Bad Person : Side Story of [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

A_2RGjECUAAsTMI.jpg large

Title            : Egoistic Princess Side Story

Credit Poster : Thanks to Aishita

Author       : fransiskanoorilfirdhausi /@fhayfransiska (soo ra park)

Genre         : Romance

Length       : Oneshoot, but if you want to know this story well, you can read all ffs below😀

                   1stpart [Chan Yeol’s] Girl inside the Window

                   2nd part [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

                   3rd part [Kris’] Wedding Pain

                   4th part [Xiu Min’s] Oblivious Summer

                   5th part [D.O’s] Goodbye Tiramisu

                   6th part [Kai’s] Hum on Rainy Day

                   7th part [Chen’s] A Silent Love Song

                   8th part [Su Ho’s] Secret behind Her Eyes

                   9th part [Lu Han’s] Eternal Fullmoon

                   10th part [Lay’s] Unwanted

Another Side Story :

Seo Rin’s Diary : Side Story of [Su Ho’s] Secret behind Her Eyes]

Innocence : Side Story of [Chan Yeol’s] Girl Inside The Window]

Cast            :

  • Byun Baek Hyun
  • Cho Sung Hee (OC)
  • Another additional casts

Omo, lama tidak bersua yang teman” tercinta ^^ kali ini dengan kikuk dan canggungnya aku bawain side story dari uri bacon yang kece kayak author ini #preett. Haha maaf kalo ada yang minta side story luhan tapi belum juga terkabul sampek sekarang, hehe ^^v author bener” gaada ide buat itu sama sekali -_- oke deh langsung baca aja capcus gapake lamaaaa

This plot and OC are mine, but EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good reader please, don’t forget to give me oksigen (Read-Comment-Like)^^

________

            Move on..

Kalau saja pindah hati itu semudah membalik telapak tangan..

Kalau saja pindah hati itu semudah pindah rumah ..

Kalau saja pindah hati itu semudah ia menginjakkan kaki di New York setelah penerbangan berjam-jam lamanya ..

Ah tidak, bahkan naik pesawat selama itu saja sudah cukup menyiksanya, membuat matanya berkunang-kunang dan mual seketika.

Oh, bahkan ia tidak bisa move on dari yang satu itu. Rasa mual dan pusing begitu pesawat mulai lepas landas, rasa lebih baik mati ketika pesawat sudah mulai mengudara, bahkan ia yakin sekali kalau nyawanya telah melayang entah kemana ketika kakinya berpijak kembali di bumi.

Kampungan. Mungkin satu kata itulah yang cocok mendekskripsikan seorang Byun Baek Hyun. Phobia pesawat terbang. Ia lebih memilih naik kapal laut yang tentunya menghabiskan waktu lebih banyak dibandingkan pesawat terbang. Pesawat terbang bahkan selalu menjadi alat transportasi yang masuk dalam daftar blacklistnya.

Kapan ia bisa sembuh? Kapan ia bisa move on dari phobianya itu?

Kapan ia bisa move on dari… Jin Ri?

Oh my God..

________

            “Oppa, ayo kita ke Barneys New York! Kabarnya Prada baru saja mengeluarkan produk terbarunya, aku tidak ingin kehabisan!”

Baek Hyun hanya bisa menurut begitu Sung Hee, tunangannya, menarik-narik tangannya menembus kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. Pergi ke sebuah butik, kemudian berpindah ke mall, kemudian ke butik ternama yang lain lagi, terus seperti itu sampai Sung Hee puas membeli macam-macam baju yang diinginkannya.

Sebenarnya Baek Hyun benar-benar malas kalau harus menemani seorang yeoja untuk berbelanja. Karena bisa dipastikan, baju, sepatu, tas serta berbagai pernak-pernik yang terpajang di etalase toko itu akan sanggup membuat seorang yeoja melupakan orang-orang yang berada di sekelilingnya, bahkan tunangannya sendiri.

Yah, Seperti yang terjadi saat ini. Di sebuah mall yang terletak di jantung New York City yang dengan jelas memampangkan sebuah spanduk besar bertuliskan ‘SALE’ dan ‘DISCOUNT UP TO 50 %’, Baek Hyun hanya bisa berkali-kali menghela napas kesal. Sung Hee kini tengah asyik memilih-milih pakaian sementara dirinya diminta—dipaksa—untuk menunggu, masih mending kalau bisa menunggu sambil berpergian melihat-lihat tempat lain, tapi masalahnya kini ia tengah membawa bertumpuk-tumpuk belanjaan milik Sung Hee, yang membuatnya bahkan tidak bisa bergerak bebas. Astaga, betapa egois dan kenanak-kanakannya yeojanya itu!

Apalagi sampai detik ini Baek Hyun masih jet lag, butuh waktu lama baginya untuk menstabilkan diri seusai naik pesawat kemarin. Baek Hyun termenung meratapi nasibnya sementara pikirannya tiba-tiba kembali pada seseorang, seseorang yang kini berada nun jauh di sana.

Ternyata melupakan seseorang itu tidak semudah yang ia bayangkan. Sebelumnya ia sempat bilang pada Chan Yeol bahwa ia yakin akan melupakan Jin Ri begitu ia pindah ke New York. Tapi pada kenyataannya, pindah tempat tinggal bukan berarti pindah hati. Itu suatu hal yang berbeda. Tidak semudah itu.

Baek Hyun melirik ke arah Sung Hee yang kini tengah saling berebut sebuah baju dengan yeoja lain. Namja itu mendesah lagi, andai sedikit saja Sung Hee bisa seperti Jin Ri, andai saja Sung Hee itu …

Hei, this is mine! Aku yang mengambilnya duluan!”

NO, you can’t! Aku yang menyentuhnya duluan!”

“Aku yang melihatnya duluan!”

“Aku!”

“Aku!”

Baek Hyun hanya bisa ternganga begitu melihat tunangannya tengah berebut sebuah gaun panjang terusan berwarna cerah dengan seorang yeoja berkebangsaan Amerika. Keduanya saling merebut dan menarik gaun itu, berusaha mempertahankan benda yang sedang ‘SALE’ itu. Mungkin karena sama-sama tidak mau mengalah, selang beberapa waktu kemudian yeoja berkebangsaan Amerika itu menjambak rambut ikal Sung Hee dan membuat yeoja itu meringis kesakitan. Tentu saja Sung Hee tidak mau kalah, dengan segenap tenaga ia balas menjambak. Hingga akhirnya terjadilah sebuah perang jambak-menjambak yang mengundang tanda tanya puluhan atau bahkan ratusan pasang mata di sana.

Baek Hyun hanya bisa mendesah. Oh my God, apalagi ini? batinnya.

Sebelum semakin banyak pasang mata yang menonton pertengkaran kekanak-kanakan itu, Baek Hyun berusaha menmbunuh rasa malunya dan melerai kedua yeoja yang tengah ‘asyik’ bertengkar itu.

Ya! Ya! Stop it! Stop it!

“Oppa, dia mengambil pakaianku!” adu Sung Hee dalam bahasa Korea sambil menjambak lagi rambut lawannya.

Yeoja Amerika itu balas menjambak dengan wajah memerah menahan marah, meskipun ia tidak paham dengan ucapan Sung Hee namun ia bisa menebak dengan tepat kalau yeoja itu tengah mengadu pada namjanya. “Give me my dress!”

No, it’s mine!

It’s mine, stupid girl!

Sung Hee membelalakkan matanya, tidak terima dengan sebutan yang diteriakkan padanya baru saja, “What!? Stupid you say? Hey you ..

“YA! Hentikan ini, Cho Sung Hee! Ayo kita pulang!!” teriak Baek Hyun tidak sabar seraya menarik lengan Sung Hee paksa.

Mual, pusing, letih. Itu yang Baek Hyun rasakan kini ..

“Aniyo Oppa, baju itu sudah lama aku inginkan, aku harus..”

“Sudah! Nanti cari saja di tempat lain!” teriak Baek Hyun lagi.

“Aniyo Oppa, aku tidak ma..” rengek Sung Hee sambil berusaha melepas genggaman Baek Hyun di tangannya.

Semakin mual, letih dan pusing juga semakin tidak tertahankan. Sung Hee benar-benar membuat kondisi itu semakin mendominasi tubuh Baek Hyun.

