(KyuSo moment) You’re My Sunflower – Chapter 4 [Sequel of “My Dandelion”]

you're my sunflower

Title: You’re My Sunflower : Engagement Party??!!  

Author : Vankyu (@bluavania)

Main Cast:

  •  Cho Kyuhyun
  • Kim Mi So (OC)
  • Kim Heechul

Other Cast:

  • Cho Ahra
  • Song Jihye
  • Super Junior member

Genre : Romance, Comedy

Rating : G

Length : Chapter

Author note:

Annyeeeeooong!!!!  *ngintip dari balik punggung Kyu*

MIANHAE!!! JEONGMAL MIANHAE!!

Udah hampir 2 bulan Vankyu hiatus 🙂

Keadaan gak memungkinkan author buat lanjutin fanfic. Sekolah lagi sibuk-sibuknya dengan semua aktivitas sama tugas yang mencekik author, mulai dari kartul sampe UAS yang baru kemarin selesai. Jadi wajar kalau fanfic ini tertunda lumayan lama..

Mohon pengertian para reader ^ ^ Sebagai permintaan maaf, chapter ini author kasih lumayan panjang, 22 halaman word!! Semoga reader-deul masih inget cerita sebelumnya :p

Buat para reader yang protes kenapa Kyuhyun belom ketemu juga sama Heechul, harap bersabar sedikit ya.. Mereka akan ketemu di waktu yang tepat, mungkin chapter selanjutnya *clue* hehehe

Chapter ini khusus menceritakan gimana pesta pertunangan pasangan evil kita. Saran author, chapter ini lumayan banyak adegan Kyuhyun yang bisa ngebuat kita senyum-senyum sendiri ngebayangin betapa manisnya sikap evil magnae yang satu ini, jadi siap-siap ber-fangirling ^ ^

Once again, Kyuhyun & Heechul belong to God, but this story is belong to me :)

Kalau ada kesamaan cast, jalan cerita, atau apapun.. Jangan salahin author, kan ini langsung terjun bebas dari pikiran author :)

Previous Chapter : Prolog Chapter 1 Chapter 2 Chapter 3

Buat yang belom baca My Dandelion, ayo buruan baca!!! hehehe

(KyuSo moment) My Dandelion

part 1 part 2 part 3 part 4 (END)

**********************

*previous story*

  “Dan alasanku mengajakmu ke sini adalah untuk meyuruhmu mencoba gaun yang kurancang khusus untuk hari pertunangan kau dengan iblis kecil itu.” Rasanya petir menyambar kepalaku saaat aku mendengar kalimat itu.

            “HARI PERTUNANGAN? AKU DAN KYUHYUN?” teriakku bingung. Ahra noona menganggukkan kepalanya. “Hm! Hari sabtu nanti kalian akan bertunangan. Apa tidak ada yang memberitahumu?” tanya Ahra unnie.

            Aku menggelengkan kepalaku cepat. “Tidak ada yang memberitahuku. Hari Sabtu? Berarti 3 hari lagi? Kenapa secepat it-“

            “Karena aku tidak ingin kau pergi dari sisiku. Semakin cepat aku mengikatmu, semakin baik. Kau tidak bisa pergi kemana-mana lagi sesuka hatimu.”

            Suara itu. Aku membalikkan tubuhku. Sosok malaikat kegelapan itu menatapku tajam dengan seringai setan miliknya. Deg! Jantungku berdetak cepat tanpa dapat kucegah. Debaran yang berbeda saat aku bersama dengan Heechul oppa. Debaran gila yang tidak pernah muncul selama 5 tahun terakhir. Dan selalu orang itu. Selalu sosok Lucifer itu yang bisa membuat debaran segila ini bekerja di dalam rongga tubuhku. Cho Kyuhyun.          

*************

*Kyuhyun POV*   

            Tok! Tok! Aku mengetuk pintu di hadapanku pelan, tak lama kemudian terdengar suara berat yang mempersilahkanku masuk. “Appa, aku tidak mengganggu waktumu kan?” ucapku tepat ketika memasuki ruangan kerjanya.

 Laki-laki itu menyunggingkan senyum hangatnya, “Aniyo. Sejak kapan keberadaanmu menggangguku. Kemarilah.” Aku berjalan dan duduk tepat di hadapannya. “Ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu, appa,”ucapku tanpa basa-basi.

“Aku tahu. Katakan.” Laki-laki itu menutup semua berkas di mejanya dan mengalihkan fokus pandangan matanya tepat ke manik mataku. Tanpa sadar aku mengepalkan tanganku, entah sejak kapan jantungku terasa berdetak cepat seperti ini.

“Aku ingin meminta izinmu. Sepertinya aku harus meresmikan hubunganku dengan gadis itu. Dengan ikatan yang sah.” Ujarku dengan yakin. Appa terlihat mengerutkan keningnya. “Gadis itu? Maksudmu Kim Mi So?” tanyanya.

Aku mengangguk. “Memangnya berapa gadis yang Appa lihat berada di sekelilingku? Hanya dia kan?” Dengan raut wajah yang tak berubah, perlahan Appa memundurkan punggungnya hingga bersender ke bantalan kursi.

“Ya, appa mengerti. Tapi maksudmu meresmikan hubungan kalian itu apa? Menikah? Bukankah waktu itu kau bilang tidak ingin terlalu cepat menjalani hubungan kalian? Kenapa sekarang kau meminta izin kepadaku?”

Aku menghela nafas perlahan, “Aku juga tidak tahu Appa, ada sesuatu yang membuatku gelisah. Baru kemarin aku yakin, bahwa akhirnya dia akan membuka perasaannya lagi untukku. Tapi, sekarang harapan itu terlihat mustahil untuk kuraih. Aku tidak bisa melihat gadis itu terbang terlalu jauh, sampai nanti akhirnya tidak bisa menemukan jalan kembali ke hadapanku.”

Seringai kecil tampak di wajah keriput Appa. “Sepertinya gadis itu sangat luar biasa. Mampu membuat anakku, Cho Kyuhyun, bertekuk lutut. Baiklah, Appa akan mengizinkanmu, dengan senang hati. Tapi tidak dengan pernikahan. Bagaimana kalau pertunangan? Setidaknya kalian masih terikat secara sah dan gadis itu masih bisa menata kembali hatinya untukmu.”

Senyum kecil menghiasi wajahku, “Gomawo Appa. Kau memang ayah terbaik di dunia.”Aku bangkit dari kursiku dan melangkah keluar.

“Kyu..”  Aku memutar kepalaku kembali menghadap Appa. “Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu? Apa benar Kim Mi So adalah wanita yang tepat menjadi pendampingmu?” tanya Appa.

Aku menyeringai, “Tidak ada wanita manapun yang kuizinkan menjadi pendamping seumur hidupku kecuali dia. Hanya dia, yang bisa memiliki seluruh hati dan hidupku.” Kulihat senyuman puas tercetak di bibir Appa. Aku melambai pelan sebelum menutup pintu.

 ***************

“Noona bantu aku, jebal.” Aku menarik-narik lengannya. Ahra noona memandangku tajam. “Bisakah kau berhenti merengek seperti anak kecil? Kau tidak lihat kalau aku sedang sibuk?” ucapnya sambil menunjukkan tumpukan baju yang dibawanya.

Bukan Cho Kyuhyun namanya kalau menyerah begitu saja. “Ayolah, tolong aku. Cuma sebentar kok. Ya? Ya? Mau kan?” ucapku sambil mengikuti langkahnya dari belakang.

