CALL ME MAYBE? (Prolog + Bagian 1)

Image

 

Title                       : CALL ME MAYBE? (Prolog + Bagian 1)

Author                  : gichanlee (@realgista0620)

Genre                   : Romance-Angst-Life

Rating                   : PG-15

Casts                     : Chloe Gladstone (OC)

                                  Xi Lu Han (EXO-M)

                                  Kim Jong In (EXO-K)

                                  Kim Sung Yeon (OC)     

                                  Kim Joon Myun (EXO-K)

                                  And another support casts

Note                      : Annyeong haseyo yoreobeun! Perkenalkan, saya adalah adik-adikan dari author @fhayfransiska😀 Ini FF ber-chapter pertama saya yang menurut saya berhasil saya buat, meski sebetulnya tidak. Maaf jika membosankan, saya baru belajar. Dan terimakasih kepada Fhay eonni yang sudah bersedia aku titipin FF somplak ini. Jika banyak yang suka, saya akan berusaha untuk melanjutkan, jika tidak ya apa kata nanti. Haha. Kalimat bercetak miring adalah masa lalu, jika masih ada typo saya mohon maaf, dan disini hanya ada Chloe’s POV dan Author’s POV. Selamat membaca! Semoga terhibur. Terimakasih.

Warning!             : EXO hanya milik Tuhan dan orangtuanya masing-masing. Tapi, OC dan alur cerita ini saya yang bikin dari hasil kerja otak saya yang abal. Tolong jangan suka plagiat, ya. Tapi jika ada kesamaan cerita dengan yang lain, itu sungguh tidak disengaja. Terimakasih😀

—–Please call me maybe…?—–

“Ini, aku beri kau telepon genggam. Kau tahu betapa susahnya aku menghubungimu tanpa alat ini? Aih, benar-benar menyusahkan. Semoga kau suka.” Ucapnya sambil menebarkan senyum manis.

                Kutatap lekat-lekat benda yang ada dalam genggamanku saat ini. Sebuah telepon genggam berwarna merah muda dengan motif bunga berwarna putih pada chasing yang melapisinya. Tanpa sadar senyuman telah mengembang dalam wajahku. Ternyata otakku yang tidak seberapa pintar masih mampu mengingat kejadian hampir 7 tahun lalu.

                “Ah, gomawo Oppa. Maaf aku telah merepotkanmu. Hehehe.” Jawabku dengan tampang sedikit polos.

                Tepat setelah pemberian telepon genggam itu, dia pergi meninggalkanku. Namun, sebelumnya ia sempat berpesan padaku.

“Di dalam telepon genggammu itu sudah ada nomor teleponku. Kau bisa menghubungiku kapan saja. Aku pasti menjawab teleponmu, dan jangan sampai saat aku menghubungimu kau tidak menjawab teleponku. Akan kuberi kau hukuman saat aku kembali. Hahaha. Ya sudah, annyeong Chloe.. Pesawatku akan berangkat 30 menit lagi. Aku harap kau tidak akan melupakanku.”

                Sudah. Hanya itu pesan singkat yang ia ucapkan sebelum meninggalkanku sendiri di panti asuhan ini untuk pergi ke Negeri Paman Sam mengikuti kakeknya merantau. Dan kalian tahu, pesan itu hanya omong kosong. Keesokan harinya setelah ia memberikan benda ini padaku, aku mencoba untuk menggunakan alat ini. Dan nomor yang aku hubungi pertama kali adalah nomornya. Ya, kalau bukan nomornya mau nomor siapa lagi yang aku hubungi? Namun, setelah ada berpuluh-puluh kali aku mencoba menghubunginya tidak ada satupun panggilanku yang ia jawab. Karena sudah terlalu lelah hanya untuk menghubunginya, aku memutuskan untuk menunggu panggilannya saja. Tapi apa? Tidak ada panggilan juga tidak ada jawaban. Sama sekali hingga saat ini.

                “Chloe, apa kau ada di dalam? Sarapan sudah siap.”

                Suara wanita paruh baya yang tiba-tiba terdengar menyadarkanku dari lamunan masa laluku. Aih, kalau aku menyebutkan masa lalu rasanya terlalu hiperbola. Semua orang juga pasti punya masa lalu bukan? Segera aku simpan telepon genggam itu ke dalam tasku dan beranjak dari pinggiran kasur yang aku duduki sedari tadi. Kutatap dan kucermati bayangan yang terpantul pada cermin dihadapanku saat ini.

                “Ne, ahjumma. Tunggu sebentar!”

                Sahutku lantang setelah selesai mematut diri di hadapan cermin dinding kamarku. Dengan segera aku menuju ruang makan, aku tidak ingin mengecewakan bibi yang selama ini telah mengasuhku.

