CALL ME MAYBE (Bagian 2)

Image

Title                  : CALL ME MAYBE? (Bagian 2)

Author              : gichanlee (@realgista0620)

Credit Poster    : Thanks to @adelichars (RiksaRizki Artwork)

Genre               : Romance-Angst-Life

Length              : Chaptered

Rating               : PG-15

Casts                : Chloe Gladstone (OC)
                           Xi Lu Han (EXO-M)
                           Kim Jong In (EXO-K)
                           Kim Joon Myun (EXO-K)
                           Kim Sung Yeon (OC)    
                           Daisy Cavendish (OC)
                           And another support casts

Note                  : Annyeong haseyo yeorobeun! Kembali lagi dengan saya dan FF abal-abal ini. Maaf lanjutannya kelamaan, saya habis sakit flu batuk parah, so harus istirahat yang cukup. Terima kasih yang sudah membaca FF saya pada bagian pertama. Ini adalah bagian kedua dan saya minta maaf jika bagian kedua ini mengecewakan. Saya sudah mengusahakan yang terbaik. Maaf juga kalau tidak nyambung dengan bagian sebelumnya dan membosankan (lagi). This part is a long shoot. Selamat membaca!

Warning!          : EXO hanya milik Tuhan dan orangtuanya masing-masing. Tapi, OC dan alur cerita ini saya yang bikin dari hasil kerja otak saya yang abal. Tolong jangan suka plagiat, ya. Tapi jika ada kesamaan cerita dengan yang lain, itu sungguh tidak disengaja. Terimakasih😀


—–Please call me maybe…?—–

Preview CALL ME MAYBE? (Prolog + Bagian 1)

“Siapakah nama pria itu? Dia benar-benar mirip dengannya. Tapi apa mungkin? Mungkinkah pria itu adalah saudara kembarnya? Ah, itu terlalu mengkhayal dan konyol sekali! Bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu Chloe Gladstone!”

—–Please call me maybe…?—–

    ‘Cip cip cip’

    Kicauan burung terdengar samar-samar dari kamar seorang namja bernama Xi Lu Han itu. Suasana pagi itu benar-benar di luar dugaan semua warga Seoul yang sudah memulai aktivitasnya masing-masing di tempat kerja. Langit tidak begitu cerah, justru mendung yang terlihat beserta kabut yang mampu mengaburkan penglihatan para manusia. Lu Han yang masih tertidur pulas tidak menyadari bahwa sudah pukul berapa saat ini. Kelelahannya benar-benar sudah diambang batas setelah mengingat kejadian semalam. Ia pulang terlalu larut akibat perbincangannya dengan Jong In yang tidak kunjung berhenti. Dan satu lagi, sepulang dari diskotik Lu Han berusaha mencuci jas termahalnya itu dengan susah payah. Namun, hasil jerih payahnya tidak terbayarkan, karena jas berwarna nila miliknya benar-benar sudah ternodai, dan noda itu telah mengering setelah ia sampai di apartemennya semalam.
    

    Terlalu asyik bermimpi, tiba-tiba alunan lagu Bon Jovi – It’s My Live, terdengar nyaring dari telepon genggamnya dan mampu menembus gendang telinga milik pemuda yang sudah menginjak usia 26 tahun itu. Tangan kanannya berkeliaran di sekitar kepalanya untuk mencari-cari dimana letak benda yang mengganggunya itu berada, meski matanya masih terpejam erat.
    

    Setelah berhasil menemukan telepon genggamnya yang nyaris terjatuh dari pinggiran kasurnya itu, Lu Han masih menikmati ringtone yang terdengar bersemangat itu dengan mata setengah terbuka. Ia tatap handphone kuno miliknya dengan saksama.

‘Aih, selalu saja begini setiap melihat benda ini’ batin Lu Han dalam hati. Kemudian dengan malas ia buka flip teleponnya dan menyapa si penelepon.

    “Yeob… hoooamh…yeobseyo?” jawab Lu Han malas dan asal-asalan tanpa mengetahui siapa yang meneleponnya.

    “Lu Han hyung? Kau baru bangun eoh? Ckckck” terdengar suara berat seorang lelaki yang mampu membuka lebar mata indah milik Lu Han dengan seketika.

    “Ah! Jong In-ah! Ada apa pagi-pagi begini  kau sudah meneleponku? Belum puaskah semalam kau berbincang denganku?” bukannya menjawab, Lu Han malah balik bertanya dengan raut wajah yang terlihat terkejut meski sesungguhnya ia tahu bahwa penelepon yang ia sebut Jong In itu tidak dapat melihat ekspresi wajahnya saat itu.

    “Hahaha. Pagi-pagi begini katamu? Ya Tuhan, lihatlah pukul berapa sekarang? Kau tidak bekerja? Bagaimana masa depan kantormu jika CEO nya saja datang terlambat di hari kerja akhir pekan seperti ini?” cerocos Jong In yang tidak menyadari bahwa Lu Han sedari tadi hanya bisa melongo dan berpikir berusaha untuk mencerna serentetan pertanyaan yang telah dilontarkan Jong In tanpa jeda.

    Merasa telah berhasil mencerna perkataan Jong In, dengan segera Lu Han menoleh ke samping kirinya untuk melihat pukul berapa sekarang di jam dinding kamarnya. Lu Han langsung terlonjak dari kasurnya dengan rambut yang masih berantakan, piyama birunya yang kebesaran terlihat kusut dan lusuh, serta wajah yang terlihat linglung seperti orang autis.

    “Jong In-ah, sepertinya aku akan lebih bersyukur dan berterimakasih kepadamu jika saja kau meneleponku lebih pagi.” Jawab Lu Han singkat sambil berlari mengambil handuk dan menuju kamar mandi masih dengan telepon genggam merah mudanya yang menempel di telinga kanannya.

