FF : Please, Stop The Time [CHAPTER 8]

Title : Please, Stop The Time (CHAPTER 8)

Author : Hayamira (HayashiMirai)

Genre : Romance, Friendship, Married Life Story

Rating : PG-15

Length : Chaptered

Cast :

Jung Na Eun/Nana (Ocs)

Kris (EXO-M)

Oh Se Hun (EXO-K)

Kim Jong Hyun (SHINee)

Choi Min Ho (SHINee)

Krystal Jung (f(x))

Byun Baek Hyun (EXO-K)

Amber Liu (f(x))

Lee Jin Ki (SHINee)

Jung Na Mi as Nana’s Sister

Summarize :

Please, stop the time

I wanna be with you always

I Looked up the sky, following each and every shining star

Searching for, You

Note : Hai! Hyerin disini!!! Maaf reader-deul Hyerin belum sempat publish FF u.u . Mungkin next time yaa~~ Jadi, disni aku membawa FF temen saya hehehehe. mian juga ini dipostnya lamaa banget, authornya lagi error sih *ditampar* jadinya gini T^T Happy Read ya ~ XD

NO SILENT READERS, NO COPYCAT PLAGIATOR. APPRECIATE THE AUTHOR’S STORY PLEASE.

[PROLOG] | [CHAPTER 1] | [CHAPTER 2] | [CHAPTER 3] | [CHAPTER 4A] |  [CHAPTER 4B] | [CHAPTER 5] | [CHAPTER 6] | [CHAPTER 7]

 please stop the time 8

“Kris.”

Kris menoleh ke arah belakangnya. Terlihat Ahn Kwon Jin, seniornya. Seorang composer hebat, yang menguasai musik Jepang, Korea dan kini menuju dunia. Seniornya yang terkenal dingin dan kaku, namun hebat dan brilian dalam menulis dan menggubah lagu.

Hyung, apa kabar?” kata Kris menjabat tangan Kwon Jin, yang dibalas dengan hangat juga senyuman ramah Kwon Jin. “Selamat atas penghargaannya. Kau berkembang menjadi composer hebat,” ujar Kwon Jin menepuk pundak Kris.

Kris tersenyum mendengarnya. Pujian dari Kwon Jin itu langka, menurutnya. Kris mengangguk, tanda setuju dan terima kasih ke Kwon Jin. Tapi, pandangan mata Kwon Jin kini berubah menjadi serius.

“Kris, aku punya penawaran bagus untukmu.” Kris mendengarkan dengan seksama tawaran seniornya ini. “Kulihat kau mengalami kemajuan yang pesat sejak terakhir aku melihatmu. Kau ternyata sangat berbakat. Aku berminat mengajakmu bekerja sama  dengan XY Ent di Jepang, masa kontrak 16 bulan. Bagaimana? Kebetulan banyak bibit baru yang butuh sedikit sentuhan dingin sepertimu.”

Wajah Kris mungkin terlihat aneh sekarang. Mulutnya terbuka, tidak terlalu lebar memang, tapi terkesan menganga. Matanya menatap tak percaya Kwon Jin. Siapa yang tidak tahu XY Ent ? Entertaintment Jepang yang sangat terkenal, mendunia. Bahkan, Usher pun pernah berkolaborasi dengan XY Ent. Dan kini, Kris diajak untuk menjalin kontrak dengan CEO nya langsung, Ahn Kwon Jin. Suatu kehormatan yang besar baginya.

 “Kau setuju? Tidak perlu surat kontrak jika kau setuju saat ini juga.”

Kris berpikir keras, lalu menegakkan kepalanya menatap Kwon Jin. “Akan kupikirkan.” Kwon Jin tersenyum mengerti lalu pergi meninggalkan Kris.  “Besok jawabannya, paling lambat.”

Kesempatan yang bagus dan langka…

Bagaimana pun juga, masih ada yang lebih penting daripada kesempatan tersebut. Kehidupannya, itulah yang terpenting bagi Kris saat ini. Teringat Nana, Kris belum sepmat menelpon Amber yang sedang menjaga Nana.

