[Tao’s] Sunday Sick

taos

Credit Poster       : Thanks to Aishita

Title            : 11th part (Tao’s) Sunday Sick

Author       : fransiskanoorilfirdhausi /@fhayfransiska (soo ra park)

Genre         : Romance, Angst, Life

Length       : Chaptered

                   1stpart [Chan Yeol’s] Girl inside The Window

                   2nd part [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

                   3rd part [Kris’] Wedding Pain

                   4th part [Xiu Min’s] Oblivious Summer

                   5th part [D.O’s] Goodbye Tiramisu

                   6th part [Kai’s] Hum on Rainy Day

                   7th part [Chen’s] A Silent Love Song

                   8th part [Su Ho’s] Secret behind Her Eyes

                   9th part [Lu Han’s] Eternal Fullmoon

                   10th part [Lay’s] Unwanted

Side Story :

Seo Rin’s Diary : Side Story of [Su Ho’s] Secret behind Her Eyes

Innocence : Side Story of [Chan Yeol’s] Girl Inside The Window

Bad Person : Side Story of [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

Cast            :

  • Huang Zi Tao a.k.a Tao
  • Zhang Len Fan (OC)
  • Victoria Song
  • Zhang Yi Xing
  • Anne Wu (OC)
  • And another support casts

Allo readerdeul semuanya, minta maaf banget karena telat ngepost. T.T

finally saya ngepost juga setelah hampir sebulan menghilang dari peredaran. Banyak juga yang mention di twitter tentang kenapa saya tak kunjung update, maklum lah masih anak sekolah yang labil di mana saja kapan saja karena tugas yang menggunung dan belajar demi angka tinggi yang tercetak di kertas ulangan #plak -___- hikseu, akhirnya fanfic yang nggak rampung” ini jadi terabaikan. Okelah langsung aja cekidot.

And thanks to @Shellawahyu, my everlast friend yang udah mau minjemin nama #tunjuk Len Fan ^^

This plot and OC are mine, but EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good reader please, don’t forget to give me oksigen (Read-Comment-Like)^^

________

            “Bagaimana dengan gadis yang satu itu?”

Kepalanya berputar cepat ke arah yang ditunjukkan temannya barusan, setelah memperhatikan lekat-lekat seorang yeoja bertubuh seksi dan berpakaian serba minim seraya membawa segelas anggur itu, ia hanya menggeleng. “Tidak.”

“Kalau yang itu?”

“Sudahlah Henry gege, berhenti menunjuk setiap gadis yang ada di sini! Memangnya aku akan langsung melamarnya begitu pertama kali bertemu seperti ini?”

Seorang namja bermata sipit dan berpipi chubby yang dipanggil Henry itu terkekeh kemudian menaruh lengannya di bahu Tao, namja berusia lebih muda yang barusaja merengek padanya. “Setidaknya ajaklah gadis-gadis itu berkenalan, lalu kau minta nomor ponselnya, kau dekati salah satu dari mereka yang paling kau sukai, lalu …”

“Ayolah, Gege! Memangnya itu akan semudah yang kau katakan? Pasti gadis-gadis itu sama saja seperti pacar-pacarku yang sebelumnya! Matre dan mendekatiku hanya karena uang!”

Suara dentuman musik disko yang bersahut-sahutan membuat rengekan Tao barusan hanya terdengar putus-putus di telinga Henry, oleh karenanya namja itu lagi-lagi hanya terkekeh kemudian kembali menenggak wine-nya. Sementara Tao sendiri mendesah kesal kemudian menghempaskan punggungnya di sandaran sofa empuk yang terletak di sudut kelab itu.

How about Victoria?

Sekujur tubuh Tao langsung menegang begitu nama itu keluar dari mulut Henry, sebuah nama yang menjadi mimpi buruk baginya hingga saat ini. Ia lantas menoleh dengan kening berkerut ke arah Henry, tampak tidak suka bila namja yang lebih tua empat tahun darinya itu menyebut-nyebut nama yeoja itu.

“Kenapa? Kau masih sakit hati dengan gadis itu?” Tao hendak berdalih, namun Henry lebih dulu menyela seraya menggelengkan kepalanya pelan, “Oh, ayolah Huang Zi Tao, kau tahu aku tidak pernah salah soal begituan kan? Biarpun gadis itu pernah menyakitimu, setidaknya ialah satu-satunya gadis yang pernah benar-benar kau cintai, bukan? Kenapa tidak dicoba saja?”

Tao hanya terdiam, bukan karena kehabisan kata-kata untuk membalas setiap tuduhan yang diberikan Henry padanya, namun lebih ke sebuah ketidakmampuan dirinya untuk berdalih, karena bagaimanapun harus ia akui kalau apa yang dikatakan Henry benar. Ya, dia masih mencintai Victoria. Sangat malah.

Henry kembali tertawa melihat ekspresi bingung yang ditunjukkan Tao. Sesaat kemudian ia merogoh saku celana jeansnya, mengambil dompet, kemudian mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam sana. “Just call her, ok?” katanya sambil menyerahkan kartu nama itu pada Tao.

Tao hanya memandang lekat-lekat kartu nama itu dengan mata pandanya. Ia membaca sederet nama serta nomor telepon yang tertera di sana dengan bantuan cahaya lampu diskotik yang berubah-ubah warna.

Victoria Song. 0890-XXXX-0000

_________

            Anne berulang kali menggigit bibirnya keras, tidak peduli apabila hal itu membuatnya sakit. Pikirannya kini sedang campur aduk, perasaan sedih, terkejut dan cemas bercampur jadi satu. Keheningan di lorong rumah sakit itu berhasil membuat rasa khawatirnya semakin menjadi-jadi. Sebentar-sebentar diliriknya jam dinding rumah sakit, ia menghela napas keras begitu mendapati bahwa hari sudah sangat malam. Itu artinya sudah hampir delapan jam ia berada di rumah sakit.

Pikirannya kembali melayang pada kejadian siang menjelang sore tadi. Baru pertama kalinya ia memasuki rumah Lay, dan sayangnya saat itu juga hatinya langsung dibanjiri perasaan tidak enak. Ditambah dengan ditemukannya sebuah foto yang sangat mengejutkan, foto James, mantan kekasihnya bersama dengan Lay. Dan seakan belum cukup membuatnya penasaran, ia harus dihadapkan kembali dengan sebuah pemandangan yang menyedihkan.

Di lantai dua, tepatnya di kamar Lay yang saat itu sangat berantakan—kertas berserakan di mana-mana, foto-foto yang menampilkan wajah seorang yeoja yang telah dirobek menjadi sobekan-sobekan kecil dan bertebaran di lantai—ia menemukan namja itu meringkuk sembari memeluk kedua kakinya di pojok kamar. Dan Lay … sungguh, sebenarnya Anne sendiri enggan mengatakan ini, ya, karena Lay terlihat benar-benar menyedihkan.

Namja itu mengerang lirih, namja itu menangis, namja itu mengacak rambutnya frustasi, namja itu berteriak bahkan memukul Anne ketika yeoja itu berusaha mendekatinya. Anne benar-benar shock kenapa Lay bisa menjadi seperti itu. Sosok Lay yang menyedihkan—nyaris menakutkan bagi Anne—sungguh sanggup membuat Anne menangis saat itu juga. Ada apa sebenarnya dengan namja itu? Namja itu seperti tidak mengenalnya. Pandangan mata Lay terhadap Anee seperti melihat orang asing yang baru saja ditemui. Tatapan ketakutan dan kecewa terpancar jelas di wajah namja itu.

Karena takut terjadi hal lain yang tidak diinginkan, Anne lantas menelepon rumah sakit dan meminta ambulans untuk membawa Lay. Para petugas rumah sakit sampai harus membius Lay agar namja itu tidak lagi meronta-ronta dan berontak ketika akan digiring ke ambulans.

Dan akhirnya, di sinilah Anne sekarang. Duduk sendirian di bangku berderet di depan ruang rawat Lay. Menunggu hingga Lay sadar. Tentu saja untuk meminta penjelasan soal semuanya.

Anne mengeluarkan sebuah foto dari saku dalam mantel hitamnya. Ia menatap kosong dua orang namja yang terpotret di sana. Tidak, mungkin lebih tepatnya ia hanya melihat satu di antaranya. Seorang namja berambut blonde yang tengah tersenyum lebar. Tanpa Anne sadari ia meremas ujung foto itu ketika bulir air matanya yang tidak lagi tertahan perlahan turun, membasahi permukaan foto itu. Bibirnya bergetar dan gigi-giginya bergemeletuk, tangisnya pun pecah.

Oh tidak, apakah ia merindukan James?

_________

Hari ini hari minggu. Satu-satunya hari yang Tao benci dalam jangka waktu satu minggu. Aneh, padahal sebagian bahkan hampir semua orang menyukai hari minggu di mana kita bisa bersantai dan bernapas sejenak setelah sebelumnya dipadati oleh hari-hari kerja yang melelahkan. Namun sepertinya hal tersebut tidak berlaku bagi seorang namja pemilik mata panda bernama Tao ini.

Baginya, minggu itu menyedihkan. Minggu selalu mengingatkannya pada sebuah kejadian yang sangat ia benci, sebuah kejadian di masa lalu yang membuatnya berharap seandainya otaknya seperti komputer yang bisa menghapus kenangan itu dari otaknya dalam sekali klik. Selain kejadian itu ada juga kejadian-kejadian lain, seperti kakek yang ia sayangi meninggal pada hari minggu, teman-temannya meninggalkan dan mengkhianatinya juga pada hari minggu, kucing hitam kesayangannya tertabrak mobil pada minggu pagi, serta kejadian-kejadian lain yang menyakitkan dan menorehkan luka di hatinya yang sensitif.

