Baby I need Love [Part 8]

BINL 7

Tittle : Baby I need Love [Part 8]

Main Cats :

Cho Kyuhyun (Super Junior), Song Kihyun (OC),  Park Nara (OC),  Choi Minho (SHINEE), Kris Wu (EXO-M)

Support Cats : Temukan sendiri ^^

Genre : Romance, Family, Married life

Rating : PG 14

Length: Chaptered

Author : rahmassaseol (@rahmassaseol)

Backsound: IU- This is Awkward

Disclaimer  : Cerita ini hanya fiksi dan murni hasil imajinasi saya. Jadi, jika ada kesamaan apapun itu, entah peran, karakter atau bahkan jalan ceritanya saya benar-benar minta maaf, karena saya sama sekali tidak tahu menahu. Dan semoga FF ini bisa menghibur kalian semua! Gomawo! ^o^

[Prolog] [Part 1] [Part 2] [Part 3] [Part 4] [Part 5] [Part 6] [Part 7]

~The Reason~

I’ll try anything, I’ll do anything
No matter what, I’m holding on
Even if it’s to make you come back only because you feel sorry
I’ll  cry and beg until it wears me out

Don’t  ask how I’m doing for no reason
In reality, you’re only pretending to care
Just so you can feel comfortable

Author POV

Gadis berparas cantik itu kini sedang berpose untuk pemotretan sebuah majalah fashion ternama di Korea Selatan. Park Nara, seorang aktris yang saat ini sedang berada dalam puncak popularitas itu tampak begitu sempurna dengan dress cantik bewarna keemasan yang membalut tubuh indahnya tersebut. Ia begitu di puja oleh para penggemarnya karena parasnya yang teramat rupawan dengan bakat akting yang luar biasa, terbukti dengan kesuksesan film di mana ia menjadi salah satu pemeran utama di dalamnya. Dan tentunya kesuksesan yang telah diraihnya sebagai seorang aktris papan atas itu kini membuatnya hidup bergelimang harta.

            Setelah sesi pemotretan selesai Nara segera berlari menuju sofa yang kemudian menjatuhkan dirinya di atas sofa yang terlihat nyaman tersebut. Ia terduduk lemas sambil sesekali memijat kedua kakinya yang terasa pegal karena berdiri selama empat jam untuk pemotretan.

“Nara-ya ayo cepat bangun, kau harus segera mengganti pakaianmu untuk sesi wawancara selanjutnya,” ucap seorang yeoja yang merupakan menejer Nara. Sekilas Nara melirik sebal ke arah yeoja berkacamata itu karena merasa terusik.

Aish! Eonni apa tidak bisa ditunda? Aku sudah sangat lelah sekarang,” gerutu Nara yang kemudian bangkit dari duduknya dengan ogah.

Ya! Bertahanlah beberapa jam lagi. Setelah sesi wawancara ini selesai kau bisa bebas beristirahat di rumah,” balas yeoja yang kira-kira berumur tiga puluh tahun itu kepada Nara. Matanya menatap Nara tajam mengisyaratkan agar artisnya itu segera menuruti perintahnya.

Aish! Jinja! Araseo Eonni aku akan segera mengganti pakaianku,” ucap Nara yang menyerah pada akhirnya. Gadis berkaki jenjang itu pun melangkahkan kakinya malas menuju ruang ganti yang khusus telah dipersiapkan untuknya.

**********************************

“Nara-shi saat ini kami akan menanyakan pertanyaan tentang kehidupan pribadimu, apa kau tidak keberatan?” tanya seorang jurnalis kepada Nara.

Ne, silahkah saja bertanya,” jawab Nara sambil memamerkan senyum manisnya yang bisa membuat semua hati lelaki bergetar.

“Baiklah kalau begitu, kami akan mulai dengan pertanyaan pertama.”

“Nara-shi apa kau pernah berkencan dengan seorang pria saat kau masih belum memulai debutmu sebagai aktris?” tanya jurnalis tersebut.

Aniyo aku tidak pernah berkencan dengan seorang pria, hanya saja aku pernah menyukai seseorang yang merupakan teman SMA-ku,” jawab Nara dengan senyum yang masih setia tersungging di bibirnya.

“Lalu apa kau tidak menyatakan perasaanmu padanya?” tanya jurnalis itu lagi dengan mata berbinar-binar.

“Tidak, aku terlalu takut untuk mengutarakannya.” Senyuman yang sedari tadi setia menghiasi wajah cantiknya kini perlahan-lahan memudar, kemudian ia terdiam sesaat sebelum kembali berbicara.

“Saat itu aku merasa sangat tidak pantas untuknya, sebelum aku memulai debutku sebagai aktris aku bukanlah siapa-siapa, aku hanyalah seorang anak miskin yang hidup sebatang kara pada saat usiaku baru menginjak tujuh belas tahun. Sementara dia adalah cucu dari pengusaha kaya raya di Negeri ini,” sambung Nara. Kini senyuman dan rona bahagia di wajahnya benar-benar lenyap.

Sang jurnalis itu kemudian diam sejenak sebelum ia kembali melontarkan sejumlah pertanyaan, “Apa sampai saat ini kalian masih saling berhubungan?”

Ne, kami masih saling berhubungan sampai saat ini. Tapi dua bulan yang lalu kami sempat kehilangan kontak.”

“Apa ada masalah yang terjadi sehingga membuat kalian sampai kehilangan kontak?”

“Tentu saja, masalah yang sangat besar. Aku telah membuatnya benar-benar marah sehingga ia melakukan sesuatu hal yang sebenarnya sama sekali tidak kuinginkan,” jawab Nara. Pandangan matanya kini mengabur, dengan sekuat tenaga ia menahan air matanya untuk jatuh.

“Maaf Nara-shi, bolehkah kami tahu masalah apa yang terjadi diantara kalian?”

Nara pun mengangguk sambil memamerkan senyum pahitnya sebelum ia bicara, “Suatu hari ia menyewa sebuah café untuk melamarku tapi aku menolaknya dengan mengucapkan kata-kata yang jahat kepadanya,” jelas Nara dengan nada suara yang semakin lirih.

Sejenak suasana menjadi hening, seluruh kru yang ada di ruangan itu ikut terhanyut dalam cerita Nara. Sang jurnalis pun kini terdiam menunggu saat yang tepat untuk kembali berbicara lagi.

“Nara-shi kenapa kau menolak lamarannya? Bukankah kau menyukainya?” tanya sang jurnalis dengan hati-hati, ia begitu ingin menjaga perasaan aktris yang sedang naik daun itu.

“Tentu saja aku mencintainya, sejujurnya aku sangat ingin ia menjadi teman hidupku untuk selamanya, tapi kehidupanlah yang membuatku harus mengubur keinginan itu dalam-dalam. Saat itu aku hanyalah artis rookie* yang tidak begitu dikenal dan menikah dengannya akan membuat karirku akan semakin meredup dan perlahan-lahan mati. Walaupun dia kaya raya dan tentunya mampu menanggung segala kebutuhanku, tapi aku tidak ingin membebaninya. Aku ingin berusaha dengan usahaku sendiri dan kembali kepadannya saat aku sudah menjadi orang yang berhasil, saat itu aku baru akan merasa bangga dengan diriku sendiri,” jawab Nara panjang lebar. (*rookie: adalah julukan yang diberikan untuk artis pendatang baru)

“Kemudian apa kau sekarang berniat untuk kembali kepadanya?”

