Love in Love (Prolog)

Title: [Prolog] Love in Love

Author: hyeri

Cast:

  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Lee Taemin as Kim Taemin (SHINee)
  • Choi Sin Ya

Support Cast: find it!

Genre: I don’t know this genre ;A; but romance is included. HAHA

Rating: T or General

Length: Long Prolog

Disclaimer: Kesamaan nama tokoh atau apapun yang menyakut fanfic ini bukanlah suatu kesengajaan. Cast bias milik Tuhan, kecuali OC. Plot/alur/cerita hanya milikku seorang. Ini semua adalah rangkaian imajinasi yang ku tuangkan melalui kata per kata dalam tulisan. DON’T BE PLAGIATOR!

***

Love in Love.

Seorang gadis kecil nan imut tengah memperhatikan sosoknya dengan gaun pink yang lembut pada pantulan cermin besar yang sepadan dengan tinggi badannya. Wajahnya yang lucu dan imut mampu membuat para orang tua atau mungkin orang-orang di sekitarnya mampir mendekatinya untuk sekedar mencubit pipi chubby miliknya. Bando pita dengan warna senada, ia pakaikan sendiri dengan perlahan sambil memperlihatkan tingkahnya yang menggemaskan. Jelas saja, dia baru berusia delapan tahun.

Senyum malaikatnya terukir di saat kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar kecilnya.  Ayahnya menunduk untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan anaknya ini, ia belai pelan rambut hitam anaknya dan memasang wajah bangga.

“Choi Sin Ya, kau sudah siap?” tanya seorang wanita—bisa dipastikan umurnya sudah menginjak kepala tiga—yang ikut berjongkok di samping suaminya. Dia adalah Ibu dari gadis kecil bernama Choi Sin Ya.

Gadis kecil bernama Sin Ya itu pun mengangguk malu sambil berdehem kecil yang terdengar lucu. Orang tuanya pun tersenyum senang dan kembali berdiri lagi, lalu membopong tas kecil milik Sin Ya—yang tergeletak di atas kasur—seraya pergi keluar bersama Sin Ya.

Ternyata di ruang tengah keluarga Choi ini, telah siap dua koper dengan size cukup besar untuk orang dewasa dan satu koper kecil untuk anak-anak. Semuanya tersusun rapi terjejer seperti siap untuk dibawa pergi.

“Eomma, Appa, kita mau ke mana?” tanya Sin Yan sambil mendongak ke arah kedua orangtuanya. Ayahnya pun berjongkok berusaha menjelaskan sesuatu kepada Sin Ya.

“Sin Ya sayang, Appa sama Eomma mau pergi ke luar lagi… Kamu sama bibi dan paman, ya?” jawab Ayahnya dengan tenang sambil mengusap pelan rambut Sin Ya.

Sin Ya terdiam sejenak, “Terus kenapa membawa tas besar ini? Nanti, Sin Ya sekolahnya diantar siapa? Eomma sama Appa nanti pulang, kan? Nanti kita kembali ke rumah, kan? Iya, kan?” tanya Sin Ya dengan tak sabar dan penasaran. Wajar saja seorang anak kecil banyak tanya, tak ada salahnya, kan?

Kali ini Ibunya-lah yang mengambil alih menjawabnya, “Iya sayang, Eomma sama Appa mau pergi kerja. Nanti pulangnya pasti Eomma bawakan banyak Ice Cream sama boneka baru? Mau ya? Nanti selama Eomma Appa pergi, kamu sama bibi Ga In. Di sana kan ada banyak teman, banyak salju lagi! Bisa mainan sepuasnya.” jelasnya panjang lebar.

“Aku gak mau Ice Cream sama boneka. Aku mau nanti Eomma dan Appa kembali.”

Kedua orang tuanya tersenyum bangga sekaligus terharu. Karena apa? Gadis kecil berusia delapan tahun saja sudah pandai bicara, berharap besarnya nanti dia akan menjadi seorang talkative yang beguna untuk banyak orang. Namun Sin Ya sepertinya cukup pintar, ia tidak menginginkan Ice Cream. Karena saat orang tuanya kembali, Ice Cream-nya pasti akan mencair dan terasa berbeda. Ok, dia memang gadis yang cukup pintar.

“Ayo kita pergi sekarang! Cha! Semangaatt!”

Sin Ya dan orangtuanya kini telah siap di dalam mobil mewah lengkap membawa koper-koper milik mereka semua. Mobil mewah ini melaju cukup kencang, tapi tenang saja, ini tidak berbahaya atau jangan berpikir di tengah jalan tiba-tiba terjadi kecelakaan karena kecepatan yang hampir 80 km/jam ini.

Di perjalanan menuju rumah bibi Ga In yang tidak lain adalah adik dari Ayah Sin Ya, Sin Ya dengan santai melihat ke arah keluar dari balik jendela kaca mobilnya. Ia memandangi satu persatu pohon penghijau di pinggir jalan yang diselimuti oleh butiran-butiran salju halus yang memang datang di saat musim dingin seperti sekarang ini.

Karena bosan, Sin Ya pun memutuskan untuk mengambil cemilan kesukaannya di kotak yang khusus disediakan untuk makanan ringan di dalam mobilnya tersebut. Candy atau permen! Ah, Sin Ya sangat menyukainya, tanpa pikir panjang ia sekarang telah mengemut permen atau lolipop manisnya tersebut.

“Sin Ya, jangan terus-menerus makan lolipop, perhatikan gigimu itu.”

Dengan cepat Sin Ya melepaskan emutan lolipop dari mulutnya karena mendengar peringatan panas dari Ibunya. Sudah bukan kebiasaan lagi Ibunya selalu menegur Sin Ya jikalau tertangkap basah sedang asyik memakan permen.

“Iya, Eomma.” jawab Sin Ya lesu.

***

Perjalanan panjang dari Seoul menuju Busan memakan waktu kurang lebih 2 jam, sehingga kini Sin Ya tengah terlelap tidur di jok tengah mobilnya.

Kini mobil keluarga Choi telah terparkir di depan sebuah rumah tradisional namun juga mempunyai unsur perpaduan dengan arsitek modern. Rumah yang sempurna. Ayah Sin Ya langsung keluar dan membuka bagasi belakang mobil untuk mengeluarkan koper kecil milik Sin Ya. Sementara itu, istrinya kebagian untuk membagunkan si kecil Sin Ya yang masih terpulas tidur.

“Sin Yaaaa, bangun. Sudah sampai, ayo bangun.”

Dengan setengah sadar Sin Ya mengusap matanya sambil menguap kecil. Wajahnya terlihat lucu sekali sekarang!

“Eugh, ini di rumah bibi Ga In?” tanyanya pelan.

