A ‘Good’bye [Part 0.2]

A 'good'bye

Credit Poster       : sasphire.wordpress.com

Title            : A ‘Good’bye [Part 0.2]

Author       : fransiskanoorilfirdhausi /@fhayfransiska (soo ra park)

Genre         : Romance, Fantasy, Friendship, Bit Comedy

Length       : Series

Previous part : | Part 0 | Part 0.1

Cast            :

  • Kim Nam Joo
  • Xi Lu Han
  • Oh Se Hun
  • Kim Joon Myun a.k.a Su Ho

Allo readerdeul ^^

Sempet lupa pernah ngepost ini ff, pas liat folder di lepi tiba” nemu n udah hampir finishing. Alhasil sekalian langsung saya selesaiin n post sekarang, ga nunda” deh males. Haha. Sorry for late update, nee? ^^v

This plot is mine, but casts are God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good reader please, don’t forget to give me oksigen (Read-Comment-Like)^^

________

Sampai detik ini pun aku masih ingin percaya …

Pada ketulusannya, pada pengharapannya, pada senyumnya, pada tawanya ..

Pada segala yang telah ia lakukan untukku,

Aku selalu ingin percaya dan meyakinkan diriku sendiri bahwa semuanya salah …

Kenyataan itu salah, kebenaran tentangnya itu hanyalah sebuah kesalahan..

Setidaknya, itulah harapanku satu-satunya..

_______

            Senyum tidak pernah sedetikpun lepas dari wajahnya yang cerah dan terbilang—cukup—cantik, rambut lurus sebahunya turut terkibas-kibas ceria seakan turut merayakan kebahagiaan yang kini memenuhi hatinya, bahkan sesekali ia menari-nari pelan, sesuatu yang jarang sekali ia lakukan, melompat ke sana ke mari seperti orang bodoh. Oh ralat, seperti orang gila.

Setidaknya begitulah yang tercetus di dalam otak Lu Han begitu melihat Nam Joo yang kini tampak kelewat bahagia. Gadis itu bahkan mengajak boneka beruang putihnya berbicara, juga berdansa. Gadis itu juga menyapa setiap orang yang lewat di depan rumahnya dengan wajah berbinar bahagia, membersihkan setiap sudut rumahnya dan tidak membiarkan debu sedikitpun tertempel di sana. Nam Joo yang sebelumnya pemalas, kini rajin membaca buku dan belajar. Ia juga lebih memilih memakan makanan berat daripada makanan cepat saji seperti yang selalu ia makan sebelumnya. Pakaian yang dikenakan Nam Joo juga kini lebih rapi dan modis, tidak kuno dan kaku seperti sebelumnya. Pada intinya, gadis itu berubah drastis!

Benar-benar, kalau orang sudah jatuh cinta, lain benar ceritanya! Batin Lu Han kesal.

Tunggu dulu, kesal? Kenapa Lu Han harus merasa kesal? Bukankah wajar saja jika gadis itu jatuh cinta dan bersikap selayaknya orang yang memang sedang jatuh cinta?

“Lu Han ssi! Kajja, temani aku!”

Lamunan Lu Han buyar ketika Nam Joo tiba-tiba menarik-narik ujung baju putihnya. Gadis itu kini tengah tersenyum manis sekali kepadanya, senyuman yang sebenarnya membuatnya sedikit jengah dan bergidik sendiri. Karena ia tahu, kalau Nam Joo mulai menunjukkan senyuman ‘maut’nya itu maka pasti ada sesuatu di baliknya, yah, seperti permintaan-permintaan yang kalau ditulis akan membuat tanganmu pegal saking banyaknya.

“Apa!?” teriak Lu Han sambil melebarkan kedua matanya, “Apa lagi yang mau kau minta untuk kali ini?”

Nam Joo mendesis kemudian mengerucutkan bibirnya, “Aku tidak minta apa-apa. Aku hanya ingin kau menemaniku berlatih di taman yang terletak tidak jauh dari sini.” Nam Joo mengangkat tas biolanya, menunjukkannya tepat di muka Lu Han. “Kurasa alangkah baiknya kalau ada seseorang yang mendengarkanku berlatih, dan aku pikir mungkin kau bisa mengoreksi kesalahanku. Ya, seperti waktu itu.”

Lu Han memiringkan kepalanya, tampak berpikir. Ia kemudian mengoyang-goyangkan kepalanya pelan, menunjukkan bahwa ia tak serius berpikir.

“Ayolah, kau mendukung hubunganku dengan Se Hun, kan? Bukankah kau begitu antusias menolongku dan membuatku menjadi pacar Se Hun? Dan coba pikir, ini merupakan langkah awal yang bagus untuk menjadi semakin dekat dengan dia. Aku mohon!” kata Nam Joo memelas seraya menyatukan kedua telapak tangannya.

Lu Han mendelik. Mendukung katanya? Memangnya ia pernah berkata demikian? Seingatnya tidak.

“Aku lelah, semalam aku melakukan banyak hal. Kau pergi saja sendiri!” kata Lu Han seraya merengganggkan otot-ototnya, berupaya membuat dirinya terlihat lelah di mata Nam Joo.

Nam Joo mendengus lalu memutar bola matanya, “Banyak hal? Seingatku kau hanya menghabiskan waktu untuk melamun kemarin. Sudahlah, berhenti membohongiku, Lu Han ssi! Bergegaslah selagi kesabaranku masih tersisa, kajja!” paksa Nam Joo lagi sambil menarik paksa lengan Lu Han. Namun dengan kasar dan sigap Lu Han menepisnya, pria itu lalu membanting tubuhnya ke atas ranjang empuk berseprai biru muda polos milik Nam Joo. Ia menggeliat pelan kemudian menutup erat kedua kelopak matanya.

“Ya! Apa yang kau lakukan!? Lekaslah bangun dan temani aku!” Nam Joo menggoncang tubuh Lu Han kencang.

