Two Handsome Thieves in Sundae [Part 3 : The Terror]

Twohandsomethievesinsundae

Title :

Two Handsome Thieves in Sundae

 

Author :

Citra Pertiwi Putri / Park Ra Rin

 

Genre :

Comedy, Romance, School, Family, and little bit Fantasy. And.. to be honest, a little bit horror

 

Rating :

Terserah author *minta dikepret nih authornya -_- #plak*silahkan nilai sendiri, sejauh ini author rasa aman aja dikonsumsi semua umur ^^

 

Main Casts :

‘Infinite’ L / Kim Myungsoo (known as Myungsoo)

‘Infinite’ Hoya / Lee Howon (known as Howon)

‘A Pink’ Son Naeun

‘A Pink’ Jung Eunji

‘A Pink’ Yoon Bomi

‘ F(x)’ Krystal / Jung Soojung

‘ EXO-K’ Kai / Kim Jongin

Another members of Infinite

Another members of A Pink

 

Other Casts :

‘ SHINee ‘ Kim Jonghyun as Myungsoo’s uncle

‘ Super Junior ‘ Kim Jongwoon / Yesung as Myungsoo’s father

‘ SNSD ‘ Kwon Yuri as Myungsoo’s mother

‘ Super Junior ‘ Lee Donghae as Howon’s father

‘ SNSD ‘ Im YoonA as Howon’s mother

Another members of Super Junior

Another members of SNSD ; and introducing

Author *seperti biasa bakalan nyempil dimana-mana kalau ada sesuatu yang mengganjal, muahahaha #mehemehe #PLAK!!abaikan-_-*

 

Type :

Chaptered

Cerita Sebelumnya ::

 

Howon dalam masalah besar. Ia kehilangan Bomi, kekasihnya, untuk selama-lamanya. Tak hanya itu, ia juga harus mengganti pot kepala sekolah ( Bu Hyorin) yang tak sengaja ia pecahkan sejumlah seratus juta won. Jika dilihat dari latar belakang hidupnya yang miskin, ia tak mungkin bisa mengganti pot bu Hyorin. Untung saja ada Eunji, mantan kekasihnya sekaligus sahabatnya yang selalu ada disampingnya. Sebelum meninggal, Bomi bahkan berpesan agar Eunji menjadi kekasih Howon, namun baik Howon maupun Eunji masih belum bisa mengabulkan wasiat tersebut karena Eunji kini telah bersama Sunggyu.

Ditengah kepusingan Howon memikirkan hutangnya dengan bu Hyorin, Myungsoo menawarkan sebuah ide gila yang bisa membuatnya mendapatkan banyak uang.

(lebih lengkapnya lihat di : Part 1 | Part 2)

****

 

Author POV

 

“ Mwo? Jadi kau adalah anak dari pemilik Kim Group? Pemegang saham terbesar di Korea itu!?” Howon masih geleng-geleng tak percaya ketika Myungsoo menceritakan latar belakang keluarganya.

“ Iya..iya. jadi kau bisa bayangkan kan sekaya apa diriku.”jawab Myungsoo sedikit congklak *congkak woy, congklak mah mainan-_-*.

“ Lalu, kenapa kau mau kita…..”

“ Ya itu dia! Aku sudah tidak tinggal lagi dengan keluargaku itu.”

“ Hah?? Bagaimana bisa???”

“ Duh..” Myungsoo bingung harus bercerita mulai dari mana, “…jadi, meski Kim Group adalah konglomeratnya Korea, tetapi keluarga kami itu punya aturan yang sangat tidak mengenakkan. Tradisi perjodohan. Semua keturunan yang merupakan calon pemimpin Kim Group harus dijodohkan dengan namja atau yeoja pilihan keluarga. Kata kakekku sih, agar harta Kim Group tidak jatuh ke tangan yang salah.”

Howon nganga mendengar penjelasan Myungsoo, “ Dan kau mengalami perjodohan itu?”

Myungsoo mengangguk, “ Appa dan Ummaku, mereka menikah juga karena dijodohkan. Tapi mereka beruntung karena mereka memang saling mencintai. Tetapi aku? Aku dijodohkan dengan sahabatku sendiri. Dan aku menolak habis-habisan.”

“ Jadi begitu…? Lalu bagaimana dengan sahabatmu itu? apa dia menolak juga?” tanya Howon penasaran.

“ Itu dia! Dengan seenaknya dia malah menerima perjodohan itu. seharusnya minggu lalu aku sudah bertunangan. Tapi aku nekat kabur dari rumah.”

“ Wah!” Howon semakin tertarik mendengar kisah Myungsoo, “…lalu, kau kabur kemana?”

“ Ke rumah pamanku, Jonghyun. Pamanku itu juga dulu seperti aku, menolak perjodohan dan memutuskan hidup sendiri. Beliau hidup miskin sekarang, tetapi setidaknya beliau lebih bahagia karena sudah menikah dengan wanita yang beliau cintai. Meski berat jika harus miskin seperti beliau, tetapi tekadku untuk menghindari perjodohan itu sudah sangat kuat.”

