FF : Oramanieyo… [CHAPTER 1]

Title : Oramanieyo…

Author : Hayamira

Genre : Romance, Friendship, Tragedy

Rating : PG 16

 Length : Chaptered / Series

Main Cast :

                              Jung Na Mi (OC)

                              Kim Him Chan ( B.A.P )

                              Kim Su Ho ( EXO-K )

                              Yong Jun Hyung ( BEAST )

                              Goo Ha Ra ( KARA )

Support Cast    :

                              Lee Sung Yeol ( INFINITE )

                              Byun Baek Hyun ( EXO-K )

Disclaimer :

Cast belongs to GOD and their entertaintment ( TS Ent and SM Ent ) the OC character belongs to author’s brain… main story belongs to author’s brain too.

Note :

HAI!! Hyerinn Park disini~ duh maaf banget belum sempat ngepost FF u.u disini Hyerinn bawa FF Sequel Please, Stop The Time :D alias sequel Nami versionnya :D Hpe you’ll enjoy it guys 😀

oramanieyo

TEASER   |   TEASER 2

Poster     :   sasphire http://sasphire.wordpress.com/

Summarize    :  

Everyone has their own dark side…

So does she….

She keep in on secret, deepnest in her heart and locked…

Everything is going well…

Until someone came from past and break it slowly…

and Her life will never be the same again…

Bunyi bel tanda waktu masuk kelas. Kelas ekstrakulikuler seni mulai nampak ramai dengan anggotanya. Pembimbing ekstrakulikuler penulisan ilmiah biasanya masuk 10 menit setelah bel berbunyi. Banyak yang sedang bercanda gurau dengan temannya, atau sedang duduk dibangku dengan tenang. Seperti apa yang dilakukan Him Chan saat ini, siswa kelas 3 Ddang Myeon High School.

 

Him Chan yang biasanya hyperaktif, sekarang memilih untuk tenang duduk dibangkunya. Sesekali dia mengunyah roti yang ada ditangannya, lalu kembali sibuk dengan PSP yang bisa membuatnya duduk tenang. Namun karena bosan, Him Chan berhenti bermain game. Matanya lalu memandang isi kelas, lalu kesampingnya. Hei, tidak ada yang mau duduk disampingku? Batinnya melirik bangku kosong disampingnya. Biasanya, temannya duduk disampingnya, namun Him Chan ingat kalau temannya sedang sakit dan tidak datang sekolah. Him Chan pun menghela napas berat. 90 menit kedepan pasti sangat membosankan, apalagi kelas seni hari ini bukan Instrumental Tradisional Korea, namun desain grafis. Membosankan, batinnya.

 

Beberapa menit kemudian, guru pembimbing datang. Him Chan merenggangkan badannya, bersiap untuk mengantuk atau melamun selama 90 menit. Rasanya dia ingin mempercepat waktu berjalan, agar dirinya langsung masuk ke kelas penulisan ilmiah, topik hari ini katanya menarik. Editing Scriptor, sesuai dengan apa yang Him Chan impikan. Menjadi Editor In Chief  sebuah majalah terkenal.

 

Ketika sedang asyik dengan pemikirannya, ternyata ada seorang gadis yang duduk disampingnya. Him Chan menoleh, gadis itu nampak memerhatikan guru, matanya menatap kedepan dengan tatapan datar. “Hai,” sapa Him Chan pada gadis itu. “Hai, Nami.”

 

Nampaknya gadis yang bernama Nami menoleh, dan menatap Him Chan datar sesaat, lalu tersenyum datar. “Hai, sunbaenim.” Lalu, gadis itu kembali memandang kearah depan. Him Chan mengerjapkan matanya, gadis ini datar sekali.

 

Setahu Him Chan, gadis ini adalah Jung Na Mi, siswi kelas 2. Terkenal karena jenius, namun dingin dan datar. Him Chan hanya mendengar kabar ini dari beberapa temannya yang menjadi penggemar Jung Na Mi. Banyak juga yang mencibir Nami adalah seorang gadis yang tidak punya perasaan, hati dan jiwa. Nami si Patung, begitulah yang sering Him Chan dengar dari adik kelas ataupun temannya,  berpacaran dengan Kim Joon Myeon, salah satu siswa kelas 2 yang termasuk populer karena wajahnya dan suaranya. Teman sekelasnya juga banyak yang menyukai Joon Myeon, mungkin itu alasan kenapa ada cukup banyak yang mencibir Nami.

 

Him Chan bukan salah satu ‘penggemar’ Nami, namun Him Chan kurang setuju jika Nami dengan Joon Myeon. Entah kenapa, Nami tidak cocok dengan laki-laki seperti Joon Myeon. Him Chan menggelengkan kepalanya, daripada dia berpikir yang tidak-tidak lebih baik dia mencoret-coret bukunya. Ketika membuka tasnya, dia lupa tempat pensilnya. Dan sekarang, semua siswa sedang memperhatikan guru dan keadaan kelas hening. Tidak mungkin dia mau membuat keributan sendiri.

 

Gerak-gerik Him Chan yang kasak-kusuk sendiri membuat mata Nami teralih kepadanya. Nami mengambil tempat pensilnya, mengambil pulpen dan meletakkannya disamping buku Him Chan, lalu kembali memerhatikan guru yang menjelaskan didepan.

 

Him Chan menoleh, menatap pulpen lalu Nami. Him Chan berpikir sesaat, lalu mengambil pulpen tersebut dan mulai menulis. Sementara menulis, Him Chan tersenyum melihat pulpen ini. Jung Na Mi tidak seburuk yang temannya ceritakan, dia ramah dan baik. “Nami, terima kasih pulpennya,” ujar Him Chan kepada Nami sambil mengacungkan pulpennya. Nami mengangguk, lalu tersenyum. Senyum yang sama sepeerti tadi, namun Him Chan bisa merasakan senyum itu tulus dan sebuah senyum senang, “Jangan sungkan, sunbaenim.”

 

-ooo-

Satu Tahun kemudian

 

Nami tersenyum lebar menatap lunch box nya. Dua lunch box, berwarna biru dan berwarna merah jambu. Langkah kakinya riang menyusuri koridor sekolah Ddang Myeon High School. Derap langkahnya menaiki tangga menuju atap sekolah untuk menemui pacarnya, Joon Myeon atau Joon Myeon.