Kris meraba saku celananya. Tidak ada, begitu juga dengan saku jasnya. Tidak ada. Dimana dia letakkan ponselnya?  Seingatnya, dia menaruhnya di salah satu saku pakaiannya. Sekarang, benda itu nihil. Apa saat dia ke kamar kecil, handphonenya tertinggal?

Dia berbalik arah, ke kamar kecil tadi. Namun, ada seseorang yang mencegatnya, menarik tangannya. Kris menoleh, ternyata Byun Baek Hyun. Sekarang, ditangan Baek Hyun terlihat benda yang Kris cari daritadi. “Ini, tertinggal di wastafel.”

Kris mengambilnya, lalu membungkuk, tanda ucapan terima kasih. Baek Hyun tersenyum ramah pada Kris, “Pergilah ke Rumah Sakit. Nana sudah sadar,” ujar Baek Hyun lagi. Kris mengerjapkan matanya, memandang Baek Hyun tak percaya. Nana sudah sadar?

“Coba cek ponselmu,” ujar Baek Hyun menjawab pikiran Kris. Kris segera melihat ponselnya, dan benar. 14 missed call dari Amber. Kris lalu menatap Baek Hyun yang terlihat bahagia. “Terima Kasih,” kata Kris membungkuk. Baek Hyun terkekeh pelan, namun wajahnya kembali serius. “Jangan beritahukan soal Na Mi, kau pasti sudah tahu, bukan?”

Kris mengangguk pelan. Dia mengerti apa yang Baek Hyun maksudkan. Kris langsung berlari, namun berhenti dan menoleh kearah Baek Hyun yang masih saja ditempatnya berdiri, menatap Kris. “Kau tidak ikut?”

Baek Hyun menggeleng pelan, “Ada sesuatu yang ingin kuurus selama di Seoul. Kau duluan saja, Oh iya, selamat ya atas tawaran Kwon Jin hyung padamu. Pikirkan baik-baik, kesempatan itu langka,”ujarnya lalu pergi kearah yang berlawanan dengan Kris. Kris termenung menatap sosok Baek Hyun yang semakin menjauh. Laki-laki yang tidak dapat ditebak jalan pikirannya, pikir Kris. Lalu Kris pun berlari ke arah parkiran, mengambil mobilnya dan mengemudikannya ke Rumah Sakit tempat Nana dirawat.

Selama perjalanan, hatinya berdebar, tangannya dingin dan napasnya terengah-engah. Nana sadar setelah 5 bulan terbaring koma. Hal yang ajaib, yang Kris tunggu-tunggu. Dengan ini, dia juga bisa menjelaskan segalanya. Semua yang menjadi konflik, kesalahpahaman antara mereka berdua. Semoga dewi fortuna ada dipihaknya sekarang.

Sampai. Kris langsung memarkir mobilnya, dan berlari ke ruang inap Nana. Pintunya tertutup. Entah kenapa tenaga Kris hilang saat memandangi pintunya saja. Semangatnya meluap, berevaporasi. Kris menundukkan kepalanya, menggigit bibirnya pelan.

Gugup, jelas dia merasa sangat gugup sekarang. Namun, rasa takutnya jauh lebih besar daripada rasa gugupnya. Dirinya takut, jika dia melihat Nana, Nana menolak untuk melihat dirinya. Dia takut Nana tidak akan maulagi melihat dirinya, bahkan mungkin benar-benar membuang nama Kris dari memori, otak dan hatinya. Kris menghela napas. Tangannya meraih gagang pintu yang terasa sangat dingin.

Tangan Kris membuka pintu kamar Nana. Lalu mendorongnya. Kris melihat kearah tempat tidur Nana. Disampingnya, Amber tertidur di sofa. Kris melangkahkan kakinya masuk. Kris berjalan sangat pelan, menghampiri Nana. Nana sedang tertidur pulas.

Mungkin langkah kaki sepatu Kris terlalu keras, sehingga Nana mengerjapkan matanya terbangun. Nana mengerang pelan, menatap siapa disampingnya. Matanya terbelak kaget. Dia Kris. Kris Li. Kris suaminya. Yang kini sedang menatapnya sendu, dengan tangan yang berada diatas tangan Nana.

