A ‘Good’bye [Part 0]

A 'good'bye

Credit Poster       : Sasphire.wordpress.com (gomawo posternya ya saeng, kece deh ^^b)

Title            : A ‘Good’bye [Part 0]

Author       : fransiskanoorilfirdhausi /@fhayfransiska (soo ra park)

Genre         : Romance, Angst, Fantasy

Length       : Series       

Cast            :

  • Kim Nam Joo
  • Xi Lu Han
  • Oh Se Hun

This plot and OC are mine, but EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good reader please, don’t forget to give me oksigen (Read-Comment-Like)^^

________

Dia akan datang setiap kali waktumu akan tiba. Dia, pria bersayap putih yang akan mengabulkan semua permintaanmu, semua keinginanmu, apapun asalkan bukan untuk memperpanjang waktu hidupmu.

Dia akan berusaha membuatmu menjadi orang yang paling bahagia sebelum kau menutup mata untuk selamanya.

Tapi..

Siapa sebenarnya dia?

________

Tetes demi tetes hujan perlahan jatuh membasahi bumi. Entah jatuh di sehelai daun, di atas aspal, di lapangan sekolah, bahkan memaksa masuk lewat celah-celah kecil di atap rumah dan menimbulkan kebocoran. Suhu udara yang semula panas kini pun mendingin perlahan, namun sanggup membuat tubuh seseorang yang tengah meringkuk di sudut kamar itu menggigil. Ngilu, ia merasakan tubuhnya ngilu seketika. Dingin adalah derajat temperatur yang tidak ia sukai, ah tidak, lebih tepatnya ia benci, sangat benci.

Ia menempelkan dahinya di jendela, jendela yang tak luput dari jangkauan tetesan hujan hingga menimbulkan jutaan titik-titik air di sana. Ia memejamkan kedua matanya dan mendapati tetesan bening keluar dari sudut matanya, nyaris bersamaan dengan cairan pekat yang turut keluar dari lubang hidungnya.

Namun ia tetap tak bergeming, tidak terisak, tidak mengucap sepatah kata pun, tidak melakukan apa-apa. Hanya diam dan membiarkan dua macam cairan berbeda konsentrasi itu terus menerus keluar dari kedua bagian tubuhnya itu.

“Sampai kapan kau akan membiarkan darah itu mengotori pakaianmu?”

Ia membuka matanya cepat kemudian menoleh ke arah seseorang yang baru saja mengajaknya bicara sekaligus membuyarkan lamunannya. Seorang pria berkulit putih dengan wajah seperti anak belasan tahun kini berdiri tepat di hadapannya, pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada dan menatap seseorang di depannya intens.

“Kim Nam Joo, bukan?” tanya pria itu tegas.

Seseorang yang ternyata bernama Kim Nam Joo itu tetap bergeming, entah enggan menjawab atau terlalu terkejut dengan kehadiran seorang pria yang tiba-tiba muncul di kamarnya itu.

Karena tak kunjung mendapat respon, pria itu mendesah lalu menjentikkan tangannya. Dan dalam sekejab mata, muncullah sekotak tisu dan jatuh tepat di pangkuan Nam Joo. Gadis itu lagi-lagi hanya diam, tampak tak terkejut sedikitpun. Nam Joo hanya menatap lekat-lekat sekotak tisu di hadapannya, tanpa sedikitpun bergerak untuk mengambil sehelai tisu lalu membersihkan darah yang keluar dari hidungnya seperti yang diharapkan si pria.

Pria itu menggeleng sembari berdecak pelan. Ia lalu berjalan mendekati Nam Joo, mengambil sehelai tisu lalu membersihkan darah yang merembes di hidung gadis itu. Ia melakukannya dengan pelan-pelan takut kalau Nam Joo akan merasa terganggu kemudian menamparnya karena merasa ia adalah seorang pria hidung belang, menyentuh wanita sembarangan. Namun ternyata semua tak sesuai dugaannya, Nam Joo hanya diam, sama seperti sebelumnya.

