My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip 11

Main Cast(s) :

  • Lee Jinki (SHINee Onew)
  • Shin Jibyung
  • Shin Jikyung

Support Cast(s) :

  • Kim Junsu (2PM Junsu)
  • Other SHINee members
  • Etc.

Genre  : Marriage Life, Family, Life, a bit Romance and Humor

Length : Continue

Rating : Teen

Disclaimer : Only own the plot & Shin Jibyung.

>>> Previous <<<

Tatapan Jibyung tadi, dan juga sikapnya, membuat Minho sedikit merasa… kasihan. Tampaknya yeoja itu memang sama sekali tidak tahu apapun yang terjadi di sekitarnya, apapun yang terjadi pada suaminya dan saudara kembarnya sendiri.

“Bukankah itu artinya kau keterlaluan, Onew hyung?”

“Kapan sembuhnya kalau tidak makan? Ayo makan! Dan minum obat setelah ini. Kau itu kan seorang idol. Sedang banyak kegiatan, pula. Masa mau absen terus karena sakit? Tidak kasihan pada fansmu?”

Onew diam tak berkedip, beberapa detik kemudian terkekeh pelan, merasa geli karena baru kali ini melihat Jikyung mengomel, “Arasso, arasso.” katanya mengalah.

“Eh?” Taemin memandang Jibyung dengan alis bertaut heran, “Tidak, kok. Tadi dia keluar. Kukira bertemu denganmu.”

Jawaban Taemin membuat Jibyung tertegun sesaat, “Benarkah?” Tiba-tiba dia merasa was-was. Bagaimana kalau Onew benar-benar…

Ah, tidak. Jibyung harus mempercayai Onew.

Di saat yang sama, sebuah mobil Porsche hitam melaju dengan kecepatan sedang di belakang Jibyung dan Taemin. Jika keduanya berbalik dan melihat mobil itu, mungkin mereka bisa melihat Onew dan Jikyung di dalamnya.

“Kalau begitu biarkan kami yang menyelesaikannya.”

“Jangan bertindak semaumu, Choi Minho! Sudah kukatakan, ini urusanku, dan biarkan aku menentukan sendiri. Kalian lihat saja!”

Jikyung memandangi kotak itu dan Junsu bergantian, “Ah, oppa, kau tidak perlu..”

“Gwaenchana. Anggap saja itu tandanya aku masih peduli padamu.”

CLIP 11

Dengan suara yang bergetar dia melanjutkan, “selama ini kalian… membodohiku?”

DEG!

Apa yang…

Jantungku berdetak berkali-kali lebih cepat saat ingatanku memflashback kejadian beberapa menit yang lalu. Masih dengan keadaan shock, aku meraih tangan yeoja ini dan memperhatikan jari manisnya, dimana sebuah cincin pengantin melingkar dengan manis di sana.

“Kalian melakukan ini? Di belakangku?”

Aku diam tak berkutik, sibuk memaki diri sendiri hingga tidak menangkap perkataannya dengan jelas.

Kenapa aku tidak menyadari ini sejak tadi? Di gedung ini, yang memiliki wajah ini tidak hanya Jikyung. Aku keliru. Yang berada di hadapanku saat ini adalah Jibyung, bukan Jikyung.

Debaran jantungku semakin menggila saat Jibyung dengan kasar menarik kembali tangannya, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Dan di depan lift ini, berdiri seorang wanita yang sejak tadi kucari. Jikyung. Dia menatap kami dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.

>>><<<

(Flashback – Author POV)

Shin’s House

“Ah, senang sekali melihat mereka. Sangat cocok.” kikik Jibyung yang baru memasuki kamar setelah mengantarkan-Jikyung-pada-seseorang-yang-menunggunya-di-bawah. Yeoja itu memang memutuskan untuk menginap (lagi) di sini malam ini. Tinggal di apartemen saja bisa membuatnya mati bosan.

Setelah selesai membersihkan diri dan menggosok gigi, Jibyung kembali ke kamar dan mendapati Jikyung belum kembali, “Ah, benar juga. Seharusnya mereka menghabiskan waktu yang lama. Ck, aku lupa.” gumamnya pelan. “Eoh?”

Kedua matanya membulat melihat sesuatu di atas tempat tidur Jikyung. Karena penasaran—dan karena memang sering seenaknya—Jibyung mengambil benda berbentuk kotak itu dan membukanya. Pekikan pelan terdengar dari mulutnya begitu melihat sesuatu di dalam kotak tersebut.

“Ini.. kalung?”

Hening beberapa saat.

“Wah, yeppeo.

Jibyung kembali menutup kotak perhiasan di tangannya dan melemparkan benda itu ke atas ranjang Jikyung begitu pintu kamar terbuka, dan Jikyung masuk dengan membawa sebuah kotak berukuran sedang di tangannya.

“Wah~ hadiah lagi~”

Jikyung tersenyum lebar, tidak menyadari kata ‘lagi’ yang diucapkan Jibyung, “Kira-kira apa ya, isinya? Perhiasan?”

Jibyung mengangkat sebelah alis, heran sendiri. Kalau memang Junsu yang memberikan kalung itu, kenapa Jikyung menebak isi kotak hadiah yang baru didapatnya adalah perhiasan lagi?

Sejenak yeoja itu merasa otaknya diputar-putar. Lalu sebuah asumsi muncul begitu saja. Apa.. kalung itu bukan dari Junsu?

“Perhiasan? Aniya. Menurutku topi.. topi rajut atau syal.”

>>><<<

Apartment Building

TING!

Jibyung melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift ketika sampai di lantai dasar gedung. Langkahnya semakin memelan saat sesuatu tiba-tiba saja terpikirkan olehnya.

