[Lay’s] Unwanted

A-UcEPcCAAAGgYd

Credit Poster       : @Aishita91 , unnieku yang cantik dan baik hati, posternya kece banget, jeongmal gamsahee ^^

Title            : 10th part (Lay’s) Unwanted

Author       : fransiskanoorilfirdhausi /@fhayfransiska (soo ra park)

Genre         : Romance, Angst, Friendship

Length       : Chaptered

                   1stpart [Chan Yeol’s] Girl inside the Window

                   2nd part [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

                   3rd part [Kris’] Wedding Pain

                   4th part [Xiu Min’s] Oblivious Summer

                   5th part [D.O’s] Goodbye Tiramisu

                   6th part [Kai’s] Hum on Rainy Day

                   7th part [Chen’s] A Silent Love Song

                   8th part [Su Ho’s] Secret behind Her Eyes

                   9th part [Lu Han’s] Eternal Fullmoon

Cast            :

  • Zhang Yixing a.k.a Lay
  • Anne Wu (OC)
  • Choi Soo Young
  • Wu Yi Fan a.k.a Kris
  • Kim Hyo Ra (OC)
  • Zhang Len Fan (OC)

Allo readerdeul semuanya, akhirnya yah author posting juga setelah 2 bulan vakum dari exo love series #deep bow map banget karena ngaretnya nggak tanggung-tanggung ^^v

Tapi sekarang author kambek dengan halaman yang cukup fantastis, hehe biar puas ini reader bacanya, jangan bosen yah plis. Oh iya buat yang nunggu lanjutannya luhan maap banget author gabisa cantumin di sini soalnya halamannya udah kebanyakan, jadi entar baca aja di side story yang entah kapan publishnya ^^v

Buat yang penasaran sama lanjutan kisah kris n xiumin, let’s find it here^^

This plot and OC are mine, but EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good reader please, don’t forget to give me oksigen (Read-Comment-Like)^^

________

            London.

Ia menatap lekat-lekat serangkaian nama yang terukir di atas nisan itu, sebuah nama yang begitu familiar dan selalu muncul di hari-harinya tiga tahun yang lalu sebelum ia pergi meninggalkan London. Ia mendapati tetesan bening mengalir dari matanya tanpa diminta, tak ayal ia meyakinkan dalam hati kalau semua yang baru saja dilihatnya hanyalah mimpi. Namun tentu saja itu mustahil, ia kembali merasakan sesak di dadanya begitu nama itu kembali terbaca dengan jelas oleh otaknya.

James Tylor

            January 12th 1989 – 21st September 2012

Ia mengalihkan pandangannya, tidak sanggup. Suasana pagi itu benar-benar kelabu, sejauh mata memandang hanya ada orang-orang dengan pakaian serba hitam dan mata sayu. Isak tangis juga tak hentinya terdengar di sela-sela pembacaan doa bagi almarhum James. Angin musim gugur pun turut berhembus, menerpa wajah setiap orang yang berada di prosesi pemakaman itu dan sanggup menambah kesan rapuh dan sendu.

Pandangannya masih menelusuri setiap orang yang hadir, dan ia mendapati tidak ada seorangpun yang ia kenal di sana kecuali kedua orang tua James. Sepasang paruh baya itu tampak kacau, terang saja, anak laki-laki mereka satu-satunya kini telah pergi meninggalkan mereka karena sebuah kecelakaan pesawat.

Ia mendesah, lagi. Namun sedetik kemudian kedua alisnya terangkat ketika sudut matanya menangkap sesuatu, sesuatu yang ganjil di tengah-tengah kerumunan orang itu. Dan sesuatu itu adalah … seorang yeoja?

Seorang yeoja berambut hitam legam dan berpakaian putih.

Sungguh aneh, di saat orang lain memakai pakaian serba hitam ke pemakaman, yeoja itu malah memilih memakai pakaian putih bersih, membuatnya terlihat mencolok dibandingkan yang lain.

Ia tak hentinya memandangi yeoja itu, terlebih karena rasa penasaran yang entah sejak kapan memenuhi kepalanya. Yeoja itu tidak menangis, tidak terisak, tapi terlihat sekali kalau wajahnya sangat kacau dan menyiratkan berbagai ekspresi yang sulit dijelaskan.

Dan kemudian yeoja itu mengangkat wajahnya perlahan.

Dan saat itulah pandangannya dan yeoja itu bertemu, pandangan dari sepasang mata beriris biru kelam yang membuat ia terdiam sesaat kemudian meyakinkan dalam hati kalau suatu hari nanti ia tidak akan pernah mau bertemu pandang dengan yeoja itu lagi.

________

            “Tenang saja Len Fan, aku sudah meminum obatku tentu saja. Yeah, aku tidak akan lupa, sungguh!” ujar Lay dengan nada meninggi sembari menempelkan punggungnya di kursi kereta yang tengah ia tumpangi.

Seusai mendengar celotehan yang sangat panjang dari adik perempuannya di seberang telepon, Lay kembali mendesah hebat, “Sudah aku bilang, kau tidak perlu sampai kemari, Adikku sayang. Aku akan baik-baik saja, aku sudah menghadiri pemakaman James dan akan segera pulang, aku janji!”

Sembari terus mendengarkan ocehan adiknya yang sanggup membuat telinganya semakin panas, Lay melirik ke kanan kirinya dan mendapati orang-orang di sekelilingnya tengah menatapnya dengan heran bercampur kesal. Yeah, tentu saja, ia sudah bertelepon ria—lebih tepatnya saling mengoceh dan membentak—dengan adiknya yang kini berada di Korea sejak setengah jam lalu, ditambah dengan menggunakan bahasa Mandarin yang mungkin asing di telinga orang Inggris. Tidak heran kalau sebentar lagi akan ada seseorang yang menimpukinya tanpa ampun karena merasa terganggu.

Memikirkannya saja sanggup membuat Lay meringis dan dengan cepat menyela perkataan adiknya, “Yeah, Len Fan sayang, aku akan meneleponmu lagi nanti, ok? Yeah, Bye.” ujar Lay dan langsung menutup telepon tanpa menunggu persetujuan dari seberang, tidak lupa juga ia melepas baterai ponselnya saking kesalnya.

Lay menghela napas lega, kemudian mengusap-usap telinganya yang masih terasa pengang. Ia lantas kembali membenarkan posisi duduknya, menyandarkan punggungnya yang lelah kemudian memejamkan kedua matanya. Setidaknya ia berharap bisa beristirahat sebentar karena tempat pemberhentiannya masih cukup jauh.

Namja berlesung pipi bernama Lay itu kembali membuka matanya ketika merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan, sesuatu yang mengusik dan mengganggu perasaannya. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia bisa tiba-tiba merasa begitu. Karena penasaran ia pun memandangi sekelilingnya, mencari sesuatu yang mungkin bisa menjawab pertanyaan yang kini mengambang di pikirannya.

Kedua alis Lay terangkat. Masih sama, kereta ini sungguh padat, semua kursi sudah penuh terisi sehingga ada beberapa orang yang berdiri dan… oh!

Lay terlonjak sedikit ketika sudut matanya melihat sesuatu, sesuatu yang pernah dilihatnya di pemakaman sahabatnya satu minggu yang lalu, yang entah kenapa bisa membuatnya sangat ketakutan. Bukan sesuatu, tapi seseorang, ya seorang yeoja! Seorang yeoja yang saat itu mengenakan pakaian putih dan berambut hitam legam!

Yeoja itu berdiri menyamping, kepalanya tertunduk dan pandangannya tengah fokus pada suatu hal. Lay menatap lekat-lekat yeoja itu dan mendapati dirinya terhenyak ketika tangan yeoja itu perlahan masuk ke dalam tas milik penumpang lain yang berdiri membelakangi si yeoja. Dan beberapa saat kemudian tangan yeoja itu kembali keluar dari dalam tas dengan sesuatu di tangannya, yeah, sebuah dompet kulit!

Lay menelan ludah. Oh my God, batinnya.

Suara petugas dari pengeras suara terdengar, menginformasikan bahwa kereta akan sampai di tempat pemberhentian berikutnya tidak lama lagi.

Lay baru akan beranjak untuk menghentikan aksi yeoja itu ketika semua orang di sekelilingnya mulai berdiri dan berjalan menuju pintu keluar kereta, membuat pandangan Lay tertutupi dan langkahnya terhalangi. Dan ketika semua orang telah keluar, Lay mendapati dirinya menghela napas keras karena yeoja itu telah raib, menghilang bersama kerumunan orang-orang.

Damn, kutuk Lay dalam hati.

________

“Miss Wu, tolong dengarkan ucapanku dan jawab pertanyaanku!”

Kris melipat tangannya di dada dan pandangannya tertuju pada seorang yeoja yang tengah asyik mengoleskan selai strawberry pada roti untuk sarapan mereka berdua. Si yeoja yang Kris panggil dengan sebutan ‘Miss Wu’ itu hanya diam, tidak menanggapi pertanyaan Kris.

“Sudah sejak satu minggu yang lalu aku menanyakan hal ini, dan sampai sekarang kau masih juga enggan menjawabnya.” Kris berdecak kesal, “Tolong katakan kenapa kau ada di pemakaman James satu minggu yang lalu?”

“Anne!” teriak Kris lagi karena yeoja di hadapannya tak kunjung menanggapinya.

Dan akhirnya yeoja beriris biru kelam yang ternyata bernama asli Anne itu mengangkat wajahnya perlahan, ia lalu memandang Kris dengan tatapan tajam dan menusuk. “Hei Mr. Wu, memangnya apa pedulimu? Salahkah aku seandainya aku hadir di pemakaman James? If yes, can you tell me why?

“Apakah kau mengenal James?” tanya Kris cepat.

Anne tersenyum sinis, “Of course, kalau tidak, buat apa aku datang ke upacara pemakamannya.”

“Kalau begitu, apa hubunganmu dengannya?”

Alis Anne mengernyit sempurna, ia lalu menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. “Haruskah aku memberitahukannya padamu, wahai Mr. Wu?”

Of course, I’m your brother, Dear.

