The Secret of Marriage Love [Part 9]

chanyeol

Author: richannyda

Cast: Choi Ji Hyun (OC)

Park Chanyeol  (EXO K)

Lee Taemin (SHINee)

Kim Yejin (trainee SM)

Other cast: Choi Family (Siwon, Sooyoung, Minho, Sulli)

Park Family (Kim Taeyeon, Park Jungsoo, Ji Yeon, Thunder)

Chan Yeol’s Friend (Suho, Baekhyun, D.O, Kai, Sehun)

Previous part :part 1 Part 2 part 3 part 4 Part 5 Part 6 Part 7 Part 8

Part 9

.

.

Minho Oppa bangkit lalu berjongkok di depanku, “Kenapa tadi kau tidak mengatakan apapun pada Chan Yeol? Apa kau masih marah padanya?”

Aku menggeleng, “Aku tidak pernah marah padanya, hanya belum siap saja”

Minho Oppa menatap Ri Chan, “Kasihan Ri Chan, tapi aku senang bisa dia anggap sebagai ayahnya”

“Astaga, semoga saja pacarmu di New York tidak akan marah”

….

….

Keesokan harinya aku sengaja menjemput Ri Chan dari sekolahnya. Dapat dipastikan dia sangat senang melihatku. Sepertinya aku benar-benar membuatnya terkejut. Dengan bersemangat dia memperkenalkanku pada teman-temannya. Mereka sangat lucu.

“Mommy kenapa mengajakku kesini?” Ri Chan bertanya padaku ketika aku memarkirkan mobil dan melepaskan sabuk pengaman, “Katanya kemarin ingin jalan-jalan” aku menjawab.

Ri Chan berteriak kesenangan namun sedetik kemudian wajahnya berubah murung, “Tanpa Daddy?”

Aku tertawa lalu mengacak rambutnya gemas, “Daddy sudah menunggu kita di dalam”

Ri Chan keluar dari mobil dengan semangat. Aku menuntun tangannya menuju ke pintu Mall terbesar di Seoul, tapi langkahku terhenti ketika melihat Minho Oppa sedang bicara serius dengan seorang wanita.

Park Ji Yeon?

“Hei, Ji Hyun” Minho Oppa menarik tanganku ke arahnya. Ji Yeon melihatku nyaris tanpa berkedip, “Ini Ji Yeon, temannya Sulli” lalu menatap Ji Yeon, “Ji Yi, ini Ji Hyun kakaknya Sulli. Sulli bilang dia sering menceritakan Ji Hyun padamu”

Aku menatap Ji Yeon lalu tersenyum, “Hallo, Jiyeon! Lama tidak bertemu”

Ji Yeon menatapku lagi. Entah apa yang ada didalam pikirannya, tapi tatapan Ji Yeon padaku kini berbeda. Tidak sesinis yang dulu. Apa karena aku kakaknya Sulli? Memangnya apa saja yang sudah Sulli ceritakan tentangku pada Ji Yeon?

“Daddy kemana saja? Dari tadi aku dan Mommy mencari Daddy” Suara ceria milik Ri Chan memecahkan keheningan kami.

Minho Oppa berjongkok untuk mensejajarkan posisinya dan Ri Chan, “I am so sorry”

Ji Yeon terlihat kaget mendengarnya lalu menatapku heran, “Kau punya anak dari kakak angkatmu sendiri?”

“Oh” Aku buru-buru mengibaskan tangan, “Ri Chan memang memanggil paman-pamannya dengan panggilan Daddy. Karena sejak lahir dia tidak pernah melihat ayahnya”

Ji Yeon menatap Ri Chan lalu berjongkok di depan putriku, “Astaga! Apa dia…”

Aku mengangguk, seakan tahu apa yang sedang Ji Yeon pikirkan tapi sepertinya apa yang aku pikirkan memang sama dengan apa yang dia pikirkan.

Jiyeon memencet hidung Ri Chan, “Lihatlah, hidungmu sama denganku… ah tidak, bibirmu juga sama denganku, matamu juga… “

Aku tersenyum melihatnya begitu juga dengan Minho Oppa, “Apa dia adiknya Chan Yeol yang sering kau ceritakan?” tanyanya sambil berbisik padaku.