Bagi Tao sendiri, alasan-alasan itu sudah cukup baginya untuk membenci hari minggu. Sebenarnya ia sendiri heran, mengapa setiap peristiwa buruk yang ia alami selalu terjadi pada hari minggu.

Apalagi hari ini, hari minggu pagi saat sebuah perintah—paksaan—datang dari ibunya dan mengharuskan dia yang masih sangat mengantuk untuk menjemput seorang tamu ibunya di bandara. Dan tamunya itu seorang yeoja, yeoja bernama .. err Zhang Len Fan? Yeoja yang bahkan tidak Tao kenal sama sekali, tidak tahu bagaimana rupanya pula. Apa maksud ibunya menyuruhnya seperti itu? Oh jangan bilang ibunya masih belum juga menyerah untuk mencarikannya seorang yeoja. Hmm, mungkin lebih tepatnya seorang jodoh untuknya! Astaga!

Karenanya semalam Tao sempatkan berunding dengan Henry, bagaimanapun ia ingin menikah dengan yeoja yang ia cintai, bukan yeoja pilihan ibunya. Tao berpikir mungkin ibunya akan berhenti mencarikan untuknya kalau ia memperkenalkan seorang yeoja pilihannya pada ibunya yang cerewet itu. Dan seseorang yang direkomendasikan oleh Henry selain gadis-gadis di kelab semalam adalah Victoria.

Victoria Song. Haha, Henry pasti sudah gila karena berani-beraninya merekomendasikan yeoja itu untuk Tao.

Sayup-sayup terdengar suara pemberitahuan kedatangan pesawat dari Seoul. Tao langsung bangkit dari tempat duduknya, karena kata ibunya yeoja bernama Zhang Len Fan itu berangkat dari Seoul. Tao segera beranjak untuk mencari yeoja itu di kerumunan orang-orang yang keluar dari pintu kedatangan, bukan karena antusiasmenya ingin bertemu yeoja itu, namun lebih ke sebuah gagasan kalau semakin cepat yeoja itu ditemukan, maka tugasnya akan segera selesai dan ia bisa bersantai kembali.

Tao mengangkat tinggi-tinggi papan nama bertuliskan ‘Zhang Len Fan’. Mengingat ia belum mengetahui wajah seorang Len Fan, wajarlah kalau cara itu ia gunakan, sama seperti para penjemput lain yang bernasib sama dengannya. Dia hanya berdoa dalam hati semoga ia tidak terlihat seperti orang tolol.

Sudah lima belas menit berlalu tapi yeoja itu belum juga muncul. Sebuah pikiran buruk lantas tercetus di otaknya, apakah ibunya sedang mengerjainya karena kesal Tao telah pulang larut kemarin?

Tao hendak menurunkan papan di tangannya karena merasa pegal ketika seseorang tiba-tiba menabrak tubuhnya keras dari belakang. Membuatnya sedikit limbung, tapi untunglah keseimbangannya tetap terjaga sehingga ia tidak jatuh. Namun hanya selang sepersekian detik setelah itu, suara benda berat menubruk lantai terdengar, disusul oleh suara koper jatuh dan pekikan kaget khas seorang yeoja.

“Arrgghh.. sakit!!”

Tao menoleh cepat ke arah seorang yeoja yang barusaja jatuh, seorang yeoja yang kini tampak meringis memegangi pergelangan kakinya yang sepertinya—memang—sakit. Yeoja berambut kuncir kuda itu mengenakan mantel tebal berwarna turquoise dan sepatu high heels. Sebuah koper besar tergeletak di sampingnya.

“Help… I’am .. I’am Zhang Len Fan. Please, help me!” kata Yeoja itu terbata-bata kepada Tao sambil tetap merintih.

Kedua alis Tao terangkat tinggi, Zhang Len Fan? Jadi yeoja ini yang bernama Zhang Len Fan?

Dengan segera Tao mengulurkan tangannya untuk membantu Len Fan berdiri, tapi yeoja itu menggeleng pelan. Alis Tao berkerut, nampak kurang suka dengan penolakan Len Fan. Yeoja bernama Len Fan itu lantas berkata dalam Bahasa Mandarin, “Kakiku terkilir, tolong gendong saja aku.”

Tao mendelik kaget. Ia memang jarang sekali menggunakan Bahasa Mandarin sejak tinggal di London, namun ia menguasai bahasa ibunya itu dengan sangat baik. Ia mengerti betul apa yang diminta Len Fan padanya baru saja.

“Dasar genit.” geram Tao lirih.

“Apa?! Hei, kalau bukan karena terkilir mana mau aku digendong pria menyeramkan sepertimu? Kau tahu, karena wajahmu itu aku sedari tadi hanya memandangmu dari kejauhan dengan perasaan takut, kukira yang menjemputku adalah seorang preman pasar! Akibatnya, aku berjalan dengan terburu-buru dan tanpa sengaja tersandung koperku sendiri!” cerocos Len Fan panjang lebar. Padahal hanya dua patah kata yang dilontarkan Tao padanya, tapi respon yang diberikan yeoja ini sungguh luar biasa.

“Hei, sudah untung aku mau menjemputmu! Kan salahmu sendiri tersandung! Pokoknya aku tidak mau kalau harus mendapat tugas tambahan untuk menggendongmu!”

Len Fan berdecak kesal, “Kau harus melakukannya! Aku tidak akan bisa berjalan, tahu! Lakukan tradisi keluargaku sekarang!”

“Tradisi keluarga?”

“Kau harus menggendong seorang yeoja apabila yeoja itu terlihat kesusahan di depanmu.”

Tao menahan tawanya kemudian memandang dengan tatapan remeh ke arah Len Fan, “Tradisi macam apa itu? Konyol sekali.” Belum sempat Len Fan merespon cibiran Tao, namja itu lebih dulu menarik lengan yeoja yang masih terduduk di lantai bandara itu dengan kasar dan tiba-tiba. Menimbulkan decitan-decitan yang terdengar geli di telinga karena yeoja itu masih berusaha mempertahankan posisi duduknya.

“Hei, hei. Berhenti menyeretku! Sakit tahu! Kau kasar sekali, sih!” teriak Len Fan sembari memukul-mukul keras lengan Tao yang menyeretnya.

“Makanya ayo berdiri kalau tidak mau malu! Kau ini..”

“Tidak mau!”

“Hei, lihat itu! Apa yang sedang pasangan bodoh itu lakukan?”

That man is so scary! Mungkin dia akan menyiksa gadis itu, lihat di bandara saja dia berani!”

“Haruskah kita menolong gadis itu!?”

Tao lantas mengangkat kepalanya cepat dan mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling begitu samar-samar telinganya mendengar sesuatu. Alangkah terkejutnya namja itu begitu menyadari bahwa kini telah terdapat puluhan pasang mata yang tengah melihat ke arahnya, atau lebih tepatnya ke arah Tao dan Len Fan. Aha, nampaknya apa yang baru saja Tao lakukan itu menarik perhatian orang-orang di bandara, bahkan sebagian dari mereka yang hendak berjalan menuju pintu keberangkatan rela berbalik untuk sekedar melihat kehebohan apa yang sedang terjadi. Sebegitu hebatnyakah yang dilakukan seorang namja bermarga Huang itu?

Tao menelan ludah ketika semakin banyak tatapan menusuk yang mengarah padanya, bagaimanapun juga saat ini di mata orang-orang itu ia terlihat seperti orang jahat, orang jahat yang sedang menganiaya pasangannya. Enggan membuat kesannya di mata orang-orang semakin buruk, namja itu lantas berjongkok memunggungi Len Fan. Kali ini dengan sangat terpaksa ia mengikuti kemauan serta tradisi konyol si yeoja.

“Eh?” Len Fan mengangkat alisnya tinggi ketika Tao berjongkok di depannya.

Tao menolehkan kepalanya ke belakang, ia menatap Len Fan dengan tatapan membunuh kemudian berbisik dengan nada mengintimidasi serta memberi penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan. “Cepat naik atau aku akan membunuhmu sekarang juga!”

Mendengar itu, Len Fan hanya menelan ludahnya dengan susah payah lalu menuruti apa kata pria di hadapannya itu.

Ow, ow, that’s absolutely the bad Sunday ever!

__________

Audi hitam itu melaju kencang menembus keramaian, tak jarang si pengemudi menekan klakson berkali-kali dengan tidak sabar, membuat mobil-mobil yang berada di depannya memutuskan untuk menyingkir daripada membuat masalah.

“Hei, jangan seenaknya sendiri kalau menyetir! Ini bukan jalan milik kakekmu!”

Si pengemudi yang barusaja mendengar teriakan kesal dari yeoja yang duduk di sampingnya hanya diam. Ia memfokuskan pandangan pada jalan di depannya, tanpa sedikitpun berusaha menghiraukan yeoja yang sedari tadi berteriak kesal di sampingnya.

“Dasar preman menyebalkan! Bisa-bisanya bibi Huang memiliki anak sepertimu!”

Audi hitam itu spontan berhenti, membuat yeoja yang barusaja berteriak lagi itu sedikit terjengkang ke depan dan sempat terantuk dashboard mobil. Akibat pemberhentian yang sangat mendadak itu, kini terdengar suara klakson yang bersahut-sahutan dari mobil-mobil di belakang audi itu, mungkin kesal karena si pengemudi Audi berhenti mendadak.

“Hei, apa maksudmu berhenti tiba-tiba begitu?!”

Huang Zi Tao, nama si pengemudi menoleh cepat ke arah si yeoja, masih dengan tatapan tajamnya yang mematikan dan sanggup membuat siapapun tak bisa berkutik. Pengemudi bermarga Huang itu lantas merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah dompet kulit, kemudian mengambil sejumlah uang dengan jumlah besar dari dalam sana.

“Aku akan berikan semua uang pada dompetku asalkan kau mau pergi dari sini sekarang juga, Zhang Len Fan!” ujar Tao pada yeoja yang ternyata bernama Len Fan itu seraya mengibaskan uang-uang di tangannya.

