FF : Please, Stop The Time [EPILOG]

Title : Please, Stop The Time (EPILOG)

Author : Hayamira (HayashiMirai)

Genre : Romance, Friendship, Married Life Story

Rating : PG-15

Length : Chaptered

Cast :

Jung Na Eun/Nana (Ocs)

Kris (EXO-M)

Oh Se Hun (EXO-K)

Kim Jong Hyun (SHINee)

Choi Min Ho (SHINee)

Krystal Jung (f(x))

Byun Baek Hyun (EXO-K)

Amber Liu (f(x))

Lee Jin Ki (SHINee)

Jung Na Mi as Nana’s Sister

Summarize :

Please, stop the time

I wanna be with you always

I Looked up the sky, following each and every shining star

Searching for, You

Note : Hai! Hyerin disini!!! Maaf reader-deul Hyerin belum sempat publish FF u.u . Mungkin next time yaa~~ Jadi, disni aku membawa FF temen saya hehehehe. mian juga ini dipostnya lamaa banget, authornya lagi error sih *ditampar* jadinya gini T^T Happy Read ya ~ XD

NO SILENT READERS, NO COPYCAT PLAGIATOR. APPRECIATE THE AUTHOR’S STORY PLEASE.

please stop the time 8

[PROLOG] | [CHAPTER 1] | [CHAPTER 2] | [CHAPTER 3] | [CHAPTER 4A] |  [CHAPTER 4B] | [CHAPTER 5] | [CHAPTER 6] | [CHAPTER 7] | [CHAPTER 8]

Sinar matahari mulai menyusup dicelah gorden jendela. Membuat Kris yang tertidur pulas, mengerjapkan matanya. Ini hari sabtu, weekend, kenapa dia harus terbangun jam begini, gerutu Kris dalam hati. Tangannya meraba disampingnya, lalu mata Kris bulat sempurna terbangun. Kemana Nana? Batinnya. Dia bangkit dari tempat tidur, mencuci muka lalu beranjak keluar kamar.

Aroma wangi masakan dan suara dari peralatan dapur mengundang rasa penasarannya untuk kedapur. Benar saja, ternyata Nana sudah sibuk dengan memasak sarapan. Kris tersenyum dan diam diam berdiri dibelakang Nana. “Wangi masakanmu mengganggu tidurku.” Kris berbisik membuat Nana terlonjak kaget lalu menoleh kebelakangnya.

“Kau mengagetkanku, Kris,” gerutu Nana. Kris justru memeluk Nana dari belakang, dagunya ada di pundak Nana, tangannya melingkar di pinggang Nana sambil memerhatikan tangan Nana yang sibuk mengaduk-aduk masakannya. Kris bisa mengukur pinggang Nana yang kecil ini, lalu terkekeh sendiri, “Masak apa pagi ini,Sayang?”

Donburimono, lauknya tendon, telur juga sup dan acar Kau suka, kan?” Nana menjawab sambil mengaduk-aduk sup di panci kecil. Kris mengangguk manja, “Tentu saja, sini aku coba supnya dulu,” Kris melepaskan pelukannya, meraih sendok dan menyendok sup di panci, meniupnya dan menyeruputnya. Raut wajahnya perlahan menunjukkan bahwa sup ini enak. Tanpa perlu ditanya, Nana sudah mengerti jawaban Kris memberikan senyumnya ke Kris, lalu kembali mengaduk supnya.

“Aku mandi dulu, ya” kata Kris mengecup pipi Nana sekilas, lalu beranjak ke kamarnya dan mandi.

Setelah mandi dan berpakaian, Kris berjalan ke dapur. Hari ini dia tidak punya jadwal apapun, ajdi dia meliburkan dirinya. Kris duduk dikursi, menatap sarapan didepannya. Semangkuk nasi dengan lauk udang goreng atau tendon, telur gulung dan sup juga acar. Donburimono, biasa disebut untuk hidangan ini. Nana sudah duduk dihadapannya menunggu Kris untuk sarapan.

-oOo-

Bel rumah Kris berbunyi. Nana yang sedang menyemprot tanaman kecil di dekat dapur, bergegas ke depan dan membuka pintu rumahnya. Ibu dan Ayah Kris, juga Kakak perempuannya datang.

“Halo, Nana. Mana Kris?”