“Tidak bisa. Banyak baju yang belum selesai kukerjakan. Kalau butikku rugi bagaimana? Kau mau tanggung jawab?”

Dengan sekali gerakan aku merebut tumpukan baju di tangannya. “Ya! Kembalikan!” teriak Ahra noona. Aku menyeringai, “Shireo! Aku tidak akan mengembalikan baju-baju ini sebelum kau menyetujui permintaanku.”

“Kau kira ancaman itu akan berhasil merubah pikiranku?” tantang Ahra noona.

“Tentu saja,” jawabku percaya diri. Dua detik kemudian Ahra noona mengusap wajahnya kesal. “Arasseo! Kau menang! Aku akan menjemput gadismu!”

Senyum kemenangan tercetak jelas di wajahku, “Gomawo noona. Kau memang kakak terbaik.” Wanita itu mendengus kesal.

“Cih! Hilangkan senyuman menyebalkan di wajahmu itu.” Aku terkekeh mendengar perkataannya. Tak lama kemudian aku bisa melihat mobil Ahra noona melaju cepat keluar dari pelataran parkir butik ini.

Sambil menunggu kedatangan Mi So aku merebahkan badanku di sofa. Kukeluarkan ponselku dari dalam kantong. Kutatap wajah gadis yang menghiasi halaman utama ponselku. “Berhentilah tersenyum seperti itu. Aku semakin merindukanmu, kau tahu?” ucapku. Dua hari. Hanya dua hari tapi aku sudah merindukan gadis itu layaknya orang yang tidak pernah bertemu berabad-abad. Kukira pengalaman berpisah selama lima tahun kemarin bisa membuatku bertahan, ternyata sama sekali tidak berhasil.

“Kau pasti akan menertawakanku jika mengetahui keadaanku sekarang,” ucapku sekali lagi pada ponsel di genggamanku. Aku mendesah perlahan. Apakah gadis itu juga merasakan hal yang sama denganku? Apakah dia merindukanku? Entahlah. Perlahan aku menutup mataku, berusaha untuk menghirup oksigen sebanyak mungkin yang dua hari ini terasa sulit untuk kuhirup.

Cukup lama aku tertidur, sampai akhirnya suara knalpot khas Porsche menyapa telingaku. Gadis itu pasti sudah sampai. Aku berusaha menenangkan jantungku yang melonjak-lonjak. Kulangkahkan kaki keluar dari ruangan kerja Ahra noona dan menuju ke lantai bawah.

“HARI PERTUNANGAN? AKU DAN KYUHYUN?” Kudengar teriakan gadis itu. Pasti noona sudah memberitahu tentang pesta pertunangan yang akan diadakan tiga hari lagi. Kulihat Ahra noona sedang menjelaskan hal itu kepadanya. Kim Mi So menggeleng cepat. “Tidak ada yang memberitahuku. Hari Sabtu? Berarti 3 hari lagi? Kenapa secepat it-“

“Karena aku tidak ingin kau pergi dari sisiku. Semakin cepat aku mengikatmu, semakin baik. Kau tidak bisa pergi kemana-mana lagi sesuka hatimu,” ucapku memotong perkataannya. Gadis itu memutar badannya menghadap ke arahku. Deg! Kembali jantungku berdetum keras saat mataku menangkap manik mata gadis itu yang sedang membulat sempurna.

“Cho.. Cho Kyuhyun.” Kudengar suara tercekat Mi So. Kini wajah itu berada hanya beberapa sentimeter dari wajahku. Kupandang lekat setiap inchi garis wajah gadis itu, berusaha meyakinkan diriku sendiri untuk terus mengingat paras sempurna di hadapanku ini.

Tanpa sadar jemariku terangkat begitu saja dan mengelus pelan pipi Kim Mi So yang kini mengeluarkan semburat kemerahan favoritku. Cukup lama kami terdiam dalam keadaan ini. Aku menarik nafas pelan. Terasa lebih mudah bernafas jika berada di sampingnya.

“Ehem!” Hampir saja aku melupakan keberadaan Ahra noona di ruangan ini. “Kalau kalian mau bermesraan, jangan lakukan di butikku. Apalagi di hadapanku,” ucap Ahra noona kesal.

“Makanya cepatlah cari namja yang mau bersanding denganmu,” ledekku. Mi So memukul lenganku kasar sambil melayangkan tatapan tajam ke arahku. “Wae?” tanyaku bingung.

“Jangan berkata seperti itu. Aku tahu kau ini memang namja setan, tapi perkataanmu tadi bisa terasa menyakitkan kalau di dengar, apalagi oleh seorang perempuan,” ujar Mi So. Ahra noona meloncat kearah gadis itu dan memeluknya.

“Astaga, akhirnya ada juga yang mengerti perasaanku. Kyu, dengarlah perkataan Mi So tadi!” ucapnya sambil menjulurkan lidah ke arahku. Mereka berdua tertawan bersama.

“Teruslah tertawa selagi kau bisa Kim Mi So,” ucapku sambil mengeluarkan seringaiku. Tergambar kebingungan di wajah gadis itu. “Apa maksudmu?” tanyanya.

“Tertawalah sebelum Ahra noona menyeretmu ke dalam dan memakaikan gaun-gaun itu secara bergantian di atas tubuhmu.” Kulihat gadis itu melebarkan matanya.

“MWO? SHIREO!” teriaknya sambil melepaskan pelukan Ahra noona dan berlari kecil ke arahku. Aku tertawa melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.

“Unnie jangan bilang kalau kau ingin mendandaniku?” tanyanya was-was. “Tentu saja adik ipar. Menurutmu untuk apa aku menjemputmu ke sini,” jawab Ahra noona.

“Kyuhyun-ah. Palli bawa aku pergi dari sini. Lebih baik aku bersamamu daripada terjebak di butik ini. Palli!!!” serunya sambil menark-narik lenganku. Kalau saja situasinya berbeda, pasti aku dengan senang hati akan menariknya pergi dari sini. Tapi ini semua demi kebaikannya.

“Andwae. Kau harus tetap di sini bersama Ahra noona.” Gadis tersebut menggembungkan pipinya. “Pasti ini semua idemu kan? Dasar namja gila,” serunya sambil melepaskan tangannya yang tadi menarik-narik lenganku.

“Pria mana yang tidak ingin melihat tunangannya berpenampilan cantik di hari pertunangan mereka? Ya, semoga saja noona bisa merubah monster sepertimu menjadi seorang putri,” ucapku sambil menyunggingkan smirk setanku.

“Sialan kau Cho Kyuhyun!” makinya sebelum aku keluar dari butik noona. Kulambaikan tanganku ke arahnya. Sebenarnya aku ingin melihatnya mencoba gaun-gaun itu, pasti dia terlihat sangat mengagumkan. Tapi kalau seperti itu bukannya tidak seru? Lebih baik aku percayakan dia pada Ahra noona dan mengetes sejauh mana dia bisa membuatku terpana di hari pertunanganku nanti.

************

*Author pov*

Seorang gadis terlihat sedang mengaduk panci di hadapannya. Namun mata gadis itu kosong, menandakan bahwa jiwanya sedang entah berada di mana. Puk! Sebuah tepukan di pundak gadis itu menyadarkan kembali dirinya. “Lihat masakanmu sudah mendidih,” suara berat seorang namja memperingati gadis itu.

“OMO!” teriak gadis itu sambil mematikan kompor. Desah lega keluar dari bibir mungilnya. Untung saja masakannya tidak hangus. “Oppa, gomawo. Hampir saja makananku hangus,” ucap Mi So kepada kakaknya.

