A ‘Good’bye [Part 0.1]

A 'good'bye

Credit Poster       : sasphire.wordpress.com

Title            : A ‘Good’bye [Part 0.1]

Author       : fransiskanoorilfirdhausi /@fhayfransiska (soo ra park)

Genre         : Romance, Fantasy, Bit Comedy

Length       : Series       

Cast            :

  • Kim Nam Joo
  • Xi Lu Han
  • Oh Se Hun
  • Kim Jong In a.k.a Kai

Read previous part here : Part 0

Annyeong readerdeul ^^ Long time no see since part 0 era, right? Hehe, I’m comeback with next part, yeah this is part 0.1, yay! ^^)/ Let’s enjoy!!

This plot is mine, but casts are God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good reader please, don’t forget to give me oksigen (Read-Comment-Like)^^

________

Dia bilang akan mengabulkan semua permintaanmu sebelum kau menutup mata untuk selamanya. Dia bilang akan selalu berada di sampingmu dan menjagamu, membuatmu tersenyum serta merasa nyaman.

Tapi apakah semua yang dia bilang adalah suatu kebenaran?

_______

Dua pria itu saling bertatap intens, keduanya masih mencoba menerka-nerka kebenaran lewat mata masing-masing. Namun nyatanya hal itu sia-sia, tanpa hasil, membuat salah seorang dari mereka yang bernama Lu Han lantas memutuskan untuk lebih dulu buka suara.

“Kau bisa melihatku?”

Baru saja pria yang satunya—yang bernama Se Hun—berniat untuk menjawab, terdengar rintihan lirih dari seorang gadis yang kini tergeletak lemah di atas pangkuan tangannya. Nampaknya gadis itu mulai sadar kembali, alisnya berkerut seperti tengah menahan sakit sementara darah yang keluar dari hidungnya telah berhenti sedari tadi.

“Nam Joo ssi!”

“Nam Joo ya!”

Lu Han dan Se Hun berteriak bersamaan, membuat keduanya lagi-lagi kembali bertatapan dalam diam. Tapi Lu Han lekas memalingkan wajahnya sementara Se Hun hanya mengerutkan alisnya. Se Hun berdecak kemudian mengangkat gadis bernama Nam Joo—yang belum juga sadar—itu dan berniat membawanya ke UKS, namun Lu Han lebih dulu menjentikkan jarinya. Membuat ketiganya langsung lenyap tanpa bekas dari ruang musik itu.

_________

Seusai membawa Nam Joo ke rumah sakit terdekat dengan kekuatannya, Lu Han mengajak Se Hun berbicara empat mata. Bagaimanapun juga terlalu banyak hal yang mengganjal di pikirannya, dan tidak ada cara lain selain mengajak pemuda itu berbicara. Kini keduanya tengah berada di atas atap rumah sakit tempat di mana Nam Joo dirawat, tempat yang jarang didatangi manusia. Berbicara seraya menatap tajam satu sama lain.

“Aku sudah lama mencarimu, Xi Lu Han.”

Lu Han hanya menyipitkan sepasang matanya mendengar pengakuan bernada dingin dari Se Hun, ia lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada kemudian tertawa remeh.

“Mencariku?” katanya enteng. “Kenapa seorang manusia sepertimu mencariku?”

Se Hun hanya mendengus dan memutar matanya, ia merasa bahwa pertanyaan Lu Han benar-benar konyol, “Jangan naïf. Jangan bersikap seakan-akan kau tidak tahu apa-apa soal diriku.”

“Memangnya kau apa?”

Kedua alis Se Hun kini berkerut sempurna, tangannya terkepal erat, entah kenapa tiba-tiba emosinya memuncak dengan begini cepat. Oh ayolah, sekarang seorang bernama Lu Han itu tengah berpura-pura lupa atau ia memang bahkan tidak tahu apa-apa?

“Aku malaikat, yang menyamar menjadi manusia sejak satu tahun yang lalu untuk mencarimu.” tegas Se Hun kemudian.

“Benarkah?” tanya Lu Han ringan, hal tersebut semakin meyakinkan Se Hun bahwa Lu Han memang sedang berpura-pura tidak tahu soal dirinya.

“Aku tidak sedang bercanda.”

Lu Han tersenyum, “Ya, ya aku tahu. Lalu …” Sorot mata Lu Han tiba-tiba berubah, yang semula seperti mata polos anak kecil kini menjadi tajam dan menusuk, “Apa tujuanmu mencariku … sejak satu tahun yang lalu katamu?”

“Sudah aku bilang, berhentilah bersikap naïf seperti itu. Kita memang tidak saling mengenal sebelumnya. Tapi aku yakin sekali, hanya dengan sekali melihatku saja, kau pasti akan tahu bahwa aku bukanlah manusia.”