Ada apa dengannya?

Dan akhirnya si pria pun berpikir untuk melakukan sesuatu.

Pria berpakaian serba putih dan tanpa alas kaki itu perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Nam Joo hingga hidung keduanya nyaris bersentuhan. Hela napas si pria terasa jelas di kulit wajah Nam Joo, begitupun sebaliknya, hela napas pelan Nam Joo juga dirasakan oleh si pria. Pria itu tersenyum begitu mendapati kalau gadis di depannya itu tengah menahan napas.

Dan perlahan pria tanpa nama itu hanya menyisakan jarak beberapa senti dari bibirnya ke bibir Nam Joo, semakin mendekat dan ..

PLAAKK!!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi si pria, tepat sebelum ia sempat menempelkan bibirnya pada bibir si gadis.

“Dasar pria hidung belang, siapa kau?! Beraninya masuk kamarku sembarangan. Ummma, Ummmaaa!!”

Sembari mengusap pipinya yang memerah, dengan muka kesal pria itu berujar, “Percuma, ibumu tidak akan bisa melihatku seandainya ia kemari.”

Teriakan frontal si gadis sontak berhenti, ia lalu menatap garang pria di hadapannya. “Maksudmu?”

“Aku bukan manusia, orang-orang tidak akan bisa melihatku. Dan ..”

Sebelah alis Nam Joo terangkat, menunggu kelanjutan dari ucapan si pria yang menggantung.

“Dan tidak usah menggertakku dengan berusaha memanggil ibumu. Karena kenyataannya kau sendiri. Sendiri di rumah ini. Tidak ada ibu, tidak ada ayah, tidak ada saudara. Tidak ada siapapun.”

Ucapan gamblang dan penuh penekanan dari si pria sanggup membuat ribuan jarum menancap tepat di hati Nam Joo, ngilu dan sakit. Gadis itu lantas menggigit bibirnya keras, “Apa yang akan kau lakukan padaku tadi?”

Mendengar itu, si pria hanya tersenyum jahil, “Aku ingin memastikan apakah kau masih gadis baik-baik yang akan menolak ciuman dari seorang pria yang baru dikenal sepertiku, atau bahkan seorang gadis nakal yang tidak bisa menolak sebuah ciuman menggoda dariku?”

Nam Joo memutar bola matanya, “Terserah.”

Si pria lantas terkekeh, “Tentu saja tidak.” Pria itu lalu duduk di ranjang Nam Joo, ia menyilangkan kedua kakinya kemudian melanjutkan, “Aku hanya ingin memeriksa apakah kau masih hidup atau tidak, masih sadar atau tidak. Kau sedari tadi hanya diam meskipun aku tiba-tiba muncul di kamarmu, menunjukkan kekuatan ajaibku serta membersihkan darah di hidungmu tanpa seizinmu. Setidaknya dengan membuatmu menamparku adalah sebagai tanda kalau kau masih hidup dan peduli pada dirimu sendiri.”

Nam Joo mendengarkan setiap ucapan si pria dengan malas, ia memeluk kedua kakinya kemudian kembali menempelkan dahinya di jendela. Membiarkan dirinya melihat dari dekat titik-titik air hujan di jendela kacanya.

“Kau tidak penasaran denganku? Kebanyakan orang akan terus merecokiku dengan berbagai pertanyaan seperti ‘Siapa aku? Darimana aku berasal? Untuk apa aku muncul di depan mereka?’ tapi kau hanya diam saja. Dasar gadis aneh!” runtuk si pria karena merasa Nam Joo sama sekali tidak menggubrisnya.

Setelah beberapa waktu, Nam Joo pun buka suara. “Kenapa kau begitu cerewet? Langsung saja lakukan apa yang ingin kau lakukan padaku!”

“Hah?”

“Tidak perlu terlalu lama berbasa-basi. Cepat cabut saja nyawaku, itu tujuanmu sedari awal kan?”