I am not, I am not your real sister.” balas Anne, lagi-lagi dengan senyum sinis di wajahnya yang sanggup membuat Kris terhenyak. Yeoja berambut hitam sepunggung itu lantas beranjak dari meja makan, entah kenapa seleranya untuk sarapan menguap seketika. Ia lebih memilih berangkat ke kampus dengan perut kosong daripada harus sarapan dengan suasana yang tidak menyenangkan seperti pagi ini, apalagi dengan kakak tirinya, Kris.

Namun sebelum Anne menginjak anak tangga pertama menuju ke kamarnya di lantai dua, ia sempatkan berbalik kemudian menatap Kris, “I am James’ girlfriend, Kris.

Kedua mata Kris sontak membulat sempurna, “What!?

_______

            “Look at her! Tatapannya menakutkan sekali, pantas sekali tidak ada anak yang mau berteman dengannya, dia menakutkan!”

Yeah, dia juga punya aura yang tidak menyenangkan. As you know, ketika aku berada di sampingnya aku merasa tidak enak, itu membuatku enggan untuk dekat-dekat dengannya lagi.”

“Jauh-jauh saja darinya.”

Right, karena mungkin saja kita bisa terkena musibah kalau dekat-dekat dengannya.”

Anne menaikkan volume lagu di mp3 playernya, berupaya agar suara-suara yang serupa tidak lagi terdengar olehnya. Suara-suara penggosip di sekelilingnya yang tidak tahu malu karena dengan bodohnya membicarakan orang ketika orang itu sedang lewat di depan mereka. Atau mungkin saking jahatnya mereka memang sengaja agar Anne dapat mendengar semua ocehan mereka, memikirkannya saja sanggup membuat Anne tersenyum sinis. Terlalu menggelikan, begitu pikirnya.

Anne berjalan cepat menuju kampusnya yang sudah di depan mata, namun langkahnya tiba-tiba terhenti. Terhenti karena ia melihat sesuatu yang menarik, ah bukan menarik, tapi mengingatkannya akan sesuatu.

Yeoja itu berjalan mendekati sebuah pohon besar, pohon tempat di mana ia pernah mengucapkan sebuah ikrar bersama dengan seseorang. Bersama James.

Saat itu, tepatnya tiga tahun yang lalu adalah siang yang terik di mana setiap orang pasti akan sering-sering mengelap peluh saking panasnya. Seperti itulah yang juga terjadi pada Anne, ia tak hentinya mengelap keringat yang mengalir di pelipisnya karena berlarian menuju kampusnya. Ia tidak ingin terlambat mengingat hari itu adalah hari pertamanya di kampus.

Namun sialnya, Anne menabrak seseorang dan sanggup membuat keduanya terjatuh. Itulah kali pertama ia bertemu James, seorang namja tampan yang pertama kali menganggap bahwa Anne bukanlah yeoja menakutkan selain kedua orangtua dan kakaknya. Anne merasa nyaman, begitupun dengan James. Setelah beberapa bulan berlalu, mereka berdua pun memutuskan untuk berpacaran diam-diam.

Saat itu Anne merasa bahagia dan ia tidak butuh siapapun lagi selain James, cukup dengan James dan ia merasa akan bisa menghadapi semuanya. Menghadapi setiap tatapan ketakutan yang dipancarkan orang-orang ketika melihatnya. Hanya James seorang yang bisa membuatnya kuat.

Dan bisakah kau membayangkan seandainya kau tiba-tiba menerima sebuah undangan pernikahan kekasihmu sendiri bersama dengan yeoja lain? Tanpa penjelasan, tanpa kata maaf, tanpa kata perpisahan. Padahal sejauh itu hubungan Anne dan James masih baik-baik saja meskipun mereka memang semakin jarang berkomunikasi, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk berkhianat lalu tiba-tiba menikah dengan orang lain bukan? Bisakah kau bayangkan bagaimana terkejut dan hancurnya perasaan Anne saat itu?

Dan yeoja yang akan dinikahi James adalah sahabat dari Kris, kakak tirinya. Seorang yeoja bernama Kim Hyo Ra yang Anne yakini sebagai pujaan hati kakaknya juga. Oh, Tuhan kenapa dunia ini begitu sempit, seperti itulah yang muncul di benak Anne saat itu.

Anne hancur, ia benar-benar merasa sakit hati dan kembali menutup diri dari lingkungan sekitarnya. Tapi ia tidak bisa begitu saja menentang pernikahan James, karena selama ini ia dan namja itu hanya berpacaran diam-diam, tanpa seorang pun tahu. Selain itu, ia juga bukanlah orang jahat yang hingga ingin menghancurkan pernikahan dan kebahagiaan orang.

Namun ia benci, sejak saat itu ia jadi benci dengan segala hal yang berhubungan dengan James, ia benci namja itu, sangat benci!

Hingga dua minggu yang lalu terdengar sebuah kabar, James tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat. Saat itu, Anne bingung dengan apa yang harus ia lakukan, entah menangis atau tertawa. Namja brengsek itu telah mempermainkannya, namun namja itu jugalah yang menjadi cinta pertamanya, yang mengajarkannya indahnya cinta dan selalu menganggapnya ada, tidak seperti yang dilakukan orang lain.

Anne bukan orang jahat yang akan tertawa di atas tangisan orang-orang.

Anne juga bukan orang baik dan naif yang akan menangis meraung-raung dan berharap James akan hidup kembali kemudian kembali kepadanya.

Telah seminggu berlalu sejak pemakaman James dan Anne masih saja merasakan sakit di dadanya begitu mengingatnya. Yeoja itu memukul pelan pohon besar di hadapannya, ia melampiaskan kekesalannya di sana. Air matanya jatuh ketika terlihat sebuah ukiran, ukiran yang ia dan James buat saat mereka masih berpacaran dulu. Ukiran nama mereka berdua.

“Brengsek, dasar pria brengsek!” katanya kemudian.

_______

            “Hyo Ra sayang, ayo makan dulu selagi supnya masih hangat.”

Yeoja yang dipanggil Hyo Ra itu hanya bergeming, diam tanpa sedikitpun menanggapi ibunya yang sedari tadi memanggil dan memintanya untuk makan. Nafsu makannya tak kunjung kembali paska pemakaman suaminya, James. Ia masih belum siap, masih belum bisa menerima kenyataan yang menyakitkan tersebut. Hyo Ra masih yakin kini ia sedang berada dalam mimpi, dan ketika ia bangun nanti ia akan mendapati suaminya itu tertidur di sampingnya lalu mengecup keningnya lembut, seperti biasanya.

Hyo Ra menunduk kemudian pandangannya menelisik setiap permukaan sebuah album foto yang kini berada dalam pelukannya. Sebuah album foto yang berdebu, tampak tidak terawat dan terlupakan, namun begitu kau membukanya dan melihat satu per satu foto di sana, kau akan mendapatkan kenyataan yang mengejutkan.

“Hyo Ra-ya.”

Hyo Ra tersentak dari lamunannya, “Kris?” katanya kemudian.

Kris mendekati Hyo Ra lalu duduk di samping yeoja itu, “Ibumu bilang kau belum makan apapun sejak kemarin, setidaknya makanlah sesuap, aku tidak ingin kau sakit.”

Hyo Ra menggeleng, “Aku tidak lapar.”

Kris menghembuskan napas keras, ia merasa benar-benar menjadi sahabat yang payah. Sudah dua minggu berlalu dan ia tak juga berhasil membuat Hyo Ra kembali tersenyum, padahal ia selalu berkunjung ke rumah yeoja itu setiap hari. Menghiburnya, mengajaknya keluar, mentraktirnya, dan masih banyak lagi. Dan segala usahanya itu tak sedikitpun membuahkan hasil, Hyo Ra masih saja tidak bersemangat dan tetap memasang wajah pilu yang sanggup membuat hati Kris terkoyak.

“Kris, lihatlah ini.”

Kris mengalihkan pandangannya pada sebuah album yang disodorkan Hyo Ra, dan dalam hitungan detik matanya membulat sempurna. Kris membolak-balikkan album itu alih-alih matanya salah melihat, namun ternyata tidak, ia tidak salah.

Kini Kris melihat, banyak sekali foto James dan adiknya, Anne. Ya, tidak salah lagi, itu memang foto mereka berdua yang memenuhi album foto itu. Baik foto saat keduanya tengah berkencan, saling bergandengan tangan, saat keduanya tengah bermesraan, juga ..

Tunggu, kalau begitu apa maksudnya ini? Apakah memang benar apa yang Anne katakan padanya tadi pagi? Bahwa Anne adalah kekasih James? Tapi bukankah James adalah suami Hyo Ra? Lalu ..

“Aku menemukan album itu tadi pagi, tersembunyi di dalam lemari milik almarhum James.” Hyo Ra berkata lirih, “Lihatlah tanggal di setiap sudut foto-foto itu.”

Kris menuruti perkataan Hyo Ra, ia melihat setiap tanggal yang tertera di sudut bawah foto, alisnya mengernyit, tidak paham.

“Aku masih ingat, setiap pertemuanku dengan James, baik pertemuan pertama hingga pertemuan-pertemuan berikutnya. Semua foto yang ada di album itu diambil juga pada saat yang hampir bersamaan.” Hyo Ra menggigit bibir bawahnya keras, matanya mulai berkaca-kaca, “Itu artinya ketika James berpacaran denganku, ia juga berpacaran dengan Anne, dengan adikmu, Kris.”

Kris sontak tercekat, napasnya tiba-tiba terasa berat dan dadanya sesak. Namja itu terlalu terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar sehingga ia hanya bisa diam, lidahnya kelu. Namun sesaat kemudian kedua tangan Kris terkepal sempurna hingga buku-buku jarinya memutih, napasnya menderu dan dadanya naik turun, ia tengah berupaya mengontrol emosinya yang mulai mencuat. Kris benar-benar marah, terang saja, seorang James Tylor telah melukai dua orang yeoja yang berarti baginya, oh shit!

Bahu yeoja yang duduk di samping Kris bergetar, ia mulai menangis, nampaknya ia tidak sanggup lagi menahan air mata yang sedari tadi tertahan di pelupuk matanya. Padahal ia pikir air matanya sudah mengering sejak satu minggu yang lalu, tapi ternyata semua hanyalah sebuah gagasan palsu yang ia buat sendiri. Hyo Ra menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha meredam isak tangisnya sendiri.