{{{{{{{{{{{{{{}}}}}}}}}}}}}}}}}

                “Bagaimana kuliahmu selama ini? Apakah ada yang menghalangimu dalam belajar? Ah, kau sudah tidak perlu bekerja lagi, Chloe. Kau bisa fokus pada kuliah S2-mu saat ini. Pamanmu kini sudah mendapatkan pekerjaan yang yah semoga saja bisa mencukupi kebutuhan kita bersepuluh. Aku, pamanmu, kau, Daisy, dan tentu saja adik kalian yang lain.”

                Keheningan yang kami rasakan dalam sarapan pagi ini telah terpecahkan oleh suara bibiku. Setelah mendengar ucapannya, aku hentikan sejenak aktivitas makanku dan mencoba untuk berfikir sebentar.

                “Tapi ahjumma, ahjusshi, tolong tetap biarkan aku bekerja paruh waktu. Bukannya aku tidak yakin bahwa pekerjaan paman bisa mencukupi kebutuhan kita semua, tapi tidak ada salahnya kan jika aku bekerja. Dan tenang saja, kuliahku tidak akan pernah terganggu.” Jawabku mantap dengan berusaha memberikan senyuman yang tulus kepada paman dan bibiku agar mereka percaya bahwa aku baik-baik saja.

                “Oh, begitu? Baiklah. Aku harap nantinya kau bisa menggapai cita-citamu untuk menjadi desainer itu. Oh, lihat pukul berapa sekarang! Cepatlah berangkat. Aku tidak ingin kau terlambat dan mendapat hukuman sehingga nilaimu—“

                “Sudahlah, yeobo. Kau terlalu berlebihan, percayalah padanya bahwa ia akan baik-baik saja dan bisa membagi waktu dengan baik. Daisy! Daisy! Cepatlah berangkat bersama kakakmu ini. Kasihan dia menunggu terlalu lama. Nanti terlambat lho.” Perkataan ahjusshi yang lembut telah berhasil memotong perkataan ahjumma yang terlalu berlebihan menurutku. Dengan senang hati kuucapkan terima kasih dalam hati untuk pamanku itu.

                “Ne! Jamkkamanyeo! Ah!” jawab Daisy dengan suara yang lantang.

                DUBRAK!!! BRAK!!!

                “Aw!”

                Terdengar teriakkan melengking dan suara gaduh seperti barang-barang yang sedang berjatuhan dari kamar Daisy, adik perempuanku –tepatnya adik angkatku-, karena di dalam panti asuhan, setahuku tidak ada yang berhubungan darah sama sekali.

Aku, Chloe Gladstone, lahir di Alaska, aku sudah tinggal di panti asuhan ini bersama ‘keluargaku’ hampir selama… 20 tahun? Wah, waktu yang cukup lama bukan? Yap, semenjak umurku 4 tahun, kedua orangtuaku dengan tega meninggalkanku di pinggir jalan dan ahjumma serta ahjusshi menemukanku saat mereka merantau di Alaska. Sebenarnya aku tidak berani mengatakan bahwa aku beruntung bisa tinggal bersama mereka –orangtua angkatku- karena kenyataannya bahwa memiliki orang tua kandung itu lebih beruntung. Namun, daripada aku hidup dengan orang tua yang tidak mengharapkan kehadiranku serta tidak memiliki orangtua asuh sama sekali, lebih baik aku di panti asuhan seperti ini bersama mereka.

Dan meski aku berasal dari luar benua Asia, namun saat ini aku lebih suka berbicara dengan menggunakan bahasa Korea. Tapi tetap sesekali kugunakan bahasa Inter, karena aku sudah terlalu terbiasa akan bahasa itu. Dan kau tahu? Wajahku tidak seperti wajah orang barat pada umumnya. Kata ahjumma aku seperti memiliki unsur ras Asia yang oriental. Oh, apakah orang tuaku berasal dari ras yang berbeda? Entahlah, aku sudah terlalu memuak mengingat masa laluku yang hancur itu.

Dan adik angkatku, Daisy Cavendish, ia sebenarnya asli keturunan Korea, namun wajahnya benar-benar tidak cocok. Saat ia berumur 3 tahun, orang tuanya meninggal akibat kecelakaan, setelah itu ahjumma bermaksud untuk mengadopsinya dan mengajak ia tinggal di panti asuhan ini. Karena melihat wajah kabarat-baratan milik Daisy, akhirnya ahjusshi memberikannya nama barat, Daisy Cavendish. Nama yang bagus, bukan?