“Aniyaaaa!!” geram Lu Han.

“Ya! Mana janjimu, heh!? Kau bilang mau mengabulkan semua permintaanku dan ..”

“Aniyaaaa!!” potong Lu Han lalu meraih bantal di sampingnya dan menggunakan benda empuk itu untuk menutupi kedua telinganya, berusaha meredam teriakan Nam Joo.

“Lu Han! Aishh kau ini! Kalau saja aku ..”

Ting Tong!

Teriakan Nam Joo kembali terpotong, kali ini oleh suara bel rumahnya. Ia lantas mendengus kesal dan mengerutkan dahinya, siapa yang mengunjunginya di hari minggu ini? Orang tuanya? Tidak mungkin. Teman-temannya? Hmm, seingatnya ia tidak pernah membuat janji dengan siapapun. Orang usil? Oh, tapi itu juga jarang sekali terjadi. Lalu …

Nam Joo menoleh cepat ke arah pria yang kini berbaring di atas ranjangnya, “Lu Han ssi! Kau berniat mengerjaiku!?”

“Aniyaaaa!!” teriak Lu Han tidak terima dengan tuduhan tak berdasar dari Nam Joo.

Nam Joo berdecak kesal, “Aisshh, memangnya tidak ada kata lain yang bisa kau ucapkan. Ya! Kau itu ..”

Ting Tong!

Astaga, cukup! Baiklah! Nam Joo menyerah. Alangkah dan jauh lebih baik apabila ia segera beranjak sekarang untuk membuka pintu, dan kalau ia tidak menemui seorangpun di sana, maka awas saja untuk Lu Han, pria itu tidak akan selamat dan hanya tinggal nama, lihat saja nanti!

Nam Joo melangkah lebar-lebar menuju pintu depan rumahnya seraya bersungut kesal. Ketika mendengar suara bel kembali terdengar, ia hanya berdecak kesal. Dengan tidak sabar, gadis itu menarik kasar gagang pintu rumahnya yang tidak terkunci.

“Mian tapi …”

Untuk kesekian kalinya, ucapan Nam Joo tidak terselesaikan. Namun kali ini dikarenakan oleh sebuah hal yang tidak mampu ia percaya, membuatnya yang terlalu terkejut dan hanya bisa ternganga begitu melihat siapa sebenarnya yang berdiri di balik pintu.

Dia kan ..

_________

            Lu Han mengerjapkan matanya berkali-kali, nyatanya ia memang tidak mengantuk, tubuhnya juga tidak merasa lelah sama sekali. Satu hal yang ia jadikan alasan untuk tetap berbaring di ranjang Nam Joo adalah bahwa ia sama sekali tidak mau menemani gadis itu pergi ke taman untuk berlatih. Karena apa? Karena Se Hun! Ya, karena gadis itu hanya mau berlatih kalau ada alasan ‘Se Hun’ di baliknya. Gadis itu tersenyum dan tertawa karena Se Hun, setiap kali yang ada di pikirannya hanya Se Hun, Se Hun dan Se Hun, Lu Han bahkan harus berkali-kali menghela napas saat Nam Joo mulai bercerita soal pemuda idamannya itu.

Gadis itu tidak pernah bosan bercerita. Se Hun yang beginilah, yang begitulah, yang tampan lah, yang baik lah, yang manis lah, yang suka makan ramyun lah, yang suka main game ini lah itu lah, huaah! Terlalu lengkap sampai Lu Han enggan mendengar apa-apa soal pemuda itu lagi.

Dasar gadis gila! Apa yang akan terjadi nanti seandainya gadis itu tahu kalau Se Hun bukanlah seorang manusia?

Lu Han beranjak cepat dari ranjang Nam Joo, berjalan perlahan seraya membenarkan rambutnya yang berantakan. Tiba-tiba ia terdiam ketika merasakan suatu perasaan tidak enak, seakan mencekam dan berniat menelannya bulat-bulat. Lu Han tertegun, ada apa ini? Perasaan apa?

“Oh!” teriak Lu Han tiba-tiba. Pria itu langsung beranjak menuju jendela kamar Nam Joo, ia melongokkan kepalanya kemudian melihat ke arah pintu depan yang terlihat dari tempatnya berada sekarang. Dan ketika ia menyadari siapa pemuda yang menjadi tamu Nam Joo, ia hanya mendengus kesal. “Pantas saja.” katanya ketus.

Lu Han lantas menjauh dari jendela kemudian memikirkan suatu hal. Alisnya hampir menyatu karena tengah berusaha berpikir keras. Setelah agak lama berselang, pria itu melebarkan kedua matanya dan tersenyum lebar. Ia menjentikkan jarinya di udara. “Aha! Sepertinya akan menarik!”

_________

            “Oh, Se Hun-ssi.” kata Nam Joo terbata-bata. Gadis itu sendiri tengah mengontrol jantungnya yang sedari tadi serasa ingin melompat. Ayolah, masa ia tak bisa juga terbiasa dengan kemunculan seorang Oh Se Hun yang semakin sering saja di hadapannya ini?

Se Hun, pemuda itu mengenakan celana jeans panjang, sebuah kaus putih polos dan jaket yang juga dari bahan denim. Biarpun selera fashion Se Hun tergolong sederhana, namun pemuda itu tetap saja terlihat sempurna mengenakan pakaian itu. Yah, tidak salah juga jika ada orang yang menilai pakaian terlihat bagus hanya karena model yang memakai pakaian itu terlihat ‘bagus’.

“Bagaimana … bagaimana kau bisa tahu rumahku?” tanya Nam Joo kemudian.

“Hei, hei. Mencari alamat seorang siswa di sekolah kita bukanlah hal yang sulit bukan?” Se Hun lalu tersenyum renyah, “Kau ada acara Nam Joo ssi? Bagaimana kalau kita berjalan-jalan? Aku ingin kau menemaniku membeli biola baru, milikku sudah lama rusak.”