“Apa aku meninggalkan sesuatu?” gumam wanita itu sambil mengingat-ingat. Dahinya berkerut bingung. Dia merasa ada hal penting yang tidak dibawanya. Apa kunci motor? Ah, tidak. Supermarketnya tidak jauh dari gedung apartemen ini, jadi Jibyung tidak perlu memakai motor. Handphone? Sepertinya handphone tidak terlalu penting. Lalu apa?

Yeoja itu sudah mencapai pintu keluar gedung ketika merasa sudah menemukan apa yang dilupakannya. Dompet. Seharusnya Jibyung mengantongi dompet di saku mantelnya, “Ah, seharusnya aku tidak melupakan ini. Dasar ceroboh.” Dia kembali bermonolog sembari memutar arah, berniat kembali menuju lift, sebelum merasa tangan seseorang menepuk bahu kirinya dari belakang.

“Hey!”

“Onew-ya!

***

Kedua pipi Jikyung menggembung begitu dia membuang napasnya melalui mulut—sementara tangan kanannya menutup pintu apartemen. Yeoja dengan rambut sepunggung yang kini terikat rapi di belakang kepalanya itu mulai melangkah menyusuri koridor dengan kedua tangan meremas ujung bajunya, merasa semakin gugup sekaligus gelisah. Beberapa pikiran tentang kejadian yang mungkin terjadi nanti sudah bermunculan di benaknya.

Kembali Jikyung membuang napas panjang dari mulut saat menunggu lift sampai di lantai 3 tempatnya menunggu sekarang. Jantungnya menyentak keras sekali, dan berdegup kencang tanpa alasan pasti. Atau itu karena dia terlalu gugup?

TING!

Pintu lift akhirnya terbuka, membuat Jikyung yang semula menunduk kembali mengangkat kepalanya dan mendapati dua orang yang dikenalnya berada di ruangan besi itu, dengan aura yang membuat Jikyung mematung beberapa saat. Onew tampak menatap kaget Jibyung yang menangis di hadapannya, kemudian namja itu beralih menatap Jikyung yang berada di luar lift.

Jibyung mengikuti tatapan Onew yang masih mengarah pada Jikyung. Jibyung tertawa kecil pada dirinya sendiri, menatap dua orang lainnya dengan pendangan tajam, sebelum melangkahkan kaki dengan cepat keluar dari dalam lift dan meninggalkan Onew dan Jikyung yang masih mematung.

Namun sedetik kemudian Onew tersadar dan segera memanggil Jibyung yang sekarang mengubah langkah cepatnya jadi berlari, “Jibyung-ah! Jibyung-ah, aku bisa jelaskan!”

“Apa yang terjadi?” tanya Jikyung yang menghadang langkah Onew yang hendak mengejar Jibyung. Jikyung menatap Onew dengan bingung.

“Dia sudah tahu.” bisik Onew yang tidak bisa menyembunyikan nada panik dalam suaranya. Mendengar hal itu, mata Jikyung sontak membulat. Dan dengan masih terkejut dia segera melakukan hal yang sama dengan Onew yang meneruskan langkahnya mengejar Jibyung.

TOK! TOK!

“Jibyung-ah! Jibyung, buka pintunya!” seru Onew sambil mengetuk pintu kamar Jibyung dari luar, “Kita bicarakan baik-baik!”

Suara Jikyung terdengar sedetik kemudian, “Jibyung-ah!

Jibyung yang terduduk di lantai dengan punggung bersandar tepat di balik pintu tidak merespon sedikitpun. Yeoja itu menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong dan tanpa ekspresi yang berarti. Pikirannya benar-benar kacau saat ini. Bermacam adegan-adegan, potongan kejadian yang telah terjadi silih berganti memenuhi benaknya, membuat rasa putus asa mendominasi.

Jibyung tidak melakukan gerakan sekecil apapun, sampai beberapa saat kemudian tangannya yang semula memeluk lutut kini jatuh lemas di samping tubuhnya, sementara suara-suara yang memanggilnya dari luar hanya dianggapnya angin lalu. Dan perlahan namun pasti, setetes air mata mengalir turun di pipi kirinya.

Semuanya ini terasa mustahil bagi Jibyung. Sangat mustahil hingga dia hampir mengira ini hanya mimpi. Selama ini dia percaya Onew dan Jikyung akan menjadi orang yang terakhir kali membuatnya kecewa. Tapi ternyata…

TOK! TOK! TOK!

“Maafkan aku! Tolong buka pintunya, Shin Jibyung!” seru Onew dengan nada yang agak meninggi.

TOK! TOK!

“Jibyung-ah, kumohon buka pintunya.” Jikyung malah sebaliknya, suaranya semakin memelan karena tertutupi oleh isak tangisnya sendiri. Perlahan tubuhnya merosot ke lantai, dengan punggung bersandar pada pintu, “Mianhae, Jibyung-ah..” ujarnya penuh dengan penyesalan.

Onew yang melihat pemandangan itu mengepalkan telapak tangannya dengan geram. Lalu dengan sekali hentakan keras dia memukul dinding di depannya hingga Jikyung—dan mungkin Jibyung—bisa merasakan getaran kecil karena pukulan itu.

Onew meletakkan kedua tangannya di pinggang dan berjalan mondar-mandir di depan Jikyung—bermaksud mengendalikan emosinya yang akhir-akhir ini memang mudah meledak-ledak. Sementara Jikyung menutupi mulutnya dengan punggung tangan, meredam suara isakannya yang semakin keras. Tidak berapa lama kemudian, kepalanya terkulai di antara lututnya yang ditekuk dan untaian isakan terus meluncur dari bibirnya.

*

Seharusnya Jibyung sudah bisa menduga semua ini sejak awal. Semua sikap janggal mereka yang tertangkap oleh matanya, sejak awal. Namun pada saat itu, di sisi lain, tak wajarkah jika Jibyung tidak berani mengira sebuah penghianatan yang mana pelakunya adalah orang-orang yang tak mungkin dia benci?