“ Jadi, pamanmu yang menyekolahkanmu disini?”

“ Kau benar. Pamanku yang memindahkan aku dari Cheongdam kesini. Selain karena beliau tidak tega jika aku harus hidup miskin bersamanya, beliau juga ingin mengisolasiku dari dunia luar, karena jika aku di asrama, tentu keluargaku tidak akan mudah mencariku.”

“ Hmm.. benar juga yah. Jadi itu alasanmu tidak bisa meminjamkan aku uang untuk mengganti pot Bu Hyorin? Apa kau tidak membawa sedikitpun kekayaanmu saat kabur dari rumah?”

“ Tentu saja tidak. Mana sempat aku membobol brankas di rumahku. Aku saja kabur dari rumah dalam keadaan mabuk.”

“ Apa pamanmu tidak menitipkan sedikitpun uang padamu?”

Myungsoo menggeleng, “ Aku tidak berani meminta. Aku sudah terlalu merepotkan beliau. Aku terpaksa menghidupi diriku sendiri disini. Makanya, kau tahu kan mengapa aku mengajakmu….”

“ Mencuri?”

Myungsoo mengangguk yakin, “ Bagaimana, kau mau tidak?”

“ Duh..” Howon menggaruk pelipisnya, “…itu kan tidak mudah, berbahaya juga. Kalau ketahuan bagaimana?”

“ Ck, kalau kau hati-hati gak akan ketahuan lah!” Myungsoo terus menghasut Howon. Tentu karena ia juga sudah stress, keuangannya terus menipis karena ia membeli banyak kebutuhan sekolahnya, ia juga sudah menjual semua gadget serta barang-barang mewah miliknya untuk membeli kebutuhan hidupnya di asrama. Jalan satu-satunya untuk mendapatkan uang dengan mudah hanya mencuri.

“…bukankah saat kita berkumpul kemarin para penghuni lantai ini cerita kalau mereka semua didiskriminasi dan diledek oleh siswa-siswa kaya? Ini sekaligus ngasih pelajaran. Kita curi dompet-dompet siswa yang kaya aja, biar tau rasa mereka.”sambung Myungsoo, Howon mengangguk pelan.

“ Duh, aku harus memikirkannya matang-matang dulu.”jawab Howon, ia pun berjalan ke balkon dan merenung disana.

“ Ingat pot kepala sekolah!” pesan Myungsoo, sekaligus modus agar Howon menyetujui ide gilanya.

“ Bagaimana kalau kau lakukan duluan?” tawar Howon.

“ Maksudmu, aku beraksi duluan?”

****

Keesokan harinya …

Howon masih mengelus nisan makam Bomi, Eunji yang ada disampingnya hanya bisa memegang bahunya dan menghapuskan airmatanya. Pesan terakhir Bomi masih terngiang-ngiang saja dibenaknya. Kemarin, ia ribut besar dengan Sunggyu. Untung saja bisa diselesaikan karena Sunggyu sadar ia hanya salah paham, tapi jika Sunggyu tahu Bomi berpesan agar Eunji menjadi kekasih Howon, entah apa reaksinya nanti.

Sekarang saja Sunggyu ikut menghadiri acara pemakaman Bomi. Dengan alasan sebagai ketua lantai ia ingin mendampingi Howon yang hari itu terpaksa izin tidak sekolah, padahal sebenarnya ia hanya ingin mengawasi Eunji.

“ Kau bisa kesini lagi lain waktu. Ayo kita pulang ke asrama.” ajak Sunggyu, Howon mengangguk dan berdiri setelah sempat mencium nisan Bomi sejenak. Rasanya ia tak ingin meninggalkan tempat itu. tetapi ia juga tidak enak jika Sunggyu dan Eunji harus menunggui dirinya terlalu lama.

Sunggyu segera menggandeng tangan Eunji dan tidak membiarkan kekasihnya itu berjalan dengan Howon. Howon akhirnya berjalan sendirian di belakang.

“ Biasanya.. sebelum meninggal, seseorang pasti meninggalkan wasiat atau pesan terakhir. Apa Bomi juga demikian?” tanya Sunggyu. Eunji terkejut

Eunji mengangguk pelan.

“ Jinjja? Kalau boleh tahu, apa pesannya?” tanya Sunggyu lagi.

“ Bomi hanya menitipkan Howon padaku.”jawab Eunji seadanya.

“ Hanya itu? baiklah. Aku tidak melarang, tetapi kumohon, jaga kesetiaanmu. Aku tahu Bomi tak hanya sekedar menitipkan Howon padamu, ia juga pasti berharap kau bisa menggantikan dirinya sebagai kekasih Howon.”

Eunji hanya tersenyum tipis, Sunggyu memang selalu tahu apa yang sedang ia pikirkan.

