THE SECOND LIFE [PART 10]

Image

 

THE  SECOND LIFE  [PART  10]

Author : Keyholic (@keyholic9193)

Main Cast : Byun Baekhyun,Shin Hyunchan

Minor Cast :

Park Chanyeol

Do Kyungsoo

Suho

Yoon Jisun

Lee JinKi as Baekhyun’s Father

Genre : Romance/fantasy

Rating:  PG 16

Poster by : Cute Pixie

*semuanya hanya karangan saya yang terinspirasi dari dramkor  49days *

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 |Part 7Part 8 | Part 9

***

Sepasang heels pink soft masih saja sibuk menyusuri jalan-jalan di kota Seoul.Kaki jenjang yang mengenakannya terlihat serasi dengan  sepatu mahal itu.Barang-barang mewah yang melekat di badan gadis berusia sekitar 17 tahun itu,mulai dari peacoat Prada,hingga tas Chanel berwarna cream yang tersampir di lengan kanannya terkadang menarik perhatian orang-orang yang ia lewati. Penampilannya sungguh menunjukkan kelas sosialnya. Gadis itu sama sekali tak berniat untuk pamer layaknya para peraga busana yang sedang berjalan di catwalk.Ini memang pakaian sehari-harinya,yang memang sudah berjejer rapi di lemarinya.Ayahnya yang merupakan salah satu pemilih hotel ternama di negeri gingseng itu,sepertinya sudah cukup pantas menjelaskan kenapa ia dapat berpenampilan seperti itu.Dialah Byun Jisun.

Suara merdu Ailee,si penyanyi muda pendatang baru di dunia per-Kpopan mengalun ,merasuk ke lorong telinganya melalui perantara headset yang terhubung dengan i-podnya.Sesekali ia menutup matanya ,mencoba merasakan udara musim gugur yang siap pergi bergantikan musim dingin.Rasanya ia sudah lama tak berjalan di jalan jalan kecil kota kelahirannya ini.Semenjak memiliki masalah dengan lelaki yang bernama Park Chanyeol,ia hanya menghabiskan waktunya mengurung diri di kamar,tidur dan berharap hari cepat berakhir.

Setelah berkonflik dengan lelaki itu apalagi sejak  pertengkarannya tempo hari,jujur tekanan batin yang ia alami semakin menjadi.Entah sudah berapa pil tidur,penambah nafsu makan,ataupun obat penenang  yang harus dicerna oleh organ pencernaannya agar ia bisa beraktivitas seperti biasa.Insomnia sudah menjadi sahabat karibnya belakangan ini,ditambah lagi nafsu makannya yang mendadak menghilang.Karena hal itulah beratnya turun hingga 7 kilo membuatnya nampak seperti penderita anorexia.

Kaki itu terus melangkah tanpa arah tujuan,yang diinginkan sipemilik hanyalah mendapatkan ketenangan.Jangan sampai dengan mendekam di kamar terus menerus dapat membuatnya harus mengisi salah satu kamar di rumah sakit jiwa.Ia tak tahu kenapa ia bisa seperti ini hanya karena harus mengakhiri hubungannya dengan Chanyeol.Tapi itulah cinta,sesuatu yang indah memang,namun dapat juga membunuh mu secara perlahan.Sungguh tragis.

Sedikit demi sedikit lampu-lampu jalan dan pertokoan mulai menyala pertanda malam telah tiba.Jisun berhenti tepat di sebuah taman bermain kecil.Taman itu sunyi,meninggalkan suara decitan dari engsel ayunan yang bergesekan dengan besi penyangganya akibar terpaan angin.Kakinya melangkah memasuki taman kecil itu.Bak pasir,luncuran,jungkat-jungkit,semuanya kosong.

Gadis itu duduk di salah satu dari dua ayunan yang berada di tempat itu,membiarkan dinginnya ayunan menembus kulitnya.Di genggamnya rantai besi ayunan  lalu kakinya perlahan bergerak maju mundur mengayunkan dirinya.Taman ini tak  asing baginya.Ia mengenal tempat ini ketika berumur 12 tahun,dan itu semua berkat Park Chanyeol.Hingga saat sebelum mereka terlibat konflik,Jisun masih sempat ke tempat ini bersama Chanyeol walau hanya  duduk di ayunan dan Chanyeol akan mendorong ayunannya dari belakang,membuatnya tertawa kegirangan.Seharusnya ia tidak ketempat ini,mengingat tempat inii mempunyai banyak kenangan bersama dirinya dengan Chanyeol.Tapi kakinyalah yang membawanya ke sini tanpa ia sadari.

“Tenaga mu begitu saja? Ck,dasar lemah kau Park Chanyeol!” Cibir sebuah suara mungil dari arah kanan Jisun.

“Mwo?Kau meremehkan ku? Heh,sepertinya ada yang akan menyesali kata-katanya.”sebuah suara bas mengisi pendengaran Jisun lainnya,sambil di selingi tawaan kecil.Tak lama setelahnya jeritan melengking yang bersumber dari wanita yang diayun tersebut  terdengar begitu kencang.Sepertinya ia memang harus menarik kata-katanya bahwa lelaki yang bernama Park Chanyeol ini lemah,karena sekarang lelaki itu sedang mengayunnya dengan sekuat tenaganya.

Jisun berbalik ke arah sumber suara itu dan mendapati seorang lelaki tinggi berseragam sekolah sedang mendorong  gadis mungil yang berseragam sama,menikmati ayunannya.Itu adalah bayangan dirinya dan Chaneyol.

Gadis mungil berseragam itu nampak bahagia dengan tawa yang sesekali diselingi oleh jeritan karena sepertinya lelaki di belakangnya terlalu mendorongnya dengan keras.Keduanya tertawa lepas menikmati kebersamaan mereka.”Oppa,pelankan!”Gadis itu menjerit menutup matanya.Itu adalah permohonannya untuk yang kesekian kalinya,tapi sepertinya orang yang dipanggilnya ‘oppa’ itu masih ingin mengerjai Jisun sehingga tak menghentikan dorongan kerasnya.Dan ketika lelaki itu merasa bahwa gadis yang di dorongnya mulai menangis,barulah ia sadar bahwa bercandanya sedikit keterlaluan.

“Hei~Uljima.” Tubuh jangkungnya berlutut di hadapan wanita itu,membuat wajah mereka sejajar.Tangannya perlahan mengusap air mata itu.”aku minta maaf,mm?”

Tanpa Jisun sadari,genangan air mata mulai penumpuk di pelupuknya.Bibirnya menarik garis kemirisan melihat adegan itu.Jisun yang sekarang dan masa lalu terlihat menagis dalam posisi yang sama.Namun bedanya jika di masa lalu akan selalu ada Chanyeol yang akan mengusap air matanya sedangkan di masa kini tak ada lagi yang akan melakukan hal yang serupa.Tak lama setelah itu kedua bayangan itu tampak ingin meninggalkan taman bermain.Jisun bangkit dari duduknya dan mulai berjalan mengikuti keduanya dari belakang.

Sepanjang perjalanan gadis yang menjadi bayangan Jisun terlihat bergelayut manja pada lengan namja tinggi yang nampak begitu kontras dengan tingginya.Padahal beberapa saat yang lalu ia baru saja menangis.Si lelaki yang menjadi bayangan Chanyeol hanya tersenyum lebar sambil sesekali mengacak-ngacak rambut gadis itu.

Rasa pegal kakinya yang melangkah akibat heelsnya yang tinggi tak ia hiraukan.Ia terus berjalan hingga bayangan itu berhenti di depan sebuah toko ice cream.Jisun terdiam tak melanjutkan langkahnya lagi.Dari jendela toko yang transparan dan besar itu ia masih dapat menagkap kedua sosok itu duduk di sebuah meja yang menjadi tempat favorit mereka.

Ia menatap ke atas,melihat papan nama yang terpampang di toko tersebut.Sebuah tulisan ‘SUN’ dengan gambar matahari di dekatnya.Chanyeol lah yang juga pertamakali membawanya ketempat ini.Katanya, nama tempat ini mirip dengan ejaan Hangeul terakhir dari nama Jisun dan karena itulah ia sering membawa Jisun ke tempat ini.

Jisun dapat melihat kedua orang itu sesekali bercanda dengan ice cream mereka.Rona merah tampak jelas menghiasi wajah gadis itu tiap Chanyeol mengusap rambutnya.Benar-benar tak terfikirkan bahwa suatu hari kelak mereka akan berakhir seperti sekarang ini.

Sebuah senggolan dari pejalan kaki membuat Jisun tersadar dari halusinasi yang ia ciptakan.Ia menghela nafas.Dirinya benar-benar tak bisa melupakan Chanyeol.Mendadak ia merindukan namja itu. Kaki itupun melangkah meninggalkan toko tersebut.Berlama-lama di tempat itu membuatnya semakin sakit saja.

Tak berapa lama kemudian ia sudah berdiri tepat di hadpaan café milik Kyungsoo.Cafe tempat semua malapetaka itu berawal.Suara saxophone langsung menembus menghampiri kupingnya saat memasuki tempat itu.Seperti biasa café Kyungsoo memang sangat ramai apalagi jika malam hari.Meja kosong yang terletak di pojok ruangan dekat kaca jendela besar menjadi pilihan Jisun untuk bergelut dengan kesendiriannya.Jarinya mengetuk-mengetuk meja sembari menunggu vodka yang ia pesan.Tak perlu menunggu waktu lama,begitu 3 botol minuman itu diantarkan ke mejanya ,jemari mungilnya langsung menuangkan minuman beralkohol itu ke gelas yang tak jauh dari jangkauannya.Matanya menutup terpejam ketika minuman itu menuruni tenggorokannya memberikan rasa panas seolah terbakar .

Sedang asik-asiknya ia menikmati pestanya sebuah suara memasuki telinganya.

“Apa yang kau lakukan sendirian di sini,Jisun-ah?”

Ia mendongak melihat lelaki yang tingginya setara dengan oppanya menatapnya dengan mata bulat besarnya seolah mata itu bisa melihat hingga ke jiwa manusia yang di tatapnya.Dia adalah Do Kyungsoo,si pemilik café sekaligus teman oppanya.

“Hai oppa.” Ucapnya santai tanpa menjawab pertanyaan Kyungsoo.

Kyungsoo memandang botol minuman yang ada di atas meja Jisun.Matanya sedikit bulat saat mendapati itu bukanlah Vodka dengan kadar alkohol rendah seperti yang biasa diminum Jisun.

“Jisun-ah,kau baik baik saja?”

Kyungsoo mulai merasa ada yang salah dengan Jisun.Ia tahu betul bagaimana kondisi hubungan yeoja itu dan sahabatnya,Park Chanyeol,belakangan ini.Belum lagi  raut wajah gadis itu sangat beda dari biasa,nampaknya ada sekelumit fikiran yang bersarang di otaknya.

“Aku baik-baik saja oppa.Hanya ingin menenangkan fikiran ku sejenak.” Ucap gadis itu menatap keluar jendela sambil terus memasukkan cairan putih itu kedalam mulutnya.

Baru saja Kyungsoo ingin berbicara menasehati gadis itu,ponselnya berdering.Ia merogoh sakunya lalu melihat id pemanggil yang merupakan nomor ayahnya.Setelah berbincang sejenak dengan si penelpon akhirnya ponsel itupun ia kembalikan lagi ke sakunya.Ck,dia hampir saja lupa malam ini ia ada janji makan malam dengan ayahnya.

Kyungsoo terlihat memkirkan sesuatu.Ia nampak berat meninggkan Jisun,takutnya yeoja itu nanti akan mabuk dan terjadi apa-apa dengannya.Maklum saja Kyungsoo tak memilik saudara perempuan, itulah kenapa Jisun sudah dia anggap seperti adiknya sendiri dan begitu mengkhawatirkannya.