 

Joon Myeon sedang berdiri menatap gadis lain, Goo Ha Ra. Nami bersembunyi disamping pintu, mendengarkan sahabat sekaligus kekasihnya sedang membicarakan apa.

 

“Oppa, kapan kau memutuskan Nami?”tanya Ha Ra bersandar dipundak Joon Myeon. Joon Myeon membelai kepala Ha Ra lalu tersenyum. “Sabar saja, Chagi”

 

Nami sesak mendengarnya. Sahabat terdekatnya dan kekasihnya ternyata sudah menjalin hubungan dibelakangnya. Telinga Nami masih mendengarkan percakapan mereka.

 

“Kita sudah pacaran setahun lebih Oppa,”raju Ha Ra manja. Nami terbelak. Dirinya dan Joon Myeon berpacaran 2 tahun sejak Nami masuk SMA. Ternyata mereka telah menusuk Nami lebih dari 2 tahun.

 

“Iya Chagi. Lagipula, kita akan hidup bersama, kan setelah tamat.”

“Hmm… Oppa mau melakukan yang tadi malam? Aku menyukainya.”

 

Apa? Semalam? Oh… Ini berarti, mereka telah berhubungan sangat jauh dari jangkauan Nami. Nami menggigit bibir, hatinya merintih kesakitan melihat semuanya. Selama ini dia tidak pernah tahu, dan ini membuat napasnya sesak. Teramat sesak.

 

Cinta pertamanya, kekasih pertamanya, dan sahabat terdekatnya telah mengkhianati dirinya sudah lama. Seluruh kenangan berputar dikepala Nami. Nami terpaksa meninggalkan mereka berdua dengan hati yang perih juga sakit.

 

Sepuluh Hari sebelum Upacara Hari kelulusan.

 

Nami berjalan santai dengan Han Na. Ini minggu terakhir mereka ada disekolah ini. Nami merasa sedih harus berpisah dengan teman-temannya. Selama beberapa hari terakhir pun dia tidak memikirkan Joon Myeon dan Ha Ra lagi, sejak apa yang dia dengar itu dia berusaha menjauhi mereka berdua.

 

Joon Myeon berjalan kearah Nami. Nami menghela napasnya, melirik Han Na yang juga melihat Joon Myeon.

“Han Na…”ujar Nami menatap Han Na takut. Han Na memeluk pundak Nana, “Kau bisa, Nami.”

 

Joon Myeon menyapa Nami “Nami, bisa kita bicara?” tangan Joon Myeon menarik Nami . Nami menarik tangannya kembali.

“Apa yang harus kau sembunyikan? Disini kan bisa,”ujar Nami tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Joon Myeon sedikit kaget

“Ini sedikit pribadi,” Nami mendecak.

“Oh. Bukannya satu sekolah sudah tahu kalau kita berpacaran sudah 2 tahun,”Nami berusaha setenang mungkin. Hatinya memberontak ingin menanyakan segalanya dan ingin berteriak dihadapan Joon Myeon. Namun, Nami bukan tipe yang langsung menyerang. Dia lebih suka dengan kata-kata yang halus dan sopan.

 

“Katakan saja langsung. Hanya Han Na kok, lagipula, dia kan sahabat baikku,” kata Nami. Han Na nampak menahan amarah. Dia sudah mengetahui segalanya dari Nami. Dan, sudah memata-matai Joon Myeon dan Ha Ra. Rasanya Han Na ingin menampar Joon Myeon, namun Nami menahannya dengan mengatakan kalau ini urusannya dan harus Nami yang menyelesaikannya.

 

“Nami, aku mau hubu….”

Ha Ra muncul dibelakang Joon Myeon tersenyum sinis kepada Nami, “Hubunganmu dengan Joon Myeon harus berakhir, Nami.”

“Maksudmu?” Nami mengikuti alur permainan mereka berdua. Dengan berpura-pura kaget, terlihat Ha Ra semakin sinis melihat Nami.

 

“Aku sudah berpacaran dengan Joon Myeon setahun lebih. Maaf, tapi kurasa Joon Myeon lebih berharga dari pesahabatan kita.”

 

Ha Ra menyerang Nami. Nami tersenyum “Seperti itukah?” balas Nami singkat. Ha Ra menahan amarahnya.

 

“Iya. Kami telah berhubungan jauh,” telunjuk Ha Ra mengacung kearah wajah Nami, “Lebih jauh dari kalian, tahu,”

 

Ha Ra tersenyum puas. Merasa Nami telah kalah telak. Mantan sahabatnya pun terlihat kaget setengah mati.

 

Nami sengaja memasang ekspresi kaget sambil menyiapkan kata-katanya. “Kalau begitu, aku harus apa?” kata Nami tersenyum lebar. Ha Ra marah dan menampar Nami keras sampai Nami tersungkur ditanah.

 

“Ha Ra! Hentikan.”

Joon Myeon berteriak dan membantu Nami bangkit. Nami lagi-lagi tersenyum lalu menolak secara halus pertolongan kekasihnya tersebut.

 

“Oppa, Putuskan Nami sekarang juga!”Ha Ra berteriak. Joon Myeon nampak menunduk, lalu memandang Nami. Nami berharap ini tidak akan terjadi. Tidak, ini mimpi.

 

“Nami, Kita putus ya”ucap Joon Myeon. Nami serasa runtuh. Hatinya hancur. Pikirannya kosong. Tubuhnya kehilangan kekuatan. Nami berusaha dengan sekuat tenaga

“Iya. Selamat berbahagia, ya dengan Ha Ra,” Nami tersenyum lebar, lalu menjabat Joon Myeon dan Ha Ra, walaupun tangan Nami ditepis Ha Ra.

 

“Kau tahu, kau gadis yang membosankan. Kau terlalu menjenuhkan untukku. Kau itu tipikal gadis bodoh. Juga Tolol,”Ujar Joon Myeon sinis, lalu menggandeng Ha Ra. Berjalan menjauh. Nami yang langsung menjadi pusat perhatian temannya, hanya membungkuk meminta maaf atas keributan tadi, dan berjalan dengan Han Na.

 

“Nami…”

Namun, yang dipanggil hanya menoleh dan memperlihatkan ekspresi datarnya. Han Na mengerti, walaupun ekspresinya sedatar itu tapi matanya tidak pernah bisa berbohong. Matanya seperti meminta untuk membawanya jauh, melupakan apa yang baru saja terjadi. Han Na menghela napas, lalu merangkul Nami. “Kadang, penyakitmu itu bisa menguntungkan tapi juga menyakitkan. Gwaenchana, Nami?”