                “Apa yang sedang kau lakukan, Daisy-ah? Kenapa ribut sekali?”

                Ahjumma berteriak khawatir akan apa yang terjadi pada Daisy. Dengan segera ahjumma bangkit dari duduknya dan menghampiri kamar Daisy. Namun, sedetik kemudian Daisy menyahut seperti orang yang kelebihan suara.

                “Ani. Ani. Aniyeo ahjumma! Nan gwaenchanayeo! Tunggu sebentar!!!”

                Aish, dasar pagi-pagi begini sudah bikin keributan lagi. Aku berharap ini bukan hari yang buruk untukku.

{{{{{{{{{{{{{{}}}}}}}}}}}}}}}}}

                Bangunan tua itu terlihat menyeramkan dengan hiasan-hiasan yang tidak layak. Bisa kalian bayangkan sebuah gedung –entah gedung apa- dengan tembok yang sudah berlumut, lantai kayu yang sudah terlihat keropos dan aku tidak yakin lantai kayu itu bisa menahan beban diatasnya. Tapi, aku harus menganggap gedung itu layaknya gedung yang lain. Mengapa? Karena disinilah aku mencari nafkah. Untuk diriku sendiri lebih tepatnya.

Saat pagi hari aku harus kuliah hingga menjelang sore dan aku hanya bisa bekerja setelah pukul lima sore. Aku tidak ingin menggunakan uang hasil jerih payah paman yang sudah bisa dikatakan lanjut usia. Perlahan kulangkahkan kakiku menuju pintu masuk gedung kusam itu. Namun, belum sempat aku memutar kenop, pintu itu sudah terbuka lebih dulu.

                “Wa!” Sontak aku berteriak saking terkejutnya. Segera kupejamkan mataku karena takut-takut aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak terlihat. Terang saja aku setakut ini, langit sudah melebihi senja, dan suasana gedung itu mendukung ketakutan yang aku rasakan. Meski sudah hampir setengah tahun aku bekerja disini, ketakutan itu tak kunjung hilang.

                “Maaf, Nona. Aku tidak sengaja. Silakan masuk. Saya permisi dulu.”

                Ku buka sebelah mataku dengan perlahan. Karena pria yang tadi membukakan pintu untukku itu sudah tidak dihadapanku lagi, kutolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Kudapati ia telah berjalan pergi menjauh membelakangiku. Sayangnya aku tak bisa melihat wajahnya, yang terlihat hanyalah punggungnya yang bidang dan tegap serta kaos hijau lumut yang ia kenakan. Dan satu lagi, ia menjinjing sebuah tas yang sepertinya berisikan sepotong baju. Apa mungkin ia adalah salah satu pelanggan di tempat kerjanya ini?

                “Heuh~ Sudahlah. Akh! Sudah larut.” Segera ku masuki tempat kerjaku itu dengan sedikit tergesa-gesa, karena aku tidak ingin sesuatu yang tak terlihat itu memunculkan dirinya sebelum aku sempat menyapa pemilik gedung tempatku bekerja ini.

{{{{{{{{{{{{{{}}}}}}}}}}}}}}}}}

                “Kau terlambat 15 menit, Miss CG. Aku harap kau bisa tepat waktu untuk kedepannya. Aku tahu kau sedang kuliah, tapi setidaknya kau harus bisa membagi waktu dengan baik. Ah, apa kau tidak memiliki nama Korea saja? Lidahku terasa melilit setiap kali menyebut namamu. Siapa? Chloe? Argh, nama apa itu? Maka dari itu aku lebih suka memanggil singkatan namamu saja. Kau tahu kan kalau aku tidak terlalu fasih berbahasa Inggris?”

                Kudengar ceramahan atasanku yang tidak ada sangkut pautnya dengan keterlambatanku saat ini. Sambil mendengar omongan membosankannya itu ku letakkan segala barang-barang yang kubawa sedari tadi sejak berangkat dari rumah, maksudku panti, ke universitas, dan sekarang di tempat kerja ini. Ada tas kuliahku, map yang berisikan segala desain baju yang telah ku buat dan tak lupa telepon genggam berwarna merah muda pemberiannya. Dan, apa? Nama Korea? Tunggu, apakah harus aku mempunyai nama Korea? Sepertinya menarik.

                “Iya, nama Korea. Dan itu harus. Aku tidak ingin para kerabatmu kehilangan lidahnya saat menyebutkan namamu yang rumit itu. Dan satu lagi, kau memiliki wajah yang oriental dan tidak terlihat unsur kebarat-baratan sam sekali! Nama Chloe itu tidak terlalu cocok untukmu.”

