Love Button [Part 8-A]

love-button-by-joo

Title: Love Button

Author: Joo aka @indahberliana ( follow me   )

Main Cast:

-Park Chanyeol (EXO-K)

-Byun Eunji (OC)

-Kris Wu (EXO-M)

And other cast you can find them in this Fanfict.

Genre: Romance, Family, Comedy (maybe).

Rating: PG-17

Disclaimer: semua cast (kecuali OC) punya Tuhan semata. Dont Be Plagiator! Please RCL.

BIG THANKS TO missfishyjazz@myfishyworld.wordpress.com !! >< Nana!! gomawo posternya yang DAEBAK!

A.N: Sebelumnya aku minta maaf banget sama readers yang sangat menanti ff ini T^T. Mian aku baru post, ff ini aku kerjakan dengan sepenuh hati untuk kalian semua. Mian aku jadi ngaret begini garagara sialnya sekarang aku kelas 9, jadi gak sebebas dulu T^T. Jadi mohon maafnya yaa chingu 😥 JANGAN LUPA RCL ‘-‘)/ *plak*

Di part ini aku membuat Chanyeol’s mom center. Jadi tokoh utama di part A ini adalah mamanya Chanyeol beserta teman-temannya. Kerumitan persahabatan kedua orang-tua pasangan romantis ini akan diungkap di part A ini setajam SILET (?) Tapi tenang, Ji-Yeol PASTI  ‘berkeliaran’ di part ini. Check this out! 😉

INI HANYA FF, JADI JANGAN TERSINGGUNG DENGAN APA YANG DIKATAKAN PARA TOKOH. If there are with many typo please feel free to correct me. Sekian terima kasih ^^

[Part 1] [Part 2-A] [Part 2-B] [Part 3] [Part 4] [Part 5] [Part 6] [Part 7]

Preview:

Berawal dari penolakan Eunji pada pernyataan yang dikeluarkan Kris berkelanjutan dengan Chanyeol yang kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Is Chanyeol get jealous? Yes, he is. Namun, dirawatnya Chanyeol di rumah sakit, mempertemukan kembali orang-orang yang dulu bersahabat, tetapi persahabatan mereka pecah karena suatu hal.

Akhirnya sampai juga di kamarmu yang ada di lantai 6 ini. Aku saja sampai keringatan padahal sekarang musim dingin.” Eunji menggerutu sambil menutup pintu kamar pasien Chanyeol.  Chanyeol masih melangkahkan kaki ke ranjangnya.

Kau berlebihan, aku saja yang sedang sakit biasa-biasa saja.” Balasnya santai.

“ITU karena KAU tidak memakan ramyun sialan itu!” Tekan Eunji. Chanyeol hanya terkekeh.

Tak sengaja Chanyeol mendengar Eunji mendecis, “ya~ katanya kau ingin menjadi yeoja yang baik untukku, bantu aku untuk menaiki ranjang ini. Selang infus di tanganku ini mengganggu saja,” titahnya. Eunji hanya meniup poninya dengan kesal. Chanyeol membalasnya dengan kekehannya.

Tangan kanannya digenggam Eunji.Rasanya, rasa hangat mengalir di tubuhnya yang dari tadi menggigil kedinginan.

“Tanganmu dingin sekali, yeol-ah.” Dia menyentuh wajah dan leher Chanyeol dengan punggung tangan Eunji. Jantungnya kembali berdebar dengan cepat. Setelah Chanyeol duduk di ranjangnya, Eunji seperti mendelik padanya.

Wajah Eunji kini dekat dengan wajahnya, perlahan wajahnya memundur, memberi jarak pada wajahnya dengan Eunji. Dia ini kenapa sih?Batin Eunji.

“Kau kenapa melihatku seperti itu?” Mata Eunji menatapnya. Lalu dia seperti memerhatikan sesuatu sehingga menunduk.

“Oh mian, aku tidak tahu kalau posisi kita ini—”

Dengan segera Chanyeol menahan pinggangnya. Dia terkejut. Chanyeol menarik satu ujung bibirnya. “Yeol-ah. Kumohon. Lepaskan,” pinta Eunji, sementara Chanyeol semakin memperlebar senyumannya.

“Kalau begitu, kumohon sekali lagi. Ya? Tadi di kafetaria kau belum memenuhinya.” Jawabnya dengan senyuman lebar.

Dia menghela napas, dalam hati Chanyeol tertawa geli melihatnya seperti itu. “Baiklah, tutup matamu.”

Dengan masih tersenyum, Chanyeol merapatkan kedua matanya cepat-cepat. Kini ia dapat merasakan hembusan napasnya yang kian mendekat pada wajahnya.

Klek

“Chanyeol-ah?!”

“Eunji-ah???!”

Mereka  berdua langsung menoleh ke arah sumber suara.

Apa? Apa aku tidak salah lihat?? Batin Chanyeol.

Eomma?? Batinnya lagi.

****

Author POV

“A..aboji?”

Dengan terburu-buru, Eunji melepas paksa kedua tangan Chanyeol yang melingkar di pinggangnya. Dia menoleh ke belakang, untuk mengetahui siapa yang berada di pintu kamar pasien ini.

“Appa? Eomma? Mereka sudah datang?? Astaga! Apa saja yang mereka lihat barusan? Aduh aku malu sekali!” Gerutu Eunji dalam hati.

Kedua orang tua Eunji dan wanita yang Chanyeol sebut ‘eomma’ itu memasuki kamar pasien Chanyeol dengan tenang, kecuali wanita itu. Wanita itu menghardik dirinya sendiri di dalam hatinya. Dia tidak seharusnya bertemu kedua orang yang selalu membuatnya menangis.

Dengan lemas, wanita bernama Im Chaerin itu terduduk di sofa yang terletak di sudut ruangan dengan jendela terbuka di sampingnya. Pandangannya beralih pada namja yang memakai seragam rumah sakit berwarna biru bermotif kotak-kotak putih. Beberapa kata melintas di otaknya yang tanpa sengaja dilewati dari seluk terdalam hatinya, “Chanyeol, anakku,” namun, gumamannya itu pergi saat dia tersadar  apa yang barusan dia pikirkan. Di sisi sebagai seorang ibu, ia tahu, ia sangat membutuhkan anaknya itu. Tapi di sisi lain, dia juga tak ingin mengenal anak itu karena dia lahir dari pria yang tak ia cintai.

Sekarang, pandangannya beralih pada yeoja berseragam sekolah dengan rambut coklat bergelombangnya. “Siapa dia?” tanyanya dalam hati.

“Chanyeol-ah, bagaimana keadaanmu?” tanya Jinwoon, ayah Eunji. Ia mendekat ke arah ranjang yang kini menjadi tempat berbaring oleh Chanyeol sendiri. Chanyeol menjawabnya dengan senyumnya. “Aku baik-baik saja, Ahjussi.”

Matanya kini menangkap seseorang yang terduduk lemas di sofa sudut ruangan ini. Chanyeol terduduk dari tidurnya. Sebenarnya, ia hendak menyusul ibunya ke arah sofa itu. Tapi karena tangannya yang sedang diinfus, akhirnya ia hanya bisa terduduk dari ranjangnya.

Chanyeol memandang ibunya dengan senyuman lirih, “eomma, aku merindukanmu.”

Eunji yang berdiri di samping ranjang Chanyeol, langsung menoleh kaget ke arah Chaerin, lalu ia menoleh ke Chanyeol untuk meminta penjelasan lebih.

Chanyeol tidak menyadari bahwa Eunji menatapnya dan wanita itu bergantian. Dia melihat ibunya itu hanya diam seribu bahasa. Lalu dia menghela napas, “eomma tidak merindukanku?”

Kini kedua retina mata Chaerin menatap sepasang mata yang kini memperhatikannya. Kedua mata itu benar-benar seperti duplikat matanya. Kedua mata yang selalu membuat orang yang menatapnya menjadi tenang.

Seakan mendapat teguran keras dari otaknya, Chaerin tersentak. Diambilnya hand bag Dolce&Gabbana coklatnya dengan tergesa-gesa sesudah ia berkata, “maaf, aku harus pergi.”

Chanyeol hanya bisa membatu dengan posisi yang sama seperti sebelumnya. Ia memandang pintu kamar rawatnya yang sedang dibuka oleh ibunya.

Setelah pintu itu dibuka oleh Chaerin, Seungyeol –mantan suaminya itu mengejar Chaerin yang sudah keluar lebih dulu. Jinwoon dan Jihyun juga menyusul Chaerin dengan berlari kecil.

Kini, di kamar pasien bernomor 601 hanya menyisakan Chanyeol dan Eunji. Eunji memandang wajah Chanyeol yang semakin pucat. “Chanyeol-ah, berbaringlah.” Pintanya. Chanyeol akhirnya membaringkan dirinya di atas ranjangnya. Lalu dia menatap wajah Eunji sendu, beralih ke telapak tangannya.