Se Hun menghela napas kemudian melanjutkan, “Dan begitupun dengan tujuan aku mencarimu kemari, kau pasti sudah tahu.”

Lu Han tersenyum sinis, terlalu sinis hingga lebih mirip sebuah seringai, “Kalau aku memang tahu, lantas apa yang akan kau lakukan sekarang? Menangkapku?”

Tatapan Se Hun menjadi semakin tajam, kalau saja ia diperkenankan ia pasti akan melakukannya, ya, menangkap Lu Han. Tapi pada kenyataannya tugasnya hanyalah mencari dan mengawasi gerak-gerak Lu Han di bumi, bukan untuk menangkapnya.

“Kenapa kau berada di dekat Nam Joo? Apa yang sebenarnya kau rencanakan pada gadis itu?” tanya Se Hun balik, melenceng dari pembiaraan mereka sebelumnya.

“Kenapa katamu?” tanya Lu Han dengan alis terangkat. “Tentu saja untuk mengabulkan permintaan-permintaannya. Membuatnya bahagia dan tersenyum.” tambahnya dengan memasang wajah mengejek.

SSSEEETTTT!!

Secepat kilat, Se Hun berpindah tepat di belakang Lu Han. Kemudian dengan nada mengintimidasi ia berkata lirih, “Aku akan melindungi Nam Joo dari pengkhianat sepertimu.”

Mendengar itu, Lu Han hanya terkekeh, sama sekali tidak risih ketika Se Hun mengucapkan dengan jelas kata ‘pengkhianat’ tepat di telinganya. Ia lantas berbalik badan kemudian menatap Se Hun dengan yakin, “Begitu pula denganku, aku pun akan melindungi Nam Joo dari pria sepertimu.”

_________

Nam Joo membuka matanya perlahan ketika bau obat-obatan langsung menyerbu hidungnya, hal yang tak asing lagi baginya itu membuatnya menghela napas keras. Lagi-lagi rumah sakit, desahnya dalam hati. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling tempatnya terbaring hingga edarannya itu terhenti dan ia terlonjak kaget begitu mendapati seorang Oh Se Hun, masih dengan memakai seragam sekolahnya tengah tertidur di sebuah sofa yang terletak di sudut kamar rawat itu.

“Omo!” pekik Nam Joo seraya menutup mulutnya cepat.

Gadis itu lalu melirik jam dinding, pukul 23.53. Ckckck, ya Tuhan, sudah berapa lama dia pingsan?

Ia menoleh kembali ke arah Se Hun dan menatap cemas pemuda itu. Se Hun pasti terlalu lelah menunggunya hingga tertidur seperti itu. Nam Joo menggigit bibir, apa yang harus ia lakukan?

Seorang Oh Se Hun, pangeran sekolah itu sakit gara-gara terlalu kelelahan menungguinya yang tak kunjung sadar. Para penggemar Se Hun pasti akan merajamnya, merecokinya, bahkan membullynya setiap hari kalau sampai tahu kalau Nam Joo lah penyebab pemuda itu sakit. Bahkan mungkin saja, Nam Joo akan mati lebih cepat dari waktu kematiannya. Bagaimanapun juga, seorang penggemar mungkin saja akan melakukan apapun demi idolanya. Oh astaga!

Nam Joo menepuk pipinya keras ketika menyadari imajinasinya yang terlalu liar. Tapi sedetik kemudian ia terdiam, ia mengingat sesuatu. Ya! Kenapa tidak pakai cara itu! Aishh, kau pabo sekali Kim Nam Joo! Gerutunya dalam hati.

Dengan segera seraya tersenyum sumringah, ia memanggil sebuah nama dengan lirih, “Luhan, di mana kau?”

Tidak ada jawaban.

“Lu Han, di mana kauuuu?” katanya agak keras.

Karena tetap tidak ada jawaban, ia lantas berdecak kesal kemudian bersiap mengumpulkan seluruh tenaganya untuk memanggil pria itu, “Lu Haaaan, di mana ka… KYAA!!”

Nam Joo menutup mulutnya cepat, ia melirik ke arah Se Hun takut-takut kalau pemuda itu terjaga karena mendengar teriakannya barusan. Berutunglah pemuda itu tetap tidur, tampak tidak terusik barang sedikitpun.

Melihat itu, Nam Joo hanya menghembuskan napas lega. Namun kemudian wajahnya berubah kesal begitu pandangannya beralih pada pria yang kini berdiri di depannya. Atau lebih tepatnya terbalik di depannya.

Terbalik dalam arti yang sesungguhnya, kepala di bawah dan kaki di atas.