Hati Kris teriris perlahan melihat Hyo Ra, yeoja yang sangat disayanginya kini tampak begitu hancur. Ia lantas menarik pelan kepala yeoja itu, menyandarkannya di dadanya. Membiarkan yeoja itu terisak di dadanya, Kris mengelus pelan rambut Hyo Ra. Bagaimanapun juga, hal yang bisa ia lakukan sekarang adalah membuat Hyo Ra nyaman dan menenangkannya.

Yeoja itu masih belum sepenuhnya pulih, ditambah dengan kenyataan menyakitkan yang baru saja yeoja itu ketahui, hal itu tentu membuatnya semakin down. Kris tidak sanggup kalau harus melihat yeoja itu semakin hancur, seandainya bisa ia ingin menggantikan posisi yeoja itu sekarang. Tapi …

“Aku… aku hamil, Kris.” Kata Hyo Ra di sela isak tangisnya, sanggup membuat napas Kris terhenti sejenak. “A..apa yang harus aku lakukan?”

Hening.

Satu lagi kenyataan yang membuat dada Kris kembali bergemuruh, Oh God, ada apa dengan hari ini? gumamnya dalam hati.

Suara isak tangis Hyo Ra masih terdengar meskipun tak lagi sekeras sebelumnya, nampaknya yeoja itu mulai tenang. Kris memejamkan matanya sejenak, menghirup udara di sekelilingnya dan mengisi penuh paru-parunya. Ia mengelus pelan bahu yeoja yang tengah bersandar padanya itu, namja itu tersenyum.

“Aku ada untukmu, Hyo. Tenanglah, aku akan selalu berada di sampingmu, aku janji.”

________

Lay menghempaskan tubuh kurusnya ke kasur. Namja berlesung pipi itu mendesah, ia menatap langit-langit kamarnya yang putih pucat dan membosankan, seperti hidupnya belakangan ini. Ia telah berada di London selama tiga minggu, tinggal di rumah pamannya dan hal yang ia lakukan setiap hari hanyalah tidur-membaca-makan-nonton tv-tidur-membaca dan seterusnya. Membosankan sekali, bukan? Tapi apa yang membuat namja itu tetap tinggal? Padahal ia ke London hanya untuk menghadiri pemakaman James, sahabatnya, dan itu sudah rampung sejak tiga minggu yang lalu.

Lalu apa? Entahlah, Lay sendiri tidak tahu. Ia hanya merasa ada yang janggal dan ia takut akan menyesal kalau pergi meninggalkan London tanpa mendapat jawaban dari kejanggalan yang ia rasakan itu.

Grattaak, grattaaak!!

Alis Lay terangkat, suara apa itu?

Gratak, grattaaakkk, grataaakk!

Terdengar lagi. Lay yang penasaran lantas bangkit dari tidurnya dan mencari sumber suara itu. Ia berjalan mendekati jendela kamarnya lalu membukanya pelan. Dan saat itu juga sepasang mata Lay membulat sempurna.

Kini lewat sudut matanya, Lay melihat seorang yeoja tampak sedang berusaha membuka paksa jendela rumah tetangga Lay. Yeoja itu memegang sebuah paku di tangannya, ia berusaha menyungkil ujung jendela agar segera terbuka—dan berkali-kali menimbulkan bunyi ‘grataak grataaakk’—namun yeoja itu tidak juga berhasil. Sesekali terdengar decakan-decakan lirih dari mulut yeoja itu.

Lay masih tercenung, namun kemudian ia tersentak karena menyadari kalau yeoja itu adalah yeoja dilihatnya di pemakaman tiga minggu lalu, serta yeoja yang mencopet di kereta, tidak salah lagi, dan …. oh!

“MALINGG!!” teriak Lay tiba-tiba, membuat aktivitas yeoja berambut hitam itu terhenti kemudian mengalihkan pandangannya pada sumber suara, Lay.

Kali ini dengan sigapnya Lay melompat dari jendela kemudian berlari menuju yeoja itu. Ia langsung meraih lengan si yeoja dan menggenggamnya erat-erat, takut kalau yeoja itu akan lari seandainya ia tidak segera menangkapnya.

Lay lantas bersorak, “Akhirnya aku bisa menangkapmu, dasar kucing pencuri!”

Hei, what are you doing!? Lepaskan tanganku!” si yeoja berusaha memberontak, namun sia-sia karena tenaga yang dimiliki Lay ternyata lebih besar.

“Lepaskan katamu? Enak saja, kau sudah mencopet di kereta dan sekarang kau mau mencuri di rumah tetanggaku, bagaimana aku bisa melepasmu!?”

Yeoja beriris biru kelam itu berhenti berontak, ia lantas menatap Lay sembari mengernyitkan dahi, “What do you mean? Mencopet di kereta?”

Lay berdecak pelan kemudian menggelengkan kepalanya, genggaman tangannya semakin erat dan membuat yeoja itu meringis, “Masih tidak mau mengaku? Sudah jelas aku melihat aksimu di kereta saat itu! Mengaku sajalah!”

Yeoja itu menggeram, ia menatap Lay tepat di matanya, tatapan yang membuat Lay membeku seketika. Takut. Oh God, kenapa ia harus bertatapan mata dengan iris biru kelam itu lagi? Kenapa mata itu mampu membuatnya takut?

“Aku tidak pernah mencopet di kereta, trust me! And..” yeoja itu menunjuk rumah tetangga Lay, “This is my house, okay?

What!?” tanya Lay bingung.

Yeoja itu memutar bola matanya, kesal karena namja yang tidak ia kenal itu menghakiminya seenaknya. “Aku lupa membawa kunci, tidak ada orang di rumah dan kakakku yang membawa kunci baru pulang nanti malam. So, aku berusaha masuk rumah lewat jendela. Is that wrong?”

Genggaman Lay melemah perlahan, namja itu menelan ludah, oh dear ternyata ia salah sangka. Alangkah malunya! Tapi wajarlah ia tidak tahu, karena Lay memang kurang bersosialisasi dengan tetangga-tetangganya selama tiga minggu berada di London. Tidak heran kalau ia tidak tahu bahwa yeoja itu adalah tetangganya.

Si yeoja berusaha melepaskan lengannya dari Lay, namun ternyata namja itu kembali memperat genggamannya. “So, just tell me. Buat apa kau mencopet di kereta saat itu?”

Alis yeoja di hadapan Lay terangkat, ia lalu tersenyum sinis setelah sempat berpikir beberapa saat, “Kau baru boleh berkomentar setelah melihat filmnya secara lengkap, wahai Tuan Sok Tahu.”

“Hah!?”

“Aku mengambil dompet dari seorang pencopet.”

“Hah!?”

“Dan aku mengembalikannya kepada pemiliknya.” Ujar si yeoja sembari melukiskan senyum angkuh di wajahnya, “Sayang sekali kau melihat scene yang salah, Tuan. Kau hanya melihat scene saat aku tengah mengambil dompet dari dalam tas seseorang, dan langsung beragumentasi seenaknya bahwa aku adalah seorang pencuri.”

Lay ternganga, tampak kehabisan kata-kata. Yak, lagi-lagi ia harus menanggung malu karena untuk kedua kalinya salah sangka pada orang yang sama. Oh damn!

Yeoja itu melepaskan tangannya kasar kemudian berjalan meninggalkan Lay.

Wait!

Yeoja itu berbalik dan menatap garang ke arah Lay, membuat namja itu bergidik. “Your name?” kata Lay, terselip nada gugup dalam suaranya.

“Anne Wu.” kata yeoja itu singkat kemudian kembali berbalik.

Melihat itu Lay buru-buru menahan yeoja bernama Anne itu, “My name is Zhang Yixing, but you can call me Lay.” ujar Lay sembari memasang sebuah senyum yang membuat kedua lesung pipinya terlukis sempurna di wajahnya.

Anne tidak menanggapi dan kembali berjalan menuju jendela rumahnya,  “I am sorry, aku tidak bermaksud menyakitimu, aku juga minta maaf karena menuduhmu seenaknya. Aku…”

Masih saja tidak ada tanggapan, Anne malah kembali berupaya mencungkil ujung jendela rumahnya. Melihat itu Lay lantas mengambil inisiatif dengan kembali menahan yeoja itu, “Stop it! Jangan buat jendelamu menderita seperti itu! Bagaimana kalau kau menunggu kakakmu di rumahku saja, yeah rumahku ada di sebelah rumahmu.”

Anne mengangkat wajahnya, ia memasang death glare-nya dan sanggup membuat jantung Lay seakan berhenti. Lagi-lagi ia ketakutan.

“Maaf, tapi aku bukan wanita gampangan yang akan dengan mudah mempercayai pria yang baru saja dikenalnya.”

Mendengar itu, Lay terdiam. Ia menepuk dahinya pelan dan mulai merasa bahwa ia adalah manusia paling bodoh yang pernah ada di dunia ini.

________

Keesokan harinya ..

Anne membalikkan tubuhnya lagi, masih mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Meskipun satu jam lagi ia ada kelas, setidaknya ia ingin mengistirahatkan dirinya sejenak saja di siang yang terik itu. Anne baru akan menutup matanya ketika suara bel rumahnya terdengar lantang.

Ting Tong! Ting Tong!

Kedua alis Anne nyaris menyatu, siapa yang bertamu siang-siang begini?

Karena malas, yeoja itu lantas menutup kedua telinganya dengan bantal, sedikit berharap kalau seseorang yang berniat bertamu itu akan segera pergi dengan sebuah kesimpulan bahwa tidak ada orang di rumah keluarga Wu.

Ting Tong! Ting Tong! Ting Tong! Ting Tong!

            Anne menggeram pelan ketika suara bel rumahnya terdengar lagi. Ia langsung menyumpal telinganya dengan headset dan menyetel lagunya sekeras mungkin.

Ting Tong! Ting Tong! Ting Tong! Ting Tong! Ting Tong! Ting Tong! Ting Tong! Ting Tong!

            Memang terdengar samar-samar di telinga Anne, tapi kalau bel itu terus terdengar berulang-ulang pasti akan terganggu juga kan?