 

Nam menggeleng. Tentu saja keadaannya tidak baik. Nami memejamkan matanya, kepalanya mulai terasa pusing dan berdenyut. Tangannya kini memijat dahinya, berusaha mengurangi rasa sakit yang dia rasa. “Ini semua karena tadi,” ujar Nami sebelum Han Na menanyakan alasannya. Han Na mengangguk, dan membawa Nami beristirahat.

 

 

Dua Hari Sebelum Upacara Hari Kelulusan.

 

Nami berada di bandara Internasional di Seoul. Beberapa menit lagi dia harus meninggalkan Seoul untuk kembali ke Hokkaido. Dia tidak bisa mengikuti upacara Hari Kelulusan di sekolahnya. Nana akan sekolah di Tokyo, sementara Ayahnya masih ditugaskan Di Seoul. Terpaksa Nami harus pergi lebih cepat. Padahal keinginan untuk berkumpul yang terakhir kalinya dengan teman SMA nya sangat besar, namun Ibunya lebih penting daripada temannya.

 

“Nami, jaga dirimu ya. Maaf, Ayah tidak bisa menyusulmu kesana,”ujar ayahnya memeluk Nami erat. Nami mengangguk, “Iya Ayah Aku akan jadi Desainer dan aku dedikasikan untuk Ayah, Ibu dan Nana-chan.”

 

Senyum Lebar menghiasi Nami kali ini. Disamping ayahnya, Han Na sudah terisak menatap Nami. Nami juga tidak tega berpisah dengan Han Na.

 

“Promise to me, kau akan berusaha supaya tidak akan disakiti oleh kaum laki-laki,” bisik Han Na.

“Of Course. Kurasa aku juga malas membuka hatiku untuk laki-laki lagi.”

 

Nami tersenyum kecut. Han Na membelakkan mata, mengira yang tidak tidak Nami melambaikan tangan.

“Jangan berpikir yang aneh aneh. Maksudku, aku malas untuk menjalin hubungan,”ujar Nami. Han Na bernapas lega. Setidaknya sahabatnya itu nampak lebih baik.

 

“Lalu kau akan melanjutkan kuliah dimana?” tanya Ayah Nami.

“Kan aku sudah jelaskan, aku ikut tes online dan masuk dengan nilai terbaik, jadinya 2 semester gratis di Hokkaido University jurusan Desain Busana, Ayah,”jelas Nami. Ayah Nami tersenyum mengangguk. Bangga akan anaknya.

 

Pesawat akan take-off. Nami membungkuk, lalu berjalan menjauhi mereka berdua, menunggu untuk pergi ke Hokaido untuk hidup bersama ibunya tercinta. Dan untuk Joon Myeon, Demi Tuhan dia tidak akan mau lagi melihat senyum dan sosoknya, kalau perlu sisa umurnya dia tidak akan bertemu lagi dengannya. Cukup sudah laki-laki itu menimbulkan luka, dihati Nami.

-ooo-

 

6 Tahun Kemudian

 

Jalan Harajuku selalu saja ramai setiap waktu. Orang yang berlalu lalang, ataupun para remaja yang berdandan semenor mungkin, atau meniru tokoh kartun, anime, dan terkadang artis atau gaya lain seperti Gyaru Style. Para remaja itu saling berdandan semenarik mungkin, dan nongkrong dijalan. Para pejalan kaki pun memadati jalan. Walaupun ini sudah memasuki awal musim dingin yang menusuk.

 

Ada juga yang sekedar berjalan kaki menikmati pemandangan yang mungkin hanya ditemukan di jalan Harajuku ini. Deretan toko juga berjejeran, mulai dari toko pakaian, jajanan khas sampai toko khusus yang menjajakan souvenir anime dan manga. Apalagi saat perayaan hari-hari besar atau festival, terutama festival anime dan manga, maka jalan ini akan padat dan penuh sesak oleh berbagai manusia yang ingin melihat parade kostum, pertunjukan dan sebagainya.

 

Bagi para Desainer sendiri, inspirasi dari Harajuku sudah sangat lumrah digunakan di catwalk. Menggambarkan kebebasa, warna ceria, dan sebagainya. Namun, tidak untuk Jung Na Mi yang sedang memandang kosong kearah jalan raya yang padat itu. Harajuku sudah pernah diangkatnya menjadi tema pamerannya, kali ini dia kembali menyendiri di cafe disudut jalan, menyesap Arabica Espresso Latte. Skecth Book miliknya telah terisi oleh apa yang akan dia rancang nanti untuk pameran di Japan Fashion Week di Shibuya nanti 8 bulan dari sekarang. Namun, dia masih duduk disitu. Hanya untuk menikmati kesendiriannya.

 

Na Mi beranjak dan berjalan kearah jendela, setelah membayar tagihannya, dia beranjak keluar cafe. “Saatnya pulang,” ujarnya pada diri sendiri lalu melangkahkan kaki. Supermarket adalah tujuannya selanjutnya, dia ingat kulkas apartemennya sudah kosong.

 

Beribu-ribu orang berjalan disamping Nami, Nami yang sudah terbiasa juga ikut berjalan sesuai arah. “Oramanieyo, Nami.”

 

Seseorang memanggilnya dan Nami merasa bukan dirinya. Ada beratus ratus nama Nami dijalan ini, pikirnya. Dan persentase kemungkinan itu adalah dirinya adalah 0.5 % .

 

Oramanieyo, Jung Na Mi,” kali ini, orang itu menyebut nama aslinya. Nami berbalik, namun tertabrak oleh orang yang sedang berjalan. “Tahu berjalan tidak?”omel orang itu. Na Mi membungkuk meminta maaf, dengan sigap bangkit dan melihat orang yang tadi memanggilnya sedang bersandar di tembok toko.

 

Nami mengerjapkan matanya. Tidak, jangan dia, kumohon. Batin Nami. Orang itu berjalan mendekat Nami, “Lama tidak berjumpa, Jung Na Mi.”

 

Laki-laki itu tersenyum kearah Nami. Namun, Nami tidak membalas senyumnya. Sebaliknya, seumur hidupnya dia tidak ingin melihat senyum itu, sosok itu.

 

Nami menatap nanar sosok itu. Rasanya dia ingin lari saja dari orang itu. Terlalu kelam untuk diingat.