“Kris…”

Kris tersenyum, matanya benar-benar panas sekarang. Nana sadar, mengucapkan namanya, melihatnya. Hal yang paling Kris tunggu, melihat Nana-nya seperti sekarang. Kalau bisa, Kris segera ingin memeluk dan merengkuh tubuh kurus itu ke dalam pelukannya, menghirup wangi baby cologne khas Nana. Tidak akan melepaskannya, Kris berjanji tidak akan pernah lagi melepasnya. Namun, hal itu tidak mungkin terjadi. Tubuh Nana masih sangat lemah, dan diselubungi selang, perban, juga alat-alat kedokteran.

“Iya?” Kris mengangguk, membelai wajah putih Nana. Pipinya menirus, juga lingkaran hitam dibawah matanya terlihat jelas. Napasnya terputus-putus, pelan. Suaranya lirih, namun terdengar sangat jelas bagi Kris. Sinar matanya masih Nampak seperti terakhir kali mereka bertemu. Dalam dan hangat. Ah, betapa Kris merindukan sinar mata itu. “Aku merindukanmu, Nana.” Kris mengucapkannya lirih, seakan-akan tidak ada lagi tenaganya untuk melakukan hal lain.

Sebulir air mata jatuh disudut mata Nana dan jatuh ditangan Kris. Kris melapnya, “Jangan menangis, aku ada disini.” Nana mengangguk pelan, mulutnya terbuka seperti mengatakan sesuatu. Kris mendekatkan telinganya ke bibir Nana.

“Ap….pa y…yang…. Ing…in….kau….kat…a…kan….du…lu….?”

Kenapa Nana justru menanyakan hal itu? Kris menghela napas, Nana-nya tidak lupa ternyata. “Sesuatu, aku ingin menjelaskan semuanya…”

Helaan napas kembali terdengar dari Kris. Kris memejamkan matanya, lalu menatap Nana. “Tidak sekarang. Kondisimu belum siap.” Nana menatap mata Kris, dahinya Nampak mengerut sedikit. “Ap…pa?”

Hatinya memberontak mengatakan tawaran Kwon Jin hyung, namun sebagian hati dan akalanya menyuruh Kris menyelesaikan segalanya dengan Nana. Matanya hanya terus menatap mata Nana, sesekali membelai pipinya.

“Ada…Yya…yang…kau…sem…bu…nyikan? Iy…ya ka…kan?”

Mau tak mau, Kris harus mengakui, Nana pembaca pikiran yang hebat. Kris menggigit bibirnya, apa dia harus katakan semuanya ke Nana? Apa nanti reaksinya? Bagaimana kalau dia … Ah, berbagai pikiran, pertanyaan muncul dibenak Kris. “Kata…kan…sa…ja…mung….kin… Aku…. bi…sa mem…ban…tu…” sekali lagi, Nana membaca pikiran Kris.

“Kwon Jin hyung menawarkan kontrak di XY Ent selama 16 bulan. Ini sangat berharga untukku, tapi aku tidak mau meninggalkanmu sendirian disini selama itu. Aku…tidak mau.”

“Kesem….patan… ini….ber…har…ga….buk….kan?”

“Kau lebih berharga, Nana.”

Nana memalingkan wajahnya ke langit-langit kamar.

#NANA POV#

Mataku menatap langit-langit kamar. Segalanya nampak membingungkan. Aku bisa membaca pikiran Kris dengan jelas. Hatinya menginginkan aku, namun aku tahu dan bisa melihatnya jelas kalau kesempatan yang Kwon Jin-sshi berikan sangat dia harapkan.

Bukannya kami belum menyelesaikan segalanya? Insiden, taruhan, semuanya belum jelas. Aku ingin menyelesaikannya, namun melihat kondisiku yang seperti ini rasanya sulit. Aku juga tidak mau melihat Kris yang mengubur mimpinya akan menyesal dikemudian hari. Aku tidak boleh mementingkan diriku sendiri.