Nana membungkuk memberi salam, “Ada didalam, masuklah Ibu, Ayah dan Kakak,” Ibu Kris dan Kakak perempuan serta Ayah Kris masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Nana masuk ke kamar, menegur Kris yang sedang duduk mengamati kertas-kertas yang bertumpuk dengan mimik serius. “Ibu dan Ayah datang, juga nuna mu. Ayo, sambut mereka,” tegur Nana tersenyum kepada Kris. Kris langsung berbalik ke arah Nana, nampak kaget. “Serius?”

Anggukan Nana menjadi jawaban. Kris langsung berdiri dan menggandeng tangan Nana keluar kamar. Sebelum membuka pintu, Kris menatap Nana, “Bikinkan mereka minuman. Biar aku yang bicara dengan mereka.”

“Kenapa? Kris, kenapa kau terlihat takut?” Kris menghela napas mendengar Nana bertanya seperti itu. Aneh memang, tapi Kris takut Ibunya menyinggung perjodohan dirinya dengan anak paman Jung itu. Kris takut, secara tidak langsung ibunya akan menyinggung perasaan Nana.

“Kau menyembunyikan sesuatu?”

Kris memegang pipi Nana dan menatap kedua matanya dalam. “Tidak ada, sayang.”

“Kau bohong.”

“Serius, tidak ada.”

Ada sirat pandangan tidak percaya dimata Nana, “Nana, kau percaya padaku, kan?” guman Kris berusaha membuat Nana percaya. Nana mengangguk, “Tentu saja.”

“Bagus,” Kris lalu mencium bibir Nana singkat dan keluar menghadapi ibu ayah dan nunanya. Nana hanya melihat Kris yang beranjak ke ruang tamu, lalu kembali ke dapur untuk membuatkan minuman dan menyediakan makanan kecil.

-oOo-

“Apa kabar, Ayah, Ibu Nuna?” Kris duduk didekat nunanya, memberi kode kenapa-ibu-datang. Kakaknya hanya bisa menghela napas, “Dengarkan saja apa kata ibu nanti, jangan kaget.”

“Baik, tentu saja.”kata Ibu Kris. Kris tahu, pasti ibunya ingin membicarakan sesuatu. Hal yang paling Kris takutkan, Ibunya membicarakan perjodohan. Bahkan, ketika sudah menikah sekalipun, ibunya masih saja ingin menjodohkannya. Kris tidak bisa membaca pikiran ibunya, sungguh.

“Hah, aku hanya ingin bicara denganmu. Kenapa kau belum punya anak? Padahal sudah 4 tahun kau menikah. Hah, seandainya kau menikah dengan anak Jung pasti aku sudah menimang cucu.”

“Ibu, bisakah ibu berhenti membicarakan tentang anak paman Jung itu? Aku sudah menikah, bu. Sudah menikah.”

“Kau kan bisa menikah lagi,”kata Ibu Kris. Ayah, Kakak kris dan Kris melihat Ibu Kris kaget. Kali ini, Ibunya keterlaluan.

“Tapi ibu cukup terkesan dengan istri pilihanmu itu,” lanjut ibu Kris. Kris mendesah pelan, jangan sampai Nana mendengar apa yang ibunya katakan tadi. Entah Kris harus menjelaskan apa lagi kepada Nana kalau sampai Nana mendengarnya.

“Ibu, hentikanlah… Bukankah kita kesini untuk menjenguk Kris?” Kakak Kris menyela, berusaha mencairkan suasana. Ayah Kris mengangguk, “Benar. Kasian Nana kalau mendengar ucapanmu.”

-oOo-

 

Nana sedang mengaduk the dalam gelas, lalu gerakannya terhenti mendengar percakapan keluarga Kris di ruang tamu.

“Hah, aku hanya ingin bicara denganmu. Kenapa kau belum punya anak? Padahal sudah 4 tahun kau menikah. Hah, seandainya kau menikah dengan anak Jung pasti aku sudah menimang cucu.”

Tangan Nana pelan-pelan meletakkan sendok teh disamping baki, lalu memandang kosong didepannya. Telinganya masih mendengar percakapan mereka. Nana hanya bisa mendesah pelan.

Nana mendapati tangannya memegang perutnya, lalu dia menunduk. Perasaannya yang tadinya bagus, sekarang hancur mendengar perkataan mertuanya. Cukup menusuk.

“Kau kan bisa menikah lagi, Kris.”

Gerakan Nana terhenti lagi. Apa? Kris menikah lagi? Apa mertua selalu sepeerti ini? Seenaknya memutuskan, batin Nana mencelos dirinya. Sekali lagi, Nana mendesah pelan mendengarnya. Emosinya kacau, tidak membaik. Dengan hati-hati, dia membawa baki berisi the dan makanan kecil.

