The Secret of Marriage Love [Part 5]

Untitled-1 copy

Author: richannyda

Cast: Choi Ji Hyun (OC)

Park Chanyeol  (EXO K)

Lee Taemin (SHINee)

Kim Yejin (trainee SM)

Other cast: Choi Family (Siwon, Sooyoung, Minho, Sulli)

Park Family (Kim Taeyeon, Park Jungsoo, Ji Yeon, Thunder)

Chan Yeol’s Friend (Suho, Baekhyun, D.O, Kai, Sehun)

Previous part :part 1 Part 2 part 3 part 4

Part 5

.

.

.

Bicara apa dia? Astaga! Jika hanya untuk sekedar berbasa-basi kan tidak harus bilang begitu. Atau jangan-jangan dia benar-benar berniat membuat bayi dengan ku? Tidak.. ini tidak mungkin! Bukankah tadi dia sendiri yang menegaskan kalau dia hanya menyukai Yejin? Memangnya dia pikir bisa membuat anak tanpa cinta?

“ Ji Hyun-ah, kau melamun?” Neneknya Chan Yeol menegurku. Tidak keras, namun cukup membuatku tersentak dari pikiranku.

Aku menoleh dan tersenyum dengan kaku, “Tidak, nek! Hanya kurang enak badan saja” aku menjawab bohong.

Nenek menatapku curiga, lalu beralih menatap Chan Yeol, “Chan Yeol, apa Ji Hyun hamil lebih dulu sebelum kalian menikah?”

Apa?

Astaga!

“Tidak, nek! Aku dan Chan Yeol-s.. Aku dan Chan Yeol Oppa belum pernah melakukan hal yang seperti itu” Aku berkata dengan panik.

Nenek tertawa, “Aku hanya bercanda”

Aku bernapas lega, sementara Chan Yeol dan ayahnya ikut tertawa. Apa aku terlihat sebodoh itu?

Nenek memberikan secarik kertas padaku. Aku terkejut melihatnya. Jadwal harianku selama satu Minggu? Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Sangat mendetail sekali, tapi untuk apa ada jadwal?

“jadwal itu supaya kau ingat tugas dan kewajibanmu untuk melayani kebutuhan Chan Yeol” nenek menjelaskan, “Semua orang di rumah ini punya tugas dan tanggung jawab masing-masing”

“Aboeji sudah memindahkan jadwal kuliahmu menjadi hari sabtu dan Minggu, supaya kau bisa memiliki jadwal yang sama dengan Chan Yeol” Aboeji melanjutkan, “kau tidak keberatan kan? Jadi jika kau mengandung nanti, kau akan lebih santai jika kuliah sabtu Minggu”

Lagi-lagi membicarakan tentang kehamilan. Tapi jika aku kuliah sabtu dan Minggu, bukankah itu lebih baik? Setidaknya aku tidak harus bertemu dengan Taemin.

Aku tersenyum lalu menjawab, “Tidak apa-apa, aku tidak keberatan”

Aboeji mengangguk-anggukan kepalanya, “kalau begitu, kita bisa mengakhiri pertemuan keluarga ini. Terima kasih karena sudah bersedia menjadi bagian dari keluarga kami”

“Kau terlalu lama bicara, Jungsoo” nenek mengingatkan ayah, “pengantin baru kita pasti ingin cepat-cepat masuk kamar. Kau seperti tidak pernah muda saja”

Ayah tertawa, “Baiklah, kalian boleh istirahat”

Aku dan Chan Yeol meninggalkan ruang keluarga setelah mengucapkan selamat malam dan membungkukan badan kami pada ayah dan nenek. Ketika kami baru saja akan masuk ke kamar, tiba-tiba Ji Yeon datang menghampiri kami.

“Selamat malam, Ji Yeon” aku menyapanya sambil tersenyum.