Mataku terpejam sesaat. Sudah kuputuskan, aku tidak boleh egois dengan ini semua. Ada Amber, Sehun dan Onew. Aku akan biarkan Kris pergi mengejar mimpinya. Dan berusaha sekuat mungkin dalam proses penyembuhanku. Setelah aku sembuh total dan Kris sudah meraih mimpinya, barulah kami akan menyelesaikannya.

“Per…gi…lah”

Kris menatapku tak percaya. Aku menolehkan kepalaku kearahnya, menarik ujung bibirku. Tersenyum menatapnya, “pergilah,” kataku mantap.

“Tidak mau. Aku mau disisimu.”

“Kris…Pergilah…kita…sele….saikan….urusan…kita….setelah….aku….sem….buh….total….ya?” kataku memohon ke Kris. Kris menundukkan kepalanya lama, lalu mendongak menatapku. “Baiklah, kalau itu maumu.”

Kris beranjak berdiri, “Aku berangkat sekarang? Tawarannya besok terakhir… kau setuju?” Aku mengangguk pelan menatapnya. Kris perlahan tersenyum, mendekat kearahku, dan meraih tanganku dan menggenggamnya. Hangat tubuh Kris menjalar dari tangannya, nyaman rasanya. Air mataku tumpah menatapnya. Tangan Kris yang lain langsung menghapus air mataku. “Berjanjilah padaku, kau akan berusaha dalam penyembuhanmu. Dan aku akan berjuang keras disana. Kita sama-sama berjuang. Dan, setelah kau sembuh total, aku akan datang. Menyelesaikan semuanya. Selama itu, tolong…”

Kris menggantungkan kalimatnya. Sedetik kemudian, dia membungkuk. “Tolong… tunggulah aku… Kumohon… tunggulah aku…”

Aku mengangguk setuju. Senyum tersirat dibibir Kris yang bangkit dan mendekatkan wajahnya diwajahku. “Berjanji?” kata Kris menunjukkan kelingking tangannya. Aku dengan susah payah mengangkat tangan kiriku. Mengaitkan kelingking Kris dengan kelingkingku. “Iya,”jawabku singkat disambut air mata yang jatuh dipipiku.

“Salam terakhir…Biarkan aku menciummu,”kata Kris membuka masker pembantu alat pernapasanku, mendekatkan wajahnya semakin dekat. Dan menyentuhkan bibirnya dengan bibirku. Rasa hangat menjalar dari bibirnya. Aku memejamkan mata, merasakan kehangatan Kris.

Ciuman yang berlangsung singkat. Kris memasangkan kembali maskerku, dan mengecup dahiku lama.

“Sampai jumpa, Nana” ujar Kris. Kris berjalan kearah pintu, dan menutup pintu.

Semoga keputusan ini yang terbaik untukku.

Aku selalu mendoakanmu disini, Kris. Selalu…

-oOo-

#AUTHOR POV#

“Kau yakin akan meninggalkan Nana sendirian?” delik Se Hun melihat Kris yang sudah siap dengan barang bawaanya. Sebuah koper besar berisi pakaian, dan tas ransel. Kris melirik Se Hun sekilas, lalu mengangguk mantap. Matanya kini tertuju pada Se Hun.

“Aku yakin karena aku percaya padanya, padamu, pada Amber dan pada Onew.” Kris menjawab pertanyaan Se Hun tadi, lalu mendorong koper dan membawa barang bawaannya enteng berjalan. Se Hun menyusul Kris. Keduanya terdiam sambil terus melangkahkan kakinya ke ruang tunggu.

Kris berbalik arah, lalu menata Se Hun. “Aku titip istriku padamu. Kwon Jin hyung sudah menungguku… Aku mohon bantuannya,” kata Kris membungkuk. Se Hun mengerjapkan matanya, seulas senyum bahagia terpancar dari wajanya. Se Hun membungkuk, lalu menjabat tangan Kris.