“Apa perlu aku berteriak agar kau sadar?”senyum sinis sosok itu benar benar membuat lutut Nami lemas. Sosok itu kembali mengucapkan sesuatu “Oramanieyo, Jung Na Mi.”

 

Helaan napas keras muncul dari Nami. “Halo Joon Myeon, atau Suho,”ucapnya dengan lidah kelu. Harapannya satu, cukup hari ini dan detik ini dia melihat Suho atau Joon Myeon. Sang mantan kekasih, yang bahkan Nami tidak ingin mengingat fakta ini.

 

-ooo-

 

Nami menghempaskan tubuhnya di kereta yang dia naiki itu. Kepalanya kembali pusing. Tangannya memijit mijit pelan kepalanya yang terasa pening. Mengingat akan Suho saja cukup membuat seluruh konsentrasi dan pikirannya buyar seketika.

 

“Kurasa kau menghindariku karena kau tidak menerima aku putuskan, bukan?”

“Itu tidak seperti yang kau bayangkan, Joon Myeon.”

“Lalu?”
Nami menatap Suho dengan tatapan datar. “Apa aku harus memberitahumu?”

“Tentu.”

 

Nami mendesah napas pelan “Intinya aku ingin bertemu ibuku. Lagipula aku juga sudah tahu hasil nilaiku, dan aku harus kuliah di Hokkaido dan menjaga ibuku.”

“Hanya itu? Aku yakin kau masih menyukaiku atau masih berharap kepadaku.”

“Maaf, kau keliru. Kurasa waktu kita cukup untuk bertemu kangen. Senang bertemu denganmu, Suho.”

“Nami aku belum selesai.”

 

Nami berjalan lebih cepat meninggalkan Suho. Kenangan akan segala masa lalunya membuat hatinya sesak lagi. Sudah beberapa tahun lebih, waktu itu umur Nami 17 tahun dan sekarang dia sudah berumur 23 tahun tapi dia tidak pernah bisa menghapus rasa sesak itu.

 

Nami membuka tasnya, mencari earphone lalu dia memakaikan earphone ditelinganya, dan menyetel di iPod shuffle nya. Volume lagu diperkeras, Nami tidak ingin apapun mengganggunya. Cukup pertemuannya dengan Suho yang membuatnya muak dan mumet. Dia harus pulang ke Hokkaido, mengambil obatnya dan menenangkan diri 2-3 hari sebelum kembali berkutat dengan pekerjaannya di Tokyo.

 

Oramanieyo, Nami-sshi,”ujar seseorang lagi. Nami mendesah. Apakah ilusi Suho masih mengikutinya? Dia menoleh, untungnya yang dia dapati bukan sosok Suho. Namun, lelaki perawakan asia, dengan mata sipit sedang tersenyum kepadanya.

“Him Chan sunbaenim?”

“Lama tidak berjumpa, Nami”ujar Him Chan menjabat tangan Nami. Nami tersenyum membalas sapaan Him Chan.

 

Him Chan, Kim Him Chan, senior sewaktu SMA di klub Seni. Orang berperawakan ‘sangar’. Seingat Nami, seniornya yang satu ini adalah senior yang berbeda perilaku asli dengan wajahnya tersebut.

 

“Kau melanjutkan kuliahmu dimana?”tanya Him Chan, sesekali menguyah biskuit madu.

“Hokkaido University jurusan Desain Busana. Sunbaenim?” sepertinya panggilan Sunbaenim membuat Him Chan tidak nyaman. “Him Chan saja, ”ujarnya

 

“Aku sekarang menetap di Tokyo sebagai editor in chief sebuah majalah tapi aku ingin ke Hokkaido menjenguk pamanku. Kau sendiri, tujuanmu dimana?”

“Hokkaido juga,” jawab Nami.

 

“Oh iya, aku dengar kau seorang desainer yang hebat dan terkenal di Tokyo. Bahkan karyamu sampai di New York, Los Angeles dan beberapa negara fashion trend lainnya, beberapa branch JNM-mu sudah menyebar ke seluruh penjuru USA. Selamat ya,” ujar Him Chan antusias. Hati Nami senang, cukup membuatnya membuang Suho dari pikirannya. Seulas senyum muncul diwajah Nami, sebagai pengganti kata terimakasih namun akhirnya Nami mengucapkannya juga.

 

“Terima kasih. Sunbae… Ah, maksudku, kau sendiri menjadi editor in chief dimana?”

“Vogue.”

Nami tercengang mendengar kata Vogue. Salah satu majalah fashion yang paling bergengsi dan trendi, setiap Negara trade mark fashion pasti punya Vogue edisi mereka. Bahkan ajang pencarian model, seperti American Next Top Model saja sering sekali menjadikan Vogue sebagai target untuk pemenangnya agar wajah pemenang terpapar di sampul Vogue. Suatu kebanggaan tersendiri bagi para model, jika wajah mereka bisa ada di majalah Vogue.

 

Nami sendiri pun sangat menyukai membaca Vogue, selain karena dia memang mencintai dunia fashion, kadang-kadang banyak karya seniornya yang dia kagumi. Baginya, Vogue sendiri seperti seperti tour map guide untuk dunia fashion. Isinya benar-benar fashion, dari event-event fashion, pameran sampai peluncuran produk terbaru, trending masa kini, dan lainnya dibahas. Dan sekarang, orang yang duduk disampingnya adalah editor in chief Vogue Japan, secara tidak langsung dia adalah orang terpenting Vogue Jepang saat ini.

 

Amazing… Kau tahu bukan, Vogue itu seperti guide map untuk dunia fashion.”

For that purpose I am here. Jabatan itu kosong, kebetulan aku ingin pindah ke Tokyo. Tadinya aku di Vogue USA sebagai editor in chief juga, tapi lebih nyaman jika ada di Benua Asia.”

Nami mengangguk-anggukkan kepalanya, ternyata dia juga editor in chief Vogue New York. Nami berniat ingin menanyakan alasannya pindah, namun mengurungkan niatnya karena dia merasa iu mungkin hal pribadinya. Lagipula, mereka tidak terlalu akrab sebelumnya. Namun, entah apa mood Nami membaik dan Nami merasa nyaman berbicara dengan Him Chan.

 

“Semoga kau betah di Tokyo.”

I Will.”