“ Arasseo oppa, aku tidak mungkin meninggalkanmu.”jawab Eunji, Sunggyu tersenyum sembari meletakkan kepala Eunji dibahunya lalu mencium kening gadis itu.

Howon hanya bisa menatap nanar keduanya, ia merasa berdosa jika ia tak bisa mengabulkan pesan terakhir Bomi, tetapi ia juga tidak mungkin menghancurkan hubungan Eunji dengan Sunggyu. Meski ia tak bisa membohongi perasaannya kalau ia juga masih berharap bisa bersama Eunji lagi.

Baiklah, belum saatnya memikirkan hal itu. pikiran Howon mulai bercabang *pohon kali ah -_-*, ketika ia ingat apa yang ia bicarakan dengan Myungsoo kemarin.

Teman satu kamarnya itu mengajaknya untuk menjadi pencuri. Memang, itu jalan satu-satunya untuk mendapat uang banyak dalam waktu singkat. Ia harus segera mengumpulkan uang untuk mengganti pot bu Hyorin.

***

TAP TAP TAP… DRAP.. DRAP.. DRAP.. *anggap aja suara langkah orang lari tunggang langgang ._.*

“ Ugh.. ugh..hhh.. hhh..” dengan nafas terengah-engah Myungsoo terus saja memaksakan dirinya untuk berlari sekencang-kencangnya, sebuah dompet berwarna abu-abu segera ia masukkan kedalam saku celananya dalam-dalam. Sebenarnya tidak ada yang mengejar dirinya, tetapi ia panik kalau-kalau ada yang melihatnya mencuri dompet seorang siswa di kantin tadi.

BRUK!!!

Ketika baru saja belok dan memasuki bawah tangga, Myungsoo tak sengaja terpeleset karena banyak kartu berserakan di lantai bawah tangga tersebut, ketika ia hendak bangkit, seorang gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Naeun langsung memukulinya.

“ YAAAA!!! KAU INI!! Kampret!! Liatin kartu-kartuku jadi berantakaaaaan!!!!” marah gadis itu sembari terus memukuli Myungsoo.

“ Aaa!! Aaa!! Appo!! Hentikaaan!!” Myungsoo berusaha menghalau pukulan Naeun yang bertubi-tubi, “…kau juga aneh!! Ngapain sendirian dibawah tangga begini, nyusun-nyusun kartu gajelas pake nyalain lilin segala. Kayak orang stress!”

Naeun geram, gadis itu duduk diatas perut Myungsoo yang masih telentang dilantai.

“ Ya!! Kau ini apa-ap…..” Myungsoo terkejut dengan tindakan Naeun.

“ Heh!! Aku kan peramal, jadi begini pekerjaanku!”kata gadis itu tegas.

“ Hah!? Peramal? Halaah.. peramal gadungan!” balas Myungsoo sengit.

“ Ck!! Tidah usah banyak bicara!! Kembalikan cucian yang aku lempar kemarin!!”

Myungsoo tertawa, “ Huahahaha! Kau masih ingat CDmu itu? kau kan masih punya banyak, masa’ aku simpan satu saja tidak boleh!”

PLAK!!!

Sebuah tamparan mendarat dipipi mulus Myungsoo.

“ Kurang asem!!! Kembaliin ngga!!!!?” desak Naeun, ia seperti sudah kehilangan rasa malu, apapun yang terjadi ia harus mendapatkan kembali pakaian dalamnya itu.

“ Ngga!” jawab Myungsoo keras sembari mengusap pipinya yang panas dan sakit akibat ditampar Naeun.

“ Kembaliin!!!”

“ Enggaaaaa!!!”

“ Kembaliin!!!!!”

“ Sudah kubilang engga, ya engga!! Sekarang berdiri! Aku harus pergi!!”

“ Shireo. Kembalikan dulu cucianku itu baru aku melepaskanmu!”

“ Dasar keras kepala!!”

“ Biarin!”

“ Cepat berdiri!”

“ Shireo! Kembalikan dulu cucianku!”

“ Tidak mau!”

“ Ya sudah.”

“ Berdiri, atau aku cium kau!?”

Naeun terkejut mendengar ancaman Myungsoo. Namja ini ternyata tidak se-cool yang ia kira. Namun bukan Son Naeun namanya kalau tidak bisa melawan.

“ Cium saja aku kalau berani!!”tantang gadis itu.

Myungsoo langsung menarik dasi Naeun hingga gadis itu jatuh kepelukannya, kemudian namja itu menekan tengkuk Naeun agar bibir mereka dapat bersentuhan. Naeun berontak setengah mati, ia langsung berguling dan berdiri menjauhi Myungsoo.

“ Dasar kurang ajar!!!!!!!” amuk gadis itu, meski dalam hati ia tak bisa memungkiri bahwa sebenarnya ia juga mau dicium oleh namja setampan Myungsoo. Tapi ini soal harga diri, tentu saja gadis itu memilih untuk menghindar.