“Semoga sukses, dan aku akan selalu menjaga Nana…”

Kris tersenyum penuh arti, lalu menuju boarding pass dan masuk kedalam ruang tunggu penumpang. Sampai jumpa 16 bulan lagi, Nana.

-oOo-

Wajah Onew sangat merah menahan amarah. Matanya tetap tertuju pada jendela, tidak kearah Nana yang sedang melihatnya. Dia tidak ingin melihat Nana, baginya Nana sudah melakukan kesalahan besar. Bagi dirinya.

“Sudah kubilang jangan…” Namun, ucapan Onew terputus. Amber mendelik kesal kearah Onew. Mau tidak mau, Onew harus menatap Nana. Dengan malas dia membalikkan badannya, lalu menatap Nana yang juga sedang menatapnya. “Itu keputusan bodoh. Paling bodoh, Nana.” Onew mendesah keras mengacak-acak rambutnya. Yang dihadapannya hanya tersenyum dibalik maskernya.

“Kalian akan berpisah tanpa status yang jelas, selama 16 bulan tanpa kejelasan. Kau digantung, Nana. Kau tahu? Di Gantung.” Onew menekankan setiap kata yang dia lontarkan ke Nana, namun Nana menjawabnya dengan senyum. Senyuman yang penuh arti, bahkan Amber yang melihat senyuman Nana terkekeh pelan.

“Suatu saat kau akan mengerti, Onew. Sudahlah, kau tega sekali memarahi orang sakit,” protes Amber masih tetap terkekeh, namun berpura-pura marah. Onew hanya menghela napas. “Baiklah, terserah kalian.”

-oOo-

16 Bulan kemudian

Nana memijit tengkuknya pelan. Menunggu di halte bus selama 2 jam membuatnya lelah. Dia mengambil air minum ditasnya dan menegaknya. Segar. Hanya air putih yang bisa membuat pikiran kembali segar dan jernih. Setidaknya, untuk memusatkan perhatian ke bus yang akan datang. Cukup satu kali dirinya kelewatan bus menuju flat nya, dan sekarang sudah pukul 6.30, harus bergegas kalau tidak mau kelewatan acara televisi favoritnya.

Bus yang ditunggu pun datang. Nana segera naik dan duduk dekat jendela. Memandang langit biru kehitaman malam yang enuh bintang-bintang. Musim semi telah tiba, dan Nana menikmatinya.

Tidak terasa bus sudah sampai di Halte dekat supermarket tujuannya. Lupakan soal acara televisi, kulkas di flatnya sekarang benar-benar kosong, pikirnya. Nana bergegas turun, lalu matanya menangkap tempat yang selalu ada di otaknya. Tempat yang tidak akan dia lupakan. Taman Dong Yo.

Taman Dong Yo juga dekat dari rumah Kris. Berapa kali Nana datang ke rumah Kris, hanya berdiri didepan rumahnya. Berdiri menatap pintu rumah yang tertutup rapat, lalu pergi meninggalkan rumah tersebut.

Langkah kaki Nana membawa dirinya mendekat ke taman tersebut. Keadaan taman itu masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Bahkan, kursi yang dulu Nana pernah duduki, begitupula beribu pengungjung taman ini duduki, belum berubah warnanya. Nana mendekat kearah pohon beringin besar yang ada di tengah taman tersebut.

Kakinya seakan mematung didepan pohon itu. Mata Nana memandang seluruh taman, dan matanya memanas mengingatnya. Dia merindukan moment bersama seseorang di taman ini. Seseorang yang memintanya menunggu, dan Nana tetap menunggu. Dia percaya, orang itu akan datang tepat waktu dan menepati janjinya.

Karena Nana sudah menepati janji pada orang itu. Pengobatan terapi tulangnya berjalan cepat dan perkembangan kesehatan yang drastis. Hanya 6 bulan dia berjalan memakai tongkat. Sekarang, tinggal mencabut besi penyangga di kakinya. Begitupun cedera di tangan, dan rusuknya sudah membaik. Nana menepati janjinya, dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk orang itu.

