FF : Oramanieyo… [CHAPTER 3]

Title : Oramanieyo…

Author : Hayamira

Genre : Romance, Friendship, Tragedy

Rating : PG 16

 Length : Chaptered / Series

Main Cast :

Jung Na Mi (OC)

Kim Him Chan ( B.A.P )

Kim Su Ho ( EXO-K )

Yong Jun Hyung ( BEAST )

Goo Ha Ra ( KARA )

Support Cast    :

Lee Sung Yeol ( INFINITE )

Byun Baek Hyun ( EXO-K )

Krystal Jung ( f(x) )

Disclaimer :

Cast belong to GOD and their entertaintment, TS ent SM ent and Pledis Ent. Ide cerita murni pemikiran author, tidak ada unsur plagiat.

Poster     :   sasphire http://sasphire.wordpress.com/

 

oramanieyo (2)

TEASERTEASER 2 | CHAPTER 1 | CHAPTER 2

Note :

HAI!! Hyerinn Park disini~ duh maaf banget belum sempat ngepost FF u.u disini Hyerinn bawa FF Sequel Please, Stop The Time :D alias sequel Nami versionnya tanpa banyak bacot lagi, semoga para readers suka ya sama ceritanya. NO PLAGIAT, NO SILENT READERS. please, komen FF ini sebagai bentuk rasa membangun buat authornya, biarpun itu komen apapun. 🙂

Previous Part :

Him Chan sudah mengetahui rahasia dari Jung Na Mi, yaitu penyakit Skizofrenia nya. sementara itu, Suho mulai menyusun rencana untuk meneror hidup Nami dikarenakan Nami seperti menginjak harga diri Suho dengan penolakan yang Nami lakukan.

Dilain pihak, Hara yang semakin maradengan sosok Nai yang mulai mengganggu kehidupannya, tidak akan tinggal diam. dia sudah berencana, untuk menghancurkan Nami. Apakah rencanaHara akan berjalan lancar? Bagaimana juga dengan Suho dan rencananya, apakah akan berhasil? Juga, apakah Him Chan akan menjauhi Nami atau sebaliknya?

-oOo-

Sudah lewat lebih dari 5 bulan, sejak insiden penyerangan di butik Jung Na Mi di Gangnam-do. Goo Ha Ra sekarang terlihat lebih tenang, dan juga senang. Kasus penyerangan tersebut seharusnya naik ke persidangan, tapi pihak Jung Na Mi membuat kasus tersebut tidak dilanjutkan alias kasus ditutup. Ha Ra berteriak dalam hati, bodohnya Jung Na Mi dan temannya. Sangat bodoh.

 

Ha Ra yang sedang melayani pelanggan di salonnya, menghentikan pekerjaannya. Ada seorang wanita yang memanggilnya. “Nona Ha Ra,” kata orang itu. Ha Ra tersenyum, lalun mengajaknya ke ruangannya dan duduk.

 

“Apa yang ingin dibicarakan? Kau sudah dapat informasi?”Tanya Ha Ra senang. Moodnya hari ini benar-benar bagus.  Semoga dia mendapatkan informasi yang membuat moodnya semakin bagus.

 

“Waktu Suho ke Tokyo… beberapa bulan yang lalu, aku baru mengecek jadwal. Tidak ada jadwal, atau fanmeeting disana. Waktu itu dia benar-benar kosong. Katanya, dia ingin liburan ke Tokyo lalu ke Hokkaido.”

 

Ha Ra mengerutkan dahinya. Kenapa harus di Hokkaido? Bukankah Suho sudah terlalu sering berlibur di sana? Terakhir yang Ha Ra ingat, Suho ingin berlibur ke Thailand. Ada yang tidak beres, pasti.

 

Manajer Suho melanjutkan lagi pelaporannya. “Setelah aku mata-matai, dia melakukan penyamaran dengan apik. Dan, dia menemui desainer, namanya Jung Na Mi kalau tidak salah. Aku tidak tahu ada hubungan apa antara Jung Na M idan Suho Kim.” Ha Ra melotot mendengar penuturan Manajer Suho.

 

Sudah sangat jelas, Suho ke Tokyo memang untuk Jung Na Mi. Sialan. Mati kau, Jung Na Mi, desis Ha Ra dalam hati.

 

 

-oOo-

Nami merenggangkan tubuh dan otot-ototnya. Kertas dihadapannya sudah penuh dengan desain-desain baru miliknya. Terkesan tradisional dan konservatif , karena Nami sedang terinspirasi dengan para penari di festival yang Nami lihat dan gaya konservatif mendiang ayahnya. Dua gaya yang bertolak belakang,  disatukan. Ditambah motif vintage yang membuat karyanya terkesan tabrak-menabrak namun tetap rapi, dari Konservatif.

 

Waktu terasa begitu cepat. Perlahan, Nami tidak mengingat lagi tentang Suho yang ditemuinya beberapa bulan yang lalu. Kasus penyerangan di Gangnam-do juga dia tutup, atas dasar pemikiran bahwa dia tidak ingin dipublikasikan, juga rasa kasihan Nami yang terlau tinggi, kata Jun Hyung justru menjadi kelemahan terbesar dirinya.

 

Catatan kecil disampingnya kembali mengingatkannya. Tokyo Fashion Week sisa sebulan lagi. Nami tersenyum, segala tentang event itu telah dia persiapkan. 7 hari akan diselenggarakan pameran, dan cat walk. JNM secara resmi diundang ke event besar tersebut. Nami sudah tidak sabar menantikannya.