“Apa sih yang kau pikirkan sampai-sampai melamun seperti itu? Memikirkan Kyuhyun?” tanya Kibum sambil memasang wajah iseng.

“Kyuhyun? Nugu?” sebuah suara tiba-tiba menyela percakapan kakak beradik tersebut. Kontan mata Mi So melebar setelah melihat sosok yang sekarang berdiri tepat di depan pintu dapur.

“Heechul oppa! Apa yang kau lakukan di sini?” Heechul berjalan masuk dan menarik kursi tepat di depan Mi So.

“Ryeowook sedang tidak ada di dorm, otomatis tidak akan ada makan malam. Daripada aku mati kelaparan lebih baik aku ikut Kibum ke sini. Oh iya, siapa Kyuhyun?” tanya Heechul sekali lagi.

Kibum menggerling jahil ke arah adiknya. “Kyuhyun itu-“

“Bukan siapa-siapa. Jadi jangan bicarakan dia lagi,” ucap Mi So memotong perkataan Kibum. Heechul menatap kakak beradik itu dengan tatapan bingung. “Benarkah?” tanyanya. Mi So melayangkan tatapan memohon kepada kakaknya. “Hmm benar, dia bukan siapa-siapa. Oh iya kau masak apa?” ucap Kibum mengalihkan pembicaraan.

“Aku masak jjampong (sejenis mie pedas). Kalian mau?” tanya Kim Mi So sambil menghidangkan sepanci penuh jjampong di meja makan.

“Woah.. Daebak! Apa makanan ini tidak akan membunuh kami?” tanya Heechul yang dibalas dengan jitakan dari Mi So.

“Kalau kau takut mati ya tidak usah dimakan,” ucap Mi So kesal. Heechul terkekeh melihat tingkah yeojachingunya. “Bukan begitu. Tapi lihat, kuahnya merah sekali. Berapa kilo cabai yang kau masukkan ke dalam panci, hah?” ucap Heechul.

“Nan molla. Sepertinya banyak sekali, sampai-sampai kalian akan sakit perut kalau memakan jjampong ini,” ucap gadis itu sambil menjulurkan lidahnya. Kibum dan Heechul yang memang sudah sangat lapar, mau tidak mau mengambil mangkuk dan mulai memakan jjamppong tersebut.

“HAAAAAH! YA! Jjampong macam apa ini? Pedas sekali!” teriak Kibum pada suapan pertamanya. Heechul yang penasaran akhirnya memasukkan jjampong ke dalam mulutnya. “AISSSH!! Lidahku! Lidahku terbakar!” Kim Mi So menertawakan dua manusia yang kini sedang meloncat-loncat kepedasan di kursi mereka sambil menjulurkan lidah masing-masing.

“HAHAHA, apa yang sedang kalian lakukan?” tawa Mi So memuncak ketika kedua manusia tersebut berebut air putih dari kulkas. Mi So menggeleng-gelengkan kepalanya. “Berlebihan sekali, malah aku baru saja ingin memasukkan potongan cabai lagi ke dalam jjampong itu. Akkhh!” Teriak gadis itu tiba-tiba.

Cairan merah mengalir dari telunjuk yeoja itu. Heechul yang mendengar jeritan Kim Mi So langsung menoleh dan berlari ke arah gadis itu. “Neo gwenchana? Ya! Kau ini ceroboh sekali!” ucap Heechul marah. “Mianhae,” ucap Mi So lemah.

Tanpa basa-basi Heechul meletakkan telunjuk Mi So di bibirnya. Dihisapnya darah yang keluar dari jemari indah tersebut. Tanpa mereka sadari sepasang mata lainnya memandang mereka dengan tatapan curiga.

“Kibum! Kibum-ah! Dimana kotak P3K?” teriak Heechul. Kibum tersentak dari lamunannya, “Akan kuambilkan.” Tak lama namja itu kembali dengan sekotak peralatan kesehatan.

“Ini,” ucap Kibum sambil menyerahkan kotak tersebut. Namja itu duduk dengan manis, menatap pemandangan di depannya. Beribu pertanyaan bergelayut di pikiran Kibum saat berkali-kali dia memergoki tatapan Heechul kepada adiknya. Tatapan itu penuh penuh rasa khawatir dan berbeda. Bisa dibilang tatapan terbut penuh… cinta? Apa mungkin mereka berdua??

“Cha! Sudah selesai. Untuk tidak seberapa, lain kali hati-hati.” Heechul mengusap poni Mi So lembut. Senyuman di kedua wajah tersebut semakin meyakinkan Kibum kalau diantara mereka berdua pasti ada sesuatu.

Setelah itu acara makan malam pun dilakukan. Kim Mi So tersenyum lebar saat melihat jjampong buatannya habis tak bersisa. Kini dia bersiap mencuci peralatan makan yang menumpuk. Kibum sedang mengantar Heechul kembali ke mobilnya. Tiba-tiba saja manajer Super J menelponnya tadi.

“So-ya,” panggil Kibum kepada dongsaengnya. Mi So menoleh sesaat dan kembali melakukan pekerjaannya. “Ada apa oppa?” Bukannya menjawab, Kibum malah melangkah ke samping adiknya yang tengah sibuk mencuci.

“Aniyo, hanya saja ada yang mengganjal di pikiranku saat ini.” Mi So menatap oppanya bingung. “Waeyo?” tanya Mi So yang kini telah menyelesaikan cuciannya dan bersiap-siap kembali ke kamar.

Melihat kakaknya yang tidak merespon, Mi So pun melangkahkan kakinya menjauh dari dapur. “Sebenarnya apa hubungan dirimu dengan Heechul hyung?”

*Kim Mi So POV*

“Sebenarnya apa hubungan dirimu dengan Heechul hyung?” Aku menghentikan langkah kakiku seketika. “Hubunganku dengan Heechul oppa? Ya! Pertanyaan macam apa itu?” ucapku sambil tertawa pelan, menutupi gemuruh di hatiku.

Tidak pernah aku melihat tatapan tajam Kibum oppa seperti kali ini. “Kau tahu apa maksud pertanyaanku, So-ya. Sebenarnya apa yang kalian berdua sembunyikan dari kami?” Aku terdiam, tidak mampu menjawab pertanyaan Kibum oppa yang terasa begitu mengintimidasi.

Kibum oppa berjalan mendekatiku. “Apa kalian… berpacaran?” tanyanya to the point. Aku menganggukkan kepalaku sambil menunduk. “Jinjja? Berapa lama?” tanya Kibum oppa sekali lagi.

“2 tahun,” jawabku. Kibum oppa melongo, “2 tahun? Dan kalian benar-benar menyembunyikannya dengan rapi. Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”

Aku tidak tahu alasan apa yang bisa kuberikan. Kibum oppa mengerutkan keningnya, “Omo! Dua hari lagi kan kau akan bertunangan dengan Kyu. Ottokhe?” ucap Kibum oppa. Aku menjitak kepala oppaku.

“Sekarang kau bisa merasakan kan betapa bingungnya menjadi diriku. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.”

Kibum oppa memandangku simpatik, “Kasihan sekali dirimu, harus terjebak di antara dua raja setan.” Kibum oppa mengelus kepalaku. “Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Kalau boleh tahu, dari dua namja setan itu siapa yang akan kau pilih?”

