Love Button [Part 8-B]

love-button-by-joo

Title: Love Button

Author: Joo aka @indahberliana ( follow ya kkkk 😀 *PLAK* )

Main Cast:
-Park Chanyeol (EXO-K)
-Byun Eunji (OC)
-Kris Wu (EXO-M)

And other cast you can find them in this Fanfict.

Genre: Romance, Family, Comedy (maybe).

Rating: PG-15

Disclaimer: semua cast (kecuali OC) punya Tuhan semata. Dont Be Plagiator! Please RCL.

BIG THANKS TO missfishyjazz@myfishyworld.wordpress.com !! >< Nana!! gomawo posternya yang DAEBAK!

A.N: ini dia ff aku muehehe*plak* Kkkk okay check this out! ;;)

INI HANYA FF, JADI JANGAN TERSINGGUNG DENGAN APA YANG DIKATAKAN PARA TOKOH. If there are with many typo please feel free to correct me. Sekian terima kasih ^^

[Part 1] [Part 2-A] [Part 2-B] [Part 3] [Part 4] [Part 5] [Part 6] [Part 7] [Part 8-A]

Preview:

Semakin rumit, Chaerin mulai menyesal tapi ia tidak berpikiran begitu. Ia memperhatikan Eunji dari gerak gerik dan wajahnya. Ada sesuatu yang harus ia sampaikan pada Eunji. Tapi bukan sekarang. Belum waktunya.

Chanyeol menyiapkan sesuatu untuk Eunji. Sudah ia rencanakan saat ia masih dirawat di rumah sakit. 

****

Author POV

“Saem! Ayolah, aku hanya terlambat tak lebih dari 2 menit! Kumohon!” Mohon Eunji pada Guru Lee yang merupakan wali kelasnya yang sering mendapati Eunji terlambat seperti ini.

“Sudah kubilang waktu itu, kau melupakannya? Terlambat lebih dari 2 kali, tak akan kubiarkan masuk.”

“Tapi saem—”

“Tidak ada tapi-tapi—”

Seorang guru yang memakai kemeja putih bergaris vertikal dengan lengan bajunya yang terlipat-lipat hingga sikut, memperhatikan muridnya dan seniornya di depan gerbang sekolah sedang berbicara dari jarak jauh.

Ia melihat bahwa murid yang sedang dimarahi karena terlambat oleh seniornya itu ialah Eunji.

Tak lama, guru tampan itu menghampiri mereka berdua.

“Guru Lee, biarkan dia masuk. Tujuan semua murid ialah belajar, mendapat pembinaan supaya mereka bisa menghadapi Ujian kedepan. Bukankah begitu?”

Guru Lee yang selalu terkagum-kagum dengan ketampanan guru bahasa mandarin di SMA Shin, memilih untuk diam dan membiarkan Eunji masuk. Walaupun sebenarnya dia lelaki. Mungkin ada perasaan iri saat ia membandingkan wajahnya dengan guru tampan satu itu.

Eunji senang tak karuan. Ia berterima kasih banyak sambil membungkukkan badannya kepada guru Lee. Eunji juga melakukan hal yang sama terhadap guru Wu. Ia canggung, ia masih belum beradaptasi dengan kejadian waktu itu. Di saat gurunya itu menyatakan perasaannya pada Eunji.
Kris bisa merasakan kegelisahan yang menyelimuti Eunji tadi, ia tersenyum pahit ketika Eunji melewatinya untuk masuk ke dalam gedung sekolah.

“Eunji, kenapa kau menjaga jarak antara kau dan aku?” Batinnya.

****

Eunji POV

“Jwiseonghaeyo! Aku terlambat!” Seruku sambil membungkukkan badanku 90 derajat setelah membuka pintu kelas dengan terburu-buru.

Tak lama, terdengar olehku suara gelak tawa dari semua murid di kelasku. Aku hanya bisa menghela napas.

Guru Kim yang baik hati, terima kasih banyak untuk tidak menghukumkuuu! Kyaa guru Kim memang yang terbaik! Kkkk.

Aku meletakkan tasku di bawah mejaku dan duduk di kursiku. Aku menghela napas panjang karena kelelahan menaiki tangga dari lantai satu hingga lantai tiga. Sungguh, kakiku mati rasa.

“Hei, kenapa kau terlambat, eo?”

Suara berat yang kukenal terdengar dari sebelah kiriku. Aku masih mengontrol napasku yang terengah-engah.

“Bukankah dua kali terlambat tidak bisa masuk? Kau memanjat tembok di belakang ya? Manjat pohon? Keren!” Bisiknya dengan tatapan usilnya.

capture-20121225-135505

“Diam kau!!!” Seruku yang lumayan keras. Guru Kim yang sedang menulis di papan tulis, menengok ke belakang dan menegur Eunji.

“Hei ada apa itu ribut-ribut?” Tegur guru Kim.

Aku langsung memberi tatapan membunuh ke arah Chanyeol. Hhhhh kau ini awas ya!

Aku dan Chanyeol secara bersamaan menjawab “tidak ada apa-apa, Saem!”
Kelas kembali hening.

Tiba-tiba ada yang membisikiku sesuatu dari arah kiri yang membuatku merinding. “Hei, kau mencatat pelajaran kemarin tidak? Aku pinjam dong.”

Aku menoleh ke arah kiriku. Ya, itu Chanyeol. Aku menghela napasku pelan-pelan.

“Bukannya kau sudah tahu? Aku itu paling malas yang namanya men-ca-tat. Ara? Sudahlah, aku ingin mengerjakan yang di papan tulis dulu.”

“Eiii, kau ini. Aku kan mintanya baik-baik. Kenapa kau menjawabnya seperti bentak-bentak begitu? Aish.” Sindirnya.

Aku kembali menghela napasku. “Aku tidak bermaksud begitu, yeol-ah. Tapi aku lagi tidak ingin diganggu. Lagipula karena terlambat, aku jadi ketinggalan penjelasan yang diterangkan guru Kim.”

“Siapa pula yang menyuruhmu pakai terlambat segala? Ckckck.” Aku yakin hanya aku yang mendengarnya. Apa katanya tadi? Chanyeol-ah, kau ingin mati ya?

Kutatap lagi dengan tatapan-membunuh ku. Dia seperti merinding. Kkk rasakan itu.
“Eiii, kau ini gampang sekali terpancing emosinya ya? Aish, yeoja chinguku ini benar-benar unik.”

