN SEMUA MENGECEWAKANKU!”

Segera setelah membentak begitu, Dongwoon melangkahkan kakinya ke luar aula. Menghiraukan segala tatap mata yang diarahkan padanya dan member B2ST lainnya yang masih tertinggal di belakang.

“Gikwang-ah..”

“Ye?” sahut Gikwang cepat pada panggilan Doojoon.

“Susul Dongwoon. Aku tidak mau hal buruk terjadi.” pintanya.

Gikwang memilih untuk tak menjawab. Langsung diangkatnya tubuhnya dan berlari ke luar mengejar Dongwoon yang sudah tak lagi terlihat.

“Yoseob, anjja!” sambungnya lagi pada Yoseob yang menatap nanar ke luar aula.

Amarahnya kembali mencuat. Dilangkahkannya cepat kakinya menuju Hyunseung. Dengan segera pula, ditariknya kerah kemeja Hyunseung sembari berucap marah, “Geugeon.. neo ttaemune, Hyunseung-ah! NEO TTAEMUNE! (Semuanya.. karena kau, Hyunseung! KARENA KAU!)

Ini kali pertama Yoseob terbakar. Ini bahkan kali pertama B2ST bertengkar.

Hyunseung tercekat. Kehabisan kata-kata. “Naneun.. naneun moreugeunde, Yoseob-ah! (Aku tidak tahu, Yoseob!) Aku pikir kau sudah memberitahunya.” tampiknya terbata.

“Memberitahunya?” geram Yoseob. “YAA! Kau lihat label “IDIOT” di keningku, eo? Bagaimana bisa kau berpikir aku memberitahunya? Hyemi-sshi, aku menjadikanmu taruhan. Mohon bekerja sama. BEGITU? MITCHOSSEO?” amuknya.

Doojoon kembali bergerak. Ia berdiri di antara bara. Dengan kewibawaan tak tertampik, dilepasnya perlahan tangan Yoseob dari Hyunseung. Ditatapnya tajam mata dua raga itu secara bergantian. “Neohui duri.. geuman! Ije jibe kajja! (Kalian berdua, hentikan! Sekarang pulang!)

Berat. Namun, satu persatu mereka yang tersisa melangkah. Suara Doojoon terlalu berat untuk dikatakan memerintah.

Tidak. Itu adalah sebuah paksaan. Bukti bahwa namja itu pun tengah berlaga dengan emosinya. Hal yang paling jarang terekspos dari seorang Doojoon yang terlihat sangar secara lahiriah.

*****

BRAKKK!!!

Yoseob menendang salah satu box di sekitar kakinya. Ia mengacak rambutnya asal. Hatinya masih belum bisa ditenangkan. Bahkan 5 hari sejak kejadian itu.

Tengah malam. Hampir pukul 1. Dan ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya.

Insomnia?

Itu alasan yang bodoh. Tidak, tentu saja!

Hyemi. Itu sumber kegelisahannya. Sejak insiden itu, Yoseob sama sekali tak bisa menghubunginya. SAMA SEKALI. Ponselnya bahkan dinonaktifkan. Dan bodohnya, Yoseob sama sekali tak pernah tahu Hyemi punya nomor telepon rumah atau tidak.

Ditambah lagi, Sang Roummate, Dongwoon pun tak menampakkan dirinya. Tidak ada lagi jejaknya terlihat di dorm sejak ia meninggalkan mereka. Menurut Manager Hyung, Dongwoon menghadap kepada pembesar mereka dan meminta libur selama satu minggu. Ada masalah keluarga. Alasan klasik. Dan bodoh! Yoseob tahu itu hanya alasan konyol yang dibuat sang magnae.

Dan itu menambah frustasi hatinya. Di saat ini, biasanya Dongwoon lah yang akan menenangkan hati member yang bimbang. Sekarang, justru ia yang tak mampu menenangkan dirinya. Karena kebodohan Yoseob.

Yoseob meringis. Mengingat setiap moment yang tercipta sejak ia bertemu Hyemi.

Bodohnya ia!

Setelah semua berantakan begini, ia baru menyadari betapa ucapan Jieun kala itu berarti. Seandainya ia membatalkan taruhan itu, tidak akan ada masalah ini. Ia akan dengan lega menceritakan tujuan awalnya, yang akhirnya berubah haluan. Ia akan dengan nyamannya mengakui pada Hyemi bagaimana sesungguhnya yang terjadi. Dan ia pasti akan dengan leluasa bisa menyalurkan rasa terdalamnya pada Hyemi tanpa peduli bagaimana pendapat orang.