“Iya, cha! Ayo cepat bangun, bibi Ga In telah menunggu. Ayo, ayo!” jawab Ibunya sambil mengusap pelan ubun-ubun Sin Ya.

Pada akhirnya, setelah mungkin memakan waktu sekitar 3 menit, Sin Ya pun keluar dari mobilnya bersama Ibunya tercinta. Memang butuh tenaga ekstra dan kesabaran untuk membangunkan Sin Ya ini.

Sementara di dalam rumah Choi Ga In, seorang anak laki-laki berambut hitam berantakan menatap tajam ke arah datangnya mobil asing dari atas jendela kamarnya. Ia bisa melihat jelas keberadaan keluarga kecil Sin Ya yang datang dan Ayah Sin Ya yang tidak lain adalah Pamannya masuk terdahulu ke dalam rumahnya.

Bibirnya berdecak pelan pertanda risih dengan kedatangan mereka. Tentu saja, karena dia memang tidak terlalu suka orang-orang asing sekalipun keluarganya masuk ke dalam areanya. Ok, mungkin yang dimaksud area di sini adalah rumahnya sendiri yang notabene-nya juga rumah keluarga besar Kim—keluarganya sendiri.

Di sisi lain, seorang anak laki-laki berambut yang agak sedikit pirang muncul dari belakang. Lebih tepatnya, dia baru saja bangun dari tidurnya—walau sekarang bukanlah jam tidur—yang nyenyak. Ia mengusap pelan mata kanannya dan melihat ke arah jendela yang saudara kembarnya sedari tadi pandang.

“Ada apa?” ucapnya pelan.

“AAAA! Kau mengagetkan ku saja, Taemin-ah!” bentak anak laki-laki berambut hitam ini.

“Kenapa sih? Ada apa di luar?” Anak berambut pirang itu pun atau mungkin lebih tepatnya dipanggil Taemin, menengok ke arah luar jendela dan melihat ke arah pandangan saudara kembarnya ini.

Taemin terbelalak dan langsung terbangun dari tidurnya—oke, dia baru saja bangun tidur—seakan baru meminum minuman energi untuk orang dewasa yang langsung menyegarkan kedua matanya.

“Kyaaa! Ada tamu! Kai! Kai! Ayo, kita turun ke bawaaahh!”

Taemin menarik ujung kaos lengan panjang milik saudara kembarnya itu—Kai. Dia seperti sedang merengek meminta jajan, sibuk menarik-narik baju saudara kembarnya. Kai pun gusar dengan kelakuan Taemin, ia melepas paksa tarikan Taemin lalu berdecak kesal.

“Kau turun saja sendiri, aku sedang ingin di kamar.” ucapnya dingin.

“Apa benar, Kai tidak ingin ke bawah? Jika nanti mereka membawa apel manis dan memberikannya kepadaku, jangan iri ya.”

Kata ‘apel’ yang baru saja diucap Taemin membuat kepala Kai panas. Bagaimana tidak? Kai adalah seorang yang sangat-sangat-sangat menyukai buah apel. Buah yang terkadang berbentuk bulat sempurna dengan warna yang merah atau hijau kekuningan itu mampu memikat indera pengecap Kai.

“Aish! Taemin-ahh!!” teriak Kai kesal, namun disusul dengan tawa kecil dari Taemin.

Belum puas Kai menatap tajam Taemin, Ibu mereka atau lebih tepatnya Nyonya Kim Ga In memanggil keras mereka berdua.

“Taemin! Jong In! Cepatlah turun! Jangan lupa ganti baju kalian yang lebih rapi!” teriak Ibu mereka dengan kencang. Kai pun memutar kedua bola matanya lalu menatap ke arah Taemin.

“Cepatlah kau ganti baju. Terlalu banyak liur di bajumu itu!” kata Kai sambil menyarankan.

Belum sempat Taemin melangkah untuk bergegas mengganti baju, suara teriakan Ibunya kembali menyambar telinga Kai dan Taemin.

“Jong In! Jangan di dalam kamar saja! Ikutlah turun! Taemin, seret saja Kai jika ia tidak mau!”

Tawa Taemin pun keluar dengan begitu saja. Sedangkan Kai seperti marah, kesal sekaligus malu. Lagi-lagi ia berdecak kesal sambil melewati Taemin lalu keluar dari kamar mereka dan duduk di atas tangga turun—menunggu Taemin.

Selesai berganti baju, Taemin pun keluar dengan pakaiannya yang bukan lagi piyama.  Ia duduk di samping saudara kembarnya, Kai. Ia melihat ekspresi Kai yang dari dulu hingga sekarang tak pernah berubah. Selalu saja dingin dan kecut atau cuek dengan sekitarnya. Seperti suatu keajaiban saat Taemin melihat Kai tertawa pulas. Yah, mungkin itu sepertinya akan datang setiap setahun sekali. Itupun kalau terjadi.

“Jonginnie,” panggil Taemin. Kai masih saja tidak menatap atau menoleh sekalipun ke arah Taemin.

“Kau ini terlalu dingin, kau tau itu?” Taemin melanjutkan perkataannya. Diikuti Kai yang akhirnya menoleh ke samping kiri—tempat Taemin berada.

“Jika kau selalu dingin seperti ini, kau akan susah mendapatkan jodoh!” kata Taemin.

Kai pun tertawa renyah sambil mengadahkan kepalanya ke atas lalu menengok Taemin. “Sepertinya saudaraku ini terlalu banyak menonton drama. Haha.” Taemin langsug mengerucutkan bibirnya ke depan saat mendengar penyataan Kai tadi.

Hening.

Sampai akhirnya Ibu mereka naik ke lantai atas, lalu bertemu anak-anaknya yang lucu tengah duduk di ujung tangga.

“Kalian sedang apa di sini? Membicarakan sesuatu? Ayo, turun ke bawah. Paman Jong Ki sudah datang. Ia datang bersama bibi Gyu Ri dan anaknya yang cantik, lho. Ayo, turun.” ajak Ibu Taemin dan Kai. Namun tidak ada reaksi dari mereka, kecuali mungkin Taemin yang sedikit excited dengan kedatangan keluarga Sin Ya.

Taemin pun menarik pelan ujung lengan Kai untuk memberikan ajakan ke bawah. Taemin sebenarnya mau turun ke bawah. Namun, apa daya kalau dia hanya sendiri turun ke bawah, sedangkan saudara kembarnya tidak mau? Taemin merasa seperti Kai adalah bagian dari jiwanya saja. Namun, Kai hanya menanggapinya dengan gelengan kecil.

Melihat tanggapan dari Kai, Ibu mereka hanya bisa menggeleng kecil lalu mulai meninggalkan mereka. Namun sebelum itu, ia berbalik dan berbisik, “Sepertinya tadi Ibu lihat ada buah apel yang dibawa Paman ke sini. Ya sudah kalau tidak ada yang mau, Ibu berikan orang lain saja.”