Napasnya tercekat, dadanya tiba-tiba sesak. Mengingat terakhir kali orang itu mengucapkan selamat tinggal padanya, membayangkan wajah orang itu memintanya untuk tetap menunggunya. Menunggu orang itu menjelaskan semuanya, dan membuat semuanya kembali seperti sedia kala.

Orang itu memintanya menunggu, bahkan Nana melakukannya dengan patuh. Nana memejamkan matanya. Sudah berbulan-bulan dia berusaha mengacuhkannya, melupakannya dan membuangnya dari memori dan hidup Nana. Namun, nihil. Kenangan orang itu membekas dalam. Juga rasa untuknya. Tidak akan pernah hilang.

Nana membuka matanya, kedua sudut matanya menangis. Ya, dia menangis. Dia merindukan orang itu, dia ingin berada disampingnya. Hanya dirinya, orang itu. Nana tidak sanggup jika dengan yang lain. Walaupun orang itu sudah melakukan banyak kesalahan, namun entah mengapa Nana selalu memaafkannya. Dirinya… Hanya ingin berada di sisi orang itu. Tidak lebih.

Dirinya mencintai orang itu. Orang itu, Kris Li.

Nana menoleh kearah kanan. Matanya menangkap sosok yang sangat dia kenali.  Sosok yang dia tunggu, yang memintanya menunggu.

Kris Li.

-oOo-

Kris berjalan disepanjang trotoar. Sudah 2 hari dia datang ke Seoul, kembali. Namun, dia belum menemui Nana. Orang yang Kris minta untuk menunggunya. Istrinya. Bahkan sekarang Kris merasa dia sangat bodoh, kenapa dia tidak mencatat alamat flat Nana? Ah, dia mencatatnya, namun catatan itu hilang ketika dia sampai di Seoul. Dan parahnya, Kris lupa alamatnya. Dia tidak menghapalnya, karena Kris jarang bahkan bisa dihitung jari berapa kali dia ke flat Nana. Setelah menikah, mungkin 3 atau 4 kali ke flatnya. Dan Kris susah untuk menghapalkan alamat, terutama alamat Nana panjang. Sialnya. Baru tadi, dia mendapatkan alamat flat Nana dari Amber.

“Bodohnya diriku.”

Tadinya Kris ingin ke halte bus menuju flat Nana. Siapa tahu, Nana sudah ada dirumah. Tapi, matanya memandang taman dekat supermarket. Sebuah taman yang rindang, dengan pohon besar ditengahnya. Tempat yang tidak mungkin Kris lupa.  Taman Dong Yo, taman penuh kenangan akan Nana.

Kris berjalan mendekat ke taman tersebut. Tunggu, ada sesosok wanita yang berdiri menghadap pohon besar itu. Kris semakin mempercepat langkahnya, entah hanya feelingnya saja atau dugaannya benar.. Kris menghentikan langkahnya.

Jung Na Eun. Dia, mirip dengan Jung Na Eun atau memang Jung na Eun yang dia cari?

Wanita tersebut menoleh kearah Kris. Napas Kris seakan tertahan. Wajah itu… dugaannya benar. Dia Jung Na Eun, yang sedang menatapnya juga. Dan kini menghadapkan tubuhnya sempurna kearah Kris berdiri sekarang. Kris terpaku melihat Nana yang sekarang berdiri tidak jauh didepannya. Wajah Nana terlihat kaget. Tangannya terangkat memegang dadanya, seakan tidak percaya melihat Kris. Kris mengerjapkan matanya lagi, lagi dan lagi. Benar, dia Jung Na Eun.

Dengan susah payah, Kris berjalan mendekati sosok itu. Perlahan, takutnya ini adalah mimpi. Semakin dekat, dan kini Nana berada didepannya. Berdiri dengan menatap Kris. Matanya sama seperti dulu, segalanya sama tidak ada yang berubah. Kini, mata itu berkaca-kaca.

Tangan Kris perlahan menyentuh pipi Nana. Seakan tidak percaya, tangannya gemetar.

“Ini kau…” lirih Kris menatap Nana. Nana sama sekali tidak bersuara, hanya terus menatap Kris tak percaya.