Ne, aku sangat ingin kembali kepadanya. Namun sekarang situasinya telah berbeda, kini ada sebuah tembok besar yang menjulang tinggi diantara kami.”

“Apakah ada pihak ketiga diantara kalian?” tanya jurnalis itu berapi-api.

“Hahahhahh.” Nara tertawa kecil sebelum ia menjawab pertanyaan dari jurnalis itu.

“Sebenarnya yang pantas disebut pihak ketiga adalah aku, karena aku sudah benar-benar terlambat memutuskan untuk kembali kepadanya,” ucap Nara dengan suara sumbang seraya tersenyum getir.

Emmm Nara-shi bolehkah kami tahu siapa pria itu?”

Chesohamnida aku tidak bisa memberitahukannya, yang jelas dia adalah satu-satunya pria yang kutemui sebelum hari keberankatanku ke New York dua bulan yang lalu,” jawab Nara kemudian.

***********************************

Nara kini duduk di bangku tengah mobil van, sementara di samping kanannya duduk sang manejer yang sedang sibuk mengatur jadwal artisnya tersebut. Hening. Tidak ada pembicaraan diantara mereka, semua tampak larut dalam kegiatan masing, sang menejer masih berkutat dengan iPad-nya dan Nara yang sibuk dengan lamunannya.

Setelah sesi wawancara berakhir, dara cantik itu semakin sering melamun, entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Sekilas wanita berkacamata yang duduk di sampingnya melirik ke arahnya seraya menggeleng-gelengkan kepala.

“Nara-ya kau melamun lagi? Sebenarnya ada apa denganmu?” tanya sang menejer yang sekaligus memecah keheningan diantara mereka. Nara pun sontak tersadar dari lamunannya.

“Aku tidak apa-apa Eonni,” jawab Nara sekenanya.

“Sudahlah jangan berbohong kepadaku. Ini bukan yang pertama kalinya aku memergokimu melamun setelah sesi wawancara usai. Ceritakan padaku jika kau mempunyai masalah.”

Eonni, bagaimana jika aku mencintai seorang laki-laki yang sudah mempunyai isteri?” ucap Nara yang kini menatap menejernya tajam. Mata wanita berkacamata itu pun sontak membeliak mendengar pertanyaan mencengangkan dari artisnya tersebut.

Mwo? Ya! Park Nara! Apa kau sudah gila?” sentak sang menejer garang.

Ne, mungkin kau benar Eonni aku memang sudah gila,” jawab Nara frustasi. Air mata yang tadi ia tahan tiba-tiba keluar begitu saja tanpa ia perintah, suara isakkannya pun mulai terdengar.

Ya! Park Nara, jangan-jangan laki-laki yang kau maksudkan itu adalah laki-laki yang tadi kau ceritakan saat wawancara?” tebak sang menejer yang sama sekali tak meleset.

“Sekali lagi kau benar Eonni,” ucap Nara yang sanggup membuat jantung menejernya itu berhenti berdetak.

“Ya!! Park Nara!!”

Eonni, apa yang harus kulakukan? Aku sangat mencintainya,” ucap Nara dengan suara parau.

“Diam Park Nara! Jika sampai ada wartawan yang mengetahui hal ini kupastikan kau akan hancur tanpa sisa,” jawab wanita berkacama itu tajam, matanya kini menatap Nara intens.

“Tapi Eonni…” belum sempat Nara menyelesaikan kalimatnya, suara berat milik menejernya itu menyela.

“Kubilang diam!! Lupakan dia! Kau hanya akan menjadi pihak ketiga yang pada akhirnya akan terbuang.”

*************************************

Kihyun POV

Aku duduk terdiam di ranjangku, menatap sebuah kertas berbentuk persegi panjang itu dengan tatapan kosong, bimbang antara iya dan tidak. Lima hari yang lalu Kris mengajakku untuk kembali bersamanya ke Paris, ia berkata bahwa ia tidak tega melihatku seperti ini, gadis menyedihkan yang berusaha mendapatkan cinta dari seorang namja yang sama sekali tidak pernah memikirkanku, memikirkan tentang perasaanku.

Flashback

“Kalau begitu tidak bisakah kau pergi denganku kembali ke Paris dan meninggalkan semua kenangan buruk di sini?”

“Aku benar-benar tidak tahan melihatmu seperti ini Kihyunie, kumohon ikutlah denganku kembali ke Paris ne?” ucap Kris lirih, menatapku sendu yang kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain sehingga membuat tanganku terlepas dari pipinya .

“Jika aku kembali ke Paris apa yang harus kukatakan pada Ibu? Beliau pasti akan merasa sangat sedih jika aku pulang dengan keadaan seperti ini,” jawabku lemah.

Miane Kris aku tidak bisa menerima ajakkanmu,” lanjutku.

“Dengar Kihyunie kau tidak perlu menjawabku sekarang, pikirkanlah baik-baik terlebih dahulu. Jika kau memilih untuk tinggal lebih lama di sini itu sama saja dengan membuatmu mati secara perlahan, dan kau tahu rasanya pasti akan sangat sakit hingga membuatmu sulit untuk bernafas. Bagaimana bisa kau menghabiskan seluruh sisa hidupmu bersama seorang namja yang sama sekali tidak mencintaimu?” jelas Kris panjang lebar. Aku hanya bisa terdiam mendengar perkataannya barusan.

Pria berambut keemasan itu kemudian mengambil sesuatu dari dalam saku kemejanya dan memberikannya kepadaku. Aku pun menatap sebuah kertas berbentuk persegi panjang yang ia berikan padaku dengan dahi berkerut.

“Aku akan memberimu waktu tujuh hari untuk memikirkan jawabanmu. Datanglah jika kau menerima ajakkanku untuk kembali ke Paris. Aku akan menunggumu Kihyunie,” ucap Kris seraya beranjak dari tempat duduknya.

Pria itu kemudian berdiri di hadapanku yang masih saja membisu, ia menatapku tepat di manik mata sembari berkata, “Asal kau tahu Kihyunie bukan karena kebetulan kita bertemu di Seoul, aku sengaja datang ke Seoul hanya untuk menemuimu dan membawamu kembali ke Paris.”

“Tak ada yang namanya kebetulan, dan apa yang kelihatannya sebagai suatu kebetulan muncul dari suatu sumber takdir yang lebih mendalam,” kata Kris lagi yang mengutip kata-kata dari Johann Friedrich Von Schiller sebelum ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkanku sendiri.