“Apa? Unik? Aish. Sudah, kerjakan saja tugas yang diberi guru Kim. Jangan berbicara lagi atau tidak kau akan mati.”

“Aigooo, menyeramkan sekali yeoja satu ini. Hiiy seram.”

Dengan sekali hentakan kakiku ke kaki Chanyeol, dia berteriak keras sekali.

“AARGHHH!!”

Rasakan itu, Park Chanyeol!

“Byun Eunji! Park Chanyeol!! Keluar!!!”

Mm..mwo?? Akhirnya, kami berdua disuruh keluar oleh guru Kim. Aigoo, guru Kim kenapa tega sekali denganku? Hiks.

“Kan, gara-gara kau, Byun Eunji, aku jadi ikut-ikutan terkena masalah. Aish.” Kata Chanyeol sambil mencubit hidungku dengan gemas.

Dengan segera aku melepas cubitan Chanyeol dari hidungku. “Chanyeol! Sakit tau! Diam kau! Aish.”

Dia tersenyum nakal. “Eii, lebih enak di luar ya? Kita ke kantin yuk?”

“Hei! Kau gila?! Kita lagi dihukum seperti ini kau malah ingin ke kantin? Gila!” Jawabku yang berusaha menahan emosiku.

Dengan polosnya dia tertawa. “Aku tahu, tapi aku lapar. Kau tahu tidak, kita ini diberi kesempatan untuk berdua saja, tahu. Sempat terpikirkan olehmu, tidak?”

Apa? Kesempatan untuk berdua? Guru Kim, apakah benar apa yang dikatakan Chanyeol? Aish!

“Kau gila, Park Chanyeol. Mana mungkin guru sebaik guru Kim berpikiran begitu. Jangan salah paham.”

“Terserah apa katamu, yang penting sekarang kau temani aku ke kantin. Ayolah!”

“Tidaaaaaaaak!!”

“YA!! Kalian yang di luar!! Bisa diam tidak?!!!”

Teriakan yang kuyakini dari guru Kim itu membuat kami seketika membeku dan diam. Aku tetap menyalahkan kejadian ini karena ulah Chanyeol yang keras kepala.

“Kau ini kenapa pakai teriak segala sih?”

“Salah kau sendiri, kenapa kau memaksaku untuk ke kantin?”

“Karena aku lapar!”

“Aku tidak tanya!”

“Kau!!”

“Byun Eunji, Park Chanyeol! Apakah kalian mau saya hukum di depan tiang bendera?? Mau???” Tanya guru Kim yang tiba-tiba membuka pintu kelas dengan kasar.

Dengan terbata-bata, kami berdua menjawab, “a-a-aniyeyo saem.”

****

Dengan kesal, aku meletakkan nampan makananku di meja kantin yang ditempati oleh Sulli dan juga Krystal.

“Aish, Byun Eunji! Jangan kasar-kasar seperti itu.” Seru Krystal yang selalu cerewet jika moodku sedang turun.

“Aku tahu, kalian berdua tadi bertengkar, lagi-lagi karena masalah sepele. Aish, kalian ini sebenarnya sudah 19 tahun atau masih 6 tahun sih? Ulah kalian itu seperti anak TK.” Kata Krystal.

Aku dengan cepat menyela, “kalian itu tidak tahu, yang memulai duluan itu Chanyeol. Dia minta ini lah minta itu lah. Dia itu sudah gila.” Seruku.

“Eiii, namja chingu sendiri kenapa malah dikatai seperti itu? Dia itu gila karena kau juga gila, Eunji-ah. Kkkk.” Gelak Sulli yang membuatku menatapnya datar. Seketika Sulli langsung menghentikan tawanya.

“Yang ada aku jadi gila karena dia gila, Sulli-ah.”

Aku teringat akan sesuatu. Ya, kejadian kemarin malam!! Aku harus menceritakannya pada Sulli! Kkk.

“Ah iya. Aku ingin memberitahu kalian, terutama Sulli. Kalian ingin tahu tidak?” Tanyaku dengan senyuman yang membuat mereka berdua penasaran.

“Apa itu?” Tanya mereka.

Aku menyuruh mereka untuk mendekat. Aku menceritakan tentang pertemuanku kemarin malam dengan Kyungsoo. Dan aku juga menceritakan kalau Kyungsoo itu dengan tidak sengaja bilang bahwa dia menyukai Sulli.

Kulihat Sulli tercengang mendengar ceritaku. Sementara aku dan Krystal selalu menggoda Sulli yang hanya tersenyum malu mendengarnya.

“Jadi, kau menyukai dia atau tidak? Aigoo kalian itu serasi! Dia bisa masak dan kau tidak. Itu hebat.” Seruku.

“Apanya yang hebat? Seharusnya aku yang bisa memasak dan dia tidak. Kenapa kau bilang serasi? Ckckck.”

“Justru itu! Ketika kau sakit, dia yang memasak untukmu. Itu kan romantis sekali!” Seru Krystal.

Mendengar kata ‘memasak’ aku jadi teringat janjiku dulu untuk Chanyeol. Ya, memasak untuknya ketika dia sudah pulih dan pulang dari rumah sakit.

Mungkin karena melihat perubahan wajahku, Sulli dan Krystal kebingungan. “Kau kenapa, Eunji-ah?”

“Aku jadi teringat janjiku dulu ke Chanyeol.” Jawabku.

“Janji? Apa?” Tanya mereka berdua.

“Aku berjanji untuk memasakkan makanan yang lezat untuknya ketika dia sudah pulih dari rumah sakit.”

“Aku harus bagaimana? Sekarang saja aku sedang bertengkar dengannya. Kemungkinan dia kerumahku untuk belajar bersama saja sepertinya tidak mungkin. Aku harus bagaimana? Masa aku harus melanggar janjiku sendiri?” Tanyaku sambil menundukkan kepalaku. Aku benar-benar sedih.

“Sudahlah, kau minta maaf saja dengannya. Aku yakin dia hanya kesal sebentar denganmu yang menurutku kau itu sama keras kepalanya dengannya. Lumayan sulit juga sih, karena kalian itu sifatnya sama, jadi harus ada yang mengalah. Kau saja yang meminta maaf lebih dulu. Lalu kau peluk dia dan bilang saja tentang janjimu dulu waktu itu.” Saran Sulli.