“Kemarikan tanganmu,” titah Chanyeol dengan wajah lemas.

Eunji terbelalak lalu terkekeh, “mwo? Hei, memangnya aku ini anjing? Ckck.” Jawabnya kesal.

Chanyeol terkekeh melihat Eunji yang menjawab seperti itu. “Kau mau tidak, jadi mood boosterku?” ujarnya sambil tersenyum tulus dan menatap Eunji.

Eunji hanya bisa tersenyum dan mengangguk pelan, lalu menyerahkan telapak tangan kanannya pada Chanyeol.  “Ini, tanganku. Memangnya, tanganku ini untuk apa? Jangan coba macam-macam.”

Chanyeol terkekeh mendengar pertanyaan Eunji. Ia genggam tangan itu erat dengan kedua tangannnya. “Untuk menghangatkanku.” Sehabis itu, ia membawa genggaman tangannya itu ke dada kirinya.

“Ya! kau—”

“Sekali ini saja, kumohon.” Pintanya tulus.

Eunji menghela napas, lalu tersenyum pada Chanyeol. “Lakukanlah seberapa kali kau mau, aku akan selalu berada di sisimu.” Ucapnya tulus.

Chanyeol tersenyum, lalu dia duduk kembali dari posisi berbaringnya.

“Hei, kenapa kau duduk lagi? Berbaringlah.” Titah Eunji pelan. Tapi, bukannya kembali berbaring, Chanyeol malah memeluk Eunji dengan posisi duduknya.

“Chanyeol!” seru Eunji kaget. Chanyeol hanya tersenyum dibalik pelukannya itu.

Chanyeol mendongak untuk melihat wajah Eunji yang memerah. Ia berdiri dari tempat tidurnya dan meraih tubuh Eunji dan memeluknya dengan erat.

Eunji terdiam sejenak, dia mengangkat kepalanya yang berada di dekapan Chanyeol, berusaha untuk memberi jarak antara dirinya dan Chanyeol.

“Entah kenapa, semenjak melihatmu dengan guru Wu saat itu, aku baru mengerti cinta yang sesungguhnya. Aku semakin menyayangimu. Aku mencintaimu.”

Jika Eunji sedang meminum air, mungkin dia akan terbatuk-batuk karena tersedak. Dia terkejut. Eunji menatap Chanyeol sebentar yang sedang mengusap rambut Eunji. “Dia tak seperti biasanya,” pikirnya dalam hati.

“Kau tahu tidak? Walaupun mungkin kau sudah mengetahuinya, aku akan tetap memberitahumu.” Sambung Chanyeol.

Eunji memberikan jarak di pelukannya. Dia menatap Chanyeol kebingungan. “Aku saja belum kau beritahu apa yang kau maksud, mana mungkin aku bisa tahu, babo,” setelah itu mereka berdua terkekeh bersamaan.

Chanyeol berdeham sebentar dan Eunji membalas dengan dehaman serta senyumannya.  “Sebenarnya aku cemburu, tahu.”

Sunggingan kedua ujung bibir Eunji perlahan  mengendur. “Kenapa bisa begitu, hmm?”

Dengan polosnya, dia menjawab, “kau terlalu dekat dengan dia.”

Seakan sudah mengetahui siapa ‘dia’ yang dimaksud Chanyeol, Eunji mengambil napas lalu menghelanya pelan-pelan dan melepaskan pelukannya. “Yeol-ah, dengarlah. Aku hanya menganggapnya sebagai kakakku sendiri.”

Chanyeol segera meraih kedua tangan Eunji dan menggenggamnya. “Kalau begitu, anggaplah aku ini kakakmu juga. Aku akan selalu menjagamu, menemanimu disaat sedih dan senang, mengajarimu banyak hal. Aku akan menjadi kakak sekaligus namjachingumu dengan senang hati. Kau mau berjanji padaku? “

Eunji menatapnya dalam. Dia tersenyum, “iya, aku mau berjanji. Tapi kau juga harus percaya satu hal.”

“Apa itu?”

“Dalam suatu hubungan, harus ada yang namanya toleransi. Mereka harus saling mengerti. Dan juga, harus saling mempercayai. Kalau salah satu dari pasangan, tidak ada yang mempercayai pasangannya, bisakah hubungan itu berlanjut? Tentu saja tidak. Jadi, kumohon, Chanyeol-ah. Yang aku butuhkan darimu hanya kepercayaan dan kasih sayang darimu padaku.”

Chanyeol tersenyum, ia mengelus kepala Eunji dengan pelan. “Baiklah. Aku percaya padamu, Eunji-ah.”

Eunji tersenyum haru, “Gomawo, Chanyeol-ah. Jeongmal gomawo. Saranghae.”

Chanyeol menatap dalam mata Eunji, lalu merendahkan kepalanya untuk mencium kecil hidung mungil yang dimiliki Eunji. Eunji terkejut, lalu ia tersenyum haru.

Mereka kembali berpelukan. Di balik pelukan itu, Eunji menangis, ia terharu dengan perkataan yang Chanyeol baru katakan. Dia sangat beruntung memiliki namja chingu seperti Chanyeol. Begitu juga dengan Chanyeol. Ia benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar semua perkataan dari Eunji. Ternyata Eunji memang sangat membutuhkan kepercayaan darinya.

****

“Chaerin-ah! Kau tak seharusnya begitu dengan anakmu sendiri!” teriak Jihyun dari kejauhan, ia berhenti berlari menyusul Chaerin karena kelelahan. Seungyeol dan Chaerin berdiri di depan lift, Seungyeol menahan Chaerin untuk memasuki lift yang pintunya sudah terbuka.

Jinwoon terus berlari ke arah Chaerin, ia menggapai pergelangan tangan Chaerin dan menggenggamnya erat. “Kau, sadar tidak? Kau sudah meninggalkan anakmu bertahun-tahun. Anakmu merindukanmu, mengapa kau tidak? Apa yang salah denganmu, Im Chaerin?! Dia anakmu yang keluar dari rahimmu sendiri!”

Jinwoon menghempaskan tangan pucat Chaerin  begitu saja. Dia memasuki lift sendirian, lalu dia mengernyitkan alis matanya, “Jihyun-ah, untuk apa lagi kau masih berdiam diri di situ? Masuklah!” sebelum Jihyun memasuki lift yang sebelumnya kosong, ia berkata sesuatu pada Chaerin, “kau berubah, tak seperti Chaerin yang kukenal dulu.” Chaerin terkejut, namun ia tak ingin memperlihatkan keterkejutannya. Belum lagi, ia diberi picingan mata yang tajam dari kedua mata  Jinwoon.

Kini, hanya tersisa Seungyeol dan Chaerin di lantai 6 rumah sakit ini. Suasana kembali membising.

Sebenarnya, genangan air matanya sudah menumpuk di sekitar pelupuk matanya. Namun ia tahan, ia tak mau terlihat lemah. Sementara Seungyeol, ia mencengkeram kedua bahu Chaerin, lalu mengelusnya dengan ibu jarinya. “Chaerin, sadarlah, yang kau lakukan ini salah. Apa yang menjadi masalahmu selama ini, sehingga kau bisa seperti ini? Kau bisa ceritakan semuanya padaku, Chaerin-ah. Kau harus percaya itu. Dan ingatlah, aku masih mencintaimu.”

Chaerin tak tahu harus melihat ke hatinya atau pikirannya saat ini. Kondisi ini sangat membuat pikiran Chaerin berlari ke mana-mana. Ia juga merasa bersalah kepada anaknya. Dan entah kenapa, saat Jihyun berbisik padanya tadi, mendengarnya bagaikan ditusuk oleh ribuan pisau yang menancap di hatinya.

Chaerin kembali mengingat masa-masa SMAnya yang menyenangkan bersama kedua sahabatnya itu. Walaupun setiap pulang sekolah, ia seperti dikurung di rumahnya sendiri. Walaupun di hari-hari bahagianya, jarum suntik selalu memasuki pembuluh balik yang ada di punggung telapak tangan kirinya, hingga sampai saat inipun dan selama hidupnya akan begitu terus. Ya, aku berubah, batinnya sambil terisak.

Sementara Seungyeol, tangannya kini beralih mengggenggam kedua telapak tangan Chaerin yang ada di kanan-kiri pinggang Chaerin.

“Kau mau?  Kau mau menceritakan semuanya padaku?”

Chaerin terdiam, lalu menolak tawaran tulus yang diberikan mantan suaminya itu baik-baik. “Kau tidak perlu repot-repot, Park Seungyeol.”

Seungyeol semakin mengeratkan genggaman tangannya. “Chaerin, aku tak merasa kau repotkan! Justru aku senang, aku senang karena kau masih menganggapku orang yang kau kenal dekat, walau kau tak akan menganggapku ini suamimu, bahkan, mantan suamimu pun.”