Lalu ia pergi.

Apel.

Apel.

Apel.

Pikiran Kai kini penuh dengan buah Apel. Taemin pun tersenyum simpul mendengar perkataan Ibunya tadi. Ia mengerti, pasti perkataan tadi tertuju untuk Kai.

Kai pun menelan ludahnya berat dan bingung memilih untuk tetap berada di lantai atas—tidak bertemu dengan keluarga Sin Ya—atau bisa memakan apel sepuasnya?

“Errr…” Kai pun akhirnya mengeluarkan suara dari mulutnya.

“Iya, Kai? Ada apa?” tanya Taemin setelah mendengar suara Kai tadi.

Karena lama Kai tidak menjawab, Taemin pun memutuskan mengambil sesuatu dari kantung celananya.

Lolipop.

Ia buka kemasannya lalu mengemutnya dengan penuh perasaan. Wajahnya sangat lucu saat memakan lolipop ini. Pipinya yang tidak terlalu chubby bergerak mengikuti alur lidahnya bergerak mengemut lolipop tersebut.

“Kau mau lolipop?” tawar Taemin sambil memberikan lolipop satu lagi dari kantung celananya kepada Kai.

Kai menggeleng cepat, karena pada dasarnya ia tidak menyukai lolipop yang terlalu manis itu.

“Err… Taemin-ah, ayo kita ke bawah,”

Setelah lama menunggu lanjutan perkataan Kai, akhirnya Kai memutuskan untuk turun ke bawah. Taemin pun senang dan secara refleks menepuk kedua tangannya. Seperti baru saja senang mendengar orang yang mati suri akhirnya hidup kembali.

“Setelah mendapatkan apel, aku akan naik ke atas lagi.” kata Kai yang hampir menyerupai bisikan.

Seakan terasa baru terbang melewati awan dan hampir mencapai puncaknya, lalu dengan jentikan tangan saja jatuh ke bumi kembali tanpa gaya gravitasi. Itulah yang dirasakan Taemin sekarang saat mendengar ucapan Kai. Oh ayolah, hanya demi apel?

***

“Ga In! Bagaimana kabarmu?” sapa Choi Jong Ki—ayah Sin Ya—kepada adiknya yaitu Kim Ga In sambil memberikan pelukan hangat.

Pasti kalian bertanya-tanya kenapa marganya berbeda? Bukan, bukan karena mereka saudara tiri atau beda orangtua. Namun, suami dari Choi Ga In adalah Kim Tae Woo, yang secara otomatis marganya akan berubah mengikuti sang suami, begitu pula kepada nama-nama anaknya. Kim Jong In dan Kim Tae Min.

“Aku baik-baik saja, oppa.” jawab Ga In lembut.

Choi Jong Ki pun beralih kepada suami Ga In bernama Kim Tae Woo, bersapa layaknya kepada seorang saudara lelaki, “Bagaimana kabarmu juga?”

“Aku baik juga, hyung.” jawabnya sambil membalas jabatan tangan Jong Ki.

Diiringi pula oleh Choi Gyu Ri—Ibu Sin Ya—menyalami dan menyapa Ga In dengan Tae Woo.

Pertemuan antara keluarga ini sangatlah hangat. Mereka berkumpul di ruang tengah sambil berbincang-bincang mengenai berbagai topik. Dari bagaimana mereka mengurusi anak hingga soal pekerjaan.

Berbeda dengan Sin Ya yang tidak tahu apa-apa, ia hanya terduduk manis di samping Ibunya. Ia seperti orang asing di sini. Tak ada mainan, tak ada makanan manis yang biasa ia makan, tak ada boneka dan satu lagi tak ada teman yang seumuran dengannya.

“Ha, sebentar. Yeobo-ah, di mana Jong In dan Taemin?” tanya Tae Woo kepada istrinya. Ga In pun berdehem dan wajahnya terlihat kesal karena sedari tadi ia mencoba memanggil kedua anak kembarnya untuk turun dan berkumpul saja susah sekali.

“Ah, sebentar ya,” kata Ga In.

Ia pun bersiap-siap untuk berteriak yang kencang mungkin akan memberikan efek kepada telinga yang mendengar teriakannya, “Hm, hm. JONG I—”

“Kami di sini, Eomma.” Belum sempat Ga In menyelesaikan kalimat teriakkannya, Kai dan Taemin telah siap berdiri di sampingnya sekarang.

“Oh, kalian sudah di sini? Err, sejak kapan? Ya sudah, ayo beri sapa kepada Paman dan lainnya.” kata Ga In. Sebelum Kai membuka mulutnya untuk berbicara, Sin Ya terlihat kaget dan langsung saja berkata, “Hah? Eomma, ada dua orang yang wajahnya sama di depanku? Mereka satu orang? Atau salah satu dari mereka adalah hantu?”

Ibu Sin Ya pun tertawa dan diikuti oleh anggota keluarga lainnya kecuali Sin Ya, Taemin dan Kai.

“Sin Ya sayang, mereka ini saudara kembar. Bukan satu orang ataupun hantu. Kau ini, haha.” jelas Ibunya. Sin Ya pun menggangguk dan menaruh kembali jari telunjuk yang ia pakai tadi untuk menujuk ke arah Taemin dan Kai. Sementara itu, Kai berdecak kecil pertanda kesal dengan perkataan Sin Ya. Hm, mungkin Sin Ya harus mengetahui bahwa Kai susah bersosialisasi.

“Biar bibi yang jelaskan,” Ibu Taemin dan Kai pun ikut bicara sambil menahan tawanya.

Ia memegang puncak kepala Kai lalu berkata, “Ini namanya Kim jong In. Orang-orang biasanya memanggil Kai. Kau boleh memanggilnya apapun. Sedangkan ini,” ia lalu berpindah memegang puncak kepala Taemin dan melanjutkan, “adalah Kim Taemin. Panggilannya bisa Taemin, Minnie, atau lainnya. Mereka ini saudara kembar. Jadi karena itulah, wajah mereka hampir mirip atau mungkin malah terlihat sangat sama? Namun Kai lahir 3 menit lebih awal dari Taemin, haha. Mereka ini oppa-mu, mereka beda 1 tahun dengan mu, Sin Yaaa.”

Sin Ya pun mengangguk paham sambil menunjukkan senyum manisnya. Melihat itu, senyum Taemin pun mengembang. Entah bagaimana bisa, Taemin tiba-tiba tersenyum melihat senyuman manis dari seorang gadis? Hey, dia baru berumur sembilan tahun.