Aku terpaku dengan kata-kata bijaknya. Selama aku berteman dengannya, aku tidak pernah mendengar serentetan kalimat yang bijak penuh akan perasaan yang keluar dari mulut Sulli.

Reaksi Krystal sama dengan reaksi yang kukeluarkan. Dia sepertinya juga tidak menyangka teman sekelasnya itu berbicara bijak seperti itu.

“Kau kenapa bisa berkata seperti itu?” Tanya kami berdua penasaran pada Sulli.

Sulli keheranan melihat kami berdua yang begitu terpukau dengan kalimatnya barusan.

“Kalian kenapa, eo? Apa ada yang salah dengan kalimat-kalimatku barusan?”

Aku dan Krystal menyeru, “kalimat yang sangat bijak, Sulli-ah.”

“Kami yakin, kau bisa berkata begitu karena kau sedang bahagia. Yaitu bahagia karena namja yang kau suka juga menyukaimu secara diam-diam. Aku benar kan?” Tanya Krystal.

“Hah? Jadi Sulli juga menyukai Kyungsoo? Jinjja? Wah! Semoga kalian bisa sepertiku dan Chanyeol. Tapi jangan tiru kebiasaan kami ya. Ya bertengkarlah, inilah itulah. Ara? Chukkae! Fighting!” Seruku kegirangan.

Mereka berdua hanya tertawa melihatku menyeru begitu semangat.

****

Author POV

Chanyeol mengeluarkan ponselnya dari saku blazer seragamnya. Ia mencari kontak seseorang untuk ia hubungi.

“Hei, kau punya gitar tidak? Aku pinjam ya?” Katanya kepada seseorang di seberang sana.

“Apa? Untuk apa, hyung?”

“Aish kau ini. Aku punya kejutan untuknya. Sudah katakan saja. Kau ada tidak?”

“Eii, untuk siapa hayo? Aku punya, tenang saja. Aku ikut untuk menyempurnakan rencanamu dong hyung. Kkk”

“Eiii. Tidak, tidak. Rencana ini harus murni dariku. Kkk. Kau bantu aku saja untuk memuluskannya. Kkk.”

“Caranya?”

“Nanti kuberitahu. Ara? Sudah ya aku ingin masuk kelas dulu.”

****

Sementara Eunji bergegas dari kantin menuju ke kelas lebih awal sebelum bel masuk berbunyi.

Eunji berjalan menyusuri koridor lantai 3 sekolah, menuju kelasnya. Sebelum memasuki kelasnya, ia berpapasan dengan seseorang yang berparas tinggi, yang memakai kemeja putih bergaris vertikal dengan lengan bajunya yang terlipat-lipat hingga sikut. Eunji tidak tahu ia sedang berpapasan dengan siapa. Namun, orang yang berpapasan dengannya tersebut malah berbalik badan lalu menarik lengan kanan Eunji yang belum jauh dari jaraknya.

Eunji terkejut ketika merasa lengannya ditarik tangan yang besar milik seseorang. Ia menoleh dan mendapati pengajar bahasa Mandarin di SMA Shin memegang lengannya.

a3r4wr6cmaevvrl_副本

 

“Tunggu,” tahan orang itu.

Eunji membeku. Muncul rasa ragu yang menyelimuti pikirannya untuk menatap orang yang kini berada di hadapannya.

****

“Kau menjauhiku, ya?”

Satu kalimat tanya yang keluar dari mulut orang itu mampu membuat Eunji membeku di tengah atap sekolah yang dihujani butir-butir salju yang dingin namun lembut.

“Eunji?” Ulang orang itu yang kini melipat kedua tangannya di atas pagar pembatas atap sekolah tepat di samping kiri Eunji.

Eunji memantapkan hatinya dan menolehkan kepala kirinya, yaitu ke arah seorang Wu Yi Fan. Ia hanya berdeham sebentar, lalu menolehkan kepalanya ke arah pemandangan yang bisa ia lihat dari atap sekolah.

“Tentang hal yang kukatakan malam itu,” kata Kris menggantung. Ia melihat perubahan air wajah dari wajah Eunji.

“Masih terpikirkan olehmu?” lanjutnya.

Eunji menelan ludahnya, berusaha menutupi kegugupannya. Kris merasa Eunji semakin menjaga jarak dengannya. Dan Kris tidak ingin itu terjadi.

“Aku tahu kau sudah mencintai orang lain,”

Eunji menoleh singkat ke arah Kris yang sudah menatap pemandangan di bawah atap sekolah, lalu ia menatap juga apa yang ditatap Kris.

“Dan aku tahu betul , seharusnya aku tak mengatakan hal itu padamu.”

Eunji menoleh ke arah Kris yang sedang memandang ke suatu arah dengan tatapan kosong.

“Tetapi, aku hanya ingin jujur padamu.”

“Ah… saem…”

“Walaupun, mungkin saja, susah untuk mengembalikan hubungan kita seperti dulu.”

“Bisakah kau memperlakukanku sebagaimana biasanya dulu kau memperlakukanku? Aku tidak ingin membuatmu susah hanya karena perasaanku padamu.”

Eunji masih menatap Kris yang memandang kosong ke sembarang arah. Ia termenung melihat gurunya yang tampan dan banyak dipuja wanita-wanita yang ada di sekolah ini, sedih karena satu orang, yaitu dirinya sendiri.

“Aku tidak mau semua ini berubah hanya karena itu. Pergi ke kebun binatang dengan mengajak Muyeol, kau menjadi tour guideku saat pergi ke istana Gyeongbok. Bermain air di Gwanghwamun Square. Berselca-ria di sana dengan pakaian yang basah. Aku ingin semuanya kembali seperti dulu, dan kau tidak menjaga jarak padaku seperti sekarang.”

Eunji terpaku mendengar semua pernyataan yang dikeluarkan dari Kris. Ia tahu betul, kalimat-kalimat itu keluar dari hati Kris. Eunji kini memikirkan perkataan apa yang dikatakan Chanyeol kala itu. Lalu ia memikirkan pula apa yang dikatakan Kris tadi. Di satu sisi, ia ingin menjadi yeoja yang setia untuk Chanyeol. Tapi, di sisi lain, ia tak ingin membuat seseorang sedih karenanya, dan membuat orang itu seperti tidak bersemangat menjalani hidupnya. Ia ingin membuat semua orang hidup dengan hari-hari yang bahagia.