Chaerin terpaku mendengar perkataan mantan suaminya ini, ia menjadi merasa bersalah. Di kala waktu malam natal saat Chanyeol masih menginjak kelas 3 SMP, ia menampar suaminya ini, padahal Seungyeol sama sekali tidak mengetahui apa-apa. Waktu itu, Chaerin sudah stres karena ia bosan. Ia bosan hidup dengan jarum suntik, alat-alat mengerikan itu, dan obat-obat yang diberikan dokter yang merupakan adik sepupunya sendiri, Shin Boyoung.

Chaerin menghirup udara khas rumah sakit ini dalam-dalam, “baiklah, kau sendiri yang memintaku untuk menceritakannya.”

****

Eunji POV

“Yeol-ah, nanti, jangan tidur malam-malam. Ara?” Titahku padanya yang diakhiri dengan senyumanku.

Kulihat Chanyeol tersenyum dan mengangguk pelan. Kulirik arloji biruku. Sudah jam 6 sore. “Baiklah. Kalau begitu, aku akan pulang. Ah! kau juga tidak boleh telat makan. Kau harus cepat sembuh!”

Lagi-lagi dia tersenyum, membuatku berdebar saja. “Iyaaaa, Eunji,”

Aish, dia mencubit kedua pipiku dengan gemas. “Kau ini cerewet sekali.” Sambungnya.

Aish namja ini. “Baiklah, sampai bertemu besok.”

Setelah keluar dari kamar rawat Chanyeol, dari jauh, aku melihat eomma dan appa-nya Chanyeol berdiri sambil menunduk di depan lift. Tak lama setelah itu, mereka memasuki lift yang terbuka.

Jujur, hingga sekarang, aku masih bingung. Kenapa eommanya bersikap seperti itu dengan anaknya sendiri? Hmm, hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Drrrrttt… Ponselku bergetar dari saku blazer seragamku.

One message from Baekhyun. Kubuka pesan singkat dari Baekhyun.

Noona, belikan sup gingseng di tempat si Ahjussi gendut itu ya /\^.^)! Aku merindukan sup gingseng buatannya \(^ɞ^)/  Aku tiba-tiba demam, nih ╥ ╥. Kau tak mau kan, melihat adikmu ini sakit? Belikan ya, ya? Gomawo noonaku cantik >ɜ<)/”

Aigoo, nae namdongsaeng. Emoticonnya banyak sekali. Kuketik balasan sms untuk Baekhyun di layar ponsel touchscreenku ini.

Baiklah. Ya! Kau ini tidak sopan ‘-‘)/ Hei, jangan memuji noonamu ini  jika sedang ada maunya saja-___- Jangan-jangan, kau sering menggoda yeoja-yeoja seumuranmu seperti ini? Atau lebih parahnya, kau juga menggoda yeoja seumuranku? Aku senang kau sakit    9‘-‘)9  Agar aku tak perlu mendengar celotehanmu tiap hari :P”

Kumasukkan kembali ponselku seraya tertawa membayangkan wajah Baekhyun ketika membaca pesan singkat yang baru saja kukirim, dan membuka tasku, untuk mengambil scarf merah panjangku, untuk menghangatkan mukaku ini. Cuaca malam ini dingin sekali.

****

Author  POV

Eunji berjalan di trotoar jalan yang ramai, yang dituruni oleh butiran salju dari langit malam yang gelap ini. Ia mengenakan penghangat telinga berwarna birunya di telinganya. Di sepanjang jalan, ia mengangkat tangannya sehingga butir-butir salju mendarat lalu mencair di telapak tangannya yang memerah.

“Aish, aku lupa membawa sarung tangan rajut buatan eomma, huuufft dingin sekali.” Katanya seraya mengusap-usap kedua telapak tangannya.

Setelah sampai di restoran Korea sederhana favorit keluarganya, yang letaknya dekat lumayan dekat dengan Rumah Sakit Seoul.  Ia membuka pintu restoran itu, lalu kedua matanya menemukan sosok pemilik restoran ini yang sedang memarahi salah satu karyawannya. Eunji sangat dekat dengan paman yang satu ini, begitu juga dengan Baekhyun.

“Ahjussi! Lama tidak bertemu denganmu!!” Seru Eunji keras, sehingga membuat semua pengunjung restoran yang tidak terlalu luas ini namun lumayan ramai pengunjungnya menoleh ke arah Eunji.

Paman itu menoleh ke belakang dan mendapati Eunji yang sedang melambai-lambaikan tangan ke arahnya sendiri. Paman itu melangkah satu kali untuk melihat lebih jelas, memfokuskan matanya dan tersenyum lebar ketika sudah melihat jelas dari jarak jauh wajah imut dari seorang Byun Eunji.

“Eunji?!”

“Ahjusssiiiiiii!!”

Keduanya mendekat dan tertawa bersama, “Kyaaa!! Ahjussi tambah gendut!!”

Ekspresi wajah paman itu perlahan menjadi cemberut. “Haih, kau ini. Sama saja dengan adikmu itu. Si.. siapa namanya ya? Ah! Baekhyun!”

Eunji hanya bisa tertawa melihat paman yang ada di hadapannya kini. Lengkap dengan seragam chefnya—paman itu adalah pemilik sekaligus chef dari restoran itu—dan rambutnya yang mulai menipis.

“Do Ahjussi, bagaimana perkembangan restoranmu ini? Tampaknya semakin ramai saja. Ah, sudah lama aku tidak ke sini. Kalau di hitung, sudah sekitar 5 bulan ya? Haih lama sekali ya. Perasaan aku baru ke sini seminggu yang lalu. Waktu memang berjalan dengan cepat ya.” Eunji menggumam sendirian.

Setelah menggumam, Eunji baru sadar, apa tujuannya ke restoran ini. “Ah!! Ahjussi, aku ingin membeli sup gingseng. Baekhyun sedang demam, jadi dia memintaku untuk membelinya di restoran ahjussi. Dia yang meminta sendiri. Katanya, dia merindukan sup gingseng buatan ahjussi saat ahjussi memasak sup gingseng di rumah kami.” Kata Eunji panjang lebar yang diakhiri dengan senyuman cengengesannya.

Si Paman terkejut. “Benarkah? Wah, kau duduk dulu di situ ya. Ahjussi sendiri yang akan membuatnya! Woah, aku jadi semangat lagi? Ada apa ini?”

Eunji hanya bisa tertawa melihat tingkah lucu Paman Do. “Eh? Tidak usah, ahjussi, biarkan karyawan ahjussi  saja yang memasaknya. Ahjussi juga sibuk kan?”

Paman Do berdecak pada Eunji, “Haish, kau lupa? Aku ini chef di restoran ini, lagi pula aku membuatnya untuk anak dari sahabatku juga, benar kan? Hahaha.” Ucapnya sambil membanggakan diri.

Eunji hanya memicingkan matanya. “Eiiii, baiklah, buatkan yang enak ya, ahjussi!! Gomapta!”

Paman Do hanya menganggukkan kepalanya dengan semangat.

Eunji duduk di meja urutan ke empat dari depan pintu masuk restoran. Ia menerima segelas teh hangat dari pelayan restoran ini. “Eh, aku tidak memesan ini.” Kata Eunji spontan tanpa melihat wajah si pelayan.

“Ini dari Do sajangnim.” Suara yang powerful itu keluar dari mulut si pelayan.

“Eh, rasanya aku mengenal suara ini…” gumam Eunji. Lalu ia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah si pelayan.

“KYAA! KYUNGSOO???!! Kau kenapa bisa di sini? Kau menguntitku ya? Sampai-sampai menyamar menjadi pelayan—”

“YA! Aku ini anak pemilik restoran ini! Kau ini bagaimana sih.” Seru Kyungsoo sambil meletakkan segelas teh hijau hangat yang asapnya menguap dari mulut gelas itu dengan kesal.

“Hei hati-hati! Mana aku tahu kau itu anak Do ahjussi. Aku kan tidak tertarik denganmu.” Ujar Eunji tak mau kalah sambil memeletkan lidahnya.

“Aigoo, siapa yang tertarik juga padamu? Aku lebih tertarik dengan Sulli daripa—”

Oops…

Eunji tertarik untuk menggoda Kyungsoo yang tampaknya sudah salah tingkah. “Eiiiiii, kau menyukai Sulli-ku yaaa?? Ayo mengaku! Haha.”

“A-aniya! Ah sudahlah, aku ingin membantu ayahku dulu di dapur! Minumlah teh itu, jangan sampai dingin lebih dulu!”

Kyungsoo mulai menghilang dari pandangan Eunji. Eunji hanya bisa terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepalanya, melihat kelakuan Kyungsoo yang masih dibilang seperti anak SMP.

Sudah 20 menit ia menunggu, Paman Do, yang baru Eunji ketahui bahwa ia adalah ayah dari Kyungsoo, menyerahkan kantung plastik putih berlabel nama restorannya yang berisi sup gingseng pesanannya ke meja Eunji.

“Sudah selesai, Eunji!” Seruan Paman Do membuat Eunji keluar dari lamunannya.

