My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip 12

Main Cast(s) :

  • Lee Jinki (SHINee Onew)
  • Shin Jibyung
  • Shin Jikyung

Support Cast(s) :

  • Kim Junsu (2PM Junsu)
  • Other SHINee members
  • Etc.

Genre  : Marriage Life, Family, Life, a bit Romance and Humor

Length : Continue

Rating : Teen

Disclaimer : Only own the plot & Shin Jibyung.

Author : Mira~Hyunga (@6_cumir_666)

>>> Previous <<<

[From : Jibyungie

Jikyung-ah, mengertilah. Beri aku waktu sebentar lagi.]

“Menurutmu, bagaimana jika aku.. mempertahankanmu?”

Jikyung bahkan tidak sempat mencerna perkataan Onew dengan baik, karena dalam sekejap mata sepasang tangan terulur mencengkram kerah baju Onew dan memaksa namja itu untuk berdiri, sehingga menimbulkan suara ribut dari kaki kursi yang diduduki Onew yang bergesekan dengan lantai.

Yaaa!” suara lain terdengar berusaha menghentikan perbuatan orang tersebut.

“Bodoh.” Orang itu mengumpat pelan sebelum melayangkan tinjunya tepat ke rahang Onew hingga leader SHINee itu tersungkur di lantai.

BUGH!

“Jung Namjoo.”

“Jung Namjoo? Yeoja?”’

“Eoh, dia kemari bersama temannya.”

“Jangan percaya dulu, Eomma. Siapa tahu dia hanya orang iseng.”

>>><<<

CLIP 12

>>><<<

“Apa yang merasuki kalian, huh? Apa yang kalian pikirkan selama ini? Kalian tidak berpikir siapa yang akan sangat dirugikan karena ini? Kenapa kekanak-kanakan sekali?” Junsu bersuara dengan kata-kata yang begitu saja meluncur dari bibirnya. Entahlah, dia merasa terbakar melihat Onew dan Jikyung malah sempat berduaan di situasi mereka yang sedang… kau tahu.

Untuk yang ke sekian kalinya Onew mengusap sudut bibirnya yang masih mengeluarkan darah dan tampak memar. Satu lagi tatapan dingin dilancarkannya pada Junsu.

“Aku tahu memang tidak mudah, Onew. Tapi kukira kau sudah berbicara dengan Jibyung tentang ini, tentang kalian. Tapi ternyata kau membiarkannya tak tahu apapun hingga akhir?” Junsu menurunkan nada bicaranya dan cepat-cepat menambahkan saat melihat Onew hendak protes, “Oke, aku tahu ini di luar kewenanganku, dan aku minta maaf karena itu.”

Junsu menyelesaikan ucapannya tepat saat dering ponsel terdengar di antara mereka. Onew yang jadi tak sempat menanggapi perkataan Junsu—bergerak mengeluarkan ponsel dari saku celananya, mengambil napas dalam beberapa kali, seolah menenangkan diri, lalu berbalik memunggungi yang lain untuk mengangkat telpon, “Ne, Hyung?” dan Onew tahu pekerjaan sudah menunggunya.

Lelaki itu kembali menghadap yang lain setelah selesai berbicara dengan managernya. Onew kembali menghela napas, lalu memandang Junsu, “Hyung—

“Pergilah.” sela Junsu dengan nada dingin. Onew menatapnya beberapa saat, lalu meraih tangan Jikyung dan hendak berjalan pergi. Tapi kemudian Junsu mencegahnya, “Tidak dengan Jikyung.”

“Aku harus mengantarnya pulang.”

“Aku yang akan mengantarnya. Masih ada yang ingin kukatakan.”

Mencoba masih bersabar, Onew akhirnya melepaskan tangan Jikyung dan menatap gadis itu selama beberapa saat, “Aku duluan.” katanya pelan, dibalas anggukan tak kentara dari Jikyung. Sekali lagi Onew beralih memandang Junsu dan berujar datar, “Aku sama sekali tidak bermaksud menyimpannya sampai akhir.” tiba-tiba saja dia berhenti, mengalihkan pandangannya lurus ke depan lalu mendongak sebentar, mengambil napas dalam dan menghembuskannya sekaligus, “Aku sumber dari semua kesalahan ini. ” lanjutnya, sama sekali tidak berhubungan dengan ucapannya sebelumnya. Kepalanya seolah akan meledak karena berbagai pikiran berkecamuk di sana. Sepertinya dia juga harus segera menyiapkan alasan untuk luka yang didapatnya ketika nanti bertemu dengan member SHINee yang lain, apalagi Sukjin.

Setelah itu, pria bermata sipit tersebut berjalan keluar dari ruangan di belakang konter cafe yang tadi mereka kunjungi. Ya, mereka—dengan kesadaran sendiri-sendiri dan juga bujukan Taecyeon yang kini menunggu di luar—menyembunyikan diri dari hadapan orang lain dengan meminjam ruangan itu.

Jikyung masih memandang tempat dimana punggung Onew menghilang ketika Junsu sudah beralih memandangnya. Helaan napas lelaki itulah yang kemudian membuat Jikyung menoleh.

Kesunyian menyusup di antara keduanya. Junsu menatap lurus-lurus bola mata hitam yang redup yang juga tengah menatapnya. Kilatan emosi terpancar di sana, dan Junsu bisa merasakan sesuatu berdesir di dalam tubuhnya. Meskipun begitu, kerutan samar tampak di antara kedua alis Junsu, ekspresi atas rasa kecewanya yang memang tak bisa dibendung lagi.

“Semuanya merasa kecewa.” ujar namja itu pelan. Junsu juga tidak ingat pernah menggunakan nada sedatar ini saat berbicara dengan yeoja di hadapannya.

Memberanikan diri, Jikyung tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari mata Junsu, “Aku tahu.” sahutnya nyaris berbisik. Lagi-lagi pancaran emosi itu tampak di matanya. Junsu tidak bisa menentukan apakah itu adalah kegelisahan, kesedihan, atau… perasaan tertekan.

Jikyung menelan ludah, memilin-milin ujung bajunya di atas paha. Masih berusaha tak gentar, dia menatap mata Junsu, lalu berujar lirih, “Sebenarnya apa yang harus kulakukan?”

Tampak kedua alis Junsu terangkat. Dia tidak mengatakan apapun dan hanya menunggu ucapan Jikyung selanjutnya.

“Sebenarnya apa yang harus kulakukan? Aku… aku selalu ingat alasan yang kau gunakan saat melepasku.” suara Jikyung seperti tercekat di kerongkongannya. Sekuat tenaga dia menahan tangis, “Tapi kenapa sekarang kau justru merasa kecewa padaku? Apakah apapun yang kulakukan selalu salah? Bahkan di matamu?”

Junsu membeku.

“Tidak ada yang tahu bagaimana aku merasa tertekan karena semua yang terjadi dan karena semua kata-kata yang memasuki telingaku.” Jikyung mencengkram ujung bajunya dengan erat, “Tidak ada yang tahu… bagaimana aku merasa kehilangan petunjuk untuk menentukan arah yang akan kuambil. Melakukan semuanya dengan tidak sepenuh hati, merasa diriku yang sesungguhnya telah menghilang.” suaranya bergetar seirin dengan nadanya yang perlahan meninggi, namun Jikyung masih berusaha tidak membuat air matanya mengalir, “Waktu itu… oppa melepasku dan menyuruhku kembali ke tempat Onew. Karena itu, oppa. Aku hanya membiarkan siapapun menarikku keluar, tapi ternyata itu salah juga di mata orang lain. Sebenarnya aku harus bagaimana?!”

Junsu mengerjap, tersentak mendengar penuturan Jikyung yang diakhiri jeritan frustasi yang sangat kentara. Lelaki itu merasa hatinya tersayat, perih menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia sangat ingin menarik Jikyung ke dalam pelukannya, namun pada kenyataannya, yang dilakukannya hanya diam, hingga dia menyadari hanya tersisa dirinya sendiri di ruangan itu.

Benar. Bagaimana bisa Junsu melupakan itu, melupakan perkataannya sendiri saat itu? Apa yang dipikirkannya sebenarnya? Kenapa dengan tidak tahu dirinya dia mencerca bahkan memukul Onew, sementara dirinya menjilat ludahnya sendiri?

“Tidak akan ada orang sebodoh dirimu, Kim Junsu.”

>>><<<

“Aaah!”

Jibyung merasakan jantungnya berpuluh-puluh kali berdetak cepat dan tubuhnya gemetar ketika dia berhasil menghentikan motornya saat nyaris menabrak seorang wanita yang kira-kira berumur tiga puluh akhir.

Hening beberapa saat.

Ya! Hati-hatilah sedikit! Lampu hijau untuk pejalan kaki, lihat tidak?!” cerca wanita itu dengan telunjuk mengarah pada lampu lalu lintas di seberangnya. Sesaat Jibyung merasa suara wanita itu berasal dari tempat yang jauh.