—–Please call me maybe…?—–

    Hari aktif terakhir di minggu ini akan menjadi hari tersibuk bagi Chloe. Setelah semalaman ia begadang untuk mengerjakan tugas kuliahnya yang belum rampung, pagi ini ia bertekad untuk bangun sepagi mungkin meski sedikit memaksa dan mengawali hari dengan penuh semangat, agar satu hari libur besok bisa ia gunakan untuk berlibur sepenuhnya dan melupakan sejenak tugas ataupun pekerjaanya yang lain.

    Saat ini tepat pukul 06.00 am, Chloe sudah tampak rapi dengan pakaiannya yang kasual. Jeans cokelat kehitaman yang ia kenakan terlihat cocok dengan kaus merah menyala dan balutan cardigan jaring-jaring berwarna putih yang ia dapat dari adiknya, Daisy, sebagai hadiah ulang tahun untuknya 8 bulan yang lalu. Ia merasa pakaiannya pagi ini terlihat cerah secerah hatinya, meski ternyata keadaan langit tidak turut serta mendukung segala kecerahan dalam dirinya. Langit pagi itu sedikit mendung dan udara yang penuh kabut, namun untungnya hawa dingin tidak terlalu menusuk tulang di dalam tubuhnya.

    Dengan senyuman yang tersungging di bibirnya, Chloe menjejalkan segala buku, catatan, dan jurnal yang ia butuhkan hari ini ke dalam tas punggungnya yang lumayan besar dan pastinya akan sangat berat. Tapi ia sudah biasa, dan syukurlah pertumbuhan tinggi tubuhnya tidak terhalangi oleh beratnya beban yang ia bawa setiap hari di punggungnya itu.

    ‘Tok tok tok!’

    Suara ketukan pintu dari luar kamar Chloe berhasil menghentikan aktivitasnya dalam bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Setelah sekian detik Chloe menghentikan aktivitasnya, sang pengetuk pintu pun akhirnya mengeluarkan suaranya.

    “Eonni? Apakah eonni ada di dalam? Aku ingin bicara. Bisakah?”

    Terdengar suara lembut khas remaja yang baru pubertas dari arah pintu kamar Chloe yang berwarna cokelat kayu dan penuh dengan tempelan stiker ikon boneka ‘Hello Kitty’. Tidak ada salahnya kan meski Chloe sudah menginjak usia 24 tahun masih tetap menyukai ikon boneka anak-anak seperti itu? Toh menurutnya itu masih wajar, karena ia seorang perempuan. Dia akan merasa geli jika saja ada kamar yang penuh dengan ikon boneka lucu layaknya hello kitty dan ternyata kamar itu milik seorang lelaki.

    “Eonni? Eonni-ah, bolehkah aku masuk?” lanjut seseorang yang mengetuk pintu tadi.

    “A-ah! Ne Daisy-ah! Silakan saja masuk. Aku tidak mengunci pintunya kok.” Jawab Chloe tergagap karena telah kepergok tidak membalas panggilan adiknya itu.

    Dengan perlahan kenop pintu kamar Chloe terbuka dan muncullah seorang perempuan remaja dengan rambut sebahu dan pakaian seragam seorang siswa SMA serta wajah kebarat-baratan yang berbanding 180 derajat dari Chloe.

    “Ada apa sih? Tumben pagi-pagi seperti ini kau sudah siap rapi seperti itu dan tiba-tiba datang ke kamarku memintaku untuk mendengarkan pembicaraanmu.” Sahut Chloe sambil melanjutkan aktivitasnya dan sesekali melihat adiknya yang berdiri tepat disampingnya.

    Mendengar perkataan Chloe yang sedikit mengejek, Daisy hanya tertawa kecil sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

    “Eonni, apakah eonni suka menari?” Tanya Daisy tiba-tiba dan pertanyaannya itu mampu membuat Chloe menghentikan kembali aksi menjejal-jejalkan barang ke dalam tasnya yang sudah terlihat menggembung itu. Astaga, ia terlihat seperti akan melakukan camping 3 hari 4 malam.

    “Ne? Kenapa kau bertanya begitu?” Chloe balik bertanya dengan kerutan alis di wajahnya sambil mempersilakan Daisy untuk duduk disampingnya dipinggiran kasur milik Chloe.

    “Aniyeo. Mulai hari ini di sekolahku akan ada mata pelajaran seni menari! Dan gurunya juga guru khusus untuk menari. Yang kudengar sih, katanya guru itu tampan dan masih muda…” Daisy dengan sengaja menggantungkan kalimatnya, karena ia sendiri bingung ingin melanjutkan kalimatnya seperti apa.

    “Tampan? Berarti gurumu seorang lelaki? Dan apa katamu? Masih muda? Omo, jadi kau berniat untuk me…”

    “ANIYEO EONNI! Bukan begitu!” potong Daisy cepat setelah mengerti apa lanjutan kalimat yang akan dilontarkan Chloe saat itu. “Jangan menuduhku sembarangan dong. Eonni juga belum menjawab pertanyaanku yang pertama. Eonni suka menari tidak?” Daisy bertanya sekali lagi dengan sedikit jengkel. Namun, tak lama ia kembali tersenyum menantikan jawaban dari kakaknya.

    “Menari ya? Tidak terlalu. Menurutku itu terlalu membuang-buang tenaga dan bisa mengakibatkan encok dan masalah penyakit pinggang lainnya. Tidakkah lebih baik mendesain baju sepertiku? Hanya dengan berpikir tentang apa yang ingin kau gambar dan duduk dengan santai sambil mencorat-coret selembar kertas kosong dengan pensill kesayangan. Itu mengasyikkan kau tahu? Apalagi apa yang sudah kau gambar bisa memuaskan orang-orang sekitarmu…” cerosos Chloe tanpa henti yang berhasil membuat Daisy merubah mimik wajahnya. Dari semula terlihat berbinar, kini langsung merengut karena mendengar kakak angkatnya yang satu ini ternyata sedang membangga-banggakan pekerjaannya.