Sayangnya, Len Fan tampak tidak terpengaruh. Ia malah menatap balik Tao dengan tatapan angkuh, “Sayangnya tidak. Maaf saja, kalau sekedar uang segitu aku juga punya!”

“Oh, benarkah? Bagaimana dengan ini, ini dan ini?” ujar si namja bermata panda itu seraya mengeluarkan banyak sekali kartu kredit dari dalam dompetnya. “Akan kuberikan semua ini asalkan kau tidak menemui ibuku. Bagaimana, mudah bukan?”

Len Fan terperangah melihat puluhan kartu kredit yang kini berserakan di jok mobil, ia tidak dapat membayangkan seberapa kayanya keluarga Huang. Namun sepersekian detik kemudian ia memasang wajah menantang ke arah namja di depannya sembari melipat tangannya, “Tetap tidak mau. Baiklah kalau kau tidak mau mengantarku, aku akan pergi ke rumah bibi Huang sendiri. Lagipula aku punya alamat dan nomor telepon beliau.” katanya dengan penuh kemenangan.

Tao tertegun. Hei, bagaimana bisa yeoja itu menolak semua penawaran emas yang ia berikan? Bukankah semua yang ia punya itu sangat menggiurkan, terutama bagi seorang yeoja. Bisa untuk shopping, spa, pergi ke salon dan masih banyak lagi. Namja itu lantas hanya menatap Len Fan yang kini tengah mengobrak-abrik isi tas tangannya dengan tatapan tidak percaya.

Bagaimana mungkin, bukankah selama ini tidak ada yeoja yang menolaknya, atau mungkin lebih tepatnya … menolak uangnya? Err, terdengar menyedihkan memang, tapi jujur sajalah, semua orang pasti bisa bahagia karena uang. Begitupun juga yang selalu ada di benaknya. Tao merasa seandainya ada uang maka ia bisa membeli segalanya, mendapatkan segalanya. Dengan uang, ia bisa mendapat teman, bahkan kekasih. Tapi yeoja itu .. terlalu aneh dan… berbeda.

Women can’t live without money, seperti yang dikatakan ‘yeoja’ itu.

Lamunan si namja terputus ketika melihat wajah Len Fan yang kini pucat, yeoja itu masih berusaha mengobrak-abrik isi tas tangannya. Yeoja itu sampai harus mengeluarkan semua isi tasnya, seperti bedak, sisir, tisu dan lain-lain yang kini berserakan di atas pangkuannya. Ia membalikkan tasnya, menggoyang-goyangkannya, berharap sesuatu yang ia cari segera ia temukan. Namun nihil.

Tanpa Len Fan sadari, Tao yang duduk di sampingnya sedari tadi mulai memasang senyum penuh kemenangan di wajahnya. Oh, oh, bolehkan ia berpikir kalau hari minggu ini tidak terlalu buruk baginya, benar kan?

“Ada apa, nona Zhang?”

Len Fan sontak berhenti mencari, ia menoleh perlahan ke arah Tao. Yeoja itu menggigit bibir begitu mendapati si namja tengah tersenyum padanya.

“Kau tidak menemukan dompetmu? Atau mungkin … ponselmu juga?”

Skak mat! Batin Len Fan.

Si namja tersenyum lagi, senyum yang serasa memojokkan seorang Zhang Len Fan. “Kalau begitu, tidak ada jalan lain selain menuruti semua keinginanku kan?”

_______

Sial! Sungguh sial! Bagaimana mungkin ponsel dan dompetnya hilang di waktu yang bersamaan? Padahal di ponsel terdapat berbagai macam file penting seperti nomor telepon bibi Huang, nomor telepon keluarganya serta kakaknya Yi Xing. Di dompet juga tentu saja ada uang dan kartu kreditnya, juga alamat rumah Yi Xing di London.

Mungkinkah tertinggal di pesawat? Ya, mungkin saja, karena Len Fan sendiri yakin ia membawa dua benda sakral itu dari rumah. Jadi, tidak mungkin kalau keduanya tertinggal di rumahnya di Seoul. Ya Tuhan, padahal ia berniat sesegera mungkin menemui kakaknya yang belum mengabarinya sejak dua hari yang lalu setelah menemui bibi Huang. Kalau saja ia dulu tidak menolak untuk tinggal di London, pasti tidak akan sesulit ini jadinya. Karena ia akan lebih mudah menemukan rumah pamannya—yang kini ditinggali Yi Xing. Kenapa penyesalan selalu muncul di akhir, huh?

Kedatangannya ke London juga sebenarnya atas permintaan dari bibi Huang, ibu dari namja bernama Huang Zi Tao yang kini tengah mengemudi di sampingnya sembari bersiul dan bernyanyi pelan.

Sialan namja itu, ia pasti merasa menang sekarang, umpat Zhang Len Fan dalam hati.

Kembali ke topik utama, Bibi Huang adalah teman lama ibunya dan hubungan keduanya sudah sangat dekat. Len Fan tidak heran apabila tiba-tiba bibi Huang—yang sebenarnya tidak ia kenal itu—berniat memperkenalkannya pada anak laki-lakinya dengan memintanya datang ke London. Tentu saja ia sempat sampai pada kesimpulan ‘perjodohan paksa’ atau ‘perjodohan terselubung’. Namun di jaman sekarang, hal itu tidak bisa terjadi dengan mudah. Jadi ia merasa semua akan baik-baik saja karena ia yakin pihak si namja juga akan menentang perjodohan itu.

Ya, tentu saja itu tidak boleh terjadi! Karena Len Fan masih sangat mencintai Jong Dae, teman masa kecilnya. Namun sangat disayangkan Jong Dae lebih memilih dengan seorang yeoja bernama … err, entahlah, Len Fan sendiri susah mengingat namanya. Hyun Ji, Hyun Sang, atau Hyun Young mungkin? Entahlah.

Baik, tidak usah pikirkan masalah itu sekarang. Yang lebih penting sekarang adalah nasibnya, oh benar, nasibnya ya Tuhan. Kenapa ia harus menggantungkan nasibnya pada seorang namja jahat dan mata duitan bernama Huang Zi Tao itu? Hanya karena ia kehilangan ponsel dan dompet, ditambah tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di London, ditambah kakinya sedang terkilir dan ia tidak bisa berjalan dengan mudah, ah iya, ditambah lagi ia tidak terlalu fasih berbahasa Inggris, jadi ia harus mengikuti semua yang permainan Tao. Lengkap sudah. Haa, betapa malang nasibnya.

“Apa yang membuatmu datang ke London?”

Len Fan menaikkan alis begitu keheningan yang semula menyelimuti keduanya dipecahkan oleh pertanyaan Tao. Hei, apakah namja itu mulai bersikap sok kenal padanya dengan mengajaknya berbasa-basi? Hah!

“Hei! Aku bertanya padamu!”

“Tentu saja karena permintaan langsung dari ibumu sendiri.” jawab Len Fan sekenanya. Nada ketusnya terdengar sangat jelas.

Tao mengecilkan volume radio agar suara Len Fan yang lirih bisa terdengar jelas di telinganya, “Kau tahu apa artinya itu?”

Len Fan tidak menjawab, ia hanya menatap lurus jalanan ramai di depannya.

“Ibuku berniat menjodohkan aku denganmu, ya, tidak salah lagi.” Tao menjawab pertanyaan yang ia lontarkan sendiri. “Oleh karena itu aku bersikeras menghalangimu menemui ibuku, karena kalau kau bertemu dengannya maka dia pasti akan memaksa untuk segera melaksanakan perjodohan konyol ini.”

“Lalu? Lantas apa yang akan kau lakukan padaku sekarang?”

Tao tersenyum sumringah, setidaknya sedari tadi Len Fan telah mendengar ceritanya meskipun yeoja itu terlihat benar-benar cuek. Namja itu tidak menjawab, ia kembali fokus pada kegiatan mengemudinya. Len Fan sendiri tidak bertanya lebih jauh, mungkin sibuk menerka-nerka sendiri apa yang akan terjadi padanya setelah ini.

Setelah beberapa jam terus beroperasi menembus kota London, Audi hitam itu akhirnya berhenti di depan sebuah penginapan kecil yang terletak agak jauh dari kota. Kedua alis Len Fan terangkat tinggi. Hei, hei, apa yang akan Tao lakukan padanya di tempat terpencil seperti ini?

Belum sempat Len Fan memperluas bayangannya pada apa yang akan dilakukan Tao, namja itu telah membuka pintu di sampingnya. Tanpa banyak basa-basi, Tao langsung berjongkok di depan Len Fan. Namun yeoja itu hanya diam, masih sibuk menerka apa yang ingin Tao lakukan padanya di penginapan terpencil seperti itu. Membunuhnya? Atau bahkan … memperkosanya? Astaga!

“Hei, cepat naik!”

Len Fan menggeleng, “Tidak!”

“Hei, aku tidak akan melakukan apapun padamu, lagipula kau sama sekali bukan tipeku. Cepat naik ke punggungku!” teriak Tao kesal.

Dasar menyebalkan, geram Len Fan kesal.

Namun pada akhirnya, yeoja itu lebih memilih untuk pasrah dan menuruti paksaan Tao. Ia melingkarkan lengannya dengan kikuk lalu membiarkan namja itu menggendongnya masuk ke penginapan kecil tanpa tahu apa yang akan terjadi nanti.

_________

Kamar itu tidak terlalu luas, hanya terdapat kasur kecil yang merapat di tembok berwallpaper motif bunga. Di sudut terdapat kamar mandi yang tidak kalah kecil, di sisi yang lain sebuah meja dan kursi kayu terlihat. Namun kalau diperhatikan lebih jauh, sebenarnya kamar itu tidak terlalu buruk, kamar itu bersih dan rapi. Hanya saja, sempit dan kurangnya fasilitas seperti televisi dan AC membuat kamar itu terlihat menyedihkan, terutama bagi namja kaya seperti Huang Zi Tao.

