LIFE [5]

Author : Asuchi aka @hotachii

Cast :

*) Yoo Nayeon [OC]

*) Kim Kibum [SHINee]

*) Kevin / Woo Sunghyun [ U Kiss]

*) Oh Sehun [Exo]

Other Cast :

*) Nayeon’s Family

*) Nayeon’s Friends

Genre : AU, OOC, Family, Angst

Rate : G

Disclaim :  semua cast milik aku di ff ini (: jalan cerita punya aku dan dari aku

Credit Pic : Aishita World

 a/n : maaf lagi telat lagi. Dua minggu kemaren aku dikejar laporan tahunan dan tepar setelah itu, whaha~ pas nemu waktu aku malah ngelamun gara2 gk bisa liat lagi Nice Guy, baru deh bisa kelar sekarang, maaf tidak sepanjang yg diharapkan, kadar panjang saia cuma segini eh :p . Happy reading ^^

Previous Part : LIFE [1] | LIFE [2] | LIFE [3] | LIFE [4] |

Keduanya berjalan menuju gerbang sekolah. Kevin menebak-nebak saat dia melihat seorang pria berdiri di dekat gerbang sekolah. Dia lantas menoleh pada Nayeon. “Apa yang akan kau lakukan?” Tanyanya.

Tapi Nayeon tidak mengatakan apapun. Matanya menatap lurus ke depan. Ke arah pria  yang berdiri itu. “Untuk apa oppa kemari?” Nayeon bertanya dengan nada dingin pada pria yang sedang berdiri itu.

Kibum, pria itu, memberikan senyumannya pada Nayeon. “Menjemputmu.” Jawabnya.

“Aku tidak mau dijemput oleh oppa. Aku tidak akan kembali kesana. Dan ya, kenalkan. Dia Kevin oppa, kekasihku.” Kata Nayeon sambil menarik lengan Kevin dan melingkarkan tangannya di lengan Kevin.

 “Mwo?” Kibum terlihat kaget. Kevin langsung melotot pada Nayeon, tapi Nayeon fokus menatap Kibum.

LIFE 5

“Jadi, apa maksudmu berbuat seperti itu?” Kevin bertanya saat dia dan Nayeon berada di parkiran sekolah.

Kibum sudah pergi dengan berbagai ucapan yang dilontarkan Nayeon pada pria itu. Kibum sebenarnya masih ingin meminta penjelasan, tapi pada akhirnya dia menyerah dan membiarkan Nayeon bersama pria yang diakui Nayeon sebagai kekasihnya itu.

Nayeon menggeleng ditanya oleh Kevin. “Gomawo oppa. Kau sudah membantuku untuk tidak mengungkap kebohonganku.” Ucap Nayeon. “Aku pergi.” Katanya beberapa saat kemudian. Nayeon pun bergegas untuk keluar lingkungan sekolahnya itu.

Grepp…

Kevin menahan lengan Nayeon, menghentikan langkah gadis itu. “Jelaskan dulu. Aku sudah dibuat terlibat dengan masalah kalian. Tidak adil kalau kau tidak menjelaskan apapun. Lagipula, Nayeon  yang sekarang ini bukan lah Nayeon yang biasa diceritakan oleh Ricky. Kau HARUS memberikan penjelasan padaku atau aku akan mengatakan kebohonganmu pada suamimu itu.” ancam Kevin kemudian.

Nayeon tetap memunggungi Kevin, dia berusaha untuk melepaskan diri dari Kevin, tapi cengkraman di lengan Nayeon terlalu kuat.

“Eoh, kau menangis?” Kevin bertanya setelah dia berjalan mendekati Nayeon dan melihat gadis itu dari depan. Kevin diam sambil tetap memegang lengan Nayeon. Membiarkan gadis itu mengeluarkan semua emosinya. Meski Kevin ingin merengkuh pundak Nayeon dan membenamkan wajah Nayeon di dadanya agar bisa lebih menenangkan gadis itu, tapi Kevin tidak melakukannya. Di depan Kibum dia boleh saja dibilang kekasih. Tapi sejatinya dia bukan siapa-siapa. Hanya pria yang terlalu banyak mendengar berbagai macam cerita tentang Nayeon dari saudara kembar gadis itu. seolah mengenal gadis itu bahkan sebelum bertemu dengannya.

