FF : Oramanieyo… [CHAPTER 2]

Title : Oramanieyo…

Author : Hayamira

Genre : Romance, Friendship, Tragedy

Rating : PG 16

 Length : Chaptered / Series

Main Cast :

                              Jung Na Mi (OC)

                              Kim Him Chan ( B.A.P )

                              Kim Su Ho ( EXO-K )

                              Yong Jun Hyung ( BEAST )

                              Goo Ha Ra ( KARA )

Support Cast    :

                              Lee Sung Yeol ( INFINITE )

                              Byun Baek Hyun ( EXO-K )

Krystal Jung ( f(x) )

Disclaimer :

Cast belongs to GOD and their entertaintment ( TS Ent and SM Ent ) the OC character belongs to author’s brain… main story belongs to author’s brain too.

Note :

HAI!! Hyerinn Park disini~ duh maaf banget belum sempat ngepost FF u.u disini Hyerinn bawa FF Sequel Please, Stop The Time :D alias sequel Nami versionnya :D Hpe you’ll enjoy it guys :Doramanieyo (2)

 TEASERTEASER 2 | CHAPTER 1

 

Poster     :   sasphire http://sasphire.wordpress.com/

Summarize    :
Suho datang dari masa lalu dan membuat hidup Nami berantakan. sementara disisi lain, Him Chan juga datang dari masa lalu, tapi tidak seperti Suho  yang membuahidup Nami berantakan, dia justru ingin tahu dan ingin lebih dekat dengan Nami.

 

Sepasang mata mengawasi iklan yang terpajang besar disudut jalan daerah Gangnam-do tersebut. Matanya yang bulat memicing melihat iklan itu.  Apakah hanya dia yang melihat iklan tersebut dengan tatapan penuh benci? Hey, iklan itu sama sekali tidak ada bagus-bagusnya! Batinnya.

 

Goo Ha Ra tidak peduli tatapan orang yang berlalu lalang sambil memerhatikan ada orang yang menatap iklan dan mengumpatnya, atau lebih tepat dengan mulutnya berkomat-kamit tidak jelas memandangi iklan tersebut. Iklan tersebut bukan tentang hal yang Ha Ra tidak sukai, namun ada seseorang yang menyebabkan Ha Ra membenci iklan tersebut, sama persis seperti dirinya yang membenci orang itu.

 

“JNM present

OPENING of JNM ‘s Gangnam-do

Will be held at 7th March in Gangnam-do

Be Held of Brand New fashion icon”

 

Ya, itu iklan tentang pembukaan cabang butik di Gangnam-do, siapalagi yang memiliki hak paten JNM selain Jung Na Mi, mantan sahabat Goo Ha Ra. Ha Ra sangat membenci Nami, sahabatnya dulu, mungkin karena dirinya merasa Nami selalu saja  memiliki apa yang dia inginkan, apapun yang Nami miliki, Ha Ra begitu ingin memilikinya.

 

Tapi, Ha Ra patut senang jika bisa dikatakan senang, karena dia bisa merebut Suho atau Joon Myun, mantan kekasih Nami yang juga laki-laki yang Ha Ra sukai. Ha Ra menyandarkan punggungnya di bangku taman, sudah lelah mengumpat iklan JNM tersebut. Seharusnya, hari ini dia bersenang-senang karena Suho barusaja datang dari Jepang. Iya, Dia harus senang.

 

Ha Ra memainkan ujung dressnya dengan jemarinya, semari menunggu Suho datang. Ah, Ha Ra sangat ingin memeluk kekasihnya tersebut. Tetapi, baru kali ini Suho terlambat 15 menit. Ha Ra melirik jam tangannya,  dan mendesah. Baru saja dia ingin menelpon Suho, sosok yang dia tunggu datang juga. Ha Ra bangit dan tersenyum lebar, kemudian menghampiri Suho dan langsung memeluknya. “Oppa,” rajuk manja Ha Ra menggandeng lengan Suho.

 

Suho tersenyum mengacak-acak rambut Ha Ra pelan, kemudian mulai berjalan menyusuri jalan tersebut. Namun, langkahnyya terhenti melihat iklan nyang tadi membuat Ha Ra menjadi unmood. Sialan, Ha Ra lupa untuk mengalihkan perhatian Suho.