    “Ya! Eonni! STOP IT! Jelas saja kau bilang lebih menyenangkan mendesain! Itu kan pekerjaanmu! Aish, percuma saja aku meminta pendapatmu. Padahal maksudku, jika saja guru itu benar-benar masih muda dan seumuran dengan eonni, aku berniat untuk mengenalkannya padamu suatu saat nanti. Aku bosan melihatmu tidak pernah menggandeng seorang pria sekalipun. Dan aku tidak ingin jika suatu hari nanti yang menggandeng tanganmu itu adalah Joon Myun oppa yang jelek dan menyebalkan itu!” Daisy malah berbalik nyerosos tanpa jeda.

    Chloe yang mendengarkan penuturan adiknya itu hanya bisa melongo sambil memandang heran ke arah Daisy. Namun, kejadian yang dulu kembali terbayang dalam pikiran Chloe. Saat itu saat dimana Daisy untuk pertama kalinya berkunjung ke tempat Chloe bekerja.

    Flashback

    Chloe’s POV

    Hari ini adalah hari Minggu. Dimana aku bebas untuk melakukan aktivitas lain selain mendesain model baju yang dipesan oleh para pelanggan si Joon Myun. Akhirnya, aku memilih untuk shopping dan bermain bersama Daisy. Setelah puas melihat model baju terbaru di sebuah mall, aku langsung teringat akan desain salah satu bajuku yang aku lupa telah menaruhnya dimana dan belum kurampungkan. Aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah untuk mencari pekerjaanku itu. Takutnya desainku terselip dimana dan akhirnya aku harus membuat desain baru lagi. Jujur, meski aku suka mendesain baju, namun untuk membuat sesuatu yang baru itu susahnya minta ampun. Dan benar saja, setelah hampir 2 jam aku mencari gambaranku, hasilnya nihil. Satu yang kuingat dimana aku meletakkan kertas desainku adalah di tempat kerjaku. Dengan segera aku mengajak Daisy untuk menemaniku mengambil barangku yang tertinggal.

    “Annyeonghaseyo, Joon Myun-ssi. Aku kembali ke sini untuk mengambil pekerjaanku yang tertinggal.”  Sapaku begitu memasuki ruang bekerjaku setelah sebelumnya aku mengajak Daisy berjalan-jalan.

    “Oh, annyeong, CG-ah. Sejak kapan kau menjadi seorang pelupa begini sampai-sampai meninggalkan desainmu disini? Dan… lihat siapa gadis lucu yang sedang bersamamu sekarang?” balas Joon Myun sambil terus menatap Daisy dengan tatapan penasaran sekaligus kagum. Wajah kekagumannya masih terlihat jelas meski ia memakai kacamata besar berbingkai hitam miliknya.

    “Ne? Ah, dia adalah salah satu adikku di panti. Namanya Daisy.” Jawabku sedikit lantang, karena sekarang aku sedang mencari kertas penting itu di ruangan lain yang letaknya cukup jauh dari ruangan Joon Myun dan Daisy berada.

    “An…Annyeonghaseyo. Daisy ibnida. Bangabseubnida.” Daisy memperkenalkan dirinya dengan sedikit polos dan membungkukkan badannya gugup. Aku yang melihat itu hanya bisa tertawa geli.

    Yang kutahu, Daisy sangat benci jika harus berkenalan dengan orang baru apalagi orang baru itu terlihat SKSD alias sok kenal sok dekat, kecuali ia benar-benar ingin berkenalan dengan orang lain. Namun, sepertinya Daisy tidak tertarik untuk berkenalan dengan orang yang satu ini, Kim Joon Myun.

    “Wah, kau cantik sekali. Namun, sepertinya kau bukan orang Korea asli ya? Lihatlah wajahmu! Kau terlihat seperti orang barat. Dan siapa namamu tadi? Desi? Sama susahnya dengan nama kakakmu ya. Perkenalkan, namaku Kim Joon Myun. Kau bisa memanggilku Joon Myun oppa, ne? Hehe” jawab Joon Myun dengan percaya dirinya.

    Sungguh diluar dugaan, wajah sendu seperti malaikat yang dipunyai Kim Joon Myun berbanding terbalik dengan sifatnya yang terkesan blak-blakan dan seperti orang supel serta banyak bicara.

    “Ah ketemu!” pekikku sambil mengangkat selembar kertas yang kucari selama tidak kurang dari 10 menit itu dengan tinggi. Segera kuhampiri Daisy yang sedang duduk di sofa tepat dihadapan Joon Myun sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Aku yang melihat itu hanya bisa terkikik pelan.

    “Oh? Secepat itukah? Sayang sekali padahal aku ingin berkenalan lebih jauh dengan adikmu yang manis ini. Hahaha.” Sahut Joon Myun dengan raut wajah sedikit kecewa namun itu hanya dibuat-buat.

    “Baiklah, Joon Myun-ssi, aku pulang dulu. Akan kuselesaikan desain ini dirumah. Deadlinenya besok bukan? Ayo, Daisy, kita pulang. Annyeonghigaseyo.” Pamitku saat itu juga sambil membungkukkan badan dan diikuti oleh Daisy.

    Joon Myun hanya bisa tersenyum dan melambaikan tangannya sebagai tanda membalas salam pamitku.

    Setelah keluar gedung, Daisy langsung menyiramku akan kekesalannya terhadap atasanku yang baru saja ia kenal.

    “Aku tidak suka padanya, eonni! Dia pria yang menyebalkan! Tampangnya saja yang mampu meluluhkan hati wanita, namun sifatnya benar-benar kontras! Aku tidak setuju jika kau bersanding dengannya kelak!”

    “MWO? Ya! Aniya! Itu tidak mungkin. Dia hanya aku anggap sebagai atasanku di tempat kerja dan… dia bukan tipeku kau tahu? Kau ada-ada saja. Haha.”