End Flashback

            Aku kembali menatap sebuah kertas persegi panjang yang akan membawaku kembali ke Paris lusa. Kata-kata Kris masih saja teringiang di telingaku, dia benar, untuk apa aku tetap berada di Seoul sementara laki-laki yang kucintai sama sekali tidak pernah memikirkanku. Namun rasa yang baru saja tumbuh di dalam hatiku ini sangat tidak mudah untuk dimusnahkan, aku tidak sanggup jika harus berpisah dengannya sekarang. Aku ingin tetap berada di sisinya walaupun akan membuatku sulit untuk bernafas. Meskipun ia jauh dari jangkauanku, meskipun ia melangkah ke arah yang berlawanan denganku, meskipun ia sama sekali tidak melihat ke arahku, tapi aku percaya jika suatu hari nanti atau bahkan jika kami terlahir kembali ia akan berlari ke arahku dan menggenggam tanganku.

“BRRAKK,” terdengar suara pintu kamarku terbuka, tidak beberapa lama kemudian seorang laki-laki berambut ikal itu muncul di baliknya membuatku terkesiap menatap wajah tampannya.

“Kihyunie, aku lapar. Buatkan makan malam untukku ne?,” ucapnya sambil mengusap-ngusap permukaan perutnya yang sudah bernyanyi riang.

“Araseo Kyuhyun-ah,” jawabku seraya bangkit dari tempat tidurku dan kemudian menyelipkan kertas persegi panjang tersebut di map berwarna biru yang terletak di meja nakasku.

Ya! Kertas apa itu?” tanya Kyuhyun yang melihatku menyelipkan kertas persegi panjang itu di dalam map biruku.

Aniyo, bukan apa-apa Kyuhyun-ah,” jawabku cepat.

Ya, tapi aku ingin tahu,” jawab Kyuhyun berkelit. Tangannya yang hendak meraih kertas persegi panjang itu pun segera kuraih dan menyeretnya untuk keluar dari kamarku.

Aish! Sudah kubilang bukan apa-apa, kajja kau harus membantuku memasak!”

*********************************

Kyuhyun POV

Kini aku dan Kihyun tengah menyantap makanan yang telah disiapkannya. Gadis berwajah blasteran itu tampak nikmat menikmati makanannya. Lima hari ini sejak insiden di diskotik malam itu Kihyun terlihat lebih tenang, ia sama sekali tidak pernah marah ketika aku mengucapkan kata-kata kasar atau pun ketika aku menjahilinya, tidak seperti sebelumnya ia selalu balas memakiku atau membentakku. Kini ia lebih suka menjadi pendiam, ia hanya berbicara ketika aku bertanya atau mengajaknya bicara. Aku tidak tahu apa yang membuatnya menjadi seperti itu, jujur aku sangat tidak suka dengan perubahannya, aku tidak suka jika ia hanya mendiamkanku saat sedang bersama denganku.

Hanya ada satu kemungkinan yang saat ini kuyakini, sebuah kemungkinan yang kupikir bisa menjadi alasan perubahan sikap Kihyun. Ia marah, ia sangat marah padaku karena melihatku berpelukan dengan Nara malam itu. Ia marah karena mengetahui bahwa Nara adalah bagian dari masa lalu kisah percintaanku. Ia marah karena aku masih mencintai gadis itu. Jika benar begitu, lalu apa alasannya ia marah kepadaku? Apa haknya untuk marah padaku? Sementara kami tidak saling mencintai, pernikahan kami pun terkesan pernikahan bisnis yang telah di atur. Pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa dijawab jika pemikiranku salah- pemikiranku tentang kami yang tidak saling mencintai. Apa mungkin Kihyun telah jatuh cinta padaku? Jika jawabannya ‘iya’ maka jelaskah sudah alasan yang menjadikannya seperti saat ini.

**************************************

Author POV

Malam terlihat kelabu, bulan yang biasanya memancarkan kemilau indah itu kini bersembunyi di balik awan-awan hitam. Suara petir sesekali mengiringi langkah kaki seorang gadis yang sedang berjalan menyusuri sebuah gang sempit di pinggiran kota Seoul. Ia mengenakan jaket kulit bewarna hitam dengan topi yang menutupi separuh wajahnya berusaha keras agar orang-orang di sekitarnya tidak mengenalinya. Tangan kanan dan kirinya penuh dengan tas-tas besar berisi berbagai barang yang baru ia beli.

Langkahnya pun terhenti ketika ia berada di depan sebuah toko kelontong di akhir jalan gang sempit itu. Terlihat wanita paruh baya dengan pakaian lusuh sedang merapikan barang dagangannya. Wajahnya di penuhi kerutan, rambutnya pun sebagian sudah mulai beruban dan telapak tangannya terlihat kasar, menandakan betapa beratnya hidup yang ia jalani.

“Eomma,” kata gadis itu memanggil. Wanita tua itu pun sontak menoleh ke asal suara tersebut. Tapi bukannya sebuah seyuman atau pelukan hangat yang diberikan wanita tua itu kepada anak semata wayangnya melainkan sebuah tamparan yang berhasil mendarat mulus di permukaan kulit pipinya yang lembut.

Eomma kenapa kau memukulku?” ucap gadis itu lemah seraya memegangi pipinya yang terasa perih. Sepersekian detik kemudian tangisnya pun pecah ketika dirasanya perih yang semakin teramat sangat terasa di pipinya kini telah merambat ke dalam hatinya.

“Apa kau bodoh hah! Bagaimana jika ada yang tahu jika kau adalah anak dari orang hina sepertiku? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidak menemuiku lagi!” ucap wanita tua itu dengan mata berkilat.

Eomma!! Apa salahnya jika aku lahir dari rahim seorang pelacur! Bukankah aku tetap menjadi anakmu?” balas gadis cantik itu pilu.

Ya! Park Nara! Lupakanlah aku! Anggap saja aku sudah mati. Ibu hanya akan merusak masa depanmu,” tukas sang ibu yang masih kukuh dengan sikapnya.

Eomma!! Bagaimana bisa aku menganggapmu sudah mati!” ucap Nara seraya terisak.

“Pergi kau! PERGI!!! Jangan pernah temui aku lagi!” sentak wanita tua itu sambil mendorong tubuh putrinya hingga jatuh tersungkur di tanah.

“Eomma! Eomma! Eommmmaaa!” suara parau itu berusaha berteriak memanggil seorang wanita tua yang kini telah berlari masuk ke dalam tokonya, menutup jendela dan pintunya rapat-rapat.

            Tidak beberapa lama kemudian tetes-tetes air hujan mulai jatuh membasahi bumi, gadis cantik itu pun perlahan-lahan bangkit dan berdiri. Titik-titik air itu semakin memperlengkap kesedihan yang dirasakan Nara, seakan bisa membaca suasana hatinya hujan pun turun semakin deras membuat tubuh rapuhnya kini basah kuyup. Kemudian ia menatap pilu ke arah barang-barang yang tadi berniat ia hadiahkan kepada ibunya tercecer di tanah, membuat semuanya kotor terkena air hujan yang kini membentuk kubangan-kubangan kecil.