Si pria menatap takjub gadis yang tampak rapuh di depannya, ia tidak habis pikir dengan gadis itu, bagaimana mungkin gadis itu berpikir kalau ia adalah seorang malaikat pencabut nyawa? Pencabut nyawa tidak akan berbasa-basi sepertinya. Ckckck!

“Bukan. Aku kemari bukan untuk mencabut nyawamu.”

Nampaknya kalimat yang baru saja dilontarkan si pria sanggup membuat Nam Joo berpaling dari lamunannya. “Apa?”

Pria itu menunjukkan seringai di wajah kekanak-kanakannya, “Aku kemari membawa kabar bahagia untukmu.”

Alis Nam Joo mengernyit, tidak paham, apa maksudnya?

Pria itu menyodorkan sebelah tangannya ke hadapan Nam Joo, “Perkenalkan, aku adalah malaikat dari divisi lima, malaikat pengabul permintaan, Lu Han imnida.”

________

“Aku tidak berbohong, aku berani bersumpah!”

Nam Joo semakin mempercepat langkahnya menuruni tangga sembari menempelkan telapak tangan di kedua telinganya, berusaha meredam teriakan yang terus menerus dilontarkan seorang pria yang mengaku sebagai seorang malaikat bernama Lu Han. Oh, ayolah Nam Joo masih waras kalau harus dipaksa untuk mempercayainya!

“Kim Nam Joo, kau harus percaya padaku! Percayalah aku bisa membantumu!”

Meskipun Nam Joo sama sekali tidak menghiraukannya, namun pria itu masih saja mengekor di belakang Nam Joo yang kini berjalan memasuki dapur. Gadis itu mengobrak-abrik isi lemari persediaan makanannya kemudian mencari-cari makanan yang mungkin bisa ia masak dengan instan.

“Ya, makanan instan tidak baik untuk kesehatanmu!” ujar Lu Han begitu melihat Nam Joo mengambil sebungkus mi instan. Namun tentu saja gadis itu sama sekali tidak menghiraukannya, membuat Lu Han lantas kembali menjentikkan jarinya. Dan dalam tempo sedetik sebungkus mi itu kini raib dari tangan Nam Joo. Hilang tanpa bekas.

Seakan tidak kehabisan akal, Nam Joo kembali mengobrak-abrik isi lemarinya, kemudian mengambil mie cup. Lu Han menghela napas berat, kemudian kembali menjentikkan jarinya, dan kali ini bukan hanya mie cup di tangan Nam Joo yang menghilang, namun semua makanan instan persediaan Nam Joo raib. Tanpa sisa. Nam Joo hanya bisa melongo melihat semua itu.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Kembalikan semua makananku!”

“Tidak akan. Kau harusnya memakan ini!”

Nam Joo menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Lu Han. Gadis itu terbelalak begitu mendapati meja ruang makannya kini penuh dengan berbagai macam sayuran, buah-buahan, daging, serta makanan berat dan bergizi lainnya.

“A..apa!?” kata Nam Joo terbata.

“Seperti itulah yang seharusnya kau makan, supaya penyakitmu itu tidak semakin parah!”

Sebuah dengusan panjang keluar dari hidung Nam Joo, gadis itu lantas menoleh dan memasang death glarenya ke arah Lu Han, “Berhenti mengurusiku seakan-akan kau tahu semuanya tentangku, seakan kau sudah lama mengenalku. Dan … Tunggu! Kau bahkan tidak mengenalku!”

Lu Han menarik kursi di meja makan kemudian duduk di sana, ia lalu menatap Nam Joo dengan matanya yang tegas, “Ketahuilah, mulai hari ini kau adalah tanggung jawabku. Jadi aku berhak mengurusimu, menjagamu dan melindungimu!”

Kedua bola mata Nam Joo berputar, “Siapa yang berkata begitu, hah!? Siapa!? Aku tidak pernah meminta, jadi lebih baik kau segera angkat kaki dari rumahku!”

“Tidak bisa sebelum kau menyebutkan keinginanmu, Kim Nam Joo!”

“Apa?”