“Mianhae oppa.” Kata Nayeon setelah sekian lama menghabiskan waktu untuk mengeluarkan air matanya.

“Sudah aku bilang aku siap memberikan pendapat jika kau meminta, dan kau bisa cerita apa saja yang kau inginkan. Sekarang oppa tidak akan memaksamu untuk bercerita jika kau memang tidak mau.  Tapi ijinkan oppa mengantarmu pulang sekarang.” Kata Kevin.

Nayeon menoleh dan menatap pria manis di hadapannya, dia tersenyum. “Aku benar-benar payah ya. Menangis di depan orang yang baru kukenal.” Kata Nayeon sambil tersenyum meledek dirinya sendiri.

Kevin menggeleng. “Kau tidak payah.” Ucapnya. “Ya sudah. Tunggu dulu, oppa ambil kunci mobil dulu. Kau jangan kemana-mana.” Pesannya sebelum pergi ke ruang kesehatan. Mengambil kunci mobilnya yang dia tinggal di sana.

-o0o-

Bolos, sepertinya sudah jadi sebuah kebutuhan bagi Nayeon. Dia menghindari pelajaran fisika dan lari ke atap sekolah. Tempat terlarang bagi murid. Nayeon duduk sambil bersandar ke tembok. Tidak melakukan apapun. Hanya berusaha untuk bernafas dengan tenang.

Ddrrtt….

Nayeon merogoh sakunya dan mengambil ponselnya.

From : Jihyun
Kau dimana? Ada tes dadakan. Sebaiknya kau kembali ke kelas sekarang, tadi aku bilang kalau kau masih di toilet.

Nayeon menatap ke langit sana dan mendesah pelan. “Tuhan, aku ingin istirahat sejenak saja. Bolehkah?” Monolognya.

Selang beberapa waktu Nayeon berdiri dan mulai pergi dari atap sekolah hendak kembali ke kelasnya. Bagaimanapun Jihyun sudah cukup baik dan kesulitan karenanya. Dia tidak ingin membuat Jihyun dianggap sebagai pembohong.

Di persimpangan jalan, mata Nayeon menatap ke satu tempat, tempat terlarang lainnya di sekolahnya. Tempat yang membuatnya mendengar suara Oh Sehun untuk pertama kalinya, ruangan seni yang dulu.

Niatan awal Nayeon menghilang. Dia berjalan ke sisi yang lain, bukan menuju tangga yang akan mengantarnya ke lantai tempat kelasnya berada. Nayeon terus berjalan menuju ruang seni yang sudah tidak terpakai itu. Postur tubuhnya tidak terlalu tinggi jadi tidak harus dia menundukkan kepalanya begitu melewati beberapa kelas. Yang dia lakukan sama seperti yang pertama kali dilakukannya di tempat itu. menyampirkan kedua jari-jari tangannya di kusen jendela agar bisa berjinjit dan melihat ke dalam.

Lukisan yang paling jelas terlihat kedua retina matanya membuatnya tertarik seperti waktu itu. Dia bahkan tidak memperhatikan lukisan yang lain dan hanya memandangi lukisan itu.

Ddrrtt… ddrrttt…. drrttt…

Getaran di sakunya membuat Nayeon menurunkan tubuhnya, dia melihat ada panggilan dari Jihyun di ponselnya. Dan akhirnya Nayeon sadar kalau dia memang tidak boleh menyulitkan temannya itu. Nayeon menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya, memberikan sugesti pada dirinya sendiri agar bisa melupakan beberapa kejadian yang membuat suasana hatinya buruk.

-o0o-

‘Oppa, aku masih penasaran dengan ucapan oppa di atap kemarin. Mau memberitahuku?’

Nayeon menuliskan dua kalimat di buku catatannya dan menggeser buku catatan itu agar berada tepat di depan Sehun. Tes sudah berakhir sepuluh menit yang lalu, dan guru Fisika tengah menjelaskan soal-soal tes tersebut.

