Innocence : Side Story of [Chan Yeol’s] Girl inside The Window

girls-inside-the-window

Credit Poster : Sasphire.wordpress.com

Title            : Girl inside The Window Side Story

Author       : fransiskanoorilfirdhausi /@fhayfransiska (soo ra park)

Genre         : Romance, Angst, Friendship

Length       : Oneshoot, but if you want to know this story well, you can read all ffs below😀

                   1stpart [Chan Yeol’s] Girl inside the Window

                   2nd part [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

                   3rd part [Kris’] Wedding Pain

                   4th part [Xiu Min’s] Oblivious Summer

                   5th part [D.O’s] Goodbye Tiramisu

                   6th part [Kai’s] Hum on Rainy Day

                   7th part [Chen’s] A Silent Love Song

                   8th part [Su Ho’s] Secret behind Her Eyes

                   9th part [Lu Han’s] Eternal Fullmoon

                   10th part [Lay’s] Unwanted

Another Side Story : Seo Rin’s Diary [Side Story of [Su Ho’s] Secret behind Her Eyes]

Cast            :

  • Park Chan Yeol
  • Lee Jin Ri (OC)
  • Byun Baek Hyun
  • Cho Sung Hee (OC)
  • Park Soo Ra (OC)

Recommended Song : Taeyeon – Missing You Like Crazy (sambil didengerin yah, kali aja feelnya dapet^^)

Allo readerdeul semuanya, author kembali dengan side story, kali ini dari uri rapper yang kece ini, Chan Yeol. ^^ sebenernya posternya udah minta bikinin ke sasphire saeng, tapi berhubung belum jadi n ga ada waktu lagi buat ngenet (soalnya saya mau liburan) akhirnya saya post pake poster yang lama. tapi ntar kalo udah jadi posternya bakal diganti kok ^^

This plot and OC are mine, but EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good reader please, don’t forget to give me oksigen (Read-Comment-Like)^^

________

            “Taman bermain!”

“Mall!”

“Perpustakaan!”

“Game Fantasia!”

Keempat anak manusia yang baru saja meneriakkan nama-nama tempat yang sama sekali berbeda itu sontak terdiam, kemudian saling melirik satu sama lain. Salah seorang dari mereka—yang berambut ikal dan bertubuh paling tinggi—menyikut pelan bahu temannya yang berdiri di sampingnya dengan muka kesal, “Ya! Baek Hyun ah, kita berdua kan baru saja bermain ke Game Fantasia kemarin, masa hari ini ke sana lagi!?”

Namja yang dipanggil Baek Hyun itu balas menyikut, “Ya! Yang lebih aneh itu dia! Liburan begini masa ingin pergi ke perpustakaan, aneh sekali!” sunggutnya sembari menunjuk ke arah seorang yeoja berpakaian sederhana.

Mendengar nada tidak senang yang dilontarkan Baek Hyun, yeoja bernama Jin Ri itu lantas mendelik. “Ya! Pergi ke perpustakaan itu menyenangkan, kau bisa dapat banyak hal dari buku-buku yang ada di sana. Dan tentu saja tidak menghabiskan uang seperti saat kita pergi ke Mall!” ucapnya sinis sembari melirik ke arah seorang yeoja berambut ikal dan modis yang berdiri di sampingnya.

“Kau menyindirku, Jin Ri eonni? Yang lebih aneh ya kekasihmu, Chan Yeol Oppa itu, masa panas-panas begini mengajak ke taman bermain? Memangnya kita anak kecil, apa!?”

“Sung Hee ya, kau meledekku?! Yang lebih aneh itu tunanganmu ini tahu!” balas Chan Yeol, namja yang bertubuh paling tinggi, sembari menoyor pelan kepala Baek Hyun.

Merasa mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, Baek Hyun lantas berjinjit dan menjewer telinga Chan Yeol, “Kau ini! Begini-begini aku lebih tua darimu tahu, mana sopan santunmu!?”

“Aduh sakit, Bacon!” keluh Chan Yeol sembari meringis menahan sakit.

“Panggil aku ‘Hyung’, baru aku lepaskan!”

“Tidak mau! Babi sepertimu mana cocok dipanggil Hyung!”

“Apa kau bilang Park Chan Yeol!?” ujar Baek Hyun dengan nada meninggi, tak urung ia memutar pelan telinga Chan Yeol yang kini memerah itu.

“Appo! Appo, Bacon!!” teriak Chan Yeol lagi.

“Panggil aku ..”

“YA! Berhenti bertengkar!!!!”

Baek Hyun sontak melepaskan jewerannya di telinga Chan Yeol begitu mendengar suara melengking Jin Ri yang memekakkan telinga. Dalam hati Chan Yeol sungguh berterima kasih pada Jin Ri, namja itu langsung mengusap-usap telinganya yang panas, aissh sialan kau Bacon, batinnya.

“Bagaimana kalau kita lakukan hom pim pah saja? Siapa yang menang ialah yang akan menentukan tempat yang akan kita berempat kunjungi nanti. Bagaimana?” kata Jin Ri bijak. Yeoja itu memang tergolong dewasa dibandingkan dengan tiga orang yang lain.

Mendengar saran Jin Ri, Chan Yeol langsung mengangguk, diikuti oleh Sung Hee. Baek Hyun mendengus, ia tidak setuju. Namun sebelum namja itu sempat memprotes, Chan Yeol telah menginjak kakinya cepat, membuatnya sontak mengaduh. Chan Yeol langsung memasang death glarenya, membuat Baek Hyun tidak bisa melakukan apa-apa selain mengalah dan mengangguk.

_________

            “Haaaaa… benar kan firasatku! Harusnya kita tidak perlu mengikuti saran Jin Ri untuk hom pim pah seperti itu! Apa akibatnya sekarang? Panas-panas begini malah datang ke perpustakaan, ini mimpi buruk namanya!” teriak Baek Hyun sembari memukul-mukul meja di sampingnya sebagai pelampiasan.

“Sst.. tidak bisakah kau tenang sebentar, Bacon? Aku sedang serius membaca tahu!”

Baek Hyun melirik ke arah Chan Yeol yang kini tengah serius membaca sebuah novel detektif yang cukup tebal, namja itu mendengus kemudian memalingkan mukanya. “Sejak kapan kau jadi suka membaca seperti itu, Yeol? Setahuku dulu kau jarang bahkan anti sekali membaca buku?”

Chan Yeol mengangkat wajahnya, tampak berpikir sejenak kemudian tersenyum, “Mungkin karena Jin Ri, yeoja itu banyak memberikan pengaruh padaku.” Chan Yeol melirik sekilas ke arah Baek Hyun, begitu melihat wajah tidak menyenangkan yang ditunjukkan Baek Hyun, Chan Yeol mengangkat kedua bahunya kemudian kembali memfokuskan pandangannya pada buku yang tengah ia baca.

Ada apa dengan Baek Hyun, kenapa namja itu terlihat begitu menyebalkan hari ini?

Selang beberapa waktu berlalu, Chan Yeol bangkit dari duduknya kemudian berjalan meninggalkan Baek Hyun. “Ya! Mau pergi ke mana kau Yeol?”