 

Suho mengamati iklan itu, lalu menoleh kearah Ha Ra. “JNM ? Chagi, kau kenal?” kata Suho menunjuk iklan itu. Ha Ra memutar otaknya berpikir, kemudian menggeleng, “Tidak, aku tidak tahu Oppa.” Dengan segera Ha Ra menarik Suho agar menjauh dari iklan tersebut, namun sayang iklan tersebut lebih menyita perhatian Suho. Suho mengerutkan dahinya, sepertinya dia mengenal JNM… entah dimana dia pernah melihat nama tersebut. Di Jepang kah? Apa ada kaitannya dengan Jung Na Mi?

 

“Oppa…” Ha Ra menarik lengan Suho manja. Dia mendengus pelan, mengerucutkan  bibirnya dan terus menarik lengan Suho agar menjauh dari iklan tersebut. Ha Ra tidak mau Suho tau bahwa owner JNM itu adalah Jung Na Mi, mantan kekasihnya. Ha Ra  takut, Suho kembali menyukai Nami dan kembali ke sisinya, meninggalkan Ha Ra. “Oppa, ayo jalan. Oppa tidak merindukanku?”

 

Suho lalu tersenyum melihat Ha Ra yang berpura-pura merajuk dengan imutnya, lalu berjalan meninggalkan iklan yang tadinya menarik pemikirannya. Entah kenapa, JNM itu berhubungan dengan Jung Na Mi. Ah, tentang Jung Na Mi yang lagi-lagi menyita pemikirannya. Sialan, batinnya.

 

Sementara Ha Ra, mulai berpikir untuk menyelidiki apa yang Suho sebenarnya lakukan di Jepang. Kalau sampai memang karena Jung Na Mi, maka Ha Ra akan membuat Na Mi merasakan perlahan namun pasti, penderitaan. Karena hidup Jung Na Mi terlalu sempurna, dan perlu ditambahkan sedikit rasa kepahitan dari penderitaan, agar semakin berwarna dan penuh rasa. Ha Ra tersenyum masam.

 

 

-oOo-

 

Jung Na Mi Nampak sangat bahagia. Butik yang baru dibukanya di Gangnam-do, sekarang dipenuhi oleh orang yang berkunjung sekedar melihat-lihat, dan orang yang membeli hasil karyanya. Hasil dari penjualan ini akan dia sumbangkan ke yayasan UNICHEF membantu para anak yang kurang mampu untuk melanjutkan pendidikannya.

 

Tak henti-hentinya Nami tersenyum menyapa pelanggan yang datang, walaupun senyum Jung Na Mi mungkin akan terlihat datar bagi yang tidak mengenalnya. Sesekali pengunjung itu adalah sahabat Nami sesama desainer, yang memberikan selamat kepada Nami. Disamping itu, ada sedikit primadona bagi pengunjung kaum hawa di butik Nami. Sang ‘penjaga toko sehari’ Lee Sung Yeol dan ‘kasir’ Yong Jun Hyung. Lee Sung Yeol melayani para pengunjung dengan sigap dan ramah, sesekali mencuri pandang menatap Nami, yang notabene adalah pasiennya, dengan penuh senyuman terlihat diwajahnya. Setidaknya, tekanan batin akibat mantan kekasih Nami mungkin bisa dia lupakan dengan hal ini. Sama halnya dengan Sung Yeol,  Jun Hyung yang melihat Nami bahagia, dari balik meja kasir pun tersenyum melihat sahabatnya senang. Sekarang, demi Jung Na Mi, Yong Jung Hyung yang seorang direktur real estate, menjadi seorang kasir hari ini. Seorang kasir yang bahkan Jun Hyung harus menahan rasa malunya jika melihat kliennya datang dan memandangi dirinya aneh. Dengan dandanan yang pastinya akan membuat orang yang mengenalnya dikesehariannya tercengang. Contohnya? Tadi baru saja terjadi.