“ Hahaha..” Myungsoo hanya tertawa evil sembari berdiri lalu membetulkan penampilannya, “…makanya, jangan macam-macam denganku, peramal gadungan.”

“ Uuugghhh!!!” tangan Naeun mengepal, rasanya ia ingin menghajar Myungsoo habis-habisan, namun namja itu keburu pergi.

***

“ Si Howon kemana sih. ngelayat aja lama bener.” Myungsoo melirik jam kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 4 sore, Howon belum juga pulang ke asrama. Entah kemana perginya namja itu, padahal Myungsoo ingin membagi pizza yang ia beli tadi siang, tentunya dengan uang hasil curiannya yang pertama. Yah, tetapi Myungsoo sama sekali tak peduli, yang penting ia bisa makan makanan mahal lagi meski menggunakan uang curian.

“ Mas, minta dong pizzanya.”

EHEK!!!

Myungsoo tersedak, terkejut karena sebuah suara berat namja itu terdengar lagi bahkan tepat didekat telinganya, ia menoleh kesana-kemari, namun tak ia temukan orang yang baru saja minta pizza kepadanya itu.

“ Hah.. halusinasi.. halusinasi..” Myungsoo mencoba menenangkan dirinya, ia kembali melanjutkan sesi makannya.

“ Ih, pelit nih. Minta dong~”

“ Duuuh siapa sih!!?” Myungsoo semakin parno, ia kembali mencari-cari orang yang barusan mengatainya pelit tadi. Tapi lagi-lagi, tak ada orang.

Myungsoo pun memasang headset ditelinganya agar tidak lagi terdengar suara itu, tetapi ketika ia hendak mengambil lagi sisa pizzanya yang tinggal sepotong, pizza tersebut tidak ada. Hilang entah kemana.

“ Heh, pizzaku mana?” Myungsoo terkejut, ia mencari-cari pizzanya sampai ke kolong tempat tidur, tapi tidak ada.

“…kampret! Mana itu potongan yang paling besar pula! Ck!” omel namja itu.

“ Makasih ya, pizzanya enak^^”

“ HAAA!!!” Myungsoo mendengar suara itu lagi, karena tak tahan, ia pun keluar kamar dan menggedor-gedor kamar Woohyun.

***

“ Mwo? Ada siswa yang kehilangan dompet? Tumben..” Eunji terkejut ketika ia menerima daftar berita yang harus ia siarkan di Radio Sundae sore itu, “…baru tadi siang kejadiannya?”

“ Iya, pas jam istirahat.”jawab Chorong, kakak kelas sekaligus salah satu pengurus Radio Sundae, “…aku saja kaget ketika tahu, masalahnya kan di Sundae jarang banget ada yang kehilangan barang, apalagi dompet.”

Eunji mengangguk-angguk, gadis itu membaca daftar berita yang ia pegang sembari memasang headphonenya karena sebentar lagi ia siaran.

Howon masih mematung didekat meja operator, berpikir dan menduga, pasti Myungsoo yang mencuri dompet yang hilang tersebut.

“ Hei, pasang headphonemu! Sebentar lagi siaran!” tegur Chorong.

“ Mianhae, sunbae. Sepertinya hari ini aku mau izin. Aku tidak bisa siaran.”kata Howon.

“ Lho, kenapa?”

“ Mungkin ia masih berduka karena kekasihnya baru saja meninggal. Ya sudahlah, biar aku yang gantikan.”kata Sunggyu sembari memasang headphonenya lalu duduk disamping Eunji.

“ Ya sudah, kalau begitu kau boleh ke asrama.”kata Chorong mengizinkan.

“ Gamsahamnida. Aku permisi.”kata Howon singkat, lalu ia keluar dari gedung radio dan berjalan lunglai menuju asramanya.

“ Myung.. Myungsoo~” Howon mengetuk-ngetuk pintu kamarnya, namun tak terdengar jawaban, pintunya juga dikunci.

“ Hei, Myungsoo disini!” Woohyun nongol diambang pintu kamarnya dan melambaikan tangan kearah Howon.

“ Jinjja?”

“ Ne! kajja, kita ngobrol dikamarku.”

Setelah berpikir sejenak Howon pun mengangguk, ia ikut masuk kedalam kamar Woohyun. Ada Dongwoo dan Myungsoo disana.

“ Hei, kenapa baru pulang?” tanya Myungsoo ketika Howon baru saja duduk diatas tempat tidur Woohyun.

“ Tadi aku mampir ke gedung radio dulu.”jawab Howon singkat.

“ Kau tidak siaran?”tanya Dongwoo.

“ Tidak, aku izin. Sunggyu sunbae yang menggantikan aku.”

“ Apa ada Chorong di gedung radio?”tanya Woohyun, menanyakan Chorong, pacarnya. Howon mengangguk.

“ Aku baru tahu sekolah ini ada radionya.”kata Myungsoo.