“Ssst!” ujar Chan Yeol sembari meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, ia lalu berjalan pelan ke arah rak buku. Sebuah kamera digital mungil kini berada di tangannya. Baek Hyun yang penasaran lantas mengikuti kemana namja berambut ikal itu pergi.

Chan Yeol melongokkan kepalanya dari balik rak, namja itu tersenyum begitu melihat Jin Ri tengah serius membaca sebuah buku. Yeoja itu duduk menghadap ke jendela yang tengah terbuka, membiarkan udara sejuk turut menemani kegiatan yang baginya sangat menyenangkan itu. Angin yang berhembus sanggup membuat rambut panjangnya sedikit berkibar, membuat pesonanya seakan tersibak, yeoja itu menyelipkan rambutnya ke balik telinga tanpa sedikitpun berpaling dari buku yang tengah di bacanya.

Dan entah kenapa sesuatu yang baru saja terjadi itu sanggup membuat dua orang namja yang diam-diam melihatnya itu terpana. Mungkin lebih tepatnya, terpesona. Sederhana, namun indah, begitulah yang kini memenuhi pikiran Chan Yeol dan Baek Hyun.

Chan Yeol yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu lantas mengarahkan kamera digitalnya ke arah Jin Ri, mengabadikan sosok yeoja yang selalu mampu membuatnya terpesona di kamera kesayangannya itu. Setelah puas ‘mencuri’ potret diri seorang Jin Ri, namja itu berjalan mendekati si yeoja dengan senyum sumringah di wajahnya.

Sementara sosok namja yang lain, yang kini tengah berdiri sembari bersandar di balik rak buku yang tinggi itu hanya bisa mendesah. Baek Hyun memejamkan kedua matanya, pemandangan yang baru saja ia lihat sanggup membuat hatinya perlahan terkoyak.

Tidak boleh, cinta seperti ini tidak boleh ada, katanya dalam hati.

________

            “Baiklah, aku dan Sung Hee akan pergi membeli es krim di kios depan sana. Kalian tunggu saja di sini, Baek Hyun kau cokelat seperti biasa bukan? Dan Jin Ri vanilla kan?”

Mendengar itu Baek Hyun dan Jin Ri hanya mengangguk, Chan Yeol memang hapal betul apa yang menjadi kesukaan mereka. Setelah Chan Yeol dan Sung Hee pergi, Baek Hyun dan Jin Ri hanya diliputi oleh kecanggungan. Keduanya sama-sama merasa kikuk untuk memulai suatu pembicaraan, Baek Hyun lantas hanya memainkan game di tabletnya semenatara Jin Ri kembali membaca buku.

Setelah selang beberapa waktu, Baek Hyun menghentikan permainan di tabletnya. Ia merasa bosan, sebenarnya selama ia bermain tadi otaknya sibuk memikirkan bahasan apa yang akan ia bicarakan dengan Jin Ri, sama sekali tidak fokus pada permainan yang tengah ia mainkan. Namun begitu Baek Hyun menoleh ke arah Jin Ri, alangkah terkejutnya ia begitu mendapati bahwa yeoja itu tengah tertidur. Tertidur dengan kepala menyamping di atas bukunya yang masih terbuka.

Baek Hyun menelan ludah kemudian beranjak dari kursinya yang berjarak tidak begitu jauh dari tempat Jin Ri berada sekarang. Namja itu berjalan pelan ke arah Jin Ri, ia menelusuri pemandangan di sekeliling mereka. Sepi, hanya ada segelintir orang yang sibuk membaca, Chan Yeol dan Sung Hee juga belum kembali. Baek Hyun berbalik kemudian menatap lekat-lekat setiap lekuk yang terpatri sempurna di wajah Jin Ri. Kini, yeoja itu terlihat begitu cantik bagi Baek Hyun.

Entah apa yang merasukinya sekarang, Baek Hyun dengan pelan merapikan sebagian rambut Jin Ri yang menutupi wajahnya, membuat wajah cantiknya tak lagi terhalangi. Namja itu menyelipkan rambut-rambut itu di belakang daun telinga Jin Ri. Baek Hyun menelan ludah, lagi. Tiba-tiba tubuhnya seakan bergerak dengan sendirinya, mengabaikan secuil kendali diri yang sedari tadi ia pertahankan. Sebuah kendali untuk tidak menyentuh Jin Ri.

Namun apa daya, rasa sesak di hatinya membuatnya tak sanggup lagi berpikir jernih. Baek Hyun mencondongkan tubuhnya, kemudian tanpa ragu ia mendaratkan sebuah kecupan di pipi mulus Jin Ri. Lama.

_________

            “Jin Ri-ya! Baek ..”

Tubuhnya menegang saat itu juga, tatapannya terpaku pada sesuatu yang mengejutkan yang baru sekian detik lalu ia lihat. Kedua tangannya sontak bergetar hebat, bahkan kini ia merasa perlu kekuatan ekstra untuk membuat dua buah es krim di tangannya itu tidak jatuh. Chan Yeol tidak melanjutkan kata-katanya, ia hanya terdiam dan memucat.

Oh Tuhan, apa yang baru saja ia lihat? Jangan bilang kalau ..

Namja itu tidak sanggup melanjutkan kata-kata di dalam batinnya sendiri, ia langsung berbalik pergi. Namun saking tegangnya ia sampai tidak memperhatikan jalan, tubuh tingginya menabrak seorang yeoja berambut ikal yang tadi pergi membeli es krim bersamanya, “Ya! Chan Yeol Oppa mau ke mana? Kenapa es krimnya tidak diberikan pada Jin Ri eonni?” pekik yeoja itu begitu melihat Chan Yeol masih memegang dua buah es krim yang tadi dibelinya.

Chan Yeol tidak menjawab, lidahnya kelu, bahkan untuk sekedar menjawab pertanyaan Sung Hee saja ia tidak sanggup. Tidak bisa.

“Oppa, kenapa kau pucat sekali?!” tanya Sung Hee dengan kedua alis terangkat, terselip nada khawatir dalam suaranya. Namun lagi-lagi Chan Yeol tak menjawab, ia malah langsung pergi dengan kepala tertunduk dan wajah kaku. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang.

__________

            Nomor yang anda hubungi sedang sibuk, silakan hubungi bebe…

Operator telepon itu belum sempat merampungkan kata-katanya, namun Baek Hyun dengan tidak sabar langsung menekan tombol ‘hentikan panggilan’ di ponselnya. Ia berdecak pelan, “Aisshh, ke mana perginya anak itu?! Sejak empat hari yang lalu ia tidak pernah menjawab teleponku!”

“Bagaimana kalau Oppa pergi saja ke rumah Chan Yeol Oppa?” saran Sung Hee, yeoja yang kini duduk di hadapan Baek Hyun sambil menyeruput jus lemonnya.

Baek Hyun mengacak rambutnya frustasi, “Sudah. Kemarin aku ke sana, namun ia tidak ada. Soo Ra bilang ia sedang pergi bersama Jin Ri.”

“Mungkin nomor ponselnya ganti ?”

Mendengar celetukan dari Sung Hee, Baek Hyun lantas terpekur. Kalau memang benar begitu, kenapa Chan Yeol sama sekali tidak mengabarinya? Sungguh aneh, tidak biasanya Chan Yeol begitu. Sebelum-sebelumnya kalau namja itu akan berganti nomor, pasti Baek Hyunlah yang pertama kali ia beritahu.