 

Handphonenya berdering. Ada email dari Jun Hyung. Nami membuka dan membaca emailnya. Oh, dia hampir saja lupa kalau Jun Hyung tidak mengiriminya email barusan. Dia harus menjadi juri tamu untuk ajang America Next Top Model di Tokyo untuk hari ini. Untungnya sekarang masih sangat pagi, jam menunjukkan angka 10.02 waktu Tokyo. Pemotretan akan dilakukan di malam hari kota Shibuya dengan memakai baju hasil desain dirinya. Maka dari itu, dia menjadi juri tamu, tentu saja sebuah kehormatan baginya karena dipanggil sebagai juri tamu, khusus dari topmodel USA yang sangat Nami hormati, Tyra Banks.

 

Nami merapikan berkas-berkasnya, menyimpan rapi dalam map yang bertuliskan “desain” lalu menyusunnya di map desk. Dia pun mulai berbenah, karena dia akan menyambut para kontestan dari Amerika dengan salah satu staff Vogue Jepang, yang dia tidak tahu siapa pukul 12.

 

Telepon dikantornya bordering. “Jung Na Mi.”
“Nona Nami, ada orang dari VOGUE Jepang ingin bertemu dengan anda.”

“Persilahkan saja.”

Nami menutup telepon, sementara dia sedang memasukkan barang-barang yang seperlunya dia bawa ke hotel. Para kontestan akan didandani di salon, lalu dipotret pada malam hari dengan menggunakan baju desainnya.

 

Pintu kantor Nami diketuk. “Masuk,” dan pintu itu perlahan terbuka. Nami menghentikan aktifitasnya, lalu menoleh kearah pintu. Yang datang adalah staff VOGUE Jepang, dan dia adalah Kim Him Chan. Nami tersenyum dan menyambut Him Chan. “kenapa tidak memberitahuku kalau kau staff VOGUE itu? Resmi sekali.”

 

Him Chan tersenyum, lalu duduk setelah dipersilahkan. Him Chan mengamati Nami yang sedang berberes-beres. “Sebagai kejutan, bukan?” kata Him Chan tertawa. Nami mendengus kesal, lalu kembali membereskan mejanya.

 

Dan Him Chan. Akhir-akhir ini, Nami dan Him Chan semakin akrab. Mereka bahkan sering makan siang bersama, sambil membahas tentang VOGUE atau apasaja. Nami merasa nyaman berteman dengan Him Chan yang supel dan ramah. Dia bahkan tidak senggan menjawab pertanyaan Him Chan, yang menurutnya aneh. Pernah, dia bertanya bagaimana Nami tahu dia kelainan skizofrenia, setahu dia penderita kelainan itu tidak tahu apa-apa, yang mereka lakukan dianggap mereka wajar-wajar saja.

 

“Nami, kenapa kau tahu kalau kau kelainan Skizofrenia? Menurut… yah kau tahu, informasi yang ada di buku, penderita kelainan tersebut tidak tahu kalau dia mengidapnya, dan menganggap semuanya wajar.” Saat itu, Nami mendengus kecil mendengarnya.

 

“Sung Yeol memberitahuku. Sejak kecil, Ibu dan Ayahku tidak ingin memberitahuku dan aku menganggap aku ini normal. Sampai, pada saat SMA kelas 3, aku bertemu dengan Lee Sung Yeol, saat itu dia adalah mahasiswa semester kedua jurusan Psikologis. Lalu, dia mulai mengamatiku dan mengatakannya.”

 

“Tidak ada reaksi darimu?”

“Tadinya aku kaget. Selama ini aku menganggap semuanya wajar, tapi begitulah. Aku juga masih menganggap apa yang kulakukan itu normal, walau terkadang Jun Hyung mengingatkanku untuk mengontrolnya.”

 

Saat itu pula, Him Chan mengangguk. Semenjak itu, mereka menjadi semakin akrab. Him Chan juga merasa nyaman berada didekat agdis yang datar dan tanpa emosi tersebut, menurut orang-orang. Namun, hanya beberapa orang yang tahu kalau Jung Na Mi tidak sedingin dan sedatar yang mereka pikirkan.

 

Satu hal lagi. Hanya beberapa orang yang mengetahui sosok lain Nami, mereka adalah rang yang Nami percaya, orang yang dekat dengan Nami. Him Chan salah satunya, entah kenapa dia senang dengan fakta ini.

 

“Siap berangkat, Tuan Kim?” Tanya Nami siap dengan tasnya, berdiri menunggu didekat pintu. Him Chan mengerjapkan mata, rupanya dia terlalu menghayati pikirannya sendiri sampai tidak sadar. Him Chan berdiri, “Siap, Nona Jung.”

 

-oOo-

Performance selesai. Suho turun dari stage, disambut dengan Krystal yang tampak sangat senang. “Oppa.”

 

“Ada apa kau datang kemari? Bukankah kau tidak ada jadwal manggung?” Krystal menggeleng. “Oppa, aku punya sesuatu.” Krystal menarik tangan Suho keluar dari panggung, lalu berjalan kearah sudut ruangan. “Aku punya rencana yang bagus.” Krystal tersenyum licik.

 

Suho mengerutkan dahinya, tanda tidak mengerti. “Rencana untuk apa?” krystal mendengus, merasa Suho cepat sekali melupakan apa yang dia ingin lakukan dengannya. “Oppa, mau membuat Jung Na Mi menderita, bukan? Teror saja dia, dengan kabar kalau Kris akan menceraikan Nana. Ini, aku sudah membuat surat perceraiannya,” kata Krystal menunjukkan surat di map biru yang dia bawa.

 

Akal licik Suho berjalan cepat. Dia mengambil map dari tangan Krystal, lalu membacanya dan tertawa. Suho tertawa, karena bisa melihat Jung Na Mi menderita. Lupakan soal dia ingin kembali dengan Nami, ini lebih mengasyikkan!  Melihat Nami menderita, merupakan sebuah pembalasan dendam atas harga dirinya yang pernah Nami injak secara tersirat berbulan-bulan yang lalu.