Seakan bisa membaca pikiranku, ia menyahut dan meneruskan pendapatnya. Kulihat dirinya yang sedang duduk santai dikursi besarnya dengan tangan lihainya sedang mencorat-coretkan sesuatu lalu bisa menghasilkan sebuah gambaran desain baju yang menakjubkan. Hebat!

“Apa kau tidak tahu sudah berapa lama kau tinggal di Korea dan kau tidak pernah mengganti namamu menjadi sedikit lebih mudah. Ah, iya, adikmu itu juga. Siapa? Desy?”

Kekagumanku langsung buyar saat Kim Joon Myun –atasanku sekaligus pemilik gedung ini- menyebut asal nama adikku itu.

                Aih, merepotkan saja. “Daisy Cavendish.” Jawabku ketus dengan sedikit menampilkan raut wajah kesal. Seenaknya saja dia menyebut nama orang dengan sebutan yang tidak sesuai. Huh!

                “Ah iya terserahlah. Gantilah nama kalian menjadi nama pada umumnya masyarakat Korea. Seperti misalkan, Choi Hyo Na, atau Kang Yoo Bin, atau…”

Seakan baru diberi peringatan, dengan cepat aku memotong ucapan Joon Myun.             “Joon Myun-ssi, apakah baru saja seorang lelaki yang kutemui di depan pintu tadi adalah seorang pelanggan disini?”

Joon Myun hanya mengangkat sebelah alisnya. Dan tiba-tiba raut wajahnya berubah cerah.

“Hmm? Oh, si Jong In kah? Iya, dia memang pelanggan baru. Haha. Oh Ya Tuhan, desainku yang ber-deadline-kan besok belum jadi. Oh! Yang deadline nanti malam juga baru 80%. Oh, Miss CG, bisakah kau membantuku saat ini? Kita harus bekerja keras sebelum nantinya kita menyesal karena telah kehilangan satu sumber hidup kita.”

“Ne, sajangnim!” Ucapku semangat.

“Jangan panggil aku seperti itu! Panggil Joon Myun oppa!” sergah Joon Myun dengan cepat.

“Arraseo! Arraseo! Joon Myun oppa!” jawabku sedikit memaksa. Pantaskah ia kupanggil dengan sebutan ‘oppa’? Wajahnya saja terlihat sangat tua, menurutku.

“Nah, begitu dong, CG-ah.. Hehe.”

{{{{{{{{{{{{{{}}}}}}}}}}}}}}}}}

                Pria 20 tahunan terlihat sedang berjalan cepat. Bukan sekedar berjalan santai seperti tanpa tujuan, tapi lebih tepatnya sedang terburu-buru untuk menangani sesuatu yang entahlah, aku tidak terlalu memperdulikan. Namun, itu semua terlihat dari raut wajah si pria yang tajam saat aku melihatnya dari samping, earphone ditelinganya, dan mulutnya yang terus berbicara tanpa henti dengan orang diseberang teleponnya.

                “Tunggu 10 menit lagi. Tidak tetap jangan kau tutup telepon ini. Tak masalah aku bisa membelinya lagi. Ya! Sudahlah turuti saja apa kataku! Ya! Aish!”

                Kudengar kemarahannya yang diambang batas itu. Dengan cepat ia melepas earphonenya dan menyusupkan handphone hitamnya ke dalam tas hitam miliknya dengan kasar. Hahaha. Lucu juga orang ini. Aku yang juga sedang berjalan dibelakangnya terkikik pelan karena melihat kelakuannya yang menurutku kekanak-kanakan. Eits, tunggu dulu. Jangan salah paham. Aku tidak sedang menguntit pria itu, hanya saja mungkin tempat tujuan kami sejalan sehingga kami bisa berada pada jalur yang sama. Dia berjalan membelakangi aku yang sedang meminum coffee float di tangan kananku dan tangan kiriku sedang menjingjing pakaian yang belum rampung aku kerjakan di… errr gedung menyeramkan tempatku bekerja tadi.

                Tempat kerja…? Laki-laki itu! Sebenarnya siapa dia? Jong In? Sepertinya orang yang baik setelah kuingat kembali perkataannya saat mengagetkanku tadi. Jong In… Tuan Jong In…

                Sibuk memikirkan kembali tentang pria bernama Jong In itu, tak kusadari bahwa pria yang sedang berjalan di depanku tadi berhenti mendadak. Dan jelas saja aku yang tidak memandang ke depan lantas menubruk punggung pria itu. Coffee float yang baru setengah gelas kuminum tumpah membasahi jalanan dan meninggalkan warna bekas kecoklatan pada jas yang digunakan pria tadi.

                ‘Mampus! Baju pria itu basah dan kotor!’ pikirku kemudian.