    Flashback end

    “Ya! Kau itu selalu berpikiran yang tidak tidak! Kau tahu? Pembicaraanmu pagi ini benar-benar tidak penting dan menyita waktuku hamper… 20 menit! Kau ingin aku terlambat huh? Sudahlah, kau tidak usah mencampuri urusanku, Daisy-ah. Belajarlah dengan rajin supaya kelak kau bisa menjadi manusia yang berguna bagi orang-orang disekitarmu. Tidak usah repot mencarikanku pasangan. Dan satu lagi, aku dengan Joon Myun oppa? Oh it’s so impossible, honey.” Jawab Chloe yang awalnya sedikit membentak dan mampu membuat Daisy terkejut, namun kemudian di akhir kalimat suaranya melembut sambil tangannya mengelus-elus pelan puncak kepala Daisy.

    “Mwo? ‘Oppa’? Kau memanggilnya ‘oppa’? Omo, jadi benar apa kataku barusan! Kau dengan Joon Myun oppa sudah saling berhubungan ya? Eonni! Sudah kubilang aku tidak setuju jika… eumbh!!!!”

    Dengan sigap Chloe langsung membekap mulut adiknya yang tidak bisa berhenti mengeluarkan suara jika tidak disumbat itu.

    “YA! YA! Bukan begitu, Daisy-ah! Joon Myun oppa sendiri yang memintaku untuk memanggilnya seperti itu! Aish jinjja!” usai menjawab perkataan Daisy, Chloe melepas bungkamannya dengan pelan.

    “Eii… jeongmalyeo?” tanya Daisy sekali lagi dengan suara yang terkesan menggoda. Terlihat semburat merah di wajah Chloe akibat ulah adiknya yang sudah berani menggoda kakaknya itu. Chloe yang sudah habis kesabarannya memutuskan untuk meninggalkan Daisy sendirian di kamarnya itu.

    “Terserah kau saja! Yang jelas itu semua tidak akan pernah terjadi! Titik! Kalau kau masih ingin disini tidak apa. Aku berangkat dulu. Bye!” Pamit Chloe sambil melambaikan tangannya yang kurus itu.

    “Kekeke. Nee. Nee. Bye eonni! Hati-hati ya.” Balas Daisy masih dengan tatapan menggoda.

    Melihat kakaknya sudah menghilang di balik pintu, mata Daisy mulai mengintai dan mengamati isi kamar Chloe yang menurutnya sedikit rapi itu. Sudah lama sekali ia tidak mengunjungi kamar kakaknya ini. Hampir sekitar… 3 bulan? Hahaha. Namun isinya tetap sama. Ada sebuah kasur hello kitty berwarna merah muda, meja belajar yang penuh dengan stiker hello kitty pula, dan sebuah sandal berbulu bermotif hello kitty. Namun, ada sebuah barang yang membuat Daisy merasa ganjal namun benda itu dapat menarik perhatiannya.

    “Eoh? Sejak kapan eonni mempunyai benda ini? Apa karena ini dia tidak mau diberi yang lebih uptodate?” gumam Daisy sambil mengerutkan kedua alisnya.

    Kemudian, ia jejalkan benda yang ia temukan itu ke dalam tas sekolahnya dan melenggang keluar kamar sang kakak dengan penuh rasa penasaran akan benda itu.

—–Please call me maybe…?—–

    Setelah memarkir mobil KIA miliknya, Lu Han mematikan musik yang mengalun dalam mobilnya dan segera menuju kantornya yang tidak terlalu jauh dari tempatnya ia memarkir mobil. Saat ia memasuki lantai tiga, dimana ruangannya berada, ia melihat keadaan kantornya yang lengang, banyak pegawainya yang tampak lesu. Bahkan ada beberapa bangku kerja yang kosong, termasuk bangku kerja Kim Sung Yeon. Sebelum memasuki ruang kerjanya sendiri, Lu Han menghampiri salah satu pegawainya dan mengajukan pertanyaan yang ia harap bisa menghilangkan rasa penasarannya akan apa yang terjadi hari ini. Karena dia sendiri sadar bahwa dia telah terlambat masuk kerja akibat kelelahan semalam.

    “Kemana semua orang pergi? Mengapa kantor ini terlihat sangat sepi? Hari ini tidak libur, bukan? Ataukah ada meeting mendakak? Dimana?” Tanya Lu Han pelan namun terkesan sedikit cerewet.

    Dengan ragu, seseorang yang Lu Han tanyai hanya menjawab dengan bisikan. Setelah mendengar jawaban pegawainya itu, Lu Han mengerutkan dahinya terkejut. Matanya terbelalak dan mulutnya langsung terbuka lebar.

    “Benarkah?” sahut Lu Han kemudian. Karena merasa terlalu keras bertanya, langsung saja ia tutup mulutnya dengan sebelah tangannya. “Benarkah itu terjadi semalam?” Tanya Lu Han sekali lagi dengan suara yang lebih pelan.

    “Ne, Sajangnim. Saya permisi dulu ada urusan yang harus saya tangani sekarang. Annyeong higaseyo.”

    Salam pamit bawahannya itu hanya dijawab dengan anggukan kecil oleh Lu Han yang masih berpikir keras dan tampak bingung. Dengan segera ia memasuki ruang kerjanya, melepas jas dan menaruh tasnya di dalam ruangan pribadinya yang bernuansa keabu-abuan itu. Tak lama setelah itu ia merogoh sakunya dan mengambil telepon genggam masa lalunya. Sejak semalam, saat ia berkunjung ke diskotik bersama Jong In, ia telah memutuskan untuk menggunakan kembali telepon genggamnya yang sudah lama ia titipkan kepada Jong In itu. Meski ia sudah mengira jika nanti pasti banyak orang yang mengejeknya karena menggunakan benda berwarna merah muda, ia tidak mempermasalahkannya sama sekali.

    “Yeobseyo?” Tanya Lu Han dengan sedikit tergesa-gesa setelah panggilannya tersambung dengan orang seberang.

    “Oh, Lu Han-ssi?”