Kedua alis Nam Joo terangkat. Tunggu, apa katanya? Apakah ini ajakan kencan? Omo! Ini bukan mimpi bukan? Bukan mimpi?

Kyaaaaa! Tentu saja ini bukan mimpi!! Teriak Nam Joo dalam hati.

“Bagaimana?” tanya Se Hun ketika Nam Joo hanya diam dan memandangnya tak percaya. Ia lantas mengangkat tangannya dan melambai-lambaikannya di depan muka Nam Joo, ternyata benar kalau gadis itu tengah melamun. Nam Joo lalu tersentak dan kembali dari lamunannya.

“Ah, nee. Nee, Se Hun ssi. Nee, ah! biar aku bersiap-siap du …”

“Meong.”

Eh?

Nam Joo sontak menoleh ke arah suara tersebut berasal, lebih tepatnya ke arah seekor kucing Persia yang tengah berjalan mendekat padanya. Nam Joo terbelalak lalu mengernyit, hei, hei, tunggu dulu, sejak kapan ia memiliki …. seekor kucing?!

Tidak, tidak, sejak kapan rumahnya kemasukan kucing, hei!?

“Meong, meong.” Kucing Persia berbulu putih bersih itu lantas mengeong dan mengeluskan kepalanya ke kaki Nam Joo. Membuat gadis yang tidak terbiasa dengan kucing itu merasa geli dan sedikit terpekik.

“Kucingmu?”

“Anio. Bukan, bukan! Aku tidak pernah punya kucing!” bantah Nam Joo ketika Se Hun bertanya padanya.

“Tapi ia terlihat sayang sekali padamu, lihat!” Se Hun menunjuk kucing yang kini semakin terlihat manja, mengeluskan kepalanya berulang-ulang di kaki Nam Joo, bahkan sesekali menjilat singkat kaki Nam Joo. Gadis itu sendiri hanya bisa menahan rasa gelinya sekuat tenaga. Astaga, apa-apaan kucing ini?

Se Hun langsung berjongkok kemudian mengelus puncak kepala kucing berbulu putih bersih itu. Pemuda itu terlihat sangat menyukai binatang yang satu itu. Dan Se Hun baru akan mengangkat tubuh kucing itu—bermaksud menggendongnya—ketika kucing itu tiba-tiba menggigit tangannya dengan ganas, membuatnya sedikit terkejut dan sontak menarik tangannya balik.

“Ya, andwae!” teriak Nam Joo kaget dengan ulah si kucing. “Se Hun ssi, gwenchanayo!?” tambahnya dengan nada panik. Ia spontan menarik tangan Se Hun, lalu masih dengan rasa khawatir ia mengamati lekat-lekat permukaan tangan Se Hun yang baru saja digigit oleh si kucing. Ia menghembuskan napas lega karena tangan pemuda itu ternyata tidak terluka. Hanya terlihat bekas luka yang nampaknya tidak terlalu ketara.

“Aku tidak apa-apa.”

Seakan baru tersadar dari sikap di luar akal sehatnya baru saja, dengan cepat Nam Joo menarik tangannya yang baru saja menggenggam tangan Se Hun. Gadis itu terlihat salah tingkah. “Ah, mianhae.”

Se Hun hanya bisa menahan tawa melihat ekpresi Nam Joo yang sedang salah tingkah seperti itu. “Aku tidak apa-apa.” Se Hun melirik ke arah si kucing dan mendapati kalau hewan itu tengah menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip, atau kalau ia boleh merasa kalau kucing itu tengah menatapnya dengan tatapan garang—benci. Oh, oh.

“Siapa namanya?”

“Eh?”

“Kucingmu?”

Kedua alis Nam Joo terangkat. Kucingnya? Nam Joo melihat ke arah kakinya dan kembali mendapati kucing Persia itu di sana. “Ah namanya ….”

Siapa? Siapa namanya? Ah, Nam Joo kan tidak tahu! Kucing itu milik siapa saja ia tidak tahu. Ehm, baik pikirkan saja! Bagaimana kalau Jonathan? Kalau Fanny? Atau bahkan Se Hun!? Ah, tentu tidak, bagaimana mungkin ia memberi nama kucing nakal itu dengan nama pemuda yang ia sukai itu.

“Namanya?” tanya Se Hun lagi, namun Nam Joo masih saja berpikir.

Hmm… Kucing yang nakal. Mirip seseorang, batin Nam Joo. Seseorang? Batin Nam Joo seraya mengerutkan alis. Sepersekian detik kemudian sebuah lampu terang muncul di atas kepala gadis itu.

Aha! Kucing itu nakal seperti Lu Han! Ya, benar! Menyebalkan dan nakal!

“Namanya Lu ..” Nam Joo terdiam. Tunggu, bukankah nama Lu Han terdengar sangat aneh dan asing?

“Lu?”

“Namanya Lulu!” pekik Nam Joo kemudian dengan ceria dan tanpa banyak pikir. Gadis itu lantas menoleh ke arah kucing putih itu seraya meringis jahil. Karena Lulu adalah nama yang terdengar cocok untuk betina, sementara kucing itu entah berjenis kelamin apa. Haha.

“Nama yang bagus.” kata Se Hun sembari tersenyum. “Bagaimana kalau kita ajak dia bersama kita.”

“Eh?”

“Nee. Sepertinya akan asyik kalau berjalan-jalan bersama seekor kucing kan?”

Nam Joo hanya terdiam, terlalu terkejut dengan opini aneh yang dilontarkan Se Hun baru saja. Astaga, mana ada kencan mengajak seekor kucing bersama dua insan yang seharusnya hanya pergi dan berbahagia berdua saja? Tidak ada orang ketiga, ah bukan, tidak ada hewan ketiga.