“Apa yang harus kupilih sekarang?” Batin Eunji.

Kris berpikir bahwa Eunji tidak bisa menjawabnya sekarang. “Kau tak perlu pikirkan hal ini. Yang aku minta hanya aku ingin hubungan kita kembali normal seperti dulu. Kau sendiri kan yang bilang padaku waktu itu? Kau menganggapku sebagai kakak laki-lakimu. Tetapi kenapa setelah kejadian itu, kau malah seperti menjauhiku?”

Eunji membalikkan badannya sembilan puluh derajat ke arah kirinya, sehingga kini ia berhadapan dengan Kris. “Oppa, bukan begitu maksudku,”

Kris menatap mata Eunji dalam. “Lalu apa? Kalau hal itu mengganggumu dan membuat hubungan kita semakin memburuk, anggap saja semua yang kukatakan malam itu tidak ada. Walaupun aku tak bisa memilikimu, tapi aku masih ingin berada di sampingmu, sebagai adikku, Eunji-ah.”

Kris kini mendaratkan kedua tangannya yang besar di kedua bahu mungil milik Eunji. “Eunji-ah..”

“Aku mengerti oppa, aku juga ingin selalu di sisimu, tetapi bukan sebagai selimut hatimu yang dingin. Aku ingin menjadi seorang adik yang selalu menghibur kakaknya yang hampir tiap hari jarang tertawa. Kau pernah bilang padaku, hanya aku yang bisa membuatmu tertawa, kan? Bayangkan. Hubungan adik-kakak itu akan bertahan selamanya dibanding hubungan percintaan, kan? Aku ingin menjadi adikmu, oppa.”

Kris tersenyum, ia senang mendengar kata-kata Eunji. Ia senang Eunji mau menjadi seorang adik untuknya. Tak lama kemudian, ia memeluk Eunji dan mengelus rambutnya dengan lembut.

“Terima kasih, Eunji-ah. Walaupun kita tidak bisa bersatu, tapi kita akan selalu bersama.” Batin Kris.

****

Bel pulang sekolah berbunyi. Seluruh murid-murid di kelas segera menyimpan buku-bukunya ke dalam tas masing-masing dan keluar dari kelas setelah mengucapkan terima kasih kepada guru yang baru saja mengajar.

Eunji dengan tergesa-gesa menyusul Chanyeol yang lebih dulu keluar dari kelas. Ya, mereka sedang bertengkar kecil akibat masalah sepele, seperti biasanya.

“Chanyeol!”

Eunji yakin teriakannya tadi sudah sangat keras. Tapi Chanyeol tidak menoleh ke belakang sama sekali. Eunji tahu Chanyeol masih kesal dengannya.

Tanpa membuang-buang waktu, Eunji berlari sekencang mungkin dan akhirnya dapat menahan lengan Chanyeol yang sudah berjalan hingga lapangan sekolah.

“YA! Kenapa kau tidak menoleh-nolehkan kepalamu? Aku sudah teriak-teriak kaunya tidak mendengar.” Seru Eunji.

“Siapa yang berbicara ya? Sepertinya ada yang mengajakku bicara.” Ucapnya pelan. Walaupun pelan tetapi Eunji masih bisa mendengarnya. Dengan geram Eunji menginjak kaki Chanyeol dengan sekuat tenaganya.

Alhasil Eunji berhasil membuat Chanyeol teriak dan mengangkat kaki kanannya yang diinjak Eunji sambil mengaduh kesakitan.

Eunji kembali teringat tujuannya menghampiri Chanyeol adalah meminta maaf, bukannya membuat Chanyeol tambah kesal padanya. Dengan cepat Eunji meminta maaf kepada Chanyeol akibat injakkannya tadi. Lalu ia merangkulkan tangan Chanyeol ke pundaknya. Mereka menaiki bus yang rutenya menuju halte dekat dengan rumah Eunji.

“Hei, kenapa kau membawaku ke rumahmu?” Chanyeol memulai pembicaraan setelah duduk di bus sekian menit dengan keheningan diantara mereka berdua.

“Kau diam saja. Aku tahu kakimu sakit.” Jawab Eunji singkat dengan pandangan tetap menuju jendela bus yang di samping kirinya.

Chanyeol menatapnya keheranan. Dan hanya bisa diam dan menghela napas.

****

“Aigoo, Chanyeol-ah kakimu kenapa?”

“Kakiku ini menjadi begini karena ulah Eunji, ahjumma.” Jawabnya polos.

Mendengar jawaban itu, mata Eunji langsung menatap tajam Chanyeol. Chanyeol hanya bisa diam dan diam lagi.

Mereka berdua memasuki rumah Eunji. Chanyeol melihat seseorang di ruang keluarga dengan kaus berwarna abu-abu dan orang itu mengacungkan jempolnya. Chanyeol tersenyum lega mengetahuinya.

“Ah, Chanyeol-ah! Kau tunggu saja di ruang keluarga. Ah itu ada Baekhyun. Kau bermain saja dengannya dulu. Jangan ikuti aku!”

****

Eunji POV

“Eomma! Ajari aku memasak, kumohon!” Pintaku dengan wajah memelas kepada eomma. Eomma hanya memasang wajah dengan penuh tanda tanya.

“Eo? Memangnya ada apa? Tumben sekali kau ingin memasak?”

“Aku sudah janji… Ah eommaaa! Cukup ajarkan aku memasak saja, ya?” Pintaku sambil bergerak tidak bisa diam.

Eomma hanya menghela napas. “Eii kau ini bisa diam tidak sih? Akan eomma ajarkan. Tetapi, kau ingin eomma ajarkan memasak apa?”

Seketika aku berhenti menggerakkan tubuhku. Berusaha berpikir untuk memasak apa.

“Aku tidak tahu, eomma. Huhu.”

Dengan sekejap kepalaku dijitak pelan oleh eomma. “Akh! Eomma appo! Huhu.” Seruku sambil mengelus-elus kepalaku.

Aku kembali mendekati eomma yang kini sudah memasang apron merahnya di tubuhnya.

Kupeluk eomma dari belakang, berusaha untuk merayunya. “Eomma, menurutmu, masakan yang enak itu apa saja?”

“Semuanya itu enak. Eomma suka semua makanan.” Jawab eomma santai.

“Eii, maksudku, makanan yang paling enak menurutmu apa?”