Anne melemparkan bantalnya ke sembarang tempat, melepaskan headset di telinganya dengan kasar  lalu bangkit dari tempat tidurnya dengan muka kesal. Ia berjalan cepat ke arah pintu ruang tamu, kemudian membukanya dengan tidak sabar.

Alangkah terkejutnya ia begitu mendapati seseorang yang berdiri di hadapannya kini adalah seorang namja berwajah Asia dengan lesung pipi yang ketara sekali ketika ia tersenyum, seorang namja yang telah menghakiminya dengan seenaknya kemarin, seseorang dengan bahasa Inggrisnya yang terdengar tanpa cela dan mengaku bernama Lay!

Anne mendengus, ia beniat menutup kembali pintu rumahnya, namun Lay lebih dulu menahannya, membuat yeoja itu lagi-lagi berdecak kesal.

What do you want !?

Lay meringis, ia tak hentinya merasa heran kenapa ia bisa bergidik sendiri begitu Anne marah dan berteriak padanya. “Aku membawakan ini untukmu, anggap saja sebagai permintaan maafku soal yang kemarin.” ujar Lay lembut sembari memberikan sebuah minuman kaleng dingin pada Anne.  “Ah, dan ini juga, kebetulan aku membeli banyak snack, mungkin kau ingin satu.” tambah Lay.

“Tidak perlu.” Anne berkata sinis.

Why? Kau masih marah padaku?”

Anne memutar bola matanya, ia masih belum berhenti merasa kesal. Tidur siangnya yang berharga terpaksa ia urungkan hanya gara-gara seorang namja menyebalkan, yang kemudian dengan polosnya bertanya ‘kau masih marah padaku?’ Hah!

“Tidak perlu bertanya, just go away!” teriak Anne lagi.

“Kau harus jelaskan padaku dulu kenapa kau tidak mau memaafkan aku!” balas Lay.

“Memangnya aku punya alasan untuk memaafkanmu?”

Of course, aku sudah minta maaf sedari kemarin. Kau seharusnya memaafkan aku!”

Anne menghentakkan kakinya, baru kali ini ia bertemu dengan seorang namja pemaksa semacam Lay. “Kalau aku tidak mau memaafkanmu itu memang hakku!”

“Tapi setidaknya jelaskan padaku apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku, Miss Wu!”

“Pergi saja!”

“Tidak mau!”

“Pergi aku bilang!”

“Tidak mau aku bilang!” Lay tetap memaksa.

Anne menggeram dan tangannya mengepal keras. Entah apa yang merasukinya saat itu, mungkin karena saking kesalnya, yeoja itu langsung melemparkan minuman kaleng dingin—pemberian Lay—yang ada di tangannya tepat ke dahi Lay, cukup keras dan membuat Lay lantas terperanjat.

“Aduh!!” Lay mengaduh.

Kemudian dengan sigap, Anne langsung berbalik meninggalkan namja itu dan membanting pintu rumahnya.

Lay memegangi dahinya yang sakit dan mulai terasa perih, ia sontak terkejut begitu menyadari bahwa dahinya kini mulai berdarah. Nampaknya Anne memukulkan kaleng minuman itu padanya di bagian yang cukup tajam, membuat kulit dahinya sobek dan berdarah.

Lay lantas mendesis, “Sial, darah ini harus segera dihentikan!”

________

            BRUAAGGH!!

Anne meringis begitu tubuhnya terhempas dengan keras ke tanah. Ia lalu mengangkat wajahnya, menatap garang segerombolan yeoja yang telah mendorongnya tadi. Dan yeoja-yeoja itu bergidik ngeri, namun sesaat kemudian, dengan keberanian yang terkesan dibuat-buat segerombolan yeoja itu mendekati Anne. Kali ini ditambah dengan pandangan jijik.

Kelly, seorang yang berperan sebagai pentolan di gank itu menarik kerah baju Anne kasar. Kemudian dengan tanpa ampun ia menampar pipi Anne berkali-kali hingga membuat pipi yeoja itu memerah dan sudut bibirnya sobek. Namun Anne tidak menanggapi dan hanya diam.

“Dasar gadis menyeramkan, enyahlah saja dari kampus ini!” ujar Kelly sarkastis.

“Keberadaanmu hanya akan membuat orang di sekelilingmu ketakutan!” salah seorang dari teman Kelly menambahkan dengan nada meremehkan. Yeoja-yeoja itu lalu tertawa puas.

Dan lagi-lagi Anne hanya diam, mungkin karena ia terlalu lelah untuk menanggapi semua kecaman itu. Selain itu, ini bukan pertama kalinya ia diperlakukan demikian, dia sudah tidak lagi terkejut mendengar kelakar-kelakar yang keluar dari mulut yeoja-yeoja itu soal dirinya.

Kelly menjambak rambut Anne keras, membuat yeoja itu lagi-lagi meringis kesakitan. Tiba-tiba salah seorang dari mereka mendekati Kelly sembari membawa sebuah gunting. Melihat itu, kedua mata Anne sontak membulat. Apa yang akan mereka lakukan?

Oh, ia tentu saja tidak bisa tinggal diam kalau yeoja-yeoja sialan itu memotong rambutnya dengan paksa!

Anne mulai memberontak. Namun kali ini tiga orang teman Kelly yang lain mulai ikut campur, mereka memegangi kedua lengan Anne, begitu juga dengan kedua kakinya, membuat rontaan yeoja itu menjadi sia-sia belaka. Kelly mulai mendekatkan gunting yang ada di tangannya ke rambut Anne dengan senyum sinis terukir di wajahnya, Anne hanya menggigit bibir sembari menggeleng kuat, “Please don’t!” kata Anne memohon.

Mendengar itu Kelly lantas tertawa puas, “Finally, I can look your scared face, girl! Ahaha!

Dan kemudian dengan beringas Kelly langsung memotong rambut panjang Anne, membuatnya yang semula rapi menjadi tidak beraturan dan berantakan. Sementara Anne hanya bisa meratapi helai demi helai rambut hitamnya yang jatuh ke tanah sambil menggigit bibir, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Anne kini tengah berusaha keras menahan tangis, ia sama sekali tidak boleh menunjukkan air matanya di hadapan yeoja-yeoja jahat itu. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan mereka kalau tidak ingin perlakuan mereka padanya akan semakin parah nantinya.

“Rasakan, dasar gadis menyeramkan!”

“Enyahlah kau mulai sekarang, keberadaanmu hanya akan membuat kami tidak nyaman karena aura menyeramkanmu itu!”

“Kau juga membuat kami tidak bisa menjadi bintang di kampus ini, pasti semua karena aura sial yang ada padamu, membuat kami juga terkena imbasnya!”

“Dasar gadis pembawa sial! Go away!

“Hahaha!”

Anne hanya diam dan memandang yeoja-yeoja itu datar. Dan lagi-lagi mereka semua tertawa, tanpa sedikitpun tahu isi hati Anne yang kini tengah menjerit dan menangis.

            Bukan aku yang menginginkan ini semua,

            Aku tidak pernah berpikir untuk membuat mereka semua takut,

            Aku tidak pernah ingin membuat orang lain merasa tidak nyaman berada di sampingku,

            Oh Tuhan..

            Tolong beritahu aku, kenapa semua ini harus terjadi padaku?

            Kenapa aku tidak pernah diinginkan?

__________

            Ia kini tampak seperti mayat hidup yang berjalan dengan susah payah, pandangannya sayu dan wajahnya datar namun menyiratkan berbagai macam kesedihan yang pekat dan dalam. Kepalanya menunduk, menatap jalanan ramai kota London yang kini berada  jauh di bawah jembatan tempatnya berada.

Dan ia mulai berpikir, bagaimana seandainya kalau ia menjatuhkan tubuhnya ke sana? Dari jembatan yang tengah ia pijaki sekarang, ia hanya tinggal menjatuhkan dirinya, lalu kemungkinan tubuhnya akan berbenturan keras dengan aspal jalan, atau mungkin saja jatuh lalu langsung dilindas oleh mobil-mobil yang tengah disetir ugal-ugalan itu.

Tubuhnya akan hancur, dan ia pasti akan sangat kesakitan, ia tahu itu. Tapi entah kenapa kali ini ia lebih memilih yang satu itu, ia lebih memilih sakit di raganya, daripada sakit batin yang tengah ia rasakan sekarang. Ia merasa sudah gila karena sakit batinnya itu.

Lagipula kalau ia mati, tidak akan ada seorangpun yang akan bersedih bukan? Teman? Ia tidak punya. Kekasih? Tidak ada. Keluarga? Ia hanyalah anak angkat, mungkin keluarganya tidak akan terlalu bersedih.

Tidak diinginkan.

Kehadiranku tidak pernah diinginkan.

Tuhan, dosa besar apa yang telah aku perbuat hingga Kau memberikanku sakit yang begini sangat?

Yeoja itu mulai menempelkan tubuhnya di pagar jembatan yang hanya sebatas pinggangnya, dan perlahan mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia memejamkan kedua matanya, ia hanya perlu membiarkan tubuhnya jatuh. Ya, ia hanya perlu melakukan itu.

Namun sesaat kemudian ia kembali menarik tubuhnya menjauhi pagar jembatan. Oh, ada apa dengannya?

Ia menggigit bibir, ia bertekad tidak boleh ragu. Dan kali ini dengan cepat ia kembali mencondongkan tubuhnya. Ia hanya perlu satu dorongan, satu dorongan saja dan ia akan jatuh. Ia akan mati.

Tiba-tiba seseorang mencengkeram lengannya, menariknya kasar menjauhi pagar jembatan dan membuatnya sedikit limbung. Yeoja itu menoleh cepat kemudian terbelalak mendapati seorang namja kini tengah menatapnya dengan alis berkerut tidak suka. Ketika kesadarannya telah sepenuhnya kembali, yeoja itu baru menyadari bahwa namja itu adalah Lay.

Oh, ayolah kenapa ia harus bertemu dengan namja itu di saat seperti ini ? Dan oh, apa yang terjadi dengan Lay, kenapa kepalanya diperban seperti itu?