“Baiklah, kalau begitu. Sin Ya, mainlah bersama Taemin dan Kai, ya. Eomma dan Appa ingin berbicara sebentar dengan Paman dan Bibi. Kalian bermain saja, tapi ingat jangan keluar, di luar sangat dingin.” kata Ibu Sin Ya. Sin Ya pun hanya bisa menuruti apa kata Ibunya dan langsung berdiri. Dia memang seorang anak yang penurut.

“Jong In, Taemin, bermainlah di kamar kalian atau di lantai atas. Eomma dan Appa ingin berbicara sebentar dengan Paman dan Bibi, ya? Kalian jangan berisik.” Begitu pula yang dikatakan oleh Ga In kepada Taemin dan Kai.

Taemin langsung terkesiap dan tersenyum cerah saat mendengar bisa bersama Sin Ya. Berbeda dengan Taemin, Kai justru kelihatan tidak suka. Namun apa daya, mereka harus tetap mengikuti perintah Ibunya.

Ga In pun mendorong pelan Taemin dan Kai untuk naik ke lantai atas dengan main-main dan diikuti oleh langkah kaki Sin Ya. Namun sebelum itu, Kai langsung berbalik dan berkata dengan bingung, “Tidak ada apel? Eomma bilang ada apel!”

Mendengar itu, Ga In hanya melihat ke sekitar dan berkata, “Hehe, nanti Eomma belikan besok. Ayo, sekarang kalian semua naik ke atas,” jawabnya. Kai pun geram dan menghentakan kakinya berulang kali dengan keras, “Eommmaaaa!!!!”

Setelah semua anak-anak telah naik ke lantai atas lebih tepatnya kini mereka aman di dalam kamar milik Taemin dan Kai. Sementara itu, Ga In menuju ke arah dapur, membuatkan beberapa teh hangat sekedar untuk menghangatkan dan menyegarkan tubuh. Ia kembali sambil membawa mampan dengan empat buah teh hangat khas Korea ke ruang tengah. Memberikan satu persatu teh yang ia buat lalu duduk di samping suaminya.

“Apa ada masalah yang perlu kita bicarakan?”

***

Hening.

Tak satupun yang memulai permainan mereka duluan.

Kai sibuk dengan bola sepaknya yang ia mainkan dengan kedua kakinya.

Taemin sibuk dengan terus berdiam diri, bingung harus berbuat apa.

Dan Sin Ya yang sibuk dengan memperhatikan kedua sepatunya.

Apa kamar ini tidak ada hawa-hawa manusia hidup?

Sin Ya baru pertama kali masuk ke dalam kamar laki-laki dan ia sepertinya harus berbaur dengan banyaknya poster-poster pemain bola internasional maupun nasional yang terpajang jelas di sekeliling kamar Taemin dan Kai.

Ranjang yang berukuran cukup untuk dua orang, warna dinding yang hampir tidak terlihat karena poster-poster, meja belajar yang penuh dengan buku dan beberapa jaket yang berserakan di lantai. Jelas saja, ini adalah kamar laki-laki.

Hening.

“Kalau begitu, aku ingin ke bawah dulu.” sergah Kai karena tak tahan dengan keheningan. Taemin pun mengangguk, sementara Sin Ya hanya bisa terdiam.

Kai berjalan pergi melewati anak tangga dan langsung menuju dapur. Hey, sepertinya dia sedang mencari sesuatu.

Selepas Kai pergi dan meninggalkan Taemin dan Sin Ya. Sekarang tinggalah mereka berdua di dalam ruangan sepi dan hening. Taemin menatap—atau lebih tepatnya mencuri-curi pandangan—ke arah Sin Ya. Menyadari itu, jelas saja Sin Ya merasa risih. Baru pertama kalinya ia satu ruangan dengan anak lelaki. Oh, yang benar saja.

Taemin yang sejak awal memang sangat antusias terhadap kedatangan Sin Ya dan keluarganya kini memberanikan diri untuk membuka suara, “Aku… aku… hm―”

Terpotong. Lebih tepatnya, Taemin gugup atau mungkin lupa ingin berbicara apa?

Ia pun segera tersadar lalu mengambil permen lolipop-nya dari saku celana, lalu memperlihatkannya kepada Sin Ya, “kau mau lolipop?”. Wajah Sin Ya langsung sumringah tak kala sekarang di hadapannya ada jajanan manis kesukaannya. Tanpa pikir panjang, ia pun mengangguk dan mengambil lolipop manis itu dari tangan Taemin. Tanpa memperdulikan ocehan Eomma-nya nanti jika tahu bahwa dia sekarang tengah kencan berdua dengan permen lolipop.

Serasa seperti telah membuka pintu surga dan hendak memasuki untuk melihat ke dalamnya, Taemin merasa ia telah ‘mulai’ akrab dengan Sin Ya. Ok, walau hanya ‘mulai’. Taemin mulai merasakan rileks di sekujur tubuhnya, ia sekarang sudah mulai terbiasa mengobrol dengan Sin Ya.

“Kau tidak kedinginan? Kau memakai gaun seperti itu? … Butuh selimut?” ucap Taemin pelan sambil mencoba mengambil selimut barunya di dalam lemari.

Sin Ya memang sedari tadi merasakan kedinginan. Jelas saja, di musim dingin seperti ini is masih saja suka menggunakan gaun. Tapi memang ia sangat menyukai gaun, apalagi yang hanya sebatas lututnya, lalu dipadukan dengan sepatu dan kaos kaki panjang yang hangat. Terlihat tidak matching memang, tapi ia suka.

Sin Ya menggeleng pelan, lalu dengan sekejap Taemin menyelimuti pundak Sin Ya dengan selimut barunya. Merapikan setiap ujung selimutnya dan berusaha menutupi setengah badan Sin Ya.

Sin Ya hanya bisa diam terlarut dengan perlakuan manis Taemin. Ia juga ikut tersenyum sambil mempererat dekapan selimut milik Taemin.

***

Apel, di mana kau.., batin Kai.

Ternyata buah apel. Hanya sebuah apel. Ok, then.

Kai terus mencari di setiap sudut kulkasnya ataupun meja makan keluarga Kim. Namun ia tidak mendapatkan satupun batang hidung dari apel tersebut. Sebentar, sejak kapan apel mempunyai hidung? Kembali ke Kai, dia akhirnya putus asa dan juga tanpa sengaja melewati ruang keluarga di mana orang tuanya dan orang tua dari Sin Ya tengah membicarakan sesuatu. Naluri Kai untuk menguping akhirnya datang, ia sengaja berhenti tepat di samping dinding pembatas ruangan dan bisa mendengar jelas apa yang para orang dewasa itu bicarakan.

***

“Jadi begitu? Lalu Sin Ya akan kalian titipkan di sini sampai kapan?” tanya Kim Ga In setelah mendengar penjelasan dari orangtua Sin Ya—Choi Jong Ki dan Choi Gyu Ri.