                Pria yang menurutku ‘sedikit’ tua itu langsung membalikkan badannya dan membungkuk meminta maaf kepadaku. Sontak aku membelalakkan mataku karena terkejut. Wajahnya… kenapa imut sekali? Benarkah ia berumur 20 tahunan? Atau aku yang tidak pandai menebak sesuatu? Dan… sepertinya aku pernah melihat pria ini sebelumnya, tapi kapan? Wajahnya mirip dengan… oppa? Apakah ia adalah oppanya yang dulu?

                “Jwesonghabnida. Aku tidak sengaja.” Ucapnya dengan lembut.

                Aku tersentak dan langsung tersadar dari lamunanku. ‘Seperti bukan suara seorang pria dewasa’ pikirku kemudian. Wajahnya yang seperti bayi baru lahir, suaranya yang seperti seorang remaja belasan tahun, benar-benar mirip dengan oppa! Aku terus berfikir, mengerutkan alisku, dan menatap kosong jalanan dihadapanku bukan menatap pria yang sedang meminta maaf kepadaku.

 Karena melihat tingkahku yang aneh, lantas pria itu melambai-lambaikan tangannya serta mensejajarkan wajahnya terhadap wajahku.

                “Nona, apa anda sedang melamun? Aku tidak punya banyak waktu, apakah permintaan maafku kau terima?”

                ‘Chloe bodoh!’ pekikku kemudian dalam hati.

                “Ah, ye. Tidak seharusnya anda yang meminta maaf kepadaku, karena akulah yang membuat bajumu kotor terkena tumpahan minumanku. Apakah kau berkenan jika jas itu aku bersihkan? Rumahku tidak jauh dari sekitar sini, apa rumahmu—“

                Sejenak kuhentikan perkataanku yang kelewat batas. Mulutku benar-benar tidak bisa dikontrol jika sudah segugup ini. Menumpahkan minuman sehingga menyebabkan kotor pada pakaian orang lain yang belum dikenal, kepergok melamun, dan sekarang menawarkan sesuatu yang mungkin tidak seharusnya ditawarkan pada orang yang tidak dikenal. ‘Aish, kau terlalu bodoh saat ini, Gladstone!’

                Pria dihadapanku hanya melongo, lalu menggelengkan kepalanya. “Haha, tidak perlu, Nona. Biar kubersihkan sendiri pakaianku ini. Oh, aku sudah terlambat 15 menit. Silakan lanjutkan perjalanan anda.”

                Ia langkahkan kakinya menuju sebuah diskotik tepat disampingku saat ini. Oh, pantas mengapa ia berhenti mendadak baru saja. Ternyata tempat tujuannya hampir terlewat.

                “Ah, ahjussi! Kalau kotoran pada jasmu tidak bisa menghilang aku bersedia menggantinya!” teriakku spontan karena aku merasa masih tidak bertanggung jawab atas perbuatanku tadi. Kelihatannya jas itu mahal.

                Kulihat pria itu berhenti melangkah sejenak, lalu tak lama kemudian ia mengacungkan jempol kanannya, tanda ia mendengar ucapanku dan mengiyakan. Melihat itu aku hanya tersenyum dan segera menuju rumahku tersayang.

{{{{{{{{{{{{{{}}}}}}}}}}}}}}}}}

                “Bung, ditelepon kau bilang 10 menit, sekarang kenyataannya lebih dari 30 menit aku menunggu. Oh ayolah mulut memang terlalu mudah bertindak, sedangkan otak berkata lain. Lihatlah aku sudah menghabiskan tiga botol air mineral karena telah kebosanan menunggumu, Lu Han-ssi.”

                Pria yang raut wajahnya terlihat lebih tua dari seorang pria yang dipanggil Lu Han tadi membuka pembicaraan dengan sedikit penekanan pada akhir kalimat. Sepertinya ia merasa sedikit kesal karena telah dibiarkan menunggu terlalu lama.

                “Maafkan aku, Jong In-ah. Aku ada urusan penting tadi dan aku harap rasa ‘pantang menunggu’mu itu kau hilangkan dulu sejenak. Hehehe.” Jawab Lu Han seadanya. Sebenarnya Lu Han sudah tahu dari dulu bahwa temannya yang satu ini pantang dengan kata ‘menunggu’, namun apa bisa dibuat jika memang sebelumnya Lu Han mendapat urusan yang lebih penting daripada pertemuannya dengan lelaki yang ia panggil ‘Jong In’ itu.

