[Ficlet] Colors of Autumn

edit-cover-autumn-2

Title : Colors of Autumn

Author : hyeri

Cast :

  • Yoo Mi Seul (OC)
  • Kim Jong In

Genre : I don’t know this genre, actually ._.

Rating : T

Length : Ficlet

Disclaimer : Kesamaan nama tokoh atau apapun yang menyakut fanfic ini bukanlah suatu kesengajaan. Cast bias milik Tuhan, kecuali OC. Plot/alur/cerita hanya milikku seorang. Ini semua adalah rangkaian imajinasi yang ku tuangkan melalui kata per kata dalam tulisan.  DON’T BE PLAGIATOR!

***

(All POV is Mi Seul’s)

Musim gugur.

Satu kata yang terlintas di pikiranku adalah musim gugur. Musim yang sangat ku nantikan setiap tahunnya. Jika aku boleh berpendapat, musim gugur adalah lawan dari musim semi. Semua orang tahu jika musim semi adalah musim di mana semua bunga maupun tumbuhan bersemi. Bagaimana dengan musim gugur?

Ku petik senar-senar gitar yang tepat di hadapanku sekarang. Alunan demi alunan terdengar menyeruak ke telingaku. Damai, itulah yang kurasakan. Tanpa terasa, kepalaku bergoyang mengikuti bunyi alunan nada—dari senar—yang ku petik. Pelan dan damai. Inilah musim gugur yang sangat kusukai dan kurindukan. Ditemani dengan dedaunan pohon-pohon yang gugur dan alunan gitar ini, cukup membuat senyumanku terlukis.

Angin sepoi-sepoi yang lembut menerpa tubuhku. Poni yang sedari tadi kubiarkan ke depan kini dengan sendirinya tatanannya berubah. Dedaunan pun tak luput ikut terbang mengikuti arah angin. Ku letakan gitarku tepat di samping buku diary kusam yang kumiliki. Kini, buku diary itu membuka satu halaman yang sangat-sangat membuatku bahagia dan seperti terdapat bunga-bunga kini mengelilingi kepalaku. Harum semerbak bunga itu memasuki indera penciumanku. Tapi ini hanyalah sebuah kiasan.

“Colors of Autumn,” pikirku sambil mencoba membolak-balikkan halaman buku diary ini.

Kembali pikiranku melayang ke atas awan. Berada tepat di atas angan-angan. Mataku kini terpejam pelan, tubuhku terbaring di atas dedaunan yang gugur. Aku tidak mati. Hal ini biasa kulakukan saat suasana ini datang dan datang lagi. Sinar matahari yang masih di dalam peraduannya mulai memasuki ruang kantup mataku. Tidak terlalu terik, namun cukup membuat mata terpejam merasa kesilauan.

Kim Jong In.

Satu nama yang terlintas di benakku kini. Pikiranku masih saja dalam ruangan kosong, tidak ada hal lain yang bisa merubah ini. Suara gemersik dedaunan yang biasa kudengar kini tidak dapat kudengar. Rasa siliran angin yang biasa menyapu tubuhku kini tak bisa kurasakan. Yang kurasakan sekarang adalah sentuhan halus di tangaku kananku.

Jong In.

Aku tersenyum menikmati sentuhan halus tangannya yang memegang pipiku. Mengusapnya pelan, lalu mencium punggung tangan kananku. Lembut dan tenang. Mataku masih terpejam menikmati suasana sekarang. Hembusan napasnya kini bisa kurasakan tepat di atas kepalaku. Ujung hidungnya membuatku mendelik saat tepat di depan hidungku. Hidung kami saling bertemu. Hembusan napas kami saling bertemu. Ku mohon, biarlah hal ini tetap terjadi. Ku rasakan kecupan hangat darinya di keningku. Mataku merasa panas namun masih terpejam. Ku rasakan sekarang tangan lembutnya menyingkirkan rambut-rambut yang menghalangi mataku.

“Bolehkah aku membuka mataku sekarang?” batinku.