Choi Jong Ki atau tidak lain adalah Ayah Sin Ya menghela napas berat, “Mungkin sekitar 3 bulan?”

Mata Kim Ga In beserta suaminya pun membulat sempurna. Tiga bulan? Hey, mereka ingin menitipkan anak atau ingin membuangnya?

“Tapi, bukankah itu adalah waktu yang cukup lama untuk seorang anak berumur delapan tahun ditinggal oleh kedua orangtuanya?” timpal pertanyaan dari Ga In.

Kedua orangtua Sin Ya saling menatap lama berusaha menguatkan pendirian mereka lalu menjawab, “Namun ini demi pekerjaan yang sudah lama kita impikan. Saham keluarga kita akan dibeli oleh Perusahaan Jepang yang terkenal. Ga In-ah, ini kan cita-cita Appa. Kau lupa? Demi Perusahaan Keluarga Choi.” jelas Jong Ki. Ga In dan Tae Woo pun menghelakan napasnya, bagaimana pun juga memang benar, ini semua impian dari Appa mereka terutama untuk Appa Ga In.

“Ta- tapi-“

“Bagaimana?” Belum sempat Ga In berkata, kakaknya ini lebih dahulu memotongnya.

“Kami selalu terbuka dan menyambut untuk Sin Ya, namun yang kutakutkan adalah bagaimana perasaan dan mental Sin Ya jika ditinggal tiga bulan oleh orang tuanya. Kami takut jika, ia akan terpukul?”

“Ok, oke. Kau berlebihan, Sin Ya mengapa harus terpukul? Dia pasti bisa menerimanya, dia adalah anak yang cerdas dan baik.” jawab Jong Ki. Istrinya masih setia duduk di sampingnya sambil merangkul tangan suaminya yang bergetar.

Ga In menghembuskan napasnya, “Baiklah, bagaimana pun juga ini semua memang keputusan terbaik yang kalian pilih, dan pastinya telah kalian pikir matang-matang sebelum berbuat. Ok, kapan kalian akan pergi ke bandara? Hari ini kan kalian akan berangkat?”

Jong Ki melihat ke arah jam tangannya lalu berkata, “Sekitar jam 4 sore. Berarti untuk pergi ke Incheon memakan waktu sekitar 2 jam, berarti kami masih bisa duduk di rumah ini 1 jam. Lalu kami berangkat.”

Kim Tae Woo dan Ga In mengangguk jelas.

“Err-“ Jong Ki seperti ingin menambahkan sesuatu. Semuanya pun mengarah ke arah Jong Ki, “Wae?”

“Sebenarnya, untuk masalah pekerjaan ke Jepang hanya sampai dua bulan saja. Satu bulannya lagi….”

“Lalu…? Cepatlah, oppa suka sekali memotong kalimat sendiri.” sergah Ga In yang penasaran.

“Aku dan Gyu Ri ingin berbulan madu lagi di sekitar Jepang. Hehe-“

Hening.

Jong Ki dan Gyu Ri hanya bisa menyembunyikan raut wajah mereka yang malu. Sementara Tae Woo dan Ga In tersenyum simpul sambil tertawa kecil. Sungguh, orangtua Sin Ya seperti pengantin baru saja.

***

Satu jam berlalu…

Orang tua Sin Ya kini tengah bersiap-siap diri untuk pergi ke Bandara Incheon. Yap, mereka ingin ke Jepang untuk masalah pekerjaan selama dua bulan dan bulan madu selama satu bulan. Haha. Kini Sin Ya berdiri di depan pintu masuk rumah keluarga Kim melihat orangtuanya merapikan beberapa barang ataupun koper yang ingin di bawa.

Sin Ya dengan wajah polosnya, akhirnya bertanya kepada Eomma-nya, “Eomma dan Appa ingin pergi kemana?” Eommanya pun mendekat lalu mencium puncak kepala anaknya.

“Eomma dan Appa ingin pergi kerja, Sin Ya tinggal di rumah bibi Ga In dulu ya bersama Jong In dan Taemin. Eomma dan Appa gak lama kok, nanti pulang….”

“Membawa adik untuk Sin Ya juga,” ceplos Tae Woo dengan muka tanpa dosanya. Dan langsung mendapatkan sikutan keras dari Ga In—istrinya. Mereka tertawa sementara Sin Ya, Taemin dan Kai diam—tidak mengerti apa yang para orang dewasa ini bicarakan—di belakang.

Sin Ya bingung terhadap perkataan Pamannya, “Adik?”

“Sudah, sudahlah. Eomma dan Appa pergi dulu ya. Kamu baik-baik di sini bermainlah bersama Taemin dan Kai. Jangan merepotkan Paman dan Bibi, jangan terlalu banyak makan jajanan manis apalagi lolipop!” Gyu Ri menyentil sedikit ujung hidung Sin Ya dengan gemas. Sin Ya pun mengangguk paham.

“Lalu, sekolah Sin Ya?” tanyanya polos bahkan lebih polos dari anak usia delapan tahun. Sin Ya memang menyukai belajar, tak kelak dia terus saja bertanya bagaimana nasib sekolahnya. Dia termasuk anak yang rajin di sekolah, para gurunya saja mengakui. Jika teman-temannya belum bisa menulis atau mengeja dengan baik, maka lain halnya dengan Sin Ya, dia di atas level teman-temannya. Dia juga anak yang talkative, kan?

“Nanti ada Ibu guru yang datang ke rumah Bibi Ga In untuk mengajarkanmu. Jadi, kamu tidak perlu lagi berangkat sekolah yang jauh. Tidak apa-apa, kan?” jelas Ibunya dengan sabar menjelaskan kepada Sin Ya. Sin Ya pun mengangguk, menuruti apa perkataan orang tuanya.

Setelah itu, waktu berjalan cepat. Orangtua Sin Ya sekarang tengah memasang seatbelt di dalam mobil mereka dan melaju ke luar dari daerah rumah keluarga Kim. Sementara itu, Sin Ya masih saja tetap bertahan di dekat pintu, tidak memperdulikan dinginnya musim dingin. Ia melihat dari jauh mobil orangtuanya pergi.

“Sin Ya, ayo masuk. Di luar dingin, kau juga memakai gaun. Masuk yah, bibi buatkan hot chocolate  bersama Kai dan Taemin,” ajak Ga In sambil mengarahkan Sin Ya untuk masuk ke dalam.

***

“Eomma! Lalu aku tidur di mana?!” kata Kai dengan nada yang sedikit tinggi kepada Eomma-nya —yang tengah mempersiapkan makan malam—sambil lengkap membawa selimut dan guling.