“sepertinya kau ada acara penting.Pergilah,aku akan baik-baik saja.” Jisun mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Kyungsoo untuk segera pergi.

“kau yakin?” Kyungsoo membungkukkan badannya kea rah Jisun.

“Dengar,kalau kau merasa tak bisa pulang,telpon oppa mu,Chanyeol atau aku.Arrasseo?— oh Tidak,akan kusuruh pelayan disini mengantar mu sampai ke rumah.”

“Jongin-ah,bisa ke sini sebentar?” Panggilnya ke salah seorang pelayan yang tak jauh dari posisinya.

“Tolong kau jaga yeoja ini.Kalau dia sudah mabuk berat dan ingin pulang kau harus mengantarnya pulang.”

Kyungsoo mengambil pulpen yang bertengger manis di kemejanya lalu menulis alamat Jisun di sehelai tissue.

“Itu alamatnya,ingat kau harus mengantarnya .Kau mengerti.Aku mohon bantuan mu.Dia sudah seperti adik ku.”

Namja yang bernama Jongin hanya mengangguk tanda ia menerima permintaan namja yang hanya beda setahun dengannya itu namun harus menjadi bosnya.

Jisun cekikikan melihat reaksi Kyungsoo yang terlalu mengkhawatirkannya berlebihan.Bahkan Baekhyun saja yang bersatatus oppa kandungnya menurut kartu keluarga,tak pernah serumit itu.

“Gomawo.Tapi kau sediki berlebihan,oppa.” Ucap gadis itu ketika pelayan yang bernama Jongin sudah menghilang dari pandangannya.

“dua orang namja siap menghajar ku kalau sampai terjadi sesuatu dengan mu.Kau tahu itu kan?”

Dua orang yang dimaksud Kyungsoo adalah Baekhyun dan Chanyeol.Gadis dihadapnnya ini benar-benar berarti bagi ke dua orang itu.

“Baiklah aku pergi.Kau baik-baik disini dan jangan bertingkah yang aneh-aneh.Arasseo?”

“Ne! Kyungsoo eomma.” Jawab gadis itu setengah cekikikan sambil  meletakkan jari jarinya di jidatnya membentuk gerakan hormat.

Setelah Kyungsoo pergi,Jisun kembali meneguk minumannya . Semakin banyak bayangan Chanyeol muncul difikirannya semakin banyak pula jumlah Vodka yang masuh ke tenggorokannya.Ia tertawa pelan,entah menertawai siapa.Ia mulai bergumam hal-hal yang tak jelas tanda ia telah mabuk berat.

Di tuangkannya sekali lagi botol Vodka ke dalam kelasnya namun rupanya sudah tak berisi lagi.Ia meletakkan minuman itu dengan kasar di atas mejanya hingga menimbulkan bunyi.

Tangannya mulai merogoh tasnya,mencari keberadaan dompetnya.Karena penglihatannya yang sudah buram,diraihnya secara sembarangan lembaran-lembara won itu hingga menurutya cukup untuk membayar minumannya.Uang itu hanya ia letakkan sembarangan di atas meja dan segera bangkit dari kursinya.

Tangannya mengenggam erat pinggiran meja untuk menopang badannya yang mulai oleng akibat mabuk.Ia hanya tertawa dengan tingkah konyolnya.

“Agasshi!” suara teriakan itu menghentikan langkah Jisun.

“Tuan Kyungsoo menyuruh ku untuk mengantar mu pulang.”

Jisun hampir lupa bahwa Kyungsoo menyuruh namja yang bernama Jongin ini untuk mengantarnya pulang.Tetapi dirinya belum ingin menginjakkan kakinya dirumah saat ini.Ia masih ingin bersenang-senang lebih lama lagi.

“Ah,aku hampir lupa.Tidak perlu,sudah ada oppa ku yang menjemput di luar.” Ujar Jisun berusaha berbohong ditengah rasa pusing yang melanda kepalanya.

Jongin terlihat meragukan ucapan Jisun.

“Percayalah.Nanti biar aku yang memberitahukan Kyungsoo kalau oppa ku yang menjemputku.Gomawo sebelumnya.” Jisun tersenyum dan tanpa menunggu respon Jongin,ia berjalan meninggalkan namja berwajah lugu itu.

Jisun menatap kelangit begitu ia keluar dari kafe Kyungsoo.Masih banyak bintang di langit tanda malam masih akan sangat panjang.Tangannya memegang kedua pelipisnya,kepalanya terasa begitu sakit.

Ia mulai menengok ke kanan dan ke kiri mencari jalan yang mana yang harus ia pilih untuk melanjutkan perjalanannya.Namun pandangannya berhenti ketika dari arah sebelah kanan di tengah beberapa pejalan kaki yang sibuk berlalulalang,ia mendapati sosok pria tinggi yang begitu sangat ia rindukan.Chanyeol.

“Oppa.” Gumamnya pelan.

Orang yang dianggapnya Chanyeol itu hanya tersenyum padanya lalu membalikkan badannya berjalan menjauh dari Jisun.Tanpa yeoja itu sadari,kakinya perlahan mengikuti namja itu.Manik matanya tak pernah lepas dari punggung namja tinggi itu.

Melihat namja itu mulai menjauh dari pandangannya,ia memutuskan berhenti lalu melepas heelsnya.Ia tak peduli lagi bagaimana-batu batu jalan itu nantinya akan membuat telapak kaki mulusnya menjadi lecet.Yang ia fikirkan hanyalah Chanyeol Chanyeol dan Chanyeol.Dirinya berada ditengah ambang sadar dan tidak sadar.Ia tak tahu kenpa ia harus mengikuti lelaki yang diaggapnya Chanyeol itu padahal ia sendiri mempunyai nomor lelaki itu dan bisa kapan saja ia hubungi agar lelaki itu menghampirinya tanpa perlu repot-repot mengejarnya seperti ini.

Kaki kecil gadis itu masih sibuk mengekori lelaki yang menurutnya adalah Chanyeol hingga sampai di sebuah penyeberangan jalan.Gadis itu terus melangkah kesebarang jalan tanpa menyadari sebentar lagi lampu merah akan berganti menjadi hijau.Tak lama kemudian,kesunyian malam itu diisi oleh decitan ban dan aspal jalan yang terjadi akibat adanya pengereman mendadak.Bau asap yang tak sedap seolah menusuk indra penciuman siapa saja yang menghirupnya.Jalan sudah nampak sunyi,hanya beberapa orang yang tertarik untuk mencari tahu sumber suara itu.

Jisun terduduk tepat ditengah jalan dengan heels yang sudah terlepas dari genggamannya.Bayangan pria mirip Chanyeol sudah menghilang dari pandangannya.Nafasnya tak beraturan.Sorot lampu mobil yang tinggal beberapa centi lagi dari dirinya menerangi wajahnya.Tubuhnya bergetar hebat.

“Agassi,gwenchanayo?” Ujar sang supir  bepakaian ala pegawai kantoran.

Untung saja tangannya lihai memainkan stir mobil hingga korbannya tak terluka parah.

Tak ada suara yang leluar dari mulut Jisun,selain deru nafasnya yang masih tak beraturan.Bola matanya bergerak kesana kemari mencari bayangan Chanyeol.

Si paman berjas kantoran itu dapat mencium bau alcohol yang menusuk hidung dari gadis  yang mungkin tak beda jauh dengan umur adiknya yang masih SMA.

“Aishh..kau ini mabuk yah? Dasar remaja jaman sekarang.” Ia bergumam.

Jisun menatap paman itu sejenak,lalu sebuah tawa keluar dari pita suaranya.Ia terus tertwa seperti gadis gila.Puas dengan tawa yang entah maksudnya apa,ia berusaha bangkit setelah mendapatkan High heelsnya di tangannya.Ada rasa perih yang mendatangi kakinya ketika ia telah berdiri sempurna.

“Omo! Kaki mu berdarah!” Panik si paman.

Lagi-lagi Jisun sama sekali tak mau tahu apa yang diucapkan paman itu.Ia mulai berjalan mencari kembali bayangan Chanyeol tanpa memperdulikan teriakan ajusshi yang terus berteriak hendak membawanya ke rumah sakit.

“Chanyeol..Oppa…” Gumamnya tak jelas memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah masih mencari sosok halusinasi Chanyeolnya.

Dengan langkah yang terseok-seok akhirnya ia tiba disebuah  gang sunyi  yang sepertinya para penghuninya telah terlelap.Ia tak tahu dimana tempat ini.Bingung dengan situasinya akhirnya ia merosotkan badannya berjongkok tepat di bawah lampu jalan.Kedua tangannya memeluk lututnya.Wajahnya ia benamkan di anatra kedua lutut itu dan mulai menangis.Ia merasa hatinya sangat sakit hingga ingin ia benturkan ke benda keras.Ponsel yang sedari tadi bergetar di dalam tasnya tak ia hiraukan.Kaki mulus yang sebelumnya tampak indah disandingkan dengan sepatu mahalnya sudah lecet di sana sini, ditambah darah yang mulai mengering tepat di pergelangan kakinya.

“Park Chanyeol  bodoh!..kau betul betul namja bodoh! Aku membenci mu!” ia menangis layaknya anak kecil yang kehilangan barbienya.

Malam sunyi itu pun di isi oleh tangisan Jisun yang seolah menggema di gang tersebut.

***

“Permainan 49 hari ini benar-benar permainan bodoh yang hanya membuang-buang waktu ,kan?” Tawa Hyuncan di akhir penuh dengan kesarkastikan.

Semenit yang lalu baru saja ia utarakan niatnya untuk berhenti dari perjalanan 49 hari ini.

“Coba fikir,kau diwajibkan mengubah sifat orang dalam waktu 49 hari.Apa itu tidak terdengar konyol? Memangnya siapa aku?Sang pencipta dunia ini? Kenapa bukan sang pencipta saja yang melakukan semuanya? Kenapa itu harus menjadi syarat 49 hari supaya aku bisa mendapatkan hidup ke dua ku?” Suara Hyunchan gemetar berbalut kemarahan.

Entah ia marah pada siapa.Pada nasibnya yang harus mendapatkan Baekhyun sebagai objeknya yang belakangan ini mendadak berubah dan membuatnya sudah kehilangan harapan ? Ataukah pada dirinya yang begitu bodoh menyia-nyiakan kehidupan sebelumnya yang bahkan belum sempat membahagian wanita tua yang sudah memungutnya dari jalanan?

Sekalipun nantinya ia tak bisa merasakan bagaimana rasanya punya sahabat,kekasih,ataupun kebahagiaan materi,baginya tak masalah.Ia hanya ingin hidup demi wanita yang dianggapnya sebagai neneknya.Ia hanya ingin membahagiakan wanita tua itu hingga akhir usianya.Tidak.Kalau keinginannya itu terlalu berlebihan,ia hanya butuh satu menit kehidupan paling tidak demi mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan sang nenek dan bukannya pergi tanpa berkata apa-apa.

“Bodoh.”

Hyunchan menoleh ke suara lembut yang berasal dari Suho,namun cukup menyakitkan untuk didengar.

“Yang kau inginkan itu ‘nyawa’,bukan seperti kecantikan instan hasil oplas.Tentu saja persyaratannya harus berat.Semakin besar sesuatu yang ingin kau dapatkan semakin sulit juga cara mendapatkannya.”

Hyunchan hanya terdiam tak membalas.Apa yang dikatakan Suho memang benar tapi dia sedang tidak ingin beradu argumen soal itu.Hyunchan bisa mendengar tawa pelan dari malaikat di sampingnya.