Paman Do kebingungan. “Hei, ada apa denganmu?”

Eunji memicingkan matanya sambil menggembungkan pipinya. “Aku baru tahu, kalau ahjussi memiliki anak yang bernama Do Kyungsoo. Dia kan teman satu sekolahku. Ahjussi kenapa tidak bilang-bilang padaku?”

Paman Do tertawa melihat tingkah Eunji. “ Aigoo, salah kau juga. Kau tidak menanyakan anakku siapa, berapa, dan siapa nama anakku, kan?” Ucapnya yang diakhiri gelak tawanya.

“Aih, baiklah. Ini uangnya, ahjussi. Kamsahamnida.” Ucap Eunji sambil menyerahkan beberapa lembar won dari dompet hijau toscanya pada Paman Do sambil membungkukkan badannya.

Paman Do tersenyum melihat Eunji yang sedang memegang ganggang pintu kaca restorannya. Tapi menjadi kebingungan ketika Eunji menolehkan kepalanya dan mengarah ke Paman Do.

“Ah iya, ahjussi. Baekhyun bilang saat ia memintaku untuk membelikan sup gingseng ini di sms,” Eunji mengangkat kantung plastik yang dipegang dengan tangan kanannya, “katanya, dia minta dibelikan sup gingseng di restoran si ahjussi gendut. Sudah hanya itu saja. Aku pulang dulu. Gomapta sup gingsengnya, ahjussi!” lanjutnya.

Blam…

Wajah ahjussi itu mendadak menjadi murung “Apakah sebegitu gemuknya aku? Kalau aku gemuk, kenapa anakku tidak?? Haaa Kyungsoo, kenapa kau tidak gendut sepertiku?”

Eunji melihat dibalik pintu kaca, ia terkikik geli melihat tingkah Paman Do yang lucu.

“Lucu sekali ayahnya Kyungsoo, hahaha.”

****

“Jadi, kau sekarang tinggal di sini?”

Pria paruh baya namun masih memiliki figur yang bagus itu melihat sekeliling apartemen Chaerin yang mewah. Chaerin hanya bisa berdeham untuk mengiyakannya.

Mereka kini duduk di suatu meja, berhadapan langsung dengan balkon apartemen yang lumayan besar. Sehingga angin malam Seoul di musim dingin ini dapat dirasakan oleh keduanya.

“Kenapa kita tidak di dalam saja? Apakah kau tidak kedinginan?”

“Di sini saja, aku ingin menikmati udara dingin di Seoul.”

Chaerin menceritakan semuanya kepada Seungyeol, namja yang kini duduk di hadapannya. Mulai dari persahabatannya dengan Jihyun dan Jinwoon. Lalu pertengkarannya dengan orangtuanya yang membuat ia tambah frustasi semenjak mengetahui bahwa ia akan dinikahkan oleh Seungyeol setelah melihat langsung pernikahan Jihyun dan Jinwoon.

“Jadi, sampai sekarang, kau tidak memiliki perasaan apapun padaku? Kenapa kau tidak bilang dari awal pernikahan kita? Kenapa kau mengulangi perkataan Pastur saat pernikahan kita?” tanya Seungyeol bertubi-tubi, namun ia masih bisa mengontrol perasaan dan pikirannya.

Chaerin terkejut, lalu ia kembali mendatarkan wajahnya. “Jadi, ayah dan ibuku belum menyampaikannya padamu? Semuanya, pada keluargamu? Tentang sesuatu yang tersembunyi di dalam diriku?”

Seungyeol menjadi bingung mendengar apa yang semua Chaerin tanyakan dengan wajah datarnya. “Apa maksudmu, Im Chaerin?”

“Kau tidak tahu? Baguslah, biarkan hal itu menjadi misteri.”

Seungyeol hendak menggenggam kedua tangan Chaerin, namun tangannya terhenti, karena ia melihat suatu bekas yang menghitam di punggung tangan Chaerin.

Ia menyentuh perlahan punggung tangan kiri Chaerin. Chaerin kini memperhatikan arah mata Seungyeol dan ternyata arah matanya itu menuju punggung tangannya.

Chaerin menggerakkan kedua tangannya sehingga membuat Seungyeol terkejut. “Itu apa, Chaerin?”

Spontan, Chaerin mendadak panik. “Bukan apa-apa,” Chaerin berusaha menetralkan rasa gugupnya, “itu hanya tanda lahirku, biasa kan? Beberapa orang di dunia ini juga punya tanda lahir seperti itu.” Lanjutnya.

Seungyeol masih tidak puas dengan jawaban Chaerin. Seperti ada yang mengganjal, kalau ia perhatikan dari gerak-gerik mantan istrinya itu. “Kau tidak bohong padaku, kan?”

Chaerin tersenyum, untuk meredakan kecurigaan pria yang ada di hadapannya. “Tentu saja tidak, untuk apa aku berbohong padamu, tuan Park?”

Seungyeol merasa risih ketika mendengar Chaerin memanggilnya dengan sebutan Tuan.

“Jangan panggil aku seperti itu, kau menganggapku ini sudah beristri lagi? Ayolah, aku ini seorang duda.” Seungyeol menyilangkan kaki kanannya ke atas kaki kirinya sambil memasang wajah murung.

Chaerin tertawa melihat perilaku Seungyeol yang kekanak-kanakan sampai-sampai ia berusaha menahan tawanya dengan tangan kirinya.

Seungyeol takjub. Ya, dia sangat takjub. Baru pertama kalinya ia melihat Chaerin tertawa karena dirinya. Seungyeol membuat Chaerin tertawa, dan ia sangat senang.

Merasa diperhatikan, Chaerin berdeham sebentar, ia berusaha untuk mengendalikan tawanya. “Ekhh, haha, hmmm, maaf aku kelepasan.” Ucapnya yang masih berusaha mengontrol sikapnya.

“Kau tertawa?” Tanya Seungyeol dengan wajah terharu.

Chaerin kebingungan dengan sikap Seungyeol. “Tentu saja aku tertawa. Memangnya, kau kira aku sedang marah-marah?” Kata Chaerin bertubi-tubi.

Seungyeol hanya terkekeh mendengar jawaban Chaerin. “Itu kau marah-marah. Haha.”

Chaerin berhenti terkekeh, “memangnya itu tadi bisa disebut marah-marah?”

Seungyeol tersenyum pada Chaerin dan menggenggam tangannya, “tentu saja, karena kau memasang wajah yang mengerikan,”

“Aku mengerikan, ya?” Tanya Chaerin.

Dengan senyuman hangatnya, Seungyeol berkata, “saat kau marah, kau terlihat mengerikan, aku saja sampai ketakutan.”

Chaerin melepaskan genggaman tangan dari Seungyeol perlahan. “Sudahlah, aku lelah berakting seperti ini.”

“Pulanglah. Aku merasa terganggu jika ada orang asing yang masuk ke tempat tinggalku.” Sambungnya.

Waktu seperti diperlambat, Seungyeol membeku seketika.

“Apa maksudmu? Jadi, semuanya yang kau lakukan tadi hanya akting??”

Chaerin memicingkan matanya pada Seungyeol. “Kau kira, ucapanku tadi benar? Kau lucu juga.” Ia mulai tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai ia memukul pelan meja kecil yang menjaraki Seungyeol dengan Chaerin.

Seungyeol shock, ia lagi-lagi melihat Chaerin tertawa karena kebodohannya. Seungyeol menggaruk kepalanya yang tak gatal, “YA! Dasar kau ini. Aku terkejut, tahu!”

Chaerin dengan perlahan menghentikan tawanya, lalu tersenyum hangat pada Seungyeol.

“Ada apa?” Tanya Seungyeol bingung. Chaerin menatapnya terlalu dalam.

“Sungguh…” Ucapan Chaerin yang menggantung, membuat Seungyeol semakin penasaran.

“Di sini dingin sekali ya, kita pindah tempat saja yuk.” Sambung Chaerin sambil bergegas dari kursinya.

Seungyeol sudah dua kali dibuat membeku oleh Chaerin. Ah iya, ditambah dibekukan oleh dinginnya suhu di balkon apartemen mewah Chaerin.

“Kita seharusnya berbicara di dalam saja, berbicara di balkon ini membuatku membeku. Aish, Chaerin ini, “ Gumam Seungyeol pelan.”

Chaerin ternyata belum membuka pintu kaca transparan pembatas balkon dengan apartemennya. “Apa katamu?”

Seungyeol tersentak. “A-aniya. Ayo kita masuk ke dalam, di sini dingin sekali.”

Chaerin melihat Seungyeol diam-diam. Sebenarnya, yang ingin ia ucapkan tadi adalah tentang penyesalannya dulu karena permintaannya yang sangat di luar kata masuk akal. Ya, hal itu membuat Chaerin dan Seungyeol bercerai.

****

Eunji POV

“Noona!! Gomawooooo!!” Suara Baekhyun membuat gendang telingaku seperti hampir pecah saat aku baru membuka pagar rumah. Wajahnya terlihat berseri-seri sekali.