                “Oh, iya apa kau barusaja dari gedung tua itu? Baju model apa yang telah kau pesan? Apa aku boleh melihatnya? Mungkin saja aku cocok dan bisa memesan desain jas yang lebih up to date dan tidak terlihat kuno.” Lanjut Lu Han dengan topik yang berbeda. Jong In memang suka membeli atau memesan baju limited edition atau model-model baju yang dirancang khusus dan tidak dijual dipasaran. Dan Lu Han tertarik akan hal itu.

                Bukannya menanggapi apa kata Lu Han, Jong In malah terlihat menyelidiki sesuatu yang terdapat pada diri Lu Han. Saat ia berhasil menemukan sesuatu yang aneh pada pakaian Lu Han, matanya langsung melebar.

                “O ow. Jas mahalmu itu sudah ternodai rupanya?” tanya Jong In enteng. “Seingatku kau pernah berkata apabila pakaian mahalmu ternodai kau bisa menangis meronta-ronta. Kau tak ingin melakukan hal itu sekarang?” goda Jong In yang terlihat sedang menahan tawa.

                Lu Han yang bingung harus menanggapi apa hanya mengangkat sebelah alisnya lalu langsung mengikuti arah pandang Jong In.

                “Ah~ Iya. Baru saja aku ditabrak oleh seseorang yang sedang membawa kopi dan yah kau tahu lah.” Jawab Lu Han dengan desahan pelan dan sedikit terdengar kecewa. Terang saja, jas yang ia gunakan ini adalah jas termahal yang pernah ia beli. Dan ia hanya akan memakai jas ini apabila ada suatu pertemuan yang benar-benar penting atau pertemuan yang menurutnya saja penting.

                Jong In hanya menganggukkan kepalanya pelan lalu menyeruput kembali air mineral dihadapannya.

                “Kau ingin mengembungkan perutmu, Tuan? Oh ayolah, ini diskotik dan bukan tempat penjualan air mineral. Kau bilang ingin menyakan sesuatu? Apa itu?”

                Belum sempat Lu Han menyelesaikan kalimatnya, dengan sigap Jong In merogoh saku celananya dan menyerahkan sebuah benda elektronik ke hadapan Lu Han.

                “Kau masih ingat ini?” tanya Jong In sambil terus meminum air mineralnya sampai habis dalam satu kali teguk. Lu Han segera mengambil benda itu dan menelisik serta memutar-mutar pelan benda mungil itu lalu tanpa sadar senyuman berkembang pada wajah Lu Han.

                “Te…tentu..” Jawab Lu Han sedikit ragu.

                Oh? Apakah ia benar-benar iangat akan benda itu?

                “Hahaha. Telepon genggammu itu konyol sekali! Sudah hampir tidak bisa terpakai dan lihatlah warnanya! Merah muda? Norak sekali. Kau yakin tidak ingin memperbaikinya dan menggunakannya lagi? Siapa tahu perempuan yang kau beri barang yang sama dengan milikmu itu menghubungimu lalu mengajakmu bertemu. Hmm? Mau sampai kapan kau menitipkan itu kepadaku?” cerocos Jong In cepat seperti telah mendapat  energi dari air mineral yang ia minum tadi.

Tiba-tiba perih terasa di perut Jong In. Mungkin akibat terlalu banyak minum air. Entah mengapa kelakuan Jong In terlihat aneh dimata Lu Han. Karena tidak mendapat tanggapan dari Lu Han, segera Jong In melanjutkan ucapannya sambil terus menekan-nekan perutnya yang mulai terasa lebih perih dari sebelumnya.

                “Aku…sudah bosan menyimpan dan me…lihat benda itu. Akh! Aku tidak tahan! Aku mau ke toilet dulu! Tunggu sebentar ya?”

                Lu Han langsung tersentak begitu Jong In berteriak dan melompat dari tempat duduknya menuju toilet di bagian belakang diskotik yang mereka tempati saat ini. Cengiran konyol terukir di wajah Lu Han melihat tingkah kerabatnya yang aneh itu. Sudah suka minum air mineral tak berasa dengan kuota yang banyak, bertingkah aneh pula. Ckckck. Lu Han hanya menggeleng pelan dan kembali memfokuskan pandangannya pada benda yang dipegangnya saat ini.

                “Apa kabar? Kenapa kau tidak menghubungiku? Dan kau tidak pernah mengangkat teleponku? Apa kau masih berada di negara ini? Ataukah engkau masih berada di panti itu? Jujur aku rindu padamu, dan sayangnya aku sudah lupa bagaimana rupamu…” Raut wajah Lu Han berubah sendu dan terlihat ingin menangis.

                “Lu Han-ssi? Benarkah itu anda?”