Sehun sendiri sama sekali tidak memperhatikan apa yang dilakukan Nayeon. Seperti biasanya, matanya terfokus pada lapangan yang ada di bawah sana.

Lama menunggu dan tidak ada reaksi, Nayeon mendengus kesal. Dia menarik lagi buku catatannya, dan kembali menulis.

‘Oppa, kau kemarin sudah bicara seperti orang normal kebanyakan. Kenapa sekarang dingin lagi? Apa kemarin namja yang di atap bersamaku adalah orang lain?’

Setelah menulis, Nayeon kembali menyimpan buku catatannya di depan Sehun, kali ini sambil menyenggol pundak Sehun agar pria itu menyadari buku catatannya. Tapi tetap saja tak ada reaksi. Sehun seolah mati rasa dan tetap menatap keluar jendela.

Kesal, Nayeon menyikut pinggang Sehun. Beberapa kali karena Sehun tetap diam.

“Yoo Nayeon!”

“De?” Nayeon menjawab panggilan dari suara berat di depannya refleks. Dia mengerjapkan matanya begitu sadar dengan situasi yang menghinggapinya.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya suara berat itu. Guru Fisika sedang menatap tajam Nayeon.

“Itu.. itu….” Nayeon mencoba menjawab tapi tak menemukan kalimat untuk berbohong. “Jwesonghamnida songsaengnim.” Ucapnya kemudian lengkap dengan wajah bersalahnya.

“Kalau kau memang tidak suka dengan pelajaran yang aku berikan, kau boleh keluar.” Ucap guru itu.

“Jwesonghamnida.” Kata Nayeon lagi sambil menunduk.

Guru Fisika itu kembali menuliskan beberapa rumus di papan tulis dan memberikan penjelasan singkat.

Nayeon mendengus kesal, dia menarik lagi buku catatannya dan menulis, ‘oppa, salahmu aku dimarahi oleh Jung Seongsaengnim.’

Perhatian Sehun tertarik karena suara berat guru tadi akhirnya menyadari buku catatan yang kembali diserahkan Nayeon ke depan mejanya. Dia menunduk dan membaca kalimat yang ada di meja itu lalu tertawa pelan.

Nayeon yang mulanya menatap kesal Sehun, kini terdiam karena tawa pelan pria di sampingnya.

Manis.

-o0o-

“Nayeon-ah, Jihyun, aku dan teman lain mau pergi ke karaoke sekarang. Apa kau mau ikut? Tadi istirahat siang kau menghilang, jadi aku tidak bisa mengajakmu tadi.” Kata Minyoung, teman yang juga salah satu pecinta saudara kembar Nayeon. Dia duduk tepat di depan bangku Nayeon.

Nayeon yang masih membereskan buku-bukunya itu mendongak pada Minyoung dan mengangguk, merasa dia memang butuh penyegaran.

“Jihyun-a~ Nayeon setuju!” Teriak Minyoung sambil melambai ke bangku di belakang.

Selesai membereskan buku-bukunya, Nayeon dan beberapa temannya pergi berbarengan keluar dari sekolah. Beberapa teman Nayeon mengerubuni dia untuk mendapatkan beberapa informasi mengenai Ricky yang mungkin belum mereka ketahui. Seperti biasa.

“Maaf semuanya, tapi bolehkah saya meminjam Nayeon sebentar? Ada beberapa hal yang harus saya bicarakan dengannya.” Ucap seorang pria dengan nada sopan dan ramah pada rombongan Nayeon dan teman-teman.

Beberapa teman Nayeon menjawab memberikan ijin mereka, beberapa yang lain saling berbisik mengagumi wajah tampan pria itu. Yang lain bertanya-tanya status pria itu.

Mata Nayeon membulat menyadari suaminya, Kibum, kembali muncul di hadapannya. Dia tidak berkutik, tidak mungkin juga meledak seperti sebelumnya. Tapi dia masih tidak ingin berurusan dengan Kibum. Akhirnya Nayeon menarik lengan Jihyun, orang yang tepat berada di sampingnya agar melanjutkan jalan mereka.