“Jadi kau benar-benar ingin menyerah? Kufikir kau ini gadis yang pantang menyerah,tapi ternyata kemampuan mu hanya  begini saja? ” Suho nampak merendahkan tapi kenyataannya tidaklah seperti itu.Ia hanya ingin membangkitkan semangat Hyunchan dengan sedikit pukulan kecil.

“Kau tahu prinsip para pemain basket? Bagi mereka selama masih ada waktu sekalipun sedetik,mereka akan terus berjuang untuk tetap memasukkan bola ke dalam ring.Sedangkan kau? Kau masih punya waktu  seminggu lebih dan kau sudah menyerah? Ck— tak seorang pun bisa mengetahui apa yang terjadi ke depannya,Hyunchan-ssi.”

Hyunchan nampak kesal dengan ucapan Suho.Siapa dia? Dia hanyalah lelaki yang menjadi penuntunnya selama misi ini dan senaknya saja mencapnya seperti itu.Kalau ia wanita yang mudah menyerah,sudah sejak dulu ia tidak menghirup udara lagi dan berakhir dibalik tanah pekuburan.Suho sama sekali tak tahu apa-apa tentangnya.

“Kau berkata begitu karena kau adalah malaikat.Kau hanya tahu bagaimana caranya memantau para peserta 49 hari tanpa pernah menjalaninya.Kalau aku berada di posisi mu,aku juga akan berkata yang sama.” Yeoja itu terdengar sedang mencibir Suho.

Suho terdiam sejenak lalu menatap ke arah bulan yang entah kenapa nampak makin membesar jika dilihat dari arah tempatnya sekarang.

“Siapa bilang aku tak pernah menjalaninya?”

Kalimat yang ringkas itu sukses membuat Hyunchan berhenti bernafas dan menatap Suho.Wajah lelaki disampingnya itu berubah menjadi ekspresi sedih.

“Aku juga salah satu peserta 49 hari dan semuanya berjalan dengan baik.”

Hyunchan kembali merespon Suho ketika kesadarannya kembali lagi.“Lantas kenapa kau menjadi malaikat seperti sekarang ini? —— ahh~ aku tahu, pada akhirnya kau gagal juga, kan?”

Hyunchan tertawa pelan menandakan kemenangannya dan membuktikan teorinya bahwa tak satupun yang akan berhasil melewati perjalan 49 hari ini.

“Kau salah.Aku berhasil melewatinya.” Suho beralih pandang menatap bola mata Hyunchan memastikan ada keterkejutan di dalamnya ketika ia selesai dengan kalimatnya.

Hyunchan terdiam.Tak ada suara yang keluar lagi dari mulutnya.

“Namanya Sehun.Oh Sehun.Dia terpilih menjadi target ku.” Suho mulai bercerita sambil mulai mencoba mengingat bagaimana kronologis perjalalan 49 hari versinya dahulu.

Oh Sehun.Seorang remaja 17 tahun yang nampak begitu lugu dan polos.Sebenarnya tak ada yang salah dengan anak ini, ia anak yang baik  hingga saat  kematian ibunya dan tak lama setelah itu ia mengetahui kenyataan bahwa ayahnya terlibat hubungan terlarang dengan wanita lain,sejak itulah sifatnya berubah. Sekolahnya tak terurus,bocah lugu itu berganti menjadi bocah yang keras,kejam,dan kasar. Entah sudah berapa luka lebam yang menghiasi kulitnya karena terlibat perkelahian antar geng.Di usia yang semuda itu,minuman keras,zat nikotin,bahkan zat-zat adiktif lainnya sudah terasa menjadi kawan hidupnya.Ayahnya sudah lelah menghiraukan anak semata wayangnya yang kerap kali membantah hingga selalu menimbulkan pertengkaran antara mereka .Pada akhirnya ia  lebih memilih memulai dunia barunya bersama wanitanya dan meninggalkan rumah,membiarkan hidup Sehun semakin suram.Hidup sehun berbalik 180 derajat dibanding sewaktu ibunya masih ada.Dan itulah yang menjadi misi Suho.Mengembalikan anak itu seperti sebelumnya.

Biaya hidup yang semakin tinggi dan uang yang sudah tak ia dapatkan dari orang tuanya,membuat Sehun harus mau tidak mau mencari pekerjaan.Ia bekerja di salah satu club malam dan ditempat itulah Suho mulai melakukan pendekatan dengan bocah yang lebih pantas menjadi adiknya itu.

Awal-awal memang terasa sulit,dan Suho juga sempat dirundung rasa putus asa di pertengahan.Sehun sangat sulit didekati dan bocah itu benar-benar menunjukkan sisi dinginnya.Namun sifat lembutnya yang secara tak sengaja membuat sehun merasakan kehadiran ibunya lagi,membuat anak itu perlahan mulai dekat dengan Suho.Suho tiba-tiba saja berubah menjadi sosok Hyung  yang membuatnya sedikit demi sedikit meninggalkan  sifat-sifat buruknya.Ia mulai bersosialisasi dengan orang-orang yang tepat dan bukannya berandalan seperti teman gengnya.Meskipun ia tak mau lagi bertemu ayah dan keluarga barunya tapi paling tidak ia pada akhirnya telah memaafkannya.Oh Sehun si bocah lugu kini telah kembali.Dan Suho berhasil menjalani misinya.

“Kalau begitu,bukannya kau harusnya berada diantara kerumunan manusia  dan menjalani aktivitas manusia normal lainnya? Bukannya malah berpakaian jubah putih menawarkan kepada orang-orang yang ‘setengah mati ‘untuk mengikuti perjalanan 49 hari,hum?”

Kini giliran Suho yang tertawa namun terdengar pilu.

“Kufikir aku juga akan berakhir seperti itu.Tapi kenyataan berkata lain.”

Ia nampak menarik banyak oksigen masuk ke  dalam trakeanya.

“Dalam sebuah geng seorang anggotanya akan sulit melepaskan diri dari geng itu.Prinsip mereka ,sekali kau masuk kau tak akan bisa keluar lagi.Dan itulah yang menimpa Sehun.”

“… Malam itu terjadi percekcokan antara ia dan anggota gengnya.Aku tak benar tahu apa yang terjadi,yang ku tahu perutnya sudah berlumuran darah saat ku bawah ke rumah sakit.Ia kritis.”  Suho membuang wajahnya dari pandangan Hyunchan.

Mengingat kejadian itu benar-benar memunculkan kenagan lama.Ia juga tak tahu kenapa ia masih bisa mengingat kejadian itu padahal dirinya sekarang berstatus sebagai malaikat.Ia tak benar-benar pernah mencoba untuk mengingat kejadian itu hingga sekarang ini.

Rasa bersalah menyelimuti Hyunchan.Hanya karena emosinya,ia secara tak sengaja membuat Suho mungungkit kisah menyedihkan itu.

“Saat itu seharusnya waktu dimana  aku telah selesai dengan misi ku dan tinggal berpamitan dengannya.Tapi aku tak mungkin pergi dengan keadaan seperti ini.Tak ada yang bisa menyelamatkan nyawa Sehun,tinggal menghitung waktu saja sebelum dokter keluar dari meja operasinya dan mengabarkan kematian anak itu.”  Suho menggenggam erat besi pembatas  yang menjadi pengaman di sepanjang  atap gedung itu,menguatkan dirinya untuk tetap dalam posisi berdiri tegak.

“Aku memilih menukarkan nyawa 49 hari yang ku dapat, dengan nyawanya.”

Hyunchan tercengang.Disamping rasa terkejutnya bahwa ternyata ada hal semcam pertukaran nyawa seperti itu,ia juga terkejut karena mengapa ada orang yang mau menukarkan nyawa yang ia dapatkan dengan susah payah,kepada orang ‘orang asing dengan kenangan’ seperti yang dilakukan Suho kepada Sehun.Padahal anak itu sama sekali tak punya ikatan darah dengannya.

Suho bisa menangkap raut keterkejutan di wajah gadis itu.Sebuah senyum tersungging di bibirnya.Tanpa perlu Hyunchan bertanya ia segera menjawab pertanyaan yang sudah terbentuk di otak Hyunchan.

“Malaikat pembimbingku mengatakan bahwa dalam perjalanan 49 hari ketika kau sudah berhasil kau bisa memilih mengambil nyawa itu,memberikannya kepada orang yang membutuhkan,atau membuangnya dan memilih untuk  tetap menjadi orang mati.Semuanya terserah kau.Bagi mereka yang sangat membutuhkan hidup itu, maka mereka akan mengambilnya.Bagi mereka yang mungkin berada di posisi ku mungkin akan mengambil pilihan ke dua.Dan bagi mereka yang di detik terakhirnya ternyata menyadari jika hidup pun pada akhirnya tak ada gunanya juga, maka ia akan mengambil pilihan ketiga.Pilihan ketiga ini biasanya diambil oleh orang yang sudah tidak memiliki anggota tubuh yang lengkap ketika hidup lagi,ataupun menyadari orang yang mereka sayangi sudah tak menunggu mereka lagi dan berpaling kepada orang lain ,dan masih banyak alasan-alasan lainnya.”

“kenapa kau memilih pilihan ke dua ? bukannya kau juga butuh nyawa itu? Kalau pada akhirnya kau akan memberikannya kepada orang lain,untuk apa kau susah payah mendapatkannya?”

Ada sedikit jeda sebelum Suho menjawab pertanyaan Hyunchan.

“Aku sadar bahwa alasan ku untuk mendapatkan nyawa itu hanya karena aku takut pada kematian dan belum siap menghadapinya.Dulu aku seorang anak bungsu,sedangkan Hyungku berbeda 7 tahun dengan ku.Aku tak pernah benar-benar merasakan mempunyai seorang saudara yang bisa ku ajak berbagi.Dan Sehun ,membuatku merasakan hal itu.Ia sudah ku anggap seperti adik ku dan sebagai seorang Hyung inilah yang bisa ku lakukan untuknya.Ia lebih membutuhkannya dibanding aku.Ia terlalu muda untuk mati.Hidupnya masih teramat panjang.Ia baru saja ingin memperbaiki dirinya dan rasanya sungguh tak adil jika baru saja ia ingin memulai semuanya dari awal lagi, lantas harus terputus karena kematian.”

Hyunchan menatap malaikat itu lekat-lekat.Ia menatap ke langit seolah bangga atas perbuatan yang telah ia lakukan tanpa ada penyesalan sedikitpun menyoal pertukaran nyawa itu.Wajah lelaki ini benar-benar sebanding dengan perangainya.Hatinya sungguh baik,bak tokoh pangeran penyelamat yang biasa ia baca di buku dongeng masa kanak-kanaknya.

Satu hal yang ia pelajari hari ini.Ternyata bukan hanya dirinya yang mempunyai masa-masa sulit,masih ada seseorang di sampingnya ini dan mungkin masih banyak peserta 49 hari lainnya di luar sana.

“Kau tahu,sebenarnya tidak ada system pembatalan didalam perjalanan 49 hari,begitu kau telah memilihnya.Kau akan tetap berhenti tepat pada hari ke 49 misi mu .” Suho kembali mengangkat topik mereka sebelumnya.

Hyunchan tersadar bahwa mereka telah membahas terlalu jauh hingga maksud dari pembicaraan ini menjadi tidak jelas.Dan ia kaget dengan penuturan Suho.

“Kalau kau sudah merasa putus asa dengan misi ini,kau bisa berhenti berusaha ataupun mengurusi Baekhyun dan memanfaatkan  hari-hari terakhir mu saja.Karena kau tahu kan,begitu ini berakhir dan kau gagal maka kau tidak akan melihat dunia dan orang-orang disekitar mu lagi.Jadi lakukanlah apa yang ingin kau lakukan di saat-saat terakhir mu.Ini adalah hidup terakhir mu.”