 

“Bagaimana, Oppa. Mau?”

“Tentu saja. Demi Jung Na Mi.”

“Demi Jung Na Eun.”

 

Mereka pun tersenyum sinis, menyusun rencana apa yang akan mereka lakukan untuk menjatuhkan target mereka masing-masing. Tanpa Suho tahu, Ha Ra mendengarnya. Tangannya mengepal kuat, giginya gemertak menahan emosi.

 

Seberapa pentingnyakah Jung Na Mi untuk Suho dibandingkan dirinya? Sampai Ha Ra tahu jawabannya, dan ternyata kalau misalkan Suho memilih Nami, maka Ha Ra yakin Na Mi tidak bisa hidup dengan tenang lagi.

 

-oOo-

 

Hello, My name is Jung Na Mi, owner from JNM. This guy is Kim Him Chan, editor in chief from famous Magazine that all of you wanna be model cover picture, Vogue.” Nami memberikan salam dengan bahasa inggris kepada para kontestan model America Next Top Model. Disampingnya berdiri Tyra Banks dan Kim Him Chan.

 

“Aku Kim Him Chan, editor in chief majalah Vogue Jepang, yang salah satu diantara kalian akan menjadi cover majalah untuk minggu ini. Tentunya, yang menjadi foto terbaik pada sesi pemotretan.”

Him Chan tersneyum lalu membungkuk sedikit. Tyra menjelaskan bahwa para model akan berfoto di Shibuya dengan mengenakkan pakaian dari JNM. Para model tersebut ternyata juga fans dari Jung Na Mi, designer muda dan berbakat.

 

Tiba-tiba, salah satu model menyeletuk, “Apakah kalian adalah sepasang kekasih?” dan Tyra Banks memandangi Nami dan Him Chan bergantian, dan tersenyum. “Setuju. Kalian sepasang kekasih?”

 

Nami menggeleng, “Bukan. Kami hanya teman.”

 

Him Chan mengangguk, tapi perlahan wajahnya memanas. Dirinya melirik Nami yang tenang dan datar, apakah dia merasakan bahwa Him Chan sedang salah tingkah? Untungnya, Him Chan bisa menyembunyikannya dengan sangat baik.

 

“Padahal kalian cocok sekali jadi sepasang kekasih,” kali ini, Him Chan reflex menoleh kearah Tyra dan menggeleng, dengan tersenyum tersipu malu. Jelas sekali, Him Chan salah tingkah, sementara Nami menggeleng mengelaknya.

 

Him Chan menggaruk pelan tengkuknya, ketika mereka semua berjalan menuju ruangan tata rias untuk didandani, Him Chan menghela napas karena dia tidak perlu berada disamping Jung Na Mi, karena dia salah tingkah. Salah tingkah yang merepotkan, benar-benar merepotkan.

 

-oOo-

Rasa lelah menjalar ke sekujur tubuhnya. Pemotretan dan penilaian, serta eliminasi baru selesai jam 3 subuh. Kemarin juga, jam 4 subuh baru mengijinkan Nami berbaring di kasurnya. 2 hari yang benar-benar melelahkan.

 

Badannya terasa lengket karena keringat. Nami meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Setelah menyegarkan dirinya, dia mengganti baju dengan piyama dan beranjak tidur. Handphonenya bordering.

 

“Demi Tuhan ! Siapa yang menelpon malam-malam seperti ini,”kata Nami meraih handphonenya, namun ternyata hanya sebuah pesan singkat. Dari nomor tak dikenal. Nami dengan entengnya membuka pesannya.

 

Hai, Jung Na Mi. bagaimana harimu? Yah, setidaknya kau pasti bahagia. Tapi, sadarkah kau? Adikmu, Jung Na Eun sedang dipermainkan kehidupannya oleh suaminya sendiri. Kau tahu, suami adikmu tidak benar-benar mencintai adikmu. Adikmu hanya dijadikan barang taruhan oleh suamimu, kasian sekali adikmu dinikahi karena taruhan. AKu rasa itu adalah karma atas kelakuan tidak pantas mu itu. Selamat berbahagia.

 

Katakan ini bohong! Tidak mungkin, tidak mungkin. Nami menggeleng membacanya. Dadanya sesak, kepalanya kembali berputar. Adiknya diperlakukan seperti ini. Dia tidak bisa menerimanya, tidak bisa.

 

Tangannya gemetar, tetap Nami paksakan untuk memencet tombol Call. Detik waktu semakin bergulir, seakan memukul hati Nami. Semakin sesak. Semakin sakit.

 

Orang itu tidak mengangkat teleponnya. Orang itu sedang mempermainkannya, batin Nami. Napasnya menderu, keringat dingin jatuh di pelipisnya. Nami masih membaca pesan itu, seakan tidak percaya akan isi pesan itu. Benar-benar menyesakkan dada. Apakah ini nyata?

 

Nami memijit pelipisnya yang kembali terasa sakit. Oh Tuhan, kalau memang benar… Kalau memang benar Kris dan Nana menikah karena taruhan, maka Nami tidak akan pernah memaafkan Kris, yang mempermainkan Nana seperti itu. Tidak akan sebelum Nana yang menyuruhnya. Nami menggigit bibirnya frustasi. Dia memeluk lututnya, meringkuk di sudut kamarnya sambil terus terbayang wajah Nana. Wajah Nana yang sedih, yang menangis, yang bisa membuat semangat Nami hancur.

 

Hanya satu harapannya, semoga itu tidak benar. Nami terus menggemakan kata itu sambil terus meringkuk dibalik selimutnya ketakutan.