Aku mengangguk, “Aku baru tahu kalau ternyata dia adalah temannya Sulli. Dunia memang sempit”

“Ayo panggil aku Bibi! Bi.. bi”

Ri Chan tiba-tiba menatapku, mungkin asing dengan kata-kata Ji Yeon, “Bibi itu artinya sama dengan Auntie. Dia Auntie mu juga, sama seperti Sulli Auntie” Kataku menjelaskan.

“Auntie.. eh Bi..bi”

….

….

“Ri Chan, jangan jauh-jauh mainnya!” aku berteriak ke arah Ri Chan yang sedang asyik saling melempar balon dengan Minho Oppa di taman.

Ji Yeon menatapku. Kini kami sedang duduk di bangku taman sembari memperhatikan Ri Chan, “Dia sangat lucu” Ji Yeon berkomentar.

“Kau menyukainya?” balasku, “Dia juga sepertinya menyukaimu, Bibi”

Ji Yeon tertawa mendengar gurauanku lalu berkata, “Kau sudah bertemu dengan Chan Yeol Oppa?”

“Sudah, aku bertemu dengannya ketika sedang bersama Ri Chan dan Minho Oppa” kataku dengan tatapan menerawang, “Tapi dia sepertinya tidak begitu memperhatikan kami”

Ji Yeon diam sejenak, mencerna ceritaku. “Kau bertemu dengannya bersama Minho Oppa dan Ri Chan?”

Aku mengangguk.

“Ri Chan memanggil Minho Oppa dengan sebutan Daddy?”

Aku mengangguk lagi —eh?

Aku menatap Ji Yeon. Ji Yeon mengangguk ke arahku, “Dia mengira kalau Ri Chan bukan putrinya”

Astaga dia benar-benar sangat bodoh! Memangnya dia tidak menghitung berapa usia Ri Chan? Lagi pula aku sengaja menamainya Ri Chan supaya aku selalu ingat dengannya. Chan dari nama Chan Yeol.

“Ji Hyun… maksudku unnie, bagaimana kondisi Sulli sekarang?” Ji Yeon mencari topik pembicaraan baru.

Aku tersenyum, sepertinya dia masih sulit memanggilku unnie. “Sulli baik-baik saja. Dia masih di New York, mungkin akan menetap disana. Aku kesini hanya bersama Minho Oppa dan Ri Chan untuk mengurus perusahaan yang disini”

Ji Yeon mengangguk mengerti, tapi tiba-tiba menatapku lagi. Kali ini dengan tatapan berbeda, “Unnie, maafkan aku!”

“Untuk?”

“Sikapku dan ibu selama kau di rumah kami”

Oh, aku tersenyum. Aku sudah melupakan semuanya. Lagi pula aku sudah bahagia bersama putriku. Selama lima tahun ini aku sudah banyak berpikir tentang hidupku.

“Tidak apa-apa” Aku tersenyum padanya, “Bagaimana kabar ayah dan ibumu juga Thunder Oppa?”

“Setelah tahu kalau kau meninggalkan Seoul, Thunder Oppa memilih untuk menetap di Tokyo. Dia juga tahu kalau kau dan Chan Yeol Oppa saling mencintai” Ji Yeon menghela napas, lalu melanjutkan, “Ayah semakin hari jadi bingung karena Chan Yeol Oppa seperti tidak memiliki keinginan untuk melanjutkan hidup sementara Ibu, dia merasa sangat menyesal padamu”

Aku tersentak mendengar ceritanya, “Menyesal karena apa?”