Baek Hyun menatap tidak minat pada spaghetti yang terhidang di mejanya, ia hanya menghela napas panjang. Ia khawatir. Sejak kepergian Chan Yeol yang tiba-tiba saat mereka tengah double date di perpustakaan empat hari lalu, sahabatnya itu tidak pernah menghubunginya lagi. Apa yang terjadi pada Chan Yeol? Apakah ia melihat apa yang Baek Hyun lakukan pada Jin Ri? Kalau memang benar begitu, bukankah ia seharusnya marah ataupun memukul Baek Hyun? Tidak hanya diam dan menghilang seperti itu.

Baek Hyun lantas mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari, hatinya kini dipenuhi rasa bersalah. Yeol, maafkan aku, gumamnya dalam hati.

________

            Jin Ri melangkahkan kakinya cepat, berusaha mensejajarkan langkahnya dengan namjachingunya yang kini berjalan cukup jauh di depannya. Yeoja itu masih tidak habis pikir dengan sikap namjanya yang aneh belakangan ini. Chan Yeol seringkali terlihat melamun begitu mereka berdua tengah bersama, namja itu juga tak jarang memandangi Jin Ri dengan tatapan menyelidik. Dan hari ini seakan belum puas membuat Jin Ri cemas, Chan Yeol sama sekali tidak menggubris ocehan Jin Ri dan memilih untuk berjalan jauh-jauh dari yeojanya itu.

“Ya, Yeol ah! Tunggu!” kata Jin Ri setengah berteriak. Jin Ri meraih lengan Chan Yeol cepat, membuat langkah namja itu terhenti dan berbalik ke arahnya. Kedua alis namja itu berkerut tidak suka, sedetik kemudian ia menepis tangan Jin Ri.

“Yeol ah, waeyo!?” teriak Jin Ri kesal. Ia sungguh merasa sakit hati begitu Chan Yeol menepis tangannya. “Kalau memang ada masalah, jangan hanya diam saja seperti itu. Ceritakan saja padaku, mungkin aku bisa membantumu.”

Chan Yeol hanya tersenyum singkat, kemudian ia memperdekat jaraknya dengan Jin Ri, membuat Jin Ri yang terkejut reflek menjauh. Melihat respon yang ditunjukkan Jin Ri, Chan Yeol mendengus dan langsung memalingkan muka.

“Yeol ah, wae..”

Ucapan Jin Ri terhenti begitu Chan Yeol menarik tangannya kasar, membawanya setengah berlari menembus kerumunan, menghiraukan tubuh keduanya yang tak jarang saling bertabrakan dengan pejalan kaki yang lain. Jin Ri berteriak kesal dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Chan Yeol, namun sayangnya namja itu malah semakin memperat genggamannya, membuat usaha Jin Ri sia-sia.

Langkah Chan Yeol melambat, sementara Jin Ri yang sedari tadi turut berlari mendapati napasnya terengah-engah. Keduanya kini tengah berada di sebuah gang sempit yang sangat sepi, di sekeliling hanya terlihat tembok-tembok rumah yang tinggi. Ada apa gerangan Chan Yeol membawa Jin Ri ke tempat seperti ini?

“Chan Yeol ah, apa yang ..”

Lagi, belum sempat Jin Ri menyelesaikan apa yang ingin ia ucapkan, Chan Yeol telah memotongnya, kali ini dengan sebuah tindakan di luar perkiraan Jin Ri. Chan Yeol mendorong tubuh Jin Ri ke dinding, cukup keras dan mampu membuat yeoja itu meringis kesakitan. Kemudian dalam hitungan detik, namja itu mengunci Jin Ri dengan kedua tangannya.

Jin Ri tersentak begitu Chan Yeol tiba-tiba mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung keduanya nyaris bersentuhan, sebelumnya mereka belum pernah sedekat ini. Sekujur tubuh Jin Ri langsung menegang dan jantungnya berdegup tidak karuan. Ia menahan napas. Oh Tuhan, apa yang akan Chan Yeol lakukan padanya?

Chan Yeol mulai memperdekat jaraknya. Namun tepat sebelum namja itu bermaksud mendaratkan bibirnya di bibir Jin Ri, yeoja itu telah lebih dulu memalingkan muka. Chan Yeol mendengus, reflek yang terlalu sempurna. Kini ia dapat melihat dengan jelas wajah Jin Ri yang tampak ketakutan, wajah yang sanggup membuat hatinya teriris. Kenapa yeoja itu memasang wajah ketakutan begitu ia ingin menciumnya? Bukankah hal itu lumrah dilakukan oleh sepasang kekasih seperti mereka?

Lalu apa maksudnya pemandangan yang ia lihat satu minggu lalu?

“Ye.. Yeol ah, kita terlalu dekat. A.. aku ..” Jin Ri berucap dengan terbata-bata.

“Diam!” bentak Chan Yeol, Jin Ri terperanjat dibuatnya. Namja itu lantas berkata sembari menatap Jin Ri dengan pandangan marah, “Kenapa menolakku? Kenapa menolak ciuman dariku, Jin Ri ya!?”

Jin Ri terlihat menggigit bibir, tubuhnya kini bergetar hebat, ia tidak pernah melihat Chan Yeol semarah ini sebelumnya, tidak, ia bahkan belum pernah melihat namja itu marah. Dan kali ini, kemarahan namja itu benar-benar mampu membuat dirinya ketakutan. “A .. aku..”

“Lalu saat itu kenapa kau berciuman dengan Baek Hyun!?” teriak Chan Yeol.

Jin Ri sontak terbelalak, alisnya berkerut, tidak paham. “Apa? Aku dengan Baek Hyun?”

“Tidak usah naïf! Katakan saja yang sebenarnya kalau kau menyukai Baek Hyun, Jin Ri ya!” Chan Yeol bersikeras memaksa. Ia memukul dinding dengan kepalan tangannya, tidak peduli kalau hal itu membuatnya sakit.

“Aku tidak menyukai Baek Hyun, Yeol ah! Aku juga tidak pernah berciuman dengannya!”

Chan Yeol hanya tersenyum sinis, “Tidak usah berbohong! Selama ini kau selalu menolak apabila aku memanggilmu ‘chagiya’, kau juga selalu menjauh apabila aku berada sangat dekat denganmu, baru saja kau juga menolak ciumanku, kan? Apalagi yang bisa aku simpulkan selain fakta bahwa kau menyukai Baek Hyun!?”

Jin Ri memandang Chan Yeol dengan tatapan tidak percaya, kenapa Chan Yeol bisa berpikir dirinya seperti itu? “Chan Yeol ah, kau harus percaya padaku!”

“Kau.. kau mau menjadi kekasihku hanya karena kasihan, kan?”

“Mwo?”

“Katakan saja yang sejujurnya!” teriak Chan Yeol lagi sembari mengguncang tubuh Jin Ri keras. “Katakan kalau kau terpaksa menyukaiku!”