“Berhentilah bersikap seperti anak kecil dan contohlah Jin Ri!!”

Sung Hee spontan berhenti merengek, ia lantas menatap Baek Hyun penuh arti, apa yang dimaksudkan namjanya baru saja? Jin Ri katanya? Maksudnya Jin Ri eonni? Dia tidak salah dengar bukan?

“Oppa, apa maksud..”

Mual, Baek Hyun tidak tahan lagi …

“Kalau bukan karena permintaan orang tua, aku tidak akan mau bertunangan dengan yeoja egois sepertimu!”

Deg!

Kata-kata Baek Hyun baru saja sanggup membuat ribuan jarum serasa menusuk hati Sung Hee. Bukan hanya hati, bahkan ia merasa seluruh sel di tubuhnya turut tertusuk dan hancur. Membuatnya hanya bisa diam mematung dan lidahnya kelu seketika. Terlalu terkejut.

A..apa katanya?

_________

Bacon ah, aku dan Jin Ri pergi piknik hari ini dengan anak-anak dari panti asuhan. Kami melakukan banyak hal yang menyenangkan. Aku benar-benar bahagia, apalagi selama hampir sehari penuh aku berada di samping Jin Ri. ^^/

Haha, bagaimana denganmu? Pasti sudah melakukan sesuatu yang menarik di New York kan? Aha, aku yakin kau pasti tengah membicarakan pernikahanmu dengan Sung Hee! Aku benar kan?

Baek Hyun hanya tersenyum miris begitu membaca email yang dikirimkan Chan Yeol padanya. Sok tahu sekali tiang listrik itu, kekehnya dalam hati.

Pandangannya Baek Hyun lantas kembali fokus pada layar laptopnya, ternyata Chan Yeol meng-attach banyak foto. Mungkin ada sekitar dua puluh foto yang masuk ke inbox email Baek Hyun. Namja itu lantas membukanya satu persatu.

Napasnya terhenti sesaat begitu melihat foto pertama, begitupun dengan foto-foto selanjutnya. Foto Chan Yeol dan Jin Ri, banyak sekali foto dua orang itu di sana. Entah saat sedang duduk berdampingan, serta ketika berfoto bersama dengan anak-anak panti asuhan.

Nyuut.

Dada Baek Hyun langsung terasa nyeri saat itu juga. Ada apa dengannya? Kenapa hatinya terasa begitu sesak begitu ia melihat foto Chan Yeol dan Jin Ri. Rasa sesak karena .. cemburu kah?

Baek Hyun menghempaskan punggungnya cepat pada sandaran kursi putarnya, ia memandang langit-langit ruang kerjanya dengan tatapan menerawang. Namja itu memejamkan matanya rapat.

Oh Tuhan, kenapa hatinya enggan sekali melupakan yeoja itu?

__________

Yeoja itu menatap pantulan dirinya di cermin, alangkah terkejutnya ia begitu mendapati sesosok yang benar-benar berbeda dari ia yang biasanya di cermin itu. Ia mengangkat tangan kanannya, dan seseorang yang berada di dalam cermin juga melakukan hal yang sama. Yeoja itu mendesah, yang dalam di dalam cermin memang benar dirinya.

Mata bengkak karena menangis terus-terusan semalam, rambut yang acak-acakan seperti habis terkena angin ribut, bibir yang mengering karena tidak membiarkan setetes pun air membasahinya terlihat begitu jelas di cermin. Tampak menyedihkan.

Air mata mulai muncul lagi di pelupuk mata yeoja itu, ia menepuk kepalanya keras, “Huaaa, pantas Baek Hyun Oppa tidak suka padaku, aku jelek begini.” runtuknya kemudian sembari tetap memandang pantulan dirinya di cermin.

Kalau bukan karena permintaan orang tua, aku tidak akan mau dijodohkan dengan yeoja egois sepertimu!

            Kalimat itu kembali terngiang-ngiang di benak Sung Hee, yeoja yang tengah kacau itu. Kalimat yang hanya dengan mengingatnya saja mampu membuatnya kembali sakit. Sebenarnya ia masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Baek Hyun saat itu, namun sebagian besar dari hatinya membenarkan, yah, ia memang egois.

Lalu apa yang akan dilakukan namja itu nanti, membatalkan pernikahan yang akan mereka direncanakan?

“Oh tentu saja tidak!” pekik Sung Hee seraya menghentak-hentakkan kakinya kesal.

…contohlan Jin Ri!

Kedua alis Sung Hee terangkat tinggi. Benar, apa maksud Baek Hyun Oppa saat itu? Kenapa nama yeoja itu yang keluar dari mulutnya? Kenapa ? Apa karena .. tunggu!

Jangan bilang kalau Baek Hyun Oppa menyukai Jin Ri Eonni!?

Sung Hee sontak melotot begitu pikirannya sampai pada kesimpulan itu, tanpa babibu ia langsung bangkit dan melesat meninggalkan kamarnya, menuju kamar Baek Hyun yang terletak di lantai satu rumah yang tengah mereka berdua tempati sekarang.

Sesampainya di depan pintu kamar Baek Hyun, Sung Hee langsung mengetuk pintu kamar tunangannya itu dengan tidak sabar. Berkali-kali, namun tetap tidak ada jawaban. Karena enggan menunggu sementara rasa penasaran dan cemas tengah merajai pikirannya, Sung Hee lantas memutar kenop pintu kamar Baek Hyun. Alangkah leganya ia begitu mendapati pintu itu tidak terkunci.

Sung Hee melongokkan kepalanya ke dalam kamar, “Baek Hyun Oppa?”

Pandangan Sung Hee menelusuri setiap sudut kamar Baek Hyun yang berantakan, khas kamar seorang namja, ia berdecak kesal begitu menyadari kalau namja itu tidak berada di sana. Kamar itu kosong. Ke mana namja itu pergi?

Entah apa yang membuatnya tertarik, Sung Hee dengan hati-hati melangkah memasuki kamar Baek Hyun. “Aku kan calon istrinya, alangkah baiknya kalau aku membantu membereskan kamarnya. Mungkin sebagai permintaan maaf karena sering merepotkannya juga.” gumam Sung Hee kemudian. Namun begitu ia menyentuh buku-buku yang berserakan di meja kerja Baek Hyun, ia terdiam.

Calon istri? Aku calon istri Baek Hyun Oppa? Masihkah? Tanyanya dalam hati.

Sung Hee menggigit bibirnya keras. Semoga apa yang Baek Hyun Oppa katakan saat itu semata-mata karena ia hanya terbawa emosi. Semoga, doa Sung Hee dalam hati.

Dengan senyum yang dipaksakan, yeoja itu lantas membereskan kamar Baek Hyun. Ia mengganti seprai ranjang Baek Hyun dengan yang lebih baru, ia membersihkan debu-debu yang menempel di sudut jendela kamar, menata ulang buku-buku yang berantakan di atas meja dan sebagian diletakkannya di rak buku di samping lemari. Ia juga mengganti bunga di meja kerja Baek Hyun dengan bunga yang lebih segar. Tidak lupa ia meletakkan sebuah pigura foto di ujung meja, foto saat pertunangannya dengan Baek Hyun.

“Selesai!!” teriaknya senang lalu membanting tubuhnya ke kasur. Jujur saja, selama ini ia tidak pernah membereskan kamar hingga seperti itu, bahkan membersihkan kamarnya sendiri menjadi pekerjaan Ahn Ahjumma, pelayan di keluarga Cho. Oleh sebab itu Sung Hee sendiri tidak heran apabila ia merasa selelah ini hanya karena membersihkan sebuah kamar.

Sung Hee melirik sekilas ke arah meja kerja Baek Hyun, tepatnya ke sebuah laptop yang sedang dalam mode sleep, benda yang entah kenapa sedari tadi membuatnya tertarik. Apa saja sih yang Baek Hyun simpan di dalam laptop itu?

Yeoja itu beranjak dari ranjang lalu berjalan menuju meja. Ia tahu, memainkan barang milik orang lain tanpa izin itu tidak sopan, tetapi apa salahnya memainkan barang milik tunanganmu sendiri, benar bukan? Hehe, kekehnya dalam hati.