Bagaimana Nam Joo tidak kaget, Lu Han muncul tiba-tiba tepat di depan wajahnya dalam kondisi seperti itu, ya, terbalik. Terbalik! Dengan rambut yang terkibas-kibas di udara serta seringai jahil namun tetap tak meninggalkan kesan polos seperti biasanya. Oh Tuhan, pria itu melayang!

“Ya! Apa maksudmu muncul tiba-tiba seperti itu? Kau mau membuatku mati lebih cepat gara-gara jantungan!?” cerocos Nam Joo kemudian, namun dengan volume suara yang terkendali.

“Lho, bukannya kau yang memanggilku? Dan tentu saja terserah aku ingin muncul dengan cara seperti apa.” jawab Lu Han dengan polosnya.

“Setidaknya munculah dengan cara yang biasa!”

Lu Han menggeram gemas, “Kemarin aku muncul di hadapanmu dengan cara yang biasa saja dan kau hanya menatapku datar, sama sekali tidak terkejut. Dan yang seperti itu sama sekali tidak menarik bagiku! Aku kan juga anti main stream!”

Nam Joo merasa sedikit aneh, pasalnya sekarang mereka bertengkar dalam posisi yang benar-benar berbeda dari biasanya, ya…terbalik seperti itu. Itu benar-benar hal yang baru baginya.

“Kenapa semua harus terlihat menarik bagimu!? Seperti kemarin kau berniat menciumku, lalu hari ini kau mengagetkanku nyaris membuatku spot jantung. Kau mau aku mati lebih cepat hanya untuk memuaskanmu seperti itu, eoh!?”

“Kalau memang iya kenapaaa!?” tantang Lu Han seraya memelototkan matanya dan berkacak pinggang.

Nam Joo tertegun mendengar jawaban jujur dari Lu Han, “Kau!!” ujarnya sambil mengacungkan telunjuknya tepat di depan hidung Lu Han, “Sebenarnya malaikat macam apa sih!?”

“Malaikat yang kelelalah karena harus berurusan dengan ayam cerewet bernama Kim Nam Joo!!”

“Ya! Kau ..”

“Uhmm.. mmm…”

Teriakan Nam Joo terhenti dan spontan ia menutup mulut Lu Han cepat karena Se Hun tiba-tiba berdeham lirih dalam tidurnya. Tampaknya pemuda itu tengah mengigau, ia juga sedikit membenarkan posisi tidurnya yang mungkin kurang nyaman. Untunglah pemuda itu tidak bangun.

“Uwoooohhh! Reeppaassskhaaan!!”

“Mwo.. Gyaaa!! Kenapa menggigitku!?” Nam Joo sontak menarik tangannya dari mulut Lu Han begitu pria itu menggigit telapak tangannya tanpa ampun.

“Justru aku yang harusnya bertanya! Kau yang berteriak-teriak tapi kenapa malah mulurku yang harus dibungkam!?” protes Lu Han tidak terima.

Kedua alis Nam Joo berkerut, tidak setuju, bukankah Lu Han jugalah yang membuatnya harus berteriak seperti itu. Tidak sepenuhnya salahnya bukan?

Namun setelah berpikir agak lama, gadis itu memutuskan untuk mengalah. Berdebat dengan seorang Lu Han tidak aka nada gunanya, karena pada akhirnya dialah yang harus mengalah seperti sebelum-sebelumnya.

Oh! Lagipula bukannya dia sedang ada perlu dengan pria itu? Itu artinya Nam Joo harus rela mengalah dan memasang wajah semanis mungkin agar Lu Han berkenan membantunya. Benar juga, kenapa ia bisa lupa dengan tujuan awalnya memanggil Lu Han, aisssh!

“Lu Han-ssi.” kata Nam Joo dengan senyum manis yang terkesan—memang—dibuat-buat.

“Apa!?” tanya Lu Han dongkol, sanggup membuat wajah Nam Joo berubah drastis, dari manis menjadi masam.

Gadis itu berniat melawan, namun ia kembali teringat akan permintaan yang semula ingin ia kemukakan. Tahan dulu Nam Joo, tahan, semua demi Se Hun, batinnya.

“Lu Han-ssi, aku ingin minta tolong.” ujar Nam Joo dengan nada merajuk.

Masih dengan posisi tubuh terbalik, Lu Han mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Sesaat kemudian ia menggeleng dan berdecak pelan, “Kalau ada maunya saja kau langsung berubah seperti itu.”

“Ayolah, aku punya satu permintaan saja untuk kali ini. Satuuuu sajaaaa.”

Lu Han mendengus, sepertinya ia juga mulai lelah berdebat, “Baiklah, baiklah. Apa maumu?”

Raut muka Nam Joo langsung berbinar senang, “Waaaahh, jeongmal gomawo Lu Han ssi!”