Dengan perlahan ku buka kedua mataku. Dengan cepat pula sinar matahari masuk ke dalam pandanganku. Silau. Pandanganku tidak bisa terlihat dengan jelas. Ku tegakkan tubuhku, lalu mengusap pelan mata kananku. Kembali kupejam mataku tanpa alasan. Ada perasaan belum yakin yang lain menghinggap di pikiranku.

1, 2, 3…

Ku buka mataku dan melihat sekeliling. Aku merasa tiupan angin kencang terlintas di sampingku. Ulasan senyum terukir pelan di bibirku. Tatapanku kini mengahadap ke arah langit. Melihat beberapa awan dengan pelan bergerak karena terpaan angin. Ku pegang pelan tangan kananku, ku elus pelan dan ku cium. Dengan perlahan, ku ambil buku diary yang sedari tadi tergeletak di sampingku. Membuka lembaran demi lembaran yang sudah lama tak pernah ku sentuh.

“Tetap masih seperti dulu,”gumamku saat melihat fotoku dengan Jong In. Kim Jong In. Itu lengkapnya, he’s one of my ribs forever and after in this body.

14 Februari 2009.

Tepat pada tanggal itu, foto ini diambil. Foto pertama yang aku pasang di diary ini. Wajahnya yang tampan dengan menggunakan kaos lengan panjang dengan motif garis atas perpaduan warna hitam, putih dan biru—menopang dagunya dengan tangan telapak tangannya tak luput menyunggingkan senyum khasnya—menghadap ke arahku. Tepat, dia menatapku. Sayang sekali, waktu itu bukanlah aku yang berada di sampingnya. Aku hanya bertugas untuk memfotokan dirinya bersama temannya. Namun aku yakin, tatapannya bukan mengarah ke arah lensa kamera, namun ke arah mataku.

25 Desember 2009.

Tepat di hari Natal, aku dan Jong In resmi menjadi sepasang kekasih.

14 Januari 2010.

Pada tanggal itu, Jong In memberikan buku diary ini kepadaku. Tepat pada hari ulang tahunnya dan perayaan Diary Day di Korea. Kalimatnya yang masih ku ingat sampai sekarang saat memberikan diary ini adalah “Tulislah semua keseharianmu denganku di buku ini. Tujukan semuanya ini kepadaku. Hanya kepadaku. Dan isi diary ini hanyalah kita berdua.”

Pada tahun ini, musim gugur yang indah menyapa kami berdua. Berjalan menelusuri taman yang penuh dengan dedaunan yang rontok ia menggenggam erat tanganku. Angin musim gugur kali ini terasa dingin karena memang menjelang musim dingin. Namun aku merasakan kengahatan saat tubuh Jong In yang notebene lebih besar dariku mendekap hangat tubuh mungilku.

Sebuah foto hasil jepretan Jong In dengan kamera Polaroid-nya masih ku simpan sampai sekarang. Musim gugur pertama kami. Berbeda dengan tahun lalu, aku hanya sebagai jasa untuk memotretkan dirinya dengan temannya, namun kali ini berbeda. Sangat jauh berbeda.

14 September 2010.

Keluargaku dan keluarga Jong In saling bertemu dan bersapa ria. Kami saling berfoto-foto sambil melakukan piknik kecil-kecilan di halaman belakang rumahku. Pada halaman diary ku ini penuh dengan foto-foto kami bersama. Tepat pada tanggal perayaan Photo Day di Korea. Sangat indah.

25 Desember 2010.

Tepat pada hari itu adalah tahun pertama kami menjalin sebagai sepasang kekasih. Ulang tahun pertama kami. Sangat indah, dan tak akan pernah kulupakan. Hari Natal bersama Jong In. Dan hari ciuman pertama kami.  Ciuman yang begitu manis dan terkenang.

Ku tutup buku diary ini, lagi-lagi diriku memandang ke arah langit. Angin yang bukan lagi sepoi-sepoi menyambar tubuhku. Sedikit lebih kencang, lalu ku bentangkan kedua tanganku. Merasa seperti tengah terbang dibawa oleh angin-angin, mataku kembali terpejam.