—–Please call me maybe…?—–

    “ Seharusnya hasil survey yang kau ketik tidak seperti ini! Sebenarnya kau bisa tidak sih membuat sebuah laporan hasil survey? Masa belepotan dan tidak tertata rapi seperti ini?” bentak Sang Hyun, teman sekelompok Chloe dalam tugas kuliahnya saat ini.

    Perempuan yang satu ini memang jauh lebih pintar daripada Chloe yang sudah bisa dicap sebagai anak berprestasi. Bisakah kau bayangkan betapa pintarnya Sang Hyun?

    “Mi…mianhae Sang Hyun-ah. Aku…akan memperbaikinya hari ini juga. Percayalah padaku. Semalam aku memang terlalu lelah, aku mengakui kesalahanku. Aku janji akan menyelesaikannya dengan maksimal. Tolong maafkan aku.” Jawab Chloe panjang lebar dan terus saja mengucapkan janji jika dia akan menyelesaikan tugasnya dengan baik kali ini.

    Melihat Chloe yang terus menerus meminta maaf sambil mengatupkan telapak tangannya tanda memohon, Sang Hyun pun luluh dan memberikan senyum paling tulusnya untuk teman baiknya yang satu itu. Sang Hyun percaya jika Chloe bisa memperbaiki tugasnya ini. Ia bisa memaklumi, karena yang pernah ia dengar, Chloe memiliki pekerjaan paruh waktu untuk menghidupi dirinya sendiri. Sang Hyun terhenyuh mengetahui hal itu.

    “Arraseo. Aku percaya padamu, Cho… Chloe-ah… Ah! Namamu mengapa susah sekali sih? Lidahku sakit tahu menyebut namamu seperti itu. Kau tak berniat memiliki nama Korea? Setidaknya itu bisa memudahkan orang-orang sekitarmu untuk memanggilmu. Kalau kau mau, aku punya rekomendasi nama Korea yang cocok untukmu!” Cerocos Sang Hyun dengan penuh gembira. Perasaannya yang tadi kesal akan laporan survey berubah menjadi perasaan gembira dan penuh antusias.

    “Eo? Sudah dua orang yang menyuruhku untuk mengganti namaku menjadi nama Korea, kau tahu? Dan dua orang itu adalah kau dan bosku di tempat kerja. Aku tidak akan pernah sempat mencari nama Korea seperti itu, tapi jika kau bisa merekomendasikan nama yang bagus boleh saja.” Jawab Chloe seadanya.

    ‘Mengerjakan tugas survey dan tugas desain saja aku masih sedikit gelagapan, mana sempat aku memikirkan untuk mencari nama Korea? Memangnya ada apa dengan namaku? Chloe Gladstone! Hei itu nama yang bagus tahu! Yah, meski sedikit susah disebut sih…’ gumam Chloe dalam hati sambil menunggu Sang Hyun memikirkan nama yang cocok untuknya.

    “Ah! Cho Ah Ra! Ya! Cho Ah Ra! Bagaimana? Nama yang bagus bukan? Aku memberimu marga Cho, karena nama aslimu Cho.. Ani.. Chloe, aku hilangkan huruf ‘L’ dan ‘E’ nya. Sementara Ah Ra… ya itu salah satu nama yang menurutku bagus dan cocok untukmu. Kau mau?” teriak Sang Hyun masih dengan semangatnya. Sampai-sampai ia menjelaskan alasan mengapa ia memberikan nama itu untuk Chloe yang sebenarnya tidak terlalu memperdulikan tentang nama Koreanya.

    “Cho… Ah Ra? Hmm, tidak terlalu jelek dan kuno juga sih. Tapi alasanmu benar-benar lucu, hahaha. Ah, tapi apa mengganti nama semudah itu, Sang Hyun-ah? Tidak apakah jika aku mengganti namaku?” Chloe justru bertanya balik kepada Sang Hyun.
Aih, mungkin sudah menjadi kebiasaan seorang Chloe Gladstone yang satu ini. Ditanyai malah balik bertanya. Memang yeoja yang aneh.

    “Aish, jinjja! Aku memberimu nama Korea bukan berarti kau harus berganti akta kelahiran, KTP, dan yang lain sebagainya, nama itu hanya kau gunakan sebagai julukanmu. Seperti artis-artis biasanya, mereka punya nama asli dan nama panggung, meskipun dirimu bukan seorang artis tidak masalah kan mempunyai nama kedua? Kekeke~ Ya… supaya orang-orang yang kau kenal itu bisa memanggilmu dengan mudah, Cho Ah Ra-ssi. Hehehe. Wah, nama itu benar-benar cocok menurutku!” jawab Sang Hyun penuh kebanggaan. Ia merasa telah berhasil membantu Chloe dalam mencarikan nama Korea yang pantas untuknya.

    “Ya ya ya! Sudahlah, terserah kau saja. Lihat pukul berapa sekarang? Apa kau akan terus menghadangku untuk pulang hanya untuk membahas tentang nama Korea? Apa kau tidak ingin aku menyelesaikan tugas ini secepatnya? Sudah, aku harus menuju tempat kerjaku. Akan ku kerjakan tugas ini disana. Annyeong Sang Hyun-ah.” Pamit Chloe dengan sedikit ketus. Sang Hyun yang merasa bersalah hanya merengut dan melambaikan tangannya pelan.

    “Annyeong, Cho Ah Ra! Kekeke~”

—–Please call me maybe…?—–

    Rumah Sakit Dongsang

    Seorang pemuda yang berwajah seperti malaikat namun terlihat sedikit ‘tua’ itu sangat was was dan terus menempelkan telepon genggamnya di telinga kirinya sambil jari telunjuk kanannya yang mengetuk-ngetuk meja di samping sebuah ranjang putih. Ranjang itu sedang ditiduri oleh seorang wanita yang tergolek lemas dengan alat bantu pernafasan yang menutupi sebagian wajah cantiknya. Lelaki yang sedang menunggui wanita itu menampilkan wajah sendunya setelah mengingat apa yang terjadi semalam. Disaat adik wanitanya tertidur pulas di dalam mobil, dan sang kakak sebagai supir, dari arah berlawanan muncul sebuah mobil yang melaju kencang.