“Jadi, kau akan tinggal di sini untuk sementara waktu hingga aku bisa meyakinkan ibuku bahwa aku bisa mencari wanita yang lebih baik.”

Perkataan—perintah—Tao yang terdengar mengejek membuat Len Fan sontak memutar bola matanya. Wanita yang lebih baik katanya? Berani sekali namja itu, cih!

“Aku akan katakan pada ibu bahwa kau tinggal di rumah saudaramu yang berada di London.”

Kening Len Fan mengernyit, “Kau tahu, akan sangat tidak sopan kalau aku tidak menemui beliau, wahai Zi Tao? Beliau sendiri yang memintaku untuk datang kemari. Aku tidak ingin hanya karena aku, persahabatan antara ibuku dan ibumu jadi hancur.”

“Kau tidak perlu khawatir soal itu, serahkan saja padaku, Sunday!” jawab Tao ketus kemudian berbalik badan meninggalkan Len Fan yang duduk di ranjang.

“Hah!? Hei, Sunday katamu? Itu bukan namaku!”

Langkah Tao terhenti, ia berbalik badan kemudian tertawa sinis, “Kau tidak ada bedanya dengan hari minggu, sama-sama menyebalkan dan pembawa sial.”

Kedua bola mata Len Fan melebar. Hei, apa maksudnya itu?

“Bye, Sunday girl, I hope you’ll enjoy your day here.” gumam Tao lirih seraya menutup pintu kamar Len Fan dengan senyum penuh kemenangan.

_________

Tao bersenandung pelan seraya berjalan menuju parkiran yang terletak di samping penginapan kecil itu. Kedua telapak tangannya tenggelam di saku celana jeansnya. Akhirnya satu masalah selesai, batinnya senang.

Namja bermata panda itu mendongak dan mendapati langit kini sangat gelap. Nampaknya sebentar lagi akan turun hujan. Tao mengangkat bahu, tidak ambil pusing dengan masalah cuaca yang tidak bersahabat. Ya, ia kan kemari mengendarai mobil, tidak perlu khawatir akan kehujanan atau kedinginan.

Tao hendak menekan tombol alarm di kontak mobilnya ketika pandangan matanya menangkap sesuatu. Tao terbelalak. Ia lantas mendekat ke arah mobilnya, lebih tepatnya ke arah ban mobil belakangnya yang ternyata … bocor! Tao segera memeriksa ketiga ban mobilnya yang lain, ia langsung menelan ludah karena ketiga ban itu juga bernasib sama, sama-sama bocor.

“Oh, shit!” umpat Tao. Siapa yang tega melakukan itu semua pada Audi kesayangannya!? Pasti ini ulah orang jahil yang iri dengan mobilnya, arrggghh!!

Tao menggeram frustasi, ia menendang-nendang ban mobilnya dengan keras saking kesalnya. Begitu emosinya mulai stabil kembali, namja itu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Namun belum sempat niat itu terlaksana, setitik air mengenai permukaan kulit kecoklatan miliknya. Dan Tao baru menyadari apa yang sedang terjadi ketika ribuan bahkan jutaan tetes air telah jatuh ke bumi dan mengenainya. Gerimis.

Dengan segera, namja itu berlari dan kembali masuk ke penginapan untuk berteduh. Ia sempatkan melirik ke arah jam tangannya dan terhenyak begitu mendapati jam hampir menunjukkan pukul enam sore. Oh, sepertinya ia dengan terpaksa harus menginap di penginapan kecil itu hari ini.

Mau bagaimana lagi, menelepon bengkelpun percuma. Tidak akan ada bengkel yang bersedia mengunjungi penginapan terpencil ini malam-malam begini. Bagaimana dengan menelepon teman-temannya? Seperti Soo Young ataupun Henry. Bisa saja. Ya, bisa saja seandainya di tempat itu ada sinyal sedikit saja. Betapa menyedihkan sinyal saja tidak bisa sampai di penginapan terpencil itu.

Ya, Tao yakin, kini semesta tengah berkonspirasi untuk mengulitinya perlahan di tempat itu, di hari minggu. Minggu. Damn Sunday!

Dengan langkah lunglai, Tao berjalan menuju resepsionis penginapan yang tengah tersenyum cerah. “Sorry, sir. Penginapan ini telah penuh.” katanya sebelum Tao sempat bertanya.

Huh? What?” Tao berharap ia tidak salah dengar.

“Di penginapan ini hanya tersedia tujuh buah kamar. Lima kamar telah terisi dan dua kamar yang lain sedang dalam masa perbaikan.” kata resepsionis itu, masih dengan senyumnya yang membuat Tao ingin naik darah.

Bisa-bisanya resepsionis itu tersenyum di atas penderitaanku sekarang, sial! umpat Tao lagi, entah sudah yang keberapa kali di hari ini.

Dengan lemas, Tao berjalan mendekati sofa di ruang tamu penginapan kemudian menghempaskan tubuhnya di sana. Badannya benar-benar serasa remuk karena telah mengemudi seharian ini. Ia hanya butuh tidur sekarang, tapi di mana? Di sofa ini? Ayolah, sofa ini sangat bau! Berapa lama benda ini tidak dicuci?

Tao hendak memejamkan mata, namun ia tiba-tiba teringat sesuatu. Ya, tidak ada cara lain selain tidur di kamar yeoja itu. Yeoja itu? Tunggu, tidak! Tentu saja tidak!

Tao memaksakan diri untuk tidur meski sebentar, namun tetap saja tidak bisa. Pada akhirnya setelah agak lama berselang dan bergumul dengan pikirannya sendiri, ia menyerah. Ia bangkit kemudian berjalan cepat menuju ke depan pintu kamar yang sempat ia pijaki sebelum ini. Ia menghela napas keras, ya, bagaimana pun ia harus rela sedikit menurunkan harga dirinya dan memohon untuk tidur di kamar itu.

Namja itu mengetuk pintu kamar bernomor 02 itu dengan keras. Terdengar langkah terseok-seok dari dalam kamar, mungkin yeoja bernama Len Fan itu tengah kesusahan berjalan karena kakinya yang terkilir. Agak lama setelah itu, pintu itu terbuka pelan dan tanpa disadari Tao menahan napasnya.

Len Fan terlihat melongokkan kepalanya, yeoja itu terbelalak begitu mendapati Huang Zi Tao berdiri di depan kamarnya dengan wajah garang, meskipun sebenarnya itu hanyalah topeng untuk menutupi rasa malunya.

Tao tengah berusaha keras mengontrol rasa malunya, “Bi … Biarkan aku tidur di kamar ini, Sunday!”

________

“Kau kan yang menumpang, harusnya kau yang tidur di kursi!”

“Hei, kau lupa? Aku yang membayar sewa kamar ini! Jadi hakku untuk tidur di ranjang ini. Kalau mau menyalahkan orang, salahkan saja orang jahil yang sudah membuat bocor ban Audi-ku! Sudahlah, aku lelah, aku mau tidur! Menyingkir dari ranjang ini, Sunday!” balas Tao dalam bahasa Inggris seraya menghempaskan tubuh tingginya di atas ranjang yang masih diduduki Len Fan.

Len Fan melotot, “Kenapa tiba-tiba berkata dalam bahasa Inggris? Aku tidak mengerti! Hei, menyingkirlah! Kau harus mengalah pada wanita, Zi Tao! Mana sopan santunmu, heh!?”

Namun Tao tidak menghiraukan protes yang dilontarkan Len Fan, namja itu malah berbalik dan memunggungi Len Fan. Tidak lama setelah itu, terdengar dengkuran halus yang mampu membuat Len Fan menghela napas keras. Kenapa cepat sekali namja itu tertidur? Batinnya kesal.

Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat dengan Tao. Pria itu terlalu angkuh!

Len Fan memutuskan untuk mengalah. Ia lantas bangkit dengan sangat hati-hati mengingat pergelangan kakinya yang tadi terkilir masih juga terasa sakit. Len Fan melangkah pelan menuju kursi yang terletak agak jauh dari ranjang seraya menggigit bibirnya menahan sakit. Kakinya yang nyeri tidak mampu menopang tubuhnya dan membuatnya terhempas ke kursi kayu, menimbulkan sedikit rasa sakit di pantatnya yang malang.

Len Fan berusaha memijit-mijit pergelangan kakinya, namun yang ia dapat malah rasa sakit yang semakin menjadi-jadi, membuatnya memutuskan untuk berhenti dan hanya menatap sayu ke arah pergelangan kakinya. Yeoja itu melirik sinis ke arah ranjang di mana Tao tidur, ia mendengus.

Awas kau Huang Zi Tao, kalau kakiku sembuh aku pasti akan menendangmu! Lalu setelah itu kau hanya tinggal nama, hahaha!

Yeoja berparas anggun itu kini tengah meratapi nasibnya. Benar, hari ini benar-benar hari yang buruk baginya, sangat buruk.

Dan hari ini nampaknya akan jadi minggu terpanjang dan terburuk dalam sejarah hidupnya.

________

Len Fan membuka matanya perlahan dan inderanya yang pertama kali bekerja adalah telinganya, ia mendengar suara gemericik air tidak jauh dari tempatnya tertidur sekarang. Setelah itu, baru matanya, ia menatap lurus dan mendapati atap kamar hotelnya yang putih polos. Yeoja itu menggeliat pelan di atas ranjang empuknya.

Eh, tunggu! Ranjang?