Andai saja pertanyaan itu dilontarkan Kibum oppa 2 hari lalu, pasti aku akan menjawab Heechul oppa. Tapi semenjak menghilangnya namja itu tiga hari yang lalu, bagaimana sikapku menjadi uring-uringan saat tak mendengar suaranya. Semuanya membuatku menjadi tidak yakin. Ditambah dengan debaran gila jantungku yang sudah lima tahun terakhir tidak kurasa kembali datang karena mataku menatap manik hitam matanya.

“Aku tidak tahu oppa. Aku tidak yakin dengan pilihanku sekarang,” ucapku hampir menangis. Kibum oppa merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. “Jangan menangis. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Tetap dengarkan kata hatimu karena hatimu tidak akan salah memilih. Aku yakin pada akhirnya kau akan memiih seseorang yang tepat.”

Aku menatap Kibum oppa yang kini mengeluarkan senyum terbaik yang pernah kulihat. “Gomawo oppa.” Kibum oppa menganggukkan kepalanya.

“Lagipula pada akhirnya tidak akan jauh berbeda. Mau Heechul hyung ataupun Kyuhyun, kau tetap akan menjadi ratu mendampingi salah satu raja iblis itu di neraka, hahaha.”

***********

*Author POV*

Kesibukan terlihat jelas di salah satu rumah megah yang terletak di pinggir kota Seoul. Dari pagi, ratusan orang berlalu lalang menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk acara malam ini. Kursi dan meja sudah disiapkan dengan rapi, untaian lampu-lampu kecil diilitkan sedemikian rupa di tiang-tiang penyangga, menambah kesan romantis dalam taman tersebut.

Tak lupa panggung sederhana telah tersedia di tengah-tengah taman tepat di depan air mancur elegan milik keluarga Cho, tempat di mana pasangan nanti akan mengikrarkan janji suci atas ikatan pertunangan.

Kyuhyun menatap puas hasil pekerjaannya, taman belakang kediaman keluarga Cho disulap olehnya menjadi hutan kecil yang indah dengan sedikit sentuhan cahaya menambah kesan romantis. Dia tidak ingin menyerahkan semuanya ke tangan orang lain. Segala sesuatu harus berjalan sempurna, apalagi ini menyangkut kebahagiaan gadisnya.

“Woah! Iblis kecil. Kau yang mengatur ini semua?” ucap Ahra dengan tatapan kagum. Kyuhyun mengangguk puas. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya kepada gadis di sebelahnya. Ahra hanya bisa menaikkan kedua jempol tangannya, entah bibirnya harus berkata apa lagi.

“Mi So pasti menyukai ini semua. Kerja bagus Cho Kyuhyun,” ujar Mi So sambil mengacak rambut adiknya.

“Gadis itu harus menyukai ini semua. Awas saja kalau sampai dia mengeluh nanti, akan kubunuh detik itu juga.”

Ahra tertawa mendengar perkataan adiknya. “Oh iya, bagaimana nasib gadis bodoh itu? Dia masih hidup kan?” tanya Kyuhyun. Ahra memutar bola matanya.

“Dia benar-benar parah. Tidak pernah aku melihat seorang perempuan begitu anti dengan gaun, make up, dan sejenisnya. Sampai-sampai aku harus mengejarnya keliling ruangan demi memakaikan bedak di wajahnya. Kalau aku tidak ingat dia itu calon tunanganmu, sudah aku ikat dia di kursi sejak tadi.” Kyuhyun tertawa geli sambil membayangkan wajah Kim Mi So yang cemberut karena harus berhubungan dengan segala macam aksesoris yang dibencinya.

“Hahaha. Begitu parahkah dirinya? Aku jadi ragu kau bisa membuatnya menjadi cantik di acara nanti,” ledek Kyuhyun. Langsung saja Ahra melotot ke arah dongsaeng satu-satunya itu.

“YA! Apa maksudmu? Lihat saja nanti, kau tidak akan bisa memalingkan wajahmu dari Kim Mi So. Aku akan membuat gadismu itu menjadi perempuan paling cantik di acara malam nanti. Ingatkan saja dirimu untuk tidak kehabisan nafas melihat kecantikannya,” ucap Ahra sambil menyeringai.

Dalam hati, Kyuhyun tidak membantah perkataan kakaknya sama sekali. Gadis itu selalu terlihat menawan, apapun yang dipakainya. Semoga saja malam ini Kyuhyun bisa mengendalikan dirinya saat melihat Kim Mi So.

“Kita lihat saja nanti, sudahlah aku ingin mandi dan bersiap-siap. Urus gadis itu dengan benar, lakukan apa saja yang terbaik asal jangan sampai melukai gadisku sedikit pun. Aku tidak akan mengampunimu kalau dia terluka.” Ahra menatap mata tajam Kyuhyun yang mengarah tepat ke manik matanya.

“Woah. Tenang saja. Aku tidak akan melukainya. Dasar iblis kecil, kau ini sangat menakutkan jika jatuh cinta,” ucap Ahra sambil bergidik pelan. Kyuhyun menyeringai sesaat dan pergi meninggalkan kakaknya. Langkah kakinya terhenti sesaat di depan sebuah kamar.

Tentu saja Cho Kyuhyun ingin melihat wajah yeoja itu sekali saja sebelum acara nanti. Tangannya yang terulur hendak menjangkau kenop pintu, tertahan di udara. Pada akhirnya diurungkan niatnya untuk membuka pintu itu dan membiarkan langkah kakinya menjauhi kamar Kim Mi So. Biarkan rasa penasaran ini bersarang di hatinya, toh nanti malam dia bisa memandang wajah gadis itu sepuasnya.

**********

*Kim Mi So POV*

Aku menghempaskan badanku di atas kasur king size yang berada di kamar ini. Kamar besar dan megah, dilengkapi segala fasilitas lengkap. Aku jadi teringat kejadian tadi pagi saat mataku tidak berhenti melotot melihat kediaman keluarga Cho yang luar biasa.

Setelah mobil Kyuhyun memasuki pintu gerbang, mataku langsung disajikan pemandangan yang sangat indah, jalanan yang membelah bukit, di kanan kiri kau bisa melihat ratusan jenis pohon dan bunga yang berbeda.

Image

Suasana tenang langsung hinggap di dalam hatiku. Aku tidak tahu ada tempat seindah dan sehijau ini di Seoul. “Hey, setan. Rumahmu pasti salah satu dari antara bangunan itu,” tunjukku ke arah rumah-rumah yang ada di sepanjang jalan.

 “Aniyo. Rumahku bukan di situ.” Aku menatapnya bingung. “Lalu, rumahmu di mana?”

“Rumahku berada di bukit paling atas. Rumah-rumah yang kau lihat tadi adalah tempat yang disediakan appa untuk para pelayan beserta keluarganya yang bekerja untuk keluargaku.”  Mataku menatap Kyuhyun tak percaya, “Rumah pelayan? Itu semua? Memangnya tanah ini milikmu?”

            Kyuhyun menganggukkan kepalanya,”Hm. Tanah dan bangunan dari pintu gerbang yang tadi kita lewati sampai sepanjang bukit dan areal ini adalah milik keluargaku,” ucapnya santai.

 “MWO? JINJJAYO?” teriakku. Mobil Kyuhyun sedikit oleng sehabis aku berteriak. “YA! Kau mau membuatku sakit jantung, hah?” bentak Kyuhyun.

“Mianhae, tapi… Ini semua benar-benar milikmu?”

“Iya, bodoh. Harus berapa kali aku mengucapkan kata-kata itu sampai otakmu bisa mencernanya?”