Y-ye,” lalu Jibyung cepat-cepat membuka helmnya dan turun, lalu membungkuk dalam. “jweseonghamnida. Saya lengah.” katanya sopan.

Dengan wajah masih memberengut, wanita itu merapatkan jaketnya dan melangkah kembali meneruskan perjalanannya, meninggalkan Jibyung yang merutuki dirinya sendiri. Seharusnya dia fokus memperhatikan cara mengemudinya dan bukannya malah melamun.

Wanita itu berbalik, kembali memakai helmnya dan tak lama kemudian sudah kembali duduk di atas jok motor putihnya. Dia menunggu lampu pejalan kaki kembali merah sebelum memutar gas dan melanjutkan perjalanannya dengan tubuh yang terasa sangat lemas dan masih gemetar karena kaget.

Tidak salah atasannya menyuruhnya untuk pulang dan beristirahat saja hari ini. Karena tidak fokus, yeoja itu tidak sengaja memasukkan gambar desain pakaian yang akan mereka gunakan untuk produksi musim panas ini ke dalam mesin penghancur kertas. ‘Beruntungnya’, desain itu adalah buatannya sendiri. Selain itu, beberapa kekacauan kecil di kantor juga terjadi karena ketidakfokusan Jibyung. Dan baru saja wanita itu hampir mencelakai orang lain karena melamun saat mengemudi.

Ya, sepertinya dia memang butuh beristirahat. Atau mungkin… dia bisa melakukan sesuatu di butik. Sudah lama dia tidak berkunjung ke sana.

>>><<<

Beberapa orang perempuan—yang sudah Jibyung ketahui sebagai pelanggan—keluar dari butik saat Jibyung tiba di sana. Di tangan mereka masing-masing memegang paperbag berlogo nama butiknya. Jibyung membungkukkan tubuhnya sambil tersenyum saat berpapasan dengan mereka, “Kamsahamnida.” katanya, sebelum kemudian membuka pintu butik keluarga itu dan masuk.

“Jibyung-ah!” Minhyun datang menyambut saat Jibyung masih berada di ambang pintu. Ibunya itu tampak senang melihat kedatangannya.

Jibyung berjalan lebih ke dalam. Melihat sosok Minhyun dan mendengar suaranya membuat Jibyung merasa lega dan ringan. Perlahan, senyuman lebar diberikannya pada Minhyun, “Eomma!” balasnya sambil terkekeh dan memeluk Minhyun sekilas, “Bagaimana hari ini?” tanyanya sambil melihat berkeliling.

Minhyun mengangkat bahu, “Ya, seperti biasa.” jawabnya, terkekeh, “Eoh, kau tidak tanya kabarku? Ya, wajahmu pucat.” Kemudian seperti mengingat sesuatu, mulut Minhyun terbuka, dan dia menarik Jibyung untuk duduk di ruangan belakang.

“Duduklah, aku ambilkan minuman.”

“Eiiy, aku kan bisa mengambilnya sendiri.” ujar Jibyung setengah protes. Tapi seolah tidak mendengar perkataannya, Minhyun meneruskan kegiatannya untuk mengambil minuman dari dispenser yang ada di sana.

“Kau masih menggunakan motor?”

“Tentu saja.” Jibyung menjawab cuek, sambil membuka resleting jaketnya, menampakkan kaus berwarna putih dengan tulisan ‘Source’ di dadanya.

“Seharusnya kau sudah mulai berhenti. Bagaimana kalau terjadi sesuatu?” Minhyun kembali menghampirinya dan memberikan gelas yang berisi air putih.

Jibyung menerima gelas itu sementara matanya memandang heran ke arah Minhyun, “Memangnya kenapa aku harus berhenti?” tanyanya sebelum mulai meneguk air minumnya. Jibyung berniat memberitahu Minhyun tentang dirinya yang hampir menabrak orang. Dia penasaran bagaimana reaksi Minhyun nanti.

Dengan santai Minhyun mendudukkan dirinya di single sofa yang lain dan berujar, “Bukannya kau hamil?”

“Uhuk!” cairan itu kini sukses membasahi dagu hingga bagian depan pakaian Jibyung. Buru-buru wanita itu mencabut beberapa tisu yang disodorkan Minhyun sambil berkata setengah mendengus, walaupun tanpa bisa dipungkiri, semburat kemerahan terlukis di pipinya. Sepertinya dirinyalah yang mendapat kejutan, bukan Minhyun, “Kenapa eomma berpikir begitu? Aish..” dengusnya. Niatnya menceritakan peristiwa tadi pada Minhyun jadi menguap begitu saja.

“Memangnya tidak?” Minhyun memandangnya dengan mata membulat. Jibyung mendongak, memperhatikan ekspresi ibunya itu, sesaat dia tampak berpikir.

Molla.” ucap Jibyung pada akhirnya, berpura-pura kembali sibuk dengan kegiatannya mengeringkan pakaiannya dengan tisu. Dia tidak ingin membuat Minhyun kecewa dengan mengatakan ‘tidak’. Selain itu, jika Jibyung benar-benar mengatakannya dia pasti akan diinterogasi habis-habisan.

“Kau belum periksa?”

Jibyung menggeleng.

“Kalau begitu cepat periksa. Kami punya firasat kau mengandung, Shin Jibyung.”

“Aish, arasso. Aku akan periksa nanti.” tukas Jibyung, tak ingin lama-lama membicarakan topik ini. Padahal dalam hati dia sama sekali tidak yakin dirinya sudah mengandung. Bagaimana bisa, jika Onew ternyata seperti ini? Ah, mengingatnya saja membuat Jibyung merasa hatinya dicubit.

Ibu dan anak itu berbicang tentang beberapa hal, dan harus terhenti saat suara pelanggan yang datang menginterupsi mereka. Kini hanya Jibyung yang berada di ruangan itu. Minhyun menyuruhnya diam saja, padahal Jibyung ingin membantu melayani pelanggan. Ck, ternyata ibunya itu memang percaya dia tengah mengandung.

Mencoba menghilangkan rasa bosan, Jibyung berjalan mengelilingi ruangan itu, bahkan menyempatkan diri menghitung langkah kakinya—dia sama sekali tidak ingin membiarkan dirinya sendiri tidak memikirkan sesuatu—dan akhirnya membawa dirinya duduk di kursi belakang meja kerja yang penuh dengan desain-desain baru. Wanita itu mengamati gambar-gambar tersebut, tersenyum tipis membayangkan sehebat apa Minhyun saat masih menjadi seorang designer dulu.

Pandangannya kemudian tertumbuk pada bingkai foto yang berdiri di sudut meja. Foto mereka bertiga—dirinya, Minhyun dan Jikyung, yang dilatarbelakangi indahnya sunset di pantai beberapa tahun lalu. Pandangan mata Jibyung meredup begitu melihat wajah di bagian kiri foto. Beberapa kilasan kejadian terlintas di benaknya.

*

[“YAAA!!” jeritan nyaring terdengar saat Jibyung berlari ke arah pantai sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Di belakangnya, Jikyung menyusul, tertawa lebar melihat semangat saudaranya itu.

“Hati-hati! Jangan terlalu jauh!” Minhyun memperingatkan dari bibir pantai. Sebelah tangannya memegangi topi yang ia kenakan, gaun(?) pantainya berkibar karena angin yang bertiup cukup kencang namun menyenangkan.

Jibyung dan Jikyung mulai menikmati ombak-ombak yang mendatangi mereka, sesekali tawa riang terdengar dari keduanya. Minhyun hanya memperhatikan dari tempatnya duduk di bibir pantai yang cukup jauh dari gapaian ombak. Sebagai seorang ibu, dia ikut senang melihat kedua putrinya tertawa lagi selepas itu sejak ayah mereka pergi untuk selamanya tiga tahun yang lalu.

*

“Jibyung-ah.

Wae?” Jibyung masih asyik mengamati kerang ketika Jikyung memanggilnya.

“Jibyung-ah!” seru Jikyung karena adiknya itu tidak juga menoleh.

“Ah, wae—aaah! Jikyung-ah!” kontan Jibyung memekik sesaat setelah air asin laut itu terciprat mengenai wajahnya. Dia pura-pura memandang sengit ke arah Jikyung yang menertawainya dengan lepas, lalu balas mencipratkan air ke arahnya dengan menggunakan kedua tangan dan secara bertubi-tubi.

Seolah tak mau kalah, Jikyung balas lagi melakukan hal yang sama, dan perang air pun terjadi, merambat ke perang pasir dan bahkan masing-masing berlomba-lomba merekrut(?) anak-anak kecil yang ada di sekitar untuk bergabung sebagai komplotan, hingga akhirnya keduanya sama-sama berakhir dengan penampilan berantakan, dan berjemur sampai sore menjelang, barangkali tertidur sebentar karena angin sepoi dan debur ombak khas pantai, seolah musik lullaby yang memanggil rasa kantuk.