“Apa yang akan kau lakukan baru saja hei gadis bodoh? Kau mau bunuh diri!?” kata namja itu sarkastis.

Anne, nama yeoja itu, hanya balas mengernyit tidak suka. Ia menarik lengannya kasar dari cengkeraman Lay. Pertanyaan yang semula memenuhi kepalanya kini menguap seketika.

“Hei jawab aku!”

Namun Anne tetap tidak menggubrisnya, ia kembali mendekatkan tubuhnya di pagar jembatan kemudian memandangi jalanan di bawahnya. Dan kali ini Lay kembali menarik tubuhnya kasar, “Hei, apa yang ingin kau lakukan, Ann?!”

Lay menatap Anne lekat-lekat, dari ujung kaki hingga ujung kepala, ia sedikit terkejut dengan rambut Anne yang kini pendek dan terkesan tidak rapi. “Ada apa denganmu? Rambutmu?”

Setetes air mata tiba-tiba jatuh dari sudut mata Anne begitu melihat kalau namja bernama Lay itu tengah menatapnya khawatir. Oh dear, haruskah ia memperlihatkan titik terlemahnya pada namja yang baru dikenalnya itu? Biasanya ia paling pantang menangis di hadapan orang lain. Namun sungguh dan Anne berani bersumpah, kali ini air mata itu turun dengan sendirinya, dan ia tidak bisa menahannya.

Anne mengigit bibirnya, cukup keras hingga sanggup membuat isak tangisnya tak terdengar jelas. Oh, ayolah! Berhentilah menangis, miss Wu! Batin Anne dalam hati.

“Naiklah ke punggungku!” kata Lay tiba-tiba sembari berjongkok di hadapan Anne, sementara Anne hanya melihat Lay dengan tatapan heran. “Ibuku pernah mengajarkan padaku, kalau aku melihat wanita menangis, aku harus menggendongnya di punggungku lalu mengajaknya berjalan-jalan mengelilingi kota sampai ia berhenti menangis. Itu adalah tradisi keluargaku.”

Karena Anne sama sekali tidak merespon, Lay kembali berujar, “Lagipula kakimu terluka bukan? Akan sulit bagimu untuk berjalan, jadi biarkan aku menggendongmu.”

“Aku bisa naik taksi, kau tidak perlu repot-repot.” kata Anne dengan cepat. Apa-apaan namja ini? Bukankah ia juga sedang sakit? Lihatlah kepalanya yang diperban itu! Dasar namja aneh, runtuk Anne dalam hati.

“Tidak bisa, tradisi keluargaku harus tetap dijalankan!” kata Lay setengah memaksa.

Anne menggigit bibirnya lagi, ia lalu melirik ke arah lututnya yang terluka dan perih. Terluka karena Kelly cs tadi mendorongnya hingga ia terjerembab di tanah. Namja itu benar, mungkin ia tidak akan bisa berjalan dengan nyaman kalau kakinya terluka seperti itu.

Yeoja itu lalu menatap punggung Lay yang kini terpampang di hadapannya, kenapa namja itu bisa menyadari luka yang ada di lututnya dengan begitu cepat ? Dan lagi, kenapa namja itu bisa datang tanpa diduga? Kenapa namja itu bersikeras menggendongnya? Anne tidak mengerti.

“Cepatlah!”

Anne memejamkan matanya, ia menyerah, enggan berdebat lebih lama dengan Lay dan kemudian dengan pelan bercampur rasa canggung ia melingkarkan lengannya di leher Lay. Ia membiarkan tubuhnya yang kini rapuh digendong oleh namja itu, Anne menempelkan kepalanya yang terasa berat di bahu Lay. Dan lagi-lagi setetes air mata jatuh di pipinya.

Ya, kali ini saja biarlah seperti itu, biarkan ia sedikit menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya di depan orang lain. Untuk kali ini saja.

________

Ternyata Lay tidak bohong, namja itu benar-benar mengajak Anne berjalan-jalan mengelilingi kota London, dan tentu saja dengan menggendongnya! Beberapa kali Anne meminta untuk turun, tetapi namja itu tak kunjung mengabulkannya. Membuat Anne hanya bisa menyembunyikan wajahnya begitu orang-orang di sekeliling mereka memandang mereka dengan tatapan aneh dan heran, ia malu.

“Memangnya kau tidak merasa lelah? Cepat turunkan aku!” pinta Anne untuk kesekian kalinya.

“Lelah? Itu pasti. Tapi berhubung kau tidak terlalu berat dan aku menikmati perjalanan ini, jadinya aku santai saja. Tidak terlalu lelah.”

Anne hanya bisa tercengang mendengar jawaban Lay. “Don’t you enjoy it?” tanya Lay kemudian.

Anne mengangkat kepalanya kemudian mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ia melebarkan matanya begitu mendapati bahwa kini mereka berdua tengah berada di sebuah tempat yang asri, teduh dan nyaman. Tempat yang Anne kenal dengan sebutan Hampstead Heath, sebuah taman yang sangat luas dan memiliki pepohonan yang rimbun serta padang rumput yang luas.

“Hei, kenapa tidak menjawabku?!” gerutu Lay.

Kekaguman Anne sontak terhenti mendengar gerutuan Lay, yeoja itu tersenyum singkat, “Sorry. Aku terlalu terbawa suasana, Hampstead Heath is one of my favourite place in London.”

“Kalau begitu …. aku berhasil?”

“Huh?”

“Aku berhasil membuatmu tidak lagi menangis, bukan? I bring you to the right place, right?”

Pertanyaan Lay yang lebih terdengar sebagai sebuah pernyataan dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi itu mampu membuat Anne mendengus pelan, “Uhm.. sedikit.” kata yeoja itu sembari berusaha keras menyembunyikan nada senang dalam ucapannya.

Lay hanya tersenyum sendiri mendengar jawaban singkat sekaligus penuh keraguan dari Anne. Namun di dalam hati, Lay sungguh yakin kalau yeoja itu hanya berpura-pura ragu, terlalu gengsi untuk mengakuinya, aissh!

Di Hampstead Heath, tepatnya di dekat sebuah pohon ek yang sangat besar terdapat sebuah bangku taman bercat putih yang sedikit berkarat, namun nampaknya masih nyaman untuk diduduki. Lay tersenyum, dengan langkah lebar ia mendekati bangku di bawah pohon ek itu. Ia menurunkan Anne dari punggungnya dan mendudukkan yeoja itu di sana. Begitupun dengan dirinya yang turut duduk di samping Anne, meregangkan otot-ototnya sekaligus melepas lelah.

“Apa yang terjadi dengan kepalamu?” tanya Anne tiba-tiba.

Lay mengangkat alis, oh, oh apa Anne mulai peduli padanya? Dan haruskah ia mengatakan dengan gamblang kalau penyebab ia diperban seperti ini adalah karena Anne? Yeoja yang telah melemparkan sebuah minuman kaleng tepat di dahinya dan membuatnya berdarah kemarin lusa?

Lay menggeleng pelan, tidak, tentu saja tidak. “Kemarin aku terjatuh.” katanya singkat sembari mencuri pandang ke arah Anne. Agar Anne tidak menanyakan lebih jauh perihal lukanya, ia langsung mengalihkan topik pembicaraan, “Kalau kau? Ada apa denganmu? Apa yang akan kau lakukan tadi?”

Udara di sekeliling Anne langsung terasa berat dan susah dihirup, oh kenapa namja itu harus mengingatkannya lagi akan hal itu? Padahal baru saja ia melupakannya dan ia sangat bersyukur karenanya. Anne enggan menjawab, ia hanya menunduk dan diam.

Melihat ketidaknyaman yang ditunjukkan dari gelagat Anne, Lay langsung berinisiatif mengalihkan topik. Mungkin yeoja itu sedang tidak ingin bercerita sekarang, pikirnya.

“Tempat ini adalah tempat yang paling sering aku kunjungi dulu sewaktu aku masih tinggal di London, sewaktu aku masih SMU.” gumam Lay sembari menelusuri setiap inci Hampstead Heath yang menurutnya terlalu banyak perubahan dibandingkan dengan terakhir kali ia datang ke sana.

“Itukah alasan kenapa bahasa Inggrismu bagus sekali?”

“Ya. Biasanya aku kemari bersama seorang sahabatku, entah saat kami tengah membolos bersama, ataupun saat patah hati.”

Kenangan tentang James langsung mengalir deras dalam pikiran Lay. Dahulu ia dan James memang sering sekali ke tempat itu, Hampstead Heath. Taman kota yang berjarak tidak terlalu jauh dari SMU tempat mereka belajar. Keduanya memang sangat dekat dan sering menghabiskan waktu bersama di tempat itu. Namun setelah lulus, Lay memutuskan untuk berkuliah di China, kampung halamannya, membuat kontaknya dengan James terputus begitu saja.

Bahkan tentang James yang telah menikah Lay sendiri tidak tahu karena James sama sekali tidak mengabarinya. Ia baru tahu kalau James ternyata telah menikah dan hal itu ia dapat sehari sebelum pemakaman James berlangsung. Dan…

Oh God, benar, James sudah tiada.

Begitu mengingatnya lagi Lay merasakan dadanya sesak, ia benar-benar merindukan sahabatnya itu. Lay ingin menemuinya, sangat ingin, tapi sayangnya ia tidak pernah sempat. Dan Tuhan ternyata tidak memberikan kesempatan bagi keduanya untuk bersua kembali.

“Hei, kenapa malah melamun!?”

Lay tersentak dan kembali dari lamunannya, ia menoleh lagi ke arah Anne. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Bukankah Anne juga hadir di pemakaman James? Itu artinya yeoja itu ada hubungannya dengan James, bukan?

Sesungguhnya Lay sangat ingin bertanya, namun ia lebih memilih untuk mengurungkan niatnya. Lagipula sepertinya Anne tidak ingat kalau ia pernah bertemu Lay sewaktu pemakaman James, buktinya yeoja itu sama sekali tidak bertanya apa-apa. Dan ia juga tidak ingin kalau suasana yang kini mulai nyaman itu berubah suram karena membicarakan soal seseorang yang sudah tiada.

“Kau tahu? Di pohon ek ini aku menyimpan banyak kenangan.”