Aku merengut kesal, “Aku tidak sebodoh itu. Tapi aku tidak menyangka namja setan sepertimu, ternyata berasal dari keluarga seperti ini.”

Aku kembali mengamati pemandangan di luar, berkali-kali aku berteriak kaget saat melihat sesuatu yang sangat indah. Kini mobil Kyuhyun melambat, sepertinya kami sudah sampai di rumahnya.

Mataku kembali membelalak, bahkan berani bertaruh mulutku juga terbuka lebar melihat bangunan yang berada di depan mataku. Sebuah bangunan yang dalam sekali pandang bisa membuatmu berdecak kagum. Terlihat jelas arsitek yang merancang bangunan ini bukanlah sembarang orang, tergambar dari setiap detail pada bangunan ini, tanpa cela.

“Selamat datang di rumahku,” ucap Kyuhyun sebelum turun dari mobil. “Kau mau turun atau mau terdiam di sini seharian?” tanyanya mengagetkanku. Aku langsung mengikuti langkahnya turun dari mobil.

“Ini yang kau sebut rumah? Apa kau buta? Untuk ukuran sebuah rumah, ini sangat tidak masuk akal. Malah aku baru saja berpikir kalau kau itu seorang pangeran. Terlihat tidak nyata,” Ucapku sambil menyusuri dinding batu yang melapisi “rumah” ini, mengagumi setiap ukiran yang terbentuk.

Image

Image

“Tempat di mana kau tidur, makan, menghabiskan waktu bersama keluarga disebut rumah kan? Begitulah fungsi tempat ini bagiku. Lagipula aku memang pangeran. Pangeran iblis di dalam keluargaku. Sudahlah, ayo masuk,” ucap Kyuhyun sambil menarik kerah bajuku.

 

*FLASHBACK END*

 

Aku menghela nafas. Kenyataan ini seperti membangunkanku dari mimpi. Apa sebenarnya maksud Kyuhyun menyetujui perjodohan ini? Bukannya dia bisa mencari wanita lain di luar sana yang lebih cantik, anggun, pintar dan memiliki segalanya, daripada seorang wanita yang tidak bisa menyebutkan satu persatu alat make up seperti diriku.

Aku menggulingkan diriku ke samping kanan. Memikirkan ini semua bisa membuatku gila!

ARRRGHH! KIM MI SO! APA YANG KAU PERBUAT?” mataku terbuka sempurna setelah teriakan seorang wanita menyapa telingaku.

“Wae unnie?” tanyaku dengan muka bingung saat melihat Ahra unnie melotot ke arahku sambil menempelkan tangannya di pinggang.

“Wae? Kau membuat hasil kerja kerasku selama berjam-jam hampir hancur!” teriaknya.

“Maksudnya?” tanyaku bingung. Ahra unnie mendesah pelan, seperti menahan rasa kesalnya. “Berhentilah berguling-guling di tempat tidur, rambutmu yang sudah kutata rapi bisa rusak lagi. Make up yang kupaikan juga bisa rusak. Kau tidak kasihan kepadaku yang sudah bekerja keras selama berjam-jam mengejarmu keliling kamar?”

Aku terkekeh, “Hehehe. Mianhae.” Ahra unnie menggelengkan kepalanya. “Sudahlah. Ayo cepat bangun. Kau harus mulai memakai gaunmu dan bersiap-siap. Sebentar lagi para tamu akan datang.”

“Arasseo!” ucapku sambil berguling kembali di tempat tidur. “YA! KIM MI SO! BERHENTI BERGULING!”

*Author POV*

Kyuhyun menatap jam di tangannya dengan tidak sabar. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Seharusnya acara sudah dimulai. “Aish! Kenapa lama sekali sih? Apa gadis itu belum siap?” gerutu Kyuhyun, dia tahu benar sifat gadis itu. Semoga gadis itu tidak mengambil keputusan bodoh dengan cara mengunci diri di kamar. Namja itu meneguk habis wine di gelasnya. Gelas ketiganya dalam waktu 20 menit terakhir.

“Kyu!” sebuah tepukan mendarat di bahu Kyuhyun. Kibum berdiri tepat di belakangnya. “Jangan mabuk di hari pertunanganmu,” ucap Kibum sambil mengeluarkan killer smile miliknya.

Kyuhyun menyeringai, “Tiga botol wine saja tidak mampu membuatku tumbang, apalagi cuma tiga gelas,” ucap Kyuhyun.

Kyuhyun memiringkan kepalanya sedikit, terlihat seorang perempuan berdiri di belakang punggung Kibum dengan kepala tertunduk. “Yeojachingu?” tanya Kyuhyun sambil menaikkan alisnya.

“Ah? A..A..Aniyo,” ucap Kibum sambil mengibaskan tangannya panik. Terlihat semburat kemerahan di wajah namja itu, sama seperti pipi yeoja di belakang Kibum yang memerah akibat perkataan Kyuhyun.

Kyuhyun menegakkan badannya kembali, “Eiiy, geotjimal. Kau pandai memilih wanita, hyung,” goda Kyuhyun. Kibum semakin tergagap dibuatnya.

“Aniyo! Gadis ini bukan pacarku. Kenalkan, namanya Song Jihye, sahabat Mi So.” Ucap Kibum sambil menarik lembut lengan Jihye. Gadis itu pun menatap wajah Kyuhyun. “OMO!” batin Jihye dalam hati. Matanya membulat melihat sosok namja di hadapannya. “Kim Mi So benar-benar bodoh! Bagaimana bisa dia menolak ditunangkan dengan sosok malaikat di hadapanku ini? Benar-benar tampan!”

Melihat gelagat Jihye yang aneh, Kibum menyikut pelan lengan Jihye. Seperti tersadar, Jihye menggelengkan kepalanya dan tersenyum ke arah Kyuhyun “Annyeong haseyo, choneun Song Jihye imnida,” ucapnya sambil membungkukkan badannya sedikit.

Kyuhyun balas menunduk. “Annyeong haseyo, Kyuhyun imnida. Kau sahabat Kim Mi So?” tanya Kyuhyun.

“Bukan hanya sahabat, mereka ini sudah seperti saudara kembar, tidak terpisahkan,” ucap Kibum.

Kyuhyun mengangguk pelan, “Kalau begitu aku bisa meminta bantuanmu kapan-kapan.” Jihye tersenyum lebar. “Tentu saja. Aku akan membantumu!”

“HEY!” teriak Ahra yang tiba-tiba saja sudah berdiri di tengah-tengah ketiga orang tersebut. Kyuhyun mengusap telinganya dan melemparkan tatapan membunuh ke arah kakaknya.

“Apa-apaan kau? Mau membuatku tuli?” Ahra tidak memperdulikan teriakan adiknya. Senyuman lebar tetap bertahan di wajah cantiknya. “Kau tidak akan marah-marah seperti ini jika melihat Kim Mi So nanti. Hah, I’m so proud with my self!”

Kyuhyun menaikkan alisnya, “Percaya diri sekali. Aku jadi penasaran bagaimana tampang gadis itu.”

“Lihat saja! Kau tidak akan bisa memalingkan matamu darinya,” ucap Ahra sambil melipat tangannya di depan dada.

“Oh ya? Kau yakin? Try me…” Seringai jahil di wajah Kyuhyun berangsur hilang digantikan dengan bibirnya yang terbuka perlahan. Matanya membulat sempurna melihat sosok yang sedang berjalan menuruni tangga dengan langkah ragu. Seakan-akan seluruh gravitasi bumi berpindah ke dalam wujud sempurna di hadapannya. Gadis itu berhasil menyita pandangan kagum semua orang di dalam ruangan. Keheningan berangsur-angsur meliputi kediaman keluarga Cho, membuat gadis yang sedang ditatap ratusan pasang mata itu menjadi gelisah.