Akibat dari hembusan angin yang cukup kencang tadi, halaman tengah buku diary ku terbuka dan menampakkan jelas surat terakhir yang diberikan Jong In. Surat dengan dilapisi oleh amplop pink kecil dengan hiasan pita di ujung kirinya membuatku merasakan deja vu. Pikiranku ini melayang tak jelas arahnya. Ku ambil perlahan amplop kecil itu, ku buka dan hingga kini kertas putih dengan tulisan tangannya tepat kupegang.

23 Februari 2011.

Mi Seul… Ini aku Jong In.

Baris pertama yang kubaca tergolong kalimat yang konyol. Aku tahu itu dirimu, Jong In.

Ini adalah pertama kalinya aku menulis surat untukmu. Ku mohon, untuk tetap membaca surat ini dari awal hingga akhir dan simpanlah surat ini hingga aku kembali.

Mi Seul-ah, aku telah memutuskan untuk meneruskan pendidikanku di Amerika. Dan itu artinya, aku akan meninggalkan Korea dalam waktu yang lama dan meninggalkanmu.

Tolong, tolong jangan menangis. Aku tahu kau akan menangis. Jangan biarkan satu tetes air mata pun keluar dari pelupuk matamu. Aku berjanji akan kembali secepatnya, aku janji. Karena janji tetaplah janji. Kurang lebih 5 tahun aku akan berada di Amerika dan besok, aku akan berangkat.

Maafkan aku karena hal ini terlalu buru-buru dan tidak memberitahumu lebih awal. Mianhae, Mi Seul, jeongmal mianhae. Tetaplah berada di sampingku. Tetaplah untuk selalu mengingatku. Tetaplah untuk selalu mencintaiku. Karena aku akan selalu mencintaimu. Aku pasti akan merindukanmu di sana. Aku berjanji 5 tahun setelahnya, aku akan kembali. Datang menemuimu, memberikan pelukan hangat dan mencium kembali bibir mungilmu. Biarkan aku menjadi orang yang sukses di depanmu dan menghidupi keluarga kecil yang akan kita bangun bersama. Aku berjanji, aku akan mempunyai anak-anak dengan kau sebagai Ibunya.

Tetaplah habiskan waktu sehari-harimu dengan senyuman walaupun aku tidak bisa menemanimu selagi di Amerika.

Aku berjanji, akan selalu mencintaimu. Saranghae! ^^

Senyum manis terukir sendirinya saat selesai membaca suratmu, Jong In-ah. Janji tetaplah janji.

Kembali aku menatap ke arah langit, aku tak akan pernah bisa letih maupun lelah untuk memandang ke arah langit. Bentangan luas langit menjadi pendirian teguhku. Bahwa luas langit tak akan pernah menandingi besarnya cintaku kepada cintamu, Jong In. Tatapanku seolah menantang kepada langit. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa langit itu tinggi dan luas. Benar, hingga sampai sekarang aku tidak bisa menggapai langit dan mengukur berapa luasnya. Namun, bolehkan aku menambahkan pepatah yang mengatakan bahwa langit itu tidak akan pernah abadi? Karena aku yakin suatu saat hari akhir itu akan datang. Langit pun menghilang dan cintaku menghilang. Cinta itu tidak akan pernah abadi. Manusia juga tidak akan pernah bisa hidup abadi. Namun aku akan membuat cinta ini menjadi abadi, Jong In-ah.

Musim gugur ini adalah musim gugur kelima yang aku lewati tanpa dirimu. Ku buka kembali lembaran tengah tempat di mana surat tadi berada dan melipatnya kembali, lalu menaruhnya seperti awal. Perlahan ku buka halaman selanjutnya. Kosong, itulah yang kulihat. Kembali ku buka halaman selanjutnya. Kosong, lagi-lagi itulah yang ku lihat. Sampai akhirnya aku melihat ke halaman terakhir. Aku berusaha menyakinkan diriku sendiri lalu membaca tulisan tanganku sendiri 5 tahun lalu.