Kedua mata yeoja berambut sedikit bergelombang itu lantas terbuka lebar. Ia langsung menegakkan tubuhnya. Alangkah terkejutnya ia begitu menyadari bahwa dirinya tengah berada di atas ranjang, padahal seingatnya ia tidur di atas kursi kayu dan yakin sekali badannya akan sakit semua begitu bangun nanti. Namun ia tengah berada di atas ranjang sekarang, dan tidak terasa sedikitpun rasa sakit di tubuhnya. Hei, ada yang bisa menjelaskan ini semua?

Len Fan tersentak begitu terdengar suara pintu terbuka, lebih tepatnya pintu kamar mandi yang terletak di sudut kamar. Seorang namja berbadan cukup kekar dan berkulit kecoklatan keluar dari sana, rambut namja itu basah—mungkin belum sempat di keringkan sehabis keramas, bagian atas tubuhnya terekspos dengan sempurna, ia tidak mengenakan apapun selain handuk yang menutupi bagian tubuhnya dari pinggang sampai lutut. Dan hal itu sanggup membuat mulut Len Fan ternganga dan wajahnya sontak memerah seperti kepiting rebus. Oh, oh…

Tao. Huang Zi Tao itu tidak pakai baju!?

“Kyaaaaaa! Kyaaaa! Apa-apaan kau? Mau apa kau!? Apa yang akan kau lakukan padaku!?” teriak Len Fan bertubi-tubi seraya melemparkan bantal-bantal yang berserakan di sampingnya ke tubuh namja itu.

“Hei! Apa maksudmu?! Stop it, stupid girl!

Tindakan frontal Len Fan terhenti, lebih tepatnya terpaksa berhenti karena ‘senjata bantal’nya telah habis.

Namja itu menggeram, ia lalu melemparkan sehelai handuk yang tergantung di sampingnya kemudian melemparkannya pada Len Fan. “Lekaslah mandi, aku tidak ingin membawa-bawa gadis bau! Kita akan ke rumah sakit untuk mengobati kakimu.”

“A.. ap..”

“Berhenti protes dan cepat lakukan yang kuperintahkan!” tegas Tao yang langsung membuat Len Fan bungkam.

Len Fan mengerucutkan bibirnya, sebal. Ia hendak kembali memprotes, namun hal itu spontan ia urungkan ketika mengingat perkataan Tao baru saja. Ke rumah sakit untuk mengobati kakinya katanya? Hei, ada angin apa seorang Huang Zi Tao itu jadi peduli padanya?

Dan ngomong-ngomong hari ini ia terbangun di atas ranjang, kalau bukan Tao yang memindahkannya, lalu siapa lagi? Benar tidak?

Tanpa Len Fan sadari, seulas senyum terbentuk di bibir tipisnya.

_________

Anne menggengam erat dorongan kursi roda yang dingin itu, sesekali ia merendahkan badannya sekedar untuk melihat seseorang yang duduk di atas kursi roda itu, seorang namja bernama Zhang Yi Xing atau yang biasa ia panggil Lay. Dan namja itu masih saja diam dengan tatapan kosongnya yang lurus, tanpa sedikitpun menoleh ataupun berbicara padanya.

Sembari terus mendorong pelan kursi roda itu, Anne tersenyum masam. Setidaknya ia berpikir lebih baik begitu daripada Lay yang ia temui sebelumnya, Lay yang kacau dan tampak seperti orang yang nyaris gila.

Lay sadar setelah dua hari terus tertidur di rumah sakit, namun nampaknya kondisi mental namja itu juga belum sepenuhnya pulih. Dokter bilang, Lay hanya perlu waktu dan istirahat lebih untuk menenangkan gejolak hatinya—yang entah apa. Anne sendiri tidak tahu harus berbuat apa, misalnya seperti menghubungi keluarga Lay. Tidak bisa, ia bisa dibilang baru mengenal Lay, tentu saja namja itu belum bercerita sebanyak itu padanya. Oleh karena itu, sampai saat ini Anne memutuskan untuk merawat dan menjaga Lay seorang diri.

Anne merasa memiliki banyak hutang budi terhadap namja itu. Lay yang menolong dan menghiburnya di saat ia tengah kehilangan akal sehat dan nyaris—berhasil—bunuh diri. Ditambah dengan hal lain seperti kejadian di bawah pohon ek itu, ketika Lay melamarnya …Hei, kenapa wajah Anne berubah merah begitu mengingatnya? Oh, pasti ada yang tidak beres dengannya.

Anne mengarahkan kursi roda Lay ke taman yang terletak di tengah-tengah rumah sakit. Taman yang cukup besar dengan tumbuhan-tumbuhan yang beraneka ragam, taman yang tenang dan sejuk yang tak jarang terdengar suara kicauan burung. Hanya nampak beberapa orang yang turut menikmati keindahan taman itu, maklum mengingat memang masih pagi.

“Tamannya indah sekali kan, Lay?” tanya Anne dengan nada yang dibuat seriang mungkin.

Tidak ada jawaban, hanya terdengar bunyi roda yang bergesekan dengan tanah. Anne memaksakan sebuah senyum. Yeoja itu lantas kembali mendorong kursi roda Lay di tengah keheningan yang menyelimuti keduanya. Anne membawa Lay ke tengah-tengah taman, tempat di mana sebuah pohon besar berdiri kokoh.

Seraya berusaha memasang wajah seceria mungkin, Anne berlari mendekati pohon itu. Ia melambaikan sebelah tangannya ke arah Lay meskipun jarak di antara mereka tidak terlalu jauh. “Lay, kau bisa mendengarku kan? Kalau iya, beritahu padaku apa ‘latihan’ yang kau katakan sebelum ini berlaku bagi semua pohon?”

Tentu saja tidak ada jawaban, karena yang ditanya hanya menatap kosong seseorang di hadapannya, tanpa berkedip. Anne mendesah, ia berharap semoga ia tidak terlihat seperti orang tolol yang berbicara sendiri. Yeoja itu lalu memilih untuk memenggal jarak di antara dirinya dan Lay. Anne duduk berjongkok di hadapan Lay, ia mengangkat wajahnya dan menatap lurus manik kecoklatan yang di miliki namja itu.

“Lay, apa kau juga ketakutan begitu melihat mataku? Apa kau pernah merasakan suatu perasaan tidak nyaman ketika kau berada di sampingku? Apa kau … takut padaku?”

Meski tahu kalau pertanyaannya tidak akan dijawab, Anne masih berusaha untuk terus mengajak Lay berbicara. Ia seperti sudah kehabisan akal, tidak tahu lagi apa yang harus ia perbuat untuk membuat Lay kembali membuka hatinya, untuk berbicara dan menjawabnya.

“Aku … Aku tidak pernah diinginkan, bahkan kedua orangtuaku tidak menginginkan keberadaanku. Mereka membuangku di panti asuhan.” Entah apa yang membuat Anne tiba-tiba ingin bercerita kepada Lay, sejujurnya ia hanya ingin beban yang ia pikul selama ini meringan meski sejenak. Meski seandainya Lay sama sekali tidak merespon perkataannya, tidak apa, dia tidak akan apa-apa selama namja itu masih mendengarnya. Ya, Anne yakin sekali kalau Lay mendengarnya. Cukup didengarkan saja dan ia akan merasa baik-baik saja, sederhana seperti itu.

“Aku sangat berterima kasih kepada keluarga Wu yang telah mengadopsi aku, terutama kepada Kris yang memilihku untuk menjadi adiknya dibandingkan dengan anak-anak lain.” Anne tersenyum mengingat kenangan-kenangan masa kecilnya yang pahit manis dan kini tengah membanjiri otaknya, “Aku tidak tahu kenapa Kris malah memilihku yang notabene adalah anak yang menakutkan dan tidak diinginkan orang lain. Yang lebih memilih untuk tenggelam dan tak terlihat di kerumunan orang daripada harus menunjukkan diri. Namun aku bersyukur, sejak bertemu dengan keluarga Wu, aku merasa memiliki keluarga, dan aku merasa diinginkan.”

Anne berdecak kesal ketika tiba-tiba angin menerpa rambutnya dan membuatnya berantakan. Seusai merapikan rambut pendeknya sejenak, Anne kembali bercerita dan memasang senyumnya ke arah Lay. “Namun setelah itu tentu saja hidupku tidak semudah yang aku bayangkan awalnya. Karena masih banyak orang di luar sana yang harus aku temui, yang memasang wajah ketakutan ketika bertemu denganku, yang bahkan berani mengerjai dan menggencetku. Semua tekanan itu bahkan sempat membuatku kehilangan akal sehat dan berniat …” Anne tertawa pelan, menertawakan dirinya sendiri yang benar-benar tolol saat itu, “Bunuh diri.”

“Aku bodoh, bukan? Yah, meskipun aku berusaha terlihat dingin dan kuat di luar, namun sebenarnya aku sangat lemah dan ringkih di dalam. Menyedihkan. Terlalu menyesali kelahiranku yang menyengsarakan orang lain, terlalu lama larut dalam kesedihan karena seseorang di masa lalu, terlalu memikirkan perkataan orang lain soal diriku tanpa pernah berusaha bersyukur dan menerima keadaan dengan lapang.”

Anne menatap Lay lagi, tanpa di sangka-sangka, ia meraih tangan namja itu. Menggenggamnya erat. “Tapi aku bersyukur karena kau datang, Lay. Jujur, awalnya aku merasa kau sangat mengganggu dan sama saja seperti orang lain yang takut padaku.”

Anne tersenyum, “Namun ketika kau menolongku dan memarahiku yang benar-benar kacau saat itu, pandanganku terhadapmu mulai berubah. Segala yang kau lakukan untukku terasa begitu manis dan indah. Kau yang memaksa menggendongku berkeliling kota London, membawaku ke tempat yang aku suka, dan kau ‘melamarku’.”

“Kau membuatku mengingat perasaan yang membuatku hidup kembali. Kau membuatku merasa diinginkan, Lay” kata Anne yakin, ia merasa tidak pernah seyakin ini sebelumnya. “Terima kasih, Lay. Terima kasih banyak untuk semua.”