Hyunchan menatap wajah putih sang malaikat yang berdiri sambil mengaitkan tangannya dibelakang.

“hanya itu yang bisa ku sarankan.”Ucapnya menepuk-nepuk  pundak Hyunchan.Ia membungkuk perlahan tanda ia akan segera pergi lagi.

Lelaki berseragam putih itu mulai berjalan ke arah sudut gedung tapi ia berhenti untuk memutar badannya menghadap Hyunchan.”jangan gampang percaya dengan apa yang mata mu lihat,karena itu bisa saja tidak sesuai dengan kenyataan.Mungkin saja kau salah menilai bahwa Baekhyun tidak ada perubahan,ingatlah, yang menuntukan hasil akhir adalah ketika kau berada di ‘pintu kepastian’ saat misi ini berakhir.”

Setelah itu tak lama seolah ada angin kencang yang berbalutkan kabut putih dan dalam sekejap Suho menghilang lagi seperti biasa.

***

Deru dentuman musik yang tercipta dari kolaborasi tangan ahli sang DJ dengan piringan hitam,memenuhi setiap sudut salah satu pub ternama kalangan atas itu.Saking kerasnya,bahkan jantung terasa ikut tersentak di setiap dentumannya.Musik yang keras,suara kumpulan orang yang tengah bercerita satu sama lain walaupun sedang mabuk,dentingan yang bersumber dari kaca botol minuman dan gelas,orang yang sedang berjoget di lantai dansa,pria yang sedang di kelilingi oleh para wanita muda berpakaian minim,hingga bartender yang terlihat sangat sibuk memberi sedikit hiburan pada para penikmat minuman beralkohol,itu semua sudah menjadi pemandangan yang tak  asing di dalam sebuah pub,termasuk tempat ini.Hanya saja bedanya setiap pengunjung di tempat ini berasal dari kalangan elit berduit banyak.

Seorang lelaki dengan perawakan kurus  berkemeja putih yang merupakan bagian dari seragam sekolahnya dipadukan dengan  denim hitam yang merupakan bawahan terakhir yang ada di dalam mobilnya, nampak murung sembari menatap pantulan bayangannya pada gelas kacanya.Sepulang sekolah ia tak sempat menginjakkan kakinya di apartemannya.Ia terlalu malas untuk menghabiskan waktu di apartemennya sambil mimikirkan kejadian di sekolah tadi.Tubuhnya ia bawa terlebih dahulu berjalan-jalan,membuang-buang bahan bakar mobilnya hingga akhirnya ia berakhir di pub langganannya ini.

Sorakan terdengar dari beberapa pengunjung pria yang katanya para bangsawan namun kelakuannya langsung berubah menjadi tidak beretika kala meliat kumpulan gadis-gadis muda sexy yang  sedang melakukan dance erotic.Tapi hal itu sama sekali tak mengusik mata Baekhyun untuk beralih ke tempat itu,ia tetap bergelaut dengan fikirannya.

Jemari lentiknya menyusup ke balik saku celanya,mencari sesuatu di dalamnya.Tak lama setelahnya sebuah buku coklat kecil  sudah terpampang di depan matanya.Buku coklat pemberian seseorang yang berisi catatan-catatn kecil mengenai  beberapa belajaran yang sulit ia pahami demi persiapan ujian.Untuk sekali lagi,namja itu membuka halaman depan buku kecil tersebut yang langsung disambut oleh selembar kertas kecil berisi rangkaian kata yang ditulis oleh si pemberi.Meski sebenarnya dengan peneranagan seperti ini sama sekali tak mendukungnya untuk bisa membaca dengan jelas,namun bukan hal itu yang dia inginkan.Ia telah membaca buku ini ketika beberapa saat setelah seseorang meletakkannya di kaca depan mobilnya.Ia hanya ingin menatap tulisan itu,bukan ingin mengulang kata demi kata yang tertera di dalamnya yang seolah mengiris ulu hatinya.

“Annyeonghaseo.Maaf aku baru bisa memberikan buku ini pada mu sekarang.Kondisi kita sedang tidak memungkinkan untuk bisa berbicara seperti dulu lagi,jadi akau memakai cara seperti ini.Ku harap buku ini benar-benar bisa membantu menghadapi ujian akhir nanti.Hanya ini hal yang terakhir bisa kulakukan.Senang bisa bekerja sama dengan mu sebelumnya…Baekhyun-ah Baekhyun-ssi.

Shin Hyunchan

Ia mungkin tak membacanya ,namun bayangan dari kata demi kata itu masih terpatri di fikirannya. Perasaannya mendadak kalut sesaat setelah ia membaca tulisan kecil tersebut dan itulah alasan kenapa ia berada di tempat ini. Surat itu terdengar sangat formal untuk ukuran sesama teman sekelas.Tapi bukankah itu yang Baekhyun inginkan? Berada di posisi formal dengan Hyunchan dan bukan sebagai orang yang akrab.

Mata Baekhyun terpaku beberapa saat pada tulisan namanya  yang berkahiran –ah namun di coret dan diganti dengan akhiran –ssi .Memandang tulisan itu membuatnya merasakan sesuatu yang aneh.Hanya sekata memang, tapi mampu membuat hatinya perih bak terhantam ribuan samurai.

Helaan nafasnya terdengar berat.Meskipun baru terhitung beberapa hari tak bertegur sapa dengan gadis itu, namun rasanya ia sudah melakukannya selama bertahun-tahun.Perasaan itu pun mulai mencul.. rasa…rindu.Mengakui ataupun tidak,ia tak bisa menampik bahwa hatinya merindukan gadis itu.Buku itu ia kembali masukkan ke dalam sakunya.Untuk yang kesekian kalinya segelas Tequila itu kembali mengucur ke dalam tenggorokannya membuat matanya terpejam merasakan sensasinya. Di sandarkannya kepala yang mulai nampak letih itu ke telapak tangannya yang dibantu dengan topangan sikutnya di atas meja.Matanya menatap malas ke arah gelas yang masih berisi seperempat minumannya.Tangan satunya menggoyang-goyangkan gelas itu sembari pikirannya kembali di penuhi oleh  Hyunchan dan kenangan pertama kali ia bertemu dengan si gadis aneh,Shin Hyunchan.

“Tidakkah kau berfikir bahwa bermain wanita itu membosankan? kau jadian dengannya,bersenang-senang setelah itu memutuskannya dalam waktu yan singkat.Lalu jadian lagi lalu begitulah seterusnya.Masa muda itu terlalu singkat jika hanya kau hanya habiskan dengan menjalin hubungan sperti itu.Kau tak akan pernah menemukan dimana letak kebahagiaan antara sepasang kekasih yang sedang menjalin hubungan jika yang kau lakukan hanya seperti itu.Mungkin kau bahagia dalam hal lain tetapi yang pasti kau tidak akan merasakan kebahagian di dalam sini.”

Sekarang ia paham dengan ucapan yang pernah terlontar dari Hyunchan itu.Ia memang bahagia selama ini,punya banyak koleksi wanita dan ‘bermain’ dengan mereka.Tapi satu hal yang pasti,itu bukanlah kebahagiaan yang di inginkan hatinya.Sadar ataupun tidak,kebahagian itu justru ia dapat dari Hyunchan.Sebelumnya ia tak pernah berfikir bermain wanita itu akan membosankan,tapi setelah kedekatannya yang secara tak sengaja dengan gadis itu membuatnya perlahan merasakan hal demikian.Wanita-wanita itu mulai membuatnya bosan.Ia bosan karena tak satupun dari wanita itu sanggup memberikan efek-efek yang aneh ketika ia berada di dekat Hyunchan.

 “Aku benar-benar tak mengerti?Apakah kau merasa tak nyaman dengan berperan sebagai anak baik yang menjalani kehidupannya dnegna baik?Apakah ketika kau menyandang gelar ‘Lelaki dengan segudang wanita’ barulah kau merasa bahwa itulah artinya kehidupan?! Apakah dengan berperan sebagai anak kaya yang hanya tahu bersenang-senang tanpa memikirkan masa depan mu,membuat mu sangat bahagia?! ”

“Kau berubah.Berubah menjadi orang yang buruk lagi.Wae? Apa yang salah dari semuanya?”

 “Maaf sudah menyita waktu berharga mu…….Baekhyun-ssi.”

Senyuman pedih tersungging di bibirnya.Kini semua tinggallah kenangan yang menyakitkan.Surat yang di tulis Hyunchan itu secara tidak langsung mempertegas bahwa setelah ia memberikan buku kecil itu maka tuntaslah urusan gadis itu dengan Baekhyun. Tak ada sangkut paut diantara mereka lagi.Tanpa ia sadari,ia memang telah banyak belajar sesuatu dari Hyunchan.

Shin Hyunchan,gadis yang berusaha membuka matanya bahwa ada banyak orang tak beruntung diluar sana yang harus membanting tulang demi mengecap bangku pendidikan.Gadis yang membuatnya untuk pertamakali dalam hidupnya merasa senang dengan nilai ujian yang ia dapat.Gadis yang membuatnya bagaimana rasanya berkencan di taman bermainan dengan tawa lepas,meskipun kejadian bersama Hyunchan itu tak bisa ia sebut begitu saja dengan ‘kencan’.Sesekali senyum terukir di wajahnya kala adegan-adegan lucu terlintas juga di fikirannya.Seperti ketika ia harus menggendong paksa yeoja itu karena ia tak mau di bawah kerumah sakit padahal ia terluka.Ataupun saat dimana setelah pertengkaran hebat meraka tiba-tiba saja keesokan harinya Hyunchan memayunginya,walaupun sepertinya gadis itu sengaja membuat posisi payung lebih banyak ke arah Baekhyun agar namja itu tak basah.Dan terakhir,adegan yang tak mungkin pernah bisa ia lupakan,meskipun dirinya sedang mabuk saat itu,adegan ketika ia mencium yeoja itu.Membayangkan kembali insiden itu saja mulai membuat jantungnya  berdetak tak karuan lagi.

Kesepuluh jemarinya menyatu,menutupi wajahnya yang  memanas.Hingga ia merasa ada sesuatu di jari tengahnya.Cincin.Astaga,bagaimana mungkin ia bisa melupakan benda itu?

Mata sipitnya menatap lekat cincin perak yang melingkar di  salah satu jemari lentiknya itu nampak bercahaya,terkena pantulan lampu.Ia baru sadar,sejak hari di taman bermain itu cincin perak sepasang hasil pemberian kakek tua misterius itu,belum pernah lepas dari jemarinya.Ia memakai salah satunya dan yang satunya lagi berada di jemari Hyunchan.

Bayangan ketika ia dan Hyunchan berada di taman bermain itu,sekejap terlinas lagi melanjutkan lamunannya yang sempat terputus akibat ia menyadari keberadaan cincin itu.Di sentuhnya cincin itu.Aneh.Hanya dengan menyentuh cincin itu saja tapi kenapa seolah ia bisa merasakan tangan Hyunchan di saat yang bersamaan?.. Tiba-tiba rasa sakit yang bukan bersumber dari organ-organ tubuhnya mendatanginya.Rasa sakit ini seperti ketika kau sangat merindukan seseorang tapi kau tak bisa memeluknya karena  kau sudah kehilangan dirinya.Hatinya kembali bergejolak lagi.Mempertanyaankan semua tindakan yang ia ambil terhadap Hyunchan.

Betulkah ini yang ia inginkan?Betulkah setiap langkah yang ia ambil ini sudah benar? Tapi mengapa hatinya memberikan respon yang berbeda?Mengapa semakin ia ingin menjauhi Hyunchan semakin besar rasa sakit yang ia rasakan?