Aku hanya bisa menghela napas panjang, lalu menyodorkan kantung plastik yang kupegang. “Ini, sup gingseng yang kau pesan. Ah iya, Do ahjussi semakin gemuk loh, kekeke~. Yasudah, aku ingin mandi dulu.”

Aku dapat mendengar jelas, saat aku menaiki tangga, Baekhyun bersiul-siul tidak jelas. Begitulah dia kalau lagi senang. Ckckck. Eh iya, katanya dia demam? Kenapa dia tampak sehat-sehat saja? Dia bohong? Haish anak itu, membuatku repot saja.

****

Author POV

“Jinwoon-ah, kenapa kau kemarin kasar sekali pada Chaerin?” Jihyun bertanya pada Jinwoon selagi mencuci mangkuk-mangkuk kotor yang terletak begitu saja di atas meja makan.

Jinwoon yang sedang makan meletakkan makanan-makanan malam di meja makan, menoleh ke arah Jihyun.

“Bagaimanapun, Chaerin itu kan sahabat kita juga. Walau dia sudah berubah, tapi—”

Perkataan Jihyun terputus saat merasakan ada yang melingkari pinggangnya. “Jinwoon-ah,”

“Sudahlah, kau jangan bicara terus. Aku melakukan hal itu karena aku ingin dia berubah. Coba kau perhatikan, dia meninggalkan kita saat kita menikah dulu. Apakah dia itu tipikal sahabat yang setia?”

“Mungkin dia meninggalkan kita karena menyukaimu,”

Jinwoon mengendurkan pelukan di pinggang Jihyun. Sementara Jihyun mematikan air keran di wastafel dan berbalik badan,  sehingga mereka kini berhadapan.

“Apa maksudmu?” sela Jinwoon.

Jihyun menarik napas panjang. “Dulu, aku hanya mengira-ngira saja. Karena kalau aku perhatikan, setiap kita berkumpul bertiga, dia terlihat senang. Tetapi, saat kau tidak bisa berkumpul dengan kami, moodnya tak sebagus saat kita berkumpul bertiga. Sampai-sampai aku jadi kesusahan sendiri, bagaimana untuk membuat moodnya membaik. Tapi ini hanya sugestiku saja ya, aku juga tidak tahu kebenaran dan kepastiannya.”

“Mungkin kau benar,” ucap Jinwoon ragu-ragu.

Melihat wajah Jihyun yang ingin mendengar penjelasan terkait dengan apa yang baru saja ia ucapkan, ia menghela napas.

Jinwoon meremas kedua pundak Jihyun dan menatapnya dalam. “Kau ingat saat aku mendapatkan notes kecil yang ada di pintu lokerku?”

Jihyun mengangguk pelan, mencoba mengingat kejadian itu lebih jelas.

Flashback

“Hei, teddy bear! Lihatlah! Aku mendapat notes kecil ini! Dan minuman gratis dari lokerku, haha.”

Hyunjae dengan wajah malasnya hanya mengangguk. “Oke, aku tahu kalau kau itu populer di sekolah ini. Ara, ara.”

Jinwoon langsung merangkul Hyunjae dengan tangan kanannya. “Tapi aku belum mau melihat notes ini. Bagaimana kalau kita lihat bersama-sama?”

Hyunjae hanya mengiyakan saja, dan Jinwoon tersenyum lebar. “Aku penasaran.” Kata Jinwoon pada temannya yang berbadan gemuk itu, memasuki ruang kelas yang sepi dari loker, karena semua murid keluar menuju kantin.

Orang yang dipanggil teddy bear itu, Do Hyunjae, mengangguk dengan perasaan yang malas. “Baiklah. Kau ini seperti baru mendapat pernyataan cinta saja.”

Dengan tiba-tiba, Hyunjae merebut notes yang dipegang Jinwoon. “YA!” seru Jinwoon.

“Apasih yang tersembunyi dari selembar kertas ini?”

Jinwoon merebut kertas kecil berwarna putih itu dari tangan Hyunjae, keduanya tertawa senang. “Eh iya. Saat jam olahraga tadi, kami berdua disuruh guru Kim, si guru cerewet itu, untuk membereskan semua peralatan olahraga yang kita pakai tadi. Dan dia menawarkanku untuk bermain ‘Gunting, Batu, Kertas’. Siapa yang kalah, harus membereskan semua itu seorang diri.”

Hyunjae yang begitu antusias mendengar cerita Jinwoon berkata, “lalu?”

Jinwoon menarik napasnya dan duduk di meja salah satu murid di kelasnya sambil membuka tutup minuman dingin yang ia dapat secara cuma-cuma. “Dan akhirnya aku yang kalah. Ah sial!” Jinwoon memperlihatkan muka masamnya dan iapun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Hyunjae tertawa melihat Jinwoon menggerutu kesal. “Ya! Kau ini laki-laki! Kau tidak malu, kalau dia kalah dan harus membereskannya sendirian? Manner-mu kau letakkan di mana? Hahaha.”

Dengan wajah polos dan cengengesan, Jinwoon menjawab, “Hehe, aku hanya iseng saja. Lagi pula akhir-akhirnya aku juga yang kalah. Haha.”

Hening beberapa detik, lalu Jinwoon membuka suara. “Hm, jadi, kapan kita akan membaca kertas putih ini?”

“5 menit lagi?”

Dengan wajah terkejut dan penasaran, Jinwoon berkata, “ya! memangnya kenapa harus menunggu 5 menit lagi?”

“Aku ingin ke toilet. Hehe. Saat kau mengajakku ke kelas tadi, aku itu sebenarnya sudah kebelet…”

Jinwoon memasang wajah shocknya, dan ia hampir saja tersedak oleh minuman yang tadi ia teguk karena ulah Hyunjae. Dan akhirnya, ia menyuruh Hyunjae untuk segera pergi ke toilet sebelum kelas ini menjadi korbannya.

Setelah Hyunjae keluar, Jinwoon semakin penasaran dengan kertas yang kini ia pegang. Dan akhirnya, Jinwoon meletakkan minumannya dan membalikkan kertasnya, sehingga terlihat tulisan tangan yang rapi dengan tinta pulpen berwarna hitam.

Seharusnya, aku tidak perlu pergi. Seharusnya aku membantumu. Kau pasti lelah kan? Ini, kubelikan minuman yang pasti akan membuatmu kembali segar. Dijamin! ^^ Minumlah!

Jinwoon tercengang setelah membaca kalimat-kalimat dari kertas itu. “Apakah ini dari Chaerin?”

End of Flashback

“Dan setelah itu Chaerin datang menghampiriku.”

“Jinjja?”

Jinwoon mengangguk pelan. “Dia menanyakan apa yang kupegang. Aku pikir, kertas itu bukan dari Chaerin. Karena Chaerin menanyakan apa yang sedang kupegang.” Jihyun hanya bisa terdiam. Ia teringat akan perkataan Chaerin bertahun-tahun yang lalu.

“Jihyun, menurutmu, aku bisa tidak, dicintai pria idamanku itu?”

“Aish, akhir-akhir ini aku sering sakit. Rasanya ingin sekali dijenguk oleh pria idamanku itu. Hanya dia saja. Tidak ada orang lain yang ikut dengannya.”

Jihyun menatap Jinwoon yang berdiri di hadapanya. “Kurasa, Chaerin sudah menyukaimu dari dulu.”

Jinwoon menghela napas panjang. “Aku tahu, tapi aku tidak bisa menerima perasaannya. Aku hanya menganggapnya sebagai sahabatku, tidak lebih.”

“Dan aku hanya mencintaimu, Byun Jihyun.”

Jinwoon memeluk Jihyun erat, ia menuntun kepala Jihyun untuk bersandar di pundaknya. “Aku harus lebih tegas padanya. Aku tidak mau seseorang menjadi putus asa dan tak peduli dengan anaknya sendiri hanya karena cintanya padaku. Aku tak mau itu terjadi.”

****

Eunji POV

Drrrrrtt…. Drrrrrtt.

Eo? Ada sms? Kenapa masih ada yang mengirimku sms jam segini? Padahal aku sedang mencoba untuk tidur. Aah kalau begini caranya, aku bisa gila! Apalagi ditambah cuaca yang dingin seperti ini. Aish, pemanas ruangan berfungsi tidak sih?

Kuambil ponselku dari nakas yang ada di samping ranjangku. Kusentuh layar ponselku dan melihat siapa yang mengirimku sms, dan menarik selimut agar lebih hangat.

A New Message from Chanyeol
23.08 p.m

Eo? Chanyeol?

Kubuka pesan darinya dan tersenyum.