Namun, setelah malam itu, bisakah? Adakah kesempatan lagi untuknya? Untuk kebodohannya dan Hyunseung? Bahkan Dongwoon ikut terlibat? Akankah mereka baik-baik saja setelah ini? Atau justru semakin buruk? Mengabaikan kenyataan mereka satu kamar dalam dorm ini, mampukah ia? Berapa lama?

Rasa bersalahnya, tak hanya untuk Hyemi, tetapi juga Dongwoon, meluap. Tanpa disadarinya, kekalutan itu membuat Yoseob beberapa kali menggeram marah. Dan berteriak. Kesal.

TOK! TOK! TOK!

Yoseob berpaling. Menatap pada pintu yang tak tampak siapa pengetuknya. “Aku tak sedang ingin berbicara.” sahutnya.

“Na ya!”

Yoseob mendesah. Doojoon. Ah, ia tak bisa menolak jika sang Leader yang menemuinya. Dilangkahkannyalah kakinya menuju pintu. Memutar kenopnya, dan membukanya perlahan.

“Bab meogosseo? (Sudah makan?) Dari tadi kau tidak keluar kamar. Beberapa hari ini juga kau tampak lesu. Mwosuniriya  sashil? (Ada apa sebenarnya?)” mulai Doojoon sesaat setelah pintu terbuka.

“Doojoon-ah….” desahnya.

Tak perlu banyak kata dari Yoseob, namun Doojoon menangkap sepenuhnya.

Doojoon melangkah masuk. Langkah yang biasa sebenarnya, tapi entah bagaimana, Yoseob menatap dari sudut yang berbeda. Ia sangat sadar charisma yang dimiliki olehnya. Seorang Yoon Doojoon yang konyol itu adalah seorang pemikir. Leader mereka yang terkenal serampangan, faktanya adalah seorang dengan jiwa besar dan penuh tanggung jawab. Terlalu, kadang, tapi ya, Yoseob mengakui kekagumannya akan sosok Doojoon. Di balik semua sikap bodoh yang ditunjukkannya, tak pernah sekalipun Doojoon memalingkan wajah, apalagi hatinya, dari B2ST. Perlindungannya merata, tak hanya bagi Dongwoon yang kerap kali merasa terinjak, tetapi juga member lainnya yang memiliki masalah berbeda. Dan, tidak, Yoseob tak hanya mengagumi seorang Doojoon. Doojoon adalah panutannya.

“Kkeokjongma! Aku tidak akan menghakimimu. Kau terlalu dewasa untuk mendengarkan tiap patah kata yang akan kukeluarkan, yang kuyakini juga sudah kau ketahui.” ucapnya sambil menatap jendela.

‘Doojoon-ah.. eotteohke?” desah Yoseob akhirnya.

“Mwoga? Hyemi?” tanya Doojoon.

“Modu. Hyemiga, Hyunseungie, Dongwoonie… Ah, nan ije jal mothesseo arra.. Kkeundae, wae irae? Geogeon wae ireohke? Na jinjja Hyemi johahagoisseoyo, Joon-ah! Jinjja! (Semuanya. Hyemi, Hyunseung, Dongwoon.. Ah, aku sadar sekali sekarang ini salahku.. Tapi, kenapa begini? Kenapa semuanya menjadi begini? Aku benar-benar menyukai Hyemi, Joon! Sungguh!)” keluh Yoseob.

Doojoon tergetar. Tak hanya karena sahabatnya terdengar begitu terluka, tapi karena ia memang tampak begitu. Mata Yoseob lebih berkantung dibanding biasanya. Aura yang biasanya dipancarkannya seolah redup, hilang bersama perginya Hyemi malam itu. Doojoon tak ingin menghakimi, tapi ia dengan sangat jelas sadar akan kesalahan Yoseob dan Hyunseung. Dan lebih kesal pada dirinya. Kalau saja saat itu, ia dan member lainnya tak menyetujui taruhan ini. Kalau saja, kala itu mereka tak mengobarkan api kemarahan dalam diri Yoseob akibat disepelekan. Kalau saja, Yoseob tak sampai jatuh cinta pada Hyemi. Dan kalau saja, Hyemi juga tak menyukai Yoseob, semua tak’kan jadi serumit ini.