 

“My God ! Jun Hyung-san, kenapa kau berpakaian seimut ini?” kata Jun Hyung meniru salah satu kliennya yang barusaja terkesima , mungkin, melihat Jun Hyung dengan penampilan yang 180 derajat berbeda dari yang dia kenal. Sung Yeol hanya bisa menahan tawanya mendengar Jun Hyung yang mengeluh dengan pakaian yang terkesan cukup… tidak biasa.

 

Suasana tenang dan sedikit ramai, sampai ada seorang wanita misterius yang singgah didepan butik Nami. Nami melihat kearah wanita itu, berusaha menyapa wanita itu dan menghampirinya. “Halo, ada yang bisa dibantu?” Nami berusaha ramah dengan orang itu. Namun, wanita itu tidak menggubris Jung Na Mi. Nami memperhatikan wanita itu. Cukup misterius, dengan topi dan kacamata hitam dan kantongan yang terlihat misterius.

 

Semua terjadi begitu cepat, wanita itu melemparkan setumpukan sampah ke jendela butik Nami. Tak cukup sampai disitu, wajah Nami pun dilempari telur dan dan sampah. Semua terjadi begitu cepat, bahkan sebelum Nami bisa memekik. Nami terpaku ditempatnya berdiri, tidak menyadari tubuhnya penuh dengan sampah dan terlihat menjijikkan. Semua pengunjungnya mulai berlari ke beranda, melihat siapa yang melemparkan tumpukan sampah ke jendela butik tersebut. Keramaian pun muncul, namun wanita itu berabjak pergi.

 

Nami memandangi hal yang telah terjadi, matanya memperhatikan sosok wanita itu. Sebelum wanita itu pergi, dia meneriakkan kalimat yang membuat Nami menahan malu.  “MATI KAU, JUNG NA MI! BITCH, FUCK! KAU PLAGIAT! TIDAK PANTAS MENJADI DESIGNER TERKENAL! MATI KAU !” kini, tubuh Nami penuh dengan sampah dan telur busuk. Nami mengerjapkan matanya.  Badannya gemetar melihatnya, entah kenapa lutunya melemas. Tubuh Nami seakan ingin jatuh, seluruh emosinya tiba-tiba tercampur aduk dan membuatnya lemas tak berdaya.

 

Belum cukup, wanita itu melemparkan bom Molotov di jendela butik Nami. Alhasil, jendela itupun pecah. Kekacauan pun muncul dengan teriakan pengunjung yang kaget dan panik melihat jendela butik tersebut yang sudah hancur.

 

Siapa wanita itu? Apakah dia teroris?

 

Tubuh Nami tersungkur ke tanah, ini diluar kendali Nami ! Nami masih memandang arah wanita itu pergi.

 

Wanita itu lalu pergi, lari dari tempat kejadian. Jun Hyung yang daritadi menyadari adanya kekacauan langsung mencari Nami. “Nami, Kau baik-baik saja?”kata Jun Hyung menghampiri Nami yang tercengang. Jun Hyung menggungcang-gungacng badan Nami. Nami masih terlihat sangat syok, tatapan matanya kosong. Asisten Nami berusaha mengejar wanita aneh itu.

 

“Oh sayang, kau harus mandi dan membersihkan badanmu.”

Jun Hyung menarik Nami ke dalam butiknya. Nami menoleh kearah jendela, lalu tetap menatap ke arah jalan. Pengunjung butik Nami memandangi Nami kasihan dan marah. Kasak-kusuk memenuhi ruangan itu. Sementara Sung Yeol berusaha menenangkan pengunjung.

 

“Semuanya baik-baik saja, Jangan khawatirkan Jung Na Mi,” seru Sung Yeol berusaha ramah, menyembunyikan rasa cemasnya. Dirinya takut, kalau kejadian barusan dapat mengganggu perkembangan kesembuhan Jung Na Mid an justru akan membuat Nami memiliki masalah psikolog baru, dan tentu saja akan membuat Nami menderita.