Sung Hee membuka-buka setiap file yang ada di laptop Baek Hyun. Sebagian besar file yang berada di sana adalah dokumen-dokumen penting soal perusahaan keluarga Cho, dokumen yang sama sekali tidak menarik bagi Sung Hee. Maklum saja kalau isi laptop Baek Hyun begitu, pasalnya ia pindah ke New York juga atas permintaan keluarga Cho, keluarga Sung Hee. Perusahaan tekstil keluarga Cho memiliki banyak cabang, salah satunya di New York, dan Baek Hyun bertugas untuk mengawasi dan mungkin kelak akan memimpin perusahaan yang satu ini.

“Aha!” pekik Sung Hee tiba-tiba.

Pencarian Sung Hee terhenti begitu ia melihat sebuah file, file tanpa nama. Dengan suka cita, yeoja itu membukanya. Membuka file misterius itu.

Dan ternyata apa yang berada dalam file itu membuatnya merasa udara di sekelilingnya menipis. Tangannya yang memegang mouse lantas bergetar hebat, detak jantungnya pun seakan ingin berhenti saat itu juga. Kedua matanya membulat lebar, tidak percaya.

Baek Hyun Oppa… apa maksudnya ini?

_________

          Pandangannya menatap kosong layar ponselnya, namun perlahan jari-jari Sung Hee bergerak, menyentuh layar ponselnya dan bermaksud menghubungi seseorang. Sebulir air mata jatuh menuruni pipinya, ia tidak terisak, hanya menangis dalam diam.

Matanya sedikit melebar ketika telepon tersambung, “Joon Myun Oppa?” tanyanya lirih, nyaris tak terdengar.

“Sung Hee ya?”

Sung Hee mengangguk, meskipun ia tahu Joon Myun yang berada di seberang telepon tidak akan bisa melihatnya, “Nee. Ini aku.”

Joon Myun terdiam agak lama, “Kau baik-baik saja? Suaramu terdengar tidak seperti biasanya? Apa kau sakit?”

Senyum kecut terlukis di wajah Sung Hee, “Aniya Oppa. Nan gwenchana. Hanya saja …”

Karena Sung Hee tak kunjung melanjutkan perkataannya, Joon Myun lantas bertanya lagi dengan nada khawatir, “Hanya saja apa Sung Hee ya?”

“Baek Hyun Oppa…” jawab Sung Hee dengan napas tertahan.

“Ada apa dengan Baek Hyun?” tukas Joon Myun cepat. Kali ini nadanya berubah penuh selidik.

Sung Hee menggigit bibirnya keras, entah kenapa cerita yang semula sudah dirangkainya dengan rapi untuk diceritakan pada Joon Myun menguap seketika. Dan kemudian tanpa menjawab sepatah katapun, Sung Hee memutuskan sambungan.        Yeoja itu menangis lagi.

Setelah beberapa waktu berlalu, Sung Hee kembali meraih ponselnya. Kali ini ia berniat kembali menghubungi seseorang, Cho Yu Ji. Sepupunya yang berada di Korea.

“Ah, eonni! Akhirnya kau meneleponku!” teriak Yu Ji di seberang telepon.

“Eonni?” tanya Yu Ji lagi ketika Sung Hee tak kunjung berbicara.

Sung Hee berusaha membendung air matanya yang mulai turun lagi, “Baek Hyun Oppa…”

“Eh?”

“BAEK HYUN OPPA JAHAAATT!!!”

Belum sempat Yu Ji merespon teriakan Sung Hee, yeoja itu telah lebih dulu menekan tombol ‘ putuskan sambungan’. Pemutusan sepihak yang pastinya meninggalkan tanda tanya besar di benak Yu Ji, namun Sung Hee sepertinya tidak peduli. Yeoja itu kembali menangis kemudian mengutak-atik ponselnya lagi. Dan ketika sebuah nama yang ia cari telah ditemukan di kontaknya, dengan segera ia menghubungi seseorang itu.

“Ya! Min Seok Oppa!!”

“Hmm?” sahut Min Seok di ujung telepon dengan malas, suaranya menunjukkan bahwa namja gembul itu baru saja terjaga dari tidurnya.

Sung Hee mulai menangis lagi, dan kali ini isakannya yang cukup keras mampu membuat Min Seok merubah nada bicaranya menjadi lebih serius, “Ya, Sung Hee ya! Waeyo!?”

“BAEK HYUN OPPA JAHAAATT!!!”

“Mw.. mwo!?”

Sekali lagi, sambungan telepon Sung Hee putus tanpa memberikan kesempatan pada Min Seok untuk mengetahui masalahnya lebih jauh. Entah apa yang ada di benak yeoja yang satu ini, ia berulang kali memutus telepon tanpa sempat bercerita lebih jauh. Yah, itu karena ia sendiri tidak sanggup bercerita pada orang-orang terdekatnya itu.

Sung Hee melirik ponselnya yang bergetar beberapa kali, didapatinya puluhan pesan serta panggilan tidak terjawab—dari Joon Myun, Yu Ji dan Min Seok—kini terpampang jelas di layar ponselnya. Nampaknya ketiga orang yang baru saja ditelepon olehnya itu tengah kalang kabut mengkhawatirkannya.

Namun Sung Hee menghiraukan semua pesan serta panggilan itu, kini pandangannya tengah fokus pada sebuah nama kontak di ponselnya.

Lee Jin Ri. Lee Jin Ri.

“Hmmm…” Setelah agak lama berpikir, dengan menghela napas dalam Sung Hee memutuskan untuk menghubungi Jin Ri.

Ketika panggilannya tersambung, Sung Hee menahan napas, “Yeoboseyo, Sung Hee? Ada apa ..”

“BAEK HYUN OPPA JUUAAAHAAATT!!!”

“Mw..mwo!?”

Praaakkk!

Kali ini dengan tidak sabar, Sung Hee melemparkan ponsel mahalnya ke tembok kamar Baek Hyun. Rasanya ia tidak bisa lagi mengendalikan emosinya yang tengah memuncak itu, dan yang jadi korbannya kali ini adalah ponselnya. Dengan naasnya ponsel bermerek itu jatuh berkeping-keping ke lantai. Sung Hee sendiri hanya melihat itu dengan tatapan datar, sama sekali tidak merasa sayang kalau benda yang telah menemaninya bertahun-tahun itu rusak.

Karena saat ini, perasaannya benar-benar campur aduk. Antara rasa sedih, kacau dan ingin marah. Semua itu karena namja satu itu, hanya namja itu yang bisa membuatnya sebegini tidak bisa mengendalikan emosi.

Tangan Sung Hee terkepal erat, ia lantas menggeram lirih, “Awas kau Byun Baek Hyun, beraninya kau membuat puteri Cho ini marah!”

__________

            Sembari bersenandung mengikuti irama lagu yang terdengar dari radio di mobilnya—mobil keluarga Cho—Baek Hyun menggoyang-goyangkan kepalanya, tangannya pun turut mengetuk-ngetuk setir mobilnya. Namja itu terlihat menikmati perjalanannya sendiri. Yah, setidaknya ia berpikir kesendiriannya itu akan mampu membuatnya merasa lebih baik. Datang jauh-jauh dari Seoul ke New York, sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan untuk berjalan-jalan seperti ini bukan?

Hari kemarin ia memang telah berkeliling New York, tapi bersama dengan Sung Hee dan itu artinya tidak ada kebebasan untuknya memilih sendiri kemana ia akan pergi. Ia harus mengikuti kemana Sung Hee pergi kalau tidak ingin yeoja itu terus-terusan merengek dan pada akhirnya berujung pada sebuah pertengkaran.

Sekali-kali ia juga perlu bersantai dan sendiri seperti ini kan?           

Baek Hyun hendak memarkir mobilnya di depan sebuah lapangan golf ketika ponselnya berbunyi nyaring. Dengan malas, namja itu meraih ponsel yang terletak di atas dashboard mobilnya. Keningnya berkerut samar ketika mendapati sebuah panggilan telepon dari nomor tidak dikenal.

Enggan berpikir lebih lama, Baek Hyun lantas menerima panggilan tersebut, “Yeoboseyo? Siapa ..”

“Ya! Kau Byun Baek Hyun! Apa yang sudah kau perbuat terhadap Sung Hee, hah!?”