“Samgyeopsal?” Jawab eomma.

“Ah, daging lagi. Aku ingin yang berkuah. Nah iya! Berkuah!”

Eomma menjawab, “samgyetang? Itu enak! Kau suka ayam kan? Lagipula, di musim dingin ini sepertinya cocok menyantap samgyetang!”

Wah, sepertinya ide bagus! “Arasseo. Baiklah, eomma ajarkan aku cara memasaknya, ya! Ehehe.”

****

Chanyeol POV

“Jadi, bisakah aku mempercayaimu?”

“Tentu hyung! Tenang saja, selama kau mempercayainya padaku, aku yakin semuanya berjalan lancar. Kkkk.”

Aku menatap Baekhyun. “Rencana 1?”

“Sudah kurencanakan!”

“Rencana 2?”

“Tentu saja sudah kusiapkan.”

“Rencana 3?”

Tiba-tiba Baekhyun melempariku bantal kecil dari sofa yang sedang kami duduki ke arah wajahku. Aish bocah ini. “Kau bertanya terus. Sudahlah, semuanya pasti berjalan lancar!”

Aku rangkul bahunya dan berkata, “aku kan cuma bertanya, kau ini aish jinjja.”

febffa1a3cb611e2bec722000a1f8c33_7

 

“Eh itu Eunji datang, jangan sampai rencana kita gagal, ara?” bisikku sambil melihat Eunji yang berjalan ke arah kami.

“IYAIYA TAPI BISAKAH KAU MELEPASKU HYUNG?”

“KYAAA!! KALIAN SEDANG APA????”

Dengan cepat kulepaskan rangkulanku dari bahu Baekhyun. Lalu aku berdeham sebentar.

“Tidak ada apa-apa.” Jawabku santai. Sementara Baekhyun yang di sampingku hanya sibuk mendengus kesal dan merapikan rambutnya itu. Ckck.

Eunji datang ke arah kami dengan apron merahnya. Eh, apron?

“Noona, kau memasak? Tumben seka— YA!” Teriak Baekhyun sehabis dijitak dengan spatula yang Eunji pegang.

“Seenaknya saja kau bicara. Ekhm, Chanyeol-ah, kau tunggu di sini ya. jangan dengarkan kata Baekhyun yang tadi. Eii, awas kau Byun Baekhyun!” katanya sebelum ia kembali lagi ke dapur.

“Kau lihat kan, hyung? Dia memang selalu seperti itu.”

Aku hanya bisa tersenyum. Aku tahu, dia pasti sedang berusaha memasak yang enak untukku. Cih, katanya sering memasak, tapi nyatanya? Baekhyun bilang padaku dia jarang memasak. Yang ia lakukan di dapur hanya membantu ibunya memasak. Aish Byun Eunji, kau ini benar-benar unik.

“Noona! Gorengkan kentang goreng untukku ya! Buat camilan!” teriak Baekhyun.

“TIDAK MAU!” Balas Eunji dari dapur.

“Ayolaah, aku juga ingin kentang goreng, ya?” Akupun ikut meminta hal yang sama dengan Baekhyun.

“APA? AISH BAIKLAH.” Balasnya.

Aku dan Baekhyun menatap satu sama lain. Dan diakhiri dengan ber-hi-five-ria. Haha.

****

Eunji POV

“Semuanya!! Makanan sudah siap! Saatnya makan malam!!” Teriakku sambil menata piring-piring di meja makan.

korean-food-hanjungsik-01

 

“Noona, ini benar-benar kau yang memasaknya?”

“Eunji, ini benar-benar kau yang memasak? Keren!”

Sepertinya Baekhyun dan Chanyeol terkesima sekali melihat meja makan ini dipenuhi masakan masakan yang kubuat. Walaupun eomma sedikit-sedikit membantuku. Hehe.

“Wah ada kimchi juga! Samgyetang! Uwa!”

Mereka kini duduk di meja makan, aku dan eomma juga duduk dan berdoa. Setelah itu kami mulai menyantap masakan itu.

capture-20121225-192849

“Ternyata kau pintar memasak juga, Byun Eunji.” Puji Chanyeol dengan senyumannya yang..errr… sangat menawan.

Deg..deg..

Astaga kenapa aku jadi gugup begini!? “Ah, go…gomawo.”

Aku rasa wajahku mulai memerah, kutundukkan kepalaku sambil menggaruk tengkukku. Sementara eomma menyikutku dan berbicara sesuatu lewat pandangannya.

Akupun langsung diam dan berdeham kecil.

“Ekhem, ehehe, sudahlah kalian makan saja dulu. Nanti bicaranya.” Titahku pada Baekhyun dan Chanyeol.

****

Chanyeol POV

Sebelum makan malam…

 

Kami berdua memasuki kamar Eunji dan Baekhyun membawa ‘peralatan-yang-dibutuhkan’ untuk rencanaku ini.

“Hei, lampu-lampu bintang itu mana?” Tanyaku pada Baekhyun yang entah mencari apa di ranjang noonanya itu–dia membelakangiku.

“Itu di bawah meja belajarnya, aku sembunyikan di situ tadi.” Jawabnya tanpa menoleh padaku.

Aku segera mencari barang yang kubeli dengan harga yang lumayan mahal itu dengan tergesa-gesa. Aku takut Eunji memanggil kami dari bawah untuk makan malam, padahal kami belum selesai melakukan rencana ini.

“Lalu, gitarmu kau letakkan di mana?” Tanyaku lagi padanya.

Baekhyun tidak menjawab, aku jadi kesal. Aish. “Yaaaa~ Kau mencari apa sih??” Kususul Baekhyun yang masih sibuk mencari entah apa di ranjang Eunji.

“Eh hyung, tidak apa-apa kok ehehe.” Jawabnya yang langsung bangun dari ranjang dan berdiri tegap dengan wajah aneh.

“Aish, baiklah, gitarmu di mana?”

“Ah kalau itu masih di kamarku. Memangnya mau kau letakkan di sini juga?”

Aku berpikir sebentar. Kalau aku… AH! Baiklah. “Yasudah kalau begitu! Gitarnya tetap di kamarmu saja. Nanti aku ambil.” Jelasku.

“Oke, selanjutnya, aku akan letakkan buku yang sudah kutulis kata-kata yang pasti akan menghanyutkannya…”

“Eii dasar namja penggombal.” Kata Baekhyun memotong perkataanku sambil memukul pantatku dengan buku yang ia gulung-gulung.