Goodnight, Eunji-ah ^ ^.
Maaf, aku tak bisa ke rumahmu tadi  ᷄ͦ ᵜ ͦ᷅ .
Kau tahu kan, aku masih dirawat di rumah sakit?
Sungguh, aku tidak betah berlama-lama di sini.
Makanannya itu membuatku mual. Dan menunya itu-itu saja ╥_╥

Aku tertawa melihat pesan singkatnya yang ternyata sebagian besar itu curhatannya. Tanganku dengan tidak sabaran, mengetik di atas layar iPhoneku.

You too, Yeol-ah ^ ^. Gwaenchanha ‘v‘)/
Setelah keluar dari rumah sakit, kau bisa datang ke rumahku kapan saja.
Aku rindu belajar bersamamu, yeol-ah
(ʃᵕ.ᵕʅ ).
Yasudah, kalau begitu, setalah kepulanganmu dari sana,
aku akan memasakkan masakan untukmu, bagaimana?
Maka dari itu, kau harus cepat pulih!
Dan aku akan memasakkan masakan spesial yang lezat untukmu! \(ˆ▼ˆ)/

Sent-

Aku membaca ulang pesan yang telah terkirim ke Chanyeol. Aku? Memasak?  Aku kan belum terlalu mahir memasak.

Drrrt… Drrrt..

Jinjja?  ᷇ovo᷆
Ah kalau begitu, aku akan cepat sembuh!
Aku ingin segera memakan masakan buatanmu!
Rasanya seperti apa ya?

Jangan balas dendam kepadaku, ya?
Ramen pedas tadi, hihi.
(9ˆᵜˆ)9

Aku tersenyum membacanya. Sepertinya dia semangat sekali. Hihihi. Kugerakkan tanganku kembali untuk mengetik pesan singkat untuknya.

Tentu saja enak! \(ˆ▼ˆ)/
Ya! Kenapa kau belum tidur, eo? Sekarang sudah larut malam, ara? ’-’)/
Tidurlah.

Chanyeol babo. Sudah tahu kalau kondisinya belum pulih, malah tidur malam-malam. Ckckck.

Tak lama setelah itu, ponselku kembali bergetar. Kubuka pesan darinya.

Aku tidak bisa tidur, Eunji-ah.
Aku merindukanmu, tahu.

Aigoo, Yeol-ah. Aku juga merindukanmu.

Nado. Tapi, kau harus tidur sekarang. Kau ingin cepat pulih, kan?
Saranghaeyo ^^ Ppalli, tidurlah. Kau tidak boleh membalas smsku setelah ini.
Ara? Tarik selimutmu lalu tidurlah.

Kuharap ponselku tak bergetar lagi.

Aku tersenyum membayangkan Chanyeol yang benar-benar menarik selimutnya seperti anak kecil yang belum mau tidur. Ah, pasti sangat lucu. Kyaa, Chanyeol, aku sangat merindukanmu!

Kututup kedua mataku dan menarik selimut. Tapi, aku malah mendengar nada dering ponselku. Tandanya ada panggilan masuk.

Aku meraih ponselku yang ada di nakas dan melihat siapa yang meneleponku.

Chanyeol? Aish, bocah ini. Disuruh tidur bukannya tidur, malah meneleponku malam-malam begini.

“Yeol-ah, kau—”

“Byun Eunji, aku merindukan suaramu.”

“Mwo?”

“Kau ingin aku tertidur kan? Nyanyikanlah satu lagu untukku. Ya? Jebaaal.” Chanyeol memohon padaku dengan suara seperti anak kecil yang ingin dibelikan permen.

“Aish, kau ini. Manja sekali. Joha, kau ingin lagu apa?”

“Hmm, aku ingin mendengar lagu favoritmu. Bagaimana?”

“Tapi, jangan salahkan aku ya, kalau suaraku ini malah membuatmu tambah tidak bisa tidur. Kekeke.” Gelakku.

“Sejelek apapun suaramu, pasti akan terdengar indah di telingaku.”

“Ya~! Sejak kapan kau berani menggombaliku seperti itu, eo? Kkk~.”

“Siapa bilang aku menggombalimu? Hatiku memang berkata begitu, tahu. Haha.”

Aku berdeham sebentar. Kupeluk guling biruku sambil tersenyum.”

“Kau mau aku pukul dengan guling yang sedang kupeluk, eo? Kkk~”

“Silahkan. Berarti aku harus ke kamarmu, dong? Tidak apalah, yang penting—”

Mwo? CHANYEOL!! Kenapa akhir-akhir ini Chanyeol sering berpikir yang aneh-aneh? Aish!

“YA! Jangan pernah berharap begitu. Kkk~”

“Aku hanya bercanda, kok. Eh iya. jangan terlalu lama memeluk gulingmu itu. Aku cemburu.”

“Kenapa kau cemburu?”

“Karena kau memeluknya, bukan memelukku. Huhu.”

“Dasar, namja pencemburu. Kkk~ baiklah. Akan kunyanyikan lagu favoritku agar virus yang sedang berbicara denganku ini tertidur.”

Aku berdeham sebentar, lalu duduk dari tidurku. “Tapi aku nyanyikan pelan-pelan saja, ya? Kau tahu kan, ini sudah malam.”

“Baiklah, cepat nyanyikan. Hehe.”

Aku berdeham sekali lagi dan memulai menyanyi.

I’ve been awake for a while now
You’ve got me feelin’ like a child now

‘Cause every time I see your bubbly face
I get the tingles in a silly place

And it starts in my toes, and i crinkle my nose
Wherever it goes, I always know
That you make me smile, please stay for a while now
Just take your time wherever you go

The rain is falling on my window pane
But we are hiding in safer place
Under covers staying safe and warm
You give me feelings that I adore

And it starts in my toes, makes me crinkle my nose
Wherever it goes, I always know
That you make me smile, please stay for a while now
Just take your time wherever you go

What am I gonna say
When you make me feel this way
I just hmmmmm…

And they start in my toes, makes me crinkle my toes
Wherever it goes, I always know
That you make me smile, please stay for a while now
Just take your time wherever you go

I’ve been asleep for a while now
You tuck me in just like a child now
‘Cause every time you hold me in your arms
I’m comfortable enough to feel your warmth

And it starts in my soul, and i lose all control
When you kiss my nose, the feeling shows
‘Cause you make me smile baby
Just take your time now, holdin’ me tight

Wherever, wherever, wherever you go
Wherever, wherever, wherever you go

Wherever you go, I always know
‘Cause you make me smile
Even just for a while

Aku berdeham, mencoba menyadarkan yang ada di seberang sana.

Tak ada suara, apa dia sudah tertidur?

“Chanyeol, kau sudah tidur?”

Tak ada jawaban. “Yeol-ah?” ulangku.

Aku menghela napas. Seperti menidurkan anak bayi saja, hihi. “Baiklah, kututup ya? Goodnight, Park Chanyeol. Mimpi indah, ya?”

Setelah kututup, aku menghela napas lagi. Akhirnya aku bisa membuatnya tidur. Aduh, tadi suaraku bagus tidak ya? Aigoo aku gugup sekali. ><

****

“Eunji, bangunkan adikmu. Sudah hampir jam setengah 7. Bisa gawat kalo dia terlambat.” Seru appa padaku saat aku sedang sarapan di meja makan dengan satu piring nasi goreng dan segelas susu coklat.

Aku mengiyakan dan segera menaiki tangga. Tumben sekali dia belum turun ke bawah jam segini.

“Apa, Hyung?”

Aku mendengar suara Baekhyun yang sepertinya sedang berbicara dengan seseorang yang dia panggil ‘hyung’ di ponselnya. Aku mendekat ke kamarnya dan bermaksud untuk menguping pembicaraan itu di luar pintu kamar mandi Baekhyun.

“Setahuku sih, dia suka Bubbly. Aku tidak terlalu tahu nama penyanyinya siapa. Yang jelas, penyanyinya seorang yeoja. Memangnya kena…HAAAAAAAAAAAA.”

Aku menggaruk tengkukku. Sial, aku tertangkap basah. Bagaimana ini? Aish.

“NOONA! Sedang apa kau di sini?! Membuatku terkejut saja! Aish.” Teriaknya di dekat telingaku. Dan Baekhyun hanya mengenakan… emm.. handuk putih di pinggangnya. Rambut dan tubuhnya pun belum terlalu kering. Aigoo ckck.

“YA! Aku  ke sini untuk menyuruhmu ke meja makan untuk sarapan! Lagian kau tidak beranjak turun dari tadi. Kau ngapain saja sih di kamar mandi? Lama sekali mandinya. Cih.” Omelku padanya tak mau kalah.

“Eo? Haha, itu urusan seorang namja, noona. Kau tak perlu tahu. Kekeke~”

Aku mendengus kesal. Cih, apa-apaan itu?

“Kalau begitu, cepat pakai seragammu. Kau tidak malu, apa? Kau ini sudah besar, tapi tidak malu kalau kulihat kau hanya memakai handuk seperti itu?”

Dan dia hanya merespon omelanku dengan tawa polosnya. Aish.