Sayangnya, segala pengandaian tak mungkin terjadi. Noktah telah menuliskan dengan tegas apa yang ingin ia goreskan dalam hidup. Doojoon, bahkan Yoseob sendiri, tak lagi mampu berlari. Merasakan sakit dan resiko adalah keharusan. Menemukan solusi dan pencerahan merupakan suratan. Bergerak atau tidak sama sekali. Mereka hanya harus memilih. Dan Doojoon, dengan segala pertimbangannya telah memantapkan hatinya.

“Kau mau mendengarkanku?” tanyanya.

Yoseob menganggukkan kepalanya tergesa. “Ne, Joon-ah. Kalau memang itu bisa memperbaiki keadaan, aku akan melakukannya.” sahutnya cepat.

“Chosung Dongwoonie malhae. (Minta maaflah pada Dongwoon.) Setelah itu, selesaikan masalahmu dengan Hyunseung.” titah Doojoon.

Yoseob mengernyit, “Aku mengerti jika harus meminta maaf pada Dongwoon. Tapi Hyunseung? Kenapa aku harus meminta maaf padanya? Shirreo. Andwae. Aku tidak bersalah padanya.”

Doojoon menggeram. “Yaa! Aku menyuruhmu menyelesaikan masalah dengannya, bukan meminta maaf. Itu berbeda, Bodoh! Kalian harus bicara. Bagaimanapun, kau sudah menyakiti hatinya, Seobie. Dengan lebih mengistimewakan seorang yeoja yang baru kau kenal, kau sudah menggores hatinya. Belum lagi, kau menjatuhkan semua kesalahan padanya…”

“Tapi dia memang salah, Joon-ah!” tegas Yoseob.

“GAEREU! Dia salah. Dan kau? Apa kau benar?” bentak Doojoon.

Yoseob diam. Tak mampu berdalih. Hatinya tahu faktanya.

“Kau sendiri sadar, bukan? Kau.. juga bersalah. Kau juga penyebab semua kekacauan ini. Kau tidak bisa egois, Seobie. Menyalahkannya dan melarikan diri dari kenyataan itu salah. Kalian bersalah. Tidak, tidak hanya kalian. Aku dan yang lainnya pun bersalah. Ini tidak seharusnya terjadi kalau saja kita menganggap penting perasaan dan privacy seseorang. Ini tidak akan terjadi kalau kau dan Hyemi tak membiarkan permainan perasaan turut serta. Ini tidak akan terjadi seandainya Hyemi tidak pernah mengenal Dongwoon, Naeun, atau Hyunseung. Tapi ini terjadi, Seobie. Ini terjadi. Dan ini tak hanya melibatkanmu. Ini sudah menjadi masalah dalam B2ST. Kau lihat kekacauan malam itu? Perasaan Hyemi? Dongwoon? Mereka korban, Seobie. Korban kebodohan kita. Korban permainan kita. Dan kau membuat semuanya lebih buruk dengan bersikap keras kepala terhadap Hyunseung.” ungkap Doojoon khidmat.

Kata-kata itu menampar Yoseob. Telak. Ah, alangkah egoisnya ia. Hanya berpikir betapa ia tersiksa karena sikap Hyemi yang menghilang darinya. Betapa ia terbebani akan Dongwoon yang juga menghindarinya. Betapa ia marah akan kebodohan Hyunseung kala itu.

Yoseob tercenung. Ini tidak benar. Ia bukan satu-satunya orang yang terjepit sekarang. Ia tak bisa menyalahkan Hyunseung sepenuhnya. Bagaimanapun, ia harusnya tahu Hyunseung memang seperti itu. Jauh sebelumnya, Yoseob  sudah sangat mengenal watak Hyunseung. Kenapa ia menyudutkan Hyunseung kala itu? Tidakkah itu terlalu egois?

Dan Dongwoon. Ia telah sepenuhnya percaya pada Yoseob. Dongwoon telah dengan tegas mengatakan betapa Hyemi berarti baginya. Ia juga telah dengan lantangnya meminta Yoseob agar tak menyakiti Hyemi. Kenapa Yoseob menghianatinya? Kenapa ia tak menceritakan semuanya pada Dongwoon dari awal?