 

“Ken, atasi mereka.” Jun Hyung memerintahkan asisten Nami. Ken mengangguk, lalu Jun Hyung membawa Nami ke hotel mereka yang tidak jauh dari lokasi. Bagaimanapun, dia tidak mau Nami jatuh pingsan akibat terlalu emosi. Melihat Nami dalam keadaan seperti ini saja sudah hampir membuatnya mati berdiri! Bagaimana bisa, apa salah Nami sampai dia harus diperlakukan sangat tidak layak begini? Jun Hyung menggendong Nami dengan pikiran yang semrawut.

 

“Biarkan aku yang menangani butik.” Sung Yeol menepuk pundak Jun Hyung pelan. Jun Hyung mengerti, dan membawa Nami naik ke mobil Sung Yeol.

 

Persetan dengan wanita itu, batin Jun Hyung yang melihat Nami seakan terpukul. Tak percaya. Persetan.

-oOo-

 

Kalau diperbolehkan tertawa sekencang-kencangnya, Goo Ha Ra akan melakukannya sekarang. Perutnya sudah sakit, otot-ototnya sudah lelah menahan tawanya. Tawa bahagia melihat dari kejauhan, butik JNM milik Jung Na Mi dihancurkan oleh orang suruhannya. Terlebih saat Nami jatuh tersungkur, dengan tatapan penuh rasa kasihan dan merana. Sungguh hal yang lucu !

 

Ha Ra tersenyum simpul. Seandainya sekarang Ha Ra tidak menghadiri rapat salon, mungkin dia akan berada di ruangannya dan menertawakan kekalahan Jung Na Mi. Bukankah sudah dia camkan, bahwa Jung Na Mi terlalu sempurna untuk hidup, jadi dia harus merasakan bagaimana penderitaan. Ini belum seberapa.

 

Semuanya Ha Ra lakukan karena Suho. Hey, wanita mana yang tidak marah kalau kekasihnya datang menemui mantannya, dan mengharapkan kembali sementara kekasihnya tersebut memiliki kekasih lain? Ha Ra tahu ini, dia sudah menyelidikinya. Namun, bukan Goo Ha Ra kalau tidak bisa membalas jauh lebih menyakitkan dari apa yang orang lain perbuat kepadanya.

 

Ha Ra mengusap foto wajah Jung Na Mi di halaman majalah Elle Girl yang ada dihadapannya. “Sayang, hidupmu sudah terlalu indah dan sempurna. Tidak apa-apa, kan kalau aku membuatnya sedikit lebih suram? Iya kan?” lirih Ha Ra sambil mencoret-coret wajah Nami.

 

Semua hal diperbolehkan dalam Cinta dan Perang. Sesederhana itu.

 

-oOo-

Yang ada dihadapannya bukanlah masalah majalah, seperti cover yang akan dipakai, laporan dari editor, atau data daftar isi majalah. Yang ada dihadapan Kim Him Chan adalah setumpuk buku tebal dengan tema psikologis, gangguan jiwa, gangguan syaraf dan sebagainya. Untuk apa dia membaca buku-buku ini? Setidaknya itu yang dia terus katakana pada dirinya sendiri. Tapi, entah apa yang membuatnya membaca buku-buku ini. Namun, seingatnya, ah dia ingat. Dan ini tujuan utama dia membaca buku-buku tebal nan membosankan ini semua.

 

Jung Na Mi, dialah alasan kenapa Him Chan mau membaca buku-buku ini.  Him Chan juga tidak tahu, mengapa hanya karena seorang Jung Na Mi, dia harus melakukan ini. Ah, Him Chan mendecakkan lidah. Dirinya penasaran dengan tingkah Jung Na Mi yang barusaja beberapa hari yang lalu dia lihat. Tingkah Nami yang membuatnya heran, dan terus berpikir seharian penuh tentang Nami.

 

Tangannya membolak-balikkan lembaran buku usang, lembarnya sudah kekuningan namun masih dapat terbaca dengan jelas. Him Chan berusaha menganalisa sikap Nami, karena menurutnya, ada sesuatu yang Jung Na Mi miliki, yang tidak sembarang orang tahu akan hal itu. Sesuatu yang sangat rahasia, menjadi biggest secret of Jung Na Mi.