Mulut Jin Ri terbuka lebar. Sungguh, ada apa dengan Chan Yeol hari ini? Genangan air mulai muncul di mata Jin Ri, ia benar-benar sakit hati akan sikap Chan Yeol padanya. Kenapa Chan Yeol bisa berpikir kalau ia berselingkuh, kalau ia menyukai namja lain? Kenapa namja itu sama sekali tidak memercayainya?

Jin Ri lantas berkata lirih sembari menahan tangis,“Chan Yeol ah, kau harus ..”

“Cukup.” potong Chan Yeol. Namja itu lalu menghela napas panjang, kemudian mengucapkan sebaris kata yang sesungguhnya benar-benar berat ia ucapkan, “Kita putus saja.”

Seusai mengucapkan kata-kata yang singkat namun menyakitkan itu, Chan Yeol beranjak meninggalkan Jin Ri dengan langkah berat. Sementara Jin Ri hanya bisa terdiam mematung, masih berusaha mencerna apa yang baru saja Chan Yeol ucapkan. Kedua lututnya lemas seketika dan ia jatuh terduduk di aspal, sebelah tangannya terangkat ke dada dan air matanya pun mengalir tanpa diminta.

Sakit.

________

            Yeoja itu mengetuk-ngetuk telenan di hadapannya sembari mengerutkan alis.  Kemudian dengan ragu ia meraih sebuah wortel yang tersimpan rapi di kulkas, meletakkannya di atas telenan lalu mulai memotongnya dengan sangat hati-hati. Sembari melakukan aktifitasnya itu, ia bergumam pelan, “Awas kau Do Kyung Soo, akan kubuat kau menarik kata-katamu sendiri!”

Yeoja itu lantas tersenyum senang, “Akan kubuat kau percaya kalau aku juga bisa memasak! Soo Ra hwaiting!” teriaknya sembari mengacungkan pisaunya tinggi ke udara.

“Ya! Apa yang kau lakukan!?”

Soo Ra, nama yeoja itu langsung berbalik ke arah seseorang yang baru saja berteriak padanya. Didapatinya kini kakak laki-lakinya, Chan Yeol, tengah memandangnya heran. Soo Ra terkekeh, “Aniya, Oppa. Aku hanya ..”

Chan Yeol menaikkan kedua alisnya begitu Soo Ra tiba-tiba diam dan tidak melanjutkan kata-katanya, “Ada apa?”

Raut wajah Soo Ra perlahan berubah, ia berlari mendekati Chan Yeol dan langsung meletakkan tangannya di dahi Chan Yeol. “Gwenchanayo Oppa? Kenapa kau pucat sekali?”

Dengan segera Chan Yeol menggeleng, berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan adik bungsunya itu, “Aku tidak apa-apa. Hanya kurang istirahat saja.” katanya dengan senyum dipaksakan.

Soo Ra menyipitkan matanya, tanda bahwa ia tidak percaya dengan perkataan Chan Yeol. Guna menghindari pertanyaan macam-macam yang mungkin saja terlontar dari Soo Ra, Chan Yeol bergegas pergi meninggalkan yeoja itu dan berjalan cepat menuju kamarnya di lantai dua.

“Ya, Oppa!”

Chan Yeol hendak menutup pintu kamarnya, namun kemudian ia mengurungkan niatnya dan berjalan mendekati pagar pembatas. Ia berkata lantang pada Soo Ra yang berada di lantai dasar, “Kalau Baek Hyun datang lagi, bilang saja kalau aku tidak ada di rumah, Soo Ra ya!”

“Mwo!? Ya Oppa!?” Belum sempat Soo Ra melontarkan protesnya, Chan Yeol buru-buru kembali ke kamarnya, membuat yeoja itu lantas berdecak kesal. Haruskah ia berbohong lagi? Dan masalahnya adalah apakah Baek Hyun akan percaya padanya begitu saja seperti hari-hari sebelum-sebelumnya?

Dan yang paling penting, apa yang sebenarnya terjadi dengan kakaknya dan Baek Hyun?

Ting Tong!

Soo Ra belum sempat kembali ke dapur ketika bel rumahnya berbunyi. Tidak ada orang lain selain ia dan kakaknya di rumah ini, mau tidak mau ialah yang harus membukakan pintu. Sembari menggerutu lirih, yeoja itu membuka pintu. Dan alangkah terkejutnya ia begitu mendapati seseorang yang berdiri di balik pintu adalah … Baek Hyun?

“Ba .. Baek Hyun Oppa?”

Namja bermata sipit bernama asli Byun Baek Hyun itu tersenyum, “Aku ingin bertemu Chan Yeol.” katanya sembari melangkah memasuki rumah Chan Yeol, namun Soo Ra menghadangnya.

“Oppa sedang tidak ada di rumah.”

Kedua bahu Baek Hyun terangkat, seakan tidak mau tahu—atau mungkin tidak percaya—dengan ucapan Soo Ra. Dan lagi, ia berusaha menerobos pertahanan yang dibuat Soo Ra.

“Kenapa tidak percaya padaku?” gerutu Soo Ra sembari tetap menghadang Baek Hyun.

Baek Hyun mendesah kemudian menggeleng pelan, “Soo Ra ya, aku tahu sekali, kakakmu ada di dalam. Terserah ia enggan menemuiku atau tidak, yang terpenting sekarang adalah aku harus bertemu dan bicara dengannya. Ini penting!”

“Tapi …”

“Soo Ra ya, kau pasti juga khawatir dengan kakakmu yang aneh belakangan ini kan? Kau pasti bertanya-tanya ada apa dengannya, iya bukan?”

Soo Ra hanya terpekur mendengar pertanyaan Baek Hyun. Namun dalam hati, ia membenarkan apa yang diucapkan namja itu. Ia sendiri sebenarnya bertanya-tanya, kenapa kakaknya terlihat murung belakangan ini. Namja itu juga kerap kali kedapatan melamun dan melalaikan waktu makannya, mungkinkah itu semua ada hubungannya dengan Baek Hyun?

“Kalau begitu, biarlah aku menemuinya. Biarlah masalah ini cepat selesai.” tegas Baek Hyun sembari menerobos masuk, kali ini tanpa adanya halangan.

_________

            Pelipisnya berdenyut-denyut, napasnya terputus-putus dan kepalanya terasa berat. Tubuhnya lemas dan tidak mampu bertahan untuk tetap berdiri, membuat tubuh tinggi itu terhempas dengan keras ke kasur. Chan Yeol sedang memijit pelipisnya ketika memori yang baru saja terjadi beberapa jam lalu terputar ulang di benaknya. Oh Tuhan, kenapa ia harus mengatakan itu, mengapa harus kata-kata terkutuk itu yang keluar dari mulutnya?

“Kita putus saja.”

            Dalam sekejap mata, kepala Chan Yeol seperti dihantam sesuatu, sakit sekali. Namja itu menggigit bibirnya keras kemudian mengacak rambutnya frustasi. Dan kenapa dadanya kini turut terasa sesak, bukankah ini terlalu berlebihan, bukankah sakit ini tidak seharusnya ia rasakan? Yeoja itu telah mengkhianatinya, dan Chan Yeol lah yang memutuskan hubungan mereka. Tapi kenapa justru ia yang harus merasakan sakit yang begini sangat?

Ini tidak adil. Kenapa harus selalu ia yang sakit?