 

-oOo-

 

Pagi yang cerah. Burung-burung mulai berkicauan, ditemani sinar mentari yang terang, menerangi jalan. Suasana hangat mengalir disetiap detiknya, begitu juga kantor ini, seperti  yang dirasakan Jun Hyung sekarang. Dengan langkah riang, menuju kantor Nami. Banyak hal yang dia ingin rundingkan, terlebih lagi dia sudah membawa fougasse kimchi kesukaan Nami.

 

Biasanya Nami datang pukul 7 tepat. Jun Hyung berjalan menjelajahi meja Nami, yang penuh dengan tumpukan kertas. Mulai dari daftar list sponsor, pasti Japan Fashion Week nanti, berbagai sketsa, Nota dan lainnya. Terlihat tulisan “semangat !!” disamping foto close up Nami dan Nana dimejanya. Jun Hyung merapikan kertas-kertas itu, dan pekerjaannya terhenti ketika mendengar sang pemilik ruangan datang.

 

Jun Hyung nyaris berteriak, seakan tak percaya kalau yang datang itu Jung Na Mi. sungguh. Sekarang, Nami terlihat seperti tahanan narapidana dibandingkan Nami yang dia kenal. Bajunya yang besar, sandal lusuhnya serta celana yang nampak seperti celana tidur. Nami yang berjalan dengan langkah berat pun langsung duduk di sofa ruangannya, dan mendesah pelan.

“Oh Sayangku jangan katakan kalau tadi malam kau tidak tidur,”ujar Jun Hyung duduk disamping Nami. Tangannya meraih pundak Nami agar mendekat pada dirinya, lalu Jun Hyung memegang dahi, pipi dan leher Nami. Panas. Mata Jun Hyung menatap mata Nami, Astaga, lingkar hitam dimata Nami sangat jelas. Matanya merah, wajahnya kusut, wajahnya pucat, bibirnya kering. Jun Hyung mengguncang tubuh Nami, Nami terguncang lemas. Matanya sangat sayu.

 

“Oh… Oh… Oh Kau kenapa? Nami ini benar benar Jung Na Mi?”kata Jun Hyung memegang pipi Nami, memastikan bahwa yang duduk dihadapannya benar-benar Jung Nami.

“Hanya terlambat tidur,” ujar Nami sedikit mendesah. Kecapekan, dan insomnia. Juga stress. Mana mungkin Nami mengatakan pada Jun Hyung alasan terakhirnya? Nami belum siap menghadapi pertanyaan Jun Hyung yang banyak dan bercabang. Dia akan menceritakan semuanya, tapi nanti. Saat dia sudah merasa lebih baik.

 

“Jangan bohong,” Jun Hyung mendelik pelan, melirik Nami. Nami mendengus lagi. Ternyata, dia tidak bisa menghindar dari Jun Hyung.

 

“Baiklah aku tidak bisa bohong. Aku hanya tidur satu setengah jam tadi. Ada masalah, tapi nanti aku ceritakan, bisa pinjamkan bahumu? Aku lelah sekali.”

 

Tanpa diminta pun, Nami menyandarkan kepalanya di bahu Jun Hyung, dan melingkarkan tangannya di pinggang Jun Hyung. Nami memeluk Jun Hyung, dan langsung terlelap.

 

Jun Hyung hanya mendecakkan lidah melihat sahabatnya ini. Perlahan, Jun Hyung menidurkan Nami di sofa tersebut, lalu duduk disampingnya. “Dasar,”gumam Jun Hyung melihat Nami yang terlelap. Dia tahu, pasti ada masalah dengan Nami. Dan Jun Hyung akan menunggu Nami menceritakannya, sebelum seluruh omelan Jun Hyung keluar dan Nami akan kewalahan menghadapinya. Setidaknya begitu, pikir Jun Hyung.

 

Sudah 2 jam Jun Hyung menunggu, sambil memeriksa tugas atau hal-hal yang berkaitan dengan kantornya di tab miliknya. Sesekali memandangi Nami yang tertidur pulas di sofa. Dia telah melewati hari-hari yang berat belakangan ini, seharusnyua Nami mengambil cuti. Dia ‘bos’ nya, kenapa dia tidak bisa mengambil cuti sesuka hati? Jun Hyung mendesis. Bukan Jung Na Mi namanya kalau seperti itu.

 

Pintu kantor Nami diketuk, Jun Hyung mempersilahkan masuk. Ternyata, pegawai Nami yang membawakan kiriman untuk Nami.

“Tuan, ada paket untuk Nona Nami.” Pegawai tersebut menyodorkan amplop ke Jun Hyung.

“Dari siapa?” Tanya Jun Hyung mengacungkan amplop tersebut. Pegawai Nami hanya menggeleng, tidak tahu karena paket ini tiba-tiba ada di mejanya. Setelah permisi, pegawai itu keluar dari kantornya.

 

Jun Hyung memandangi amplop itu, lalu meletakkan di meja Nami. Entahlah, mungkin saja surat atau sejenisnya, Jun Hyung beragumentasi seperti itu, lalu melanjutkan aktifitasnya.

 

Tak berapa lama kemudian, Nami mengggeliat , lalu terbangun dan duduk. Sesekali dia menggosok matanya, atau menguap. Jun Hyung tersenyum melihatnya. “Nyenyak tidurnya, sayang?” Nami tidak menjawab. Matanya memandang kosong kedepan.

 

Jun Hyung menoleh kearah Nami, lalu berdiri dan berjalan kea rah Nami. Jun Hyung duduk, didepan Nami. “Ada apa? Tidak nyenyak?” Nami mengangguk. Matanya memandang Jun Hyung. Oh, Jun Hyung tahu tatapan itu. Sesuatu terjadi dengan Nami.