“Kyu… Bernafas!” bisik Ahra tepat di telinga Kyuhyun, membuat namja itu kembali menghirup oksigen di sekitarnya.

****************

*Kim Mi So POV*

“TADAAA!” Ahra unnie melambaikan gaun di tangannya. Sebuah gaun strapless berwarna hitam yang menyempit di bagian pinggang lalu melebar di bagian pinggul. Lekuk tubuhku akan terlihat jelas jika memakai gaun itu.

“Otte? Bagus kan? Aku merancangnya khusus untuk malam ini.” Aku tersenyum melihat tingkah Ahra unnie yang kekanakan. Jujur saja walaupun aku membenci gaun tapi khusus untuk yang satu ini aku menyukainya.

“Neomu johae” ucapku. Senyuman Ahra unnie semakin lebar. “Tentu saja kau harus menyukainya! Aku sudah susah payah memikirkan bagaimana gaun yang tepat untukmu. Kyuhyun bilang kau tidak suka semua ornamen seperti gaun, make up, dan lain-lain, makanya aku membuatkan gaun yang simple tapi tetap terkesan mewah jika dipakai.”

Aku terkejut, namja itu tahu kalau aku tidak suka memakai gaun? Wah, mengagumkan. “Mi So! Ppali pakai gaun ini. Kau harus membuat Kyuhyun terpesona malam ini. Arasseo?” Aku mengangguk pelan.

“Kau pasti jadi gadis tercantik malam ini. Hasil kerjaku tidak akan sia-sia,” ucap Ahra unnie sambil menepuk tangannya bangga. Aku memutar bola mataku. “Ya! Unnie! Kau berlebihan sekali.”

“Biar saja! Kau tidak tahu kan betapa besar perjuanganku mendandanimu hari ini? Pokoknya kau harus tampil cantik! Aku ke bawah dulu ya,” ucap Ahra unnie sambil melambaikan tangannya dan menutup pintu kamar.

Tak lama kemudian  gaun itu sudah berpindah ke tubuhku. Aku memandang diriku di cermin sebelum melangkah keluar. “Huft! Tenang Kim Mi So, malam ini pasti berjalan lancar! Hwaiting!” ucapku dalam hati. Setelah sedikit tenang, aku pun mengambil kalung dandelion dari atas meja dan mengalungkannya di leherku.

Aku melangkah menuju tangga. Ratusan orang terlihat sedang berbicara satu sama lain, tidak menyadari bahwa aku hampir mati karena panik di atas sini. Aku menghembuskan nafas pelan dan mulai menuruni tangga. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, kurasakan suasana bising yang tadi terdengar perlahan menghilang.

Kenapa tiba-tiba menjadi hening? Aku mencengkeram pegangan tangga dengan erat. Kurasakan semua pandangan tertuju ke arahku. Sial! Kakiku mulai goyah karena rasa panik yang tidak kunjung hilang. Aku tidak suka menjadi sorotan banyak orang! Sangat tidak suka!

Tiba-tiba mataku menangkap sosok seorang namja. Sangat tampan. Menyilaukan. Berani bertaruh tidak ada wajah laki-laki lain di ruangan ini yang mendekati sepersepuluh bentuk sempurna wajah namja itu. Manik mata hitam yang menatapku tajam, serta bibirnya yang terlihat terbuka sedikit. Apakah dia mengagumi penampilanku malam ini? Jangan terlalu percaya diri Kim Mi So!

Terlihat Ahra unnie membisikkan sesuatu kepada namja itu, dan saat itu juga Kyuhyun menutup bibirnya. Tak lama kemudian dia  berjalan mendekatiku. Jantungku melompat-lompat tak karuan ketika Cho Kyuhyun berada tepat satu tangga di bawahku.

Aku mengutuk penampilannya malam ini. Bagaimana bisa manusia terlihat begitu memikat dalam balutan jas hitam? Kyuhyun menyunggingkan seringai setan favoritnya, yang tanpa ampun membuatku tercekat. “Butuh bantuan?” tanyanya dengan suara rendah yang membuat jantungku kembali menggila.

Aku menerima uluran tangannya. Setelah sampai di tangga terakhir aku berdiri menghadap Kyuhyun. “Kenapa kau memandangku seperti itu? Terpesona?” ejekku.

Kyuhyun tertawa kecil. “Iya. Sama sepertimu yang memandangku dengan tatapan memuja. Aku tahu aku ini tampan, jadi jangan melihatku seperti itu.” Kyuhyun menggerling jahil ke arahku. Sial!

************

*Kyuhyun POV*

“Kyuhyun-ah! Selamat atas pertunanganmu.” Seorang pria tua menepuk pundakku pelan. Aku tersenyum sambil menunduk hormat. “Kamsahamnida ahjusshi, kenalkan ini tunanganku Kim Mi So.”

Gadis di sampingku tersenyum manis dan menundukkan kepalanya hormat. “Annyeong haseyo, Kim Mi So imnida.” Pria tua tersebut tertawa pelan. “Aigoo, kau sopan sekali.”

Aku tersenyum, “Paman ini pemilik majalah fashion terkemuka di dunia sekaligus sahabat ayahku. Namanya Choi Sungha,” ucapku kepada Mi So.

Gadis itu memiringkan kepalanya, “Choi Sungha? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu.. OH! Anda termasuk dalam 10 besar orang terkaya di dunia! Benar kan?” teriaknya histeris.

Aku mengetuk kepalanya pelan. Dasar tidak tahu malu. “HAHAHA. Tunanganmu ini lucu sekali. Kalian terlihat serasi. Kapan kau akan memperkenalkannya secara resmi di depan publik?” tanya Sungha ahjusshi.

“Secepatnya.” Percakapan kecil ini mengalir tanpa henti. Sepertinya Sungha ahjusshi menyukai Kim Mi So. Baguslah, gadis ini bisa berbaur dengan cepat, lagipula tidak sulit untuk menyukai gadis ini.

“Maafkan aku sudah menahan kalian di sini. Lebih baik kalian bertemu tamu-tamu lain. Aigoo, tak kusangka akhirnya kau bertunangan Kyuhyun-ah. Sepertinya akan sulit memberi tahu Shinyoung tentang kabar pertunanganmu.”

Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Sungha ahjusshi. Sesaat setelah berpisah dengan pria tua itu Mi So mencengkeram tanganku erat. “Wae?” tanyaku. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. “Lapaaaaaar,” ucap gadis itu dengan wajah memelas.

Aku mengajaknya duduk di sebuah gazebo pinggir danau,

Image

sedikit berjalan menjauhi kerumunan. “Ya! Bisakah kau makan pelan-pelan?” Gadis itu menatapku, menggelengkan kepalanya dan melanjutkan kegiatan makannya.

“Ah~ Kenyaaang! Bahagianya,” ucap gadis itu sambil menepuk-nepuk perutnya. Aku tertawa dalam hati melihat tingkah konyolnya. Kami pun terdiam sesaat, menikmati suasana malam ini.

Senyum gadis itu mengembang saat angin menghempas pelan wajah dan rambutnya. Aku bersyukur bisa menjalani hari ini bersamanya. Banyak ekspresi Kim Mi So yang kulihat hari ini, dan aku menyukai semuanya.