Anne menempelkan dahinya di tangan Lay yang ia genggam, ia lantas memohon dengan sepenuh hati, “Tolong, kembalilah seperti saat itu. Tolong, jangan biarkan aku merasa sendiri lagi. Bicaralah dan tersenyumlah padaku.”

Sejenak keheningan menyeruak di antara keduanya.

Anne tersentak begitu genggaman tangannya di balas oleh Lay, membuat jari-jari mereka kini saling bertautan satu sama lain. Anne mengangkat wajahnya. Ia merasakan jari-jari namja itu dingin, sedingin dan sekaku wajahnya yang sekarang. Namun sinar matanya telah kembali, tidak sedingin dan sekosong sebelumnya. Mata teduh itu telah kembali dan menatap lekat ke arah iris kebiruan milik Anne.

Dan Anne tidak bisa menahan air matanya lagi, turun dengan sendirinya membasahi pipi putihnya. Yeoja itu bahkan sampai harus menutup mulutnya dengan sebelah tangan agar isak tangisnya teredam. Ia berusaha menghapus air mata di pipinya, namun sebuah tangan menghalanginya. Anne terkesiap begitu jari telunjuk Lay tiba-tiba terangkat dan mengusap lembut air matanya.

Kemudian Anne tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya, ia terlalu terkejut untuk mempercayai bahwa namja di hadapannya mulai tersenyum. Senyum yang sangat tipis, namun tetap meninggalkan lesung pipi khas namja itu. Senyuman yang terasa sangat manis bagi Anne.

Anne tidak tahu bagaimana senyum namja itu bisa menular padanya. Senyum yang menanggalkan kesedihan dan beban yang selama ini dipikulnya.

_________

“Ada apa dengan mobilmu?”

“Seseorang yang jahil membuat keempat bannya bocor. Hei, aku kan sudah mengatakannya padamu kemarin. Kenapa masih bertanya?” tukas Tao dengan nada kesal, kesal karena ia terpaksa harus mengingat lagi soal mobilnya karena pertanyaan Len Fan.

“Pffttt.” Len Fan tertawa, namun ia hentikan segera begitu Tao memasang death glare ke arahnya. “Kau mengoceh dalam bahasa Inggris kemarin, dan aku tidak mengerti sama sekali. Oleh karena itu, berkatalah dalam bahasa Mandarin selagi kau berbicara denganku.”

“Jadi kau nekat datang ke London dengan bahasa Inggrismu yang pas-pasan seperti itu?” tanya Tao sembari menoleh sekilas ke arah Len Fan.

Len Fan mengangguk, sementara Tao hanya menggelengkan kepalanya pelan. “Kau bisa dalam bahaya kalau tidak mengerti sama sekali seperti itu.”

Len Fan lantas tersedak ludahnya sendiri, ia terbelalak dan menatap Tao cepat. Tunggu, apakah barusan Huang Zi Tao tengah menghkhawatirkannya? Hei, hei, ada apa dengan namja itu? Dia benar-benar aneh dan tidak seperti sebelumnya.

Apa mungkin namja itu .. kerasukan? Hiii…

Len Fan mengangkat sebelah tangannya kemudian meletakkannya di dahi Tao. Sedikit terkesiap, Tao langsung menepis tangan Len Fan, “Apa-apaan?! Kau mau mengganggu konsenterasiku menyetir? Kita bisa tertabrak nanti, bodoh!”

“Aku hanya heran kenapa kau tiba-tiba begitu baik hari ini.”

Sekilas terlihat kedua alis Tao terangkat, namun sedetik berikutnya wajahnya kembali datar. Ia tidak merespon perkataan Len Fan, ya, karena ia sendiri merasa heran. Heran pada dirinya sendiri karena semalam merelakan ranjangnya untuk Len Fan.

Malam kemarin Tao sebenarnya telah terlelap, namun entah kenapa ia tiba-tiba terjaga dan mendapati bahwa ternyata jam masih menunjukkan pukul sebelas malam. Ia melirik kursi kayu dan melihat Len Fan tengah tertidur di sana. Yeoja itu terlihat lelah dan sesekali meringis kesakitan. Len Fan memeluk tubuhnya sendiri dan menggigil, mungkin kedinginan.

Tao mengangkat alis, baru teringat kalau yeoja itu harusnya jet lag setelah penerbangan dari Seoul ke London pagi itu, ditambah dengan kaki kirinya yang terkilir pasti membuat yeoja itu tidak merasa nyaman. Awalnya, berbagai pikiran tidak rela dan gengsi mengerumuni otak Tao, namun perlahan-lahan sebuah perasaan tidak tega muncul dan meleburkan rasa gengsi itu. Membuatnya memutuskan untuk memindahkan yeoja itu dengan hati-hati untuk tidur di atas ranjang sementara ia mengalah dan tidur di kursi kayu.

Dan pagi itu dengan segera Tao menghubungi Henry lewat telepon penginapan mengingat ponselnya tidak bisa digunakan tanpa adanya sinyal. Ia meminta Henry untuk menyewakan mobil untuknya dan mengirimkannya ke hotel tempatnya berada. Dengan rela, ia harus meninggalkan Audi hitam kesayangannya di sana sampai petugas bengkel selesai memperbaikinya.

Semua itu untuk membawa Len Fan ke rumah sakit. Dan hei? Benar juga, buat apa Tao repot-repot menyewa mobil selagi Audi-nya diperbaiki hanya untuk mengantar yeoja itu ke rumah sakit?

Tao tidak ingin membuat Len Fan kesakitan lebih lama, mungkinkah begitu?

Entahlah. Tao sendiri berpikir bahwa ia hanya tidak ingin tamu ibunya itu—yang sekarang berada di bawah tanggungjawabnya—merasa tidak nyaman.

Well, sesungguhnya Tao hanya belum menyadari perasaannya yang mulai peduli pada Len Fan.

________

Tao berusaha untuk tidak menghiraukan bisik-bisik orang di sekelilingnya begitu melihat ia tengah menggendong Len Fan di punggungnya. Mungkin ia terlihat menggelikan saat ini, dengan terpaksa ia harus menanggalkan harga dirinya sejenak. Ia hanya berharap tidak akan bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya yang mungkin akan menertawakannya.

“Maaf karena selalu merepotkanmu. Kalau kau membawaku langsung menemui bibi Huang, pasti aku tidak akan begini menyusahkanmu.”

Ucapan yang baru saja dilontarkan Len Fan membuat langkah Tao terhenti, “Kau minta maaf? Kau tidak sedang demam kan?”

Bibir Len Fan mengerucut, “Tentu saja tidak. Aku serius!”

Tao melanjutkan langkah lebarnya menyusuri lorong rumah sakit, “Tolong jangan terlalu banyak menduga dan berharap. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Karena kau tamu ibuku sementara saat ini kau berada di bawah tanggung jawabku. Dan ingatlah, aku tetap tidak akan membiarkanmu bertemu dengan ibuku.”

Mendengar itu, Len Fan mendesah keras, entah kenapa tiba-tiba rasa kesal membuncah di hatinya. “Tentu saja. Aku kan juga menolak perjodohan terselubung itu. Aku kan sudah punya pacar!”

Kedua alis Tao terangkat, ia lantas berujar dengan nada mengejek, “Oh ya?”

“Tentu! Namanya Kim Jong Dae, dia adalah penyanyi rookie di Korea Selatan. Dan kau tahu, dia sangat tampan dan lembut.” Entah atas dorongan apa Len Fan mengatakan hal seperti itu, padahal ia sendiri sadar bahwa ia bukanlah kekasih dari Kim Jong Dae.

Hal yang barusaja dikatakan Len Fan itu entah kenapa menyulut rasa kesal di hati Tao, “Sombong sekali, aku juga punya pacar! Dia sangat cantik dan tinggi, dia seorang model yang sering muncul di majalah. Namanya Victoria Song.” balas Tao tidak mau kalah.

“Jong Dae punya suara emas yang sangat enak didengar!”

“Victoria bisa acrobatic dance, dia juga mahir beberapa tarian tradisional Cina!”

“Jong Dae itu … bla bla bla ..”

“Victoria itu …bla bla bla ..”

Selama perjalanan menuju ke ruang dokter yang akan memeriksa kaki Len Fan, yeoja itu dan Tao hanya berdebat tidak jelas tentang seseorang yang sebenarnya bukan pacar dari keduanya. Keduanya saling memuji pacar bohongan masing-masing tanpa mau kalah satu sama lain.

Namun ucapan dan langkah Tao tiba-tiba terhenti. Terhenti karena ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya dan selalu menjadi mimpi buruk baginya. Seseorang dengan rambut cokelat bergelombang yang kini berdiri tidak jauh di depannya, dan tengah tersenyum kepadanya. Seseorang yang mampu membangkitkan setiap kenangan masa lalunya yang menyakitkan dan berusaha ia kubur jauh-jauh di dalam hatinya.

Seseorang bernama Victoria Song.

________

Adalah hari minggu yang teduh ketika Tao pertama kali berjumpa dengan yeoja itu, yeoja yang berjalan anggun di atas catwalk dan mampu membuat Tao terpana hanya dalam waktu beberapa detik saja. Pandangan Tao pun tidak sedikitpun teralihkan dari yeoja berambut Hazel yang tengah memamerkan pakaian bertema vintage hasil karya desainer ternama itu.

Yeoja yang kemudian Tao ketahui bernama Victoria Song.

“Apakah kau yang bernama Victoria?” tanya Tao dengan nada gugup begitu ia telah berhasil menemukan Victoria di antara sekian banyak orang di backstage.

Yeoja anggun bernama Victoria itu mengangkat wajahnya kemudian balas menatap Tao dengan alis berkerut, “Yes, I am.”