Tatapan Ji Yeon menerawang, “Lima tahun yang lalu setelah aku tahu kalau kau adalah kakaknya Sulli, aku jadi tahu kalau kau menikah dengan kakakku untuk membantu pengobatan Sulli. Saat itu aku sangat malu padamu karena menganggap kalau kau adalah gadis matrealistis” Ji Yeon melanjutkan, “Aku memberi tahu semua itu pada ibu lalu Thunder Oppa menelepon ibu dan mengatakan kalau kau memilih Chan Yeol bukan dirinya karena kau tidak ingin ibu berpisah dari ayah”

Aku menghela napas, akhirnya semuanya sudah terungkap. Ternyata keputusanku untuk meninggalkan Seoul selama beberapa waktu memang benar. Semua masalah yang dulu menjerat lama kelamaan selesai dengan sendirinya. Tapi— “Mungkin sekarang hanya ayahmu yang masih membenciku”

Ji Yeon mengangkat bahunya, “Lima tahun yang lalu ayah mengatur perjodohan Oppa dengan Yejin tapi Oppa menolak Yejin secara langsung” Ji Yeon tertawa kecil, “Aku dengar sekarang Yejin sudah menikah dan menetap di Kanada”

Aku tersenyum, syukurlah kalau Yejin sudah bahagia, “Apa ayahmu masih suka mengatur perjodohan Chan Yeol-ssi?”

“Sudah tidak lagi” Ji Yeon menjawab, “Karena itu, kembalilah pada Oppa! Aku  dan ibu akan mendukungmu”

“Ayahmu sudah terlanjur membenciku”

“Ayahku memang membencimu tapi rasa sayangnya pada Chan Yeol Oppa melebihi rasa bencinya padamu”

….

….

Malam ini aku mengajak Ri Chan untuk menemaniku menemui teman lama di restoran. Lelaki itu tersenyum ketika melihatku datang bersama Ri Chan. “Maaf membuatmu lama menunggu” kataku sambil memangku Ri Chan yang kesulitan menggapai kursi.

Taemin tersenyum lalu berkata, “Hallo Ri Chan, masih ingat pada Uncle?”

Ri Chan mengangguk dengan semangat, “Tentu, pacarnya Sulli Auntie”

Aku tertawa mendengarnya. Sejak tahu aku pindah ke New York, Taemin memang sering mengunjungi kami di New York.

Taemin melirikku sekilas, “Kau mengatakan apa padanya?”

“Sudahlah jangan pura-pura tidak mengerti begitu” kataku sambil mengibaskan tangan, “Kau akan menikah dengannya?”

Taemin mengangguk dengan mantap. Selama lima tahun Sulli menunggu Taemin melupakanku dan akhirnya lama-lama hati Taemin bisa luluh juga. Aku senang melihat dua orang yang aku sayangi bisa bersama.

“Rencananya kami akan menikah di New York. Benar katamu, asal bisa membuka hati maka semuanya tidak akan sesulit yang kita bayangkan.” Taemin merongoh saku, mengeluarkan selembar undangan, “hanya satu hari. Aku dan Sulli mengharapkan kehadiranmu dan Ri Chan”

Aku menerima undangan itu, “Kami pasti akan datang… iya kan Ri—?”

“Chan? Astaga lagi-lagi tertidur”

Taemin tertawa, “nanti aku yang akan menggendongnya sampai mobil”

Aku menatap Taemin dengan raut wajah menyesal, “Lagi-lagi seperti ini”

“Ji Hyun-ah, aku… ingin melakukan pengakuan dosa padamu” kata Taemin dengan hati-hati dan penuh rasa ragu.

“Dosa apa?” tanyaku tak mengerti.

Taemin menatap sekeliling restoran lalu berkata, “Dulu lima tahun yang lalu, Chan Yeol mengajakku untuk bertemu disini” katanya mulai bercerita, “Dia bertanya tentang dirimu dan aku menceritakan semuanya, termasuk tentang statusmu sebagai anak angkat. Tadinya aku kira dia sudah tahu karena dia suamimu tapi ternyata aku malah menceritakan rahasia besar itu”

“Tidak apa-apa. Memang sudah saatnya keluarga Park mengetahui semuanya” Aku menatap wajah Taemin yang kini sedang menunduk, “Aku tidak akan marah padamu, Taem”

Taemin mengangkat wajahnya lalu berkata, “Kau tak ingin mencari tahu tentang keluarga kandungmu?” begitu melihat ekspresi wajahku yang tiba-tiba berubah, Taemin buru-buru menambahkan, “Ah tentu saja keluargamu yang sekarang juga baik kan?”