Aku menatapnya setengah melotot dan Baekhyun langsung mengernyitkan dahinya dan menunduk serta menggaruk kepalanya yang kuyakini tidak gatal.

“Mian, mian hyung. Aku hanya bercanda ehehe.” Katanya dengan cengiran polosnya. Aigoo lucu sekali.

Dasar Baekhyun, baru kupelototi saja sudah setakut itu. Ckck. Seharusnya Eunji yang seperti ini. Jika Eunji kupelototi begitu, dia malah membalasnya tak mau kalah. Ckckck keras kepala.

“Oke, selanjutnya. Ah ini memang ada tambahan dari rencanaku sebelumnya. Tapi kupikir bagus juga untuk ditambahkan. Ehehe, kelopak mawar!”

Kedua mata Baekhyun langsung membesar setelah mendengan ‘kelopak mawar’ dari mulutku.

“MWO??? YAA HYUNG! Memangnya kalian akan berbulan madu di kamar ini, EO? Pakai kelopak mawar segala, ditaburi di ranjang…”

Aku langsung merampas gulungan buku dari tangan Baekhyun dan memukul kepalanya dengan itu.

“HYUNG! Sakit tahu!”

“Rasakan. Siapa yang mau tahu. Lagian kau ini kalau ngomong sembarangan. Aku tidak menaburinya di tempat yang seperti kau bayangkan tadi. Bukan di situ. Ckck. Dasar yadong.” Tindasku sambil melihatnya yang mengusap kepalanya.

Aku mengambil 5 tangkai bunga mawar merah dari tasku dan menunjukkannya ke Baekhyun.

“Ini. Ada 5 tangkai. Aku akan menaburi kelopak bunga ini di lantai. DI LANTAI. Karena kami belajar bersama di lantai. Di atas karpet hijau ini. Kau sudah tahu kan?” Jelasku sambil mengarahkan telunjukku ke karpet hijau kamar ini.

Baekhyun dengan cepat mengangguk tandanya dia sudah tahu.

Aku jadi tidak enak dengannya. “Mian, mian aku terlalu kasar padamu. Mianhae.”

“Tidak apa-apa hyung. Lagian aku juga yang sembarangan bicara. Ehehe.” Jawabnya dengan cengiran polos.

Aku tersenyum sambil mengacak rambut Baekhyun. “Yasudah kalau begitu. Gomawo buat bantuan dan kerja samanya!” Seruku sambil mengangkat tanganku untuk ber-hi-five-ria dengannya.

Baekhyun dengan tampang cerianya membalas hi-five dariku. Haha polos sekali adik Eunji ini. Persis seperti kakaknya yang polos tapi keras kepala. Haha.

“Ah, rencana terakhir,” kataku terhenti sebelum kami meninggalkan kamar Eunji.

“Apa hyung?”

“Kau ingat kan, rencana terakhir?” Tanyaku mengulang.

Baekhyun menunjukkan jempolnya padaku. “Aku tahu hyung. Kau tenang saja. Ehehe.”

****

‎​Eunji POV

“Chanyeol ke mana? Kok tidak ada? Apa dia sudah selesai makan?” Tanyaku pada Baekhyun yang masih menyelesaikan makan malamnya.

“Sudah noona. Dia sedang ke kamar mandi.” Jawabnya tanpa menoleh padaku. Aku hanya mendengus kesal.

“Yasudah, kalau begitu aku ke kamar duluan ya.”

Kulangkahkan kedua kakiku satu demi satu anak tangga sambil membawa piring yang di atasnya terdapat kentang goreng yang renyah yang baru saja di masak untuk camilan saat belajar bersama Chanyeol.

Kubuka kenop pintu kamarku dengan tanganku yang lain dan meletakkan piring berisi kentang goreng itu di atas karpet bulu hijauku.

Setelah meletakkan piring itu, aku baru menyadari kalau karpet ini terdapat kelopak-kelopak bunga mawar yang tidak kuketahui berasal dari mana kelopak ini. Lalu, di meja persegi yang biasanya kugunakan untuk belajar bersama Chanyeol, di atasnya terdapat 1 tangkai mawar merah.

Hei, ini ada apa sih? Apa Santa baru datang dan memberiku hadiah berupa semua ini?

Aku semakin tidak mengerti. Aku mencoba untuk mengambil buku pelajaran dari tasku dan membukanya. Dan lagi-lagi aku baru menyadari, ada satu buku catatan bersampulkan kertas biru langit. Kubuka halaman pertama buku itu.

 

Aku tidak tahu, sejak kapan aku mulai merasakan dadaku berdebar tiap aku berjumpa denganmu.

Aku tidak tahu pasti, sejak kapan debaran hati ini bisa membuatku sadar jika aku mencintaimu.

Aku tidak tahu, apakah kau merasakan debaran yang sama denganku saat kita berdua berjumpa.

Apakah kau tahu, di dunia ini, tak sedikit orang yang kehilangan pasangannya hanya karena sifat mereka yang egois?

Banyak yang hanya mencoba menguji pasangannya dengan kalimat ‘kita berakhir sampai di sini saja’ dan pasangannya itu tidak mau kalah, dan malah menjawab ‘baiklah, kita akhiri saja’ karena saling menjaga ‘image’ mereka mampu membohongi diri mereka sendiri.

Aku harap kau tidak seperti itu, dan aku harap juga aku tak akan pernah seperti itu.

Walaupun kita berdua sama-sama keras kepala.

Tapi aku ingin hubungan kita sampai maut memisahkan kita berdua.

Apakah kau keberatan, eo?

Aku ingin sekali, kita membesarkan anak-anak kita dan mengantarnya ke sekolah, mengajaknya bermain di pantai, membuat istana pasir bersama.

Sungguh, aku tidak sabar menanti itu semua.

Apakah kau keberatan, Byun Eunji? Jika seorang Park Chanyeol yang keras kepala ini meminta itu semua?

Ingin rasanya aku memeluk gulingku dan lompat-lompat kegirangan di ranjangku.

Sungguh, kalimat-kalimat ini sukses membuat air mataku menggenang. Apakah Chanyeol yang melakukan ini semua?

Aku menengok ke sekelilingku, mungkin Chanyeol ada di sini.

Ingin rasanya aku berteriak, tapi terlalu malu kalau mereka semua mendengar teriakanku.