Tak wajarkah jika Jibyung—pada awalnya—berpikir mereka tidak akan tega melakukan semua ini terhadapnya?

Lalu…

Apa yang tidak wajar jika saat ini Jibyung berpikir mereka tidak menyayanginya seperti dia menyayangi mereka?

“Byung-ah, dengar..”

“…”

Keurae, mungkin yang kau pikirkan saat ini memang sama dengan apa yang sudah terjadi.”

Jibyung menundukkan kepalanya sambil terpejam, membiarkan air mata kembali menetes turun. Helaian rambutnya yang kecoklatan jatuh menghalangi kedua sisi wajahnya.

“Ha—” ucapan Onew terhenti beberapa saat, “Mianhae. Ini.. ini semua salahku. Jadi, kau jangan berpikiran buruk mengenai Jikyung.”

Entah bagaimana Jibyung bisa menjelaskan perasaannya sekarang. Ini.. suara yang dirindukannya. Namun di sisi lain juga menyakitinya. Dan entah bagaimana, tapi Jibyung menganggap semua ucapannya hanya omong kosong.

“Iya, aku tahu sekali, ini tidak seharusnya terjadi. Tapi.. kau tahu.. aku sama sekali tidak bisa lari. Perasaan ini datang begitu saja, semakin kuat disaat aku justru ingin melenyapkannya.”

Untuk yang ke sekian kali Jibyung mengisi rongga dadanya dengan udara, berharap rasa sesaknya enyah walaupun kenyataannya tidak berguna.

“Jibyung-ah..” suara saudara kembarnya terdengar sangat dekat di telinga Jibyung. Suara yang memanggilnya di sela-sela isakan pilu. Dan hal itulah yang membuat Jibyung semakin menunduk dengan tangis yang tidak dapat ditahan lagi. Rasa kecewa, marah dan juga sedih bercampur aduk.

Apa yang ada di pikiran kalian selama ini? Apa kalian sama sekali tidak tahu seberapa besar aku memercayai kalian?

Beberapa saat berlalu dalam kesunyian. Onew kembali berjalan mondar-mandir dan beberapa kali mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Dia sudah tahu akan terjadi hal semacam ini, namun tidak mengira perasaan yang dirasakannya bisa sekacau ini.

Sejurus kemudian Onew berhenti berjalan dan memandangi Jikyung yang masih terisak. Namja itu berjongkok di depan Jikyung, terus memandangi gadis yang balas memandangnya kosong. Tangannya bergerak menyeka air mata yang kembali meluncur menuruni pipi Jikyung yang hanya diam. Helaan napas terdengar dari mulutnya, dan setelah itu, lagi-lagi keheningan menyelimuti mereka.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Kenapa kau begitu bodoh, Lee Jinki?

Jikyung mencondongkan tubuhnya ke depan, meletakkan dagunya di atas lutut, “Eotteokhae?” bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri, namun cukup membuat Onew menggerakkan bola matanya menatap pintu kamar Jibyung yang masih tertutup rapat, seolah pintu itu akan terbuka hanya dengan tatapannya tersebut.

Semua memang berawal dari kebodohannya. Jika saja Onew menyadari perasaannya sebelum dia menikah dengan Jibyung, mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Namun bisakah kita memutar waktu sedetik saja?

Pandangan Onew kini beralih pada Jikyung, ditatapnya lagi yeoja di hadapannya itu lekat-lekat. Dengan ketidaktahudiriannya, bahkan sampai mengorbankan waktu dan perasaan orang lain, Onew memperjuangkan gadis ini. Walaupun tidak banyak, tapi sesuatu membuatnya tidak ingin melepaskannya begitu saja.

Setelah sekian lama bergelut dengan pikirannya sendiri, dengan raut yang jelas menampakkan kefrustasian, Onew beranjak berdiri dan kembali mendekatkan dirinya pada pintu kamar Jibyung. Sebelah tangannya menempel di daun pintu, sementara otaknya memutar memikirkan perkataan yang tepat.

“Jibyung-ah,” mulainya, berhenti sejenak. Jakunnya tampak naik turun, “Sekali lagi, maafkan aku, karena menyerah untuk tidak mencintai Jikyung.”

Baik Jikyung maupun Jibyung sama-sama terperangah mendengar ucapan Onew, walaupun dalam tanda kutip, dalam keadaan yang berbeda. Apa maksud lelaki itu? Apa dia bermaksud melanjutkan semua ini? Tanpa mempertimbangkan perasaan Jibyung?

Jibyung bangkit berdiri. Kedua telapak tangannya dengan kasar menyusut bekas air mata di wajahnya. Ya, ternyata beginilah. Sudah cukup, Jibyung tidak ingin mendengar apapun lagi.

*

“Onew-ya,” Jikyung refleks berdiri dan menghadap Onew, “kau..” lidahnya seolah kelu, kosa katanya berhamburan begitu saja.

Onew menghela napas, memukul pelan daun pintu berwarna putih itu sebelum membawa dirinya duduk di atas sofa terdekat yang bisa diraihnya. Jikyung mengikuti Onew dengan tatapannya yang masih menyiratkan keterkejutan. Kemudian perempuan itu menoleh cepat begitu mendengar suara kunci diputar dan sejurus kemudian benda yang menjadi pemisah di antara mereka sejak tadi itu terbuka lebar, menampakkan sosok yang mengenakan jaket kulit putihnya.

“Jibyung-ah.” panggil Jikyung pelan sambil mendekat selangkah dengan spontan. Onew pun berdiri dari duduknya. Tapi Jibyung seolah menulikan telinga, dan hanya terus melangkah melewati Jikyung.