Hari sudah hampir gelap, dan area pantai sudah cukup lengang ketika Minhyun beranjak dari tempatnya sejak tadi dan berjalan menyusuri pantai ke bagian barat sambil menenteng kamera. Jibyung dan Jikyung yang masih asyik mengobrol sambil menggambar apapun di atas pasir tidak menyadari hal itu.

“Jibyung-ah!” Jibyung bisa mendengar Minhyun memanggilnya setelah beberapa saat berlalu. Gadis itu menghentikan kalimat yang diucapkannya pada Jikyung dan menoleh ke sumber suara, begitu pun Jikyung. Sesaat kemudian keduanya tampak berbinar melihat pemandangan sunset yang tersaji di depan mata, tepat di belakang Minhyun yang saat ini sedang berdiri beberapa meter di depan mereka.

“Uwah.” seolah tak mau melewatkan kesempatan ini, Jibyung melemparkan begitu saja ranting yang digunakannya untuk menggambar di atas pasir lalu berlari kecil mendekati Minhyun, “Eomma, ayo berfoto!”

Keureom, kajja!

Jikyung yang masih berjongkok di tempatnya memperhatikan Minhyun dan Jibyung sebentar, menyunggingkan senyum simpul lalu kembali melanjutkan gambarnya di atas pasir, gambar  sebuah karakter kartun yang tidak ada di kartun manapun.

Ya, Jikyung!” seruan nyaring Jibyung membuat Jikyung langsung menoleh, “Ayo kemari, kita foto bersama!”

Seperti yang dilakukan Jibyung tadi, gadis itu tersenyum lebar dan membuang rantingnya lalu berlari menghampiri mereka.

One, two, cheese!”]

[Tuan Shin menggumamkan kata ‘enak’ setelah mencicipi sedikit sup ikan yang merupakan salah satu menu makan malam mereka. Minhyun yang mendengarnya hanya tersenyum simpul, lalu menyuruh kedua anaknya untuk juga mulai menikmati makan malam mereka.

Percakapan kecil sesekali terjadi di antara mereka selama makan malam berlangsung. Kebersamaan paling kental yang mereka rasakan memang pada saat makan bersama seperti ini.

“Bagaimana sekolah kalian? Nilaimu baik-baik saja, Jikyung-ah?” tanya tuan Shin tiba-tiba.

Jikyung yang saat itu masih berusia sembilan tahun meliriknya sebentar, lalu menyuapkan rolade-nya menggunakan garpu. Dia mengambil waktu untuk mengunyah dan menelan makanannya, sehingga tuan Shin memutuskan untuk mendengar jawaban Jibyung lebih dulu.

“Kalau Jibyung?”

“Hehehe~” yang ditanya hanya memberikan cengiran lebar, disusul dengusan pelan dari Minhyun yang sudah maklum dengan kondisi anaknya yang satu ini.

Tuan Shin ikut terkekeh, lalu mengusak puncak kepala Jibyung, “Kau harus lebih banyak belajar. Kalau tidak mengerti penjelasan dari seonsaengnim, kau bisa tanya pada Jikyung. Keuraechi, Jikyung-ah?

“Em.” Jikyung menganggukkan kepalanya dengan semangat.

“Bagaimana ulangan kemarin, Jikyung?” kali ini Minhyun yang bertanya sambil menyuap makanannya dengan santai.

Jikyung yang terkejut karena ditanya lagi—terlihat salah tingkah, “Ulangan matematika kemarin.. karena aku tidak terlalu mengerti…” katanya mencoba menjelaskan dengan takut-takut. Melihat tatapan heran kedua orangtuanya, gadis kecil itu merasa sedikit tersudut.

Keurae? Boleh kulihat?”

Jikyung memberikan anggukan kecil sebagai respon terhadap pertanyaan Tuan Shin.

*

“Hm? Padahal soal ini masih tahap mudah. Kenapa Jikyung tidak bisa mengerjakan?” komentar Tuan Shin sambil mengamati kertas ulangan Jikyung—saat itu sudah selesai makan malam, dan mereka sedang berkumpul di ruang tengah.

Minhyun yang mendengarkan perkataan suaminya ikut berkomentar, “Jinjja? Seharusnya dia bisa?” tanyanya, menggunakan garpu untuk menusuk apel yang baru saja dikupasnya, lalu memberikan apel tersebut pada Jibyung yang duduk di sebelahnya.

Ne, seharusnya anak seumur Jikyung bisa.” Jawab tuan Shin.

“Itu.. karena aku tidak mengerti.” Jikyung menggaruk pelipisnya selikas.

“Kalau begitu, belajar lagi sampai kau mengerti. Arachi?” tuan Shin menepuk pelan kepala Jikyung dengan ekspresi yang berbeda saat beliau mengusak rambut Jibyung saat di meja makan.

Minhyun menambahkan dengan ekspresi wajah yang sama persis, “Jangan sampai nilaimu turun, nanti tertinggal.”

Ne..

Memang Jikyung belum terlalu mengerti. Tapi mimik kedua orang tuanya saat ini membuatnya merasa bodoh, dan—dengan setengah hati—mencamkan pada dirinya sendiri bahwa mempertahankan nilai belajarnya adalah sesuatu yang wajib dia lakukan. Maka, malam itu juga gadis kecil itu belajar dengan keras agar mengerti materi matematika yang menurutnya rumit tersebut.

Di tengah keseriusannya mempelajari, Jibyung menghambur masuk ke kamar mereka, “Jikyuuung-aah~” panggilnya setengah berseru dengan nada yang dimainkan.

Jikyung yang duduk membelakanginya di atas meja belajar, menoleh sekilas, mendapati adiknya itu tengah memberikan cengiran lebarnya, “Ani, tidak jadi.” Kata Jibyung sambil terkekeh, membuat Jikyung mengeluh pelan dan kembali menekuni buku pelajarannya.

Entah apa yang dilakukan Jibyung di belakangnya setelah itu. Banyak suara-suara pelan yang terdengar walaupun tidak sering, dan Jikyung memutuskan untuk tidak terlalu memedulikannya, hingga beberapa saat kemudian Jibyung berdiri di sampingnya, “Jikyung-aah.. sudah mengerti?”

“Hm, aku masih bingung.” Jawab Jikyung apa adanya, “Tapi kau jangan katakan pada eomma dan appa!

“Hmm!” Jibyung membuat gerakan seperti meresleting bibirnya, tapi kemudian seolah membukanya kembali, lalu berbicara dengan nada seperti sangat frustasi, “Ah, kau sih, hanya ini yang tidak kau mengerti. Kalau aku hampir semuanya tidak ada yang menempel di otak. Ckck.”

Jikyung menatap saudara kembarnya dengan aneh.

“Eoh, Jikyung-ah, ajarkan aku yang ini.”

Mendengar itu, barulah Jikyung mengalihkan tatapannya pada materi yang ditunjuk Jibyung di bukunya, “Pythagoras?

“Err, apapun namanya. Ayo ajarkan aku di sana, di tempat tidur!”

“Kau tidak mengerti pythagoras? Ini, kan, mudah sekali.”

“Ish, aku, kan tidak sehebat kau.” dengus Jibyung dengan bibir mengerucut. Dia menyusul Jikyung yang lebih dulu naik ke atas tempat tidurnya.

Jikyung mulai menjelaskan setiap detail cara pengerjaan soal yang menggunakan pythagoras—sesuai yang diketahuinya—dengan gaya menjelaskan khas anak seumurannya. Sudah berkali-kali dia merasa bodoh seperti ini, dan tanpa disadarinya, sudah berkali-kali pula Jibyung kembali membuatnya percaya diri entah dengan cara apa.

“… jadi, kalau dijumlahkan, ini jadi 100. Setelah itu, kau harus tahu akar pangkat dua dari seratus. Berapa?” tanya Jikyung sambil menoleh pada Jibyung yang mendengarkannya sambil berbaring tengkurap.

Jibyung yang sebenarnya tidak mendengarkan sama sekali—karena sejak tadi dia setengah tertidur—hanya menggeleng.

Ya, kau tidak mendengarku?”

“Eh? Hehehe..”

“Aaaah.. Jibyung-aaah~”]

[Di musim semi, sekedar berbaring di atas rerumputan di halaman belakang rumah bisa menjadi hal yang sangat menyenangkan bagi Minhyun dan kedua anak remajanya yang berbaring di samping kanan dan kirinya. Matahari tertutup awan sehingga sinarnya tidak terlalu terik dan menyilaukan. Udara hangat musim semi berbaur dengan harum-haruman bunga yang sedang bermekaran.

“Sudah dua bulan…”

Minhyun melirik Jikyung yang berbaring di samping kanannya ketika gadis berusia tujuh belas itu bergumam.