“Nam Joo ssi?”

“Ah… ah, nee. Tentu saja Se Hun ssi.” ujar Nam Joo sembari masih berusaha menyembunyikan rasa kecewa di hatinya dengan senyum terpaksa. Gadis itu lantas memasang death glare ke arah kucing Persia berbulu lebat yang baru ia berinama Lulu itu, dan entah kenapa ia menangkap tatapan penuh kemenangan di sepasang mata kelereng milik kucing itu.

Oh astaga.

__________

             Suasana pertokoan di persimpangan jalan itu sangat ramai. Orang-orang dengan pakaian musim semi terlihat berlalu lalang. Namun banyak juga yang lebih memilih untuk duduk-duduk di café dan menikmati sajian spesial khas musim semi. Ada beberapa anak lelaki yang saling berkejaran dan tak jarang bertabrakan dengan pejalan kaki yang lain, menimbulkan decakan atau bahkan umpatan lirih. Terlihat juga beberapa pasangan yang saling mengoceh, bergandengan tangan, atau bahkan bercanda ria.

Sungguh kasihan dengan dua orang yang—mungkin—terlihat seperti pasangan itu. Si pemuda, jangankan menggandeng tangan si gadis, tangannya malah menggenggam pegangan bagian atas sebuah kandang mungil dan di dalamnya ada seekor kucing ras Persia berbulu putih bersih. Sementara si gadis yang sedari tadi berjalan beriringan di samping si pemuda, tak hentinya menatap iri ke arah si kucing, atau mungkin lebih tepatnya ke arah pegangan kandang itu. Haha, bahkan ia kalah dengan pegangan kandang!

“Nam Joo ssi, bagaimana kalau kita coba toko yang satu itu? Sepertinya toko musik itu menjual biola dengan kualitas bagus dan harganya juga lumayan terjangkau.”

Si gadis yang bernama Nam Joo sontak mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya menatap sinis ke arah kandang yang di bawa si pemuda. “Ah, nee. Kalau begitu kita ke sana saja, Se Hun ssi!” sahutnya cepat.

Keduanya lantas berjalan menuju toko yang terletak di seberang jalan yang dimaksudkan si pemuda bernama Se Hun itu. Ketika lampu berubah merah, dengan segera keduanya menyeberang jalan bersama dengan pedestrian yang lain. Namun saking ramainya, tak jarang tubuh kurus Nam Joo bertabrakan dengan orang-orang yang menyeberang dengan buru-buru. Hal itu membuat tubuhnya sedikit limbung, namun syukurlah ia masih sanggup menjaga keseimbangannya tetap terjaga.

Tapi sayangnya ketika gadis itu mengangkat wajahnya, ia tidak lagi mendapati sosok Se Hun di sampingnya, di depannya, atau bahkan di belakangnya. Oh, oh, keduanya terpisah, dan lebih tepatnya Nam Joo yang kehilangan Se Hun. Sosok pemuda itu bagai menghilang di telan keramaian.

Setelah sampai di seberang, ternyata sosok Se Hun tak juga terlihat. Ya Tuhan, ke mana perginya pemuda itu? Nam Joo sampai harus menjinjitkan kakinya, sedikit berharap dapat menemukan.. yah, mungkin puncak kepala Se Hun dengan tubuh mungilnya. Tidak ada. Pemuda itu tidak ada di mana-mana. Tidak terlihat di manapun.

Nam Joo hendak kembali berjalan, namun langkahnya terhenti tiba-tiba. Tubuhnya limbung. Tubuhnya tiba-tiba kaku, ngilu dan sakit luar biasa. Kepalanya pusing, membuat langkahnya menjadi terhuyung. Keramaian orang-orang di sekitarnya semakin membuat kepalanya sakit, polusi udara yang ditimbulkan oleh kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang juga membuatnya ingin muntah. Ya Tuhan, ia sungguh mual. Nam Joo menopang tubuhnya dengan meletakkan sebelah tangannya di tiang besi di samping sebuah toko dengan banner besar, ia memijit pelipisnya yang sakit.

Sial, kenapa sakit sekali!

Lu Han, Lu Han, tolong aku.

Entah kenapa hanya nama itu yang langsung tercetus di otaknya. Nam Joo berusaha meminta bantuan Lu Han, setidaknya ia berharap malaikat itu bisa membawanya pulang. Nam Joo menggigit bibir ketika sakit kepalanya menjadi semakin menjadi-jadi. Oh, kenapa penyakitnya harus kambuh di saat seperti ini.

Lu Han. Tolong ..

“Bodoh. Makanya aku bilang apa, lebih baik tidur saja di rumah. Dasar gadis bodoh!”

Nam Joo bisa saja jatuh dan menubruk aspal kalau saja Lu Han terlambat muncul sedetik saja. Syukurlah pria itu datang di saat yang tepat, menopang tubuh kurus Nam Joo dengan kedua tangannya. Lu Han kini menjadi sesosok manusia, karena tentu akan menjadi sangat aneh apabila Nam Joo ditolong oleh makhluk tidak kasat mata apabila ia tidak berubah menjadi manusia.

“Mianhae.” kata Nam Joo lemah sembari memejamkan mata. “Terima kasih sudah datang.”

Lu Han mendengus, sedikit kesal dengan Nam Joo. Namun jauh di dalam hati, ia sungguh khawatir dengan keadaan gadis itu, ia tiba-tiba merasa tidak tega. Mungkin ia bisa melakukan sesuatu, “Aku bisa menghilangkan rasa sakitmu itu, tapi untuk kali ini saja. Setidaknya kau harus melanjutkan kencanmu dengan Se Hun.”

Kedua mata Nam Joo terbuka perlahan, apa? Ada apa dengan Lu Han? Kenapa malaikat itu bisa tiba-tiba baik begitu?