“Ayah dan ibuku sudah bisa dipastikan meninggal dalam kecelakaan pesawat waktu itu”

“Tapi pasti ada keluarga lain kan? Misalnya paman bibi atau kakek nenek atau mungkin kau juga punya saudara”

Aku menghela napas, “selama lima tahun ini, aku dan Siwon Oppa mencari tahu tentang keluargaku tapi hasilnya nihil”

Taemin terdiam setelah mendengar jawabanku. Aku sendiri menaruh curiga pada Siwon Oppa. Dia sepertinya menyembunyikan sesuatu, tentang masa lalu ku!

….

….

Aku sengaja bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan meeting. Kasihan juga melihat Ri Chan marah-marah karena aku tidak mengantarnya ke sekolah, aku malah tidak sempat menggorengkan telur untuknya. “Mommy, telur goreng yang Daddy buat tidak enak. Asin”

Omelannya tadi pagi masih terngiang di telingaku. Membuatku senyum-senyum mengingatnya.

Sekretarisku masuk ke ruanganku dan mengatakan kalau persiapan di ruang rapat sudah selesai. Aku menyuruhnya untuk keluar dan langsung mengambil file yang akan aku gunakan untuk presentasi nanti.

Meeting ini akan dihadiri oleh perusahaan-perusahaan besar dari Korea. Tentu saja sebagai perusahaan cabang yang baru aku harus pandai-pandai mendapatkan hati mereka. Siapa yang tidak akan tertarik dengan pesonaku? ._.

Aku baru saja akan membuka pintu ruangan meeting tapi tiba-tiba aku berpapasan dengannya.

Park Chan Yeol?

Chan Yeol POV

Ji Hyun mempresentasikan tentang cabang perusahaan dengan sangat lancar. Produk yang akan dia luncurkan juga sepertinya sangat menjanjikan untuk dijadikan sebagai investasi penanaman saham. Aku akan menanamkan saham disini karena dengan begitu, aku bisa sering bertemu dengannya!

Aku melihat sekelilingku. Para calon investor itu menatap Ji Hyun seolah bisa memakannya hidup-hidup. Ji Hyun sendiri sepertinya tidak keberatan ditatap seperti itu. Aku bisa mengerti karena saat ini Ji Hyun harus menarik banyak investor, tapi aku cemburu melihatnya seperti itu!

Tapi apa aku masih pantas untuk cemburu padanya? Aku menatap sekeliling. Ada dimana suaminya Ji Hyun? Kenapa dia tidak menjaga Ji Hyun dari tatapan singa-singa lapar ini? Kenapa harus aku yang panik?

“Produk kami sudah menjadi produk yang paling unggul di New York bahkan di Amerika karena itu kami bermaksud untuk memasarkannya di Korea dan Asia” Ji Hyun mengakhiri presentasinya, “Jika berminat untuk menjadi investor, bisa langsung menghubungi manajer kami”

Manajer? Kenapa tidak langsung dengannya saja?

Ji Hyun keluar dari ruangan meeting dan aku tidak punya nyali untuk menghampirinya karena masih banyak investor lain disini. Aku menemui sekretarisnya Ji Hyun dan mengatakan kalau ingin bertemu dengan Ji Hyun. “Katakan saja kalau Park Chan Yeol ingin bertemu”

Aku sedikit tegang ketika pertama kali masuk ke ruangannya, tapi ternyata dia malah menemuiku dengan santai dan bahkan terkesan akrab. Ji Hyun tersenyum padaku, “Kau berminat menjadi investor, Tuan Park?”

“Bisa kita seperti dulu lagi?”

Ji Hyun terlihat kaget mendengarnya, “Maksudmu?”

“Kau tahu? Selama lima tahun ini aku terus menunggumu, mencemaskanmu dan tiba-tiba kau kembali dengan keadaan seperti ini? Apa hubungan kita tidak ada artinya sedikitpun untukmu?”