“Iya.”

Kali ini Minhyun menoleh ke arah Jibyung yang berbaring di samping kirinya, tersenyum mendapati gadis itu tengah mengulurkan sebelah tangan ke arah langit.

Appa sedang melakukan apa, ya, sekarang?” Jibyung kembali bergumam, setelah itu menurunkan kembali tangannya dan hanya memandangi awan-awan yang berarak di atasnya.

Minhyun mengalihkan pandangannya ke arah langit juga, memejamkan mata sejenak untuk menikmati suasana santainya.

“Aku… berencana membuka butik lagi.” celetuk Minhyun setelah beberapa saat, membuat kedua anak gadisnya menoleh secara serentak dan menatapnya antusias.

Jibyung berguling hingga posisinya tengkurap mendekati Minhyun, “Jinjja?” katanya berbarengan dengan Jikyung.

“Peninggalan appa kalian tidak akan cukup untuk waktu yang lama, jadi kita harus punya usaha.” kekeh Minhyun sambil melirik keduanya bergantian.

“Wah, aku mau membantu!”

Keurae, Jibyung-ah. Itu cita-citamu, kan?” Minhyun langsung menyetujui tanpa pikir panjang. Jikyung yang mendengar itu terdiam sejenak, melihat ke arah langit lagi, tampak sedikit menerawang sambil berpikir.

Sesaat kemudian dia berkata, “Eomma, aku juga.”

“Eh?”

“Aku juga mau membantu.”

Minhyun bangkit menjadi duduk sambil bertutur, “Ah, andwae. Jikyungie harus masuk sekolah kedokteran, kan?”

Jikyung menggeleng, agak takut-takut, tapi berusaha menyingkirkan perasaan itu jauh-jauh, “Sebenarnya aku tidak mau jadi seorang dokter. Aku mau jadi seperti eomma.”

“Eh? Apa?”

Jikyung juga bangkit menjadi duduk, berbeda dengan Jibyung yang malah kembali berbaring dengan santai, seolah tidak sadar suasana.

Minhyun menggelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan, “Tidak, aku tidak setuju. Kau tetap harus jadi seorang dokter. Kau cerdas.”

“Tapi, eomma, aku tidak mau.”

Andwae~

Ya, eomma! Kenapa tidak boleh? Aku mau jadi seorang designer bersama Jikyung! Aish.. aku akan merasa bodoh kalau Jikyung benar-benar jadi seorang dokter. Jikyung-ah, ayo ikuti jejak uri eomma saja!”]

>>><<<

Pandangan kosong itu sekarang tampak kembali fokus setelah pemilik mata beriris hitam itu menemukan kesadarannya lagi.

Jibyung menarik napas dalam kemudian melepaskannya dengan perlahan. Dia menopang dagu dengan sebelah tangannya. Tangannya yang lain mengetuk-ngetukkan jari pada bingkai foto yang sekarang jadi satu-satunya objek yang sedang diamatinya.

Jibyung tahu sekarang dia sudah memegang satu keputusan, namun dia tidak tahu apakah itu keputusan yang benar atau justru sebaliknya. Hh, mungkin dia harus memikirkannya sekali lagi.

“Jibyung-ah, ayo makan malam di rumah. Sudah lama tidak berkumpul bersamamu. Ya? Kau tidak akan kemana-mana lagi, kan? Ah, tentu saja aku tidak akan mengijinkanmu kemana-mana lagi. Wajahmu pucat sekali. Kajja!

>>><<<

“Jikyung mungkin belum pulang.” gumam Minhyun begitu dirinya dan Jibyung tiba di rumah. Jibyung hanya mendengungkan ‘ng’ pelan sambil menyampirkan jaketnya di sandaran sofa ruang tengah. Dia memandang berkeliling sebentar, sebelum duduk di atas sofa yang sama dan  beberapa saat kemudian tertidur karena merasa lelah.

*

6.02 p.m.

Sebenarnya Jikyung sudah berada di rumah itu dan sedang tertidur saat Minhyun dan Jibyung tiba di sana, tertidur untuk mengistirahatkan pikirannya sejenak. Setelah membersihkan diri, yeoja itu turun ke lantai bawah dan menemui Jibyung terbaring di sofa.

Jikyung agak terkejut dan memandangi Jibyung selama beberapa saat, tapi kemudian perhatiannya beralih saat mendengar suara dari arah dapur. Jikyung melirik Jibyung sekali lagi, lantas melangkahkan kakinya menuju dapur dan mendapati Minhyun tengah menyiapkan makan malam.

Eomma.” panggil gadis itu seraya berjalan mendekat, membuat Minhyun menoleh dan mengamatinya sejenak, memastikan dia tidak salah mengenali.

“Oh, Jikyung-ah? Aku tidak tahu kau sudah pulang.” kata Minhyun, lalu kembali menekuni masakannya.

“Eoh, aku ketiduran.” Jikyung berujar parau, mengambil segelas air putih lalu meneguknya sampai habis. Sekali lagi dia menoleh ke tempat Jibyung yang memang terlihat dari posisinya berdiri saat ini, gumaman dengan nada menggantung disuarakannya, “Jibyungie…”

“Dia mengunjungiku di butik. Karena aku tahu Jinki pasti sedang bekerja, sekalian saja aku mengajaknya kemari. Sudah lama kita bertiga tidak berkumpul.” tutur Minhyun, mengerti Jikyung sedang bertanya-tanya tentang bagaimana saudarinya bisa ada di sini.

Jikyung menggumamkan ‘oh’ singkat, lalu segera mengalihkan pandangannya dari Jibyung, “Dia sepertinya kelelahan.”

“Hm, sepertinya memang begitu.”

“Ah, eomma. Biar aku saja yang memasak. Istirahatlah.”

Keurae? Baiklah, teruskan. Gomawo, Jikyung-ah.

Jikyung tersenyum lalu mengambil apron yang diserahkan Minhyun padanya. Beberapa saat kemudian dia sudah larut dalam kegiatannya.

*

Beberapa lama kemudian, makan malam yang tampak cukup menggugah selera itu telah terhidang di atas meja. Tidak terlalu banyak, karena mereka hanya tiga orang, dan kini semuanya sudah duduk di tempat masing-masing, berdoa sebelum menyantap makanan mereka.

Demi suasana kebersamaan dan demi Minhyun, Jibyung dan Jikyung sama-sama berusaha bersikap normal seolah tak terjadi apapun di antara mereka. Hal itu terus berlanjut hingga makan malam selesai dan keduanya sama-sama menawarkan diri mencuci semua peralatan makan yang kotor.

“Baiklah, mencuci piring tidak masalah.” gumam Minhyun yang ditujukan pada Jibyung, lantas beranjak meninggalkan meja makan sambil berceletuk, “Wah, beginilah enaknya punya anak perempuan. Apalagi anak kembarku yang baik hati.”

Tertawa kecil setengah mendengus melihat tingkah ibunya, Jibyung mulai membereskan semua peralatan di meja makan dan memindahkannya ke bak cuci.

“Biar aku saja yang mencuci.” ucap Jikyung dengan suara pelan. Tanpa menoleh, Jibyung bergumam setuju dan mencuci tangannya sebentar di bawah keran, setelah itu memutar tubuh dan berjalan menjauhi Jikyung.

“Kita bicara setelah kau selesai.” katanya dengan suara datar, masih tanpa menoleh, dan Jikyung hanya bisa melihat sosok itu berjalan ke arah halaman belakang hingga tak kelihatan lagi.

>>><<<

Igeo.

Onew menerima handphonenya—yang tadi dititipkan—dari tangan manager.

“Bereskan barang-barang kalian, kita langsung berangkat!” ujar sang manager yang hanya ditanggapi gumaman ‘ne’ dari setiap member.

Onew mendekati tempat tasnya diletakkan, mengambil sebotol air mineral dari sana dan langsung meneguknya hingga hanya tersisa sedikit. Dia memandangi satu-persatu member lain yang tengah sibuk dengan barang bawaan mereka. Onew mengambil MP4-nya yang tergeletak di atas meja rias, lalu menggulung kabelnya dan hanya menggenggamnya di tangan kiri, sementara tangan kanannya bergerak mengaktifkan handphone.

Beberapa pesan masuk begitu handphonenya di aktifkan. Onew mendudukkan diri di atas sofa, dan mulai membaca pesan-pesan tersebut.

[From : Eomma

Jinki-ya, Jung Namjoo yang kuceritakan kemarin banyak menanyaiku tentang hal-hal pribadi.]

Onew mengangkat alis, heran sendiri membaca pesan dari ibunya itu. Dua pesan lain datang beruntun, yang isinya tidak terlalu dianggapnya penting, dan setelah itu kembali masuk pesan dari nyonya Lee.

[From : Eomma

Apa mungkin dia seorang fan?]