Lu Han menjentikkan jarinya dan dalam sekejap mata seluruh rasa sakit yang semula seakan menggerogoti dan menguliti diri Nam Joo hilang tanpa bekas. Nam Joo mengerjapkan matanya lalu menegakkan tubuhnya. Dan detik itu juga, Lu Han turut hilang dari pandangannya.

Ke mana? Ke mana pria itu?

“Nam Joo ssi! Gwenchanayo!?” Se Hun datang tiba-tiba dan mengguncang tubuh Nam Joo keras.

“Se.. Se Hun ssi?”

Se Hun menatap Nam Joo cemas, “Kau baik-baik saja? Maafkan aku, karena saking ramainya jalan tadi aku jadi kehilanganmu. Semula aku bermaksud menunggumu di toko, namun aku terkejut karena kucingmu juga tiba-tiba menghilang. Aku bermaksud mencarinya, tapi aku malah menemukanmu terduduk di sini.”

Menghilang? Kucing putih itu menghilang? Bagaimana bisa?

“Kau bisa bangkit? Apa aku perlu menggendongmu?”

Kedua alis Nam Joo terangkat, ia sontak menggeleng cepat. “Tidak, tidak, aku baik-baik saja, Se Hun-ssi.” Nam Joo bangkit dari duduknya, diikuti dan dibantu oleh Se Hun. “Bagaimana kalau kita lanjutkan saja mencari biolanya. Kajja!”

“Kau sungguh baik-baik saja?” tanya Se Hun lagi, guratan cemas terlihat jelas di wajah berkulit putihnya. Nam Joo mengangguk berkali-kali, berusaha menunjukkan bahwa ia memang sedang baik-baik saja.

“Kajja kita ke toko musik itu!”

“Tidak bisa. Kucingmu menghilang, kita harus mencarinya dahulu.” tegas Se Hun.

Ah benar juga, kucing itu …

Aku sudah pulang, tidak perlu khawatir. Pergilan berkencan dengan Se Hun dan tidak usah pikirkan aku.

Nam Joo tertegun begitu mendengar sebuah suara yang terdengar begitu jelas di telinganya, ia menoleh ke sekelilingnya namun tidak menemukan siapapun. Ternyata benar, itu telepati. Dan telepati itu dari siapa lagi kalau bukan Lu Han. Gadis itu tersenyum miris, pantas saja kucing tadi benar-benar terlihat aneh, kucing itu mirip Lu Han. Dan ternyata benar, kucing itu memang penjelmaan Lu Han. Astaga, kenapa ia tidak bisa menyadarinya dari tadi!

“Nam Joo ssi?”

“Ah!” Nam Joo tersentak, ia lalu tersenyum yakin. “Tenang saja Se Hun ssi, kita tidak perlu mencari Lulu. Dia bisa pulang sendiri, kau tidak perlu khawatir.”

_________

            Nam Joo tengah menatap lekat-lekat setiap biola yang berjejer rapi di etalase toko. Ekpresi wajahnya berubah-ubah, kadang mengernyit, kadang membulatkan mata, atau bahkan menguap. Se Hun sendiri tidak habis pikir dengan dirinya hari ini, bukankah ia pergi ke toko musik itu untuk membeli biola. Tapi.. kenapa ia justru asyik mengamati Nam Joo? Ah, pasti ada yang tidak beres dengan kepalanya.

“Nam Joo ssi.”

Nam Joo membalikkan badannya dan menghadap Se Hun, “Apa kau sudah menemukan biola yang kau suka, Se Hun ssi?”

“Aniya.” Se Hun menggeleng, “Aku hanya ingin bertanya.”

“Nde?”

“Apa kau sedang sakit?”

Pertanyaan yang sama sekali tidak pernah Nam Joo perkirakan itu baru saja meluncur dari mulut Se Hun. Gadis itu terdiam agak lama. Kedua alis Nam Joo lantas terangkat, “Ah, aniya. Aku tidak sakit.”

“Tapi kau sering terlihat pucat dan berkali-kali hampir pingsan seperti tadi. Ah, bahkan saat pertama kali kita bertemu, kau juga pingsan. Hidungmu juga kerap kali mengeluarkan darah. Apa yang seperti itu kau bilang tidak sakit?” bantah Se Hun panjang lebar dengan nada sedikit mendesak.

Sakit ya? batin Nam Joo. Apakah sakitnya itu penting? Apakah ia perlu memberitahukan perihal penyakitnya yang—baginya—tidak penting itu pada Se Hun? Bukankah sebentar lagi ia juga akan meninggal persis seperti yang dikatakan Lu Han?

Nam Joo memaksakan seulas senyum tipis, “Percayalah padaku, Se Hun ssi. Aku tidak apa-apa.” Berusaha mengalihkan pembicaraan, Nam Joo lantas kembali berbalik dan menatap biola-biola coklat yang berjejer di depannya. “Ah, biola ini bagus. Kau tidak ingin coba melihatnya, Se Hun ssi?”

Se Hun tetap bergeming. Di pikirannya berlalu lalang banyak hal, terutama soal Nam Joo dan … Lu Han, ya tentu saja. Ia hampir satu tahun berada di bumi, menjadi manusia dan berperilaku selayaknya manusia. Namun ia masih punya kemampuan sama seperti malaikat-malaikat lainnya meskipun ia kini bersosok manusia. Dan tentu Se Hun sebenarnya tahu pasti, penyakit apa yang kini tengah menggerogoti Nam Joo, penyakit apa yang membuat gadis itu sering jatuh pingsan dan merasa pusing seperti itu.

Ia bertanya karena ia hanya ingin tahu, seberapa besar gadis itu memercayainya. Gadis itu enggan memberitahukan penyakitnya, bukankah itu sama saja artinya bahwa Nam Joo tidak memercayai Se Hun sepenuhnya?