Anne mengalihkan perhatiannya, kali ini pandangannya fokus ke arah Lay. Sepertinya ia tertarik dengan apa yang akan Lay ceritakan.

“Pohon ek ini adalah tempat di mana aku dan sahabatku biasa berlatih.”

Kedua alis Anne mengernyit, berlatih?

Lay mengangguk pelan seakan bisa membaca pikiran Anne, “Ya, berlatih untuk melamar.”

Hah? Apa maksudnya? Batin Anne lagi.

Seakan melihat tanda tanya besar yang terlukis di raut wajah Anne, Lay lantas melanjutkan, “Di pohon ek ini, kami biasa berlatih melamar. Kadang aku yang jadi gadisnya dan temanku itu yang akan berlatih melamarku, terkadang juga sebaliknya. Yeah, agar suatu hari nanti kami tidak akan merasa gugup begitu kami menemukan gadis yang tepat dan ingin melamarnya. Kami percaya bahwa pohon ini punya kekuatan romantis di dalamnya.”

Kedua mata Anne melebar, dan sedetik kemudian ia tidak bisa menahan tawanya, “Kalian sungguh konyol! Pendapat dari mana itu? Dan kau… jadi wanitanya?” Anne semakin terbahak begitu ia membayangkan bagaimana Lay menjadi seorang ‘wanita’.

Lay tercenung. Tunggu dulu, seorang Anne Wu tertawa? Tertawa, halo!? Oh ini benar-benar satu dari sekian kejadian langka yang pernah terjadi di hidup Lay.

Namja itu lantas berpura-pura memasang wajah tidak suka mendengar tawa Anne, “Kau ini! Jangan pikir kami gay, kami masih normal! Dan kau itu wanita, memangnya tidak suka hal yang romantis dan sedikit magis seperti itu?”

Anne menggeleng cepat, masih dengan tawanya.

Lay berdecak pelan. Tiba-tiba namja itu beranjak dari tempatnya duduk dan berlutut di hadapan Anne, membuat yeoja itu sontak berhenti tertawa dan memandang Lay heran. Oh ada apa ini?

“Kalau memang begitu, aku akan membuatmu percaya.”

Lay mengangkat wajahnya, kali ini ia mencoba menatap lekat-lekat sepasang iris biru kelam milik Anne yang selalu sanggup membuatnya bergidik ngeri. Ia telah bertekad dalam hati sejak hari kemarin, ia tidak boleh lagi merasa takut, ia harus menghadapinya.

Dan ketika iris biru kelam itu turut memandangnya dalam diam, Lay kembali merasa takut. Sepasang mata itu seperti berusaha menariknya, menenggelamkannya dalam kegelapan tanpa ujung. Sungguh aneh, kenapa perasaan seperti itu bisa muncul?

Namja itu menelan ludah dan memejamkan matanya, ia harus bisa. Harus bisa. Dan rasa penasarannya akan yeoja itu akan terbayarkan, rasa penasaran yang membuatnya tinggal lebih lama di London. Ia pasti bisa menguak semua rahasia di balik rasa takutnya akan tatapan yeoja itu. Dan ia rasa, satu-satunya cara adalah dengan menghadapinya. Seperti yang akan ia lakukan kini.

Sebelah tangan Lay terangkat, namja itu membuka matanya lebar-lebar. Kembali menatap lekat-lekat sepasang mata kelam itu. Dan kemudian ia mengucapkannya.

Would you be mine, my girl?

Seperti mantra sihir, karena detik itu juga semuanya berubah, hilang. Rasa takut itu hilang perlahan-lahan, kemudian menguap hingga tidak bersisa sama sekali. Aneh, apakah enam buah kata yang baru saja Lay lontarkan itulah yang menyihirnya dan membuatnya tidak lagi merasa takut?

Kini pun entah kenapa Lay tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Anne, pemilik iris biru kelam itu. Mata itu kini begitu menghipnotis, mengunci dirinya untuk tidak lagi berpaling. Kemanakah kesan gelap yang terasa sebelumnya? Kenapa bisa hilang tanpa bekas seperti itu?

Anne hanya diam dan menatap Lay lekat-lekat. Ia tahu kalau Lay hanya main-main, hanya latihan, seperti katanya sebelumnya. Namun tetap saja ia merasa gugup. Tidak bisa dipungkiri kalau rasa itulah yang kini mendominasi hatinya. Jantungnya berdegup tak karuan begitu melihat Lay yang tampak serius, oh ayolah bukannya ini hanya permainan, kenapa ia harus segugup itu!

Namun sesaat kemudian, seperti terhipnotis oleh tatapan Lay, sebelah tangan Anne terangkat. Dengan sedikit gemetar, yeoja itu meletakkan tangannya tepat di atas telapak tangan Lay yang kini tersodor ke arahnya, kemudian mengucapkan sebuah kata dengan sangat lirih.

Yes.

________

Lay meraba perban di atas kepalanya yang terluka, sudah lima hari berlalu dan luka itu belum juga kering. Namja itu lantas meraih sekotak obat dari atas laci mejanya, membukanya kemudian meminum dua dari puluhan pil yang ada di sana. Lay memejamkan kedua matanya ketika merasakan kepalanya pening. Dengan segera ia menghempaskan tubuh kurusnya ke kasur, ia memijit-mijit pelipisnya, berusaha mengurangi rasa sakit di kepalanya.

Ting Tong!

Suara bel rumah Lay terdengar, membuat namja itu berupaya membuat tubuhnya bangkit dengan susah payah. Ia berdecak pelan, siapa yang bertamu siang-siang begini?

Namja itu berjalan menuju pintu depan dengan sedikit limbung, masih berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Ia membuka pintu itu perlahan dan kedua matanya sontak membulat begitu melihat seseorang yang kini berdiri tepat di depannya. Seseorang yang tidak pernah ia duga.

“Anne!?” kata Lay masih dengan tatapan tak percaya.

Anne, yeoja yang kini berambut pendek sebahu itu tersenyum kecut. “Ehm… aku lupa membawa kunci rumah, dan kakakku baru pulang nanti malam, jadi …”

“Kau mau menunggunya di rumahku?” tembak Lay cepat.

Anne menelan ludah begitu maksudnya dapat langsung ditebak oleh Lay. Ia sendiri tidak habis pikir kenapa langsung memutuskan untuk pergi ke rumah Lay. Bukankah sebelumnya ia sendiri yang mengatakan bahwa ia tidak ingin dicap sebagai wanita gampangan?

“Ah.. ehm.. kalau kau keberatan ya tidak apa-apa. Aku akan menunggu di depan rumah. Maaf aku mengganggu.”

Lay meraih lengan Anne, menahan yeoja yang semula berniat pergi itu. “Aku kan belum bilang apa-apa.”

Anne melirik tangan Lay yang menahan lengannya, tiba-tiba wajahnya bersemu merah. Hei hei, ada apa dengannya?

“Kau sudah makan siang?”

Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Lay, Anne hanya menggeleng. “Kalau begitu, bagaimana kalau makan siang bersama?”

“Eh!?” gumam Anne spontan.

How about having lunch together? Yeah, with me.” ulang Lay dengan penekanan di setiap katanya.

Kedua bola mata Anne membulat, “Eehh!?”

__________

            Suasana café dengan interior klasik itu sungguh ramai, hampir semua kursi terisi penuh dan pelayan-pelayan tengah sibuk berlalu lalang mengantarkan ataupun menanyakan pesanan. Tampak di sudut café itu, dua orang—yang tampak benar-benar seperti sepasang kekasih—duduk saling berhadapan dengan canggungnya.

Si namja hanya sibuk mengutak-atik ponselnya, bingung dengan apa yang harus ia katakan untuk memulai topik. Sementara si yeoja hanya memainkan sendoknya dan berulang kali mengaduk-aduk strawberry float-nya. Entah apa yang membuat kedua orang ini begitu canggung, padahal sebelumnya mereka tidak pernah hanya diam-diaman seperti itu. Apa mungkin karena kejadian ‘main-main’ di Hampstead Heath lima hari lalu?

“Ehm… ngomong-ngomong sejak kapan kau berada di London? Selama ini aku selalu mendapati rumah yang kau tempati sekarang itu kosong. Dan jujur aku benar-benar terkejut ketika kau tiba-tiba muncul dari jendela rumah itu dan berteriak ‘maling’ padaku.” kata Anne, si yeoja, berusaha memecah keheningan di antara keduanya.

Kedua alis si namja yang bernama Lay itu terangkat, sesaat kemudian ia tertawa geli begitu mengingat pertemuan pertama mereka kala itu. Pertemuan yang benar-benar konyol. “Sebenarnya aku pergi ke London untuk menghadiri pemakaman sahabatku. Namun aku memutuskan untuk tinggal di sini selama beberapa waktu untuk melepas rindu akan kota ini. Rumah yang aku tempati sekarang adalah rumah pamanku yang memang tidak ditempati lagi oleh beliau.”

Mendengar itu, Anne hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jadi, kau tidak berkuliah di sini?”

Lay menggeleng, “Aku menghabiskan masa kecilku hingga SMP di Korea, setelah SMU aku pindah ke London, dan aku memutuskan untuk berkuliah di China, kampung halamanku sendiri.”

“Jadi, kau menguasai ketiga bahasa negara itu?” tanya Anne penuh perhatian. Hal itu sanggup membuat Lay sedikit heran, sejak kapan yeoja cuek itu jadi begini perhatian terhadapnya?

“Bisa dibilang begitu.” kata Lay malu-malu.

Seorang pelayan berjalan menuju ke arah Lay dan Anne sembari membawa pesanan keduanya. Asap mengepul dari steak yang dipesan Lay, menimbulkan aroma sedap dan spontan membuat perut namja itu langsung berteriak kegirangan, minta segera diisi. Sementara Anne, yeoja itu hanya memesan semangkuk sup, namun aromanya juga tidak kalah menggoda dengan aroma dari steak Lay. Makanan di café itu memang terkenal sedap meskipun letaknya berada jauh dari jantung kota.

“Aku mau ke toilet. Kau makan saja duluan.” ujar Anne sembari beranjak dari tempat duduknya, Lay hanya menanggapinya dengan sekali anggukan.