“Cepat katakan atau aku akan menarik kata-kataku kembali!!”

“Ah, nee nee! Permintaanku sederhana saja, aku ingin kau memindahkan Se Hun dari kamar rawat yang bau obat ini. Bawa dia pulang ke rumah, tidurkan dia di kasur paling empuk di rumahnya dengan aroma ruangan kesukaannya, dan jangan biarkan dia kepanasan sedikitpun. Jangan lupa buatlah dia memimpikan aku dalam tidurnya, lalu …”

“Ya! Ya! Kau bilang hanya satu permintaan!” gerutu Lu Han seraya membungkam mulut Nam Joo agar gadis itu tak lagi meneruskan permintaannya yang apabila diketik mungkin akan melebihi tebal novel Breaking Dawn itu.

Nam Joo meringis lalu mengerang dalam hati, sial, kenapa Lu Han begitu susahnya dibohongi!?

“Nee, nee. Terserah kau sajalah, yang penting bawa Se Hun pulang. Aku tidak ingin ia sakit dan kelelahan gara-gara terlalu lama menungguku di sini.”

Mendengar itu Lu Han hanya tersenyum penuh kemenangan sementara Nam Joo memasang senyum palsunya sekali lagi. Lu Han menjentikkan jarinya dan dalam sekejap mata, raga Se Hun menghilang dari tempat itu.

“Waaa, jeongmal gomawo Lu Han ssi!”

“Ya! Ya! Tunggu dulu! HYAA….”

BRUAAKKK!!
Saking bahagianya, Nam Joo dengan serta merta memeluk Lu Han yang masih berdiri dengan posisi terbalik di depannya. Membuat pria yang sama sekali tidak melakukan persiapan itu lantas kehilangan keseimbangan dan jatuh dengan keras ke ranjang tepat di samping Nam Joo.

Lu Han meringis lirih sambil mengelus punggungnya yang sakit, ia memasang death glare ke arah Nam Joo yang hanya dibalas dengan cengiran lebar dan tanda ‘v’ oleh si gadis.

“Kemari kau KIM NAMJOOOO!!”

“GYAAA!!”

________

Langit yang gelap pekat bertabur ribuan bintang menjadi pemandangan yang sayang sekali untuk dilewatkan kala malam itu. Bahkan udara dingin yang menusuk tulang pun rela saja dihiraukan demi melihat kilauan-kilauan pendamping langit malam yang entah mengapa terlihat sangat memukau. Lu Han sendiri tengah berbaring di atas genting rumah—yang entah milik siapa—dengan alas kepalanya adalah kedua lengannya yang terlipat di belakang kepala. Ia tampak benar-benar menikmati malam yang sunyi senyap nan dingin itu, dalam diam dan kesendirian.

“Sedang meratapi apa?”

Sebuah suara membuyarkan lamunan Lu Han, dengan segera pria itu bangkit lalu menoleh cepat ke arah pemilik suara itu. Didapatinya seorang yang ‘sejenis’ dengannya tengah menatapnya sinis seraya melipat kedua tangannya di depan dada, khas orang yang—merasa—berkuasa.

“Kau datang. Itu artinya kau membawa yang aku minta kan Jong In?” tanya Lu Han dengan wajah tidak kalah sinis.

“Kalau kau bersedia memanggilku ‘Kai’, maka aku tidak akan segan memberikan dokumen-dokumen ini padamu.”

Lu Han memutar bola matanya malas, “Baik, baik. Mari kita coba, KAI!!”

Raut wajah Jong In atau pemuda yang meminta untuk dipanggil Kai itu langsung berubah drastis, dari yang semula tajam dan menusuk—seakan ingin menerkam setiap orang yang ada di depannya—menjadi sebuah wajah cerah dengan cengiran lebar.

Orang bilang bahagia itu sederhana. Ya, sepertinya gagasan itu sangat cocok dengan pemuda berkulit agak gelap yang bersikeras dipanggil Kai itu. Hanya dengan memanggilnya ‘Kai’ maka secara refleks wajahnya akan membentuk sebuah senyuman bahagia, dan ia akan melakukan apapun yang kau perintahkan. Mudah sekali bukan?

“Hahaha, kita sudahi saja permainan ini, Hyung!” ujarnya kemudian sambil berjalan pelan mendekati Lu Han, lalu duduk di samping pria itu.

“Memangnya siapa yang memulai duluan?” sindir Lu Han sebal, “Aku sedang tidak ingin bercanda Jong In, mengertilah sedikit!”

“Kai, Hyung! KAI!!”

“KAAAIII!!” teriak Lu Han membenarkan kata-katanya, dengan tidak sabar ia langsung merebut sebuah dokumen tebal yang berada di genggaman Kai.