“Aku baru bisa pergi setelah urusanku denganmu sudah selesai, ya tugasku adalah membuatmu bahagia sebelum malaikat pencabut nyawa datang dan mencabut nyawamu!” kata Lu Han dengan tidak sabar.

Napas Nam Joo sontak tercekat seusai mendengar ucapan Lu Han, gadis itu menunduk. Ternyata benar dugaannya dari awal, waktunya memang tidak lama lagi, begitu pikir Nam Joo. “Jadi waktuku memang tidak lama lagi?” katanya getir.

Lu Han yang menyadari nada getir dari pertanyaan Nam Joo sontak terdiam, oh,oh, nampaknya ia salah bicara barusan. Tidak seharusnya seorang malaikat sepertinya membuat mental gadis rapuh bernama Nam Joo itu menjadi semakin down, oh, betapa bodohnya dia.

“Waktu tepatnya aku tidak tahu, jadi tenang saja!” Kata Lu Han sembari meringis kecil, pria itu terlihat kehabisan kata-kata. Dan perkataannya itu tentu tidak bisa membuat gadis yang kini duduk di hadapannya itu tersenyum puas. Wajahnya malah semakin menunduk, lesu.

Melihat itu, Lu Han hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia pasti merasa sangat bersalah sekarang!

“Jadi, apa kau bisa mengabulkan semua permintaanku sebelum aku meninggal?”

Mendengar pertanyaan bervolume lirih yang dilontarkan Nam Joo, Lu Han sontak mengangkat wajahnya dan menatap manik kecoklatan yang dimiliki Nam Joo. Gadis itu kini terlihat jelas menahan air matanya, matanya berkaca-kaca, dan hal itu mampu membuat Lu Han kembari didera rasa bersalah.

“Ya, apa saja asalkan tidak berhubungan dengan kematianmu.”

“Baiklah…” kata gadis bernama Nam Joo itu sembari menghempaskan tubuhnya pelan di sandaran kursi, “Kalau memang begitu, buatlah aku jadi kekasih seorang Oh Se Hun, laki-laki yang paling populer di sekolahku.”

Sebelah alis Lu Han terangkat, namun tak lama kemudian sebuah senyum mulai terukir di wajahnya, “Tentu.”

________

Lu Han menjentikkan jarinya, dan dalam sekejap mata sebuah papan tablet berwarna putih muncul di tangannya. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung mencari-cari informasi tentang pemuda bernama Oh Se Hun di sana.

“Aku tidak menyangka kalau ternyata malaikat sepertimu juga menggunakan tablet. Aku pikir kalian—para malaikat—punya alat yang lebih canggih.” ujar Nam Joo lirih sembari menatap remeh ke arah Lu Han.

“Kami semua memakainya, bahkan petinggi kami juga.” Jawab Lu Han tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari layar tablet, ia tidak sedikitpun merasa tersindir oleh perkataan sinis Nam Joo.

Nam Joo mendengus pelan. Sembari menunggu pria atau malaikat atau apalah itu yang kini duduk di depannya dan tengah serius mencari data soal Oh Se Hun, ia memutar-mutar sendok yang entah sejak kapan berada di tangannya. Gadis itu terdiam begitu pantulan dirinya terlihat di sendok, ia langsung menutup matanya cepat. Inilah alasan ia benci sekali bercermin, karena hal itu akan membuatnya mengetahui betapa menyedihkannya sorot mata serta wajahnya yang kusut itu.

“Apa kau bisa bermain biola?” tanya Lu Han tiba-tiba.

Kedua alis Nam Joo terangkat, biola?

“Ya, biola.” kata Lu Han lagi seakan-akan pria itu bisa membaca pikiran Nam Joo.

Setelah berpikir beberapa saat, Nam Joo mengangguk. “Aku adalah pemain biola sebelum aku sakit.”

Lu Han mengangguk-angguk sembari tersenyum tipis. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke layar tablet.

“Kenapa?”

“Salah satu dari sekian banyak tipe wanita kesukaan Oh Se Hun adalah wanita penyuka biola.”