Kali ini lelaki itu menghembuskan napas pelan dan tampak berpikir. Orang tuanya pasti tidak suka jika memang Jung Namjoo itu adalah seorang penggemar yang terlalu ingin tahu tentang dirinya hingga mendatangi kediaman keluarganya itu. Mau tak mau Onew merasa cukup terganggu dengan hal ini. Bagaimanapun ketidaknyamanan ini ada pasti karena dirinya. Segera saja ibu jarinya menari di atas layar ponsel untuk mengetikkan pesan balasan.

[To : Eomma

Lain kali kalau dia bertanya macam-macam lagi, abaikan saja.]

“Jinki hyung, kajja.” ajak Taemin yang mengikuti Minho dan Jonghyun keluar dari waiting room itu, menyisakan Key dan dirinya yang masih di sana. Onew menoleh sekilas lalu mengangguk. Sambil membaca satu lagi pesan masuk, dia mengambil tasnya sendiri dan menentengnya dengan tangan kiri.

[From : Byung-nim Buin

Hubungi aku saat kau ada waktu.]

Onew terdiam, melihat jam tangannya dan sosok Key yang sudah akan keluar secara bergantian. Dia baru saja hendak mendial nomor Jibyung, tapi sang manager sudah menyuruhnya untuk bergerak cepat. Menghembuskan napas gusar, Onew menyurukkan handphonenya ke dalam saku celana dan berjalan menyusul Key dan manager yang belum jauh di depannya.

>>><<<

Udara malam di musim semi cukup menyenangkan untuk dinikmati. Jibyung berdiri di kebun belakang rumah keluarga Shin itu sambil menikmati suasana malam dengan aroma bunga di sekitarnya yang semerbak tercium walaupun tidak sesegar pagi hari. Kedua tangannya tenggelam di dalam saku baju yang dia kenakan, sementara pikirannya melayang dan pandangannya yang kosong tertuju pada kolam kecil di depannya yang membiaskan cahaya bulan, tampak indah.

“Bukankah sejak kemarin, dan kemarinnya lagi dan kemarinnya lagi, kau ingin bicara?” ujar wanita itu tiba-tiba. Dia sudah merasa Jikyung berdiri di belakangnya, belum lama, dan memang benar.

“Eo-oh..”

Jibyung menunduk sejenak, lantas memutar tubuhnya hingga menghadap Jikyung, menatap kakaknya itu tepat di mata,“Katakan.”

Mendapat tatapan seperti itu, Jikyung sempat terhenyak sesaat, ditambah lagi perasaan gelisah yang tiba-tiba saja mengikatnya, membuatnya terdiam cukup lama hingga bisa menemukan suaranya kembali, “Aku… minta maaf.”

“…”

“Maaf, karena menyembunyikan semuanya darimu.” Jikyung berhenti sebentar begitu melihat Jibyung melangkah mendekatinya. Dia mengira Jibyung akan mengatakan sesuatu, tapi sepertinya dugaannya salah. Karena itu dia melanjutkan, “Ya, aku dan Onew…”

“…”

Jikyung menelan ludah dengan gugup, berusaha terus membalas tatapan Jibyung yang tidak sedetikpun lepas darinya, “Tapi, Jibyung-ah. Aku bukan perempuan seperti yang mungkin kau pikirkan sekarang—”

PLAK!

Rasa sesak sudah dirasakan Jibyung sejak tangannya melayang dan mendarat dengan ringan di pipi kiri Jikyung hingga yeoja di hadapannya itu agak terhuyung. Selanjutnya dunia seolah sunyi. Jikyung bahkan bisa mendengar setiap helaan napas Jibyung yang berat. Dia kembali menatap Jibyung, tidak sedikitpun merasa marah karena merasa pantas menerima ini. Sebaliknya, cairan bening sudah menggenang di pelupuk matanya yang menatap lurus sepasang mata Jibyung yang menyiratkan banyak emosi.

“Maaf,” Jibyung mengepalkan tangannya di samping tubuh, merasa hatinya dicubit melihat kepedihan di mata Jikyung, “tapi aku bukan orang yang akan diam saja jika ada yang menyakitiku. Kau tahu itu.”

Berusaha tidak menghiraukan perih di pipinya, Jikyung berdeham pelan sebelum kembali berujar, “Sebenarnya hari itu kami sudah akan memberitahumu semuanya.”

“…”

“Aku…” Jibyung bisa mendengar isakan disela ucapan saudarinya, dan itu membuat sesuatu seolah menyangkut di tenggorokannya yang tercekat, “sebenarnya sudah sejak awal ingin mengatakannya padamu. Sebenarnya aku tidak sepenuhnya menikmati ini. Tapi karena Onew—”

PLAK!

Lebih kencang dan di tempat yang sama. Jibyung tidak tahu tangannya bisa seringan ini terayun. Napas beratnya kini ikut diselingi isakan, namun sekuat tenaga dia meredamnya.

“Kau anggap aku apa? Eh?”

Mian..”

“Sejak awal kau bahkan tidak pernah memberitahuku bahwa kau menyukai Onew.” ujar Jibyung, berdasarkan apa yang diketahuinya dari Junsu (dia sendiri yang memaksa Junsu menceritakan semua yang diketahuinya).

Jikyung menggigit bibir bawahnya erat-erat dan memilin-milin ujung bajunya. Kepalanya tertunduk, kali ini benar-benar tidak berani menatap Jibyung.

“Meski aku tahu, meski aku bisa ikut merasakan apa yang kau rasakan, begitupun denganmu, tapi kita tidak bisa tahu untuk siapa atau karena apa perasaan itu ada, kan? Setiap aku bertanya ada apa denganmu, kau selalu menjawab bahwa kau tidak tahu. Tapi tidak seharusnya kau melakukan itu. Seharusnya kau mengatakan ini sejak awal. Sekarang kau membuatku tampak seperti saudara kembarmu yang bodoh, Shin Jikyung!”

“Jibyung-ah, aku tidak bermaksud—”

“Aish..” Jibyung memalingkan wajahnya ke arah lain, menghapus air mata di pipinya dengan kasar. Baru pertama kali dia merasa semarah ini pada Jikyung.

“Jibyung-ah, dengarkan aku.”

“…”

“Benar, aku sudah menyukainya sebelum kalian berkencan. Tapi karena aku mengerti perasaanmu, aku memutuskan untuk mundur. Aku tidak memberitahumu tentang ini karena aku tahu aku bisa menghilangkannya.” Jikyung menghentikan ucapannya sejenak untuk mengambil napas, “Hingga saatnya kalian bertunangan lalu menikah, aku sudah bisa melupakannya. Tapi saat itu, saat kalian sudah menikah, Onew—” kembali dia menghentikan ucapannya. Kali ini karena Jikyung sadar jika dia mengatakan ini, akan terkesan seolah Onew yang memulai semuanya.

Jibyung menatap yeoja yang serupa dengannya itu dengan tatapan sarkas, lalu berbalik memunggunginya, kembali menangis sambil menutup mulutnya untuk meredam isakan, lalu beberapa saat kemudian berkata, “Kupikir aku tidak akan pernah merasa sekecewa ini karenamu.”

“Maafkan aku, Jibyung.”

“Berhentilah mengatakan maaf.” Sahutnya lagi dengan suara parau yang terdengar kesal, “Tidak akan merubah apapun.”

Memang benar, aku Jikyung dalam hati. Memang benar, sebanyak apapun kata maaf yang diucapkannya, semuanya tidak akan kembali seperti semula, kecuali jika dirinya mengorbankan perasaannya. Lagi.

“Kalau begitu, aku akan menjauh.”

Jibyung menghela napas dalam, menenangkan dirinya sendiri. Kedua matanya sembab, salah satu ujung bibirnya terangkat sedikit mendengar penuturan Jikyung. Bagaimanapun, dia tahu Jikyung ragu-ragu.

“Aku.. bisa menjauh.”

“Tidak.” Jibyung kembali menghela napas, sadar suaranya terdengar bergetar, “Kau tidak bisa, kali ini.”

Ucapan itu membuat Jikyung tertegun beberapa saat untuk mencernanya. Tidak bisa.. dari segi mana? Gadis itu, dengan wajah yang masih basah karena air mata, sudah menyuarakan gumaman tak mengerti, namun tidak ada tanggapan apapun dari lawan bicaranya.

Keduanya kemudian hanya membisu selama beberapa lama. Jibyung sibuk dengan pikirannya sendiri, sekaligus mempersiapkan diri untuk mengatakan keputusannya. Sesekali yeoja itu memijat sekilas pelipisnya karena merasa pusing. Sepertinya efek kelelahannya belum hilang.

“Aku pernah mendengar..”

“…”

“… di bandingkan orang pertama, orang yang membuatmu jatuh cinta untuk yang kedua kalinya lebih berharga, apalagi jika kau sampai berpaling dari orang pertama karena orang kedua.” Jibyung tersenyum kecut, suara yang keluar dari mulutnya terdengar parau namun tegas, “Bukankah itu benar?”