-Blam-

Eh, ada apa ini?? Kenapa mati lampu mendadak??!! Tapi aku terpana melihat dinding di kamarku yang digantungi beberapa lampu-lampu bintang kecil.

tokolampuhiasjakarta8

Woah, kenapa bisa ada bintang-bintang bertaburan di dinding ini? Lalu juga ada bintang yang bergantungan. Bintangnya berwarna biru. Uwaaa aku suka ini!! Ini semua pasti ulah Chanyeol. Uwaaa.

 capture-20121227-150256

Eh kenapa aku jadi senyum-senyum sendiri seperti ini? Kkkk jatuh cinta nananana…

Cklek…

Aigoo! Suara apa itu!!????

AAA aku kemarin baru saja menonton film horror! Sialan, seharusnya aku tidak menerima tawaran Baekhyun untuk menonton film sialan itu. Aigoo, aku harus bagaimana ini??!!

Suara itu dari kamar mandi di kamarku! Astaga!!

“EOMMA!! BAEKHYUN!!!! KENAPA MATI LAMPU?!!!!”

Aku kabur dan berlari ke pintu kamarku.

“Eunji, tunggu.”

Suara berat ini sangat kukenal. Aku menoleh ke belakang dan mendapati sosok tinggi yang wajahnya dapat kulihat karena cahaya dari bintang-bintang yang bertaburan dan bergantungan di dinding kamar ini.

Chanyeol…

Dia duduk di ranjangku sambil menyilangkan salah satu kakinya. Dan meletakkan gitar yang ia pegang di atas pahanya.

“Chanyeol-ah..” Ucapku menggantung.

Aku bisa melihat dia tersenyum tulus padaku sambil memainkan beberapa nada dari senar gitarnya. “Kenapa? Kau ingin menangis? Menangislah. Kkk.”

“Kenapa aku harus menangis? Aku senang, aku bahagia, bukan sedih.”

“Tapi setidaknya kau terharu kan?” Tanyanya.

Aku tidak menjawab, karena setelah dia bertanya begitu, ia mulai memainkan alunan nada yang membuat perasaanku nyaman. Aku hanya bisa menikmati alunan nada itu di depan pintu kamarku.

Tunggu, rasanya nada ini sangat familiar dengan telingaku.

 

I’ve been awake for a while now

You’ve got me feelin’ like a child now

‘Cause every time I see your bubbly face

I get the tingles in a silly place

 

Ini…

Lagu ini, lagu yang pernah kunyanyikan untuk Chanyeol saat dia sedang kesusahan untuk tidur. Dan lagu ini, merupakan lagu favoritku. Kenapa dia bisa tahu lagi ini, dan mempelajari chord lagu ini? Padahal aku tidak pernah memberitahu judul lagu ini padanya.

 

And it starts in my toes

And I crinkle my nose

Wherever it goes

I always know

That you make me smile

Please stay for a while now

Just take your time

Wherever you go

 

Aku tersenyum, dia menyanyikannya untukku. Walaupun dia memiliki suara yang berat, di telingaku terdengar halus dan nyaman. Dia menyanyikannya dengan baik.

 

The rain is falling on my window pane

But we are hiding in a safer place

Under covers staying safe and warm

You give me feelings that I adore

 

And it starts in my toes

Make me crinkle my nose

Wherever it goes

I always know

That you make me smile

Please stay for a while now

Just take your time

Wherever you go

 

Dia memainkan gitar dengan sangat lihai. Aku suka gayanya saat memetikkan senar gitar dengan ekspresi yang jarang kulihat. Dia terlihat begitu menyatu dengan alunan musik yang ia mainkan.

 

What am I gonna say

When you make me feel this way

I just mmmmm

 

And they start in my toes

Makes me crinkle my nose

Wherever it goes

I always know

That you make me smile

Please stay for a while now

Just take your time

Wherever you go

 

I’ve been asleep for a while now

You tuck me in just like a child now

‘Cause every time you hold me in your arms

I’m comfortable enough to feel your warmth

 

And it starts in my soul

And I lose all control

When you kiss my nose

The feeling shows

’cause you make me smile baby

Just take your time now

Holdin’ me tight

 

Aku jadi teringat, saat di rumah sakit, dia mencium hidungku. Aku geli mengingatnya, tetapi masih saja tersenyum-senyum membayangkannya. Mungkin, bagi orang lain, hal itu biasa. Tapi untukku, aku sangat senang. Romantis dan unik, kalau namja mencium hidung yeojanya.

 

Wherever wherever wherever you go

Wherever wherever wherever you go

 

wherever you go

I always know

‘Cause you make me smile

Even just for a while

 

Aku terpaku saat melihatnya mengakhiri permainan gitarnya dan nyanyiannya. Dia tersenyum padaku, senyumannya membuatku tersenyum dan tersenyum.

“Bagaimana, penampilanku bagus tidak?” Tanyanya sambil meletakkan gitar itu di ranjangku.

Suasana di kamar ini sangat romantis. Lampu-lampu bintang ini memberikan sedikit cahaya terang.

Aku menepuk-nepuk tanganku, memberinya tepuk tangan yang begitu meriah. Dia berdiri dan aku langsung memeluknya erat.

“Mian, tadi di ‎​sekolah aku terlalu keras kepala. Aku memang keras kepala, tapi aku tidak mau berpisah darimu. Seperti tulisan di buku itu.” Kataku yang sedang berada di dekapan Chanyeol.

“Gwenchana, maafkan aku juga. Aku juga terlalu keras kepala, aku tahu aku yang salah. Aku yang membuatmu kesal duluan. Mianhae, Eunji-ah.” Aku merasakan kehangatan dari pelukannya di malam yang dingin ini. Dia mengelus kepalaku yang membuatku tersenyum di dalam pelukannya.

Aku mengendurkan pelukannya. “Pokoknya, kita harus menjaga hubungan kita. Sampai maut memisahkan kita.” Ujarku.

Chanyeol sepertinya terkejut mendengar perkataanku, lalu tersenyum.

“Dan kita membesarkan anak kita, mengantarnya ke ‎​Sekolah, berlibur ke pantai, dan bermain istana pasir di sana.” Ujarku lagi.

Tapi lagi-lagi aku melihat Chanyeol mengernyitkan dahinya, lalu tersenyum lagi. “Chanyeol, kau kenapa?”