 

“Kemarin aku mendapat pesan di handphoneku…. Sebuah pesan teror….” Nami mendesah, menjilat bibirnya. Jun Hyung tetap diam menunggu cerita Nami, walaupun kini sudah banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan. Nami memandangi Jun Hyung, tatapannya ketakutan dan khawatir. “Tentang Nana… dan suaminya,” Nami mengambil tasnya dilantai, lalu mengaduk-aduk isi tasnya dan mengeluarkan handphonenya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Nami memberikan handphone itu. “Buka kotak masuknya.”

 

Jun Hyung mengikuti kata Nami. Dahinya mengerut setelah membaca pesan itu, lalu memandangi Nami heran. Jun Hyung tahu, sekarang Nami sedang gundah dan gelisah. Mungkin ini alasan kenapa dia datang ke kantor dengan penampilan seamburadul seperti ini. Jun Hyung sangat tahu, Nami begitu menyayangi adiknya. Dan, setelah apa yang Jun Hyung baca di handphone Nami, jika Jun Hyung menjadi Nami, dia akan persis gundah dan gelisah seperti Nami sekarang. Tidak, bahkan mungkin lebih dari Nami.

 

Jun Hyung meraih pundak Nami, berusaha menenangkan Nami. “jangan gelisah. Ini hanya terror belaka, kosong. Mungkin ada orang yang usil denganmu, sayang.” Jun Hyung berusaha meyakinkan Nami, namun Nami menggeleng. “Firasatku… kabur, Jun Hyung.”

 

“Sayang…” Jun Hyung memeluk Nami, menyandarkan kepala Nami di dadanya. “Jangan khawatir. Kau harus memikirkan pameran di Shibuya nanti, itukan tujuan utamamu tahun ini.”

Jun Hyung melepaskan pelukannya, menatap mata Nami dan memegang pipinya. “Ada aku disini. Kau selalu tahu itu, jadi jangan khawatir.” Jun Hyung tersenyum, senyum yang menenangkan. Nami mengerjapkan matanya, lalu tersenyum simpul mengangguk. “Terima kasih, Jun Hyung.”

 

Baru saja Nami bernapas lega karena Jun Hyung, handphonenya berdering. Nami meraih handphonenya, seketika raut wajahnyab yang tadinya tenang kembali gelisah. Tanpa banyak Tanya, Jun Hyung meraih handphone Nami dan melihat isinya.

 

Sebuah foto, tidak. Empat  buah foto seorang laki-laki dan perempuan, disudut ruangan, nampaknya sebuah kafe. Foto pertama terlihat laki-laki itu, sementara dibelakangnya nampak seorang gadis yang menggandeng mesra laki-laki ini. Laki-laki tersebut nampak dingin, dibalik wajah tampan yang nyaris sempurnanya tersebut.

 

Foto kedua, laki laki ini mencium lekat gadis ini, latarnya seperti di lorong.  Foto ketiga dan keempat sama, mereka sedang berciuman. Apa yang salah dari foto ini? Jun Hyung bertanya Tanya dalam hati. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Jun Hyung langsung membukanya.

 

“Aku tidak berbohong bukan? Ini buktinya. Selamat,ya”

 

Jun Hyung semakin bingung membacanya. Firasatnya mengatakan, orang ini benar-benar berniat meneror Nami. Bukan usil, bukan juga salah kirim pesan. Semuanya benar-benar ditujukan pada Jung Na Mi.

 

“Apa-apaan ini… Nami, jelaskan semuanya.”

 

Nami meggigit bibirnya lagi, memejamkan matanya. Dengan helaan napas, Nami memulai ceritanya. “lelaki di foto itu… Kris. Suami adikku, Nana… kau… pesan sebelumnya… dan…semuanya….aku…Jun Hyung… aku… takut…. Aku….” Nami tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Tubuhnya gemetar, matanya memandangi lantai dengan ketakutan dan amarah.

 

Tangan Jun Hyung meraih amplop yang ada dimeja Nami. Dia curiga, bahwa amplop itu dari peneror tersebut. Jun Hyung membukanya, dan mengambil isi amplop. Isinya juga sebuah foto, sama yang Jun Hyung lihat di handphone Nami. Mata Jun Hyung langsung beralih ke Nami, yang mulai memeluk lututnya. Nami terlihat menggigil ketakutan, bibirnya bergetar, wajahnya memucat.

 

“Jun…Jun…Hyung…Aku…Jun…Hyung….Aku…Jun…”

 

Jun Hyung langsung memeluk Nami, yang mulai ketakutan sampai kesulitan bicara. “Sepertinya kau harus mengasingkan diri dari Tokyo. Ke Hokkaido, untuk beberapa hari. Urusan di Tokyo biar aku yang urus.”

 

Nami tidak menjawab, dia hanya terus memeluk lututnya ketakutan, menenggelamkan kepalanya di pundak Jun Hyung. Sekarang, Nami merasa sangat ketakutan dan ngeri.

 

-oOo-

 

“Bukan seperti ini… Ah, kau pikir kita majalah makanan?”

Him Chan menggores tanda silang besar di salah satu kertas untuk cover majalah Vogue edisi bulan ini. Lalu, Him Chan mengamati judul artikel yang akan dimasukkan, lalu kembali menggoreskan sesuatu di judul tersebut. Tanda bulat merah menyala terpampang jelas sekarang.

 

“Sudah berapa kali kubilang, judul sebuah artikel harus jelas dan padat. Tidak bertele-tele,” kata Him Chan menunjuk-nunjuk judul artikel yang menurutnya terlalu panjang. “Dan juga, kau ini menulis tentang laporan ilmiah atau kajian teori? Sama sekali tidak ada unsur fashion didalam.”