“ Haha, eh, tadi aku sempat lihat daftar beritanya, katanya tadi siang ada siswa yang kehilangan dompet.”kata Howon sembari melirik Myungsoo.

EHEK!!!

Myungsoo yang kebetulan baru saja meneguk minuman langsung keselek.

“ Mwo!? Jinjja? Tumben amat, biasanya jarang ada kasus begitu.”kata Dongwoo, Woohyun mengiyakan. Sementara Myungsoo diam seribu bahasa, ketika Howon meliriknya lagi, ia hanya bisa mehe-mehe gaje.

“ Kau?” tanya Howon tanpa bersuara kearah Myungsoo, Myungsoo mengangguk pelan sembari menaruh telunjuk dibibirnya, menyuruh Howon untuk diam.

“ Ah, ya sudahlah.. eh, tidak apa-apa kan kalau aku disini dulu?”Myungsoo mengalihkan pembicaraan.

“ Iya tidak apa-apa kok. Tapi.. kenapa tiba-tiba kau mengungsi kesini? Memangnya ada apa dikamarmu?”tanya Woohyun.

Wajah Myungsoo memucat, lagi-lagi ia ingat dengan suara berat seorang namja yang dua hari ini mengganggunya terus.

“ Jujur aja nih ya, sudah dua hari ini aku selalu diganggu oleh suara tanpa wujud.”jelas Myungsoo singkat, “…kemarin, pintu kamar diketuk-ketuk. Pas aku buka pintunya kagak ada siapa-siapa.”

“ Pasti si itu tuh..” kata Dongwoo pelan. Woohyun mengangguk, Howon manggut-manggut.

“ Si itu siapa?” tanya Myungsoo penasaran.

“ Ceritain nggak yah?? Kasi tau gak yah? Mau tau aja apa mau tau bangeeet??” Woohyun bingung *itu bingung apa alay -__- #plak!!*

“ Iya, kalo gak izin ke Sunggyu sunbae gak berani ah.”kata Dongwoo.

“ Aaaa ceritain!!” desak Myungsoo.

“ Iya deh ceritain aja.”kata Howon, ia kasihan pada Myungsoo yang udah melas banget pengen tau ‘si itu’ yang dimaksud Dongwoo tadi.

“ Tapi janji yah, didepan Sunggyu sunbae, kau harus pura-pura tidak tahu! Ia akan marah jika kau tahu soal ini.”kata Woohyun.

“ Ne.. ne.. arasseo. Kajja, ceritakan padaku!”kata Myungsoo.

“ Mm.. laper nih, beli makanan dulu dong. Biar kagak mencekam suasananya kita cerita sambil ngemil.”kata Woohyun *modus -_-*

“ Yaelah.. yaudah nih beli makanan sama minuman ringan.” Myungsoo mengeluarkan sisa uang curiannya dan menyerahkannya pada Woohyun. Woohyun langsung cengar-cengir dan mengajak Dongwoo untuk ke Sundae Minimarket sebentar.

Setelah Woohyun dan Dongwoo pergi, Howon langsung menginterogasi Myungsoo.

“ Jadi benar kau yang mencuri dompet tadi siang itu!?” tanya Howon.

“ Iyaa..”jawab Myungsoo singkat.

“ Gak ketahuan?”

“ Kalo ketahuan mana mungkin aku masih ganteng begini, pasti udah digebukin lah. Tapi kenyataannya enggak, kan?”

“ Bagaimana caranya?”

“ Makanya kau lihat aku beraksi besok!”

“ Baiklah..”

Setelah beberapa menit, Woohyun dan Dongwoo pun datang membawa banyak snack dan minuman kaleng. Hari yang tadinya sore sekarang sudah memasuki malam. Dan kampretnya, saat keempat namja itu baru saja hendak mulai bercerita soal sejarah kamar 130, asrama Sundae tiba-tiba padam listrik.

Akhirnya, dilantai kamar, Myungsoo, Howon, Dongwoo, dan Woohyun duduk membentuk lingkaran dengan snack dan lilin ditengah-tengah mereka, mereka juga memakai sarung untuk melindungi mereka dari udara dingin *di Korea emang ada sarung? Ada-adain aja lah ya ._. #plak!!*

“ Jadi.. kamar 130 di lantai tujuh ini punya sejarah yang nyeremin.. sejak tahun 2000, kamar itu dibiarkan kosong sampai tahun 2012, pas tahun 2013 ini aja baru diisi sama Howon karena siswa Sundae mulai banyak.”jelas Dongwoo. *NB : anggap tahun dalam ff ini adalah tahun 2013 yah^^*

“ Dan sejak kelas sepuluh, aku tinggal di kamar itu sendirian. Awalnya sih, aku memang suka diganggu, tapi sekarang nggak terlalu lagi. Lagipula aku sudah cukup terbiasa.”sambung Howon.

“ Jadi kamar itu emang ada hantunya?” tanya Myungsoo to the point.