“Hah!?”

“Tidak usah berpura-pura! Cepat katakan apa yang telah kau lakukan hingga Sung Hee menjadi seperti itu!?”

Baek Hyun berusaha menerka-nerka suara siapa yang terdengar, hingga akhirnya setelah lama berpikir ia mengingat suara siapakah itu. Kim Joon Myun, salah satu dari sekian banyak teman dekat Sung Hee. Seseorang yang Baek Hyun kenal dengan cukup baik setelah pertunangannya dengan Sung Hee. Ada apa namja itu tiba-tiba menelepon dan marah padanya seperti itu?

“Ah, mian Hyung, aku tidak mengerti maksudmu. Bisa kau jelaskan..”

Tuuuttt.

Telepon terputus. Baek Hyun berdecak pelan, “Apa-apaan sih?” gerutunya kemudian.

Baek Hyun hendak memasukkan ponselnya itu ke dalam saku celananya ketika lagu 1.2.3.4-nya Lee Hi terdengar, nada dering ponselnya. Alisnya terangkat begitu mendapati panggilan dari Cho Yu Ji, sepupu terdekat dari Sung Hee.

“Nee. Yeobose..”

“Ya! Baek Hyun Oppa! Apa yang kau lakukan pada Sung Hee eonni, huh!?”

Baek Hyun menepuk dahinya keras, ya Tuhan, apa lagi ini, batinnya. “Yu Ji ya, apa maksudmu, kenapa tiba-tiba marah begitu!?”

“Tidak usah banyak bertanya, sekarang lekaslah bertanggung jawab akan kelakuan jahatmu, Oppa!”

Baek Hyun ternganga, “Ya! Memangnya apa yang aku laku ..”

“Pokoknya Oppa harus tanggung jawab kalau sampai terjadi sesuatu pada Sung Hee eonni! Titik!” teriak Yu Ji, membuat Baek Hyun menjauhkan telinganya dari ponsel.

Tuuuttt.

Sambungan telepon kembali terputus. “Ya!” teriak Baek Hyun kesal.

Namja berparas imut itu lantas menggeram lalu menjejalkan ponselnya dengan kasar ke saku celananya. Ayolah, apa salahnya hingga dua orang yang baru saja meneleponnya itu tiba-tiba marah padanya? Dan tunggu! Memangnya apa yang telah ia lakukan pada Sung Hee?

Kening Baek Hyun berkerut, “Apa? Memangnya ada?” tanyanya pada diri sendiri. Malas berpikir, namja itu lantas mengangkat bahu kemudian membuka pintu mobilnya kasar. Dan detik itu juga ponselnya kembali berdering, membuatnya menghela napas sekeras-kerasnya. Ia lantas merasa yakin, kalau saja ia tidak menyayangi ponselnya, ia pasti telah membanting benda multi fungsi itu!

Namun begitu melihat siapa seseorang yang meneleponnya, Baek Hyun hanya bisa tertegun. Ia lantas menerima panggilan itu seraya berdeham lirih, berharap agar suaranya tidak terdengar aneh di seberang, “Ah.. nee. Ada apa meneleponku Jin Ri ya?”

“Ya! Byun Baek Hyun, apa yang terjadi pada Sung Hee!?”

Baek Hyun memejamkan matanya kemudian memijit pelipisnya pelan, Oh Tuhan ada apa lagi ini?

“Aniya! Aku tidak melakukan apa-apa Jin Ri ya!!” teriak Baek Hyun kesal.

“Bohong! Sung Hee sampai meneleponku seperti itu! Pasti ada yang terjadi.”

Baek Hyun menggeram, “Terserah!” Saking kesalnya, namja itu langsung memutuskan sambungan telepon. Ia pun turut membanting pintu mobilnya sebagai pelampiasan. Namja itu lantas mengacak-acak rambutnya frustasi. “Memangnya ada apa dengan Sung Hee!? Bukannya dia baik-baik sajaaaa!!??” teriaknya putus asa.

1.2.3.4-nya Lee Hi kembali terdengar nyaring, lagu yang biasanya menjadi favorit Baek Hyun itu kini malah membuat kepalanya semakin berdenyut-denyut. Baek Hyun bermaksud menghiraukannya, namun ponselnya itu tetap saja berbunyi. Dan akhirnya dengan sisa-sisa kesabarannya, ia mengangkat telepon itu tanpa melihat siapa si penelepon.

“Ya! Sudah aku bilang, aku tidak melakukan apa-apa pada Sung Hee!! Kalau kau tidak percaya silakan saja tanya pada … Oh! Ahn ahjumma!?” Baek Hyun menutup mulutnya cepat ketika seseorang yang meneleponnya sekarang adalah Ahn ahjumma, pelayan di keluarga Cho yang turut mengikuti kepindahan Sung Hee ke New York, bisa dibilang ia adalah pelayan pribadi Sung Hee.

Kedua alis Baek Hyun terangkat begitu mendengar perkataan Ahn ahjumma di seberang telepon, “A..apa? Sung Hee menghilang?!”

__________

            Sesampainya di rumah, namja bermaga Byun itu langsung memarkir mobilnya dengan asal lalu berlari memasuki rumah, bermaksud langsung menemui Ahn ahjumma dan meminta penjelasaan. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mencari Ahn ahjumma karena wanita paruh baya itu sendiri tengah duduk di ruang tamu sembari menggigit bibir, wajahnya melukiskan suatu kecemasan yang dalam. Hal itu semakin membuat Baek Hyun merasa was-was.

Ahn ahjumma sontak bangkit dari duduknya begitu menyadari bahwa Baek Hyun telah tiba dan tengah berlari mendekatinya. Tanpa basa-basi, wanita itu langsung berujar dengan nada menyesal, “Maafkan saya Tuan Byun. Tolong maafkan saya. Nona Sung Hee tiba-tiba menghilang.”

“Tenanglah, ahjumma. Ceritakan saja pelan-pelan.” kata Baek Hyun berusaha menenangkan wanita yang berdiri di hadapannya itu.

“Tadi, sewaktu saya hendak menyapu kamar Tuan, saya menemukan ini.” kata Ahn ahjumma seraya menyodorkan kepingan-kepingan dari ponsel Sung Hee, kedua alis Baek Hyun langsung terangkat tinggi.

“Saya tahu kalau ponsel ini adalah milik nona, dan entah kenapa saya tiba-tiba merasa khawatir. Saya langsung mencari nona di seluruh penjuru rumah, namun nona tidak juga ditemukan. Saya juga menghubungi keluarga serta rekan-rekan yang berdomisili di kota New York, namun tak ada satupun dari mereka yang mengatakan kalau nona berada di tempat mereka.” cerocos Ahn Ahjumma kemudian.

Baek Hyun menatap lekat-lekat kepingan-kepingan ponsel Sung Hee yang berada di tangan Ahn ahjumma. Di benaknya langsung bertanya-tanya, apakah Sung Hee membanting ponselnya? Kalau iya, karena apa?

Oh Tunggu! Jangan-jangan …

“Ahn ahjumma, tadi ahjumma bilang kalau menemukan ponsel Sung Hee di kamarku bukan?”

Ahn ahjumma mengangguk. Kemudian tanpa bicara sepatah katapun Baek Hyun melesat meninggalkan wanita paruh baya itu dan menuju kamarnya. Ia sedikit ternganga begitu mendapati kamarnya itu kini sangat rapi, tidak seperti saat sebelum ia pergi tadi. Namun kekagumannya itu menghilang dalam sekejab begitu melihat laptopnya yang kini terbuka. Baek Hyun menggigit bibir dan berdoa dalam hati, semoga ini semua tidak ada hubungannya dengan benda yang satu ini.

            Baek Hyun berjalan mendekati meja kerjanya kemudian menatap layar laptopnya yang tengah menampilkan halaman desktop. “Astaga, tolong jangan bilang kalau Sung Hee melihat email Chan Yeol yang berisi foto-foto Jin Ri!! Jangan bilang ia salah sangka!! ARRRGGHH!!” teriaknya frustasi.