Bagaimanapun juga, Se Hun harus selalu berada di samping gadis itu. Ia juga harus selalu menjaganya dari kejauhan, menjaganya dari Lu Han. Jangan sampai gadis itu termakan oleh kata-kata makhluk seperti Lu Han. Nam Joo harus lebih percaya padanya daripada Lu Han.

“Se Hun ssi?”

Se Hun tersentak dari lamunannya, ia mendapati Nam Joo tengah memandangnya cemas. “Kau baik-baik saja?”

“Ah, nee, tentu saja. Tidak usah khawatir.” Se Hun mengalihkan pandangannya ke salah satu biola yang terletak di sudut ruangan, “Sepertinya biola itu bagus.”

__________

            Entah sudah berapa kali Lu Han melirik jam dinding berbentuk micky mouse di kamar Nam Joo. Kini jam dinding itu terlihat seperti mengejeknya, menertawakan Lu Han yang sedang resah menunggu kedatangan seseorang. Yah, sebenarnya ia ingin terus membuntuti gadis itu dengan berubah menjadi seekor kucing—seperti tadi. Namun benar-benar tak disangka kalau Se Hun lah yang harus membawanya, membuat perasaannya menjadi semakin tidak enak.

Kenapa tidak enak? Karena berada di dekat malaikat itu membuat kekuatannya seakan terhambat dan terhenti dengan paksa. Lu Han tidak tahu seberapa kuatnya Se Hun hingga mampu membuat kekuatannya melemah seperti itu. Jelas Se Hun tahu benar kalau kucing Persia itu adalah jelmaan Lu Han, malaikat itu sangat sensitif dengan ‘jenis’nya. Makanya Se Hun memilih untuk membawa Lu Han di tangannya daripada membiarkan Nam Joo yang membawanya, karena dengan begitu Lu Han tidak bisa seenaknya menggunakan kekuatannya.

“Dasar ingusan! Sialan!” umpat Lu Han kesal seraya menendang kursi kayu di samping ranjang Nam Joo.

“Aku tidak pernah mendengar kau mengumpat sebelumnya, Hyung.”

Lu Han memutar kepalanya cepat ke arah jendela kamar Nam Joo, tempat suara bernada heran itu berasal. Alangkah terkejutnya ia begitu melihat siapa yang tengah duduk sembari bersedekap di sana, seorang pria dengan pakaian serba putih tanpa alas kaki dengan rambut kemerahan terlihat di sana. Pria yang belum diketahui namanya itu tersenyum pada Lu Han yang masih saja memasang wajah terkejut.

“Kau terkejut karena takut atau bahkan karena merindukanku, Hyung?” tanya pria itu lagi dengan nada percaya diri yang terkesan dipaksakan.

“Ka..kau.. kenapa ada di sini?” Akhirnya Lu Han menemukan kata-katanya meskipun terbata-bata.

“Aku punya nama Hyung, Joon Myun. Apa kau sudah lupa? Sebegitu lamanyakah kita tidak bertemu hingga kau lupa siapa namaku? Coba aku hitung, hmm…” Pria itu tampak berpikir, “Ya, mungkin kita sudah sekitar seratus tahun tidak berjumpa. Tidak lama.” katanya kemudian dengan senyum manis terukir di wajahnya.

“Tapi bukankah kita lebih lama bersama? Sekitar dua ribu tahun mungkin, atau ..”

“Cukup!” potong Lu Han.

“Kita juga sering mengerjakan tugas bersama, dimarahi oleh petinggi langit bersama, hingga sukses menjadi malaikat senior juga bersama. Lalu ..”

“Aku bilang cukup, Joon Myun!”

Seseorang yang dipanggil Joon Myun itu lantas tersenyum, “Kenapa Hyung? Kau benci mengingat masa lalu?”

“Katakan saja, apa tujuanmu menemuiku!”

Joon Myun bangkit dari duduknya, ia kemudian berjalan pelan ke arah Lu Han yang tengah duduk bersila di atas ranjang Nam Joo. Kini keduanya saling berhadapan dan bertatap intens. “Aku adalah ketua dari malaikat divisi dua, dan Se Hun adalah anak buahku.”

Lu Han tersenyum meremehkan, “Jadi kau datang kemari hanya untuk pamer? Atau mengambil Se Hun kembali? Atau mungkin… menangkapku?”

Joon Myun hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Lu Han, namun ia kembali berujar, “Menangkap para pengkhianat memang tugas malaikat divisi dua sepertiku dan Se Hun. Namun aku kemari bukan untuk itu.”

“Lalu?”

“Aku datang untuk menyampaikan pesan dari petinggi langit untukmu.”

“Pesan?”

“Beliau memberi kesempatan untukmu. Satu kesempatan.”

Diam. Lu Han masih berusaha keras mencerna kata-kata Joon Myun. “Kesempatan?” katanya kemudian, masih dengan nada meremehkan. Sebelah alisnya terangkat.

Joon Myun mengangguk, “Kesempatan untuk menyelesaikan masalahmu dengan gadis itu.” Joon Myun menunjuk sebuah pigura foto yang terletak di atas meja belajar, foto Nam Joo. “Dengan Kim Nam Joo.”

“Oleh karena itu, kami malaikat dari divisi dua belum diperbolehkan untuk menangkapmu.” tambah Joon Myun.

“Haha. Apa itu artinya si tua bangka itu mendukung rencanaku? Rencanaku untuk balas dendam pada gadis itu?”

Joon Myun tertegun begitu kata ‘tua bangka’ keluar dari mulut Lu Han. Seingatnya, dulu Lu Han sangat segan pada petinggi langit, lalu apa yang terjadi sekarang? Pria itu benar-benar telah berubah. “Bukan mendukung. Itu semata-mata karena ia masih sangat menyayangimu, Hyung. Aku yakin beliau sangat terpukul dengan kejadian yang menimpamu beberapa ratus tahun yang lalu itu.”