Hatiku terasa lega setelah bicara panjang lebar tentang ini semua. Ji Hyun menatapku dengan tatapan sendu, aku kira dia tidak menyangka jika aku akan memarahinya seperti ini, “Lima tahun yang lalu aku meninggalkanmu dengan terpaksa. Kami sudah tidak punya tempat tinggal, ada dimana kau saat itu?” Ji Hyun menatapku tajam lalu melanjutkan, “Sebulan setelah di Amerika dokter menyatakan kalau aku hamil. Aku mengandung anak mu, Park Chan Yeol-ssi”

“sembilan bulan berlalu dan ketika aku melahirkan, hanya namamu yang aku sebut saat rasa sakit itu menyerangku” Dia kembali menatapku, “Dan sekali lagi, ada dimana dirimu saat itu??”

Aku menundukan wajahku. Memang aku tidak pernah tahu tentang kehidupan Ji Hyun disana. Aku terlalu larut dalam kesedihanku sendiri tanpa aku tahu kalau Ji Hyun lebih banyak mengalami masa-masa sulit dan kini setelah bertemu dengannya, aku malah mengomelinya begini.

“Apa dia Ri Chan? Apa Ri Chan putriku?” Aku bertanya setelah mencoba menenangkan diri.

Aku melihat Ji Hyun menundukan wajahnya, cairan bening perlahan jatuh dari sudut matanya. Aku ingin memeluknya dan menenangkannya tapi sekali lagi —aku tidak bisa.

Ji Hyun menjawab pertanyaanku dengan anggukan kepalanya. Sepertinya lidahnya terlalu kelu untuk berbicara.

Ada rasa lega ketika Ji Hyun mengatakan kalau Ri Chan adalah putriku. Anak yang so pintar dan suka telur gosong itu ternyata putri kandungku. Aku hanya melakukan hubungan intim sekali bersama Ji Hyun tapi ternyata Ji Hyun bisa hamil.

Aku melanjutkan, “Jika Ri Chan putriku, maka Choi Minho—”

“Dia kakak angkatku. Adiknya Siwon Oppa. Kau tidak pernah bertemu dengannya karena dia sudah pergi ke New York sebelum kita menikah” kata Ji Hyun sambil mengelap air mata dengan tisu, “Ri Chan memanggil paman-pamannya dengan sebuatan Daddy karena sejak lahir Ri Chan tidak pernah melihat Daddy-nya”

Aku mengambil Ji Hyun ke dalam pelukanku, “Maafkan aku, ne? Seharusnya dulu aku menyusulmu ke New York, tapi aku malah larut dalam kesedihanku seolah aku adalah makhluk paling menderita di dunia”

Ji Hyun mengangguk lalu melepaskan pelukanku, “Tidak perlu minta maaf. Nanti aku akan mengenalkanmu pada Ri Chan”

Aku memegang wajah Ji Hyun lalu mendekatkannya dengan wajahku. Ketika bibirku menyapu bibirnya, Ji Hyun buru-buru melepaskan diri, “Ini masih di kantor, Chan Yeol-ssi!”

Aku terkekeh melihat wajah galaknya, “Baiklah tapi nanti kau harus memberiku lebih dari ciuman karena aku sangat merindukanmu”

“Mwo?”

….

….

Baru kali ini aku pulang dari meeting dengan hati sesenang ini. Ji Hyun berjanji akan memperkenalkanku pada Ri Chan sebagai Daddy yang sebenarnya. Anak so pintar itu pasti akan terkejut.

“Tumben kau sesenang ini” Ibu tiba-tiba memergokiku sedang senyum-senyum sendiri diikuti Ji Yeon dibelakangnya, “Apa ada yang istimewa di meeting?”

Aku mengangguk, “Begitulah” kataku penuh misteri.