_________

            Namja itu melajukan mobilnya hingga kecepatan 100 km, pikirnya selagi jalanan sudah sepi dan tidak akan ada polisi yang berjaga tengah malam begini, membuatnya sama sekali tidak ragu untuk sekedar melajukan mobilnya sekencang mungkin. Menembus malam, menembus sepi. Setidaknya ia berharap angin malam yang berhembus melewati celah-celah kaca mobilnya yang hampir tertutup itu mampu membuatnya tenang meski sejenak.

Setelah beberapa jam mengemudi, akhirnya namja itu menepikan mobilnya. Namja bermata sipit itu menghempaskan tubuhnya ke kursi mobil. Lelah dan penat adalah kosakata yang sangat cocok menggambarkan kondisinya saat ini. Ia memijit-mijit pelipisnya yang berdenyut-denyut, matanya seperti mata panda karena tidak cukup tidur selama beberapa hari.

Byun Baek Hyun, namja itu merogoh saku celananya kemudian mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam sana. Tidak ada panggilan masuk, tidak ada pesan. Baek Hyun hanya mendesah keras melihat itu.

Sudah lima hari berlalu sejak Sung Hee menghilang, dan selama waktu itu juga Baek Hyun telah mencari sosok yeoja itu di seluruh penjuru New York City. Dengan bahasa Inggrisnya yang belum tergolong ‘expert’, Baek Hyun memberanikan diri untuk bertanya dan menunjukkan foto Sung Hee kepada setiap orang yang dia temui.

Siang dan malam namja itu tak hentinya mencari, di mall, di tempat wisata seperti Metropolitan Museum, Central Park, Bronx Zoo dan berbagai tempat wisata lainnya, bahkan di kelab yang sangat kecil kemungkinan Sung Hee berada di sana. Semua sudah Baek Hyun datangi, dan bagaimana hasilnya? Nihil.

Baek Hyun sendiri sudah berulang kali memikirkan suatu cara, dengan menelepon keluarga Cho yang berada di Seoul untuk meminta bantuan. Tapi setelah dipikir-pikir lebih jauh lagi, tidak akan mudah baginya untuk berkelit seandainya Tuan Cho mengetahui bahwa Sung Hee menghilang karena dirinya. Pria paruh baya itu pasti akan mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Sung Hee bahkan di setiap sudut dunia, dan bukan tidak mungkin kalau Baek Hyun sendiri akan dibawa ke meja hijau karena diduga membuat anak orang hilang.

Memikirkannya saja sanggup membuat Baek Hyun menelan salivanya dengan susah payah.

Baek Hyun pikir, Sung Hee pasti masih berada di New York. Karena kalau ia pulang ke Seoul, keluarganya pasti akan bertanya-tanya dan langsung menghubungi Baek Hyun, lalu kemudian menghakimi namja itu. Tapi sampai saat ini, keluarga Cho belum juga menghubunginya. Yah, ia memang telah meminta Ahn ahjumma untuk tetap diam dan membiarkan ia mencari Sung Hee terlebih dulu sebelum berkata apa-apa pada keluarganya.

Tapi bagaimana dengan Kim Joon Myun, Cho Yu Ji dan Jin Ri? Bukankah sebelumnya ketiga orang itu juga menghubunginya karena khawatir dengan Sung Hee? Tapi kenapa sekarang tidak lagi, kenapa ketiga orang itu tidak lagi menghubungi Baek Hyun? Harusnya kalau benar mereka khawatir, mereka akan selalu menghubunginya untuk mengetahui kabar terbaru dari Sung Hee kan?

Aissshh, entahlah, Baek Hyun sendiri pusing memikirkannya.

Dan entah kenapa, menurut Baek Hyun hilangnya Sung Hee ini cukup aneh.

Enggan berkutat terus menerus dengan berbagai gagasan tanpa ujung, Baek Hyun kembali melajukan mobilnya. Namun hanya selang beberapa waktu berjalan, namja itu mendadak menginjak rem dan membuatnya sedikit terjengkang ke depan. Kenapa ia melakukan itu? Karena baru saja sebuah ide terlintas di benaknya dan membuatnya sontak menginjak rem.

“Benar! Pakai cara itu saja!” pekiknya senang.

_________

            Dua hari kemudian …

“Tidak ada gunanya!!” teriak Baek Hyun sembari melempar garpu makannya dengan kasar. Namja itu tengah frustasi, terlihat jelas dari rambutnya yang acak-acakan serta kantung matanya yang semakin tebal. Oh oh, Byun Baek Hyun yang biasanya tampan itu kini tampak seperti mayat hidup.

Yah, wajar kalau namja itu frustasi. Ia telah menyebarkan selebaran orang hilang sejak dua hari yang lalu di tempat-tempat strategis di New York, menyertakan nomor ponselnya agar apabila seseorang melihat Sung Hee akan langsung menghubunginya. Namun hasilnya, nihil. Nihil. Dan nihil.

Iklan di surat kabar juga tidak ada gunanya, menghubungi polisi juga tidak ada gunanya, semua tidak ada gunanya!! Baek Hyun mengerang dalam hati.

Baek Hyun hanya menatap tidak bergairah pada spaghetti yang telah mendingin sejak beberapa saat lalu, tidak ada secuil pun napsu untuk melahapnya. Pikirannya masih saja cemas. Sung Hee telah seminggu lebih menggilang, tanpa kabar, tanpa jejak. Ayolah, yeoja itu benar-benar membuatnya gila!

Namja bermata sipit itu beranjak dari tempat duduknya, ia mengangkat wajahnya dan menelusuri setiap sudut rumahnya. Detik dan kala itu juga hatinya berdesir hebat. Ia terpekur. Ia terdiam.

Rumah itu kini terasa sangat sepi. Tidak ada teriakan manja seperti biasanya, tidak ada rengekan, tidak ada tangisan kesal, juga tidak ada seseorang yang biasanya bergelanyut manja di lengan Baek Hyun.

Tidak ada. Sepi.

“Oppa, temani aku ke butik yang baru launching di sana!”

Baek Hyun sontak menoleh ke arah suara itu, namun tidak mendapati seorang pun di sana. Oh, oh, nampaknya ia mulai berhalusinasi sekarang.

“Oppa, aku selalu berusaha membuat masakan, tapi selalu gagal. Huaaa!!”

Suara itu, suara Sung Hee lagi, kenapa suara itu terus menerus terngiang di telinga Baek Hyun. Aishh, ada apa dengannya?

“Oppa!”

            “Oppa!”

Baek Hyun memejamkan matanya, oh Tuhan, jangan lagi.

Sebelah tangan Baek Hyun terangkat ke dada, kenapa rasanya aneh? Kenapa ia tidak merasa tenang seperti ketika yeoja itu ada di sampingnya seperti biasanya? Yeoja itu memang egois dan tidak jarang bersikap menyebalkan serta memperlakukannya seperti pelayan, namun entah kenapa kini rasanya hal itu lebih baik daripada yeoja itu tidak ada.

Oh, kenapa ia bisa berpikir demikian?

Kenapa ia berpikir kalau yeoja itu ada maka semua akan baik-baik saja?

Rasanya hampa, rasanya salah. Dan perasaannya menjadi semakin kacau, sama sekali tidak tenang. Padahal jujur saja, Baek Hyun pernah berpikiran jahat untuk jauh-jauh dari Sung Hee yang diam-diam dia juluki troublemaker itu. Tapi sungguh ia tidak pernah menyangka, ketika yeoja itu benar-benar tidak ada, ia malah merasa salah, merasa resah.

Ada lubang besar yang menganga setelah yeoja itu raib dari pandangannya. Tawanya, cerianya, keegoisannya, manjanya. Baek Hyun yakin sekali, ia merindukan semuanya. Merindukan semua yang ada dalam diri yeoja itu. Oh, apakah ia benar-benar tampak sentimentil sekarang?

Baek Hyun menggigit bibirnya keras. Ia baru menyadari, kalau ia sendiri telah melakukan hal bodoh dan jahat pada Sung Hee, yeoja polos dan egois itu. Hal jahat karena diam-diam menyukai orang lain selain Sung Hee, tunangannya sendiri. Hal bodoh karena membuat Sung Hee menghilang karena sikapnya yang ketus dan cuek beberapa hari terakhir ini.

Ia baru menyadari, kalau Sung Hee telah menjadi orang yang terpenting dalam hidupnya.