Tiba-tiba pintu kamar Chan Yeol dibuka dari luar, terdengar decitan pelan ketika ujung pintu beradu dengan lantai. Sesosok yang tidak lagi asing dengan suasana kamar itu perlahan masuk, ia langsung terlonjak begitu melihat yang Chan Yeol tampak begitu kacau.

“Yeol ah!” teriaknya khawatir.

Chan Yeol menoleh cepat dengan pandangan tajam dan menusuk, membuat seseorang itu sontak terdiam membeku. Dengan tiba-tiba, lengan Chan Yeol terangkat dan meninju rahang seseorang itu, membuatnya yang sama sekali tidak menyiapkan pertahanan terbanting dengan keras ke lantai.

“Baek Hyun ah ..” Chan Yeol menyebutkan nama seseorang itu sembari terengah-engah. “Mau apa lagi kau kemari?”

Baek Hyun meringis pelan begitu menyadari kalau tubuhnya yang membentur lantai terasa sakit, ia mengusap ujung bibirnya yang berdarah kemudian menatap Chan Yeol yang kini sedang kalap. Ia berusaha bangkit dengan susah payah, “Ada yang ingin aku bicarakan.”

Napas Chan Yeol masih terputus-putus dan tangannya mengepal erat, namja itu tengah berusaha keras mengontrol emosinya. Entah kenapa begitu melihat Baek Hyun, pikirannya langsung melayang pada kejadian satu minggu lalu, kejadian di perpustakaan itu. Kejadian yang mampu membuatnya hatinya terasa sakit dan hilang kendali.

“Ini soal Jin Ri.” Baek Hyun mengela napas, “Apa yang kau lihat minggu lalu itu..”

BRAAKKK!

Tubuh Baek Hyun membentur lemari kayu dengan keras, Chan Yeol baru saja mendorongnya dengan kasar. Kemudian tanpa sedikitpun membiarkan Baek Hyun melanjutkan perkataannya yang terputus, Chan Yeol telah menarik kerah baju Baek Hyun dengan kasar.

“Apa!? Apalagi yang mau kau katakan, hah!? Kau menyukai Jin Ri, benar bukan!? Katakan saja yang sebenarnya!” teriak Chan Yeol dengan tidak sabar.

“Yeol ah! Biarkan aku selesai bicara!” balas Baek Hyun sembari memukul tangan Chan Yeol yang masih mencengkeram kerah bajunya.

Seakan mengabaikan permintaan Baek Hyun, Chan Yeol malah semakin mengeratkan cengkeramannya, “Sudah! Katakan saja yang sebenarnya sekarang, Byun Baek Hyun!”

“Dengarkan apa kataku du ..”

“Sudah aku bilang katakan saja!” teriak Chan Yeol tepat di muka Baek Hyun.

“YA! Aku memang menyukai Jin Ri! Aku mencintainya, Yeol!”

Detik itu juga, cengkeraman Chan Yeol di kerah baju Baek Hyun terlepas. Kini kedua matanya membulat sempurna. Apa katanya? Ia tidak salah dengar bukan?

Jauh di sudut hatinya Chan Yeol masih berharap akan adanya secuil kebohongan di sepasang mata sipit milik Baek Hyun, namun sayangnya tidak ada. Baek Hyun berkata dengan penuh keyakinan, semua tergambar jelas di raut wajahnya. Kepala Chan Yeol langsung tertunduk, ia melangkah mundur kemudian mendudukkan dirinya yang masih terkejut di atas kasur.

Di tengah keheningan yang melanda keduanya, terdengar derap langkah tergesa-gesa menaiki tangga. “Chan Yeol Oppa, Baek Hyun Oppa, apa yang terjadi?!” teriak Soo Ra, si pemilik suara dengan nada cemas yang terdengar jelas. Nampaknya yeoja itu mendengar pertengkaran antara Chan Yeol dan Baek Hyun baru saja.

Dengan langkah cepat, Chan Yeol langsung menutup pintu kamarnya kemudian menguncinya. Baek Hyun yang melihat itu hanya bisa terpana. “Ke .. kenapa?”

“Masalah kita belum selesai.” Kata Chan Yeol dingin.

“Oppa! Buka pintunya, apa yang terjadi?!” teriak Soo Ra dari luar kamar, yeoja itu menggedor-gedor pintu kamar kakaknya, yeoja itu kelihatan benar-benar khawatir.

Namja bertubuh tinggi bernama Chan Yeol itu lantas berbalik, sama sekali tidak menghiraukan teriakan dari adik yeojanya. Ia hanya memandang Baek Hyun dengan tatapan dingin, lalu berjalan pelan mendekati jendela kamarnya. Menatap jalanan yang terlihat sembari memunggungi Baek Hyun. “Jelaskan padaku. Semuanya.”

Baek Hyun benar-benar merasa tidak enak hati, kali ini Chan Yeol benar-benar bertindak di luar dugaannya dan hal itu sanggup membuatnya khawatir. Jujur, selama ini mereka tidak pernah bertengkar begini hebat. Chan Yeol juga tidak pernah terlihat se-frustasi itu. Mungkin apa kata orang-orang memang benar, cinta bisa merubah seseorang, cinta bahkan bisa membuat kita melakukan bahkan hal gila sekalipun.

Baek Hyun mendesah, ia harus mengatakannya. Karena bagaimanapun juga, ini memang salahnya. Bukan salah Chan Yeol maupun Jin Ri, ini salahnya, salahnya karena menyukai Jin Ri, yeojachingu dari sahabatnya sendiri.

“Entah sejak kapan perasaan ini muncul. Yang jelas, aku selalu merasakan dadaku sesak begitu melihatmu berdua dengan Jin Ri. Aku juga selalu mengundur upacara pertunanganku dengan Sung Hee, alasannya tidak lain tidak bukan adalah karena aku menyukai Jin Ri.”

Kedua tangan Chan Yeol terkepal erat, kata-kata Baek Hyun bagai jarum yang menusuk setiap sel di tubuhnya.

“Maafkan aku, Yeol. Aku tahu, aku tidak seharusnya memiliki perasaan ini.” Baek Hyun berujar lirih, ia lalu berjalan mendekati Chan Yeol dan berdiri di samping namja itu. “Di perpustakaan itu, aku tidak bisa mengendalikan diriku. Jin Ri yang tengah tertidur seperti itu terlihat benar-benar cantik dan aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak …” Baek Hyun mendesah pelan, terlihat sedikit ragu untuk mengatakannya, “Menciumnya.” lanjutnya kemudian.

Lewat sudut matanya Baek Hyun dapat melihat Chan Yeol yang kini menatapnya tidak percaya. Ia lantas menunduk, enggan menatap wajah sahabatnya yang masih meminta penjelasan itu. “Maafkan aku. Maaf.”

Chan Yeol tetap bergeming, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Semua fakta yang keluar dari mulut Baek Hyun bagaikan ribuan jarum yang menusuk setiap sel di tubuhnya, membuatnya tidak mampu bergerak dan berujar.

Kepala Chan Yeol kembali terasa sakit, matanya berkunang-kunang, lalu dengan cepat ia meletakkan kedua tangannya di meja. Berusaha menopang tubuhnya yang mulai limbung. Oh, apakah penyakitnya kambuh?