Ji Yeon tersenyum dengan raut wajah aneh, “Ji Hyun… maksudku Eonni, bisa aku pinjam Chan Yeol Oppa sebentar? Eomma ingin membicarakan sesuatu dengannya”

“Tentu saja. Kenapa tidak?” aku menatap wajah Chan Yeol  sekejap. Entah mengapa aku merasakan firasat tidak enak tentang hal ini, tapi aku segera menepiskan pikiran buruk tentang hal itu, “Oppa pergilah! Aku masuk ke kamar duluan”

Chan Yeol mengangguk lalu pergi meninggalkanku bersama Jiyeon. Aku memperhatikannya sampai hilang di anak tangga. Semua akan baik-baik saja. Tidak akan ada masalah.

….

….

Chan Yeol POV

Jiyeon mengajakku masuk ke kamar ibu. Di sana aku melihat ibu meneguk beberapa pil. Dapat aku pastikan kalau itu adalah obat penenang.

Ibu tersenyum ketika melihatku datang bersama Ji Yeon, “Akhirnya kau datang Chan Yeol. Ibu sudah tidak kuat”

Aku berjalan menghampiri Ibu lalu membantunya untuk berbaring di tempat tidur, “Ibu kenapa begini? Bukankah masalah ibu dan ayah sudah selesai?”

Ibu mengangguk, “Tapi ibu tetap saja tidak rela jika wanita matrealistis itu mendapatkan harta kita” Ibu sesenggukan lalu memelukku, “ibu tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah ini, terlebih ayah, kakak dan nenekmu sepertinya sudah terpengaruh oleh kebaikan palsunya”

Melihat ibu seperti ini rasanya aku menjadi tidak tega tapi apa yang bisa aku lakukan untuk membantu ibu?

“Aku dan ibu terpaksa harus bersikap baik pada Ji Hyun karena kami tidak mau kalau ayah marah seperti kemarin-kemarin” kata Ji Yeon lalu tiba-tiba menjentikan jarinya, seolah mendapatkan ide.  “Aku yakin dia adalah manusia bukan malaikat seperti yang ayah katakan. Sebaik dan sesempurna apapun manusia, dia pasti mempunyai kekurangan. Chan Yeol Oppa, kau mau kan membantu kami mengungkap keburukan Ji Hyun di depan ayah?”

Belum sempat aku menjawab, Ibu lebih dulu menyela ucapanku sambil tersenyum, “Tentu saja Chan Yeol pasti mau. Dari awal kau tidak ingin menikah dengannya kan?”

Aku menganggukan kepalaku dengan perasaan berat. Rasanya aneh sekali, “Aku akan bertanya pada Ji Hyun tentang orang yang dekat dengannya. Aku harap bisa mengorek keterangan dari orang-orang terdekatnya. Tentu saja aku tidak mungkin bertanya pada keluarganya”

Ibu dan Ji Yeon tersenyum menyetujui rencanaku. Aku keluar dari kamar ibu setelah mengucapkan selamat malam dan menenangkan ibu dengan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

….

….

Begitu sampai di kamar, aku menemukan Ji Hyun sudah terlelap di ranjang. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya lampu kecil di dekat ranjang yang masih dinyalakan. Aku langsung naik ke ranjang dan memasukan tubuhku ke dalam selimut. Tiba-tiba Ji Hyun membuka matanya lalu tersenyum padaku.

“Aku kira akan lama” ucapnya.

“kau belum tidur?” balasku.

Dia menguap sebentar, “Aku ingin, makanya aku pejamkan mataku tapi ternyata tetap saja tidak bisa tidur”

“Kau rindu keluargamu?” aku bertanya sekedar untuk berbasa-basi.

“Tidak juga” dia menjawab pendek.

Aku memperhatikannya dalam. Apa aku tanyakan sekarang saja? Sedikit ragu tapi bukankah lebih cepat lebih baik?

Aku menatap wajahnya serius, “Ji Hyun, boleh aku bertanya sesuatu?”

Ji Hyun menatapku penasaran, “Tentu, ada apa?”

“Kau tahu kan jika aku menyukai Yejin? Dia adalah cinta pertamaku”

“Lalu?”