Lu Han membolak-balikkan dokumen itu dengan alis berkerut. Benaknya terus saja mencari sebuah nama. Oh Se Hun. Oh Se Hun.

“Ah, ini dia!” seru Lu Han.

“Oh, Oh Se Hun?” tanya Kai yang hanya dijawab oleh sebuah anggukan dari Lu Han.

“Malaikat yang masih junior itu?”

“Ya, pantas saja aku merasa asing begitu melihatnya.” ujar Lu Han tanpa sedikitpun berpaling dari dokumen yang kini berada di pangkuannya.

“Hyung pernah bertemu dengannya?”

“Nee. Dan anehnya ketika itu aku tidak bisa langsung mengenali bahwa dia adalah seorang malaikat. Aku baru menyadarinya begitu berada di dekatnya selama beberapa saat.”

Kening Kai berkerut, “Kenapa?”

Lu Han menghembuskan napas pendek, “Entahlah. Aku sendiri juga tidak paham sama sekali. Apa mungkin penyamarannya sebagai manusia terlalu sempurna hingga aku tidak bisa mengenalinya?” tanyanya, lebih kepada diri sendiri.

“Menyamar menjadi manusia? Untuk apa?” heran Kai.

“Mencariku.”

Kedua alis Kai terangkat tinggi. “Bukannya ‘itu’ sudah terjadi ratusan tahun yang lalu? Aku pikir mereka bahkan telah lupa dan berhenti mencarimu.”

Lu Han hanya mengangkat bahunya, tanda tidak tahu.

“Itu artinya… sekarang dia sudah menemukanmu!?” tebak Kai dengan mata melotot. “Tapi kenapa kau masih ada di sini? Seharusnya begitu ia menemukanmu, ia akan langsung melaporkan pada petinggi langit untuk menangkapmu, kan?”

“Itulah yang membuatku heran.” Lu Han menutup dokumen tebal di tangannya kemudian mendesah panjang, “Sudah seminggu berlalu, tapi belum ada utusan langit yang datang untuk menangkapku. Entah apa yang sebenarnya direncanakan si tua bangka itu! Juga apa maksudnya mengirim Se Hun untuk mencariku? Aissh, aku sungguh tidak mengerti.” runtuk Lu Han sembari menepuk-nepuk kepalanya keras.

Kai sontak tertawa, “Si tua bangka katamu? Maksudmu petinggi kerajaan langit itu? Astaga Hyung, akhirnya kau berani mengatakannya juga!! Hahaha!”

Lu Han mengayunkan dokumen tebal di tangannya dan diarahkannya pada dahi Kai, “Diam kau, Jong In!”

“Appo, Hyung! Namaku Kai! Kai!! K-A-I!! Kenapa susah sekali sih!?”

“Tidak, namamu Blacky!”

“Andwae!”

“Blacky! Blacky! Kemari guk guk guk!” ejek Lu Han seolah-olah memanggil anjing kesayangannya.

“Andwaaaeeee!!”

_________

Suasana di ruang kelas itu sangat hening hingga suara jarum jam saja bisa terdengar jelas, suara desahan kesal dari beberapa—hampir semua—siswa yang tidak bisa mengerjakan soal ujian yang menguras otak itu pun tak jarang terdengar. Ditambah dengan udara panas yang mampu membuat ruangan itu terasa semakin mencekam, mereka menjadi tampak menyedihkan, dengan kening yang berkerut serta peluh yang mengucur deras,

Dan sayangnya, hal itu juga terjadi pada gadis yang satu itu. Gadis dengan rambut yang sedikit acak-acakan, yang duduk di pojok belakang kelas dan sedari awal terus-terusan memijit-mijit keningnya yang sakit. Bukan karena apa, tapi karena selembar kertas di hadapannya yang membuatnya begitu. Aneh, hanya selembar kertas saja sanggup membuat hampir setengah dari siswa yang duduk di kelas itu           menyerah, mengumpat atau bahkan tertidur, kertas ujian memang ajaib!

Lu Han, tolong aku!

Gadis bernama Nam Joo itu mulai mencoba kemampuan barunya—tunggu, sejak kapan ia memiliki kemampuan itu?—untuk memanggil Lu Han. Telepati. Ya, setidaknya ia berharap pria itu bisa membantunya di saat-saat seperti ini. Membantunya mencari contekan mungkin?

Lu Han, Lu Han, Lu Haaaannn, rengek Nam Joo dalam hati. Namun sayangnya pria bernama Lu Han yang dipanggilnya itu tak juga muncul.

Nam Joo menggigit bibirnya, kemana pria itu? Lu Hann, kemana kau?

Aku di sini.

Mata Nam Joo membulat begitu sebuah suara tiba-tiba terdengar. Aha, telepatinya mulai bekerja rupanya!