Lu Han hanya terkekeh mendengar perkataan Joon Myun. Menyayanginya? Omong kosong, ia tidak akan termakan oleh ucapan tidak mendasar yang diucapkan ‘mantan’ sahabatnya itu.

“Beliau harap, dengan memberikan kesempatan bagimu, maka kau akan sadar apa yang salah dan apa yang benar.”

Tangan Lu Han terkepal erat, “Berhenti mengguruiku, Joo Myun! Kau tak lebih dari sekedar dongsaeng yang membuangku, sama seperti tua bangka itu! Jangan bertindak seakan-akan kau benar dan pantas menasehatiku seperti itu!”

Hati Joon Myun lantas berdesir hebat, sama sekali kaget dengan sentakan yang baru saja dilontarkan Lu Han padanya. Ia tidak habis pikir pria itu akan berkata demikian. Ternyata benar, pria itu benar-benar sudah berubah. Jauh berbeda dengan Lu Han yang ia kenal dulu.

Joon Myun menghela napasnya pelan, dan lagi-lagi ia tersenyum kepada Lu Han, kali ini dengan wajah yang lebih sayu. “Baiklah. Aku tidak akan mengelak kalau kau menganggap kami sebagai orang-orang yang membuangmu, Hyung.”

Kepalan di tangan Lu Han semakin mengeras, mungkin seandainya ia tidak memiliki sebuah kendali diri, ia pasti telah memukul pria di hadapannya itu.

“Tapi percayalah dan ingatlah selalu, karena bagaimanapun dan sampai kapanpun kau tetaplah aku anggap sebagai bagian dari kami. Kendati saat ini kita memiliki jalan yang berbeda.”

Lu Han hanya bisa melebarkan matanya mendengar pernyataan Joon Myun barusan. Kini ia melihat wajah Joon Myun yang tengah tersenyum padanya, senyuman yang membuat kepalan di tangannya mengendur perlahan. Pria itu memenggal jaraknya dengan Lu Han kemudian menepuk pelan pundaknya.

“Selamanya kau tetap sahabatku, hyung.”

________

            Dengan senyum cerah dan senandung kecil, Nam Joo bersemangat memutar cepat kenop pintu rumahnya. Maklumlah, karena gadis itu baru saja berkencan dengan pemuda idamannya, hal itu tentu saja membuat dunia di sekelilingnya menjadi sangat indah, bahkan semuanya menjadi lebih cerah dan berwarna di matanya. Membuatnya sangat bersemangat melakukan apapun.

“Aku pulang, Lu Han ssi!” teriaknya, namun sayangnya tidak terdengar jawaban.

Nam Joo berlari kecil menuju lantai dua rumahnya, ia ingin segera menceritakan kencannya dengan Se Hun baru saja. Kencan yang memang diawali dengan hal yang tidak mengenakkan, namun diakhiri dengan macam-macam kejadian menyenangkan. Mulai dari berkunjung ke taman bermain, berfoto bersama, membeli benda yang sama, sampai makan siang bersama. Semua itu ingin ia ceritakan pada Lu Han setiap detailnya.

Selain itu, begitu ia berjalan-jalan di kawasan perbelanjaan sekitar Gangnam-gu, ia menemukan sebuah toko yang menarik. Sebuah toko yang langsung mengingatkannya soal Lu Han, membuatnya memutuskan membeli oleh-oleh untuk pria itu. Sebagai ucapan terima kasih karena telah membantu kencannya tadi, juga untuk bantuan-bantuan sebelumnya yang sangat berarti bagi Nam Joo.

Nam Joo baru menginjakkan kakinya di lantai kamarnya, dan ia langsung disodorkan sebuah pemandangan yang tidak biasa. Lu Han. Pria itu tengah duduk sembari memeluk kedua kakinya, membenamkan wajahnya di antara kedua lengannya. Kendati Nam Joo tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi pria itu, entah kenapa ia merasa ada yang tidak beres. Sesuatu tengah terjadi pada Lu Han.

Nam Joo perlahan memenggal jaraknya dengan Lu Han, ia lalu menyentuh pundak pria itu. Awalnya ia hanya berniat mengguncang tubuh pria itu agar segera menyadari keberadaan Nam Joo. Namun sesuatu yang aneh malah terjadi pada Nam Joo.

Puluhan bahkan ratusan  kenangan tiba-tiba muncul dan memaksa untuk berputar di otaknya. Seperti sebuah film, begitu jelas tergambar di otaknya. Macam-macam kenangan yang ia yakini tidak pernah terjadi padanya sebelum ini. Kenangan-kenangan yang tidak ia kenal, tidak pernah ia rasakan, tidak pernah ia temukan dalam hidupnya. Dan anehnya di dalam setiap kenangan itu selalu tampak seseorang, seseorang yang tersenyum cerah dan memiliki aura bagai malaikat. Dan itu …

Lu Han.

Nam Joo spontan menjauhkan tangannya dari pundak Lu Han. Tangannya langsung bergetar hebat. Jantungnya berdesir dan berdegup begitu kencang, sementara matanya langsung memanas. Visi yang baru saja ia lihat dalam bayangan otaknya serasa begitu nyata, seakan-akan hal tersebut memang pernah terjadi padanya. Ia tidak tahu apa yang barusaja terjadi, semua itu di luar akal sehatnya. Sungguh, ia heran kenapa tiba-tiba pikirannya harus diserbu ratusan kenangan yang sama sekali tidak masuk akal seperti itu. Bukankah ia tidak pernah melakukan satupun yang tergambar di dalam kenangan itu. Apa itu yang dinamakan déjà vu? Ia tidak paham.

Setelah agak lama waktu berlalu, Nam Joo kembali dari keterkejutannya. Dengan senyum dipaksakan meskipun dengan perasaan yang masih tidak tenang, gadis itu cepat-cepat merogoh kantung yang terdapat di roknya kemudian mengeluarkan sebuah tas plastik kecil dari sana. Ia membuka bungkusan yang terdapat di dalamnya, mengelurkan sebuah pita berwarna merah dengan lonceng bulat di tengahnya.