Aku menghela napas, “Apa sebelumnya kau pernah menyukai atau menjalin hubungan dengan seseorang?”

Dia menerawang sejenak lalu menatapku, “Karena kita sudah menikah, sebaiknya kau memang tahu” dia menggantungkan ucapannya membuatku sedikit penasaran, “Sebelum menikah denganmu, aku pernah mencintai dan dicintai seseorang tapi adikku mencintainya juga”

Ji Hyun tertawa canggung, “Setelah tahu kalau akan dijodohkan, ku putuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Tidak ada yang istimewa kan?”

“Boleh aku tahu siapa orangnya?”

Ji Hyun mengibaskan tangannya, “Bukan orang yang penting. Dia Lee Taemin, teman sekelasku di kampus”

…..

…..

Ji Hyun POV

Sedikit curiga dan khawatir juga kenapa tiba-tiba Chan Yeol bertanya seperti itu padaku, namun bukankah itu hal yang wajar jika Chan Yeol bertanya tentang masa laluku.

Aku masih menatap wajah Chan Yeol, namun tiba-tiba ia membalikan tubuhnya membelakangiku. “Aku tidur duluan” ucapnya lalu menarik selimut.

“Ya, aku belum mengantuk” balasku.

Sudah satu jam berbaring, tapi rasa kantuk masih belum datang. Aku menatap langit-langit kamar, tidak berani menyalakan lampu karena aku yakin Chan Yeol akan terganggu jika aku menyalakan lampu. Susah juga berbagi kamar dengan orang lain.

Chan Yeol ternyata tipe orang yang tidak bisa diam jika tidur. Dia membalikan badannya kembali ke arahku. Masih dengan mata terpejam, tiba-tiba dia memelukku dengan erat. Aku membelalakan mataku kaget sambil berusaha mengatur degup jantungku yang tiba-tiba berdegup dengan cepat.

Ini adalah pertama kalinya aku tidur seranjang dengan seorang pria. Meski dia suamiku dan meski kita tidak melakukan apapun, tapi dia memelukku dengan jarak wajah kami yang begitu dekat. Aku bisa merasakan hembusan napasnya di wajahku dan bahkan sepertinya aku bisa mendengar detak jantungnya.

Oh, Tidak! Ini membuatku gila!

Aku menelan ludah, masih mencoba menenangkan diriku bahwa ini tidak apa-apa, tidak akan membuat efek samping apapun. Tiba-tiba aku mendengar ponsel berbunyi. Tidak, bukan nada dering ponselku dan ponselku juga dalam keadaan silent, mungkin ponsel milik Chan Yeol tapi Chan Yeol tidak menunjukan tanda-tanda bahwa ia akan bangun.

Aku mencoba menyingkirkan tangan Chan Yeol yang masih melingkar di badanku. Agak sedikit sulit karena pelukannya begitu erat. Dengan sedikit usaha akhirnya aku bisa melepaskan diri.

Ponsel milik Chan Yeol berhenti berdering, namun sedetik kemudian kembali berbunyi. Aku agak kesulitan mencari ponselnya dan ketika aku temukan sumber bunyi, aku menemukan ada 6 iphone disana.

Astaga! Apa-apaan ini? ._.v

Aku mengecek satu persatu iphone milik Chan Yeol dan akhirnya bisa aku temukan. Aku mengambil iphone itu lalu berjalan ke arah ranjang, “Chan Yeol-ssi, ada telepon untukmu” kataku sambil mengguncang-guncang tubuhnya, mencoba untuk membangunkannya, “Chan Yeol-ssi”

Chan Yeol malah bergumam tidak jelas dan tidak membuka matanya sama sekali.

Aku mengangkat ponsel miliknya dengan ragu, tanpa melihat siapa nama kontak yang tertera di ponselnya, “Yeoboseo?”

Suara di sebrang sana tidak terdengar.

“Yeoboseo?” ulangku.

Suara di sebrang terdengar menghela napas, “Ini siapa?” ternyata seorang wanita!