________

            Beberapa hari kemudian…

Baek Hyun melangkah lunglai memasuki kamarnya, hari sudah larut dan matanya benar-benar tidak bisa lagi diajak berkompromi. Tubuhnya sudah terlalu lelah sementara hatinya masih berkelana dan melayang-layang entah ke mana. Dia merebahkan tubuhnya yang semakin kurus dari hari ke hari—mengingat napsu makannya yang tak kunjung membaik—ke kasur berseprai putihnya. Namja itu menyilangkan kedua tangannya sebagai alas kepala kemudian mendesah pelan.

Namja berparas imut itu memejamkan matanya, menghirup udara di sekitarnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya keras. Setidaknya ia berharap hal itu akan sanggup membuat hatinya lebih ringan. Membuatnya lebih cepat terlelap.

“Krrr.. krrr…”

Baek Hyun hampir berhasil tertidur ketika sayup-sayup telinganya mendengar sesuatu. Sesuatu yang terdengar err … sedikit aneh dan mengganggu? Dalam keremangan dan kesunyian malam, akhirnya Baek Hyun memaksakan diri untuk membuka mata kemudian mengerutkan alisnya karena suara itu semakin terdengar jelas dan… dekat?

Apakah itu hantu?

Oh, oh. Selain pesawat terbang, Baek Hyun juga benci dengan yang satu ini. Ia sering menonton tayangan horror di televisi dan selalu diakhiri oleh teriakan frustasi darinya, serta kelopak matanya yang enggan menutup sampai pagi saking takutnya. Yah, sebenarnya phobianya terhadap makhluk semacam itu juga beralasan. Baek Hyun memang pernah bertemu dengan hantu sungguhan dan itu benar-benar membuatnya trauma.

Ketika orang bilang kalau seorang namja takut pada hantu maka dia bukanlah seorang namja sejati, namun tentunya Baek Hyun menolak mentah-mentah gagasan itu. Namja juga manusia, manusia takut pada hantu itu juga wajar. Yah.. seperti yang terjadi padanya saat ini.

“Krrr.. krrr…Krrr.. ”

Suara itu semakin terdengar jelas, semakin serasa memojokkan seorang Byun Baek Hyun yang kini seperti kelinci ketakutan itu. Peluh perlahan muncul di kening dan pelipis Baek Hyun, menambah kesan bahwa memang namja itu sedang dalam keadaan tegang luar biasa.

Baek Hyun memejamkan matanya rapat-rapat. Dan sayup-sayup suara aneh itu terdengar lagi, begitu menyeramkan, menakutkan, serasa mengulitinya hidup-hidup, serasa memanggangnya di tungku api, dan serasa seperti … eh.. tunggu dulu! Tunggu! Baek Hyun spontan membuka mata lebar-lebar kemudian memasang telinganya tajam-tajam. Namja itu terbelalak begitu menyadari kalau suara tersebut adalah… suara dengkuran!

“Krrr.. krrr…”

Baek Hyun kembali memusatkan pada pendengarannya. Ya, tidak salah lagi, itu suara dengkuran! Dan suara itu …. Berasal dari kolong tempat tidurnya!

Entah kenapa, rasa takut itu menguap seketika, berubah menjadi rasa penasaran yang amat kental, membuat Byun Baek Hyun dengan sigap melompat dari ranjangnya dan melongokkan kepalanya ke kolong tempat tidurnya yang gelap. Ia turut meraih ponselnya untuk membantu menerangi pandangannya, ia arahkan ponselnya ke kolong tempat tidur.

Dan saat itu juga, kedua alisnya terangkat sempurna bersamaan dengan membulatnya kedua matanya begitu melihat siapa seseorang yang tengah tertidur pulas di kolong tempat tidurnya itu.

Itu kan … itu kan…

“Ya! Cho Sung Hee! Apa yang kau lakukan di sana!!!????”

_________

Sung Hee berulang kali menguap dan mengucek-ucek matanya, yeoja itu masih mengantuk setengah mati. Nampaknya kopi panas yang baru saja diberikan Ahn ahjumma dan tengah diminumnya sekarang itu tidak terlalu banyak membantu. Sung Hee kembali merapatkan selimut yang membungkus tubuhnya, kemudian dengan perlahan dan berat hati ia mengangkat kepalanya menatap namja pemilik sepasang mata sipit yang duduk di depannya sekarang.

Namja itu, Byun Baek Hyun hanya balas menatap lekat-lekat yeoja berambut ikal yang bernama Sung Hee itu. Wajahnya benar-benar terlihat suntuk dan lelah, matanya cekung dan kedua tangannya terlipat di depan dada. Sebuah perasaan yang disebut ‘kesal’ kini melayang-layang di otaknya dan siap menguasainya, namun perasaan lega dan senanglah yang kini mendominasi hatinya. Tidak diragukan lagi kalau ia benar-benar merasa lega setengah mati begitu yeoja yang hampir dua minggu itu menghilang kini telah kembali. Namun saking lelahnya, perasaan itu sama sekali tidak ia tunjukkan lewat sikapnya.

“Cho Sung Hee, sekarang jelaskan semuanya.”

Awalnya yeoja bernama Sung Hee itu terlihat enggan, namun kemudian sembari mengerucutkan bibirnya gemas, ia berujar lirih, “Aku melakukan ini semua karena Baek Hyun Oppa menyebalkan. Sangat menyebalkan!” katanya dengan penekanan di kalimat terakhir.

“Memangnya apa yang telah aku lakukan?”

Kening Sung Hee berkerut mendengar nada dingin dari Baek Hyun, apakah Baek Hyun kesal padanya? Bah, harusnya ialah yang merasa kesal! Dengan sigap yeoja itu bangkit dari duduknya kemudian mengangkat jari telunjuknya ke arah Baek Hyun.

“Ini semua salah Oppa karena menyimpan foto-foto itu!!”

Detik itu juga Baek Hyun langsung merasa tertohok. Kata-kata Sung Hee menancap tepat di hatinya. Aduh!

“Benar kan? Oppa menyimpan foto-foto yeoja-yeoja itu!?” Sung Hee menggigit bibirnya keras, tak urung tangannya pun turut terkepal sempurna, “Foto-foto serta video yeoja-yeoja seksi dan bahkan ada sebagian dari mereka yang telanjang! Aku sakit hati Oppa suka melihat hal begitu, sakit Oppa! Sakit!”

Hah!? Kedua alis Baek Hyun sontak berkerut. Apa katanya? Foto yeoja-yeoja seksi? Telanjang? Jadi, jadi, yang Sung Hee lihat bukan foto-foto Jin Ri yang berada dalam email Chan Yeol? Oh, oh, nampaknya telah terjadi kesalah pahaman di sini.

Sung Hee terlihat mulai menangis lagi, “Oppa telah meracuni mataku, Oppa telah menyimpan file terlarang itu dan menontonnya diam-diam tanpa sepengetahuanku. Oppa bahkan telah melihat yeoja lain telanjang sebelum melihat calon istrimu ini telanjang dulu!!”

“Ya! Ya! Cho Sung Hee apa yang kau katakan, heh!!?” teriak Baek Hyun kaget sembari mengguncang-guncang tubuh Sung Hee.

“Kita kan calon suami istri dan akan melakukan hal ‘itu’ suatu hari nanti. Tapi Oppa malah melihat yeoja lain telanjang sementara Oppa belum ‘melihatku’!!”

“Ya! Sung Hee berhenti berkata tentang hal seperti itu!!” teriak Baek Hyun lagi dengan muka memerah, ia tidak habis pikir yeoja itu dengan gamblangnya mengatakan hal pribadi seperti itu di depan Ahn ahjumma yang kini berdiri tidak begitu jauh dari mereka.

Namun tangisan Sung Hee tak juga berhenti, ia malah semakin menjadi-jadi, “Pasti Oppa sudah membayangkan melakukan hal-hal seperti ‘itu’ dengan yeoja-yeoja yang ada di foto dan video itu, kan?! Mengakulah Oppa!” tuduh Sung Hee semena-mena.

Baek Hyun berdecak kesal, ia berdalih, “Tentu saja tidak Sung Hee ya! Lagipula foto dan video yang ada di sana itu …”

“Aku tidak mau tahu, yang jelas Oppa telah ..”