    Pengemudi mobil itu sedang mengantuk tidak jauh berbeda dengan Joon Myun –sang kakak yang menjadi supir- yang juga kelelahan saat itu. Akibat kecerobohan masing-masing, dua kendaraan yang saling berlawanan arah itu hampir bertabrakan, secepat kilat Joon Myun membanting setir sehingga buntut mobilnya menabrak pembatas jalan, dan adiknya –Kim Sung Yeon- terkejut bukan main sehingga jantungnya melemah dan berujung di rumah sakit ini. Beruntungnya, tidak ada goresan luka yang melekat pada tubuh Joon Myun dan Sung Yeon, urusan kecelakaan kecil semalam juga terselesaikan dengan baik tanpa campur tangan polisi, hanya dengan bermaafan dan berjabat tangan.

    “Aish, kenapa tidak diangkat sih?” omel Joon Myun tidak sabar. Langsung ia tekan tombol ‘end call’ dan kembali melirik Sung Yeon yang masih saja memejamkan matanya tanpa membuka celah sedikit pun.

    “Mianhae…Sung Yeon-ah. Mianhae, aku terlalu ceroboh semalam. Maafkan aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Bangunlah, Sung Yeon-ah. Bangun… aku mohon bangunlah.” Pinta Joon Myun dengan wajah memelas sambil tangannya menggenggam erat tangan dingin milik Sung Yeon.

    Joon Myun memejamkan matanya erat lalu menunduk dan menyesali apa yang telah ia lakukan terhadap adik kesayangannya ini.  Sung Yeon terpaksa cuti dari kantornya karena menurut dokter, Sung Yeon harus beristirahat sekitar dua minggu untuk pemulihan jantungnya. Keterkejutannya akan kecelakaan semalam tergolong parah karena jantungnya langsung drop dan Sung Yeon pingsan saat itu juga. Untunglah, Sung Yeon bisa terselamatkan dan dapat melewati masa kritisnya meski harus beristirahat dulu selama beberapa hari.

    Tiba-tiba telepon genggam milik Joon Myun bordering dan menampilkan rentetan nomor telepon tak dikenal. Dengan segera ia jawab telepon itu.

    “Yeobseyo? Nugu?” Tanya Joon Myun sambil mengerutkan kedua alisnya.

    “Joon Myun oppa! Aku Chloe! Kau sedang berada dimana? Mengapa gedungnya terkunci? Apa hari ini libur kerja?” terdengar suara wanita dengan cukup lantang dari ujung telepon Joon Myun. Terdengar pula suara bising kendaraan beserta klakson yang menjadi backsound suara Chloe.

    “Eo? CG? CG-ah! Mengapa kau tidak mengangkat teleponku tadi? Aku menghubungimu untuk memberitahu bahwa kau tidak usah berkunjung ke tempat kerjaku. Kita libur dulu. Aku ada urusan mendadak.” Sahut Joon Myun.

    “Mianhae, oppa. Aku tidak sengaja meninggalkan telepon genggamku di rumah. Oh, baiklah aku mengerti. Sekarang kau ada dimana? Mengapa liburnya mendadak? Aku ingin bertemu denganmu untuk memperlihatkan hasil desainku kepadamu.”

    Joon Myun tampak ragu setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Chloe. Joon Myun tidak ingin Chloe ikut khawatir jika ia menyebutkan bahwa dirinya tengah berada di rumah sakit, blablabla. Namun, hasil desain yang telah dibuat oleh Chloe memang seharusnya selesai hari ini dan mulai melakukan pembuatan bajunya besok. Jika tidak melihat hasil desainnya terlebih dahulu, Joon Myun takut jika hasilnya tidak sesuai dengan yang diinginkan pelanggan sehingga pelanggannya pun kecewa. Joon Myun tidak ingin itu terjadi. Dengan tidak enak hati Joon Myun pun memberitahu Chloe bahwa ia sedang di rumah sakit.

    “Aku…sedang di rumah sakit.” Jawab Joon Myun pelan.

    “MWO? Rumah sakit? Kau sakit? Sakit apa? Di ruangan mana?” Chloe yang mendengar penuturan Joon Myun langsung berteriak dan mampu membuat Joon Myun nyaris melempar telepon genggamnya jika saja ia tidak ingat bahwa ia sedang berada disamping seorang pasien yang sedang sakit.

    “Ya! Santai sedikit kenapa sih? Bukan aku yang sedang sakit. Sung Yeonlah yang sedang dirawat di rumah sakit ini. Jantungnya melemah akibat kecelakaan kecil semalam. Ah, aku akan menceritakaannya nanti. Sekarang aku sedang menemaninya. Jika kau tidak keberatan kau bisa datang ke rumah sakit Dongsang ruangan 12.” Joon Myun menjawab sambil melirik Sung Yeon yang masih tak berkutik dari tempatnya. Sama sekali. Nyaris seperti orang yang sudah tidak bernyawa.

    “Ne! Ne! Ruangan 12 ya… Tunggu kedatanganku, Joon Myun oppa!”

    Setelah aksi bertelepon itu berakhir, Joon Myun langsung melihat jam dinding rungan itu. Tepat pukul 04.00 pm.

    “Sudah sore ternyata. Dia jadi berkunjung atau tidak sih?” gumam Joon Myun pelan. Ia memang sedang menanti seseorang yang tadi sempat meneleponnya dan mengatakan bahwa ia ingin datang menjenguk Sung Yeon. Joon Myun sudah menunggu hampir satu jam, namun orang itu tak kunjung datang juga.

    Akhirnya, Joon Myun memutuskan untuk menunggu Chloe sambil membaca majalah lama yang tergeletak begitu saja di meja tepat di samping ranjang Sung Yeon. Tak dapat dihitung dengan jari sudah berapa kali Joon Myun membaca majalah itu. Kasihan… Author harap Joon Myun tidak mati kebosanan menemani Sung Yeon, ya. *abaikan

—–Please call me maybe…?—–

    Pulsa Anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini…

    “Aish, kenapa disaat penting seperti ini pulsa malah habis sih? Kebodohan pula aku tidak bertanya dimana ruang Kim Sung Yeon dirawat. Argh! Bagaimana aku bisa menghubungi Joon Myun jika begini jadinya?”