“Jung Na Eun?” kata Kris memastikan. Nana tetap memandang Kris tidak percaya. Kris merengkuh pipi Nana, dan menghadapkan wajah Nana kewajahnya sedikit lebih tinggi. “Katakan padaku, kau ini Jung Na Eun.” Nana perlahan mengangguk, seiring dengan air matanya yang meleleh. “Aku Nana,” kata Nana tercekat.

Kris langsung merengkuh badan Nana kedalam pelukannya. Dia merindukan wangi cologne bayinya, tatapannya, suaranya, senyumannya, segala tentang Nana. Kris memeluknya erat, mendekapnya seakan tidak ingin melepasnya lagi.

Nana masih terdiam dalam pelukan Kris, dan mulai terisak karena Kris memeluknya. Dirinya tidak tahu harus berbuat apa karena saking terkejutnya. Senang, sedih, juga perasaan rindu tumpah seiring dengan air mata yang terus meleleh dari sudut matanya. Nana terlalu kaget untuk semua ini.

Kris melepaskan pelukannya, lalu menatap badan Nana dari atas kepala sampai kaki. “Kau sudah sembuh?” Kris bertanya kepada Nana. Nana mengangguk, “Aku sudah penuhi janjiku. Aku sembuh.” Nana berusaha tetap terdengar tegar, walaupun dengan air mata dan suara yang tercekat.

Wajah Kris terlihat bahagia mendengar Nana sudah sembuh. Matanya berair, meembayangkan Nana dengan kerasnya berusaha untuk sembuh, untuk menepati janjinya pada Kris. Kris menarik napas dalam, “Aku akan penuhi janjiku sekarang.” Nana kini seperti diujung jurang, jantungnya berdebar napasnya semakin sesak.

“Aku menikahimu karena taruhan, iya itu memang benar. Aku juga menikahimu karena menghindari pertunanganku. Memang benar. Aku juga selalu main serong dengan wanita lain, itu memang benar.”

Kris menghembuskan napasnya pelan, “Aku sudah menyakitimu sangat jauh. Aku tahu itu. Kau yang selalu tersenyum, melayani dan memahami segalanya maksudku. Tapi kau tetap saja melakukannya, padahal mungkin sikap benciku padamu yang kau lihat sudah sangat keterlaluan.”

Tangannya meraih pipi Nana dan menghapus air matanya. “Ketahuilah, aku juga tidak tahu kenapa tapi sudah sejak awal aku bertemu denganmu di perpustakaan, waktu aku menabrakmu di koridor kampus, sejak itu aku selalu memerhatikanmu. Aku jujur, diam-diam mataku selalu mengawasi sosokmu. Aku tidak tahu kenapa, tapi hatiku selalu menyuruhku melakukannya. Begitu Jong Hyun dan Min Ho mengajakku taruhan mencari pacar, aku langsung memilihmu reflex. Kau, seorang gadis sederhana yang bahkan mungkin tidak mengenaliku. Aku memilihmu, bukan Krystal yang Jong Hyun ajukan padaku. Kau, Jung Na Eun.”

“Aku seperti mengenalmu. Dan, kita menikah. Aku selalu saja menunjukkan sikap membencimu dan menjauhimu, namun itu perlahan menyiksaku. Awalnya saja aku merasa seperti itu, tapi aku tidak bisa membohongi hatiku. Aku tidak membencimu, sama sekali tidak membencimu…”

“Sampai aku sadar, aku memang sudah menyukaimu… Sejak saat itu aku selalu menyukai dan menyayangimu. Hidup tanpamu, aku tidak tahu harus bagaimana. Tapi, kau tahu semuanya dan menjauhiku. Aku…tersiksa dengan keadaan ini. Segalanya. Semuanya.”

“Aku tetap berusaha meraihmu, namun…” Kris melangkah mundur. “Aku tahu kau tidak bodoh. Kau bisa memilih sekarang. Hanya ini yang ingin aku jelaskan. Kau bisa memilih, pergi atau tinggal. Disisiku, Nana.”