****

 

Author POV

Empat hari telah berlalu, Eunji selalu menjenguk Chanyeol setelah pulang sekolah. Kedua insan itu selalu berbagi cerita. Kini, Chanyeol sudah keluar dari rumah sakit, dan hari ini adalah hari pertama Chanyeol pergi ke luar bersama Eunji setelah keluar dari rumah sakit. Di kafe dekat jembatan Cheonggyeochon, malam ini Chanyeol menceritakan kalau ia selalu minum obat dengan teratur, agar cepat pulih dan pulang dari rumah sakit. Sedangkan Eunji, ia mengucapkan selamat kepada Chanyeol yang sudah pulih dan keluar dari rumah sakit, dan menceritakan bahwa nilainya akhir-akhir ini selalu diatas 70.

“Diatas 70? Pasti kau hanya dapat 75, 78 kan? kkk~” Respon Chanyeol yang sedang menyeruput teh hangatnya, mengetuk-ngetukkan jari-jari tangannya di meja kecil itu sambil tersenyum nakal.

Eunji hanya mendengus dan meneguk air putihnya dengan cepat, berusaha meredakan emosinya. “Huh, kau ini. kalau aku hanya dapat nilai segitu, berarti itu tandanya kau tidak berhasil menjadi tutorku agar aku bisa meraih nilai 100. Aku benar kan?” balasnya dengan senyuman nakalnya.

Kali ini bergantian Chanyeol yang mendengus. “Oh kalau begitu kau pasti pernah dapat nilai 90, kan?”

Eunji menggeleng dengan polosnya. “Ani, eobseo. Nilai 80 saja aku tidak pernah dapat. Tutor macam apa kau ini ckck.”

“Lalu, 100?” balas Chanyeol ragu-ragu.

Eunji menggeleng lagi lalu ia akhiri dengan tertawa ketika melihat Chanyeol yang sudah kesal.

“Aniyaa, aku bercanda kok. Ckck kau ini mudah sekali aku tipu ya kkk~”

Chanyeol tidak merubah ekspresinya,  ia masih menatap Eunji dalam.

“Ya~ kau ini kenapa, eo? Masa begitu saja marah sih? Aish.” Gerutu Eunji yang sudah tidak tahan ditatap seperti itu oleh Chanyeol.

Tiba-tiba seorang pelayan meletakkan nampan yang berisi pesanan mereka berdua. “Selamat makan.”

Setelah pelayan itu pergi, Eunji mengambil mangkuk tteokbokki yang merupakan pesanan Chanyeol. “Kalau kau begitu terus, aku yang akan menghabiskan makananmu ini. Eotte, eo?”

kakak

Tidak ada yang berubah dari raut wajah Chanyeol, Eunji mulai cemas. “Ah, kalau begitu, kau mau aku suapi tidak? Cepatlah mengangguk atau bilang ‘iya’ padaku sebelum aku berubah pikiran lagi.”

Eunji mengarahkan tteokbokki yang ia sumpit ke arah mulut Chanyeol. “Buka mulutmu, aaaa.”

Chanyeol masih diam, masih menatap Eunji dalam. “Ya~ virus! Kau ini maunya apa sih? Aish.”

“Ayo kita main ‘pepero game’, setuju?”

Eunji hening sebentar, lalu ia berkata, “Hei, hari ini bukan hari pepero kan? Ckck.”

Chanyeol masih dengan tatapan dalamnya ke arah Eunji, dan menjawab Eunji dengan suara rendahnya. “Ayolah, bagaimana?”

Eunji merinding mendengar suara rendah Chanyeol yang begitu manly. Lalu ia mendesah panjang. “Aish baiklah. Kalau begitu, mana peperonya?” ujar Eunji sambil menadahkan telapak tangannya ke arah Chanyeol untuk meminta pepero darinya.

Chanyeol menggembungkan pipinya dan berpura-pura sedih. “Tapi aku tidak punya pepero. Huhu.”

Eunji seketika geli melihat Chanyeol yang ber-aegyo. “Aish kau ini. Kalau tidak ada, kenapa kau meminta padaku untuk bermain pepero game? Sudah tahu kalau pepero game itu yang diutamakan peperonya. Ckck.”

Dengan cepat Chanyol mengambil mangkuk tteokbokki miliknya dari Eunji. “Dengan tteokbokki. Aku ingin peperonya diganti dengan tteokbokki. Bagaimana?”

Eunji terkejut. “Mwo? Tteokbokki kan ukurannya pendek, bagaimana bisa?”

Chanyeol tersenyum nakal. “Justru itu tujuanku mengganti pepero dengan tteokbokki. Kkk~”

Eunji tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan Chanyeol. Ia hanya mengangguk pasrah dan berkata, “siapa yang menggigitnya lebih dulu?” Chanyeol menyuruh Eunji menggigit ujung tteokbokki yang lumayan pedas itu. Lalu Chanyeol mendekat ke wajah Eunji, tepatnya ke arah bibir Eunji yang sedang menggigit ujung tteokbokki yang ukurannya tidak sepanjang pepero, biskuit stick yang berlapis berbagai masam rasa.

“Hei!! Lihat mereka! Wah, mereka bermain pepero game, ya? Tapi, yang mereka gunakan bukan pepero, tapi tteokbokki! Woah! Romantis sekalii!!”

Eunji dan Chanyeol mendengar pekikan dari yeoja-yeoja yang berkunjung ke kafe itu. Chanyeol hanya bisa tersenyum yang membuat pekikan-pekikan para yeoja itu semakin menjadi-jadi.

Eunji kesal, lalu ia mencubit tangan Chanyeol dan seketika Chanyeol membuka mulutnya karena teriak akibat kesakitan. Sehingga hanya Eunji yang menggigit tteokbokkinya.

“Eunji! Aish.”

“Kau ini, aku jadi malu tahu dilihat banyak orang seperti ini.” desah Eunji.

“Jangan pedulikan mereka. Ayolah, permainannya belum selesai.”

Eunji menghela napas lagi, kemudian ia mengambil satu tteokbokki dan ia gigit ujungnya. Chanyeol kembali mendekati tteokbokki itu dan menggigitnya. Jarak kedua wajah mereka hanya dipisahkan oleh sebuah tteokbokki, yang panjangnya hanya se-jari telunjuk manusia. Belum lagi karena hidung mereka yang saling bertemu.

Mereka bermain gunting batu kertas, untuk menentukan siapa lagi yang akan menggigit ujungnya.

Chanyeol mengeluarkan gunting, dan Eunji mengeluarkan batu. Maka Eunji yang harus menggigit tteokbokki tersebut.

Setelah itu, Chanyeol mengeluarkan kertas, dan Eunji mengeluarkan gunting. Lagi-lagi, Eunji harus menggigit tteokbokki berbumbu pedas itu.

Dan jarak diantara kedua bibir mereka hanya tinggal satu gigitan lagi. Mereka tida bisa melihat satu sama lain lagi. Karena posisi wajah mereka sudah miring, karena hidung mereka yang menghalanginya.

Chanyeol berdeham sedikit. Dan mereka masih bisa bermain gunting batu kertas, karena tangan mereka masih bisa mereka lihat.

Chanyeol mengeluarkan gunting, dan Eunji mengeluarkan kertas. Karena satu gigitan akan menentukan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Yang kalah harus diam, dan yang menang harus menghabisi pepero tersebut.

Dada Eunji berdegup kencang. Dia menggerutu kesal dalam hatinya. “Byun  Eunji, kau akan mati sekarang.” Katanya dalam hati.

Eunji menutup matanya dan tak lama, ia merasakan kehangatan yang menjalar dari bibirnya ke seluruh tubuhnya. Ditambah lagi dengan rasa pedas di bibirnya akibat tteokbokki yang mereka makan.

Chanyeol melepas ciumannya dari bibir Eunji. Satu tteokbokki itu membuat Eunji dan Chanyeol tersenyum. Eunji membuka matanya, lalu tak lama terdengar oleh merek berdua suara yang meriah di sekeliling mereka. Mereka menelusuri pandangan mereka  dan ternyata tepukan tangan dan sorakan yang orang-orang lakukan di sekitar merekalah yang membuat suasana kafe itu meriah.

Keduanya seketika malu, muka mereka merah seketika ketika mengetahui apa yang terjadi di sekeliling mereka.

“Kalian hebat! Aku salut pada yeoja itu!!” Teriak namja yang merupakan pengunjung kafe itu.

“Namja itu romantis sekali!! Bisa-bisanya ia mengganti pepero dengan tteokbokki!! Ah, kupikir menggunakan tteokbokki itu juga bagus! Aku suka!” Teriak yeoja pengunjung kafe.

Eunji dan Chanyeol saling bertatapan, lalu tertawa dengan lepas. Mereka tertawa karena tingkah mereka yang kekanak-kanakan, sampai-sampai diperhatikan oleh banyak pengunjung.

****

Author POV

“Ceraikan aku, kumohon.”

“Tidak, aku tidak bisa melakukannya. Bagaimana dengan nasib anak kita!? Pikirkan itu!”