Steak di hadapan Lay benar-benar menggoda untuk segera dinikmati, namja itu lantas segera menusukkan garpunya dan memotong-motong daging steak itu kecil-kecil. Ia baru akan memasukkan potongan steak itu ke mulutnya ketika telinganya mendengar derap langkah sepatu yang beradu dengan lantai.

Lay mengangkat wajahnya dan mendapati seorang yeoja berpostur tinggi dan berparas anggun berjalan mendekatinya, membuatnya sontak terdiam dan terpana. Kedua bola matanya membulat dan jantungnya seakan berhenti berdegup, garpu di tangan Lay pun jatuh saking terkejutnya.

“Soo.. Soo Young .. ?”

_________

            “Apa yang ingin kau bicarakan, Soo Young-ah? Apakah sebegitu pentingnya sampai aku harus meninggalkan makananku dan mengikutimu?”

Soo Young menatap Lay penuh selidik. Sementara yang ditatap hanya bisa berusaha keras menahan perasaan rindu yang berkecamuk di dadanya. Kalau saja perasaan itu tidak bisa di tahan, ia pasti sudah menghambur dan memeluk yeoja itu erat-erat. Ya, jelas saja,  mereka sudah lama sekali tidak bertemu sejak yeoja itu pergi meninggalkan Korea dua belas tahun lalu. Namun dari tatapannya, sepertinya Soo Young sedang tidak ingin melepas rindu ataupun melakukan tradisi peluk-dipeluk.

“Yi Xing, tolong katakan padaku sejujurnya.”

Alis Lay mengernyit, Soo Young memang lebih suka memanggil Lay dengan nama aslinya.  “Katakan apa?”

Soo Young mendesah, “Aku bertemu Min Seok.”

Napas Lay berhenti sesaat begitu nama itu keluar dari mulut Soo Young, ia mulai menerka-nerka apa yang akan yeoja itu katakan setelah ini. Jangan bilang …

“Dia melupakan semuanya. Dia tidak ingat padaku, mungkin dia juga tidak ingat padamu. Dan kalau begitu kesimpulannya, ia sama sekali tidak ingat soal persahabatan yang kita jalin dua belas tahun lalu.”

Lay tersentak. Ternyata benar, cetusnya dalam hati.

Ia lantas kembali mengingat memori dua belas tahun lalu, saat di mana mereka—ia, Soo Young dan Min Seok—masih berumur sepuluh tahun. Ketiganya selalu bermain bersama, ke manapun juga bersama, mereka bersahabat.

Ya, bersahabat, setidaknya sampai insiden itu terjadi.

.

.

            “Maafkan kami Ahjussi, kami tidak tahu jika Yi Xing akan terluka sampai seperti itu.” ujar seorang namja kecil dengan pipi tembam bernama Min Seok. Sembari meminta maaf, ia menggenggam erat tangan yeoja kecil yang tengah menangis di sampingnya, Soo Young.

            “Kami benar-benar.. hiks.. tidak tahu kalau.. hiks…” kata Soo Young sembari tak hentinya menangis.

            Seorang pria dewasa yang berdiri tepat di depan Min Seok dan Soo Young itu hanya memandang keduanya tidak suka, pria itu lantas menggeleng, “Aku tidak mau tahu. Pokoknya mulai saat ini aku tidak akan membiarkan Yi Xing bermain-main dengan kalian lagi.” Si pria dewasa yang merupakan ayah dari Yi Xing itu menghela napas sesaat, “Bukankah kalian semua sudah diberitahu, bermain-main di dekat pabrik itu berbahaya. Dan kalian melanggarnya, akibatnya Yi Xing terjatuh dan jadi terluka hingga seperti itu!”

            Min Seok dan Soo Young hanya menunduk, terlalu takut untuk menyela ataupun sekedar membela diri. “Yi Xing menderita Hemofilia, sekalinya dia terluka, dia tidak akan sembuh dengan cepat. Lukanya tidak akan cepat mengering.”

            Mengetahui kenyataan itu, semakin membuat Min Seok dan Soo Young merasa bersalah. Keduanya menahan tangis sembari menggenggam tangan satu sama lain.

            Sementara itu, Yi Xing kecil yang telah mendengar sekaligus melihat semuanya lewat jendela kamarnya hanya bisa menangis. Haruskah persahabatan mereka berhenti sampai di situ saja?

.

.

            “Mwo? Soo Young pindah ke London?”

            “Nee, Eomma dengar dia telah berangkat ke London dua hari yang lalu.”

            Yi Xing, namja kecil itu hanya bisa menggigit bibir. Yeoja yang sangat disayanginya itu pergi tanpa bilang apapun padanya. Apakah yeoja itu begitu mudah lupa padanya, begitu mudah melupakan persahabatan yang sempat mereka jalin?

            Telah dua bulan berlalu sejak insiden itu terjadi, sebuah insiden yang membuatnya harus berdiam di rumah selama beberapa minggu karena luka di kepalanya yang tak kunjung sembuh. Selama dua bulan itu juga ia tidak lagi bermain-main dengan Min Seok dan Soo Young, kedua sahabatnya itu. Semua karena ayah Yi Xing yang melarangnya, dan ia terlalu takut untuk melawannya.

Dan kini Yi Xing harus menerima sebuah kabar kalau Soo Young telah pindah ke London. Sempurna! Ke mana perginya Min Seok? Kenapa namja itu sama sekali tidak mengabarinya? Apakah sebegitu dilupakannya ia? Hah!

Yi Xing harus segera bertemu dengan Min Seok, bagaimanapun caranya!

Namja berlesung pipi itu tidak lagi menghiraukan larangan ayahnya, ia langsung beranjak dari tempatnya dan mencari Min Seok saat itu juga.

.

Itu dia! Akhirnya Yi Xing menemukannya, menemukan Min Seok!

Min Seok tengah duduk sendiri di teras depan sebuah rumah kosong yang tampak rapuh dan tidak terawat, rumah yang nampaknya bisa ambruk kapan saja. Namja kecil itu tampak bersedih, mungkin ia kesepian karena Soo Young tidak lagi berada di sampingnya seperti biasanya.

“Min Seok-ah!”

Min Seok tersentak kemudian menoleh cepat ke arah seseorang yang baru saja memanggilnya, matanya sontak melebar, tidak percaya dengan sosok yang kini berdiri di sampingnya, “Yi Xing!”

Yi Xing tersenyum, oh, betapa ia merindukan temannya yang chubby itu. Namun namja itu segera menggeleng, “Ke mana Soo Young?”

Kedua mata Min Seok lagi-lagi membulat, “Ia.. ia pergi ke London.” katanya kemudian.

“Dan kau tidak memberitahukannya kepadaku?”

Min Seok terperanjat mendengar nada sinis dari pertanyaan Yi Xing, “Yi Xing, aku tidak … aku baru akan memberitahukannya kepadamu, tapi…”

“Jadi kalian sudah melupakanku? Begitu.. jadi selama aku sakit kalian sama sekali melupakanku? Bahkan mau pindah tidak pamit padaku? Kalian sudah tidak menganggapku lagi, hah!?”

“Yi Xing, tunggu dulu! Aku baru akan menyampaikan pesan Soo Young kalau..” ucapan Min Seok terhenti begitu ia merasa kalau bumi tengah bergoncang pelan. Tunggu dulu, ini.. gempa!

“Yi Xing, kita harus segera pergi dari tempat ini!”

 Sepertinya Yi Xing sama sekali tidak merasakan goncangan pelan itu, ia malah terlihat semakin marah kepada Min Seok yang memotong perkataannya, “Benar! Kalian yang jahat! Kalau saja…”

            “YI XING, AWAAASS!”

            “Ha ..?”

            Belum sempat Yi Xing memahami situasi yang tengah terjadi, tubuhnya telah didorong dengan keras oleh Min Seok. Dan setelah itu terdengar bunyi benda jatuh yang beruntun. Kayu-kayu lapuk dari atap rumah itu berjatuhan karena gempa kecil yang baru saja terjadi.

            Yi Xing terbatuk dan mengaduh, Min Seok mendorongnya dengan keras hingga jatuh terjerembab di tanah. Namja itu meringis kemudian melirik kakinya yang kini ditindihi oleh sebatang kayu. Sakit.

            “Yi .. Xing ..”

            Yi Xing tersentak, bukankah itu suara Min Seok? Di mana dia?

            “Min Seok, di mana kau?” tanya Yi Xing parau.

             Tidak ada jawaban dari Min Seok, Yi Xing lantas mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Kini di hadapannya, reruntuhan kayu itu benar-benar sudah seperti gunung. Debu-debu pun tak hentinya berterbangan di sekelilingnya. Samar-samar Yi Xing mencium bau darah.

            Dan ketika itu juga, Yi Xing melihatnya. Melihat tubuh Min Seok yang terkubur di reruntuhan. Dengan segera Yi Xing menarik kakinya yang tertindih, kemudian dengan sedikit pincang ia berlari mendekati Min Seok sementara air matanya mulai membasahi pipinya. Ia berusaha keras mencamkan dalam hati kalau Min Seok akan baik-baik saja.

            Ya Tuhan, semoga Min Seok baik-baik saja…

            Yi Xing berusaha menyingkirkan kayu-kayu yang menindih Min Seok dengan susah payah, ia tengah dirajai perasaan cemas yang menggila. Dan ketika selesai, Yi Xing mendapati tubuh Min Seok yang tidak sadarkan diri penuh dengan luka, dengan darah yang turut mengucur deras dari kepalanya.

            “MIN SEOOOKKKKK-AAAHH!!!”

.

.

            Air muka Lay sontak berubah begitu peristiwa dua belas tahun lalu kembali terputar jelas di benaknya. Peristiwa yang membuat Min Seok harus berbaring di rumah sakit selama berbulan-bulan, dan ketika bangun namja itu telah melupakan semuanya. Min Seok tidak ingat namanya sendiri, orang tuanya, ia tidak ingat apapun!