 

Him Chan mengamati Nami. Mantel v-neck sepanjang lutut berwarna hitam dipadu dengan celana jeans legging. Boots tanpa hak hitam seperempat lutut juga syal hitam rajutan yang melilit leher Nami yang jenjang. Rambut gelombang hitam yang disanggul keatas, juga kacamata bingkai mika hitam, gaya yang sederhana untuk musim dingin. Sederhana untuk seorang perancang busana yang karyanya melelang buana sampai di USA, Paris, dan lainnya.

 

“Kau masih sama seperti yang dulu, Nami,” ujar Him Chan. Nami yang sedari tadi melamun, menatap Him Chan, “Kau juga.”

 

“Oh iya, kau akan tinggal dimana nanti di Hokkaido?”tanya Nami. Him Chan berpikir sejenak, lalu membuka suara “Rumah Bibiku. Bibi … Byun?”jawab Him Chan. Nami mengerutkan dahi, “Maksudmu, paman Byun Sung Joo?”ujar Nami menebak. Him Chan mengangguk.

“Iya. Aku akan tinggal dengan sepupuku Baek Hyun.”

 

Nami mengerutkan dahinya lalu tersenyum.  “Baek Hyun itu sahabat dekat adikku,” lirih Nami. Him Chan mendengarnya, lalu tertawa,“Benarkah? Kalau begitu gadis yang pergi dengan Baek Hyun ke Tokyo waktu itu… namanya Na Eun? Nana? Anna? AH aku lupa. Siapa Nama Adikmu?” tanya Him Chan. “Anna? Bukan. Namanya Jung Na Eun.” Him Chan mengangguk. Ternyata rumah mereka berdekatan.

 

Mereka pun mengobrol banyak hal, sampai kereta berhenti dan mereka telah sampai di Hokkaido.

-ooo-

Tadaima.”

 

Nami melihat masuk ke rumahnya. Ruang tamu dan ruang keluarganya sepi, tapi kekhawatiran Nami hilang begitu mendengar bunyi alat masak di dapur. Nami segera melepas sepatunya, menutup pintu dan berjalan ke dapur.

 

Benar saja, ibunya sedang  masak. Nami berjalan pelan lalu berdiri disamping ibunya, “Apa menu makan malam hari ini, Ibu…” bisik Nami. Ibunya menoleh, hanya menggeleng melihat putrinya yang nampak senang setelah membuat dirinya hampir melemparkan minyak panas kebelakangnya.

 

“Kau mengagetkan Ibu saja, Nami.” Nami menggaruk kepalanya pelan, lalu duduk dikursi meja makan. Ibunya memandangi putrinya yang sekarang sedang menyantap anggur hijau.

 

“Bagaimana hari-harimu di Tokyo, Nami? Kalau kau berkunjung ke sini teleponlah dulu, supaya Ibu bisa membuatkanmu kare super teramat pedas kesukaanmu.” Ibunya terus mengaduk masakan di pancinya. Sekarang, dia mengambil piring nasi, menyendokkan nasi ke piring itu dan menuangkan kare keatasnya. Lalu, meletakkan didepan Nami. Nami bisa mencium aroma rempah yang kuat.

 

Ibunya tersenyum melihat Nami memandangi kare didepannya dengan penuh nafsu. “Makanlah dulu, dugaan Ibu memasak kare daging memang tepat, kau datang,” ujar Ibu Nami sambil mengambildua buah mangkuk, dan mengisinya dengan kimchi lalu meletakkannya satu disamping Nami. Lalu, Ibunya mengambil teko yang telah panas dan meletakkannya di tatakan kayu diatas meja.

 

“Ada masalah apa kau datang kesini, Nami?” Tanya ibunya. Nami langsung menghentikan makannya, lalu menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya. “Ibu selalu saja bisa membaca pikiranku dan Nana,” celoteh Nami melanjutkan makannya.

 

“Percuma saja aku menjadi ibumu kalau tidak tahu apa yang anak gadisnya sembunyikan dan pikirkan.”

 

Nami mengangguk, “Nanti saja, Bu. Aku rindu Ibu, kan setelah ini aku harus di Tokyo untuk menyelesaikan…Anu…”

“Japanese Fashion week di Shibuya.”

Nami tersenyum, “Iya. Jadi aku jarang kesini nantinya dan Ibu sendirian. Aku takut Ibu kesepian…”

 

“Kenapa harus takut? Ada Bibi dan Paman disebelah.” Ibu Nami mengibaskan tangannya, menyuruh Nami agar tidak berpikiran berlebihan tentangnya. Nami menghela napas melihat Ibunya, meletakkan sendoknya dan menatap Ibunya dalam.

 

“Kau tidak perlu khawatir. Bibi tetangga sebelah juga sering menemani Ibu disini. Nana juga sering menelpon, Ibu merasa tidak sendirian. Ibu selalu ditemani cinta dari Ayah, dari Nana dan darimu,” ujar Ibunya sambil tersenyum mengusap-usap tangan Nami. Nami mendengus, menggenggam tangan ibunya lalu tersenyum.

 

“Lanjutkan makanmu, kau suka? Setelah makan, kau mandi lalu tidurlah. Kau butuh istirahat yang cukup, lihat lingkaran matamu sudah dalam sekali.”

 

Nami tentu langsung mengangguk dan kembali makan makanan malamnya dengan lahap, sesekali melihat Ibunya yang sedang tersenyum dan membalas senyumnya. Ibunya memandangi Nami dengan rasa bahagia.

 

Benar kata Ibunya, Nami butuh istirahat. Sejenak, menjauhkan diri dari Suho yang tiba-tiba datang dan langsung mengacaukan hidupnya dan kembali dengan pikiran segar menghadapi karirnya di Tokyo.

 

-ooo-

 

 

 

 

 

Tadaima.”

Him Chan melepas sepatu lalu masuk kerumah Bibinya. Jet Lag dari New York sampai Jepang ditambah naik kereta shinkansen cukup menguras tenaganya. Untungnya, besok dia belum masuk bekerja. Masih ada 2 hari untuknya liburan di Hokkaido, lalu kembali ke Tokyo.

 

“Him Chan, Okairi,” sambut Bibi Byun dan Paman Byun hangat. Him Chan membungkuk sedikit, lalu tersenyum memeluk mereka berdua. Pandangan Him Chan mencari seseorang, yang tidak ada dirumah itu. “Baek Hyun sedang ada di luar kota,” sahut paman Byun seakan bisa membaca pikiran Him Chan. Him Chan mengangguk mengerti. Lalu sebuah suara yang khas menyapa mereka bertiga.