Mata Nam Joo sontak melebar, “Apa? Dari mana kau tahu?”

“Semuanya tertulis dengan jelas di sini.” ujar Lu Han sembari menghadapkan layar tabletnya pada Nam Joo. Sorot mata Nam Joo langsung berubah cerah begitu melihat apa yang tertulis di papan tablet. Ternyata Se Hun adalah penyuka biola, sama seperti dirinya!

Dengan cepat, Nam Joo merebut papan tablet yang dipegang Lu Han. “Hei!” teriak Lu Han, namun Nam Joo sama sekali tidak menggubrisnya.

Gadis itu langsung membaca setiap data serta fakta yang tertera di sana. Sangat lengkap, mulai dari tanggal lahir, tinggi badan, makanan kesukaan, bahkan aktivitas Se Hun setiap hari semuanya tertulis di sana! Mata Nam Joo tak hentinya menunjukkan binar kebahagiaan. Namun sebelum gadis itu menuntaskan membaca, Lu Han telah merebut kembali papan tablet dari tangan Nam Joo.

“Ya!”

“Apa!?” teriak Lu Han sembari memelototkan matanya, “Kau ini, sudah aku bantu malah jadi seenaknya sendiri! Manusia dilarang menyentuh barang-barang milik malaikat dengan seenaknya! Ingat itu!”

Nam Joo mendengus, “Ya! Aku hanya melihatnya, memangnya tidak boleh? Lagipula salahmu sendiri kenapa menunjukkan tabletmu padaku!”

“Itu untuk membuktikan kalau apa yang aku bilang benar!” balas Lu Han tidak mau kalah.

“Terserahmulah! Dasar bocah!”

Kedua bola mata Lu Han sontak melebar, kata ‘bocah’ sangat sensitif untuknya. Ia sangat benci apabila orang-orang mengatainya dengan satu kata—yang menurutnya— terkutuk itu. Ayolah, umurnya sudah ribuan tahun tapi kenapa orang-orang tetap memanggilnya bocah!? Ia memang berwajah anak-anak, tapi itu bukan berarti ia suka bersikap layaknya anak-anak!

“Apa kau bilang!?”

Nam Joo mengalihkan pandangan, malas melihat raut wajah kesal dari Lu Han. “Tidak ada!”

Lu Han menggeram lirih, ia mendengus lalu kembali menatap layar tabletnya dengan enggan. Gadis di depannya telah membuat moodnya down, dan lagi ia kurang suka berdebat apalagi dengan gadis aneh bernama Kim Nam Joo yang susah ditebak itu, awalnya dingin seperti susah diajak bicara, tapi sekarang ramai dan cerewet seperti ayam! Hah!

“Sebenarnya tipe wanita kesukaan Oh Se Hun sangat banyak.”

Nam Joo yang menelungkupkan kepalanya beberapa saat lalu langsung bangkit dengan wajah berbinar, “Apa?”

“Langsing.” Lu Han melirik ke arah Nam Joo kemudian terkekeh, “Langsing bukan berarti terlalu kurus.”

Kedua bola mata Nam Joo membulat, ia lantas menelurusi setiap lekuk tubuhnya. Oh God, ia begitu kurus sekarang!

“Cantik.” Lagi-lagi Lu Han memandang remeh ke arah Nam Joo, membuat gadis itu yang entah kenapa baru menyadari tatapan remeh Lu Han langsung berteriak, “Ya! Kau mengejekku?”

Lu Han terkekeh kemudian melanjutkan, “Tidak cerewet seperti ayam.”

“Ya!”

“Ia suka gadis yang bisa memasak. Dan kau, Kim Nam Joo, tidak bisa masak selain makanan instan bukan?”

“Ya! Lu Han kau, aish…” Nam Joo menghentakkan kakinya kesal, sementara Lu Han lagi-lagi hanya terkekeh geli.

Lu Han menjentikkan jarinya dan papan tablet di tangannya dalam sekejap hilang. Nam Joo yang melihat itu hanya bisa menyesal dalam hati, ia belum melihat semua tentang Se Hun di tablet Lu Han!