Eodiga?” pertanyaan Onew terlontar bersamaan dengan tangan Jikyung yang bergerak menahan tangan Jibyung, membuat Jibyung terpaksa menghentikan langkahnya. Tapi sejurus kemudian segera dihentakkannya tangan Jikyung, sehingga pegangannya terlepas dan dia bisa melanjutkan kembali langkahnya sembari membenarkan letak sarung tangannya yang sedikit melorot karena tarikan Jikyung.

“Jibyung!”

“Tunggu, Jibyung-ah.”

BLAM!

Keduanya hanya bisa melihat daun pintu yang menutup saat ini.

>>><<<

Di luar, matahari sudah mulai condong ke Barat. Aktivitas di kota Seoul tampak semakin padat. Banyak orang yang sekedar berkumpul dengan teman-teman, bermain dan berjalan-jalan untuk menghabiskan waktu di weekend yang cerah—menjelang musim semi—ini.

Tak terkecuali seorang idol seperti Kim Junsu. Dengan santai, seperti tidak ada beban, lelaki itu mengayuh sepeda (pinjaman) yang ditumpanginya di jalanan taman kota, di tengah-tengah orang yang berlalu lalang. Dia sama sekali tidak merasa khawatir ketika berpapasan dengan beberapa remaja yang mungkin saja bisa dengan mudah mengenalinya. Malah Junsu mengumbar senyum lebar menyapa mereka dibalik scarf yang menutupi bibir hingga lehernya. Atau memang remaja-remaja itu tidak mengenalnya? Eiiy, yang benar saja, pikirnya percaya diri.

Junsu terus mengayuh sepedanya hingga tiba di Han Gang Park, mencari spot yang jauh dari keramaian, kemudian menghentikan sepedanya di sana. Sambil bersenandung pelan, namja itu duduk di tanah beralaskan rumput. Pandangannya tertuju pada pemandangan sungai Han di depannya. Hanya dengan seperti ini, dia sudah merasa nyaman. Mungkin memang ini yang dibutuhkannya, ditengah pekerjaannya memberikan hiburan untuk orang lain.

Tapi di sisi lain dia tidak ingin menemui waktu kosong seperti ini, karena waktu seperti ini memungkinkannya untuk bisa teringat hal yang ingin dilupakannya, atau setidaknya berhenti dipikirkannya. Oke, satu di antaranya ‘hal’ antara dirinya dan Jikyung, yang hingga saat ini masih melekat dengan jelas di benaknya. Sulit bagi Junsu untuk tidak terus memikirkan apa yang sudah terjadi di antara mereka. Dia begitu menyayangi Jikyung, dan sangat sulit untuk menghapus rasa sayang itu, walaupun keadaan memaksanya, walaupun dia tahu Jikyung tidak merasakan hal yang sama terhadapnya.

“Haah.. ayo latihan sedikit!” memutuskan untuk menghentikan renungannya, Junsu menaikkan tudung mantelnya hingga menutupi kepala, kemudian membaringkan tubuhnya begitu saja tanpa khawatir bajunya terkotori. Beberapa saat kemudian, suaranya terdengar menyenandungkan lagu-lagu yang disenanginya.

>>><<<

Berbeda dengan beberapa jam yang lalu, kini hatinya lebih didominasi amarah dibandingkan rasa sedih. Beberapa  kali Jibyung menambah kecepatan motor sport putih yang dikendarainya untuk melampiaskan kemarahannya, berharap angin dingin yang menerpa tubuhnya dapat menerbangkan perasaan itu hingga habis tak bersisa. Tapi lagi-lagi, tidak banyak yang berpengaruh. Api itu justru semakin membara di dalam dadanya. Kembali, angka di spidometer digitalnya meningkat ketika perkataan Onew terngiang lagi di telinganya.

>>><<<

… Han Gang Park, 7.00 pm…

Langit sudah gelap dan lampu menyala di berbagai spot taman, ketika Junsu baru saja bangun dari ‘tidur sorenya’ secara tiba-tiba. Matanya menyipit sejenak untuk menyesuaikan penglihatannya dengan sekitar. Junsu hendak memutuskan untuk kembali terlelap begitu dia ingat dimana dirinya berbaring saat ini, sehingga akhirnya Junsu bergegas bangkit dari posisinya. Dia melihat angka tujuh tertera dengan jelas di jam tangan digitalnya. Ternyata dirinya tertidur cukup lama.

Namja yang terkenal dengan panggilan Jun K itu bangkit berdiri, menepuk-nepuk bagian belakang tubuhnya sambil berjalan mencari tempat dimana dia menyimpan sepeda sewaannya tadi sore. Han Gang Park sudah tidak seramai tadi, tentu saja, mungkin karena ini waktu makan malam. Dan Junsu juga sebaiknya harus segera kembali ke dorm sebelum jatah makan malamnya disikat oleh member lain. Semua member 2PM memang agak harus diwaspadai ‘kerakusannya’. Oke, member 2PM, berarti termasuk juga Junsu.

Lelaki itu menguap lebar, sementara kedua tangannya terbenam di balik saku jaketnya, tidak berniat sama sekali menutupi mulutnya yang sedang terbuka lebar. Setelah melangkah beberapa belas kali, Junsu akhirnya menemukan sepedanya dan segera menumpanginya, mengayuhnya untuk kembali ke dorm.

Sosok seorang perempuan tertangkap dari sudut mata Junsu. Karena merasa sangat mengenali yeoja itu, Junsu sontak menghentikan kayuhannya yang baru beberapa kali dan menurunkan sebelah kakinya ke tanah, memandangi yeoja yang tengah duduk membelakanginya tidak jauh dari tempatnya terlelap tadi—selama beberapa saat, hingga akhirnya dia kembali menyandarkan sepedanya di sebuah batang pohon dan berjalan menghampiri perempuan itu.