Pandanganku teralih kepada kalung yang menjuntai di leher gadis itu. “Kalung itu?” ucapku pelan. Kim Mi So mengalihkan pandangannya ke arahku lalu menyentuh bandul dandelion yang menghias lehernya.

“Wae? Ada apa dengan kalung ini?” tanya gadis itu. “Kalung itu.. Pemberian dariku kan? Masih kau simpan?” tanyaku.

Kim Mi So mengangguk pelan, “Tentu saja. Walaupun kalung ini pemberian dari namja setan sepertimu, aku tetap menyimpannya. Malah kalung ini tidak pernah terlepas dari leherku. Aku menyukainya,” ucap gadis itu sambil tersenyum manis.

“Baguslah kalau kau masih menyimpannya. Oh iya, cincin yang sekarang melingkar di jari manismu juga harus kau jaga baik-baik. Kalau sampai hilang aku tidak akan segan-segan membunuhmu.”

Gadis itu mengerucutkan bibirnya dan mengamati cincin yang baru beberapa jam yang lalu kusematkan di jari manisnya.

*flashback*

 

            Aku tidak menyangka malam ini penampilan gadis bodoh di hadapanku bisa begitu memukau, dewi yunani pun akan menangis melihat kecantikan gadisku. “Bagaimana hasil kerja kerasku?” tanya Ahra noona sambil memukul pelan lenganku.

            “Daebak. Kau bisa menyulap monster ini menjadi seorang wanita,” ucapku. Kim Mi So membulatkan matanya dan memukul pundakku.

            “Apa maksudmu, namja setan?”teriaknya sambil cemberut. Aku menyeringai, menggoda gadis ini memang hal yang menyenangkan.

            “Mi So, Kyuhyun-ah, kalian sudah siap? Acara akan segera dimulai.” Aku mengangguk ke arah appa. Kami berdua berjalan beriringan ke taman belakang. Tangan gadis itu melingkar erat di lenganku.

            “Kenapa kau? Terlalu takut aku pergi darimu? ” godaku. Gadis itu melayangkan tatapan membunuh, “Lebih baik mengurangi resiko jatuh di depan semua orang. Kau tahu kan kalau aku tidak biasa memakai sepatu berhak 15 cm. Jadi jangan sampai kau melepaskan tanganku,” ancam gadis itu.

            Aku tertawa, tanpa disuruh pun aku memang tidak berniat melepaskan gadis ini dari genggamanku. Aku menuntunnya ke arah taman belakang. “Woah!” Satu kata yang keluar dari bibir gadis itu saat melihat pemandangan di depannya.

Image

            Dengan mata berbinar dia mengamati keadaan taman yang kuubah lengkap dengan lampu-lampu kecil yang menghiasi pilar. “Kau suka?” tanyaku.

            Masih dengan wajah bodohnya dia menjawab, “Tentu saja. Ini sangat.. Indah. Jangan bilang kau yang menyiapkan ini semua?” tanyanya dengan nada tak percaya.

            Aku tersenyum bangga, “Tentu saja aku yang menyiapkan semua ini. Aku ingin semuanya terlihat sempurna.”

            Kim Mi So memicingkan matanya, “Kau tidak sedang merayuku kan?”

            “Tanpa aku rayu pun kau akan tetap jatuh hati padaku. Jadi buat apa aku membuang tenagaku untuk hal tidak penting seperti itu.”

            “Sial kau Cho Kyuhyun,” ucapnya sambil memalingkan wajahnya yang memerah. Kami berdua terus berjalan, sudah ada kedua orang tua kami, Kibum hyung dan Ahra noona yang menanti kami di atas panggung.

            Aku menuntun Mi So menaiki tangga panggung. Dia cemberut, “Siapa sih yang menciptakan high heels? Merepotkan saja.” Setelah kami berdua di tengah panggung, appa membuka acara.

            “Para tamu undangan, terima kasih karena sudah bersedia meluangkan waktu anda yang berharga untuk datang ke acara pertunangan putraku, Cho Kyuhyun dengan Kim Mi So. Mungkin pertunangan ini terkesan buru-buru dan mendadak, karena sepertinya anak laki-lakiku ingin secepat mungkin mengikat janji dengan wanita yang dicintainya,” Gadis di sampingku mengerutkan keningnya.

            “Apa sih yang kau katakan pada ayahmu, sampai-sampai dia benar-benar mengira kau mencintaiku? Sepertinya kau harus mencoba bermain film, actngmu pasti sangat meyakinkan,” bisik gadis di sebelahku.

            Aku menghela nafas berat. Salah apa aku ini sampai-sampai harus mencintai gadis yang benar-benar tidak peka seperti dia. Apa aku harus berteriak di depan semua orang supaya dia sadar kalau aku benar-benar mencintainya.

            “Kau mau tahu apa yang aku katakan pada ayahku?” sebelum gadis itu menjawab, aku sudah berdiri dan meminta mic yang dipegang ayahku.

            “Ya! Apa yang kau lakukan?” tanya Mi So dengan raut bingung.

            “Sebelumnya terima kasih kepada para tamu yang sudah datang ke acara pertunanganku dan Mi So. Pasti kalian bertanya-tanya apa yang akan aku lakukan. Gadis yang ada di sana,” aku menunjuk Kim Mi So, “Bertanya kepadaku, apa yang sudah aku katakan kepada ayahku sehingga beliau begitu cepat menyetujui pertunangan ini.

 Pada saat aku meminta restu darinya, ada pertanyaan terakhir yang dilontarkan appa kepadaku. Beliau bertanya apakah gadis yang sebentar lagi akan menjadi tunanganku adalah gadis yang tepat untukku?”

            Aku berhenti sejenak, memandang Kim Mi So yang kini tengah memperhatikanku tanpa berkedip. “Bagiku pertanyaan itu sangat mudah, bahkan aku tidak memerlukan waktu lebih dari 2 detik untuk memikirkan jawabannya. Kalian mau tahu apa jawaban yang kuberi? Sederhana saja. Bagiku tidak ada wanita manapun yang kuizinkan menjadi pendamping seumur hidupku kecuali dia. Hanya dia, yang bisa memiliki seluruh hati dan hidupku. Tidak ada yang lain”

            Perlahan aku mendekat ke arah gadis itu. Aku mengambil cincin dari kotak yang dipegang Ahra noona dan berdiri tepat di depan sosok gadis yang sedang menatapku tidak percaya.

            “Jadi Kim Mi So, maukah kau menjadi pendampingku?” Gadis itu terlihat masih kaget. Aku menyenggol tangannya. “A.. Aku..” ucap gadis itu sambil melemparkan pandangan ke arah para tamu yang menunggu jawabannya.

            “Jadi?” tanyaku tidak sabar. Kim Mi So mengerucutkan bibirnya, “Memangnya aku punya pilihan lain selain  menjawab iya?” Aku menyeringai mendengar jawabannya.

            “Tentu saja tidak. Kau kan tahu aku tidak suka penolakan,” ucapku dibarengi dengan tawa pelan dari para tamu. Aku meraih tangan kirinya dan melingkarkan cincin pertunangan di jari manisnya.

            Kim Mi So mengambil cincin dari kotak yang dipegang Kibum hyung. Aku melihat tangannya yang gemetar. “Hati-hati jangan sampai ja…” belum aku menyelesaikan kalimatku, cincin itu sudah terlepas dari tangannya. Untung Kibum hyung sempat menangkap cincin itu sebelum menyentuh tanah.