Di mana kau? Nam Joo mulai bertelepati lagi.

Aku di sini.

            Nam Joo menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari sosok Lu Han. Ia bahkan sampai nekat menoleh ke belakang, ke kolong mejanya, ke atap kelas, namun pria itu tak juga terlihat.

“Sedang mencari apa Kim Nam Joo?”

Sebuah suara yang dingin dan tajam seakan mampu menusuk telinga itu langsung menyadarkan Nam Joo dari pencariannya. Gawat! Batin gadis itu.

“Sedang mencari contekan?”

“Tidak. Tidak, Kwon songsaenim.” Nam Joo berdalih dengan gugup.

Tatapan wanita yang dipanggil Kwon songsaenim itu menyipit, tidak percaya begitu saja dengan Nam Joo. Namun setelah sekilas melirik jam dinding yang menunjukkan bahwa waktu ujian tinggal 20 menit lagi, ia hanya mengangguk dengan terpaksa kemudian kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas, takut kalau siswanya yang lain berniat mengambil kesempatan itu untuk mencontek.

Nam Joo menjatuhkan kepalanya ke meja, pasrah. Semalam peningnya kambuh sehingga ia tidak berkesempatan untuk belajar sama sekali, wajar saja kalau ia mendapat nilai merah kali ini. Yah, meskipun ia sendiri yakin sekalipun ia belajar keras, ia tidak akan bisa mengerjakan soal-soal fisika yang mematikan itu.

Lu Haaaann, teriak Nam Joo dalam hati. Masih berharap pria itu akan muncul.

“Aku di sini, bodoh.”

Nam Joo spontan mengangkat wajahnya yang semula menempel di tepi meja, ia melihat seorang pria kini berjongkok di atas mejanya dengan wajah yang …

“KYYYAAAAAA!!!” teriak Nam Joo seraya terlonjak dari kursinya, membuatnya terjatuh ke belakang dan menimbulkan bunyi khas orang jatuh yang sanggup membuat seisi kelas menoleh ke pojok belakang, tempat gadis itu berada.

Oh oh..

__________

Lu Han masih saja memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa, ia sama sekali tidak menghiraukan gerutuan lirih dari gadis yang kini berjalan beriringan di sampingnya. Sesekali gadis itu melirik sebal ke arah Lu Han, namun pria itu tetap saja tertawa. Nam Joo bahkan berharap suatu saat mulut Lu Han akan robek kalau saja pria itu tak kunjung berhenti tertawa.

“Hahaha, ternyata topeng itu berhasil. Untunglah aku meminjamnya dari Kai!!” teriak Lu Han di telinga Nam Joo, sanggup membuat gadis itu untuk kesekian kalinya berdecak kesal. Kalau saja Lu Han bisa terlihat oleh orang-orang, gadis itu pasti akan membalasnya dengan ejekan yang lebih parah. Namun sayangnya, ia tidak ingin dianggap orang gila karena marah-marah sendiri mengingat Lu Han tidak bisa dilihat oleh orang lain.

Siapapun yang bernama Kai, aku berjanji akan membunuhnya seandainya bertemu nanti! batin Nam Joo.

Bisa-bisanya Lu Han muncul tiba-tiba seperti sebelumnya namun kali ini dengan mengenakan sebuah topeng hantu yang sangat menyeramkan di hadapan Nam Joo. Membuat gadis itu sontak menjerit saking kagetnya. Masih bisa ditolerir kalau itu terjadi di rumah yang mungkin tidak ada seorangpun yang akan tahu, masalahnya ini di sekolah, di kelas! Nam Joo tentu harus menanggung malu karena ulah Lu Han yang kelewat batas ini, dilirik sinis oleh teman-temannya karena dianggap mengganggu saat-saat ujian, dimarahi guru juga karena alasan yang sama.

Oh Tuhan, kenapa kau mengirimkan malaikat gila ini padaku? Apa salahku Tuhan? Ratap Nam Joo dalam hati sambil terus berjalan lunglai.

“Kim Nam Joo.”

Merasa seseorang memanggil namanya, Nam Joo menoleh ke belakang, tempat suara itu berasal. Dan detik itu juga, ia menahan napas. Ya Tuhan, yang memanggilnya adalah … Oh Se Hun! Omo, demi apa!?

Pemuda bernama Oh Se Hun itu hanya tersenyum melihat ekpresi Nam Joo yang tetap tak berubah sedari awal mereka bertemu hingga saat ini, ekpresi melongo dan kaget yang berlangsung lama dan akan berakhir ketika ia menegurnya.

“Kim Nam Joo?” ulang Se Hun, menyadarkan kekagetan Nam Joo.