 

“Ah! Aku menyerah,” ujarnya menutup buku-buku itu dan menyingkirkannya dari hadapannya. Mempelajari tentang kejiwaan dan sebagainya, memang bukan bidang keahlian Him Chan. Tapi, ada sesuatu yang tadi dia dapatkan di buku itu. Tentang gangguan jiwa atau sejenisnya, Him Chan tidak tahu penyebutannya apa, yang merujuk kepada Jung Na Mi. Skizofrenia… seperti itu.

 

Him Chan lalu mengambil buku yang membahas tentang skizofrenia, dan membacanya dengan seksama. Jemarinya mengikuti barisan kata di buku tersebut.

Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra)

Jari Him Chan berhenti di kalimat yang membuatnya tercengang. Indicator premorbid penyakit ini… mirip dengan apa yang dia rasakan tentang Jung Na Mi. Entrah kenapa, perasaannya mengatakan ada sangkutr pautan dengan Jung Na Mi. Him Chan mengerutkan dahinya tidak mengerti, ini semakin menghanyutkan pikirannya.

Indikator premorbid (pra-sakit) pre-skizofrenia antara lain ketidakmampuan seseorang mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh.

  1. 1.      Gejala-gejala Positif
    Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain.
  2. 2.      Gejala-gejala Negatif
    Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan bicara (alogia).

Apa yang ditangkap matanya, ditransferkan ke otaknya melalui system syarafnya tadi bukanlah mimpi, ini nyata. Setiap gejala-gejala merujuk kepada Jung Na Mi. Him Chan menggeleng, “Ah, terlalu cepat jika menilai orang sekarang,” katanya mendecakkan lidahnya. Seakan menertawakan drinya yang seperti ini, menilai orang. Siapa dia? Apa kepentingannya pada Jung Na Mi sampai dia harus membaca dan menganalisa juga mengamati. Apa daya, dia baru bertemu dengan Nami kurang dari sebulan ! Namun, dia berusaha menggali privasi Jung Na Mi. Ini legal, tentu saja.

Pikirannya semrawut. Him Chan butuh istirahat, setidaknya sebelum kembali menyelam menjelajahi diri Jung Na Mi. Entah kenapa, gadis itu sangat menghanyutkan.

-oOo-

Suho tidak akan menyerah untuk mendapatkan kembali Jung Na Mi. Daritadi, Suho hanya berjalan mengelilingi kamarnya, sesekali memijit dahi atau tengkuknya. Cara apa yang harus dia lakukan untuk mencapai tujuannya tersebut, atau dengan siapa. Semuanya membuat Suho pusing.

Kamarnya diketuk. “Masuk,” dan munculah sepupu Suho, Krystal. Mata Krystal sembab, merah. Juga hidungnya. Dia berjalan lesu kea rah Suho dan langsung memeluknya. Lalu tangisnya pecah dipelukan Suho. Suho, yang tak tahu apa-apa hanya bisa menepuk pundak Krystal menenangkan.

Setelah Krystak merasa baik, Suho mengajaknya duduk dan berusaha mencaritahu apa yang membuat Krystal begini. “Krystal, ada apa?”

“Oppa… Kris… sudah menikah…” katanya sesegukan.

“Kris… Orang yang kau sukai itu?” Krystal mengangguk. Kris, Kris Li. Composer musik terkenal, tega sekali dia membuat Krystal seperti ini. “Kris sudah… menikah dengan… Jung Na Eun…”

Suho mengerutkan dahinya. Kenapa nama istri Kris mirip dengan nama Nami? Jung Na Eun dan Jung Na Mi. apakah mereka bersaudara? Sepupu? Atau kembar? Entahlah.

“Kau yakin Kris memang benar-benar menikah dengan Jung Na Eun, Hm?” Tanya Suho. Krystal mengangkat wajahnya, dan nampak berpikir sesaat. “Entahlah. Aku belum mencari tahu lebih banyak, Oppa.”

“Harusnya kau cari tahu dulu, jangan menyerah secepat ini…”

Krystal terdiam sesaat, lalu senyum tipis muncul di bibirnya. “Oppa benar. Aku tidak boleh menyerah tentang ini.”