Ji Yeon tertawa, “Pasti ada hubungannya dengan Choi Ji Hyun”

“Choi Ji Hyun?” Ibu memutar bola matanya, “Dia sudah kembali kan? Kata Ji Yeon dia kembali bersama anakmu”

Aku mengangguk lagi. Seperti dugaanku, sikap ibu dan Ji Yeon langsung berubah ketika aku menceritakan tentang pengobatan Sulli dan pengorbanan Ji Hyun agar ibu dan ayahku tidak bercerai. Tapi yang sulit sekarang adalah bagaimana cara meyakinkan ayah agar kembali menyayangi Ji Hyun seperti dulu?

“Sekali-sekali ajaklah Ji Hyun dan putrimu main ke sini” eomma melanjutkan, “Siapa tahu jika bertemu dengan cucunya, ayahmu akan luluh”

Aku mengangguk, “Akan aku coba”

….

Ji Hyun POV

“Maksudnya bertemu dengan Daddy yang sebenarnya itu bagaimana sih, Mommy?” Ri Chan menanyakan ini untuk yang kesembilan kalinya sejak aku mengatakan kalau aku akan mempertemukannya dengan ayah kandungnya.

Aku mulai berpikir sambil memainkan tanganku diatas kemudi, “Daddy yang sebenarnya itu adalah Daddy yang membuatmu lahir di dunia ini”

“Bukankah aku sudah punya dua Daddy? Kenapa harus punya Daddy lagi?” Ri Chan semakin penasaran.

“Minho Daddy dan Siwon Daddy itu kakaknya Mommy, tapi kau memanggil mereka Daddy tapi Daddy yang akan Mommy kenalkan sekarang ini istimewa…”

Ri Chan buru-buru memotong, “istimewa kenapa?”

“Karena dia mencintai kita”

“Apa Siwon Daddy dan Minho Daddy tidak mencintai kita?”

Aku semakin bingung mencari pemilihan kata yang tepat untuk menjelaskan arti kata ayah, “Mereka berdua juga mencintai kita, tapi kalau Daddy yang ini lebih.. lebih.. dan lebih mencintai kita”

Ri Chan terlihat antusias mendengarnya, “Daddy itu seperti apa?”

“Daddy itu…” Aku membayangkan wajah Chan Yeol, “Dia tinggi dan tampan… lebih tinggi dari Siwon Daddy”

Aku melihat wajah Ri Chan melongo keheranan. Mungkin dia membayangkan bagaimana sosok orang yang lebih tinggi dari Siwon Oppa. Aku hanya tertawa kecil sambil memperhatikan ekspresi lucunya.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku langsung mengangkatnya. Siwon Oppa? Ada apa dia meneleponku? Bukankah sambungan internasional sangat mahal??

“Yeoboseo” kataku tanpa menyebut nama Siwon Oppa karena jika Ri Chan tahu Siwon Oppa menelepon dia pasti ingin ikut bicara.

“Bagaimana meeting tadi? Apa lancar? Aku sudah mendapat laporan dari manajer katanya sudah ada beberapa investor. Kau memang hebat”

“Syukurlah, aku senang mendengarnya..”

Suara Siwon Oppa terdengar tertawa kecil, “Aku akan ke Seoul untuk beberapa Minggu khusus untuk memastikan bahwa semuanya baik-baik saja”

“Baguslah, aku memang membutuhkan pemandu” kata ku lalu diam sebentar, “Siwon Oppa?”

“Kenapa?”

“Siapa keluargaku yang sebenarnya? aku yakin kalau Oppa mengetahui sesuatu”

Siwon Oppa terdiam lalu menjawab, “Sebenarnya Oppa ingin mengatakannya sejak dulu tapi…”

Belum selesai aku mendengar jawaban dari Siwon Oppa, Ri Chan tiba-tiba merebut ponselku. Astaga tadi sepertinya dia mendengar aku menyebut nama Siwon Oppa. Jika sudah begini, Ri Chan pasti tidak mau memberikan ponselku, “Daddy, ini Ri Chan”

“Ri Chan rindu pada Daddy”

“Benar kah? Janji yah, Minho Daddy payah. Dia selalu kalah kalau main play station”

“Hallo..”