            Gadis itu melayangkan pandangan terima kasih kepada Kibum hyung. “Santai saja, tidak usah tegang begitu.” Mi So melayangkan tatapan membunuh ke arahku.

            “Diamlah! Tidak usah berisik,” ucapnya malu. Setelah tenang, gadis itu melingkarkan cincin di jari manisku, disertai dengan tepukan tangan dari para tamu.

            “Mulai sekarang kau milikku. Jadi bersiaplah melewati hari-harimu bersamaku,” bisikku sambil menarik pinggang gadis itu mendekat ke arahku.

 

*flashback end*

 

Kim Mi So memutar-mutar cincin di jarinya. “Aku tidak pernah menyangka akan menjadi tunanganmu, namja setan, jahil, menyebalkan, tidak tahu di-“

“YA! Apa maksudmu Kim Mi So,”   teriakku. Gadis di sampingku tertawa pelan. “Hahaha, kau ini tidak bisa diajak bercanda. Maksudku, aku tidak pernah menyangka kalau kau yang menjadi tunanganku.”

Gadis itu berdiri dan berjalan perlahan mendekati pagar gazebo. Mata gadis itu tertutup sedangkan bibirnya mengulas senyum kecil seakan menikmati angin yang memainkan rambut ikalnya. Apa gadis itu tidak sadar semua yang dilakukannya bisa membuatku lupa bagaimana caranya menghirup oksigen?

Aku berdiri dan memeluk pinggangnya dari belakang. “YA! A..A..Apa yang kau lakukan?” teriaknya panik sambil meronta. Aku mengeratkan pelukanku di pinggangnya.

“Bisakah kau diam dan berhenti merusak momen romantis kita?” ledekku. Gadis di pelukanku mengerucutkan bibirnya.

“Romantis? Cih!” gerutu gadis itu sambil menyenggolkan sikutnya ke tulang rusukku. Aku meringis pelan tapi tidak bisa menahan tawa yang keluar dari bibirku. Aku menyenderkan daguku di atas pundaknya.

Keheningan yang menyenangkan meliputi kami. Aku sangat menikmati saat-saat seperti ini. Sama seperti dia, aku juga tidak menyangka bisa menjadi tunangan seorang Kim Mi So, seorang gadis yang tanpa basa-basi masuk ke dalam kehidupanku.

“Hei, gadis bodoh! Kau tahu tidak bagaimana perasaanku malam ini?” ucapku memecah keheningan. “Tidak pernah aku merasa sebahagia ini. Akhirnya aku bisa memiliki seseorang yang kuinginkan sedari dulu. Seseorang yang sudah mencuri hatiku tapi tidak pernah mengembalikannya. Neo nappeun yeoja.”

Gadis di pelukanku tidak merespon sama sekali. Ah, mungkin dia sedang merenungi perkataanku. “Aku tahu kalau kau ini memang bodoh. Mungkin selama ini kau tidak bisa menyimpulkan apa arti sebenarnya semua perlakuanku kepadamu. Aku menyukaimu. Sangat! Aku senang menggodamu, membuatmu kesal dan marah hanya supaya kau melihatku, menyadari keberadaanku. Karena itu…” Aku menarik nafas panjang, berusaha menenangkan diri.

“… Aku… Mencintaimu,” akhirnya kata-kata keramat itu bisa keluar dari bibirku. Kini detak jantungku berpacu sangat cepat.

Satu menit, dua menit, masih tidak ada reapon dari gadis di pelukanku. “Ya! Ucapkanlah sesuatu! Jangan diam seperti ini! Ya Kim Mi S..” Aku tertegun saat membalik badan yeoja di hadapanku.

Dia… Tertidur? “YA! KAU TIDUR? KIM MI SO!” teriakku sambil menggoncang-goncangkan pundaknya. “Eunggh,” gadis itu malah mengulet dan menyenderkan kepalanya ke dadaku.

Jadi semua perkataanku tadi sia-sia? Aish Kim Mi So! Kau benar-benar berhasil membuatku gila. Apa dia tidak tahu kalau aku sudah hampir mati mengeluarkan kata-kata tadi. Namun semua rasa kesalku lenyap begitu saja saat aku melihat wajah tidur gadis ini.

“Untung saja wajah tidurmu seperti malaikat, kalau tidak kau sudah kuceburkan ke danau sedari tadi.” Aku menyibakkan rambut Mi So ke belakang telinganya, mungkin dia terlalu lelah hari ini.

Perlahan aku menaruh lenganku di bawah punggung dan lututnya, menggendong tubuhnya yang ringan dengan hati-hati. Kurasakan semua pandangan orang-orang saat melihatku muncul dengan Kim Mi So yang tertidur di gendonganku.

Aku memberi tanda ke arah Ahra noona supaya meng-handle acara tanpa aku maupun Mi So. Kulihat kakakku tersenyum sambil melemparkan tanda “ok” ke arahku. Dengan perlahan aku membuka pintu kamarku dan menutupnya dengan sedikit tendangan dari kakiku.

Kubaringkan tubuhnya secara hati-hati di atas tempat tidurku. Kembali aku menatap wajah tidurnya. Apa semua wanita akan terlihat seperti malaikat kalau tidur? Karena Mi So bahkan terlihat lebih polos daripada seorang malaikat. Kutarik selimut dan membalutnya di atas badan gadis itu, sesaat aku ingin beranjak keluar saat tiba-tiba sebuah tangan menggenggam pergelangan tanganku.

“Kyuhyun-ah…” Aku tersenyum menyadari bahwa gadis ini sedang memimpikanku.

“Kau benar-benar.. Ingin menguji kesabaranku, hah?” Aku mengelus pipi Kim Mi So yang memerah, “Menyenangkan sekali jika aku bisa melihat wajah tidurmu ini sepanjang malam. Apa kau tahu betapa aku menginginkan hal ini?”

Kudekatkan wajahku ke arah wajahnya, “Tidak ada salahnya kan kalau aku memberikan ciuman selamat malam untuk tunanganku?” Rasa aneh namun menyenangkan seperti meledak di dalam perutku saat bibirku menyentuh permukaan halus bibirnya. Aku mengecup lembut selama beberapa saat sampai akhirnya dengan enggan aku melepaskan ciuman itu.

“Apakah aku belum mengatakan kalau kau cantik sekali malam ini?” Ucapku menutup hari yang panjang ini.

TBC

***********

Yeeaaay!! Otte?? Hehehe author yang buat aja sampe ngebayangin gimana rasanya tunangan sama Kyu >.<

Oh iya, reader ada yang nonton MAMA kemarin?? Wooaaah Kyuhyun bener-bener harus dijauhin dari yang namanya eyeliner!! Author sampe lupa cara bernafasa pas ngeliat mata Kyu >.< Dasar evil!!

Oh iya, mumpung bentar lagi liburan, author janji akan sering update fanfic muehehehe…

Satu lagi! Author lagi buat fanfic baru, cast-nya sedikit melenceng dari biasanya karena cast utamanya EXO! Manusia-manusia charming dari Planet Exo ini terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja  ^ ^

Jangan lupa baca fanfic Vankyu yang lain

chapter:

I’m Strong Enough Without You

oneshot:

First Snow in December

Birthday Love

Your Heart is My Favorite

KAMSAHAMNIDA *deep bow with Kyu*

Jangan lupa tinggalin comment buat author yang satu ini yaaa

ANNNYEEEEEOOONGG!! SAYONARA! ADIOS! 🙂

Advertisements

71 responses to “(KyuSo moment) You’re My Sunflower – Chapter 4 [Sequel of “My Dandelion”]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s