            Pelan-pelan, dengan wajah kuyu, Nara melangkahkan kakinya pergi meninggalkan sebuah toko usang milik ibunya. Hatinya masih dibuncah rasa sakit hati kepada wanita yang sudah berjasa melahirkannya itu. Sesungguhnya hanya satu yang sangat ia inginkan dari ibunya yaitu sebuah pelukan hangat saat hatinya tengah gundah seperti saat ini.

**********************************

Kyuhyun POV

Setelah selesai makan malam, aku dan Kihyun kemudian menonton televisi bersama di ruang keluarga. Mata jernih gadis itu kini tengah serius menonton sebuah drama kesukaannya sambil menyuapkan beberapa cemilan ke dalam mulutnya. Sesekali kami mengobrol sambil menunggu sponsor usai, tak ada yang penting dalam obrolan kami karena mungkin hanya aku yang menyediakan topik pembicaraan yang dijawab sekenanya oleh Kihyun.

“Kihyunie bagaimana pekerjaanmu?” kataku kembali membuka topik pembicaraan.

“Biasa saja,” jawabnya datar dengan mata yang tetap melihat ke arah layar televisi.

“Apa suasana kantormu menyenangkan?”

Emm, kukira begitu.”

“Apa semua teman kerjamu memperlakukanmu dengan baik?”

“Ne.”

“Benarkah? Apa sama sekali tidak ada yang pernah membuatmu kesal?”

“Menurutmu?” jawab Kihyun yang sekali lagi membuatku kehilangan topik pembicaraan.  Untuk kesekian kalinya aku dibuat kesal dengan sikapnya yang acuh tak acuh.

Ya! Song Kihyun!” teriakku yang tak sanggup lagi menahan diri melihat tingkahnya.

Wae? Kenapa kau berteriak?” ucapnya masih datar, tapi kali ini aku berhasil membuatnya menatapku.

“Kau aneh!”

“Aku tidak aneh.”

Ya! Apa kau marah padaku?”

“Ani.”

“Lalu kenapa kau bersikap seperti ini?”

“Sikapku biasa saja,” jawab Kihyun singkat dan masih datar, ia pun sama sekali tak mengeluarkan ekspresi kesal kepadaku. Dan sekali lagi ia membuatku mengacak-acak rambutku frustasi.

Kini aku hanya diam, Kihyun pun kembali melanjutkan kegiatannya semula- menonton drama. Tapi aku masih saja terus menatapnya tajam, memperhatikan dengan seksama seluruh gerak-geriknya. Sepersekian detik kemudian dengan cepat kurebut remot televisi yang sedari tadi ia genggam dan menekan tombol bewarna merah untuk mematikannya. Sontak mata bewarna coklat itu pun melotot ke arahku, mata jernihnya itu seolah berbicara, ‘Cepat kembalikan remotku!!’

Wae? Apa sekarang kau marah Song Kihyun-shi?” ucapku seraya meninggikan daguku sebagai tanda aku sedang menantangnya sekarang. Tapi Kihyun tetap diam, gadis cantik itu hanya balas menatapku dengan tatapan seorang pembunuh. Tak habis akal aku pun kembali memancingnya.

“Kenapa kau hanya diam Kihyunie? Kau takut akan kalah dariku?” kataku lagi dengan nada suara meremehkan. Dan kali ini aku berhasil memancingnya, gadis cantik itu kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan ke arahku- masih setia dengan tatapan mematikannya.

Satu langkah, dua langkah, dan semakin dekat. Auranya terlihat berbeda ketika Kihyun benar-benar berada di dekatku dan seketika atmosfer udara berubah mencekam. Bulu kudukku pun berdiri, jantungku berpacu kian cepat, dan kini aku tak berani menatap mata coklat itu. ‘Kurasa ia benar-benar marah padaku,’ ucapku dalam hati. Sekarang aku benar-benar menyesali perbuatanku yang sudah membangunkan Harimau tidur, dan kini rasa takut menyergap hatiku. Kupastikan dalam hitungan ketiga aku sudah berada dalam mobil ambulan.

“Satu, dua, dan Ti….Tiga!” ucapku lirih.

Pelan-pelan kubuka mataku dan mendapati diriku masih berada dalam ruangan yang sama, mataku pun sontak mencari-cari sosok itu. Di luar perkiraanku ternyata Kihyun hanya berjalan melewatiku dan tentunya tanpa melakukan apa-apa padaku, dan dengan cepat kutarik lengannya agar ia berhenti melangkah. Kemudian aku bangkit dari tempat dudukku, masih tetap memegang lengannya. Kuputar tubuh gadis yang berdiri membelakangiku tersebut agar ia berhadap-hadapan denganku.

“Ya Song Kihyun sebenarnya ada apa denganmu?” tanyaku yang membuat gadis itu kini mau menatap mataku. Namun ia hanya membisu.

“Kau marah?” tanyaku lagi dan ia masih saja membisu.

“Kau tuli hah! Kutanya apa kau kau marah padaku? Jika kau marah katakan saja!”

“Kalau begitu pukul saja aku! Pukul! Cepat Pukul!” kataku frustasi menanggapi kebisuannya seraya mengarahkan tangannya kewajahku.

********************************

Author POV

BUAGH!!!

Sebuah tinjuan keras mendarat mulus di pipi kanan Kyuhyun. Lelaki itu kemudian meringis kesakitan, ia pun mengusap hidungnya saat ia rasa ada sesuatu yang mengalir keluar dari sana. Sontak mata Kyuhyun membeliak ketika ia mendapati sesuatu yang mengalir keluar dari lubang hidungnya adalah darah. Ia pun menatap gadis yang telah membuat hidungnya berdarah dengan ngeri.

Ya! Song Kihyun! Kenapa kau benar-benar memukulku!” protes Kyuhyun kesal.

“Kau tahu wajah siapa yang kau pukul ini? Jika kau bukan isteriku sudah kupastikan kau akan menjadi topik hujatan di Koran besok karena telah memukul wajah namja paling tampan di negeri ini,” lanjut Kyuhyun yang masih saja sempat menyombongkan diri di tengah protesnya kepada Kihyun.

Dengan wajah tanpa dosa, gadis Korea- Perancis itu pun berkata, “Bukankah kau yang menyuruhku memukulmu? Dan kebetulan aku juga ingin memukulmu, ya kupukul saja. Kau juga bukan pria paling tampan di negeri ini, masih ada Choi Siwon Super Junior dan Won Bin yang jauh lebih tampan darimu.”

Aish!! Molla! Kau harus bertanggung jawab kerena telah merusak keindahan wajah tampanku ini!” tukas Kyuhyun uring-uringan.

“Dasar bodoh!” umpat Kihyun pelan.

***************************

“Ya! Ya! Appo!”

“Kau ini bisa diam tidak!”

Ya! Apa kau tidak bisa lebih lembut lagi?”

“Cerewet! Cepat kemarikan wajahmu!” jawab Kihyun sengit. Kemudian laki-laki berambut ikal itu pun kembali mendekatkan wajahnya ke arah sang isteri yang mencoba mengobati lebam di sekitar hidungnya.

“Kihyunie,” ucap laki-laki berambut ikal itu kemudian.