Ga In pun masih berkutat dengan masakannya, ia tidak memperdulikan Kai yang sedari tadi menarik ujung pakaiannya. Tak tahan dengan rengekan Kai, ia pun menjelaskan dengan pelan dan sabar, “Tuan Jong In, kamu tidur di kamar bersama Taemin dan Sin Ya, ya. Kamu dan Taemin tidur di kasur bawah, biarkan Sin Ya yang tidur di kasur kalian, ok?”

Kai pun memberontak. Jelas saja, kasur kesayangannya yang biasa sebagai tempat tidur bersama Taemin kini ditempati oleh seorang gadis. Oh, yang benar saja. Kedatangan Sin Ya seperti mala petaka oleh Kai. Setelah tidak ada apel, sekarang tidak ada kasur kesayangan. Entah apa lagi yang tidak ada nantinya.

“Sudahlah, ayo kamu duduk di ruang makan bersama Appa, Taemin dan Sin Ya. Eomma mau siapkan makan malam yang hangat ini. Cha!”

Kai masih merengek tanpa memperdulikan suruhan Ibunya sendiri. Namun pada akhirnya, apa daya perutnya tidak bisa diajak kompromi. Sekarang lah waktunya mengisi perut dengan makan malam yang lezat.

Kai akhirnya meletakkan selimut dan guling—yang sedari tadi masih kekeh ia bawa—di sofa. Wajahnya masih cemberut dan masam, bibirnya sedari tadi masih mengerucut sempurna—memperlihatkan kerutan di dahinya, walau belum ada tanda-tanda keriput, haha.

“Semuanya telah siap?” kata Ga In sambil meletakkan piring sajian terakhir di atas meja. Makanan malam ini sangatlah sederhana namun menggugah selera, bagaimana tidak? Satu mangkuk cukup besar penuh dengan sup daging yang masih hangat dan wanginya tidak bisa dihindari oleh indera penciuman setiap manusia. Lima mangkuk nasi—untuk Ga In, Tae Woo, Taemin, Kai dan Sin Ya—yang sudah tersiap di depan mereka masing-masing. Bulgogi yang masih panas—baru saja dipanggang oleh Tae Woo sejak tadi—ditambah dengan sausnya dan potongan daun bawang yang melengkapi hidangan Bulgogi. Dan tak luput juga, minuman hangat untuk menghangatkan tubuh dari hawa dingin di malam hari.

Sebelum memulai untuk makan, keluarga kecil ini pun berdoa terlebih dahulu untuk mengucap syukur atas semua yang diberikan-Nya.

Mereka makan dengan lahap dan terkadang diiringi oleh canda tawa karena lelucon singkat dari Tae Woo. Sungguh hangat ditemani oleh keluarga yang sangat harmonis ini. Sin Ya, Taemin dan Kai pun tertawa sambil melanjutkan makan mereka. Di sela makan, Taemin tidak sengaja melihat Sin Ya yang tersenyum bahagia. Dengan nalurinya pun, Taemin akhirnya tersenyum melihat Sin Ya. Taemin sangat-sangatlah berbeda dengan Kai. Jika Kai tidak menyukai keberadaan Sin Ya yang telah menganggu ataupun merampas apapun darinya, Taemin bukanlah seperti itu. Dia memang sejak awal senang dengan keberadaan Sin Ya, sebelum makan malam pun Taemin mengajak Sin Ya untuk bermain. Mereka tampak lebih akrab sekarang—tapi tidak untuk Kai.

***

Waktu untuk tidur pun datang, Sin Ya kini berada di dalam kamar laki-laki, maksudnya kamar Kai dan Taemin. Dia masih saja duduk di atas ranjang melihat Taemin dan Kai tengah merapikan kasur mereka yang di bawah lantai.

“Kalian tidur saja di kasur ini, biar aku yang tidur di bawah.” kata Sin Ya lembut. Kai pun menoleh ke arah Sin Ya dengan tatapan benci. Namun Taemin berbeda, ia malah tersenyum dan bergurau, “Aniya, tidak apa-apa. Kami sudah terbiasa tidur di lantai.” Jelas saja ini gurauan. Bagaimana bisa seorang Kai mau untuk tidur di bawah? Cih, yang benar saja. Kai pun melotot ke arah Taemin karena tak percaya dengan omongan Taemin tadi.

“Sudahlah, kalau dia (Sin Ya) memang ingin tidur di bawah. Tidur saja, biarkan kita di kasur, Taemin-ah. Di bawah sini dingin, kau tidak takut dengan kolong kasur itu? Gelap, nanti ada hantunya lho,” Kai sedikit berlebihan yang ini, bertujuan untuk menakuti Taemin. Namun Taemin hanya tertawa dan menimpal, “Kamu takut hantu? Hahaha. Kajja! Kita tidur, besok kan sekolah.”

Mendengar perkataan Taemin tadi, Sin Ya langsung menundukkan kepalanya sedih. Taemin yang melihat itu pun bingung, “Sin Yaaaa, kamu kenapa?” tanyanya dengan nada manis.

Sin Ya mendongak, “Sekolah… besok kalian sekolah. Sedangkan aku? Aku di rumah dengan guru baru. Tidak asyik! Tidak ada teman.” katanya polos. Kai pun menyeringai dan seperti bebisik kepada dirinya sendiri, “Haha, kasihan.” Taemin yang memang mendengar jelas perkataan Kai, langsung menyikut kasar Kai, “Ssstt!”

“Sin Ya bisa ikut dengan kita, bagaimana?” kata Taemin tanpa dasar pemikiran. Namun tidak untuk Kai yang memang sepertinya akalnya lebih maju daripada saudara kembarnya, “Paboya ….”

“Tidak bisa Taemin-ah. Aku tau itu tidak bisa, makanya Eomma mengirimkan aku guru baru.” kata Sin Ya. Benar, Sin Ya berasal dari Seoul dan sekolahnya di sana. Dan sekarang dia tengah berada di Busan, terlalu berlebihan jika mengurusi surat pindahan sekolah dari Seoul dan Busan, jika hanya untuk sekolah selama tiga bulan dan nantinya juga akan kembali ke Seoul. Mau mengurusi pindahan sampai berapa kali?

Klek.

Suara pintu kamar mereka berbunyi, Ga In pun masuk ke dalam ruangan mereka. Duduk di samping Sin Ya sambil tersenyum.

“Kalian belum tidur?” tanyanya lembut. Dengan serentak Taemin dan Sin Ya menggeleng. Sedangkan Kai, sepertinya masih belum bisa terima.