“Aku?” Aku menunjuka diriku sendiri, “Aku Ji Hyun. Ada yang ingin kau sampaikan pada  Chan Yeol Oppa?” sepertinya aku sudah terbiasa menyebut kata ‘Oppa’ jika menyebut nama Chan Yeol di depan orang lain.

“Bisa aku bicara dengan Chan Yeol Oppa?” dia malah bertanya balik.

Aku melirik Chan Yeol sekilas, sepertinya tidak memungkinkan untuknya menjawab telepon, “Chan Yeol Oppa sedang tidur. Jika ada yang ingin kau katakan, akan aku sampaikan”

“Kau.. tidur dengan Chan Yeol Oppa?” dia bertanya hati-hati.

“I… ya” aku menjawab dengan ragu.

“Sampaikan saja padanya kalau Kim Yejin menelepon”

What? Jadi? Kim Yejin? Astaga!

Aku baru saja akan bicara, namun Yejin sudah memutuskan sambungan telepon. Aku menggigit bibir bawahku. Aduh, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau Chan Yeol marah padaku? Apa yang harus aku katakan?

Kau benar-benar bodoh, Choi Ji Hyun!

…..

…..

Aku membuka mataku perlahan. Mungkin karena pesta kemarin tubuhku jadi pegal-pegal. Aku memijat-mijat bahuku ringan lalu mengambil ponsel dan jadwal yang aku simpan di meja kecil samping ranjang.

Ada beberapa panggilan tidak terjawab dan beberapa pesan masuk. Aku memang sering meng-silent ponselku jika sedang tidak ingin diganggu. Semua panggilan dan pesan masuk itu berasal dari satu nomor yang sama ‘Lee Taemin’

Aku mulai membuka satu persatu pesan darinya.

Ji Hyun, kenapa aku tidak pernah melihatmu lagi? Apa kau sengaja menghindariku?

Ji Hyun, apa benar hari ini kau akan menikah?

Ji Hyun-ah, bisakah kita bertemu?

Ji Hyun, kenapa kau tidak pernah mengangkat teleponku dan menjawab pesan dariku?

Ji Hyun, aku merindukanmu. Aku mencintaimu

Pesan terakhir yang dia tulis langsung membuat napas ku sesak. Aku mencoba untuk tidak memikirkan masalah ini, tapi tetap saja tidak bisa. Aku menyimpan kembali ponselku ke tempat semula lalu membuka kertas jadwal harianku.

Gawat! Ternyata sekarang hari sabtu. Berarti jadwalku untuk masuk kuliah. Aku bermaksud untuk membangunkan Chan Yeol tapi pria itu sudah lenyap dari sampingku.

Aku mendengar percikan air dari kamar mandi, sepertinya Chan Yeol sudah mandi lebih dulu. Benar saja, Chan Yeol keluar dari kamar mandi sambil bersenandung kecil. Melihatnya sekarang, membuatku teringat tentang apa yang aku lakukan tadi malam. Sebaiknya apa aku katakan saja kalau Yejin menelepon?

Chan Yeol menatapku bingung, mungkin merasa aneh dengan sikapku. Benar saja dia menghampiriku dan duduk di tepi ranjang, “Kau tidak mau mandi?” dia bertanya dengan suara berat, “Atau tidak mau ke kampus?”

Melihatnya seperti itu, membuatku semakin merasa bersalah. Apa sekarang saatnya aku melakukan pengakuan dosa?

“Chan Yeol-ssi” aku memanggilnya dengan ragu-ragu.

Dia menatapku heran, “ada apa? Apa kau berbuat salah?”

Aku mengangguk, rasanya tidak sanggup melihat wajahnya. “Tadi malam iphone mu berbunyi. Aku mencoba untuk membangunkanmu tapi kau tidak mau bangun”

“Lalu?” Chan Yeol bertanya penasaran.

“Aku mengangkat iphone mu dan ternyata —itu telepon dari Yejin”

“Oh” kata Chan Yeol dengan santai, “Tidak apa-apa”

Apa aku salah dengar? Chan Yeol tidak mempermasalahkannya? Syukurlah!