“Wae?”

“Apa dulu kau pernah mengikuti kursus karate atau semacamnya?” tanya sang suami sambil memandang ke arah isterinya takut-takut.

“Kenapa kau bisa tahu? Dulu aku pernah menjuarai kompetisi Karate tingkat nasional selama tiga tahun berturut-turut saat aku masih duduk di bangku SMA,” jelas Kihyun yang membuat Kyuhyun terperangah kagum.

“Lalu apa tadi saat kau memukulku kau sudah menggunakan seluruh kemampuanmu?”

“Yang benar saja, itu sama sekali tidak ada apa-apanya,” jawab Kihyun yang kali ini membuat Kyuhyun menatapnya waspada.

“Ya, kau tidak perlu takut, yang jelas aku tidak akan memukulimu sampai mati,” ucap Kihyun sarkasme yang seketika membuat Kyuhyun menampik tangan Kihyun yang sedang mengobati lukanya.

Ya! Jadi kau memang berniat membunuhku?”

“Mungkin,” jawab Kihyun santai.

“Ya! Song Kihyun!!”

 Dengan gerakan cepat laki-laki tampan berambut ikal itu kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah rupawan milik isterinya seraya berkata lirih, “Kau belum tahu ya? Apa akibatnya jika membuat suamimu marah?”

Wajah rupawan Kihyun sontak menegang, jangtungnya berpacu kian cepat memompa seluruh darahnya ke kepala sehingga membuat wajahnya benar-benar memerah.

“Ya Cho Kyuhyun apa yang akan kau lakukan?”

“Menurutmu?”

Gerakan reflek Kyuhyun yang sangat bagus tersebut berhasil menahan Kihyun yang hendak kabur darinya dengan kunciannya, dan tentunya membuat Kihyun semakin memberontak.

Ya! Bodoh! Cepat lepaskan aku!”

Shiro! Aku ingin balas dendam kepadamu karena merusak ketampananku.”

Perlahan-lahan dengan mata yang sudah terpejam Kyuhyun mendekatkan bibir lembutnya ke arah bibir milik gadis yang entah sejak kapan sudah berada dalam dekapannya. Gadis itu pun hanya bisa pasrah, tidak peduli sudah berapa kali ia menjuarai kompetisi Karate tetap saja kekuatannya masih berbanding sangat jauh dengan laki-laki yang saat ini mendekapnya erat.

Desir nafas mereka beradu, membuat wajah Kihyun semakin menghangat, mata coklat indahnya kini pun tertutup seakan tahu apa yang akan dilakukan Kyuhyun setelah ini. Tapi bukan sebuah ciuman yang ia dapatkan dari suaminya melainkan sebuah sentikan jari yang keras di keningnya dan membuat gadis itu terus-terusan mengadu.

Ya! Appo! Apa kau sudah gila hah?” kali ini giliran Kihyun memprotes Kyuhyun.

“Lalu apa yang kau harapkan? Kau pasti sudah berpikiran jorok kan? Dasar gadis mesum!”

Aniyo! Aku hanya berpikir kau akan…..” Gadis itu terdiam tak melanjutkan kalimatnya.

“Akan apa? Apa kau berpikir aku akan menciummu? Akan mencumbumu hah? Dengan mata terpejam dan wajah memerah, apa lagi yang kau harapkan selain itu,” lanjut Kyuhyun yang kini terkekeh kecil.

“Lalu apa aku salah jika berpikir seperti itu? Kau saja yang suka bertingkah abnormal!”

“Jadi kau benar-benar menginginkan aku menciummu?” tanya Kyuhyun dengan wajah polos.

Kihyun mengurungkan niatnya yang hendak menjawab pertanyaan Kyuhyun ketika ia mendengar suara ponsel Kyuhyun bergetar.

“Cepat angkat teleponmu dulu,” kata Kihyun cepat. Gadis bermata coklat itu pun merasa bersyukur karena diberi kesempatan untuk menormalkan kembali detak jantungnya yang sedari tadi berdegup sangat keras.

Kyuhyun pun segera meraih ponselnya dan menekan tombol bewarna hijau untuk menerima telepon, sekilas ada keraguan di hatinya untuk menerima telepon itu ketika dilihatnya nama yang tertera di layar ponselnya.

“Yoboseo?”

“………………………..”

“Ne, waeyo?”

“………………………..”

Ya! Kau tahu ini sudah jam berapa?” jawab Kyuhyun dengan suara mulai meninggi yang tentunya membuat Kihyun penasaran dengan siapa suaminya itu berbicara sekarang.

“………………………..”

Ne ne ne, araseo. Jangan kau tekan belnya, aku akan segera keluar menemuimu,” jawab Kyuhyun kemudian seraya bergerak cepat mengambil mantelnya.

**********************************

Kyuhyun POV

“Yoboseo?”

“Kyuhyun-ah apa sekarang kau ada di rumah?” jawab seorang gadis yang amat kukenal di seberang sana.

“Ne, waeyo?”

“Kyunie-ya bisa tolong kau bukakan pintu? Aku sudah berada di depan pintu apartemenmu,” ucapnya yang membuat mataku sontak membeliak.

Ya! Kau tahu ini sudah jam berapa?” jawabku dengan suara mulai meninggi yang tentunya membuat Kihyun penasaran dengan siapa suami aku berbicara sekarang.

“Pogoshiposoyo Kyunie-ya,” ucapnya manja.

Ne ne ne, araseo. Jangan kau tekan belnya, aku akan segera keluar menemuimu,” jawabku kemudian memutus sambungan seraya bergerak cepat mengambil mantelku.

“Siapa yang menelepon Kyuhyun-ah?” tanya Kihyun yang kini terlihat bingung melihat gerakkanku yang terburu-buru.

Aniyo Kihyunie, bukan siapa-siapa,” jawabku yang semakin membuat Kihyun menatapku curiga.

“Lalu mau kemana kau malam-malam begini?”

“Aku hanya pergi sebentar, tolong kau jaga rumah baik-baik ne?

Kihyun masih saja menatapku curiga dengan ekspresi yang sekali lagi sulit kuartikan, tapi aku mencoba mengabaikannya. Namun sedetik sebelum aku membuka pintu apartemenku, suara bel berdenting nyaring yang seketika membuat jantungku serasa berhenti. Dalam hati tak hentinya aku menyumpahi seseorang yang telah membunyikannya.

“Siapa yang datang?” tanya Kihyun yang kini berjalan mendekat.

Opsoyo Kihyunie, itu pasti hanya orang usil,” jawabku cepat seraya menghadangnya yang ingin membukakan pintu. Dan sialnya jawabanku barusan membuat Kihyun sama sekali tidak percaya karena sedetik kemudian bel apartemenku kembali berbunyi.

Ya! Mana mungkin hanya orang usil.”

“Sudah kubilang itu hanya orang usil!” kilahku.

Ya! Sebenarnya ada apa denganmu? Kau aneh sekali!”

Ya! Song Kihyun!”