“…”

“Karena itu, jangan lepaskan orang terakhir yang membuatmu jatuh cinta.”

Jikyung tidak bersuara, terlalu dibuat bingung dengan semua penuturan Jibyung.

“Aku sudah terlalu banyak dipuaskan sejak kecil. Semua yang kuinginkan dikabulkan, aku juga selalu bisa melakukan apapun yang kumau tanpa ada yang melarang.” Jibyung menelan ludah dan tersenyum kecil di saat yang bersamaan, lalu kembali memutar tubuhnya menghadap Jikyung, “Sekarang, sekali ini saja, kurasa kau boleh egois, Jikyung-ah.”

Mendengar itu, kedua mata Jikyung melebar. Butuh beberapa detik hingga sistem kerja saraf-nya bekerja untuk merespon ucapan Jibyung, “Tidak mungkin. Jangan gila, Jibyung-ah. Aku tahu, kami salah. Karena itu maafkan—”

“—aku akan mengalah.” Jibyung menyela dengan nada tegas, “Itu keputusanku. Tidak bisakah kau hanya menghargai keputusanku saja? Tidak mudah untukku memutuskan ini.”

“Aku tidak—”

“—aku mengerti kau! Aku mengerti dirimu, itulah kenapa aku berpikir untuk mundur. Kau juga pasti, pasti mengerti aku, kan? Mengerti apa yang kumaksud saat ini, kan?”

Jikyung menggeleng lalu bergerak maju, meletakkan kedua tangannya di pundak Jibyung, melihat matanya dalam-dalam. Jantungnya berdetak cepat, entah kenapa merasa takut melihat berbagai emosi yang terlintas di mata Jibyung, merasa takut sejak adiknya itu berkata akan mengalah, “Tolong jangan seperti ini, Jibyung-ah..”

“Lalu apa yang sebenarnya kau inginkan, hah?!” Jibyung menepis tangan kiri Jikyung di pundak kanannya, lalu menyeka air matanya dengan kasar, “Bukankah kalian melakukan ini di belakangku agar aku mundur? Kalau kau juga mencegahku melakukan itu, lalu untuk apa selama ini kalian berlelah-lelah membodohiku?!”

“…”

Jibyung menepis lagi tangan Jikyung yang lain, diam sebentar untuk menenangkan diri. Melihat Jikyung tak memberi tanda akan mengatakan sesuatu, dia kembali berujar, “Aku akan bicara dengan Onew secepatnya.” Setelahnya, wanita itu berjalan begitu saja meninggalkan Jikyung yang masih mematung dengan pandangan kosong, sama sekali tak berasak dari tempatnya.

*

Jibyung berpamitan pulang pada Minhyun yang sedang menonton tanpa benar-benar menghadapkan wajahnya yang sembap pada sang ibu. Minhyun yang semula mengira Jibyung akan menginap di sana tentu saja heran. Dia terus menanyai Jibyung kenapa dan bagaimana keadaannya dan yang lain-lain, yang hanya dijawab Jibyung dengan sangat seadanya. Tak ingin membuang waktu terlalu lama, wanita yang masih berstatus sebagai istri Onew itu segera melaju bersama motor sportnya meninggalkan kediaman keluarga Shin.

>>><<<

… A few days later, SM Ent. Building, 9.14 a.m …

(Onew’s POV)

Aku menghentikan gerakan danceku begitu saja sembari menatap member lain melalui cermin besar di depan kami. Lamat-lamat, satu persatu dari mereka juga ikut menghentikan tarian mereka yang sebenarnya sejak tadi sudah membuatku kesal.

Taemin beranjak mematikan musik, dan seketika saja suasana benar-benar sunyi. Aku masih tidak bergerak dari posisiku.

Key berjalan ke sisi ruangan dan meneguk minumannya. Merasa diikuti tatapanku, dia berhenti minum dan balas menatapku, “Waeyo, Hyung?

Aku berusaha agar tidak meledak saat ini juga, “’Wae?’ Kau masih tanya kenapa?” ujarku sarkas. Mereka terdiam, terutama Minho dan Key.

“Mau latihan berapa kali pun, bahkan sampai aku MATI di sini, KITA TIDAK AKAN KOMPAK KALAU KALIAN TERUS SEPERTI ITU!” tunjukku pada keduanya. Diam. Di antara mereka semua tidak ada yang bicara.

Minho dan Key yang biasanya kompak itu memang sudah beberapa hari terakhir saling perang dingin. Aku tidak tahu ada masalah apa di antara mereka. Mereka sendiri tidak ada yang bersedia membuka mulut untuk menjelaskannya.

Tenagaku sudah terkuras sejak tadi kami latihan, dan aku juga melihat raut lelah itu di wajah Taemin dan Jonghyun. Minho dan Key berkali-kali membuat kesalahan, asal-asalan dan terlihat tidak kompak, sehingga kami harus berkali-kali mengulang latihannya dari awal.

“Mana profesionalitas kalian?! Tidak bisakah kalian menyampingkan urusan pribadi kalian sebentar saja?! HAH?!”

Hyung, sudah—”

“DIAM!” aku memotong ucapan Jonghyun dengan bentakanku. Tidak peduli apa yang saat ini mereka pikirkan tentangku. Aku sudah merasa terlalu penat dengan berbagai masalah yang menghimpitku saat ini, dan aku ingin meledak saja rasanya, “Tolong jangan bawa masalah pribadi kalian ke dalam urusan pekerjaan. Apa kalian artis yang baru lahir kemarin?! YANG KALIAN LAKUKAN SEJAK TADI HANYA MEMBUANG-BUANG WAKTU!! MEMBUANG-BUANG TENAGA!! KALIAN SANGAT—”

“LIHAT DIRIMU SENDIRI!!” suara baritone Minho menggelegar di ruangan luas yang terasa semakin ‘menggerahkan’ ini. Mata besarnya mengarah padaku, menghujam tepat ke mataku dengan sorot kekesalan yang kentara, “Siapa yang BERKALI-KALI mengabaikan pekerjaan demi masalah pribadinya?! Siapa yang akhir-akhir ini sering membuat KITA SEMUA terlambat karena menunggunya yang lebih mengurusi MASALAH PRIBADINYA?! Siapa sebenarnya yang tidak professional?! SIAPA?!” dia balas meneriakiku.

Ya, CHOI MINHO!”

“KAU TIDAK MENGERTI, CHOI MINHO!”

Hyung!

“LALU APA KAU MENGERTI MASALAHKU, LEE JINKI?”

Hyung, cukup!”

“Hentikan, Minho!”

“KENAPA?! Kenapa hanya aku yang salah, SEMENTARA DIA YANG MEMULAINYA?!” Minho mengarahkan telunjuknya tepat ke arahku dengan emosi.

Aku mengatupkan rahang dan mengepalkan telapak tanganku dengan erat, berusaha menelan semua ucapan yang tadinya akan kulontarkan untuk membalasnya. Lagipula berteriak-teriak seperti ini juga hanya membuang tenaga.

“Kau sudah keterlaluan, Minho.” ujar Jonghyun setelah membiarkan suasana senyap sejenak. Tangannya mendarat di pundak kanan Minho, yang sedetik kemudian segera ditepis.

“Terserah saja.” Pria tinggi itu berbalik memunggungiku, mengambil botol air mineralnya dan meminumnya dengan pancaran emosi yang masih terlihat jelas.

Hening lagi. Mereka terlihat sedang sibuk dengan pikiran masing-masing, sementara aku masih merasakan panas di kepalaku. Dan sebelum meledak lagi, aku memutuskan untuk segera keluar dari ruangan latihan ini. Percuma saja kalau mereka—maksudku Minho dan Key—masih sama-sama keras kepala. Seperti yang kukatakan tadi, hanya akan membuang-buang waktu.

Hyung, eodiga?” seru Taemin saat aku baru saja menggapai pintu ruangan.

“Selesaikan dulu masalah kalian.” ucapku pelan, sebelum menutup pintu dengan membantingnya keras. Jujur, aku sendiri baru menyadari bahwa baru pertama kali ini aku sampai semarah ini pada mereka.

Begitu keluar, aku berdiri terpekur sebentar di depan pintu ruang latihan, menghela napas dalam, berharap kekacauan dalam pikiranku sedikit berkurang, setelah itu pergi kemanapun kakiku melangkah.

Setelah beberapa saat berjalan di sepanjang koridor, aku mendengar samar-samar suara langkah kaki di belakangku, padahal biasanya hal sekecil itu aku tidak pernah menyadarinya sebelumnya. Karena penasaran, aku menoleh ke belakang, dan refleks berhenti melangkah mendapati Kim Jonghyun berdiri di sana dan langsung tersenyum canggung begitu kutatap.

Wae?” tanyaku dengan nada khas orang yang baru saja melampiaskan amarahnya.