“Aku telah mempelajarinya, dari semua tipe wanita yang ia sukai, yang paling mungkin untukmu adalah biola. Ya, hanya itu!” ujar Lu Han dengan penekanan di dua kata terakhir.

Karena kesal Nam Joo lantas menggigit bibirnya keras, oh kenapa malaikat bernama Lu Han ini sangat menyebalkan! Malaikat macam apa sih dia, aisssh!

“Baiklah, mari kita mulai besok!”

“Apa?”

Lu Han berdecak kesal, “Apa kau bilang? Tentu saja menjadi kekasih Oh Se Hun, kita jalankan semua rencana besok! Dan tenang saja, aku sudah punya rencana bagus!”

Mendengar itu, Nam Joo hanya bisa tercenung. Besok?

Nam Joo berlari menuju cermin yang berada di dekat kulkas, ia menatap pantulan wajahnya di cermin itu. Oh Tuhan, wajahnya tampak benar-benar kusut, matanya seperti mata panda, ada jerawat di wajahnya dan bibirnya pecah-pecah. Astaga!

Lu Han tidak menghiraukan Nam Joo, ia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri alih-alih menemukan sebuah biola, “Oh, iya ngomong-ngomong di mana biolamu …”

“GYYAAAAAAAA!!”

________

Ruang Musik, Seoul Art School

“Violin Sonata No. 5 Opus 24 ‘Spring’. Mainkanlah lagu itu!”

Nam Joo mendengus pelan sembari menatap garang Lu Han yang kini tengah duduk bersantai di hadapannya, pria itu tengah membolak-balikkan partitur miliknya. “Kenapa aku harus menurut apa katamu!?”

Lu Han mengalihkan fokus pandangannya dari partitur ke wajah Nam Joo, “Tidak bisakah kau sekali saja tidak protes padaku, wahai Miss Kim?”

“Tidak!” balas Nam Joo cepat.

“Ya! Kau kan sudah kurubah menjadi cantik begi.. ah tidak cukup cantik! Lihat, kau tidak lagi pucat, jerawatmu juga sudah hilang, bibirmu juga sudah pink lagi, bukan? Seharusnya kau berterima kasih padaku dan berusaha memainkan lagu yang aku minta dengan sebaik-baiknya!”

Sebelah tangan Nam Joo terkepal erat, berusaha menahan luapan emosi yang membuncah di dadanya. Sedari dulu ia memang sama sekali tidak suka dengan yang namanya ‘diatur’. Ia benci, ia ingin selalu merasa bebas. Alasannya untuk tinggal sendiri juga karena ia tidak ingin terlalu di kekang oleh kedua orang tuanya. Dan… oh, sekarang pria bernama Lu Han itu dengan seenaknya mengaturnya seperti itu!?

Pada akhirnya gadis itu memilih untuk menyerah, sesaat kemudian ia mulai meletakkan dagunya di atas biolanya, menggeseknya pelan dan mulai memainkan lagu klasik yang tadi diperintahkan Lu Han. Nam Joo memejamkan matanya, berusaha menghayati apa yang kini tengah ia mainkan.

Alunan nada yang terdengar dari gesekan biola Nam Joo sanggup membuat Lu Han tercengang sesaat. Permainan gadis itu seakan menyihirnya untuk memejamkan mata kemudian membayangkan sebuah padang rumput yang begitu luas, teduh dan asri, sesuai dengan judul lagu itu, spring. Ternyata gadis itu benar-benar berbakat!

Permainan Nam Joo selesai, gadis itu lalu menatap Lu Han intens, “Bagaimana permainanku? Cukup?”

“Ya, lumayan.” kata Lu Han dengan asal.

“Ya! Kau dasar ..”

Cklek.

Ucapan Nam Joo sontak terhenti begitu pintu ruang musik tempat ia berada sekarang dibuka oleh seseorang. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke pintu. Dan detik itu juga kedua alisnya terangkat sempurna dan mulutnya menganga. Tubuhnya membeku seketika. Itu.. itu.. Oh Se Hun!