Dan juga Hyemi. Ah, memikirkannya saja membuat Yoseob meringis. Waktu singkat yang dihabiskannya untuk mengenal yeoja itu mampu membuatnya terpesona. Dan menyelipkan sedikit simpati. Setidaknya, Yoseob tahu alasan kekeraskepalaannya selama ini karena ia terluka. Kenapa yeoja itu begitu kasar dan ketus. Sedikit demi sedikit, ia mampu mengubah watak sang yeoja pujaan. Tadinya. Kini, ia tak tahu itu akan berguna atau tidak. Karena pada kenyataannya, kini Yoseoblah yang melukainya.

Ia bahkan membuat semua member B2ST merasa bersalah!

Tidakkah ia menjadi seorang yang kejam? Menganggap ia satu-satunya yang tertindas?

“Yoseob-ah, kau dengar?” panggil Doojoon. Ia seolah tahu Yoseob tengah berperang tadi, di dalam sana.

Yoseob memainkan kelopak matanya. Dan menarik nafas. “Arra, Joon-ah. Aku tahu aku salah. Tidak seharusnya aku bersikap begini. Mianhe.” sesalnya.

“Aniya. Kau tidak harus meminta maaf padaku. Kau tahu kepada siapa ucapan itu pantas, dan harus, kau tujukan, Yang Yoseob.” tekan Doojoon.

Yoseob mengangguk. Dalam. Dan yakin. “Ne, arra.”

Doojoon tersenyum. “I namjaga,, nae Yoseobie. Jja! Palli Meogo. (Pria inilah Yoseobku. Ayo! Cepat makan.) Kau harus punya banyak nyawa untuk bergerak dan memperbaiki keadaan.” candanya.

*****

“Mwohae?”

Dongwoon menoleh. Sedikit meringis mendapati wajah itu. “Neo yeogisseo mwohae, Hyung?” tandasnya.

Yoseob hanya menarik nafas. Ia sudah menduga jawaban itu. Juga ekspresinya. “Kau bisa masuk angin jika berada di sini lebih lama.”

“Cih! Jangan sok peduli padaku. Aku bisa menjaga diriku.” cibir Dongwoon.

Ia melempar pandang ke kegelapan malam. Menipu dirinya sendiri akan kebahagiaan yang sedikit memercik kala menemukan Yoseob di sana, di beranda rumahnya. Bagaimanapun, ia merindukan teman sekamarnya itu. Sekaligus Hyungnya. Dan keluarganya. Ya, ia merindukan mereka, B2ST.

Pertengkaran kala itu membuatnya memutuskan untuk pergi sementara waktu. Setidaknya, menenangkan hatinya. Kekecewaannya. Kemarahannya. Meski pada akhirnya, Dongwoon mengakui kesalahannya. Ia sadar ia tak berhak mengeluarkan amukan seperti itu. Ia tahu ia tak pantas memaki Yoseob dan para Hyungnya. Ia tak seharusnya berteriak dengan keras pada mereka. Kenyataannya, ia tahu ia tak berada di titik etika yang seharusnya jadi pegangannya. Ia tahu benar ia dikuasai amarah berlebih, dengan alasan sederhana.

Ya, ia marah karena Yoseob menghianati janjinya. Ia marah karena Yoseob membuat Hyemi terluka. Ia marah karena Yoseob menjadikan Hyemi taruhan. Ia marah karena para Hyungnya tahu tentang itu. Ia marah karena menjadi satu-satunya yang tidak tahu. Tadinya, itu yang dipikirkannya.

Tapi dibalik semuanya, ia tahu Yoseob benar. Ia tahu Yoseob tak mungkin melakukannya tanpa alasan. Dongwoon tahu Yoseob memang memiliki rasa yang khusus pada Hyemi. Dan, kemarahannya jadi tak beralasan, ketika akhirnya ia sadar, ia hanya marah karena ia tak dilibatkan dalam hal itu.

Yoseob melihat kesempatan untuk mendekati Dongwoon. Diamnya Dongwoon dimanfaatkan Yoseob dengan baik. Dengan perlahan, ia makin mendekati sang magnae yang tengah bermain dengan pikirannya. Diambilnya posisi di samping Dongwoon. Berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apapun. Ditatapnya intens wajah sang magnae, tanpa mengetahui bahwa Dongwoon sebenarnya sudah menyadari kehadirannya sejak tadi.