“Woah~ Byun Baekhyun!” Suara dari seorang lelaki yang menepuk pundaknya dan segera mengambil posisi duduk berhadapan dengan Baekhyun,membuat namja itu tersadar dari kesendiriannya.Itu adlah Kim Jonghyun,salah satu teman hang outnya di pub ini.

Senyum sumringah dari namja itu berangsur menghilang ketika Baekhyun sama sekali tak menunjukkan keceriaan seperti biasa bahakan tak menjawab sapaannya.

“Hey~ katakan padaku apa gajah sudah terbang? Karena ini pertama kalinya aku melihat Baekhyun si raja pesta di tempat seperti ini  berekspresi layaknya pria frustasi yang diputuskan oleh pacarnya.”

“Pergilah Jonghyun-Hyung,aku sedang tak ingin di ganggu.”namja itu memutar bola matanya kembali kearah botol minuman di hadapnnya lalu dituangkan kedalam gelasnya.

Mulut lelaki itu sempat terngangah sesaat mendengar respon Baekhyun.Sebelum-sebelumnya Baekhyun tak pernah seperti ini.

“Ya! Ada apa dengan mu? Jangan bilang tebakan ku hampir benar bahwa kau ini pria frustasi yang di putuskan oleh pacarnya?” namja Kim Jonghyun tak menghiraukan usiran dari Baekhyun dan tetap bersikeras ingin mengetahui apa yang membuat seorang Baekhyun bisa bermuram durja seperti ini.

“Hyung~…” Baekhyun meringis mulai merasa risih dengan hipotesis  jonghyun yang memang sedikit lagi hampir betul.

“Aishh..sudah kubilang aku tak ingin di ganggu.Pergilah Hyung!” Baekhyun terus mengibas-ngibaskan tangannya mengusrir Jonghyun dari hadapannya.

“Dasar kau ini! Oke baiklah.Aku tak akan menganggumu,tapi biarkan aku disini hingga Key datang.Aku sedang tak ingin berkumpul dengan wanita-wanita itu.” Ia melemparkan tatapan malasnya ke arah daerah pojok yang tak jauh dari posisinya dimana terdapat beberapa wanita penghibur yang melambaikan tangan padanya.

Tak ada respon lagi yang keluar dari mulut Baekhyun.Ia kembali asik dengan dunianya,bergelut menyoal pemikiran tentang Shin Hyunchan.Sementara Jonghyun, ia memberikan isyarat memesan minuman kepada salah serang pria berpakaian pelayan.Nampaknya si pelayan sudah tahu minuman apa yang di sering di pesan oleh namja itu sehingga dia hanya mengangguk saja tanda paham maksud Jonghyun.

Dari ujung matanya ia bisa melihat Jonghyun mengetuk-ngetukkan jemarinya di meja bar itu mengikuti irama music dari sang DJ yang memainkannya.Ia nampak berfikir sejenak,mungkin saja Jonghyun bisa membantunya dalam hal ini.Kim Jonghyun bukan namja Playboy sembarangan.Bisa dibilang namja di sampingnya itu punya banyak pengetahuan dan pengalaman soal cinta,maklum saja dia termasuk salah satu ‘petualang cinta’,itu yang selalu ia katakan ketika dirinya disebut playboy.

“Hyung..” Akhirnya ia mengeluarkan suara pertama,padahal sebelumnya dirinyalah yang ngotot ingin mengusrir Jonghyun karena mengusiknya.

Pria bernama Jonghyun itu menoleh kearah sumber suara tersebut.Ia dapat melihat ekspresi serius Baekhyun yang terus menatap gelas kacanya  memantulkan kedipan lampu dari lantai dansa.Tak perlu jawaban keluar dari mulut Jonghyun,Baekhyun sudah tahu bahwa namja itu pasti mendengarkannya.

“Apa kau pernah jatuh cinta?” Jemari lentiknya memuta-mutar gelas kaca berisakan sedikit sisa minumannya  dengan arah tak jelas.

Ia menatap ke arah Baekhyun.Bakhyun bukanlah type orang yang mau membahas persoalan cinta.Biasanya ia malam menolak untuk membahas hal itu ketika orang-orang di sekelilingnya mulai mepertanyakan kapan ia bisa betul-betul mencintai gadis yang di kencaninya.

” Tentu saja.Setiap orang pasti pernah merasakannya dalam hidup.Kenapa memangnya? Sedang mengalaminya?”

Baekhyun terdiam sejenak memikirkan pertanyaan Jonghyun.”Entahlah.Aku juga tak tahu.”

Kedua alis tebal Jonghyun menyatu ke tengah tanda ia kebingungan sebelum pada akhirnya semuanya bergantikan senyuman di sudut bibirnya.Rasanya ia sangat ingin mengejek Baekhyun,si playboy yang sedang terjangkit virus cinta.Tapi ia tahu ini bukan saat untuk bercanda.

“Humm,masalah pemastian perasaan.Kau bertanya kepada orang yang tepat Byun Baekhyun.” Tangannya menepuk pundak Baekhyun sambil menahan tawa kecilnya yang tertutupi oleh suara music yang mengalun keras.

“Di tahap yang ini,bagi mereka yang tidak pernah merasakan jatuh cinta pada seseorang maka akan memiliki masa yang sedikit sulit .” Jemarinya berada di bawah dagunya sambil memicingkan matanya tanda ia sedang mendiagnosis ala dokter cinta.

“Begini.Apa kau merasakan hal-hal seperti ini? ketika kau berada di dekatnya jantungmu berdetak tak normal hingga kau bisa merasa ia akan loncat keluar,ketika berada di dekatnya kau akan merasa nyaman,ketika ia tersakiti maka kau akan merasakan sakit yang lebih darinya,ketika melihatnya tersenyum ataupun mendengar suaranya saja kau seolah mendengar lonceng  berbunyi,perut yang terasa aneh,letupan kembang api,ataupun tanda-tanda tak masuk akal lainnya.”

Baekhyun mencoba mencerna setiap penuturan yang dikeluarkan Jonghyun dan semua yang diucapkan Jonghyun tak meleset sedikitpun.Kepalanya pun terangguk tanda setuju.

“Jadi berarti kau postif jatuh cin—“

“Tapi bukan berarti aku jatuh cinta dengannya.Maksudku ini semuanya aneh! Dia sama sekali jauh dari jangkauan type idealku,bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta?Ini konyol Hyung!” Baekhyun tertawa namun tampak dipaksakan.

“Bodoh! Cinta bukan sesuatu yang berasal dari type idealmu,tapi apa yang sesuai dengan perasaan mu inginkan.Memangnya apa type ideal mu? Wanita cantik bertubuh sexy,modis,kaya,dan popular?” Jonghyun hanya  bisa tertawa pelan,menertawakan pemikiran Baekhyun.

“Kalau kau bisa jatuh cinta hanya kepada seseorang yang cocok denga type ideal mu,maka sudah dari dulu kau betul-betul menajlin hubungin dengan wanita-wanita yang hanya kau jadikan teman semalam itu.Bukankah mereka semua masuk dalam kategori type ideal mu? Tapi buktinya kau tetap seperti ini,menjadi seorang playboy.Kenapa?Karena perasaan mu tidak bisa menerimanya.”

Baekhyun terdiam,mulutnya terkatup rapat setelah mendengar penuturan Jonghyun yang memang ada benarnya.

“type ideal bersumber dari apa yang menurut otak mu cocok untuk mu,meskipun kadang orang menagnggap bahwa itu bersumber dari hatinya tapi sebenarnya itu bersumber dari otak.Makanya kadang hubungan yang seperti itu tidak akan bertahan lama dibanding dengan mereka yang memulai hubungan karena adanya kenyamanan yang perasaan mereka rasakan ketika bersama sekalipun hal tersebut sama sekali bertolak belakang dengan type ideal mereka.Contohnya banyak orang cacat yang menjalin hubungan dengan orang normal dan hubungan mereka bertahan lama.Padahal kalau difikir tak seorang pun memiliki type ideal pasangan yang cacat bukan? Itu semua karena mereka mengikuti perasaan mereka dan bukan apa yang otak mereka ciptakan yang kita sebut dengan type ideal.” Karena alasan itu pula Jonghyun masih menjalani profesi keplayboyannya hingga kini karena ia belum menemukan apa yang perasaannya inginkan lagi setelah cinta pertamanya menikah dengan orang lain.Jonghyun meneguk minumannya,tenggorokannya terasa kering setelah menjelaskan panjang lebar dengan  suara setengah berteriak dikarenakan music di tempat ini yang terlalu keras.

Baekhyun masih memikirkan ucapan-ucapan Jonghyun.Apa yang dituturkan namja 2 tahun lebih tua darinya itu sudah cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selalu membuatnya merasa bingung belakangan ini.Cinta itu membuat semuanya menjadi rumit jika dipikirkan oleh logika,tapi dengan penjelasan Jonghyun ia sudah bisa paham..Ia mengerti maksud semuanya..

Ia. Menyukai.Hyunchan.  Shin Hyunchan si anak baru yang aneh.

“kau paham kan? Sekarang yang harus kau lakukan adalah mengatakan pada orang itu karena jika kau terlambat sedikit saja dan di dahuli oleh orang lain maka masalahnya akan menjadi lebih rumit lagi.Kuberitahu,kau tak akan ingin membayangkan rasa sakitnya.”

***

Hyunchan menuangkan botol air putih dingin yang baru saja ia keluarkan dari kulkas ke dalam gelas kaca kecil di tangannya.Ia meneguk segelas penuh air dingin itu untuk  menghilangkan dahaganya setelah mengobrol dengan Suho di atap apartemennya beberapa saat yang lalu.Namun suara bel dari arah pintu apartemennya membuat wanita itu harus menghentikan kegiatannya.Gelas ia letakkan kembali ke meja  di dekatnya sembari tangannya mengusap sisa air di sudut mulutnya.Jidatnya mengkerut,memikirkan siapa tamu yang bertandang malam-malam begini.Mungkinkah Suho? Tapi ia merasa apa yang ia bicarakan dengan Suho di atap tadi tentang keinginannya yang ingin mengundurkan diri dari 49 hari itu sudah cukup jelas.

Tanpa membuang waktu hanya untuk mengintip di balik intercomnya,ia langsung membuka kunci pintunya.Dua orang pria sedang berdiri di hadapannya,salah satunya ia kenali sebagai satpam gedung apartemennya,sedang yang satunya lagi ia kurang menagkap jelas wajah sang pria karena wajahnya yang bersembunyi di bahu sang satpam.Yang ia tahu lelaki yang nampak seumuran dengannya itu memakai kemeja putih dengan corak di kerahnya  yang biasa di kenakan siswa di sekolahnya berbalut hoodie hitam.

“Maaf mengganggu malam-malam begini Nona Shin.Orang ini hendak bertemu dengan mu.” Ucap sang satpam tampak risih harus menjadi sandaran pria di sampingnya.

 “Ya! Anak muda, bangun!” Si satpam menepuk-nepuk pipi lelaki itu beberapa kali sebelum ia mendorong pelan kepala anak muda yang masih bertengger di pundaknya.

Si lelaki dengan pakaian yang lusuh tersebut  pada akhirnya berusaha membuka matanya dan membuat kepalanya berada di posisi yang tepat,meskipun ia terlihat sedikit kesulitan.Ia nampak meringis pelan sambil memijat pelipisnya.Tangan yang sedari tadi penyampir di pundak sang satpam ia singkirkan lalu melambai pelan pada gadis di hadapannya.

“Hai,Hyunchan-ah” Senyumnya lemah nampak seperti orang  setengah sadar.Aroma alcohol terasa menyengat menyatu dengan  hembusan nafasnya.

Kelopak mata Hyunchan berubah melebar dari sewajarnya,terkejut menyadari sosok yang ada di hadapannya.Orang yang sama sekali tak terfikirkan akan bertandang ke kediamannya.Byun Baekhyun.