“Err..” kali ini Jonghyun tampak meringis dan hanya mengusap tengkuknya tanpa mengatakan apapun. Karena merasa membuang waktu, aku kembali berjalan, mencoba tidak memedulikannya. Mungkin dia ikut keluar hanya untuk membuat kopi atau semacamnya, mengingat kami sama sekali belum mendapat waktu tidur yang cukup beberapa hari ini.

Aku memasuki lift dan melihat Jonghyun tidak mengikuti. Kugerakkan tanganku dan memijit tombol lantai teratas gedung ini—di lift. Mungkin di sana ada ruangan kosong. Aku perlu berpikir sendiri dulu sekarang.

>>><<<

Cuaca hari ini sangat cerah dan hangat walaupun aku tidak terlalu menikmatinya. Dari jendela di hadapanku, bisa kulihat matahari mulai bergerak naik seiring waktu berjalan.

Aku menghela napas dalam dan menghembuskannya pelan sebanyak tiga kali. Kupandangi gedung-gedung pencakar langit yang jauh yang tampak di pandanganku—selama beberapa lama. Melakukan hal sekecil ini saja membuatku teringat Jibyung yang memintaku menghubunginya jika ada waktu.

Tanganku bergerak menelusup ke dalam saku celana untuk mengambil ponsel. Kulihat waktu yang tertera di sana sambil menimbang-nimbang sebentar, sebelum mendial sebuah nomor dan mendekatkan benda itu ke telingaku.

>>><<<

… Onew & Jibyung’s Apartment …

(Author’s POV)

“Byung-nim! Angkat telfonku cepaaat! Ini penting sekaliiii! Cepat angkat! Angkat cepat! Cepat, cepat, cepaaaaat! BYUNG-NIIIM!”

Mau tak mau seulas senyum kecil terukir di bibir Jibyung yang menghentikan sejenak kegiatan rumahnya begitu mendengar dering ponselnya yang disimpan di meja ruang tengah. Rasanya sudah lama sekali Jibyung tidak mendengar nada dering khas-nya ini. Nada dering yang khusus menandakan bahwa orang yang menelpon adalah namja yang kini adalah suaminya. Oh, bahkan dia baru sadar, setelah mereka menikah, biasanya dirinyalah yang menghubungi Onew lebih dulu.

Yeoja itu lalu menghela napas kecil, bersamaan dengan senyumannya yang menghilang sama sekali. Dia segera berjalan ke arah ruang tengah, dan dengan gerakan cepat membuka flap ponselnya tersebut, “Yeoboseyo.

“… Byung?”

Tak bisa dibohongi, Jibyung merindukan cara Onew memanggilnya seperti ini, “Eoh.”

Kau di apartemen?

Ne.”

“…”

“…”

“Aku ada sedikit waktu.”

Raut wajah yeoja itu tampak sedikit menegang, “Baiklah, aku akan menemuimu.”

“Aku yang ke sana, tunggulah.”

Jibyung menghela napas sepelan mungkin, lalu menjawab dengan hanya gumaman ‘hn’ dan langsung memutuskan sambungan telpon tanpa menunggu jawaban Onew.

“Semoga ini akan lebih mudah.” lirihnya sambil memandang kosong foto pernikahan mereka.

>>><<<

@ 5th Floor..

Gadis berumur dua puluh dua itu menopang dagu dengan sebelah tangannya, matanya tertuju pada layar notebook, membaca satu-persatu kalimat yang baru saja diinput-nya, sementara otak tajamnya berputar memikirkan arti dari kalimat-kalimat itu sendiri dan menghubungkannya dengan segala kecurigaannya.

“Empat minggu yang lalu, seorang wanita mendatangi rumah itu, aku mendengar mereka bicara tentang ‘cucu’.” gumam yeoja bernama Jung Namjoo itu. Terbentuk kerutan samar di antara kedua alisnya. Dia membaca ketikannya selanjutnya dan kembali menggumamkannya sambil berpikir.

“Sooyoung, teman dari temanku yang bekerja paruh waktu di sebuah butik, agak lama sebelum itu, bercerita tentang keluarga pemilik butik itu yang semuanya berbakat dalam merancang busana. Dia merasa iri pada putri pemilik butik, apalagi pada saat itu dia memergokinya mengenakan cincin pernikahan.

“Seminggu yang lalu salah satu temanku merekomendasikan nama butik yang sama padaku. Saat aku datang ke sana beberapa hari yang lalu, yang melayaniku adalah wanita yang empat minggu lalu datang ke rumah keluarga Onew, dan aku sempat berpapasan dengan seorang perempuan muda setelah berbelanja di sana. Perempuan muda itu kemudian masuk ke dalam butik dan memanggil ‘wanita empat minggu yang lalu’ itu dengan sebutan ‘eomma’.”

Jung Namjoo men-scroll down halaman di notebooknya, dan memandangi lekat-lekat foto yang didapatnya dari seorang teman. Foto seorang laki-laki yang sangat mirip dengan Onew—tengah melangkah keluar dari sebuah cafe dengan kepala menunduk. Tidak ada yang aneh dalam foto itu, jadi gadis itu tidak terlalu memedulikannya. Dia melanjutkan membaca tulisan lain di bawahnya.

“Alamat apartemen ini, yang kudapat dari rumah keluarga Onew beberapa waktu lalu. Nomor apartemen 306.” Rasa penasarannya timbul begitu saja. Entah kenapa Jung Namjoo merasa yakin ada sesuatu di balik ini.

“Pertama, aku harus memastikan siapa yang tinggal di apartemen ini, lalu memastikan langsung melalui sumber utama.” Tangannya bergerak mem-block deretan nomor ponsel yang berada tepat di bawah tulisan alamat apartemen yang disebutkannya sebelumnya. Nomor ponsel yang juga didapatnya dari rumah keluarga Onew beberapa waktu lalu.

Jung Namjoo beranjak dari tempatnya, lalu dengan langkah-langkah panjang segera meninggalkan apartemen tempatnya tinggal, berniat turun ke lantai dasar dan bertanya pada bagian informasi tentang orang yang tinggal di ruang apartemen nomor 306. Dia merasa akan segera membongkar sebuah rahasia.

>>><<<

iPhone putih Onew terus berdering sepanjang seperempat perjalanan yang ditempuhnya menuju apartemen. Dia yang sudah tahu penelponnya tidak dikenal, tidak berniat mengangkatnya, setidaknya selama dia masih berkonsentrasi menyetir. Lagipula isi kepalanya saat ini terlalu penuh dengan berbagai macam kekhawatiran dan persiapan alasan yang membuatnya luar biasa bingung.

Hingga namja itu sampai di lobby gedung apartemen yang ditujunya pun, Si Penelpon masih setia menghubunginya. Dengan sedikit kesal dan dengan pikiran bahwa Si Penelpon punya urusan penting dengannya, Onew mengangkat panggilan itu dan langsung menjawab dengan agak ketus, “Yeoboseyo?

“Ne, yeoboseyo. Onew… kan?” tanya orang di seberang dengan ragu-ragu. Dari suaranya, Onew tahu dia seorang perempuan, dan namja itu mulai merasa waswas sekarang.

Nuguseyo?” tanya Onew balik tanpa menjawab pertanyaannya. Dia sedikit menurunkan topi dan membenarkan masker saat pintu lift terbuka dan terdapat beberapa orang di dalamnya. Setelah orang-orang itu keluar, dia masuk dan menekan tombol angka 3 pada lift.

“Jung Namjoo imnida.”

“Jung Namjoo?” Onew mengulang nama itu dengan suara pelan. Kenapa nama itu terasa agak familiar? Ah, bukankah dia yang mengaku teman sekolah dasarnya?

Kali ini Onew benar-benar merasa waswas. Orang ini.. belum tentu dia memang teman sekolah dasarnya, kan? Onew belum bisa percaya begitu saja, apalagi mengingat ‘laporan’ nyonya Lee beberapa waktu lalu, tentang Jung Namjoo yang bertanya macam-macam. Bisa saja dia memang seorang penggemar atau orang yang hanya haus berita. Tapi darimana orang ini tahu nomor ponselnya?

Dan dengan pertimbangan itu, Onew berniat mematikan sambungan telpon, namun urung ketika orang itu bersuara lagi, “Apa benar kau sudah menikah?”

Tubuh Onew menegang, “Apa?”

“Istrimu tinggal di apartemen ini juga, ya? Kamar nomor 306, bukan?”

“Apa maksudmu? Jangan main-main!”

“Waeyo? Aku hanya ingin melihat istrimu.”

TING!

Onew kembali menenggelamkan wajahnya dengan topi ketika pintu lift sudah terbuka. Lalu dengan segera namja itu keluar dari dalam kotak besi dan berjalan cepat menyusuri koridor dengan ponsel masih menempel di telinganya.