    Terlihat Lu Han sedang menggerutu tidak jelas di dalam mobilnya sambil menyetir namun pandangannya tetap fokus menghadap jalan. Lu Han tahu bagaimana cara berkendara yang baik dan benar. Dengan penuh kegelisahan ia mencoba untuk mencari-cari tempat telepon terdekat untuk menyakan ruangan Kim Sung Yeon dirawat kepada Joon Myun. Saking gelisah dan tergesa-gesanya sampai-sampai Lu Han lupa bahwa sebenarnya ia bisa menyakan ruang rawat Sung Yeon pada perawat di rumah sakit nanti. Ckckck.

    Ternyata takdir berkenan untuk menghampiri Lu Han. Ia berhasil menemukan sebuah warung telepon yang didalamnya masih terdapat orang yang sedang menggunakan fasilitas umum itu. Dengan segera Lu Han menepikan mobilnya dan keluar berlari menuju obyek incarannya. Baru saja ia berhenti, pintu warung telepon tersebut terbuka dan muncullah sosok seorang wanita dengan tas punggungnya yang super besar beserta tas jinjing yang berisikan map, berlembar-lembar kertas, dan lain-lain. Lu Han terpana, seketika itu juga alisnya berkerut.

    ‘Tidak asing’ dua kata itu merasuki otaknya begitu saja setelah melihat wajah seseorang dihadapannya. Dengan percaya diri, Lu Han langsung menghampiri sosok itu yang tidak menyadari kehadirannya sama sekali.

    “Jo..Jeogiyo.” sapa Lu Han sambil menyentuh pelan bahu si wanita.

    Chloe –si wanita- yang sibuk dengan selembar kertas kecil bertuliskan alamat sebuah tempat langsung menoleh dengan sedikit terkejut sehingga tangannya berhasil menimpuk pipi Lu Han. Pastinya itu tidak disengaja. Mungkin karena wajah Lu Han terlalu dekat dengan Chloe sehingga tangan Chloe yang tidak mengerti apa-apa bisa menampar pipi mulus milik Lu Han.

    “Akh!” pekik Lu Han seketika itu juga.

    “Eo..Eo? Mi..mianhae. Aku tidak sengaja! Aku terlalu terkejut. Aish, maafkan aku. Sakitkah? Aduh, apa perlu aku bawa kau ke rumah sakit? Omo…eottokhae?” cerocos Chloe panjang lebar. Kebiasaannya benar-benar tidak bisa hilang ternyata. ( -_-)

    Lu Han yang terlihat merintih dan terus memegangi pipinya yang mulai memerah hanya bisa mendengar suara Chloe yang terdengar sangat panik.

    ‘Tidak salah’ batin Lu Han lagi.

    “Ahjusshi, gwaenchanayeo? Jongmal jwesonghabnida…” lanjut Chloe sambil mengatupkan tangannya dan memasang tampak meminta belas kasihan.

    “Ya! Aku hanya berusaha menyapamu mengapa kau malah memukulku?” Teriak Lu Han tiba-tiba dengan tangannya yang masih mengelus pipinya pelan. Teriakan Lu Han yang terkesan benar-benar marah itu berhasil membuat mulut Chloe bungkam. Chloe hanya mematung dan mimik wajahnya terlihat ingin menangis.

    “Jweo…jweoseonghabnida, Ahjusshi. Aku benar-benar tidak sengaja. Ta…tapi ngomong-ngomong… Ahjusshi ini siapa ya? Sa… saya merasa tidak mengenal Anda.” Jawab Chloe sekenanya.

    Mendengar penuturan yang terkesan takut-takut dari Chloe, Lu Han menghentikan aksi kesakitannya dan menanggapinya dengan wajah datar. Lu Han yakin bahwa perempuan di depannya adalah perempuan yang semalam membuat jas termahalnya ternodai secara permanen. Yah, meski hanya sebuah jas, namun itu sungguh berarti bagi Lu Han. Tidak ada orang lain yang mengetahui bagaimana perjuangan keras Lu Han untuk mengoleksi jas-jas miliknya selain Jong In.

    “Begini Agasshi. Apa kau tidak pernah melihat orang ini?” Tanya Lu Han sambil menunjuk dan memajukan wajahnya lebih dekat kepada Chloe.

    ‘DEG!’

    Saat itu juga jantung Chloe berhenti berdetak. Kepalanya mulai terasa pusing.

    ‘Wajah ini… berarti semalam aku tidak salah… benar-benar mirip. Ya Tuhan, berikanlah aku petunjuk lainnya agar aku bisa meyakinkan bahwa dia benar-benar yang dulu pernah mampir ke dalam hidupku.’

    Kepala Chloe semakin terasa pusing. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah ia menjawab bahwa ia pernah melihat orang dihadapannya ini 7 tahun yang lalu? Atau tidak pernah melihat sama sekali? Entahlah. Chloe benar-benar gugup sekarang.

    “A…Animida. Aku tidak pernah melihat Anda sebelumnya…” jawab Chloe.

    “Benarkah? Kau yakin? Apa kau ingat janjimu bahwa aku akan membersihkan jasku yang kau nodai waktu itu… Ah! Apa kau sudah ingat sekarang?” Tanya Lu Han sekali lagi.

    “N..Ne? Jas? Noda?” timpal Chloe tergagap. Namun, sedetik kemudian matanya melebar, tangan kanannya yang sedang memegang kertas alamat tadi ia gunakan untuk menutupi mulutnya.

    “Hmm. Bagaimana Nona? Janjimu masih berlaku kan?” Lagi-lagi Lu Han bertanya.