“Sudahlah, ayo tidur. Ini sudah malam, Sin Ya tidur di sini ya…” kata Ga In, Sin Ya pun langsung berbaring di atas kasur empuk milik Taemin dan Kai. Ga In menyelimuti tubuh mungil Sin Ya dengan selimut seraya mengelus-elus dahi Sin Ya sampai memejamkan matanya. Kini giliran Taemin dan Kai. Perlakuannya sama, menidurkan kedua anaknya ini dan menyelimutinya. Namun sepertinya agak susah menidurkan Kai. Jika Taemin telah memejamkan matanya, berbeda dengan Kai yang masih membuka matanya dengan lebar dan bibir yang masih saja mengerucut dengan kokoh. Oh, dia masih marah.

“Kai… tid—“ Sebelum Ga In melanjutkan omongannya, Kai langsung memejamkan matanya dengan kesal namun aura marahnya masih ada. Ga In pun mengerti dengan sikap anaknya yang satu ini. Ia pun berdiri dan mulai menjauh dari malaikat-malaikat kecil yang tengah tidur ini.

Suara pintu tertutup menjadi pertanda bahwa Ga In telah keluar, seketika itupula Kai membuka matanya dan menatap langit-langit kamarnya. Namun kini ia merasakan sesuatu yang menyikut lengan kanannya. Dahinya mengerut kesal.

Ini pasti Taemin, batinnya. Oke, dia memang benar. Siapa lagi yang suka menyikut orang-orang di rumah ini selain Taemin? Ada, ibunya—Ga In. Yah… mungkin keturunan.

Kai pun menolehkan kepalanya ke samping menghadap Taemin dengan tatapan kesalnya. Ternyata Taemin belum tertidur! Ish, dia berpura-pura atau sengaja? Taemin pun langsung setengah bangun melihat ke atas kasur, tidak, lebih tepatnya melihat Sin Ya sambil tertawa kecil.

“Ternyata dia telah tidur,” bisiknya kepada Kai yang kembali berbaring dengan sempurna. Kai berdecak pelan sambil menutup matanya.

“Hey, bukankah dia lucu?” ucap Taemin dengan pelan—atau mungkin terdengar seperti bisikan—kepada Kai. Kai mengernyitkan dahinya bingung.

Apa maksudnya?  ucap Kai dalam hati.

“Dia orangnya baik, dan enak diajak bermain. Tidak seperti kau, Kai. Haha, aku bercanda,” ucap Taemin lagi sambil tersenyum. Lalu menghelakan napasnya sebelum melanjutkan, “dia juga manis.”

Kai terbelalak saat mendengar ucapan ‘manis’ keluar dari mulut saudara kembarnya. Ia pun akhirnya membuka mulut sebelum Taemin meneruskan puisinya itu, “Sepertinya kau memang harus mengurangi menonton drama bersama Eomma. Pikiranmu mulai aneh, Taemin-ah.”

Singkat, jelas, namun menyindir. Taemin hanya bisa tersenyum, sementara Kai berbalik memunggungi Taemin dengan mencoba menutup matanya—tertidur dan pergi ke dunia mimpi.

***

Hari-hari mereka lewatkan dengan tawa dan senyuman. Tak terasa sekarang telah mencapai hampir tiga bulan! Mungkin hanya sekitar seminggu lagi, kehidupan Sin Ya kembali normal.

Sin Ya sepertinya sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya sekarang. Ia bahkan sudah lebih mengerti mengapa orang tuanya pergi ke Jepang. Sin Ya menjadi anak yang lebih periang saat bersama keluarga kecil ini. Ditambah lagi dengan kerap kehadiran Taemin yang selalu menemaninya bermain, bahkan untuk bermain boneka? Taemin kerap menghabiskan waktunya bermain dengan Sin Ya. Sepulang sekolah saja, ia langsung bertemu dengan Sin Ya dan dengan cepat mengambil beberapa boneka untuk bermain dengannya.

Dibalik canda tawa kedua anak polos ini, pastinya ada aura hitam yang masih saja menetap. Siapa lagi kalau bukan, Kai? Seorang bocah dengan tampang cuek, dingin ini, ternyata merasa tersingkirkan karena keberadaan Sin Ya. Bagaimana tidak? Kai yang biasanya sering bermain dengan Taemin sepulang sekolah, sekarang hanya bisa terduduk di pojokan sambil memandang ke arah jendela sementara Taemin dan Sin Ya asyik bermain di ruang tengah. Contoh lainnya adalah seperti, Eomma-nya yang lupa dengan hal yang ia sukai. Ralat, tapi yang paling disukai. Tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah Apel. Suatu kejadian, Ga In lupa membelikan stok Apel untuk Kai selama seminggu, namun ia masih ingat untuk membelikan jepitan rambut Sin Ya. Oh ayolah, apel dengan jepitan rambut, mana yang lebih penting?

“Jonginnie! Kau tidak ikut bermain?”

Suara keras dari Taemin membuyarkan lamunan Kai. Kai menoleh ke arah Taemin—yang berada di ujung pintu—dengan terkejut. Bagaimana bisa? Taemin… adalah seorang bocah laki-laki, namun… kali ini… rambutnya… berpita? Ok, ini mungkin biasa. Namun… haruskah Taemin memakai bedak orang dewasa yang cukup membuat wajahnya tampak seperti vampire  China?

Kai seperti tidak mengenali saudara kembarnya sendiri. Jelas, bagaimana mau ia mempunyai saudara kembar dengan wajah vampire?

Ini pasti kerjaan Sin Ya, batin Kai.

“Tidak, kalian bermain saja. Aku tidak mau bermain.” jawab Kai ketus. Tanpa berpikir panjang, Taemin langsung meninggalkan kamarnya dan turun ke lantai dasar lagi untuk melanjutkan permainannya dengan Sin Ya.

***

Waktu memang berjalan lebih cepat—atau mungkin memang cepat?—berlalu.

Tak terasa hari ini adalah hari kepulangan orang tua Sin Ya dari Jepang. Tak sabar menanti kepulangan mereka—yang memang mampir dulu ke Busan sekedar mengambil kembali Sin Ya, lalu kembali ke Seoul—Sin Ya lengkap dengan baju gaunnya dan juga koper mininya duduk di ruang tengah. Senyumnya tak pernah pudar, pipinya saja terlihat merona merah. Lucu sekali wajahnya.

“Sin Yaaa, lalu kamu akan pulang ke Seoul?” suara imut Taemin terdengar oleh telinga Sin Ya. Ia mengangguk—mengiyakan perkataan Taemin. Melihat tanggapan Sin Ya, Taemin merasa seperti hari-harinya nanti, ia merasa kesepian. Kesepian tanpa teman bermain—walau ia masih punya saudara kembar, Kai—, kesepian tanpa tawa Sin Ya, kesepian bahwa tidak ada lagi yang menjepit rambutnya, dan yang terakhir, kesepian karena kamarnya hanya akan terisi oleh dua orang saja, Taemin dan Kai.