“Sepertinya dia mabuk berat dan pasti akan menginap— Umm maksud saya,anda tahu kan peraturan di sini?”

Suara ajjusshi berpakaian seragam keamanan itu menyadarkan Hyunchan dari acara keterkejutannya soal kedatangan Baekhyun ke apartemennya.Yah,ia tahu betul apa yang di maksud si satpam.Sejak awal kepindahannya disini Suho sudah memberitahukannya bahwa  apartemennya ini memiliki peraturan yang berbeda dengan apartemen lainnya.Mereka yang berlawanan jenis tanpa adanya ikatan pernikahan ataupun darah dilarang untuk tinggal seatap meskipun hanya satu malam.Itulah kebijakan yang berlaku bagi siapa saja yang memilih untuk tinggal di tempat tersebut,yang telah disetujui begitu si pemilik  hendak meninggali apartemennya.

“Ye,tenang saja.Dia..dia ini sepupu ku.” Ucap Hyunchan yang merasa kurang percaya diri dengan caranya berbohong.

Si satpam terlihat berfikir sejenak memandang keduanya scara bergantian lalu akhirnya nengangguk tanda mengerti.

“Baiklah,anda bisa mengurusnya kan? Kalau begitu saya permisi Nona Shin.” Si satpam pamit dan segera berjalan meninggalkan Baekhyun dan Hyunchan.

Wanita itu melirik ke arah Baekhyun yang masih berusaha membuat tubuhnya tetap berdiri di posisinya.

“Apa maksud kedatangan mu dengan kondisi yang seperti ini? Bukankah sepertinya lebih baik jika kau mendatangi apartemen mu dan bukannya apartemen ku.Lagipula tidakkah  aneh dalam kondisi seperti ini kau malah datang ke tempat ‘orang asing’ seperti ku?” Hyunchan sedikit menyindir Baekhyun.Ia tak akan lupa setiap kata yang dilontarkan namja itu ketika insiden pertengkaran mereka.

“Urusan kita sudah selesai dan tidak ada lagi alasan bagimu untuk menemu—“

Kalimat Hyunchan tak terselesaikan ketika dirasakannya kedua  telapak tangan Baekhyun sudah menempel di pinggulnya dengan dagu sang namja bertumpu pada bahu kirinya.Nafas yeoja itu terasa tercekat saat di sadari bahwa jarak mereka sungguh sangat dekat sampai indra penciumannya mampu menangkap wewangiann yang dikenakan Baekhyun meskipun sudah bercampur aroma minuman beralkohol.

“Sstt..Bisakah kau membiarkan tamu mu masuk dulu?Aku benar-benar tak sanggup berdiri lagi,Hyunchan-ah.” Ucap Baekhyun dengan suara berat sambil berusaha menahan agar dirinya tak membuat mereka berdua terjatuh ke lantai.Ia benar-benar merasa pusing dan tak bisa berdiri normal seperti biasanya.

Hyunchan mengumpulkan ke sadarannya,lalu mendorong pelan tubuh namja itu.Dipapahnya Baekhyun masuk ke dalam tempat tinggalnya menuju ke arah sofa hitam yang tak jauh dari pintunya.Ia mendudukkan namja itu di sofanya.

“a—akan ku ambilkan air minum.”  Ucapnya setengah gugup mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.

Hyunchan bergegas ke dapurnya dan tak lama kemudian ia kembali ke hadapan Baekhyun dengan segelas air putih di tangannya.”Aku tak tahu cara mengatasi orang mabuk,jadi hanya ini yang bisa ku lakukan.”

Baekhyun memijit sejenak kepalanya sebelum akhirnya meneguk air putih itu.Kepalanya lantas ia sandarkan pada sandaran sofa,membuat wajahnya mejerawang ke plafon apartemen Hyunchan.

“kau bawa kendaraan?”

Baekhyun menggelang.Tadinya ia memang membawa kendaraan,tetapi ia hanya menyuruh supirnya datang ke pub,mengantarnya ke apartemen Hyunchan dan setelahnya mobil itu di bawa pulang oleh supirnya kembali ke apartemennya.

“Aku akan menghubungi taksi.”Baru saja Hyunchan akan beranjak ke  arah telpon rumahnya,sebuah tangan menghentikannya dan menarik tubuhnya untuk terduduk tepat di sebelah si penarik tersebut.

Ini tampak seperti dejavu,kejadian yang sama di apartemen Baekhyun.Namja itu mulai mendekatkan jarak mereka,seperti halnya malam itu.Degupan jantung bisa terdengar jelas dan entah itu milik siapa.Mungkin saja keduanya.”Aku sudah sangat lelah Hyunchan-ah.Biarkan malam ini aku tidur di sini,humm?”.

 Baekhyun menarik wajahnya dari samping wajah Hyunchan dan membuat wajah mereka kini saling berhadapan.Hyunchan memandang bola mata yang hanya berjarak beberapa centimeter  itu,nafasnya tertahan.Tatapan yang sayu tapi seolah hampir menenggelamkan dirinya .”Tapi—“

“kenapa? Kau takut kejadian di apartemen ku malam itu akan terjadi lagi?”

Hyunchan bisa merasakan semua darahnya berkumpul di wajahnya dan membuatnya memerah seperti lipstick yang sering di gunakan tantenya dulu.Ternyata Baekhyun masih ingat kejadian itu.Dengan refleks ia menyingkirkan tubuh Baekhyun dan kembali ke posisi berdirinya.

“Bu..buu..bukan begitu!”Gadis yang terkenal dengan ekspresi datarnya itu terlihat begitu salah tingkah sampai ia memalingkan wajahnya ke arah lain,tak ingin menatap Baekhyun.Dan itu justru membuat gelak tawa keluar dari mulut lelaki itu.

“Aku suka ekspresi mu yang seperti itu.” Kata Baekhyun,semakin membuat wajah Hyunchan memerah layaknya topi santa.

Hyunchan menampilkan ekspresi kekesalannya meskipun jauh didalam hatinya secuil rasa senang menghampirinya.Kakinya melangkah meninggalkan lelaki itu di sertai gumaman tak jelas yang ia ciptakan.

“Mau kemana kau?”Baekhyun menoleh dari balik sandaran sofa tersebut menatap punggung Hyunchan semakin menjauh.

Tak lama setelahnya Hyunchan kembali dengan membawa bantal dan selimut di tangannya.Ia meletakkan selimut itu di atas meja yang berhadapan dengan sofa.”Anggap aku berbaik hati malam ini mengingat kita ini teman sekelas …teman tapi ‘orang yang asing’.” Kalimat terakhir memang terdengar lebih tepat berupa bisikan,tetapi Baekhyun masih sanggup untuk menangkapnya masuk ke dalam indra pendengarannya.

Raut sedih menghiasi wajah sang lelaki yang tengah terduduk sambil memeluk bantalan sofa itu ketika mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut Hyunchan.Dengan kata itu fikiran keduanya kembali melakukan flashback ke kejadian di kelas itu.Mereka bisa merasakan kecanggungan menyelimuti keduanya.Hyunchan terdiam membeku dalam posisi berdiri dengan memunggungi Baekhyun.

Jujur,ia sakit di setiap kata yang dilontarkan oleh Baekhyun saat  itu.Bahkan tak jarang hal itu sampai terbawa ke alam mimpinya,membuatnya harus terbangun di tengah malam dengan rasa sesak di dadanya.Ia sudah memutuskan untuk tidak mengusik namja itu lagi.Namja itu juga sudah menghinanya habis-habisan,bahkan membuat batasan diantara mereka bahwa mereka bukan sesuatu yang masuk di category teman melainkan hanya orang asing.Tapi sekarang,tiba-tiba namja itu bertandang ke kediamannya,bertingkah bahwa tak ada masalah besar yang pernah terjadi di anatara mereka.Ia hanya pusing dengan apa yang sebenarnya Baekhyun inginkan.

”Hyunchan-ah…”

Nafas Hyunchan tertarik tanpa menghembuskannya kembali ketika ia merasakan  sepasang lengan melingkari  badannya.Ia dapat merasakan tubuh Baekhyun menempel tepat di belakangnya meskipun dalam kondisi seperti memaksakan dirinya untuk berdiri.Namja itu sedang memeluknya dari belakang,membuat fikirannya mendaadak kosong.Hembusan nafas sang namja bisa ia rasakan menyentuh helai-helai rambutnya.Ia ingin memberontak mendorong Baekhyun dan melakukan protes terhadap tindakan Baekhyun ini.Tapi ada sisi lain dirinya yang menyuruhnya untuk tetap diam,menunggu sedikit lebih lama lagi.

Jika ia bisa jujur, sebenarnya  ia sungguh tak bisa membenci Baekhyun dan itulah yang membuatnya membenci dirinya sendiri.Sekeras apapun otaknya meronta untuk membenci Baekhyun tapi tidak bagi perasaannya.Ia tahu ini salah dan sesuatu yang percuma saja.Tapi dirinya tak bisa menampik bahwa tanpa ia sadari ia telah melanggar peringatan Suho.

Ia.Menyukai.Baekhyun.

Meski itu adalah sebuah kesalahan.

Baekhyun mengeratkan pelukannya,melepaskankan perasaan rindu yang berusaha ia tampik belakangan ini.Sebuah beban berat seolah terlepas dari nafasnya hanya dengan memeluk yeoja di hadapannya itu.Ia tahu ia telah menyakiti gadis itu hanya karena ia tidak bisa melogikakan perasaan yang ia rasakan kepada Hyunchan.Itu adalah masalah dirinya yang terlalu berpatokan pada kelogikaan dan type ideal konyolnya dan justru melampiaskan kekesalannya pada Hyunchan yang  tak tahu apa-apa soal pergolakan dirinya.Ia tak akan bisa melupakan tatapan kesakitan Hyunchan hari itu.

“Maaf.” Ucapnya pelan.

Ada banyak rangkaian kata yang akan mengekori kata ‘maaf’ itu,rangkaian kata yang sudah ia susun rapi di otaknya berlandaskan perasaannya.Tapi takdir sedang tak mendukungnya untuk segera memperbaiki hubungannya dengan Hyunchan.Ia merasa pelukannya melemah,rasa kantuk amat berat yang memaksa matanya untuk terpejam melanda dirinya hingga semuanya menjadi gelap.Kepalanya terjatuh tepat di pundak Hyunchan.Paling tidak Hyunchan sudah mendengar satu kata ‘maaf’ itu.

***

Pagi hari kembali menyambut kota Seoul.Sebuah ruangan gelap yang terdapat dua orang penghuni di dalamnya  itu mulai berhiaskan cahaya matahari yang menyusup dari sela-sela tirai putih jendela kamar itu.Kaca jendela nampak berembun dengan beberapa benda putih di selah-selah rangkanya.Salju sepertinya telah menyerbu Seoul tengah malam tadi,menandakan musim semi baru saja pergi berganti musim dingin.

Dari balik selimut putih yang terdapat di atas tempat tidur besar itu,terlihat sesuatu yang menggeliat lalu kemudian memunculkan dirinya ke permukaan.Sesosok manusia itu tampak  meregangkan kedua lengan tangannya dan tak lama kemudian menggosok-gosok matanya.Bau turunan salju langsung menyusup ke penciumannya begitu ia mengangkat wajahnya dari balik selimut.Ia meringis pelan,merasakan sakit yang masih menyerang kepalanya efek mengkonsumsi minuman Tequila terlalu banyak.