 

Seminggu kemudian, Krystal mendapatkan kabar yang memang dia inginkan. Dengan segera, dia memberitahukan Suho tentang hal ini.

“Jung Na Eun, lahir di Hokkaido 7 Juli 1992.Adik dari Jung Na Mi, istri dari Kris Li. Tapi, kata teman Kris Jong Hyun, kris menikahi Nana bukan karena benar-benar cinta tapi karena taruhan yang mereka adakan.”

Apa kataku! Suho tercengang mendengar fakta bahwa Jung Na Mi adalah kakak dari Jung Na Eun. Jung Na Mi, dan Jung Na Eun. “Krystal, bantu aku mendapatkan info tentang Jung Na Eun dan Kris Li.”

Krystal mengerutkan dahinya tidak mengerti. “Apa alasan Oppa? Kenapa mau tahu tentang Jung Na Eun juga?” Suho tersenyum simpul. “Karena ini penting untuk Jung Na Mi.”

Krystal mengerti, dan tersenyum simpul juga. Memandangi SUho, dia mengerti maksudnya yang dikaitkan dengan Jung Na Mi. “Oppa ingin membuat Jung Na Mi hancur, ya?” Suho mengangguk, menyesap tehnya dengan tenang sambil membayangkan ekspresi wajah Jung Na Mi.

“Kalau aku tidak bisa mendapatkannya, setidaknya aku bia membuka rahasianya dan membuatnya menderita.”

“Kita sama-sama ingin membuat hidup mereka tidak bahagia, ya.” Krystal tertawa. “Jung Na Eun untukku, dan Jung Na Mi untuk Oppa.”

Suho tersenyum penuh kemenangan.

-oOo-

Hembusan napas terasa berat, kepalanya masih terlalu pusing. Nami bangkit dengan menopang berat tubuhnya dengan tangannya, dengan susah payah juga berjalan ke dapur untuk meraih segelas air putih dan menegaknya. Air putih tersebut mengalir di leher Nami sejuk.

Nami berjalan pelan ke arah ruang tamu, dan mendapati Yong Jun Hyung tertidur dengan posisi duduk dan televisi masih menyala. Nami berjalan menuju televise, mematikannya dan duduk disamping Jun Hyung. “Maafkan aku, sudah membuatmu repot.” Nami menyandarkan kepalanya di pundak Jun Hyung, saat itu pulan Jun Hyung terbangun. Matanya mengerjap, memandangi siapa yang ada disampingnya dan langsung membulat begitu tahu Jung Na Mi, yang kemarin tidak sadarkan diri 3 hari.

Oh My… Nami kau sudah sadar?”

“Seperti yang kau lihat, aku sudah bangun.” Jun Hyung memeluk Nami. Badan Nami terkulai lemas, Jun Hyung dapat merasakan itu. “Sayang, kau harus segera makan. Kau tampak sangat kelaparan. Tunggu sebentar, aku buatkan.” Jun Hyung beranjak berdiri menuju dapur. Sementara Nami duduk, menyandarkan kepala juga punggungnya di sandaran sofa.

Bel flat nya berbunyi. Nami bangkit perlahan, dan berjalan. Begitu Nami membuka pintu, wajah Him Chan yang muncul. “Halo, Jung Na Mi.”

Nami memandang Him Chan yang datang. Sebelum Him Chan lama berdiri, Nami mempersilahkan Him Chan duduk. “Ada apa datang ke flatku, Him Chan?” Him Chan memandangi Nami khawatir. “Aku membaca dari tabloid, katanya ada penyerangan di pembukaan butikmu di Gangnam-do. Itu benar?”

Nami mengangguk, kenapa berita itu masuk ke tabloid, masalah, batin Nami. “Aku datang kesini ingin menjengukmu. Dari 3 hari yang lalu aku berusaha menghubingi kantormu, tapi mereka mengatakan kau sedang cuti.”

“Aku memang sedang cuti,” kata Nami memandangi buket bunga yang dibawa Him Chan. “Maksudmu, tak sadarkan diri?” telak! Kenapa Him Chan tahu kalau dirinya tidak sadarkan diri? Name menelan ludah. Matanya melirik Him Chan, dan berharap Him Chan tidak punya pertanyaan yang bertumpuk untuk dirinya.