Baek Hyun yang masih belum menyadari keadaan Chan Yeol lantas kembali berujar. “Aku akan pergi ke New York.”

“A..apa?” tanya Chan Yeol di sela-sela kesadarannya yang mulai menipis. Ia masih berusaha memfokuskan dirinya pada apa yang akan Baek Hyun ucapkan.

“Aku akan meneruskan usaha keluarga Cho yang memiliki cabang di New York. Sebentar lagi aku juga akan menikah dengan Sung Hee.” Baek Hyun tersenyum, kemudian mengangkat wajahnya. Ia menaikkan kedua alisnya begitu melihat Chan Yeol tengah memijit-mijit pelipisnya, seperti menahan sakit, “Yeol, gwenchana?”

“Gwenchana.” kata Chan Yeol cepat, ia menepis pelan tangan Baek Hyun yang hendak meletakkan tangannya di dahinya. Sahabatnya itu tidak boleh tahu kalau suhu tubuhnya tengah naik drastis sekarang. “Teruskan saja ceritamu.”

Baek Hyun menyerah, ia mulai melanjutkan, “Aku juga pasti akan melupakan Jin Ri.” Namja itu kemudian tersenyum sendu, “Mungkin aku akan menetap di New York. Dan seiring berjalannya waktu, aku pasti akan melupakan Jin Ri. Percayalah Yeol.”

Chan Yeol hanya bisa ternganga. Tunggu, Baek Hyun akan menetap di New York? Itu artinya … mereka tidak akan bersama lagi?

Melihat sorot mata Chan Yeol yang berubah, Baek Hyun lantas mendekat kemudian menepuk pelan lengan sahabatnya itu. “Bagaimanapun juga persahabatan kita tidak boleh berubah. Selama ini, kau dan aku telah berjalan bersama-sama. Dan suatu hari pasti ada saat di mana kita harus punya jalan masing-masing, aku akan berada di New York bersama Sung Hee. Kau akan berada di sini bersama Jin Ri.”

Baek Hyun tersenyum, sementara Chan Yeol masih belum menemukan kata-katanya, ia terlalu terkejut. Baek Hyun lalu meringis pelan, “Tidak usah khawatir, aku pasti akan sering-sering menghubungimu. Kalau ada cuti, aku pasti akan pulang ke Seoul.”

“Tolong jaga Jin Ri.” tambahnya kemudian. “Dan tidak perlu cemas, namja yang disukai Jin Ri hanyalah dirimu. Percayalah padaku.” kata Baek Hyun sembari mengulum senyum tulus.

“Sekali lagi, maafkan aku, Yeol.”

Suasana kamar itu kini berubah, yang semula mencekam menjadi hangat. Chan Yeol sendiri hanya diam dan menatap nanar punggung Baek Hyun yang berjalan menjauh menuju pintu kamarnya. Hingga pintu kamarnya tertutup kembali dan Baek Hyun telah menghilang dari pandangan, Chan Yeol baru bisa mencerna semua yang baru saja dikatakan Baek Hyun.

_________

            Four days later…

Ponsel yang berada di samping tempat tidur Chan Yeol bergetar, memaksa si empunya itu untuk bangun dari tidur siangnya. Dengan asal namja itu meraih ponselnya, ia menguap pelan dan mengucek kedua matanya, kemudian memfokuskan pandangannya pada ponselnya. Kedua alisnya terangkat begitu mendapati sebuah nama yang tidak asing lagi di otaknya kini tertera di layar ponselnya.

Lee Jin Ri.

Yeoja itu berusaha menghubungi Chan Yeol, namun anehnya namja itu hanya memandangi layar ponselnya tanpa berkedip. Setelah menghela napas panjangnya, Chan Yeol langsung menekan tombol ‘tolak’. Namja itu lalu meletakkan ponselnya jauh-jauh dari tempat tidurnya, sementara dirinya kembali merebahkan tubuhnya ke kasur. Bermaksud untuk kembali melanjutkan tidurnya.

Belum lama ia menutup mata, ponselnya kembali bergetar. Namun kendala itu masih berusaha ia hiraukan, Chan Yeol menutup erat kedua matanya dan memaksakan diri untuk kembali tidur. Tapi jauh di sudut hatinya, ia benar-benar penasaran dengan apa yang ingin Jin Ri sampaikan. Yeoja itu sampai meneleponnya berkali-kali, itu artinya pasti ada suatu hal penting dan mendesak yang ingin ia katakan.

Setelah bergumul lama dengan pikirannya sendiri, Chan Yeol menyerah. Ternyata rasa penasarannya benar-benar mencapai tingkat akhir kali ini, membuatnya segera bangkit dari tempat tidurnya kemudian meraih ponselnya cepat.

7 missed calls, 3 new messages.

Dengan hati-hati, namja itu membuka satu per satu pesan yang masuk ke ponselnya. Dua dari Jin Ri dan sisa satunya lagi dari Baek Hyun.

From : Bacon

Aku akan berangkat hari ini Yeol, doakan aku ya (^^)/

Sebenarnya aku sudah memaksa dan memohon dengan sangat untuk pergi ke New York selain menggunakan pesawat, namun sepertinya kali ini aku harus mengalah. Entah aku masih bisa hidup atau tidak sesampainya di sana, yang jelas sebisa mungkin aku menghindari yang namanya naik pesawat!

Dan ingat, saat aku kembali ke Seoul tapi kau belum juga menikah dengan Jin Ri, jangan harap kau bisa hidup damai dengan kedua kaki panjangmu itu! Haha.

Seulas senyum tipis muncul di wajah Chan Yeol. Dasar, katanya dalam hati.

Chan Yeol membuka dua pesan yang lain, pesan dari Jin Ri.

From : Jin Ri

            Yeol ah, Baek Hyun akan berangkat ke New York hari ini. Kau tidak berniat mengantarnya?

            Tolong angkat teleponku!

            Chan Yeol mendengus, yeoja itu menghubunginya karena Baek Hyun? Namja itu lantas tersenyum sinis kemudian mulai membaca pesan yang lebih baru dengan malas.

From : Jin Ri

            Yeol ah, kalau kau memang tidak percaya padaku lagi. Tolong, untuk kali ini saja, penuhi satu-satunya permintaanku, percayalah padaku.

            Percayalah, kalau aku masih gadis dalam jendelamu yang dulu.

            Chan Yeol tertegun kemudian menelan ludahnya dengan susah payah. Ia lalu beringsut dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah jendela kamarnya, namja itu menyibakkan tirai dan mendapati dirinya menahan napas. Yeoja itu, yeoja itu ada di sana.

Seperti biasa, dengan pakaian sederhana dan sebuah buku di tangannya. Yeoja itu ada di sana, di bangku taman yang berada di seberang rumah Chan Yeol. Duduk tenang tanpa menghiraukan kendaraan yang berlalu lalang di depannya, tak terusik sedikitpun.

Kini semuanya seperti kembali ke awal, kembali ke saat-saat pertama Chan Yeol mendapati dirinya berdebar begitu melihat Jin Ri lewat jendela itu. Dan tidak bisa dipungkiri, kali inipun dadanya masih saja bergemuruh. Benar, ia masih terlalu mencintainya. Mencintai yeoja itu.