Tao tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum malu-malu, ia lantas menyodorkan sebelah tangannya, bermaksud mengajak Victoria berkenalan. “My name is Huang Zi Tao. Ehm… You’re so beautiful in catwalk today. So, I .. I want to be your friend. It sounds great, right?” ucap Tao tanpa mampu menghilangkan nada gugup dalam bicaranya.

Victoria mengangkat alis cokelatnya selama sepersekian detik kemudian tersenyum, senyum yang entah kenapa membuat Tao berpikir ada sesuatu di baliknya. Victoria membalas jabatan tangan Tao, “Victoria Song.” kata yeoja itu lagi sambil tersenyum lagi, “Of course we can be friend. Yeah, as long as you have it.” Victoria mengangkat tangan kirinya, menggesek-gesekkan jempol dan telunjuknya di udara.

“Mo … Money?”

Victoria tertawa remeh kemudian menelengkan kepalanya, “Of course. Women can’t live without money, dear Huang Zi Tao.”

Mendengar tawa sarkasme itu, Tao hanya terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri. Sebenarnya, uang sama sekali bukan masalah baginya. Karena Huang Zi Tao adalah anak dari pemilik perusahaan besar yang juga memiliki cabang hampir di seluruh dunia. Namun, yang menjadi pikiran Tao adalah benarkah yang dibilang oleh Victoria? Benarkah sebuah pertemanan harus dimulai dengan err…. uang?

“Hello, boy? Hello!” kata Victoria seraya melambai-lambaikan tangannya di depan muka Tao, membuat namja itu tersentak dari lamunannya. Victoria mendengus, “Ok, I will go. Kalau kau memang tidak mau dengan penawaran yang aku berikan, aku akan pergi.”

Victoria baru akan beranjak dari tempatnya duduk dan bermaksud pergi meninggalkan Tao, namun namja itu lebih dulu meraih lengannya dan menahannya.

“Okay, aku akan berikan semua yang kau mau.” Victoria hanya tersenyum puas mendengar jawaban sungguh-sungguh dari Tao.

Setelah perjumpaan pertama itu, keduanya menjadi lebih sering berhubungan dan bertemu. Entah untuk makan siang bersama, shopping, berjalan-jalan, atau sekedar menghabiskan waktu bersama. Tao benar-benar merasa nyaman berada di dekat Victoria, meskipun jauh di dalam hati ia menyadari bahwa yeoja itu mampu bertahan di sampingnya atas dasar materi. Namun ia berusaha mengenyahkan pikiran buruk yang ia timbun sendiri itu, ia rela saja mengeluarkan banyak uang untuk yeoja itu. Prinsipnya, ia akan mengorbankan apapun yang ia miliki asalkan Victoria menjadi miliknya dan selalu ada di dekatnya.

Tao benar-benar telah jatuh cinta pada Victoria.

Dan hari itu adalah minggu yang sangat menyedihkan bagi Tao. Minggu yang mengawali minggu-minggu terburuk di dalam sejarah hidupnya.

Saat itu, namja bertubuh tinggi itu tengah berjalan-jalan menyusuri jalanan kota London yang cukup sepi, mungkin karena udara sedang dingin-dinginnya akibat hujan gerimis yang baru saja turun ke bumi. Namja itu menutup payung hijaunya kemudian memasuki sebuah toko perhiasan. Untuk apa? Untuk apalagi kalau bukan membelikan kado ulang tahun Victoria beberapa minggu lagi.

Dan apa yang akan Tao berikan nanti? Sebuah kalung mahal, cincin emas 24 karat, ataupun sebongkah berlian? Entah, yang jelas uang Tao sangat mencukupi untuk membeli bahkan ketiga benda yang memiliki harga mencekik itu.

Setelah lama berselang Tao terus-terusan memilih dan berkutat di toko perhiasan itu, akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah kalung berlian yan —menurut penjaga toko—adalah jenis kalung yang paling disukai wanita dan jarang dimiliki.

Senyum tak lepas dari wajahnya, Tao melangkah lebar-lebar menembus hujan dengan mengantongi sekotak kalung berlian yang harganya selangit. Ia sangat yakin bahwa Victoria pasti akan sangat senang menerimanya, memikirkannya saja sudah mampu membuatnya tersenyum sendiri. Yah, meskipun yeoja itu tidak menghubunginya sama sekali akhir-akhir ini.

 Tao berniat memasuki parking area tempat mobilnya terparkir, namun entah kenapa sebuah toko boneka di samping tempat itu menarik perhatiannya. Mungkin saat itu ia berpikir bahwa memberi hadiah tambahan bukanlah masalah, membuatnya memutuskan untuk memasuki toko boneka itu.

Pertama kali ia menginjakkan kaki di sana dan mendapati napasnya tertahan dalam hitungan detik. Ia melihat Victoria bersama dengan seorang namja yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya. Dan keduanya terlihat begitu akrab dan mesra di mata Tao.

“Kau mau pilih yang mana?”

“Kau serius menyuruhku memilih? Kalau aku memilih semua boneka yang ada di sini apa kau akan membelikannya untukku?”

Namja di hadapan Victoria yang memiliki wajah tampan itu hanya tersenyum geli, “Berhenti bercanda nona Song. Apa kau mau membuat gajiku ludes dalam sekejab?”

Victoria hanya tertawa mendengar penuturan dengan nada terluka yang dibuat-buat dari si namja, “Berhenti membuat lelucon, Cho Kyu Hyun. Kau tahu sendiri aku tidak akan meminta apa-apa darimu!”

“Oh, ayolah. Biarkan untuk kali ini saja aku membelikan sesuatu untukmu, selama ini selalu kau yang mentraktir ataupun membelikan sesuatu untukku. Sekarang giliranku. Aku tahu aku miskin, tapi kau tidak perlu merasa tidak enak padaku seperti itu.” ujar si namja bernama Kyu Hyun itu dengan nada tegas.

Victoria hanya tersenyum kemudian menatap Kyu Hyun lekat-lekat, “Kau tidak perlu merasa seperti itu.” Victoria meraih tangan Kyu Hyun kemudian menggenggamnya erat, “Tetaplah di sampingku, itulah hadiah yang aku inginkan darimu untuk ulang tahunku. Hanya itu.”

Dan Tao mendengar semuanya, gelak tawa Victoria dengan namja itu, senyum penuh suka cita yang saling mereka lemparkan satu sama lain. Semua hal manis yang membuat hatinya teriris pelan-pelan dan dadanya sesak seketika.

Namja itu miskin, seperti katanya sendiri. Tao bahkan bisa membelikan seluruh boneka di toko itu untuk Victoria, tidak seperti namja miskin itu. Tapi kenapa yeoja itu bisa tertawa lepas seperti itu di hadapan namja bermarga Cho itu? Kenapa Victoria tidak bisa seperti itu di hadapan Tao?

BRAAAAKKKKK!!

Victoria dan Kyu Hyun tersentak begitu tiba-tiba terdengar suara benda jatuh yang sangat keras. Begitu mereka menoleh ke sumber suara, alangkah terkejutnya Victoria begitu melihat Tao tengah berjalan ke arahnya dengan tatapan garang. Di belakang namja itu telah jatuh berbagai perabotan rumah dari bahan kayu dan kaca yang juga di jual di toko itu. Mungkin sumber polusi suara yang baru saja terdengar.

“Apa yang kau lakukan dengan namja itu Victoria?”

Karena masih terkejut dengan kemunculan Tao yang tiba-tiba, Victoria menjawab agak lama kemudian. “A..apa maksudmu?”

“Berhenti bersikap naïf. Namja itu miskin seperti katanya tadi, tapi kenapa kau mau berdekatan dengannya seperti itu!” teriak Tao sarkastis seraya menunjuk Kyu Hyun yang turut tersentak bersama Victoria.

Victoria menurunkan tangan Tao yang terangkat dengan sedikit kasar, “Memangnya kenapa, Tao? Kurasa tidak ada yang salah dengan ini semua.”

“Tentu saja salah! Kau bilang sendiri kalau pertemanan harus dimulai dengan uang, lalu bagaimana dengan namja itu? Dia sendiri bilang kalau dia miskin! Apa dia sanggup membayarmu untuk jadi temanmu sama sepertiku!?”

Penuturan Tao baru saja membuat Victoria tersentak, kemudian menoleh ke arah Kyu Hyun yang menatapnya tidak percaya. Yeoja itu menggigit bibir kemudian menghembuskan napasnya yang sedari tadi tertahan, kemudian berkata dengan yakin.

“Maaf. Aku memang salah. Memang aku hanya mempermainkanmu, aku akui itu. Aku hanya menginginkan uangmu, aku hanya memandangmu sebagai bank-ku.”

Dalam sekejap Tao merasakan dadanya sesak.

“Dan alasanku tidak menghubungimu akhir-akhir ini adalah karena aku telah memilih dan menentukan hidupku sendiri, menentukan seseorang yang penting untukku.” Victoria menoleh ke arah Kyu Hyun sekilas, kemudian berbalik dan menatap Tao, “Maafkan aku Tao, memang akulah yang jahat. Terserah kau mau menyebutku apa setelah ini, terserah kau mau membenciku atau apalah. Tapi ketahui dan sadarilah, cinta tidak bisa dibeli dengan uang.

“Mulai saat ini aku akan pergi dari kehidupanmu, karena aku telah bersama Kyu Hyun dan aku bahagia bersamanya. Dan tolong jangan pernah mencariku lagi.”

Victoria menggenggam tangan Tao, “Sekali lagi maafkan aku.”

Dan ketika yeoja itu melepaskan genggaman tangannya dan berjalan menuju Kyu Hyun, meninggalkan Tao yang hanya terdiam mematung di tempatnya berdiri, Tao merasa hatinya hilang, lenyap saat itu juga.

Namja itu jatuh terduduk, menyesali semua kebodohannya.