“Ini, silahkan diminum tehnya,” kata Nana meletakkan satu per satu gelas, lalu berjalan sebelum akhirnya dicegat oleh Kris. “Sayang, duduklah.” Kris berbisik dan menarik Nana duduk disampingnya. Nana hanya bisa pasrah dan berserah diri dengan apa yang akan terjadi padanya nanti.

Terlihat Ibu Kris memandangi Nana dari kepala sampai ujung kaki. “Kau…kenapa mirip dengan anak Jung?” tanyanya memerhatikan Nana. Nana mengerutkan dahinya, maksudnya tidak mengerti.

“maksud ibu?” Ibu Kris memberikan foto kepada Nana, “Ini, anaknya yang tadinya akan kunikahkan dengan Kris,” ujarnya, kemudian Nana mengamatinya. Dia mengenali foto ini.

“Nana, nama ayahmu Byun Sung Joo, kan?” Kali ini, Ayah Kris bertanya ramah. Nana menggeleng pelan, “Tidak, Ayah.”

“Lalu, siapa Byun Sung Joo itu? Dia kan yang menjadi wali mu waktu kalian menikah.” Kris memandang Nana cemas, Nana tersenyum.

“Dia ayah sahabatku, juga keluarganya akrab dengan keluarga kami. Kami sama-sama tinggal di Hokkaido. Ayahku sudah meninggal, jadi dia yang menggantikan posisi ayahku. Maaf, sebelumnya aku tidak memberitahu hal ini.” Jawab Nana Sopan dan pelan, sontak membuat ibu Kris memandang kaget kearah Nana.

“Nama ayahmu?” tanpa basa-basi, ibu Kris lansung bertanya.

“Jung Shin Woo.”

“Siapa?” kali ini, ayah dan ibu Kris serentak menanyakan hal yang sama.

“Jung Shin Woo. Biasanya, ayah dipanggil Shinichi Jung. Dan foto ini… ini aku, kakakku Jung Na Mi dan ibu juga ayah sewaktu di Sapporo. Aku punya fotonya, tunggu aku ambilkan.” Nana beranjak berdiri lalu berjalan ke kamarnya. Sementara itu, terlihat Ibu Kris seakan tidak percaya. Begitu juga dengan ayah Kris. Sementara Kris dan Kakaknya, hanya memandangi orang tuanya dengan penuh tatapan kebingungan.

Nana kembali ke ruang tamu, lalu menyerahkan sebuah album foto yang terlihat sudah lama tapi masih terawat. “Bukalah, disitu foto-fotoku dan keluargaku sewaktu di Sapporo.”

Nana tidak bercanda. Ibu Kris mengerjapkan matanya. Fotonya sama persis dengan foto yang ibu Kris punya. Bahkan, ada close up Nana dan ayahnya, dan sekali lagi, foto tersebut sangat mirip dengan foto yang lagi-lagi Ibu Kris miliki.

“Tidak mungkin… Kau… Jung Nana bukan?”

“Nana itu nama panggilanku. Nama lengkapku Jung Na Eun.”

Ibu Kris langsung beranjak ke Nana, dan mengajaknya berdiri. Lalu, Ibu Kris memandangi lekat-lekat wajah Nana. “Kau…Anak Hana dan Shinichi Jung?” Nana mengangguk kebingungan menatap ibu Kris. Ayah Kris juga ikut-ikutan berdiri dan memandang Nana. Kris semakin bingung melihat mereka.

“Benar nama ayahmu itu Shinichi Jung?”Tanya ayah Kris memastikan. Nana mengangguk. Ibu kris langsung memeluk Nana, sontak Nana kebingungan dengan perlakuan yang dia dapatkan.

“Kau Jung Na Eun… kenapa kau menghilang?”ujar ibu Kris senang. Nana semakin tidak mengerti apa yang terjadi, lalu memandangi Kris dengan tatapan minta tolong.

“Ibu… Ayah sebenarnya kalian kenapa?”

“Kau tahu anak paman Jung yang selalu ibu ceritakan? Ini , dia, ternyata istrimu adalah anak paman Jung.”

Kris tidak percaya dengan apa yang barusan ibunya katakan. Anak Paman Jung yang dijodohkan dengan dirinya adalah… Nana?
“Ibu, aku tidak mengerti dengan ini semua.”