Chan Yeol mengangkat sebelah tangannya, menyentuh permukaan kaca jendelanya, seakan-akan ia ingin menyentuh objek yang asli. Namun sesaat kemudian ia menggeleng dan berjalan menjauhi jendela kamarnya. Tidak bisa, tubuh dan hatinya menolak. Menolak untuk berlari dan menemui yeoja itu.

Namja berambut ikal itu menutup kedua matanya kemudian merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Ia berharap, ketika ia bangun nanti, gadis dalam jendelanya itu telah pergi. Ya, ia harap begitu.

________

            Jam telah menunjukkan pukul tujuh malam dan Chan Yeol baru terjaga dari tidurnya. Ia beringsut turun dari tempat tidurnya, merenggangkan otot-ototnya disertai dengan menguap lirih. Perutnya kini benar-benar lapar, mungkin karena terlalu banyak tidur, ya, bahkan tidur saja menghabiskan energi.

Chan Yeol bermaksud keluar dari kamarnya untuk membuat makanan, namun sebelum itu ia sempatkan melirik jendela kamarnya sebentar. Ia mendesah panjang, seakan menyerah lalu berjalan mendekati jendela kamarnya itu.

Kedua matanya sontak membulat lebar, yeoja itu.. yeoja itu masih berada di sana. Masih duduk di kursi taman itu. Oh Tuhan, apa maksudnya ini? Apa yeoja itu benar-benar berniat menunggunya sampai ia keluar?

Chan Yeol menggigit bibirnya keras, ia lantas berbalik badan, enggan menatap lama-lama sosok itu. “Biarkan saja.” gumamnya lirih dan berat.

________

            Chan Yeol mengaduk ramyunnya perlahan. Meskipun perutnya benar-benar kelaparan, namun anehnya namja itu tak segera memasukkan ramyun-ramyun panas itu ke dalam mulutnya. Jelas saja, pikirannya sekarang sedang berada di tempat lain. Selama memasak tadi pun pikirannya dipenuhi oleh suatu hal membuat hatinya cemas, membuatnya berkali-kali menumpahkan air, salah memasukkan bumbu, bahkan menyalakan kompor bukan di tempat ia meletakkan panci ramyunnya.

Chan Yeol tersentak begitu suara rintik-rintik hujan tiba-tiba terdengar, menimbulkan denting-denting halus di permukaan genting rumahnya. Setelah lama terdiam dan berpikir, ia bergumam sendiri, “Hujan-hujan begini, ia pasti akan pulang. Hanya orang bodoh yang akan terus menunggu di udara sedingin ini.”

Sebelum ramyun di hadapannya mendingin, Chan Yeol dengan segera menyantapnya, tidak ingin membiarkan perutnya kelaparan lebih lama. Lumayan juga untuk sekedar menghangatkan badannya yang memang mulai kedinginan karena hujan di luar sana. Namun baru beberapa kali suapan, ia menghentikan acara makannya itu. Entah kenapa rasanya menjadi begitu hambar, padahal tidak biasanya ramyun instan kesukaannya itu ia sia-siakan begitu saja.

Karena resah, namja itu lantas berlari mendekati jendela kamarnya. Hati Chan Yeol mencelos begitu melihat objek itu tetap tak berubah, yeoja itu masih di sana. Masih duduk dengan tubuhnya yang kini basah kuyub, yeoja itu tampak kedinginan dan menggigil, ia memeluk erat tubuhnya sendiri.

Kenapa ia tidak pergi? Kenapa tetap di sana?

Chan Yeol menunduk, separuh hatinya ingin berlari kemudian memeluk dan menghangatkan yeoja itu, namun separuh hatinya yang lain menentang keras. Bukankah ia telah mengakhiri semuanya, yang harus ia hadapi sekarang adalah menghindari yeoja itu bukan? Dengan begitu ia tidak perlu lagi dibayangi perasaan takut kalau yeoja itu akan mengatakan bahwa ia benar mencintai Baek Hyun, tidak perlu khawatir jika yeoja itu mengatakan bahwa ia berpacaran dengan Chan Yeol karena terpaksa. Chan Yeol juga tidak perlu merasa lagi merasa sakit. Benar begitu kan?

Benar. Benar. Benar. Benar …

Tapi … benarkah ?

Namja itu mengalihkan pandangannya, kemudian berbalik dan duduk kembali di meja belajarnya. Ia hanya menatap tidak minat pada semangkuk ramyun yang tidak lagi mengepulkan asap itu, tanda bahwa makanan itu sudah mendingin, selaras dengan cuaca kala itu.

“Aku bersyukur mengenal dirimu.”

“Yeol ssi, aku tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tidak menyukai Baek Hyun seperti yang kau pikirkan.”

Chan Yeol mengerjapkan matanya, berusaha agar sepasang matanya tidak berair. Semua perkataan Jin Ri terputar ulang di benaknya, setiap perkataan yang mampu membuat hatinya terasa aneh dan mungkin … hangat?

Chan Yeol menggebrak mejanya keras, kemudian tanpa mau berpikir apa-apa lagi namja itu segera beranjak. Ke tempat di mana hatinya kini berlabuh.

_________

            Udara malam yang dingin berhasil membuatnya menggigil, ditambah dengan tetes-tetes hujan yang terasa bagai ribuan jarum tajam yang turut menusuk tubuhnya, menambah rasa ngilu di sekujur tubuh kurusnya. Yeoja itu memeluk tubuhnya sendiri sambil sesekali mengusap-usapkan kedua tangannya, sedikit berharap rasa hangat akan muncul dari gesekan lembut yang ia buat.

Hari sudah semakin malam, namun hujan masih saja enggan berhenti, bahkan berkurang sedikitpun tidak. Namun entah apa yang membuat yeoja itu tetap berdiam dan duduk di sana, padahal tubuhnya hampir membeku seperti itu. Yang pasti adalah ia akan tetap menunggu sampai ‘seseorang’ itu keluar. Dan kemudian ia akan bisa menjelaskan semua maksud hatinya, kebenaran tentang hatinya. Biarlah ia menunggu, tidak apa-apa.

Sebentar kok, sebentar lagi ia akan datang bukan? Harapnya dalam hati.

Ia semakin memperat pelukannya sendiri, tubuhnya mulai lemah. Terang saja, sudah berjam-jam ia berdiam di sana diterpa hujan, sungguh ajaib kalau ia masih bertahan sampai saat ini. Air mata perlahan turun dari sudut matanya, kepalanya kini benar-benar terasa pening dan tubuhnya seakan mati rasa. Ia tidak bisa mendengar apa-apa lagi, kesadarannya mulai menipis. Yeoja itu terisak pelan, kenapa ia tidak kunjung datang? Kenapa?

“Dasar bodoh.”

Yeoja itu tersentak dari lamunannya kemudian mengangkat wajah yang terasa berat, kedua matanya sontak melebar begitu melihat Chan Yeol, namja yang sedari tadi ditunggunya kini telah berdiri tepat di hadapannya. Sebuah payung berada di genggaman tangannya, payung yang mampu melindungi keduanya dari hujan. Namja itu hanya menatap yeoja di hadapannya dingin.

Dengan bibir yang bergetar dan perasaan lega yang membuncah, yeoja itu lantas berkata terbata-bata, “Yeol ah, syukurlah kau datang. A.. aku..hanya ingin mengatakan..”