Chan Yeol melanjutkan, “sekarang kau mandi saja! Aku tunggu di meja makan”

….

….

Setelah selesai bersiap-siap, aku turun menuju ruang makan. Seorang pelayan mengantarku sampai ke ruang makan, mungkin khawatir aku akan tersesat. Tentu saja dengan rumah besar begini sangat mungkin kalau aku tersesat.

Begitu sampai di ruang makan, semuanya menyambutku dengan hangat termasuk Jiyeon dan ibunya. Sedikit bingung juga dengan apa yang terjadi tapi aku senang sekaligus —khawatir

“Unnie, mau aku ambilkan telurnya?” Ji Yeon menawarkan sambil tersenyum. “Chan Yeol Oppa sangat suka dengan telur. Lain kali kau yang harus memasakan makanan kesukaannya”

Aku tersenyum lalu mengangguk mengiyakan. Berubah sikap seperti ini malah membuatku canggung, apalagi ini terjadi secara tiba-tiba. Ada apa sebenarnya?

“Ji Hyun-ah, kau suka makanannya?” kali ini ibu mertuaku yang bertanya, “Hari ini aku khusus memasakannya untukmu. Aku harap kau menyukainya”

“aku sangat menyukainya. Makanan yang ibu buat benar-benar lezat. Sepertinya aku harus banyak belajar dari ibu” kataku setelah menyuapkan sesuap makanan.

Aku melirik sekilas ke arah Ayah mertuaku. Dia tersenyum sepertinya sangat senang melihat ibu dan Ji Yeon bersikap manis padaku. Jika semua orang menjadi senang begini, apa lagi yang harus aku takutkan? Bukankah ini bagus? Selama ini aku tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua. Mungkin aku bisa mendapatkannya dari orang tua suamiku.

Mungkin hanya Thunder Oppa yang terlihat tidak nyaman dengan kondisi seperti ini.

“Ji Hyun-ah” Thunder Oppa tiba-tiba memanggilku, membuat semua pasang mata di ruang makan melirik ke arahnya. Thunder Oppa tiba-tiba tersenyum, “Aku ada hadiah untukmu. Nanti sebelum ke kampus, kita ke kamarku dulu yah untuk mengambilnya”

Ketika acara sarapan keluarga telah selesai, aku mengikuti Thunder Oppa ke kamarnya. Sementara Chan Yeol mengatakan kalau dia akan menungguku di mobil.

“mana hadiahnya?” aku bertanya ketika kami sudah sampai di depan kamarnya.

Thunder Oppa tersenyum, “Kau benar-benar ingin aku beri hadiah? Sayangnya aku tidak punya”

“Lalu?”

Thunder Oppa tiba-tiba menyimpan tangannya di bahuku. Aku sedikit canggung dengan sikapnya, “Meski aku bukan suamimu, tapi aku akan selalu menjagamu” lalu menghela napas, “Aku tidak tahu apa yang sedang direncanakan Jiyeon dan Ibuku tapi aku mohon berhati-hati lah, aku mendapatkan firasat buruk tentang hal ini”

Aku mengangguk lalu tersenyum. Ternyata bukan aku saja yang curiga dengan sikap mereka, “Aku mengerti, Oppa. Tapi jangan khawatir. Aku bisa menjaga diriku”

…..

…..

Sesampainya di parkiran kampus, kami disambut oleh teman-teman Chan Yeol. Begitu Chan Yeol dan aku keluar dari mobil, mereka langsung meledek kami habis-habisan.

Aku hanya tersenyum jika menanggapi pertanyaan teman-teman Chan Yeol yang aneh-aneh. Sebenarnya apa yang mereka pikirkan tentang kami?

“Asal hati-hati saja, Ji Hyun kan masih semester tiga. Akan sulit jika dia hamil nanti” Suho berkomentar.