“Ah, nee, nee, nee. Nee!” kata Nam Joo berulang-ulang, gadis itu terlihat sangat kikuk.

Se Hun dan Nam Joo lantas berbincang-bincang, tanpa sedikitpun menyadari bahwa Lu Han yang berada di antara mereka sudah berkali-kali memutar bola matanya. Entah kenapa semenjak bertemu dengan Se Hun serta mengetahui siapa pemuda itu sebenarnya, ia jadi merasa aneh dan kesal ketika berada dekat-dekat dengan Se Hun.

Tiba-tiba tangan Se Hun meraih lengan Nam Joo, dan di detik yang sama, kedua bola mata Lu Han melotot sempurna.

“Aku ingin kita berbicara di tempat lain, bagaimana?” tanya Se Hun kepada Nam Joo sembari melirik sinis sekilas ke arah Lu Han. Lirikan yang membuat Lu Han langsung mendelik marah.

“Mwo?”

“Nee, kajja!” Tanpa menunggu Nam Joo yang masih dalam proses mencerna kata-katanya, Se Hun langsung menarik lengan gadis itu, membawanya menjauh dari keramaian di lorong kelas. Tanpa sedikit pun menghiraukan teriakan-teriakan iri dari gadis-gadis penggemar Se Hun yang tengah duduk di bangku-bangku panjang di lorong kelas.

Lu Han yang masih ada di posisi yang sama hanya mengepalkan tangannya erat begitu Se Hun kembali melirik sinis ke arahnya tepat sebelum pemuda itu beranjak pergi bersama Nam Joo.

Sial! Umpat Lu Han dalam hati.

__________

“Festival tahunan sekolah kita?”

Se Hun mengangguk beberapa kali, “Nee. Rencananya para pengurus OSIS akan menyiapkan sebuah drama musikal bertajuk Snow White and Her Music. Dan mereka tanpa babibu langsung memilihku sebagai pangeran.”

Mendengar itu, Nam Joo hanya bisa melongo sementara di dalam sel-sel otaknya ia mulai mengkhayalkan berbagai hal. Se Hun menjadi pangeran, dan Nam Joo akan menjadi puterinya. Se Hun memakai pakaian serba putih dan dengan gagahnya menunggangi kuda putihnya, pangeran Se Hun akan mendatangi puteri Nam Joo yang tengah tertidur karena diracuni oleh nenek sihir.

Pangeran Se Hun yang tampan dan datang dari negeri nan jauh hendak mencium puteri Nam Joo, pangeran berharap hal itu akan bisa membangunkannya. Puteri Nam Joo yang menunggu ciuman dari pangeran Se Hun hanya tersenyum sendiri di dalam hati. Ia menunggu, dan menunggu kapan ciuman dari pemuda itu akan mendarat di bibirnya. Ia menunggu, menunggu, menunggu dan … Hei! Kenapa Pangeran Se Hun belum juga menciumnya?

Karena penasaran, dengan perlahan puteri Nam Joo membuka matanya. Dan detik itu juga kedua matanya membulat. Bagaimana tidak, tepat di hadapannya sekarang adalah seorang pria menyebalkan yang tidak lain tidak bukan adalah Lu Han! Apalagi Lu Han kini tengah memejamkan mata sembari mengedepankan bibirnya, omo! Sepertinya pria itu berniat mencium puteri Nam Joo!

Ke mana perginya pangeran Se Hunnya yang tampan ituuu!?

“YAA!!” teriak puteri Nam Joo kasar, sembari mendorong tubuh Lu Han menjauhinya. “Apa-apaan kau!? Kenapa tiba-tiba muncul?”

Lu Han hanya balas menyeringai kemudian berkata remeh, “Aku hanya ingin bilang, kau jauh lebih cocok menjadi ‘Beast’ dalam cerita ‘Beauty and the Beast’, nona Kim! Hahahaha, bahkan Se Hun lebih cantik darimu! Hahahahaha!”

Apa katanya?? Batin puteri Nam Joo sembari memelototkan matanya.

Hahahahahaha!

Tawa Lu Han terus bergema di telinga puteri Nam Joo. Bahkan sekalipun ia menutup telinga, tawa meremehkan itu tetap saja terdengar.

Hahahahahaha!

Hahahahahaha!

Oh Tuhan, tolong ..

Hahahahahaha!

Tolong aku..

“Nam Joo ssi! Nam Joo ssi!” Se Hun mengguncang pelan tubuh Nam Joo yang masih mematung di depannya. Beberapa saat kemudian, goncangan itu berhasil membuat gadis itu kembali dari dunia khayalannya. Nam Joo mengerjapkan matanya berkali-kali. Ya Tuhan apa yang baru saja ..

“Jeongmal mianhae Se Hun ssi!” kata Nam Joo kemudian dengan nada menyesal.