                Terdengar suara seorang wanita muda memanggil nama Lu Han dengan lembut sambil menepuk pelan pundak pria berumur 23 tahun itu. Lu Han segera menolehkan kepalanya dan menyimpan telepon genggam merah muda miliknya dengan menjejalkannya ke dalam saku celananya.

                “O! Sung Yeon-ssi! Apa kabar? Sedang apa anda disini? Oh maksudku kau disini ada acara atau sekadar bersenang-senang?” Tanya Lu Han ragu-ragu. Jujur,ia tidak terlalu akrab dengan kerabat wanita sekantornya yang satu ini.

                Ya, Lu Han saat ini sedang menjabat sebagai CEO toko elektronik di Amerika, namun ia dipindah tugaskan ke Korea, karena ia sendiri yang memintanya. Ia sudah terlalu bosan berada di Amerika sana. Sudah hampir 7 tahun ia menetap disana, belajar bagaimana menjadi seorang pekerja kantoran dari sang kakek dan lain sebagainya. Ia benar-benar rindu akan Negara yang sangat ia cintai ini. Dan sekarang permohonannya terkabulkan.

                “Ye? Hmm, sebenarnya aku ada acara bertemu dengan seseorang, namun sepertinya ia tidak datang.” Jawab Sung Yeon singkat sambil mengidikkan bahunya.

                Mendengar jawaban itu, Lu Han hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil berpikir, berusaha untuk mencari topik yang dapat ia bahas bersama dengan kerabat kerjanya ini. Selama yang Lu Han ketahui, Sung Yeon yang bermarga Kim ini sedikit pemalu dan lebih suka untuk berdiam diri dan Lu Han sendiri sebenarnya anti dengan orang pendiam, karena menurutnya orang yang pendiam itu membosankan, ya seperti sekarang ini.

                “Maaf kau telah menunggu lama- Hei siapa dia?”

                Jong In tiba-tiba datang sambil membenahi pakaiannya yang masih belum teratur sempurna. Seketika itu juga, Lu Han dan Sung Yeon menolehkan kepalanya nyaris bersamaan.

                “Eo? Tidak masalah Jong In-ah. Oh ya, perkenalkan dia adalah Kim Sung Yeon, kerabat kerjaku di kantor tempatku bekerja. Dan Sung Yeon-ssi, perkenalkan dia adalah teman dekatku yang sudah kuanggap adikku sendiri, namanya Jong In.”

                Setelah Lu Han berkata seperti itu, Jong In hanya bisa tersenyum datar dan mencoba untuk berjabat tangan dengan Sung Yeon. Dengan malu-malu, Sung Yeon menyambut jabatan Jong In.

                “Kim Jong In ibnida. Bangapseubnida.”

                “Ne. Kim Sung Yeon ibnida. Nado bangapseubnida.”

                Setelah sesi perjabatan tangan itu berakhir, keheningan menghapiri ketiganya. Meski musik diskotik itu terus berdentum keras, namun kesunyian diantara Jong In, Lu Han, dan Sung Yeon masih terasa dan itu membuat Lu Han geli.

                “Mmm, Sung Yeon-ssi, apakah ini tidak terlalu larut bagi seorang wanita seperti anda untuk  masih berada ditempat seperti ini? Apa perlu aku mengantarmu pulang?”

                Sung Yeon tersentak mendengar penawaran tiba-tiba dari Lu Han. Begitupun Jong In.

                “Jangan bilang menggunakan mobilku, Lu Han hyung.” Sela Jong In dengan nada tidak rela. Jong In yang datang lebih dulu ke diskotik ini memang menggunakan mobil Tucuxi keluaran terbaru kesayangannya, dan Lu Han datang dengan berjalan kaki.

                Lantas Sung Yeon menggerakkan tangannya dengan maksud menolak halus tawaran Lu Han yang disambut senyuman tipis dari Jong In.

                “Tidak perlu, Lu Han-ssi. Kakakku akan menjemput 15 menit lagi. Terimakasih telah menawarkan tumpangan untukku.” Sung Yeon menjawab dengan sangat sopan. Wajahnya yang sedikit tirus dan matanya yang belo membuatnya sedikit terlihat seperti perempuan yang ringkih. Apalagi pemalu, benar-benar tepat apabila ia terlihat lemah dihadapan orang lain.

                Tiba-tiba terdengar dering telepon dan itu berasal dari tas milik Sung Yeon. “Ah, sepertinya kakakku sudah datang menjemput. Aku permisi dulu.” Pamit Sung Yeon dengan suara yang halus dan penuh kelembutan. Lu Han sendiri merasakan bulu kuduknya berdiri setiap ia mendengar suara Sung Yeon, dan ia yakin orang lain akan merasakan hal itu juga.