Pemuda itu—Oh Se Hun—berjalan santai menuju ke arah Nam Joo dengan sebuah senyum terlukis di bibir tipisnyaa. Nam Joo menelan ludah, oh, apa yang harus ia lakukan sekarang? Menegurnya? Ya! Mereka bahkan belum saling mengenal. Kalau begitu mengajaknya berkenalan bagaimana? Ah tapi..

Cepatlah bertindak gadis bodoh! Aku sudah membuat pemuda itu datang kemari, jangan sia-siakan kesempatan emas ini!

            Gadis itu tersentak begitu sebuah suara kini terdengar di telinganya. Suara Lu Han! Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, namun sosok pria itu tak juga terlihat. Ia mendengus, telepati.

“Ehm … apakah kau yang baru saja memainkan Spring?”

Seperti baru tersadar dari lamunannya, dengan wajah terkejut Nam Joo menoleh ke arah Se Hun yang barusaja bertanya padanya. Hei, tunggu! Apakah Oh Se Hun baru saja berbicara padanya? Pangeran sekolah yang biasanya dingin dan misterius itu barusaja berbicara padanya, puji Tuhan!

“Hei, aku bicara padamu.”

“Ah, maaf. Iya benar aku, aku yang barusaja memainkannya.” kata Nam Joo dengan kikuk. Ia sendiri memaki dalam hati kenapa ia tidak bisa mengendalikan diri dengan baik, pasti sekarang wajahnya sudah seperti kepiting rebus.

Mendengar itu, pemuda bernama Oh Se Hun itu tersenyum puas. “Indah.”

“Eh!?” ujar Nam Joo sembari membulatkan kedua matanya. Indah kata Se Hun? Semoga barusaja ia tidak salah dengar.

“Aku suka caramu memainkannya. Begitu indah dan lembut. Kebetulan aku baru saja lewat di depan ruang musik ini, dan langkahku terhenti begitu aku mendengar permainan biolamu.”

Nam Joo hanya melongo mendengar penuturan pemuda yang kini berdiri tepat di hadapannya. Ternyata semua yang tertulis di tablet Lu Han benar adanya, Se Hun adalah penyuka biola. Dalam hati Nam Joo benar-benar bersyukur karena mengikuti perintah Lu Han tadi. Terima kasih Lu Han!

“Mau coba?” kata Se Hun sembari menunjuk satu-satunya piano klasik yang ada di ruang musik itu.

“Eh!? Maksudmu?”

Se Hun tersenyum, “Mari kita berduet memainkan Spring. Kau dengan biolamu dan aku akan memainkan bagian pianonya. Bagaimana?”

Nam Joo belum menemukan kata-katanya, ia masih saja tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan seseorang yang—baginya—begitu sempurna. Tubuh tinggi semampai dan kulit putih susu yang tanpa cela, rambut kecoklatan yang jatuh sempurna dan juga … ah, Nam Joo sendiri sulit menjelaskannya dengan kata-kata.

“Halo? Apakah kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat. Hmmm …” Se Hun terdiam sejenak kemudian menbaca nametag di blazer kuning Nam Joo, “Kim Nam Joo-ssi.”

“Aniya, tidak aku tidak apa-apa. Benar, aku baik-baik saja, aku ..”

Nyuutt.

            Nam Joo sontak terdiam begitu kepalanya tiba-tiba terasa sangat sakit, sekujur tubuhnya juga terasa nyeri, sementara lututnya mulai terasa lemas, tak sanggup menopang tubuhnya lagi. Gadis itu menutup matanya ketika pandangannya memburam. Oh ayolah, kenapa penyakitnya harus kambuh di saat seperti ini?

“Nam Joo-ssi, hidungmu.. hidungmu berdarah!”

Samar-samar telinga Nam Joo menangkap teriakan cemas dari Oh Se Hun, namun ia tak sanggup menahannya lagi, tubuhnya terlalu lemas dan otaknya tidak bisa lagi diajak berpikir untuk sekedar menjawab pertanyaan Se Hun. Dan sedetik kemudian pandangannya menggelap.