 

I Am Home Mommy, Daddy.

 

Baek Hyun merenggangkan tangan. Penampilannya sungguh aneh. Kacamata hitam di malam hari, masker dan topi. Membuatnya terkesan seperti orang aneh. Bibi Byun yang melihat penampilan anaknya hampir terkena serangan jantung dan mengambil sapu, karena mengira Baek Hyun adalah perampok.

 

Baek Hyun melepaskan sepatunya, jaketnya dia lepas dan penuh senyuman berjalan kearah Bibi dan Paman Byun. “Demi Tuhan, Sekarang kenapa kau mengikuti gaya asing? Oh astaga anakku terkontaminasi aduh aduh kepalaku,” sahut Bibi Byun memegang kepalanya. Baek Hyun melihat ibunya kaget.

 

“Aku hanya bercanda, Umma. Tadi aku dikejar paparazzi, jadi aku menyamar,” kata Baek Hyun mengangkat bahunya. Baek Hyun menyadari kehadiran sepupunya berkebangsaan Korea yang baru saja dari New York, menyikut lengan Him Chan “Hey Man, Kapan sampainya?”tanya Baek Hyun berusaha beraksen seperti artis Hollywood.

 

Him Chan menggeleng-geleng kepala. Tidak ada yang berubah dari Baek Hyun. Tetap seperti yang dulu, dia pikir Baeh Hyun akan berubah setelah menjadi artis, setidaknya menjadi lebih kalem. Dan Him Chan salah besar. “Baru saja,”jawab Him Chan.

 

“Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa kau menyukaiku?”lirik Baek Hyun. Him Chan tercengang melihat sepupunya, lalu meliriknya dengan tatapan pura-pura kesal. “Kurasa kau stress akibat paparazzi.”

 

Paman Byun terkekeh pelan mendengar alasan Him Chan. “Dia stress akibat wanita, pacar maksudku,” ujar Paman Byun membuat Him Chan membelak matanya bulat, lalu tertawa.

 

“Appa….”Baek Hyun melirik ayahnya lalu menghembuskan napas. Sementara tangannya mendarat mulus dikepala Him Chan yang tinggi, “Sial kau menertawakanku.”

 

“Siapa tidak tertawa, kau…” lalu Him Chan tertawa puas. Baek Hyun memasang wajah datar.

“Sudah-sudah. Him Chan, Baek Hyun, kalian mandi dulu. Umma sudah membuat makanan spesial untuk kalian berdua,”ujar Bibi Byun mendorong mereka berdua, lalu bibi dan paman Byun kembali kedapur.

 

Him Chan merangkul Baek Hyun “Mau dikenalkan dengan gadis cantik?”bisik Him Chan. Baek Hyun mendorong Him Chan, “Berhenti menggodaku, Kim Him Chan!” serunya. Him Chan tertawa terbahak-bahak, merasa puas mengerjai sepupunya.

 

Pikiran Him Chan melayang ke Jung Na Mi, juniornya yang abrusaja dia temui. Him Chan mengingat-ingat lagi sosok Nami sewaktu SMU, lalu membandingkannya dengan sosoknya sekarang. Tidak banyak yang berubah, wajahnya yang selalu datar, ada bicaranya yang terkesan dingin. Sama sekali tidak berubah, batin Him Chan.

 

Him Chan tersenyum dan menyadari, bahwa pilihannya untuk pindah ke Jepang memang tidak salah. Setidaknya, untuk menghindari sesuatu. Dan dia juga merasa hidupnya akan jauh lebih berarti disini.

 

-ooo-

“Jung Na Mi disini”

“Nami, dimana kau?”

“Hokkaido, Yong Jun Hyung. Kenapa suaramu terdengar begitu panik? Paru-paru milikku masih bisa ber respirasi.”

“Aku hanya memastikan kalau persiapan untuk opening branch di Seoulmu beres atau belum.”

“Sudah selesai, jangan khawatir denganku.”

“Undangan?”

“Sudah.”
“Hidangan? Ah Katering?”

“Sudah.”
“Staf baru? Pegawai? Kasir? Cleaning Service ?”

“Sudah.”

“Asesories?”
“Sudah.”

“Brosur? Pakaian…”

“Sudah semuanya, Yong Jun Hyung sayang.Kau mulai terdengar seperti Ibuku”

 

Terdengar helaan napas diseberang sana. Nami tersenyum simpul.

“Sudah minum obat? Kapan kau akan pergi ke psikiater, hah?”

“Sudah. Jangan dulu, aku masih sangat sibuk. Dan ,Kau tahu itu.”

“Secepatnya kau harus kesana. Janji?”

“Janji.”

“Oh iya, tadi pagi aku membaca tabloid. Sejak kapan kau mengencani psikiatermu sendiri?”

Mwo ? Lee Sung Yeol… Astaga, aku bukan siapa-siapanya…”
“Makanya aku bertanya. Kenapa bisa muncul skandal macam ini. Aku juga tahu, tapi aku heran dengan paparazzi yang sibuk mencari informasi tentangmu. Jangan sampai mereka memenuhi kantorku, Oh Tuhan!”
Molla, Jun Hyung… Lagipula, kau tahu aku bukan?”

Absolutely. I know you more than I know myself.”

“Jangan khawatir kalau begitu.”

“Hah, percuma kalau beradu argument denganmu, Nami.”
“Jangan khawatir.”

“Iya aku tidak akan khawatir. Astaga, aku terdengar seperti Ibu-ibu. Baiklah kalau begitu, Jangan lupa makan malammu. Bye

Nami tidak menyukai gosip tentang dirinya apalagi kalau gossip itu tidak benar. Bagaimana dia mau berkencan dengan Lee Sung Yeol, psikiaternya sendiri. Ini sangat tidak masuk akal. Nami menggelengkan kepalanya.

 

Nami sendiri tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun, kecuali dengan Suho. Ya, hanya Suho yang bisa membuatnya merasakan perasaan aneh disebut cinta. Suho, cinta pertamanya dan kekasih pertamanya justru membuatnya berpikir tidak akan menjalin hubungan lagi. Hatinya masih terlalu sakit untuk merasakan hal-hal seperti itu. Nami trauma, dan itu membuatnya tidak pernah nyaman jika orang berpikir bahwa dia punya kelainan seks atau jiwa. Nami normal, namun masih ingin sendiri. Bodoh.