“Ji Hyun-ah, kalau kau mengambil kelas sabtu Minggu berarti kau akan sekelas dengannya” D.O menunjukan jarinya ke arah mahasiswi yang berdiri tidak jauh dari parkiran. Gadis itu memperhatikanku dengan sinis. Sudah pasti aku bisa langsung mengenalinya, dia —-Yejin.

Begitu menyadari kami memperhatikannya, Yejin langsung meninggalkan tempatnya. Rasanya tidak enak jika mengingat apa yang aku lakukan padanya tadi malam.

…..

……

Hari ini hanya ada dua mata kuliah, hingga aku bisa pulang lebih awal. Aku sudah berkenalan dengan semua teman sekelasku, kecuali dengan Yejin tentunya.

Tadi aku sudah menelepon Chan Yeol untuk mengajaknya pulang bersama tapi ternyata dia masih ada kelas. Chan Yeol memintaku untuk menunggunya di parkiran dua jam lagi.

Aku keluar dari kelasku dan langsung terperangah kaget ketika melihat Taemin sudah berdiri di depan kelasku. Aku berjalan begitu saja, seolah tidak melihatnya tapi ternyata dia lebih dulu melihatku dan langsung mencengkram tanganku.

Taemin menatapku dengan serius, “Aku mohon, biarkan aku bicara padamu sebentar saja!”

Aku melirik jam tangan berwarna biru yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Tidak ada salahnya bicara dengan Taemin lagi pula aku masih harus menunggu Chan Yeol selama dua jam, tapi kenyataannya adalah Taemin itu mantan kekasihku yang masih berusaha untuk mendapatkanku.

“Hanya sebentar kan?” tanyaku setelah menimbang apa yang harus aku lakukan.

Taemin menganggukan kepalanya, “Ya, aku janji”

…..

…..

Suasana di cafe masih sepi, tentu saja karena sekarang bukan jam pulang sekolah sehingga aku bisa leluasa berbicara dengan Taemin. Tapi ternyata selama satu jam malah kami habiskan untuk berdiam diri, sepertinya kami terlalu larut dalam pikiran masing-masing.

“Jadi apa yang kau inginkan?” aku bertanya untuk memecahkan keheningan.

Taemin menatapku dengan tatapan sendu. Mungkin karena pernikahanku kemarin, “Aku akan meninggalkanmu dan berjanji tidak akan mengganggumu lagi jika kau menjelaskan dengan jujur kenapa kau menikah dengannya”

“Aku menikah dengannya karena membutuhkan banyak uang untuk pengobatan Sulli” Aku menjawab dengan jujur. Mungkin memang Taemin harus tahu.

“Berarti itu sama saja mereka menjual adik kandung mereka?” Taemin langsung menyimpulkan.

Aku tersenyum mendengarnya , “Tidak, aku tidak merasa dijual. Anggap saja ini sebagai balas budi”

“Balas budi?” Taemin bertanya penasaran.

“Kau tahu Taemin? Aku bukan anggota keluarga Choi dan mereka merawatku dengan sangat baik selama ini. Jadi apa salahnya kalau aku berkorban —sedikit?”

Taemin terkejut mendengar ceritaku barusan lalu menatapku dengan sinis, “Kau mementingkan mereka tanpa mempedulikan persaanku dan —-perasaanmu?”

“Aku sudah mati sejak tahu kalau aku bukan keluarga kandung mereka begitu juga dengan hati dan perasaanku —sudah mati” Aku menerawang jauh sambil memainkan sedotan juice, “Aku sudah tidak bisa membedakan perasaan sedih dan bahagia. Semuanya terasa sama untukku”

“Kau masih mencintaiku?”

.

,

,

TBC

Kalo komennya sebanyak yang part 4, besok aku langsung post yang part 6 ^^

Buat reader yang mau update-an ff ini bisa follow @anida_srirraa

120 responses to “The Secret of Marriage Love [Part 5]

  1. kalo Chanyeol denger gimana tuh? -__-
    tambah gak suka aja Jiyeon sama Eomma nya
    semoga Chanyeol bisa cinta sama Jihyun ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s