“Seperti itulah.” Nami malah mengakuinya. Kata-kata itu muncul begitu saja. Nami menundukkan kepalanya. Nami dan Him Chan diam, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Nami berusaha menutupi, paling tidak ada kemungkinan Him Chan tahu yang sebenarnya, walaupun kemungkinan itunkecil sekali dan termasuk kategori tidak mungkin. “Kau tahu pasti kronologis kejadiannya, kan? Jadi..”

“Apa serangan orang itu mencederaimu? Sampai tidak sadarkan diri selama itu.”

Nami terdiam lagi kemudian menggeleng pelan. Matanya mengawasi mata Him Chan yang sekarang menatapnya tajam seakan mengikis rasa berani Nami. “Sudah kuduga. Maaf kalau aku berusaha lancang, tapi kau memiliki kelainan…”

“Kau tahu sesuatu tentangku?” Nami berkata dengan nada rendah. Dia menatap Him Chan.

“Hanya menebak. Skizofrenia?”

Mata Nami membulat begitu mendengar kata itu. Bagaimana Him Chan, yang notabene adalah seorang yang bergelut dibidang percetakan dan tampilan , sampai tahu istilah psikologis seperti itu.

Tepat saat Nami ingin menjawab, Jun Hyun datang dan memberikan Nami kode. Nami menggeleng, “Aku tidak selamanya harus menghindar, bukan?” Jun Hyun tahu, Nmai sepertinya mempercayai Him Chan. Him Chan juga tipikal orang yang mudah dipercaya.

Jun  Hyung hanya menggeleng pasrah dan kembali ke dapur. Nami mengambil napas dalam, lalu menghembuskannya pelan. “Iya. Kau benar, aku pengidap Skizofrenia.”

Terlihat ada perubahan ekspresi di wajah Him Chan. “Kau mau menjauhiku?” Nami bertanya, namun Him Chan menggeleng. Senyum Him Chan kini menghiasi wajahnya.

“Kau bisa berbagi apapun denganku, kau bisa menganggapku temanmu. Kau tahu aku bisa diandalkan.”

Nami tersenyum. “Terimakasih, Him Chan.”

 

To Be Continued

 

ini ada penjelasan sedikit tentang Skizofrenia

Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra). Indikator premorbid (pra-sakit) pre-skizofrenia antara lain ketidakmampuan seseorang mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh.

Source : Google , Wikipedia.

Gimana ? Semoga para readers suka :D

maaf kalau masih banyak kekurangan yang berhamburan di FF ini, manusia tidak ada yang sempurna kan? jadinya mohon dimaklumi tapi Kritik dan sarannya sangat dibutuhkan :Jangan lupa Read, Comment and Like ya :) ya komen kan gratis siapa tahu dapat pahala daripada jadi siders muehehehe =____=v

See You in next chapter ~ :D

28 responses to “FF : Oramanieyo… [CHAPTER 2]

  1. Klo gitu, aku rela deh Suho jadi evil di FF ini. Chap 2 nya smakin bagus. Himchan oppa jadian aja ya sama Nami??
    Harus itu!! #kekemaksa#

    Fighting thor 🙂
    I Like It!

  2. Suho …
    kenapa senyummu disini menjadi Evil ??
    tapi gak apalah.. 😀
    Himchan harus berada disisi Nami y thor 🙂

    buat Chapter 2 acungi jempol ,,
    semangat y eonni 😀

  3. Sebenernya tujuan suho itu apa sih ?
    Dia pengen bikin nami kembali sama dia tapi dia mau menghancurkan nami juga .
    Aah aku bingung, lebih baik aku ke part selanjutnya aja deh

  4. Hehe gk bisa ngebayangin senyum liciknya Suho kyk apa,pasti imut #pletak
    oh jadi adiknya Nami udah married,lha terus yg di incer sama Baekhyun siapa?

  5. Yaampun, Suho kok jahat sih disini? haha Terus si Hara sama Krystal juga jahat… kan kasian Nami kalo semua-semuanya pingin buat dia menderita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s