“Ceraikan aku! Kalau tidak, aku tidak akan pernah muncul lagi di kehidupan kalian!”

Wanita itu terbangun dengan panik di kamar tidurnya yang redup oleh cahaya. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit pucatnya. Ia mengambil segelas air putih yang terdapat di nakasnya.

Ia meletakkan gelas yang sudah kosong itu kembali ke nakas. Ia membaringkan kembali tubuhnya lalu menarik selimut tebal itu.

“Kenapa akhir-akhir ini aku selalu dihantui kejadian saat itu? Ya Tuhan, apa maksud semua ini?” Batinnya panik.

Wanita itu tidak menyadari, kalau sebenarnya ada rasa penyesalan yang mulai muncul dari hati kecilnya. Ya, hati kecil seorang Im Chaerin.

****

Di malam yang sama, namja berwajah tampan itu terbangun dari tidurnya. Ia memikirkan yeoja itu. “Kenapa kau menjauh dariku, Eunji-ah? Bukankah kau sendiri yang menyatakannya padaku, bahwa kita tetap seperti biasa? Kita tetap menjadi teman yang akrab?” desahnya sambil memijat batang hidungnya yang tinggi.

Ia beranjak dari ranjangnya, dan keluar menuju balkon apartemennya. Ya, tempat itu adalah tempat di mana namja itu selalu terdiam, hanyut oleh pikirannya.

Kris mengambil syal putihnya sebelum ke balkon. Ia kembali teringat dengan kejadian yang merupakan pertemuan pertamanya dengan yeoja yang kini mengelilingi pikirannya.

Dia menghela napas sambil tersenyum pahit. “Aku tidak meminta lebih, tetapi aku hanya ingin bisa berada disampingmu. Hanya itu, tidak lebih. Biarkan aku menyukaimu, menyayangimu walaupun hanya sebagai oppamu. Aku pasti lebih bahagia, daripada kau memperlakukanku seperti ini…”

To Be Continued

*BOWING BOWING* Annyeonghaseyo. Aku balik lagi dengan part 8-A. Maaf telah membuat kalian menunggu karena masa semi-hiatusku ini. T^TMohon maafnya ya, aku akhir akhir ini sibuk terus kena writer’s block TT^TT. Dan part 8 ini aku pisah jadi dua part. Dan part ini akan berlanjut ke part 8-B. ^^ kuharap, kalain semua suka dengan karyaku yang sudah aku buat dengan pemikiran yang semoga aja logis dan keras bgt. Hehe *plakk* Oh iya, yang pas bagian pepero game, itu aku terinspirasi dari Pepero day yang tanggalnya november lalu. Hehe aku lupa kkk. Dan pas bagian suit suitan gunting batu kertas itu aku ngasal. Itu ide aku sendiri. Habisan aku gatau cara main pepero kaya gimana di Korea sana huhu. Mian sekalii. Tapi justru itu aku bikin kalo ditentuin menang kalahnya, jadi kalo Chanyeol yang terakhir menang, dia bisa cium Eunji.. *ehh. Wkwk. Segitu dulu ajadeh curcol aku di part ini wkwk *plakk*

Oh iya yang lagi UAS, semangat yaa 😀 aku doain semoga nilainya bagus bagus semua dengan hasil kerja sendiri c;o doain aku juga ya hehe. *plak* semoga aku bisa lancar ngelaksanain UAS terus lancar-lancar aja pengerjaan Love Buttonnya 😀

FIGHTHING!!! Jangan lupa RCL ya reader-deul. Kalo banyak typo, maapin aku yaa huhu. Komennya aku tunggu looh 😀 Kritik sarannya juga tuh hehe. Mian author repotin kalian terus hikseu. TT^TT

SATU LAGI!! *plakkkkkk* Imajinasiku tentang mama+papanya Eunji (Byun Jihyun+ Byun Jinwoon), mama+papanya Chanyeol (Im Chaerin+ Park Seungyeol), terus papanya Kyungsoo (paman Do= Do Hyunjae) itu adalah….

Kalian mau tau ga? Kalo aku kasih tau ntar kecewa lagi..

Tapi, aku ngebayanginnya ini berdasarkan karakter yang aku liat dari wajah mereka loh 😀 bukan karena bias atau apa 😀 INI KARAKTER PAS MEREKA MUDA YAA huhu. Kalo udah tua kaya sekarang sih terserah kalian mau bayangin siapa, hak kalian kok kkk ^^

Kalo Byun Jinwoon (papa Eunji) aku bayanginnya adalah Kim Jongwoon alias YESUNG SJ. Itu karena suaranya sama Eunji+Baekhyun itu bagus. Baekhyun sama Eunji kan suaranya oke banget tuh kekeke. Dan aku pernah liat Yesung pura-pura marah gitu tapi dimana ya aku lupa huhu. NAH! DI SNL. Ada yang pernah liat yesung disitu memicingkan matanya sambil senyum evil?? Kkk. Pas papa Eunji marah sama mamanya Chanyeol, mata jinwoon yang sipit memandang tajam ke arah chaerin itu pas bgt kyaa>< dan matanya Baekhyun sama yesung itu.. bisa dibilang COCOK BANGET PAKE EYELINER wkwkwk *PLAAAAAKKK*

Terus kalau Byun Jihyun (mama Eunji) aku ngebayanginnya Park Sunyoung alias LUNA F(x). Sama alasannya kayak yesung. Suara Luna itu bagus banget. Dan karakter wajahnya itu pas banget dengan Byun Jihyun yang keibuan polos ramah dan imut sama kaya Eunji kk. kalo menurut aku hehe.

Kalau Im Chaerin (mama Chanyeol) aku ngebayanginnya Kwon BoAh alias BoA. Kalau menurutku sih, karakter wajahnya BoA itu elegan, terus arogan gitu. TAPI itu dari wajahnya ya. Aku gak tahu kalau dalemnya gimana 😉

Dan kalau Park Seungyeol (papa Chanyeol) aku ngebayanginnya Ahn Chilhyun alias KangTa. Aku suka banget ngeliat wajahnya yang ramah pas pressconference SMTown. Mirip bgtbgt sama siwon zhoumi menurut aku mah Kkk. Kalau karakter Seungyeol kan ramah, penyayang, sabar. Kurasa, Sengyeol cocok kalau aku deskripsiin seperti kangta ^^

Nah, buat yang penasaran sama si paman Do yang imut kaya Kyungsoo, itu adalah Shindong SJ. Entah kenapa, aku suka kalau Shindong itu iri sama Kyungsoo yang gak segemuk dia *digampar ELF* aku cuman bercanda kok >< aku udah sering banget nonton variety show SJ, nah si shindong itu gampang banget teriak. Dikit-dikir teriak, lucu deh. Makanya, karena sifat paman Do ini ceria, heboh, lucu, konyol, aku deskripsiiin dia seperti Shindong><

NAH!! Buat yang penasaran sama kakaknya si guru WuFan yang ganteng itu… itu adalah Victoria F(x). Kenapa aku bikin Victoria itu jadi kakaknya Kris? Soalnya dia pinter Korean dan orang China juga . Lagipula di Love Button, aku bikin tokoh Victoria ini bekerja sebagai duta besar China di Korea Selatan dan menikah dengan pria Korea. Aku bikin dia di Love button udah punya anak yang bernama Kim Muyeol. Berdasarkan Love Button part4, dia itu unyu lucu yang menyerupai… KIM MINSEOK alias Xiumin EXO-M! Kkk.

Mungkin segini aja dulu yang perlu aku sampein sama kalian kalau kaliannya bingung huhu T^T. Gomawo ^^ *bowing*

Mungkin ada yang ingin bertanya? Silahkan, dengan senang hati aku akan jawab kok sampe jelas. Gomawo 😀

yesung-smile-super-junior-yesung-24070182-500-623f(x)+luna 20120412_kangta_iam boa

Advertisements

92 responses to “Love Button [Part 8-A]

  1. woah..
    Akhirnya setelah skian lama g update TT_TT
    Penasaran ama lagu yg d nyanyiin eunji..
    Apa jdl ama pnyanyinya?
    Kris ngerasa eunji ngejauh pdhl mah nggak,cuma krn eunji bnyk ngabisin wkt ma yeolie..
    Romantisnya makan ttokboki kyk gt *ngiler pngen ttokbokinya

    • hihi ini aku kasih *kasihin teokbokki* *plakk* miian aku lama mulu updatenya 😦 ntar lagi part 9 aku post looh 😀

  2. Pingback: Love Button [Part 9] | FFindo·

  3. uwaaa! ayo mama chaerin dan papa seungyeol kembali rujuk! kasihan anakmu yg derp itu *digebuk chanyeol* ><

    kyaaa! bener2 romantis ya, si chanyeol. aku jg maaau! aaa~ *buka mulut* *disuapin cabe sama chanyeol* xD

    ah, wokeee! lanjuuut~!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s