“Tapi, aku boleh berharap kan? Aku ingin kau tinggal disisiku. Aku membutuhkanmu dan ingin menjadi seseorang yang kau butuhkan juga. Saranghae.” Kris mengatakan harapannya sambil tersenyum masam. Matanya memandangi jalan dibawahnya. Sekarang, detik berlalu terasa sangat lambat baginya. Nana masih tidak bersuara.

Lama waktu yang berlalu, mereka tetap terdiam. Dan, suara Nana memecah keheningan. “Aku…membutuhkanmu,” terdengar seperti menahan tangisnya. Kris mengangkat kepalanya melihat Nana yang masih memandangnya.

“Aku membutuhkanmu. Seberapa keras aku berusaha lari, hasilnya sama saja. Aku tetap membutuhkanmu disisiku.”

Bohong, batin Kris. Apa yang Nana katakan ini bohong, hanya mimpi. Ini mimpi, berkali-kali Kris berpikir seperti itu. Kris melihat wajah Nana, dan maju satu langkah menyentuh wajahnya. Ini bukan mimpi. Ini kenyataan.

Nana menatap Kris lalu tersenyum, “Aku tetap menunggumu, bukan? Itu sudah cukup sebagai jawabanmu, kan?” Kris tersenyum senang menatap Nana yang tersenyum menatapnya. Senyum yang sangat Kris rindukan.

“Itu cukup bagiku.”

Tangan Nana mendekap mulutnya, lalu kemudian menangis terharu mendengarnya. Kris pun langsung memeluknya, membiarkan waktunya habis dengan Nana. Sisa hidupnya akan dia habiskan dengan orang yang dia peluk sekarang. Jung Na Eun.

Mereka saling menunggu, saling meyakini dan saling percaya. Dan kini, mereka saling mengetahui perasaan masing-masing. Hanya cukup mengakui dan berusaha selalu ada, itulah yang mereka harapkan. Harapan mereka menjadi kenyataan.

Kris Limempercayai, menyayangi juga mencintai Jung Na Eun dan sebaliknya, Jung Na Eun yang menyayangi mempercayai dan mencintai Kris Li. Mereka saling menatap, saling tersenyum bahagia. Senyuman mereka merekah seperti bunga di musim semi.

THE END

AKHIRNYA FFNYA SELESAI !!!Masih ada EPILOGUE nya loh, isinya ya sesuatu. makasih buat Readers yang udah mau baca, Komen dan Likenya jangan lupa 🙂 Last but not least, Parkhyerinn pamit undur diri balik ke kursi buat ff 🙂

keep wait for Nami sequel version ya 😀 bakal rilis setelah FFini selesai semuanya 😀

THANK YOU


81 responses to “FF : Please, Stop The Time [CHAPTER 8]

  1. HUOOOOO THOOOORRRRR! AKHIRNYA HAPP Y ENDUNG JUGA. MAU KASIH PUJIAN SAMA SARAN NIH.

    PERTAMA. AKU SUKA PAKE BANGET SAMA IDE CERITANYA. WHY? INI ITU SIMPEL TAPI DIKEMAS MENJADI MENARIK.

    KEDUA. PADA AWAL CERITA SI AUTHOR PENULISANNYA KURANG BAGUS DAN KURANG RAPI.

    TIGA, APA YAAA? AAAAAAAA INTINYA AKU SUKA CUMAN PENULISANNYA SEKARANG JUG UDAH BAGUS KOK HIHI. FIGHTING THOR~ DAN MAAF LANGSUNG KOMEN DISINI KKKK~

  2. KEREN KEREN~!! walaupun ada yg salah ketik yg bikin sedikit sulit buat ngartiin ^_^
    pas kris balik setelah 16 bulan aku lagi denger lagu snsd-all my love for you eh jadi nangis T_T #lebay

  3. wuaah author.!!! keren bgt critanya..! smua biasku ada di sini,greget bacanya! daebak deh thor! (y)

  4. baru kali ini, aku baca ff sampai nangis 😥 nyentuh banget deh ceritanya. DOUBLE THUMBS UP for you ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s