“Hyung…” panggil Dongwoon pelan. Matanya masih menatap ke kegelapan malam.

Panggilan itu membuat Yoseob sedikit terlonjak kaget. Tapi ia senang, Dongwoon mengucapkannya tanpa emosi. Ia benar-benar merindukan satu-satunyu pemanggil ‘Hyung’ dalam B2ST itu.

“Eo?”

“Mianhe.” Lagi, pelan. Tapi karena posisi, Yoseob masih mampu menangkap dengan jelas ucapan singkat itu.

“Mwo? Aniya.. Hyungiereul mianhada, Woon-ah. Aku yang seharusnya mengucapkannya. Maaf aku mengecewakanmu. Maaf aku menyakiti Hyemi.” tampik Yoseob cepat. Ia beberapa kali menggelengkan kepalanya tanda ketidaksetujuannya akan ucapan Dongwoon.

Dongwoon berpaling menatapnya. Dan tersenyum. “Arra!” sahutnya. “Tapi Hyung bukan satu-satunya yang harus minta maaf. Ini juga kesalahanku. Ini bukan yang seharusnya aku lakukan. Melarikan diri darimu itu kekanak-kanakan, Hyung. Dan ini membuat manajer Hyung terpaksa mengatur ulang jadwal kita. Mianhe, aku egois. Aku tahu kau juga terluka.”

Yoseob menyenggol pelan bahu Dongwoon. “Sejak kapan kau mulai tahu sifat dewasa?” candanya. Dongwoon hanya tersenyum kecil. “Aniya, Woon-ah. Itu bukan sesuatu yang kekanak-kanakan. Bukan hal yang aneh jika kau marah. Ini bukan hal kecil yang bisa kita sepelekan. Kau, dan aku, kita sama-sama berada di puncak luka. Aku yang melukaimu. Kau yang terluka, dan mungkin juga merasa menoreh luka. Ini bukan hal yang egois. Ada kalanya kita memang harus lari untuk sementara waktu. Yang perlu kau tahu adalah.. aku benar-benar menyesal, Woon-ah. Sangat! Mengucapkannya tak lantas membuatku lega. Mengucapkannya tak lantas membuat rasa bersalahku padamu dan.. pada Hyemi menghilang begitu saja. Tapi untuk saat ini, hanya ini yang mampu kulakukan. Maafkan aku!”

Dongwoon mengangguk dalam tunduknya. “Aku tidak pernah tahu kita akan bertengkar karena masalah ini, Hyung! Aku benar-benar kalut. Aku takut kehilangan semuanya. Kau, Doojoon Hyung, B2ST, B2uty, Hyemi. Semuanya. Itu menjadi bebanku beberapa hari belakangan. Apa yang harus kulakukan?”

“Nadoo! Tapi rasa bersalahku makin besar padanya. Doojoon. Di saat seperti ini, dia adalah pemegang beban terberat. Kau tahu? Beberapa hari yang lalu Uri Sajangnim memanggil Doojoon. Kudengar dia dimarahi.”

Dongwoon tersentak. “Mwo? Jeongmal? Waeyo, Hyung?”

“Molla. Yang aku dengar dari Junhyung dan Kikwang, Sajangnim memanggilnya. Tentang masalah kita. Sepertinya Doojoon sedikit… diberi nasehat. Hal ini sedikit mengganggu karena sedikit tersebar ke luar. Mengingat pertengkaran kita kala itu. kurasa. Terlebih lagi, kau tiba-tiba menghilang. Hubunganku dan Hyunseung juga belum membaik. Kurasa ini menyita perhatian Sajangnim.”

“Ah, jinjja? Lalu bagaimana?”

“Tidak ada! Doojoon tak mengatakan apa-apa. Membahasnya saja tidak. Kurasa ia tak ingin kita tahu bahwa ia ditegur oleh Sajangnim. Itu yang menambah rasa bersalahku. Makanya.. aku ingin ini semua berakhir segera.”

Dongwoon kembali diam. Sakit menyelip pelan dalam hatinya. “Hyung…. Apa menurutmu Doojoon Hyung marah juga padaku? Bagaimanapun, aku ikut memperkeruh masalah ini.” sesalnya.

“Yah, kurasa begitu.” jawab Yoseob asal.