Pada akhirnya usahaku untuk menghalangi Kihyun sia-sia, gadis jagoan Karate itu berhasil membuka pintu apartemen kami. Seseorang yang telah membunyikan bel rumah kami itu kemudian tersenyum ramah memamerkan pesona cantiknya. Kihyun pun kini hanya berdiri mematung tanpa ekspresi dan aku hanya bisa berdo’a agar semuanya berjalan baik-baik saja sampai tamu yang tak terduga ini pulang.

“Park Nara-shi?” ucap Kihyun pada akhirnya.

Ne, annyeonghaseyo, maaf aku mengunjungi kalian malam-malam. Aku kehujanan ketika sedang berjalan-jalan di sekitar sini, bolehkan aku sejenak menghangatkan diri di rumah kalian? Kebetulan penghangat yang ada di dalam mobilku rusak,” ucap Nara yang merupakan tamu kami malam ini. Tidak percaya dengan pemandangan di hadapanku sekarang, aku pun masih terdiam mematung di depan pintu.

*******************************

            Kihyun berjalan dari dapur sambil membawa sebuah nampan berisi tiga cangkir cappuccino dan sebuag toples cemilan, kemudian diletakkanya nampan itu di atas meja yang berada di ruang tamu. Setelah itu gadis bermata coklat yang merupakan isteriku tersebut duduk manis di sampingku seraya memberi senyum palsu kepada gadis yang sekarang ini berada tepat di depan kami.

Ah Song Kihyun-shi kau tidak perlu repot-repot.”

Aniyo Nara-shi, aku justru minta maaf karena hanya ini yang kami punya,” jawab Kihyun yang kembali tersenyum palsu.

Ah ya aku juga ingin minta maaf kepadamu Kihyun-shi, karena tidak sempat menyapamu saat kita bertemu di New York waktu itu,” kata Nara lagi berbasa-basi.

“Tidak apa-apa Nara-shi, aku tahu kau sangat sibuk lagi pula suamiku juga menyuruhku cepat pulang saat itu.”

Ah ya sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan kepadamu Park Nara-shi,” sambung Kihyun. Sementara ini aku hanya diam mengamati dua wanita yang sedang mengobrol di hadapanku.

Ne tanyakan saja.”

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Kyuhyun? Kalian terlihat sangat mengenal waktu itu.”

“Kami hanya teman sejak SMA.”

Keure? Syukurlah kalau begitu. Kau tahu aku sempat cemburu karena suamiku mengenal gadis cantik sepertimu,” ucap Kihyun yang membuat hatiku serasa meledak. Tak kusangka ia akan mengeluarkan kata-kata seperti itu.

Wah maafkan aku kalau begitu. Tapi Kihyun-shi kurasa semestinya kau harus terbiasa jika di sekitar Kyuhyun banyak gadis-gadis cantik yang mengelilinginya, bukankah sebelumnya Kyuhyun adalah pria yang playboy? Kau pasti sudah tahu itu kan?”

“Kihyun-shi seharusnya kau tak perlu cemburu padaku jika kau yakin benar suamimu hanya mencintaimu,” kata Nara lagi yang sontak membuat mataku membeliak. Gadis ini benar-benar membuatku pusing.

Ah kau benar Nara-shi, mungkin aku terlalu berlebihan. Kyuhyun adalah suamiku dan pastinya ia hanya mencintaiku,” jawab Kihyun dengan mantap. Kurasa sekarang pembicaraan dua wanita ini mulai mengarah ke intinya dan aku sama sekali tidak ingin topik pembicaraan mereka berlanjut.

Nara pun tersenyum penuh arti kepada Kihyun, dan aku masih saja menatapnya tajam- mengawasi seluruh gerak-gerik gadis yang menjadi tamu kami di malam yang larut ini.

Ne tentu kau harus yakin dan percaya terhadap suamimu, karena setelah ini aku dan Kyuhyun akan lebih sering bersama.”

“Apa maksudmu Park Nara-shi?”

“Apa Kyuhyun belum bercerita kepadamu?”

Kihyun menoleh cepat ke arahku, matanya menatapku seolah berkata, ‘Apa maksudnya ini?’

“Kyuhyun telah menyetujui permintaanku yang memintanya untuk menjadi Produser film yang akan kubintangi, dan aku hanya tidak ingin kau cemburu karena aku akan menghabiskan waktu lebih banyak dengannya yang mungkin akan mengurangi waktu kebersamaan kalian,” jelas Nara yang membuatku spot jantung mendengarnya. Kurasa aku harus menghentikan pembicaraan tak mengenakkan ini dengan paksa sekarang.

Ah! Nara-ya hari sudah malam kurasa kau harus segera pulang sekarang, lagi pula hujan juga sudah lama reda,” sergahku cepat seraya menarik Nara paksa agar ia pergi meninggalkan rumahku yang saat ini terasa sangat panas. Gadis itu pun memberontak tak terima.

Ya! Aku belum selesai bicara,” protes Nara, tapi sama sekali tak kuperdulikan dan tetap berusaha menyuruhnya pulang.

Gadis bermata coklat itu pun kini hanya bisa duduk terdiam, dan dengan tatapan kosong ia memandang ke arahku yang sedang berusaha menyeret Nara keluar rumah kami.

Dan akhirnya aku berhasil menyeret Nara keluar dari rumah kami, sejenak aku dan Nara saling bertatapan.

“Cepatlah pulang dan tidur,” ucapku singkat.

“Kau marah padaku? Miane Kyuhyun-ah. Aku hanya merindukanmu,” jawabnya lemah. Kepalanya pun tertunduk tak berani balas menatap mataku.

“Aku mengerti Nara-ya, tapi aku sama sekali tidak menyukai caramu.”

Mian, aku akan pulang sekarang.” Gadis berkaki jenjang itu kemudian melangkahkan kakinya gontai meninggalkanku.

            Sekilas ada perasaan iba ketika melihat punggungnya semakin menjauh, aku tahu dengan pasti alasan Nara bertingkah dan berucap tak mengenakkan seperti tadi. Sudah lama aku mengenal gadis itu, ia hanya sedang merasa kesepian- ia marah karena merasakan rasa itu kembali. Rasa kesepian karena kehadiranya ditolak oleh ibu kadungnya sendiri.

******************************

Kihyun POV

Suara pintu terbuka, kemudian munculah sesosok lelaki berambut ikal ketika aku sedang membereskan meja ruang tamu. Lelaki itu kemudian duduk di sofa ruang tamu seraya menatapku intens, tapi aku mencoba mengabaikannya dan terus melanjutkan kegiatanku. Ia pun terus mengikutiku kemanapun langkahku pergi sampai pada akhirnya ia berhenti saat aku hendak membuka pintu kamarku.

Suara itu menghentikanku yang hendak menekan engsel pintu. “Kihyunie.”

“Wae?”

“Kau mau kemana?” tanyanya konyol.

“Tentu saja pergi tidur,” jawabku singkat.

“Apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku?” tanyanya lagi.

“Ani.”

“Lalu apa ada yang ingin kau tanyakan padaku?”