“Hallo Daddy”

Ri Chan mengembalikan kembali ponselku dengan wajah bersalah, “Maaf, lagi-lagi aku menghabiskan pulsa Daddy”

Aku tersenyum lalu mengacak rambutnya, “Tidak apa-apa. Siwon Daddy tidak akan marah” kataku, “Jangan cemberut begitu! Kita kan mau bertemu Daddy mu”

Aku kembali tersenyum ketika melihat Ri Chan tersenyum lalu kembali fokus pada jalan di depanku. Siwon Oppa hampir saja menceritakan tentang asal usulku tapi tidak apa-apa, aku bisa bertanya nanti jika dia sudah di Seoul.

….

….

Ri Chan lagi-lagi menatapku tak percaya ketika kami sudah berhadapan dengan Chan Yeol. Aku sendiri heran ada apa dengan mereka, “Mommy yakin dia benar-benar Daddy ku?”

Aku menatap wajah Ri Chan bergantian dengan wajah Chan Yeol lalu mengangguk dengan ragu, “Memangnya ada apa, Chan-chan?”

“Dia pernah menertawakan telur gosong yang dibuatkan oleh Mommy” kata Ri Chan.

Aku menatap Chan Yeol dengan tatapan yang tidak bersahabat lalu berkata, “Benar begitu, Chan Yeol-ssi?”

“Aku menertawakannya karena memang sangat lucu” Chan Yeol benar-benar tidak menatap kami sedikitpun, “Tapi sungguh telur gorengnya sangat enak meski —gosong”

Aku tertawa begitupun dengan Ri Chan. Chan Yeol sedikit kaget melihatnya, “Kalian tidak marah?”

Ri Chan mengangguk, “Tentu saja. Kami kan sayang Daddy” lalu memeluk ayahnya dengan erat.

Melihat mereka seperti itu, aku jadi ikut senang. Ri Chan duduk dipangkukan ayahnya sambil bercerita tentang banyak hal, kehidupannya di New York, paman dan bibinya, teman-temannya dan topik yang paling seru sepertinya —telur gosong.

“Aku senang bisa main dengan Daddy” kata Ri Chan ditengah-tengah aktivitas makannya, “kapan-kapan kita main lagi, ne?”

Chan Yeol mengangguk lalu mengacak rambut Ri Chan, “tentu saja. Nanti  Daddy akan mengajakmu untuk bertemu dengan nenek dan bibi”

“nenek?” Ri Chan menatapku bingung. Istilah asing lagi.

Kali ini mungkin agak sulit menjelaskan arti kata nenek, “Nenek itu adalah ibunya Daddy. Ri Chan juga punya kakek, ayahnya Daddy” aku menjelaskan.

Ri Chan menanggapinya dengan kata “OH”

Aku menatap Chan Yeol dengan ragu, “Kau yakin? Jangan mengatakan sebuah janji jika kau tidak yakin bisa memenuhinya” aku beralih menatap Ri Chan yang tengah sibuk dengan sedotannya, “Aku takut putriku kecewa”

Chan Yeol tiba-tiba memegang tanganku, “Ri Chan anakku juga. Aku akan melakukan yang terbaik untuknya. Lagi pula cepat atau lambat aku harus mengenalkannya pada keluargaku”

 

.

.

.

TBC

Yaaayyyy Finally tinggal 1 Part lagi

Besok pagi aku post part 10 End + Epilog, tapi dengan syarat part 9 responnya harus banyak. Soalnya biasanya aku post sore tapi karena besok aku kembali ke rutinitas kuliah jadi post nya pagi-pagi tapi kalo responsnya dikit ya berarti harus nunggu sampe aku selesai UAS (2 minggu yang akan datang) u.u

Dan maaf banget buat yang biasanya aku tag update ff ini, kemungkinan besok gak bisa aku tag soalnya aku buru-buru banget. Jadi langsung cek ke ffindo aja yah, sebelum jam 10 aku usahakan ffnya udah di publish (Jika responsnya banyak). Karena itu, ayo yang biasa jadi Silent Reader munculkan (?) suara kalian wkwk

133 responses to “The Secret of Marriage Love [Part 9]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s