“Sewaktu kami masih satu kantor, aku sempat ditolong oleh Shinichi. Aku sangat berterima kasih, dan sebagai balasannya aku menawarkan untuk melakukan perjodohan dengan anak bungsunya. Jung Na Eun. Lalu ketika Shinichi tiba-tiba hilang jejak, sejak itu Jung Na Eun juga menghilang. Kami kehilangan kontak. Tidak ada yang tahu keberadaan Jung Na Eun maupun Shinichi Jung… bahkan Hana dan anak pertamanya juga menghilang…” Ayah Kris sedikit menerawang sewaktu menjelaskannya.

“Jadi… Aku dijodohkan dengan Nana, begitu? Tapi, Karena ayah dan ibu kehilangan informasi, jadinya aku ini.. aku tidak mengerti.”

“Aku menjodohkanmu dengan anak Shinichi, lalu tiba-tiba pada saat tahun kedua kau kuliah, Shinichi dan anaknya hilang tanpa jejak. Aku masih terus mencarinya, dan… beginilah.” Ayahnya berbelit-belit dalam menjelaskan, Kris semakin bingung dengan ini semua.

“Biar kupermudah. Intinya, aku dan Nana dijodohkan? Lalu, karena menghilang, aku tidak jadi dijodohkan tapi Ibu dan Ayah masih berharap ingin menjodohkanku?”

Ayahnya mengangguk. “Lalu, perjodohan yang aku tidak inginkan waktu itu, itu karena ayah dan ibu ingin menjodohkanku dengan Nana? Tapi karena Nana menghilang, dan aku mengatakan ingin menikah, jadi kalian merestui rencanaku untuk menikah?”

Ayah dan ibunya mengangguk.

“Secara tidak langsung aku sudah melakukan perjodohannya, iya kan ayah ibu?”

Kris melirik Nana yang bingung dengan tatapan menggoda, dan Nana semakin tidak mengerti.

-oOo-

 

Nana meraba lehernya. Benda itu tidak ada, apa dia melepasnya atau jatuh? Ah, Nana pun mencarinya keseluruh penjuru kamar. Dibawah bantal, dibalik selimut, di sela-sela buku. Tidak ada.

“Dimana aku menaruhnya…”gumam Nana sambil terus mencari. Kris yang masuk ke kamar, melihat Nana yang sibuk mencari sesuatu bertanya pada Nana. Nana bergumam tidak jelas sambil terus mencari benda itu. Kris mengerutkan dahinya, jangan jangan benda yang dia temukan di kamar mandi tadi pagi. Kris mencoba menghampiri Nana. Nana menoleh begitu mendapati ada yang menepuk pundaknya. “Iya?”

Kris merogoh saku celananya, dan mengeluarkan kalung dengan liontin berbentuk setengah bunga. “Looking for this?” Tanya Kris. Nana mengangguk senang, lalu mengambil dari tangan Kris dan memakainya. “Ini berharga untukku. Aku pernah bertukar bandul bunga ini kepada anak laki-laki yang pernah kuceritakan padamu itu.” Tanpa diminta, Nana menjelaskan alasannya.

Kris terus memandangi kalung itu. Lalu bergantian memandang wajah Nana. Rasa penasaran muncul dibenaknya, seakan ingin memastikan dugaan yang sangat tidak terduga ini benar. “Kau.. ingat nama anak itu?” Nana menggeleng, lalu menghela napas dan cemberut.

“Kalau saja aku sempat menanyakan namanya, sewaktu itu dia terburu-buru jadi aku tidak sempat menanyakan namanya,” kata Nana seraya duduk dikursi. Dia tersenyum kepada Kris yang masih memandang Nana kebingungan. “Ada apa? Kau terlihat kebingungan.”

Kris lalu berlutut didepan Nana, dan menggenggam tangannya. Dia yakin sekarang, hanya tinggal memastikan apakah Nana menunggu anak itu atau tidak. Kris menatap Nana dalam, posisi kepalanya sejajar dengan kepala Nana. “Kau… masih menunggu anak itu? Bagaimana kalau dia datang?”

Nana mengerutkan dahinya, “Aku masih menunggunya, dan akan sangat senang jika bisa bertemu lagi.”

“Bagaimana kalau anak itu adalah aku?” Tanya Kris ragu-ragu. Nana membelakkan matanya sesaat, lalu tersenyum tipis. “Tidak mungkin.”

“Mungkin saja. Kau mengharapkanku?”