    Chloe bingung harus menjawab apa. Tapi ia mulai mengerti sekarang, bahwa sepertinya Tuhan terlah mempermudah jalannya untuk mengetahui lebih dalam tentang orang yang berwajah baby face dihadapannya ini. Ia tatap Lu Han dengan tatapan polos dan mulai menurunkan tangannya. Raut wajah Chloe yang sebelumnya terlihat takut itu berubah datar dan terkesan biasa saja.     Tiba-tiba ide cemerlang melintasi otaknya. Saat itu juga Chloe tersenyum dan menganggukkan kepalanya mantab.

    “Bagus.” Balas Lu Han. “Kapan kita bisa bertemu sehingga aku bisa memberikan jas itu kepadamu?”

    “Ne? A.. Anda bisa menemui saya sekitar pukul 3 hingga pukul 9 malam di gedung Fansign (Re: Fantastic Design). Saya bekerja disana.” Jawab Chloe seadanya.

    “Ne? Fansign? Tempat milik Kim Joon Myun?” tanya Lu Han dengan wajah terkejut. Ia tidak menyangka bahwa dunia ternyata benar-benar sempit.

    “Oh, jadi ahjusshi tahu tempat itu? Apakah ahjusshi adalah salah satu pelanggan Kim Joon Myun?” Chloe berbalik tanya dengan raut wajah tidak kalah terkejut dibanding Lu Han.

    “Ya.. ( -_-) tolong jangan panggil aku ahjusshi. Apa tampangku terlihat setua itu?” bukannya menjawab pertanyaan Chloe, Lu Han malah mengalihkan pembicaraan mereka.

    “Lu Han. Xi Lu Han. Itu namaku. Dan tidak ada embel-embel ahjusshi. Mengerti? Baik. Lalu, siapa namamu? Dan untuk menjawab pertanyaanmu tadi, aku bukan pelanggan Joon Myun, hanya saja sahabat karibku adalah pelanggannya.” Sahut Lu Han enteng sambil kemudian mengulurkan tangannya.

    “Oh, begitu.. Lu Han? Ah, ne Lu Han-ssi. Perkenalkan nama saya…”
Chloe menggantungkan kalimatnya. Ia kembali teringat akan ide yang terlintas di otaknya tadi. Lu Han menatap Chloe penuh curiga. Chloe tampak gugup sambil menggerak-gerakkan jari-jari tangannya dan menggigit bibir bawahnya pelan. ‘Baiklah, akan kulakukan!’ pekiknya dalam hati.

    “Hmm?” deham Lu Han memberikan isyarat kepada Chloe untuk segera menjawab pertanyaannya.

    ‘Aneh, menyebutkan nama saja lama sekali’ batin Lu Han kesal namun tidak menampakkan kekesalannya pada wajahnya yang masih terlihat biasa saja.

    “Ne? Ah ne. Nama saya.. Ch…Cho Ah Ra ibnida.” Chloe menyerukan namanya dengan sedikit gugup sambil membalas uluran tangan Lu Han.

    “Cho Ah Ra? Nama yang bagus. Salam kenal, Cho Ah Ra-ssi.” Timpal Lu Han.
Terlihat semburat merah di kedua pipi Chloe setelah Lu Han menyebutkan namanya. ‘Ya Tuhan, semoga ini menjadi awal yang baik.’ Batin Chloe penuh harap. Tak disadari sudah berapa lama ia menggenggam tangan Lu Han.

TBC

    Otteo? Otteo? Bagian yang ini setelah saya lihat-lihat lagi ternyata long shoot. Pasti membosankan ya? Makin menyinetron ya? Hahaha. Mianhae readerdeul. Imajinasi saya terlalu kemana-mana sih ketularan @fhayfransiska eonni wkwkwk, jadinya ceritanya juga nyasar kemana-mana sampai-sampai ada yang nggak nyambung juga dan nggak fokus ( T_T). By the way, terima kasih yang sudah mau membaca cerita saya yang absurd ini. Saya tetap butuh kritik dan saran dari reader sekalian. Silahkan komentar! Thanks😀 *bow
Ini ada sedikit preview buat next chapter-nya. Check this out!

—–Please call me maybe…?—–

    “Lu Han-ssi, mianhae noda di jasmu tidak bisa aku bersihkan. Ngg, apa kau berkenan jika kau kubelikan yang lebih baru?”
    “Jas itu tidak dijula disini.”

–^^–

    “Mwo? Cho Ah Ra? Siapa dia?”
    “Ssstt, diamlah oppa. Itu namaku! Kau pernah bilang bahwa kau ingin aku memiliki nama korea kan? Nah, itulah namaku. Cho. Ah. Ra. Hehe.”

–^^–

    “Kau kakak dari Daisy? Daisy Cavendish?”
    “Ne. Waeseubnikka?”
    “Oh Tidak. Tidak apa-apa. Perkenalkan, saya guru menari di sekolah Daisy. Kim Jong In ibnida.”

–^^–

   “O..oppa… Lepaskan… Tidak enak ada Lu Han-ssi disini.”

–^^–

—–Please call me maybe…?—–

21 responses to “CALL ME MAYBE (Bagian 2)

  1. Aaa finally 2nd chap kelar juga haha
    ah walopun fhay bilang plotnya loncat sana sini, tapi tetep bagus ko. Kan still learning to be the next jjang author kkk
    keep writing. Im waiting next chap. Must be faster ye? Fighting! ^^9 Saranghae my lovely dongsaeng❤

    • Annyeong eonni-ya!!!
      Hahaha. Ne akhirnya keluar juga ya lanjutannya. Wkwkwk.
      Ahahaha, bisa aja deh eonni.😛
      Iya masih amatir nih authornya😀
      Iya, aku bakal keep writing kok. Tapi yang kalau nggak sibuk. #halah
      Siap bos! Semoga bener-bener kelas cepet yang lanjutannya😉
      Jongmal gomawo~ Nado saranghae eonni-ya!!!❤

  2. Pingback: Every Time Alone (2nd Shoot) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s