“Na.. Nayeon-a.” Jihyun sedikit kehilangan keseimbangan karena ditarik paksa oleh Nayeon. “Wae?” Tanyanya bingung begitu sudah bisa berjalan dengan baik.

Nayeon menggeleng. Tidak ingin menjelaskan apapun karena tidak ada hal yang bisa dia jelaskan pada Jihyun.

“Nayeon-ah, jebal. Oppa hanya butuh penjelasan.” Teriak pria di belakang Nayeon.

Jihyun menoleh ke belakang, menatap pria yang masih berdiri di tempat. Terlihat tidak berniat mengejar mereka. “Dia siapa?” Jihyun bertanya lagi sambil menoleh pada Nayeon.

Teman Nayeon yang lain juga ikut berjalan sambil mempertanyakan pertanyaan yang sama seperti Jihyun. Tapi lagi-lagi Nayeon hanya menggeleng menanggapi pertanyaan itu. Dia tetap menarik paksa Jihyun agar pergi. Dan teman yang lain pun hanya bisa mengikuti.

“Oh hyung.”

Sebuah suara yang sangat familiar di telinga Nayeon terdengar dari belakang. Nayeon langsung menoleh dan melihat Ricky berjalan menghampiri Kibum.

“Teman-teman, maaf aku tidak bisa ikut. Kalian pergi saja ya.” Ucap Nayeon kemudian membungkuk dan berlari menuju Kibum dan Ricky.

“YA! Yoo Nayeon!” Teriak Jihyun yang bingung dengan sikap temannya itu.

“Oh Nayeon-ah, kalian janjian?” Ricky bertanya pada Nayeon dengan tampang polos tanpa curiga.

Nayeon memberikan senyuman pada Ricky sebelum dia menarik lengan Kibum dan pergi menjauh dari Ricky. “Kau pulang saja dulu Changhyun-a!” Ucap Nayeon.

“YA! Kalian mau kemana? Key hyung, kenapa tidak bilang kalau kau sudah pulang? Ya!” Ricky bertanya setengah berteriak tapi pada akhirnya Nayeon benar-benar membawa Kibum menjauh dari Ricky.

Ricky menatap kepergian saudara kembar dan suaminya itu. “Loh, tadi Nayeon datang dari sana.” Kata Ricky sambil menunjuk ke arah luar sekolah. “Apa tadi dia tidak lihat Key hyung ya? Kenapa Nayeon tidak bilang padaku kalau Key hyung sudah pulang? Apa jangan-jangan Key hyung baru pulang hari ini dan datang ke sekolah sebagai kejutan?” Tanyanya bingung tapi kemudian pergi setelah beberapa saat.

-o0o-

Kibum dan Nayeon kini berada di dalam sebuah cafe. Mereka saling diam dalam waktu yang cukup lama. Kibum menatap lekat Nayeon. Sejak kepulangannya dari Busan, dia tidak pernah benar-benar melihat istrinya. Nayeon selalu menghindar, tiba-tiba mengatakan ingin bercerai. Bahkan tadi siang dia mendapatkan surat perceraian yang diajukan Nayeon dari petugas pos.

Dua cola dan dua cake di atas meja mereka tidak disentuh. Kibum masih menunggu untuk Nayeon menatapnya, seperti yang dia lakukan pada Nayeon. Tapi setelah waktu kembali berlalu, Nayeon tetap menunduk.

Kibum mencondongkan tubuhnya, masih menatap istrinya. “Wae?” Satu kata akhirnya meluncur. “Kenapa kamu ingin bercerai dengan oppa? Padahal dulu kamu yang sangat memaksa untuk menikah, mengabaikan statusmu yang masih pelajar. Sampai bertengkar dengan kedua orang tuamu. Kau begitu bersikukuh untuk menikah, dan sekarang.. tanpa alasan yang jelas kau ingin bercerai. Apa oppa sudah melakukan kesalahan, huh?” Kibum akhirnya bicara cukup panjang. Pertanyaan yang selalu ada di benaknya, yang selalu menuntut jawaban kini diutarakannya. Dia cukup yakin kalau Nayeon tidak akan kabur, atau bersikap seperti sebelum-sebelumnya.