Nana tidak menjawab. Matanya masih menyusuri mata Kris. Apa yang dikatakan suaminya ini, apa bisa dia percayai atau tidak? Hati Nana memberontak. Perang terjadi dinuraninya.

Kris berdiri, dan beranjak ke lemari dan membuka lacinya. Mengeluarkan sebuah kalung perak dengan bandul yang sama persis dengan punya Nana, lalu kembali berlutut dihadapan Nana. “Ini, bandulmu dulu. Aku ingat, aku pernah diberikan bandul oleh seorang gadis yang termenung menatap hujan dibawah jembatan di Hokkaido.”

Nana mengerjapkan matanya tidak percaya. Dia mengambil kalung dari tangan Kris dan menempelkan bandulnya dengan bandul kalungnya. Cocok, mereka saling mengait. Dan ada tulisan dibelakang bandul tersebut, terukir nama NANA dengan tulisan kanji. Nana menggeleng, seakan ini adalah mimpi. Kris adalah anak laki-laki yang dia beri bandul kalungnya. Mata Nana terpaku pada bandul yang ada ditangannya sekarang.

“Bandul ini tidak akan saling menempel jika bukan dengan bandul pasangannya…”gumam Kris menatap bandul tersebut, lalu tersenyum. Nana menatap Kris tidak percaya, napasnya tercekat. “Kau…”

Oramanieyo, Gadis kecil. Butuh waktu lama untuk menemukanmu, ya? Harus diakui ingatanku memang lemah, sewaktu kita di Hokkaido aku sempat mengingatnya tapi lupa. Butuh waktu lama juga aku mengingatnya, sekarang aku mengingatnya,”ujar Kris. “Oh ya, aku juga sudah tidak takut dengan Rokurokubi.”

Senyum bahagia muncul diwajah Nana, “Halo…”ujarnya senang dan langsung memeluk Kris. “Aitakatta, Boku no hatsu koi (Aku merindukanmu, cinta pertamaku)…”

Kris membalas pelukan Nana sama eratnya. “Aku juga merindukanmu, gadis kecil.” Bisik Kris ditelinga Nana. Nana melepas pelukannya, dan menatap Kris bahagia. “Kenapa segalanya terjadi, sangat kebetulan?”

Kris tertawa menyadari fakta ini. “Aku menikah dengan gadis yang ternyata dijodohkan denganku dan gadis kecil yang memberikan bandul bunga ini. Takdir mengatakan kita jodoh.”

Nana tersenyum dan menggangguk setuju dengan apa yang dikatakan Kris. “Aku mencintaimu, Kris. Cinta pertamaku.”

Kris membelai pipi Nana tersenyum. “Aku juga mencintaimu, Nana. Orang yang dijodohkan denganku.”

 -oOo-

Kris menangis dibawah jembatan dekat rumahnya di Hokkaido. Dia kesal, harus pindah lagi. Dia sudah merasa nyaman di Hokkaido, baginya sangat susah untuk beradaptasi lagi. Apalagi, dia sudah mendapat banyak teman baik. Tangisannya tersedu-sedu, karena ibunya tak kunjung mencarinya. Padahal, sudah 1 jam Kris menangis disini. 

 

Kris terus menunduk dan meringkuk memeluk lututnya menangis, dan tanpa dia sadari, ada seorang gadis kecil mendekat. Gadis itu juga sedang berteduh, dan menunduk menatap Kris yang sedang terisak.

 

“Kau kenapa?”tanya gadis kecil itu. Kris mengangkat wajahnya yang sembab, memandang gadis kecil yang aneh dan asing.

 

“kau kenapa ada disini?”kata Kris, mengucek-ngucek matanya.

“Ini tempatku. Kau anak baru, ya?”

“tidak. Aku sudah lama tinggal disini. Kau jangan menggangguku !” bentak Kris yang membuat gadis kecil itu tersentak kaget.

 

“Kau kasar sekali…”gumam Gadis kecil menunduk. Kris tiba-tiba  itu merasa bersalah, kemudian berdiri. Sambil sembab dia berdiri  “Maafkan aku,”katanya. Tangannya terulur untuk menyalami gadis kecil itu. Gadis kecil tersenyum, lalu membungkuk hormat

 

“Tidak apa-apa kok”senyum nya lebar, menampakkan lesung pipit kecilnya. Pipi Kris  langsung menjadi semburat merah, tersipu malu.