“Ji—” sesuatu membuat Junsu urung menyebutkan nama ‘Jikyung’ ketika dia sudah sampai di dekat perempuan itu. Yeoja ini memakai sarung tangan dan jaket kulit, style yang tidak pernah sekalipun dipakai seorang Shin Jikyung, dan itu berarti yeoja di hadapannya ini bukan Jikyung seperti yang dia duga, “Oh, Shin Jibyung-ssi?” ralatnya kemudian sambil berjalan, berniat lebih mendekat.

Jibyung yang merasa seseorang memanggilnya dari belakang tidak langsung menoleh, melainkan mengusap sisa-sisa air mata di wajahnya lebih dulu, membuat Junsu yang mengerti gerakan itu refleks menunda langkahnya hingga Jibyung akhirnya menoleh, “Ah, Junsu-ssi.”

Junsu bisa melihat wajah sembap itu dengan jelas. Dia menaikkan scarf-nya, lalu duduk di undakan yang sama dengan yang diduduki Jibyung, “Sedang apa di sini? Bukankah ini waktunya makan malam?” tanyanya basa-basi, sambil memandang lurus ke depan.

“Hmm..” gumam Jibyung sebagai jawaban, “Junsu-ssi sendiri? Kenapa ada di sini?”

“Aku ketiduran di sini sejak tadi sore.”

Jibyung menoleh, tampak sedikit terkejut, “Ah, jinjjayo? Apa tidak terjadi sesuatu?”

Junsu pun turut menoleh, lalu terbahak pelan, “Ah, maaf.” katanya menyesal, lalu melanjutkan sambil tersenyum lebar, “Seingatku tidak terjadi apa-apa.”

Jibyung memaksakan seukir senyum tipis, lalu mengangguk dan kembali memandang ke depan, begitupun Junsu, dan detik demi detik berlangsung dalam hening—di antara mereka.

“Hmm.. kukira kau Jikyung tadi.” Junsu berinisiatif mengurai keheningan itu, namun lawan bicaranya malah tampak semakin tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tentu saja, perkataan Junsu barusan kembali mengingatkan Jibyung pada peristiwa tadi siang.

“Ah, kenapa kau juga mengira aku Jikyung?” kekeh wanita itu kemudian dengan getir.

“’Juga’?” tanya Junsu, mengulang kata yang diucapkan Jibyung, lalu mengangguk mengerti karena pikirannya sendiri, “jadi tidak hanya aku, ya?”

Beberapa detik kemudian Jibyung baru menjawab, “Ne, Onew.. juga.”

“Oh? Jinjja? Ya ampun, bagaimana bisa suamimu sendiri salah mengenalimu?” ujar Junsu, tampak takjub sekaligus geli karena tidak tahu apa maksud Jibyung sebenarnya, namun lelaki itu bisa menangkap perubahan ekspresi Jibyung saat menyebutkan nama Onew, “Memang, sih, kalian itu identik sekali. Ckck, kalau tidak melihatmu pakai jaket itu, aku pasti benar-benar memanggilmu Jikyung tadi.”

Lagi-lagi Jibyung hanya menarik sedikit kedua ujung bibirnya, “Kurasa sekarang aku tidak akan suka jika kau benar-benar salah mengenaliku.” katanya, kemudian tertegun sendiri setelah menyadari nada bicaranya. Entah kenapa, tapi saat ini Jibyung memang ingin mengatakan apapun yang ada di hatinya.

Junsu yang sempat terkejut mendengar ucapan Jibyung terkekeh pelan, “Kau sedang kesal padanya? Apa terjadi sesuatu?” tanyanya penasaran.

“Ya, terjadi sesuatu. Sesuatu yang sangat besar, yang bisa saja mengubah kehidupanku dalam sekejap.”

Selang beberapa detik, Junsu hanya terdiam melihat Jibyung, sementara isi kepalanya menerka-nerka ‘sesuatu yang sangat besar’ yang Jibyung maksud.

“Aku tidak tahu dia bisa melakukan ini.” gumam Jibyung lagi, hampir berbisik.

“Mau menceritakannya? Aku bersedia mendengarkan. Maksudku… aku bisa menjaga rahasia.” Ada sedikit rasa iba yang dirasakan Junsu sejak dia melihat mata sembap Jibyung. Setelah pembicaraan mereka barusan, Junsu mengira masalahnya ada pada Onew. Dan jika berurusan dengan Onew, Junsu berani menjamin Jibyung tidak akan berani menceritakan masalahnya itu pada sembarang orang. Karena itu, Junsu akan merasa payah kalau dia tidak menawari jasa pendengar seperti yang baru saja dilakukannya.

Kekehan hambar sampai di telinga Junsu yang tengah membenahi posisi duduknya. Namun setelahnya tidak ada satu kata pun yang terlontar dari bibir Jibyung, tidak seperti dugaan Junsu. Akhirnya mereka hanya saling berdiam diri cukup lama. Padahal cacing-cacing di perut Junsu sudah demo masal, tapi namja itu tidak berani meninggalkan Jibyung.

Jeogi..” ucap Jibyung setelah sekian lama, membuat Junsu menoleh dengan sontak.

“Junsu-ssi dan Jikyung.. apakah masih..”

“Aah, memangnya Jikyung tidak cerita? Kami sudah ‘berteman lagi’ sejak hampir dua bulan yang lalu.” jawab Junsu yang langsung mengerti maksud ucapan Jibyung yang menggantung. Dia kemudian bertanya begitu melihat raut wajah Jibyung yang berubah, “Apa karena ini kau merasa kesal padanya?”

“Hm, kurasa iya,” sekali lagi wanita itu menyuarakan kekehan hambar, “salah satunya.”

Junsu memberikan tatapan bertanya, dan tanpa bisa dicegah air mata langsung menggenang dengan cepat di pelupuk mata Jibyung, “Onew.. mereka… Jikyungie..”