“Tentang apa?” ucapku skeptis.

“Tentang Nara.”

“Apa tidak ada yang ingin kau tanyakan padaku tentang Nara,” ujarnya memperjelas pertanyaan yang ia lontarkan kepadaku.

DEG! Sesuatu membuncah hatiku, intuisiku mendorongku untuk mengatakan sesuatu kepadanya tapi seketika lidahku terasa kelu. Entah mengapa air mataku tiba-tiba saja sudah berkumpul di pelupuk tanpa kuperintah.

“Tidak ada,” jawabku parau.

Keure? Ya sudah kalau begitu selamat tidur Kihyunie.”

Aku merutuki diriku ketika gerakan reflekku melakukannya, tanganku dengan cepat meraih lengan Kyuhyun dan kemudian memeluk tubuh jangkung itu dari belakang ketika ia juga hendak membuka pintu kamarnya. Namun Kyuhyun sama sekali tak memberontak, ia malah merapatkan kedua tanganku yang melingkar di pinggannya agar semakin memeluknya erat.

Wae Kihyunie? Ada yang ingin kau katakan kepadaku?”

“Kyuhyu-ah.

“Ne.”

“Jangan menemuinya lagi.”

“Jangan menemui gadis itu lagi,” kataku lagi.

Tangan kekar itu kemudian melepaskan tanganku yang melingkar di pinggangnya, ia pun membalikkan tubuhnya ke arahku. Lalu tangannya menyingkirkan anak rambutku yang menutupi separuh wajahku. Mata jernihnya itu pun kini menatapku tepat di manik mata yang membuatku tak kuasa lagi menahan air mataku untuk jatuh, dan seketika ia merengkuh tubuhku dalam pelukannya.

“Kyuhyun-ah aku mohon jangan menjadi Produser filmnya, aku mohon, aku mohon,” ucapku lirih seraya terisak. Pria berambut ikal itu pun semakin mengeratkkan pelukannya kepadaku.

Wae? Kau tidak suka aku dekat dengannya?”

Ne! Aku benci melihat kau bersamanya.”

Wae? Kenapa kau tidak suka?”

“Karena aku menyukaimu! Karena aku mencintaimu!” jawabku pada akhirnya yang sedetik kemudian merutuki diriku sendiri.

Keure? Pantas kau bertingkah aneh akhir-akhir ini,” ucapnya yang masih memelukku tapi sudah tak terlalu erat seperti tadi.

“Apa kau sudah tahu semuanya?”

Ne, gadis itu adalah cinta pertamamu.”

“Jadi apakah kau mau mengabulkan permintaanku?”

Laki-laki itu kemudian melepaskan pelukkannya kepadaku dan kini ia pun enggan menatap mataku, ia terlihat ragu dan semakin membuatku gelisah.

“Aku tidak bisa,” jawabnya pelan yang bagaikan petir bagiku. Lelaki tampan itu pun berbalik membelakangiku.

“Kyuhyun-ah jebbal jangan temui dia lagi ne?” ucapku memelas namun ia hanya bisu yang kemudian masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya rapat.

Aku menggedor-gedor pintu kamarnya dengan keras seraya memohon, terus berharap ia akan membukanya dan mau mengabulkan permintaanku. Tapi kurasa usahaku sia-sia, ia sama sekali tak bergeming. Aku pun mulai menangis keras dan menjeritkan namanya.

******************************

Author POV

Pagi itu terlihat sepi, sama sekali tidak ada kegiatan di dalam apartemen yang dihuni pasangan suami isteri yang baru menikah dua bulan yang lalu. Cho Kyuhyun seorang kepala keluarga di rumah itu pun kini masih terlelap dalam tidurnya sampai suara ringtone ponselnya berbunyi membangunkannya. Dan dengan mata yang masih terbuka separuh, tangan panjangnya kemudian mencoba meraih ponsel yang ia letakkan di meja nakas samping tempat tidurnya.

“Yoboseo?”

“Ya! Cho Kyuhyun! Sudah jam berapa ini hah? Kenapa kau belum juga datang?” sahut seorang laki-laki dengan suara nyaring.

Hyung, tidak bisakah kau memelankan suaramu?” jawab Kyuhyun setengah sadar.

Aish! Kau ini selalu saja membuatku susah. Sudahlah aku tidak mau tahu! Dalam lima menit kau harus tiba di Kantor jika tidak ingin melihat Kakekmu marah besar,” jelas lelaki bernama Donghae dengan nada frustasi.

“Ne ne araseo Hyung,” jawab Kyuhyun malas yang kemudian memutus sambungan.

Dengan malas lelaki berambut ikal itu kemudian bangkit dari tempat tidurnya, melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ketika ia membuka pintu kamarnya ia merasakan ada sesuatu yang hilang di pagi yang cerah itu, ada yang luput dari pandangannya. Sosok itu, sosok yang selalu dilihatnya setiap pagi kini menghilang dari pandangannya. Kemudian ia memberanikan diri membuka sebuah pintu yang berhadapan dengan pintu kamarnya, bermaksud menemukan sosok itu di baliknya. Tapi yang ia temukan hanya sebuah kamar tanpa penghuni dengan ranjang yang masih tertata rapi.

“Kemana perginya gadis itu?” gumam Kyuhyun lirih. Matanya pun bergerak-gerak menyapu seluruh pelosok apartemennya tapi ia tak juga menemukan sosok itu.

Kemudian mata jernih miliknya  bertemu dengan jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, ia pun kembali bergumam, “Mungkin ia sudah berangkat kerja.”

****************************

Senyum manis seketika tersungging di wajah rupawannya begitu seseorang yang dinantinya datang. Lelaki tampan berambut keemasan itu kemudian melangkahkan kakinya menuju seorang gadis yang kini sedang duduk di salah satu bangku sebuah kedai kopi yang terletak di  lantai satu gedung The Sharp Island Park, di depan gedung pusat KBS Yeouido, Seoul.

Annyeong Kihyunie!” sapa laki-laki itu ramah.

Oh Kris annyeong.”

“Ya kenapa kau mengajakku bertemu sepagi ini?” tanya Kris yang kini duduk di hadapan Kihyun.

“Apa kau sudah memutuskan akan kembali bersamaku ke Paris besok?” sambung laki-laki itu.

Ani, aku belum mengambil keputusan. Aku hanya ingin melihat wajahmu,” jawab Kihyun yang lantas membuat lelaki di hadapannya itu tersenyum manis.

“Ya kau ini memang tak pandai berbohong. Sudahlah jujur saja padaku, kau sedang bertengkar dengan suamimu lagi kan?”

“Lama-lama kemampuanmu membaca pikiran seseorang semakin bagus saja,” ucap Kihyun seraya terkekeh kecil.

Ya! Lalu apa gunanya aku menjadi sahabatmu selama sepuluh tahun.”

“Ceritakan saja padaku, aku siap mendengar semuanya,” lanjut Kris. Pandangan mata pria tampan itu pun berubah serius.

“Gomaweo.” Bibir mungil milik gadis bermata coklat kini terdiam sejenak sebelum ia kembali berbicara.