 

“Kau cantik sekali…”ujar Kris. Gadis kecil itu pun tiba-tiba jadi tersipu sendiri, lalu duduk disamping anak itu. Anak itu pun duduk, mereka berdua terdiam menatap langit mendung.

 

“kenapa kau menangis tadi?”Tanya gadis itu.  

“Orang tuaku harus pindah darisini, tapi aku sudah nyaman disini. Banyak teman teman yang ramah… Kei…Kenta….Ai…. aku bosan berpindah tempat terus…”isak Kris. Gadis itu diam.

 

“jadi…aku lari kesini…. supaya….mereka….tidak….pindah….aku…tidak…mau..pindah…”

 

“Tapi, orangtuamu repot nantinya… Kamu tinggal sendirian, nanti sadako keluar dari TV lalu menerkammu? Bagaimana?”tanya gadis itu.

“Aku melempar bawang”

“Sadako tidak mempan bawang… nanti Rokurokubi datang dibalik jendelamu…hiiy”

“kenapa kau jadi menakut-nakutiku…”

“Ayah Ibumu pasti kecewa dan khawatir kau begini… nanti sadako memakanmu…”

“berhenti…hua”anak itu kembali menangis. Nana kecil terbahak mendengarnya

 

“Aku bercanda. Jangan bersikap seperti itu. Ibumu dan Ayahmu pasti khawatir. Lagipula, kau bisa mengirim surat, seperti yang kulakukan dengan nenekku”ujar gadis kecil itu. Kris  mengangguk setuju, lalu menyeka air matanya.

“Benarkah?” kata Kris.

“Nenekku tinggal di Seoul. Aku sering merindukannya, jadi sering mengirim surat untuknya.”

 

“Kata Nenekku, kita harus jadi anak yang berbakti dan taat pada Orang Tua. Kalau tidak, Rokurokubi memakan kita”

 

“Baiklah. Aku harus jadi anak yang baik untuk orang tua”ujar Kris semangat, berteriak seperti berjuang.

 

“Hujannya sudah reda”kata gadis kecil itu berdiri mengadah ke langit.

 

Sayup-sayup, Kris mendengar suara yang memanggil. Kris menoleh, dan dari kejauhan suara yang dia kenali terus memanggilnya. Ibunya.

 

“Ibuku sudah menemukanku”kata Kris beranjak berdiri. Gadis kecil itu tiba-tiba melepas sesuatu dari lehernya.

 

“Ini untukmu”kata Gadis kecil itu tersenyum. Gadis kecil itu melepas bandul kalungnya, dan seperti memotong bandulnya menjadi dua. Kini, bandul bunga itu seakan terbagi dua, dan memberikan bagian dari bandul bunganya kepada Kris.

 

“Aku suka berteman denganmu. Suatu saat kita bisa ngobrol di masa depan nanti. Bandul ini yang akan membuat kita bertemu nanti”kata gadis kecil itu.

“Kalau ada samanya?”

 

“Bandul ini tidak akan bisa menyatu dengan bandul yang lain kecuali bandulku ini. Kata kakek, ada kait khusus dan magnet khusus yang cuma bersatu kalau dengan bandul pasangannya  ”Nana tersenyum. Anak laki-laki itupun tersenyum

 

“Aku akan selalu mengingatmu, karena aku menyukaimu”kata Kris lalu berlair ke arah ibunya. Sementara gadis kecil it uterus emlihat pundak Kris yang perlahan manjauh. Tak lama, ada seseorang yang memanggil gadis kecil itu.

 

Gadis kecil itu langsung sumringah melihat siapa yang memanggilnya. Kakaknya dengan payung biru besar, yang berjalan sedikit tergesa-gesa.

 

“Nana.”

-oOo-

 

“Kris.” Panggil ibunya. Kris berlari kecil ke ibunya yang nampak khawatir. “Ibu, aku ikut pindah.”

Ibunya memandangi wajah Kris yang sekarang terlihat senang. Lalu sirat senyum muncul diwajah ibu Kris. “Anak baik,”ujar ibunya menggandeng Kris kembali kerumah.

 

Sementara, tangan Kris tetap menggenggam bandul yang gadis kecil tadi berikan. Dia akan memakainya sampai kapanpun, itu janjinya.

—————————————————————————————————————————————————————

AKHIRNYA SELESAI 😀

Maaf kalau epilognya gak sreg ya, alias G E J E -_-v

RCL Please, komen kan ga bayar ^^

see you at next FF >> Nami Sequel ^^

67 responses to “FF : Please, Stop The Time [EPILOG]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s