Baekhyun membuka matanya,menatap tak jelas kea rah plafon tempat dimana ia terbaring.Bukannya langsung mempertanyakan di mana keberadaan dirinya,ia justru menyibukkan diri dengan membayangkan apa yang beberapa jam yang lalu ia alami.Bertemu Hyunchan,berbicara lagi pada gadis itu,hingga memeluknya,semuanya seperti sesuatu yang sulit ia percaya.Mimpi kah itu atau kenyataan? Ia sungguh tak bisa membedakannya.Dan akhirnya pertanyaan yang ada di otaknya itupun terjawab ketika ia menolehkan kepanya ke arah kanannya dan didapatinyalah gadis yang difikirkannya itu kini berada di sampingnya sedang tertidur pulas sambil memeluk gulingnya.Kalau saja ia sedang tidak dalam suasana yang salah ia pasti akan tertawa dengan gaya tidur gadis itu.

Baekhyun mulai melemParkan pertanyaan-pertanyaan pada otaknya sambil berusaha mengingat kenapa ia berada di tempat yang bukan tempat tinggalnya,kenapa ia berada di kamar seorang wanita dan yang pasti kenapa ia bisa tidur di atas kasur yang sama dengan Shin Hyunchan.Kepalanya refleks melihat ke bawah dan kesamping,memastikan bahwa ia ataupun Hyunchan sedang dalam pakaian yang lengkap.Ia takut ketika mabuk semalam,ia akan melakukan hal yang aneh dan akan membuatnya tak bisa memaafkan dirinya sendiri.Suara kelegahan terdengar dari hembusan nafasnya ketika ia ataupun Hyunchan masih berpakaian lengkap dan tidak ada tanda-tanda yang lain yang membuktikan bahawa ia melakukan hal-hal aneh itu.

Perlahan ia mulai bisa mengingat rerentetas peristiwa tersebut meskipun tidak secara jelas.Semalam ia mendatangi kediaman Hyunchan begitu ia telah menyelesaikan acara curhatnya dengan Jonghyun tanpa ia sendiri tahu alasannya.Lalu ada adegan dimana ia tiba-tiba memeluk yeoja itu dan meminta maaf,meskipun ia berencana sebelumnya ingin meminta maaf dalam kondisi yang 100% sadar.Dan terakhir adegan yang menyebabkan ia yang sebelumnya  merasa tertidur di sofa dan tiba-tiba saja terbangun di atas tempat tidur yang sama dengan Hyunchan.Sementara ia berfikir tiba-tiba ia mendengar suara orang yang telah terbangun dan mata sipitnya sontak membulat ketika ia sadar Hyunchan telah terbangun dalam kondisi yang langsung terduduk dengan melemparkan tatapan seperti ‘Apa yang kau lakukan di tempat tidurku BYUN BAEKHYUN!!’ sembari kedua tangannya memegang erat selimutnya.Raut mukanya horror  bahkan lebih horror dibanding ketika ia menjadi siswi baru.

“Jangan berteriak dulu! Oke,aku bisa jelaskan semuanya.” Tangan namja itu bergerak-gerak di udara seolah berusaha menenangkan Baekhyun.

“Semalam cuaca sangat dingin,sepertinya salju pertama baru saja turun.Dan kau tahu,selimut yang ku kenakan sama sekali tak ada gunanya.Aku kedinginan dan di sana tidak ada satupun penghangat ruangan.Karena setengah sadar kufikir ini adalah apartemen ku,jadi kuputuskan bergerak ke sebuah ruangan yang menurut otak ku adalah kamar ku.Kamar itu sangat gelap dan aku tidak tahu menahu soal keberadaan mu.Dan begitulah kenapa aku berakhir disini.” Baekhyun menarik nafas lalu menghembuskannya lagi setelah ia berbicara panajang lebar tanpa henti.

“kau mengerti kan? Dan Oh lihat! Kau dan aku masih dalam keadaan berpakaian lengkap .Itu berarti kita tidak melakukan apapun,oke? Aku mungkin bejat tapi aku bukanlah seorang penjahat yang akan mengambil kesempatan dalam kesempitan.Aku tidak mungkin melakukan tindakan seperti itu pada mu.Karena aku..”

Di tengah-tengah aksi pembelaan dirinya tiba-tiba namja itu merasakan sesuatu yang bergetar di dalam saki celanya.

“Karena aku..” ia berusaha mengabaikan dan getaran itu terus saja mengusiknya seperti kejadian yang dulu.

“Aish,kenapa selalu seperti ini huh?”Rutuknya.

“Tunggu sebentar.Aku belum selesai dengan pembelaanku.” Tubuh kurus itu berjalan menjauhi Hyunchan,menuju ke arah balkon kamar yeoja itu yang langsung disambut oleh terpaan angin dingin yang membuat tubuhnya sedikit menggigil.

“Apa ini tidak terlalu pagi untuk mu menghubungi ku Park Chanyeol bodoh!!” Teriaknya hingga ke ujung tenggorokannya.

Ekspresinya kesalnya berubah ketika Chanyeol tak menaggapinya seperti biasa.

“Hei! Kau kenapa?”Ia merendahkan sedikit nada suaranya.

“Mwo? Jisun kenapa?” Ucapnya setelah sang penelpon  mengatakan sesuatu padanya.

Hampir  3 menit  Baekhyun bercakap dengan Chanyeol mengenai hal yang membuatnya terkejut beberapa saat tadi.Tak lama kemudian,ayahnya menelpon juga membahas hal yang sama dengan apa yang Chanyeol bahas.

“Ye.Appa,biar aku yang menjemput mu di bandara lusa nanti.” Ucapnya di akhir sambungan tersebut.

Baekhyun kembali masuk ke dalam tetapi Hyunchan sudah tak ada di tempatnya semula.Ia menghela nafas dan berjalan kea rah kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.Begitu ia keluar dari kamar Hyunchan aroma panggangan roti bercampur aroma teh menyatu masuk ke indera penciumannya,membuat perutnya mulai meminta di isikan sesuatu.

Ia mendapati Hyunchan sedang sibuk menata dua buah piring berisikan dua buah roti dan dua cangkir teh yang terlihat mengepulkan asap tipis,ketika ia menginjakkan kakinya ke tempat yang disebut dapur.Tubuhnya berjalan mendekati meja makan kecil dengan dua buah kursi yang berhadapan tepat di sisi lebarnya.

“Hyunchan-ah,nggg soal yang tadi—“

“Makanlah dulu.Soal yang tadi tidak usah di bahas lagi.Aku mengerti.” Ucapnya datar seperti biasa sambil menarik kursinya lalu mendudukkan dirinya.

Baekhyun menarik pelan kursi itu lalu melakukan apa yang dilakukan oleh Hyunchan.Jemarinya meraih salah satu roti pada piring di hadapannya.Tak lama kemudian ia mulai bisa menikmati roti buatan Hyunchan.Ini mungkin hanya roti panggangan biasa dengan selai coklat biasa seperti pada umumnya.Mungkin tak ada yang special dari makanan ini,tapi tidak bagi Baekhyun.Baginya ini roti terenak yang pernah ia makan bahkan tak bisa dibandingkan dengan roti panggang buatan koki bertaraf internasional.Dia mungkin mendeskripsikannya terlalu hiperbola.Tapi itulah yang kau rasakan ketika mencoba makanan buatan orang yang special bagi mu.

“Ini sangat enak.” Ucap Baekhyun dengan mulut penuh sampai beberapa serbuk roti itu keluar dari mulutnya.

“Itu karena kau sedang lapar.Dan jangan katakan tidak.”

Oke terkaan Hyunchan memang benar,ia memang sedang dilanda kelaparan akut tapi ia tak bohong soal pujiannya barusan.Baekhyun hanya menanggapi perkataan Hyunchan dengan cekikikan.Senang akhirnya bisa tersenyum karena yeoja itu lagi dan bukannya berekspresi masam ataupun dilanda stress karena berusaha menjauhi Hyunchan dan itu perlahan juga membuatnya sakit.

Mereka terdiam dalam balutan keheningan.Tak ada suara lain yang dapat mereka dengar selain suara hantaman gigi gigi yang mengunyah makanan dan teh yang di seruput dari cangkirnya.Keduanya sibuk memandang ke  bawah,ke arah makanan mereka, bergelut dengan fikiran masing-masing.

Baekhyun mengangkat kepalanya,menatap ke depan tepat di mana Hyunchan duduk dengan pandangan ke bawah.Percakapannya kala berucap maaf semalam tiba-tiba terlintas.Terlepas dari ucapannya semalam, pada kenyataannya kalau difikir secara logika ia dan Hyunchan belum dalam kondisi yang benar-benar baikan.Ia mabuk saat itu dan karena itulah yeoja itu memberikan pengecualian padanya untuk menolong dirinya meskipun mereka belum berdamai dari masalah mereka.Hyunchan mungkin menganggap kata maaf malam tadi  hanyalah bagian-bagian kata tak penting yang keluar dari mulut seorang yang sedang mabuk.Ia mungkin tak memaknainya secara sesungguhnya dan hal itu mulai mengusik Baekhyun.

“Maaf.” Ucapnya mengulang kata semalam.Ia ingin membuktikan pada Hyunchan bahwa dalam wujud yang sadar 100% ia benar-benar berniat meminta maaf pada yeoja itu.

Hyunchan masih tertunduk sambil memegang cangkirnya dengan kedua tangannya menatap bayangan wajahnya di genangan air teh berwarna coklat tua itu.

“Untuk apa?” tanyanya, belum merubah posisinya.

“Kerena telah merepotkan ku semalam,karena telah kurang ajar tidur di kamar orang sembarangan,atau karena—“

“untuk segalanya.”

Mata keduanya kini saling melihat,bertatapan satu sama lain.Ada kilat keterkejutan yang terlintas di bola mata gadis itu sejenak,lalu kembali normal seperti sebelumnya.Baekhyun berusaha melihat lebih dalam lagi ke dalam mata Hyunchan tanpa memperdulikan suara degup jantungnya yang mulai aneh lagi.Ia berusaha mencari apakah ada penerimaan maaf didalam sana atas pengakuannya barusan.Tapi sayangnya,Hyunchan adalah orang yang tak muda di baca ekspresinya mengingat perawakannya yang terbiasa berekspresi datar.

Baekhyun menghela nafas tanda kecewa karena tak kunjung mendapat jawaban yang ia inginkan.Dan saking terfokusnya ia terhadap Hyunchan,dirinya sampai lupa kabar buruk mengenai adiknya yang di sampaikan Chanyeol beberapa saat yang lalu.Baiklah,sepertinya ia akanmengurusi masalah adiknya terlebih dahulu sebelum ayahnya pulang dan menggantung kepalanya di puncak namsan tower,setelahnya dia baru akan mengurusi urusannya dengan Hyunchan.

“Sepertinya aku harus pergi sekarang.” Bakhyun berdiri membuat kursi tempatnya duduk mengeluarkan decitan.Bola mata Hyunchan nampak terkejut sebelum akhirnya meninggalkan makanannya dan mengikuti ke mana Baekhyun berjalan.

“Aku baru ingat ada urusan penting yang harus ku selesaikan.” Namja itu mengambil hoodienya yang tergeletak di sofa.

Hyunchan mengantar namja itu hingga ke depan pintunya,meskipun sebenarnya ada hal yang ingin ia katakan sekaligus beberapa pertanyaan yang mengganjal di otaknya tapi dia bukanlah orang yang dengan mudah mengungkapkan apa yang ia fikirkan.Ia lebih memilih diam dan menatap Baekhyun yang mulai berpamitan.

“Gomawo Hyunchan-ah.” Tubuhnya yang lebih tinggi dari gadis di hadapannya itu perlahan membungkuk tanpa perpisahan.Rasanya ia berat harus meningglakan Hyunchan tanpa menuntaskan semuanya tapi dihilangkannya rasa itu karena menurutnya ia masih punya banyak wkatu untuk bertemu dengan gadis itu,tanpa ia tahu bahwa waktu Hyunchan sebenarnya tak banyak lagi.