Perlahan, Nayeon mendongak, menatap Kibum dengan makna tatapan yang berbeda. “Oppa sudah bertemu dengannya kan?” Dia balik bertanya dengan nada sinis. “Aku bertemu dengan namja lain. Aku mencintainya, aku merasa aku jauh mencintai dia daripada oppa. Dan ya, maaf untuk masa lalu. Aku sudah melakukan hal konyol, aku benar-benar bodoh waktu itu.” Terangnya dengan nada yang masih sama sambil mengaduk es dalam gelas colanya dengan sedotan.

“Biarkan aku bertemu dan bicara dengannya.” Kata Kibum kemudian.

“Untuk?”

“Menjelaskan padanya kalau kau itu istriku.”

“Ah, Kevin oppa sudah tahu kalau aku akan bercerai dengan oppa. Sudahlah, oppa sebenarnya bahagia kan? Aku sudah mengacaukan hidup oppa. Aku sudah memaksa oppa untuk menikah denganku. Aku bahkan melakukan hal konyol hanya karena ingin mendapat restu dari orang tuaku. Dan sekarang oppa akan bebas dari orang sepertiku, oppa bahagia kan?” Nayeon bertanya. Ada nada menuntut di pertanyaannya itu.

Kibum menggeleng mantap. “Nayeon istriku bukan gadis seperti ini.” Ucapnya.

“Aku bukan lagi istri oppa, tinggal menunggu waktu untuk itu terwujud.” Kata Nayeon dengan ketus. Dia menatap kesal Kibum. “Kita akhiri saja pembicaraan tidak penting kita. Oppa tanda tangan saja surat cerainya. Aku akan kembali ke rumah oppa untuk mengambil barang-barangku kalau oppa sudah menandatanganinya.” Lanjutnya kemudian berdiri dan pergi.

Kibum menatap sendu kepergian Nayeon. Sama sekali tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.

-o0o-

Nayeon makin mempercepat langkahnya. Ingin segera menjauh dari tempatnya sekarang. Langkah kakinya mengantarkan dia ke sekolahnya yang sudah tidak berpenghuni. Nayeon melihat gerbang sekolah sudah tertutup rapat.

Dia merongoh sakunya, mengambil ponsel dari dalam sakunya itu dan mencari nomor kontak Kevin yang dia dapatkan kemarinn.

“Oppa, boleh aku tahu dimana rumah oppa?” Nayeon bertanya pada Kevin lewat sambungan telepon. “Aku akan kesana, ada beberapa hal ingin aku diskusikan dengan oppa. Oppa tahu itu apa.” Ucap Nayeon lagi. “Anni. Aku yang akan kesana, oppa tidak perlu menjemputku. Oppa sebutkan saja alamatnya.”

Selesai berbicara dengan Kevin, Nayeon memutus sambungan teleponnya dan berjalan lagi menuju halte bis.

Di belakangnya, Sehun sedang menatap Nayeon dengan tatapan yang tidak dapat diartikan apa. Nayeon tidak menyadari keberadaan Sehun sama sekali.

-to be continued-

Komen penting banget buat saia, tapi gak pernah maksa buat komen kok…

-chii-

Advertisements

33 responses to “LIFE [5]

    • nayeon kan pion utama cerita, dan karena emang di cerita ini peran kevin itu lebih banyak buat nopang nayeon, jadi porsi kevin pasti lebih banyak juga
      soal sehun, ada waktu kok dia dapet porsi banyak juga.. tapi situasi sekarang masih belom bisa bikin part itu.. termasuk kibum
      tapi intinya, cerita ini bpusat di nayeon dgn ngelibatin 3 pria itu,
      Maaf penjelasannya belibet,

      gomawo~

  1. mian thor baru baca soal baru buka?ohya ntu sikey ma nayeon nikah muda gara”apa?thor atau(apa sinayeon dulu cinta bgt ma sikey sampe hrs nikah muda(duh nayeon pasti kyk anak abg LABIL dulu///plakk abaikan) 😦
    oke life 6

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s