 

“Tapi, tentang masalah lingkungannya…” penulis artikel berusaha membela tulisannya. Him Chan meliriknya, matanya memicing tajam dibalik kacamatanya. “Aku tahu, Go Green. Tapi ini sangat sangat go-green.” Him Chan menekan setiap kata, sambil menunjuk kertas tersebut, Him Chan melanjutkan teorinya, “Kita majalah fashion, ingat, fashion. Kau harus menonjolkan unsur itu lebih dalam. Unsur yang lain hanya kilasan.”

 

Him Chan menyerahkan kembali naskah tersebut pada penulisnya, “Perbaiki. Deadline 3 hari lagi, jam 8 pagi tepat harus ada dimejaku.”  Penulis artikel tersebut mengangguk pasrah, dan meninggalkan ruangan Him Chan.

 

“Kau desain grafis?” tunjuk Him Chan ke seorang gadis. Gadis tersebut mengangguk, tiba-tiba gadis tersebut nampak kaget melihat Him Chan yang langsung mendengus sambil mencoreti hasil desainnya.

 

“Tema kita bulan ini Glamour of Art, bukan flora… lihat ini, ini dan ini,” tangan Him Chan menari-nari melingkari gambar bunga-bunga di halaman majalah, “kau tahu seni, bukan? Bukan sekumpulan taman bunga. Seni tidak berbatas pada bunga saja. Perbaiki, berikan padaku 3 hari dari sekarang, jam 8 tepat harus ada dimejaku.”

 

“Apa ini? Ini? Tata letak fotonya amburadul, perbaiki. Deadline sama dengan yang sebelumnya. Dilarang terlambat.”

 

Setiap orang yang keluar dari ruangan Him Chan pagi itu, pasti langsung lesu. Him Chan dengan selektif menyeleksi apa yang akan masuk di majalah mereka. Dan, barusaja tadi Him Chan menghancurkan karya-karya mereka dengan coretan merah yang terang menyala.

 

Pintu ruangan Him Chan diketuk. Him Chan menyerukan masuk, dan masuklah sekretaris Him Chan sambil membawa kopi, roti dan tabloid baru. Him Chan hanya melirik, lalu mengisyaratkan untuk meletakkannya di meja, karena Him Chan sedang melihat rancangan majalah bagian iklan dan publikasi.

 

Ketika dia ingin meminum kopinya,matanya tak sengaja melirik tabloid. Kopi yang dia minum hampir, nyaris tersembur membaca salah satu judul yang ada.

 

“Owner of JNM is a Lesbian?”

 

Sejak kapan ada artikel sampah seperti ini, desis Him Chan dalam hati. Tangannya terburu-buru membuka artikel tersebut. Ketemu! Him Chan langsung membaca artikel tersebut seksama.

 

“Tidak mungkin,” kata Him Chan nyaris tidak percaya dengan apa yang barusan dia baca. Yang menulis artikel ini adalah pembual besar, bisa-bisanya dia membuat artikel dengan bukti yang nihil. Pertanyaan yang muncul, siapa yang membuat artikel ini?

 

Him Chan meraih handphonenya, dan berusaha menghubungi Nami. Nihil, nomor Nami tidak bisa dihubungi. Disaat genting seperti ini, malah tidak bisa dihubungi. Him Chan tidak bisa menghubungi Jun Hyung, salah satu orang terdekat Nami karena dia tidak punya nomornya.

 

Him Chan mengacak-acak rambutnya depresi. Dia butuh Jung Na Mi sekarang, untuk menenangkannya. Tunggu dulu, kenapa Him Chan harus gelisah karena kabar ini? Him Chan termenung sesaat.

 

Tentu saja dia harus gelisah, Jung Na Mi adalah temannya, sahabatnya. Apakah Nami tahu artikel ini? Kabar ini? Gosip ini? Bagaimana perasaannya? Baik-baik saja? Atau sebaliknya, justru semakin terpuruk atau kehilangan semangat?

 

Siapa tahu Nami tidak ambil pusing dengan kabar ini, kalau begitu, kenapa dirinya harus gelisah mendadak seperti ini? “Akh!” teriak Him Chan depresi dengan pertengkaran batin di dirinya.

 

Him Chan menyandarkan bahunya di kursi, matanya menangkap sesuatu yang cemerlang. Hari libur 4 hari berturut-turut, Golden Week. Him Chan tersenyum sekilas, rasanya dia harus cuti ke rumah tantenya di Hokkaido. Siapa tahu, dia bertemu dengan Jung Na Mi disana.

 

-oOo-

 

Di tengah kepadatan kota Seoul, Goo Ha Ra sempat singgah di toko buku dan membeli sebuah majalah. Betapa senangnya dia, melihat sebuah artikel yang sangat terang dimatanya. Owner of JNM is a Lesbian, itu judulnya. Ha Ra segera membeli majalah itu dan buru-buru pulang ke rumahnya.

 

Sesampainya dirumah, Ha Ra tertawa melihat artikel tersebut. Apa yang membuatnya senang? Tentu saja, dia yang menyebarkan artikel tersebut. Ha Ra memandangi artikel tersebut bagaikan memandangi harta karun.

 

“Aku menang satu langkah darimu, Jung Na Mi.”

 

Dan, Ha Ra pun tertawa lagi membacanya. Benar-benar menyenangkan.

 

-oOo-

Hokkaido

 

Nami mendengarkan lantunan music Depapepe di playlistnya. Benar-benar akustik yang menenangkan, batin Nami. Didepannya terhampar pemandangan yang sangat dia rindukan, taman kecil dirumahnya. Nami tersenyum,  lalu melanjutkan mendengarkan lagu-lagu Depapepe.

 

Nami merasa hari-harinya sangat bebas sekarang, tanpa gangguan ataupun terror dari orang yang menerornya waktu itu. Handphonenya dinonaktifkan, dan Jun Hyung yang memegangnya. Dia benar-benar menikmati liburannya di Hokkaido, sejenak melupakan segala urusan di Tokyo.