“Tadi malam aku sudah menyatakan perasaanku padanya.”

“Lalu apa katanya?”

“Ia tidak menjawab. Kemudian aku memintanya untuk tidak lagi bertemu dengan gadis itu.”

“Tapi ia mengatakan tidak bisa,” ucap Kihyun lagi lemah.

“Lalu apa yang kau inginkan dariku sekarang?” tanya Kris dengan senyum penuh arti.

“Aku ingin kau menghiburku sekarang, mood-ku sedang tidak enak untuk bekerja hari ini.”

Keure! Aku akan menghiburmu dengan caraku,” jawab Kris cepat yang kemudian beranjak dari tempat duduknya dan menarik lengan Kihyun untuk mengikuti kemana kakinya melangkah ssekarang.

********************************

Kyuhyun POV

            Hari sudah begitu larut ketika aku pulang dari bekerja, rumahku pun terlihat sunyi begitu aku datang dan sosok itu belum juga terlihat olehku. Kemudian kembali kubuka kamar milik seorang gadis yang telah menjadi isteri sah-ku dua bulan yang lalu, tapi tak juga aku melihat sosok menawannya itu. ‘Apa hari ini ia ada lembur?’ tanyaku dalam hati. Tak berapa lama kemudian tanganku dengan cepat mencari kontaknya di ponselku dan sialnya hanya suara sang operator yang terdengar. Tak hilang akal aku pun langsung menghubungi Minho untuk memastikan apakah Kihyun masih berada di Kantor atau tidak.

Seketika rasa khawatir menyergap hatiku ketika Minho mengatakan bahwa Kihyun tidak masuk kerja hari ini. Jantungku berdegup kencang, pikiran-pikiran aneh kini mulai berputar di dalam kepalaku. ‘Bagaimana bila terjadi sesuatu dengan gadis itu?’ gumamku lirih.

Tanpa sadar langkah kakiku membawaku masuk ke dalam kamar bernuansa pink itu, berbagai ornamen dan pernak pernik khas seorang gadis pun langsung tersuguh di depan mataku. Kemudian aku duduk di ranjang milik sang penghuni kamar sambil mengedarkan pandanganku ke sekitar- mengamati setiap lekuk kamar apik itu. Beberapa kertas-kertas berisi gambaran baju rancangannya tertempel rapi di dinding, lalu pandanganku berhenti pada sebuah map biru yang terletak di meja nakas persis di samping ranjangnya.

Tampak beberapa sketsa baju yang ia gambar ketika aku membuka map biru tersebut. Aku pun kembali membalik lembaran-lembaran kertas yang ada di dalamnya untuk melihat hasik karya-karyanya yang lain, namun ketika aku membalik lembaran keempat aku menemukan sesuatu yang aneh.

“Tiket pesawat?” gumamku lirih.

 “Mungkinkah ia memutuskan untuk kembali ke Paris?” ucapku yang kembali bergumam.

********************************

Author POV

            Sinar Matahari yang berhasil menembus celah celah tirai sebuah kamar bernuansa pink itu berhasil membuat seorang laki-laki berambut ikal terusik. Laki-laki itu menggeliat pelan, kemudian ia mulai membuka matanya yang masih terasa berat. Namun seketika matanya membeliak ketika mendapati dirinya berada di sebuah kamar yang terlihat asing baginya, ia pun dengan cepat mengedarkan pandangannya ke seluruh pelosok kamar itu dan sebuah desahan keluar dari bibirnya. Ia tak juga melihat sosok itu- sosok gadis pemilik kamar yang semalam dibuatnya untuk tidur.

Semalam laki-laki itu tak sengaja tertidur ketika ia sedang menunggu kedatangan isterinya yang menghilang bagai ditelan bumi sejak pagi kemarin. Dengan gerakan cepat ia kembali menghubungi isterinya namun jawaban yang ia peroleh tetap sama seperti tadi malam yaitu suara sang operator mengoceh. Tak mau menunggu lebih lama lagi pria tampan berambut ikal tersebut segera meraih kunci mobilnya dan dengan langkah seribu ia keluar dari apartemennya.

********************************

Ia kini berada di depan sebuah lift, menunggu lift tersebut terbuka untuk membawanya turun ke lantai dasar di mana mobil miliknya terparkir. Tapi begitu pintu lift terbuka bukannya segera masuk ke dalamnya, lelaki bernama Kyuhyun tersebut hanya bisa diam membeku. Sebuah lift yang terbuka itu membawa sepasang manusia.

 “Selamat pagi Mr.Cho,” sapa laki-laki berambut keemasan kepada Kyuhyun.

-To be Continued-

Annyeong chingu2 ^^ Gimana kabarnya?

Hhehe Aku comeback nih dengan Part 8, udah nggak kependekan lagi kan?? Jujur sih sebenernya part ini belum mencapai target untuk bersambung tapi kalau aku lanjutin lagi takutnya malah nggak publish2 hheheeh *plak XDD

Oh iya nih tolog dong jangan panggil “Thoorrr thorrrr.” Kayaknya nggak enak gitu dengernya, silahkan aja panggil aku Eonni, Saengi atau namaku langsung nggak apa-apa (aku 95liner). Trus tolong sertain tahun lahir kalian dalam komentar ^^ bukan maksud apa-apa sih aku cuma mau tahu yang baca ff ini dari umur berapa aja supaya aku bisa nyesuaiin sama isi ff ini *kan kesian sama yang masih di bawah umur heheh 😀

Satu lagi nih aku mau curhat dikit yah? Gk papa kan? Dengerin ya? *plak cerewet banget sih lo

Ini nih lama-lama aku jadi gerah banget sama si Silent Readers T_T  Di part tujuh kemaren tu viewers-nya berbanding jauh banget sama yang komen. Komen kalian itu bukan sekerdar tulisan pemberi semangat tapi juga mendorong aku untuk tetap terus ngelanjutin ff ini. Sebenernya aku udah mau nyerah sama ff ini soalnya makin lama ceritanya makin bikin eneg, tapi begitu aku ngelihat komentar kalian yang tetep menunggu dan repot2 nagih and mention di twitter aku jadi semangat lagi buat nulis.

Apa susahnya sih komen? Walau cuma komen ‘Lanjut’ aku udah seneng kok, malah seneng banget. Apa tulisanku ini sebegitu nggak layaknya untuk dapet komentar dari kalian? *nangis di pojokan.  Oke, aku nggak mengharapkan pujian atau sanjungan dari kalian tapi aku cuma mengharapkan wujud penghargaan kalian berupa komentar, entah komentar kalian itu berisi kritikan aku tetap nerima kok toh aku juga manusia biasa yang masih banyak kekurangan, syukur-syukur di kasih saran supaya aku bisa menulis dengan lebih baik lagi ^^

Ok deh segitu dulu curhatku hehhe 😛 dan mudah-mudahan part ini nggak bikin kalian kecewa *cium readers atu-atu

Jangan lupa like sama komennya yahh ^o^

183 responses to “Baby I need Love [Part 8]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s