“Hyuuuung…” rengeknya.

Yoseob tertawa. “Aniyaaaa! Kau ini. Kau tahu bagaimana Doojoon. Kalaupun dia kesal, yang dilakukannya pasti hanya meninju kita. Setelah itu, tidak ada masalah. Dia yang menjagamu, ingat? Dia pelindung kita, Woonie. Kau tahu kita bisa percaya sepenuhnya padanya.”

“Hyung…”

“Eo?”

“Aku mau kembali ke dorm!” gumamnya.

Yoseob tersenyum sumringah. “Jja! Kutunggu kau bersiap-siap.”

Dongwoon berdiri. Mulai beranjak menuju pintu rumahnya. “Hyung…” panggilnya lagi sebelum mencapai pintu.

“Wae doo?”

“Jeongmal mianhe!”

*****

TOK! TOK! TOK!

Yoseob menunggu dengan sabar. Ia sudah menunda selama satu minggu. Dan tidak bisa lebih lama lagi. Ia tak ingin menahan diri lebih lama lagi. Ia tak ingin berada di antara keruhnya keadaan lebih lama lagi.

Kreeettt!

Perlahan pintu kamar itu terbuka. Sesosok tubuh mengekspos dirinya secara sempurna. Indah. Dan terkejut. “Yoseob-ah…” gumamnya pelan.

“Kita perlu bicara!” tukas Yoseob segera.

Si empunya tubuh mengangguk. Ia menawarkan Yoseob untuk masuk ke dalam kamarnya. Namun dengan gelengan kecil, Yoseob menolak ajakannya.

“Dengar! Aku akan berusaha cepat. Pertama, kedatanganku bukan untuk mengakui kesalahan. Ini sepenuhnya karena tanggung jawabku sebagai sesama member. Aku tidak bisa terus-terusan mengabaikanmu sedangkan kita berada dalam satu atap. Kedua, aku mengatakannya bukan karena aku merasa bersalah. Tidak, dalam hal ini kau yang salah. Semuanya tetap salahmu hingga menimbulkan masalah seperti ini antara aku, Hyemi, dan Dongwoon.  Dan juga kau. Namun bagaimanapun, aku tak bisa menampik bahwa ada bagian dari kata-kataku sebelumnya yang menyakitimu. Dan kedatanganku untuk itu. Aku minta maaf atas ucapan kasarku kala itu. Aku tidak bermaksud memojokkanmu. Tapi kau memang salah. Tapi tetap saja, aku minta maaf. Tapi jangan pikir aku merasa bersalah padamu. Baiklah! Aku hanya ingin mengucapkan itu!” ungkap Yoseob panjang.

Sosok itu menganga. Kapasitas otaknya belum sepenuhnya mencerna pengakuan panjang Yoseob. Itu terlalu berbelit-belit baginya. “Mwo?” hanya itu yang mampu diucapkannya.

Sementara otaknya masih berusaha memahami yang terjadi, Yoseob justru memilih berbalik dan meninggalkannya dengan penuh tanya. Tak sedikitpun keinginan Yoseob untuk menjawab tanya singkatnya, atau bahkan mengulangi ucapan sebelumnya.

“Yaa! Yang Yoseob, mwoyaaa??? Apa itu tadi? Kau niat minta maaf atau tidak, eo?” pekiknya pada Yoseob.

Yoseob tak berbalik. Tapi ia tetap menyahut, “Kau tidak dengar? Aku tidak merasa bersalah padamu.”

“Tapi tadi kau bilang maaf!” tuntutnya. Kali ini ia berjalan ke luar dari kamarnya. Perlahan di dekatinya Yoseob yang berjalan menuju kamarnya sendiri.

“Untuk ucapan kasarku. Bukan untuk peristiwa malam itu. Kejadian itu tetap salahmu!” bantah Yoseob keras kepala.

“Yaa! Itu sama saja kau tidak berniat meminta maaf, bodoh!” makinya.

Yoseob berbalik. “Jang Hyunseung, beraninya kau! Sudah bagus aku mau mengakuinya, bodoh!” balas Yoseob kesal.

“Kalau caramu begitu, sama saja bohong, bodoh!”

“Kau lebih tua dariku. Harusnya kau yang memulainya, bodoh!”

“Kenapa jadi membahas umur? Kau yang bodoh!”