“Siapa kau sebenarnya?” tanyanya kembali, merasa geram.

“Tidak bisakah kau hanya menjawabnya saja? Aku penasaran sekali.”

Onew menghentikan langkah, terdiam sesaat. Dengan menekan rasa kesalnya hingga dasar, dia berkata, “Baiklah. Kau dimana? Kita bertemu saja.”

*

“Sebenarnya apa yang kau pikirkan hingga melakukan hal itu sejauh ini?”

Jung Namjoo tersentak lalu menolehkan kepalanya pada Onew yang berada di belakangnya. Di rooftop apartemen inilah akhirnya mereka bertemu. Yeoja itu tersenyum simpul lalu menjawab, “Aku hanya penasaran.”

“Dan akan segera menyebarkannya ke seluruh dunia sehingga kau bisa tenar di kalangan para fans, begitu?” ujar Onew setengah emosi. Di saat-saat seperti ini dan ada orang yang menurutnya mencoba mencari gara-gara, itu benar-benar membuat Onew merasa terganggu.

“…”

“Aku tidak yakin kau benar-benar temanku.” Onew menarik turun maskernya, “Ani, aku bahkan tidak peduli kau memang temanku atau bukan. Kau lancang sekali sampai mendatangi rumah orang tuaku dan bertanya macam-macam.”

“Oh, kau tahu tentang itu?”

“Astaga.” Onew mendengus dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Orang ini benar-benar…

“Aku memang bukan temanmu, tapi penggemarmu, dan aku pemegang sebuah fansite yang berisi semua hal tentangmu.” tutur Jung Namjoo, “Tapi.. apa tebakanku benar, bahwa kau sudah menikah?”

“Apa maumu?” tanya Onew tanpa berniat menjawab pertanyaan gadis itu. Tatapannya menajam, “Apa yang kau mau hingga berani mengacak-acak kehidupan pribadiku, bahkan kehidupan keluargaku?”

“…” gadis itu hanya diam dengan raut wajah yang sulit dibaca.

“Katakan.”

“Aku hanya penasaran.”

“Dengar,” Onew berjalan maju selangkah, “kami bisa saja menuntutmu jika kau menyebarkan semua yang kau tahu.”

Namjoo melebarkan kedua matanya, tidak menyangka seorang SHINee Onew akan mengatakan kata ancaman itu terhadapnya.

Onew yang sudah menahan kesal sejak tadi—apalagi auranya memang sedang didominasi negatif—kembali mengatakan sesuatu yang benar-benar membuat Jung Namjoo merasa sangat down, “Dan aku sama sekali tidak membutuhkan seorang penggemar sepertimu. Mengerti?”

>>><<<

Jibyung melirik jam di dinding ruang tengah, merasa heran karena sejak mendengar suara Onew satu jam yang lalu di telpon, namja itu belum juga muncul hingga sekarang. Perjalanan dari dorm SHINee hingga ke gedung apartemen ini hanya memakan waktu sekitar setengah jam, begitupun dari rumah keluarga Lee. Apa Onew lupa? Lupa kalau sebenarnya dia tidak sedang senggang? Ah, itu… bagus.

Jibyung beranjak dari sofa tempatnya duduk dan memasuki ruang kerjanya. Baru saja wanita itu mendudukkan diri di atas kursi, sebuah suara terdengar dari luar. Suara pintu apartemen yang terbuka dan ditutup kembali.

Punggung Jibyung menegak, tapi tidak juga beranjak dari tempatnya untuk sekedar melihat siapa yang datang. Orang itu tidak membunyikan bel, berarti dia tahu password pintu apartemennya. Apa itu Onew?

Jibyung mendengar suara langkah kaki, dan beberapa saat kemudian dia bisa melihat sosok Onew berjalan melewati pintu ruangan dimana dirinya berada, tampak memijat tengkuk. Sesaat kemudian namja itu kembali mundur karena merasa melihat Jibyung di ruangan tersebut, akhirnya keduanya bertemu muka.

Dengan canggung Jibyung berdiri, lalu berjalan mendekati ambang pintu dimana Onew berdiri, berhenti sebentar di hadapan pria itu, mengamati garis lelah di wajahnya, sebelum berjalan melewatinya dan duduk kembali di sofa ruang tengah. Onew mengikutinya, lalu duduk di hadapan istrinya itu.

Hening selama beberapa saat.

“Aku… sudah bicara dengan Jikyung sebelumnya.” Jibyung memulai, dan Onew yang semula menunduk menahan rasa pusing yang tiba-tiba saja menyerangnya langsung menegakkan kepala melihat yeoja itu.

“Hm?”

Jibyung menatap kedua mata itu dengan tegas, menelan ludahnya, diam-diam berharap suaranya tidak tercekat, “Kurasa sebaiknya… kita bercerai saja.”

Untuk ke sekian kalinya, Onew merasa kepala dihantam dengan sangat keras. Apa lagi ini? Ada apa dengan hari ini? Kenapa semua peristiwa yang terjadi seolah menguji kesabarannya?

*

“Kenapa?” tanya Onew, setengah berbisik.

Jibyung tersenyum masam, “Kenapa kau masih bertanya kenapa? Tentu saja karena aku ingin bercerai darimu.” bagaimanapun dia berusaha, suaranya tetap terdengar bergetar.

“Tapi… tidak semudah ini.”

“Siapa bilang ini mudah, Lee Jinki?” Jibyung mencengkram ujung sofa yang didudukinya, sedikitnya merasa darahnya mulai mendidih, “Itu satu-satunya jalan. Kau sendiri yang bilang mencintai Jikyung. Aku sudah memikirkan berbagai pertimbangan. Ini benar-benar tidak mudah.”

Onew kembali menunduk dan memijat pangkal hidungnya keras-keras, “Jibyung-ah..”

“…”

Masih berusaha tenang, Onew mendesah pelan, beranjak berdiri dan duduk di atas meja persis di hadapan Jibyung, “Lihat aku. Apa karena aku berkata seperti itu, makanya kau memutuskan ini?”

Perkataan itu memang tidak menyakitkan, tapi entah kenapa itu menyentuh perasaan Jibyung dan membuatnya menangis begitu saja, tanpa suara, “Bukan begitu.”

“Lalu kenapa?” Onew mempertahankan arah pandangannya ke dalam mata Jibyung yang kini digenangi air mata.

“…”

“Jawab!”

“Aku tahu apa yang dirasakannya!” Jibyung bangkit berdiri, mengusap matanya dengan kasar dan menatap Onew yang posisinya lebih rendah darinya. Dia membalas ucapan bernada tinggi Onew dengan hampir berseru.

Pria itu terdengar mendecih pelan, “Aku tidak mengerti.”

“Kau tidak akan mengerti! Ikatan batin kami sangat erat, jangan lupakan itu.”

Onew mendongak, kembali menatap Jibyung, “Jangan gila, Shin Jibyung. Benar, aku berkata seperti itu karena memang aku merasakannya. Tapi itu tidak berarti aku tidak mencintaimu. Pikirkan lagi!”

Jibyung mengambil napas dalam dan segera mengalihkan pandangan. Mulutnya terbuka, tampak hendak mengatakan sesuatu namun sepertinya urung.

“Aku tahu aku sudah sangat menyakitimu. Tapi aku… tidak ingin seperti ini, Jibyung.”

“Ceraikan aku untuknya. Nikahi dia, kita sudah berakhir.”

Kali ini Onew benar-benar merasa kacau. Dia mengusap wajahnya dengan frustasi, berbagai perasaan bergejolak, pikirannya kacau, “Baik!”

Pandangan Jibyung naik dengan perlahan, mengikuti Onew yang berdiri dari posisinya, “Baiklah, kalau ini yang kau mau. Kita akan segera berakhir.”

>>><<<

To Be Continue

39 responses to “My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip 12

  1. iya cerai aja.jauh lbh baik cerai.jgn maafin lee jinki~ssi jibyung-ah.lbh bgs kalo abs cerai onew nyadar kalo sebenernya yg dia cinta itu jibyung.
    penyesalan tanpa ahir~

  2. Iya lanjutanya hrs cepet nih eonn 😀 kkk yap bener tuh setelah cerai onew bru sadar klo org yg dia cintai itu sebenarnya jibyung .

  3. Sepertinya cerai adalah jalan yg terbaik bagi Jibyung dan Onew… lagian kasihan Jibyungnya disakiti Onew terus…. Biarkan Onew nantinya menyesal telah bercerai dgn Jibyung…

    di tunggu part selanjutnya y..

  4. Pingback: My Twin (The Story Only I Didn’t Know) – Clip 13 | FFindo·

  5. ceritanya makin klimaks aja…
    kasihan jibyung ny harus berkorban:'(
    tapi jikyungnya juga…..

    semangt deh thor..
    ceritanya keren
    🙂
    part selanjutnya ditunggu y thor..
    #cepat…
    *plakk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s