 

Jam menunjukkan pukul 2 siang, dan ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya. Ibunya sedang tidur siang, jadi Nami beranjak dari tempatnya menuju pintu utama dan membuka pintu. Betapa bahagianya Nami melihat siapa yang datang. Nana, Jung Na Eun. Nami langsung memeluk Nana.

 

“Tadaima,” kata Nana melepas pelukannya, tersenyum lebar menatap Nami. Nami membalas senyuman Nana. “Okairi, Nana.” Lalu mereka berpelukan, seperti orang yang sudah sangat sangat lama tidak bertemu.  Setelah melepas rindu mereka, Nami melirik kearah Kris.

 

“Halo, Kris.” Katanya singkat sambil membungkuk. Kris balas membungkuk. Nami jadi ingat terror beberapa hari yang lalu.

 

Ibunya datang dari arah belakang Nami, dan juga senang melihat Nana, putri bungsunya datang. Mereka lalu masuk kedalam rumah dan bercengkrama hangat.

 

Sewaktu makan malam, Nami  langsung duduk disamping Nana. Ibu mereka menceritakan kepada Kris tentang kebiasaan Nami yang suka mendandani boneka milik Nana, atau Nana yang suka sekali membuntuti kemana Nami pergi. Suasana terasa sangat hangat, bahkan Nami sering melontarkan pertanyaan yang membuat Nana tersipu malu. Lucu sekali.

 

“Kris, apakah Nana menjadi istri yang baik untukmu?” Ibu Nami dan Nana menanyakan hal itu, sontak Nami menyikut lengan Nana yang lagi-lagi tersipu malu. Nami diam-diam melirik Kris, ingin memastikan dari jawabannya apakah memang Kris sama sekali tidak mencintai Nana atau bukan.

 

Kris mengulum senyuman, “Tentu saja, Ibu.” Nami bernapas lega sekarang.

 

“Adikku memang yang terbaik. Sepulang dari Seoul, Ibu tidak berhenti menanyakan kabarmu padaku, Nana.” Kata Nami merebut mocha terakhir di piring Nana. Nana melirik Nami kesal, mochi terakhirnya. Sementara Nami tertawa melihat Nana.

 

“Saya sangat beruntng memiliki istri seperti Jung Na Eun,” kata Kris lagi, menggenggam tangan Nana erat. Nami mendekatkan tubuhnya ke Nana, dan berbisik, “jangan malu-malu.”

 

Nana melirik kesal Nami lagi, lalu berdiri. “Aku ingin tidur.” Katanya lalu meninggalkan Nami yang tertawa terkekeh-kekeh melihat tingkah adikya yang salah tingkah.

 

Untuk sementara, Nami tidak perlu khawatir tentang terror itu. Terbukti, dari perkataan Kris tadi.

 

Nami masuk ke kamarnya, lalu berbaring di tempat tidurnya. Bosan, dia bangun dan membawa bantal. Ingin mengajak Nana tidur di kamarnya, seperti biasa. Nami memanggil Nana dari luar pintu kamar Nana. “Nana.”

 

Tidak ada balasan, Nami memanggil lagi dengan suara yang lebih keras. “Nana,” dan berhasil. Nana muncul dibalik pintu. Nami mengintip sekilas,  Kris yang sedang duduk di ranjang Nana, terlihat salah tingkah dan gugup. Oh, apa yang  sedang mereka lakukan ya? Batin Nami.

 

“Tidur di kamarku, ya?” pinta Nami polos. Nana terdiam sesaat, lalu mengangguk. Nami langsung menarik tangan Nana masuk ke kamarnya. “Ah, aku rindu tidur bersamamu.”

 

“Eonni, ada yang ingin kau tanyakan?” kata Nana. Nami menggeleng, “Tidak ada, aku hanya ingin tidur denganmu lagi.”

Nana tertawa, lalu memandangi Nami. “Eonni, kau baik-baik saja? Lingkar hitam matamu semakin menjadi-jadi.”

 

“Lingkar matamu juga semakin hitam. Nana, kau baik-baik saja dengan Kris? Kris tidak menyakitimu, bukan?” desak Nami terhadap Nana. Nana terdiam sesaat, lalu tersenyum berusaha meyakinkan Nami. “Iya, kami baik-baik saja. Eonni jangan khawatir,” kata Nana mengusap tangan Nami.

 

“Baiklah, aku percaya.”

“Eonni sendiri, kenapa? Eonni terlihat tertekan dan depresi…”

 

Nami terdiam, lalu mendesah pelan. “beberapa bulan yang lalu, aku bertemu Suho dan….” Nami memeluk lututnya dan menggeleng pelan, “Dia… seperti menerorku…”

 

Nana langsung memeluk kakaknya yang lagi-lagi tenggelam dalam delusi berlebihannya. “Ada Jun Hyung-san dan Sung Yeol-san yang melindungi Eonni,” Nana menatap wajah Nami, yang sekarang menatap dinding kamarnya kosong dan ketakutan. Mata Nana memanas melihat kakaknya sekarang.

 

“Jangan khawatir kumohon… Jangan tertekan juga depresi, aku menyayangimu eonni…” gumam Nana terisak memeluk kakaknya yang memandang kedepan dengan tatapan kosong.

 

Nami tetap saja memandang lurus kedepan, namun air matanya bergulir pelan. “Aku takut…Tolong aku…”

 

Nana memepererat pelukannya. “Jangan takut, eonni…”

 

-oOo-

Rumah tersebut nampak tenang. Apa benar ini rumah Jung Na Mi? Him Chan bertanya-tanya. Dengan langkah yang gugup, dia masuk. “Permisi?”