Se Hun terkekeh, “Ada apa denganmu barusan? Melamun? Kau membayangkan menjadi seorang puteri?”

Pertanyaan Se Hun mampu membuat sekujur tubuh Nam Joo bagai tersengat listrik, bahkan kalau dalam sebuah komik akan ada efek halilintar menggelegar sebagai backgroundnya, dan halilintar itu bagai menusuk jantung hati Nam Joo. Jleb, tepat kena sasaran.

“Ani.. Ani.. Aku tidak..” Nam Joo berusaha berdalih sementara wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Merah padam.

“Mau mencoba?” tanya Se Hun sembari tersenyum manis.

“Eh?”

“Ya. Menjadi puteri salju.”

Lagi, mulut Nam Joo membulat. “A..apa? Aku.. jadi puteri Salju?” katanya menunjuk dirinya sendiri.

Se Hun mengangguk, “Dalam drama ini ada sedikit perubahan cerita, mungkin akan ada penggabungan antara cerita Puteri Salju dan Cinderella. Pada awalnya pangeran sempat bertemu Puteri Salju. Mereka bertemu saat pesta topeng di mana pangeran juga sedang mencari pendamping hidup yang cocok untuknya. Dan cara pangeran memilih adalah dengan mengajak setiap gadis yang hadir untuk berduet dengannya memainkan alat musik.”

Se Hun melanjutkan ceritanya dengan suka cita, “Putri Salju berhasil memukau pangeran, namun karena ibu tiri dan kedua kakak perempuannya sangat iri dengannya, maka sebelum pangeran sempat mengenalinya, mereka membuang Puteri Salju ke hutan. Saat itulah puteri salju bertemu dengan ketujuh kurcaci.”

Nam Joo bertepuk tangan pelan ketika Se Hun selesai bercerita. “Pasti dramanya akan keren sekali!” ujarnya sembari menunjukkan jempol tangannya ke arah Se Hun.

“Lalu?”

Kedua alis Nam Joo terangkat, masih belum paham dengan arah pembicaraan Se Hun. “Aku rasa peran ini sangat cocok untukmu. Meskipun kita gagal duet sebelumnya, tapi dengan permainan biolamu yang seperti itu aku yakin kau bisa.” kata Se Hun kemudian.

“Menjadi puteriku.”

Kata-kata yang baru saja Se Hun ucapkan mampu menyisipkan desiran aneh di setiap hembusan napas Nam Joo, membuat gadis itu menahan napas saking kagetnya, saking bahagianya. Kepala dan dadanya langsung terasa ringan. Benarkah seorang Oh Se Hun mengatakan kata-kata yang sangat indah itu untuknya? Benarkah seorang Oh Se Hun lah yang memintanya untuk menjadi pasangannya?

Oh, kalau ini mimpi atau mungkin khayalanku, tolong, siapapun jangan buat aku sadar, batin Nam Joo kemudian.

.

Sementara dari kejauhan seseorang melihat pemandangan itu dengan wajah masam. Ia telah mendengar semuanya sedari awal, apa yang diminta Se Hun pada Nam Joo, serta cara pemuda itu memuji Nam Joo. Semua kata-katanya mampu membuat seseorang bernama Lu Han itu mual dan ingin muntah.

Kening Lu Han berkerut marah, masih sambil memandang dua orang yang tengah berbincang-bincang dengan suka cita itu.

Apa yang sebenarnya kau rencanakan, Oh Se Hun?

____TBC___

How about this one? Membosankan readerdeul? ^^v

Entah kenapa saya ngebet banget bikin lanjutannya cerita ini, meskipun peminatnya tergolong sedikit T.T Habis udah ada di kepala semua sih, sampek endingnya aja juga udah dirancang. Jadi sayang aja kalo nggak dilanjutin, sayang banget kalo apa yang udah ada di otak dibiarin ngendap dan sia-sia gitu aja, hahaha ^^/ I will fight for this story, yay!!

See ya in the next chapter nee?😀 follow me @fhayfransiska

And DON’T FORGET TO COMMENT, OK ?🙂

Annyeong readerdeul, saranghaeyo ^^/

 

86 responses to “A ‘Good’bye [Part 0.1]

  1. Lah ini yg penghianat sapa? Luhan ap sehun? Nam joo entar sama sapa? Aaaaak, lanjut dulu deh dripada rmpong beginii

  2. Apaa yg trjdi ama Luhan dmsa lalu?! knp Sehun dtg utk nyari n ngawasin Luhan?!
    Penasaraaannn!!
    Luhan n Sehun sama2 malaikat khn?? Trus,, syp yg jhat?? *pusing sndri..

    Lanjuuuuutttt Fhay authornim!! >_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s