Punggung Junsu menegak perlahan. Dia rasa dia tahu apa masalahnya. Ya, ini memang pantas disebut ‘sesuatu yang sangat besar’, “Jadi mereka benar-benar melanjutkannya? Kau sudah tahu?” tanyanya langsung namun hati-hati, dan mampu membuat Jibyung seketika tampak blank.

“Junsu-ssi… tahu masalahnya?” tanyanya tak percaya. Satu goresan dalam kembali mengukir hatinya tatkala dia menyadari bahwa ternyata hanya dirinya yang tidak tahu ‘kisah’ ini.

Jibyung benar-benar merasa dibodohi.

>>><<<

A week later...

Berhari-hari berikutnya mereka lalui dengan perasaan tak nyaman di hati masing-masing. Namun dalam hal pekerjaan mereka tetap berusaha profesional meskipun ada saja kekeliruan yang mereka lakukan tanpa disadari.

Onew menunduk memperhatikan ujung sepatu yang menyelubungi kedua kakinya yang melangkah pelan keluar dari ruang latihan. Satu tarikan napas kembali terhirup memenuhi rongga paru-parunya. Koridor gedung, tempatnya berada saat ini tampak sepi. Mungkin sedang ada pertemuan atau memang tidak ada orang lain yang berada di lantai ini selain dirinya dan member lain juga manager hyung.

Sudah hampir seminggu sejak kejadian besar itu, dan selama itu pula Onew layaknya sama sekali tidak memiliki semangat hidup, kecuali jika memang dituntut pekerjaannya. Hingga saat ini, dia belum saling berkomunikasi lagi dengan wanita kembar yang berhasil membuatnya ‘jungkir balik’ seperti ini, ya, walaupun dengan Jikyung bisa sesekali. Selain karena mereka masing-masing sedang cukup sibuk, apalagi Onew dan SHINee, rasa ketidaknyamanan juga membuat ego mereka menuntut untuk dituruti.

Dering ponsel yang cukup keras menyadarkan Onew dari lamunannya. Sebelah tangannya bergerak menyusup ke dalam saku celana untuk mengambil ponsel. “Eomma Calling..” sedang terpampang jelas di layar benda itu.

Ne, Eomma.

“Jinki-ya, kau dimana?”

“Aku sedang latihan.” Jinki mengusap tengkuknya sekilas, “Waeyo?

“Aah, ada temanmu saat sekolah dasar, dia bilang ingin bertemu denganmu.”

“Eh? Teman sekolah dasar? Siapa namanya?” tanya Onew heran.

“Jung… Namjoo?” jawab nyonya Lee dengan nada ragu, tapi kemudian kembali menambahkan, “Iya, Jung Namjoo kalau tidak salah.”

Sambil kakinya melangkah masuk ke dalam lift yang kosong, kedua alis tebal Onew hampir bersentuhan, berusaha mengingat-ingat apakah memang ada orang yang bernama Jung Namjoo di sekolah dasarnya dulu, “Jung Namjoo, ya?” gumamnya pada diri sendiri, kemudian menggerakkan tangan menekan tombol 1 pada lift, “Yeoja?

“Eoh, yeoja. Dia kemari bersama temannya.”

“Aah.. keurae?” Onew kembali berusaha mengingat-ingat. Tapi entah karena pikirannya sedang mumat, memang lupa atau memang tidak ada orang bernama Jung Namjoo di masa sekolah dasarnya, Onew sama sekali tidak mendapat bayangan apapun mengenai orang yang disebutkan ibunya itu, “Aah,” tapi nada bicaranya sekarang terdengar seolah dirinya sudah ingat siapa itu Jung Namjoo. Ya, Onew hanya malas menjelaskan.

“Tapi sekarang aku sedang sibuk, tidak akan diijinkan pulang.”

“Aah, begitu, ya? Ya sudah, eomma akan menyampaikan ini padanya.”

Ne, sampaikan juga maafku, Eomma.”

“Eoh..”

“Oh, iya.” tambah Onew kemudian. Kakinya melangkah membawanya keluar dari lift, “Jangan dulu percaya begitu saja, siapa tahu dia hanya orang iseng.”

Nyonya Lee mendengung paham.

Ne, kkeunho.” ujar Onew yang hendak menutup sambungan telpon.

“Ah, jamkkan!” cegah nyonya Lee cepat-cepat, membuat Onew kembali meletakkan handphonenya di dekat telinga, menunggu kelanjutan ucapan beliau, “Bagaimana Jibyung?”

Mendengar pertanyaan nyonya Lee, Onew langsung menghentikan langkahnya yang sudah sampai di ambang pintu masuk gedung, dan entah kenapa enggan beranjak lagi. Dengan agak tergagap dia menjawab, “Err.. baik.”

Kikikan pelan terdengar dari nyonya Lee, “Hm, baguslah. Baiklah, sekarang kau bisa menutup telponnya.”

Ne.” tanggap Onew pelan, kemudian menekan tombol merah di layar ponselnya. Masih di posisinya yang hanya berdiri di ambang pintu, Onew memandangi layar ponselnya, menimbang-nimbang apakah akan menghubungi Jibyung atau tidak, akan menghubungi Jikyung atau tidak? Tapi kemudian namja itu hanya memukulkan ujung handphone ke kepalanya, setelah itu menyusupkan benda itu ke dalam saku celana, sambil kembali berjalan meninggalkan gedung SM untuk membeli makanan untuk para member yang menunggu di ruang latihan.

>>><<<

…Onew & Jibyung Apartment, 20.29…

[To : Jibyungie

Jibyung-ah, eodiya? Kita perlu bicara.]