“Kenapa kau harus mengataiku bodoh, eo? Kau pikir kau lebih pintar? Kau itu jauh di bawah aku, bodoh!” amuk Yoseob.

Hyunseung melengos. Jarak mereka yang memang sudah dekat tak mampu memisahkan lagi. Dengan segera disambarnya kerah Yoseob kasar. Yoseob tak ingin kalah, balas menarik balik kaos Hyunseung. Mereka saling memukul satu sama lain. Dari posisi yang tadinya berdiri, bahkan sudah sampai berguling-guling di lantai. Mereka saling memukul dan menendang. Lucunya, dengan menghindari wajah. Seolah masing-masing mereka sadar, itu adalah aset terbesar.

Cukup lama bergumul, mereka akhirnya sedikit memberi ruang di antara masing-masing.

“Ah.. neomu himdeureo! (Ah, lelahnya!)” keluh Hyunseung.

Yoseob menghembuskan nafasnya satu-satu. “Eo! Nadoo!”

Mereka bergeletak di lantai. Sudah saling melepaskan diri. Namun, tak satupun memilih untuk bangkit dan mencari posisi yang lebih nyaman. Sepertinya, di lantai kini adalah yang paling nyaman bagi mereka.

“Seobie-ah…” panggil Hyunseung pelan. Tentunya setelah mengontrol nafasnya.

“Wae?” tanya Yoseob.

“Mianhe!” akunya akhirnya. Memancing ulasan senyum tipis di wajah Yoseob.

“Arra!” tukasnya santai.

“Kurasa kita impas?”

Yoseob tergelak. “Andwae! Enak saja kau. Kau masih harus membantu masalahku dengan Hyemi. Ini salahmu, bodoh!”

Hyunseung mawas. “Yaa! Bisakah kau tidak menggunakan kata itu? Heuh! Kalau tahu begini aku tidak jadi minta maaf saja.” rajuk Hyunseung.

Yoseob dengan serta merta melepas tawa lebarnya.

Kreeeeettt!

Mereka berdua sontak menatap pintu dorm yang terbuka.

Doojoon memandang Yoseob dan Hyunseung yang tengah berbaring di lantai dengan tatapan aneh. “Mwohae?”

** To be Continue **

Note :

Controlleeeeeeeeeerrrrsssssssss…
Baiklah, aku tahu ini terlambat!!!
TAPI TOLONG SALAHKAN WP SAYAAAAAAAA *tunjuk blog*
gak tau kenapa kemarin tgl 1 pas mw posting WP nya ngerror mulu….
makanya baru klar ampe skrg…

Ah, dan part ini rada galau, Controllers.. Ini soalnya buatnya pas lagi banyak-banyaknya hoax tentang Beast dan mempengaruhi emosi aku.. Maaf kalo jadinya gajeee… Soalnya aku rada bingung gmna cara mereka baikannya.. Cuma yg bego sperti ini deh kayaknya yg menggambarkan BEAST banget 😀

Next part brlanjut k mslah Hyemi deh! Dipantengin yaq… jangan bosan donk ehehehehe
Sorry for typo and bad grammar, as always..

DON’T FORGET TO Read, Comment, and Like!!!!
I Love You, Controllers!!!! See ya sebulan lageee :D *Semoga tak lagi ada masalah*

41 responses to “Uncontrol [Part 11]

  1. hiyaaaa akhirnya aku baca jugaa xDD
    wkwkwkwk seriusan deh nih ya langsung to the point, itu yoseob sama hyunseung emg selalu bego2an gitu? wkwk aku buta bgt2 kalo tentang b2st ._.V tapi kalo bener yaampun bego banget mereka itu /plak/ruunn/ wkwkwkwk xD
    yang dibayangan aku langsung ngikutin gimana ekspresi doojoon diakhir itu lol xDD
    galaunya dapetlah tapi kayaknya bakal lebih galau lagi kalo ada hyeminnya akakakakakk
    jan lama2 lagi yaa eon wkwk ^^ hwaiting!