Yeoja itu hanya mmapu memandangi punggung Baekhyun yang mulai bergerak menjauh sebelum namja itu memilih untuk berhenti dan menoleh padanya.

“Hyunchan-ah…Bisakah..Bisakah kita menjadi seperti dulu lagi?” Bola mata itu memancarkan suatu harapan yang besar untuk sebuah jawaban ‘ya’.Hyunchan terdiam,mematung dekat tiang pintunya dengan mata yang lagi-lagi menatap Baekhyun tanpa berkedip.

Detik berlalu dan sebuah kata pun belum meluncur dari mulut gadis itu.Ekspresi kecewa  dengan senyuman miris kembali menghiasi wajah Baekhyun,mungkin ini belum saaatnya.Mungkin Hyunchan butuh waktu untuk memikirkan semuanya dan menjalin hubungan baik seperti dulu,setelah semua hal buruk yang pernah Baekhyun lakukan padanya.Mungkin Baekhyun terlalu banyak berharap maaf dari gadis itu.

“Baiklah,aku mengerti maksud mu.” Ucapnya pelan.

Ia pun memutar badannya kembali membelakangi Hyunchan.Baru saja ia ingin melangkah,suara yang ia tunggu-tunggu menghentikan niatnya.

“Hati-hati di di jalan…………..Baekhyun-ah.”

Mungkin itu bukan sebua kata ‘ya’ ataupun ‘tidak’,seperti jawaban yang diharapkan oleh Baekhyun.Tapi kata terakhir yang di ucapkan Hyunchan itu sudah cukup membuatnya ingin terjun bebas dari atas Hallasan ataupun Mount Everest.Secara tidak langsung itu adalah sebuah jawaban ‘ya’.Ketika embel-embel dibelakang namanya bukan lagi  -ssi melainkan –ah,itu berarti hubungan keduanya sudah bisa dikatakan mulai membaik.Tanpa seorangpun yang tahu,pagi itu dua anak manusia kembali berbunga-bunga lagi dengan perasaan mereka,menikmati setiap bell imajinasi yang berdentang menggila,kembang api yang meletup-letup tak karuan bahkan wajah memerah menyerupai lipstick Marlyn Moonroe.

Hyunchan tersenyum tipis ketika tubuh Baekhyun sudah tak terlihat lagi.Sekelumit pertanyaan tiba-tiba merusak momen bahagianya.Apa yang baru saja ia lakukan?Jadi dia telah berdamai dengan Baekhyun?Memaafkan anak yang tadinya membuatnya makan hati hanya karena satu kata ucapan ‘maaf untuk segalanya’?Jadi apakah Hyunchan mulai meragukan keputasannya untuk tidak lagi peduli dan berhenti berusaha mengubah Baekhyun?Tidak,yang terburuk adalah,apakah mungkin dirinya mempunyai alasan lain,selain’ lelah’ menyoal rasa menyerahnya ia pada misinya?Mungkin alasan yang melibatkan perasaannya terhadap laki-laki itu?

***

Chanyeol menatap miris yeoja yang berada di hadapannya.Dengan baju khas pasien rumah sakit,yeoja itu bersandar di sandaran tempat tidurnya.Sebuah selang infuse tampak terhubung dengan pembuluh darah di salah satu  pergelangan tangannya.Wajahnya pucat,tirus dan sendu.Ia tak pernah menatap namja yang sejak semalaman menjaganya di rumah sakit,melainkan hanya menatap percikan hujan di luar sana yang meninggalakan bercaknya di jendela besar kamar inapnya.

Semalam,tepat pukul 2 dini hari seorang pria tua membawa gadis itu ke rumah sakit ini.Menurut penuturan pria tua itu,ia menemukan gadis itu pingsan di bawah lampu jalan dekat tempat tinggalnya saat ia baru saja pulang dari Incheon.Kondisi kaki Jisun yang terluka membuatnya membawa gadis itu dengan susah payah ke rumah sakit kecil yang untungnya tak jauh dari situ.Chanyeol sendiri mengetahui kabar itu ketika seseorang yang mengaku pihak dari rumah sakit ini, menghubungi ponselnya.

Tak hanya dia yang terkejut mendengar  kabar itu.Kyungsoo yang masih sempat melihat gadis itu sebelum akhirnya barakhir di rumah sakit juga terkejut , apa yang ia takutkan ternyata benar terjadi.Sedangkan Baekhyun,baru ia hubungi ketika pagi hari dan tak lama setelah itu ia setelah itu dia segera menuju rumah sakit tempat Jisun berada.Meskipun beberapa perawat sempat melarangnya memasuki ruangan pasien karena badannya yang di penuhi bau alcohol dengan kemeja sekolahnya yang terlihat sangat kusam,tapi dia tetap memaksa.

Bola mata hitam itu tak pernah meninggalkan tatapannya dari gadis yang ada di hapannya.Belum selesai kepalanya sakit akibat masalah putusnya ia dan Jisun,kini ia harus mengurut kepalanya lagi karena masalah lain yang muncul.Perkataan dokter yang menangani Jisun pagi tadi masih terus mendengung ditelinganya.

“Menurut hasil pemeriksaan,dia terkena stress belakangan ini dan inilah puncaknya.Tapi tenang saja,penyakitnya ini masih ke dalam category ringan.Biasanya orang-orang seperti ini akan mengunci diri mereka di dalam alam bawah sadarnya sehingga meskipun kelima indranya masih berfungsi,namun tidak dengan otaknya.Tapi ini tak akan berlangsung lama.Kemungkinan ada masalah besar yang sedang ia hadapi tapi tak punya tempat untuk mengutarakan masalahnya tersebut.Dan sepertinya untuk meringankan sakit kepalanya karena masalah itu,ia banyak mengkonsumsi obat penenang.Sebagai orang yang dekat dengannya,apa kau tahu masalah apa yang sedang ia hadapi?”

Chanyeol tahu betul  masalah yang dimaksud sang dokter tersebut.Masalah hubungannya dengan Jisun,pasti itulah sebabnya.Dan itu semua karena salahnya.Ia sungguh tak percaya bahwa efeknya akan separah ini sampai Jisun harus mengkonsumsi obat stress.Namun,bukannya mengutarakan hal tersebut ke pada sang dokter,Chanyeol lebih memilih untuk menggelengkan kepalanya.Sepertinya itu bukan masalah yang pantas untuk dibeberkan.

“Baiklah.Kita akan lihat perkembangannya terus.Jika sampai besok ia masih seperti ini,terapi akan segera dilaksanakan.Untuk sementara jangan membiarkannya terlalu banyak melamun,usahakan terus berbicara padanya.Dan pastikan ia meminum obatnya.”

 Chanyeol benar-benar kaget ketika terbangun tadi  ia sudah mendapati Jisun dengan posisi yang seperti ini.Difikirnya,yeoja itu akan segera mengusir Chanyeol ketika mengetahui keberadaan namja itu di dekatnya.Tapi,hal yang terjadi bahkan lebih buruk.Yeoja itu mendiaminya,jangankan bicara sepatah kata menatap Chanyeol saja tidak pernah.Sekalipun namja itu terus berkoar-koar dan mengemis maaf dari Jisun tapi hasilnya tetap sama.

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore.Satu hari akan segera berakhir lagi.Makanan Jisun sudah dua kali berganti,namun tak sesuap pun masuk ke dalam perutnya.Baekhyun sedang pulang ke apartemennya  untuk mengganti bajunya yang entah berbau apa sekaligus ke rumahnya untuk mengambil perlengkapan yang mungkin di butuhkan Jisun.Namja itu sama sekali belum mengetahui kondisi sebenarnya yang terjadi pada adiknya.Karena ia hanya datang melihat sejenak dan setelah itu segera pulang mengambil perlengkapan dia dan adiknya.

“Jisun-ah” Gumamam yang keluar dari mulut Chanyeol menunjukkan seberapa besar rasa sakit yang ia rasakan melihat wanita yang lebih muda darinya itu terdiam seperti mayat hidup.

Jemarinya perlahan mengeratkan genggamannya pada jemari Jisun.Diraihnya telapak tangan yang nampak pucat itu ke pipi kirinya.Ia bisa merasakan gesekan dari kulit telapak tangan itu menyentuh kulit pipinya.Lembut namun dingin.Matanya terpejam dan tak lama setitik air keluar dari ujung kelopak matanya yang saling mengatup.Sementara si wanita sama sekali tak berekspresi apapun.Diciumnya tangan itu,hingga beberapa tetes air matanya ikut membasahi punggung tangan sang gadis.

“Maaf.”

***

TBC

Sepertinya part yang ini panjangnya sedikit berlebihan #plak

Beberapa adegan kejadiannya itu pada hari dan malam yang sama..

Mian kalo semakin ke sini ceritanya semakin lama,panjang dan membosankan…Authornya lagi bener-bener ga punya ide bagus lagi huhuhu..

Mian juga kalo typonya banyak,meskipun author itu harus memberikan bacaan yang baik dan gak typo typo-an tapi saya beneran ga punya waktu buat nge edit semuanya secara teliti lagi huhuhuhu

BUAT READERS YANG SAMPAI SAAT INI MASIH MAU NUNGGUIN DAN NGEBACA INI FF SAYA BENER BENER GA TAU MAU GIMANA SELAIN NGUCAPIN MAKASIH BANYAK…  #srooott  *ambil tissue*

walopun lama ngepublishnya saya usahain untuk nyelesaiin ini ff J

Oke sampai jumpa di part slanjutnya 😀  😀

98 responses to “THE SECOND LIFE [PART 10]

  1. Hwahhhh ceritanya mkn seru bgtzz…
    utk baekhyun dan hyunchan ciyeee dh baikan…
    utk chanyeol jaga jisun dg baik yaa coz jisun stress kyk gt kan jga krn kamu…
    utk chanyeol fighting…

  2. kasian jisun , chanyeol yg malang 😦 ,
    arghhhh hyunchannya bikin greget nih…
    penasaran nih
    semangat thor ! ^^b

  3. Bang Baek sadar juga akhirnya hihi^^ kapan nembaknya bang, tinggal seminggu lagi lohhh~~
    YeolHun fix bikin baper:( Jihun gamau dengerin chan sih:(:(:(:(:(
    Kepo sama misinya bakal jadi gimana~~ keep writing thor^^

  4. Sedikit terobati dengan chapter yang satu ini, karena ada aa suho yang mulai menceritakan awal mulandia jadi malaikat. Ternyata karena SEHUN yang ga ada bedanya sama baekhyun yaa tapi lebih parahan SEHUN. Maaf ka di capslock abis klo bf ga di capslock nantinya malah diambil orang :v ada uri Jongin juga di sini, jadi cameo 😀
    Oh ya, aa suho baik banget ngasih nyawanya buat SEHUN. Makasih aa, karena pengen banget SEHUN hidup.
    Akhirnya, baekhyun maupun hyunchan mengonfirmasi perasaan mereka walaupun ga saling ngaku. Gpp deh yang penting semuanya udah terjawab walaupun sebenernya hyunchan udah ngelanggar persyaratan ketiga.
    Jisun kenapa harus mabok terus di rumah sakit lagi? Untung ada chanyeol yg jaga :”

    Semoga komentar saya yang selalu panjang, bertele-tele dan ga jelas ini menjadi kenangan bagi kaka😂

  5. ciyee.. baekhyun dah sadar akn perasaannya… tpi gwe tkut kyak.ny waktu baekhyun ngungkapin perasaan.ny ..49 harinya hyunchan udh abis….dan ketika baekhyun udah berubah dan mencintai hyunchan tpi karena mreka jtuh cinta jdinya hyunchan kehilangan ingatan 49 harinya..*kasian baek*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s