Send…

Message sent…

Suara ketukan heels sepatu yang dikenakan Jikyung yang beradu dengan lantai terdengar setiap 2 detik sekali, di depan apartemen nomor 306 di lantai 3 itu. Sudah lebih dari setengah jam Jikyung hanya mondar-mandir di sana, dan Jikyung sudah menekan bel apartemen beberapa kali, bahkan berteriak-teriak di depan intercom untuk memastikan apakah Jibyung ada di dalam atau tidak. Karena itu tujuannya terus di sini adalah, antara menunggu pintu apartemen terbuka atau menunggu Jibyung pulang.

Jikyung yakin adik kembarnya itu masih marah terhadapnya, terlihat dari bagaimana Jibyung tidak pernah membalas pesannya selama ini, terdengar dari nada bicaranya yang ‘seadanya’ ketika dia—pada akhirnya—mau mengangkat telpon dari Jikyung beberapa hari yang lalu, dan terlihat dari Jibyung yang tidak pernah memberitahukan keberadaannya—kapanpun—selama beberapa hari ini. Wanita itu juga tidak pernah pulang ke rumah orang tua mereka sejak seminggu lalu.

Ini benar-benar membuat Jikyung tidak nyaman sekaligus khawatir. Tentu saja, berhubungan secanggung itu dengan keluargamu yang paling kau sayangi, apa tidak merasa cemas?

Apalagi Jibyung adalah saudara kembarnya, orang yang memiliki ikatan batin yang erat dengannya. Karena itu, Jikyung berusaha membuat Jibyung bertemu untuk menyelesaikan masalah ini, atau setidaknya membuat hubungan mereka tidak terlalu merenggang seolah saling berlainan.

***

Tiga jam berlalu.

Dengan kantuk yang sudah menggelayuti kelopak matanya, Jikyung mengangkat kepala dari lengannya yang bertumpu di atas lutut. Tatapannya yang sayu diarahkan pada jam yang melingkari pergelangan tangannya, yang kini menunjukkan waktu hampir tengah malam.

Setengah terkesiap, gadis itu bangun dari posisi duduknya di depan pintu apartemen, lalu kembali menekan bel apartemen beberapa kali, “Jibyung-ah! Kau sudah pulang? Kau ada di dalam?” serunya sambil sesekali mengecek ponselnya kalau-kalau ada balasan pesan dari Jibyung, lalu sekali lagi mencoba menghubunginya, namun malah tidak aktif.

“Jibyung-ah, buka pintunya! Jibyung-ah!

Hanya helaan napas yang bisa Jikyung keluarkan karena dia tidak melihat sedikit pun tanda-tanda pintu di depannya akan terbuka. Sepertinya Jibyung memang belum pulang. Atau mungkin sedang tidur.

Akhirnya gadis itu menurunkan tangannya dari bel dan menatap pintu tersebut, “Baiklah, aku akan kemari lagi besok.” gumamnya sambil membenahi kerutan di baju, kemudian berbalik dan melangkah hendak meninggalkan apartemen Jibyung. Namun langkahnya sempat beberapa kali terhenti karena ragu, tapi akhirnya dia mencoba menyugesti dirinya sendiri dan benar-benar meninggalkan gedung apartemen itu.

>>><<<

Next day, 7.30 am…

Sudah tiga malam terakhir ini Jibyung selalu pulang larut dalam keadaan lesu dan muntah-muntah keesokan harinya karena masuk angin.

Dia sengaja mengambil kerja lembur beberapa hari ini. Bukan tanpa alasan, selain agar pekerjaannya cepat selesai, Jibyung juga melakukannya untuk menyibukan diri karena alasan lain. Ya, walaupun tidak berhasil karena konsentrasinya itu seringkali terpecah jika Jikyung sudah mulai menjejali ponselnya dengan telpon dan pesan.

Jibyung sengaja menjauhkan diri untuk sementara dari Jikyung, dan menolak bicara dengannya. Selain karena masih merasa marah, Jibyung rasa dirinya masih membutuhkan waktu untuk menyembuhkan diri, memikirkan semuanya, juga menentukan harus bagaimana sikapnya jika sudah ketahuan seperti ini.

Minhyun—ibunya—bahkan tidak mengetahui masalah ini. Satu-satunya orang yang cukup sering menjadi tempat menampung luapan perasaan Jibyung—selama seminggu ini—adalah Junsu. Itu juga tidak semua Jibyung ungkapkan, asal sudah merasa lebih ringan, Jibyung akan berhenti bicara. Sedikit banyak dia bersyukur karena bisa mengenal orang seperti Junsu.

*

Setelah merasa sudah lebih baik, Jibyung segera membersihkan diri, beberapa saat kemudian keluar dari kamar mandi dengan wajah agak pucat dan mata sayu. Tapi karena merasa itu tidak parah, Jibyung memutuskan untuk tetap berangkat kerja hari ini.

>>><<<

Two days later, 3.09 pm…

“Ah!”

“Perhatikan langkahmu, dasar Tukang Melamun.”

Jikyung mendongak dengan tangan yang masih mengusap-usap ujung hidungnya yang menabrak tubuh seseorang dengan cukup keras. Dia menatap orang dengan pakaian tertutup itu selama beberapa saat, lalu tersenyum kecil karena mengenal aroma khasnya, “Onew-ya.

Onew terkekeh, “Aku baru akan menyusulmu barusan.”

“Ah, wae? Kau sudah lama menunggu, ya? Mianhae.

“Tidak, bukan masalah besar. Kajja!” Onew meraih pergelangan tangan Jikyung dan menariknya menuju ke sebuah cafetaria yang tidak jauh dari sana.

Mereka masuk ke tempat yang lengang tersebut, kemudian langsung menempati meja yang berada di sisi ruangan dan cukup jauh dari jendela. Setelah memesan makanan, atmosfir serius dan sunyi langsung terasa di antara keduanya.

“Aku tidak mengganggu pekerjaanmu, kan?” tanya Onew sambil menurunkan topi baseballnya.

Jikyung menggeleng kecil, “Aku tidak ada jadwal kerja hari ini.”