 

“Ya, siapa?” sapa sebuah suara dari dalam. Langkah kaki terdengar, dan seorang gadis yang sangat mirip dengan Nami menyapa. Him Chan mengerjapkan matanya, kemudian tersenyum tipis. “Halo,” nampaknya, gadis ini tidak mengenali Him Chan. Dari raut wajahnya, dia mengamati wajah Him Chan sesaat.

“mencari siapa?”

“Jung Na Mi ada?”

Gadis itu mengangguk, lalu masuk kedalam rumah memanggil Nami yang sedang duduk menikmati fougasse kimchi kesukaannya lagi. “Eonni, ada yang mencarimu diluar.”

 

Nami mengerutkan dahinya, siapa yang mencarinya pagi-pagi begini? “Siapa? Suho kah?”

 

Nana menggeleng, “Bukan dia. Seorang laki-laki sipit dan tegap.”

Him Chan, pasti Him Chan, batin Nami langsung melangkahkan kakinya keluar dan menyapa Him Chan yang duduk diterasnya memandangi bunga-bunga yang tumbuh di pekarangan rumahnya.

 

“Hai,” sapa Nami duduk disamping Him Chan. Yang disapa menoleh, “Halo, Nami.”

 

“Ada apa? Kau juga cuti, ya?”

Him Chan mengangguk, “Iya. Ada yang ingin kubicarakan, tapi tidak disini. Bagaimana kalau kita bicara di taman saja?” tanpa banyak tanya, Him Chan menarik tangan Nami membawanya ke taman dekat rumah mereka.

 

Him Chan duduk, diikuti Nami yang masih penasaran kenapa Him Chan tiba-tiba menariknya dan mengajaknya kesini. “Beberapa hari yang lalu, aku membaca tabloid…”

 

“Lalu?” Nami bertanya. Him Chan melihat ekspresi Nami, dengan helaan napas dia menunjukkan sesuatu di handphonenya.

 

“Artikel tentang kau seorang lesbian tersebar luas sekarang di Tokyo.” Him Chan melirik Nami, dan benar apa dugaan terburuknya yang semalam dia pikirkan. Wajah Nami mulai ketakutan, matanya mulai memandang kosong dihadapannya.

 

“Tidak benar….itu tidak benar…” kata Nami bergetar. Dan, sedetik kemudian dia berubah menjadi liar. Membanting tempat sampah dekatnya, dan berteriak-teriak aneh. Him Chan segera memeluknya, “Nami, aku disini…”

 

Nami tetap memberontak, bahkan memukul dada Him Chan sambil terus berteriak “Menjauh kalian! Kalian salah! Tolong! Kalian salah! Aku tidak seperti itu!” Him Chan tetap berusaha menenangkan Nami, tetap berusaha  memberontak.

 

Nami memukul dada Him Chan keras, “Bukan aku! Itu tidak benar!” Him Chan terpaksa memaksa dengan tenaganya. Him Chan memeluk Nami, sangat erat sampai Nami tidak bisa memberontak lagi.

 

“Nami tenanglah, aku disini,” bisik Him Chan ditelinga Nami. Perlahan, Nami mulai tenang dan melemah. Him Chan terus memeluk Nami, mengusap pundaknya menenangkan Nami. Napas Nami masih menderu, tapi dia mulai tidak memberontak seperti tadi.

 

Him Chan menatap wajah Nami yang masih sedikit ketakutan. Tangan Him Chan merengkuh pipi Nami, menatap mata Nami ayng memandang dirinya. “Aku disini, tidak perlu takut.”

 

Him chan memeluk Nami lagi, tanpa banyak tanya terus menenangkan Nami. Nami, merasa sangat nyaman dengan Him Chan dan membalas pelukannya.

 

“Nami, apapun yang terjadi, aku akan ada disampingmu.” Kata Him Chan. Nami mengangguk pelan, tersenyum tipis memandang Him Chan.

 

Rasa hangat mengalir di hati Him Chan melihat senyuman Nami barusan. Benar-benar hangat dan menenangkan. Him Chan kembali memeluk Nami, sesekali membekai rambutnya. Benar-benar, Him Chan merasa sangat tenang menghirup feromon gadis ini.

 

Gadis ini, Jung Na Mi, gadis yang dingin dan penuh misteri. Tapi, kenapa Him Chan selalu merasa tenang ketika berada didekatnya, bahkan sangat senang.

 

Why is your cooled heart making my heart race and wander every day?
[ INFINITE – The Chaser ]

Gadis ini benar-benar menghanyutkan hati Him Chan sekarang. Tanpa harus dipikirkan, Him Chan bersedia berada disamping Nami saat dia membutuhkannya. Him Chan benar-benar hanyut dalam pesona dingin dari Jung Na Mi.

 TO BE CONTINUED

sekian~ next partnya mungkin agak lama soalnya authornya lagi sibuk sama dunianya ._.b terus, di next part bocoran nih, salah satu klimaks akan diperjelas disini. RCL nya diharapkan banget >.< karena supaya FF ini makin bagus, dan nggak mengecewakan para readers~

sekian , salam cinta , hyerinn ^^

 

 

27 responses to “FF : Oramanieyo… [CHAPTER 3]

  1. Lama-lama bisa ngefans sama Himchan nih,suka banget sama karakternya disini,
    eh tapi mestinya ending yg ini harus ada kissu nya,haha #dilemparauthor

  2. Pingback: FF : Oramanieyo… [CHAPTER 8] | FFindo·

  3. Pingback: Bloody Camp [Act 1] | FFindo·

  4. Pingback: FF : Oramanieyo… [CHAPTER 9] | FFindo·

  5. Wah wah ceritanya tambah seru nih, disini agak gak suka sama wataknya Hara, jahat banget ke Nami… Uhhh kira-kira Himchan-Nami gimana ya, makin deket aja nih haha 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s