“ Bisa dibilang sih, iya..”kata Woohyun, “…jadi, kata guru-guru sih, begini sejarahnya…”

“…dahulu, tahun 1999, kepala sekolah Sundae High School adalah pemilik Sundae sendiri, orang-orang menyebut kepala sekolah itu Mr. Hong. Beliau sangat kaya, dan memiliki anak tunggal perempuan yang kebetulan juga sekolah di Sundae.”jelas Woohyun.

“…sejak dulu, Sundae memang menerima siswa yang berprestasi dari beberapa SMP di Korea untuk diberi beasiswa sekolah disini. Jadi dahulu, ada seorang siswa namja yang bersekolah di Sundae ini karena mendapat beasiswa, siswa tersebut sangat miskin. Tetapi ia pintar, namanya Lee Sungyeol.”sambung Dongwoo.

“ Nah, Sungyeol ini kebetulan satu kelas dengan anak perempuan Mr.Hong itu, namanya Hong Yookyung. Ternyata, keduanya saling suka dan akhirnya berpacaran. Tetapi hal itu dilakukan diam-diam sebab mereka yakin, Mr. Hong tak mungkin mengizinkan mereka berpacaran karena Sungyeol orang miskin.”sambung Howon.

“ Ini cerita romantis apa cerita horor sih?”tanya Myungsoo bingung.

“ Yeee!! Makanya denger dulu atuh!!!” kata Woohyun, Dongwoo, dan Howon kompak.

“ Iye iye -____-“

“ Lalu, setelah sekian lama mereka menjalani hubungan diam-diam, mereka akhirnya ketahuan karena Yookyung diduga hamil.”Woohyun menjelaskan kembali.

“ Padahal sebenarnya Yookyung hanya masuk angin biasa. Tapi sayangnya, banyak orang yang sudah salah paham. Termasuk Mr. Hong, karena sudah sangat marah mengira anaknya hamil, ia menginterogasi semua siswa namja yang ada di Sundae. Sungyeol yang tidak tahu apa-apa mengaku kalau ia adalah kekasih Yookyung, hanya saja ia tidak mengaku kalau ia yang telah menghamili Yookyung.”jelas Dongwoo.

“ Tapi tetap saja, Mr. Hong marah besar. Ia mencaci maki Sungyeol didepan umum, semua siswa pun mencemooh Sungyeol karena mereka semua mengira pasti Sungyeol yang telah menghamili Yookyung. Akhirnya sejak saat itu, beasiswa Sungyeol dicabut.”jelas Howon.

“ Tapi taunya gak sampe situ aja, sekelompok siswa namja dalam jumlah besar ternyata ingin mencelakai Sungyeol. Seriously, mereka ingin membunuh Sungyeol.”sambung Woohyun dengan tatapan horornya.

“ Kejadian bersejarah pun terjadi tepatnya tanggal 16 April.”kata Dongwoo.

“ Jadi, saat itu Sungyeol sedang berkemas di kamarnya untuk pergi dari Sundae. Kamar Sungyeol adalah kamar 130 di lantai tujuh ini. Ketika sedang berkemas, Yookyung tiba-tiba datang dan meminta Sungyeol untuk tidak pergi. ia juga berkata kalau ia hanya masuk angin biasa. Tapi apa mau dikata, beasiswa Sungyeol sudah terlanjur dicabut.”jelas Woohyun.

“ Seorang cleaning service yang dulunya bersih-bersih di lantai ini bilang, bahwa beliau melihat Sungyeol dan Yookyung sama-sama menangis didalam kamar itu karena akan berpisah, keduanya berpelukan dan berciuman disana. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena tiba-tiba mereka mendengar suara ribut dari luar. Para siswa namja itu datang dan memasuki kamar Sungyeol lalu tanpa aba-aba langsung membantai Sungyeol.”jelas Howon dengan nada bergetar karena mengingat kejadian tragis itu berlangsung didalam kamarnya.

“ M..m..mem..mem.. membantai bagaimana?” tanya Myungsoo ketakutan.

“ Yah, begitulah. Masing-masing siswa namja itu membawa senjata. Seperti pisau, silet, rantai, dan batu. Mereka membantai dan menyiksa Sungyeol tanpa ampun. Yookyung terus menjerit-jerit dan menangis histeris meminta pertolongan, ahjussi cleaning service itu berlari mencari guru pengawas untuk melaporkan aksi kejam para siswa namja itu, tetapi terlambat, Sungyeol sudah tewas dengan bersimbah darah diatas tempat tidur, dan para siswa namja itu langsung melarikan diri.”jelas Woohyun.

“ Dan setelah kejadian itu, Yookyung stress berat dan keesokan paginya ia ditemukan tewas di lapangan upacara Sundae, diduga dia terjun dari lantai 5 gedung sekolah.”kata Dongwoo, “…Mr.Hong langsung turun dari jabatannya sebagai kepala sekolah dan beliau juga kini sudah meninggal karena sakit jantung. Kepemilikan Sundae diserahkan kepada keluarga Bu Hyorin.”