Perkataan Sung Hee terpotong karena Baek Hyun mengunci bibirnya dengan cepat. Mengecupnya dalam sekejab mata dan sampai membuat Ahn ahjumma terpekik kaget. Baek Hyun melepaskan tautan bibirnya dari bibir Sung Hee yang masih menatapnya tak percaya.

“Oppa…”

“Asal kau tahu, foto-foto serta video itu bukan milikku. Aku tidak pernah memasukkannya ke sana. Tapi seingatku Chan Yeol pernah iseng memasukkan file-file itu ke dalam laptopku. Karena aku tidak mengetahui di mana ia meletakkannya makanya aku membiarkannya saja.”

Sung Hee hanya tercenung mendengar penjelasan Baek Hyun, pipinya sontak memerah menahan malu.

“Lagipula, namja seumurku juga wajar memiliki ‘barang-barang’ seperti itu Nona Cho.” tambah Baek Hyun sembari terkekeh.

Kedua mata Sung Hee kembali melotot, tapi ketika ia hendak mengomel kembali, Baek Hyun buru-buru membekap mulutnya. Namja itu tersenyum jahil, “Sekarang jelaskan padaku bagaimana kau menghilang serta bagaimana kau tiba-tiba berada di kolong tempat tidurku, Nona Egois.”

__________

“Saat itu, sebagai permintaan maaf serta keinginan pribadi sebagai calon istri aku berniat membersihkan kamar Oppa. Tapi begitu melihat file berisikan foto dan video mesum yang berada di dalam laptop Oppa, aku langsung naik darah.” Sung Hee mulai menceritakan kisahnya sementara Baek Hyun hanya mengangguk-angguk seraya tersenyum penuh arti. Sung Hee merasa senyuman itu memojokkannya, ia melirik ke arah Ahn ahjumma yang berdiri di samping tempatnya duduk, bermaksud meminta pertolongan.

Sung Hee menelan ludahnya, “Aku menelepon Joon Myun Oppa, Yu Ji, Min Seok Oppa dan Jin Ri Eonni saking bingungnya. Namun karena tidak sabar aku membanting ponselku hingga hancur.”

Pantas saja orang-orang itu terkecuali … siapa tadi? Min Seok, ya, menghubungiku dan langsung marah-marah tanpa sebab. Ternyata yeoja ini biang keroknya, batin Baek Hyun kesal.

“Namun beberapa saat setelah itu, aku menyusun sebuah rencana untuk membalas perlakuan menyebalkanmu itu, Oppa.” Sung Hee melirik ke arah Ahn ahjumma, wanita paruh baya itu mengangguk setelah sempat berbicara lewat mata dengan Sung Hee, “Aku bekerja sama dengan Ahn ahjumma untuk membuatmu merasa aku benar-benar menghilang.”

“Mwo?”

Sung Hee menelan ludahnya lagi, entah kenapa ia tiba-tiba takut akan reaksi yang diberikan Baek Hyun nanti, “Melalui ponsel Ahn ahjumma aku menghubungi keluargaku, Joon Myun Oppa, Yu Ji, Min Seok Oppa serta Jin Ri Eonni. Aku memberitahukan mereka semua soal rencanaku untuk ‘menghilang’ dan membuatmu kacau. Dan mereka menyetujui rencanaku.”

“Aku tahu kau menaruh kepercayaan penuh pada Ahn ahjumma, oleh karena itu aku bekerja sama dengan beliau. Kau langsung saja percaya begitu Ahn ahjumma bilang kalau aku memang tidak ada di seluruh penjuru rumah, dan ternyata benar, Oppa tidak pernah berusaha mencariku di sini, di dalam rumah.”

Detik itu juga tubuh Baek Hyun melorot, Oh astaga. Ternyata selama ini yeoja itu tidak berada jauh-jauh darinya. Dia ada di dalam rumah. Dan apa yang telah Baek Hyun lakukan? Keliling kota New York sendirian untuk mencari Sung Hee. Dia juga telah memasang selebaran, pamflet, poster dan sebagainya di setiap sudut kota. Bahkan ia telah melapor pada polisi dan bersikukuh kalau yeoja itu tidak ada di rumahnya. Dan pada kenyataannya yeoja itu ada di rumah? Bah! Bah! Bah!

“Dan aku punya kebiasaan yang hanya orang terdekatku yang tahu. Yaitu berhibernasi kalau aku sedang marah.”

Baek Hyun kembali menegakkan tubuhnya, “Mwo? Hibernasi?”

Sung Hee mengangguk, “Nee. Selama kau berada di luar mencariku, aku tidak melakukan apa-apa, hanya di rumah dan tidur. Tidur di kolong tempat tidurmu. Aku akan tidur sepanjang hari dan hanya akan bangun ketika lapar dan mandi.”

“Ke..kenapa harus di kolong tempat tidurku?”

“Karena kebiasaanku adalah tidur di tempat orang yang membuatku kesal. Dan untuk berjaga-jaga saat kau tiba-tiba datang dan Ahn ahjumma belum sempat memindahkanku, aku memilih untuk tidur di kolong tempat tidurmu. Tenang saja, di sana bersih dan aku tidur memakai alas, kok!” cerita Sung Hee kemudian sembari menunjukkan sederet gigi putihnya yang rapi. Ditambah dengan wajah seakan tanpa dosa.

“Memang kebiasaanku itu aneh sih, tapi pada kenyataannya memang benar begitu!”

Sementara itu Baek Hyun yang duduk di depannya hanya melongo, dalam sekejap mata rasa lelahnya memucak. Selama dua minggu terakhir ia tidak cukup tidur, tidak napsu makan, tidak bergairah melakukan apapun karena khawatir akan yeoja itu. Dan pada kenyataannya semua hanya permainan? Semua hanya rencana bodoh yeoja itu?

Oh Tuhan…

Saat itu juga Baek Hyun langsung kehilangan keseimbangan. Tubuhnya sudah terlalu lelah, bukan hanya tubuhnya, bahkan hatinya turut lelah. Perutnya mual, dan rasanya seperti sehabis naik pesawat. Mual dan ingin muntah. Pandangan Baek Hyun menjadi semakin kabur, dan hal yang terakhir diingatnya adalah suara Sung Hee yang meneriakkan namanya.

__________

            Ketika kedua kelopak mata itu membuka, hal yang pertama kali ditangkap inderanya adalah suara isak tangis dan bau rumah sakit yang samar-samar. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali agar pandangannya yang semula kabur menjadi jelas. Kemudian ketika ia merasa nyawanya benar-benar telah terkumpul kembali, ia menolehkan kepalanya pelan ke arah seorang yeoja yang duduk di samping ranjangnya.

“Sung .. Sung Hee?” katanya parau.

Yeoja yang ia panggil Sung Hee itu berhenti menangis kemudian mengangkat wajahnya, Sung Hee terbelalak begitu menyadari kalau namja yang ia tangisi sedari hari-hari kemarin itu kini telah sadar.

“Baek Hyun Oppa!!” teriak Sung Hee seraya menghambur memeluk namja bernama Baek Hyun yang baru saja terbangun itu. “Syukurlah, syukurlah Oppa sudah bangun. Syukurlah! Oppa sudah tidur selama tiga hari penuh, Oppa tahu!? Huaaa, syukurlah!” Tangisan yeoja itu semakin menjadi-jadi.

“Tiga hari?” seru Baek Hyun tidak percaya. Benarkah ia telah tertidur selama itu?

Sung Hee menjawab dengan anggukan pasti, setelah itu ia kembali menangis dan memeluk Baek Hyun semakin erat, membuat namja itu menjadi kesusahan bernapas. “Ya! Sung Hee ya, lepaskan! Aku tidak bisa bernapas!”

Sung Hee melepaskan pelukannya dengan tidak rela. Baek Hyun bangkit dari tidurnya kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur, ia menatap lekat-lekat wajah Sung Hee yang tampak kacau. Kedua matanya sembab, rambutnya juga acak-acakan serta kantung matanya tebal, mungkin saking kacaunya hingga yeoja itu tidak menghiraukan lagi bagaimana penampilannya sekarang.

“Maafkan aku.”