Dia menggeleng cepat dan tersenyum. “Iya, dan kita akan membeli rumahh yang besar sehingga anak-anak kita bisa leluasa.” Katanya yang diiringi senyumannya sambil memeluk pinggangku.

Aku hanya bisa tersenyum. “Terima kasih, untuk lagunya, dan tulisan di buku itu.”

“Sama-sama, Eunji-ah. Aku sadar, kita ini memiliki sifat yang sama-sama keras kepala. Aku tidak ingin hanya karena keegoisan dan demi menjaga ‘image’ kita menjadi berpisah. Hari ini cukup menjadi pelajaran untuk kita berdua. Ne?” Balasnya dengan senyumannya.

Aku yakin, nanti malam aku tidak akan bisa tidur tenang. Karena aku pasti selalu membayangkan wajah penuh senyuman itu. Kyaaaaaa.

Aku teringat dengan kentang goreng yang kubawa tadi. “Ah iya! Kentang gorengnya!”

Chanyeol seperti mendengus, aku hanya tertawa melihatnya bertingkah begitu. “Lagi romantis-romantis begini, masih saja memikirkan makanan. Ckck. Dasar maniak makanan.” Sindirnya. Aku hanya bisa menunjukan wajah polosku yang mencengir bak anak kecil. Chanyeol malah mengacak rambutku. Kkk.

****

Kami berdua berdiri di balkon kamarku, menatap langit malam yang berawan.

“Ini semua, kau yang menyiapkannya? Aku suka sekali, gomawo.” Ucapku sambil mengunyah kentang goreng di mulutku dan tersenyum bak anak kecil.

Chanyeol yang lagi mengunyah kentang gorengpun juga tersenyum membalas senyumanku.

Kepalaku bersandar di bahu kirinya dan menyelipkan tanganku ke lengannya. “Baru pertama kali aku mendapat kejutan seperti ini. Sungguh.”

Chanyeol sepertinya terkejut mendengar pernyataanku. “Jinjjayo?”

Aku mengangguk tetapi masih bersandar di bahunya. “Aku harap, semuanya tak secepat matahari yang hanya menyinari siang hari dan bulan-bintang yang hanya menyinari malam hari.”

Kini kurasakan tangannya yang mengelus lengan kiriku. “Lagi pula, malam ini langit sedang berawan. Tidak ada bulan maupun bintang.”

“Iya, karena bulan dan bintangnya kau ambil dan kau hiasi kamarku dengan bulan-bintang yang tadi ada di langit. Kkkk.” Ujarku sambil mencolekkan kentang goreng dengan saus sambal-tomat.

“Kau ini ada-ada saja. Kalau aku bisa mengambil bulan dan bintang, aku sudah jadi dewa dari dulu, kkkk.”

“Ini makan, aaa.” Aku mengarahkan satu kentang goreng ke mulutnya. Dan dengan tampang lucunya dia membuka mulutnya.

Aku hanya bisa tertawa melihatnya seperti kucing yang meminta ikan.

****

Baekhyun POV

Jarang-jarang aku bisa mengerjai mereka berdua, kkkk. Aku yang menambahkan tulisan di buku Chanyeol hyung.

Memiliki anak-anak, mengantar ke sekolah bersama, berlibur di pantai…

HAHAHAHAHAHA aku yakin wajah Chanyeol hyung pasti langsung aneh melihat kembali tulisannya. Kkk.

Tok-tok-tok         

“Masuk.” Jawabku.

“Baekhyun, gomawo gitarnya. Rencanaku jadi sukses!”

Aku hanya bisa tertawa membanggakan diriku sendiri. “Tapi, kok tulisan di bukuku itu jadi agak aneh ya?”

Aduh, gawat.

“Kau tahu tidak?” tanyanya polos.

“Eung… mungkin hanya perasaan hyung saja kali. Mana mungkin bisa berubah begitu saja?”

“Ah, mungkin benar katamu. Yasudah, gomawo bantuannya. Aku pulang ya!”

Aku bisa bernapas lega sekarang, kkkk.

****

Author POV

Chanyeol kini sampai di gedung apartemennya, Green Residence. Ia kemudian menaiki lift dan menekan tombol angka 16. Saat pintu lift terbuka, ia melangkahkan kakinya keluar dan menelusuri koridor sepi tersebut.

Namun ia terkejut melihat seorang wanita yang membelakanginya di depan pintu apartemennya. Saat wanita itu berbalik, “Lama tak bertatap muka, Park Chanyeol.”

****

To Be Continued

MIAAN AKU NGARET LAGI T^T KEASIKAN LIBURAN SOALNYA MUEHEHEHE *PLAK* *AUTHOR GA NYANTAI* /abaikan/ mian ngaret ya dari janji sebelumnya yang bakalan di post hari jumat T^T keasikan main hape sama liburan soalnya :”( DAN MIANHAE PREVIEWNYA GAJELAS BANGET T^T

Gimana liburan reader-deul? Menyenangkan kah? Aku ikut seneng kalo liburan kalian menyenangkan ehehehe. Makasih untuk readers yang terus ngedukung aku dari Chapter pertama sampai chapter ini. Tenang, masih berlanjut kok. Konflik aa Chanyeol kan belom kelar muehehehe *plak*

BIG THANKS to READERS, terus kak Monika yang udah ngebantu aku inilah itulah. Mian kakaak aku ngerepotin kakak terus T^T. Terus kak Hyeah, penulisnya Super Junior Radio Love Series. Kak Hyeah merupakan salah satu author yang menginspirasi aku buat nulis. Aku bener-bener kagum sama penulisan, pembahasaannya. Aku pengen banget bisa membahasakan ffku seperti kak Hyeah. Ya, bagaimanapun aku masih amatir banget jadi ya begini dulu aja deh hehe *PLAK* nah, sama poster yang bernuansa oranye itutuh… makasih banget buat Nana yang udah bikinin poster itu buat ff aku. Keren banget!

Mau curcol apa lagi ya… *plak* udah deh, gaada lagi muehehe. Jangan lupa RCL ya 😀 mian kalo banyak typo muehehe. Kesan dan kritik aku terima kok, BANGET malahan. Aku pengen tau reaksi readers baca ff aku yang gaje ini muehhee. Terus bagusnya gimana buat kedepan. GOMAWO! READERS, JJANG!!

Advertisements

79 responses to “Love Button [Part 8-B]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s