Apakah yang ia berikan tidak cukup? Apakah ia harus memberikan lebih dan lebih lagi untuk Victoria? Apa yang harus ia lakukan untuk membuat Victoria menjadi miliknya?

Selama ini tidak ada hal yang tidak bisa didapatkan Tao, gagasan itu jugalah yang membuatnya mencamkan dalam hati kalau Victoria harus jadi miliknya, apapun yang terjadi. Ia selalu menyakini bahwa obsesi hidupnya hanya satu, baik dulu, kini dan nanti, ya, Victoria Song.

_________

“Jadi yeoja tadi yang bernama Victoria?”

Tao hanya diam, sama sekali tidak berniat menanggapi pertanyaan Len Fan padanya. Sementara Len Fan hanya mengerucutkan bibir karena pertanyaannya tidak diabaikan. Yeoja itu lantas hanya menatap lekat-lekat ke arah kakinya yang baru saja diperban oleh dokter.

“Kau berbohong, Tao! Kau bilang dia kekasihmu, tapi kenapa dia malah mengatakan dengan ceria kalau dia senang kau sudah punya pacar baru, ya, hei dia mengira aku pacarmu! Itu artinya dia bukan pacarmu!” Len Fan setengah berteriak kepada Tao yang masih belum juga berminat menghiraukannya. “Kau tahu, Victoria memang benar sangat cantik dan dia juga ramah, bahkan kepadaku yang baru ia kenal. Aku benar-benar heran kenapa kau hanya diam saja tadi.”

Dan lagi-lagi namja bernama Tao itu masih saja diam.

“Kenapa kau tetap diam setelah bertemu Victoria? Apa dia punya kekuatan sihir yang bisa membuatmu bisu seperti itu!?” pertanyaan konyol yang akhirnya Len Fan lontarkan karena kesal dengan Tao.

“Hei, Tao jawab ..”

Tao tiba-tiba beranjak dari kursi tempatnya duduk, membuat perkataan Len Fan terpotong. “Aku akan menemui Victoria.”

“Eh?!”

“Aku akan berikan semua yang aku miliki padanya, semua uangku, semua hartaku.”

Len Fan mengerutkan alisnya, hei, apa yang sedang namja itu bicarakan? Uang? Harta katanya? Memangnya ia ingin memberi warisan kepada Victoria? Len Fan sungguh tidak mengerti.

“Aku akan berikan semua uangku dan ia pasti akan kembali padaku.” ujar Tao masih menatap lurus-lurus ke arah koridor rumah sakit yang terbentang di depannya. Nada bicaranya terdengar begitu yakin dan percaya diri.

Mendengar itu, Len Fan hanya menaikkan alisnya tinggi-tinggi. Di benaknya menari-nari berbagai pertanyaan, seperti mungkinkah seorang Victoria meninggalkan Tao hanya karena uang? Oh, kederangannya buruk sekali bukan?

“Dan dia harus melakukannya karena aku akan membayarnya, aku akan membuatnya menjadi gadis paling bahagia dengan uangku. Dan kemudian dia pasti akan mencintaiku.”

Tao hendak melangkahkan kaki panjangnya, namun Len Fan lebih dulu menarik lengannya, menahannya pergi. Tao hanya berbalik kemudian menatap Len Fan dengan alis berkerut tidak suka.

“Aku memang tidak tahu masalahmu. Tapi aku rasa itu sama sekali tidak benar.”

Tao berusaha menepis genggaman tangan Len Fan, namun yeoja itu masih enggan melepaskannya dan malah semakin menajamkan tatapan dan setiap perkataannya pada Tao.
“Uang tidak akan membuat dia mencintaimu selamanya, uang hanya akan membuatnya bertahan sedikit lebih lama. Ketahuilah itu, Huang Zi Tao.”

Mendengar itu, Tao hanya memutar bola matanya. “Kau, tidak usah ikut campur! Kau bahkan tidak tahu masalahku. Jangan berkata seakan-akan kau telah lama mengenalku!”

Len Fan sedikit tersentak begitu Tao membentaknya, “Dan asal kau tahu, kau tidak lebih dari seorang gadis yang membuat hariku jadi jauh lebih buruk! Kau hanya pembawa sial!” kata Tao sarkasme dengan penekanan di setiap kata-katanya.

Namja itu melepaskan genggaman Len Fan di tangannya dengan kasar, dan tanpa berkata-kata lagi ia beranjak meninggalkan yeoja yang masih terkesiap dengan apa yang baru saja ia katakan.

Len Fan sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja Tao katakan padanya. Kata-kata yang membuat rasa nyeri di dadanya semakin menjadi-jadi dan tidak tertahankan lagi. Terlalu menyakitkan.

_________

Len Fan tidak tahu kenapa tiba-tiba setetes air jatuh perlahan dari sudut matanya, mungkin karena hatinya yang sakit akibat perkataan seseorang atau karena ditinggalkan sendiri di tengah-tengah tempat yang sangat asing baginya. Tempat di mana orang-orang mengoceh panjang lebar dengan bahasa yang sama sekali tidak ia mengerti. Apalagi hidungnya dipaksa mencium bau rumah sakit yang menjadi salah satu bau yang paling ia benci seumur hidupnya, ya, rumah sakit adalah tempat ia berada sekarang.

Yeoja itu terpaksa hanya bisa meratapi hidupnya, ia duduk di salah satu bangku berderet di koridor rumah sakit seraya tidak berhenti berharap kalau Tao akan datang menjemputnya kembali. Membawanya pergi dari tempat yang menyiksanya itu. Namun kenyataannya, namja itu tidak juga segera kembali. Tao pergi menemui Victoria. Ya, Victoria, dan meninggalkannya begitu saja. Dan tidak memikirkan Len Fan sama sekali, ayolah!

Len Fan menggigit bibir dan menghentakkan kakinya keras ke lantai karena kesal, namun yeoja itu spontan terpekik begitu kakinya kembali terasa sakit. Yah, baru saja diobati dan dipijit oleh dokter, tapi malah ia sendiri yang kembali membuat pergelangan kakinya terasa sakit, bodoh!

Sambil terus berdecak kesal Len Fan menatap lekat-lekat perban di kakinya, ia menyentuh dan memijitnya perlahan, berharap rasa sakitnya akan berkurang. Samar-samar ia mendengar suara kursi roda yang menuju ke arahnya, suara yang entah kenapa mampu memunculkan rasa penasaran Len Fan dan membuat gadis itu mengangkat wajahnya cepat.

Dan tepat di detik yang sama, ia melihat seseorang. Seseorang yang duduk di atas kursi roda dengan tatapan kosong, seseorang berwajah Asia yang ia rasa sangat familiar dan seperti pernah ia temui sebelum ini. Ia menilik lekat-lekat namja yang duduk di atas kursi roda yang didorong oleh seorang yeoja berambut hitam legam itu.

Kedua bola mata Len Fan spontan membulat sempurna begitu otaknya selesai mencerna dan mampu memahami siapa sebenarnya seseorang yang duduk di atas kursi roda itu. Tanpa pikir panjang, ia menanggalkan seluruh rasa malunya dan berteriak keras di lorong rumah sakit itu.

“Yi Xing gege!!”

____TBC____

Author gapernah tau darimana ide cerita absurd ini berasal, yang jelas awal bikin part ini udah nggak ngeh, udah nggak yakin sama ceritanya nanti. ya akhirnya jadi kayak gini, absurd dan geje kayak biasanya.

Tapi seenggaknya author harap, reader bisa dapet sesuatu dari sini, kalo uang bukan segalanya. Kalau udah cinta ya cinta, gapeduli si doi punya duit apa enggak. Rasa nyaman berada di samping si dia bukan karena uang kan?😀

Oke at least, author tetep butuh saran dan kritik dari kalian nih. Jangan lupa untuk ttep komen, buat semua reader yah. Seenggaknya hargailah author yang sudah meluangkan waktu bermain dan tidurnya untuk bikin fanfic. Author ga minta dibayar, cuma butuh dihargai aja. Dan cara kalian ngerhargai cukup kasih kritik, saran, komen dan like. Gampang kan?

See ya in the next chapter nee? It will be Sehun’s part, the last part. Yay!!!:D

Ahhh. and don’t forget to visit my wp here

follow me @fhayfransiska

Don’t forget to leave your comment and like this ^^b Just appreciate what you feel and I’ll accept all of it except bashing and flaming^^ Kamsahamnidaaaaaa😄

143 responses to “[Tao’s] Sunday Sick

  1. waaah akhirnya datang juga si ‘bocah tajir songong gagal stay-cool titisan kungfu panda’!!

    Dear Tao, jikalau cinta bisa dipertahankan dengan uang, aku tau itu pasti kamu.
    Itu kan sebabnya kamu nempel sama Kris-Suho?? /slapped/banned/blocked this reader/

    Tao-Victoooo uh noooo my feeling~…ah aku setuju aja mah. BAHAHAHAHAAAA

  2. Oh, Tao’s story ini juga belum selesai ya.
    Tao gege jg msh bersikeras ingin bersama Vic eonni, yah walaupun uang tak bisa berlaku u/ cinta gege terhadapnya itu~

    Sippo. Still, keep writing n fighting ne!!^^
    Walau melihat apa yg terjadi saat ini, memang sungguh miris n hanya bisa menunggu klarifikasi serta statement resminya….
    Tao ge kasihan gitu, terpukul banget dia #malahcurhat hehe
    Ditunggu side story yg lainnya ya😉

  3. Annyeong thor!! Aku pembaca baru fanfic author! Sebenernya aku udah baca fanfic author yang sebelumnya.Tapi aku baru komen disini.Maaf ya thor ._.v .Fanfic author seru banget.Yang Tao sama Lay gak ada sequelnya ya thor? Fanfic author enak dibaca.Next nya ditunggu ya thor! Fighting! ‘o’9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s