“ Akhirnya sampai sekarang, Sungyeol masih berkeliaran di Sundae. Sudah jelas ia pasti gentayangan. Yookyung juga kadang-kadang sering menampakkan diri di sekitar lapangan sekolah. Tapi sejak ada Naeun di sekolah ini, Yookyung sudah jarang menampakkan diri karena Naeun memintanya untuk tidak menggangu penghuni sekolah.”jelas Howon.

“ Naeun?” Myungsoo bingung karena nama gadis aneh itu disebut-sebut lagi.

“ Ne.. Naeun kan bisa berbicara dengan arwah gentayangan gitu.”

Myungsoo manggut-manggut, “ Kalau boleh tahu, dimana Sungyeol dan Yookyung dimakamkan?”

“ Tidak tahu.”jawab Woohyun, Dongwoo, dan Howon bersamaan.

“ Pihak sekolah merahasiakannya dari semua siswa. Kurasa Naeun pasti tahu, tapi ia juga tidak mau mengatakannya.”kata Howon.

“ Kenapa aku harus tinggal di kamar bekas pembantaian begituuuu~” lirih Myungsoo, ia jadi tidak mau lagi kembali ke kamarnya itu. sudah jelas, berarti yang kemarin mengetuk-ngetuk pintu dan yang tadi sore meminta pizza kepadanya itu adalah Sungyeol.

“ Sabarlah. Kau bersamaku.”kata Howon sembari merangkul Myungsoo.

“ Kalau begitu janji ya jangan tinggalkan aku sendirian di kamar lagi!”kata Myungsoo.

Howon mengangguk.

“ Hm.. jadi sudah jelas kan ceritanya?”kata Woohyun. Myungsoo mengangguk.

“ Ha..ha..ha..~”

Tiba-tiba terdengar suara tawa seorang namja, bersamaan dengan itu, sekelebat bayangan melintas di jendela kamar Woohyun yang memang belum ditutup. Kemudian tak lama, lilin yang menyala didalam kamar mati mendadak.

“ AAAAAAAA!!!!!!” keempat namja itu langsung pada ngumpet dibawah kolong tempat tidur.

**************

Esok harinya …

“ Tidak kusangka aku bisa melakukannya!” dengan wajah agak pucat Howon menghampiri Myungsoo yang menungguinya di belakang sekolah siang itu.

“ Jinjja? Kau melakukan seperti yang aku contohkan, kan?” tanya Myungsoo.

Howon mengangguk, lalu mengeluarkan tiga buah dompet dengan warna berbeda-beda dari tasnya.

“ Yang ini aku curi di kantin, yang ini aku curi di koridor depan kelas, aku pura-pura nabrak orangnya gitu terus aku tarik dari sakunya. Hehe. Terus yang ini aku curi di kelas pas jam istirahat, pas kelas sepi.”jelas Howon sambil menunjukkan satu per satu dompetnya.

“ Wow, you’re doing well.” Myungsoo ketawa setan sembari mehe-mehe melihat dompet curian Howon, ia lalu mengeluarkan dompet hasil curiannya dari dalam tasnya. Sama, tiga buah dompet dengan warna berbeda-beda.

“ Semuanya dompet guru.”jawab Myungsoo bangga.

“ Mwo!!? Bagaimana caranya?!” Howon terkejut.

“ Karena aku pintar, aku dekati guru untuk pura-pura menanyakan materi. Saat gurunya sibuk menjelaskan, aku ambil dompetnya.”jawab Myungsoo santai.

“ Waaah.. daebak. Daebak! Dengan dompet sebanyak ini kita bisa beli banyak kebutuhan! Aku juga mulai bisa menabung untuk mengganti pot Bu Hyorin.”

“ Tos dulu dong,”

PLOK! Mereka pun kompakan *kok bunyinya plok sih -_- #abaikanlah*

Keduanya pun langsung memasukkan dompet-dompet tersebut kedalam tas mereka lalu pulang ke asrama.

*

[BET NYUS, eh salah, BAD NEWS]

“ Hari ini, enam warga sekolah yang terdiri dari tiga siswa dan tiga guru kehilangan dompet mereka. Pencarian sudah dilakukan disetiap penjuru sekolah, tetapi tak juga ditemukan dompet mereka yang hilang. Diduga kuat dompet tersebut dicuri. Namun tak ada yang bisa diduga sebagai pelaku karena selama kegiatan di sekolah tadi siang, tak ada satupun siswa yang terlihat mencurigakan. Oleh karena itu, malam ini pihak sekolah dengan dipimpin oleh Bu Hyorin akan melakukan razia di semua kamar asrama Sundae guna mencari dompet-dompet yang hilang tersebut.”

“ Mampusss!! Liat nih! Liat!! Beritanya cepet banget!” Howon menarik Myungsoo yang sudah berjalan didepannya menuju papan mading Sundae yang terletak tepat disamping Sundae Café.