  2. walah… part 10 malah baru baca, sekalian disini deh komennya 🙂
    jujur aja rada lupa taruhannya apa, tapi udah lumayan inget kok.
    tapi bagus deh udah pada baikan, tapi yang konyol ya bagian minta maafnya Yoseob ke Hyunseung, masih ditambah acara berantem plus tatapan aneh dari Doojoon, itu malah bikin ngakak 😉

  3. hyaaaa chingu Q mo teriakkkkknpa ini ff lama banget di publis TT
    Hufttt masalah yg pelik untung b2st bisaakur lagi kekekek
    hyunseung ma yoseob itu knapa saling membodohkan diri kekekek #plakkk
    naeun belom selesai ini hyemi, aduhh hyemi kemana chingu ko menghilang??? lanjut and jgn lama2 jebal 🙂

    • ahahahahaha
      mian! mian!!!
      kayak yg aku jelasin, WP nya ngerror, gtw knpa….

      mmbodohkan diri? itu bahasanya sedikit gmna gituuuu…
      ehehehehehe
      gomawo ud singgah

  4. Wah, sesama suamiku jangan berantem gitu napa *digorokB2uties 😀
    Lucu banget pas Yoseob sama Hyunseung berantem. Berasa gimana gitu. Jadi pengen ikutan berantem juga sama mereka, haha biar deh ikutan bonyok asal bisa gabung. *ngareplu
    Dujun oppa,, haha ngebayangin ekspresi mukanya pas liat Yoseob oppa sama Hyunseung oppa tiduran di lantai jadi ngakak alone 😀
    Dongwoon juga kalo lagi ngerengek sama Yoseob Hyungnya lucu banget. Gimana gitu ngebayangin namja setinggi itu ngerengek sama Hyungnya yang lebih pendek dari dirinya, hahaha Woonie, Woonie.. Kenapa sih loe bisa setinggi itu 😀 *maksudnyaapacoba
    Kwangie oppa kayanya kurang eksis ya di sini,, Junhyung oppa juga. Tapi gak apalah yang penting ceritanya bagus dan tetep nyambung.
    Hyemi,, kasian dia. Sabar yah, reader jamin kamu bakal tetep jadi kok sama Yoseob oppaku yang imut2 itu di epep ini. *soalnya kalo di reality Yoseob oppa maunya sama aku, haha kabur dulu ah sebelum dicincang sama Yeobos 😀
    Lanjutin lagi thor! Janganlama-lama. Dan maaph kalo komennya kepanjangan 😀

    • Mao ikut???
      Bole bole bole *lempar ke tengah Ucup-Ceun*
      Nah, bak buk bak buk dah tu ahhh…
      :DD
      DAN APA MAKSUD PERNYATAAN UNTUK DONGWOON ITU???? *tambahin bakbuk lagi*
      Ah, nee…
      Gikwang ama Junhyung nongol di part slanjutnya,,
      masii bareng Abang leader pastinya…
      ehehehehe
      Ditunggu yaq/..
      Kamsahmnidaaaa

  5. sukaaaaa banget sama ceritanya~
    gomawo author, this is the best part.. masing2 menggambarkan semuanya karakternya.
    ehm, kecuali Doojoon menurut gw sih Doojoon walaupun leader, dia tuh yg paling cepet emosi,
    dan kalo soal pandai bicara dan bijaksana, gw rasa Junhyunglah juaranya.
    gw harap sih di part selanjutnya bisa lebih baik haha <.< sekedar masukan. gomapta dan di tunggu part 2 nya 😉

    • well, kamsamnida buat komennya yaq…
      Tapi buat aq, Doojoon still d best leader i ever met,.
      Dan aku pengen semua orang tau…
      Tapi gpp sih kl kamu mikir gitu…
      Kenyataannya emang si Abang kadang gak segan-segan ngeliatin temperamen dia sih…
      ahqhaqhaq

    • Silahkan cek di http:inthahindah.wordpress.com
      aq skrg ud bukan author FFIndo lagi, jd ngepost nya di blog sndiri..
      Dan makasih sudh mau baca ^.^

  6. hahaha, sumpah yh*berantem’a bkin ngakak, bner2, keadaan marah aja, masih bisa buat lelucon*suka deh persahabatan para cowo.

  7. bisakah ff ini dilanjutkan?
    karena saya sudah tidak sabar ingin baca lanjutannya..
    tolong kepada outhor..
    lanjutkan..!! #alasby

  8. Dongwoon nya cute bangeeeeet disini. Cara penyelesaian yang di pake lhoooo kok aneh banget hahaha penasaran yoseob bakal gimana menyelesaikan masalahnya sama hyemi nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s