“Lu.. Lu Han ssi. Aku punya oleh-oleh untukmu.” katanya dengan berusaha menstabilkan nada bicaranya agar terdengar tenang. Namun Lu Han tidak mengangkat wajahnya, seakan tidak mendengar apa yang baru saja diucapkan gadis itu.

Nam Joo menghela napas berlebihan, ia kembali tersenyum miris, “Sebagai rasa terima kasihku. Semoga kau menyukainya.” tambah Nam Joo kemudian.

Dan kali ini Lu Han mengangkat wajahnya, membuat Nam Joo langsung menghela napas lega. Gadis itu lalu berpindah dan duduk tepat di hadapan Lu Han. Nam Joo menunjukkan lonceng merah yang tadi ia beli di depan muka Lu Han dengan senyum bangga. Sayangnya Lu Han hanya menatap kosong benda yang berkilau terkena pantulan cahaya matahari siang itu.

“Kau tadi jadi kucing kan? Karena itu aku memberikan ini untukmu.” Nam Joo dengan tanpa ragu mendekatkan dirinya dengan Lu Han, memasangkan dengan penuh semangat pita lonceng itu ke leher Lu Han. Membuat benda itu menjadi seperti semacam kalung. Nam Joo tersenyum puas begitu merasa kalau Lu Han sangat cocok mengenakan kalung lonceng pemberiannya itu. Baginya pria itu sama sekali tidak terlihat konyol, lonceng itu sangat pas dengan wajah childish seorang Lu Han.

“Kau manis sekali Lu Han ssi!” teriak Nam Joo lagi, namun Lu Han tetap menatapnya kosong. Hanya diam, tidak merespon.

Nam Joo yang melihat itu lantas terdiam, masih terus bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya terjadi pada Lu Han. Tidak biasanya pria itu bersikap demikian, waktu itu saja bahkan Nam Joo sama sekali tidak boleh menyentuhnya. Tapi kini, pria itu bertindak selayaknya patung, sama sekali tidak menolak ketika gadis bernama Nam Joo itu memasangkan kalung lonceng di lehernya.

“Kau ingin tahu kenapa aku memberikan ini padamu?”

Tidak ada jawaban.

“Agar aku bisa langsung menemukanmu.”

Nam Joo berhenti berkata ketika ia melihat manik mata Lu Han mulai bergerak, pria itu mengerjapkan kedua matanya. Kemudian tatapan pria itu mengarah tepat ke manik kecoklatan yang dimiliki Nam Joo, membuat gadis itu langsung salah tingkah. Dia tidak salah bicara bukan?

“Ya …. Benar, kalau kau memakai lonceng itu, maka aku akan lebih cepat menemukanmu yang suka menghilang begitu saja. Lonceng itu akan berbunyi tiap kali kau bergerak, jadi …”

Ucapan Nam Joo kembali terhenti, lebih tepatnya terpaksa terhenti oleh sesuatu. Karena sesuatu yang tidak pernah ia perkirakan sebelumnya, tidak pernah ia inginkan sebelumnya. Tindakan tiba-tiba yang membuat mulutnya bungkam seketika, membuat jantungnya berdesir hebat, bahkan organ sebesar kepalan tangannya itu malah berpacu terlampau cepat. Aliran darahnya seakan terhenti, membuatnya hanya diam membeku. Tidak mampu merespon dan menolak apa yang tengah dilakukan Lu Han padanya. Otaknya juga seakan mati, membuatnya tidak mampu berpikir apa-apa lagi.

Ya, Lu Han mencuri ciumannya, ciuman pertamanya.

____TBC____

How? Boring? Mian nee ^^v

Maaf juga kalo di part ini dikit banget romancenya, kenapa? soalnya author emang lagi boring banget sama genre itu -.-

Oke, See ya in the next chapter nee?😀 follow me @fhayfransiska , let we know each other ^^

Don’t forget to comment, your comment is my inspiration and of course it will be my oxygen ^^

78 responses to “A ‘Good’bye [Part 0.2]

  1. Wah author.. aku suka alurnya.. trus ga boring kok dari part 0 juga ga boring.. hehe.. btw.. ff ini ud lama bgt ya? (Tapi aku baru baca skrg ._.v hehe) aku penasaran sama kelanjutannya thorr.. lanjutin ke part berikut nya yaaaa? Hehehe.. Semangat thor lanjutinnya!! Smpe ‘the end’ ya..😀 Aku tunggu deh~
    FIGHTING~!!!

  2. Baru aja nemu ff ini, langsung deh baca dari part 0.
    suka deh sama cerita bergenre fantasy gini
    Baguuuus ga boring sama sekali. Malah bikin penasaran sama masa lalu luhan
    Ditunggu lanjutannya~

  3. Akkkk, bentar.. Itu Luhan sama Namjoo ada masa lalu apa? apa jangan2 luhan itu dulu manusia atau si namjoo itu dulu malaikat yang jadi manusia? trus trus ada apa gitu sampai si namjoo jadi manusia dan ninggalin Luhan, atau.. atau.. Akkk aku penasaran >< *lagi tergila2 sama ff-nya namjoo*
    Ditunggu pake banget lanjutannya ya thor,😀

    • Huaaah, maaf maaf. Blum slesai comment, wkwkk
      Tdi sbagian udah tmpil, tpi itu msih kuraang ya ampuuuuuuuuun. Itu gilaaaaaaaaak, luhan itu sape fhay? Sehun itu sape? Namjonya sapeee? Baaah, kenapa kau membikin orang penasaran, baaaah? Macam mana pula iniiii
      Lanjut dong fhayyy, please
      Makasihhh ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s