                “Oh, ne Sung Yeon-ssi. Tolong sampaikan salamku padanya, ya. Siapa  nama kakakmu? Kim… Joon Myun?” Jawab Lu Han, menanggapi salam pamit dari Sung Yeon.

                “Ye, Lu Han-ssi. Pasti akan aku sampaikan. Baiklah, sampai jumpa Lu Han-ssi, Jong In-ssi.”

                Pamit Sung Yeon sekali lagi sambil membungkukkan badannya dan dibalas bungkuk oleh Lu Han beserta Jong In. Setelah menatap kepergian Sung Yeon, Jong In langsung menatap Lu Han dengan raut wajah penasaran.

                “Lu Han hyung, dia… adik Kim Joon Myun? Sang desainer?”

                Lu Han lantas tersenyum, “Ya, sang desainer dan pemilik gedung yang kau kunjungi tadi sebelum kau berkunjung ke diskotik ini. Dan dia adalah tipe wanita pemalu, pendiam, dan menurutku itu membosankan…” Jelas Lu Han tanpa diminta.

                “Tapi sepertinya ia baik, Hyung…” timpal Jong In pelan.

{{{{{{{{{{{{{{}}}}}}}}}}}}}}}}}

                Ruang kamar tidur bernuansakan warna putih tulang itu terlihat sempit dan berantakan. Kain-kain perca berserakan dimana-mana, berlembar-lembar gambaran desain baju yang unik bertebaran tidak karuan. Itulah keadaan yang terlihat di dalam kamar seorang Chloe Gladstone, saat ini. Sudah hampir lewat tengah malam Chloe masih berkutat dengan laptopnya. Ia bingung, mana dulu pekerjaan yang harus ia selesaikan. Saat di universitas tadi siang ia mendapat tugas untuk membuat laporan hasil surveynya bersama dengan teman kuliahnya, dan ditambah lagi dengan tugas dari Kim Joon Myun –sang desainer handal- untuk membuat desain baju yang telah dipesan oleh pelanggan-pelanggan baru dengan deadline satu minggu dari sekarang. Raut wajah Chloe sudah mulai terlihat acak-acakan. Matanya sedikit bengkak, dan sudah tidak dapat dihitung lagi berapa kali ia menguap.

                “Oh? Jam berapa ini?”

                Ia lirik jam pada layar laptopnya lalu membelalakkan matanya yang barusaja akan menutup itu. “Hah? Benarkah saat ini sudah pukul 00.00?” Ia tolehkan segera kepalanya untuk mencocokkan jam yang ada pada laptopnya dengan jam dinding kamarnya. Keduanya menunjukkan waktu yang sama. Dengan lemas ia rapikan segala pekerjaannya yang berserakan di dalam kamarnya lalu mematikan laptopnya yang sudah beroperasi hampir selama 3 jam dan dilanjutkan dengan ajang membersihkan wajah, menyikat gigi, lalu bergegas tidur.

                Ia rebahkan tubuhnya yang sudah tidak kuat lagi untuk berdiri itu dengan perlahan. Telepon genggam pemberian ‘oppa’ masa lalunya itu masih tetap berada disamping bantal kasurnya sedari tadi semenjak ia pulang dari tempat kerjanya. Sebelum ia bermimpi, ia raih telepon genggam itu dan menekan tombol buka kunci yang ada pada keypad teleponnya. Ia buka bagian contact dan disitulah tertera berbagai nama, salah satunya adalah nama ‘oppa’nya yang tega meninggalkannya dahulu. Ia lihat nomornya, sedikit keinginan untuk menghubungi nomor  itu namun dengan cepat ia hilangkan rasa itu. Tanpa sadar ia kembali teringat saat tadi ia menabrak seorang pria yang menurutnya sangat mirip dengan ‘oppa’nya.

                “Siapakah nama pria itu? Dia benar-benar mirip dengannya. Tapi apa mungkin? Atau mungkinkah pria itu adalah saudara kembarnya? Ah, itu terlalu mengkhayal dan konyol sekali! Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu Chloe Gladstone! Haha.” gumam Chloe terhadap diri sendiri. Belum sempat ia melanjutkan berpikir, mimpinya sudah datang mendahului dan mengajaknya berkeliling dunia tanpa batas.

TBC

                Bagaimana readerdeul? Hahaha. Saya harap kalian bisa terhibur ya. Jangan lupa komentarnya. Saya sangat butuh komentar, saran, serta kritik untuk FF ini, ya supaya saya bisa membuat yang lebih baik. Terima kasih  *bow

23 responses to “CALL ME MAYBE? (Prolog + Bagian 1)

  1. Pingback: Every Time Alone (2nd Shoot) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s