 

Dia masih berpikir persahabatannya dengan Goo Ha Ra. Ini yang Nami tidak pernah sukai. Gara-gara cinta dia harus kehilangan sahabatnya, dan Ha Ra telah merubah pandangan tentang Nami dari sahabat menjadi Rival buyutan. Nami menghela napasnya. Kejadian 6 tahun lalu masih terbayang jelas. Sekeras apapun Nami ingin melupakan, kenangan itu tetap membekas dan menimbulkan luka.

 

Nami masih trauma. Luka dihati Nami terlalu dalam untuk disembuhkan. Nami takut, jika dia menjalin hubungan lagi, dia akan terus disakiti karena sifatnya. Bahkan Suho pun mengatakannya. Sifat yang selalu tenang, cuek dan datar, terkadang orang menilai dirinya sombong dan angkuh. Nami tidak pernah mengerti kenapa harus sifat seperti itu yang dibenci, namun Nami tetap takut.

 

Nami tidak bisa mengeluarkan sifat yang berlebihan, kepanikan dan emosi yang sangat berlebihan. Dari kecil dia menderita skizofrenia akibat genetik dari keluarganya. Gangguan psikosis fungsional yang menyebabkan dia tidak bisa menyalurkan emosinya secara lumrah, menjadikan dirinya dengan mimik wajah dingin, tenang dan terkesan seperti menarik diri dari lingkungan sosial. Sejak kecil pula, Nami harus berusaha melawan delusi dan halusinasi di otaknya dengan obat-obatan. Jika mau mengambil pengobatan terapi, akan memakan waktu lama. Dan Nami adalah seorang yang gila kerja, dia tidak akan menyia-nyiakan waktunya selama dia masih bisa. Jadi, dia lebih memilih dengan obat-obatan sebagai jalan penyembuhannya.

 

Karena itulah alasan kenapa Nami menjadi orang dengan sosok yang dingin, tenang, acuh tak acuh, dan sering menyimpang dalam komunikasi. Sering disebut aneh, karena Nami juga sering tenggelam dalam halusinasinya. Pemalu dan tertutup dan sebagainya.

 

 

Trrt Trrt

Handphone Nami bergetar. Nami meraihnya dan melihat layar, nomor tak dikenal. Nami pun memencet tombol yes lalu menempelkan di telinganya

“Halo Jung Na Mi”

“Siapa ini?” Nami mengenali suara ini.

“Orang yang kau cintai.”

Nami benar-benar ingin mengenyahkan orang yang bernama Kim Joon Myeon itu.

 

“Ada apa? Darimana kau mendapat nomor ponselku?”

“Kau kan tidak menggantinya.”

“….”

“Nami, bisa kita bertemu di taman dekat rumahmu di Hokkaido?”

 

Nami membelak kaget. Tuhan, darimana orang ini tahu rumahku, batinnya. Kepalanya mulai pusing.

“Apa yang kau mau?”

“Besok saja. Oke? Bye Chagi”

 

Nami meletakkan handphonenya, lalu memijit kepalanya. Sial, kepalanya sakit lagi.

 

-ooo-

Suho tersenyum puas. Dia yakin hanya dia yang bisa membuat Nami meruntuhkan wajah tenang dan datarnya. Membongkar semua rahasianya. Sejujurnya ada alasan kenapa Suho melakukan ini semua.

 

Dia sakit hati, ya sakit hati karena Jung Na Mi. sewaktu memutuskan Nami, Suho berharap dia bisa melihat Nami yang merengek-rengek agar tidak memutuskannya. Tapi, kenyataannya terbalik. Justru Nami yang terkesan membuang Suho begitu saja dengan tatapan dingin dan senyum palsunya. Suho menggertakkan giginya, lalu tersenyum licik.

 

Dia akan membongkar segalanya, dan membuat Nami mengejar-ngejar diirnya. Kim Suho, sang penyanyi dikejar oleh Jung Na Mi owner JNM. Berita utama tabloid dan majalah selebritis akan seperti itu dimimpi Suho. Dan itu bisa mendongkrak popularitasnya.

Suho tersenyum licik.

 

-ooo-

Nami mengutuk dirinya sendiri, kenapa dia harus mengikuti permintaan Suho bertemu di taman ini. Namun, rasa penasaran memenuhi pikirannya. Nami menghela napas, lagi-lagi mengutuk dirinya sendiri.

 

“Hai,”ujar Suho duduk disamping Nami. Nami menjaga jarak melirik Suho yang tersenyum manis untuknya. Senyum yang Nami ingin musnahkan dari dunia ini.

“Ada apa?”

“Aku merindukanmu,”ujar Suho menggenggam tangan Nami. Nami mendelik ngeri. Dia tahu ini semua bohong. Nami membuka mulutnya, mengeluarkan suara Oh. Suho sedikit sebal. Namun Suho tidak kehabisan akal.

 

“Aku mohon, lupakan masa lalu kita dan kita memulai hidup baru. Kisah baru.”

 

Bujuk rayu Suho membuat Nami memandang Suho datar. “Aku tidak akan mengkhianati Ha Ra,” balasnya datar. Suho terkekeh, mendecak lidah melihat Nami. “Kau ini aneh ya? Dia yang mengkhianatimu duluan.”

 

Nami melepaskan tangannya dari tangan Suho “Apa bedanya denganmu, Joon Myun?” Nami membalas lagi. “Aku hanya mempermainkannya.”ujar Suho.

 

Nami membelak kaget. Jadi selama ini, sahabatnya dipermainkan?

 

Nami menatap Suho penuh amarah. “Kau…”napasnya tercekat. Dadanya mulai sesak. Dia tidak pernah tega melihat sahabatnya dipermainkan, apalagi dengan orang semacam Suho ini.

 

-ooo-

Sedikit lagi, sedikit lagi… sampai Jung Na Mi emosi dan Suho akan menang. Kini, Nami sedang menatapnya tak percaya dan tajam. Oh, asik sekali melihat ekspresi Jung Na Mi yang seperti ini khusus didepannya. Suho menatap Nami, menyembunyikan tawanya. Sungguh, dia ingin tertawa melihat Nami sekarang. Sangat lucu dan lawak.