“ Apaan?” Myungsoo membaca berita di mading tersebut.

EHEK!!

Lagi-lagi namja tampan itu keselek softdrink yang sedang ia minum.

“ Gaswat!! Gimana dong, kalo dirazia kita ketahuan!”kata Myungsoo setengah berbisik karena banyak orang lalu lalang disekitar café senja itu.

“ Sembunyiin dimana kek!” kata Howon panik.

“ Ya sudah, kajja!”

Dua namja tampan itu langsung berlari ke kamar mereka dan memasukkan dompet-dompet curian mereka kedalam sebuah kardus. Lalu dengan mengendap-endap mereka pergi ke belakang asrama dan mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan dompet-dompet tersebut.

“ Hei, kita sudah jalan terlalu jauh!!”teriak Howon karena Myungsoo terus saja menyusuri semak belukar yang sudah agak jauh dari gedung belakang asrama.

“ Hei!! Aku menemukan tempat yang aman!!”teriak Myungsoo, Howon langsung berlari menyusul.

“ Mana?”tanya Howon kemudian, Myungsoo langsung menunjuk tanah didepannya.

“ Hmmh.. lumayan. Ya sudahlah kita kubur disini saja dompet-dompetnya! Razia sudah mau dimulai tuh!!” sambung Howon, ia dan Myungsoo langsung mencangkul tanah tersebut dengan cangkul kecil yang mereka bawa. Setelah tanah yang mereka gali dirasa sudah cukup dalam, mereka mulai memasukkan dompet-dompet tersebut.

BLUK! BLUK!!

“ Lho, kok bunyinya kayak ngebentur kayu gitu yah..” Myungsoo dan Howon heran karena saat memasukkan dompet tersebut kedalam tanah, dompet-dompet tersebut seperti membentur kayu.

Myungsoo menyalakan senternya dan melihat kedalam galian yang mereka buat, wajah tampannya memucat.

“ I.. itu kayak peti mati.” ucap Myungsoo terbata.

“ M..mwo!!?” Howon terkejut, “…jangan bercanda, ah! peti mati apaan!?”

“ Iya ini peti mati!!”

“ Peti mati siapa!!?” Howon panik, berharap Myungsoo hanya bercanda, namun tak sengaja, ia melihat sebuah batu panjang berdiri tak jauh dari lubang tersebut. Howon pun menyalakan senternya dan melihat tulisan yang terdapat pada batu itu.

R.I.P

LEE SUNGYEOL

AUGUST 27, 1983 – APRIL 16, 1999

_To Be Continued_

 

Okeh, author menyelesaikan part ini dengan rasa parno to the max karena ada yang berkali-kali ngetok kamar author tapi kagak ada orangnya 😦 *rasain lu thor #PLAK!!*

Sorry readers, part ini kayaknya lebih banyak horornya daripada romancenya ._. hope you still like it. Part 4 bakal lebih romantis kok, walaupun horornya nambah -_-

Baiklah, seperti kata author diatas tadi, author bakalan hiatus untuk UAS. Jadi mungkin sekitar 2-3 minggu lagi ff ini baru akan update lagi. Author juga mohon doa ya moga-moga UAS author sukses, kekeke~

RCLnya sangat diharapkan 🙂

 

Next :: Part 4 >> Dating with The Thieves

Advertisements

139 responses to “Two Handsome Thieves in Sundae [Part 3 : The Terror]

  1. Aish udah dua kali baca ffmu thor yg horror² dikamar sendirian lagi.
    Untung aje ga kena tunanya kaya sih authornya yang kamarnya di ketuk² orang ga ada wujud..Kwkww
    *ketawa setan..
    Haha jadi myungsoo dan howon jadi copet ganteng(?).
    Kalo disini ada copet bgitu aku mah pasrah aje kali yah di rampokin kalo perluh rampokin hati aku donk..*plaak
    #keturan gaje authornya -_-
    Meski romancenya dikit ga masalah lah asal mereka ttep mepet mepet(?).
    Nah loh sepertinya mereka nemuin makam sungyeol yang katanya di sembunyikan bu hyorin kepala sekolahnya.
    Ck itulah akibatya nyuri di skolah asrama..Kkk

    Salam somplaakk..

  2. wah horor tenan… >.< apalagi pas bagian Myungsoo digangguin Sungyeol… *tutupan selimut*
    Berarti member infinite cuma kurang Sungjong yang belom nongol… hihi…
    tapi, sumpah… baru kali ini aku baca fanfic se-ajaib dan se-sableng ini… wkwkwkwk…
    salam kenal… aku juga author di sini *tapi sering ngumpet* 😀

  3. Baca ulang ni ff di tahun 2019 gila masih seru euyy gue baca lagi seru banget ini klo dijadiin sinetron atau webtoon dah walaupun mungkin nyuri tidak patut ya ditiru give love to authornya yg sudah susah2 buat ff ini dari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s