“Eh?” Kedua alis Baek Hyun terangkat tinggi, apa? Sung Hee minta maaf? Oh, ini sungguh hal yang baru bagi Baek Hyun.

Sung Hee mengangguk, “Kata dokter Oppa kelelahan dan butuh banyak istirahat. Mungkin Oppa kelelahan karena mencariku dan kurang tidur selama selang waktu dua minggu itu.” Sung Hee menggigit bibirnya keras, “Maafkan aku. Karena aku Oppa jadi seperti ini.”

“Sung Hee ya…”

“Sebagai permintaan maaf, aku telah membeli banyak daging bacon kesukaan Oppa. Aku akan belajar masak pada Ahn ahjumma dan membuat masakan paling enak untuk Oppa. Aku tidak akan memaksa Oppa untuk menemaniku berbelanja kalau Oppa tidak suka itu, aku juga tidak akan mendengkur kalau tertidur. Aku akan menghentikan kebiasaan berhibernasiku kalau aku kesal. Aku akan…”

Baek Hyun meraih lengan Sung Hee yang spontan membuat perkataan yeoja itu terhenti, “Sung Hee ya …”

“Tapi Oppa juga harus minta maaf padaku.” potong Sung Hee cepat seakan-akan tidak membiarkan Baek Hyun berbicara sepatah katapun.

Ha? Kenapa Sung Hee tiba-tiba mengalihkan pembicaraan?

“Minta maaf karena Oppa telah mengatakan hal yang jahat padaku saat kita di mall beberapa minggu lalu!”

Kedua alis Baek Hyun terangkat, beberapa minggu lalu? Di mall? Memangnya ia bicara sesuatu?

“Memangnya aku mengatakan apa?”

Begitu mendapati Baek Hyun yang bertanya padanya seakan-akan tanpa dosa, Sung Hee hanya berdecak kesal. Ia menepis genggaman Baek Hyun di tangannya, “Oppa bilang kalau menyesal telah bertunangan denganku! Oppa bilang kalau bukan karena permintaan orang tua, Oppa tidak akan mau denganku!”

Kening Baek Hyun berkerut, masih tidak terlalu paham dengan maksud pembicaraan Sung Hee. Memangnya ia pernah berkata begitu? Sungguh, ia tidak merasa pernah berkata seperti itu. Kalaupun iya, Baek Hyun sama sekali tidak ingat.

“Aku tidak pernah berkata begitu Sung Hee ya.” bantah Baek Hyun.

Sung Hee merengut kesal, “Kenapa Oppa malah melupakannya?! Apa karena Oppa terlalu lama tidur jadi ..”

“AH!!”

Mendengar teriakan Baek Hyun yang tiba-tiba, Sung Hee sedikit terlonjak saking kagetnya. Namja itu lantas menoleh cepat ke arah Sung Hee, “Apa aku belum pernah memberitahukan padamu, Sung Hee ya?!”

“Apa?”

“Kalau aku punya sebuah kebiasaan aneh sehabis naik pesawat.”

Kerutan di dahi Sung Hee bertambah, “Kebiasaan?”

Baek Hyun mengangguk, “Aku punya kebiasaan mengatakan sesuatu di luar kendali pikiranku ketika aku sedang jet lag. Aku akan merasa mual, letih dan pusing saat jet lag, kemudian aku akan mengatakan sesuatu yang nantinya tidak akan berbekas sama sekali di memori otakku.” Baek Hyun terdiam sejenak, “Lalu … benarkah aku pernah berkata begitu padamu?”

Kedua bahu Sung Hee yang semula tegang melemas, ternyata apa yang dikatakan Baek Hyun saat itu bukan semata-mata dari dalam hatinya. Melainkan karena kebiasaan aneh yang namja itu punya. Baek Hyun bahkan sama sekali tidak ingat pernah mengatakan hal seperti itu. Itu benar-benar kebiasaan yang sangat aneh dan jarang orang punya! Hah! Sung Hee sampai harus menangis semalaman karena ulah namja yang satu itu, oh God!

Melihat ekspresi masam yang ditunjukkan Sung Hee, Baek Hyun hanya terkekeh, “Haha, itu sebabnya aku benci naik pesawat. Kalau begitu Sung Hee ya, lebih baik kalau…”

“OPPA JAHAAAAT!!”

Sung Hee serta merta memukul Baek Hyun tanpa ampun, mencubit dan menjambak namja itu. Baek Hyun berteriak kesakitan dan memohon agar Sung Hee menghentikan perbuatan ‘KDRT’nya itu. “Ya, Sung Hee ya hentikan …”

Krruuuyyyuuukkk…

Baek Hyun dan Sung Hee terdiam.

Oh, Oh, suara apa itu? Mungkinkah suara itu keluar dari perut Baek Hyun yang sudah tiga hari hanya tidur dan tidak makan sama sekali? Ya benar, sepertinya begitu.

Setelah beberapa saat, tawa keduanya pecah. Keduanya sama-sama menertawakan apa yang baru saja atau telah terjadi selama mereka berada di New York. Kebiasaan aneh yang sama-sama dimiliki keduanya, pertengkaran memalukan di mall, serta saat-saat kacau ketika Sung Hee ‘menghilang’. Semuanya kini terlihat konyol di mata mereka.

Baek Hyun tersenyum melihat yeoja di hadapannya tertawa, entah kenapa hatinya perlahan menghangat dan mulai merasa tenang. Sudah lama ia tidak merasa setenang ini, terutama sejak yeoja itu menghilang. Ternyata benar, keberadaan yeoja itu bagai obat penenang yang berharga baginya.

Ketika Sung Hee ada di sampingnya kini ia merasa tenang, merasa jauh lebih baik, merasa tidak ada yang salah, bahkan ia yakin akan merasa baik-baik saja asalkan Sung Hee ada di sampingnya. Oh, oh, sejak kapan Baek Hyun merasakan perasaan seperti itu?

Lalu bagaimana dengan perasaannya terhadap Jin Ri?

Bohong kalau Baek Hyun berkata ia benar-benar melupakan yeoja itu, namun seiring berjalannya waktu hatinya perlahan berubah. Karena saat ini, ada seseorang yang mulai berhasil menyelinap di hatinya. Bahkan selama dua minggu terakhir ini, Baek Hyun tidak lagi merasa sedih ketika menerima pesan Chan Yeol tentang Jin Ri. Lebih-lebih ia merasa senang.

Ya, pindah hati memang tidak mudah, tidak cepat, tidak bisa dipaksa. Karena semua butuh proses, butuh waktu. Baek Hyun baru menyadari hal itu.

Baek Hyun tersenyum lagi, kemudian ia meraih lengan Sung Hee, membuat yeoja itu berhenti tertawa.

“Sung Hee ya, aku lapar.”

Sung Hee balas tersenyum, “Baik. Aku akan membuatkan masakan untuk Oppa.”

“Tidak mau, aku tidak mau mati keracunan gara-gara makan masakan buatanmu.” ejek Baek Hyun sembari terkekeh.

Kedua mata Sung Hee melotot, “Apa kau bilang, OPPPAAAA!!??”

_________

Dia bilang sebelumnya kalau move on itu sulit..

Memang sulit.

Memang sulit seandainya kau berharap untuk bisa move on dalam waktu cepat.

Cukup biarkan waktu berjalan dan mengalir sebagaimana mestinya.

Karena semua butuh proses. Butuh waktu.

Seperti namja itu, seperti Baek Hyun.

Awalnya ia bilang hatinya enggan untuk melupakan Jin Ri.

Tapi pada akhirnya Baek Hyun juga bisa.

Seiring berjalannya waktu.

Pasti.

Karena tidak ada yang tidak mungkin selama kau terus mencoba. ^^

_________

How? How? How? Just share your thought in comment box below, yeah?😀

Thanks for reading^^ Sorry kalau mengecewakan ^^b

Oh iya, aku mau ngucapin terima kasih sebanyak-banyaknya buat yang udah ngevote di 10’s nomination author ya ^^ terharu bener sama reader yang udah mau dukung saya *bow ^^/

See ya in the next chapter nee?😀 follow me @fhayfransiska

Please visit my blog here ^^

Don’t forget to leave your comment and like this ^^b

185 responses to “Bad Person : Side Story of [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s