Dan sejak saat itu, seluruh keluarga Min Seok mulai memandang Lay dengan tatapan benci. Mereka berpikir kalau Lay lah penyebab kecelakaan yang dialami Min Seok. Hal itu membuat Lay tidak bisa lagi berhubungan dengan Min Seok, usaha Lay untuk membuat Min Seok mengingat kembali soal dirinya serta persahabatan mereka bertiga pupus sudah.

Semuanya berakhir kala itu.

“Jadi benar Yi Xing? Kau yang mencelakai Min Seok saat itu?” tanya Soo Young lirih.

Lay sontak mengangkat wajahnya, alisnya berkerut tidak suka. “Apa maksudmu? Kenapa kau berpikir begitu?”

Soo Young menghela napas pendek, ia lantas memasang wajah penuh harap, “Katakan saja yang sebenarnya, Yi Xing. Aku sudah tahu semuanya bahwa kau yang sengaja membuat Min Seok seperti itu!”

Kali ini kedua alis Lay terangkat, bersamaan dengan kedua matanya yang melebar, “Hei Soo Young-ah, aku tidak pernah melakukan hal keji seperti itu!” ujarnya kemudian dengan nada meninggi.

“Jujur saja Yi Xing, katakan alasanmu melakukan itu pada Min Seok!” Soo Young tetap memaksa.

“Aku tidak melakukan apa-apa! Itu murni kecelakaan!” balas Lay frustasi. Ia tidak pernah berpikir bahwa Soo Young akan menghakiminya seenaknya seperti itu.

“Tapi Yi Xing ..”

“TERSERAH!” sergah Lay cepat, membuat Soo Young tersentak, “I can’t understand, why don’t you trust me!? Kau lebih percaya apa kata orang lain daripada kata temanmu sendiri!?”

Wajah Lay kini memerah, ia terlihat menahan amarahnya yang memuncak, napasnya menderu dan dadanya naik turun, kedua tangannya terkepal erat. Ia benar-benar kecewa dengan sikap Soo Young kali ini. Mereka sudah lama sekali tidak berjumpa, tapi kenapa mereka harus bersua kembali dengan keadaan seperti ini?

“Soo Young-ah, tidakkah kau sedikit saja memikirkan soal perasaanku?!”

Soo Young menatap wajah Lay lekat-lekat, yeoja itu terlihat sedikit ketakutan dengan amarah Lay yang memuncak.

Lay memalingkan wajahnya, mengatur deru napasnya yang tidak beraturan, “Dua belas tahun lalu kau pergi tanpa berpamitan denganku. Saat itu aku benar-benar kecewa. Aku mulai berpikir kalau aku tidak ada artinya bagi kalian, bagi dirimu. Aku sudah dikeluarkan dari lingkaran persahabatan kalian.”

Soo Young langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan, seperti tidak percaya bahwa apa yang baru saja dikatakan oleh Lay benar adanya.

“Dan sekarang, begitu kita berjumpa lagi. Tidak ada salam rindu, tidak ada pelukan dan canda tawa yang semula aku harapkan. Yang ada hanyalah sebuah fakta kalau kau menemuiku karena Min Seok! Semua karena namja itu! Tidak ada aku, tidak ada nama ‘Zhang Yi Xing’ barang sedikitpun!”

Bahkan kau tidak bertanya apa-apa soal perban di kepalaku

Mendengar itu, Soo Young lantas menggigit bibir. Tak dapat disangkal bahwa kini sebulir air mata turun di pipinya. Yeoja itu seakan barusaja menyadari bahwa apa yang dikatakan Lay memang benar. Oh God, apa yang ia lakukan? Betapa jahatnya ia pada namja itu!

“Yi Xing.. aku …” kata Soo Young terbata-bata.

“Maaf Soo Young, sesudah ini tolong jangan pernah temui aku lagi.” potong Lay tegas. Guratan kekecewaan masih terlihat di wajahnya, namja itu menutup mata kemudian mendesah pelan. Kata-kata yang baru saja terucap adalah sederet kalimat yang paling sulit ia katakan seumur hidupnya, butuh dorongan yang kuat untuk membuatnya sanggup mengatakannya.

Soo Young menatap Lay tidak percaya, yeoja itu kini benar-benar merasa bersalah. Air matanya kembali turun. Ia meraih lengan Lay, “Yi Xing, aku tidak bermaksud..”

“Maaf. Mungkin aku memang tidak pernah diinginkan.”

Lay tersenyum sendu dan menepis lengan Soo Young pelan, ia kemudian berbalik meninggalkan yeoja yang masih terpaku di tempat itu. Namja itu berjalan cepat tanpa sekalipun menoleh lagi. Ia sudah terlalu sakit, terlalu sakit untuk melihat wajah yeoja itu lagi. Ia tidak sanggup lagi.

Hingga Lay sadari bahwa kini matanya telah basah, ia masih tetap berjalan menunduk sembari terus bergumam dalam hati.

Goodbye, my first love.

________

            Dengan wajah kesal dan alis berkerut, Anne melangkah cepat menuju rumah bergaya Victoria yang berdiri kokoh di samping rumahnya. Ia tidak habis pikir, bisa-bisanya Lay meninggalkannya begitu saja di café itu, membiarkan ia terus dirundung rasa cemas karena namja itu tak kunjung muncul sementara ponselnya tergeletak di meja café begitu saja. Keberadaan Lay raib seusai ia kembali dari toilet. Dan begitu ia bertanya dengan salah seorang pelayan café, ia mendapat jawaban menyebalkan kalau Lay pergi dengan yeoja lain.

Tunggu, kenapa ia harus merasa sebal ketika Lay pergi dengan yeoja lain? Bukankah itu hak namja itu? Memang! Tapi kenapa harus begitu saja, tanpa bilang apapun padanya? Bukankah sebagai seorang namja yang baik ia harus menghargai perasaannya, perasaan seorang yeoja! Aha! Benar, pasti itu yang membuatnya merasa sebal! Tidak ada alasan lain.

Anne melebarkan matanya begitu pintu rumah Lay kini terbuka lebar. Aneh, tidak biasanya, gumam Anne dalam hati. Dengan langkah pelan, yeoja itu berjalan mendekati pintu rumah Lay dan mengetuknya pelan. Berkali-kali, namun tetap tidak ada jawaban.

Karena tidak sabar, yeoja itu pun melongokkan kepalanya alih-alih melihat batang hidung namja itu. Namun yang ia dapat kemudian nyatanya lebih mengejutkan. Rumah Lay kini benar-benar seperti kapal pecah, kertas berserakan di mana-mana, beberapa perabotan rumah juga tampak tak berada di tempatnya lagi. Bahkan ada beberapa pecahan kaca yang berserakan di lantai. Astaga, ada apa ini?

Rasa khawatir mulai terbit di hati Anne, menghilangkan dalam sekejap perasaan kesal yang semula menyelimuti hatinya. Dengan hati-hati ia melangkahkan kakinya memasuki rumah Lay. Ia terus berdoa dalam hati, semoga tidak ada hal buruk yang terjadi dengan Lay.

“Lay, di mana kau?”

Anne menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, namun ia tidak menemukan namja itu. Beberapa kali ia memanggil, jawaban yang ia dapat hanyalah gema dari suaranya sendiri. Anne menelan ludah, kemana perginya Lay?

Anne berniat berjalan menuju ke arah tangga, namun kakinya tersandung sesuatu. Yeoja itu berbalik dan mendapati sebuah pigura kini tergeletak di lantai, pigura yang bernasib sama dengan perabotan yang lain—tergeletak di lantai. Dan detik itu juga napasnya tercekat.

Foto itu, foto yang ada di dalam pigura itu… itu..

Adalah foto dua namja dengan perbedaan ras yang mencolok. Foto Lay dan.. James?

Lutut Anne melemas saat itu juga, apa yang baru saja dilihatnya? Itu tidak benar bukan? Lay mengenal James? Kenapa bisa…

Sebenarnya aku pergi ke London untuk menghadiri pemakaman sahabatku.”

            Mungkinkah.. mungkinkah yang dimaksud oleh Lay itu … James?

Anne menggigit bibir begitu air matanya mulai menggenang, oh, kenapa dunia begitu sempit? Ia membenci semua yang berhubungan dengan James, dan kenapa Lay harus…

Yeoja itu menutup mulutnya, namun sesaat kemudian ia bangkit dan beranjak sembari menggenggam erat pigura itu dengan tangan bergetar. Ia harus menemukan Lay, ia harus memastikan apa sebenarnya hubungan Lay dengan James.

Anne berjalan pelan menuju dapur rumah Lay, namun ia tak juga menemukan namja itu di sana, begitupun dengan dua buah kamar yang terletak di ujung. Ke mana perginya namja itu?

Hanya tinggal satu tempat yang belum Anne periksa, ya, lantai dua. Dengan segera Anne melangkahkan kakinya menaiki tangga. Dan sesampainya di lantai dua ia mendapati dirinya terlonjak dan napasnya tercekat, pigura di tangannya pun sontak ia jatuhkan ke lantai. Lay, namja itu …

“LAAAYYY!!”

________

            Aku tidak pernah diinginkan.

            Mereka tidak pernah membutuhkanku.

            Aku tersingkir, aku terlupakan dan aku terabaikan.

            Lalu kenapa aku masih hidup sampai sekarang?

            Bukankah mati jauh lebih baik untukku?

____TBC____

Finally, hahaha gimana ? aneh ya? emang -.- sumpah deh author gabohong kalo selama ini lama ngepost gara-gara gaada ide. Suntuk banget deh, gaada inspirasi. Jadinya ceritanya semacam dark n kelam gini. Haha. Hope u like it^^ #ngarep

See ya in the next chapter nee?😀 follow me @fhayfransiska

Don’t forget to leave your comment and like this ^^b Just appreciate what you feel and I’ll accept all of it except bashing ^^

Read my another fanfic :

179 responses to “[Lay’s] Unwanted

  1. Ternyata story-nya Lay ge belum jelas (?) yaa😀
    Gege itu engga kenapa” kan? Huhu
    Hanya berharap akhir yg bahagia dr setiap cast-nya, ya walaupun tdk semua hal dapat berakhir indah hehe

    Keep writing ne!!^^
    Kamu yg semangat ya saeng nulisnya, side story-nya msh banyak yg belum selesai, pokoknya ttp semangat (y)😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s