Sementara itu, Ga In dan Tae Woo datang menemui Sin Ya,

“Sin Ya, orangtuamu tadi menelpon, sudah di dalam pesawat. Sin Ya bermain saja dulu sama Taemin, sampai ke sini juga masih lama.” jelasnya.

Sin Ya mengangguk, lalu berangsung-angsung pergi dengan wajah polosnya.

1 jam berlalu…

Desiran angin lembut mengibaskan helaian rambut milik Sin Ya perlahan. Ia tak henti-hentinya menatap ke arah luar jendela dari kamar Taemin dan Kai, walau yang sekarang ia lihat hanyalah salju yang menebal di setiap inci pagar rumah keluarga Kim. Taemin dan Kai hanya terduduk diam di atas ranjang.

Sin Ya sedari tadi hanya memasang wajah datar, dan menatap lekat-lekat gaun pemberian orang tua yang sangat ia cintai.

Duk duk duk duk

Hentakan keras langkah kaki seseorang yang tengah menaiki tangga terdengar jelas di telinga ketiga bocah polos ini. Sin Ya menoleh cepat. Apakah orang tuanya telah datang?

Glek

Pintu kamar Taemin dan Kai terbuka dan memperlihatkan Ga In yang tengah lelah. Wajahnya berkeringat, sambil mengatur napasnya kembali normal ia mendekati Sin Ya. Matanya kini tidak bisa bersandiwara terlalu lama, air matanya pun turun ketika memeluk erat Sin Ya. Sementara itu, Tae Woo juga menghampiri Ga In dan Sin Ya.

Sin Ya tidak mengerti mengapa secara tiba-tiba bibinya memeluknya erat seperti ini. Ia merasakan bahu kanannya kini basah oleh tetesan air mata bibinya. Sin Ya masih terpaku seolah mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Benar, feeling-nya tidak pernah salah begitupula batinnya.

Menangis. Sin Ya menangis.

***

“AKU TIDAKLAH BODOH, BIBI!” teriak Sin Ya dengan suara paraunya. Kini matanya lembab akibat terlalu lama menangis.

Ga In lalu mendekat dan mendekap Sin Ya pelan. Ia lalu menganggukkan kepalanya lagi dan lagi. Mencoba meyakinkan perkataannya tadi.

“Eomma dan Appa-mu memang harus bekerja lagi. Percayalah kepada bibi ….” Kali ini Sin Ya melepas dekapan Ga In dengan paksa, lalu berlari ke lantai atas—kamar.

Ga In kini berdiri sambil mengusap-usap lengannya seraya menahan tangisnya lagi. Tae Woo datang lalu mendekap istrinya, Ga In yang tidak sanggup menahan tangisnya, kini ia tumpahkan semuanya di dada bidang suaminya.

Sin Ya dengan cepat menutup kamar Taemin dan Kai yang notebene juga kamarnya sendiri dengan kasar. Kai kesal dengan suara keras dari pintu kamarnya sendiri, lalu mengetuk pintu kamar dengan tak kalah keras. Ga In yang mendengar itu, lalu langsung naik ke lantai atas dan menarik Kai menjauh dari pintu kamar tersebut. Kai pun bingung terhadap tindakan Eommanya.

Ada apa sebenarnya?

“Jongin, pergilah ke bawah. Biarkan Sin Ya di dalam kamar dahulu,” ucap Ga In pelan.

“Eomma! Sebenarnya ada apa? Ceritakan padaku!” geram Kai. Ga In dan Tae Woo memang belum menceritakan apa-apa kepada anak-anak. Tiba-tiba hanya menangis dan pasrah.

“Paman Joong Ki dan bibi Gyuri… mengalami kecelakaan pesawat, Jong In-ah.”

Seketika teriakan Sin Ya dari dalam kamar terdengar jelas sampai keluar. Kai hanya bisa terpaku dan membeku, sedangkan Taemin yang berada jauh dari mereka langsung menunduk sedih. Pantas saja Sin Ya sangat begitu terpuruk…

Hening dan terlalu hening. Hanya menyisakan isakan tangis orang-orang yang memenuhi rumah besar keluarga Kim.

Desiran angin lembut diiringi oleh butiran-butiran salju mulai berjatuhan ke atas dedaunan hijau di pekarangan keluarga Kim. Suara desiran angin seolah menjadi latar suara suasana di keluarga Kim dan Sin Ya sekarang. Terlalu sepi dan tak terdengar.

Hidupnya dan hidupku adalah sama. Diriku dan dirinya adalah sama. Namun kematiannya dan kematianku berbeda. Aku hanya diberikan waktu melihat kedua orang tuaku selama delapan tahun dan belum genap sembilan tahun.

Apakah ini adil?

Maut yang memisahkan kami. Memisahkan jarak antara kami.

Mereka di sana, aku di sini. Rasanya begitu cepat, bahkan mereka belum melihat aku memakai seragam SMP dan SMU. Belum bisa melihat bagaimana nanti susah payahnya aku menyelesaikan tugas dari dosen. Belum bisa melihat hasil dari kerjaku, dan belum bisa melihat bagaimana wajah suami dan anakku kelak.

Ayah, Ibu dan adikku yang belum sempat turun dan melihat indahnya dunia…
Aku mencintai kalian. Sebagaimana aku mencintai diriku sendiri.
Aku, Choi Sin Ya pertama. Dan kalian adalah Choi Sin Ya terakhir.

-To Be Countinued-
Wait for the real story ‘Love in Love’ Chap 1

A/N: Cha! I’m back! Pertama-tama gumawo buat yang udah baca, semoga diberkahi (?). Yang mau komen, monggo silahkan~ komenan kalian buat motivasi saya menulis ff part ini sampe end yah ._. mudahan sampe ending HAHA. Mudahan ff ini bisa diterima di kalangan pembaca fanfic #apaini. Ok? Comment ayo, comment~ u,u -colek colek- (sebenarnya chap 1 itu ratingnya ganti)

43 responses to “Love in Love (Prolog)

  1. aku baca ff ini sampe nangis. rasanya nyesek bgt. author harus tanggung jawab/digebuk/ hehehe 😀
    next chapter please. keep writing, fighting!! 🙂

  2. Aku suka bgt ama cerita x yg ringan dan enak d pahami,,, nyesek juga,,,,
    author kereeen,,,,,, love it,,,
    #okey lets go to part 1,, #ngomong ama tab

  3. Pingback: [Chapter 4] Love in Love | FFindo·

  4. Ya Allah Eomma sama Appa nya kecelakaan ..
    trus nasibnya Sin Ya gimana?
    apa Kai lama-lama bisa akrab sama Sin Ya?
    suka sama fanfic nya ^^

  5. Pingback: [Chapter 5] Love in Love | FFindo·

  6. Pingback: [Chapter 6] Love in Love | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s