“Dasar bodoh, buat apa menungguku sampai seperti itu! Dasar yeoja bodoh!” potong Chan Yeol yang sanggup membuat yeoja di hadapannya tersentak kaget. Belum sempat yeoja yang masih menggigil itu membalas perkataannya, namja itu telah melemparkan payungnya sembarangan kemudian memeluk yeoja itu erat.

“Bodoh, bodoh. Kau bodoh Jin Ri ya.”

Jin Ri, nama yeoja itu, hanya bisa terdiam. Chan Yeol memeluknya dan hal itu mampu membuat jantungnya berdegup tak karuan. Namun dengan kikuknya ia membalas pelukan namja itu. Kini tubuh keduanya basah kuyub, namun mereka mengabaikannya. Membiarkan diri mereka basah karena hujan, namun sebaliknya dengan yang terasa di hati mereka sekarang, hangat.

“Maafkan aku, Yeol ah.” Kata Jin Ri dengan bibir bergetar dan tangis yang tertahan, “Aku menolak ciumanmu, menolak memanggilmu ‘chagiya’ dan memilih untuk tidak terlalu dekat denganmu. Semua itu karena aku … takut.”

Chan Yeol melepaskan pelukannya kemudian menatap Jin Ri dengan pandangan heran, takut katanya?

“Sebelum ini aku belum pernah berpacaran dengan siapapun, aku juga tidak terlalu dekat dengan namja selain Joon Myun. Dan begitu aku mulai berpacaran denganmu, aku merasa cemas dengan diriku sendiri. Aku terlalu kikuk untuk memanggilmu dengan sebutan sayang, aku masih terlalu malu untuk berciuman denganmu, aku …”

Jin Ri menggigit bibirnya, “Aku terlalu malu.” katanya kemudian dengan wajah memerah. “Maafkan aku, jeongmal mianhae, Yeol ah. Aku gagal menjadi kekasihmu.”

Begitu mendengar kenyataan itu, Chan Yeol hanya meresponnya dengan mulut ternganga. Sedetik kemudian ia tertawa, oh, oh, ternyata itu alasan Jin Ri menolaknya? Dan alasan yeoja itu menunggunya sampai malam seperti ini adalah untuk mengatakan itu? Ia sungguh tidak habis pikir, yeoja itu hanya terlalu polos!

“Ya, Yeol ah, kau ini…” teriakan Jin Ri tenggelam di tengah derasnya hujan. Namun Chan Yeol tetap saja tertawa, dan beberapa saat kemudian ia melepas jaket kulitnya kemudian memakaikannya pada Jin Ri. Namja itu tersenyum jahil, “Bagaimana kalau kita berteduh dulu di rumahku, lihat kau sudah pucat dan jelek begitu.”

“Ya!”

Chan Yeol langsung menarik lengan Jin Ri, mengambil payungnya yang tergeletak di tanah kemudian memayungi mereka berdua. “Yeol ah, kau belum menjelaskan padaku!”

“Apa?”

“Kenapa kau mengira aku berciuman dengan Baek Hyun?”

Langkah Chan Yeol berhenti, diikuti oleh Jin Ri yang berdiri di sampingnya. Setelah beberapa saat tampak berpikir, ia tersenyum, “Tidak apa-apa. Aku hanya bermimpi seperti itu, mungkin.”

“Jadi kau marah padaku dan terlihat aneh seperti itu hanya karena mimpi?” tebak Jin Ri.

Chan Yeol tampak berpikir lagi kemudian meringis jahil, membuat Jin Ri menghela napas panjang. Namun tak dapat dipungkiri kalau hatinya benar-benar terasa lega, ia bersyukur Chan Yeol tidak marah lagi padanya.

“Yeol ah.”

“Hmm?”

“Saranghae.” lirih Jin Ri, membuat langkah Chan Yeol terhenti. Ia menoleh ke arah yeoja itu dengan tatapan tidak percaya. Yeoja itu tampak bersunggguh-sungguh, meskipun kondisinya kini tampak kacau—hidung memerah, rambut yang basah dan acak-acakan serta wajah yang pucat—, namun hal itu tidak bisa menyembunyikan kesungguhan yang tersirat di wajahnya cantiknya.

Dalam sekejap, Chan Yeol merasa dirinya jahat. Telah membiarkan yeoja itu menunggu hingga berjam-jam lamanya karena keegoisannya sendiri. Ia juga telah seenaknya membuat yeoja itu tersakiti, selama ini ia hanya berpikir sakit di hatinya sendiri. Chan Yeol tidak pernah terpikir kalau Jin Ri dan Baek Hyun mungkin juga merasa sakit. Oh, ia merasa benar-benar gagal menjadi seorang namja dan sahabat yang baik.

“Nado saranghaeyo, Jin Ri ya.” ujar Chan Yeol kemudian, berusaha mengabaikan rasa sesal di hatinya. Ia menarik Jin Ri mendekatinya lalu mengecup puncak kepala yeoja itu. Sebelah tangan Chan Yeol masih memegang payung sementara tangan yang lain memeluk yeojanya itu. “Mianhae sudah membuatmu khawatir dan membuatmu menunggu seperti itu.”

Jin Ri mengangguk, “Jangan pergi lagi.”

“Tentu.” kata Chan Yeol tanpa sedikitpun keraguan.

_______

            Don’t you know me? The reason I’m here is because of you

            But my eyes tingle with the cold so I can’t say anything

            I just look toward you by myself

            The person I miss like crazy

            The words I want to hear from you like crazy,

            I love you, I love you, where are you?

_________

Akhirnya selesai juga ff yang jelek banget ini -___- pasti reader udah pada mikir, ini kapan selesainya? Haha ^^v

How? How? How? Just share your thought in comment box below, yeah?😀

Thanks for reading^^ Sorry kalau mengecewakan ^^b

See ya in the next chapter nee?😀 follow me @fhayfransiska

Don’t forget to leave your comment and like this ^^b

Read my another fanfic :

150 responses to “Innocence : Side Story of [Chan Yeol’s] Girl inside The Window

  1. yep happy ending\m/
    ahhh jinri so swit bgt nunggu chan sampe hujan” gtu :’) terharu
    dan untuk baekyeol, jujur yg wktu berantem aku sedih thor/alay
    apalagi yg chan ndorong baek sampe jatuh dan gatau kenapa aku juga ikut SEDIH;__; SEDIH BEGETE thor._.

  2. waah akhirnya happy ending ya…chanyeol cinta banget ya sama jinri sampe bisa berantem sama baekhyun gara2 jinri, semoga baek bisa move dari jinri..pokoknya chanyeol disini gemeshiiinnnn bangett hahaha

  3. Hahaha Baek oppa dikatain ‘baby’ sama Chan oppa lolol
    Emang agak ga sopan tuh Chan oppa, biar bagaimanapun masih tuaan Baek oppa beberapa bulan. Kata Chan oppa, “Habis, siapa suruh punya badan kecil gitu” kkkk #peace Baek oppa ({})
    Ah.. akhirnya! Permasalahan dlm part Chan oppa ini udah dapat teratasi (?) hehe

    Keep writing n fighting ne, saeng!!^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s