“Nam Joo-ssi!” pekik Se Hun begitu gadis di hadapannya jatuh pingsan. Beruntung reflek yang dimiliki Se Hun cukup bagus sehingga dengan cepat ia mampu menopang tubuh gadis itu sebelum jatuh ke lantai.

“Nam Joo-ssi!”

“Nam Joo! Ya, ireona pabo!”

Se Hun terlonjak kaget begitu melihat seorang pria tiba-tiba muncul dan kini duduk di samping Nam Joo sembari menepuk-nepuk wajah gadis itu. “Ya, ireona Nam Joo pabo!” kata pria berpakaian serba putih itu.

“Ka..kau ..” kata Se Hun terbata, belum menghentikan keterkejutannya.

Mendengar itu, pria berpakaian serba putih yang ternyata adalah Lu Han itu tersentak kemudian menoleh cepat ke arah Se Hun. Dan saat itu pandangan keduanya bertemu.

Pemuda itu bisa melihatnya? Batin Lu Han dalam hati sembari mengernyitkan kedua alisnya.

“Kau … Lu Han?” ucap Se Hun kemudian dengan penuh kehati-hatian.

Kedua bola mata Lu Han lantas terbuka lebar, apa katanya? Lu Han? Tunggu dulu! Ia tidak salah dengar bukan?

Kenapa seorang Oh Se Hun bisa melihat sekaligus mengetahui namanya?

____TBC___

How? How? How? Ada yang penasaran siapa sebenarnya Lu Han atau kenapa Se Hun bisa lihat Lu Han?

Aneh? Geje? Atau gimana? Hehe, kalo repliesnya banyak author bakal bikin lanjutannya, tapi kalau tidak mencapai target ya author hentikan saja sampai di sini^^

See ya in the next chapter nee?😀 follow me @fhayfransiska

Read my another fanfic :

80 responses to “A ‘Good’bye [Part 0]

  1. Pingback: A ‘Good’bye [Part 0.2] | FFindo·

  2. Nice fanfic lah.. saya kehabisan kata-kata karena udah dipake buat komentar dua part secara berturut-turut.. oh ya, saya bacanya yang 0.2 dulu *nggak ada yang nanya. Ini ff nice banget lah… pokoknya terus berkarya yaaa

  3. Waaaaa telat banget, baru nemu ff ini garagara nyari ff dengan genre fantasy._. DAN DAPETNYA HUNHAN AAAAAAAAAAAAAAAA /abaikan, hunhan shipper yang sinting/

    Waddduuuuhhh luhan kacau bener di sini._.
    Masa munculnya begitu trus tibatiba pengen nyium namjoo wahahaha
    Dan itu……..malaikat make tablet? ._.
    Huwow, ternyata malaikat gaul juga ya😄

    Lalu, kenapa sehun bisa ngeliat luhan? Apa dia malaikat juga? ._.
    Trus namjoo tuh sakit apasih? Penasaran ._.
    Hngg okeh, langsung cus ke part 0.1~
    Nice story, anyway ^^

    • Kamu kemana aja dek ? Haha
      Wah, hunhan shipper juga yaaa sini kita toast !! ^^/

      Iyep, ngelawak terus, kalo nggak ya sensi gitu si luhan, bebanding terbalik sama mukanya -_-”
      Haha, iya dong, malaikat kan gamau kalah juga ama manusia, bahkan mereka hausnya lebuh canggih, hahah

      Silakan dilanjut ^^/

  4. Kirain setelah kata kata ” Dan saat itu pandangan keduanya bertemu.” mereka saling mencintai….-_- *digampar author* *otp mode on*

    Ga sabar baca next chap!!! *-* cuss out yuukk ahh~

  5. Lah sehun sapa fhay? Indigo? Apa temennya lu han? Huhuu
    Lanjut dulu yaa, keren keren, jalan ceritanya nggak ketebaak wkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s