 

“Beraninya kau…”

 

You can never break away from me, You have no one to love but me, Jung Na Mi…”

Have you gone crazy? Why are you being like this.”
Jung Na Mi mulai beranjak berdiri dan berjalan menjauhi Suho, namun Suho tidak tinggal diam. Dia menarik Nami mendekat dirinya, lalu mencengkram bahu Nami. “You can never be separated from me.”

 

Nami menggeleng, berusaha melepaskan diri dari cengkraman Suho tapi tenaga Suho terlalu kuat. Nami berusaha meminta tolong, suaranya tidak mau keluar. Matanya memoho kepada Suho agar melepaskannya. Ini bukan cinta, ini obsesi.

 

“Lepaskan aku…” seru Nami keras. Suho tetap bergeming, masih mencengkram kuat bahu Nami. Nami meringis kesakitan, tenaga laki-laki ini besar sekali. Nami menutup matanya ngeri begitu wajah Suho mendekat.

 

Lalu, Nami membuka matanya begitu mendengar suara orang yang jatuh terjembab di tanah. Didepannya, Him Chan berdiri dengan kepalan tinju yang sudah siap melayangkan tinjuannya lagi. Suho yang tersungkur di tanah, menatap benci Him Chan. Pipinya terlihat membiru, Him Chan mungkin memukulnya.

 

Tanpa banyak bicara, Him Chan menarik tangan Nami dan membawanya pergi. Suho berdiri, dan berteriak kearah mereka.

 

“Jung Na Mi ! Kau tidak akan bisa lari dariku !”

 

-ooo-

 

Him Chan berjalan santai sambil menikmati takoyaki di tangannya, namun langkahnya terhenti ketika hendak membuang sampah bekas tempat takoyakinya, matanya tertuju pada dua sosok di taman. Di taman malam-malam begini? Aneh. Apalagi gerak-geriknya, mereka sepertinya sedang bertengkar.

 

Him Chan mendengar pertengkaran mereka dengan seksama, lalu mencoba memerhatikan siapa mereka. Dan, astaga itu Nami dan laki-laki yang Him Chan yakin Him Chan kenal. Sekarang, Nami beranjak berdiri namun laki-laki itu menarik Nami dan  mencengkram bahu Nami.

 

Nami menggeleng, sayangnya Nami membelakangi Him Chan jadi dia tidak bisa melihat wajah Nami. Hanya wajah Laki-laki itu yang jelas terlihat, yang sekarang tersenyum licik dan jahat. Lalu, laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Nami. Seketika itu pula Him Chan maju dan langsung meninju laki-laki itu sampai tersungkur di tanah.

 

Lalu, Him Chan langsung menarik tangan Nami dan membawanya pergi dari taman itu. Berkali-kali laki-laki itu berteriak sesuatu, namun Him Chan hanya tersenyum ke Nami, seperti memberi kode ‘jangan dengarkan dia’. Nami menghela napas panjang, sementara langkahnya terpaksa harus dipercepat karena Him Chan melangkah dengan langkah yang besar dan  cepat.

 

Mereka berhenti di sebuah bangku panjang di dekat lapangan bermain anak-anak. Nami duduk sambil mengatur napasnya yang sesak. Him Chan menoleh, dan mendapati wajah pucat pasi di wajah Nami. Sedetik kemudian, Nami meringkuk dan memeluk lututnya. Matanya terpejam erat, ekspresi wajahnya ketakutan.

 

Kaki Him Chan seakan terpaku menatap Nami yang ada dihadapannya. Kini, Nami mulai meronta-ronta minta tolong. Pelan, tapi suaranya terdengar panik. Seperti ada yang menculiknya, atau berbuat macam-macam pada dirinya. Dengan susah payah, Him Chan berjalan menuju Nami dan memegang tangannya.

 

“Nami… Aku disini…” bisik Him Chan, entah kenapa kata-kata itu yang keluar. Masa bodoh, batinnya. Him Chan terus memegang tangan Nami, dan berbisik meyakinkan Nami. Perasaan Him Chan sekarang pun panik, melihat deru napas Nami seperti berpacu dengan waktu. Tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi pelipisnya.

 

“Nami… Ini aku, Him Chan.” Bisik Him Chan lagi. Perlahan, wajah Nami tidak setegang juga sepucat tadi. Napasnya kembali normal. Nami mengerjapkan matanya, dan menatap Him Chan disampingnya. Him Chan memandangi Nami khawatir.

 

“Terima kasih, sunbaenim.” Kata Nami datar, lalu mengerjapkan matanya dan mengusap keringat di pelipisnya. Sekarang, Nami masih terduduk di kursi itu, memandang kosong ke depannya untuk beberapa saat, dengan ekspresi wajahnya yang datar.

 

Tidak mungkin, batin Him Chan melihat perubahan drastis pada diri Nami. Sangat drastis, sampai Him Chan juga kebingungan sendiri dibuatnya. Him Chan berkesimpulan, ada sesuatu dibalik segala yang terjadi malam ini. Kepanikan Nami dan kedatangan Suho. Dan emosi Nami yang berubah teramat drastis.

 

Ada, dia yakin itu.

To Be Continued

ini ada penjelasan sedikit tentang Skizofrenia

Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra). Indikator premorbid (pra-sakit) pre-skizofrenia antara lain ketidakmampuan seseorang mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh.

Source : Google , Wikipedia.

Gimana dengan first chapternya? Semoga para readers suka 😀

maaf kalau masih banyak kekurangan yang berhamburan di FF ini, manusia tidak ada yang sempurna kan? jadinya mohon dimaklumi tapi Kritik dan sarannya sangat dibutuhkan :Jangan lupa Read, Comment and Like ya 🙂 ya komen kan gratis siapa tahu dapat pahala daripada jadi siders muehehehe =____=v

See You in next chapter ~ 😀

48 responses to “FF : Oramanieyo… [CHAPTER 1]

  1. Typo nya bertebaran thor,tapi gk mengganggu isi ceritanya kok,dan ternyata ff dan Himchannya emang keren… #eh
    Junhyung itu siapanya Nami ya?

  2. ternyata nami punya penyakit toh…. si suho kenapa jadi antagonis omg aku ga bisa bayangin -_-, tapi keren thor. aku suka ceritanya… SMANGAT!!

  3. Keren!! Kata-katanya juga bagus 😀 Pertama baca aku kira Nami emang sifatnya dingin, cuek gitu, ternyata itu karena sakit ya… Ya udah keep writing deh thor 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s