Janji adalah janji. Namun kini, kau mengikarinya Jong In. Kenapa kau tega? Ani, ini bukan kesalahanmu. Ini semua adalah takdir, takdir yang telah direncanakan Tuhan untuk kita. Walau rasanya sakit, namun aku akan terus melangkah ke depan dan mengikuti perkataanmu. Hari ini tanggal 27 Februari, aku berada di rumah keluarga Jong In. Pakaian serba hitam yang kugunakan cukup bisa mewakili bagaimana perasaanku sekarang. Para keluarga dan saudara ramai berada di rumah Jong In setelah dari tempat peristirahatan terakhirmu. Kau tidak mengerti bagaimana tersiksanya aku mendengar kabar bahwa kau mengalami kecelakan pesawat saat hendak terbang ke Amerika. Apakah secepat ini kau meninggalkanku? Secepat ini? Jasadmu ditemukan paling terakhir, kau tahu? Dan kau tahu betapa was-wasnya aku karena tidak mendapatkan kabarmu!? Mungkin ini bodoh, namun… itulah yang kurasakan. Sayang sekali, janjimu tidak dapat dipenuhi, Tuan. Kau tidak memenuhi itu. Namun aku akan berusaha tegar dalam melewati hari demi hari tanpamu. Sungguh. Dan mulai sekarang. Aku tidak akan lagi menulis pada diary ini. Karena diary ini hanya ditujukan padamu dan menulis di saat aku bersamamu. Lalu kini? Kau tidak berada di sampingku. Untuk terakhir kalinya, aku akan selalu mencintaimu, Tuan Jong In.

Setetes air mata keluar dari pelupuk mata kiriku setelah membaca tulisan ini. Kau mungkin tidak bisa memenuhi janjimu (Jong In), namun aku yakin kamu akan memenuhi janji itu suatu saat. Dalam dimensi yang berbeda dan dalam waktu yang berbeda. Musim gugur ini dan musim gugur di tahun-tahun selanjutnya akan selalu menjadi musim gugur sama seperti saat kita bersama. Aku janji.

Suara gemersik dedaunan yang gugur di tanah menyadarkan pikiranku bahwa kau tidaklah lagi di sini. Mataku terpejam, ingin sekali aku merasakan suasana itu kembali. Suasana di mana sepertinya aku bisa merasakan sentuhan lembutmu. Bagaimana caranya kau menggengam tanganku, menyingkirkan rambut dari pandanganku, mengecup pelan keningku, dan mendekap hangat tubuhku di saat dingin. Aku rindu itu semua. Walau aku hanya bisa berimajinasi dengan pikiranku sendiri seakan-akan kau ada, namun semua itu tidak dapat menutupi kerinduan ini.

Kau mungkin tidak bersamaku sekarang, namun aku yakin dari lubuk hati terdalam dan demi sumpah langit biru yang luas ini, cintamu masih bersamaku sampai sekarang dan selamanya. Aku akan mencintaimu selamanya, Jong In.

THE END.

A/N: Makasih untuk semua yang telah membaca ff ficlet ini ^^ Dan yang terakhir, untuk fanfic My Story – I Wanna Be A Superstar setelah saya pertimbangkan, sepertinya series selanjutnya tidak bisa saya lanjutkan ._. alasannya, idenya hilang dan satu lagi, waktu yang kurang untuk melanjutkannya OTL. Mungkin mian juga karena udah lama gak post ff T.T tugas di sekolah dan lainnya menumpuk sangat, hiks. Mungkin untuk ff  My Story – I Wanna Be A Superstar bakal author buat satu cerita/one shoot kelanjutan ceritanya ._. mudahan lol. Oke, makasih buat yang udah baca~ silahkan kalo mau RCL xD saya siap membaca.

63 responses to “[Ficlet] Colors of Autumn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s