“Oh, keurae, baguslah.” senyuman kecil terukir di bibir Onew, “Ngomong-ngomong, kau sudah bertemu Jibyung?”

Lagi-lagi Jikyung menggeleng, dan dia harus menunda ucapannya dulu saat seorang pelayan datang mengantarkan makanan. Setelah sang pelayan wanita pergi, Jibyung mengeluarkan ponselnya dan berkata, “Kemarin lusa terakhir kali aku ke apartemennya. Aku mencoba menghubunginya, tapi tidak bisa, dan dia malah mengirim pesan ini.”

Onew mengambil ponsel Jikyung yang disodorkan padanya, memandangi layar ponsel itu dan wajah Jikyung yang tampak menatap kosong, secara bergantian. Namja itu kemudian membaca pesan yang dimaksud, dan desahan pelan tanpa sadar terhembus melalui mulutnya.

[From : Jibyungie

Jikyung-ah, mengertilah. Beri aku waktu sebentar lagi.]

“Kau sendiri, apa sudah sempat bertemu dengannya?” tanya Jikyung, menyadarkan Onew yang tahu-tahu sudah sibuk dengan pikirannya sendiri.

Onew mengembalikan ponsel Jikyung pada pemiliknya, lalu menggeleng sambil menopang dagu, “Tidak sempat. Untuk pertemuan ini saja aku harus mengemis dulu pada manager hyung.” katanya mencoba membuat suasana tidak terlalu serius.

“Hmm,” Jikyung tersenyum kecil, “bersantailah sedikit kalau begitu.” sebelah tangannya terulur untuk menepuk-nepuk pelan bahu Onew yang balas tersenyum lalu menyesap jus apelnya dengan pikiran yang kembali melayang.

“Jikyung-ah..” panggil Onew setelah beberapa saat hanya terdiam memperhatikan Jikyung yang tengah melahap cake-nya.

Ne?” gadis itu mengangkat kepalanya, tampak menunggu ucapan yang akan Onew lontarkan selanjutnya.

“Kau belum mengatakan pendapatmu tentang ini.”

Kedua alis Jikyung refleks bertaut tanda tak mengerti perkataan Onew. Melihat itu, Onew melanjutkan, “Kau ingin bagaimana?”

“…?”

Dibarengi helaan napas dalam, sebuah senyuman lagi tersungging di bibir Onew. Sebelah tangannya menangkup sebelah tangan Jibyung yang berada di atas meja. Jikyung diam saja sementara tatapan mereka enggan beralih dari manik mata masing-masing.

“Menurutmu, bagaimana jika aku.. mempertahankanmu?”

Jikyung bahkan tidak sempat mencerna perkataan Onew dengan baik, karena dalam sekejap mata sepasang tangan terulur mencengkram kerah baju Onew dan memaksa namja itu untuk berdiri, sehingga menimbulkan suara ribut dari kaki kursi yang diduduki Onew yang bergesekan dengan lantai.

Yaaa!” suara lain terdengar berusaha menghentikan perbuatan orang tersebut.

“Bodoh.” Orang itu mengumpat pelan sebelum melayangkan tinjunya tepat ke rahang Onew hingga leader SHINee itu tersungkur di lantai.

BUGH!

YA! Aish..”

***

“… jarang melihat Jinyoung hyung marah. Aku jadi penasaran bagaimana wajahnya ketika marah.” celoteh Taecyeon sambil menggigit besar roti plain bagel di tangannya, “Haruskah kita membuatnya marah saat hari ulang tahunnya nanti?” katanya lagi sambil terkekeh dan menoleh ke arah orang di hadapannya yang ternyata malah sibuk sendiri memperhatikan sesuatu yang berjarak cukup jauh dari tempat mereka.

Taecyeon mengikuti arah pandang Junsu dan hanya menemukan pasangan yang sedang mengobrol di sana. Tapi, tunggu. Mereka terlihat familiar.

Ya, Kim Junsu.” tegur Taecyeon karena melihat tatapan Junsu yang berubah tajam, “Hey, kau kenapa, sih?”

Sedikit terkejut yang dirasakan Taecyeon ketika Junsu berdiri dengan tiba-tiba dan mendekati objek yang diperhatikannya sejak tadi. Taecyeon bisa melihat bagaimana kedua telapak tangan Junsu mengepal dengan erat di samping tubuhnya, dan namja itu refleks berseru begitu Junsu mencengkram kerah baju leher seorang namja yang ternyata SHINee Onew, “Yaaa!

Baru saja Taecyeon mengangkat sedikit bokongnya dari kursi, sesuatu yang ditakutkannya sudah terjadi dengan sangat cepat. Satu pukulan Junsu melayang tepat mengenai wajah Onew, “YA! Aish..”

***

“Junsu oppa!

“Aish, kau membuat masalah, Kim Junsu.” dengus Taecyeon setengah kesal karena kini perhatian orang-orang—yang untungnya jumlahnya tidak banyak—tertuju pada mereka.

>>><<<

To Be Continue

A/N : Hehe.. *bow seribu kali*  no comment ._.v *kabur sebelum dihajar*

31 responses to “My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip 11

  1. jibyung kasian bgt
    akhir nta gimana ya
    happy ending ya chingu
    ironis bgt dihianati saudara kembar senduri
    aq jadi benci bgt ma jikyung dan onew

    • tenang aja, ending udah ada di kepala, tapi gatau bakalan happy atau sebaliknya *diinjek* kekeke
      jangan benci beneran, ya O_O *parno*

      btw, makasih udah RC ^^

  2. pokok nya onew msti d,kasih pelajaran!!!
    ko ad ya saudara yg sbegitu tega nya…
    kasian jibyung ;( hiks..
    ditunggu klnjutan nya min ..

  3. Pingback: My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip Twelve | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s